Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 12 ... 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 2:09 pm

MENKES: JANGAN BICARA PERSEN, INI MANUSIA!
Penulis : Natalia Ririh | Senin, 10 September 2012 | 14:29 WIB
BALI, KOMPAS.com - Laporan monitoring lembaga kesehatan dunia WHO bersama UNICEF pada tahun 2012 menyebutkan, target The Millennium Development Goals (MDGs) untuk air minum telah tercapai. Dilaporkan, lebih dari 2 miliar orang memperoleh akses ke sumber-sumber air yang lebih baik pada tahun 1990-2010. Secara global, 63 persen dari populasi telah menggunakan fasilitas sanitasi layak atau meningkat hampir 1,8 miliar orang sejak tahun 1990. Meskipun pencapaian ini menggembirakan, Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nafsiah Mboi mengingatkan agar semua pihak tidak terlena dengan hasil yang hanya diukur melalui persen. Meski secara persentase tampak meningkat, tetapi jumlah penduduk yang belum mendapatkan akses air bersih masih tetap besar. "Masalah sanitasi di Asia Timur sejak tahun 2010 tinggal 11 persen saja populasi masyarakat yang belum mendapat sarana air bersih. Sebelas persen mungkin terlihat kecil, tetapi kalau diketahui jumlahnya ada 750.000 orang yang belum mendapatkan air bersih. Jadi, jangan hanya bicarakan persen, karena ini manusia," ujarnya saat membuka acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III di Nusa Dua, Bali, Senin (10/9/2012). Nafsiah menambahkan, masalah air bersih dan sanitasi erat kaitannya peningkatan ekonomi, meningkatkan kehadiran murid di sekolah dasar, mengurangi prevalensi penyakit, meningkatkan produktivitas orang dewasa, memberikan keamanan bagi para perempuan serta mengurangi polusi dari sumber air.

"Penelitian Bank Dunia, dampak sanitasi buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal Rp 9 miliar dollar AS per tahun. Sementara, perilaku tidak sehat dan kurang higienis mengarah ke sumber air minum, sumber air rumah tangga, area aliran air, sungai dan lingkungan menjadi tercemar," ujarnya. Konsekuensi air bersih dan sanitasi buruk, lanjutnya, rentan menimpa anak-anak. Risiko ini menempatkan mereka lebih besar terkena penyakit diare, polio, pneumonia, penyakit kulit dan penyakit kesehatan lainnya. Sebagai informasi, lebih dari 450 juta kasus diare terjadi setap tahun. Angka kematin akibat penyakit terkait air dan sanitasi meningkat hampir 150.000 per tahun. Ketersediaan sanitasi layak, higenitas dan perilaku hidup sehat akan mengurangi kejadian penyakit yang ditularkan melalui air. Nafsiah mengingatkan perlunya peningkatan perilaku hidup sehat seperti BAB tidak sembarangan, mencuci tangan dengan sabun, penyediaan air minum yang aman, serta perluasan penyediaan fasilitas sanitasi. "Namun untuk mewujudkan ini semua, pemerintah tidak bisa sendiri. Masyarakat perlu memiliki kesadaran tinggia akan pentingnya sanitasi layak dan perilaku hidup sehat. Perilaku manusia untuk hidup sehat sangatlah penting di samping pembangunan fisik untuk sanitasi dan air bersih," ungkapnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:23 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 2:12 pm

5 KEUNTUNGAN MEMBANGUN SANITASI
Penulis : Bramirus Mikail | Jumat, 1 Juni 2012 | 08:27 WIB
MAKASSAR, KOMPAS.com - Percepatan pembangunan sanitasi di Indonesia menjadi sesuatu yang mendesak untuk segera dibenahi. Bukan hanya dengan meningkatkan jumlah dan mutu sarananya, tapi juga dengan memperbaiki perilaku masyarakatnya. Dengan ketersediaan akses terhadap fasilitas sanitasi dasar, pencemaran lingkungan dapat berkurang sehingga suatu daerah akan memiliki lingkungan fisik yang lebih bersih. Hal tersebut pada akhirnya akan membuat masyarakat lebih sehat dan penyakit akibat buruknya sanitasi dapat dihindari. Sekretaris Pokja AMPL Nasional Maraita Listyasari mengatakan, banyak keuntungan yang diperoleh dengan percepatan pembangunan sanitasi. Pasalnya, persoalan sanitasi tidak melulu hanya terkait dengan masalah kesehatan tetapi juga sangat besar pengaruhnya terhadap perekonomian suatu negara. "Bicara soal sanitasi, ini bukan lagi urusan masing-masing individu. Perlu dukungan semua pihak baik pemerintah, masyarakat dan swasta untuk menciptakan Indonesia yang sensanitasional," ujarnya saat acara workshop dan kunjungan media Mewujudkan Stop BABS, di Sulawesi Selatan, beberapa hari lalu. Pertanyaan yang sering sekali muncul adalah bagaimana kita membuat orang mengerti pentingnya percepatan pembangunan sanitasi? Maraita mengatakan, kita perlu punya pemahaman yang sama, bahwa ketika kita membangun sanitasi, kita punya minimal lima keuntungan.

1. Menghindari pertumbuhan ekonomi semu
Studi Bank Dunia tahun 2007 menyebutkan, akibat sanitasi buruk, negara mengalami kerugian setara 58 triliun. Jumlah kerugian tersebut sama dengan 2,1 persen pertumbuhan domestik bruto Indonesia. Maraita mengatakan, "sekarang banyak orang berpikir kalau tidak ada sanitasi risikonya diare. Padahal ketika kami meriset lebih detail, ternyata sanitasi tidak hanya memengaruhi kesehatan tetapi pariwisata." Kerugian dari sisi ekonomi lainnya adalah penolakan ekspor udang dari Indonesia ke Jepang karena dicurigai mengandung bakteri salmonella. Bahkan Taiwan, Amerika Serikat, Uni Eropa dan beberapa negara lain juga pernah melakukan hal serupa. "Banyak sekali dampak ikutan dari kualitas sanitasi yang buruk. Setelah kita total, kerugian negara itu kira-kira mencapai 58 triliun rupiah," cetusnya.

2. Menurunkan kesakitan diare 94 persen
Hasil studi organisasi kesehatan dunia (WHO) mengatakan, meningkatkan akses bersih, sanitasi, perilaku higienis dan pengolahan air minum skala rumah tangga dapat menurunkan 94 persen kasus diare. Kondisi ini sudah tentu memengaruhi tingkat absensi masyarakat, khususnya anak sekolah. Jumlah hari anak-anak tidak masuk sekolah dapat berkurang 8 hari per tahun. Selain itu juga, tingakat produktivitas masyarakat juga meningkat hingga 17 persen. "Dampaknya akan sangat berpengaruh pada masyarakat yang mendapatkan income harian," ujar Marata.

3. Menurunkan angka kemiskinan
Karena sanitasi buruk, setiap keluarga di Indonesia harus kehilangan rata-rata Rp. 1.250.000 per tahunnya. Meski kelihatannya jumlah ini kecil, tapi bisa dibayangkan bila ini terjadi pada masyarakt yang berada digaris kemiskinan.

4. Manfaat berlipat
Setiap 1 rupiah yang kita tanam untuk investasi sanitasi ternyata bisa menghasilkan manfaat 8-11 kali lipat. Sebagai contoh, dalam pelaksanaan STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat) di Jawa Timur, setiap 1 rupiah yang diinvestasikan bisa memicu investasi masyarakat sebesar 35 rupiah. Artinya, banyak sekali yang kita bisa dapatkan dari pembangunan sanitasi.

5. Mencegah lebih baik daripada mengobati
Menurut studi ADB (Asian Development Bank), jika kita gagal menginvestasikan 1 rupiah untuk sanitasi, sehingga kita tidak mengelola sampah kita, membiarkan sungai-sungai tercemar, untuk membersihkannya lagi akan butuh sebesar 36 rupiah. "Tanpa adanya upaya peningkatan sanitasi, lingkungan akan menjadi lebih buruk, anggaran kesehatan lebih tinggi dan risiko penyakit juga lebih tinggi," ucapnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:49 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 2:13 pm

BAB SEMBARANGAN MASIH JADI BUDAYA
Penulis : Bramirus Mikail | Kamis, 31 Mei 2012 | 06:44 WIB
MAKASSAR, KOMPAS.com - Provinsi Sulawesi Selatan menargetkan pada akhir tahun 2014, sebanyak 80 persen masyarakatnya sudah stop buang air besar sembarangan. Saat ini (periode april-juni 2012) baru 50 persen warga Sulsel yang sudah stop buang air besar di sembarang tempat. Demikian disampaikan oleh Kepala Dinas Kesehatan Sulawesi Selatan, Dr. Rachmat Latief, Sp. PD, M.Kes, saat acara Workshop Media dan Kunjungan Media Mewujudkan Stop BABS 2015, yang diselenggarakan oleh IUWASH, Rabu, (30/5/2012), di Makassar. Rachmat mengatakan, negara dirugikan hampir triliunan rupiah karena kondisi lingkungan yang buruk. Suatu penelitian menunjukkan, apabila faktor lingkungan diperbaiki banyak penyakit bisa dicegah. "Yang harus dirubah adalah mind set. BABS (buang air besar sembarangan) seakan sudah menjadi budaya. Mereka sudah terbiasa BABS di sungai dan kebun," ujarnya. Rachmat mengungkapkan, perlu adanya sebuah perbaikan yang dimulai dari hulu, yaitu bagaimana mengubah perilaku masyarakat. Menurutnya, banyak masyarakat yang tidak sadar bahwa kotoran yang mereka buang sembarangan mungkin tidak berpengaruh kepada pemilik kotoran, tetapi bisa berdampak buruk kepada orang lain. "Terbukti bahwa penyakit infeksi paling banyak di Sulsel adalah diare," cetusnya.

Padahal, kata Rachmat, diare bisa ditekan apabila seseorang menerapkan perilaku hidup bersih, seperti cuci tangan pakai sabun dan stop buang air besar sembarangan. Perbedaan antara penyakit menular dan tidak menular di Sulsel tidak samapai satu persen. Penyakit menular di sulsel masih didominasi oleh diare, sedangkan peyakit tidak menular didominasi oleh stroke. "Kebanyakan kita mencari anggaran ratusan miliar untuk mengurus hal ini. Padahal yang harus kita lakukan adalah mencari penyebab atau akar masalahnya," terangnya. Berbagai usaha tengah dilakukan dinas kesehatan Sulsel, misalnya, dengan mendatangai semua tempat lokasi yang masih tinggi kasus BABS oleh petugas propinsi dan kabupaten. Diharapkan dengan kunjungan langsung kelapangan dan memberikan pemahaman, masayarakat menjadi sadar dan mau membuat jamban. Rachmat menambahkan, pihaknya sudah melatih petugas-petugas sanitarian di Puskesmas. Para sanitarian ini bertugas mengurus soal kebersihan dan mengamati berapa banyak orang yang masih memiliki perilaku BABS. "PHBS kita (Sulsel) masuk lima besar di Indonesia. Tentu kalau PHBS baik, yang sakit menghadapi kuratif angkanya tidak akan terlalu banyak," tutupnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:36 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:57 am

JAMBAN KOMUNAL, SOLUSI BAB DI KAWASAN PADAT PENDUDUK
Penulis : Natalia Ririh | Sabtu, 8 September 2012 | 09:17 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Tinggal di kawasan padat penduduk, aspek kesehatan masyarakat kerap dipertaruhkan. Jangankan memikirkan rumah yang sehat, jarak antara jamban dan pusat air bersih pun tidak terpikirkan. Jelas, kondisi ini berpengaruh buruk pada kesehatan dan berpotensi timbulkan penyakit seperti diare. Menurut Dirjen Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Wilfried H.Purba, sanitasi di Jakarta lebih difokuskan pada ketersediaan jamban dan penyediaan air bersih. Dua hal ini sangat berkaitan dengan potensi timbulnya penyakit di musim panas, seperti diare, demam berdarah, tipes dan infeksi saluran pernafasan. Penyakit-penyakit ini dapat menyebar karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya sanitasi. Misalnya saja, kata Wilfried, ada orang yang memiliki rumah mewah tapi untuk BAB harus disungai. Ketika air sungai mengering pada musim panas, kuman dan bakteri pada tinja berpotensi menyebarkan penyakit. "Solusinya agar masyarakat tidak BAB di sungai dengan membangun jamban komunal. Misalnya untuk 10 keluarga jambannya di satu tempat begitu seterusnya," ujarnya. Namun, diakui olehnya, jamban komunal ini pada prakteknya tidaklah mudah. Masyarakat harus memiliki komitmen kuat untuk terus menjaga keberlangsungan jamban dalam jangka waktu panjang. "Siapa yang mau tempatnya dijadikan jamban komunal, lalu bagaimana pengelolaannya, juga jalur septictanknya dimana, iuran perawatannya seperti apa. Belum lagi ada warga yang suka kebersihan tapi ada juga yang cuek, jamban komunal memang sangat kompleks," ujarnya. Solusi kedua, menurut Wilfried ialah dengan memanfaatkan limbah faeces yang dikumpulkan di satu tempat lalu diolah menjadi biogas. "Tapi memang kalau ini biayanya sangat mahal, sementara pemerintah terbatas anggarannya," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:40 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:57 am

SANITASI MEMBAIK, ANGKA KEMATIAN IBU DAN BAYI TURUN
Penulis : Bramirus Mikail | Kamis, 31 Mei 2012 | 10:47 WIB
MAKASSAR, KOMPAS.com - Perbaikan sanitasi ternyata memiliki andil yang cukup besar dalam memperkecil risiko angka kematian ibu dan bayi baru lahir. Tidak hanya itu, sanitasi yang baik juga membantu memperpanjang usia harapan hidup seseorang. Demikian dikatakan Kepala Sub Bidang Penyehatan Air dan Sanitasi Dasar Direktorat Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Zainal I Nampira saat acara workshop media di Sulawesi Selatan, Rabu, (30/5/2012) kemarin. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional atau RPJMN tahun 2014 menargetkan, akses terhadap air minum harus mencapai angka 67 persen, sedangkan sanitasi dasar 75 persen. Apabila akses sanitasi tidak di atas 75 persen, maka dikhawatirkan dampaknya terhadap kesehatan cukup signifikan. "Sanitasi buruk berhubungan erat dengan angka kematian ibu saat melahirkan, kematian bayi dan usia harapan hidup," ucapnya. Menurut Zainal, diperlukan suatu sinergi antara kesehatan dan sanitasi air minum dalam rangka pembangunan nasional untuk upaya preventif dan promotif. Beberapa masyarakat yang miskin dan memiliki sanitasi yang buruk biasanya diiringi dengan perkembangan munculnya sejumlah penyakit infeksi. Zainal mencontohkan, kontribusi sanitasi sangat berpengaruh pada risiko kematian ibu. Sebanyak 12 persen angka kematian ibu karena penyakit infeksi. Penyakt infeksi ini terjadi karena perilaku antara lain, tidak mencuci tangan saat penanganan persalinan dan pascamelahirkan. Sementara pada bayi, sanitasi buruk dapat menimbulkan penyakit diare. Seperti diketahui, sebesar 32,8 persen kematian pada bayi baru lahir diakibatkan diare atau satu per tiga bayi meninggal karena diare. Hal ini menunjukkan bagaimana sanitasi sangat berperan besar dalam konteks pembangunan nasional dalam rangka menurunkan angka kematian ibu dan bayi saat melahirkan. Zainal berharap, dengan membaiknya akses sanitasi dasar dan imunisasi, risiko kematian bayi pada tahun 2014 bisa ditekan sebanyak 118 per 100.000 penduduk, sedangkan untuk kematian ibu bisa diturunkan menjadi 24 per 1.000 penduduk. "Akses sanitasi dan perilaku higienis penduduk Indonesia masih rendah. Penyakit menular masih menjadi masalah," ungkapnya. Zainal mengungkapkan, dibutuhkan kerja lebih cerdas untuk menyelesaikan masalah ini. Karena rapor pencapaian MDGs ke 5,6 dan 7 Indonesia masih merah, yakni bagaimana masih tingginya angka kematian ibu pasca melahirkan, meningkatnya kasus HIV AIDS, dan kebersihan air dan sanitasi. Edukasi dan kampanye masih perlu digalakkan. Mengubah perilaku dengan cara sederhana seperti membiasakan cuci tangan pakai sabun sebelum makan, sesudah buang air besar dan saat memberi makanan ke anak untuk menurunkan risiko berkembangnya penyakit. "Kelihatannya mencuci tangan sederhana, tapi pengaruhnya begitu penting terhadap kesehatan," tutupnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:48 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:57 am

SANITASI BURUK KORBANKAN KESEHATAN ANAK
Penulis : Natalia Ririh | Senin, 10 September 2012 | 20:31 WIB
BALI, KOMPAS.com - Sanitasi yang tidak layak serta higenitas yang buruk dapat berakibat fatal bagi kesehatan anak. Hal ini membuat mereka rentan terhadap beragam penyakit seperti diare, polio, pneumonia, penyakit kulit serta gangguan kesehatan lainnya. Demikian disampaikan Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi saat membuka acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Senin (10/9/2012. "Anak sangat rentan terhadap air yang tidak bersih. Buang air besar sembarangan akan menyebabkan penyakit dan membuat anak-anak menderita," ujarnya. Data Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF) menyebutkan, angka kematian anak di bawah usia lima tahun di Asia Pasifik dan Timur sangat tinggi. Sekitar 20 tahun lalu, angka kematian anak mencapai 2,2 juta. Tetapi pada tahun 2012 ini, jumlah tersebut berhasil diturunkan lebih dari 1 juta, tepatnya 694.000 kematian atau secara signifikan turun 68 persen selama 20 tahun. Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney, pada kesempatan tersebut menyatakan, ada dua hal yang sangat berpengaruh terhadap kesehatan anak-anak. Pertama, layanan kesehatan umum bagi anak-anak seperti imunisasi, dan kedua adalah akses terhadap air bersih.

Air bersih, sarana sanitasi dan higenitas merupakan hal penting yang tidak hanya berkaitan dengan masalah kesehatan semata. Menurut Angela, banyak negara kehilangan waktu kerja produktif serta hari sekolah karena masyarakatnya sakit yang berkaitan dengan ketersediaan air bersih, sanitasi tidak memadai, serta tidak berperilaku hidup sehat. "Anak yang sakit atau lemah akan terganggu belajarnya kala di sekolah. Mereka juga kesulitan mengembangkan potensinya ketika dewasa bahkan saat memasuki dunia kerja," ujarnya. Jika warganya kerap sakit, potensi ekonomi sebuah negara ikut terancam. Penelitian dari Bank Dunia dan WHO mengungkapkan, dampak sanitasi buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal Rp 9 miliar dolar AS per tahun. Kamboja dan Laos, misalnya, diperkirakan kehilangan sekitar 5 persen dari produk domestik bruto (GDP) karena masalah sanitasi tidak layak dan air bersih. Sedangkan Indonesia, masih harus mengejar ketinggalan untuk mencapai target MDGs tahun 2015. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, untuk target MSGs masalah sanitasi, Indonesia berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari target MDGs 68,8 persen.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:50 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:57 am

SANITASI BURUK, PENYAKIT BERMUNCULAN
Penulis : Lusia Kus Anna | Kamis, 27 Oktober 2011 | 09:28 WIB
Kompas.com - Masyarakat hendaknya mewaspadai penyebaran penyakit yang terkait dengan kualitas air. Apalagi saat ini lebih dari 70 juta penduduk Indonesia belum memiliki akses terhadap sanitasi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan lebih dari seperempat penduduk Indonesia membuang tinja di sungai dan tanah. Hal itu mengakibatkan air sungai di perkotaan setiap hari dicemari ribuan ton tinja dan urin. Bukan hanya air sungai, air tanah di perkotaan pun dinilai belum layak dikonsumsi. Hasil penelitian yang dilakukan Unilever bersama Sucofindo menyebutkan 48 persen air tanah di Jabodetabek dan Bandung positif tercemar E.coli, bakteri penyebab utama diare. "Penyebab utama diare adalah tinja manusia. Karena itu harus diupayakan agar tinja ini jangan sampai mengontaminasi media lain yang bisa masuk ke tubuh manusia, seperti air minum," kata Dr.Budi Haryanto, dari Departemen Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Menurut dr.IBN Banjar, Kepala Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan Dinas Kesehatan DKI Jakarta, air minum seharusnya memenuhi berbagai syarat agar bisa disebut layak konsumsi, antara lain tidak berasa, tidak berbau, tidak berwarna, dan tidak mengandung logam berat. "Walau air dari sumber alam bisa diminum manusia, tapi terdapat risiko air ini telah tercemar oleh bakteri atau logam berat," katanya dalam acara penyerahan bantuan 700 unit sarana pengolahan air Pureit dari PT.Unilever kepada seluruh Puskesmas dan Rumah Sakit Umum Daerah di wilayah DKI Jakarta, Rabu (26/10/11). Selain diare, air yang tercemar bakteri juga bisa menyebabkan berbagai penyakit seperti demam tifus, paratipus, hepatitis, iritasi lambung, kolera, hingga anemia. Untuk itu sosialisasi akan pentingnya pengolahan air perlu terus digalakan. Selain memastikan air yang dikonsumsi aman dari cemaran, perilaku buang air besar di jamban dan hidup bersih sangat efektif memutus rantai penularan penyakit.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 10:02 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:57 am

ANAK-ANAK RENTAN TERHADAP EFEK SANITASI
Nusa Dua, 10 September 2012
Anak-anak paling rentan terhadap efek dari sanitasi dan hygiene yang tidak memadai. Hal ini menempatkan mereka pada risiko yang lebih besar untuk diare, polio, dan konsekuensi kesehatan lainnya yang merugikan. Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, dalam sambutannya pada acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene III (EASAN III) di Nusa Dua, Bali (10/9). Menkes mengatakan, sanitasi yang baik akan mengurangi kerugian ekonomi dan meningkatkan kehadiran murid di sekolah dasar, mengurangi prevalensi penyakit sehingga anak-anak dapat datang kesekolah, meningkatkan produktivitas orang dewasa, memberikan keamanan bagi para perempuan, serta mengurangi polusi dari sumber air. Penelitian Bank Dunia pada dampak sanitasi yang buruk terhadap ekonomi di Asia Tenggara menyebabkan kerugian ekonomi minimal 9 milyar dolar per tahun. Sementara perilaku tidak sehat dan kurang higienis mengarah ke sumber air minum, sumber air rumah tangga, area aliran air, sungai dan lingkungan menjadi tercemar. Sanitasi, hygiene dan perilaku hidup sehat akan mengurangi kejadian penyakit yang ditularkan melalui air. Peningkatan perilaku, seperti pembuangan kotoran yang aman, mencuci tangan dengan sabun, dan perluasan penyediaan sanitasi bisa membawa manfaat sosial, lingkungan dan ekonomi yang signifikan. Pentingnya sanitasi dan kesehatan karena penyakit menular dapat dicegah dengan air minum yang aman, sanitasi yang memadai dan perilaku higienis, kata Menkes. Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun adalah kebiasaan yang sederhana, dapat mencegah berbagai penyakit menular seperti diare, tipus, dan bahkan flu burung dan H1N1. Penyakit diare dapat dikurangi sampai 40 persen hanya dengan mencuci tangan dengan sabun. Jika kebiasaan mencuci tangan dengan sabun dikombinasikan dengan kegiatan lain seperti meninggalkan praktek buang air besar di tempat terbuka, membuang sampah di tempat yang tepat, mengelola air minum dengan benar, diare dapat dicegah sampai dengan 80-90%.

Laporan Monitoring bersama WHO dan UNICEF tahun 2012 menyebutkan, target MDG air minum telah tercapai. Lebih dari 2 miliar orang memperoleh akses ke sumber-sumber air yang lebih baik tahun 1990-2010. Sementara proporsi populasi global masih menggunakan sumber tidak baik diperkirakan hanya 11 persen. Hal tersebut adalah kurang dari setengah dari 24 persen perkiraan untuk tahun1990. Meskipun belum memungkinkan dunia akan memenuhi target sanitasi MDG pada tahun 2015, namun telah mengalami kemajuan yang menggembirakan sedang dibuat. Secara global, 63 persen dari populasi yang menggunakan fasilitas sanitasi yang layak, meningkat hampir 1,8 miliar orang sejak tahun 1990. "Hal ini menunjukkan bahwa kita berada di atas 10 persen dari yang 'on track'. Pada tingkat kemajuan saat ini kita akan mencapai 67 persen cakupan pada tahun 2015, lebih baik dari proyeksi sebelumnya tapi masih jauh dari 75 persen yang diperlukan untuk mencapai target," tambah Menkes. Lebih lanjut disampaikan, laporan TWG WSH "Sanitation in East Asia toward the MDG sanitation target and beyond" menunjukkan Asia Timur secara keseluruhan telah mencapai target sanitasi MDG. Menurut proyeksi cakupan sanitasi, target MDG dari 68% akan terlampaui sebesar 8 persen pada tahun 2015. Diungkapkan oleh Menkes, kesenjangan dalam sanitasi pedesaan dan perkotaan bahkan lebih jelas dibandingkan dengan penyediaan air minum. Secara global, 79 persen dari penduduk kota menggunakan fasilitas sanitasi yang baik, dibandingkan dengan 47 persen dari penduduk pedesaan. Di daerah pedesaan, 1,8 miliar orang tidak memiliki akses ke sanitasi yang baik, yang mewakili 72 persen dari total global yang belum terlayani. Namun, banyak kemajuan telah dibuat di daerah pedesaan sejak tahun 1990: 724 juta penduduk pedesaan telah mendapatkan akses ke sanitasi yang baik, sementara jumlah orang yang belum terlayani di daerah perkotaan telah mencapai 183 juta.

Ada beberapa alasan sejumlah besar keluarga tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi dan air minum. Di antaranya adalah rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengaruh sanitasi dan air minum pada kesehatan. Selain itu, perilaku yang tidak mendukung perilaku bersih dan sehat, karena tingkat ekonomi masyarakat yang tidak mampu untuk membangun fasilitas sanitasi dan tidak memiliki akses terhadap air minum yang memadai. Easan-3 di Bali (Indonesia) penting sebagai kelanjutan dari Easan-1 di Beppu (Jepang) dan Easan-2 Manila (Filipina) untuk merumuskan kemitraan sanitasi regional antara para pemangku kepentingan, pemerintah, sektor swasta, donor, perguruan tinggi dan masyarakat untuk mencapai target sanitasi MDG. Percepatan cakupan sanitasi bagi masyarakat di wilayah Asia Timur dapat dilakukan melalui peningkatan kerjasama antara negara-negara, terutama kerjasama antara negara-negara yang memiliki cakupan sanitasi universal dan negara-negara yang telah mencapai target MDGs, kata Menkes. “Sesuai dengan konferensi Easan-3, Indonesia melakukan beberapa kegiatan sanitasi dan hygiene seperti Deklarasi Bebas BAB di sembarang tempat dan Pengembangan Strategi sanitasi Kota di berbagai kabupaten/kota dalam rangka mempercepat perbaikan sanitasi dan perilaku higienis”, ujar Menkes. Di akhir sambutannya Menkes mendorong para peserta untuk berbagi pengalaman satu sama lain, membangun komitmen pribadi untuk sanitasi, dan membantu menciptakan dan mempertahankan kemauan di tingkat politik. Menkes berharap diskusi pada konferensi Easan-3 akan memberdayakan negara-negara Asia Timur untuk mengatasi tantangan berat dari sanitasi dan hygiene di wilayah itu.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian
Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor
telepon: (021) 52907416-9, faksimili: (021) 52921669, Pusat Tanggap Respon
Cepat (PTRC): <kode lokal> 500-567 dan 081281562620 (sms), atau e-mail kontak@depkes.go.id


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 2:41 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:58 am

PENINGKATAN SANITASI BUTUH PERUBAHAN PERILAKU
Penulis : Natalia Ririh | Kamis, 13 September 2012 | 09:26 WIB
BALI, KOMPAS.com - Masih adanya masyarakat yang melakukan Buang Air Besar Sembarangan (BABS) adalah fakta masih buruknya sanitasi di Indonesia. Umumnya, masyarakat melakukan BABS seperti di sungai karena sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Dulu, ketika penduduk Indonesia tidak sepadat saat ini seolah tidak terasa dampaknya bagi kesehatan. Namun, kini populasi masyarakat Indonesia sudah 200 juta lebih penduduk. Jika banyak dari masyarakat masih BAB di sungai, maka sungai menjadi sangat kotor serta rentan sekali meningkatkan penyakit seperti diare, pneumonia, tipes, penyakit kulit dan penyakit kesehatan lainnya. Principal Regional Team Leader Water and Sanitation Program (WSP) East Asia and the Pacific, Almund Weitz, mengatakan BABS adalah masalah perilaku buruk masyarakat yang harus diubah. Perubahan sikap masyarakat mengarah pada perilaku hidup bersih dan sehat merupakan kunci penting peningkatan sanitasi di Indonesia, di samping pernyediaan fasilitasnya. "Tidak perlu banyak dana untuk sanitasi, tetapi utamanya adalah perubahan sikap. Anggaran sanitasi di Indonesia meningkat dananya, tetapi sangat perlu pelatihan dan peningkatan kapasitas masyarakat," ujarnya saat ditemui di acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali.

Pemerintah Indonesia, menurut Almund, memang masih jauh tertinggal dari target MDGs. Akan sangat berat bagi Indonesia untuk mencapai target tahun 2015. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, untuk target MDGs masalah sanitasi, Indonesia berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target 62,41 persen. Pemerintah harus melakukan proyek massal daripada hanya beri subsidi. Almund menilai, perbaikan sanitasi perlu dilakukan secara bersamaan mengingat jumlah penduduk yang sangat padat. "Program subsidi atau percontohan hanya berdampak bagi sedikit orang saja. Tujuan proyek percontohan untuk memancing yang lain melakukan hal serupa, tapi ternyata tidak berhasil juga," katanya. Selain masalah perubahan perilaku, kritik Almund lainnya adalah soal pendistribusian toilet. Di daerah rural atau pedesaan, masyarakat yang ingin membeli kloset dihadapkan pada harga berbeda dan mahal. Menurutnya, pemerintah perlu mengatur hal ini agar upaya perbaikan sanitasi semakin terdukung. "Jangan pula jadi sia-sia karena masyarakat tidak tahu berapa harga kloset. Beli kloset murah tidak apa-apa asalkan tidak bikin malu kalau ada tamu. Penafsiran keliru kerap terjadi kalau merancang pilihan-pilihan dengan kategori murah," jelasnya.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 13, 2012 1:52 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sun Jul 01, 2012 5:58 am

JANGAN ANGGAP REMEH DIARE!
Penulis : Natalia Ririh | Rabu, 12 September 2012 | 07:11 WIB
BALI, KOMPAS.com - Banyak orang beranggapan diare tidak akan berakibat serius. Penyakit ini tidak terlalu menakutkan dibandingkan tumor, kanker, atau diabetes. Sebagian orang tua saat mendapati anaknya terserang diare terkadang menganggap sebagai penyakit biasa. Namun, menurut Badan PBB untuk anak-anak (UNICEF), diare merupakan penyakit mematikan bagi anak. Jikalau tidak berakibat kematian, diare bisa mengakibatkan infeksi berulang yang sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney saat ditemui dalam acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Selasa (11/9/2012) mengatakan penyakit diare pada anak sangat serius dampaknya. Anak akan mengalami kekurangan cairan, tubuhnya mengalami dehidrasi, sangat mempengaruhi nutrisi dan otak sehingga anak sulit berkonsentrasi saat belajar. Data UNICEF menyebutkan, angka kematian anak di bawah usia lima tahun di Asia Pasifik dan Timur sangat tinggi. Sekitar 20 tahun lalu, angka kematian anak mencapai 2,2 juta. Tetapi pada tahun 2012 ini, jumlah tersebut berhasil diturunkan lebih dari 1 juta, tepatnya 694.000 kematian atau secara signifikan turun 68 persen selama 20 tahun. Dr. Robin Nandy dari UNICEF menambahkan, sekitar 150.000 anak di bawah usia lima tahun di Indonesia meninggal karena penyakit diare. Jika anak tidak mengalami kematian, diare bisa terjadi secara berulang kepada anak-anak. Akibatnya, anak sulit tumbuh tinggi, kurang nutrisi, dan kurang konsentrasi untuk belajar. Nandy mengatakan, penyebab maraknya penyakit diare di Indonesia karena sanitasi tidak layak serta sulitnya mendapatkan air bersih. Untuk mengetaskan penyakit ini, menurutnya, ada tiga hal yang perlu dilakukan baik pemerintah maupun masyarakat. "Pertama harus ada kebijakan pemerintah yang mendukung sanitasi layak dan akses air bersih. Kedua, masalah pengadaan fasilitas misalnya seperti toilet bersama sehingga orang tidak BAB sembarangan lagi. Terakhir, dua hal tadi sulit tercapai jika tidak ada perubahan prilaku menuju hidup bersih dan sehat," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:22 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 22Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 12 ... 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: