Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 9 ... 15, 16, 17, 18, 19  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Feb 13, 2013 8:42 am

PEDIKUR IKAN, SEBERAPA AMANKAH?
Rabu, 13 Februari 2013, 08:20 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Pedikur ikan atau terapi dengan menggunakan ikan akhir-akhir ini menjadi kegiatan rutin mingguan yang dilakukan sebagian orang di salon. Banyak salon pedikur yang menyediakan layanan ini yang merupakan gaya baru. Namun, pedikur ikan mengundang banyak kritikan juga. Berikut ROL mengajak anda untuk mengetahui seberapa amankah pedikur ikan bisa anda lakukan? Dikutip dari SymptomFind, Rabu (13/2). Pedikur ikan sama halnya dengan pedikur tradisional yang dimaksudkan untuk membuat kaki anda terlihat bersih dan halus. Namun, pedikur ikan menggunakan praktik yang tidak biasa. Anda diminta menempatkan kaki anda ke dalam tangki air yang diisi dengan ikan kecil. Ikan ini biasanya ikan jenis Garra rufa yang bergigi dan berasal dari Timur Tengah. Setelah mencelupkan kaki anda ke dalam tangki ikan atau kolam renang, ikan-ikan itu akan mendekati anda dan berpesta memakan kulit mati yang terdapat di kaki anda. Praktik pedikur ikan pertama kali muncul di Asia pada 2006. Pada saat itu, ikan Garra rufa digunakan untuk mengobati penyakit kulit. Penelitian lain menunjukkan, di Timur Tegah, ikan ini memang berkhasiat mengobati penyakit. Terlepas dari mana dan kapan itu berasal, praktik telah mendapatkan popularitas dalam beberapa tahun terakhir dan sekarang ditemukan di beberapa negara yang berbeda di seluruh dunia. Secara umum, manfaat pedikur ikan ini sebetulnya terbatas. Layanan ini pada dasarnya memungkinkan kulit mati yang akan hilang dari kaki seseorang, yang kemudian membuat kaki terlihat halus. Hal ini umumnya sama dengan yang ditawarkan oleh pedikur biasa. Beberapa orang mungkin mengeklaim pedikur ikan lebih efektif menghilangkan sel-sel kulit mati dan bahkan dapat membantu mengobati psoriasis. Namun, hal ini belum dibuktikan dalam pengaturan terkontrol. Pada beberapa salon atau spa, pedikur ikan mungkin lebih murah karena memerlukan kerja lebih sedikit dan tak membutuhkan banyak karyawan. Namun, karena ini masih menjadi hal baru yang menarik perhatian, banyak salon yang pada akhirnya menaikkan harga pedikur ikan. Sayangnya, ada beberapa risiko kesehatan yang terkait dengan pedikur ikan.

Pedikur ikan berisiko meningkatkan infeksi kulit. Setiap luka kecil atau lecet pada kaki akibat gigitan ikan Garra rufa bisa mengekspos tubuh lebih rentan dimasuki mikroorganisme dan bakteri yang mungkin terdapat di dalam air rendaman kaki anda. Dikutip dari SymptomFind, Rabu (13/2), masalah ini diperparah oleh kenyataan bahwa air itu tak selalu diganti jika kliennya berbeda. Maka, darah virus pembawa penyakit HIV dan hepatitis juga sangat mungkin dapat masuk ke dalam air dan akan diteruskan ke klien lain. Untuk alasan ini, orang-orang dengan luka atau lecet kaki sebaiknya menghindari pedikur ikan. Air menjadi tempat berkembang biaknya bakteri. Banyak ahli kesehatan khawatir ikan itu sendiri bertindak sebagai tuan rumah bagi berbagai penyakit potensial dan organisme. Bahkan, beberapa khawatir bahwa ikan dapat menyebabkan infeksi resisten antibiotik. Menurut National Institutes of Health (NIH), enam ribu ekor ikan yang diimpor ke Inggris pada April 2011 membawa penyakit yang menyebabkan pendarahan pada ikan dan akhirnya menyebabkan kematian mereka. NIH melaporkan bahwa bagian-bagian tertentu dari populasi manusia sangat rentan terhadap infeksi dari air atau dari ikan itu sendiri, termasuk mereka yang menderita diabetes, penyakit hati, atau gangguan kekebalan tubuh. Menurut praktik standar di salon dan spa, alat yang digunakan untuk menyelesaikan pedikur harus dibersihkan setiap kali klien berganti. Untuk pedikur normal, alat ini termasuk kikir kuku, gunting kutikula, dan gunting kuku. Namun, para ahli kesehatan menentang praktek pedikur ikan. Sebab, tak ada cara untuk mensterilkan ikan yang digunakan untuk pedikur, kecuali membunuh mereka. Kekhawatiran ini akhirnya mengundang kontroversi di kalangan pelaku dunia kesehatan. Masalah lain adalah ikan Garra rufa, entah bagaimana, dilepaskan ke alam liar ternyata bisa mengganggu atau bahkan mengancam tanaman asli dan kehidupan binatang. Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC), lebih dari 10 negara telah melarang pedikur ikan karena masalah ini. Karena kurangnya bukti ilmiah yang mendukung manfat pedikur ikan ini, maka jauh lebih aman bagi anda untuk mendapatkan pedikur tradisional. Namun, penting untuk memastikan bahwa apa pun layanan yang anda dapatkan di salon atau spa, itu sudah memenuhi standar sterilisasi kesehatan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Thu Feb 21, 2013 9:46 am

WASPADAILAH Q FEVER!
Jum'at, 7 Januari 2011 - 17:24 wib Okezone
ANDA punya hewan peliharaan? Rajin-rajinlah merawatnya! Periksakanlah kesehatannya! Apalagi hewan tersebut datang dari luar negeri. Jika tidak, bukan tidak mungkin Anda terinfeksi bakteri yang hidup pada hewan peliharaan Anda. Bakteri yang perlu diwaspadai yang ada pada hewan peliharaan dan hewan ternak adalah Coxiealla burnetti. Bakteri ini merupakan bakteri gram negatif. Bakteri ini pertama kali ditemukan di daerah Queensland oleh Frank MacFarlane Burnet. Menurut dr Galih Sri Mahardjo SpPD, dari Poliklinik PTIK, Jakarta Selatan, bakteri ini memiliki sifat-sifat yang patut untuk diwaspadai. Salah satunya adalah ketahanan terhadap perubahan-perubahan lingkungan. “Tahan terhadap panas, tahan terhadap antiseptik. Formaldehida aja bakteri yang lain nggak tahan, dia bisa tahan. Terus dia juga tahan berhari-hari bahkan bisa tahunan pada tubuh manusia,” katanya. Mengapa bakteri ini perlu diwaspadai? Coxiealla burnetti bila menginfeksi manusia akan menyebabkan demam Q atau sering juga disebut dengan Q fever. “Demam Q adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri Coxiealla burnetti,” sambung dr Galih. Penyakit demam Q ini sejauh ini memang masih belum ditemukan di Indonesia. Di negara-negara maju seperti Amerika, Spanyol, Jepang, hingga negara terdekat Malaysia, kasus demam Q sudah cukup menyita perhatian.

“Sebenarnya bakteri ini belum terdeteksi di Indonesia. Belum secara resmi ditemukan. Tapi belum itu bisa jadi karena belum ada yang kena atau belum ada yang melaporkan kalau infeksi karena 50 persen kebanyakan tidak menunjukkan gejala yang khas. Tapi dinegara lain kasus bakteri ini sudah mengguncangkan. Seperti di Amerika, Spanyol, Jepang, Malaysia, Thailand, bahkan di Belanda itu 6 korban di antaranya meninggal dunia,” terangnya. Demam Q sebenarnya merupakan penyakit yang bersifat zoonosis, yaitu dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya. Sedangkan penularan antarmanusia sangat jarang terjadi. Meskipun demikian, sambung dr Galih, masyarakat harus tetap waspada. Meskipun secara teoritis tidak bisa ditularkan antarmanusia, bila menilik kasus flu burung yang memiliki teori yang sama, bukan tidak mungkin demam Q juga demikian. Bisa ditularkan dari manusia ke manusia.

“Bakteri ini termasuk zoonosis. Zoonosis itu katanya dari hewan ke manusia. Tapi dari pengalaman flu burung, teorinya diberi tahu dari burung ke manusia, tapi nyatanya tidak. Ya, sebaiknya berhati-hati saja,” jelasnya. Pada prosesnya, Coxiealla burnetti biasanya akan menginfeksi hewan ternak atau hewan peliharaan sebagai inang perantara, di samping induk utamanya, yaitu anjing. Hewan ternak yang bisa diserang, antara lain, sapi, kambing, domba maupun ternak lainnya. Coxiealla burnetti bisa menyebar di dalam maupun di luar tubuh hewan tersebut. Sehingga penularan kepada manusia bisa terjadi dengan berbagai kemungkinan. Misalnya dengan memegang bulu domba yang terkena infeksi. Atau juga mengonsumsi produk-produk ternak, misalnya, susu atau daging dari hewan yang terinfeksi. Bakteri tentunya akan sangat gampang menular ke manusia melalui mulut.

“Bisa bermacam-macam. Dari susunya bisa,” imbuh dr Galih. Selain itu, penularan melalui udara juga bisa terjadi. Bakteri Coxiealla burnetti yang terdapat pada kotoran binatang ternak atau air kencing ternak akan terbawa angin setelah mengering. Kemudian bercampur dengan debu. Yang lebih mengkhawatirkan, bakteri ini bisa bertahan lama. “Bukan Cuma harian, tapi tahunan,” kata dr Galih. Pada debu bakteri ini dapat bertahan hingga 120 hari. Pada urine babi hingga 49 hari, pada feses 586 hari, pada susu 42 bulan pada suhu 4-6 derajat Celsius, pada wol 12-16 bulan pada suhu 4-6 derajat Celsius. Gejala penyakit demam Q boleh dikatakan sangat susah terdeteksi karena penyakit demam Q tidak memiliki gejala yang khas seperti penyakit-penyakit lainnya. Dan ini pula yang cukup mengkhawatirkan dan merepotkan karena pada akhirnya banyak menimbulkan salah dianosis. “Gejalanya nggak mengira kalau itu demam Q. Lebih dari 50 persen dari orang yang terinfeksi demam Q tidak menunjukkan gejala,” jelas dr Galih. Namun, bila akhirnya timbul gejala, itu akan terlihat pada pasien sekitar dua sampai tiga minggu setelah terkena bakteri. “Gejalanya seperti flu,” katanya. Lalu kemudian ada tanda-tanda atau gejala-gejala seperti demam yang tinggi hingga mencapai 40 derajat Celsius, sakit kepala parah, kelelahan, sakit tenggorokan, kedinginan, berkeringat, batuk kering atau berdahak, nyeri dada, nyeri perut, mual, muntah, diare, dan nyeri otot yang sangat parah.

Mengingat penyakit demam Q tidak memiliki atau menunjukkan gejala awal, penyakit ini pun sedikit sulit dideteksi. Diagnosis yang bisa dilakukan berupa tes serologi untuk melihat respon antibodi. Dengan melihat kenaikan tingkat antibodi dalam melawan virulensi dari bakteri tersebut, serologi bisa mendeteksi penyakit kronis sejak dini. Selain itu ada juga metode diagnosa yang lain. “Uji laboratorium dengan metode IFA (Imunnofluoresence assay) dan juga metode deteksi DNA,” tandas dr Galih. Penyakit ini, sambung dr Galih, berbahaya, dan membahayakan. Penyakit demam Q bersifat menahun dan menimbulkan kondisi yang fatal yaitu mengakibatkan kegagalan fungsi hati, radang tulang, radang otak, gangguan pada pembuluh darah dan yang sering terjadi adalah peradangan jantung (endokarditis) yang berakibat fatal. Pada pencernaan dapat menyebabkan diare, mual, dan muntah. Bahkan bisa juga menyerang ke otak. “Yang berbahaya itu yang sifatnya kronis. Masa akut itu jarang muncul. Masa kronis ini yang biasanya berakibat fatal. Masa kronis ini yang harus diwaspadai karena bakteri ini sudah lama bertengger di tubuh manusia. Bakteri ini bisa juga menyerang ke otak, menyebabkan radang otak. Kalau sudah fatal, bisa menimbulkan kematian. Di Belanda saja sudah menimbulkan kematian,” ungkap dr Galih. Mengingat penyakit demam Q disebabkan oleh bakteri, pengobatan yang bisa dilakukan adalah dengan pemberian antibiotik. “Karena ini kuman, pengobatannya menggunakan antibiotik. Banyak macamnya,” kata dr Galih.

Penggunaan antibiotik sejauh ini dirasa masih efektif. Antibiotik yang umu digunakan adalah doxycicline, tetracycline, chloramphenicol, ciprofloxacin, ofloxacin, dan hydroxychloroquine. Hanya saja antibiotik tersebut sangat tidak diajurkan untuk wanita hamil. “Cuma antibiotik ini kurang bagus untuk digunakan wanita hamil. Boleh dikatakan antibiotik yang dianjurkan untuk penyakit demam Q ini tidak aman untuk ibu hamil. Jadi, riskan sekali kalau ada wanita hamil terserang penyakit demam Q. Sangat dilematis. Karena kalau diobati, nanti kena ke janinnya. Obat akan berpengaruh ke janin. Kalau tidak diobati, akan menyebabkan sakit yang hebat, berat, dan akhirnya menyebabkan keguguran,” jelas dr Galih. Memang antibiotik tersebut tidak langsung membuat janin meninggal. Tapi antibiotik bisa mempengaruhi janin. “Bisa memengaruhi perkembangan janin seperti tetracyclin bisa membuat gigi jadi kuning,” jelasnya. Oleh karena itu, biasanya banyak ibu hamil yang memilih untuk menjalani pengobatan setelah proses kelahiran. Pengobatan terhadap penyakit demam Q ini sangat variatif. Tergantung pada kondisi setiap pasien. Pemberian antibiotik akan terus dilakukan sampai pasien sembuh.b“Waktu penyembuhan tidak bisa dipastikan. Tergantung pada kekuatan kuman itu sendiri dan jumlah kuman yang menginfeksi. Makanya kita tidak bisa pastikan sampai kapan kesembuhannya,” tandas dr Galih.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Thu Feb 21, 2013 9:48 am

PENYAKIT SAPI GILA
Penyakit Creutzfeldt-Jakob (Ensefalopati Spongiform Subakut) adalah suatu kelainan otak yang ditandai dengan penurunan fungsi mental yang terjadi dengan cepat, disertai kelainan pergerakan. Penyakit ini terutama menyerang dewasa, diatas 50 tahun. Penyakit yang mirip Creutzfeldt-Jakob terjadi pada domba (Skrepi) dan sapi (Penyakit Sapi Gila). Penularan infeksi bisa terjadi karena memakan jaringan hewan yang terinfeksi. Penularan antar binatang masih belum jelas dan kasus pada manusia terjadi jika memakan daging hewan yang terinfeksi.

PENYEBAB
Terjadi kerusakan jaringan otak oleh suatu organisme yang menyerupai virus (protein yang bisa ditularkan, yang disebut prion).
Beberapa kasus terjadi pada dewasa yang menerima hormon pertumbuhan yang berasal dari kadaver (mayat yang diawetkan). Agen penyebabnya (prion) diduga telah ditularkan melalui hormon pertumbuhan (yang berasal dari kelenjar hipofisa kadaver).
Resiko terkena penyakit ini sedikit meningkat pada orang-orang yang menjalani pembedahan otak.
Beberapa ahli patologi tertular oleh penyakit ini dari kadaver.

GEJALA
Beberapa bulan atau beberapa tahun setelah terinfeksi, tidak timbul gejala.
Secara perlahan, kerusakan otak bertambah dan penderita mengalami demensia (penurunan kemampuan intelektual).

Pada awalnya, gejalanya mirip demensia lainnya, yaitu tidak peduli akan kebersihan badannya, apatis, mudah marah, pelupa dan bingung. Beberapa penderita merasakan mudah lelah, mengantuk, tidak bisa tidur atau kelainan tidur lainnya.
Kemudian gejala-gejalanya dipercepat, biasanya jauh lebih cepat dari pada penyakit Alzheimer, sampai penderita betul-betul pikun.
Kedutan/kejang pada otot biasanya muncul dalam 6 bulan pertama setelah gejala dimulai.
Gemetar, gerakan tubuh yang janggal dan aneh juga bisa terjadi. Penglihatan bisa kabur atau suram.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan kemunduran fungsi mental yang terjadi dengan cepat atau disertai oleh kedutan otot.
Pemeriksaan sistem saraf dan motorik menunjukkan kedutan otot dan kejang (mioklonus).
Ketegangan otot meningkat atau bisa terjadi kelemahan dan penyusutan otot.
Bisa terjadi refleks abnormal atau peningkatan respon dari refleks yang normal.

Pemeriksaan lapang pandang menunjukkan adanya daerah kebutaan yang mungkin tidak disadari oleh penderitanya.
Terdapat gangguan koordinasi yang berhubungan dengan perubahan persepsi visual-spasial dan perubahan di dalam serebelum (bagian otak yang mengendalikan koordinasi).
Pemeriksaan EEG (rekaman aktivitas listrik otak) menunjukkan adanya perubahan yang khas untuk penyakit ini.
Pemeriksaan khusus terhadap jaringan otak untuk memperkuat diagnosis, hanya dapat dilakukan jika penderita sudah meninggal dan diambil contoh otaknya untuk diperiksa.

PENGOBATAN
Penyakit ini tidak dapat disembuhkan, dan progresifitasnya tidak dapat diperlambat.
Bisa diberikan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku yang agresif (misalnya obat penenang, anti-psikosa).

PROGNOSIS
Prognosis biasanya sangat jelek.
Demensia total biasanya terjadi dalam waktu 6 bulan atau lebih, dimana penderita menjadi benar-benar tidak mampu merawat dirinya sendiri.
Dalam waktu yang singkat penyakit ini berakibat fatal, biasanya dalam waktu 7 bulan. Kematian biasanya terjadi akibat infeksi, gagal jantung atau kegagalan pernafasan.
Beberapa penderita bertahan hidup sampai 1-2 tahun setelah penyakitnya terdiagnosis.

PENCEGAHAN
Menghindari pencangkokan jaringan manusia yang terinfeksi atau menghindari makan jaringan hewan yang terinfeksi.

Sumber: Medicastore
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Mon Feb 25, 2013 8:29 pm

KENALI TEROR KENCING TIKUS
Senin, 25 Februari 2013 | 09:46 WIB KOMPAS.com Oleh M Zaid Wahyudi
Selama ada aktivitas manusia, di sanalah tikus berkembang biak. Saat bencana tiba, baik banjir, letusan gunung api, maupun kebakaran hutan, tikus-tikus pun keluar sarang mencari aman. Pada sisi lain, hal itu menebarkan ancaman leptospirosis pada manusia. Di negara empat musim, tikus mendekati manusia untuk mencari hangat. Di daerah tropis, tikus mendekati permukiman karena makanan,” kata ahli hama tikus Institut Pertanian Bogor, Swastiko Priyambodo, akhir Januari lalu. Ini membuat leptospirosis—penyakit yang disebarkan melalui kencing tikus—menjadi penyakit yang ditularkan dari binatang ke manusia dengan sebaran terluas di dunia. Penyakit ini juga ada di negara maju meski tak sebanyak di negara berkembang. Leptospirosis di daerah tropis menyerang saat musim hujan. Leptospirosis disebabkan bakteri Leptospira yang patogen (menyebabkan penyakit). Bentuknya spiral, bergerak maju mundur lentur. Panjangnya 10-20 mikromete, tebal 0,1 mikrometer. Sulit diamati. Bakteri ini biasanya ada di ginjal binatang dan menyebar lewat kencing. Meski sebagian besar dibawa dan ditularkan tikus, sejumlah binatang ternak, peliharaan, atau binatang liar lain bisa membawa bakteri Leptospira ini. Binatang lain pembawa bakteri Leptospira seperti sapi, kambing, babi, domba, anjing, serta kucing. Leptospirosis dilaporkan pertama oleh Adolf Weil pada 1886. Karena itu, penyakit ini juga dikenal sebagai Weil’s disease. Di Indonesia, pertama kali dilaporkan Van der Scheer di Batavia pada 1892. Meski demikian, Leptospira baru diidentifikasi pada 1915. Ada dua jenis bakteri Leptospira, yaitu Leptospira L interrogans yang menimbulkan penyakit dan Leptospira L biflexa yang nonpatogen.

Penularan dan kerentanan
Kusmiyati dkk dalam ”Leptospirosis pada Hewan dan manusia di Indonesia” dalam Wartazoa Volume 15 Nomor 4 Tahun 2005 menyebut, sejak keluar dari kencing tikus, bakteri ini bisa hidup di air tawar sekitar sebulan. Bakteri ini peka asam, tetapi di air basa mampu hidup hingga 6 bulan. Mati di air laut, air selokan, atau air kencing tikus tak terencerkan. Bakteri ini biasanya masuk tubuh manusia secara tak langsung. Leptospira di lingkungan berair atau berlumpur masuk melalui luka. Bakteri ini juga bisa masuk melalui mukosa (jaringan yang mengeluarkan lendir) mulut, hidung, atau mata saat berenang. Penularan langsung dari kencing hewan ke manusia jarang terjadi. Kelompok rentan leptospirosis, antara lain, petani, pekerja tambang, peternak, nelayan perairan darat, pekerja di rumah potong hewan, dokter dan perawat hewan, serta orang-orang di instalasi pengolah limbah. Mereka yang gemar berolahraga air juga rentan. Warga biasa berisiko tertular setelah banjir. Pusat Informasi Leptospirosis (The Leptospirosis Information Center) menyebut, masa inkubasi hingga muncul gejala penyakit 3-14 hari. Kadang-kadang sampai 21 hari. Gejala leptospirosis tak muncul 24 jam pertama sejak kuman masuk. Jika muncul gejala penyakit di rentang waktu itu, kemungkinan besar disebabkan kuman lain yang turut masuk, seperti Escherichia coli atau Cryptosporidium penyebab diare. Gejala umum leptospirosis adalah demam tinggi, sakit kepala, mual muntah, dan nyeri otot. Jika terjadi peradangan selaput lendir mata, mata menguning, anemia, gangguan saraf, gagal ginjal, pembesaran hati dan limpa hingga kencing darah yang menandakan leptospirosis parah. Namun, hanya 10 persen penderita dengan gejala berat karena terlambat ditangani. ”Banyak orang dan tenaga kesehatan tak waspada leptospirosis karena gejalanya mirip tifus atau demam berdarah,” kata mantan Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang, Kementerian Kesehatan Rita Kusriastuti, yang kini bekerja di WHO SEARO. Untuk itu, pemeriksaan darah dan air seni mutlak untuk memastikan jenis kuman pemicu. Data global menunjukkan, leptospirosis banyak dialami laki-laki 10-39 tahun. Namun, penyakit ini bisa menyerang siapa saja dan umur berapa saja. Agus Priyanto dkk dalam ”Faktor-Faktor Risiko yang Berpengaruh terhadap Kejadian Leptospirosis (Studi Kasus di Kabupaten Demak)” dalam Diponegoro University Institutional Repository, 2008, menyebut, tingkat kematian leptospirosis di Indonesia tinggi, yaitu 2,50-16,45 persen. Bahkan, pada penderita berumur 50 tahun lebih, tingkat kematian 56 persen. Menghindari kontak dengan air terkontaminasi kencing hewan adalah cara termudah mencegah penularan leptospirosis.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Fri Mar 01, 2013 6:32 pm

BAGAIMANA CACING DARAH BERTAHAN DI TUBUH MANUSIA
JUM'AT, 01 MARET 2013 | 05:47 WIB
TEMPO.CO, Illinois - Cacing darah atau Schistosome adalah cacing pipih parasit yang dapat hidup di dalam tubuh manusia selama beberapa dekade. Mereka melakukan perjalanan yang agak mengerikan. Setelah menetas di dalam air yang terkontaminasi oleh kotoran, kemudian parasit berpindah ke tubuh manusia melalui siput kecil yang membuat liang melalui kulit. Para peneliti mungkin telah menemukan rahasia bagaimana siklus panjang tersebut dapat bertahan dalam darah manusia. Mereka menemukan sel induk bersembunyi secara kebetulan yang memungkinkan cacing ini menjaga regenerasi bagian-bagian tubuhnya. "Parasit ini memiliki cara memperbaiki dan memelihara jaringan tubuhnya," ujar Phillip Newmark dari departemen perkembangan biologi dan sel, Universitas Illinois. Studi ini telah diterbitkan secara rinci dalam jurnal Nature yang didasarkan pada pengamatan sel dengan penanda fluorescent. Kisah lebih buruk adalah tentang gaya hidup cacing darah setelah mereka membuat rumah sendiri. Mereka tumbuh menjadi dewasa, memakan darah dan menemukan pasangan monogami untuk kawin. Para betina kemudian bertelur terus menerus. Menerut para peneliti, mereka dapat bertelur ratusan dalam sehari. Telur yang tidak ikut keluar bersama kotoran inang, menjadi tertanam di dalam organ-organ internal. Ini dapat menyebabkan peradangan kronis dan kerusakan jaringan yang serius. Menurut WHO, penyakit parasit yang dikenal sebagai schistosomiasis ini mempengaruhi sekitar 230 juta orang tiap tahunnya. Menjadi urutan kedua setelah malaria. Meskipun biasanya tidak mematikan, tetapi efek kronis schistosomiasis bisa merusak anak-anak dan menyebabkan keterlambatan perkembangan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Fri Mar 01, 2013 7:59 pm

KONSUMSI DAGING BELUM MATANG WASPADA TOKSOPLASMA
Niken Anggun Nurani - Okezone JUM'AT, 1 MARET 2013 00:31 wib
SALAH satu penyakit yang menggangu kesuburan adalah toksoplasma. Penyakit yang cukup dikenal sebagai biang keladi sulitnya mendapatkan anak ini bisa menyerang siapa saja. Toxoplasmosis adalah infeksi yang disebabkan oleh parasit ber-sel satu bernama toxoplasma gondii. Biasanya infeksi ini didapat dari kontak dengan kucing dan kotorannya, mengonsumsi daging yang belum sepenuhnya matang, atau sayur-sayuran mentah yang tidak bersih. Seperti yang dikutip dari buku Bayi Tabung, Mempersiapkan Kehamilan, karya dr.Ivan R.Sini, SpOG terbitan Gramedia, secara umum infeksi akibat kuman tokso tidak menimbulkan gejala pada seseorang dengan kekebalan tubuh yang baik, namun akan berisiko pada saat kehamilan karena parasit bisa menginfeksi plasenta dan janin, sehingga janin berisiko terinfeksi sepanjang perkembangan kehamilan. Meski penularan lebih tinggi terjadi di akhir usia kehamilan, infeksi tokso akan lebih tinggi pada saat usia kehamilan baru mencapai trimester pertama. Risiko janin terinfeksi akan sangat kecil bila Anda terinfeksi beberapa bulan sebelum hamil. Bila Anda pernah terinfeksi sebelumnya, dokter akan menyarankan untuk menunggu sampai 6 bulan sebelum konsepsi, karena kuman tokso yang menginfeksi janin bisa menimbulkan kecacatan. (ind) (tty)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Sat Mar 23, 2013 1:46 pm

PRIA INI MENINGGAL AKIBAT CACING PARASIT YANG SERANG PARU PARUNYA
Linda Mayasari - detikHealth Sabtu, 23/03/2013 08:30 WIB
California, Sebuah rumah sakit di California dikejutkan dengan kematian seorang imigran dari Vietnam akibat infeksi cacing parasit yang menyebar ke seluruh tubuh, termasuk paru-parunya. Cacing tersebut ternyata telah lama menghuni tubuhnya dan mulai aktif setelah pasien mengambil obat steroid. Imigran dari Vietnam itu diketahui berusia 65 tahun yang ternyata telah terinfeksi cacing sejak masih tinggal di Vietnam. Vietnam adalah salah satu dari banyak negara di dunia yang masih memiliki wilayah endemi cacing yang dapat menginfeksi manusia. "Sekitar 80 hingga 90 persen kasus infeksi cacing spesies tertentu dapat menyebabkan kematian karena kondisi yang disebut 'hyperinfection', yaitu perjalanan cacing dalam tubuh manusia," kata Dr. Niaz Banaei, asisten profesor yang ahli dalam bidang penyakit menular di Stanford University School of Medicine. Infeksi tersebut paling banyak disebabkan oleh cacing parasit spesies Strongyloides stercoralis, yang paling sering ditemukan di daerah tropis dan subtropis di dunia. Biasanya, cacing parasit ini menginfeksi orang yang tinggal di daerah pedesaan Brazil, Argentina Utara dan Asia Tenggara. Hingga saat ini diperkirakan telah ada sekitar 100 juta kasus infeksi cacing parasit di seluruh dunia. Cacing parasit hidup di tanah atau air dan biasanya di tempat-tempat dengan sanitasi yang buruk. Cacing tersebut dapat menginfeksi manusia dengan menembus kulit dan mungkin hidup di usus manusia selama bertahun-tahun atau bahkan puluhan tahun, berkembang biak dan terus tumbuh hingga sepanjang 2 meter. Untuk pasien dalam kasus ini, kondisi mulai muncul ketika dirinya mengambil steroid untuk mengobati gangguan yang menyebabkan peradangan arteri pada leher, kulit kepala dan lengan. Obat-obatan tersebut tampaknya telah memungkinkan cacing untuk tumbuh dan berkembang lebih cepat. Dokter menemukan bahwa pasien tersebut mengalami infeksi paru-paru yang parah akibat infeksi cacing. Rupanya cacing dewasa yang menghuni tubuh pasien selama bertahun-tahun, telah bertelur dan menghasilkan larva cacing dalam jumlah besar. Larva tersebut kemudian menyerang dinding usus dan menyebar ke beberapa organ dalam tubuh. Ketika hal ini terjadi, ratusan ribu larva dapat mengirimkan bakteri dari usus ke bagian lain dari tubuh. Pasien tidak mampu bertahan hidup ketika cacing-cacing tersebut mulai menginfeksi paru-parunya. "Obat mungkin dapat membantu mengobati infestasi cacing, tetapi tidak membantu ketika hyperinfection telah mencapai stadium lanjut," kata Dr. Peter Hotez, dekan dari National School of Tropical Medicine di Baylor College of Medicine, yang ahli di bidang ini. Hotez menyarankan bahwa seseorang yang telah bepergian ke wilayah endemi cacing parasit, mungkin perlu melakukan serangkaian tes, termasuk tes tinja untuk memastikan bahwa dirinya bebas cacing. Temuan penelitian ini diterbitkan dalam edisi 21 Maret dalam New England Journal of Medicine, seperti ditulis Ivillage, Sabtu (23/3/2013).
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Thu Apr 25, 2013 8:07 pm

KECOA DAPAT TULARKAN PENYAKIT
Putro Agus Harnowo - detikHealth Kamis, 25/04/2013 16:58 WIB
Jakarta, Kecoa memang hewan yang terbilang menjijikkan. Serangga ini hidup di tempat yang lembab dan kotor sehingga identik dengan hal-hal yang jorok. Karena 'gaya hidupnya' ini, kecoa sering dihindari karena bisa menularkan berbagai penyakit. "Kecoa hidup di tempat-tempat yang kotor, makanya dia berisiko menularkan penyakit saluran cerna, terutama diare. Kecoa juga dapat menyebarkan bakteri-bakteri seperti Salmonella dan sebagainya," ujar dr Chabib Afwan, Deputi Zoonosis Kementerian Koordinasi Kesejahteraan Rakyat RI ketika dihubungi detikHealth, Kamis (25/4/2013). Oleh karena itu, dr Chabib menuturkan bahwa sangat beralasan apabila orang lantas jijik pada kecoa. Karena bisa menyebarkan penyakit, maka sebaiknya kecoa yang berkeliaran di rumah segera dibasmi. Lantaran kecoa cenderung hidup di tempat yang kotor, maka cara terbaik untuk menghindari kecoa adalah dengan menjaga kebersihan. Belakangan, muncul kabar yang menyatakan bahwa kecoa dapat terinfeksi oleh cacing halus. Oleh karena itu, membunuh kecoa sebaiknya tidak dengan digencet sampai keluar isi perutnya karena cacing di dalam perut kecoa dapat keluar dan menginfeksi manusia. Menurut beberapa penelitian, kecoa memang dapat memuat 32 jenis bakteri, berbagai jenis virus dan telur cacing. "Infeksi penyakit dari kecoa bisa terjadi ketika dia menyentuh makanan. Karena hidup di tempat kotor, tubuhnya terkontaminasi kuman dan kalau kuman masuk ke dalam perut bisa menyebabkan penyakit," terang dr Chabib. Untuk mencegah penularan penyakit akibat kecoa, cara terbaik adalah menjaga hidup bersih dengan selalu mencuci tangan sebelum makan dan memastikan makanan disimpan di tempat tertutup. Yang tak kalah penting, kebersihan lingkungan harus selalu dijaga.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Tue Apr 30, 2013 2:31 pm

TAMBAH SEHAT BERKAT PELIHARA HEWAN
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 30 April 2013 | 13:43 WIB
KOMPAS.com - Banyak orang yang ragu memelihara hewan karena membuat pengeluaran bertambah, belum lagi harus menyisihkan waktu untuk merawatnya. Tetapi, manfaat yang Anda dapatkan berlipat dari investasi yang dikeluarkan. Memelihara hewan-hewan lucu bukan hanya membuat Anda dan seluruh keluarga lebih aktif secara fisik, tapi juga mengurangi stres dan bahagia karena cinta dan perhatian yang diberikan si hewan kesayangan. Berikut adalah manfaat kesehatan dari memelihara hewan.

1. Lebih aktif
Memelihara anjing akan membuat Anda dan anggota keluarga lain jadi lebih banyak bergerak. Setidaknya untuk mengajak "si doggie" bermain dan berjalan-jalan. Dalam penelitian terhadap 2.071 anak di Inggris, terungkap anak-anak yang memilihara anjing lebih aktif secara fisik.

2. Menyehatkan jantung
Menurut pusat pencegahan dan pengendalian penyakit, AS, memiliki hewan akan menurunkan tekanan darah dan lemak darah trigliserida. Penelitian selama 20 tahun juga menunjukkan orang yang memilihara kucing cenderung terhindar dari penyakit jantung. Para pemilik anjing juga diketahui lebih jarang terkena hipertensi.

3. Mencegah alergi
Penelitian menunjukkan, memelihara anjing atau kucing di rumah akan mengurangi risiko alergi dalam jangka panjang. Meski begitu anjing dan bulu kucing adalah pemicu alergi pada sebagian orang, karena itu sebaiknya Anda tetap berhati-hati jika ada anggota keluarga yang sudah mengidap alergi.

4. Empati dan kasih sayang
Memelihara hewan akan mengajarkan anak-anak tentang empati dan kasih sayang. Sebaiknya orangtua menyesuaikan level tanggung jawab anak terhadap hewan peliharan dengan usia dan kemampuannya. Misalnya saja, anak berusia 5 tahun sudah bisa memberikan makan atau mengajak anjing jalan-jalan.

5. Bersahabat
Memiliki hewan kesayangan akan membantu kita belajar persahabatan. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autisme, memelihara hewan diketahui akan meningkatkan keterampilan sosial mereka. Para pemilik hewan peliharaan juga cenderung lebih mudah ngobrol dan diajak ngobrol orang lain.

6. Manajemen kesehatan
Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Seizure meneliti tentang manfaat memelihara hewan pada keluarga yang anggotanya mengidap epilepsi. Penelitian menunjukkan, memiliki hewan peliharaan mengurangi kekambuhan kejang dan mengurangi stres.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Thu May 02, 2013 3:58 pm

6 KIAT KURANGI RISIKO ALERGI HEWAN
Penulis : Unoviana Kartika | Kamis, 2 Mei 2013 | 14:02 WIB
KOMPAS.com - Memelihara hewan seperti kucing, anjing atau burung memang banyak manfaatnya. Selain dapat membuat tubuh menjadi lebih aktif bergerak, hewan-hewan peliharaan juga dapat membantu mengurangi stres dan membuat hidup lebih Anda bahagia. Sayangnya, ada beberapa orang yang memiliki alergi terhadap hewan. Bagi mereka, hewan justru menjadi musuh terburuk. Kombinasi dari sel kulit mati dan bulu atau rambut hewan dapat memicu serangan asma dan reaksi alergi lainnya bagi mereka yang sensitif terhadap alergen. Namun dengan sejumlah upaya ekstra, mungkin Anda bisa tetap memelihara hewan kesayangan. Berikut adalah kiatnya :

1. Minimalkan kontak
Anda dapat mengurangi alergen di rumah dengan sebisa mungkin menempatkan hewan peliharaan di luar rumah. Atau paling tidak, dari kamar tidur orang yang memiliki alergi. Selain itu, Anda dapat membatasi kontak seperti memegang rambut hewan atau mencuci tangan hingga bersih setelah melakukannya. Tidak melapisi rumah Anda dengan karpet juga dapat mengurangi kemungkinan bulu atau rambut hewan banyak menempel di lantai, dinding atau perabotan rumah.

2. Hindari hewan duduk di sofa
Sofa, karpet, tempat tidur, bantal, selimur, korden, dan benda-benda lain yang mengandung unsur kain sebaiknya tidak bersentuhan dengan hewan. Bila tak terhindari, maka sesering mungkin bersihkan dengan vakum.

3. Bersihkan rumah sesering mungkin
Membersihkan dengan vakum lebih efektif daripada sapu karena langsung akan menyerap alergen. Berbeda dengan sapu yang justru membuat alergen bertebaran di udara.

4. Tutup ventilasi
Jika Anda menggunakan penyejuk udara (AC), menutup ventilasi akan mengurangi alergen yang bersirkulasi di dalam rumah.

5. Mandikan hewan
Penelitian menunjukkan, memandikan hewan secara teratur dapat mengurangi mereka memproduksi alergen hingga 85 persen.

6. Bersihkan kandang hewan
Jika hewan peliharaan Anda adalah hamster, kelinci, burung, dan hewan lain yang cenderung hidup di kandang, maka membersihkan kandang secara rutin akan mengurangi mereka memproduksi alergen.

Bagaimanapun, memelihara hewan adalah pilihan. Namun jika alergi tetap tak terhindari meski sudah mengurangi alergen, ada baiknya Anda mulai mencarikan rumah baru bagi si hewan peliharaan.
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 16 of 19Go to page : Previous  1 ... 9 ... 15, 16, 17, 18, 19  Next
 Similar topics
-
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: