Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 13 ... 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:43 am

MENJAGA KEBERSIHAN TOILET
Ririn Aprilia Selasa, 17 Juli 2012, 09:00 WIB
VIVAlife - Memiliki suasana rumah tinggal yang bersih dan sehat jelas menjadi dambaan setiap orang. Karenanya tak heran beragam upaya dilakukan untuk selalu menjaga kebersihan seluruh sudut rumah termasuk pada bagian toilet sekalipun. Kebersihan toilet sering kali terabaikan, justru toilet merupakan salah satu tempat yang paling banyak mengundang kuman dan bakteri karena berkaitan erat dengan pembuangan limbah. Sehingga banyak yang berpikir untuk toilet bersih membutuhkan biaya yang besar. Tetapi sudah yakinkah bahwa toilet di rumah benar-benar bersih seperti baru? Persepsi bahwa biaya besar membuat toilet menjadi tampak indah dan bersih adalah keliru, karena baik tidaknya sanitasi pada toilet tidak bergantung pada seberapa besar biayanya. Pembuktian telah dilakukan Harpic, produk pembersih khusus toilet yang ampuh menghilangkan kotoran dan kuman. Beberapa hari lalu, tepatnya tanggal 31 Juni - 1 Juli 2012 berhasil membuat para ibu-ibu di Bandung yakin akan kebersihan toilet mereka melalui gelaran event “Tantangan Harpic Bandung”.

Dalam acara yang berlangsung seru di enam lokasi tersebut, para ibu di Bandung mendapatkan edukasi menarik tentang bagaimana pentingnya menjaga kebersihan rumah dan kebersihan toilet. Selanjutnya, mereka juga mendapatkan informasi dan pengetahuan baru mengenai keunggulan Harpic dengan kandungan Opti-thick terbukti mampu membunuh kuman, menghilangkan noda membandel, dan menghilangkan bau tak sedap pada toilet. Tak hanya itu, acara Tantangan Harpic Bandung juga dimeriahkan oleh ragam hiburan, games, serta kehadiran Shahnaz Haque sebagai brand ambassador Harpic. Lewat Tantangan Harpic Bandung ini diharapkan semakin banyak ibu-ibu di Indonesia yang mengerti tentang cara menjaga kebersihan dan kesehatan toilet di rumah, salah satu solusinya dengan menggunakan produk Harpic. Jika ada yang murah kenapa pilih yang mahal?


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:45 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:44 am

"SNEEZE EFECT" DI TOILET, APA ITU?
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 26 Oktober 2011 | 10:20 WIB
KOMPAS.com - Anjuran untuk mencuci tangan dengan sabun setelah menggunakan toilet sering kita dengar. Namun, banyak orang yang mengabaikannya karena alasan tangan tidak terlihat kotor atau berbau. Padahal, alpa mencuci tangan dapat menyebabkan penyebaran bakteri berbahaya. Studi terbaru memaparkan bukti lain mengapa setiap orang pergi ke toilet "wajib" mencuci tangannya dengan sabun antikuman. Dalam suatu penelitian terungkap, setiap kali kita menyiram (flush) toilet, tampak seperti ada debu-debu samar yang menyembur dari air di lubang toilet. Ternyata, itu adalah bakteri yang berasal dari limbah manusia. Bakteri yang menyembur tersebut bisa menempel di tempat duduk toilet, lantai, juga gagang pintu toilet. Bukan hanya itu, bakteri tersebut juga akan bertahan sampai 24 jam dan melapisi seluruh ruangan toilet paling tidak selama satu menit. Efek semburan bakteri tersebut, yang disebut juga dengan "sneeze efect", didokumentasikan dalam studi yang dilakukan Professor Microbiologi dari University of Arizona, AS Dr. Charles Gerba. Gerba menemukan bahwa bakteri dan virus dalam jumlah besar tertinggal di toilet bahkan setelah disiram berkali-kali. Hal itu terjadi karena lapisan porselen toilet secara bertahap menyerap mikroorganisme ketika terjadi penyiraman. Pemakaian berulang toilet juga menyebabkan penumpukan bakteri dan virus dan mengontaminasi area sekitarnya. Adanya bakteri di permukaan ruang toilet juga menunjukkan jasad renik itu terbang cukup tinggi untuk kemudian jatuh dan menempel di permukaan. Menurut penelitian, ruangan toilet bisa mengandung bakteri berbahaya seperti Salmonella yang bisa menyebabkan keracunan makanan, Streptococcus yang memicu infeksi tenggorokan, dan Escherichia coli yang dikenal sebagai penyebab nyeri perut dan diare. Bakteri lain yang juga ditemukan adalah Hepatitis A dan bakteri penyebab flu dan pilek. Jika rata-rata seseorang ke toilet 3 kali dalam sehari, maka ia bisa terpapar virus sampai 1.200 kali dalam setahun dan berpotensi sakit. Risikonya lebih besar lagi jika ia memakai toilet umum yang sering dikunjungi. Untuk mengurangi risiko penyebaran penyakit, investasikan membeli produk pembunuh kuman untuk membersihkan dudukan toilet umum sebelum dipakai. Saat membersihkan toilet di rumah, gunakan produk pembunuh kuman dan air hangat jika perlu. Bakteri juga sering menempel di area tak terduga. Karena itu selalu gunakan sabun untuk mencuci tangan pasca memakai toilet.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 10:07 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:45 am

AKIBAT TAK CUCI TANGAN SETELAH PIPIS DAN BAB
Kamis, 22/07/2010 13:48 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Tak sedikit orang yang lupa mencuci tangan setelah buang air kecil dan besar di kamar mandi. Padahal, banyak sekali penyakit yang bisa datang bila Anda tak mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi. Bakteri, virus, jamur dan penyakit parasit bisa terdapat pada kulit dan lendir, darah dan cairan tubuh lainnya. Beberapa kuman yang ditransfer melalui inhalasi dan lainnya bisa diperoleh dengan sentuhan. Penularan penyakit fecal-oral (kotoran ke mulut) terjadi ketika orang yang terinfeksi tidak mencuci tangan dengan teknik yang baik, yaitu dengan menggunakan sabun dan air, yang kemudian langsung menyentuh makanan. Dilansir dari LiveStrong, Kamis (22/7/2010), mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi dapat secara signifikan mengurangi transmisi penyakit-penyakit berikut:

1. Flu Singapura atau Hand Foot and Mouth Disease (HFMD)
Flu Singapura disebabkan oleh virus coxsackie dan enterovirus. Penyakit ini menyerupai flu yang disertai dengan terbentuknya lesi vesikular (bintil berisi cairan) di sekitar tangan, kaki, dan mulut. Virus ini menyebar dengan memakan makanan atau minuman yang terkontaminasi dengan konten feces.

2. Hepatitis A
Hepatitis A merupakan infeksi virus yang menyerang hati dan sangat menular. Gejalanya seperti kelelahan, kulit menguning, urine gelap, mual dan muntah. Penularan hepatitis A terjadi ketika seseorang terinfeksi virus tidak hati-hati mencuci tangannya setelah menggunakan kamar mandi, kemudian mengolah makanan yang dikonsumsi oleh orang lain.

3. Shigellosis
Shigellosis adalah infeksi bakteri dengan gejala diare berair, kram perut dan demam. Kadang penyakit ini berkembang menjadi disentri, tinja berisi lendir, darah dan nanah. Shigellosis menyebar dengan mudah dari satu orang ke orang lain dengan memakan makanan yang terkontaminasi oleh orang terinfeksi yang tidak cuci tangan setelah dari kamar mandi.

4. Giardiasis
Giardiasis adalah penyakit parasit usus dengan gejala seperti perut berisi gas, kram dan diare. Giardiasis menyebar dengan mudah dengan minum air yang terinfeksi dari sumber yang tidak diobati atau melalui kontak tangan ke feces. (mer/ir)


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 2:42 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:46 am

TIPS MENGAJARI ANAK MENGGUNAKAN TOILET
26 Sep 2010 http://majalahkesehatan.com/
Kapan Anda harus mengajari balita Anda menggunakan toilet?
Tidak ada patokan waktu yang pasti karena masing-masing anak memiliki masa kesiapannya sendiri. Namun, biasanya mereka sudah mulai menunjukkan kesiapan untuk dilatih sejak usia 1,5 s.d. 3 tahun. Anak perempuan biasanya lebih cepat siap dibandingkan anak laki-laki.

Kesiapan fisik dan mental
Pelatihan toilet membutuhkan kesiapan fisik dan mental. Secara fisik, anak Anda harus sudah dapat menahan air seni selama beberapa jam. Hal ini hanya terjadi jika otot-otot kandung kemihnya telah berkembang sehingga memungkinkannya untuk menahan air seni. Secara mental, dia harus sudah dapat mengenali tanda-tanda kebelet pipis atau buang air besar. Anak Anda juga harus bisa mengkomunikasikan bila dia kebelet melalui ekspresi wajah, gerak tubuh atau kata-kata, SEBELUM benar-benar pipis atau buang air besar. Berikut adalah beberapa tanda kesiapan anak mendapatkan pelatihan toilet :

- Dapat menjaga popok tetap kering selama minimal 2 jam dalam suatu waktu
- Mengumumkan bila dia ingin buang air kecil atau besar
- Mengerti bila dia diminta menggunakan toilet
- Dapat mengikuti instruksi sederhana
- Menarik popoknya bila basah dan kotor
- Menunjukkan minat pada toilet

Tips Pelatihan Toilet
Bila anak Anda telah menunjukkan kesiapan, Anda bisa memulai dengan membeli salah satu dari dua jenis perlengkapan yang tersedia di pasaran: pispot toilet berpenampung sendiri untuk dikosongkan isinya ke toilet, atau bantalan khusus anak yang didudukkan di atas toilet duduk dewasa. Bagi Anda yang menggunakan toilet jongkok, Anda mungkin tidak perlu membeli bantalan toilet karena anak bisa melakukannya dengan jongkok atau berdiri. Mengajari anak menggunakan toilet memerlukan ketekunan. Prosesnya bisa memakan waktu hingga 3 sampai 6 bulan, meskipun beberapa anak mungkin membutuhkan waktu lebih cepat atau lebih lama. Berikut adalah beberapa tips yang mungkin berguna saat Anda melatih buah hati Anda:

- Ajari anak Anda kata-kata yang diperlukan untuk pelatihan toilet, seperti basah, kering, kebelet, pipis, ee, dan lainnya.
- Jelaskan penggunaan toilet kepada anak dengan melakukan peragaan, misalnya dengan memperlihatkan membuang kotoran di popoknya ke toilet.
- Jangan memaksa.
Saat kebelet, tanyakan pada anak apakah dia ingin menggunakan toilet. Gunakan toilet hanya bila dia tidak keberatan.
- Biarkan anak bermain-main dengan toilet atau duduk di atasnya berpakaian lengkap bila dia menginginkannya.
- Berhentilah melakukan pelatihan toilet untuk sementara waktu jika anak Anda menjadi frustasi atau takut. Tidak ada salahnya mengambil jeda pelatihan dan memulai lagi nanti.
- Biarkan anak melihat ke dalam toilet setelah acara buang airnya “sukses”.
- Ajaklah dia ikut menggelontor toilet untuk membiasakan diri.
- Pastikan bahwa area toilet aman. Simpan sabun mandi, deterjen, shampoo dan lainnya di luar jangkauan anak.
- Puji anak Anda setiap kali dia berhasil menggunakan toiletnya


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:54 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:47 am

TOILET DI JEPANG
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Dua jenis kloset yang umum ditemukan di toilet di Jepang adalah kloset jongkok dan kloset duduk.[1][2] Setelah Perang Dunia II, kloset duduk model Barat dan urinoir mendominasi toilet umum. Walaupun demikian, kloset jongkok masih dijumpai di WC umum di Jepang. Di pintu WC umum yang menyediakan kloset jongkok diberi tulisan washiki (和式?, gaya Jepang) atau yōshiki (洋式?, gaya Barat) untuk kloset duduk. Kloset model Barat yang paling mutakhir adalah kloset yang dilengkapi dudukan kloset yang sekaligus berfungsi sebagai bidet. Hingga tahun 2004, kloset model ini sudah dipasang di lebih dari setengah jumlah rumah yang ada di Jepang.[3][4][5] Di Jepang, kloset yang dilengkapi bidet disebut washlet (ウォシュレット?). Sebelumnya, Washlet adalah merek dagang dari Toto Ltd. yang telah menjadi nama generik. Bergantung kepada modelnya, tutup kloset secara otomatis bisa terbuka ketika ada orang yang mendekati, membersihkan anus dan vulva orang yang duduk di atasnya dengan air dan mengeringkannya dengan hembusan udara hangat, menyiram kloset secara otomatis, dan menutup secara otomatis setelah selesai dipakai. Kebersihan sangat penting dalam kebudayaan Jepang. Ruangan toilet yang dianggap kotor dibangun terpisah dari kamar mandi. Dalam bahasa Jepang, kata untuk bersih adalah sama dengan cantik. Selain berarti bersih, kata kirei (きれい、綺麗?) dipakai untuk sesuatu yang bagus atau indah; berarti cantik, molek, manis (dipakai untuk wanita dan anak-anak), dan ganteng atau tampan (untuk laki-laki).[6]

Sejarah
Batang kayu yang disebut chu-gi asal zaman Nara dan gulungan kertas toilet. Kawasan pemukiman orang zaman Jomon berbentuk seperti tapal kuda. Bagian tengah merupakan alun-alun tempat berkumpul, dan tempat pembuangan sampah berada di sekeliling pemukiman. Dari penggalian arkeologi di tempat pembuangan sampah ditemukan koprolit (feses manusia dan anjing yang telah memfosil),[7] hingga dapat diambil kesimpulan orang zaman Jomon juga membuang air besar di tempat pembuangan sampah. Sistem selokan sanitasi kemungkinan sudah dikenal orang zaman Yayoi (300 SM hingga 250 AD).[8][9] Sistem selokan umumnya dipakai di pemukiman berukuran besar, mungkin digunakan untuk toilet. Berdasarkan penemuan di Sakurai, Prefektur Nara, toilet yang dilengkapi air mengalir kemungkinan sudah dibuat sejak awal abad ke-3.[7] Kloset lubang tempat buang air juga diteliti ahli arkeologi di situs Istana Fujiwara yang berada di Kashihara, Prefektur Nara (ibu kota kekaisaran dari 694 hingga 710.[7] Bangunan beratap untuk lubang WC didirikan di lokasi terpisah dari tempat tinggal. Pada zaman Nara (710 to 784), di Nara ibu kota Jepang sudah dibangun sistem drainase air kotor, dan orang buang air dengan cara berjongkok di atas selokan selebar 10-15 cm. Potongan kayu yang disebut chu-gi dipakai seperti halnya kertas toilet.[7][10] Pada masa-masa sebelumnya, rumput laut juga dipakai untuk mengelap setelah buang air,[11] namun pada zaman Edo, orang Jepang sudah memakai kertas toilet dari washi.[12][13] Di daerah pegunungan, potongan kayu dan daun-daun besar waktu itu digunakan sebagai kertas toilet.[10] Toilet sering dibangun di atas selokan yang mengalir. Salah satu contoh dari toilet yang bisa membilas sendiri ditemukan di Istana Akita. Toilet dari abad ke-8 ini dibangun di atas aliran sungai yang dialihkan ke selokan.[7] Walaupun sering ditemukan toilet dengan air mengalir, toilet yang dibangun hanya berupa lubang kakus di tanah justru lebih umum. Toilet seperti ini lebih mudah dibangun dan hasilnya bisa dipakai sebagai pupuk.[14] Ketika agama Buddha merupakan agama utama di Jepang, hewan ternak terlarang untuk dikonsumsi sehingga tidak ada kotoran hewan ternak yang bisa dipakai sebagai pupuk kandang. Kotoran orang kaya dijual dengan harga lebih mahal karena mereka lebih banyak mengonsumsi makanan bergizi.[11] Berbagai dokumen bersejarah asal abad ke-9 berisi peraturan sehubungan pendirian sistem drainase air bersih dan air kotor, dan rincian tentang prosedur pembuangan limbah kakus.[7] Narapidana harus diatur agar membersihkan selokan di Istana dan kantor-kantor pemerintah, serta toilet di timur dan barat pada pagi hari setelah turun hujan pada malam hari sebelumnya. (Terjemahan dari hukum administrasi Ryo-no-shuge) Berdasarkan alasan sanitasi, bisnis penjualan kotoran manusia sebagai pupuk makin jarang setelah Perang Dunia II. Pada waktu itu di Jepang sudah dikenal pupuk dari bahan kimia, dan kini hanya 1% dari limbah toilet yang digunakan sebagai pupuk.[15][16] Di bidang standar higiene, Jepang jauh lebih maju dibandingkan standar higiene di tempat-tempat lain, terutama di Eropa. Pada zaman dulu, pembuangan kotoran manusia sudah diatur pemerintah di Jepang, sementara di Eropa, air kotoran dibuang begitu saja dari rumah ke jalan-jalan. Orang Barat yang pertama kali mengunjungi Edo begitu takjub dengan kota yang menurut mereka begitu bersih.[16] Kloset jongkok asal zaman Meiji di rumah orang Jepang kalangan atas dekat Nakatsugawa. Di Okinawa, toilet dulunya berada di atas kandang babi, dan babi diberi makanan kotoran manusia. praktik ini dilarang pemerintah pendudukan Amerika Serikat setelah Perang Dunia II karena tidak higienis.[17] Pada zaman Azuchi-Momoyama (1568 to 1600), sistem limbah "Selokan Taiko" dibangun di sekeliling Istana Osaka, dan masih berfungsi hingga sekarang.[8] Sistem selokan modern mulai dibangun pada 1884, ditandai dengan pembangunan selokan dari batu bata dan keramik yang pertama di Kanda, Tokyo.[8] Sistem perpipaan dan sistem selokan makin diperluas setelah terjadinya gempa bumi besar Kanto untuk mencegah terjadinya wabah penyakit bila terjadi lagi gempa berskala besar. Setelah itu, pembangunan selokan baru digiatkan kembali setelah Perang Dunia II setelah adanya pertumbuhan penduduk kota yang pesat. Hingga tahun 2000, sekitar 60% dari rumah-rumah di Jepang terhubung dengan sistem limbah air kotor.[18] Tanggal 10 September ditetapkan sebagai Hari Air Limbah di Jepang.[19][20] Kloset model Barat dan urinoir mulai dibangun di Jepang pada awal abad ke-20, namun baru populer seusai Perang Dunia II terutama akibat pengaruh orang Amerika di masa pendudukan.[3] Pada 1977, total penjualan kloset duduk di Jepang sudah melebihi total penjualan kloset jongkok. Perusahaan saniter terbesar di dunia, TOTO memperkenalkan kloset dilengkapi bidet yang disebut Washlet pada tahun 1980.[3]

Terminologi
Dalam bahasa Jepang, toilet disebut toire (トイレ?),[21] dan dapat merujuk kepada kloset atau bangunan tempat lubang kloset berada. Eufemisme untuk toilet adalah otearai (お手洗い?, arti harfiah cuci tangan) yang berarti wastafel untuk mencuci tangan.[22] Dalam bahasa Inggris Amerika, eufemisme serupa juga dipakai untuk kata "bathroom" yang secara harfiah berarti kamar dengan bak mandi atau toilet. Istilah lain untuk toilet adalah keshōshitsu (化粧室?, arti harfiah: ruang berdandan). Istilah keshōshitsu adalah terjemahan dari bahasa Inggris powder room, dan umumnya dipakai oleh toko serba ada dan pasar swalayan. Kata lain untuk toilet adalah benjo (便所?, kakus) yang berasal dari kata ben (便?) yang berarti kemudahan atau ekskresi. Walaupun dianggap kurang bergaya, kata benjo masih digunakan di toilet-toilet umum,[22] seperti di sekolah, kolam renang, dan tempat-tempat umum. Istilah benjo tidak dianggap kasar, walaupun sebagian orang lebih memilih untuk menggunakan kata toilet atau lainnya. Perangkat kloset dari keramik (bagian mangkuk dan tangki penampung air) disebut benki (便器?), sementara dudukan kloset disebut benza (便座?).[23] Pispot untuk anak kecil atau orang lanjut usia disebut omaru. Asosiasi Toilet Jepang merayakan Hari Toilet tidak resmi pada 10 November. Tanggal 10 bulan 11 (11/10 dalam urutan penulisan bahasa Jepang) bisa dibaca ii-to(ire) yang berarti toilet bagus dalam bahasa Jepang.[24]

Jenis
Kloset jongkok
Kloset jongkok modern di Jepang, berikut sandal untuk dipakai di dalam toilet. Tulisan di dekat pipa vertikal diterjemahkan sebagai "Mohon berjongkok lebih dekat lagi (dengan lubang)." Toilet tradisional gaya Jepang (和式 washiki?) termasuk ke dalam jenis toilet Asia[25] yang umum ditemukan di berbagai negara di Asia. Sebagian besar kloset jongkok di Jepang dibuat dari porselen. Di toilet kereta api, misalnya, kloset dibuat dari baja tahan karat. Orang yang menggunakan toilet berjongkok di dekat lubang, dan umumnya menghadap ke tembok.[25] Kloset jongkok seperti ini memiliki sistem air penyiraman (pembilasan) seperti kloset duduk model Barat, dan tidak perlu disiram dengan gayung. Air kotor dialirkan ke dalam sistem pembuangan limbah. Di toilet seperti ini terdapat tuas atau pedal untuk mengeluarkan air bilas. Toilet jongkok juga memiliki dua jenis air bilas, kecil dan besar bergantung jumlah air yang diperlukan. Kloset jongkok dibagi menjadi dua jenis: kloset yang berada di permukaan lantai, dan kloset yang berada di bagian lantai yang ditinggikan sekitar 30 cm.[26] Bagi pria, mungkin lebih mudah untuk buang air kecil sambil berdiri di kloset yang berada di lantai yang ditinggikan.[2] Keuntungan dari kloset jongkok adalah mudah dibersihkan, lebih murah, dan menggunakan lebih sedikit air dalam sekali bilasan dibandingkan dengan kloset model Barat. Tidak adanya kontak dengan dudukan kloset membuat kloset jongkok lebih disukai sebagai orang karena dianggap lebih higienis. Walaupun demikian, dudukan kloset tidak mengundang risiko kesehatan yang serius,[27][28] sementara pemakai kloset jongkok risiko terkena kotoran sendiri di bagian kaki. Lubang kloset jongkok di Jepang tidak diisi air sehingga memperkecil risiko terciprat air kotor. Selain itu menurut penelitian, kloset jongkok memberi sejumlah keuntungan bagi kesehatan.[29] Posisi jongkok menurut penelitan tersebut memperkuat otot-otot pelvis wanita, dan mengurangi kemungkinan inkontinensia.[30] Selain itu, kloset jongkok memperkuat otot-otot pinggul, memperbaiki pernapasan dan konsentrasi. Posisi jongkok juga memungkinkan kotoran untuk lebih cepat dikeluarkan dan tidak tersisa yang merupakan faktor risiko utama kanker usus besar.[31] Penelitian lain membuktikan berjongkok mencegah dan mengobati wasir.[32] Pancuran di atas tangki penampung air kloset model Barat. Salah satu cara menghemat air. Setelah air bersih dipakai untuk mencuci tangan, air dipakai untuk menyiram.

Kloset duduk
Kloset duduk yang umum di negara-negara Barat dikenal di Jepang sebagai kloset gaya Barat (洋式 yōshiki?). Sekarang ini, kloset gaya Barat, termasuk toilet teknologi tinggi, lebih umum dipasang di rumah-rumah di Jepang daripada kloset jongkok tradisional.[2] Stiker bertuliskan instruksi cara buang air besar dan buang air kecil di kloset duduk masih sering ditempel di apartemen yang dibangun ketika kloset duduk belum populer. WC umum milik sekolah, kuil, dan stasiun kereta api kadang-kadang hanya dilengkapi kloset jongkok.[2] Walaupun demikian, orang Jepang lebih menyukai kloset duduk untuk toilet di rumah, terutama bila memiliki anggota keluarga lanjut usia, atau keadaan fisik yang menyulitkan posisi jongkok. Di dalam WC umum untuk penderita cacat juga selalu disediakan kloset duduk.

Bidet
Di Jepang, kloset modern disebut washlet (ウォシュレット?) atau kloset duduk pembasuh air hangat (温水洗浄便座 onsui senjō benza?). Kloset jenis ini memiliki beragam fitur dengan teknologi paling mutakhir di dunia.[4] Washlet Zoe adalah produk Toto yang dimasukkan ke dalam Guinness World Records sebagai toilet dengan tujuh fungsi yang paling canggih di dunia. Namun, sebagai produk tahun 1997, Washlet Zoe sekarang sudah kuno dibandingkan model Neorest yang merupakan produk mutakhir dari Toto.[33] Inspirasi membuat washlet bukan berasal dari Jepang. Kloset duduk pertama yang dilengkapi bidet sudah diproduksi di luar Jepang sejak tahun 1964. Era kloset teknologi tinggi baru dimulai di Jepang pada tahun 1980[5] dengan diperkenalkannya Washlet G Series oleh Toto. Sejak itu pula, semua kloset teknologi tinggi di Jepang disebut washlet. Hingga tahun 2002, hampir setengah dari rumah-rumah di Jepang memiliki washlet, dan jumlah rumah yang memiliki washlet justru lebih banyak daripada rumah yang memiliki komputer pribadi.[3][4] Sepintas lalu, kloset teknologi tinggi produk Jepang terlihat seperti kloset duduk biasa, namun di dalamnya terdapat fitur-fitur seperti hembusan angin hangat, dudukan kloset yang hangat ketika suhu udara dingin, pengatur tekanan dan volume semprotan air sewaktu membasuh, tutup kloset yang membuka dan menutup secara otomatis, penyiram kloset otomatis, sistem penyerap bau, dan panel kontrol nirkabel[2] yang berada di samping dudukan kloset atau dipasang di dinding yang berdekatan.[2]

Fitur dasar
Kloset duduk berikut bidet memiliki nosel penyemprot seukuran pensil yang keluar dari bawah dudukan kloset dan menyemprotkan air. Jenis semprotan air bisa dipilih dari panel kontrol, semprotan air untuk anus dan semprotan air khusus untuk wanita.[1][3] Nosel penyemprot sama sekali tidak menyentuh anggota badan pemakai. Sesudah beroperasi, nosel memiliki kemampuan membersihkan diri sebelum ditarik ke dalam dudukan kloset. Nosel yang sama umumnya dipakai untuk membasuh buang air besar atau buang air kecil wanita, namun air disemprotkan dari lubang air dan sudut-sudut yang berbeda agar mengenai sasaran yang tepat. Sejumlah model memiliki dua nosel untuk masing-masing keperluan. Nosel juga tidak akan keluar menyemprotkan air bila tidak ada orang yang duduk di kloset. Model-model awal tidak memiliki sensor seperti ini. Pemakai yang ingin tahu, menekan-nekan tombol sambil berdiri, dan tersemprot air hangat di bagian wajah.[20]

Pengaturan
Dari panel kendali kloset teknologi tinggi dapat diatur suhu dan tekanan air sesuai selera pemakai. Menurut setelan pabrik, tekanan semprotan air ke vulva lebih kecil daripada semprotan ke anus. Peneliti di Jepang telah mengetahui bahwa sebagian besar pemakai toilet lebih menyukai suhu air yang optimal adalah sedikit di atas suhu tubuh, yakni 38 °C. Posisi nosel sewaktu menyemprot dapat diatur dari papan kontrol, ke depan atau ke belakang. Washlet produk terbaru memungkinkan pilihan semprotan air yang berdenyut atau bergetar, dan diklaim oleh produsen bisa mengurangi gejala konstipasi dan wasir.[11] Sebagian model washlet mencampur semprotan air dengan sabun sehingga proses pembasuhan bisa lebih bersih. Pemakai washlet bisa saja tidak lagi memerlukan kertas toilet. Sebagian orang cenderung memakai kertas toilet untuk mengelap sesudah disemprot atau sebelum disemprot. Model-model washlet umumnya dilengkapi kipas penghembus udara yang suhunya bisa diatur antara 40 °C dan 60 °C untuk mengeringkan.[20]

Fitur lain
Selain dudukan kloset yang memiliki pemanas (dapat diatur dari 30 °C hingga 40 °C), washlet juga memiliki tutup yang dilengkapi sensor. Tutup kloset bisa membuka atau menutup bergantung kepada jarak orang dengan kloset.[4] Beberapa model di antaranya memiliki pemutar musik dan pengeras suara agar pemakai bisa santai. Toilet produksi Inax memutar bait-bait pertama dari Op. 62 Nr. 6 Frühlingslied karya Felix Mendelssohn. Fitur lain termasuk penyiraman otomatis, penghilang bau otomatis, permukaan kloset antikuman,[4][33][34] Beberapa model untuk orang lanjut usia memiliki sandaran lengan dan pipa untuk berpegangan ketika ingin berdiri setelah selesai. Tutup kloset juga menutup dan membuka dengan perlahan sehingga tidak bertumbukan dengan dudukan kloset. Model paling mutakhir bahkan hanya menghangatkan dudukan kloset pada jam-jam pemakai diperkirakan akan tiba di toilet berdasarkan rekaman data frekuensi dan pola penggunaan toilet. Model tertentu bahkan berpendar di waktu malam, dan memiliki pendingin udara di bawah dudukan toilet agar pemakai merasa nyaman di musim panas.[4] Toilet juga sudah dilengkapi suara yang bisa menyapa pemakai. Papan kontrol kloset dilengkapi dengan simbol-simbol (piktogram), namun hanya ditulis dengan aksara kanji. Walaupun dengan simbol saja cukup jelas, pemakai yang tidak mengerti sistem tulisan Jepang mungkin bisa mencoba-coba dengan menekan sembarang tombol.

Pengembangan untuk masa depan
Peneliti di produsen saniter Jepang mulai melengkapi kloset dengan sensor laboratorium yang bisa mengukur kadar gula darah di dalam urin, mengukur denyut jantung, tekanan darah, dan kadar lemak tubuh pemakai.[3][4] Data kesehatan pemakai dapat dikirim ke dokter melalui telepon genggam.[34] Kloset yang mengerti perintah suara manusia sedang dalam pengembangan.[4] TOTO, NAIS, dan produsen lainnya juga sedang memproduksi washlet portabel bertenaga baterai yang bisa dibawa bepergian. Washlet portabel diisi dengan air hangat dari keran sebelum dipakai.

Urinoir di toilet pria dan wanita
Urinoir di Jepang tidak berbeda dari tempat buang air kecil di negara-negara lain di dunia. Salah satu perbedaannya, urinoir di Jepang umumnya dipasang lebih rendah dibandingkan urinoir di negara-negara Barat. Sebelum dan selama periode Meiji, urinoir tidak hanya disediakan di toilet pria, melainkan juga di toilet wanita yang ditujukan bagi wanita yang memakai kimono. Sejak abad ke-20, toilet wanita tidak lagi menyediakan urinoir karena kimono bukan lagi pakaian sehari-hari bagi sebagian besar wanita di Jepang. Urinoir untuk wanita sempat kembali dipasang di toilet wanita ketika TOTO memproduksi urinoir wanita. Walaupun demikian, urinoir wanita tidak pernah populer, dan hanya ada beberapa yang tersisa, termasuk di toilet Stadion Nasional Jepang peninggalan Olimpiade Tokyo 1964.[11]

Perlengkapan toilet khas Jepang
Di toilet umumnya diletakkan perlengkapan yang sama seperti toilet di negara-negara lain, misalnya: kertas toilet, sikat WC, dan wastafel. Walaupun demikian, ada beberapa perlengkapan yang tidak ditemui di negara lain, misalnya suara air dari pengeras suara dan sandal toilet.

Suara air dari pengeras suara
Otohime atau alat yang mengeluarkan bunyi air di toilet wanita. Tombol berwarna hitam ditekan untuk memainkan atau mematikan suara. Sebagian besar wanita Jepang tidak ingin didengar oleh orang lain ketika sedang buang air kecil.[35] Air disiramkan berkali kali untuk menutupi bunyi sebenarnya dan berakibat pada pemborosan air.[35] Kampanye hemat air ternyata tidak dapat menghentikan kebiasaan ini, sehingga pada tahun 1980-an diciptakan alat yang mengeluarkan suara air menggelontor melalui pengeras suara, tanpa ada air yang dikeluarkan di kloset. Otohime (音姫?, arti harfiah: Putri Suara) adalah salah satu merek alat bunyi air yang populer. Ide nama alat ini diambil dari nama seorang dewi (Otohime putri raja laut Ryūjin). Alat seperti ini hanya dipasang di toilet wanita di Jepang.[35] Otohime dapat berupa alat terpisah yang bertenaga baterai atau merupakan salah satu fitur dari washlet. Alat ini diaktifkan dengan menekan tombol atau melambaikan tangan di depan sensor gerak. Ketika diaktifkan, alat ini mengeluarkan suara air menggelontor seperti toilet sedang disiram. Suara akan berhenti pada waktu yang disetel sebelumnya atau ketika tombol ditekan kembali. Penggunaan alat seperti ini diperkirakan dapat menghemat air hingga 20 liter setiap kali pemakaian.[3]

Sandal toilet
Dalam kebudayaan Jepang terdapat kecenderungan untuk memisahkan lingkungan menjadi kawasan bersih dan kawasan kotor. Dalam rumah dianggap sebagai kawasan bersih, sementara lingkungan di luar rumah adalah kawasan kotor. Sepatu dan alas kaki harus dilepas sebelum memasuki rumah agar alas kaki yang kotor tidak mengotori rumah yang bersih. Toilet pada zaman dulu dibangun di luar rumah, dan orang mengenakan alas kaki ketika pergi ke toilet. Pada zaman sekarang, toilet dibangun di dalam rumah, dan walaupun kondisi higiene sudah jauh lebih baik, toilet masih dianggap tempat kotor.[36] Di rumah-rumah Jepang disediakan sandal khusus toilet (toilet slippers) untuk memperkecil kontak antara lantai toilet yang dianggap tidak bersih dan bagian rumah lainnya yang dianggap bersih. Sandal ini hanya dikenakan sewaktu berada di dalam toilet dan dilepas sewaktu meninggalkan toilet.[2] Sandal toilet tidak untuk digunakan di dalam rumah. Sandal seperti ini biasanya dibuat dari plastik atau karet, dan kadang-kadang diberi gambar karakter anime atau simbol toilet. Orang asing sering lupa melepas sandal toilet ketika keluar dari toilet, dan memakainya di bagian rumah yang lain. Hal ini dianggap tidak sopan karena mencampuradukkan tempat bersih dengan tempat kotor.[37][38][39]

WC umum
Di Jepang, orang tidak akan mengalami kesulitan menemukan WC umum. Toilet tersedia di mana-mana, mulai dari toko serba ada, pasar swalayan, toko buku, toko rekaman, sebagian toko kelontong, dan semua stasiun kereta api. Walaupun keadaan toilet bisa berbeda-beda bergantung kepada lokasi dan pengelola, WC umum di Jepang ada kalanya tidak dilengkapi kertas toilet. Pemakai WC umum membawa sendiri kertas tisu atau membeli dari mesin penjual kertas tisu yang ada di dalam toilet.
WC umum pria sering tidak berpintu sehingga pengguna urinoir bisa dilihat orang yang lalu lalang. Gerakan membuat WC umum lebih bersih dan lebih nyaman dimulai di seluruh Jepang sejak tahun 1990-an. Seperti halnya laki-laki di seluruh dunia, pria Jepang tidak jarang buang air kecil di tepi jalan kalau tidak tertahankan lagi.[40][41] Buang air kecil sembarangan disebut tachi-shōben (立ち小便?, arti harfiah: kencing berdiri) dan dipandang sebagai kebiasaan memalukan.

Aspek lingkungan
Kloset modern menggunakan lebih sedikit air daripada kloset model lama. Selain itu, kloset modern dapat membersihkan diri sendiri sehingga mengurangi pemakaian deterjen.[42] Beberapa model kloset bahkan mengatur jumlah air untuk menyiram berdasarkan keadaan dudukan kloset. Bila dudukan kloset diangkat berarti digunakan laki-laki untuk buang air kecil, dan air yang disiramkan lebih sedikit.[33] Toilet modern juga lebih sedikit menggunakan kertas toilet, namun mengonsumsi energi listrik. Menurut perkiraan, sekitar 5% dari konsumsi listrik rumah tangga di Jepang digunakan di kloset modern.[43]

Aspek ekonomi
Dudukan kloset yang bisa naik turun secara otomatis untuk orang lanjut usia.
Washlet di Jepang berharga mulai \15.000 (data Juli 2009).[44] Selain TOTO yang merupakan produsen saniter terbesar di dunia,[45] terdapat perusahaan-perusahaan besar di bidang produk saniter, misalnya: Inax, NAIS, dan Panasonic.
Pada tahun 1997, total pasar toilet berteknologi tinggi di seluruh dunia sekitar AS$800 juta. Pangsa pasar terbesar dipegang oleh TOTO (65%), diikuti Inax (25%) sebagai produsen saniter terbesar nomor dua.[5][20] Pasar terbesar washlet adalah Jepang, dan menurut laporan TOTO, penjualan produk di luar Jepang hanya sekitar 5% dari pendapatan total mereka.[5] Pasar terbesar kedua adalah RRC. TOTO menjual lebih dari 1 juta washlet per tahun. Di Amerika Serikat, TOTO per bulannya menjual sekitar 600 unit (tahun 2001) hingga 1.000 unit (tahun 2003). Di Eropa, TOTO hanya menjual 5.000 washlet per tahun.[5] Walaupun hanya terbatas sebagai barang aneh bagi sebagian besar orang, washlet makin banyak dipasang di Eropa, terutama di toilet-toilet untuk penyandang cacat. Ada sejumlah alasan yang menyebabkan rendahnya angka penjualan washlet di luar Jepang. Salah satu alasan utama, konsumen perlu waktu untuk terbiasa dengan konsep washlet. Penjualan washlet di Jepang mulanya sepi ketika alat ini diperkenalkan pada tahun 1980. Setelah orang menjadi terbiasa, penjualan meningkat dengan tajam sejak tahun 1985. Sekitar tahun 1990, 10% rumah tangga di Jepang memiliki washlet, dan jumlah ini meningkat hingga 50% pada tahun 2002.[5] TOTO mengharapkan angka penjualan washlet terus meningkat di luar Jepang. Salah satu alasan lainnya adalah tidak adanya stop kontak di dalam toilet. Dibandingkan toilet di Jepang yang hampir selalu ada stop kontak, toilet di Australia, Selandia Baru, Irlandia, Britania Raya, dan banyak negara lainnya tidak memiliki stop kontak.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:59 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:47 am

40 JUTA ORANG INDONESIA BAB SEMBARANGAN
SELASA, 02 OKTOBER 2012 | 12:57 WIB
TEMPO.CO, Jakarta - Kementerian Pekerjaan Umum mencatat sebanyak 40 juta masyarakat Indonesia masih buang air besar (BAB) sembarangan. Menurut data Badan Pusat Statistik, hingga 2011 jumlah penduduk Indonesia saat ini sekitar 241 juta jiwa. "Padahal target kami pada 2015 sekitar 62,41 persen masyarakat perkotaan dan pedesaan mendapat akses air minum dan sanitasi layak," kata Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian PU Budi Yuwono, Selasa, 2 Oktober 2012. Budi mengatakan hingga saat ini masyarakat pedesaan yang mendapat akses sanitasi layak baru sekitar 50 persen, sedangkan di perkotaan sudah terlayani 76 persennya. Dia melanjutkan, akses sanitasi layak ini berbanding lurus dengan kesehatan masyarakat, terutama berkaitan dengan penyakit diare. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jumlah penderita diare dari tahun ke tahun berkisar antara 3,5 juta jiwa sampai 4,5 juta jiwa. Budi mengatakan penanganan sanitasi ini pada dasarnya menjadi tanggung jawab pemerintah daerah. Menurut dia masih banyak pemerintah daerah yang mengesampingkan isu sanitasi dan lebih fokus pada isu lain yang terkesan lebih seksi seperti transportasi. Oleh karena itu, lanjut Budi, hingga 2012 ini jumlah kota kumuh belum berkurang, bahkan cenderung bertambah. Ambil contoh, kata dia, adalah DKI Jakarta di mana masih banyak permukiman kumuh. "Selain itu, pengabaian pemda terhadap tingkat urbanisasi sebesar 1,7 persen menyumbang banyaknya pemukiman kumuh," ujar Budi. Dia mengkritik pemda yang tidak memperhatikan masalah sanitasi ini sama saja dengan menelantarkan masyarakatnya. Budi mengatakan pemerintah pusat hanya bisa menyumbang 25 persen anggaran dari pengelolaan sanitasi di daerah. Tahun 2013 Kementerian PU mengalokasikan Rp 3,4 trilun untuk membenahi sanitasi. Anggaran tersebut nantinya akan digunakan untuk peningkatan pelayanan air limbah di 226 kabupaten/kota dan peningkatan sistem tempat pembuangan akhir sampah menjadi sanitary landfill di 240 kawasan perkotaan. Secara global, kata Budi, di Asia Timur, termasuk Indonesia, tercatat 671 juta jiwa masih belum mendapatkan akses sanitasi yang layak. Bahkan, 100 juta jiwa masih BAB sembarangan. Akibatnya, ada 450 juta kasus diare tiap tahunnya.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:18 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:48 am

MAU HINDARI PENYAKIT? CUCI TANGANLAH!
SENIN, 15 OKTOBER 2012 | 12:26 WIBl
TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengingatkan masyarakat untuk terbiasa selalu mencuci tangan memakai sabun. Dia menegaskan bahwa cuci tangan pakai sabun terbukti bisa mencegah cacingan, flu burung, diare, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) hingga 50 persen. "Perilaku sederhana ini, cuci tangan, punya dampak luar biasa," ucap Nafsiah seusai menghadiri peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun Sedunia di Sekolah Dasar Negeri 04,05, 06 Karet Pagi, 15 Oktober 2012. Nafsiah mengatakan cuci tangan hendaknya dilakukan sebelum dan sesudah makan atau mengolah makanan, setelah buang air besar, setelah menceboki anak, serta setelah kontak dengan hewan dan tanah. Perilaku ini sebaiknya digabung dengan perilaku pengelolaan sampah yang benar dan kebiasaan buang air besar pada tempatnya. Perwakilan Badan PBB untuk Anak-Anak UNICEF, Angela Kearney memaparkan data WHO bahwa infeksi diare mengancam kehidupan 1,87 juta anak balita setiap tahun di seluruh dunia. Angka ini menyumbang 30 persen penyebab kematian anak di seluruh dunia. Sebanyak 228 jiwa meninggal setiap jamnya akibat diare dan pneumonia. Di Indonesia, Kearny mengatakan, ada 31.200 anak balita meninggal setiap tahun karena diare. Sedangkan untuk pneumonia, 30.295 atau 83 balita meninggal setiap harinya. "Padahal dapat dicegah dengan perilaku sederhana, cuci tangan pakai sabun," ujar Kearney. Hasil kajian Morbiditas Diare di Masyarakat 2010 menunjukan angka penderita diare pada semua umur masih cukup tinggi, 411 per 1000 penduduk. Pada 2010, tercatat 73 kemartian karena diare di 33 kecematan dari total penderita sebanyak 4.204 jiwa. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kemenkes Tjandra Yoga Aditama mengatakan tingkat cuci tangan masyarakat masih rendah. Data dari Kementerian Kesehatan pada tahun 2012, hanya 49,5 persen penduduk Indonesia yang rajin cuci tangan pakai sabun. Tjandra mengatakan cuci tangan dengan air tidak bisa digantikan menggunakan tissue basah atau hand-sanitizer. "Sebagus apapun kualitasnya, yang terbaik tetap pakai sabun dengan air yang mengalir," ucap Tjandra. Gerakan Cuci Tangan Pakai Sabun saat ini sudah digalakkan di sekolah-sekolah pada 8 provinsi. Kedelapan provinsi itu antara lain Nusa Tenggara Timur, Jakarta, Banten, Jawa Tengah, dan beberapa provinsi lain. Tjandra berharap gerakan ini bisa segera dilaksanakan di seluruh Indonesia.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:26 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:48 am

CUCI TANGAN PAKAI SABUN KURANGI DIARE
Senin, 15 Oktober 2012, 16:00 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Kesehatan Dr Nafsiah Mboi mengatakan mencuci tangan dengan menggunakan sabun dapat mengurangi 50 persen potensi diare. "Dengan mencuci tangan dengan menggunakan sabun dapat mengurangi 50 persen potensi diare. Misalnya dari 1 juta anak yang terkena diare, maka hanya tinggal 500.000," ujar Nafsiah dalam acara perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun ke-5 di Jakarta, Senin (15/10). Selain itu, kata Nafsiah, yang paling penting adalah perilaku untuk hidup bersih seperti tidak membuang sampah dan buang air besar sembarangan. Meskipun dia mengakui masih banyak rumah di Tanah Air yang tidak memiliki toilet. "Sanitasi juga mempengaruhi. Jika kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dan sanitasi yang baik maka bisa mengurangi hingga 94 persen potensi diare, saluran pernafasan, flu burung, dan penyakit menular lainnya." Oleh karena itu, lanjut dia, perilaku hidup bersih dan sehat itu harus menjadi budaya yang dimulai sejak anak-anak. Menurut Nafsiah, lebih mudah menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat kepada anak-anak dibandingkan orang dewasa. Dalam perayaan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun itu, sejumlah anak-anak yang berasal dari SDN 04, 05 dan 06 Karet Kuningan Belakang, Jakarta Selatan, melakukan ikrar bersama untuk mencuci tangan menggunakan sabun. Cuci tangan pakai sabun hendaknya dilakukan sebelum makan, sesudah dari toilet, sesudah dari tanah, dan sesudah memegang hewan.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:27 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:49 am

TOILET UMUM TUNJUKKAN IDENTITAS BANGSA
Selasa, 16 Oktober 2012, 00:05 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Toilet umum menunjukkan identitas suatu bangsa. Karena itu masyarakat Indonesia sebaiknya menghargai dirinya sendiri dengan menjaga kebersihan dan kenyamanan toilet umum yang ada di sekitarnya. Hirauan inilah yang disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi usai acara peringatan Hari Cuci Tangan Pakai Sabun di Jakarta, Senin (15/10). "Jika jorok, otomatis kita kurang menghargai. Namun jika bersih pastinya kita akan lebih menghargai," ujar Nafsiyah menyinggung soal toilet umum dan kaitannya dengan identitas bangsa. Menteri menilai toilet-toilet umum di Tanah Air saat ini belum memenuhi standar kelayakan. Padahal, kebersihan toilet berkaitan erat dengan kesehatan. Terutama pengaruhnya terhadap penyebaran penyakit. "Sanitasi yang baik dapat mengurangi penyebaran kuman penyakit. Ditambah dengan kebiasaan mencuci tangan pakai sabun, maka dapat mengurangi 94 persen potensi penyakit diare, saluran pernafasan, flu burung, dan lainnya," tambah dia. Oleh karena itu, lanjut dia, perilaku hidup bersih dan sehat itu harus menjadi budaya yang dimulai sejak anak-anak. Menurut Nafsiah, lebih mudah menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat kepada anak-anak dibandingkan orang dewasa.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:28 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 7:50 am

MIRIS, 145 RIBU TOILET SD SE-INDONESIA TAK HIGIENIS
Selasa, 18 September 2012, 13:07 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, KEBAYORAN BARU -- Sebanyak 145 ribu toilet di sekolah dasar seluruh Indonesia tidak higienis. Kondisi toilet yang seadanya dan kurang diperhatikan menjadi alasan toilet adalah sarang penyakit bagi anak-anak di sekolah dasar. "Toilet di seluruh dunia ini memang selalu jadi masalah, apalagi di negara berkembang," ujar Dokter Handrawan Nadesul, penggagas program Dokter Kecil di sejumlah provinsi. Alasan utamanya adalah kebanyakan tidak mengetahui cara menggunakan toilet dengan benar sehingga hanya menjadi pengguna saja tapi enggan membersihkannya dengan benar. Toilet, bersih saja tidak cukup tetapi juga perlu higienis. Higienis adalah kondisi tanpa kuman bakteri atau tidak melebihi ambang batas yang ditolelir, sedangkan bersih saja belum tentu higienis. "Kita perlu bangsa yang sehat," ujar Naning S. Adiwoso, Pimpinan Asosiasi Indonesia. Ia menambahkan pada umumnya anak menghabiskan waktunya sebagian besar di sekolah, sehingga kondisi toilet yang bersih tidak akan menjadi sumber penyakit untuk anak. Di Sekolah Dasar Gunung, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan dilakukan tes kebersihan toilet menggunakan alat bernama ATP meter untuk menghitung jumlah kuman. Alat ATP meter dioleskan ke water closet dan tertera angka jumlah kuman di ATP meter. Hasilnya adalah 1383 kuman yang artinya toilet tersebut sangat kotor. "Padahal ambang batas bersih adalah hingga 300, lebih dari itu kotor," ujar Johan Motik, Asisten Brand Manager Domestos, PT Unilever Indonesia, Tbk. Menurut Naning, toilet yang bersih adalah toilet yang kering, bersih, aman, nyaman dan memiliki sedikit sudut. "Toilet yang higienis itu memiliki sedikit area untuk pegangan tangan, karena tangan itu sumber kuman," ujarnya. Menurutnya, toilet yang lebih bersih adalah toilet jongkok daripada toilet duduk karena sedikit bersentuhan dengan kulit. "Arsitek sekarang perlu mengubah mindset bahwa toilet perlu dibuat senyaman mungkin.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 19, 2012 9:28 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 22Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 13 ... 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: