Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Who Is Who Di Iluni FK'83

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Tue Nov 18, 2008 9:05 pm

Dr.RAMONASARI
KEPALA DIVISI KESEHATAN REPRODUKSI
PERKUMPULAN KELUARGA BERENCANA INDONESIA

Visi

Perkumpulan percaya bahwa keluarga adalah pilar utama untuk mewujudkan masyarakat yang sejahtera. Keluarga yang dimaksud ialah keluarga bertanggung jawab, yaitu keluarga yang menunaikan tanggungjawabnya dalam dimensi kelahiran, pendidikan, kesehatan, kesejahteraan dan masa depan.

o Dimensi kelahiran, artinya bahwa kelahiran anak dalam setiap keluarga terjadi atas keinginan yang direncanakan
o Dimensi pendidikan, artinya bahwa pendidikan dalam setiap keluarga ditujukan seluas-luasnya untuk mengembangkan kemampuan kecerdasan dan kepribadian dengan memberikan kesempatan yang sama untuk setiap anggota keluarga serta dilaksanakan secara dialogis
o Dimensi kesehatan, artinya bahwa kesehatan keluarga ditujukan untuk terpenuhinya kebutuhan hidup sehat yang mengutamakan upaya pencegahan dan pembebasan dari ketergantungan obat-obatan kimiawi (lebih preventif daripada kuratif)
o Dimensi kesejahteraan, artinya bahwa kesejahteraan itu mencerminkan martabat manusia (human dignity) lebih dari pada pemilikan harta (not having but being)
o Dimensi masa depan, artinya bahwa masa depan anak itu ditentukan sendiri dan bukan oleh orang tua

Misi

Memperjuangkan penerimaan dan praktek keluarga bertanggungjawab dalam keluarga Indonesia melalui pengembangan program, pengembangan jaringan dan kemitraan dengan semua pihak pemberdayaan masyarakat di bidang kependudukan secara umum, dan secara khusus di bidang kesehatan reproduksi yang berkesetaraan dan berkeadilan gender.


Last edited by gitahafas on Tue Jan 11, 2011 8:30 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
Poer
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 90
Age : 59
Registration date : 2008-08-28

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Wed Nov 19, 2008 8:54 pm

Gita,
Gimana kalo kiya saling mengusulkan?
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Fri Nov 21, 2008 5:18 am

boleh Poer,kan memang sudah ditulis dibawah namanama yang terdaftar awal.
sepengetahuan kamu siapa lagi yang pantas dimasukkan di WHO IS WHO?
nanti biar ditambahin n dicari datanya kalau ybs ga isi sendiri.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Fri Nov 21, 2008 7:51 pm

Sebetulnya seperti kata nadia, tidak semua orang senang namanya dicantumkan dalam WHO IS WHO. Mungkin saja dia hanya berbuat apa yang harus dia perbuat. Tidak ada dalam pretensi dirinya untuk menampilkan sebagai public figure. Oleh karena itu usul saya jika ingin menampilkan seseorang sebagai public figure, tanyakan dulu apakah yang bersangkutan berkenan untuk ditampilkan. Seperti Ali Alkatiri yang berhasil membangun suatu usaha mandiri yang menampung beberapa orang sebagai karyawannya. Mungkin beliau segan untuk ditampilkan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Sat Nov 22, 2008 6:28 am

Aaah PAK USTAD kita memberi masukan yang memang perlu dipertimbangkan.
Tetapi sebenarya diadakannya WHO IS WHO untuk memberi penghargaan kepada ybs atas
keberhasilannya mencapai semua ini dan memotivasi yang lain untuk berjuang terus, tidak mudah
untuk mencapai semua itu ,pasti telah melalui kerja keras dan jalan yang berliku liku.
Dan seperti yang PAK USTAD istilahkan PUBLIC FIGURE otomatis sudah menjadi milik publik
dan orang ingin tahu lebih lanjut mengenai yang bersangkutan, baik dilingkungannya sendiri
maupun masyarakat umum.

Memang untuk ALI ALKATIRI tidak diletakkan di WHO IS WHO tetapi ditopik DIBALIK LAYAR
dimana mereka tergolong teman teman yang 'menghidupkan' ILUNI FK'83 sehingga ILUNI FK'83
exist dan tidak hanya berupa nama saja.
Ternyata setelah ALI ALKATIRI membuka dirinya sendiri di topik CURRICULLUM VITAE.....wow.......
ternyata beliau lebih patut diletakkan ditopik WHO IS WHO dengan segala prestasinya itu.

PAK USTAD sendiri juga diletakkan ditopik DIBALIK LAYAR sebagai penghargaan kepada PAK USTAD
yang membuat suasana menjadi 'hidup' hanya dengan kehadiran baik dimilis,rapat maupun diacara2
yang diadakan oleh ILUNI FK'83.Coba PAK USTAD tulis di CURRICULLUM VITAE jangan jangan ada
kejutan lagi.

Lalu dibuat topik ke 3 HASIL KARYA ANAK BANGSA, ternyata dapat lagi nama teman teman yang lain
yang nampaknya diam diam ternyata memiliki potensi.
Masih banyak teman teman kita yang belum dikelompokkan karena belum dapat judul yang pas
dan belum ketahuan kegiatannya.
Maka dibuka topik CURRICULLUM VITAE untuk menjaring potensi yang ada dan membuat ILUNI
FKUI 1983 makin berkembang dan berkibar....................tanpa anggotanya ILUNI FKUI 1983
hanya akan berupa nama.

MAKA UNTUK TEMAN TEMAN ANGGOTA ILUNI FKUI 1983,DIMOHON UNTUK MENGISI CURRICULLUM VITAE
MASING MASING.TOLONG DIMULAI OLEH BAPAK DAN IBU KETUA SEHINGGA YANG LAIN AKAN
MENGIKUTI,AYO FERRYAL TOLONG ISI YA,DITOPIK DIBALIK LAYAR KAMU HANYA DIEXPOSE SEGI
HOBBY FOTOGRAFINYA PADAHAL KAMU SUDAH SEORANG PUBLIC FIGURE.
WIDODO DI BI, YATNO DI PAPUA,RENAULD DI BALIKPAPAN,RENY WAAS DI RS PUSAT JANTUNG NASIONAL,
YUNUS DI PUSKESMAS,HANIF DAN DAVID YANG BEDAH SYARAF,ETTY SUMIYETI,DYAH EKAWATI DI
SUDINKES,ELZA DIDEPKES BERSAMA BAGUS DAN ENTIT,DEDI TEDJAKUSNADI,BENNO,DEWI SUMIYATI
.........DAN SEMUA YANG LAIN.......SEPERTI KATA NADIA,KITA SEMUA MEMPUNYAI SOMETHING UNTUK
DI SHARE,MESKIPUN HANYA I R T,PEKERJAAN YANG SANGAT MULIA.

HANYA DENGAN PARTISIPASI HADIR SAJA SUDAH SANGAT BERARTI UNTUK 'HIDUP'NYA ILUNI FKUI 1983
AYO TEMANS.................BERSAMA KITA BISA.
Back to top Go down
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator
avatar

Number of posts : 1088
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Sat Nov 22, 2008 9:15 pm

Iris Rengganis:
Hilangkan Alergi dengan Cerita Lucu




Di blog pribadinya, seorang penderita alergi seafood berkisah tentang pengalaman buruknya usai menyantap hidangan laut. Ia harus dilarikan ke Unit Gawat Darurat tak lama setelah melahap udang saat makan malam bersama rekan kerjanya. Meski merasa malu menjadi bahan omongan, kejadian itu rupanya tak membuat si penderita alergi jera menjajal kerja sistem imun tubuhnya.

Buktinya, di lain kesempatan, saat diajak teman untuk mencoba masakan di restoranseafood yang kondang kelezatan hidangannya, si penderita alergi mau saja ikut. Namun, seorang teman mengingatkannya untuk waspada terhadap kemungkinan serangan alergi. ''Sekarang jangan cuma bawa antihistamin, sekalian saja ajak dokter Iris yang pakar alergi! Biar bisa langsung nolongin kalau kumat alergimu,'' celetuk sang teman.

Guyonan tadi dilontarkan oleh orang yang mengenal dr Iris Rengganis SpPD-KAI. Iris termasuk satu dari segelintir konsultan alergi-imunologi yang dimiliki Indonesia. Kebetulan, dia juga putri sulung Prof Karnen Baratawidjaja, pakar alergi merangkap pendiri Divisi Alergi Imunologi Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI). Wajar jika ia menjadi andalan banyak orang yang kehidupannya terusik oleh alergi.

Dengan pasiennya, Iris memang mencoba menjaga hubungan baik. Seperti dengan 450 orang rombongan haji tahun 2000. ''Sebagai dokter kloter, saya bekerja sama dengan jamaah haji agar dapat pergi dan pulang dalam keadaan utuh. Alhamdulillah, kami semua selamat kembali ke Tanah Air. Kini pun, kami masih saling berkomunikasi,'' kata Iris.

Menjadi dokter sungguh merupakan pekerjaan yang menyenangkan bagi Iris. Meski harus terus belajar, ia menikmati tugasnya. Apalagi, saat mengikuti simposium atau seminar di luar negeri. Tanggal 14 November hingga 19 November ini, Iris ke Prancis mengunjungi Paris dan Nice demi mengejar pengetahuan terbaru tentang alergi dan imunologi.

Sepekan sebelum keberangkatannya, Kamis (6/11) petang, usai rapat di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Iris memacu mobilnya ke rumahnya di bilangan Lebak Bulus. Sore itu, ia berjanji untuk menerima wartawan Republika, Reiny Dwinanda, dan fotografer Amin Madani. Berikut petikan penuturan Iris tentang segala aspek kehidupannya:

Ayah Anda, Prof Karnen Garna Baratawidjaja, adalah guru besar emeritus di bidang alergi imunologi penyakit dalam FKUI. Ibu Anda, Wachjuni Baratawidjaja, juga dokter di bidang management hospital adminitration(MHA). Itu membuat Anda terpanggil mengikuti jejak mereka?

Saya sulung dari empat perempuan bersaudara. Kami semua dokter. Bukan cuma faktor orangtua yang membuat saya memilih menjadi dokter. Menjelang masa kuliah, saya bingung memilih jurusan. Saya kemudian menjalani psikotes untuk melihat kecenderungan minat dan bakat. Dari situ terungkap, saya punya bakat di bidang kedokteran, arsitektur, dan ekonomi. Saya pikir hasil tes itu betul juga. Soalnya, terkait bidang ekonomi, saya memang sering jadi bendahara yang mengatur keuangan. Lalu, saya juga suka mendesain tetapi bukan desain arsitektur. Bakat di bidang kedokteran mungkin karena saya senang pelajaran biologi.Akhirnya, saya memilih fakultas kedokteran. Tetapi, rupanya saya hanya tercatat sebagai calon mahasiswa cadangan. Karena belum tentu diterima di FKUI, saya mendaftar di Universitas Trisakti, menjajal ilmu lanskap.

Apa rasanya menjadi putri Prof Karnen, konsultan alergi imunologi senior?

Ayah ingin saya meneruskan apa yang telah dirintisnya. Beliaulah yang mendirikan Divisi Alergi-Imunologi Klinik di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Seluruh ilmu yang dikuasai ayah, diajarkan ke saya dan adik-adik. Karena anak tertua, ayah lebih dulu membagi ilmunya ke saya. Secara pribadi, saya tertarik dengan ilmu alergi imunologi. Saya senang membantu ayah praktek. Alergi sudah menjadi ilmu sehari-hari.

Ada perasaan tertekan?

Ada, pasti. Iya banget! Ayah berharap saya bisa meneruskan ilmunya. Saya anggap apa yang saya jalankan adalah bakti kepada orang tua. Tetapi, sejujurnya, saya juga suka. Saya menikmati ilmu ini sampai sekarang. Ayah terus memotivasi. Ia meminta saya mengikuti simposium di luar negeri. Baik untuk menggantikan beliau atau menemaninya. Beliau menganjurkan saya ikut simposium paling tidak setahun sekali. Dengan begitu, saya bisa tahu ilmu pengetahuan sudah berkembang sejauh mana. Tetapi, sejak ada internet, lebih mudah memperluas wawasan. Ayah juga membimbing saya untuk tampil lebih baik lagi.

Dengan cara apa?

Ayah adalah guru terbaik. Apalagi, dia memang senior di bidang alergi imunologi. Beliau sangat sabar dan penuh semangat dalam mengajar saya. Ia juga mengutarakan trik-trik memeriksa dan menolong pasien. Semuanya beliau sampaikan agar saya merasa yakin saat praktek. Ayah juga mengajari saya bicara di depan publik. Betapapun, jam terbang kami kan beda. Jika kami sama-sama menjadi pembicara seminar, beliau akan menilai penampilan saya. Misalnya, saya bicara terlalu cepat. Dulu, saya berlatih di depan cermin. Kalau saya tampil baik, beliau mengapresiasi. ''Ya, betul. Seperti itu caranya menjadi pembicara yang baik. Ngomong yang jelas, pelan, dan slide presentasi buat yang simpel saja,'' pujinya.

Terkait hubungan ayah-anak yang sama-sama berprofesi sebagai konsultan alergi imunologi, ada suara sumbang yang pernah sampai ke telinga Anda?

Tidak. Di Departemen Ilmu Penyakit Dalam, Divisi Alergi-Imunologi Klinik, kami semua bergaul dengan baik. Tetapi, di klinik, saat awal masa praktek, saya lihat ada fenomena unik. Pasien tentu lebih suka ditangani dokter senior. Ketika ayah tugas ke luar negeri, saya yang menggantikan. Selama itu, jumlah pasien merosot. Begitu ayah pulang, pasien banyak lagi. Belakangan, penurunan jumlah pasien seperti itu sudah tidak begitu kentara. Bagaimanapun, yang menilai kan orang lain...

Apa suka-dukanya menjadi konsultan alergi imunologi?

Saya paling berdebar jika ada pasien yang belum ketahuan alerginya apa, persoalan imunologinya apa. Kalau sudah begitu, saya nggak mikir soal bayaran. Pelayanan dulu yang utama. Apalagi, bagi pasien tak mampu. Saya senang sekali jika pasien bisa sembuh. Apalagi, jika ia alergi obat. Melihat dia bisa pulang, wah, rasanya senang sekali!

Anda alergi, tidak?

Saya juga alergi obat. Kalau stres, kulit saya bentol-bentol. Kaligata, bahasa medisnya. Kalau sudah begitu, cepat-cepat saya tenangkan diri. Nonton atau baca yang lucu.

Sebagai dokter dan ibu empat anak, bagaimana Anda menjalani hari?

Saya biasa tidur cepat, pukul delapan malam sudah terlelap. Tapi, pukul tiga dini hari saya sudah bangun. Lalu, belajar. Baca buku sampai subuh. Pukul enam pagi, saya antar anak sekolah. Telat lima menit saja, macetnya sudah luar biasa. Dari sekolah anak, saya langsung naik tol lingkar luar menuju FKUI-RSCM. Saya staf pengajar di FKUI. Kelar di FKUI-RSCM, saya praktek di klinik alergi Prof Karnen di Jl Sisingamangaraja, Jakarta Selatan. Sambil makan malam, ayah, saya, dan adik-adik sering diskusi penanganan pasien. Kebanyakan pasien mengalami alergi obat. Entah penisilin atau pain killer.

Sepanjang hari kerja, waktu Anda padat terisi. Lantas, bagaimana Anda menghibur diri?

Sekarang, saya sedang tidak praktek. Sampai selesai ujian tertutup nanti, saya masih diberi kelonggaran oleh ayah untuk tidak praktek. Biar lebih konsentrasi. Tiap akhir pekan, waktu saya khusus untuk keluarga. Kami pergi makan sambil ngobrol. Kini, saya punya waktu untuk nonton sinetron. Ada beberapa sinetron yang saya ikuti jalan ceritanya. Tetapi, kadang tak pula saya simak betul. Sesekali, saya ketiduran saat nonton. Saya paling tak suka sinetron yang bisa bikin stres. Selama merampungkan S3, saya bolak-balik Bogor-Jakarta. Sebelum pulang, saya main dulu di mal Botanic Square. Jalan-jalan, makan, dan duduk-duduk di kafe.

Tak jalan dengan teman-teman?

Oh, tentu. Itu juga obat stres. Teman-teman alumnus SMA 11 Jakarta Selatan (sekarang menjadi SMA 70, Red.) hari Jumat (7/11) ngumpul. Teman kuliah juga sebulan sekali reuni. Kami mencari tempat yang asyik untuk bertemu, seringnya di kafe. Yang bisa ngobrol dan ketawadengan leluasa. Biasanya kami bertemu hari Jumat sepulang praktek pukul 20.00 WIB. Nanti, bubarnya pukul 22.00 WIB. Alumni FKUI angkatan saya juga punya milis. Saya baca postingan teman-teman. Tetapi, sering kali tak ada waktu untuk nimbrung membalas. Baca milis saja sudah bisa bikin ketawa. Kami sudah berusia kepala lima. Meski waktu berlalu, ikatan batin kami masih kuat.Saya beruntung berprofesi sebagai dokter. Silaturahim dengan teman-teman juga terjalin karena mereka suka berkonsultasi kesehatan dengan saya. Meski tidak bertemu, komunikasi berlangsung lewat SMS, telepon, atau e-mail.

Hobi Anda apa?

Saya suka mendengarkan musik klasik. Sayang di Indonesia jarang sekali ada pertunjukan musik klasik. Karena itu, sewaktu ke Austria, saya paksakan diri untuk antre tiket nonton orkestra. Waktu kecil, saya les piano. Malas sekali rasanya. Lama-lama, saya menikmati. Sekarang, saya main untuk diri sendiri, untuk menghilangkan stres.Saya juga senang siaran. Tahun 1974-1975, semasa kelas 1 SMA dulu, saya pernah siaran di Radio Prambors. Dari sekolah pakai mobil teman, ngebut dari Bulungan ke studio Prambors di Jl Borobudur, Menteng, Jakarta Pusat. Siarannya sepulang sekolah, pukul 14.00 WIB. Acara take and give untuk OSIS SMA. Ada yang request lagu, kami putarkan. Tak digaji tapi senang bangetrasanya. Kini, kegemaran saya tersalurkan manakala ada undangan untuk menjadi narasumber talkshow medis di sejumlah stasiun radio.n


Anjurkan Akasia tidak Ditanam di Pinggir Jalan Umum

Untuk merampungkan pendidikan S3-nya, Iris meneliti sensitivitas terhadap serbuk sari terhadap pasien alergi pernapasan (rhinitis) dan asma. Ia memilih topik tersebut untuk mengetahui seberapa mengganggu serbuk sari bagi penderita alergi. Di Indonesia, penelitian ini belum pernah dilakukan. Padahal, di negara tetangga --Malaysia, Singapura, Thailand, dan India-- tanaman yang dapat menjadi pencetus alergi sudah terdata dengan baik.

Iris melihat sekelompok kecil penderita alergi yang terganggu dengan serbuk sari. Namun, mereka cuma bisa menduga tanaman apa yang mengganggu. ''Saya mendaftarkan diri ke IPB dan membawa proposal. Lantas, melakukan penelitian di sana,'' ujar perempuan kelahiran Jakarta, 29 Juni 1958, ini.Demi mendapatkan sampel alergen, Iris membawa alat tangkap khusus untuk menangkap serbuk sari di daerah Lebak Bulus dan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Lalu, alat yang sama dipakai untuk menjaring serbuk sari di daerah sekitar kampus IPB di Darmaga, Bogor. ''Merujuk kepustakaan dan diskusi dengan dosen pembimbing, saya memutuskan untuk meneliti tujuh macam tanaman.''

Iris lantas membuat ekstrak serbuk sari untuk skin prick test. Kebetulan rancangan ini dibuat bersama dengan mahasiswa S2 yang sudah mencoba ke tikus. Iris meneruskan ke tes uji ke manusia. ''Ternyata yang banyak adalah alergi terhadap serbuk sari akasia (Acasia) dan alang-alang (Imerata cylindrica),'' ungkap pendiri Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS) RS Haji Jakarta, Pondok Gede, Jakarta Timur, itu.Menyusul temuannya, Iris menganjurkan agar akasia tidak ditanam di pinggir jalan-jalan umum. Sebab, ketika musim berguguran, serbuk sarinya akan berterbangan dan terhirup oleh orang yang alergi. ''Reaksinya tidak cuma ke pernapasan, bisa juga menimbulkan gatal di kulit,'' kata ibu dari Gladys, Andrew, Zaki, dan Yasser ini.

Dalam penelitian ini, Iris dibantu oleh Dinas Pertamanan DKI Jakarta. Dinas Pertamanan memberikan daftar jenis pohon yang ditanam untuk penghijauan. Iris memantau akasia termasuk yang banyak ditanam. Pohon ini memiliki kanopi yang bagus. Tetapi batangnya ringkih jika tertiup angin kencang. ''Dinas Pertamanan sudah mendengar akasia merupakan pencetus alergi tetapi tak memiliki bukti ilmiahnya. Usai ujian disertasi pada Desember nanti, saya akan sampaikan informasi ilmiahnya. Mereka sudah menunggu,'' papar Dokter Teladan Jakarta Selatan (1988) ini.

Sumber: KORAN REPUBLIKA Minggu, 16 November 2008
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator
avatar

Number of posts : 1088
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Sun Dec 21, 2008 8:30 pm

Ke Jakarta Saya Kembali


FOTO-FOTO: KOMPAS/ARBAIN RAMBEY / Kompas Images

Minggu, 21 Desember 2008 | 01:53 WIB
Ninuk Mardiana Pambudy

Poliklinik Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta, Selasa siang lalu, tidak terlalu penuh. Di poli geriatri kulit yang tidak terlalu luas, Shannaz Nadia Yusharyahya, bersama dua rekannya, dokter kulit, biasa menolong pasien usia lanjut.

Nama Nadia pernah kerap menghiasi media massa Tanah Air pada tahun 1970-an awal ketika dia bersama kakaknya, Zoraya Perucha, dan empat adiknya dari keluarga Yusharyahya menguasai kolam renang dalam berbagai pertandingan di dalam dan luar negeri.

Profesi yang digeluti Nadia sekarang memang berbeda dari masa dia berusia lima tahun hingga 18 tahun ketika dia selalu ikut lomba renang kelompok umur hingga ke Kuala Lumpur, Singapura, dan Hongkong.

”Saya berhenti berenang begitu masuk Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia tahun 1976. Waktu itu belum ada SEA Games,” kata Nadia.

Meskipun dunia renang sudah lama dia tinggalkan, ada satu kebiasaan yang terus terbawa sampai sekarang yang tidak bisa dia tinggalkan, yaitu tidur siang.

”Biarpun hanya 15-20 menit, saya harus tidur siang. Di mobil atau di mana saja. Kalau enggak tidur siang, terus jadi enggak bisa mikir he-he…. Saya sering diledek sama suami dan anak-anak soal ini. Kalau Sabtu dan Minggu baru bisa tidur siang agak lama. Kalau saya sudah mulai ngantuk, anak perempuan saya bilang, ’Lihat Mama sudah mesti beauty sleep’,” papar Nadia.

Ihwal kebiasaan itu adalah jadwal ketat sebagai atlet renang. Pukul setengah lima pagi Nadia dan saudara-saudaranya sudah harus bangun karena latihan renang dimulai pukul lima. Dari kolam renang Senayan enam kakak-beradik ini lalu berangkat sekolah. Pulang sekolah, pukul dua siang adalah jadwal tidur karena pukul empat sampai pukul enam mereka harus latihan renang lagi.

”Saya harus berterima kasih kepada orangtua saya yang sudah mengajarkan disiplin waktu dan mengatur jadwal. Itu berguna sekali waktu kuliah dan sampai sekarang,” tambah Nadia.

Kembali ke Jakarta

Di luar jadwal kerja di poliklinik RSCM, Nadia juga mengajar mahasiswa Fakultas Kedokteran UI, mendapat tugas sebagai Humas Departemen Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSCM, dan melayani pasien di Klinik Swadana Cempaka.

”Klinik ini ibarat business class di pesawat, tetapi kualitas penanganan dokter di Cempaka dan di poli sama,” kata Nadia yang juga membantu pengembangan unit baru RSCM, international wing, yang sedang dalam pembangunan fisik.

Klinik Cempaka, demikian Nadia saat kami kemudian berbincang di klinik tersebut, menjadi rujukan pengobatan kelainan kulit yang perlu menggunakan laser. Ada berbagai jenis laser yang tidak kalah dari klinik kulit swasta di luar negeri, seperti V-beam untuk berbagai kelainan vaskular; Q Switch Nd Yag untuk kelainan pigmentasi dan menghilangkan tato; laser CO2>sub<>res<>res< untuk mengangkat tumor jinak kulit dan laser CO2>sub<>res<>res< fractional untuk peremajaan kulit dan menghilangkan jaringan parut; dan mesin terapi fototerapi ultraviolet untuk mengobati antara lain psoriasis dan vitiligo.

Ibu dua anak ini sangat menikmati pekerjaannya. Kangen untuk bekerja sebagai dokter di RSCM-lah yang membuat dia kembali ke Jakarta pada Januari 2007. Sudah 15 tahun dia mengikuti suami, Adiwarman Idris, bekerja di Asian Development Bank di Manila, Filipina.

”Saya minta suami pindah kerja ke Jakarta karena kalau saya tunda lagi akan terlalu tua untuk punya kesempatan mempraktikkan ilmu saya,” cerita Nadia.

Kerinduan Nadia bukan tanpa alasan. Selama tinggal di Manila dia tidak mendapat izin praktik sebagai dokter. Karena itu, di sana dia bersekolah lagi, mengambil master dalam administrasi rumah sakit di University of Philippines dengan harapan bisa mempraktikkan ilmunya di Manila.

Ternyata, ketika lulus tahun 1992 lalu mencoba bekerja di rumah sakit swasta, peluang yang dia dapat tidak seperti diharapkan. Posisi asisten manajer sebagai pemula menuntut kerja dari Senin sampai Sabtu, pukul 08.00-17.00, tetapi dengan gaji 5.000 peso. Sementara gaji sopir yang mengantar dia pergi-pulang besarnya 6.000 peso.

”Saya berhenti karena tidak sepadan dengan pengorbanan meninggalkan rumah dan anak-anak yang masih kecil waktu itu,” papar Nadia.

Alhasil, Nadia memilih kerja sosial tanpa bayaran. Selama setahun dia membantu misi Katolik Gembala Baik bekerja di kawasan kumuh Manila. Setelah itu dia membantu seminggu sekali di klinik di sekolah internasional tempat dua anaknya bersekolah.

Nadia menikmati kerja itu karena bisa sering bertemu anak-anak, kenal dengan teman-teman anak-anaknya, dan pulang bareng saat dapat giliran jaga.

Menantang

Ketika anak keduanya, Shahira, beranjak remaja dan tak mau lagi terlalu sering ditemani ibunya, sementara anak pertamanya sudah bersekolah di Kanada, Nadia merasa kebutuhan mempraktikkan ilmunya sebagai dokter semakin menguat.

”Saya mencoba melamar ke Divisi Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin RSCM, kebetulan ada dokter yang akan pensiun di bagian geriatri kulit,” kata dia. Di sana dia mendapat tantangan dari jenis penyakit yang ditangani, manajemen, hingga pengabdian.

Nadia lalu mendaftar ikut kelas penyegaran selama enam bulan meskipun standarnya hanya tiga bulan di RSCM. ”Saya merasa belum cukup kalau hanya tiga bulan karena ini menyangkut praktik, walaupun selama di Manila rajin mengikuti seminar di Manila maupun di luar Filipina,” jelas dia.

Kini, di luar pengabdian di FKUI dan RSCM, Nadia ikut praktik seminggu tiga kali di sebuah klinik swasta, tiap kali dua jam. Putrinya keberatan kalau ibunya berada terlalu lama di luar rumah.

”Satu hal yang saya sesali adalah tidak mengambil S-3 ketika di Manila. Waktu itu memang saya tidak terlalu yakin bisa bekerja di RSCM dan mengajar mahasiswa kedokteran dan dokter yang mau ambil spesialisasi,” kata Nadia.

Source: KOMPAS CETAK
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator
avatar

Number of posts : 1088
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Thu Feb 05, 2009 8:48 pm





Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Fri Feb 06, 2009 4:35 am

Waah selamat ya FER, bener bener sudah berkiprah nih kamu. Kok ga ditulis dimilis biar lebih banyak yang baca dan beli majalahnya?
Back to top Go down
ferry611

avatar

Number of posts : 188
Age : 61
Location : jakarta
Registration date : 2008-09-08

PostSubject: Re: Who Is Who Di Iluni FK'83   Mon Feb 09, 2009 6:58 pm

yahh...gak usahlah Git....ini juga biar gak lupa aja mumpung ada medianya untuk nyimpen....Data data gue yang lama sebenarnya banyak dr majalah, koran , tabloid ....ya didiemin aja gitu ....kecuali Ali mau ngumpulin terus nyecan...hehehe....
Back to top Go down
http://ferryal.blogspot.com
 
Who Is Who Di Iluni FK'83
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 8Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: PROFIL dan KEGIATAN ILUNI-FK'83 :: PROFIL ILUNI-FK'83-
Jump to: