Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 10 ... 16, 17, 18, 19  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed May 29, 2013 4:02 pm

HEWAN PELIHARAAN, SAHABAT YANG BIKIN SEHAT
Penulis : Rosmha Widiyani | Sabtu, 11 Mei 2013 | 10:43 WIB
Kompas.com - Sahabat berkaki empat yang Anda miliki bukan hanya sekadar teman di rumah tapi juga menyehatkan jantung. Sudah banyak penelitian yang mengungkap manfaat sehat memelihara hewan. Namun dalam studi teranyar ini para peneliti menyoroti manfaat hewan-hewan kesayangan, khususnya anjing, dalam memelihara kesehatan jantung. Hewan peliharaan, khususnya anjing, diketahui membantu menurunkan tekanan darah, meningkatkan mood, memperbaiki kadar kolesterol, menurunkan berat badan, dan memperbaiki respon stres dalam tubuh. "Memiliki hewan membantu orang hidup lebih sehat, sehingga mampu menurunkan risiko terkena sakit jantung. Memiliki hewan adalah anugerah bagi manusia," kata Barbara George, direktur Center for Cardiovascular Lifestyle Medicine di Winthrop-University Hospital, New York, AS. Hal ini ia dibuktikan dengan menganalisa penelitian terhadap 5.200 orang dewasa yang memiliki anjing. Pada penelitian yang dilakukan American Heart Association (AHA) tersebut, orang yang memiliki anjing bisa berolahraga rutin karena harus mengajak anjingnya jalan-jalan. Hasilnya orang yang memiliki hewan mampu menurunkan tekanan darah, tingkat kolesterol, kegemukan dan meningkatkan usia harapan hidup bagi para penderita gagal jantung. Namun bukan berarti memiliki hewan peliharaan berdampak langsung pada menurunnya risiko menderita penyakit jantung. "Bukan berarti yang sudah kena sakit jantung bisa sembuh, atau risikonya kambuhnya menurun. Tapi bagi orang sehat, kepemilikan hewan bisa menjauhkannya dari risiko penyakit jantung," kata Dr. Glenn Levine, dosen dari Baylor College of Medicine, Houston.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Sat Jun 01, 2013 4:45 pm

5 KESALAHPAHAMAN SOAL NYAMUK DAN PENYAKIT YANG PERLU DIKETAHUI
Rahma Lillahi Sativa - detikHealth Sabtu, 01/06/2013 11:03 WIB
Jakarta, Nyamuk kadung identik dengan pembawa penyakit. Padahal biasanya nyamuk baru bisa menularkan penyakit ketika 'ditunggangi' oleh parasit tertentu, misalnya malaria. Dengan kata lain nyamuk tak melulu dapat menyebabkan musibah karena itu bergantung pada parasit yang menumpang di tubuhnya. Hal ini menunjukkan pentingnya wawasan tentang nyamuk dan kecenderungannya untuk membawa penyakit tertentu karena ternyata belum banyak orang yang tahu. Untuk lebih jelasnya, simak lima kesalahpahaman terbesar terkait nyamuk berdasarkan keterangan seorang pakar entomologi di Division of Vector-Born Diseases, CDC, AS, Janet McAllister, Ph.D., seperti dikutip Huffingtonpost, Sabtu (1/5/2013):

Mitos 1: Semua jenis nyamuk itu sama saja atau kurang lebih sama
Sebagian besar orang seringkali berasumsi bahwa perbedaan antara satu jenis nyamuk dengan nyamuk lainnya tampaknya tak begitu besar. Padahal menurut McAllister, spesies nyamuk-nyamuk itu sama sekali berbeda antara satu sama lain seperti halnya antara singa dengan kucing rumahan. "Mereka mempunyai perilaku yang sangat berbeda, preferensi pilihan makanan dan di mana mereka tinggal yang juga sama sekali berbeda," lanjutnya. Bahkan untuk urusan tempat tinggal ini bisa jadi masalah besar. Sebab spesies nyamuk kota tidak dapat tinggal di pedalaman dan terdapat beberapa spesies yang hanya bisa berkembang biak di daerah yang sangat spesifik. Jadi jenis nyamuk apa yang menyukai lingkungan tempat tinggal Anda dapat berdampak pada penyakit apa yang mungkin memapari Anda nantinya. Yang tak kalah penting untuk diketahui, hanya nyamuk betina yang dapat menggigit manusia.

Mitos 2: Semua jenis nyamuk membawa bibit penyakit
"Terdapat lebih dari 3.000 spesies nyamuk di penjuru dunia, tapi hanya beberapa ratus yang dapat membawa bibit penyakit. Hal ini karena kebanyakan nyamuk tidak dapat menggigit manusia, sebagian justru lebih memilih hewan-hewan seperti amfibi dan reptil," kata McAllister. Nyamuk-nyamuk yang membawa penyakit biasanya terkonsentrasi di spesies-spesies tertentu. Misalnya, virus West Nile dan virus ensefalitis St. Louis yang 'menumpang' pada nyamuk spesies Culex. "Tapi itu bukan berarti bahwa spesies Culex merupakan satu-satunya serangga yang dapat menyebarkan virus-virus paling berbahaya tersebut," terang McAllister. Namun tampaknya spesies Culex-lah yang diketahui menjadi satu-satunya penyebab wabah penyakit dari kedua virus untuk alasan yang belum dipahami para ilmuwan sampai sekarang.

Mitos 3: Jumlah nyamuk di musim kemarau lebih sedikit daripada di musim hujan
"Nyamuk memang berkembang biak di dalam air, tapi sebenarnya kondisi kekeringan justru paling berpotensi menimbulkan penyakit. Sebab air terkonsentrasi yang jauh lebih kotor dan lebih kaya akan bahan-bahan organik terlihat lebih menarik bagi nyamuk-nyamuk pembawa penyakit," jelas McAllister. Lagipula kurangnya sumber daya air pada musim kemarau berarti bahwa nyamuk dan burung-burung yang banyak membawa penyakit akan saling berbagi sumber daya, sehingga menciptakan lingkungan yang memudahkan penyebaran penyakit.

Mitos 4: Nyamuk hanya memilih orang-orang dengan 'darah manis'
Memang benar nyamuk hanya menggigit orang-orang tertentu, tapi hal ini tak ada kaitannya dengan kadar gula darah, penggunaan aroma tertentu atau berbagai faktor lain yang umumnya dianggap dapat menarik perhatian nyamuk. "Beda spesies, beda juga ketertarikannya pada sesuatu, meski para pakar telah menemukan bahwa secara umum nyamuk menyukai karbon dioksida, asam laktat dan strain bakteri tertentu yang konsentrasinya lebih tinggi pada orang-orang tertentu," tandas McAllister. Selain itu, orang-orang dapat membuat diri mereka terlihat lebih atraktif bagi nyamuk, terutama sehabis berolahraga karena dalam tubuh orang-orang itu terdapat kombinasi antara keringat, karbon dioksida dan asam laktat.

Mitos #5: Bawang putih dapat menjauhkan diri dari nyamuk
Ada beberapa orang yang rela mengonsumsi suplemen bawang putih atau makan bawang putih mentah demi menjauhkan dirinya dari nyamuk, tapi nyatanya tak ada bukti ilmiah yang mendukung hal ini.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Jul 01, 2013 3:58 pm

HATI HATI KUCING BISA TULARKAN TUBERKULOSIS
SENIN, 01 JULI 2013 | 10:35 WIB
TEMPO.CO, Edinburgh – Kucing, hewan peliharaan yang menggemaskan, ternyata bisa menularkan bakteri Tuberkulosis (TB) pada manusia. Mengingat kucing merupakan hewan petualang, bakteri ini bisa masuk dari mana saja, termasuk dari sapi dan hewan pengerat. Selain itu, bakteri ini juga bisa ditularkan melalui susu yang terinfeksi bakteri TB. “Masalah ini menjadi pelik, pasalnya kucing memiliki kontak yang begitu dekat dengan manusia,” ujar Carl Padgett, mantan presiden Asosiasi Dokter Hewan Inggris, kepada Sunday Telegraph, seperti dikutip Daily Mail, Minggu, 30 Juni 2013. Para ilmuwan di Studi Kesehatan Hewan Universitas Edinburgh Royal School mengatakan, sebanyak 100 dari 100.000 kucing bisa terinfeksi TB. Ini lebih besar dari yang diperkirakan sebelumnya. Seperlima dari mereka diperkirakan terinfeksi oleh Mycobacterium bovis , yakni bakteri yang biasa ditemukan pada sapi dan luak. Sebagian besar juga disebabkan oleh Mycobacterium microti yang biasanya ditemukan pada tikus. Profesor Danielle Gunn-Moore, pemimpin penelitian, mengatakan selama ini TB hanya dikaitkan dengan ternak. "Padahal, ternak bisa menularkan ke kucing. Dari sinilah, TB bisa menginfeksi manusia meskipun ternak sudah dimusnahkan.” Tim peneliti dari Edinburgh menemukan bahwa dalam satu tahun, 17 persen dari 187 kasus TB pada kucing disebabkan oleh bakteri yang terdapat pada sapi. Penemuan ini disambut gembira oleh para peneliti. Mereka menjadi tahu bahwa ternyata kucing bisa menularkan TB. Oleh sebab itu, dokter hewan menyarankan agar pemilik kucing berhati-hati terhadap peliharaannya. Terutama, saat kucing ini memiliki luka akibat perkelahian dengan luak atau kucing liar lainnya. Selain itu, untuk mengurangi risiko TB pada manusia, pemilik kucing juga hendaknya memvaksin si hewan manja ini.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Jul 10, 2013 4:08 pm

DAMPAK KOTORAN KUCING BAGI KESEHATAN MANUSIA
RABU, 10 JULI 2013 | 12:43 WIB
TEMPO.CO, Chevy Chase - Hati-hati saat membuang kotoran kucing peliharaan Anda. Sebab, kotoran tersebut membawa parasit jahat yang mungkin jauh lebih berbahaya dari perkiraan kita. Sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Johns Hopkins Medical Center di Chevy Chase, Maryland, Amerika Serikat, mengungkapkan sekitar 2,6 miliar pound atau sekitar 1,2 juta ton tinja telah dikeluarkan kucing ke lingkungan setiap tahunnya. Kotoran kucing membawa parasit Toxoplasma gondii, yaitu organisme bersel tunggal yang dapat menginfeksi ibu hamil sehinga menyebabkan masalah bawaan pada bayi. Masalah itu seperti ketulian, kejang, kerusakan mata, dan keterbelakangan mental. Parasit ini juga dapat menginfeksi orang yang memiliki masalah dengan sistem kekebalan tubuh, seperti penderita HIV AIDS. Fox News melaporkan, berdasarkan penelitian, parasit Toxoplasma dipercaya bisa menjadi masalah kesehatan bagi masyarakat. Secara signifikan, parasit ini dapat menginfeksi orang yang sehat. Penelitian lain bahkan telah mengaitkan parasit ini dengan risiko skizofrenia, depresi, perilaku bunuh diri, dan prestasi sekolah yang rendah pada anak-anak. “Parasit tersebut bahkan dapat bertahan hidup selama 18 bulan” kata E. Fuller Torrey, seorang psikiater yang terlibat dalam penelitian itu. Hewan lain seperti domba dan sapi, juga dapat terjangkit parasit Toxoplasma gondii. Penularan itu terjadi saat hewan-hewan itu secara tidak sengaja menelan kotoran kucing yang telah terinfeksi. Sementara pada manusia, penularan parasit bisa terjadi melalui makanan berupa daging mentah atau kurang matang. “Ini adalah parasit yang sangat kompleks. Ini jauh lebih rumit dari virus dan memiliki gen lebih banyak,” kata Torrey. Torrey juga menganjurkan agar populasi kucing dapat dikendalikan, terutama kucing liar. Kotak pasir tempat kotoran kucing harus selalu dalam keadaan bersih dan selalu ditutupi. Tukang kebun harus memakai sarung tangan dan mencuci sayuran mereka. Dan pemilik kucing pun tidak boleh membuang kotoran kucing sembarangan dan harus menyediakan tempat sampah khusus.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Jul 15, 2013 1:32 pm

MEMELIHARA KUCING SAAT HAMIL TAK SELALU BERBAHAYA?
Senin, 15 Juli 2013 | 09:33 WIB
KOMPAS.com - Banyak perempuan jatuh cinta pada kucing, meski hewan ini dapat menularkan parasit toksoplasma. Kenyataannya, memang tidak semua perempuan pecinta kucing terinfeksi toksoplasma. Lantas di mana letak masalahnya? Memang benar, kucing dapat menularkan parasit toksoplasma melalui kotorannya. Parasit ini dapat menyebabkan kecacatan hingga keguguran janin. Namun, jika lama sebelum hamil, ibu sudah memelihara kucing, boleh jadi tubuhnya pernah terinfeksi dan membentuk zat antibodi terhadap parasit toksoplasma. Masalah muncul jika ibu tidak memiliki antibodi tersebut. Agar pengobatan bisa dilakukan lebih awal, sebelum merencanakan kehamilan, lakukan tes untuk mengetahui apakah calon ibu memiliki daya tahan terhadap toksoplasma atau tidak. Bila tidak, giliran kucing peliharaan Anda yang dibawa ke dokter hewan untuk diperiksa apakah mengidap infeksi aktif tokso atau tidak. Jika ya, apa boleh buat, kucing peliharaan harus dititipkan selama Anda hamil.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Jul 15, 2013 4:12 pm

8 FAKTA UNIK GIGITAN NYAMUK
Penulis : Unoviana Kartika | Senin, 15 Juli 2013 | 13:38 WIB
KOMPAS.com - Hampir setiap orang jengkel digigit nyamuk. Rasa gatal dan bekas-bekas merah yang ditimbulkan setelah gigitan tentu menimbulkan rasa tidak nyaman, bahkan mengurangi rasa percaya diri. Selain itu, yang lebih parah gigitan nyamuk juga berpotensi menularkan penyakit. Namun di balik efek gigitan nyamuk yang menjengkelkan, ada juga fakta-fakta unik seputar aksi gigitan nyamuk, berikut di antaranya.

1. Nyamuk menyukai tubuh yang berkeringat
Nyamuk bukan menyukai Anda karena bau darah yang menggiurkan baginya, namun karena karbondioksida yang dikeluarkan oleh tubuh. Semakin banyak karbondioksida yang Anda keluarkan maka kemungkinan semakin menarik Anda di mata nyamuk. Maka nyamuk umumnya lebih banyak datang sesaat setelah berolahraga karena tubuh mengeluarkan banyak karbondioksida.

2. Nyamuk yang menggigit hanyalah nyamuk betina
Jangan salahkan semua nyamuk, karena nyamuk yang mengigit hanyalah nyamuk betina. Nyamuk jantan tidak butuh darah manusia karena sudah mendapat nutrisi yang dibutuhkan dari nektar. Sementara nyamuk betina membutuhkan darah yang mengandung protein yang membantu pengembangan telur-telur nyamuk yang berjumlah ratusan itu.

3. Nyamuk menyukai bir
Bukan berarti nyamuk langsung minum bir, melainkan nyamuk menyukai orang yang minum bir. Ada perubahan senyawa kimia tertentu di dalam tubuh orang yang minum bir sehingga dapat menarik nyamuk.

4. Nyamuk menyukai kaki yang bau
Para peneliti menunjukkan, kaki yang mengeluarkan aroma bau lebih menarik bagi nyamuk.

5. Nyamuk menyukai orang yang berdiri di pinggir
Jika sedang di kerumunan, jangan berdiri di pinggir kalau tidak mau digigit nyamuk. Hal ini karena nyamuk lebih mudah mencapai orang yang berada di pinggir daripada yang berada di tengah.

6. Nyamuk tidak menyukai taman yang terawat
Taman identik dengan nyamuk. Namun jika dirawat dengan baik, jumlah nyamuk dapat diminimalisasi. Maka rutinlah untuk membersihkan taman, pangkas tanaman-tamanan yang sudah mulai tidak beraturan, dan kuraslah kolam yang mungkin ada di sana.

7. Alat "pemancing" nyamuk justru buat nyamuk semakin banyak
Jika Anda memiliki alat pemancing nyamuk, sebuah alat yang mengeluarkan gas karbondioksida dan memerangkap nyamuk, mungkin ada baiknya untuk tidak menggunakannya lagi. Lantaran alat itu justru akan membuat jumlah nyamuk semakin banyak karena karbondioksida yang dikeluarkannya memancing banyak nyamuk untuk datang.

8. Nyamuk menyukai wanita hamil
Saat hamil, pengeluaran karbondioksida dari tubuh semakin banyak, terutama di bagian perut lantaran bayi pun ikut menyumbangkan emisi. Inilah yang membuat nyamuk lebih tertarik pada wanita hamil, terutama di bagian perut mereka.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Tue Aug 13, 2013 10:18 am

CUACA TAK MENENTU, WASPADAI PENULARAN PENYAKIT KULIT
Selasa, 13 Agustus 2013 | 08:07 WIB
KOMPAS.com — Jumlah kasus penyakit kulit pada anjing, kucing, dan kelinci cenderung meningkat beberapa bulan terakhir karena cuaca tidak menentu. Pemilik hewan di rumah perlu mewaspadai potensi penularan penyakit kulit dari hewan peliharaan. Penyakit kulit pada hewan bisa menular ke manusia melalui kontak kulit. ”Salah satu penyakit kulit pada hewan yang marak dua bulan terakhir adalah scabies atau kudis,” kata dokter hewan Antonius Perdana, pengelola klinik kesehatan satwa Mon’s Pet, Senin (12/Cool di Jakarta. Kudis merupakan penyakit kulit yang disebabkan tungau (Sarcoptes scabiei), binatang kecil bertungkai delapan yang sangat kecil. Anjing, kucing, dan kelinci dengan kudis ditandai kerak dan kerontokan bulu di sejumlah bagian tubuh, seperti telinga, hidung, ekor, dan perut. Kudis menimbulkan rasa gatal, yang jika digaruk bisa menimbulkan luka yang berlanjut dengan infeksi bakteri. Selain membuat hewan gelisah, kata Perdana, kudis juga bisa menyebabkan nafsu makan hewan menurun. Pada anjing dan kucing yang berusia kurang dari lima bulan, kudis bisa mengakibatkan infeksi parah mematikan. Dua bulan terakhir, jumlah hewan peliharaan yang terkena kudis cenderung meningkat. ”Jumlah hewan yang terkena scabies yang diperiksakan di klinik saya mencapai 10-20 ekor tiap hari,” katanya.

Potensi penularan
Selain di Jakarta dan sekitarnya, peningkatan itu juga dilaporkan di Bandung, Makassar, Yogyakarta, dan Pekanbaru. Kasus tersebut disebabkan antara lain oleh anomali cuaca. Kondisi cuaca yang tidak menentu membuat daya tubuh hewan menurun sehingga penyakit kudis mudah menular. Menurut Amir Mahmud, dokter hewan di Jakarta Timur, kondisi cuaca yang tak menentu memang mengakibatkan hewan lebih rentan terkena penyakit kulit. ”Hampir setiap hari ada hewan diperiksakan karena penyakit kulit,” kata pengelola klinik Metropet itu. Penyakit kulit lain yang sering dialami anjing dan kucing adalah ringworm atau sering disebut kurap. Penyakit yang disebabkan jamur tersebut ditandai dengan kerontokan bulu dan terbentuknya lingkaran pada bagian sekitar leher, muka, dan perut bagian bawah. Sama dengan kudis, kurap juga dapat menimbulkan luka yang berakibat pada infeksi. ”Jika penyakit ini parah, perlu waktu berbulan-bulan agar hewan peliharaan sembuh,” ujar Amir.

Cegah interaksi
Menurut Amir, untuk mencegah penularan penyakit kulit dari hewan ke manusia, interaksi dengan hewan yang terkena penyakit kulit harus dihindari. ”Jika penyakit sudah parah, hewan peliharaan bisa ditempatkan di tempat khusus untuk menghindari interaksi dengan manusia,” ujarnya. Supaya hewan peliharaan tak terkena penyakit kulit, pemilik perlu menjaga kebersihan hewan kesayangannya. ”Dalam kondisi normal, anjing dan kucing harus dimandikan dua minggu sekali,” kata Amir. Selain itu, kekebalan tubuh hewan peliharaan juga harus dijaga dengan memberikan makanan bergizi. (K02)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Aug 14, 2013 10:26 am

HEWAN EKSOTIS BERPOTENSI MENULARKAN PENYAKIT
Rabu, 14 Agustus 2013 | 07:16 WIB
KOMPAS.com — Berbagai jenis hewan peliharaan eksotis berpotensi menularkan penyakit. Mereka yang memelihara hewan-hewan tersebut harus berhati-hati karena perilaku dan penyakit yang dibawa belum banyak diketahui. Memelihara hewan eksotis di rumah membuka peluang penularan penyakit. ”Para pakar kesehatan manusia dan hewan dari sejumlah negara sepakat, memelihara binatang yang tak lazim di lingkungan manusia berisiko,” kata Ketua Umum Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia Wiwiek Bagja, Selasa (13/Cool di Jakarta. Hewan peliharaan eksotis merupakan sebutan untuk segala jenis hewan peliharaan yang dahulu tak biasa dipelihara di rumah. Kebanyakan satwa liar yang dipelihara di rumah karena tren misalnya hamster, sugar glider (hewan terbang mirip tupai), kera, iguana, dan berbagai ular. Satwa liar sering menjadi sumber berbagai jenis penyakit menular. Dari 338 penyakit menular baru yang disepakati pakar kesehatan dunia dalam pertemuan yang digelar Wildlife Conservation Society pada tahun 2004 di Amerika Serikat, sebanyak 60,4 persen atau 204 jenis merupakan penyakit menular dari hewan ke manusia (zoonosis). Dari 204 penyakit zoonosis baru itu, 70 persen atau 143 penyakit disebabkan satwa liar. ”Fakta itu menunjukkan, mereka yang memelihara hewan yang tak lazim hidup di lingkungan orang harus benar-benar waspada,” kata Wiwiek. Dokter hewan Perdana mengatakan, sejumlah hewan eksotis yang sedang tren di Indonesia saat ini potensial menularkan penyakit. Hamster, kelinci, dan sugar glider bisa menularkan penyakit kulit seperti scabies atau kudis. Hamster juga pernah diketahui menularkan virus papovavirus yang dapat menyebabkan infeksi ginjal dan tumbuhnya tumor. ”Namun, ini sangat langka,” ujarnya. Menurut Perdana, sugar glider juga dapat menularkan leptospirosis. Penyakit yang gejala awalnya demam, sakit kepala, dan muntah itu bisa merusak ginjal dan hati, serta radang selaput otak. Berbagai jenis reptil juga berpotensi menularkan bakteri yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, dari tifus hingga kelumpuhan. Adapun kera potensial menularkan tuberkulosis dan hepatitis.

Belum menyeluruh
Menurut Perdana, penelitian tentang hewan eksotis belum banyak dilakukan sehingga perilaku dan penyakit yang potensial ditularkan belum banyak diketahui. ”Karena hewan eksotis dulunya satwa liar, belum banyak penelitian yang dilakukan jika dibandingkan dengan hewan peliharaan yang lazim, misalnya anjing dan kucing,” ujarnya. Mereka yang ingin memelihara hewan eksotis dianjurkan mencari informasi dari berbagai sumber, termasuk dari komunitas dan dokter hewan. Hewan eksotis yang dipelihara sebaiknya hasil ternak, bukan tangkapan dari alam. ”Kalau hasil ternak, penyakitnya cenderung lebih terkendali,” ujar Wiwiek. Hal senada dikatakan anggota komunitas pencinta sugar glider di Indonesia, Suryo Adilaksano (40). ”Mereka yang pemula sebaiknya membeli sugar glider hasil ternak karena biasanya lebih jinak dan tidak berpenyakit,” ujarnya. Suryo menuturkan, sugar glider hasil tangkapan dari hutan-hutan di Papua sering terserang diare dan tubuhnya terluka. (K02)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Aug 26, 2013 4:22 pm

VIRUS MERS BERASAL DARI KELELAWAR
Rahma Lillahi Sativa - detikHealth Senin, 26/08/2013 07:28 WIB
Jakarta, Sejak pertama kali ditemukan pada bulan September 2012, para ilmuwan tak kunjung mengetahui darimana asal-muasal virus penyebab Middle East Respiratory Syndrome (MERS) yang mirip SARS dan mematikan itu. Beruntung baru-baru ini sekelompok peneliti menemukan jika virus ini berasal dari kelelawar yang ada di Arab Saudi. Setelah menguji sampel beberapa kelelawar yang tinggal tujuh mil (sekitar 11 km) dari rumah orang pertama yang diketahui terinfeksi MERS di Arab Saudi, peneliti pun memastikan sebuah virus yang ditemukan pada salah satu dari kelelawar-kelelawar itu terbukti 100 persen identik dengan yang virus MERS pada manusia. "Ada beberapa laporan penemuan virus mirip MERS pada binatang-binatang tertentu. Tapi tak ditemukan kecocokan genetik. Namun dalam kasus ini kami memiliki virus pada binatang yang ternyata identik dengan rangkaian virus yang ditemukan pada kasus manusia pertama," tandas peneliti Dr. W. Ian Lipkin, direktur Center for Infection and Immunity, Mailman School of Public Health, Columbia University. "Dan yang lebih penting lagi sumbernya tak jauh dari kasus pertama itu," imbuhnya seperti dikutip dari Foxnews, Senin (26/8/2013). Peneliti juga mencatat kelelawar sendiri memang kerap menjadi 'sumber' sejumlah virus lain yang dapat menginfeksi manusia, termasuk rabies dan SARS, gangguan pernapasan akut yang menyerang 8.000-an orang dan hampir membunuh 800 orang di Asia Tenggara antara tahun 2002-2003. Namun karena kelelawar bukanlah binatang yang kerap berinteraksi dengan manusia, peneliti menduga jika kelelawar menginfeksi binatang lain, yang pada akhirnya menginfeksi manusia. Untuk itu, peneliti berencana melanjutkan pencarian sumber virus pada berbagai jenis binatang, entah rumahan atau liar di kawasan sekitar penyebaran virus MERS pertama. Baru-baru ini studi lain juga menemukan antibodi untuk melawan virus MERS yang terdapat di dalam tubuh unta yang ada di salah satu negara Timur Tengah lainnya yaitu Oman. Peneliti menduga dulunya unta-unta itu pernah terinfeksi MERS atau virus yang hampir serupa sehingga dapat membentuk antibodi untuk melawan virus tersebut. Tapi peneliti tak pernah menemukan virus yang dimaksud di dalam tubuhnya. Studi baru ini dipublikasikan dalam jurnal Emerging Infectious Diseases.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Aug 26, 2013 4:27 pm

KELELAWAR BISA JADI SUMBER PENULARAN MERS
Penulis : Rosmha Widiyani | Senin, 26 Agustus 2013 | 10:57 WIB
KOMPAS.com — Kelelawar diduga menjadi sumber penularan penyakit Middle East Respiratory Syndrome (MERS) di Arab Saudi. Para ahli menyimpulkan hal itu setelah menemukan adanya kecocokan genetik 100 persen antara virus yang menginfeksi kelelawar dan manusia. "Sudah ada beberapa laporan yang menemukan virus mirip MERS pada hewan, tetapi tidak ada satu pun yang cocok. Namun dalam kasus ini, kami mendapati sebuah virus pada hewan yang memiliki kecocokan sekuens dengan virus yang ditemukan pertama kali pada manusia," kata Direktur Center for Infection and Immunity, W Ian Lipkin, MD. Surat kabar New York Times melaporkan, nama spesies kelelawar ini adalah Taphozous perforatus. Kelelawar ini ditemukan di wilayah tak berpenghuni dan bangunan telantar di Arab Saudi. Menurut dokter hewan, Dr Jonathan H Epstein, korban manusia pertama mungkin pernah berkunjung ke sarang hewan tersebut dan tanpa sengaja menghirup debu kotoran kering kelelawar yang terinfeksi. Ada pula kemungkinan, kelelawar tepapar virus dengan cara yang sama. Walau begitu, sampai saat ini belum ada bukti paparan langsung kelelawar pada kasus MERS yang terjadi di manusia. Menurut Deputi Kementerian Kesehatan Saudi Arabia, Ziad Memish MD, hal ini menimbulkan dugaan adanya perantara atau intermediate host. Hal senada dikatakan Lipkin, yang berpendapat riset mencari intermediate host merupakan kerja besar. Pada studi ini, periset harus meneliti hewan yang hidup secara liar dan dibudidayakan. Hewan yang akan diteliti antara lain unta, domba, kambing, dan sapi. "Kami juga meneliti bagaimana virus tersebut bisa sampai pada manusia. Penyelidikan ini merupakan kolaborasi terbesar untuk kesehatan masyarakat secara global," kata Lipkin. Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), MERS adalah penyakit yang disebabkan serangan corona virus. Corona virus yang disebut MERS-CoV ini sudah membunuh 47 korban dari 100 yang terinfeksi. Kasus pertama dilaporkan terjadi di Saudi Arabia pada 2012. Semua kasus yang dilaporkan berhubungan dengan negara yang dekat dengan Semenanjung Arab.
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 17 of 19Go to page : Previous  1 ... 10 ... 16, 17, 18, 19  Next
 Similar topics
-
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: