Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 11 ... 17, 18, 19
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:33 pm

KURAP PADA HEWAN PELIHARAAN BISA MENULAR KE MANUSIA
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 13:32 WIB
Jakarta, Memelihara kucing, kelinci dan anjing memang menyenangkan. Tapi hati-hati, bila hewan peliharaan Anda tak dirawat dengan baik bisa jadi malah menularkan penyakit, salah satunya kurap di kulit. "Bisa, demodecosis yaitu penyakit kulit yang ada di anjing disebabkan seperti tungau. Begitu yang bisa terbang dan nempel di rambut, di pori-pori rambut (manusia)," jelas drh. Olan Sebastian, MM, dari Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB, saat dihubungi detikHealth, dan ditulis pada Rabu (4/12/2013). Menurut drh Olan, tungau tersebut bisa terbang sehingga kontak langsung dan menyebabkan penularan pada manusia. Demodex yang membentuk kurap di kulit ini lebih spesifik terjadi pada anjing. Tapi juga terdapat pada kucing, kelinci dan kambing. "Kalau suka pegang anjing, misalnya, terus masuk ke kuku lalu garuk-garuk kepala kan bisa masuk ke pori rambut (manusia)," lanjut drh Olan. drh. Wiwiek Bagja juga mengatakan hal senada. Menurutnya, penyakit ini dulu terkenal sering menyerang orang India yang suka memelihara jambang atau udeng-udeng, sehingga rambutnya tertutup dan mudah tertular penyakit demodex. "Demodecosis bisa pada kelinci, kucing, atau anjing, disebabkan oleh jamur. Awalnya bulet-bulet lalu di pinggirnya merah-merah," jelas drh. Wiwiek Bagja, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI). Lebih lanjut, drh Wiwiek menjelaskan bahwa gejala awal demodex hanya ditandai dengan titik merah, lalu makin melebar membentuk kurap. Biasanya di bagian pinggir akan berwarna merah dan di tengahnya mengkilap dengan ukuran selebar koin. "Bisa diobati dengan obat seperti penghilang kutu, dengan cara keramas, tapi rambutnya harus digundulin dulu supaya benar-benar masuk ke pori-porinya," tutup drh Olan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 12:59 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:33 pm

DEMAM SETELAH TERCAKAR ATAU TERGIGIT KUCING?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 10:29 WIB
Jakarta, Hewan peliharaan seperti kucing relatif bersahabat pada majikan yang memeliharanya, tapi terkadang hewan peliharaan ini juga bisa menggigit. Meskipun anjing diketahui lebih sering menggigit, gigitan kucing justru lebih mungkin menimbulkan infeksi. "Belum pernah ada laporan, kecuali di beberapa negara lain seperti di Amerika Serikat dan negara lain. Penyebabnya orang yang pelihara kucing tergigit dan ada bakteri Bartonella henselae yang masuk ke tubuhnya," ujar drh Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/12/2013). Demam kucing diketahui disebabkan oleh infeksi ringan pada luka bekas cakaran atau gigitan kucing oleh bakteri Bartonella henselae. Gejala yang muncul meliputi pembengkakan kelenjar getah bening, demam, sakit kepala, nafsu makan berkurang dan kelelahan. "Orang yang tergigit bisa dikatakan terinfeksi jika kemudian demam menggigil dan mengalami bengkak di leher. Kalau dikira flu biasa terus enggak ditangani ya bisa meninggal," lanjutnya. Selain melalui gigitan, demam kucing juga bisa muncul jika misalnya si majikan memiliki luka dan kemudian dijilat oleh kucing peliharaannya. Oleh sebab itu, sebaiknya segera cuci bekas luka dengan air dan sabun jika memang tercakar atau tergigit. Sementara itu, drh Olan Sebastian, MM, membenarkan bahwa digigit kucing bisa menimbulkan enzim yang kemudian membuat badan menjadi demam. Namun menurutnya bakteri Bartonella henselae sendiri justru tidak terlalu berbahaya bagi tubuh. "Efeknya cuma panas aja, dikasih antibiotik atau obat penurun panas juga sudah pulih. Yang penting kalau digigit kucing segera cuci tangan menggunakan air dan sabun, lalu gunakan obat antiseptik atau rivanol," lanjut drh Olan, yang merupakan salah seorang anggota Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:00 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:34 pm

TERGIGIT ANJING LANGSUNG KENA RABIES?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 09:35 WIB
Jakarta, Anjing diketahui merupakan salah satu hewan yang bisa menularkan rabies. Dengan begitu, Anda sebagai pemelihara tentu juga bisa menjadi korban gigitannya. Lantas apakah tergigit anjing lantas membuat Anda otomatis tertular rabies? "Penyakit anjing gila atau rabies adalah penyakit yang menular melalui gigitan dan air liur anjing yang memang mengandung virus rabies. Cara penyebarannya yaitu anjing menggigit sesama anjing, atau justru langsung ke manusia," ujar drh Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/12/2013). Dilanjutkan drh Wiwiek, target virus ini yaitu sistem saraf, terutama otak. Jika ada anjing yang tiba-tiba menggigit hewan lain atau manusia, maka bisa dikatakan otaknya sudah terkena. "Nah, karena rabies itu penularannya cepat, maka pengendaliannya ada di tangan pemerintah," lanjutnya. Namun meskipun membahayakan, hewan atau manusia yang sudah divaksin akan aman dari rabies walaupun tergigit anjing rabies. Pastikan Anda langsung mencuci tangan dengan sabun jika memang tergigit anjing. Mengapa? Virus rabies bersifat molekular, artinya ia memiliki selaput berupa kandungan lemak atau lipid, sehingga hanya akan mati jika terkena air sabun. "Anjing yang kena rabies itu agresif, enggak diapa-apain menyerang atau menggigit. Mereka juga takut air, sebab saat menelan akan terasa sakit karena otaknya sudah kena. Selain itu mereka juga suka sembunyi di tempat gelap, ekornya tersembunyi di antara dua kaki, suka minggir-minggir dan enggak ada provokasi tiba-tiba menggigit," terang drh Wiwiek. Sependapat dengan drh Wiwiek, drh Olan Sebastian, MM, menyatakan bahwa tergigit anjing tidak lantas membuat Anda langsung kena rabies. Sebab jika anjingnya sudah divaksinasi, maka ia tidak akan menularkan rabies. "Jika Anda tergigit, segera cuci dengan air dan sabun, lalu gunakan obat antiseptik. Tunggu 2-3 hari. Kalau memang tidak membaik, segera bawa ke dokter, nanti akan diberi serum rabies 14 kali selama 14 hari," terang drh Olan, yang merupakan salah seorang anggota Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 12:57 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:35 pm

PELIHARA HEWAN HEWAN INI DIRUMAH?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 07:58 WIB
Jakarta, Siapa yang tak gemas melihat tingkah laku hewan peliharaan seperti kucing atau anjing? Tak hanya menyenangkan, memelihara hewan diketahui juga bisa mengurangi stres. Namun jangan salah, beberapa hewan yang tampak lucu juga bisa menjadi sumber penyakit berbahaya bagi manusia lho. "Di bidang kedokteran manusia, 1.415 agen penyakit, 60 persennya itu zoonosis atau bersumber dari hewan. Penularannya cepat, menimbulkan angka kematian yang tinggi dan jumlah orang yang terjangkit penyakit itu juga banyak," ujar drh Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (4/12/2013). Salah satu hewan yang banyak dipelihara adalah kucing. Menurut drh Wiwiek, kucing memiliki beberapa penyakit yang disebabkan oleh gangguan pada dirinya sendiri atau dari kuman toksoplasma. Toksoplasma sendiri sebenarnya merupakan salah satu jenis parasit yang tumbuh subur di perut kucing. Meskipun demikian, tidak semua kucing memiliki parasit ini. "Tapi kucing di kampung-kampung yang suka minum air di kali yang kotor bisa kemasukan toksoplasma dan menyebar. Setiap kucing juga ada yang menunjukkan gejala dan ada yang tidak. Gejala kucing terkena toksoplasma di antaranya lumpuh pada kaki belakang dan jalannya diseret," lanjut drh Wiwiek. Nah, toksoplasma ini nyatanya juga bisa masuk ke tubuh manusia. Feses kucing yang terserap tanah dan menempel pada tumbuh-tumbuhan bisa tertelan oleh manusia. Selain melalui kucing, toksoplasma juga bisa masuk ke tubuh manusia melalui kambing atau telur mentah. "Makanya kalau mau konsumsi makanan mentah cuci dulu yang bersih, termasuk juga hindari daging kambing yang diolah setengah matang. Ingat juga untuk selalu rajin cuci tangan. Kalau punya kucing dibuang fesesnya dengan benar. Wanita hamil juga selalu pastikan makan makanan yang matang dan tempat tinggalnya bersih dari feses kucing," tegas drh Wiwiek. Sependapat dengan drh Wiwiek, drh Olan Sebastian, MM, salah seorang anggota Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB, menuturkan kepada detikHealth bahwa 167 penyakit manusia bisa ditularkan melalui hewan. Hewan ternak seperti ayam bisa menularkan flu burung, sementara sapi dan babi bisa menularkan antraks. "Kalau hewan peliharaan seperti anjing bisa menularkan rabies dan kucing menularkan toksoplasma. Sementara kelinci menularkan penyakit kulit, scabies oleh tungau atau demodicosis berupa kudis dan kulit kemerahan. Kalau Anda memelihara hewan maka wajib melakukan vaksin rutin setahun sekali dan bersertifikat," tutur drh Olan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 12:56 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Sun Apr 06, 2014 12:54 pm

KONSEP "ONE HEALTH" DITERAPKAN ANTAR UNIVERSITAS ASEAN
Penulis : Rosmha Widiyani | Rabu, 18 September 2013 | 11:02 WIB
KOMPAS.com - Indonesia bersama Malaysia, Thailand dan Vietnam mengembangkan konsep "One Health" untuk penanganan penyakit menular dan pandemik. Konsep ini diterapkan melalui jaringan kerjasama antarlembaga pendidikan yang tergabung dalam South East Asia One Health University (SEAOHUN). Wakil Menteri Kesehatan RI, Ali Ghufron Mukti, pada temu media tentang One Health di Jakarta, Selasa (17/9/2013), menjelaskan, konsep One Health digulirkan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk menjalin kemitraan antara dokter dan dokter hewan. Kemitraan ini disepakati organisasi profesi medis, medis untuk hewan, dan kesehatan masyarakat. Konsep ini akan mendorong kerja sama yang lebih baik antara akademisi, industri, dan pemerintah. Kerja sama mencakup pengembangan pencegahan, pengobatan, dan edukasi penyakit lintas spesies. Sasaran one health adalah pengintegrasian konsep ke dalam sistem pendidikan perguruan tinggi. Dengan konsep ini, para mahasiswa akan terbiasa berfikir dan bekerja sama dengan bidang lain. Dengan kerja sama, penanganan penyakit berbasis hewan akan lebih cepat dan efisien. "Saat ini kita tengah menyusun sistem pendidikannya. Tentunya konsep one health akan membuat penanganan penyakit zoonosis lebih intensif," kata Ali. Indonesia memasukkan Fakuktas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI), Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM), Fakultas Kedokteran Hewan UGM, dan Fakultas Kedokteran Hewan IPB dalam jaringan Indonesia One Health University. "Nantinya One Health tidak hanya dipejari mahasiswa tapi juga pegawai. Saat ini ada 4 mahasiswa yang dikirim ke negara Asia Tenggara maupun lainnya khusus untuk belajar one health," kata Ali. Ia mengatakan, konsep one health dapat mencegah pembakaran ratusan unggas karena khawatir penularan flu burung. Padahal unggas tersebut menjadi sandaran hidup beberapa orang. Unggas terbunuh juga belum tentu efektif mencegah penularan, karena sifat virus yang mudah berpindah. Beberapa negara yang menerapkan one health adalah Malaysia dan Vietnam. Malaysia menerapkannya pada 1999 saat serangan virus nipah. Virus nipah berasal dari babi yang sisa makanannya dimakan hewan lain. Selanjutnya hewan lain dan babi dikonsumsi manusia. Akibatnya, virus menyerang manusia dan menyebabkan banyak korban. Sementara babi yang terserang masih dalam keadaan sehat. "Pelaksanaan one health akhirnya melahirkan kebijakan vaksin antibiotik pada babi. Bila kerja sama ini tidak ada maka kami hanya berfikir dari sisi manusia, tanpa pernah melihat kemungkinan pencegahan yang lain," kata Vice Chairman SEAOHUN, Prof. Noor Hassin bin Ismail.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Sun Aug 24, 2014 2:45 pm

MEMPERKUAT KETAHANAN GLOBAL TERHADAP PENYAKIT MENULAR
DIPUBLIKASIKAN PADA : RABU, 20 AGUSTUS 2014 13:10:00, Jakarta, 20 Agustus 2014
Dalam tiga dekade terakhir, kemunculan penyakit menular baru cenderung meningkat. Penyakit disebabkan zoonosis,infeksi yang ditularkan di antara hewan vertebrata dan manusia atau sebaliknya, potensial menyebabkan wabah penyakit berbahaya dan menular. Demikian disampaikan oleh Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH dalam sambutannya di acara pembukaan Global Meeting on Infectious Diseases, di Hotel Shangri-La, Jakarta (20/Cool. Fokus pertemuan ini adalah bagaimana dunia harus menghadapi risiko wabah zoonosis. Berbagai pengalaman berharga menghadapi masalah zoonosis dari berbagai negara akan disampaikan dan didiskusikan oleh para ahli guna memperkuat kerjasama regional dan global, papar Menkes. Peningkatan penyakit menular baru disebabkan oleh berbagai faktor seperti perubahan iklim global, penggunaan pestisida dan antimikroba, peningkatan kontak antara manusia dan hewan serta perubahan gaya hidup. Belum lama ini dunia menghadapi penyebaran flu burung (H7N9 influenza) dan MERS CoV. Dan saat ini, dunia sedang menghadapi wabah Virus Ebola yang berasal dari kawasan Afrika Barat, khususnya di Guinea, Liberia, Sierra Leone, dan Nigeria. Wabah ini telah ditetapkan sebagai Status Darurat Kesehatan Internasional oleh World Health Organization (WHO) pada 7 Agustus 2014. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian zoonosis membutuhkan upaya kolaborasi dari berbagai pemangku pemerintah. Tidak saja menjadi tanggung jawab Pemerintah, tetapi sangat memerlukan peran sektor Swasta, Akademisi, Praktisi, Organisasi Profesi, dan Lembaga Swadaya Masyarakat.

Sebagai tindak lanjut dari inisiatifGlobal Health Security Agenda (GHSA), pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan dari 37 negara. Diantaranya Argentina, Australia, Azerbaijan, Bangladesh, Bhutan, Kamboja, Kanada, Tiongkok, Mesir, Finlandia, Perancis, Georgia, Jerman, Italia, Jepang, Kenya, Malaysia, Nepal, Belanda, Norwegia, Oman, Portugal, Korea Selatan, Arab Saudi, Singapura, Afrika Selatan, dan Spanyol. Pada acara penyambutan satu malam sebelumnya, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat, HR. Agung Laksono juga menyampaikan pengalaman pentingnya kerjasama multisektor dalam pengendalian zoonosis di Indonesia. Melalui Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Indonesia telah mengimplementasikan pendekatan One Health. Hasil dari implementasi selama 2011 hingga 2013 berhasil mengurangi kejadian 6 jenispenyakit zoonosis yakni rabies, flu burung (H5N1), Antrax, Leptospirosis, Plague dan Brucellosis,ujar MenkoKesra. Brucellosis merupakan penyakit zoonosis menular yang disebabkan bakteri briucella Di Indonesia dikenal sebagai penyakit reproduksi menular pada ternak. Brucellosis sangat mempengaruhi produktivitas sapi. Saat ini beberapa provinsi sudah berhasil dibebaskan dari Brucellosis. Sebagai Ketua Komisi Nasional Pengendalian Zoonosis, Menko Kesra berharap ke depan Indonesia dapat mencukupi kebutuhan daging sapi untuk masyarakatnya.

Lebih lanjut Menteri Pertanian menyampaikan bahwa komitmen pencegahan dan pengendalian zoonosis telah berjalan dengan baik khususnya di dua sektor utama yaitu kesehatan masyarakat dan kesehatan hewan. Sementara itu, perwakilan khusus United States Agency for International Development (USAID) untuk Ketahanan Kesehatan Global, Dr. Dennis Carroll memaparkan bahwa pertemuan ini diadakan untuk mempercepat aksi untuk kelanjutan Ketahanan Kesehatan Global lima tahun ke depan. Melalui GHSA, kita berharap dapat menyatukan pandangan umum dan cara dari berbagai negara dalam mengurangi penyebaran dan dampak dari penyakit menular dan epidemi. GHSA diharapkan dapat memperkuat kemampuan seluruh dunia dalam mendeteksi lebih cepat, mencegah, dan merespons wabah penyakit secara efektif, pungkas Dr. Carroll. GHSA dicanangkan di Washington DC dan Gedung PBB Genewa secara bersamaan pada tanggal 13 Februari 2014. PertemuanGHSA pertamadilaksanakan pada tanggal 5-6 Mei 2014diHelsinki,Finlandia. Pada awalnya, inisiatif GHSA digagas oleh Amerika Serikat dan negara-negara maju dengan melibatkan multi-stakeholders dan multi-sektoral. Selain itu juga dukung badan-badan dunia dibawah PBB diantaranya World Health Organisation (WHO), Food and Agriculture Organisation (FAO), dan World Organisation for Animal Health (OIE). Di Helsinki, GHSA membahas rancangan GHSA Action Packagesand Commitments yang diharapkan dapat dijadikan rujukan bersama di tingkat global dalam mengatasi ancaman penyebaran penyakit infeksi. Komitmen ini antara lain juga dimaksudkan untuk memperkuat implementasi International Health Regulation-IHR yang telah dicanangkan WHO sebelumnya. Pada pertemuan itu, Indonesia menyatakan menjadi prakarsa kerjasama dan bersedia menjadi tuan rumah pertemuan pada tahun 2014 ini.
- See more at: http://www.depkes.go.id/article/view/201408210001/pertemuan-lebih-dari-30-negara-untuk-memperkuat-ketahanan.html#sthash.FhCHvfJu.dpuf
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Tue May 05, 2015 8:01 pm

59 RIBU ORANG TERKENA RABIES SETIAP TAHUNNYA
Diana Rafikasari Senin, 4 Mei 2015 − 08:19 WIB Sindonews
LOS ANGELES - Rabies pada anjing menewaskan puluhan ribu orang setiap tahunnya. Aliansi Global bagi Pengendalian Rabies dan koordinator Grup Kemitraan bagi Pencegahan Rabies, Dr. Louise Taylor mengaku, ada cara untuk mencegah kematian akibat rabies. Namun cara tersebut tidak ditempuh oleh negara-negara yang dirugikan penyakit ini. Dilansir dari VOA, sebuah studi terbaru memperkirakan rabies menewaskan 59.000 orang di seluruh dunia setiap tahunnya. Jumlah ini merupakan jumlah korban rabies yang ditularkan oleh anjing. Rabies kebanyakan disebarkan oleh anjing, walaupun bisa juga ditularkan oleh kelelawar. Sekitar 40-60% korban merupakan anak-anak berusia di bawah 16 tahun. "Anak-anak cenderung lebih tertarik pada anjing. Dan mereka mungkin tidak mengerti bagaimana bersikap terhadap anjing. Mereka dapat lebih cenderung memprovokasi anjing dibandingkan orang dewasa," papar Taylor. Asia, Afrika dan Amerika Latin merupakan negara di mana rabies menjadi endemi. Vaksinasi terhadap anjing rutin dilakukan di negara-negara maju, namun tidak demikian halnya di negara-negara berkembang. "Di negara-negara berkembang, infrastruktur sistem layanan kesehatan bagi hewan lebih terbelakang dan belum terbangun jaringan distribusi vaksinasi berskala luas," ujarnya. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengategorikan rabies pada anjing sebagai penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical disease). Taylor berharap rabies masuk ke dalam prioritas kesehatan dalam tujuan pembangunan berkelanjutan tahun ini. Banyaknya anjing tidak divaksinasi, membuat banyak orang harus dirawat setelah digigit anjing. Mereka harus mendapat serangkaian suntikan untuk mencegah penyakit mematikan ini. Pencegahan, menurutnya, adalah cara termudah untuk menyelamatkan nyawa, baik pada manusia maupun binatang.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed May 13, 2015 7:35 pm

5 PENYAKIT YANG DITULARKAN HEWAN
Rabu, 13 Mei 2015 | 07:15 WIB
KOMPAS.com - Memelihara hewan kesayangan memang memberi banyak manfaat, selain mengusir kesepian, kita juga akan lebih sehat. Tetapi, kita juga wajib menjaga kesehatan hewan-hewan peliharaan karena mereka bisa menularkan penyakit. Selain rabies, berikut adalah 5 jenis penyakit yang dapat ditularkan dari hewan kesayangan Anda.

- Kuman perut
Sakit perut yang tidak jelas penyebabnya bisa jadi berasal dari bakteri anjing atau kucing peliharaan. Campylobacter jejuni yang disebarkan dari kotoran kucing atau anjing. "Bakteri dan organisme dari feses bisa berpindah ke tangan dan melalui aktivitas sehari-hari bisa masuk ke mulut," kata Jason Stull, PhD, peneliti. Benar, mungkin Anda tidak menyentuh kotoran hewan tersebut. Tapi, "si Pus" atau "si Doggy" mungkin menduduki sofa Anda dan Anda menyentuhnya sebelum memegang makanan. Karena itu, cucilah tangan Anda dengan sabun sebelum menyentuh makanan.

- Demam cakar kucing
Jika Anda tercakar kucing dan lukanya cukup dalam, Anda bisa terinfeksi Bartonella, bakteria yang dapat menyebabkan demam dan pembengkakan kelenjar getah bening. Bakteri tersebut hidup di kotoran kutu, yang bisa berpindah ke kuku kucing. Oleh karena itu rutinlah memandikan kucing kesayangan atau memberikan obat kutu.

- Kurap
Kurap adalah infeksi yang disebabkan oleh jamur yang ditandai dengan rasa gatal pada kulit dan juga iritasi berbentuk lingkaran. Kucing adalah penyebab utamanya, tapi kucing juga bisa membawa jamur yang sama. Atasi dengan membawa kucing kesayangan ke dokter hewan jika ia memiliki tanda-tanda kurap pada kulitnya, berbentuk lesi atau pitak dengan warna merah pada pinggir lingkarannya.

- Parasit
Parasit berukuran mikroskopik yang disebut dengan Cryptosporidium dan Giardia duodenalis bisa hidup di feses anjing atau kucing. Orang yang terinfeksi bisa langsung mengalami diare. Gunakan sarung tangan saat membersihkan tempat kotorannya dan cucilah tangan dengan sabun.

- Meningitis
Bakteri Pasteurella multocida bisa menyebabkan pembengkakan kelenjar getah benting, demam, dan walau jarang, meningitis. Bakteri ini hidup di mulut kucing atau anjing dan menginfeksi jika kita digigit atau dijilat di bagian hidung, mulut, atau mata.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed May 13, 2015 8:15 pm

7 MANFAAT PELIHARA HEWAN
Rabu, 13 Mei 2015 | 11:57 WIB Oleh : Irfan Laskito, Riska Herliafifah
VIVA.co.id - Bagi pemilik hewan peliharaan, ada manfaat positif yang bisa didapat. Memliki hewan peliharaan benar-benar akan mengubah hidup pemiliknya. Setidaknya Anda tidak akan pernah merasa sendirian atau tertekan ketika memiliki anak anjing yang lucu dan bermain-main sepanjang waktu. Hewan peliharaan memang mencintai tanpa syarat dan tak menuntut apa-apa kembali. Mereka bisa membuat hidup Anda makin bahagia. Dalam kaitannya dengan kesehatan, hewan peliharaan dapat mencegah penyakit tertentu, seperti dilansir dari laman Boldsky.

Kurangi depresi
Apakah Anda tahu bagaimana hewan peliharaan meningkatkan kesehatan Anda? Nah, sebuah penelitian mengungkapkan bahwa orang-orang yang memiliki hewan peliharaan dapat mengurangi kemungkinan seseorang menderita depresi.

Relaksasi
Ketika Anda bermain dengan anjing, tingkat dopamin dan serotonin di otak Anda meningkat. Hal ini membuat Anda tetap santai dan segar.

Tekanan darah
Fakta lain yang menarik adalah bahwa tekanan darah Anda tetap dalam kontrol ketika Anda memiliki hewan peliharaan di sekitar Anda. Tentu saja, hewan peliharaan tidak dapat menyembuhkan tekanan darah tinggi, namun mereka dapat mencegah kondisi tersebut.

Kolesterol
Percaya atau tidak; studi mengatakan bahwa pemilik hewan peliharaan umumnya memiliki kadar kolesterol yang sehat dibandingkan dengan mereka yang tidak memiliki hewan peliharaan.

Jantung
Mereka yang menderita masalah jantung cenderung bertahan beberapa tahun lagi jika memiliki hewan peliharaan di rumah, dibandingkan dengan mereka yang tidak memilikinya.

Tekan stres
Ketika Anda stres, cobalah untuk bermain dengan anjing Anda dan melihat perbedaannya. Hewan peliharaan dapat mengurangi stres. Hal ini adalah salah satu keuntungan dari memiliki hewan peliharaan.

Kebugaran
Jika Anda benci berolahraga, cobalah untuk berjalan-jalan dengan hewan peliharaan Anda dan bermain dengan hewan peliharaan Anda secara teratur. Tingkat kebugaran Anda secara bertahap akan meningkat. Ini adalah salah satu cara meningkatkan kesehatan dengan hewan peliharaan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Fri Jun 12, 2015 9:48 am

BAHAYA LAIN DARI VIRUS DI KOTORAN KUCING
Kamis, 11 Juni 2015 | 13:00 WIB
KOMPAS.com Memelihara kucing boleh-boleh saja. Namun, Anda harus menjaga kebersihannya agar tak jadi media penularan penyakit. Penelitian terbaru menemukan, virus Toksoplasma gondii (T. gondii) yang bisa ditemukan pada kotoran kucing, tak hanya berbahaya pada kesehatan fisik manusia, tetapi juga mental. Parasit toksoplasma dapat menyerang orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah. Pada ibu hamil, parasit ini bisa menyebabkan keguguran, gangguan perkembangan janin, kebutaan, dan bahkan kematian. Penelitian terbaru, parasit T. gondii juga dapat menyebabkan skizofrenia dan gangguan bipolar. Para peneliti menemukan bahwa memiliki kucing sejak anak-anak lebih berisiko terkena skizofrenia di kemudian hari. Dari 1.982 kuesioner yang disebar, sebanyak 50 persen anak yang memiliki kucing didiagnosis dengan penyakit mental. Namun, menurut laporan Toronto Sun, sebanyak 42 persen orang yang tidak memelihara kucing juga dapat berisiko mengalami penyakit mental. "Kepemilikan kucing pada masa kecil telah dilaporkan dalam tiga studi dan secara signifikan lebih sering terjadi pada anak yang kemudian hari didiagnosis skizofrenia atau penyakit mental lain yang serius," penulis mengatakan. Menurut studi lain, parasit T. gondii memang berhubungan dengan penyakit skizofrenia. Penelitian lain menguatkan, bahwa orang-orang yang terinfeksi T. gondii dua kali lipat lebih berisiko terkena skizofrenia. Menurut peneliti, untuk mencegah parasit T. gondii, hindari memberi makanan mentah pada kucing maupun daging yang matang. Jangan biarkan kucing peliharaan Anda bermain di tempat sampah. Parasit T. gondii sendiri tidak menular jika sudah lebih dari satu hari keluar dari kotoran kucing. Jika membersihkan kotoran kucing sebaiknya menggunakan sarung tangan. Selain itu, selalu mencuci tangan pakai sabun setelah bermain dengan kucing. Meski tidak semua kucing terinfeksi parasit T. gondii, untuk wanita hamil sebaiknya hindari kontak dengan kucing dulu.
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 19 of 19Go to page : Previous  1 ... 11 ... 17, 18, 19
 Similar topics
-
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: