Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 11 ... 19, 20, 21, 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Nov 29, 2012 3:51 pm

MENGHALAU KUMAN DI SEKOLAH
Rabu, 19 Desember 2012 Seputar Indonesia
Cuci tangan adalah salah satu cara efektif untuk terbebas dari kuman. Biasakan anak mencuci dengan sabun sebelum dan sesudah makan. Sekolah merupakan salah satu “sarang” kuman yang dapat menyebabkan penyakit berbahaya. Anak-anak harus diberi pemahaman bagaimana menghindarinya. Tahukah Anda jika sekolah adalah tempat yang paling disenangi “gerombolan”kuman penyakit untuk bersemayam dan berkembang biak.Bagaimanapun,sekolah merupakan tempat umum sehingga banyak orang yang datang dan pergi dari mana pun dan membawa kuman penyakit yang bermacam-macam. Area seperti toilet yang kotor, kantin dengan makanan yang terkontaminasi, gunungan sampah yang tidak dibersihkan dan lokasi lainnya merupakan ancaman kesakitan yang bisa setiap waktu menyerang anak.Apalagi anakanak suka sekali menggosokgosok, mengorek-ngorek,dan mengusap-usap hidung. Kebiasaan ini mengakibatkan mereka mudah terpapar kuman, bakteri,dan virus yang akhirnya masuk ke tubuh anak sehingga menimbulkan penyakit. “Anak-anak yang berkumpul di sekolah adalah cara paling ampuh untuk kuman berkembang di sebuah komunitas,”kata Athena P Kourtis MD PhD MPH, seorang dokter anak dan penulis buku Keeping Your Child Healthy in a Germ-Filled World. Mengapa? Pertama,sistem kekebalan tubuh anak masih belum matang dibandingkan orang dewasa sehingga lebih rentan terhadap paparan kuman.Di sekolah, anak-anak berada dalam satu tempat dan saling berdekatan satu sama lain.Dan lagi,anakanak cenderung memiliki kebiasaan jorok,seperti menempelkan jari dan bendabenda kotor ke mulut.

Menggabungkan sejumlah faktor di atas dan kondisi lingkungan yang tidak memadai membuat penyebaran kuman di sekolah menjadi tak terhindarkan.“Tetapi beberapa jenis penyakit masih bisa dihindari.Dengan sebuah langkah yang sederhana,anak bisa terhindar dari bahaya,”ujar Philip Tierno PhD,penulis buku The Secret Life of Germs,seperti dikutip laman WebMD. Adapun yang banyak terjadi adalah,satu anak menderita batuk atau bersin di kelas sehingga menular ke teman-temannya. Atau satu orang sedang diare karena lupa mencuci tangan setelah menggunakan kamar mandi dan akhirnya menginfeksi semua benda yang dia sentuh. “Karena itu,pencegahan dengan selalu mencuci tangan menggunakan sabun adalah hal yang amat penting,”sebut Albert Martinez,seorang dokter anak berbasis di San Diego,California, Amerika Serikat.Ajari anak untuk menggunakan air dan sabun, lalu gosok tangan selama 20 detik. Bekali anak Anda dengan cairan pembersih tangan (hand sanitizer) dengan kandungan alkohol agar terbebas dari kuman. Cairan pembersih tangan sebaiknya juga digunakan saat sebelum makan siang,setelah menggunakan mousekomputer bersama,rautan pensil,atau benda-benda di tempat umum lainnya.

Meskipun anak kadang ingin membagi makan siang dengan teman-temannya, ingatkan dia untuk tidak berbagi botol air,makanan,atau barangbarang pribadi lainnya. Survei morbiditas yang dilakukan Subdit Diare Kementerian Kesehatan (Kemenkes) dari 2000- 2010 terlihat tingkat kejadian penyakit diare meningkat terus dari 301/1.000 penduduk menjadi 411/1.000 penduduk.Sementara itu,Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan,di Indonesia sekitar 31.200 anak balita meninggal setiap tahun karena diare. Hal ini akibat fasilitas sanitasi yang kurang memadai di sekolah, ditambah masih rendahnya budaya perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),seperti kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS).Dra Cucu Cakrawati MKes,Kasubdit Pengamanan Limbah Udara dan Radiasi,Direktorat Penyehatan Lingkungan Kemenkes,menuturkan, penyediaan fasilitas cuci tangan di sekolah sangat penting. Hal ini juga merupakan upaya untuk mendukung kegiatan sanitasi total berbasis masyarakat (STBM) yang menjadi program lintas sektor di bawah Kemenkes. STBM merupakan upaya preventif yang hanya memerlukan kesadaran dan kemauan untuk mengubah perilaku menuju PHBS melalui penciptaan lingkungan bersih dan sehat,baik di lingkungan masyarakat maupun di sekolah, serta pengadaan sanitasi. “Adapun strategi nasional STBM memiliki outcome indicator, yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku,” ujarnya saat acara pemberian donasi Rp100 juta berupa fasilitas cuci tangan kepada 20 sekolah dasar (SD) persembahan Lifebuoy dan Hypermart di Gedung Serbaguna Dinas Pendidikan DKI Jakarta,Jakarta. ● rendra hanggara


Last edited by gitahafas on Thu Dec 20, 2012 4:36 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Nov 29, 2012 3:53 pm

YUK, AJARI ANAK HIDUP BERSIH
Penulis : Unoviana Kartika | Kamis, 20 Desember 2012 | 16:43 WIB
Kompas.com - Pola hidup bersih dan sehat perlu diajarkan pada anak sejak usia dini. Kebiasaan itu antara lain mencuci tangan hingga bersih dengan sabun dan membilasnya di air mengalir. Orangtua bisa mengajarkan kebiasaan tersebut sesuai karakter anak. "Anak-anak memang karakter umumnya terburu-buru dan tidak sabaran, terutama jika mereka memiliki tujuan tertentu. Hal inilah yang membutuhkan kreativitas orang tua untuk memberikan inovasi metode pembelajaran pada anak," kata Vera Itabiliana Hadiwidjojo, psikolog anak dan remaja dari Lembaga Psikologi Terapan Universitas Indonesia pada acara talkshow yang bertajuk "Cuci Tangan Pakai Sabun dengan Seru dan Menyenangkan" Kamis (20/12/2012) di Jakarta. Vera menyarankan agar orangtua memberikan contoh terlebih dahulu bagaimana pola hidup yang bersih itu. "Dengan memberikan contoh, anak-anak pun semakin mudah diarahkan karena memiliki "role model" dalam hidup bersih," katanya. Supaya anak tidak bingung mengapa mereka diwajibkan berperilaku bersih, orangtua harus menjelaskan alasannya. Misalnya supaya terhindar dari penyakit. Jadikan kebiasaan menjaga kebersihan sebagai gaya hidup karena dilakukan terus menerus. Jadi jangan berhenti mengajarkan dan mengajak anak untuk tetap menjalankan hidup bersih hingga anak pun dapat melakukannya sendiri. Terakhir, buat pembelajaran hidup bersih menjadi menyenangkan dengan variasi cerita, lagu, dan imajinasi ketika mengajak anak untuk melakukan kegiatan-kegiatan hidup bersih misalnya menyanyikan lagu mencuci tangan selagi mencuci tangan, atau berdongeng saat menggosok gigi, dan sebagainya.


Last edited by gitahafas on Thu Dec 20, 2012 5:20 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Wed Dec 05, 2012 8:18 pm

BEGINI CARANYA CUCI TANGAN YANG BENAR
Kamis, 03 Januari 2013, 06:46 WIB
REPUBLIKA.CO.ID WASHINGTON -- Orangtua, dokter, hingga guru di sekolah selalu mengimbau untuk rajin mencuci tangan. Menjaga sanitasi tangan anda sangat diperlukan jika anda akan menyiapkan makanan, atau masakan. Namun tahukah anda bagaimana mencuci tangan yang benar? Berikut rinciannya, dikutip dari SymptomFind, Kamis (3/1).

1. Cucilah tangan anda dengan air bersih dan air mengalir
2. Lumuri kulit tangan anda dengan sabun cair atau sabun batang
3. Gunakan scrub atau busa untuk membersihkan tangan anda minimal 20 detik. Jika anda ingin benar-benar menghitung 20 detik, maka cobalah menyanyikan lagu 'Happy Birthday' di kepala anda sebanyak dua kali berturut-turut. Itu waktunya sangat cukup.

4. Pastikan anda tak hanya mencuci telapak tangan saja, melainkan juga punggung tangan, sela-sela jari, di bawah kuku, dan di sekitar pergelangan tangan

5. Keringkan tangan anda dengan handuk bersih atau pengering udara
6. Cobalah menggunakan handuk untuk mematikan keran air

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit 'Mayo Clinic' Amerika, mencuci tangan yang benar adalah salah satu langkah penting untuk menghindari kuman penyakit menyebar kepada orang-orang sekitar anda. Bukan hanya anak-anak saja yang harus rajin mencuci tangan, melainkan semua orang. Lalu, kapan saja waktu yang tepat untuk mencuci tangan?

1. Setiap kali anda akan menyiapkan makanan
2. Sebelum amda makan makanan, termasuk makan camilan
3. Sebelum dan sesudah berada di sekitar orang sakit
4. Sebelum dan sesudah mengobati luka
5. Sesudah menggunakan kamar mandi
6. Sesudah mengganti popok bayi
7. Sesudah membantu seorang anak kecil menggunakan kamar mandi
8. Sesudah menyentuh hal-hal kotor, khususnya toilet dan sampah
9. Setelah menangani kotoran hewan
10. Setelah batuk, bersin, atau meniup hidung anda

Jika anda tak memungkinkan untuk menemukan air atau wastafel, jangan khawatir. Anda harus memastikan anda memiliki pembersih tangan yang mengandung alkohol. Pembersih tangan yang baik setidaknya mengandung 60 persen alkohol. Meski demikian, menggunakan pembersih tangan tak sebagus air untuk menghilangkan kuman. Jika tangan anda kotor, usahakan mencari air terlebih dahulu.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 03, 2013 9:21 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Wed Dec 19, 2012 10:35 am

CARA GAMPANG TANGKAL KUMAN
Sabtu, 29 Desember 2012 Seputar Indonesia
DI setiap jengkal tubuh manusia terdapat kuman yang sewaktu-waktu dapat membahayakan kesehatan.Terlebih anak-anak yang kerap berkontak dengan kuman lewat aktivitas yang dilakukan. Kuman berada di sekitar kita,entah di tanah, tempat sampah,hingga di tubuh sekalipun. Bahkan,setiap jengkal tubuh manusia tak luput dari kehadiran kuman.Terdapat berjuta-juta bakteri pada tubuh manusia.Menurut penelitian,setiap 1 inci tubuh manusia disinggahi bakteri.Sebagian besar karena udara dari lingkungan dan benda-benda yang tersentuh oleh kita.Bakteri-bakteri tersebut ada dan berkembang biak karena sifat dari kulit manusia itu sendiri yang terkadang basah dan lembap. Studi yang dilakukan oleh Price and Larson, di tangan yang terlihat bersih saja bisa terdapat 4,6 juta unit koloni kuman per sentimeter persegi.Kuman yang bersarang ini seperti ecoli yang merupakan penyebab diare,dapat bertahan hidup di tangan selama berjam-jam. Kuman ini menanti momen untuk masuk dan menginfeksi tubuh manusia. ”Kuman itu dapat masuk melalui mulut,mata,hidung,juga luka akibat garukan di kulit,”ujar dr Herbowo Soetomenggolo SpA,dokter spesialis anak dalam acara Coaching Clinicyang dikemas Lifebuoy dengan tema “Ajak Anak-anak Perangi Penyebaran Kuman di Tangan dengan Cara yang Menyenangkan”,bertempat di Metropolitan Theater of KidZania, Jakarta,Kamis (20/12). Agar terhindar dari kuman yang membahayakan kesehatan,kita hanya perlu melakukan hal sederhana yang harus menjadi kebiasaan sehat,yaitu cuci tangan.Ya,mencuci tangan dengan sabun dapat mengurangi risiko terserang penyakit berbahaya seperti diare, hingga 47%.

Dikatakan Amalia Sarah Santi selaku Senior Brand Manager Lifebuoy PT Unilever Indonesia,mencuci tangan memang cara yang mudah dan murah guna mengurangi risiko infeksi kuman. CTPS (cuci tangan pakai sabun) sudah terbukti dapat memutus penyebaran kuman yang banyak dimulai dari tangan. ”Apalagi,anak-anak kerap berkontak dengan kuman lewat aktivitas fisik yang tinggi,” ungkap Amalia.Lebih jauh,dia berharap coaching clinic tersebut dapat semakin meningkatkan kesadaran dengan tindakan sederhana,yaitu kebiasaan mencuci tangan dengan sabun cukup dengan waktu 10 detik. Hal tersebut akan menjadikan salah satu solusi hidup sehat yang dikemas secara menyenangkan bagi anak.Dibenarkan Herbowo,hendaknya kita lebih sering mencuci tangan menggunakan sabun,lebih sering mengganti pakaian,dan mandi lebih bersih. ”Untuk meminimalkan jumlah bakteri yang hinggap di tubuh,terutama pada anak-anak yang begitu banyak akses untuk memudahkan masuknya bakteri dalam tubuh,”kata dokter yang membuka praktik di Rumah Sakit Hermina Jatinegara itu. Sayangnya,menurut penilaian Herbowo,masih banyak orang yang memandang sepele kebiasaan mencuci tangan ini,bukan hanya anak-anak,tapi orang dewasa sekalipun. ”Banyak orang beranggapan tangan hanyalah telapak.Padahal, tangan terdiri dari telapak,punggung tangan,pergelangan tangan, jari,sela-sela jari,dan kuku,”katanya.Di setiap bagian tangan ada beragam jenis kuman yang berpeluang menimbulkan penyakit tertentu. Kebiasaan mencuci tangan ini penting ditanamkan oleh para orang tua.Vera Itabiliana Hadiwidjojo Psi,psikolog anak dan remaja dari LPT-UI mengingatkan,kebiasaan baik ini juga perlu dilakukan lewat cara yang menyenangkan dan diulang.Dengan demikian,lama-lama anak akan memiliki kebiasaan yang baik demi menjaga kesehatan dirinya.sri noviarni sri noviarni


Last edited by gitahafas on Sat Dec 29, 2012 7:52 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Dec 20, 2012 4:37 pm

CEGAH DIARE DENGAN CUCI TANGAN
Senin, 31 Desember 2012, 21:06 WIB REPUBLIKA.CO.ID, Oleh: Subroto/Wartawan Republika
Wajah Raisa Anita (13 bulan) murung. Biasanya balita berperawakan kecil itu selalu cerewet dan tak bisa diam. Tapi sudah dua hari ini Raisa lebih banyak berbaring di tempat tidur. “Buang airnya sudah sering. Kata dokter kena diare,” ujar Yuliani (34 ahun) ibu Raisa, di Jakarta, Sabtu (31/12). Mengutip dokter yang memeriksa anaknya, Yuliani mengatakan, kemungkinan kuman masuk ke tubuh Raisa karena makanan yang kurang bersih. Bisa juga makanannya bersih, tapi tangan yang memegangnya kotor. “Maklum anak kecil, apa saja dimasukkan ke dalam mulut ,” kata Yuliani yang tinggal di kawasan Pasar Minggu, Jakarta Selatan ini. Bagi ibu-ibu seperti Yuliani, memasuki musim penghujan seperti sekarang ini berarti harus ekstrawaspada. Anak-anak sering terserang penyakit. Dokter spesialis anak dr Muzal Kadim SpA(K) mengatakan, musim pengujan, seperti halnya juga musim panas dapat meningkatnya kasus penyakit diare pada anak. Hal itu karena biasanya pada saat musim hujan air banyak tersedia, namun terkontaminasi akibat sanitasi yang tidak bagus dan lingkungan yang tidak sehat. “Saat perubahan cuaca musim panas ataupun musim hujan, kasus diare bisa meningkat, tapi terutama memang pada saat musim hujan,” kata Muzal, Sabtu (31/12). Hasil juga penelitian juga membuktikan bahwa perubahan cuaca berdampak pada peningkatan kejadian (morbiditas) diare, yaitu kelembaban temperatur berdampak pada replikasi bakteri pathogen di lingkungan. Saat ini di Indonesia diare masih memiliki angka morbiditas cukup tinggi. Hasil kajian Morbiditas Diare di Masyarakat 2010 menunjukkan angka kesakitan diare pada semua golongan umur mencapai rerata 411 per 1.000 penduduk.

Penyakit berbahaya
Diare adalah penyakit berbahaya dan tidak bisa diremehkan. Jika diare berlangsung terus menerus, bayi atau anak akan terkena dehidrasi yang bisa berbahaya organ-organ tubuhnya. Terlambat penangangan, ancamannya jiwa melayang. Hingga kini diare menjadi penyebab utama kesakitan dan kematian pada anak. Catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, diare membunuh sampai 2,5 juta balita di seluruh dunia setiap tahunnya. Jika dipersentase, angka kematian akibat diare mencapai sekitar 20 persen dari seluruh kematian balita di seluruh dunia. Pada negara berkembang diare menduduki lima besar penyebab kematian pada anak. Bagaimana di Indonesia? Menurut penelitian WHO, 100 ribu anak Indonesia meninggal setiap tahunnya karena diare. Data yang dirilis oleh Riskedas tahun 2007 menyebutkan diare termasuk salah satu dari dua penyebab kematian terbanyak pada anak-anak, selain pneumonia. Kematian pada pada anak umur 4-11 tahun yang disebabkan diare sebanyak 25, 5 persen dan pneumonia 15,5 persen. Diare didefinisikan sebagai perubahan konsistensi atau frekuensi buang air besar dibandingkan biasanya. Ada pula definisi yang menyebutkan diare lebih dari tiga kali per hari disertai perubahan konsistensi menjadi lebih cair dengan atau tanpa disertai lendir dan darah.

Muzal menjelaskan, diare dapat disebabkan bermacam-macam hal, seperti infeksi virus ataupun bakteri. Menurut penelitian, jelasnya, sebanyak 40 hingga 60 persen diare pada anak terjadi akibat Rotavirus. Biasanya virus masuk mulut melalui tangan yang terkontaminasi kotoran akibat tidak mencuci tangan. “Diare biasanya dahului dengan muntah dan deman. Beberapa jam kemudian atau besoknya baru diare,” jelas Muzal. Ia memaparkan, ada tiga jenis diare. Pertama diare cair akut. Jenis ini yang paling banyak terjadi, Penyebabnya adalah Rotavirus. Biasanya terjadi di bawah dua minggu. Jenis kedua adalah disentri. Ini terjadi jika diare disertai dengan lendir darah. Jenis ketiga diare persisten. Lamanya lebih dari 14 hari. Diare jenis ketiga lebih rumit penanganannya dibandingkan pertama dan kedua. Dokter spesialis anak lainnya, Prof dr Badriul Hegar SpA(K) menambahkan, diare dapat dikenal dari gejala klinis yang diakibatkannya. Yaitu diare cair dan sering (kadang profuse), kemerahan di sekitar anus, tinja berbau asam, sering disertai buang angin (flatus), gerakan dan suara usus meningkat. Bila sudah terkena diare, saran Hegar, langkah awal yang paling penting dilakukan adalah mencegah tidak terjadi dehidrasi (kekurangan cairan dan elektrolit tubuh). Caranya dengan memberikan cairan rehidrasi oral (oralit) sebanyak 5-10 ml per kg BB. Jika berat anak 10 kg misalnya, maka oralit yang diberikan sebanyak 50 hingga 100 ml. “Bila diare tidak membaik harus dibawa ke dokter,” kata Hegar yang juga ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini.

Membiasakan cuci tangan
Badriul Hegar menganjurkan untuk cuci tangan sebelum makan, apalagi sebelum dan sesudah kontak dengan anak yang terkena diare. Hal ini akan mengurangi resiko tertular penyakit itu. Cuci tangan dengan desinfektan, kata Hegar sangat dianjurkan walaupun ada mikroorganisme yang hanya mati dengan alkohol. “Kebiasaan mencuci tangan adalah upaya positif yang dapat menurunkan kejadian diare,” tegas Hegar. Penelitian-penelitian menunjukkan bahwa cuci tangan pakai sabun (CTPS) dapat mencegah penyakit termasuk diare. Penelitian oleh Curtis V Cairncross, menemukan bahwa CPTS secara rutin bisa menurunkan risiko diare sampai 47 persen. Selain itu, CPTS dapat mencegah diare yang berat hingga 59 persen. Studi di Paskistan pada 300 keluarga memperlihatkan dampak dari CPTS dapat menurunkan risiko menderita diare sampai 53 persen dibandingkan dengan kelompok kontrol, infeksi saluran nafas 50 persen, dan impetigo (penyakit infeksi kulit) sampai 34 persen. CTPS selain mengurangi kemungkinan terkena penyakit diare juga penyakit lainnya seperti cacingan, infeksi saluran pernafasan akut (ISPA), dan flu burung. Walaupun hampir semua orang pernah mendengar tentang CPTS, tetapi penelitian mendapatkan kebiasaan CPTS hanya dilakukan mulai dari 0 hingga 45 persen di berbagai negara berkembang. Untuk menggalakkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) khususnya CTPS, kampanye dilakukan oleh Unilever Indonesia melalui salah satu brand sabun kesehatan keluarga Lifebuoy. Senior Brand Manager Lifebuoy, Amalia Sarah Santi, mengatakan pihaknya menggelar program Gerakan 21 Gerakan 21 Hari untuk Indonesia yang Lebih Sehat.

Kegiatan ini, kata Amalia ditujukan agar keluarga Indonesia terutama anak-anak usia SD agar memiliki kebiasaan PHBS dan CTPS dalam kehidupan sehari-hari. Gerakan ini diawali dengan PHBS untuk kepala sekolah dan guru UKS. Sasaran lainnya adalah Dokter Kecil sebagai agen kesehatan perubahan PHBS dan CTPS di sekolah dan keluarga. Tahun ini, kata Amlia, Gerakan 21 Hari sudah mencapai 1.700 sekolah di 10 provinsi. Amalia memaparkan, Gerakan 21 Hari telah dilakukan sejak 2011 ini untuk melakukan kebiasaan sehat di lima saat penting. Yakni mandi menggunakan sabun, CTPS sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam, dan setelah dari toilet selama 21 hari berturut-turut tanpa putus. “Mengapa 21 hari, karena menurut pakar psikologi, untuk mengubah kebiasaan buruk dan memulai kebiasaan baru yang lebih baik diperlukan waktu kurang lebih 21 hari, “ jelas Amalia tentang gerakan itu. Ia mengungkapkan, berdasarkan penelitian WHO, bakteri akan mencapai jumlah terbanyak (periode emas) dalam kurun waktu enam jam. “Jadi apabila kita mencuci tangan lima kali sehari kita dapat mencegah bakteri berkembang,” tuturnya. Yuliani mengakui bahwa membiasakan mencuci tangan masih belum dia terapkan pada Raisa. Tapi setelah kejadian diare pada anaknya yang semata wayang itu, ia berjanji akan membiasakan diri untuk hidup lebih sehat. “Kata dokter, saya harus lebih perhatian pada makanan dan lingkungan bermain Raisa. Dan yang penting, harus rajin cuci tangan pakai sabun,” tegasnya.


Last edited by gitahafas on Tue Jan 01, 2013 1:50 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Thu Dec 20, 2012 5:20 pm

Iih! KUMAN JAHAT HIDUP DI HANDPHONE
Nurvita Indarini - detikHealth Kamis, 01/11/2012 08:27 WIB
Jakarta, Hati-hati handphone bisa membuat Anda sakit. Sebab di handphone bisa jadi bersemayam banyak kuman jahat. Kuman itu bisa masuk melalui telinga, hidung, atau mulut orang yang menggunakan handphone tersebut. Kuman akan banyak menempel di handphone jika gadget itu menjadi barang yang pertama dipegang seseorang setelah keluar dari toilet. Catatannya, orang yang baru keluar toilet itu tidak mencuci tangan dengan sabun. Dr Jeffrey Kain, Presiden American Academy of Family Physicians, mengatakan gadget mendekatkan tangan yang penuh kuman dengan wajah. Nah, kuman-kuman itu berpotensi menyusup ke telinga, mata, hidung, dan mulut dan saat si pemilik menggunakannya untuk berkomunikasi. Demikian dikutip dari The Week, Kamis (1/11/2012). Saat The Wall Street Journal melakukan tes secara acak telepon-telepon yang ada di perkantoran Chicago, hasilnya pun mengerikan. Banyak bakteri yang berasosiasi dengan kontaminasi tinja bersemayam di handphone. Iih! Meski memang tidak ditemukan E. coli ataupun bakteri staphylococci, namun dalam tes itu ditengarai ada bakteri koliform dalam jumlah yang tidak normal. Bakteri pembusuk ini memproduksi bermacam-macam racun seperti indol dan skatol yang dapat menimbulkan penyakit bila jumlahnya berlebih di dalam tubuh. Bakteri-bakteri yang bersemayam di handphone tersebut berpotensi menimbulkan bahaya. Flu, penyakit mata yang menular, dan diare, dapat menyebar hanya dari handphone. Karena itu membersihkan handphone secara teratur sangatlah penting. "Kami sedang memberi makan makhluk kecil," ujar Dr. Michael Schmidt, dan wakil ketua mikrobiologi dan imunologi di Universitas Kedokteran Carolina Selatan. Lalu dia menunjukkan goresan berminyak di layar handphone. Menurutnya, di mana ada lemak, di sana ada kuman. Lalu bagaimana caranya kuman-kuman itu tinggal di handphone? Kuman melekat saat handphone itu diletakkan sembarangan di restoran, tempat fitnes, dan di mana saja. Bahkan kadang ada orang yang membawa handphone-nya ke toilet, sehingga kuman yang ada di toilet lebih mudah menempel. Nah, cara untuk mengurangi kontaminasi kuman adalah dengan memanfaatkan alkohol. Bagian belakang hingga samping handphone bisa dibersihkan dengan hati-hati menggunakan alkohol. Sedangkan untuk bagian layar tentu saja jangan gunakan alkohol karena sejumlah produsen handphone tidak menyarankan penggunaan pembersih jendela, semprotan aerosol, pelarut, alkohol atau amonia untuk membersihkan layar handphone. Cara lainnya untuk mengurangi kuman di permukaan handphone adalah mencuci tangan secara teratur menggunakan sabun.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Tue Dec 25, 2012 7:37 am

ALAT MAKAN DI RESTORAN BISA JADI SUMBER PENYAKIT
Penulis : Unoviana Kartika | Senin, 24 Desember 2012 | 19:14 WIB
KOMPAS.com – Jika Anda hobi makan di luar, sebaiknya pilihlah tempat makan atau restoran yang bersih dan higienis. Bersih tidak hanya sebatas pada lokasi dan penyajian hidangannya, melainkan juga peralatan makan yang digunakan. Bukan tidak mungkin, peralatan makan yang kurang higienis juga menjadi sumber penyebaran penyakit. Penelitian terbaru di Amerika Serikat mengindikasikan, piring dan alat makan di restoran yang tidak dicuci dengan baik dapat menjadi media perkembangan bakteri dan virus penyebab penyakit. Riset para ahli dari Ohio State University menunjukkan, metode cuci peralatan makan yang digunakan oleh sebagian besar restoran di AS tidak dapat secara signifikan mengurangi kontaminasi norovirus, salah satu penyebab keracunan akibat makanan (foodborne illnesses). Riset yang diterbitkan jurnal PLoS One itu meneliti metode pembersihan pada piring keramik, gelas minum, dan garpu stainless steel di restoran. Para peneliti menemukan, bekas krim keju dan susu pada permukaan peralatan makan adalah bahan yang sulit untuk dihilangkan. Krim keju dan susu dapat dengan mudah terkontaminasi norovirus, serta bakteri Escherichia coli K-12 dan Listeria innocua, dua strain bakteri yang juga menyebabkan penyakit pencernaan akibat makanan. Menurut para peneliti, kontaminasi patogen pada makanan siap saji yang berasal dari peralatan makan merupakan faktor penting penyebab foodborne illnesses. Untuk mencegah ini, tentu restoran dan perusahaan makanan perlu melakukan suatu metode pencucian yang dapat mengurangi mikroba dengan signifikan. Peneliti menyarankan, sebuah restoran minimal harus melakukan pencucian dengan tangan dan mesin cuci piring menggunakan air keran, natrium hipoklorit, dan surfaktan. Selain itu jumlah yang bahan pembersih yang digunakan juga harus sebanding dengan peralatan makan yang dicuci. Dengan usaha itu pun, menurut para peneliti, restoran hanya bisa menghilangkan bakteri E.coli dan Listeria saja, sedangkan norovirus jumlahnya masih cukup banyak pada peralatan makan yang sudah dicuci. Jika dibandingkan mencuci dengan tangan, mencuci dengan mesin ternyata dapat lebih baik menghilangkan mikroba, meskipun demikian, norovirus masih belum dapat sepenuhnya hilang. Norovirus memang dapat bertahan lebih lama dari bahan perbersih dibandingkan E.coli dan Listeria. Norovirus adalah penyebab penyakit gastroenteritis yang paling umum dan penyebab utama keracunan makanan di Amerika Serikat. Norovirus menjadi penyebab setengah kasus gastroenteritis di seluruh dunia.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Wed Dec 26, 2012 3:20 pm

HATI HATI, BAKTERI INI TAK HILANG MESKI SUDAH CUCI PIRING
Rabu, 26 Desember 2012, 12:44 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, Mencuci piring sudah menjadi standar upaya menjaga kebersihan. Tapi, ternyata masih ada pula bakteri yang tidak akan hilang setelah piring dicuci. Dikutip dari Medical Daily, Rabu (26/12), bakteri norovirus hanya akan berkurang sedikit jumlahnya setelah dicuci. Meski dicuci dengan mesin pencuci piring yang lebih ampuh membunuh kuman sekalipun, kuman yang satu ini juga tidak akan mati dan tetap berpotensi menimbulkan keracunan. Dalam seminggu terakhir, di Amerika ternyata telah terjadi 167 kasus penyakit gastrointestinal akibat keracunan makanan. Hasil investigasi menunjukkan, penyakit ini berasal dari restoran Golden Corral, restoran prasmanan yang baru dibuka satu bulan sebelum wabah menyebar. Para peneliti dari Ohio State University menemukan, kuman penyebab keracunan makanan yang bernama norovirus tidak dapat dibasmi hanya dengan mencuci piring atau wadah makanan. Virus ini ternyata memang lebih bandel ketimbang bakteri-bakteri atau kebanyakan kuman lainnya, seperti E. Coli dan Listeria. Agar tidak tertular bakteri yang satu ini, badan kesehatan Amerika menyarankan penggunaan disinfektan sehabis mencuci piring. Selain itu, menjaga kebersihan dapur dan rajin mencuci tangan juga dapat membantu mencegah infeksi norovirus.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Dec 29, 2012 7:52 am

10 HAL PALING JOROK DARI RESTORAN
Mutia Nugraheni, Stella Maris Rabu, 28 November 2012, 15:41 WIB
VIVAlife - Bakteri jahat banyak bersembunyi di berbagai tempat tak terduga dalam restoran. Perlu Anda ketahui kalau restoran mahal yang selalu tertata rapi bukan berarti bebas dari kuman penyakit berbahaya, salah satunya Escherichia Coli. Faktanya, Escherichia Coli atau E coli paling senang hinggap pada sayuran dan buah yang tidak steril. Memang, kontaminasi bakteri tersebut bisa terjadi di mana saja. Tapi bagi Anda yang seringkali makan di luar rumah perlu tahu fakta hasil investigasi ABC News. Tim ABC menemukan, bakteri berbahaya di restoran disebabkan para pekerja yang kurang menjaga kebersihan. Seperti dilansir dari New York Daily News, berikut 10 hal di restoran yang paling banyak terdapat bakteri. Usahakan untuk lebih berhati-hati, jangan sampai Anda terkena penyakit.

1. Kursi
2. Buku Menu
3. Irisan lemon
4. Garam dan merica
5. Meja
6. Gelas
7. Pegangan pintu
8. Kamar mandi
9. Botol kecap
10. Sendok salad
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Dec 29, 2012 7:53 am

DERETAN SARANG KUMAN DI RESTORAN
Kamis, 06 Januari 2011 14:15 WIB Media Indonesia - Penulis : prita daneswari
KALA hendak makan di sebuah restoran, kita tentunya mengira semua benda di sana bebas dari kuman, terutama masakannya. Namun, pada kenytaannya tidak semua benda di restoran higienis. Tanpa sadar, benda-benda yang kerap kita sentuh di restoran justru merupakan tempat favorit kuman. Maka itu, sebisa mungkin, usahakan untuk tidak sentuh benda berikut ini di dalam restoran:

1. Daftar menu restoran
Menurut hasil studi yang dimuat pada Journal of Medical Virology, virus flu dapat bertahan selama 18 jam pada permukaan keras. Mengingat daftar menu restoran telah disentuh oleh banyak tangan dan tak pernah dicuci, bayangkan saja berapa banyak bakteri dan kuman yang berdiam di sana.

2. Dispenser saus
Kurang lengkap rasanya apabila makan tanpa bumbu pelengkap seperti saus cabai dan tomat. Maka itu, setelah memesan makanan kita otomatis langsung menuju dispenser saus. Namun, tahukah Anda beberapa dispenser itu jarang dibersihkan sehingga dipenuhi kuman. Karena itu, sebaiknya Anda membawa sendiri saus dalam baik dalam bentuk botol kecil maupun sachet guna menghidari risiko memakan bakteri.

3. Gagang pintu toilet
Sia-sia saja apabila Anda memegang gagang pintu toilet setelah mencuci tangan. Karena, gagang pintu adalah benda paling kotor di toilet umum. Untuk itu peganglah gagang pintu dengan secarik tisu setelah mencuci tangan.

4. Dispenser sabun cair
Memang tampak tak mungkin. Nyatanya benda yang kita gunakan untuk membersihkan tangan sebelum makan ternyata juga termasuk benda paling kotor di restoran. Hal itu karena 25 persen dispenser sabun tak pernah dibersihkan sehingga terkontaminasi bakteri feses. "Kebanyakan tempat sabun tak pernah dibersihkan sehingga tercipta bakteri dari buih-buih sabun," kata Charles Gerba PhD. "Terlebih, bagian bawahnya telah terkontaminsi banyak tangan kotor jadi tentunya akan ada jutaan bakteri jahat yang terhantar ke cairan sabun.

5. Potongan lemon
Para pramusaji mungkin memang telah mencuci tangan sebelum menyajikan minuman favorit pesanan Anda, tapi bagaimana dengan yang menyiapkannya di dapur? Menurut hasil studi pada 2007 di Journal of Environmental Health, hampir 70 persen potongan lemon penghias pinggir gelas Anda mengandung mikroba termasuk E coli. (Pri/OL-06)
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 20 of 22Go to page : Previous  1 ... 11 ... 19, 20, 21, 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: