Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 14 ... 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:50 am

CUCI TANGAN PAKAI SABUN (CTPS), PERILAKU SEDERHANA YANG BERDAMPAK LUAR BIASA
Jakarta, 15 Oktober 2012
Hingga saat ini, masih banyak sekali anak-anak Indonesia yang meninggal karena diare, juga juga anak-anak yang kurang gizi karena cacingan. Selain itu, masih ada pula anak dan orang dewasa yang tertular dan meninggal karena terinveksi virus flu burung. Padahal, dengan melakukan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS) sebenarnya sudah dapat mengurangi risiko tertular penyakit-penyakit tersebut. Data WHO menunjukkan, perilaku CTPS mampu mengurangi angka kejadian Diare sebanyak 45 persen. Telah dibuktikan juga bahwa CTPS dapat mencegah penyebaran penyakit kecacingan, serta mampu menurunkan kasus infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan Flu Burung hingga 50 persen. Sanitasi penting, karena turut menyelamatkan jiwa. Demikian disampaikan Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, saat berdialig dengan 8 orang Duta Sanitasi Nasional pada peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia ke-5 tahun 2012 di Kompleks Sekolah Dasar Negeri 04, 05 dan 06 Karet Pagi, Setiabudi, Jakarta Selatan (15/10). Kegiatan tersebut dihadiri pula oleh Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (PP dan PL) Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama, Sp.P(K), MARS, DTM&H, DTCE; Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney; Perwakilan PT Unilever Indonesia, Tbk, dan Yayasan Adaro Bangun Negeri. Kesembilan Duta Sanitasi tersebut yaitu Ilona Beatrix Hendrata (DKI Jakarta); Alin Mangintar Ridasari (DI Yogyakarta); Nadhifa Sekar Amalia (Sumatera Selatan); Syafrini Kristanti (Jawa Tengah); Nur Fitrah Aliyah Fauzi (Sulawesi Selatan); Muhammad Assaidana (Jawa Timur); Muhammad Rezki Akbar (Kalimantan Selatan)’ dan Mario Cebegai (Nusa Tenggara Timur). Dengan penuh semangat, Menkes mengingatkan para siswa/i pentingnya perilaku CTPS. Cara ini, kata Menkes, sebagai upaya untuk menyelamatkan anak-anak Indonesia agar terhindar dari berbagai penyakit menular. “Karena itu, biasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) pada waktu-waktu penting, yaitu sebelum makan, sebelum memegang/mengolah/menyiapkan makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, serta setelah kontak dengan hewan dan tanah. Selain itu, hendaknya membiasakan juga menggunting/membersihkan kuku secara teratur”, ujar Menkes. “Karena itu, ajaklah teman-teman dan masyarakat di sekitar untuk membiasakan perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), sebuah perilaku sederhana tetapi berdampak luar biasa. Hendaknya CTPS senantiasa dijadikan sebagai kebiasaan, menjadi bagian dari PHBS yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari”, kata Menkes.

Langkah untuk mewujudkan Indonesia bersih, sehat, dan berkualitas, dapat dimulai dari hal-hal sederhana di lingkungan rumah tangga, misalnya: Edukasi pada anak dan keluarga tentang pentingnya menjaga kebersihan dan kesehatan; Peduli akan kondisi lingkungan sekitar dengan melakukan penghijauan di sekitar rumah; Menjaga kebersihan diri pribadi yang dimulai dengan membiasakan cuci tangan pakai sabun; serta mengajak anak-anak untuk membiasakan cuci tangan pakai sabun (CTPS) sejak usia dini. Selanjutnya, perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, memaparkan data WHO memperkirakan bahwa infeksi diare mengancam kehidupan 1,87 juta anak balita setiap tahun di seluruh dunia, membuat diare menjadi penyebab kematian bayi dan balita kedua terbanyak setelah pneumonia. Di Indonesia, WHO memperkirakan, sekitar 31.200 anak balita meninggal setiap tahun karena penyakit ini. Setiap tahun, lebih dari 31.000 anak-anak di Indonesia tidak dapat merayakan ulang tahun kelima mereka karena penyakit yang sebenarnya dapat kita cegah dengan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun (CTPS). “CTPS dapat mengurangi hampir setengah kasus kejadian diare dan seperempat kasus infeksi pernafasan (termasuk pneumonia). Perilaku ini juga mengurangi risiko penyakit lainnya, seperti penyakit mata dan infeksi kulit. CTPS jelas merupakan cara yang paling efektif dan murah untuk pencegahan, namun banyak orang tidak mempraktekkannya”, kata Angela. Sementara itu, Dirjen Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes RI, Prof. dr. Tjandra Yoga Aditama menyatakan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS) Sedunia ke-5 tahun 2012 mengusung tema global “More Than Just a Day”, sedangkan tema nasional HCTPS kelima tahun ini adalah “Anak Sehat Dimulai dari Tangan Sehat”. “Perayaan pertama diinisiasi UNICEF pada tahun 2008, dilakukan di 21 negara (termasuk Indonesia). Setelah itu, setiap tahun, Indonesia terus melaksanakan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (HCTPS)”, kata Prof. Tjandra.

Prof. Tjandra juga menambahkan, kampanye CTPS bersifat nasional dan dilaksanakan di seluruh Indonesia, sesuai dengan Surat Edaran Menkes RI No.PM/MENKES/299/VII/2012 tentang Himbauan Penyelenggaraan HCTPS Sedunia ke-5 tahun 2012 kepada seluruh Provinsi, Kabupaten/Kota. Serangkaian kegiatan telah dilaksanakan, antara lain: Lomba Foto CTPS secara online melalui media jejaring sosial Facebook; Talkshow Menkes dan Duta Sanitasi bertema Apresiasi Budaya CTPS (27/9); Seminar Strategi Pengendalian Kecacingan dan Perilaku CTPS di Kantor Kementerian Kesehatan (10/10); serta Seminar Advokasi Peran Media dalam Perilaku CTPS (12/10). Pada kesempatan tersebut, Prof. Tjandra juga menyerahkan penghargaan dan hadiah kepada masing-masing Pemenang Kompetisi Foto Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) 2012. Juara I diraih oleh Erlangga Djati dari Surakarta; Juara II diraih Hafidz Dwi Fahmi dari Depok; dan Juara III diraih oleh Ari Infanto dari Medan. Foto bertema CTPS, sebelumnya telah diunggah oleh para peserta di facebook Hari Cuci Tangan Pakai Sabun 2012. Para finalis dipilih berdasarkan “like” terbanyak. Selanjutnya, terdapat tiga syarat utama dalam penentuan pemenang, antara lain implementasi (bukan seremoni), terdapat air mengalir dan busa sabun. Sementara itu, Kepala Sekolah Dasar Negeri 05 Karet, Setiabudi, Suharso, menyampaikan bahwa sebuah kehormatan besar, penyelenggaraan perayaan HCTPS 2012 dapat diselenggarakan di lingkungan sekolah mereka. Dalam laporannya, beliau menyatakan SDN 05 Karet Setiabudi kekurangan sarana buang air kecil/besar. Dengan semangat gotong royong, Menkes bersama Pemerintah Daerah setempat dan mitra swasta menggalang bantuan secara langsung untuk pembangunan tambahan sarana toilet, air bersih, sabun, dan bibit untuk penghijauan. Pada kesempatan yang sama, juga dilakukan penyerahan Donasi PT Unilever Indonesia kepada SD 05 Karet Setiabudi, Jakarta, berupa fasilitas kebersihan; Plan International kepada SDN Ngombak, berupa rehabilitasi total dua buah SD Negeri di Desa Ngombak, Grobogan, Jawa Tengah; USAID High Five kepada SD Inpres Barayya 2,Lembo, Makassar; Yayasan Adaro Bangun Negeri kepada SMPN 2 Tanta, Kab. Tabalong, Kalimantan Selatan, berupa pelaksanaan school improvement programme, termasuk sarana sanitasi, CTPS, dan pendampingan UKS.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jendral Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: (021)52907416-9, faksimili: (021)52921669, Pusat Tanggap Respon Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dean 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:29 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:51 am

FASILITAS SANITASI MASIH BURUK
Jum'at, 23 November 2012 Seputar Indonesia
Toilet yang bersih bisa mengurangi tingginya angka penularan penyakit. Krisis masalah sanitasi sepertinya masih menjangkiti masyarakat Indonesia.Coba bayangkan, masih ada sekitar 20% dari 241 juta penduduk di Tanah Air atau sekitar 50 juta orang yang belum memiliki toilet yang layak. Sungguh menyedihkan. Problem sanitasi mustinya dianggap sebagai salah satu isu yang paling serius karena menyangkut rendahnya derajat kesehatan masyarakat. Toilet dan air minum yang tidak layak sudah tentu bakal menyebarkan sejumlah penyakit,terutama diare,yang saat ini menempati urutan pertama penyebab kematian tertinggi di antara usia balita. Kurang memadainya sanitasi dasar adalah pembunuh berantai yang mengancam warga. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan,kurang tersedianya toilet yang layak di Indonesia menyebabkan diare pada 3,5 juta sampai 4,5 juta jiwa setiap tahunnya.Setiap 20 detik,seorang anak meninggal karena penyakit yang diakibatkan sanitasi buruk. Ini lebih banyak dari kematian akibat AIDS,malaria, dan campak jika digabungkan. Krisis sanitasi juga melanda dunia.Sekitar 40% atau 2,5 miliar penduduk bumi tak memiliki akses pada fasilitas sanitasi dan toilet yang baik. Adapun sekitar 1,1 miliar di antaranya terpaksa buang air besar dan buang air kecil di tempat terbuka. NugrohoTri Utomo,Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas,menuturkan,masalah sanitasi musti menjadi perhatian semua pihak.Bagaimana tidak,sekitar 20% dari 241 juta penduduk di Tanah Air atau sekitar 50 juta orang terpaksa buang air besar di tempat terbuka,seperti sawah, sungai,laut atau tanah kosong karena tidak memiliki toilet. “Setiap harinya,dihasilkan sekitar 14.000 ton kotoran manusia atau setara dengan berat 6.700 gajah sumatera,yang tidak dibuang dengan semestinya sehingga akhirnya mencemari sumur dan air sungai,” katanya dalam media gatheringdalam rangka World Toilet Day 2012 di Senayan City,Jakarta,Senin (19/11). Menurut Nugroho,akibat pencemaran ini,tidak ada air sungai yang melewati kota di Indonesia yang airnya layak sebagai sumber air.Apalagi banyak warga yang sebenarnya mempunyai fasilitas sanitasi, namun tidak diurus dengan baik.Ada yang jarang dikuras, teknologi yang digunakan belum canggih,atau sering bocor, yang semakin memperparah pencemaran lingkungan.

Karena itu,dia meminta semua pihak,baik organisasi pembangunan,swasta,maupun kelompok masyarakat mengambil langkah dan aksi nyata untuk membenahi masalah ini. Nugroho menyebutkan,pemerintah baru mampu menganggarkan dana sanitasi sebesar Rp6.500 per orang per tahun. Padahal,idealnya adalah Rp47.000 per orang per tahun. “Masih banyak orang yang belum menginvestasikan pembangunan sanitasi di rumahnya. Lebih banyak yang memilih mempercantik teras atau memperbaiki kamar tidurnya. Hal ini karena zaman dahulu masalah sanitasi dianggap sebagai masalah pribadi,”sebutnya.

Nugroho mengatakan, membangun sanitasi tidak hanya untuk menjaga kesehatan, juga dapat meningkatkan produktivitas dan pendapatan masyarakat.Sjukrul Amien, Direktur Pengembangan Penyehatan Lingkungan Permukiman (PPLP) Kementerian Pekerjaan Umum,mengemukakan, hal yang terpenting sebenarnya bukan hanya dana untuk membangun toilet,juga komitmen dan perubahan perilaku masyarakat. “Kalau dananya besar dan infrastrukturnya megah,tapi pemanfaatannya tidak benar, sama saja,fasilitas tersebut akan cepat rusak,”tuturnya. Pemerintah saat ini telah meluncurkan sejumlah program dalam rangka mempercepat pembangunan sanitasi di Indonesia, misalnya Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Program ini menargetkan 330 kabupaten/kota mempunyai rencana strategis dalam meningkatkan investasi sanitasinya. Ada juga Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) yang bertujuan membebaskan 20.000 desa di Indonesia dari buang air sembarangan. Adapun World Toilet Day 2012diprakarsai oleh World Toilet Organization (WTO), sebuah organisasi nirlaba global yang menjalankan berbagai program advokasi sanitasi berkelanjutan. Bekerja sama dengan Water Supply and Sanitation Collaborative Council (WSSCC) melalui situs http://www.worldtoiletday. org,kegiatan kampanye tahunan ini diperingati di lebih dari 20 negara. ● rendra hanggara


Last edited by gitahafas on Fri Nov 23, 2012 6:33 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:53 am

BANGUN KESADARAN, LAKUKAN SEREMPAK
Thursday, 27 September 2012 Seputar Indonesia
Persoalan sanitasi di Indonesia, secara garis besar berada dalam dua medan besar yang saling bertautan. Pertama adalah infrastruktur sanitasi yang masih jelek,termasuk sulitnya akses.Kedua adalah kesadaran tentang perilaku hidup sehat yang belum tersebar merata. Menentukan mana yang harus didahulukan,mirip tebaktebakan lebih dahulu mana, ayam atau telur. Principal Regional Team Leader WSP East Asia and The Pacific Almund Weitz menegaskan bahwa dua hal itu harus dilakukan secara bersama dan serempak. “Dan harus juga dilakukan dalam skala yang besar.Semakin besar wilayah yang bisa dirangkul, tentu semakin baik,”katanya. Cara mewujudkannya dengan mengambil beberapa daerah sebagai pilot project dengan harapan daerah tersebut akan mencontoh,menurut dia,sudah tidak efektif lagi. Untuk membangun kesadaran, sebaiknya dilakukan dengan kampanye yang terus-menerus soal pentingnya perilaku hidup sehat. Semua saluran yang ada harus dimanfaatkan dan juga melibatkan semua stakeholderyang berkaitan dengan persoalan sanitasi. Sementara,soal pembangunan infrastruktur sanitasi, Weitz menyebutkan, memang sangat bergantung pada kehendak politik masing-masing pemimpin daerah.Apa yang dilakukan WSP bersama Bank Dunia,dia mengatakan, adalah memberikan pandangan terhadap kepala daerah tentang pentingnya sanitasi.Jika kepala daerah sepakat,maka kemudian akan diberikan bantuan,baik anggaran maupun bantuan teknis. Dia menyebut Jawa Timur sebagai salah satu daerah yang kepala daerahnya memiliki kesadaran tinggi akan pentingnya sanitasi dan ketersediaan jamban. “Indonesia memiliki modal penting, yaitu gotongroyong. Jika nilai ini bisa diterapkan dalam sanitasi, saya kira persoalan sanitasi bisa diatasi secara optimal,” imbuhnya. Terlambatnya kesadaran pentingnya sanitasi juga dibenarkan Direktur Permukiman dan Perumahan Bappenas Nugroho Tri Utomo. Sejak tahun 1970 hingga 1999,pemerintah Indonesia hanya menganggarkan Rp200 per orang tiap tahun untuk kebutuhan sanitasi. Jumlah itu meningkat menjadi Rp2.000 per orang/tahun pada 2000- 2004 dan naik lagi menjadi Rp7.000 per orang/tahun pada 2009-2011.Jumlah ini masih kecil karena PBB sudah memberikan perhitungan bahwa untuk mendapatkan sanitasi yang layak,setiap orang perlu Rp47.000 setiap tahun. helmi firdaus


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:31 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:54 am

MENGINGATKAN KEMBALI PENTINGNYA SANITASI
Thursday, 27 September 2012 Seputar Indonesia
Buang air besar di WC yang baik dan sehat sering kali dimaknai sebagai hal yang biasa. Namun, kita sering melupakan nilai di balik hal yang biasa itu. Mengingatkan kembali pentingnya sanitasi–termasuk di dalamnya jamban yang sehat– juga kebiasaan hidup sehat (hygiene) menjadi dasar utama digelarnya East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene.Sudah tiga kali konferensi sanitasi dan kebersihan negara-negara Asia Timur ini digelar.Konferensi terakhir digelar di Denpasar, Bali,pada 10-12 September lalu dengan tema “Sanitation for All – Towards 2015 and Beyond”. Menurut laporan Joint Monitoring Program (JMP) antara WHO dan UNICEF pada 2012 Asia Timur target the Millennium Development Goals (MDG) soal ketersediaan air bersih dan akses sanitasi yang baik sebesar 68% akan terlewati hingga 8% dan akan terlewati pada 2015. Namun, yang patut dicatat,masih ada lebih 671 juta jiwa tidak menggunakan fasilitas sanitasi yang layak. Jumlah tersebut terbilang besar. Bagi Indonesia yang penduduknya mencapai 240 juta jiwa,masalah sanitasi dan hygiene barangkali jadi lebih penting.Ini terlihat dari gagalnya Indonesia mencapai target MDG tahun 2011.Untuk sanitasi, dari target 62,51%,baru tercapai 55,6%,sisanya 44,4% yang belum mendapatkan sanitasi yang layak.Sementara, untuk akses air bersih,dari target 66,82%,baru tercapai 42,76%.Adapun yang paling penting digarisbawahi barangkali ada 23% rakyat Indonesia yang buang air besar sembarangan (open defecation). Artinya, mereka tidak punya toilet, dan jumlahnya mencapai 60 juta jiwa.Jumlah yang masih besar. Pemerintah bukannya tidak berusaha untuk menyelesaikan persoalan ini.Banyak program yang telah mereka jalankan, salah satunya melalui Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP).Namun, persoalan klasik,yakni anggaran,jadi batu sandungan. Untuk bisa menuntaskan soal sanitasi ini pada 2020, dibutuhkan dana Rp56 triliun. Sampai saat ini,anggaran pemerintah— yang berasal dari semua kementerian yang terkait— hanya sebesar Rp26 triliun.“ Sisanya,kami usahakan cari dari pihak ketiga,swasta, dan donor,”kata Deputi Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas Dedy S Priatna. Masalah buruknya sanitasi dan segala turunannya,termasuk tidak adanya jamban, punya implikasi yang menakutkan. Itu akan menurunkan kemampuan sebuah bangsa. Studi bersama WHO dan Bank Dunia pada 2007 menunjukkan bahwa buruknya sanitasi Indonesia menimbulkan kerugian ekonomi sebesar 2,3% dari produk domestik bruto atau setara Rp58 triliun per tahun. Adapun yang paling menakutkan, barangkali buruknya sanitasi dan perilaku hidup tidak bersih bisa menjadi penyebab hilangnya sebuah generasi. UNICEF mencatat setidaknya 140.000 balita meninggal setiap tahun di Indonesia karena penyakit yang disebabkan oleh buruknya sanitasi. “Padahal, kematian ini bisa dicegah hampir separuhnya jika kita punya kebiasaan cuci tangan pakai sabun, semua sabun,”kata UNICEF Country Representative Angela Kearney. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi memberikan pernyataan yang menarik dalam pidato pembukaan konferensi ini. “Mari kita berhenti bicara angka-angka soal sanitasi.Mari kita bicara soal orang,soal kehidupan,”katanya.Bukan hal yang mudah untuk memberikan “wajah manusia”pada angka-angka sebagaimana yang diinginkan Nafsiah Mboi. helmi firdaus


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:32 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:55 am

TOILET, BERSIH SAJA BELUM CUKUP
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 18 September 2012 | 15:37 WIB
Kompas.com - Sebuah pepatah mengatakan, dari wajah toilet kita bisa melihat kepribadian si pemilik rumah. Sayangnya, toilet kerap dianggap sebagai tempat membuang kotoran sehingga dibuat seadanya dan kurang dipelihara. Toilet yang bersih, nyaman, dan higienis, bukan hanya membuat pemakainya merasa betah tapi juga bisa menghindarkannya dari kuman penyebab penyakit. "Dengan kemampuan berbagai jenis kuman untuk berkembang biak berjuta-juta kali dalam hitungan jam, toilet merupakan sumber kontaminasi berbahaya untuk sejumlah penyakit," jelas dr.Handrawan Nadesul, pemerhati kesehatan, dalam acara peluncuran Gerakan 1000 Toilet Higienis di Jakarta, Selasa 18/9/12. Ia menambahkan, penggunaan toilet yang tidak higienis bisa menyebabkan penyakit diare hingga keputihan. "Membilas organ intim dengan air yang terkontaminasi parasit atau jamur penyebab keputihan bisa membuat seseorang bisa keputihan," katanya. Karenanya, toilet yang ideal seharusnya tidak cukup hanya bersih, tapi juga higienis yang berarti tidak ada kuman. Menurut Naning, S.Adiwoso, pemrakarsa Asosiasi Toilet Indonesia, di toilet umum, sebenarnya toilet jongkok lebih sehat dibandingkan toilet duduk. "Toilet jongkok membuat bokong dan paha tidak menempel pada area toilet, tetapi toilet duduk memang lebih nyaman, terutama untuk orangtua," katanya dalam kesempatan yang sama. Ia mengatakan kondisi toilet umum di Indonesia sangat memprihatinkan. Dari survei toilet yang dilakukan Asosiasi Toilet Indonesia di 100 sekolah negeri, ternyata hanya 10 toilet yang layak dan bersih. "Karena kita tinggal di negara tropis dengan kelembaban sangat tinggi, seharusnya toilet dijaga tetap kering. Air yang tertinggal di toilet bisa jadi tempat perkembangan jamur," imbuhnya. Untuk menjaga kebersihan toilet, seharusnya toilet dibersihkan dengan disinfektan yang ramah lingkungan. "Penggunaan bahan kimia yang membunuh semua kuman juga perlu dihindari karena ada bakteri yang sebenarnya kita butuhkan untuk pembusukan tinja," kata Handrawan. Selain itu, toilet yang idealnya seharusnya juga tidak memiliki banyak pintu untuk meminimalkan sentuhan tangan.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:33 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:55 am

BIKIN TOILET BERSIH DAN KERING
Senin, 30 Januari 2012 13:24 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Toilet menjadi salah satu indikator kebersihan seseorang atau sebuah keluarga. Jika ingin mengetahui orang tertentu bersih atau jorok, tengok saja bagaimana toilet di rumahnya. Nah, bagaimana toilet di rumah Anda? Menurut Ketua Asosiasi Toilet Indonesia, Naning Adiwoso, ada tiga hal yang perlu diperhatikan dari sebuah toilet. Semuanya berawal dari desain. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan ketika mendesain toilet di rumah. Ukuran minimal toilet rumah, yaitu 1,2 meter x 2 meter. "Ukuran ini membuat orang di dalamnya bergerak bebas. Sikut kedua tangan tidak terbentur ke mana-mana," ujar lulusan Studi Interior Architecture di Pratt Institue New York ini. Pintu kamar mandi harus bisa dibuka penuh. Hindari membuka pintu terbentur bak atau ember sehingga tidak leluasa bergerak. Untuk menghindari terjadi sesuatu di dalam toilet-orang yang masuk pingsan atau sakit-sebaiknya pintu terbuka keluar. Jarak antara antara toilet dan westafel tidak boleh terlalu dekat, sekitar satu meter. Toilet pun harus memiliki ventilasi sehingga udara tak terperangkap di dalam toilet. Ventilasi harus diarahkan dari toilet ke luar ke ruangan, bukan ke dalam ruangan lain. Bila toilet berada di bagian tengah rumah, banyak orang memasang exhaust fan untuk mengeluarkan udara di dalam toilet. Toilet perlu pencahayaan yang baik. Yang sangat penting harus cukup air bersih. Air tersebut baik untuk menggelontor pembuangan maupun mencuci tangan.

Di pasaran ada toilet duduk dan jongkok. Pilihan ini disesuaikan dengan kebiasaan si pemakai. Toilet jongkok lebih baik karena lebih bebas. Akan tetapi, bagi yang sudah sepuh kesulitan untuk bangun. Dengan demikian, pada dinding perlu dipasang pegangan dari baja antikarat. Namun, ada juga yang lebih nyaman menggunakan toilet duduk. Untuk pintu dan kaca, pilihlah yang berkualitas. Kualitas akan memberi kepuasan. Misalnya, pintu tak mudah jebol atau dimakan rayap dan kaca tak mudah pecah. Keramik dinding, pilihlah yang berpermukaan halus. Dengan begitu, dinding akan mudah dibersihkan. Sementara untuk lantainya, pilihlah yang memiliki permukaan kasar sehingga tak mudah terpeleset. Hindari pemilihan warna suram untuk menghindari kesan kotor dan gelap. Jangan abaikan kemiringan lantai, minimum dua persen. Tujuannya agar air mudah mengalir ke pembuangan sehingga tak membuat genangan. "Toilet yang bersih adalah yang kering dan sehat," tutur Naning. Apalagi, Indonesia sebagai negara tropis kondisi toilet harus benar-benar kering. Genangan air sedikit saja membuat toilet menjadi lembap, mengundang dan menyebarkan bibit penyakit.

Naning menambahkan, kesalahan membersihkan toilet dengan menuangkan karbol. Bahan ini tidak hanya baunya menyengat, tetapi menyebabkan bakteri yang ada di septic tank ikut mati. Hal ini dapat juga merusak air tanah. Letakkan pewangi atau tanaman ruang di sudut. Toilet akan memberikan suasana segar. Perlu diperhatikan bahwa toilet yang bersih belum tentu higienis. Ketika disiram air, dibersihkan dengan sabun, atau pembersih biasa, kotorannya hilang toilet pun menjadi bersih. Namun, lanjut Nanang, belum tentu kuman-kumannya mati semua. Sebab, banyak kuman yang bersumber dari kamar mandi tidak mati sekadar disiram air atau sabun biasa. Idealnya membersihkan toilet minimal sehari sekali, namun bisa juga tiga hingga empat kali agar kuman tidak berkembang biak. Untuk pembersihnya, ujar Nanang, pilih yang mengandung sodium hypochlorite, yang efektif membunuh kuman dan bibit penyakit. Bahan ini juga aman di tangan dan tidak merusak permukaan toilet-porselen lantai, keramik. Pilih pula pembersih yang mengandung pewangi alami. Suasana ini membuat nyaman selama melakukan aktivitas di toilet. Selain toilet perhatikan pula kebersihan keran air, westafel, pegangan pintu, hingga sudut-sudut tersembunyi. Bisa juga menggunakan pengharum ruangan untuk mengusir bau tidak sedap di kamar mandi.

Berikut adalah langkah-langkah membersihkan toilet yang benar, yaitu:
- Gunakan sarung tangan, lalu tuangkan cairan pembersih di sekitar kloset.
- Tunggu beberapa bahan bekerja efektif.
- Sikat bagian kloset sampai merata.
- Siram dengan air.
- Tutup kloset agar tidak menyebarkan kuman penyakit.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:33 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:56 am

STANDAR TOILET UMUM INDONESIA
Thursday, 04 August 2011 13:14 http://www.sanitasi.or.id
Toilet umum sudah menjadi kebutuhan, khususnya di kota dengan mobilitas manusianya yang cukup tinggi. Keberadaannya dengan standar tertentu merupakan suatu hal yang sangat penting. Mengapa? Sebab, toilet umum yang baik bisa menggambarkan budaya sebuah negara. Toilet umum bukan sekadar tempat membuang hajat semata, tapi sudah menyangkut banyak aspek. Antara lain aspek psikologis pengguna, aspek kesehatan dan keamanan pengguna, pemeliharaan dan lingkungan, hingga aspek estetika. Sebagai sebuah upaya menciptakan toilet umum yang ‘bercitra’, standar toilet umum menjadi sebuah keniscayaan. Harus seperti apa toilet dibangun, persyaratan apa yang harus dipenuhi, tulisan ini bisa menjadi gambaran. Kementerian Negara Pariwisata dan Kebudayaan tahun 2004 lalu telah mengeluarkan standar tersebut. Toilet umum adalah sebuah ruangan yang dirancang khusus lengkap dengan kloset, persediaan air dan perlengkapan lain yang bersih, aman dan higienis dimana masyarakat di tempat-tempat domestik, komersial maupun publik dapat membuang hajat serta memenuh kebutuhan fisik, sosial dan psikologis lainnya.

Persyaratan Ruang :
1. Ruang untuk buang air besar (WC)
- Lebar minimum 80 cm
- Panjang minimum 150 cm
- Tinggi plafon minimum 220 cm

2. Ruang untuk buang air kecil (Urinoir)
- Lebar mininum 70 cm
- Tinggi urinoir minimum 40 cm

3. Ruang cuci tangan dan cuci muka (Wastafel)
- Lebar 80 cm, dengan lebar bak cuci 50 cm
- Tinggi bak cuci minimum 70 cm
- Jarak bak cuci dan dinding 90 cm
- Dilengkapi cermin

Sirkulasi Udara
Mempunyai kelembaban 40 - 50 %, dengan taraf pergantian udara yang baik yaitu mencapai angka 15 air-change per jam (dengan suhu normal toilet 20-27 derajat celcius)

Pencahayaan
Sistem pencahayaan toilet umum dapat menggunakan pencahayaan alami dan pencahayaan buatan. Iluminasi standar 100 - 200 lux.

Konstruksi Bangunan
1. Lantai, kemiringan minimum lantai 1 % dari panjang atau lebar lantai.
2. Dinding, ubin keramik yang dipasang sebagai pelapis dinding, gysum tahan air atau bata dengan lapisan tahan air.
3. Langit-langit, terbuat dari lembaran yang cukup kaku dan rangka yang kuat sehingga memudahkan perawatan dan tidak kotor.

Semua persyaratan tersebut adalah persyaratan minimum. Tentu akan lebih baik jika persyaratan tersebut dilampaui. Toilet umum pasti akan lebih baik dan lebih ‘berbudaya’. MJ


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:34 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:57 am

TOILET UMUM DI INDONESIA TERGOLONG TERBURUK DI ASIA
Jimmy Hitipeuw | Jumat, 14 Oktober 2011 | 04:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Kebersihan toilet umum di Indonesia menduduki peringkat 12 terburuk dari 18 negara di Asia, kata pendiri Asosiasi Toilet Indonesia, Naning Adiwoso. "Memang kita masih memiliki toilet yang sangat buruk dibandingkan negara-negara lain. Indonesia berada di atas Vietnam, tapi di bawah Filipina, Malaysia, Singapura dan Thailand," kata Naning Adiwoso di Jakarta, Kamis (13/10/2011). Naning menyatakan, World Toilet Summit biasanya mengeluarkan daftar jumlah penyakit yang paling banyak terdapat di toilet. Menurut Naning, seharusnya Indonesia bisa lebih baik, tapi budaya masyarakat yang belum merasa memiliki, menjadikan fasilitas umum seperti toilet tidak terpelihara kebersihannya. "Pendidikan dalam keluarga juga sangat berperan, ada yang menganggap toilet tidak begitu penting sehingga buang air besar atau kecil di kali atau sungai maupun alam terbuka," kata Naning. Dengan jumlah penduduk yang besar, jika masih banyak yang buang air besar di alam terbuka akan menimbulkan penyakit, terlebih lagi Indonesia yang memiliki iklim tropis.

Tingginya mobilitas penduduk juga sangat mempengaruhi kebutuhan akan toilet umum, tapi di Indonesia toilet umum masih belum memadai apalagi kebersihannya masih jauh dari yang diharapkan. Maka, Asosiasi Toilet Indonesia yang berdiri sejak 10 tahun lalu terus berupaya melakukan penyadaran dan pembelajaran kepada masyarakat untuk bagaimana menggunakan toilet yang benar dan membersihkannya. "KIta mungkin bisa memiliki toilet umum yang lebih baik dan bersih, tapi perlu waktu lama untuk mengubah suatu kultur. Kita harus memulai dari anak-anak, ajarkan mereka bahwa bersih itu sehat," ujar Naning. Salah satu upaya yang dilakukan adalah melalui gerakan 1.000 toilet higienis Domestos di Jakarta dan sekitarnya, dengan target 1.000 toilet umum menjadi toilet higienis sekaligus menjadi media untuk mendidik masyarakat. Senior Brand Manager Surface Cleaner and Nomos PT Unilever Indonesia Tbk, Nanang Siswanto mengatakan, gerakan 1.000 toilet higienis sudah dimulai sejak 20 Agustus lalu yang merupakan bagian dari perayaan Hari Toilet Sedunia pada 19 November. Nanang menjelaskan, ada lebih dari 80 juta kuman ditemukan di toilet dengan jumlah jutaan. Tidak semua kuman bisa hilang ketika disiram dan dapat menimbulkan berbagai jenis penyakit seperti diare, tipus dan muntaber.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:35 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:58 am

SULITNYA MENJADI PENYULUH SANITASI DI DESA
Wardah Fazriyati | Dini | Senin, 18 April 2011 | 09:33 WIB
LEMBATA, KOMPAS.com - Menjalani profesi sanitarian (penyuluh sanitasi) di daerah bukan pekerjaan mudah. Sanitarian perlu berhadapan dengan masyarakat yang masih awam soal pentingnya kesehatan. Petugas penyuluhan sanitasi di daerah perlu bekerja ekstra untuk mengajak orang menjalani perilaku hidup bersih sehat. Pasalnya, masyarakat pedesaan, termasuk di desa pesisir kepulauan Flores, belum terbiasa menjalani pola hidup sehat mendasar dengan memiliki MCK. Salah satu daerah pesisir ini adalah Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lembata terus berbenah menggerakkan kesadaran masyarakat dan mengubah perilaku menjadi lebih sehat. Pemerintah daerah setempat menargetkan 30 desa menjalani perilaku hidup bersih sehat melalui program Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM), pada 2012 nanti. LSM, pemerintah daerah, puskesmas, dan sanitarian sebagai fasilitator berkolaborasi untuk menjalani program ini. Fasilitator datang ke desa membawa enam pesan STBM. Lima pesan yang diterapkan skala nasional adalah mengajak masyarakat tidak buang air besar sembarangan (BABS), cuci tangan pakai sabun (CTPS), mengelola limbah rumah tangga, mengelola air minum, dan mengelola limbah cair. Satu lagi pilar dalam konteks lokal Lembata, pengasingan ternak dari rumah tempat tinggal.

Emerensia Benidau Amd Kesling (28), perempuan kelahiran Lembata, memilih terlibat dalam program ini sebagai sanitarian. Setelah menyelesaikan pendidikan D-3 Kesehatan Lingkungan di Yogyakarta, perempuan yang akrab dipanggil Erni ini memutuskan kembali ke Lembata, kampung halamannya. Erni bekerja di puskesmas Waipukang, ibukota kecamatan Ile Ape, kabupaten Lembata, NTT. Sejak 2006 lalu, ibu yang tengah hamil anak kedua ini resmi diangkat sebagai pegawai negeri sipil di Lembata, sebagai sanitarian. "Sejak lama saya ingin bekerja di bidang kesehatan. Apalagi di sini, banyak program yang dijalankan namun tenaga tidak ada. Satu orang di puskesmas bisa mengerjakan dua atau tiga program. Mama yang menjadi perawat di puskesmas di kecamatan lain, menjadi pemicu saya untuk bekerja di kesehatan," tutur Erni kepada Kompas Female, seusai peresmian desa total sanitasi di Watodiri, Ile Ape, Lembata, NTT, Sabtu (16/4/2011) lalu. Sebagai sanitarian, Erni bersentuhan langsung dengan masyarakat memberikan penyadaran perilaku hidup sehat, melalui program STBM. Tidak mudah baginya mengubah perilaku masyarakat untuk hidup lebih sehat. Butuh proses untuk mengedukasi masyarakat mengenai pentingnya kesehatan serta mengidentifikasi persoalan di desa. "Masyarakat perlu diberitahukan pelan-pelan mengenai lima pilar STBM, agar mereka memahami dan mau mengubah perilaku," jelasnya.

Bagi Erni, tantangan terbesar menjadi sanitarian di pedesaan adalah berhadapan dengan para orangtua. Para generasi pendahulu ini sudah terbiasa hidup dengan pola tak sehat, seperti buang air besar sembarangan. Saat sanitarian masuk desa untuk memberikan pemicuan dan penyuluhan untuk perubahan perilaku, tak sedikit orangtua yang tersinggung. "Orangtua merasa malu dan tersinggung. Rasa malu muncul karena soal WC saja mereka harus diatur orang lain. Banyak warga yang memiliki rumah layak tetapi tidak punya jamban. Hal mendasar ini belum disadari para orangtua, inilah yang membuat mereka malu dan tersinggung," jelas Erni, menambahkan rasa malu inilah juga yang mendorong orangtua mengubah perilakunya agar lebih sehat lagi.

Mengambil hati orangtua menjadi tantangan bagi sanitarian desa seperti Erni. Meski begitu, sanitarian selalu punya cara menyampaikan maksudnya. Alhasil, kini 133 rumah tangga di Watodiri dan 75 rumah tangga di Lamaau, Ile Ape Timur, sudah bebas BABS. Dua desa inilah yang menjadi area kerja Erni. Warga di dua desa total sanitasi ini membangun jamban atas kesadaran dan biaya sendiri. Perilaku masyarakat mulai berubah lebih sehat berkat dorongan fasilitator, termasuk sanitarian. "Perubahan perilaku ini merupakan langkah besar bagi warga terutama para orangtua. Saat menjalani pemicuan, tak sedikit dari para orangtua ini yang menangis. Mengingat kebiasaan lama yang mereka lakukan menimbulkan rasa malu. Kemudian mereka pelan-pelan mengubah perilaku," jelasnya. Sanitarian punya peran dalam pemicuan, kata Erni. Namun, lanjutnya, kepala desa punya peran jauh lebih besar. Keberhasilan desa menjalani perilaku hidup sehat tergantung kepada upaya kepala desa. "Petugas sanitasi datang memberikan dorongan, namun bapak desa yang lebih sering berhadapan dengan warga desa. Bapak desa perlu terus-menerus berbicara dan memberikan motivasi. Jika kepala desa mati angin, percuma saja program pemicuan perubahan perilaku hidup sehat di desa," tambahnya. Saat ini, ada 16 desa di Ile Ape. Sekitar delapan desa sudah mengikuti pemicuan sejak 2008. Namun hanya Watodiri yang sudah resmi mencanangkan desanya sebagai desa total sanitasi (STBM). "Ukuran sederhananya adalah kepemilikan jamban. Di Watodiri, semua rumah sudah memiliki jamban. Sedangkan di desa lain masih ada belasan rumah yang belum memiliki jamban," jelas Erni, yang bersuamikan pria asal Ile Ape.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:36 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 8:11 am

CUCI TANGAN PAKAI SABUN SELAMATKAN JIWA
Selasa, 16 Oktober 2012 | 05:15 WIB
Jakarta, Kompas - Perilaku sederhana, mudah, dan murah, seperti cuci tangan pakai sabun, dapat menyelamatkan anak dari ancaman penyakit, antara lain diare dan infeksi saluran pernapasan akut. Di Indonesia, diperkirakan ribuan anak meninggal karena penyakit itu. Menurut perwakilan Dana PBB untuk Anak-anak (Unicef) untuk Indonesia, Angela Kerney, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan 31.200 anak balita di Indonesia meninggal tiap tahun karena diare. Hal itu dikemukakan Kerney pada peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Sedunia Ke-5 di kompleks SDN 04, 05, dan 06 Karet, Jakarta, Senin (15/10). Di dunia diperkirakan 1,87 juta anak balita terancam diare. Diare jadi penyebab kematian bayi dan anak balita kedua terbanyak setelah pneumonia. Dalam sambutan, Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, menanamkan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun harus sedini mungkin. Nafsiah berpesan agar anak-anak mencuci tangan sebelum makan, setelah buang air, serta setelah kontak dengan tanah dan binatang. Ia mengutip data WHO, perilaku mencuci tangan pakai sabun mengurangi angka kejadian diare 45 persen, mencegah penyebaran kecacingan, menurunkan kasus infeksi saluran pernapasan akut, dan flu burung hingga 50 persen. Penyakit mata dan infeksi kulit dicegah. Jika perilaku itu diikuti pembangunan sanitasi berbasis masyarakat, seperti jamban sehat, aliran air bersih, drainase, dan lingkungan yang bersih, kasus-kasus tersebut dapat turun hingga 90 persen. Selain dari masyarakat dan pemerintah, dana pembangunan diharapkan didapat dari tanggung jawab sosial perusahaan. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama menyatakan, peringatan global Hari CTPS Sedunia Ke-5 mengusung tema ”More than Just a Day”. Tema nasionalnya ”Anak Sehat Dimulai dari Tangan Sehat”. Hal itu untuk mengingatkan kembali pentingnya cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan sehari-hari. (INE)


Last edited by gitahafas on Tue Oct 23, 2012 4:57 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 6 of 22Go to page : Previous  1 ... 5, 6, 7 ... 14 ... 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: