Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 11 ... 19  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:07 am

CARA MENGHINDARI GIGITAN ANJING PADA ANAK
Jumat, 29/10/2010 11:05 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Ubud, Bali, Anjing peliharaan yang setia sekalipun bisa tiba-tiba menggigit karena berbagai sebab. Celakanya anjing tidak butuh alasan untuk menyerang, sebab binatang hanya bertindak mengikuti insting atau nalurinya. Bukan saja dapat menularkan rabies yang mematikan, gigitan anjing juga bisa memicu cedera serius. Dalam beberap kasus, anjing yang agresif dapat menyerang anak-anak lalu menggigitnya sampai tewas. Secara naluriah, anjing dan binatang yang lain akan menyerang saat merasa terancam. Sebagian anjing juga menyerang sebagai refleks ketika merasa terkejut atau terganggu ketenangannya. Dalam diskusi dengan media di Hotel Yulia Village Inn, Ubud, pakar virologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana Prof Dr I Gusti Ngurah Mahardika, Jumat (29/10/2010) menyampaikan beberapa saran agar anak-anak tidak menjadi korban gigitan anjing yang sedang marah. Salah satunya, ajarkan untuk tidak mengusik anjing peliharaan dalam kondisi-kondisi sebagai berikut:

1. Anjing sedang tidur
2. Anjing sedang makan
3. Anjing sedang beranak
4. Anjing diikat di pintu gerbang.

Sedangkan untuk menghindari serangan anjing liar yang bisa saja tertular rabies, ajarkan untuk tidak mengusik anjing liar di jalanan. Sebisa mungkin menyingkirlah jika bertemu dengan anjing yang galak atau mencurigakan. "Jika anjing liar mendekat, jangan panik dan berlari sebab biasanya anjing justru akan mengejar. Anjing akan menyingkir dengan sendirinya jika seseorang tetap tenang, berdiri seperti pohon atau diam seperti batu," ungkap Prof Mahardika.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:32 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:09 am

PERTOLONGAN PERTAMA JIKA TERGIGIT HEWAN PELIHARAAN
Senin, 08/08/2011 08:54 WIB Adelia Ratnadita SKG - detikHealth
Jakarta, Hewan peliharaan seperti anjing, kucing atau kelinci relatif bersahabat pada majikan yang memeliharanya. Tapi terkadang hewan peliharaan ini juga bisa menggigit. Apa yang harus dilakukan jika tergigit hewan peliharaan? Gigitan dari hewan seringkali tidak dapat dihindarkan dan tiba-tiba terjadi begitu saja. Anjing lebih mungkin untuk menggigit daripada kucing. Namun, gigitan kucing lebih memungkinkan menyebabkan infeksi. Berbagai macam penyakit pun banyak yang ditularkan melalui gigitan hewan. Maka itu jika ada orang di sekitar kita yang terkenan gigitan hewan, setidaknya kita harus dapat melakukan sesuatu untuk menangani kondisi tersebut. Pertolongan pertama yang perlu dilakukan jika ada yang tergigit hewan seperti dikutip dari MayoClinic, Senin (8/8/2011), antara lain:

Gigitan berupa luka ringan
- Jika bekas gigitan hewan pada kulit hanya merupakan luka ringan dan tidak ada kemungkinan bahaya rabies, maka penanganannya seperti pada luka kecil.
- Cuci luka tersebut dengan sabun dan air.
- Oleskan krim antibiotik untuk mencegah infeksi.
- Tutupilah luka tersebut dengan perban bersih.

Gigitan berupa luka yang dalam
Jika gigitan hewan menyebabkan luka yang dalam pada kulit atau kulit robek parah dan berdarah, maka tekanlah luka dengan menggunakan kain bersih dan kering untuk menghentikan perdarahan Setelah dilakukan tindakan pertama untuk menghentikan perdarahan, kemudian segera hubungi rumah sakit atau dokter terdekat.

Gigitan yang menimbulkan luka infeksi
Jika melihat adanya tanda-tanda infeksi seperti pembengkakan, nyeri, kemerahan segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat.

Gigitan luka dengan dugaan rabies
Jika Anda mencurigai gigitan itu disebabkan oleh hewan yang mungkin membawa virus rabies, segera hubungi dokter atau rumah sakit terdekat. Hewan-hewan yang dicurigai membawa virus rabies adalah binatang liar atau peliharaan yang status imunisasinya tidak diketahui. Dokter merekomendasikan seharusnya mendapatkan suntikan imunisasi tetanus setiap 10 tahun. Gigitan dari hewan peliharaan dan hewan liar yang tidak diimunisasi membawa risiko rabies. Rabies lebih sering berasal dari rakun, sigung, rubah dan kelelawar daripada daripada kucing dan anjing. Sedangkan kelinci, tupai dan binatang pengerat lainnya jarang membawa rabies.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 8:20 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:13 am

6 MANFAAT KESEHATAN MEMELIHARA BINATANG
08 Desember 2012 10:20 WIB Media Indonesia
SELAIN lucu dan menggemaskan, mengelus hewan peliharaan rumahan selama 15 menit ternyata mampu menurunkan risiko tekanan darah bahkan hingga 10 persen. Demikian seperti yang disebutkan dalam situs Care2.com. Memelihara hewan seperti anjing, kucing, kelinci, dan sebagainya memang menyenangkan, namun di balik kesenangan tersebut, ada beberapa manfaat lainnya bagi kesehatan Anda.

1. Dalam Journal of Personality and Social Psychology disebutkan, orang-orang yang memelihara hewan cenderung memiliki kebanggaan yang lebih besar dan lebih jarang merasa kesepian ketimbang mereka yang tidak.

2. Hewan peliharaan juga membuat pemiliknya lebih berani dan terbuka, karena keberadaan hewan peliharan yang memberikan dukungan moral dan sosial. Hewan peliharaan juga memberikan banyak manfaat bagi si pemilik, baik dari segi psikologis maupun psikis.

3. Berdasarkan sebuah penelitian di jurnal Pediatrics, anak-anak yang hidup dengan hewan peliharaan dalam tahun-tahun pertamanya bahkan lebih sehat jika dibandingkan dengan mereka yang tidak memelihara hewan di rumahnya.

4. Memelihara hewan di rumah juga bisa menurunkan risiko anak untuk terkena alergi. Dr. Danielle Fisher dari St. John Health Center di Santa Monica, Amerika Serikat menjelaskan bahwa memelihara hewan dapat menstimulasi sistim imun untuk melawan infeksi, bagi balita. Penyebabnya bisa jadi karena sistem imun si anak semakin menguat karena berada di dekat hewan peliharaan.

5. Berdasarkan studi yang dipublikasikan dalam American Journal of Cardiology, orang-orang yang memiliki penyakit jantung memiliki kecenderungan untuk memiliki jantung yang lebih sehat bahkan hingga 40 persen.

6. Mengelus hewan peliharaan juga dapat meningkatkan level hormon oksitosin dan serotonin, yang memberikan perasaan nyaman pada seseorang, yang tentunya akan menurunkan kadar stres Anda. Bukan hanya sekedar menjadi teman dalam bermain kan. Hewan peliharaan yang Anda sukai nyatanya juga turut menyumbang kesehatan Anda. (Care2.com/*/OL-06)


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 8:22 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:14 am

3 ALASAN MEMELIHARA HEWAN BIKIN SEHAT
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 13 Maret 2012 | 15:34 WIB
Kompas.com - Pemilik hewan peliharaan ternyata punya kemampuan jantung yang lebih baik dalam menghadapi berbagai situasi serius. Ini artinya risiko mereka untuk meninggal karena penyakit jantung lebih kecil dibanding bukan pemilik hewan. Beberapa penelitian telah menegaskan manfaat menyehatkan dari memelihara binatang. Salah satunya menyebutkan mereka yang memelihara hewan memiliki angka survival lebih tinggi setahun pasca operasi gagal jantung. Berikut adalah tiga alasan mengapa bersahabat dengan hewan bisa menyehatkan.

- Jika Anda pekerja yang stres
Berinteraksi dengan hewan kesayangan merupakan cara yang efektif untuk menurunkan level stres. Tim peneliti dari University at Buffalo memberikan kucing atau anjing kepada para pialang saham yang seperti diketahui memiliki stres tinggi. Setelah 6 bulan ternyata tekanan darah dan detak jantung para pialang saham itu lebih stabil.

- Jika Anda tak suka anjing atau kucing
Anjing dan kucing adalah hewan peliharaan yang populer dan banyak menjadi subyek penelitian mengenai relasi antara majikan dengan peliharaannya. Padahal, efek menyehatkan juga didapatkan pada berbagai jenis hewan peliharaan, termasuk ular atau iguana. "Bukan cuma jenis hewannya, tapi efek menyehatkan itu didapat dari pertemanan dengan hewan-hewan itu yang berdampak positif bagi kita," kata Allen McConnel, profesor dari Miami University.

- Jika Anda lajang
Tidak punya pasangan? Jangan khawatir. Penelitian menunjukkan hewan kesayangan memberikan dukungan sosial yang bisa dibandingkan dengan yang kita dapatkan dari manusia lain. Berteman dengan mereka juga mengurangi hormon-hormon stres.

Para pemilik hewan peliharaan juga punya tingkat aktivitas fisik lebih tinggi karena mereka punya rutinitas untuk mengajak "sahabatnya" berjalan-jalan. Aktivitas ini juga menjadi cara untuk berteman dengan para pemilik hewan lainnya.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 8:24 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:15 am

5 PENYAKIT YANG DISEBABKAN OLEH BINATANG
26 April 2012 | Posted by: uniknya.com Oleh: Mia Abdurahman
[UNIKNYA.COM]: Dalam beberapa hari terakhir masyarakat Indonesia dihebohkan oleh serangan tomcat, khususnya di daerah Pulau Jawa. Racun yang dikeluarkan serangga kecil ini disebut paderin dan bisa mengakibatkan luka bakar pada kulit manusia. Namun serangga yang sering juga disebut semut belang ini, baru akan menyerang jika dirinya merasa terancam. Sebenarnya tomcat merupakan serangga predator terhadap serangga lainnya. Biasanya tomcat akan dengan mudah berkembang biak di kawasan dengan kondisi lembab, seperti tanaman bersemak, lahan dengan banyak air, pesawahan, kebun jagung atau kebun sayur. Masa hidup tomcat hanya 110 hari, dan tomcat betina bisa menghasilkan telur mencapai 24 butir. Telur telur itu akan menetas tiga hari kemudian. Setelah 19 hari serangga menjadi dewasa. Sedangkan tomcat beracun hanyalah yang berjenis kelamin betina. Serangga yang di dunia ilmiah disebut Rove beetle ini tak memilih siapa korbannya jika kehidupannya merasa terganggu. Bahkan predator wereng cokelat ini, pernah menyerang tentara Amerika Serikat saat bertugas di Timur Tengah. Sehingga departemen dermatologi dari pusat medis angkatan laut di San Diego dan Universitas California menyarankan untuk tidak memukul tomcat, karena racun yang bisa membuat iritasi ada dalam darahnya. Pada tahun 2001, 191 tentara Amerika Serikat yang tergabung dalam misi Operation Enduring Freedom di Pakistan diserang tomcat. Selain itu 30 pasukan khususnya yang bertugas di afganistan mengalami hal serupa pada tahun 2002, dan pada tahun 2007 giliran tentara yang berada di pangkalan militer Balad, irak yang mendapat serangan tomcat. Namun sebenarnya selain serangga tomcat yang bisa mendatangkan masalah serius pada manusia, sebenarnya ada hewan lainnya yang juga bisa mendatangkan penyakit berbahaya, bahkan mematikan, seperti hewan-hewan di yang spotlite sajikan berikut ini.

1. Trypanosomiasis (Lalat Tse Tse)
Penyakit yang pertama yang disebabkan binatang yakni, Trypanosomiasis. Penyakit ini biasa ditemukan di kawasan benua Afrika. Terjangkitnya Trypanosomiasis pada manusia adalah karena gigitan serangga. Hewan penyebar Trypanosomiasis yaitu, lalat tse-tse yang sebelumnya telah mengigit hewan ternak penduduk yang sudah mati. Gejala awal dari penderita penyakit ini yakni, demam, sakit kepala, dan sakit di sendi-sendi, pembengkakan kelenjar limfa, anemia dan penyakit ginjal. Penderita kemudian mengalami perubahan siklus tidur, dimana selalu merasa ngantuk di siang hari dan sulit tidur di malam hari. Bila tidak mendapat perawatan secara serius, penderita akan mengalami kerusakan sistem syaraf, koma, bahkan berujung pada kematian. Penderita penyakit ini yang sebagian besar berada di Afrika, menurut catatan pusat studi kesehatan di Afrika, korbannya telah mencapai angka 50 ribu hingga 70 ribu orang. Jika sudah terjangkit penyakit ini, penyebaran selanjutnya bisa secara genetik dari ibu pada anaknya, atau dari tranfusi darah.

2. Anthrax (Sapi & Domba)
Penyakit selanjutnya yakni antraks, atau yang biasa disebut penyakit mulut dan kuku, karena ciri utamanya terlihat dari kerusakan dua anggota tubuh tersebut. Penyebab antraks adalah bakteri Bacillus antrhracis yang biasa dibawa sapi, kambing dan domba. Bakteri yang hidup di dalam tanah ini menyerang hewan melalui infeksi yang masuk melalui pori-pori kulit, sehingga merusak kuku hewan. Dalam penyebarannya pada manusia, biasanya terjadi setelah kita terlibat kontak langsung dengan hewan penderita antraks. Gejala yang dialami manusia bisa diketahui setelah terkena bakteri antara 12 jam hingga 5 hari. Ciri-ciri yang mudah dikenali yakni terjadinya benjolan merah-coklat yang membesar disertai pembengkakan. Benjolan berubah menjadi lepuhan dan mengeras, kemudian pecah dan mengeluarkan cairan bening, membentuk keropeng yang hitam, kelenjar getah bening di daerah yang terkena bisa membengkak, penderita terkena demam, otot sakit, sakit kepala, mual dan muntah. Jika tidak ditangani secepatnya, bisa mengakibatkan kematian, seperti terjadi di Eropa tahun 1970-an lalu.

3. Toxoplasmosis (kucing)
Selanjutnya penyakit toxsoplasmosis. Penyakit ini ditakuti oleh kaum wanita karena menyebabkan kemandulan atau bisa mengakibatkan keguguran bila tengah mengandung. Bayi yang lahir dengan kondisi cacatpun juga dapat di sebabkan oleh penyakit ini. Penyakit Toxoplasmosis disebarkan oleh satwa bangsa kucing, misalnya kucing hutan, harimau, hingga kucing rumahan. Penularan kepada manusia melalui empat cara yaitu, secara tidak sengaja menelan makanan atau minuman yang telah tercemar toxoplasama, memakan makanan yang berasal dari daging yang mengandung parasit toxopalsma dan tidak dimasak secara sempurna, atau setengah matang, infeksi penyakit yang ditularkan melalui placenta bayi dalam kandungan bagi ibu yang mengandung, dan terakhir adalah melalui transfusi darah. Untuk itu setiap ibu hamil disarankan untuk menjauhi hewan peliharaan, seperti kucing, anjing, atau hewan lainnya yng kemungkinan besar dalam kondisi tidak seperti, Toxoplasmosis.

4. Leptospirosis (tikus)
Penyakit yang disebabkan oleh sejenis kuman ini menyerang semua jenis satwa termasuk manusia. Organ tubuh yang paling disukai oleh kuman ini tumbuh subur adalah ginjal dan organ reproduksi. Penularan penyakit berawal dari adanya luka yang terbuka dan terkontaminasi dengan air kencing atau cairan dari organ reproduksi yang ditinggalkan tikus. Bahkan makanan atau minuman yang tercemarpun dapat menyebakan infeksi masuk dalam tubuh. Hewan lain yang bisa menularkan penyakit mengerikan ini adalah anjing, kucing, harimau, musang, tupai. Leptospirosis pada hewan bisa terjadi berbulan-bulan. Sedangkan pada manusia hanya bertahan 60 hari saja. Gejala yang mudah diamati bila terinfeksi penyakit ini adalah air kencing berubah menjadi merah karena ginjal penderita mengalami perdarahan. Selain itu kepala akan mengalami sakit yang luar biasa, depresi, badan lemah. Yang menakutkan adalah sampai saat ini belum ada vaksin leptospirosis untuk manusia, yang tersedia hanya ada untuk hewan.

5. Tularemia (kelinci)
Penyakit terakhir akibat hewan yakni tularemia. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Francisella tularensis. Manusia akan mengidap penyakit ini jika kontak langsung dengan binatang yang terkena tularemia, atau memakan daging yang tidak dimasak benar-benar, atau akibat gigitan kutu binatangnya. Kelinci merupakan binatang sumber penyakit ini. Tularemia dapat menyebabkan masalah pernapasan serius. Orang yang terinfeksi juga dapat mengembangkan rasa sakit pneumonia dan dada serta kesulitan bernapas. Gejala biasanya terjadi 3 hinga 7 hari sesudah kuman masuk. Luka terjadi pada membran atau kulit dengan pembengkakkan. Dan pecahnya kelenjar getah bening di daerah itu disertai panas tinggi, perasaan pusing yang berat, pembesaran hati dan limpa. Pada beberapa kasus, penyakit ini bisa menyerang paru-paru, alat-alat pencernaan, atau selaput mata. Untuk itu disarankan jika akan memelihara kelinci, sebaiknya mempersiapkan perhatian ekstra dengan menjaga kebersihan dan pemberikan makanan sehat, karena jika kita mengabaikannya, penyakit berbahaya ini bisa membunuh anda.

Itulah penyakit yang didatangkan hewan. Jika anda akan memelihara hewan, jangan pernah mengabaikan kesehatannya. Berilah perhatian ekstra, terutama dalam masalah kebersihan mereka. Sebab boleh jadi, penyakit dari mereka tengah mengintai anda.

Sumber: Berbagai sumber, uniknya.com, April 2012


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 8:34 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:16 am

ZOONOSIS
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siklus hidup cacing Taenia (penyebab penyakit zoonotik: taeniasis/sistiserkosis) menunjukkan bahwa penyakit dapat menular dari hewan ke manusia atau sebaliknya Zoonosis adalah infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya. Zoonosis mendapat perhatian secara global dalam beberapa tahun terakhir baik mengenai epidemiologi, mekanisme transmisi penyakit dari hewan ke manusia, diagnosa, pencegahan dan kontrol.

Jenis
Berdasarkan Reservoir
Ada dua jenis zoonosis berdasarkan reservoirnya
- Antropozoonosis: penyakit yang dapat secara bebas berkembang di alam di antara hewan liar maupun domestik. Manusia hanya kadang terinfeksi dan akan menjadi titik akhir dari infeksi. Pada jenis ini, manusia tidak dapat menularkan kepada hewan atau manusia lain. Berbagai penyakit yang masuk dalam golongan ini yaitu Rabies, Leptospirosis, tularemia, dan hidatidosis.
- Zooantroponosis: zoonosis yang berlangsung secara bebas pada manusia atau merupakan penyakit manusia dan hanya kadang-kadang saja menyerang hewan sebagai titik terakhir. Termasuk dalam golongan ini yaitu tuberkulosis tipe humanus disebabkan oleh Mycobacterium tubercullosis, amebiasis dan difteri.
- Amphixenosis: zoonosis dimana manusia dan hewan sama-sama merupakan reservoir yang cocok untuk agen penyebab penyakit dan infeksi teteap berjalan secara bebas walaupun tanpa keterlibatan grup lain (manusia atau hewan). Contoh: Staphylococcosis, Streptococcosis.

Berdasarkan kejadiannya
Perubahan-perubahan besar dunia yang saat ini terjadi telah memicu terjadinya emerging dan re-emerging zoonosis. Emerging zoonosis memiliki definisi yang secara umum mencakup salah satu dari tiga situasi penyakit zoonotik seperti
- agen patogen yang telah diketahui muncul pada suatu area baru
- agen patogen yang telah diketahui atau yang berkerabat dekat terjadi pada spesies yang tidak peka atau
- agen patogen yang tidak atau belum diketahui terdeteksi untuk pertama kali

Sedangkan re-emerging zoonoses adalah suatu penyakit zoonotik yang pernah mewabah dan sudah mengalami penurunan intensitas kejadian namun mulai menunjukkan peningkatan kembali. Faktor-faktor yang memicu emerging dan re-emerging zoonosis yaitu:
- perubahan ekologi
- perubahan demografi dan perilaku manusia
- perjalanan dan perdagangan internasional
- kemajuan teknologi dan industri
- adaptasi dan perubahan mikroorganisme
- penurunan perhatian pada tindakan-tindakan kesehatan masyarakat dan pengendalian
- perubahan pada individu inang, misalnya imunodefisiensi.

Penularan Zoonosis
Penularan zoonosis antara lain terjadi melalui makanan (foodborne), udara (airborne) dan kontak langsung dengan hewan sakit. Bahaya biologis pangan yang dapat menyebabkan zoonosis yaitu:
- Bakteri : Bacillus anthracis, Brucella abortus, Brucella melitensis, Mycobacterium bovis, Salmonella typhi, Salmonella paratyphi.
- Virus: Hepatitis A Virus, Hepatitis E Virus.
- Parasit : Taenia saginata, T. solium, T. asiatica, Trichinella spiralis, ''Toxoplasma'', ''Echinococcus granulosus'', E. multilocularis.
- Prion: Bovine Spongioform Encephalopathy (BSE).


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:04 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:16 am

WASPADAI 7 PENYAKIT INI SAAT BANJIR
Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 5 April 2012 | 04:41 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Kementerian Kesehatan, khususnya Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP & PL), kembali mengingatkan masyarakat akan ancaman penyakit menular di saat musim banjir. Melalui pesan eletroniknya kepada Kompas.com, Rabu, (4/4/2012), Direktur Jenderal PP dan PL Prof dr Tjandra Yoga Aditama mengatakan, pihaknya juga mengingatkan kepada seluruh jajaran kesehatan di daerah dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Ditjen P2PL terkait masalah ketersediaan logistik, kesiapsiagaan tenaga atau personel, peningkatan surveilans untuk pemetaan daerah rawan, dan peningkatan koordinasi, baik lintas program maupun lintas sektor. Selain itu, P2PL juga akan menyiagakan rapid response team di setiap tingkatan, untuk melakukan tindakan segera bila diketahui adanya ancaman potensial kemungkinan terjadinya peningkatan penyakit menular. Tjandra memaparkan, ada beberapa penyakit menular yang harus diwaspadai masyarakat sehubungan dengan banjir dan langkah antisipasinya sebagai berikut:

1. Diare.
Penyakit Diare sangat erat kaitannya dengan kebersihan individu (personal hygiene). Pada musim hujan dengan curah hujan yang tinggi, potensi banjir meningkat. Pada saat banjir, sumber-sumber air minum masyarakat, khususnya sumber air minum dari sumur dangkal, akan ikut tercemar. Di samping itu, pada saat banjir biasanya akan terjadi pengungsian dengan fasilitas dan sarana serba terbatas, termasuk ketersediaan air bersih. Itu semua menjadi potensial menimbulkan penyakit diare disertai penularan yang cepat.

Langkah antisipasi: masyarakat diingatkan untuk tetap waspada dan menghindari serangan penyakit diare dengan cara, Pertama, membiasakan cuci tangan dengan sabun setiap akan makan atau minum serta sehabis buang hajat.
Kedua, membiasakan merebus air minum hingga mendidih setiap hari.
Ketiga, menjaga kebersihan lingkungan, hindari tumpukan sampah di sekitar tempat tinggal.
Keempat, hubungi segera petugas kesehatan terdekat bila ada gejala-gejala diare.

2. Demam berdarah.
Pada saat musim hujan, biasanya akan terjadi peningkatan tempat perindukan nyamuk aedes aegypti, yaitu nyamuk penular penyakit demam berdarah. Hal ini dikarenakan pada saat musim hujan, banyak sampah seperti kaleng bekas, ban bekas, dan tempat-tempat tertentu terisi air dan terjadi genangan selama beberapa waktu. Genangan air itulah yang akhirnya menjadi tempat berkembang biak nyamuk tersebut. Dengan meningkatnya populasi nyamuk sebagai penular penyakit, risiko terjadinya penularan juga semakin meningkat.

Langkah antisipasi: Masyarakat ikut berpartisipasi secara aktif melalui gerakan 3 M, yaitu mengubur kaleng-kaleng bekas, menguras tempat penampungan air secara teratur, dan menutup tempat penyimpanan air dengan rapat. Selain itu, masyarakat diharapkan segera membawa anggota keluarganya ke sarana kesehatan bila ada yang sakit dengan gejala panas tinggi tanpa sebab yang jelas, disertai adanya tanda-tanda pendarahan.

3. Penyakit leptospirosis.
Penyakit leptospirosis disebabkan oleh bakteri yang disebut leptospira. Penyakit ini termasuk salah satu penyakit zoonosis karena ditularkan melalui hewan atau binatang. Di Indonesia, hewan penular terutama adalah tikus, melalui kotoran dan air kencingnya. Pada musim hujan, terutama saat banjir, tikus-tikus yang tinggal di liang-liang tanah akan ikut keluar menyelamatkan diri. Tikus tersebut akan berkeliaran di sekitar manusia sehingga kotoran dan air kencingnya akan bercampur dengan air banjir tersebut. Seseorang yang memiliki luka, kemudian bermain atau terendam air banjir yang sudah tercampur dengan kotoran atau kencing tikus yang mengandung bakteri lepstopira, berpotensi terinfeksi dan jatuh sakit.

Langkah antisipasi: Untuk menghindari timbulnya penyakit leptospirosis, masyarakat diimbau untuk melakukan langkah-langkah antisipasi sebagai berikut: Pertama, menekan populasi dan hindari adanya tikus yang berkeliaran di sekitar tempat tinggal, dengan selalu menjaga kebersihan. Kedua, hindari bermain air saat terjadi banjir, terutama bila memiliki luka. Ketiga, gunakan pelindung, misalnya sepatu, bila terpaksa harus masuk daerah banjir. Keempat, segera berobat ke sarana kesehatan bila sakit punya gejala panas tiba-tiba, sakit kepala, dan menggigil.

4. Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).
Penyebab ISPA dapat berupa bakteri, virus, dan berbagai mikroba lainnya. Gejala utama dapat berupa batuk dan demam. Jika berat, maka dapat atau mungkin disertai sesak napas, nyeri dada, dan lain-lain.
Penanganannya: Istirahat; pengobatan simtomatis sesuai gejala, dan mungkin diperlukan pengobatan kausal untuk mengatasi penyebab; meningkatkan daya tahan tubuh; dan mencegah penularan terhadap orang sekitar (misalnya dengan menutup mulut ketika batuk, tidak meludah sembarangan). Faktor berkumpulnya banyak orang—misalnya di tempat pengungsian korban banjir—juga berperan dalam penularan ISPA.

5. Penyakit kulit.
Penyakit kulit dapat berupa infeksi, alergi, atau bentuk lain. Jika musim banjir datang, maka masalah utamanya adalah kebersihan yang tidak terjaga baik. Seperti juga pada ISPA, berkumpulnya banyak orang juga berperan dalam penularan infeksi kulit.

6. Penyakit saluran cerna lain, misalnya demam tifoid.
Dalam hal ini, faktor kebersihan makanan memegang peranan penting.

7. Memburuknya penyakit kronis yang mungkin memang sudah diderita.
Hal ini terjadi karena penurunan daya tahan tubuh akibat musim hujan berkepanjangan, apalagi bila banjir yang terjadi selama berhari-hari. Tjandra juga mengingatkan kembali agar masyarakat senantiasa menjaga perilaku hidup bersih sehat (PHBS), makan yang baik dan bersih, istirahat yang cukup, serta senantiasa melakukan cuci tangan pakai sabun (CTPS). Sebaiknya, lakukan CTPS ketika sebelum makan, sebelum mengolah makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, serta setelah berada lingkungan yang kotor dan lingkungan hewan.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:31 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:16 am

DIKEPUNG BANJIR, JAKARTA TERANCAM PENYAKIT
Penulis : Dr. Widodo Judarwanto Sp.A | Rabu, 16 Januari 2013 | 21:48 WIB
KOMPAS.com - Jakarta tampaknya dilanda musibah banjir hebat mirip banjir besar tahun 2007. Selain banyak faktor yang berpengaruh, faktor cuaca ekstrem membuat curah hujan tidak seperti biasanya. Setelah Jakarta dikepung banjir hebat, ancaman baru datang. Jakarta terancam musibah penyakit pascabanjir. Air melimpah yang tidak terkendali dan tidak wajar berpotensi menjadi sumber penyakit dan sarana penularan penyakit. Berbagai penyakit itu mulai dari yang ringan hingga penyakit yang mengancam jiwa. Bencana banjir dengan berbagai permasalahannya menyebabkan lingkungan yang tidak sehat. Pascabencana banjir biasanya masyarakat dihadapkan pada masalah lingkuan kotor, lebih kuumuh, sampah menggunung, penyediaan air bersih, terutama di tempat-tempat pengungsian. Problem kesehatan utama justru diawali dari lingkungan pengungsian yang kumuh dan padat. Minimnya fasilitas penuyediaan air bersih, sedikitnya fasilitas WC umum membuat pengungsi sering buang air besar dan kencing di sembarang tempat. Padahal, perilaku itu mempermudah penularan penyakit. Jumlah manusia yang sangat banyak dan berjejal dalam satu ruangan di pengungsian, memudahkan penyebaran penyakit baik lewat udara maupun kontak langsung. Bayi, anak balita dan ibu hamil adalah korban yang paling menderita. Karena daya tahan tubuh mereka yang sangat lemah, ditambah lagi minimnya asupan makanan yang bergizi. Gangguan alam itu tidak saja mengancam manusia, tetapi juga binatang. Berbagai binatang seperti tikus, kucing dan anjing dapat mati karena bencana banjir tersebut. Bangkai binatang juga dapat menimbulkan masalah kesehatan lainnya. Dalam keadaan banjir, banyak masalah kesehatan yang secara bersamaan, berpotensi menimbulkan berbagai penyakit. Air banjir merupakan sarana yang paling mudah untuk penularan penyakit, karena mau tak mau mereka harus bersentuhan dengan air tersebut. Malah, anak-anak menikmati air banjir untuk berenang dan bermain. Berbagai penyakit yang ditularkan melalui air banjir, antara lain, infeksi saluran cerna, infeksi mata, infeksi pernapasan, infeksi kulit hingga infeksi otak. Penyakit infeksi saluran cerna ditunjukkan lewat gejala demam, diare, dan muntah. Penyakit itu meliputi gastroenteritis karena virus rota, disentri, kolera, tifus, hepatitis A, giardiasis, cryptosporidiosis, bakteri E coli. Infeksi kulit biasanya dalam bentuk "hot tub rash". Penyebabnya adalah bakteri pseudomonas. Gejalanya berupa kulit yang terasa panas terbakar, gatal dan timbul bintil seperti jerawat kecil kemerah-merahan dan agak melepuh. Penyakit itu disebabkan oleh parasit yang terdapat pada burung dan hewan mamalia lainnya. Parasit tersebut mengontaminasi manusia melalui perantara binatang keong yang terdapat dalam genangan air. Parasit itu menimbulkan rash atau kulit terkelupas.

Infeksi pernapasan yang bisa ditularkan melalui air adalah infeksi tenggorok dan mata belekan yang disebabkan adenovirus. Gejala infeksi saluran napas umumnya berupa demam, batuk atau pilek. Jika kondisi tubuh lemah, infeksi akan berpotensi menjadi pneumonia (radang paru). Meskipun jarang terjadi, penularan penyakit lewat air dapat mengakibatkan infeksi otak. Infeksi susunan saraf pusat yang dapat terjadi adalah infeksi selaput otak atau meningitis aseptik yang disebabkan enterovirus dan infeksi naegleria. Gejala yang terjadi adalah demam tinggi, muntah, kejang dan kesadaran menurun. Infeksi lain adalah hepatitis A atau penyakit infeksi virus yang terjadi pada hati atau lever. Gejala yang timbul adalah kulit dan mata tampak kuning, mual, muntah, demam dan badan lemas. Leptospirosis adalah infeksi yang disebabkan karena kuman leptospira yang berasal dari air kencing binatang tikus. Hujan lebat dan aliran air banjir masih deras dapat menghilangkan jentik dan nyamuk penyebab demam berdarah. Tetapi setelah bulan pertama banjir, kasus penyakit demam berdarah cenderung bertambah, karena banyak terjadi genangan air yang berpotensi berkembang biaknya nyamuk aedes aegypti. Identifikasi daerah yang "bersih" atau yang "terkontaminasi" di dalam dan di sekitar rumah dapat membantu mengurangi penyebaran penyakit. Air sumur dan air keran dapat dianggap berpotensi terkontaminasi, dan sebaiknya tidak digunakan untuk konsumsi, meskipun hanya untuk dimasak atau menyikat gigi. Konsumsi air minum sebaiknya menggunakan air minum dalam kemasan. Gunakan air yang dimasak atau air matang atau air yang dikemas untuk menyirami tangan setelah mencuci tangan dan sebelum memasak. Kebiasaan cuci tangan bila hendak makan dapat menghindari penularan berbagai penyakit. Banyak penyakit yang tersebar oleh air melalui kotoran yang tidak sengaja masuk ke dalam mulut. Penyiapan makanan di daerah banjir, berkemungkinan besar menyebabkan siklus ini. Makanan yang tersentuh oleh banjir tidak aman untuk dikonsumsi, dan sebaiknya dibuang. Hindari konsumsi sayuran mentah atau yang belum dimasak. Tikus dan lalat sering membawa penyakit yang disebarkan air.

Pencegahan
Berbagai masalah ancaman penyakit tersebut dapat dicegah dengan perilaku individu dan masyarakat dengan hidup sehat dan meningkatkan kebersihan sanitasi. Simpanlah makanan di luar jangkauan kontaminasi dan tutuplah masakan sebelum disajikan. Penyimpanan makanan yang sudah dimasak untuk jangka waktu yang lama, sebaiknya dihindari kapan pun bisa. Jangan masukan tangan ke dalam sudut ruangan atau lemari yang gelap karena mungkin merupakan tempat sembunyi binatang yang terkena stres dari banjir, seperti tikus, serangga dan binatang peliharaan. Anak-anak sebaiknya dilarang bermain di daerah banjir yang rawan dan beresiko kecelakaan tinggi. Risiko hanyut dan masuk selokan yang kedalaman menjadi tinggi saat banjir berpotensi menenggelamkan anak-anak balita. Bila tidak bisa dihindari, setelah bermain harus mandi dan cuci tangan yang bersih. Lantai dan dinding di dalam rumah sebaiknya dibersihkan dengan cairan disinfektan, seperti klorin. Mainan seharusnya dicuci dengan disinfektan, boneka kain basah yang berpotensi menjadi sumber pertumbuhan bakteri dan jamur mungkin harus dibuang. Bila berjalan di dalam air banjir harus memakai sepatu yang beralas keras. Lubang-lubang baru dan sampah-sampah yang tertutup air banjir sebaiknya di antisipasi, untuk mencegah luka di kaki. Luka apa pun yang terletak di kulit sebaiknya diobati dan ditutup dengan perban. Lingkungan yang kotor dan basah dapat mengakibatkan luka terinfeksi, dan penyembuhan bertambah lama. Pengunaan sepatu bot karet untuk jangka waktu yang panjang dapat menyebabkan infeksi jamur dan luka kaki. Bila tempat pengungsian sudah terjangkit penyakit menular seperti campak, maka instansi kesehatan seperti puskesmas atau dinas kesehatan harus segera melakukan imunisasi massal di daerah tersebut. Semua lapisan masyarakat dan pemerintah tidak terkecuali harus bahu membahu dalam membantu korban banjir. Ancaman berbagai penyakit akan menambah beban masalah baru pada korban banjir. Bila terjadi wabah atau Kejadian Luar Biasa penyakit menular seperti campak, DBD atau diare maka dapat dicegah dengan pemberian imunisasi atau fogging di lokasi tertentu


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:51 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:17 am

PENANGGULANGAN NTD MERUPAKAN HAK ASASI MANUSIA CEGAH MORBIDITAS, MORTALITAS DAN CACAT
Jakarta, 19 September 2012
Hari ini, Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, membuka Seminar ASEAN Neglected Tropical Disease dengan tema ASEAN Clinical Practice, Guidline for the Strategy and Management Toward Elimination of Neglected Tropical Diseases in ASEAN Region di Jakarta, Jumat (28/9/12). Penyakit Tropis Terabaikan/ Neglected Tropical Disease (NTD) dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, kerugian ekonomi, dan menimbulkan dampak negatif terhadap pengembangan Sumber Daya Manusia Kesehatan. WHO menyatakan bahwa penanggulangan NTD merupakan Hak Asasi Manusia, karena NTD memiliki dampak serius yang dapat mengakibatkan kelaparan, kemiskinan dan kebodohan serta kehilangan pekerjaan. Menurut laporan WHO tahun 2010, terdapat 17 jenis NTD yang menyebabkan penderitaan dan kecacatan pada masyarakat miskin seperti Limfatik Filariasis, Kusta, Yaws, Demam Berdarah Dengue (DBD), Rabies, Leptospirosis, Chikungunya, Japanese Encephalitis, Schistosomiasis, Soil Transmitted Helminthiasi, Malaria dan lain sebagainya. Kementerian Kesehatan RI memprioritaskan aspek promotif dan preventif kesehatan menjadi kebijakan dalam melaksanakan pembangunan kesehatan, sehingga masyarakat memiliki pengetahuan dan sikap untuk mendukung dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular, termasuk pencegahan dan pengendalian vektor penyakit. Selain itu, upaya promosi kesehatan diperkuat dengan menerapkan konsep Desa Siaga dan membangun Pos Malaria Desa. Masyarakat desa dilatih untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan praktis dalam mencegah vektor penyakit dan NTD. Sedangkan upaya kuratif dan rehabilitatif harus dilanjutkan dengan revitalisasi Puskesmas, menyediakan dan mendistribusikan SDM Kesehatan di daerah terpencil, terluar, daerah tertinggal perbatasan dan kepulauan, serta revitalisasi Posyandu. Pencegahan morbiditas, mortalitas, dan kecacatan yang disebabkan oleh penyakit ini memerlukan teknologi baru yang relevan. Upaya signifikan juga harus dilakukan untuk menghentikan diskriminasi dan stigmatisasi pasien, seperti penderita kusta. Untuk mengatasi masalah NTD diperlukan pemahaman dan pengetahuan yang up date seperti manajemen kasus yang dapat diterapkan dalam praktek sehari-hari baik di tempat praktek pribadi maupun di fasilitas kesehatan seperti Puskesmas, klinik dan rumah sakit.

Pemerintah Indonesia memiliki komitmen yang kuat untuk melaksanakan pencegahan dan pengendalian NTD, seperti Kusta, dan Frambusia, untuk menghilangkan Malaria, dan untuk mengendalikan Demam Berdarah Dengue dengan mempromosikan pemberdayaan masyarakat. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan bekerjasama dengan ASEAN Foundation dan Perkumpulan Pemberantasan Penyakit Parasitik Indonesia (P4I) berinisiatif melaksanakan Seminar ASEAN NTD. Menkes berharap seluruh negara anggota ASEAN memperkuat komitmen dalam pencegahan dan pengendalian penyakit menular termasuk NTD, seperti leptospirosis, pes, kusta, filariasis, dan frambusia. Seminar ini merupakan tindak lanjut dari Pertemuan Tingkat Menteri Kesehatan ke-30 dan Sidang ke-65 Komite Regional WHO Negara Wilayah Asia Tenggara yang diselenggarakan di Yogyakarta pada awal bulan September. Meskipun beberapa Negara Anggota ASEAN tergabung dalam WHO Pacific Region. Peserta seminar sekitar 400 orang adalah para tenaga kesehatan, pemerhati parasitik, akademisi, professional dari negara-negara ASEAN dan dari berbagai daerah di Indonesia serta lintas unit terkait. Seminar membahas perkembangan dan informasi terkini tatalaksana kasus NTD dan berisi kegiatan plenary session, sesi ilmiah, diskusi dan tanya jawab, temu ahli dan kuis.

Seminar ini berguna sebagai sarana bagi para tenaga kesehatan di tingkat ASEAN untuk berbagi ilmu dan pengalaman dalam strategi eliminasi NTD. Selain itu untuk up date tentang tata laksana dan perkembangan teknologi berkaitan dengan NTD serta membentuk jejaring kerjasama antar negara ASEAN. Pada seminar ini akan dibahas beberapa materi di antaranya Pengawasan Kebijakan NTD di Indonesia oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, dan Kebijakan Global NTD oleh perwakilan WHO Jakarta, Dr. Anand Ballabh Joshi. Pada akhir seminar yang berlangsung dua hari ini akan menghasilkan ASEAN Recommendation on NTDs. Menkes berharap seminar akan memberikan kontribusi, masukan, terobosan dan inovasi untuk pencegahan dan pengendalian NTD di wilayah ASEAN. Selain itu juga berharap bahwa pembahasan selama seminar akan menguatkan kerjasama antar negara-negara anggota ASEAN dalam pencegahan dan pengendalian NTD, mengarah ke pembentukan jaringan yang kuat dari tenaga kesehatan dan para ahli yang ada di negara-negara anggota ASEAN. Pada kesempatan tersebut Menkes menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada ASEAN Foundation dan P4I yang mendukung penyelenggaraan seminar ini.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:38 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:17 am

PENYAKIT TULAR VEKTOR DAN RESERVOIR TERMASUK PENYAKIT ZOONOSIS, MASIH MENJADI MASALAH KESEHATAN PENTING DI INDONESIA
Salatiga, 31 Januari 2013
Dewasa ini, Indonesia menghadapi beban ganda (double burden) dalam pelayanan kesehatan, yaitu keadaan dimana penyakit menular masih merupakan masalah kesehatan penting dan secara bersamaan, morbiditas dan mortalitas penyakit tidak menular juga makin meningkat. Di samping itu, penyakit tular vektor dan reservoir atau vector borne diseases juga masih merupakan masalah kesehatan penting di Indonesia. Lebih dari 60% kasus penyakit menular di dunia merupakan penyakit zoonosis dan sekitar 70% diantara penyakit zoonosis berasal dari satwa liar. Di seluruh dunia, ada lebih dari 250 jenis hewan berpotensi menularkan penyakitnya ke manusia. Sementara di Indonesia, terdapat 132 spesies mikro-organisme patogen yang bersifat zoonotik. Demikian pernyataan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, pada Peluncuran Buku Atlas Reservoir Penyakit di Indonesia (ARPI), di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Vektor dan Reservoir Penyakit (B2P2VRP) Salatiga (31/1). Buku yang berisi gambaran tentang ciri morfologi umum, biologi, habitat, distribusi dan jenis-jenis penyakit yang ditularkan, khususnya di Indonesi tersebut disusun oleh jajaran B2P2VRP, sebagai laboratorium Human-Animal Interface yang bertugas melaksanakan penelitian dan kajian tentang penyakit tular vektor dan reservoir dalam mendukung Pengendalian Zoonosis di Indonesia.

“Indonesia adalah negara tropis yang kaya akan keanekaragaman satwa. Karena itu, Indonesia berisiko menjadi sumber penularan penyakit hewan baru dan penyakit zoonosis baru yang bersumber satwa liar. Selain itu, pengelolaan sumberdaya hutan dan hewan yang tidak terkendali dapat menyebabkan Indonesia menjadi hot spot zoonosis”, ujar Menkes.

Menkes mengingatkan bahwa beberapa tahun terakhir ini, di dunia muncul emerging dan re-emerging zoonosis. Guna mengantisipasi hal tersebut, Menkes RI mengimbau kepada seluruh jajaran Pemerintah dan swasta untuk mempererat kapasitas dan kemitraan, terutama dalam hal-hal berikut: Pelaksanaan penelitian yang terintegrasi dan intensif antara jajaran kesehatan manusia dengan kesehatan hewan; Pengembangan pusat penelitian penyakit zoonosis dan pelaksanaan surveilans yang terstruktur pada hewan domestik, satwa liar, dan manusia; Pembentukan tim respon kesehatan dan kesehatan hewan; Pembangunan infrastruktur dan pengembangan tenaga kerja, serta Peningkatan koordinasi dan penguatan fokus kelembagaan, terkait pengendalian penyakit zoonosis. Menkes juga menegaskan bahwa pengendalian penyakit zoonosis tidak mungkin berhasil jika dilaksanakan sendiri oleh jajaran kesehatan, tanpa kerjasama dengan sektor terkait lainnya, baik di tingkat Pusat maupun Daerah, serta bila tanpa adanya dukungan dari seluruh lapisan masyarakat. Pada kesempatan yang sama, Menkes RI juga menyaksikan secara langsung pengakuan Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) atas terselenggaranya Dunia Vektor dan Reservoir (DUVER) sebagai wahana informasi dan dokumentasi vektor dan reservoir penyakit pertama di Indonesia. Piagam penghargaan diserahkan kepada Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Dr. dr. Trihono, M.Sc, didampingi Kepala B2P2VRP Salatiga, Drs. Bambang Heriyanto, M.Kes.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.ppid.depkes.go.id, dan alamat e-mail kontak@depkes.go.id.


Last edited by gitahafas on Sun Feb 10, 2013 1:56 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 19Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 11 ... 19  Next
 Similar topics
-
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: