Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Zoonosis

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 10 ... 19  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:48 am

14 PENYAKIT YANG DAPAT DITULARKAN OLEH HEWAN PELIHARAAN
Linda Mayasari - detikHealth Selasa, 11/09/2012 17:00 WIB
Jakarta, Merawat hewan peliharaan memberikan keuntungan tersendiri bagi kondisi psikologis seseorang, tetapi Anda juga perlu mewaspadai risiko kesehatan yang mungkin dapat ditularkan oleh hewan peliharaan Anda. Seperti dilansir mnn, Selasa (11/9/12) ada banyak sekali risiko penyakit yang dapat ditularkan melalui gigitan atau kontak dengan kotoran hewan peliharaan, diantaranya sebagai berikut:

1. Penyakit Lyme
Penyakit Lyme adalah infeksi ganas yang menyerang sistem kekebalan tubuh dan bisa menyebabkan kelumpuhan, ensefalitis dan meningitis. Kondisi ini disebabkan oleh gigitan kutu yang biasanya hidup pada hewan seperti tikus, burung dan rusa. Gigitan kutu disertai ruam merah kecil di kulit dan tidak sakit sehingga banyak orang yang tidak menyadarinya. Ruam tersebut dapat berkurang atau hilang dalam waktu 1-2 minggu dan kadang disertai dengan demam tinggi, nyeri otot dan sendi yang bengkak.

2. Psittacosis (Demam burung)
Psittacosis adalah infeksi yang disebabkan oleh Chlamydia psittaci, jenis bakteri yang ditemukan dalam kotoran burung yang menyebar ke manusia. Infeksi pada burung seringkali tidak menunjukkan gejala. Pada manusia, gejala infeksi psittacosis termasuk batuk disertai dahak yang berdarah, batuk kering, kelelahan, demam dan menggigil, sakit kepala, nyeri sendi, nyeri otot, dan sesak napas.

3. Demam kucing
Penyakit ini disebabkan oleh infeksi ringan pada luka bekas cakaran atau gigitan kucing oleh bakteri Bartonella henselae. Gejala meliputi pembengkakan kelenjar getah bening, demam, sakit kepala, nafsu makan berkurang dan kelelahan.

4. Penyakit pes
Penyakit pes disebabkan oleh gigitan kutu yang banyak ditemukan pada kucing, tikus rumah dan hewan pengerat lainnya. Gejala penyakit ini adalah seperti demam, anoreksia, lesu dan pembengkakan kelenjar getah bening.

5. Demam Q
Demam Q disebabkan oleh bakteri Coxiella burnetii, yaitu organisme yang ditemukan dalam urin, susu dan kotoran dari hewan yang terinfeksi, yang biasanya terjadi pada sapi, kambing, domba atau hewan peliharaan rumah lainnya. Bekteri tersebut sangat kuat dan tahan terhadap panas dan disinfektan yang umum, sehingga mampu bertahan hidup dalam jangka waktu lama di lingkungan. Infeksi terjadi pada manusia jika bekteri terhirup, tergigit kutu dari hewan peliharaan atau mengonsumsi produk susu yang tidak dipasteurisasi.

6. Penyakit anjing gila (rabies)
Rabies adalah penyakit virus yang ditularkan melalui gigitan terinfeksi dari hewan. Kebanyakan kasus rabies yang dilaporkan terjadi akibat gigitan anjing, rakun, kelelawar, dan rubah. Virus rabies menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan penyakit di otak bahkan kematian. Gejala awal rabies pada manusia mirip dengan banyak penyakit lain, termasuk demam, sakit kepala, dan kelemahan umum atau ketidaknyamanan. Setelah beberapa lama, gejala penyakit akan berkembang seperti insomnia, kecemasan, kebingungan, kelumpuhan ringan, eksitasi, halusinasi, agitasi, air liur berlimpah, kesulitan menelan, dan kejang. Pastikan hewan peliharaan Anda mendapatkan vaksin rabies untuk mencegah penularan virus melalui gigitan.

7. Campylobacteriosis
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Campylobacter yang biasanya terjadi karena makan daging unggas yang masih mentah atau kurang matang atau dari kontaminasi silang dari makanan lain. Campylobacteriosis ditandai dengan diare yang akan sembuh dengan cepat, tetapi jika terjadi infeksi maka kondisi akan bertambah berat. Manusia juga dapat menderita penyakit ini jika melakukan kontak dengan tinja anjing atau kucing yang sakit.

8. Leptospirosis
Leptospirosis adalah penyakit yang dapat ditularkan oleh hewan peliharaan karena kontak atau minum air yang terkontaminasi bakteri. Pada manusia, gejala penyakit Leptospirosis adalah demam tinggi, sakit kepala, menggigil, nyeri, muntah, sakit kuning, nyeri perut, diare dan ruam. Jika tidak diobati, Leptospirosis dapat menyebabkan kerusakan ginjal, kegagalan fungsi hati, meningitis, gangguan pernapasan dan kematian.

9. Salmonellosis
Parasit Salmonella tidak hanya dapat menyerang manusia melalui kontaminasi wabah dan makan telur mentah saja, tetapi juga dapat ditularkan jika melakukan kontak dengan hewan peliharaan yang telah terinfeksi. Kebanyakan orang yang terinfeksi Salmonella akan mengembangkan diare, demam dan kram perut dalam waktu 12 sampai 72 jam setelah infeksi. Hewan yang menularkan penyakit ini ke manusia contohnya ayam, bebek, anjing, kucing, burung dan kuda juga reptil seperti kadal, ular, dan kura-kura.

10. Toksoplasmosis
Toxoplasma gondii adalah protozoa yang paling sering menginfeksi kucing, tetapi juga dapat ditemukan pada hewan berdarah panas lainnya. Manusia dapat tertular bakteri ini melalui kontak dengan kotoran kucing, atau dengan memakan daging setengah matang atau sayuran yang tidak dicuci. Setelah dicerna, T. gondii dapat menyerang jaringan otak dan otot, dan berada di dalam kista yang tahan terhadap serangan sistem kekebalan tubuh. Infeksi juga dapat ditularkan dari ibu yang terinfeksi kepada bayinya melalui plasenta dan dapat menciptakan komplikasi yang serius.

11. Kurap
Kurap merupakan infeksi jamur yang membentuk ruam seperti cincin pada kulit atau botak di kulit kepala. Hal ini ditularkan dengan mudah dari hewan peliharaan kepada orang-orang, dan dari orang ke orang akibat kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi.

12. Infeksi cacing gelang
Cacing gelang disebarkan oleh kotoran hewan peliharaan dalam bentuk telur (ookista) yang dapat bertahan hidup dalam tanah selama bertahun-tahun. Jika manusia tidak sengaja makan ookista, cacing kecil akan menetas dalam usus dan bergerak ke seluruh tubuh. Larva juga dapat langsung masuk melalui kulit. Gejala infeksi cacing gelang adalah meliputi demam, batuk, asma, atau pneumonia. Sayangnya, cacing gelang juga dapat masuk ke mata dan menyebabkan kebutaan akibat penyakit toxocariasis okuler.

13. Infeksi cacing pita
Kebanyakan manusia yang menderita infeksi cacing pita adalah karena makan daging mentah atau setengah matang dari hewan yang terinfeksi, terutama daging babi dan daging sapi. Cacing pita dari kucing dan anjing peliharaan juga dapat menyebabkan infeksi jika tidak sengaja menelan kutu yang terinfeksi larva cacing pita. Dalam usus manusia, larva tersebut akan berkembang menjadi cacing pita dewasa. Sebuah cacing pita dapat tumbuh lebih dari 12 kaki dan dapat hidup selama bertahun-tahun dalam tubuh manusia.

14. Infeksi cacing tambang
Cacing tambang adalah parasit usus yang biasanya ditemukan pada anjing dan kucing. Telur atau larva cacing tambang dapat ditularkan oleh hewan peliharaan melalui tinja. Manusia dapat terinfeksi jika melakukan kontak langsung dengan tinja hewan yang terinfeksi ketika berjalan tanpa alas kaki diatas tanah yang terkontaminasi. Infeksi cacing tambang dapat menyebabkan infeksi kulit yang menyakitkan dan gatal atau gejala sakit perut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:48 am

ZOONOSIS JANGAN DIABAIKAN
Jakarta, 26 September 2012
Morbiditas, mortalitas dan berubahnya pola hubungan manusia dan hewan menyebabkan pentingnya masalah yang ditimbulkan zoonosis. Di sisi lain penerapan International Health Regulation (IHR) 2005 yang sudah dijalankan Indonesia sangat berhubungan dengan penanganan masalah zoonosis di dunia. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL), Kementerian Kesehatan RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama SpP(K), MARS, DTM&H, DTCE, dalam presentasinya saat menjadi pembicara pada Rapat Koordinasi Komite Nasional Zoonosis 2012 (25/9/12). Rapat Koordinasi Komite Nasional Zoonosis 2012 bertujuan untuk mengevaluasi dan membuat program kerja Komite. Dalam jumpa pers yang digelar setelah pembukaan rapat koordinasi tersebut Prof. Tjandra menyampaikan bahwa Komite Nasional Lintas Kementerian dibuat karena zoonosis dianggap masalah penting. Prof. Tjandra mengharapkan koordinasi yang sudah dibentuk di tingkat pusat dapat juga dilakukan di daerah, sampai langsung di lapangan. Diingatkan juga agar daerah melaporkan perkembangan kesehatan yang ada. “Kesehatan adalah urusan wajib daerah, sehingga kalau ada hal kesehatan maka seyogyanya dilakukan oleh daerah. Pemerintah pusat mendukung dengan penyiapan Norma, Standar, Prosedur dan Kriteria (NSPK) dan sumber daya kalau diperlukan”, kata Prof. Tjandra.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:49 am

BAHAYA MAKAN DAGING REPTIL MENGINTAI
Kamis, 11/02/2010 08:15 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jenewa, Tren makan daging reptil seperti ular, kadal, buaya akhir-akhir ini kian marak. Daging reptil dipercaya memiliki banyak khasiat untuk kebugaran tubuh. Tapi sebaiknya hati-hati karena ada bahaya di balik makan daging reptil. Dulu reptil adalah binatang yang sengaja dikembangbiakkan di penangkaran untuk diambil kulitnya. Tetapi sekarang beberapa restoran dan masyarakat justru juga menginginkan dagingnya. Sebuah studi menunjukkan hewan reptil yang dikonsumsi dapat memiliki efek samping yang patut dipertanyakan disamping rasanya yang lezat. Hasil penelitian yang diterbitkan dalam International Journal of Food Microbiology mengungkapkan konsumsi daging reptil bisa menyebabkan beberapa masalah kesehatan. Orang yang mengonsumsi daging reptil seperti buaya, kura-kura, kadal atau ular berisiko mengalami beberapa penyakit tertentu yaitu trichinosis penyakit yang disebabkan oleh cacing pita di hewan liar terutama babi membuat sakit perut dan diare. Kemudian pentastomiasis, gnathostomiasis dan sparganosis yang semuanya penyakit hewan yang menular ke manusia. "Risiko mikrobiologis yang paling jelas kemungkinan berasal dari bakteri patogen terutama Salmonella, Shigella, E.coli, Yersinia enterolitica, Campylobacter, Clostridium dan Staphylococcus aureus. Bakteri ini dapat menimbulkan penyakit dengan derajat keparahan berbeda-beda," ujar Simone Magnino, seorang peneliti untuk badan kesehatan dunia (WHO), seperti dikutip dari ScienceDaily, Kamis (11/2/2010).

Para ahli mengatakan data mengenai risiko kesehatan pada masyarakat belum bisa diambil kesimpulan. Ini dikarenakan tidak adanya informasi perbandingan mengonsumsi daging reptil dengan prevalensi patogennya. Selain itu masih sedikitnya penelitian yang mempublikasikan hubungan antara konsumsi daging reptil dengan beberapa penyakit. "Walaupun sebagian besar informasi yang dipublikasikan menggunakan binatang reptil peliharaan (pets), namun ada juga yang menggunakan spesies liar atau dibesarkan di penangkaran," ujar Magnino. Untuk menghindari penyebaran penyakit akibat bakteri patogen, para ahli menyarankan masyarakat agar membekukan daging terlebih dahulu untuk menonaktifkan parasit yang ada. Selain itu pengolahan dan cara memasaknya juga harus tepat (jangan setengah matang) agar bakteri patogennya mati. Tujuan dari evaluasi risiko ini adalah untuk membuat dasar ilmiah dalam penyusunan undang-undang yang dapat menjamin perlindungan konsumen. Beberapa negara telah menggunakan kura-kura, buaya, ular dan kadal sebagai pengganti sumber protein dalam urutan rantai makanannya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:49 am

ULAR BERBISA JADI INANG VIRUS MEMATIKAN
Oleh Yahoo! News | Yahoo! News – Kam, 4 Okt 2012
Oleh Wynne Parry, Kontributor LiveScience | LiveScience.com
Para ilmuwan telah mengungkapkan bagaimana seekor nyamuk dapat menyebarkan virus penyebab radang otak berbahaya yang dikenal sebagai Eastern equine encephalitis (EEE) — yang menyebabkan kematian di Vermont bulan ini. Virus penyakit itu dapat bertahan selama musim dingin di Amerika Utara bagian timur. Kini mereka telah mengetahui inang dari virus tersebut, ular. Penelitian menunjukkan, ular ini tidak hanya memiliki antibodi dari terhadap virus tersebut, tetapi juga unsur-unsur genetik dari virus itu sendiri yang terdapat di dalam tubuh dua spesies ular berbisa yang hidup di Alabama. “Hasil penelitian ini menyimpulkan, ular ikut terlibat dalam seluruh proses penyebaran virus tersebut,” kata Thomas Unnasch, professor dan anggota dari departemen kesehatan dunia, University of Southern Florida. Ular muncul sebagai mitra saat musim dingin menggantikan burung, yang dihinggapi virus dari nyamuk dan menjadikan ular tersebut sebagai inangnya sampai musim panas nanti. Meski jarang terjadi, nyamuk juga bisa menyebarkan virus tersebut terhadap manusia, hal yang akan memberikan dampak yang sangat buruk. Di Amerika Serikat sendiri, ada enam kasus yang terjadi terhadap manusia akibat penyebaran virus tersebut setiap tahun. EEE menyebabkan radang otak dan dapat membunuh penderitanya atau membuat mereka mengalami kerusakan otak yang fatal, seperti yang dikatakan oleh Centers for Disease Control and Prevention A.S. Penyakit itu juga menyerang sejumlah hewan, terutama kuda.

Thomas dan sejumlah rekannya memeriksa darah ular yang ditangkap di hutan taman nasional Tuskegee, Alabama, guna mencari antibodi terhadap virus serta kode genetik dari virus tersebut. Ke-73 ular dari delapan spesies yang dites selama tiga tahun, menunjukan bahwa 15 persen ular tersebut terinfeksi EEE dan dua kali lipat dari jumlah ular yang terinfeksi tersebut memiliki antibodi. Kebanyakan dari ular yang memiliki antibodi tersebut adalah ular cottonmouth (populasi terbanyak di wilayah itu), juga beberapa ular copperhead, keduanya merupakan ular yang paling beracun. “Hasil tersebut menunjukkan banyak ular liar yang terinfeksi dengan virus tersebut dan menjaganya di dalam darah mereka,” kata Thomas. Tim peniliti mengumpulkan contoh darah ular yang diambil sejak April 2007 sampai September 2009. Dari contoh darah 54 ular cottonmouth, infeksi tertinggi rata-rata terjadi pada April, sesaat setelah ular mulai bangun dari proses hibernasi mereka.

Virus tersebut tampaknya tidak membuat ular menjadi sakit, kata Thomas. “Ular tersebut nampaknya tidak memilki daya kekebalan tubuh yang efektif, antibodi yang diproduksi oleh ular-ular tersebut nampaknya tidak menghambat perkembangan virus.” Hal yang menguntungkan bagi virusnya. Dalam percobaan yang dilakukan di laboratorium Thomas menunjukkan bahwa darah ular mampu dihinggapi virus tersebut lebih lama dibandingkan darah burung, yang dijadikan inang oleh virus tersebut selama musim panas. Ketika ular tersebut berhibernasi, Thomas dan rekannya menemukan bahwa virus berada dalam darah ular dan ular tersebut dalam keadaan yang tidak begitu baik. Para ilmuwan menduga bahwa hal itu disebabkan oleh metabolisme serta sistem kekebalan tubuh ular yang melambat, sehingga ular tidak dapat menyingkirkan partikel-partikel virusnya. Para peneliti sejauh ini menyatakan bahwa nyamuk mungkin mendapatkan virus tersebut dari ular, sebelumnya pada tahun ini, seiring dengan berakhirnya masa hibernasi ular. Kemudian nyamuk memindahkan virus tersebut ke burung. Menurutnya, penelitian itu memberikan pemahaman yang lebih baik untuk melawan penyebaran virus tersebut. Baru-baru ini, usaha untuk menangkal virus dilakukan dengan memberantas nyamuk yang telah menyebarkannya terhadap sejumlah hewan, khususnya kuda, yang banyak muncul kasusnya pada musim ini, namun untuk saat ini, virus nampaknya menyebar di antara populasi nyamuk yang datang saat musim panas. Meskipun demikian, jumlah tersebut akan menjadi lebih kecil, karena banyaknya penyemprotan insektisida terhadap spesies nyamuk yang mulai berkembang sebelumnya pada tahun ini, yang hidup dari menghisap darah ular. Penelitian itu dipublikasikan pada 1 Oktober lalu di dalam jurnal “American Journal of Tropical Medicine and Hygiene”.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:51 am

10 PENYAKIT MEMATIKAN YANG DITULARKAN ANTAR SPESIES
Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Bakteri dan virus merupakan makhluk yang sangat mudah berkembang biak dan penyakit yang disebabkannya sangat mudah menular. Saat ini sejumlah penyakit menular dan mematikan telah berpindah dari hewan ke manusia dan dari manusia ke hewan. Apa saja penyakit yang mematikan itu?Infeksi silang-spesies dapat berasal dari peternakan atau pasar, dimana kondisi menciptakan pencampuran patogen. Yang memberi patogen kesempatan untuk bertukar gen dan peralatan sampai dengan membunuh inang yang sebelumnya asing. Penularan juga dapat terjadi dari kegiatan yang tampaknya sepele dan tidak berbahaya, seperti membiarkan monyet naik di atas kepala Anda, yang banyak terjadi di jalanan di Bali. Mikroba dari dua varietas bahkan dapat berkumpul di usus Anda, membuat beberapa virus berevolusi dan 'menari' untuk mengubah Anda menjadi inang yang menular dan mematikan. Penyakit menular dari hewan kepada manusia disebut zoonosis. Ada lebih dari tiga lusin penyakit, baik yang ditularkan melalui sentuhan maupun dari hasil gigitan. Seperti dilansir dari LiveScience, Sabtu (15/5/2010), berikut 10 penyakit mematikan yang menular dari silang-spesies:

1. Pandemik influenza
Wabah flu mematikan seperti flu Spanyol, flu babi atau flu burung telah menyerang di beberapa negara. Potensi pandemi ini sangat mudah menular melalui kontak langsung, sehingga bisa sangat berbahaya. Antara tahun 1918 dan 1919, flu Spanyol telah membunuh 20 hingga 40 juta orang. Ini benar-benar bencana global. Flu mematikan ini menyerang orang usia 20 sampai 40 tahun, dan menginfeksi 28 persen penduduk Amerika. Dan akhir-akhir ini juga sedang marak flu babi dan flu burung yang telah menjadi wabah di beberapa negara. Kini, pemerintah lebih siap, secara ilmiah dan logistik untuk mengelola wabah. Namun, tidak ada vaksin untuk melawan flu babi.

2. Pes
Penyakit pes yang lebih dikenal dengan 'Black Death', merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pesti, paling sering dibawa oleh hewan pengerat dan kutu. Pada abad pertengahan, jutaan orang di seluruh Eropa meninggal karena wabah yang diakibatkan oleh kutu tikus yang banyak terdapat di rumah-rumah dan perkantoran.

3. Penyakit karena gigitan
Berbagai penyakit zoonosis diperkirakan meningkat disebabkan oleh gigitan hewan yang membunuh ratusan ribu orang setiap tahun. Nyamuk adalah penyebab utama, seperti demam berdarah dan malaria. Selain itu juga ada wabah penyakit yang disebabkan oleh gigitan serangga, rabies karena gigitan anjing dan hewan liar lainnya.

4. HIV/AIDS
HIV, virus penyebab AIDS, berasal dari simpanse dan primata lainnya dan diperkirakan manusia pertama terinfeksi setidaknya satu abad lalu. Virus ini merusak sistem kekebalan tubuh, membuka pintu ke inang dari infeksi mematikan atau kanker.

5. Parasit otak yang ditularkan kucing pada manusia
Parasit aneh Toxoplasma gondii menginfeksi otak lebih dari setengah populasi manusia, termasuk sekitar 50 juta orang Amerika. Diperkirakan meningkatkan risiko neurotisisme dan dapat menyebabkan skizofrenia. Penyebab utamanya adalah kucing rumah, yang merupakan mikroba reproduksi secara seksual. Biasanya ini berasal dari kotoran kucing.

6. Manusia memberi kucing bakteri penyebab borok lambung
Kucing telah ditularkan bakteri penyebab tukak lambung, Helicobacter pylori, dari nenek moyang manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Dan menurut para ilmuwan, kini penyakit ini menyebar ke hewan lain seperti singa, zebra, dan harimau.

7. Ebola
Ebola adalah ancaman luas untuk gorila dan simpanse di Afrika Tengah, dan mungkin sudah menyebar ke manusia dari orang-orang yang makan binatang yang terinfeksi. Sekarang menular dari manusia ke manusia, melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh dari orang yang terinfeksi, dan telah membunuh beberapa ratus orang di setiap beberapa wabah pada pertengahan 1970-an.

8. Polio, Frambusia, Antraks
Fabian Leendertz, seorang epidemiologi satwa liar di Robert Koch-Institut dan Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Jerman, mengatakan bahwa simpanse di Taman Nasional Gombe Streaming di Tanzania ditularkan polio dari manusia. Menurut Leendertz, ada juga kekhawatiran bahwa gorila tertular frambusia, penyakit yang terkait dengan sifilis, tetapi bukan penyakit menular seksual, dari manusia. Gorila dan simpanse di Afrika Barat telah terbunuh oleh wabah antraks, yang mungkin berasal dari ternak yang digiring oleh manusia, meskipun menurut Leendertz peristiwa ini mungkin disebabkan oleh antraks yang ada secara alami di hutan.

9. Virus manusia membunuh simpanse
Ekowisata memicu wabah penyakit pernapasan antara simpanse Afrika. Human Respiratory Syncytial Virus (HRSV) dan Human Metapneumovirus (HMPV) membunuh bayi manusia di negara-negara berkembang. Hampir semua manusia punya kontak dengan kuman, meskipun telah dikembangkan antibodi alami yang dirancang untuk melawan kuman. Tapi dalam bukti pertama yang telah dikonfirmasikan tentang penularan virus langsung dari manusia ke kera liar, virus ini membunuh seluruh populasi simpanse di beberapa bagian Afrika Barat pada tahun 1999 dan 2006.

10. Gorila memberi manusia kutu kemaluan 'kepiting'
Manusia mendapat kutu kemaluan dari gorila sekitar 3 juta tahun yang lalu. Penyakit ini menular tidak melalui hubungan seksual dengan gorila, melainkan dengan bermalam atau makan di sarang gorila. Para ilmuwan pada tahun 2007 menamai penyakit 'kepiting'.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 7:43 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:52 am

WHO: 17 PENYAKIT TROPIS TERABAIKAN
Jumat, 15 Oktober 2010 | 04:19 WIB
Geneva, Kamis - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization meluncurkan laporan global pertamanya tentang penyakit tropis yang terabaikan. Terdapat 17 penyakit tropis terabaikan yang membutuhkan perhatian dunia. Ke-17 penyakit itu ialah dengue, rabies, trakom, buruli ulcer, treponematoses, lepra, penyakit changas, human African trypanosomiasis, leishmaniasis, cysticercosis, dracunculiasis, echinococcosis, infeksi trematode lewat makanan, lymphatic filiariasis (kaki gajah), onchocerciasis, Schistosomiasis, dan cacing perut. Penyakit-penyakit itu endemik di 149 negara di dunia dan mengancam kehidupan jutaan orang. Sekitar 100 negara endemik dua atau lebih penyakit dan 30 negara merupakan endemik enam atau lebih penyakit. Sebagai tambahan, di Indonesia, sejumlah penyakit, seperti rabies, dengue, filariasis, trakom, dan lepra, masih menjadi masalah. Belakangan, rabies malah merebak di sejumlah daerah. Jumlah kasus demam berdarah dengue juga meningkat beberapa tahun belakangan. Sebagian penyakit dari kelompok itu disebabkan berbagai jenis protozoa dan helminth parasit. Sebagian disebarkan hewan pembawa, seperti anjing, ikan, dan krustasea. Ada juga yang disebarkan vektor, seperti nyamuk, lalat hitam, siput, lalat tsetse, serangga, dan serangga rumahan. Terdapat pula penyakit yang berkembang karena kontaminasi pada air dan tanah. Direktur Jenderal WHO Margaret Chan menyatakan, sekalipun secara medis berbeda, penyakit tropis terabaikan memiliki kesamaan yang diasosiasikan dengan kemiskinan, lingkungan buruk, dan daerah tropis. Sebagian besar merupakan penyakit kuno yang menghantui manusia berabad-abad. Di sejumlah tempat, penyakit tersebut bertahap menghilang karena masyarakat kian maju, adanya intervensi kesehatan, serta kondisi hidup dan higienitas meningkat. Namun, belum sepenuhnya hilang dan masih membebani masyarakat miskin serta mengikis produktivitas. Sebagai contoh, di India, rata-rata beban ekonomi yang diakibatkan demam dengue diperkirakan 27,5 juta hingga 31,1 juta dollar AS tahun 2008. Contoh lain, penyakit trakom (mata) di berbagai negara yang menyebabkan hilangnya produktivitas senilai 2,9 miliar dolar AS per tahun. Padahal, penyakit-penyakit itu dapat dicegah. Penyakit tersebut juga rentan menyebar ke banyak negara, termasuk negara-negara lebih maju. ”Penyakit tropis terabaikan membinasakan miliaran orang di seluruh dunia dan mengancam kesehatan jutaan orang lainnya,” ujar Margaret Chan dalam laporannya.

Investasi lebih besar
WHO mendorong agar pemerintah, produsen obat, dan lembaga donor mau berinvestasi lebih banyak untuk memberantas 17 penyakit tersebut. Sejumlah penyakit tersebut, menurut riset, dapat menyebabkan kecacatan dan kematian. Padahal, bencana itu dapat dihindari dengan pengobatan tidak mahal. Dalam laporan tersebut, WHO mencantumkan sejumlah tantangan ke depan, antara lain dukungan dunia internasional agar tetap peduli. Selain itu, tantangan lainnya ialah perbaikan lingkungan hidup, respons cepat, bantuan pakar, serta obat untuk pencegahan dan penanganan. WHO merekomendasikan setidaknya lima strategi kesehatan masyarakat untuk pencegahan dan pengontrolan penyakit-penyakit tersebut. Kelima strategi itu ialah pengobatan untuk pencegahan; mengintensifkan penemuan kasus dan manajemen kasus baru; meningkatkan kontrol terhadap vektor; pengawasan terhadap hewan pembawa penyakit yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat; serta peningkatan air minum layak, sanitasi, dan higienitas.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 7:45 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 7:52 am

MENGENAL PENYAKIT TROPIS DI INDONESIA
SABTU, 29 SEPTEMBER 2012 | 03:03 WIB
TEMPO.CO , Jakarta - Kementerian Kesehatan menyatakan di Indonesia ada lima penyakit tropis yang sering terjadi, namun penanganannya masih terabaikan. Beberapa penyakit tropis itu adalah filariasis atau kaki gajah, schistosomiasis atau infeksi cacing pita, cacingan, kusta dan frambusia yang merupakan sejenis penyakit kulit. "Penyakit tropis ini rentan dialami oleh masyarakat miskin," kata anggota Komisi Bidang Kependudukan dan Kesehatan DPR RI, Charles J Mesang saat dihubungi, Jumat 28 September 2012. Menurut anggota dewan yang berprofesi sebagai dokter ini, lima penyakit tadi disebabkan pola hidup yang tidak bersih. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, terdapat 17 penyakit tropis yang berpotensi mengakibatkan cacat. Penyakit-penyakit itu adalah dengue, rabies, trakom, buruli ulcer, treponematoses, lepra, penyakit changas, human African trypanosomiasis, leishmaniasis, cysticercosis, dracunculiasis, echinococcosis, frambusia, infeksi trematode lewat makanan, lymphatic filiariasis (kaki gajah), onchocerciasis, Schistosomiasis, dan cacing perut. Sedangkan yang menjadi endemik ada lima penyakit yang sudah disebutkan tadi. Charles menilai selama ini Kementerian Kesehatan dalam melakukan tindakan pencegahan dan pengobatan sudah baik. "Sayangnya tidak didukung kementerian lain," ujarnya. Ia mencontohkan, soal promosi dan perilaku menjaga kebersihan misalnya, bisa dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan cara memasukkannya ke dalam kurikulum. "Dahulu, ada pemeriksaan kuku anak-anak di semua sekolah, tapi saat ini jarang ada," kata Charles.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 7:50 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:06 am

INDONESIA RAWAN 5 PENYAKIT TROPIS
JUM'AT, 28 SEPTEMBER 2012 | 12:51 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi menyatakan ada lima penyakit tropis endemik yang sering diabaikan masyarakat Indonesia. Lima penyakit itu adalah kaki gajah, schistosomiasis (demam karena cacing), cacingan, kusta, dan penyakit kulit patek (frambusia). "Penyakit-penyakit ini memiliki dampak serius," kata Nafsiah seusai membuka acara Asean Seminar on Neglected Tropical Diseases Committe Report di Jakarta, Jumat, 28 September 2012. Berdasarkan data dari Kemenkes, penderita kaki gajah ada 12.066 penderita yang tersebar di 334 kabupaten atau kota endemis. Pemerintah sudah memberikan obat pencegahan di 119 kabupaten atau kota dan sebanyak 23,9 juta orang minum obat. Indonesia telah mencapai eliminasi kusta pada tahun 2010. Namun, setelah lebih dari 10 tahun, angka penderita tidak menurun. Saat ini ada 17 ribu penderita kusta baru per tahun di Indonesia. Adapun untuk frambusia, jumlahnya sekitar 5.000 penderita. Sejauh ini, upaya pencegahan yang dilakukan pemerintah berupa promosi kesehatan yang menerapkan konsep Desa Siaga dan membangun Pos Malaria Desa. Menurut Nafsiah, dengan konsep ini, masyarakat dilatih untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan guna mencegah penyakit. Misalnya, kampanye tentang sanitasi dan pola hidup bersih juga menghentikan pemberian stigma terhadap penderita kusta. “Semuanya gratis bagi masyarakat miskin," katanya. Perwakilan Badan Kesehatan Dunia (WHO) untuk Indonesia, Kanchit Limpakarnjanarat, mengatakan penanggulangan penyakit tropis itu merupakan bentuk penegakan hak asasi manusia. Sebab, pengabaian penyakit tropis dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan dan kerugian ekonomi serta pengembangan sumber daya manusia. Menurut Kanchit, data WHO tahun 2010 menunjukkan ada 17 penyakit yang menyebabkan cacat. Penyakit-penyakit itu adalah dengue, rabies, trakom, buruli ulcer, treponematoses, lepra, penyakit changas, human African trypanosomiasis, leishmaniasis, cysticercosis, dracunculiasis, echinococcosis, frambusia, infeksi trematode lewat makanan, lymphatic filiariasis (kaki gajah), onchocerciasis, schistosomiasis, dan cacing perut.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 10:37 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:06 am

AWAS, BANDARA JADI SARANG PENYAKIT
Jumat, 10 Agustus 2012, 22:06 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Yatta Montrell menunggu penerbangan ke Hong Kong dan Malaysia di Bandara Internasional Los Angeles. Ia sering terbang untuk dinas dan khawatir jatuh sakit ketika bepergian. Ia mengatakan, “Saya selalu mendapat suntikan untuk orang yang bepergian ke luar negeri dan membawa cairan pembersih tangan.” Bandara dan pesawat udara bukan hanya memindahkan orang ke seluruh dunia. Para pakar kesehatan mengatakan penyakit-penyakit seperti SARS, flu, dan TBC bisa berpindah dengan cepat dari negara ke negara melalui pesawat udara. Peneliti-peneliti pada Institut Teknologi Massachusetts (MIT) meneliti peran bandara dalam penyebaran penyakit dan percepatan pandemi. Mereka meneliti bandara-bandara di seluruh Amerika terkait jumlah lalu lintas penerbangan, perjalanan jarak jauh, dan penerbangan sambungan ke bandara-bandara lain. Mereka menemukan, jika terjadi perebakan suatu penyakit, bandara-bandara tertentu bisa menyebarkan penyakit lebih cepat. Bandara Kennedy di New York dan bandara di Los Angeles berada pada urutan teratas. Tetapi yang mengejutkan peneliti MIT, Ruben Juanes, adalah bandara Honolulu yang jauh lebih kecil, berada pada urutan ketiga dalam menyebarkan pandemi. Juanes mengatakan, ada beberapa alasan. “Bandara itu berlokasi di tengah laut, jadi jelas, setiap penerbangan sambungan adalah penerbangan jarak jauh yang bisa membawa penumpang-penumpang yang tertular dengan cepat dalam jarak ribuan kilometer. Walaupun jumlah penerbangan sambungan rendah, sebagian besar penerbangan itu dari kota-kota besar di Asia atau Amerika Utara,” paparnya.

Thomas Valente, guru besar pengobatan pencegahan pada Universitas California selatan, mengatakan penelitian itu mengingatkan bahwa bandara bisa menyebarkan pandemi lebih mudah daripada jenis transportasi lain. “Bandara memindahkan orang ke mana-mana. Ketika kita berada di sebuah bandara dan menunggu pesawat untuk berangkat atau jika kita menjemput orang, ada banyak orang duduk berdekatan. Penularan bisa saja terjadi,” ujar Valente.Kadang-kadang orang yang bepergian tertular penyakit yang berasal jauh dari kampung halamannya sendiri. “Kita bukan hanya akan melihat lebih banyak pandemi, tetapi juga secara global kita lebih berisiko tertular penyakit-penyakit yang sedang merebak di tempat-tempat lain,” tambah Valente. Jonathan Samet, kepala Lembaga Kesehatan Global pada Universitas California Selatan, mengatakan, “Banyak penularan merebak hanya karena orang menyentuh benda-benda yang mungkin tercemar. Jadi, di pesawat udara, kamar mandi dan pegangan pintu adalah tempat-tempat di mana penularan mungkin terjadi, atau menghirup udara dari orang yang duduk di sebelah kita atau mungkin dari seseorang yang duduk di bagian belakang, karena udara bersirkulasi balik ke arah kita.” Para pakar kesehatan mengatakan sering mencuci tangan adalah salah satu tindakan pencegahan yang bisa dilakukan orang yang bepergian ketika mereka berada di pesawat atau bandara. Ruben Juanes mengatakan penelitian itu bisa membantu para pejabat kesehatan umum memperkirakan bagaimana penyakit menyebar.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 7:52 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Zoonosis   Wed Dec 12, 2012 8:07 am

7 PENYAKIT MENGINTAI ORANG DI PASAR YANG BECEK DAN KOTOR
Jumat, 27/07/2012 17:26 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Pasar tradisional yang penuh sampah, becek, banyak lalat bisa menjadi sumber penyakit bila kebersihannya terus diabaikan. Ada beberapa penyakit yang mengancam bila kondisi pasar tidak sehat. "Pasar yang kebersihannya tidak diperhatikan bisa menjadi sumber penyakit. Di 3 provinsi Banten, Jawa Barat dan Jakarta, beberapa kasus flu burung terkait dengan pasar, di mana unggas masuk dari berbagai daerah, yang sakit tetap dipotong di pasar, yang mati juga dipotong di pasar," jelas drh Wilfried H. Purba, MM, M.Kes, Direktur Penyehatan Lingkungan, Ditjen PP dan PL Kemenkes, dalam cara temu media di Gedung Kemenkes, Kuningan, Jakarta, Jumat (27/7/2012). drh Wilfried mengungkapkan ada beberapa penyakit lain yang juga mengancam bila kondisi pasar tidak sehat, yaitu:

- Flu burung
- Diare karena kondisi kebersihan yang buruk
- ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan Atas) dan TB (tuberkulosis) karena lingkungan pasar yang pengap, sesak dan sumpek
- Tifus karena banyaknya lalat
- Leptospirosis karena kondisi pasar yang jorok dan banyak tikus
- Deman berdarah karena air yang tergenang
- Cacingan

Untuk itu, Kementerian Kesehatan sejak tahun 2009 menyelenggarakan pasar sehat sebagai salah satu strategi dalam Implementation of National Strategic for Preventing Avian Influenza (INSPAI) bekerjasama dengan WHO. Pada pasar sehat tersebut, Kementerian Kesehatan melakukan berbagai kegiatan terutama dengan meningkatkan fasilitas penunjang PHBS (perilaku hidup bersih dan sehat), seperti meningkatkan kualitas sarana sanitasi dan air bersih, melengkapi kit keamanan pangan, kit pembersihan pasar dan pembersihan pasar secara rutin. "Dari tahun 2009-2011 kita sudah menyelenggarakan pasar sehat di 10 lokasi di 9 provinsi dan pada tahun 2012 ini kita tambah lagi 8 lokasi baru. I


Last edited by gitahafas on Thu Jan 24, 2013 7:53 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Penyakit Zoonosis
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 19Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 10 ... 19  Next
 Similar topics
-
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal
» ketika ilmu dihilangkan dan kebodohan merajalela

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: