Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 10 ... 17, 18, 19  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Aug 28, 2013 7:26 am

5 SERANGGA BERGIZI TINGGI
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 27 Agustus 2013 | 14:03 WIB
Kompas.com — Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) beberapa waktu lalu menyebut potensi serangga sebagai sumber pangan bergizi tinggi yang murah meriah dan tersedia melimpah di sekitar kita. Kenali apa saja serangga bergizi tinggi yang layak dicoba!

1. Jangkrik
Jangkrik sebenarnya sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat di beberapa negara di Asia. Kandungan kalsiumnya yang tinggi membuat serangga ini paling banyak dikonsumsi. "Protein adalah nutrisi terbesar dari serangga, tetapi ada juga kandungan kalori, vitamin, dan mineral," kata May Berenbaum, kepala departeman entomologi dari Universitas Illinois di Urbana-Champaign.

2. Belalang
Bentuknya mirip dengan jangkrik, tetapi belalang memiliki antena lebih pendek dan lebih aktif di siang hari. Kandungan gizinya yang tinggi membuat belalang bisa menjadi pilihan camilan sehat. Kandungan protein dalam belalang hampir setara dengan sepotong dada ayam berukuran 100 gram, tetapi dengan lemak lebih banyak. Serangga ini terasa lebih lezat jika dipanggang atau dibumbui bawang putih, bawang, cabai, serta kecap.

3. Kepik air raksasa
Kepik air raksasa (giant water beetles) sering ditangkap oleh penduduk di wilayah pedesaan Thailand. Selain karena mudah ditemukan, serangga ini juga mengeluarkan bau yang sedap ketika dimasak. Kandungan proteinnya jauh lebih tinggi dibanding dengan kacang merah.

4. Semut merah
Semut merah dan telurnya sudah lama dikenal dalam kuliner di negara Timur. Selain mengandung protein tinggi, semut memiliki lemak lebih sedikit seperti halnya ikan. Meski begitu, mengumpulkan semut merah bukan perkara mudah karena hewan kecil ini cukup sakit jika menggigit.

5. Ulat daun
Ulat juga bukan serangga baru yang menjadi bahan makanan. Kandungan proteinnya yang tinggi menjadi keunggulan utama ulat untuk dikonsumsi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Sep 04, 2013 11:20 am

ADA 320.000 VIRUS BERSEMBUNYI DI HEWAN MAMALIA
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 4 September 2013 | 10:47 WIB
Kompas.com - Mulai dari Ebola, SARS, West Nile, sampai HIV, semuanya adalah penyakit menular yang mewabah pada manusia dan berasal dari binatang. Pada hewan mamalia saja setidaknya ada 320.000 virus yang mayoritas belum diketahui. Para ilmuwan mengatakan, mengidentifikasi dan mengumpulkan data akan patogen yang bersembunyi pada hewan mamalia sebelum menular ke manusia bisa mencegah terjadinya wabah penyakit. "Saat ini yang kita ketahui tentang virus baru pada apa yang sudah menular ke manusia atau binatang dan dikenal sebagai penyakit. Padahal, jumlah virus di hewan liar dan berpotensi jadi sumber penyakit sangat banyak," kata ketua peneliti Simon Anthony dari Center for Infection and Immunity di Columbia University Mailman School of Public Health. Dalam riset yang dilakukannya, Anthony dan timnya memperkirakan keragaman virus dengan meneliti virus yang dibawa oleh kelelawar yang disebut flying foxes dan hidup di hutan di Bangladesh. Kelalawar tersebut adalah mamalia terbang terbesar dengan lebar sayap mencapai 1,8 meter. Para peneliti mengenali spesies ini sebagai sumber virus Nipah yang bisa menyebabkan demam otak yang mematikan. Virus tersebut pertama kali menginfeksi manusia di tahun 1990-an dan menurut WHO telah menyebabkan jatuhnya lusinan korban di seluruh Asia Selatan. Tim peneliti mengambil contoh usapan tenggorokan, feses dan urin dari 1.897 kelalawar yang hidup dan tampak sehat. Kemudian hewan-hewan itu dilepaskan kembali. Dari pemeriksaan sampel di laboratorium ditemukan 55 jenis virus pada 9 famili virus dan hanya 5 diantaranya yang dikenali. Diperkirakan jumlah total virus pada flying foxes mencapai 58. Jika setiap 5.485 jenis mamalia yang diketahui membawa 58 virus yang unik, maka ada sekitar 320.000 virus di alam liar. Setelah penelitian ini para ilmuwan berencana untuk melakukan studi lanjutan pada spesies primata di Bangladesh dan 6 spesies kelelawar di Meksiko untuk mengetahui diversitas virus. Penelitian tersebut memang akan membutuhkan dana yang sangat besar, namun mereka menilai jumlah tersebut lebih kecil dibanding dengan biaya yang harus dikeluarkan jika terjadi satu wabah penyakit. Untuk dana surveilans, pengambilan sampel, dan penelitian di laboratorium terhadap kelalawar saja dibutuhkan dana 1,2 juta dollar Amerika. Berdasarkan data itu, diperkirakan butuh dana 6,3 miliar dollar Amerika untuk penelitian terhadap primata. Sebagai perbandingan, pada saat terjadinya wabah SARS di Asia pada tahun 2002, dampak wabah ini terhadap ekonomi mencapai 16 miliar dollar Amerika. "Penelitian yang kami lakukan memang tidak menjamin akan mencegah terjadinya wabah lain seperti SARS. Tetapi dengan mempelajari diversitas virus secara global kita dapat melakukan mitigasi wabah dengan memfasilitasi pendataan dan tes diagnostik secara cepat," kata Anthony.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Sep 04, 2013 1:28 pm

MANFAAT BERBAGAI PRODUK LEBAH
Penulis : Rosmha Widiyani | Rabu, 4 September 2013 | 10:53 WIB
KOMPAS.com - Berbagai produk yang dihasilkan oleh lebah atau tawon sudah lama dikenal memiliki manfaat bagi kesehatan. Salah satu yang paling populer adalah madu. Cairan kental berwarna keemasan ini banyak digunakan masyarakat untuk beragam keperluan mulai dari menjaga stamina, memelihara daya tahan tubuh hingga membantu penyembuhan penyakit. Selain madu, ada beragam produk lain yang dihasilkan hewan yang dikenal dengan sengatannya ini. Sebut saja royal jelly, bee pollen, atau propolis yang juga sudah digunakan secara luas di masyarakat. Menurut dokter yang juga praktisi pengobatan natural dan holistik, dr. Ivan Hoesada, secara umum produk perlebahan aman untuk digunakan. “Produk lebah aman dan tidak mengandung racun. Namun supaya hasil yang dicapai sesuai harapan, masyarakat harus tahu produk yang dikonsumsi dan kandungannya,” katanya. Ivan menjelaskan, aneka produk lebah ini memiliki kandungan zat-zat tertentu dengan khasiat yang juga agak berbeda. Berikut ini adalah penjelasan dari bebeberapa produk perlebahan :

1. Madu
Produk lebah yang paling popular ini dihasilkan dari sari bunga dan mengandung glukosa, fruktosa, maltosa, sukrosa, karbohidrat, enzim diatase, dan enzim invertase. Komposisi kandungan dan warna madu kerap berubah, bergantung pada tanaman serta nektar bunga. Madu berfungsi sebagai anti bakteri, antioksidan, anti tumor, dan anti inflamasi. Madu juga berperan sebagai penyedia energi, karena kandungan fruktosa di dalamnya. Fruktosa cepat diserap tubuh, sehingga cocok dikonsumsi mereka yang sedang sakit.

2. Bee pollen
Bee pollen adalah serbuk sari yang dikumpulkan dan dibawa ke sarang lebah madu. Produk berwarna kecoklatan atau emas ini mengandung vitamin A, D, E, K, C, dan B komplek terutama niasin dan asam pantotenat (B 5). Bee pollen juga mengandung asam amino 5-7 kali lebih banyak, daripada makanan berprotein yang sering ditemui. Tingginya kadar B 5 membantu kelenjar adrenal tidak ikut terpacu bila sedang stres. Antioksidan yang dikandung meningkatkan kadar hemoglobin dalam darah, sehingga menjaga stamina dan konsentrasi sepanjang hari. Pollen juga berguna meningkatkan kesuburan, mengurangi ketidaknyamanan di usia tua, dan menangani gejala menopause.

3. Royal jelly (madu lebah)
Royal jelly berasal dari kelenjar hipofaring lebah perawat. Produk ini mengandung 12% protein, 12% gula, 6% lemak, dan 15% asam 10-hidroksi trans-2-dekanoat (HDA). Produk ini juga kaya vitamin B, terutama asam pantotenat. Royal jelly berguna sebagai anti tumor, antioksidan, anti inflamasi, anti bakteri, anti alergi, anti aging, dan anti hipertensi. Konsumsi royal jelly teratur akan meningkatkan metabolisme lipoprotein, dan mengurangi low density lipoprotein (LDL) dalam tubuh.

4. Propolis
Propolis adalah nama lain cairan lilin lebah yang dikumpulkan dari daun muda, atau cairan berbau manis dari tumbuhan. Produk dari lemak madu ini kemudian dikunyah dan dicampur dalam tubuh lebah. Hasilnya disimpan dalam keranjang serbuk sari yang terletak di kaki belakang lebah. Propolis mengandung semua vitamin kecuali K, semua mineral kecuali sulfur, dan 16 asam amino untuk regenerasi sel dan ketahanan tubuh. Di dalam propolis juga terdapat bioflavanoid, yaitu gen antioksidan untuk regenerasi sel. Selain itu, propolis juga bersifat desinfektan alami untuk membunuh berbagai kuman.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Oct 28, 2013 5:39 pm

VIRUS FLU BARU DITEMUKAN PADA KELELAWAR
Penulis : Unoviana Kartika | Senin, 28 Oktober 2013 | 08:30 WIB
KOMPAS com — Sejenis virus flu baru ditemukan pada kelelawar Peru. Virus tersebut ditemukan melalui sebuah studi baru yang dilakukan oleh Pusat Pengontrolan dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC) pada 114 kelelawar. Adalah virus A/kelelawar/Peru/10 virus yang termasuk dalam golongan virus influenza A ini utamanya menyerang unggas. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan virus ini juga dapat menyerang binatang lain, termasuk manusia. Virus influenza A merupakan virus yang memiliki dua protein di permukaannya, yaitu hemagglutinin (H) dan neuraminidase (N) atau dengan rumus kimia H1N1. Sebelumnya, diketahui ada 17 tipe protein H dan 10 tipe protein N. Namun, protein yang ada di permukaan virus A/kelelawar/Peru/10 sangat langka, dan akhirnya dirumuskan sebagai jenis virus baru: H18N11. Menurut peneliti studi Ruben Donis, Direktur Peraturan, Evaluasi, dan Persiapan di Divisi Influenza CDC, tes yang telah dilakukan terhadap virus tidak menunjukkan hasil yang begitu darurat dalam penularannya terhadap manusia. Sejauh ini, para peneliti tidak dapat menumbuhkan virus pada sel manusia atau primata sehingga kemungkinan virus ini sulit menular pada manusia. "Virus juga membutuhkan tempat yang spesifik untuk tumbuh, misalnya di sel usus kelelawar," kata dia. Dengan kata lain, dia menambahkan, para peneliti belum cukup bukti untuk yakin bahwa virus tersebut dapat menginfeksi manusia. Tahun lalu, para peneliti juga mengidentifikasi virus influenza A yang langka, H17N10. Mereka menemukannya dalam kelelawar buah di Guatemala. Sejauh ini, diketahui belum ada virus flu dari kelelawar yang dapat menular ke manusia. Meski begitu, kelelawar dikenal sebagai inang dari patogen lain yang dapat menular pada manusia, misalnya sindrom pernapasan akut. Kelelawar juga diketahui sebagai inang MERS. Kelelawar juga menjadi inang bagi perubahan genetik virus flu. Ditemukannya keanekaragaman virus dalam tubuh kelelawar merupakan bukti bahwa virus telah berevolusi dalam waktu yang lama di tubuh binatang tersebut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Thu Oct 31, 2013 2:19 pm

VIRUS SARS BERASAL DARI KELELAWAR SEPATU KUDA
Penulis : Palupi Annisa Auliani | Kamis, 31 Oktober 2013 | 07:19 WIB
CANBERRA, KOMPAS.com — Para peneliti, termasuk dari Australia, menyatakan virus SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang menewaskan 774 orang di China dan Hongkong pada 2002-2003 dipastikan berasal dari kelelawar jenis sepatu kuda dari China. Meski saat ini telah berhasil dikendalikan, virus tersebut masih mengancam jiwa 10 persen dari populasi yang terinfeksi. Penegasan tersebut terungkap dalam publikasi di jurnal Nature yang dirilis pekan ini. Para peneliti, termasuk ilmuwan dari lembaga ilmu pengetahuan Australia CSIRO di Geelong menemukan kaitan sangat erat virus SARS pada sampel kotoran dari kelelawar jenis sepatu kuda. Peneliti Gary Crameri mengatakan, tim ilmuwan sudah lama mencurigai kelelawar sebagai sumber virus SARS. Dia mengatakan, kemungkinan kelelawar itu sudah menjalin hubungan yang produktif dengan virus SARS selama bertahun-tahun. "Tapi ketika mereka menularkannya kepada manusia, dampaknya luar biasa," katanya. Crameri mengatakan, fokus riset yang dipublikasikan itu adalah mencari sumber virus SARS dan virus-virus serupa lainnya. "Bukan pada mencari vaksin," ujar dia. Crameri mengatakan, pada umumnya kelelawar dengan virus SARS tidak menimbulkan risiko pada manusia tetapi ia menganjurkan agar berhati-hati pada waktu menyentuhnya. SARS kini sudah berhasil dikendalikan, tetapi Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang ditimbulkan oleh coronavirus lainnya saat ini menjadi masalah lain yang butuh penanganan. Crameri menduga virus MERS, yang juga tampaknya berasal dari sejenis kelelawar, menjangkiti sel manusia melalui reseptor yang berbeda dan tidak semenular SARS. Meski tak semenular SAR, MERS menelan korban dengan persentase lebih besar pada populasi yang terinfeksi. Kelelawar adalah binatang kuno dari jutaan tahun lalu, kata Crameri, yang kemungkinan menyebabkan binatang ini membawa sejumlah besar patogen yang tidak berpengaruh pada diri mereka sendiri. "Kelelawar dan virus sudah bertumbuh bersama-sama," katanya. Para pakar menyambut baik riset baru ini. "Sebelumnya, belum ada yang dapat menemukan coronavirus SARS pada kelelawar," kata Sanjaya Senanayake dari Australian National University. Profesor Charles Watson dari Curtin University mengatakan, wabah MERS baru-baru ini mengingatkan kita bahwa coronavirus berpotensi menyebabkan epidemi besar pada manusia.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:25 pm

TIDUR BARENG HEWAN PELIHARAAN?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 17:47 WIB
Jakarta, Jika sudah terlalu sayang dengan hewan peliharaan misalnya kucing dan anjing, banyak orang yang benar-benar menjaga hewan peliharaannya termasuk dengan tidur bersama. Nah, benarkah jika sering tidur bersama meningkatkan risiko pemilik terkena beberapa penyakit? "Kalau jamur iya hingga menyebabkan penyakit kulit, kulit jadi merah dan bulat-bulat lalu gatal. Tapi kalau penyakit menular enggak," tutur drh Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) dalam perbincangan dengan detikHealth seperti ditulis pada Rabu (4/12/2013). "Asal dia dijaga kebersihan dan kesehatannya ya enggak masalah. Kecuali kalau hewannya itu suka pergi keluar kan kita enggak tahu di luar rumah dia ngapain aja. Bisa aja dia ke tempat yang kotor kan, makanya harus dijaga," imbuh drh Wiwiek. Lebih lanjut, drh Wiwiek menjelaskan yang terpenting adalah jika hewan peliharaan sakit, sebaiknya langsung dibawa ke dokter. Terkait luka cakar yang mungkin ditimbulkan, wanita penggemar kucing ini mengatakan cakaran kuku hewan peliharaan tidak terlalu berbahaya asalkan hewan tersebut biasa menggunakan kukunya. "Kalau dia biasa menggaruk-garukkan kukunya, sebenarnya kukunya malah akan masuk ke dalam, karena kuku itu ya untuk melindungi diri kan. Tapi kalau kucing atau anjing ada yang tidak biasa mencakar-cakarkan kukunya, bisa kita bantu potong (kukunya)," jelas drh Wiwiek. Semantara itu, drh Olan Sebastian, MM dari Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Hewan IPB mengatakan meningitis bisa jadi salah satu penyakit yang ditularkan akibat seringnya tidur bersama hewan peliharaan. "Bisa karena ada virus misalnya rabies. Makanya hewan harus divaksinasi minimal setahun sekali. Selama divaksin dan tetap dijaga kebersihannya dan kesehatan si hewan itu ya enggak masalah," papar drh Olan. Menurutnya, jika orang memang mengaku sayang pada binatang maka ia akan benar-benar menyayangi hewan peliharannya. "Boleh sekali-sekali hewannya dikeluarkan, untuk exercise, tapi kembali lagi tetap dijaga kebersihanya dan jangan lupa divaksinasi," ujar drh Olan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:03 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:25 pm

HOBI MAKANAN MENTAH DAN MEMELIHARA HEWAN?
Radian Nyi Sukmasari, M Reza Sulaiman - detikHealth Rabu, 04/12/2013 17:04 WIB
Jakarta, Anda wanita yang hobi makan makanan mentah serta memelihara hewan? Jika iya, maka sebaiknya anda melakukan tes Toksoplasma, Rubela, Cytomegalovirus/CMV dan Herpes simplex (TORCH). Mengapa pemeriksaan ini wajib? TORCH adalah sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari perempuan hamil kepada bayinya. Perempuan yang terinfeksi selama masa kehamilan memiliki risiko tinggi menularkankan ke janin yang bisa berakibat fatal, yakni cacat pada janin atau bahkan kematian. dr Yuditia Purwosunu, SpOG (K) dari divisi Fetomaternal Departemen Obstetri dan Ginekologi FKUI mengatakan tidak semua perempuan perlu tes TORCH. Ia mengatakan ada 3 kelompok perempuan yang diwajibkan untuk melakukan tes TORCH. "Pertama adalah perempuan yang gemar mengonsumsi sayuran mentah seperti salad atau karedok, lalu perempuan yang senang mengonsumsi daging yang tidak dimasak sempurna atau setengah matang, dan terakhir perempuan yang suka memelihara binatang seperti kucing dan anjing," ujarnya beberapa waktu lalu seperti yang ditulis detikhealth pada Rabu (4/12/2013). Sementara itu, drh. Wiwiek Bagja selaku Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia, mengatakan bahwa calon ibu yang tinggal di lingkungan kotor dan banyak kucing harus melakukan tes. Menurutnya, para calon ibu tersebut harus tes bahkan ketika merencanakan kehamilan, karena jika tidak bisa berakibat fatal. "Jangan tunggu keguguran dulu baru tes," ujarnya. Dihubungi terpisah, drh. Olan Sebastian, MM dari Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB, mengatakan kalau tes TORCH harus dilakukan sedini mungkin, untuk mencegah virus-virus yang berbahaya bagi ibu dan janin, terutama virus toksoplasma. Ia mengatakan kalau virus itu tidak diatasi sejak awal, maka perkembangan janin akan terganggu. "Karena seiring dengan berkembangnya plasenta, virus itu akan makin subur. Akibatnya di usia kandungan lima atau enam bulan bobot ibu tidak akan bertambah. Bahkan ketika usia kandungan delapan bulan, janin bisa meninggal di dalam kandungan," paparnya. Sebelum hal itu terjadi, drh. Olan menyarankan untuk melakukan tes TORCH sebelum terjadinya kehamilan. Karena jika hasil tesnya positif, si calon ibu bisa langsung ditangani oleh dokter untuk pengobatan. "Biaya tesnya sekitar Rp 1-1,5 juta. Jika ingin lebih murah bisa melakukan tes di RSUP," pungkasnya.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:09 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:26 pm

SUKA CIUM CIUM HEWAN PELIHARAAN?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 16:17 WIB
Jakarta, Saking sayangnya beberapa orang suka mencium-cium hewan peliharaannya. Kebiasaan ini sebenarnya bukanlah hal aneh bagi pecinta hewan. Namun apakah mereka mengetahui dampak negatif kebiasaan tersebut bagi kesehatannya sendiri? "Cium hewan enggak apa-apa tapi enggak perlulah ya sampai kayak gitu," tutur drh. Wiwiek Bagja, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia dalam perbincangannya dengan detikHealth dan ditulis Rabu (4/12/2013). Menurutnya, ini juga berlaku jika si pemilik hewan suka membawa peliharaannya ke kamar dan tidur bersama. Sebab terlalu sayang pada hewan peliharaan nyatanya bisa membahayakan kesehatan seseorang. Beberapa jenis penyakit yang bisa ditularkan dari hewan peliharaan ke pemiliknya antara lain airborne disease (penyakit yang menular lewat udara) seperti toksoplasma dan bartonella. Dan perlu digarisbawahi jika yang paling sering terserang toksoplasma tak lain adalah wanita, apalagi yang sedang hamil, sehingga selama masa kehamilan disarankan agar hewan peliharaan dijauhkan terlebih dulu dari jangkauan mereka untuk sementara. Selain itu, sebuah studi di Jepang pada tahun 2012 juga menemukan bahwa kebiasaan mencium hewan peliharaan atau membiarkannya menjilat mulut pemiliknya bisa berakibat infeksi gusi pada si pemilik. Bahkan jika tidak kunjung diobati, infeksi gusi tersebut dapat berujung pada periodontitis (penyakit gusi paling parah) hingga pembusukan tulang rahang berikut celah-celah di antara gusi dan gigi, yang pada akhirnya membuat si pemilik jadi rentan atau cepat ompong. Orang yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang rendah atau lansia juga tidak disarankan sering-sering mencium hewan peliharaan. Pasalnya daya tahan tubuhnya yang rendah membuat orang yang bersangkutan juga lebih rentan terinfeksi bakteri atau kuman yang mungkin menempel pada tubuh peliharaan. Ini juga berlaku untuk bayi. "Kalau mau pastikan kucing atau anjingnya itu memang benar-benar bersih dan enggak keluar, karena kalau keluar kan kita enggak tahu dia cari makan di tempat sampah, misalnya. Yang penting jaga kebersihan hewan, rutin bawa ke dokter, dibersihkan dimandiin dan dirawat," saran drh. Wiwiek.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:07 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:29 pm

RISIKO KONSUMSI DAGING DAN SUSU MENTAH
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 15:40 WIB
Jakarta, Suka makan sushi? Lezat memang, tapi pastikan daging mentah yang digunakan berasal dari sumber yang terpercaya. Bila tidak, risiko infeksi penyakit dari hewan pun mengintai. Begitu juga saat mengonsumsi susu mentah. Dijelaskan oleh drh Olan Sebastian, MM dari Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB, konsumsi daging ikan mentah umumnya tidak menyebabkan masalah asal ikannya sehat. Masalah sering muncul saat yang dikonsumsi dalam kondisi mentah itu adalah daging merah atau daging putih. "Yang masalah itu kalau makan daging merah atau white meat tapi enggak matang misalnya dijadikan sate atau steak. Karena yang bahaya itu cacing pitanya," terang drh Olan saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (4/12/2013). Bila daging merah atau daging putih yang terkontaminasi cacing pita tadi dikonsumsi dalam kondisi tidak terlalu matang, maka cacing pita akan masih ke saluran darah lalu bermingrasi ke otak. Jika sudah demikian, orang yang terinfeksi bisa mengalami kejang-kejang. "Untuk mengatasinya harus dibuka tengkoraknya lalu diambil cacing pitanya itu," lanjut drh Olan. Sementara pada susu mentah, risiko penyakit mengintai apabila proses pemerahan susunya tidak bersih. Proses yang tidak bersih bisa membuat susu perahan tersebut terkontaminasi bakteri-bakteri yang bisa mengganggu pencernaan dan mengakibatkan mencret. Senada dengan drh Olan, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI) drh Wiwiek Bagja juga berpendapat bahwa ikan mentah tidak menyebabkan penyakit asal ikannya sehat dan pengolahannya bersih. Makanan Jepang seperti sushi, menurutnya aman untuk dikonsumsi. "Kalau sushi itu terkenal dengan tingkat higienitas yang tinggi karena ada syarat tersendiri jadi cenderung aman," kata drh Wiwiek.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:06 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 04, 2013 7:32 pm

SUKA ELUS ELUS BURUNG?
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 04/12/2013 15:08 WIB
Jakarta, Penggemar burung memang harus rajin merawat peliharaannya. Tidak cukup hanya dengan mengelus-elus saat sedang merasa gemas, tetapi juga mengobatinya bila sedang tidak sehat. Bila tidak, siap-siap saja tertular psittacosis. Psittacosis merupakan sebuah penyakit gangguan pernapasan yang disebabkan oleh jamur Chlamydia psittaci. Penyakit yang sebetulnya tidak berbahaya dan bisa diobati dengan antibiotik ini ditularkan oleh burung, khususnya jenis burung berparuh bengkok seperti betet atau beo. Tidak sulit mengidentifikasi burung yang terinfeksi penyakit ini. Menurut drh Olan Sebastian, MM dari Ikatan Alumni Kedokteran Hewan IPB, burung yang terinfeksi akan mengalami gejala seperti sedang pilek dan kadang keluar lendir dari paruhnya. "Ciri-ciri burung yang sakit itu hidungnya seperti mampet, suaranya seprti tercekik dan keluar lendir di paruhnya," terang drh Olan saat dihubungi detikHealth, seperti ditulis pada Rabu (4/12/2013). Bisa juga, burung yang terinfeksi akan mengalami demam dan menggigil. Meski begitu, gejala pada setiap burung tidak selalu sama. Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PB PDHI), drh Wiwiek Bagja menjelaskan bahwa penularan psittacosis pada manusia terjadi bila paru-paru menghirup kuman yang berasal dari kotoran. Biasanya, kotoran burung yang sudah kering akan terhirup saat dibersihkan. Meski lebih sering menjangkiti burung berparuh bengkok, penyakit ini bisa juga menulari unggas lainnya seperti kalkun. Karenanya, penularan penyakit ini bisa juga terjadi melalui kontak dengan unggas seperti kalkun. "Makanya pekerja yang memanen kalkun waktu thanksgiving itu rentan kena, atau pekerja di Pet Shop," terang drh Wiwiek.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 1:04 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 18 of 19Go to page : Previous  1 ... 10 ... 17, 18, 19  Next
 Similar topics
-
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: