Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Jun 06, 2013 5:58 pm

TISU ATAU HAND DRYER, MANA YANG LEBIH BAIK?
Erninta Afryani Sinulingga - detikHealth Kamis, 06/06/2013 09:56 WIB
Jakarta, Pengering tangan atau hand dryer kini sangat mudah ditemukan baik di tempat cuci tangan atau toilet di restoran, rumah sakit, dan tempat umum lainnya. Hand dryer menggunakan udara panas untuk mengeringkan air yang ada di tangan, tetapi apakah ini lebih baik daripada mengeringkan tangan dengan tisu? Nah, menurut sebuah studi penggunaan tisu ternyata lebih higienis karena dapat menghilangkan lebih banyak kuman. Tidak hanya itu lho, tisu juga memiliki kemampuan untuk mengeringkan tangan lebih cepat. Seperti dikutip dari Dailymail, Kamis (6/6/2013) para ahli mengungkapkan mencuci tangan sudah sangat jelas tujuannya. Namun keuntungan dari mencuci tangan justru akan gagal jika tangan tidak dikeringkan dengan baik. Seorang ilmuwan biomedis, Cunrui Huang, mengungkapkan ini dikarenakan tangan yang basah akan lebih baik dalam menyebarkan kuman daripada tangan yang kering. Ulasannya dari 12 studi mengatakan bahwa secara keseluruhan tisu tetap lebih unggul. Dalam sebuah studi menemukan bahwa dengan menggunakan tisu tangan akan kering 96 persen setelah 10 detik, dan 99 persen hanya dalam 15 detik. Sebaliknya, pengering akan memakan waktu lebih lama setidaknya 45 detik. Jumlah waktu ini sangat penting karena kebanyakan orang mengambil waktu cukup sebentar untuk mengeringkan tangannya. Satu studi menemukan pria menghabiskan 17 detik dengan menggunakan mesin pengering dan wanita 13,3 detik. Selain itu, tisu juga memiliki nilai lebih tinggi karena gerakan menggosok yang secara fisik juga dapat menghilangkan kuman. Sedangkan pada pengering tangan, udara yang digunakan justru dapat meniupkan kuman ke tubuh dan ini juga menjadi perhatian yang sama ketika menyiram toilet secara reguler yang dapat menyebarkan kuman di udara. "Ini dapat meningkatkan jumlah kuman dengan menakjubkan sebanyak 255 persen," kata Keith Redway, Senior akademik di Mikrobiologi dan Biologi Molekuler di Westminster University. Bakteri kemudian ditiupkan ke tangan pengguna dan juga ke atmosfir. Hal ini menyebabkan potensi penyebaran organisme seperti salmonella dan E. coli, seperti jika dilakukan orang yang sering mengeringkan tangan mereka namun belum membersihkannya dengan benar. Selanjutnya, dalam jurnal Mayo Clinic Proceedings, dr Huang, dari Queensland University of Technology di Australia, mengatakan, "Ada risiko untuk membuat bakteri tersebar di udara saat mereka mengeringkan tangan, ketika orang berdiri di mesin pengering tersebut". Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pengering tangan seringkali terkontaminasi oleh bakteri di dalam penyaring. Sementara itu panas dari mesin tersebut ditengarai menjadi suhu sempurna untuk mendorong pertumbuhan bakteri. Penelitian Keith Redway telah menunjukkan bahwa tisu sekali pakai mampu menghilangkan 58 persen kuman, sedangkan handuk kain menghilangkan 45 persen. "Pesannya adalah cuci tangan dengan sabun dan kemudian keringkan tangan secara menyeluruh dengan kertas tisu, bukan dengan pengering udara panas," jelas Keith.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Tue Jul 23, 2013 8:16 am

PENTINGNYA CUCI TANGAN PAKAI SABUN
Helmi Ade Saputra - Okezone SENIN, 22 JULI 2013 19:02 wib
ANAK merupakan aset yang tidak ternilai harganya demi terbentuknya bangsa yang maju dan unggul di segala bidang. Sebagai brand yang berkomitmen untuk terus mengajak keluarga Indonesia menerapkan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), Lifebuoy percaya bahwa hal tersebut dapat diwujudkan dengan kesehatan sebagai modal dasar. Oleh karena itu, dalam rangka merayakan HAN, Marketing Manager Skin Cleansing Category PT. Unilever Indonesia Tbk, Eva Arisuci Rudjito mengatakan, Lifebuoy kembali ingin mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap pentingnya kesehatan anak Indonesia. "Kesehatan anak merupakan salah satu kunci utama untuk menciptakan generasi yang unggul dan investasi terhadap sumber daya manusia yang berperspektif jangka panjang" ujar Eva Arisuci Rudjito dalam Press Conference bertema "Mempersiapkan Anak Indonesia Menuju Generasi Emas" di Kidzania, Pacific Place, Jakarta Pusat, Senin (22/7/2013). Ia menambahkan, sebagai perwujudan dalam mengajak keluarga Indonesia menuju kehidupan yang lebih sehat, pihaknya secara konsisten mendukung program pemerintah, yaitu PBHS dengan berfokus pada edukasi Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM). "Yaitu Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) yang dilakukan saat mandi, sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam, dan setelah dari toilet," tambah Eva Arisuci. Sosialisasi PHBS melalui edukasi CTPS telah dijalankan melalui serangkaian kegiatan, seperti Gerakan 21 Hari Lifebuoy. (ind)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Wed Jul 24, 2013 8:41 am

CAIRAN PEMBERSIH TANGAN BUKAN PENGGANTI SABUN
Selasa, 23 Juli 2013, 01:23 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- "Hand Sanitizer" (cairan pembersih tangan) tidak dapat menggantikan fungsi sabun untuk membersihkan tangan secara maksimal, kata Eksekutif Kesehatan Umum Unilever Indonesia Foundation Leo Indarwahono. "'Hand sanitizer' itu bukan pengganti dari sabun. Pada saat mendadak jika ingin makan, tidak ada sabun, ya, pakai 'hand sanitizer' tidak masalah agar bakteri di tangan mati," ujar dr. Leo Indarwahono di Jakarta, Senin (23/7). Leo mengatakan bahwa membersihkan tangan dengan "hand sanitizer" hanya akan mematikan kuman saja. Namun, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir akan mematikan kuman dan meluruhkan kuman dari telapak tangan. "Jadi, sabun akan mematikan kuman yang ada di tangan dan air mengalir akan melepaskan kuman yang sudah mati tadi dari tangan sehingga tangan dapat bersih secara maksimal," kata Leo. Leo mengemukakan bahwa kuman pada tangan yang dicuci dengan sabun akan mati dalam 10 detik. Namun, membutuhkan waktu 20 detik untuk mencuci tangan dengan baik dan benar. Menurut Leo, terdapat beberapa tahap mencuci tangan dengan baik dan benar, yaitu membasuh kedua tangan dengan air, mencuci tangan dengan sabun sampai ke sela-sela jari dan kuku, membilas dengan air, mematikan keran dengan siku tangan, dan mengeringkan tangan dengan kain bersih atau mengibas-ngibaskannya. "Mengapa harus mematikan keran dengan siku? Agar kuman yang ada pada keran tidak menempel lagi di tangan," ujar Leo. Dengan demikian, lanjut Leo, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir akan lebih baik jika dibandingkan dengan menggunakan "hand sanitizer".
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Aug 01, 2013 6:44 pm

SANITASI TINGKATKAN PERTUMBUHAN ANAK
Kamis, 01 2013 | 12:43 WIBANTARA/Anang Budiono/bbTERKAIT
Metrotvnews.com, London: Akses terhadap air bersih dan sabun tidak hanya meningkatkan kebersihan tetapi dapat meningkatkan tumbuh kembang anak. Sebuah riset yang mengolah data global mengatakan ada bukti peningkatan tinggi badan anak di bawah usia lima tahun sebesar 0,5cm yang hidup di lingkungan dengan sanitasi yang bersih. Studi ini dilakukan di Bangladesh, Etiopia, Nigeria, Chili, Guatemala, Pakistan, Nepal, Afrika Selatan, Kenya, dan Kamboja. Saat ini dilaporkan sebanyak 265 juta anak di dunia terhambat tumbuh kembangnya dengan implikasi kesehatan jangka panjang. Bukti dari 14 penelitian yang melibatkan 10.000 anak ini didapat dari ulasan yang dikenal dengan ulasan Cochrane, yang dipimpin oleh London School of Hygiene & Tropical Medicine (LSHTM) dan lembaga sosial internasional, WaterAid. Alan Dangour, nutrisionis kesehatan publik di LSHTM yang memimpin penelitian mengatakan penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebersihan adalah cara yang efektif untuk mengurangi kematian akibat diare. Analisa ini menyarankan, untuk pertama kalinya, bahwa kebutuhan sanitasi yang lebih baik ini juga memiliki dampak -yang walau kecil- dirasa cukup penting terhadap tumbuh kembang anak. "Ini adalah pertama kalinya ada bukti yang mendukung teori bahwa penyediaan sanitasi air dan kebersihan dapat meningkatkan pertumbuhan," katanya. Dia mengatakan ada hubungan yang jelas antara anak yang meminum air kotor, penyakit diare dan pertumbuhan yang buruk. Pasalnya, penyakit yang diderita berulang kali pada anak usia dini dapat mengganggu pertumbuhan. "[Penambahan tinggi badan sebesar] setengah sentimeter memang tidak terdengar banyak, tetapi dalam perkiraan kami, peningkatan pertumbuhan ini setara dengan pengurangan pengerdilan sekitar 15%, yang cukup penting," kata Dangour. Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pertumbuhan tinggi badan yang buruk, atau pengerdilan, mempengaruhi 165 juta anak di seluruh dunia. Ini meningkatkan risiko kematian dan mengurangi produktivitas di masa dewasa. Kekurangan gizi merupakan penyebab 3,1 juta kematian setiap tahun -hampir separuh dari semua kematian dialami oleh balita. (BBC)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Tue Aug 13, 2013 10:16 am

JANGAN GOSOK TANGAN SAAT MEMAKAI "HAND DRYER"
Penulis : Rahman Indra | Selasa, 13 Agustus 2013 | 09:17 WIB
KOMPAS.com - Keberadaan mesin pengering tangan atau hand dryer saat ini mudah dijumpai. Namun, pemakaiannya seolah-olah ala kadarnya saja. Kadang karena proses mengeringnya terlalu lama, orang sudah berlalu dengan tangan yang masih basah. Baru-baru ini diadakan lagi penelitian mengenai fungsi mesin pengering tangan ini. Tidak hanya dari segi manfaatnya yang berkurang, suara yang ditimbulkan juga dianggap terlalu bising. Efeknya sama dengan mendengar suara mesin yang sedang melakukan perbaikan jalan yang berisik.

Lalu, apakah mesin pengering tangan tidak lebih baik daripada kertas tisu?
Bakteri diyakini mudah menyebar saat tangan basah. Karen Clark, seorang ahli mikrobiologi dari Dyson (perusahaan pembuat hand dryer), menuturkan bahwa tangan yang basah akan mentransfer 1.000 kali bakteri lebih banyak. Karena itu dianjurkan untuk mengeringkannya sesegera mungkin, dengan kertas tisu atau mesin pengering tangan. Ada dua studi yang pernah meneliti mengenai alat pengering tangan ini. Kimberly-Clark (juga perusahaan pembuat hand dryer) menemukan bahwa kertas tisu lebih higienis dibanding hand dryer. Sementara, Dyson melaporkan, baik mesin pengering tangan maupun kertas tisu sama-sama higienis dan baik. Dr Ron Cutler, ahli mikrobiologi dari Queen Mary University London, mengatakan bahwa kedua alat pengering itu sama efektifnya. Hal yang sama juga disampaikan Hugh Pennington, profesor bakteriologi dari University of Aberdeen. Satu sama lain tidak bisa dicari mana yang lebih baik, tergantung kenyamanan si pemakainya. Satu hal yang harus diperhatikan saat menggunakan mesin pengering tangan, yakni jangan menggosok kedua tangan saat di bawah mesin pengering. Kenapa? Karena kebiasaan ini justru membuat bakteri lebih mudah tersebar di permukaan kulit. Dr Anna Snelling, yang pernah melakukan penelitian terhadap hal ini mengatakan, metode paling higienis saat mengeringkan tangan adalah menggunakan kertas tisu. Boleh saja memakai mesin pengering tangan, asalkan tidak menggosok-gosokkan kedua tangan. Selain itu, jangan masukkan tangan ke dalam mesin pengering karena sama sekali tidak bersih. Lalu, hitunglah sampai 20. Ada klaim mesin pengering tangan bisa bekerja dengan cepat dalam 10 detik. Jika setelah dicoba tidak berhasil, maka hitunglah sampai 20. Sejauh ini, sejumlah peneliti mengakui, kebanyakan mesin pengering tangan membutuhkan waktu agak lebih lama dalam hal mengeringkan tangan. Jika mau, ada baiknya dibarengi dengan lap kertas tisu. Terkait suara bisingnya, peneliti dari Univeristy of London mengungkapkan mesin pengering tangan tidak baik untuk mereka yang berpendengaran sensitif, seperti anak-anak, orangtua, atau orang yang mengidap dementia. Dr John Levack Drever, peneliti dari Goldsmith, menganjurkan agar perusahaan yang memproduksi mesin pengering tangan bisa mengurangi suara bisingnya saat digunakan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Oct 03, 2013 7:21 pm

JANGAN SEPELEKAN 12 TAHAPAN CUCI TANGAN
Penulis : Wardah Fazriyati | Kamis, 3 Oktober 2013 | 14:01 WIB
KOMPAS.com - Menyadari pentingnya Cuci Tangan Pakai Sabun atau CTPS untuk mencegah berbagai penyakit, kebiasaan CTPS pun mulai tumbuh terutama di masyarakat perkotaan yang banyak terpapar informasi. Jika kesadaran sudah muncul, pertanyaan berikutnya adalah apakah cara CTPS sudah diterapkan dengan baik, untuk mencapai tujuan bersih dan sehat agar bisa mencegah berbagai penyakit? "CTPS bagi sebagian orang mungkin rumit, tapi jangan sampai melewati tahapan demi tahapannya karena ingin cepat selesai. Jangan ada bagian dari tangan yang terlewati saat melakukan CTPS. Biasanya bagian punggung tangan, ibu jari, dan kuku sering terlewati," ungkap spesialis mikrobiologi klinik, dr Wani Devita Gunardi, SpMK, dari Eka Hospital, di sela kegiatan penyambutan Global Hand Washing Day, di Jakarta beberapa waktu lalu. Wani menjelaskan, tangan merupakan media paling baik untuk transportasi bakteri. Dari tangan inilah, banyak bakteri masuk ke tubuh baik ke mata, mulut, hidung, kulit, secara langsung mau pun tidak langsung melalui makanan dan minuman. Pada tangan yang kotor, bukan hanya bakteri yang menjadi penghuninya, tapi juga virus, jamur, parasit. Karenanya, mencuci tangan yang kotor dengan sabun perlu memerhatikan setiap langkahnya terpenuhi. Tak ada satu pun dari tahapan cuci tangan yang tidak penting. "Kalau tidak cuci tangan setelah berbagai aktivitas, ada 4,5 juta koloni bakteri pada tangan kita. Jumlah koloni bakteri ini bisa turun hanya dengan mengusap tangan," ungkapnya. Jumlah koloni bakteri pada tangan bisa menurun signifikan, jika saat cuci tangan, Anda menggunakan air mengalir. Tahapan mengeringkan tangan juga punya peran tak kalah penting dalam menurunkan jumlah koloni bakteri. Bahkan, mengeringkan tangan dengan tisu juga dapat mencegah transmisi dan infeksi silang. Oleh sebab itu, setiap kali ingin menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah ke kamar kecil, setelah batu atau bersin, setelah bermain dengan hewan, setelah membuang sampah, cuci tangan perlu menjadi ritual wajib, tanpa mengabaikan satu pun tahapannya.

Sabun cair dan antibakteri?
Jika ingin mendapatkan hasil optimal dari kebiasaan CTPS, pilihan sabun juga punya peranan. Wani mengatakan sabun cair lebih higienis ketimbang sabun batangan. Pasalnya, pada sabun batangan, bakteri masih memungkinkan ditransportasikan oleh tangan. Mengenai jenis sabun, Wani menegaskan, penggunaannya bergantung kebutuhan. Jika CTPS dilakukan di lingkungan rumah sakit, ia menyarankan sebaiknya gunakan sabun antibakteri. Namun jika di rumah, sabun tanpa antibakteri juga bisa digunakan. Meski begitu, Wani menjelaskan, prinsip utama CTPS juga sebaiknya dipahami. Tujuan CTPS semata mengurangi jumlah bakteri di tangan, bukan mensterilkan tangan dari bakteri. Karena sebenarnya, setelah CTPS pun masih tersisa bakteri di tangan. "Flora normal ada yang transien atau sesaat, dan menetap atau residen. Setelah CTPS tetap ada bakteri di tangan namun jumlahnya terkendali. Jadi, setelah CTPS, tangan tidak lantas steril 100 persen. Bakteri transien lah yang dikurangi dengan kebiasaan CTPS setelah beraktivitas," terangnya. Ia menambahkan, setelah CTPS, masih ada delapan persen bakteri tersisa. Jadi, CTPS baik dengan sabun biasa maupun sabun antibakteri, tidak akan membunuh semua bakteri. Menyambut Global Hand Washing Day yang diperingati setiap 15 Oktober, Anda bisa ambil bagian untuk menerapkan kebiasaan tepat CTPS dengan 12 langkah ini:

1. Membasahi kedua tangan dengan air mengalir.
2. Beri sabun secukupnya.
3. Gosok kedua telapak tangan dan punggung tangan.
4. Gosok sela jari dengan kedua tangan.
5. Gosok kedua telapak dengan jari-jari rapat.
6. Jari-jari tangan dirapatkan sambil digosok ke telapan tangan. Tangan kiri ke kanan dan sebaliknya.
7. Gosok ibu jari secara berputar dalam genggaman tangan kanan dan sebaliknya.
8. Gosokkan kuku jari kanan memutar ke telapak tangan kiri dan sebaliknya.
9. Basuh dengan air.
10. Keringkan tangan dengan handuk atau tisu.
11. Matikan keran air dengan handuk atau tisu.
12. Tangan bersih.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Oct 03, 2013 7:27 pm

JANGAN ASAL CUCI TANGAN
Penulis : Dian Maharani | Jumat, 24 Oktober 2014 | 07:00 WIB
KOMPAS.com - Banyak yang tak menyadari bahwa telapak tangan kita dipenuhi dengan kuman setelah menyentuh atau memegang suatu benda. Kuman atau bakteri itu dapat menyebabkan berbagai penyakit, umumnya diare dan infeksi saluran pernafasan akut (ISPA). Hal ini dapat terjadi jika kita tidak menerapkan pola hidup bersih, seperti tidak mencuci tangan pakai sabun. Mencuci tangan juga harus dilakukan dengan benar agar efektif membunuh kuman-kuman tersebut. Walah ini bukan hal yang sulit tapi ternyata masih banyak yang belum melakukannya dengan benar. Kasubdit Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar (PASD) Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Eko Saputro mengatakan, mencuci tangan harus pakai sabun dan air mengalir. "Mencuci tangan yang benar pakai sabun dan air mengalir. Kalau pakai air kobokan, misalnya waktu mau makan di restoran, ya itu tidak akan menghilangkan kuman yang melekat di tangan," kata Eko di Jakarta, Rabu (22/10/2014). Dokter spesialis anak, Ariani Dewi Widodo menambahkan, cuci tangan pakai sabun atau biasa disingkat CTPS harus dibiasakan pada anak-anak yang sering kali bersentuhan dengan kuman. Baik pada anak-anak maupun orang dewasa, CTPS yang baik dilakukan selama 10-20 detik dengan teknik yang benar. "Teknik yang benar itu dengan enam langkah yang disingkat biar mudah Tepung Selaci Puput," kata Ariani. Enam langkah tersebut yaitu, telapak tangan dibersihkan dengan sabun, punggung tangan, sela-sela jari hingga kuku, kunci kedua tangan diantara sela-sela jari, lalu putar dengan gerakan tangan kiri ke kanan dan sebaliknya, dan putar untuk membersihkan jari tangan. Setelah itu, tutup keran dengan siku atau dengan tisu. Untuk membuka gagang pintu kamar mandi pun sebaiknya demikian. Tak perlu sabun khusus untuk CTPS. Menurut Ariani, sabun apa pun sudah efektif menyingkirkan kuman pada tangan. Cuci tangan dengan tisu basah maupun sanitazer disarankan jika memang tidak ditemukan air mengalir. "Itu hanya sementara saja, ketika ketemu air mengalir ya segera cuci tangan pakai sabun," jelasnya. Saat mencuci tangan sebaiknya perhiasan atau aksesoris di tangan dilepas seperti jam tangan, cincin, gelang, agar kuman tidak tertinggal. Selain itu, bersihkan pula secara teratur remote TV, handphone, pegangan pintu, atau bagian perabot rumah yang sering dipegang bersama-sama. Kebersihan kuku juga harus dijaga, yakni dengan memotongnya seminggu sekali. Biasakan mencuci tangan pada lima waktu penting, yaitu sebelum makan pagi, siang, malam, saat mandi, dan setelah buang air besar atau kecil di kamar mandi. CTPS juga harus dibiasakan para ibu sebelum merawat bayi maupun balitanya. Ariani mengatakan, berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2013, CTPS telah terbukti menurunkan prevalensi balita yang menderita diare, yaitu dari 9 persen tahun 2007 menjadi 3,5 persen tahun 2013. CTPS juga menurunkan risiko diare hingga 50 persen dan ISPA hingga 45 persen.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Fri Jun 12, 2015 9:55 am

CUCI TANGAN, CARA SEDERHANA CEGAH INFEKSI RUMAH SAKIT
Rabu, 10 Juni 2015 | 18:15 WIB
KOMPAS.com - Jessica Strong lahir 14 minggu lebih awal dari jadwal kelahirannya. Ia lahir di rumah sakit George Eliot, Nuneaton Inggris pada bulan Juli 2012. Namun karena ia sangat prematur, bayi mungil ini dirujuk ke Universitas Hospital of North Staffordshire (UHNS). Di UHNS ia mendapat perawatan di Neonatal Intensive Care Unit (NICU). Namun belum lama dirawat, ia terinfeksi kuman Serattia marcescens yang akhirnya merenggut nyawanya setelah dirawat selama dua minggu. Jessica adalah salah satu dari dua bayi yang meninggal akibat kuman tersebut. Saat bayi-bayi di ruang NICU menjadi sakit, dokter sempat mengambil contoh darahnya tapi penyebab kematiannya baru diketahui sehari sebelum kematian Jessica. Hasil pemeriksaan menemukan kuman tersebut menginfeksi bayi-bayi malang itu akibat "kebersihan tangan yang kurang baik". Sebenarnya kuman Serratia marcescnes tidak berbahaya dan hidup di saluran cerna. Meski begitu, kuman ini menyebabkan infeksi serius pada orang yang rentan, misalnya bayi prematur. Kasus tersebut adalah sedikit dari banyaknya kasus infeksi yang terkait layanan kesehatan atau disebut juga dengan Hospital Acquired Infection (HAI). Berdasarkan data WHO, secara global 10 persen pasien rawat inap menderita infeksi ini dan menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Di Indonesia, angka HAI mencapai 9,8 persen. "Rumah sakit memang bukan tempat yang aman, malah bisa membahayakan pasien," kata dr.Adib Abdullah Yahya MARS, Presiden Asian Hospital Federation, dalam acara seminar yang diadakan PT.Unilever Indonesia dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta beberapa waktu lalu. Adib mengutip hasil penelitian Institute of Medicine AS yang menyebutkan, di tahun 2000 sekitar 98.000 pasien meninggal karena kesalahan dokter atau rumah sakit. "Di negara berkembang angkanya bisa mencapai 2-20 kali lipatnya," katanya. Penyebab kematian tersebut adalah karena infeksi nosokomial atau infeksi yang didapat pasien setelah masuk ke rumah sakit. Menurut Adib, tak ada satu pun negara yang bisa terbebas dari infeksi ini. Di rumah sakit, infeksi terkait pelayanan kesehatan dapat menular dengan mudah lewat interaksi langsung mau pun tidak langsung (kontak fisik-udara) antara petugas medis ke pasien, pasien satu kepada pasien lain, mau pun dari pasien kepada pengunjung. "Dulu infeksi nosokomial dianggap karena faktor lingkungan yang jelek. Tetapi ternyata paling banyak karena tangan dokter. Bahkan ada istilah dokter adalah pembunuh bertangan kosong," ujarnya. Meski mengkhawatirkan, HAI sebenarnya dapat dicegah secara sederhana, yakni membiasakan mencuci tangan dengan benar. Penelitian teranyar menunjukkan, cuci tangan pakai sabun mampu menghilangkan 92 persen organisme penyebab infeksi di tangan. Sayangnya, di banyak negara angka kepatuhan tenaga medis untuk mencuci tangan masih rendah. Di banyak negara angka kepatuhan para dokter dalam menjalankan cuci tangan hanya sekitar 50-60 persen. "Dalam penelitian di ruang ICU RSCM Jakarta angkanya tak jauh berbeda, berkisar 41-62 persen," kata dr.Delly Chipta Lestari SpMK, dalam pemaparan hasil studinya dalam acara yang sama.
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 22 of 22Go to page : Previous  1 ... 12 ... 20, 21, 22
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: