Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Bedah Caesar Untuk Bersalin?

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 8, 9, 10, 11, 12  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Thu Jan 10, 2013 8:53 am

"GENTLE BIRTH" TAK BERARTI MENGHILANGKAN SAKIT
Rabu, 9 Januari 2013 | 16:29 WIB
KOMPAS.com - Metode gentle birth untuk persalinan dipercaya dapat menambah ketenangan dan kenyamanan calon ibu dan bayi, mengurangi trauma, dan memperlancar proses persalinan. Namun meraih kelahiran yang tenang dan damai pun perlu banyak persiapan. Proses menyiapkan diri itulah yang harus dilatih sejak dini. Maka dalam gentle birth, salah satu rangkaian yang umumnya dipersiapkan calon ibu adalah menjaga kestabilan diri dengan self-hypnosis. “Hipnosis itu persiapan sebelum melahirkan untuk mencapai ketenangan saat persalinan. Itu akan membuat ibu rileks. Dan, relaksasi itu skill yang harus dilatih agar saat persalinan ia bisa melakukan hipnosis sendiri,” papar Aviasti Pratiwi Andayani, SKed, Direktur Medis sekaligus hypnotherapist di Galenia Mom and Child Center Bandung. Mengingat hipnosis juga dapat digunakan ibu untuk meraih ketenangan saat kehamilan, maka menurut Aviasti, akan lebih baik jika hipnosis dipelajari calon ibu sedini mungkin. Pada prinsipnya, hipnosis merupakan teknik untuk memasuki alam bawah sadar manusia dan menanamkan sugesti positif di dalamnya. Ada tiga tahap yang membangun hipnosis, yaitu relaksasi, repetisi, dan afirmasi. Pertama-tama ibu diajarkan untuk rileks, salah satunya dengan cara mengatur pernafasan. Ketika telah mencapai kondisi rileks, selanjutnya ia akan diberi afirmasi atau kalimat positif yang diucapkan berulang-ulang. Kalimat-kalimat positif itulah yang kemudian akan tertanam di alam bawah sadar dan menguatkan ibu saat persalinan. Menurut dr Prima Progestian, SPOG, istilah gentle birth pertama kali timbul dari bidan-bidan di Amerika yang pada dasarnya memiliki arti serupa dengan home birth, “Jika dilihat secara teknik sebenarnya sama saja, karena gentle birth itu bukan mengacu pada teknik tertentu melainkan istilah lain dari melahirkan di rumah,” katanya.

Jika penanganannya dikatakan lebih gentle, menurut Prima, bisa jadi karena tenaga kesehatan yang mempraktikkan gentle birth memperhatikan seluruh aspek dengan pendekatan psikososial. Sebagai contoh adalah keikutsertaan dalam memandikan ibu, memandikan plasenta, juga merawat bayi. Lebih lanjut ia mengatakan, melahirkan di dalam air (water birth) memang membuat ibu rileks karena ia berada di air hangat. Namun, bukan berarti dapat menghilangkan rasa sakit. “Rasa sakit tetap ada karena, kan, ibu masuk ke air pada pembukaan tujuh. Jadi sebenarnya masih ada sakit hanya memang bisa membuat ibu rileks,” tukas dokter yang berpraktik di Brawijaya Women and Children Hospital ini. Selain itu, perlu pemantauan kondisi bayi dan ibu terlebih dahulu sebelum memutuskan persalinan dengan metode water birth. Pasalnya jika ada komplikasi seperti darah tinggi atau diabetes pada ibu, terjadi ketuban pecah, atau posisi kepala bayi yang sungsang atau melintang, metode persalinan ini akan berisiko. Maka dari itu, konsultasi ke tenaga kesehatan mengenai teknik persalinan yang akan dipilih sangat diperlukan sebelum mengambil keputusan tersebut. “Sementara lotus birth itu artinya tidak memotong tali pusat dan menunggu hingga kering. Jadi yang biasa saya lakukan itu delayed cord clamping atau menunda pemotongan, biasanya baru dipotong setelah dua hingga tiga menit lahir,” papar penulis Buku Panduan Ingin Hamil: Cara Menentukan Masa Subur ini. Ia menambahkan, penundaan pemotongan dengan jangka waktu tersebut bertujuan untuk mengalirkan dua ratus hingga tiga ratus millimeter darah pada bayi. “Dengan begitu kadar HB dan feritin pada bayi akan lebih tinggi sehingga mengurangi risiko anemia,” tukas Prima. Sementara bila pemotongan tali pusat ditunda terlalu lama, bayi justru akan kelebihan sel darah merah.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Thu Jan 10, 2013 8:55 am

"GENTLE BIRTH" AMANKAH?
Penulis : Unoviana Kartika | Senin, 24 Desember 2012 | 16:48 WIB
KOMPAS.com – Gentle birth atau melahirkan sendiri tanpa bantuan ahli medis merupakan cara melahirkan yang saat ini mulai kembali populer. Gentle birth dinilai lebih baik karena dapat membuat ikatan mental antara ibu dan anak menjadi lebih kuat. Selain itu, melahirkan dengan cara ini dapat meminimalkan rasa nyeri karena proses melahirkan dibuat lebih tenang dan rileks bagi ibu. Gentle birth dapat dilakukan sendiri di rumah, atau pun di klinik yang menyediakan jasa gentle birth. Salah satu metode yang digunakan misalnya dengan otohipnosis atau pun dengan berendam di dalam air (waterbirth) sehingga dapat mengurangi trauma kelahiran pada bayi.

Namun bagaimana pandangan ahli medis tentang gentle birth?
Spesialis obstetri dan ginekologi, Febriansyah Darus, di sela-sela sebuah acara talkshow ,Sabtu (22/12/2012) di Jakarta mengatakan, gentle birth boleh-boleh saja dilakukan, asalkan sebelumnya ibu dan keluarganya sudah melakukan persiapan-persiapan tertentu. Sebelum memilih gentle birth sebagai metode melahirkan, memang sebelumnya ibu harus mengerti betul tentang proses dan risikonya. Sebelumnya juga harus diajarkan bagaimana mengelola stres selama kehamilan dan menjelang melahirkan. Persiapan sebelum melalui proses melahirkan dengan metode gentle birth tentu menjadi lebih banyak. Antara lain, persiapan mental ibu dan keluarga, terutama suami. Selama kehamilan, ibu harus benar-benar menjaga kesehatannya, agar tidak ada kendala menjelang kelahiran. Menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan penyeimbangan asupan nutrisi dan olahraga khusus ibu hamil. “Tidak disarankan memilih metode gentle birth jika memang sudah ada kendala dalam kehamilan,” kata Febriansyah. Mendekati waktu melahirkan, perlu langkah persiapan yang matang meliputi tempat persalinan di rumah hingga pendaftaran ke rumah sakit terdekat guna mengantisipasi kemungkinan bantuan medis darurat jika ada sesuatu yang tidak diinginkan selama proses melahirkan. “Persiapan ahli medis ini penting, karena kemungkinan terjadi hal yang tidak diinginkan ada. Selain itu jarak yang ditempuh untuk mencapai ahli medis juga sangat disarankan dekat, agar cepat,” tambahnya. Febriansyah tidak menyarankan metode water birth untuk dilakukan sembarangan tanpa didampingi ahli medis. “Water birth saat ini sudah tidak direkomendasikan oleh Persatuan Dokter Obstetri Ginekologi Indonesia, karena tidak berdasar dapat membuat proses melahirkan menjadi lebih baik,” ungkapnya.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 10, 2013 9:25 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Thu Jan 10, 2013 8:59 am

7 CARA MENGURANGI NYERI KONTRAKSI
Penulis : Felicitas Harmandini | Rabu, 5 Januari 2011 | 09:31 WIB
KOMPAS.com — Salah satu proses yang akan dihadapi ibu hamil menjelang persalinan adalah kontraksi. Pada ibu hamil sering terjadi kontraksi palsu (disebut Braxton Hicks), yaitu kondisi rahim mengencang lalu mengendur lagi. Secara sederhana, rasanya seperti ketika Anda mengalami kram perut saat menstruasi. Namun, apabila kontraksi terjadi menjelang persalinan, intensitas yang lebih kuat, frekuensinya pun lebih sering dan lebih lama. Saat-saat kontraksi seperti ini ibu hamil akan merasa sangat tidak nyaman, degdegan, dan khawatir, terutama bagi yang baru pertama melahirkan. Namun, nyeri akibat kontraksi ini bisa sedikit dikurangi dengan beberapa cara:

1. Membenamkan diri di air
Berendam di dalam air hangat menjelang persalinan cukup efektif mengurangi nyeri. Kondisi tanpa berat saat duduk di bathtub akan mengurangi tekanan dan rasa sakit, sementara hangatnya air akan melunakkan dan menenangkan otot-otot. Apabila di rumah sakit tak tersedia bathtub, coba sirami lembut perut Anda dengan air hangat dari shower. Tekanan dari mulut shower itu akan memberikan kenyamanan untuk Anda yang punya masalah nyeri punggung bagian bawah.

2. Buat bebunyian
Ketika sedang kesakitan, perempuan yang menghadapi persalinan kerap mengeluarkan suara-suara atau rintihan yang malah membuat tak nyaman. Coba turunkan pundak, dan buatlah suara-suara yang dalam dan rendah untuk membantu Anda bernapas lebih dalam, dan merilekskan otot-otot panggul Anda. Menyanyi, mengulang-ulang kalimat dari bacaan, atau menghitung, juga kerap dilakukan untuk mengalihkan pikiran dan meredakan nyeri.

3. Ubah posisi Anda
Anda perlu mencoba posisi yang tidak menentang gravitasi, seperti membuka panggul. Caranya, duduklah bersandar di dinding, di sandaran kursi, atau pada tubuh suami. Mengubah posisi saat persalinan adalah salah satu cara paling populer untuk mengurangi peluang intervensi lain. Tetapi, begitu dokter melakukan tindakan, Anda akan dilarang bergerak karena monitoring pada bayi dalam kandungan harus dilakukan terus-menerus.

4. Minta dukungan
Kebanyakan ibu hamil yang menjelang persalinan tidak ditemani dokter, bidan, atau perawat, sampai tiba waktunya untuk mengejan. Meminta suami, ibu, atau saudara perempuan menemani bisa cukup membantu. Anda akan membutuhkan orang yang mau mendengarkan keluhan dan rintihan Anda, tidak seperti perawat atau dokter yang sudah menganggap persalinan adalah hal biasa. Perempuan cenderung akan menjalani persalinan yang lebih efisien jika mereka merasa aman. Dalam hal ini, pendamping dan lokasi persalinan cukup berperan.

5. Lakukan pijatan
Pemijatan yang baik jika dilakukan dengan tekanan yang konsisten dan mengarah ke bawah. Anda bisa duduk sambil memeluk bantal atau menghadap sandaran kursi, sementara pasangan memijat punggung dan pinggul Anda. Pasangan bisa menggunakan bola tenis untuk mengurut tulang belakang dan punggung bawah, dengan gerakan memutar. Agar pasangan siap memijat, lakukan latihan memijat jauh-jauh hari sebelumnya.

6. Lakukan afirmasi
Rasa takut akan sesuatu yang belum tentu terjadi akan meningkatkan persepsi nyeri. Anda bisa mengucapkan kalimat-kalimat afirmasi, yang menyatakan bahwa melahirkan adalah proses alami yang bisa dilakukan semua perempuan. Mungkin akan ada masalah, tetapi selalu ada cara untuk mengatasinya. Kadang-kadang keinginan kuat untuk bersalin secara normal bisa mendorong perempuan untuk menekan rasa takut dan lebih berani menghadapinya. Anda juga bisa berbagi mengenai ketakutan-ketakutan Anda, bahkan menangis, apabila itu bisa melegakan Anda.

7. Pikirkan hal-hal yang menyenangkan
Oksitosin, hormon yang menyebabkan kontraksi, juga dilepaskan saat Anda dipijat, orgasme, jatuh cinta, dan ketika Anda merasa aman. Hormon ini sebenarnya hormon yang intim, namun rasa takut yang intens bisa memperlambatnya. Anda tidak harus menguasai gerakan-gerakan yoga untuk dilakukan menjelang persalinan. Menciptakan lingkungan yang terasa lebih nyaman juga akan sangat membantu Anda.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Tue Jan 15, 2013 8:11 am

CARA ALAMI INI MAMPU MENGURANGI RASA SAKIT PERSALINAN
Linda Mayasari - detikHealth Senin, 14/01/2013 12:30 WIB
Jakarta, Rasa sakit dan ketidaknyamanan selama proses persalinan menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi semua wanita. Padahal kekhawatiran tersebut justru dapat memperpanjang proses persalinan dan dapat membahayakan janin. Ada beberapa cara alami yang dapat Anda lakukan untuk membantu meringankan rasa sakit dan mempersingkat durasi persalinan. Ibu hamil yang akan melahirkan perlu mengetahui teknik-teknik sederhana yang dapat mengurangi kekhawatiran akan rasa sakit dan ketidaknyamanan saat melahirkan. Seperti dilansir naturalnews, Senin (14/1/2013), berikut 5 cara alami yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi rasa sakit selama persalinan, antara lain:

1. Hidroterapi
Hidroterapi dapat mendorong relaksasi selama persalinan dan mengurangi rasa sakit. Wanita hamil yang akan menghadapi persalinan disarankan untuk mandi selama 15 menit terlebih dahulu. Menurut penelitian hal ini dapat menurunkan intensitas nyeri dibandingkan dengan wanita yang tidak melakukan hidroterapi. Air mampu mengurangi rasa sakit dan meredakan kecemasan yang berhubungan dengan proses persalinan.

2. Minyak atsiri
Penggunaan minyak atsiri telah terbukti dapat meningkatkan suasana hati dan menenangkan wanita yang akan melahirkan dari kecemasan persalinan. Minyak atsiri memiliki kemampuan untuk menyembuhkan dan secara alami melepaskan ketegangan. Hiruplah minyak atsiri atau oleskan ke kulit disertai dengan pijatan lembut. Penggunaan minyak atsiri ini juga dapat membantu meningkatkan kontraksi, meringankan sensasi persalinan dan menciptakan suasana yang menenangkan.

3. Pijatan
Pijatan sangat efektif dalam merangsang tubuh melepaskan endorfin dan konduksi sensorik untuk menghambat penyebaran nyeri. Teknik ini dapat mengendurkan otot-otot yang tegang dan membantu menenangkan ibu melahirkan. Terapi sentuhan berupa pijatan lembut dapat memblokir impuls nyeri, meningkatkan sirkulasi darah dan merangsang sistem saraf. Hal ini sangat membantu mengurangi nyeri persalinan serta membantu bayi menuruni jalan lahir.

4. Beralih posisi
Mengubah posisi berbaring selama menunggu proses kelahiran dapat membantu ibu mengontrol rasa sakit, karena dapat mengurangi tekanan darah dan penyimpangan denyut jantung bayi. Sering mengubah posisi berbaring bermanfaat untuk meningkatkan sirkulasi darah dan membantu kelancaran persalinan.

5. Relaksasi
Relaksasi dapat digunakan untuk mengatasi ketegangan otot, misalnya dengan meditasi dan teknik pernapasan. Hal ini memberi efek menenangkan dan mengurangi ketidaknyamanan selama persalinan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Wed Jan 30, 2013 1:28 pm

10 CARA MENGURANGI NYERI BERSALIN
Penulis : Hesti Pratiwi | Rabu, 30 Januari 2013 | 10:00 WIB
KOMPAS.com – Nyeri bersalin tak bisa dihindari, namun Anda bisa mengurangi ketidaknyamanan yang terjadi dengan mengetahui segala bentuk aktivitas yang bisa membuat Anda lebih rileks selama proses kelahiran. Ada baiknya Anda memelajari hal yang bisa Anda lakukan dengan tubuh dan pikiran selama kontraksi. Anda akan kagum pada kemampuan Anda untuk melalui segala proses persalinan dengan lancar.

1. Pilih tempat yang nyaman
Saat menjalani proses kelahiran, pastikan Anda berada di tempat yang nyaman dan memberikan Anda rasa aman. Home birth, water birth, atau persalinan di rumah sakit, terserah mana yang nyaman untuk Anda. Idealnya, saat mengalami proses persalinan Anda harus memiliki ruang untuk berjalan-jalan dan mandi. Sediakan perangkat yang membuat Anda nyaman, siapkan playlist lagu kesukaan, selimut, atau ranjang empuk, apa saja yang bisa membuat Anda nyaman. Bila Anda memilih melahirkan di rumah, pikirkan akses tercepat ke rumah sakit untuk berjaga-jaga.

2. Pilih tim Anda dengan hati-hati
Bidan, dokter kandungan, perawat, dan orang yang dicintai, akan menciptakan tim kelahiran yang mendukung. Ketika Anda diperlakukan dengan hormat dan penuh kesabaran, saat stres dan mengalami hambatan Anda dapat lebih mudah menemukan mekanisme terbaik untuk mengatasi semuanya.

3. Perkaya informasi tentang melahirkan
Cari tahu segala sesuatu tentang persalinan dari buku, majalah, situs, atau diskusi dengan penyedia layanan kesehatan Anda seperti dokter atau bidan. Jangan lupa membiasakan diri dengan prosedur di rumah sakit atau klinik bersalin. Pengetahuan yang lebih sebelum waktu bersalin, berarti hanya akan memberikan sedikit kejutan saja saat hari H-nya.

4. Ekspresikan ketakutan Anda
Apakah Anda khawatir tentang nyeri bersalin, jarum, obat-obatan, atau kehilangan kendali di ruang bersalin? Berbicaralah dengan teman yang berpengetahuan dan terpercaya, atau dokter Anda tentunya. Menyuarakan keprihatinan Anda dapat membuka jalan untuk sebuah solusi praktis bagi masalah Anda. Ungkapkan keinginan Anda dalam proses persalinan nanti, untuk membantu mengatasi ketakutan.

5. Latihan pernafasan berirama
Tarik nafas secara penuh dalam irama lambat selama kontraksi. Cobalah melepaskan ketegangan setiap kali membuang nafas, dan lakukan sambil merintih. Anda juga bisa mencoba mengambil nafas cepat, sekitar satu tarikan setiap dua sampai tiga detik (20 sampai 30 tarikan per menit). Jika Anda kehilangan ritme Anda, pasangan bisa membantu Anda memperolehnya kembali dengan kontak mata, sentuhan tangan, atau gerakan kepala, atau berbicara pada Anda di sela-sela kontraksi.

6. Memanfaatkan visualisasi
Berfokus pada sesuatu yang membuat Anda bahagia (seperti wajah pasangan, gambar-gambar pemandangan yang Anda sukai, atau liburan berkesan yang pernah Anda jalani) dan melibatkan indera dapat mengalihkan rasa sakit. Dengarkan musik, suara yang menenangkan, atau rekaman gelombang laut, dan bayangkan diri Anda dalam lingkungan yang santai.

7. Mandi air hangat
Mandi air hangat dapat menenangkan, terutama jika Anda bisa duduk di bangku dan mengarahkan pancuran ke perut atau punggung. Mandi air hangat dapat membuat Anda menjadi lebih santai, bahkan mempercepat persalinan.

8. Terus bergerak
Bergerak sebanyak yang Anda bisa. Berjalan-jalan di sekitar ruangan, tidur menyamping, atau berjongkok. Beberapa posisi akan terasa lebih nyaman daripada yang lain. Jadi jangan ragu mencoba berbagai posisi yang membuat Anda nyaman.

9. Kompres hangat atau dingin
Tempatkan kompres air hangat di bawah punggung, pangkal, paha, perut, atau bawah bahu, selama persalinan. Sedangkan menempelkan kompres dingin (bisa memakai sarung tangan lateks yang diisi dengan es batu) dapat menenangkan daerah yang menyakitkan. Kain atau handuk kecil yang dingin juga bisa sedikit membuat Anda lebih segar untuk mengelap wajah, dada, atau leher yang berkeringat.

10. Manjakan diri dengan sentuhan atau pijatan lembut
Sentuhan pasangan, pegangan tangan, elusan di pipi, belaian rambut, atau tepukan-tepukan kecil pada tangan atau bahu Anda akan menyampaikan pesan peduli. Dengan begitu rasa sakit akan berkurang. Dan siapa yang tidak merasa aman dan damai dengan kehadiran ibu? Anda bisa meminta ibu Anda menemani, dan memegang tangan untuk menenangkan Anda, jika hal tersebut benar-benar Anda kehendaki.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Tue Feb 05, 2013 8:28 am

PROSES PERSALINAN PENGARUHI BENTUK KEPALA BAYI?
SELASA, 29 JANUARI 2013 10:18 wib Dwi Indah Nurcahyani - Okezone
BENTUK kepala bayi yang baru lahir memang berbeda satu sama lain. Namun, Anda jangan dulu khawatir jika menemukan kepala bayi yang tidak bulat sempurna alias peyang. Kenali lebih lanjut bentuk kepala bayi Anda dengan seksama. Pasalnya, proses persalinan sangat berpengaruh pada bentuk kepala bayi. Bentuk kepala bayi baru lahir memang dipengaruhi proses persalinan. Menurut dr. Nia Niasari, SpA, bentuk kepala saat proses persalinan menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran jalan lahir, yaitu saat memasuki daerah panggul. Hal itu terjadi karena tulang-tulang kepala (tengkorak) terdiri dari beberapa tulang pipih yang belum saling menempel rapat dan masih relatif lunak. Saat memasuki jalan lahir yang sempit, tulang-tulang tersebut menyesuaikan ukuran kepala dengan cara sedikit saling bertumpuk (molding). Bentuk kepala menjadi berbentuk memanjang (lonjong) sesuai bentuk jalan lahir. Setelah lahir, bentuk kepala akan kembali ke bentuk semula dalam beberapa hari. Tulang-tulang yang bertumpuk (molding) akan kembali terpisah. Tapi tentu saja hal ini tidak terjadi pada bayi yang lahir dengan operasi sesar. Walaupun ada beberapa kasus operasi sesar yang dilakukan setelah bayi sempat menyesuaikan dengan bentuk dan ukuran jalan lahir. Namun, umumnya bayi lahir dengan operasi sesar mempunyai bentuk kepala yang lebih bulat. Jadi proses kelahiran turut berperan dalam membentuk kepala bayi saat lahir, tapi bukan dalam hal ukuran kepala bayi. Dan hal ini bersifat sementara, karena setelah beberapa hari akan kembali ke bentuk yang sesungguhnya sesuai bawaan atau genetik.

Ragam penyebab
Selain proses melewati jalan lahir dan saat persalinan berlangsung, kadang diperlukan bantuan alat seperti vacuum untuk menarik kepala bayi keluar. Hal-hal tersebut juga dapat menyebabkan bengkak (benjolan) yang bersifat sementara. Benjolan di kepala tersebut tentu saja memengaruhi bentuk kepala untuk sementara waktu. Ada yang disebut sebagai cephalohematomas, yaitu terkumpulnya sedikit cairan darah akibat robeknya pembuluh darah. Benjolan ini lebih lama menghilang, bisa sekitar 1-2 bulan. Benjolan lain disebut caput succedaneum, yang berisi cairan serum, tapi akan lebih cepat menghilang dalam 1-3 hari. Bentuk kepala bayi baru lahir cenderung lebih terlihat bulat, karena secara proporsional panjang kepala bayi baru lahir ¼ dari panjang seluruh tubuh, dari puncak kepala sampai tumit. Dengan bertambahnya umur, proporsi kepala akan mengecil, sehingga badan sampai kaki akan lebih panjang. Kepala bayi yang normal umumnya simetris, tapi kadang ada beberapa variasi yang membuat bentuk kepala bayi belum simetris. Hal ini disebabkan beberapa faktor yaitu:

-Lahir prematur.
Karena belum cukup bulan, tulang-tulang tengkoraknya masih agak lunak. Oleh sebab itu mudah berubah bentuk.

-Janin kembar.
Ruang gerak yang sangat sempit di dalam rahim membuat pertumbuhan kepala tidak optimal.

-Posisi tulang yang belum pas pada tempat yang sesungguhnya, misalnya karena pengaruh penekanan pada sisi tertentu saat dalam rahim.

-Akibat terjepit alat bantu persalinan.

-Salah posisi tidur.
Bayi dibiarkan tidur pada posisi yang sama, sehingga sisi yang selalu menempel pada bantal akan lebih pipih atau datar.

-Akibat kelainan genetik.
Misalnya, tulang-tulang tengkorak bayi terlalu cepat menyatu, sehingga otaknya tidak punya cukup ruang untuk berkembang. (Sumber: Tabloid Mom & Kiddie)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Tue Feb 05, 2013 4:42 pm

MENGUAK RISIKO PERSALINAN NORMAL
SENIN, 27 FEBRUARI 2012 13:49 wib SINDO
MELAHIRKAN secara normal merupakan persalinan yang lebih diharapkan. Namun, proses persalinan normal memiliki risiko kerusakan otot levator ani yang menimbulkan disfungsi dasar panggul. Ibu yang sedang hamil hampir sebagian besar mengharapkan proses persalinan yang normal. Selain lebih menghemat biaya, kehamilan normal juga memberi keuntungan lain, yakni pemulihan pascamelahirkan yang lebih cepat. Tapi ternyata, melahirkan secara normal bukannya tanpa risiko. Melahirkan secara normal memicu kemungkinan terjadinya kerusakan otot levator ani (otot di sekitar anus). Jika dibiarkan, kerusakan otot ini akan menimbulkan disfungsi dasar panggul. Otot levator ani ini sebenarnya bisa meregang sampai 200 persen, tapi jika lebih dari itu akan robek. Kerusakan ini berdampak pada penurunan organ panggul, konstipasi kronis, hingga disfungsi seksual. Berdasarkan penelitian, prevalensi terjadinya kerusakan otot dasar panggul berkisar antara 15–30 persen pada wanita yang melahirkan normal. “Kerusakan ini dapat menurunkan kualitas hidup wanita, seperti disfungsi seksual, inkontinesia urine dan alvi, konstipasi kronis, hingga prolaps (penurunan) organ panggul, di mana oto panggul menjadi begitu lemah dalam menyangga organ seperti kandungan kemih dan uterus yang menyebabkan organ tersebut turun,” kata dr Budi Iman Santoso SpOG (K). Gangguan ini bisa terjadi saat wanita berusia 40 tahunan. Lebih detail Budi menjelaskan, inkontesia urine yakni keluarnya air seni saat batuk atau tertawa. Sementara disfungsi seksual, misalnya keluar urine atau kentut ketika sedang berhubungan seks.

Lantas, apakah sebaiknya beralih ke persalinan caesar? Jangan buru-buru dulu. Diakui Budi, tidak sedikit calon ibu yang memilih persalinan caesar karena dianggap lebih aman. Menurut penelitian, diperkirakan 2,5 persen dari seluruh persalinan dengan proses ini dilakukan atas permintaan sang ibu tanpa adanya indikasi medik. Alasannya, rasa khawatir akan terjadinya disfungsi dasar panggul setelah menjalani persalinan normal. Padahal, persalinan caesar tanpa indikasi medis hanya mampu melindungi satu dari tujuh ibu yang akan mengalami kerusakan otot levator ani akibat persalinan normal. Yang justru patut diwaspadai adalah risiko mortalitas (kematian) dan morbiditas (kesakitan) persalinan caesar meningkat lima kali dari persalinan normal. “Belum lagi risiko pascamelahirkan dan masa rawat inap yang lebih lama,” lanjut Budi. Maka itu, guna mencegah terjadinya kerusakan otot dasar panggul, diciptakanlah sistem scoring terkini yang dapat dipakai untuk memprediksi terjadinya kerusakan otot dasar panggul. Metode scoring yang baru dikembangkan di RSCM Kencana ini memiliki validitas yang sudah diujikan kepada 104 pasien di rumah sakit tersebut dan merupakan yang pertama kali di dunia.

Sedikitnya ada tiga variabel dalam skala scoring I, yakni episiotomi (pengguntingan kulit dan otot di antara vagina dan anus), lamanya kala II (mengejan), dan berat bayi. Adapun skala scoring II, ada dua variabel, yakni robekan perineum (jarak dari anus sampai tepi bawah vagina) dan lamanya kala II. Menurut skala I, episiotomi bernilai 1 dan tidak bernilai 0. Lamanya kala II lebih dari 65 menit bernilai 2, kurang dari itu bernilai 0. Sementara berat bayi di atas 3,325 kilogram bernilai 1, dan di bawah itu bernilai 0. Hasilnya, skor total 0-1 masuk kategori rendah, skor 2 kategori sedang, dan skor 3–4 masuk kategori tinggi, menandakan ada kemungkinan terjadi kerusakan otot levator ani. Menurut dr Aria Wibawa SpOG(K), sistem scoring ini bisa diterapkan saat ibu akan melahirkan anak kedua. Bisa juga dimanfaatkan sejak ibu mengandung. Aria juga mengatakan, persalinan pertama berkontribusi terbesar dalam menyebabkan kerusakan dasar panggul, meski penyebabnya multifaktorial. Kerusakan ini bisa menurunkan kualitas hidup seorang perempuan. Selain menerapkan sistem scoring, alternatif lain untuk mencegah kerusakan pada organ ini, di antaranya tidak melakukan tindakan episiotomi atau pengguntingan perineum atau jalan lahir bila tidak ada indikasi. (tty)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Thu Feb 28, 2013 4:48 pm

BILA INDUKSI GAGAL.....
KAMIS, 28 FEBRUARI 2013 12:03 wib
INDUKSI bisa menjadi solusi bagi ibu hamil yang (tetap) ingin melahirkan secara normal, meski mengalami lambatnya pembukaan jalan lahir sementara janin harus segera dikeluarkan. Namun begitu, ada kalanya tindakan induksi ini mengalami kegagalan. Jika demikian, apakah proses melahirkan harus berakhir di meja operasi? Simak penjelasan dr. Fakriantini Jayaputri Sp.OG, sebagaimana diulas Mom & Kiddie.

Penyebab Gagalnya Induksi
Induksi adalah suatu tindakan terhadap bumi yang belum mengalami inpartu (keadaan bumil pada tahap persalinan), belum ada pembukaan pada mulut rahim dan belum ada kontraksi baik secara operatif, tindakan medisinal atau obat, untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim sehingga terjadi persalinan. Induksi persalinan ini bisa gagal bila terjadi salah satu tanda komplikasi, baik dari ibu maupun janin. Tanda komplikasi dari ibu seperti kelelahan, krisis emosional, inersia uteri - kelainan his/tenaga yang kekuatannya tidak memadai untuk melakukan pembukaan serviks atau mendorong janin keluar - pada partus lama, tetania uteri yang dapat menyebabkan solutio plasenta, ruptur uteri dan laserasi jalan lahir serta infeksi intrauterine - infeksi akut pada cairan ketuban, janin dan selaput korioamnion yang disebabkan oleh bakteri. Sedangkan tanda komplikasi dari janin di antaranya trauma pada janin karena tindakan, prolaps tali pusat - suatu kondisi medis ditandai dengan masuknya tali pusat ke dalam vagina sebelum atau sewaktu persalinan -, infeksi intrapartal pada janin dan aspirasi air ketuban. Selain itu, kegagalan juga bisa terjadi karena selama induksi tidak adanya respons atau kemajuan yang dinilai dengan menggunakan partograf - catatan grafik kemajuan persalinan guna memantau keadaan ibu dan janin. Pengamatan yang dicatat dalam patograf di antaranya:

- Kemajuan persalinan seperti pembukaan serviks, turunnya kepala dan his (kontraksi) dengan frekuensi per sepuluh menit.
- Keadaan janin seperti frekuensi denyut jantung janin, warna, jumlah dan lamanya ketuban pecah serta molase kepala janin.
- Keadaan ibu seperti nadi, tekanan darah, dan suhu; volume, protein dan aseton urine; obat-obatan dan cairan intravena serta pemberian oksitosin.

Bila bumi sudah diberi induksi (drip) sebanyak tiga kali namun tetap tidak ada kemajuan (rahim tidak berkontraksi), maka induksi dikatakan induksi tersebut gagal. Dan penanganan selanjutnya adalah operasi sesar.

Induksi Batal Diberikan
Kalau induksi bisa dinyatakan gagal, maka induksi pun bisa batal diberikan kepada bumi karena adanya kontraindikasi yang sifatnya absolut dan relatif. Kontraindikasi yang besifat absolut, yaitu adanya kegawatan pada janin, disproposi Cephalopelvic absolute dimana keadaan yang menggambarkan ketidaksesuaian antara kepala janin dan panggul ibu sehingga janin tidak dapat keluar melalui vagina. Lantas ada, vasa previa - komplikasi obstetrik di mana pembuluh darah janin melintasi atau berada di dekat ostium uteri internum -, presentasi abnormal, presentasi bokong dan riwayat sesar klasik sebelumnya. Sedangkan kontraindikasi yang sifatnya relatif adalah perdarahan antepartum, grande multiparitas, malposisi - semua presentasi janin selain vertex (puncak kepala) - atau malpresentasi - kepala janin relatif terhadap pelvix dengan oksiput sebagai titik referensi. Di mana sebelumnya dilakukan penilaian dengan Bishop Score. Sebelum melakukan induksi, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, seperti penilaian serviks, di mana keberhasilan induksi persalinan bergantung pada skor pelvis. Jika skor di atas 6, biasanya induksi cukup dilakukan dengan oksitosin. Jika kurang dari 5, maka terlebih dulu matangkan serviks dengan prostaglandin atau kateter Foley. Hal lain yang diperhatikan adalah tanda vital ibu seperti tensi darah, nadi, pernafasan dan temperatur; denyut jantung janin, adanya kontraksi rahim yang berlebihan dan adanya perdarahan atau tidak. Itulah mengapa induksi harus dilakukan dalam pengawasan yang ketat dari dokter yang menangani. Jika ibu merasa tidak tahan dengan rasa sakit yang ditimbulkan, biasanya dokter akan menghentikan proses induksi kemudian akan dilakukan operasi sesar.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Mon Mar 04, 2013 8:20 pm

JENIS JENIS INDUKSI
MINGGU, 3 MARET 2013 18:42 wib Okezone
SELAIN medis, induksi juga bisa berupa manipulatif. Seperti apakah perbedaannya? Berikut penjelasan dr. Fakriantini Jayaputri Sp.OG dari RSU Prikasih Fatmawati Jakarta, sebagaimana diulas Mom & Kiddie.

Induksi Persalinan Secara Medis

-Infus Oksitosin
Mekanisme kerja dari oksitosin belum diketahui pasti, namun hormon ini akan menyebabkan kontraksi otot polos uterus sehingga digunakan dalam dosis farmakologik untuk menginduksi persalinan. Sebelum bayi lahir pada proses persalinan yang timbul spontan ternyata rahim sangat peka terhadap oksitosin. Begitu proses persalinan dimulai, serviks akan berdilatasi sehingga memulai refleks neural yang menstimulasi pelepasan oksitosin dan kontraksi uterus selanjutnya. Untuk menghasilkan efek pada uterus maka diperlukan dosis yang adekuat. Dosisnya antara 4 sampai 16 miliunit permenit. Dosis untuk tiap orang berbeda-beda, namun biasanya dimulai dengan dosis rendah sambil melihat kontraksi uterus dan kemajuan persalinan. Agar infus oksitosin berhasil dalam menginduksi persalinan dan tidak memberikan penyulit baik pada bumi maupun janin, maka diperlukan syarat–syarat seperti kehamilan aterm, ukuran panggul normal, tidak ada CPD, dan servik telah matang.

-Prostaglandin
Pemberian prostaladin dapat merangsang otok-otot polos termasuk juga otot-otot rahim. Pemakaian prostaglandin sebagai induksi persalinan dapat dalam bentuk infus intravena (nalador) dan pervaginam (prostaglandin vagina suppositoria). Pada kehamilan aterm, induksi persalinan dengan prostagladin cukup efektif untuk memperpendek proses persalinan, menurunkan angka cesar dan menurunkan angka skor kurang dari 4.

-Cairan Hipertonik Intra Uteri
Pemberian cairan hipertonik intramnnion dipakai untuk merangsang kontraksi rahim pada kehamilan dengan janin mati. Cairan hipertonik yang dipakai dapat berupa cairan garam hipertonik 20, urea dan lain-lain. Kadang-kadang pemakaian urea dicampur dengan prostaglandin untuk memperkuat rangsangan pada otot-otot rahim. Namun cara ini dapat menimbulkan penyakit yang cukup berbahaya, misalnya hipernatremia, infeksi dan gangguan pembekuan darah.

Induksi Persalinan Secara manipulatif

-Amniotomi
Amniotomi artifisialisis dilakukan dengan cara memecahkan ketuban baik bagian bawah depan (fore water) atau bagian belakang (hind water) dengan suatu alat khusus yaitu drewsmith catheter atau dengan omnihook yang sering dikombinasikan dengan pemberian oksitosin. Beberapa teori mengemukakan bahwa amniotomi dapat mengurangi beban rahim sebesar 40 persen sehingga tenaga kontraksi rahim dapat lebih kuat untuk membuka serviks. Ada pula yang mengatakan amniotomi menyebabkan berkurangnya aliran darah di dalam rahim kira-kira 40 menit setelah amniotomi dikerjakan, sehingga berkurangnya oksigenasi otot–otot rahim dan keadaan ini meningkatkan kepekaan otot rahim. Selain itu, ada pula yang mengatakan amniotomi menyebabkan kepala dapat langsung menekan dinding serviks di mana di dalamnya terdapat banyak saraf–saraf yang merangsang kontraksi rahim. Bila setelah amniotomi dikerjakan 6 jam kemudian, belum ada tanda–tanda permulaan persalinan, maka harus diikuti dengan cara lain untuk merangsang persalinan, misalnya dengan infus oksitosin. Perlu diperhatikan, dalam amniotomi bisa menyebabkan infeksi intrauteri, prolapsus funikuli, gawat janin dan tanda-tanda solusio plasenta bila ketuban sangat banyak dikeluarkan.

-Pemakaian Foley Catheter
Foley Catheter digunakan untuk mematangkan serviks dan induksi persalinan. Kontraindikasi terjadi jika ada riwayat perdarahan, ketuban pecah, pertumbuhan janin terhambat dan infeksi vaginal.

-Pemakaian Rangsangan Listrik
Induksi melalui rangsangan listrik ini dengan dua elektrode yang diletakkan dalam servik dan ditempelkan pada dinding perut. Kemudian dialirkan listrik untuk memberi rangsangan pada serviks sehingga menimbulkan kontraksi rahim.

-Rangsangan Puting Susu (Breast Stimulation).
Rangsangan puting susu dapat memengaruhi hipofisis posterior untuk mengeluarkan oksitosis, sehingga bisa mengakibatkan terjadinya kontraksi rahim. Rangsangan yang dapat dilakukan adalah dengan melakukan pijat ringan dengan ibu jari di daerah areola mammae pada salah satu puting susu. Untuk menghindari lecet bisa menggunakan minyak atau baby oil. Pijat ringan ini dapat dilakukan setengah jam hingga satu jam, lakukan sehari maksimal 3 jam. Tidak dianjurkan untuk melakukan pijat pada kedua payudara secara bersamaan, karena dikhawatirkan terjadi perangsangan yang berlebihan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Bedah Caesar Untuk Bersalin?   Sat Mar 16, 2013 6:09 am

PILIH SESUAI KONDISI PERSALINAN
Sabtu, 16 Maret 2013 Koran Sindo
Melahirkan secara normal memang menjadi keinginan para ibu. Namun, sebaiknya berkonsultasi ke dokter kandungan terlebih dahulu untuk mengetahui kondisi fisik sang ibu. Persalinan normal menjadi keinginan para ibu. Sebab, proses pemulihannya cepat.Namun, sebelum usia kehamilan 37 minggu sebaiknya berkonsultasi secara intensif dengan dokter kandungan agar proses melahirkan bisa ditentukan. RS Mitra Kemayoran mengadakan seminar bertajuk ’’Dapatkah Saya Melahirkan Normal’’. Persalinan normal dianggap mendebarkan bagi para ibu hamil. “Persalinan merupakan suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus/ rahim ke dunia luar,” ungkap dr Yuma Indrajaya SpOG sebagai pembicara pada Sabtu (9/3) lalu. Ada dua jenis persalinan, yakni pervaginam(normal) dan perabdominam atau seksio sesaria (melalui operasi caesar). Beberapa wanita ingin melahirkan secara normal, namun karena alasan tertentu, maka persalinan dilakukan dengan operasi caesar. “Bila ibu memiliki penyakit atau kelainan seperti gagal jantung, asma, infeksi virus atau bakteri, disarankan melahirkan secara caesar karena dikhawatirkan berpengaruh pada bayi atau saat bersalin ibu akan kehilangan kesadaran,” kata dr Yuma. Bentuk panggul ibu juga menjadi masalah. Karena bila terlalu sempit, akan menyulitkan bayi keluar. Ibu harus memiliki tenaga untuk mengejan sehingga bayi mudah terdorong keluar.

Sementara, ibu yang sebelumnya pernah melahirkan juga menjadi penentu persalinan selanjutnya. Artinya, bila ibu pernah melahirkan secara caesar kurang dari setahun, maka tidak dapat melahirkan normal. Bila sebelumnya pernah melahirkan normal kurang dari 25 bulan lalu, risiko tersobeknya vagina akan melebar. Dr Yuma juga mengingatkan agar janin dalam kandungan diperiksa minimal sebulan sekali untuk mengetahui perkembangannya dan tetap hidup.

Posisi bayi, melintang (sungsang) atau kepala sudah di ujung vagina, harus sudah dipastikan sebelum usia 37 minggu kehamilan agar proses bersalin bisa dipastikan. Selain itu, pastikan juga apakah janin tunggal atau kembar. Bila kembar, posisi bayi kedua berada di atas janin yang dekat vagina menjadi penentu. Artinya, bayi kedua dengan posisi berhadapan muka dengan bayi pertama, tidak dapat dikeluarkan keduanya karena kedua janin akan bertautan dagu dan sulit dikeluarkan. “Pemeriksaan pada janin juga akan berpengaruh untuk mengetahui kemungkinan janin mengidap hidrocephalusatau tidak. Karena bayi dengan pembesaran kepala akan mengalami hambatan saat persalinan,’’ ujarnya. Diingatkan juga, letak dan keadaan plasenta serta selaput ketuban turut menentukan proses persalinan kelak. Letak plasenta ibu yang terbaik adalah tetap berada di leher rahim hingga waktunya janin keluar. Bila ada kelainan letak plasenta atau abruptio plancenta, seperti letak plasenta ada di atas rahim atau letak bayi sungsang dan plasenta di leher rahim, kemungkinan ibu akan mengalami pendarahan dan keselamatan janin terancam. “Sebaiknya menentukan persalinan normal atau caesarharus dilakukan pada awal kehamilan. Namun, saat proses persalinan normal melewati 24 jam, tidak ada kemajuan dalam pembukaan, gagal induksi, atau ibu mendadak terkena serangan jantung atau asma, maka disegerakan untuk operasi caesaragar tidak terjadi risiko besar,” ungkap dr Yuma. elfa putri setyanti
Back to top Go down
 
Bedah Caesar Untuk Bersalin?
View previous topic View next topic Back to top 
Page 9 of 12Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 8, 9, 10, 11, 12  Next
 Similar topics
-
» Inilah Khasiat Ajaib Dari Alam Untuk Kita !!!
» Presiden & Wakil Presiden yang pantas untuk Indonesia
» jatah surga untuk umat kristen hanya 144.000 orang
» Susu Yang Cocok Untuk Pertumbuhan Umur 19 Tahun Ke Atas
» Yesus diutus hanya untuk orang israel, bukan untuk bangsa lain

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: