Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 12 ... 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:16 pm

MASALAH SANITASI, ASIA TIMUR BELUM TUNTAS
Penulis : Natalia Ririh | Sabtu, 8 September 2012 | 09:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan data dari Badan Kesehatan Dunia (WHO), negara-negara di Asia Timur secara keseluruhan telah mencapai target The Millennium Development Goals (MDGs) bidang sanitasi. Proyeksi target MDG 68 persen akan terlewati hingga 8 persen tahun 2015 nanti. Namun, data ini masih diperdebatkan karena nyatanya lebih dari 671 orang di Asia Timur masih menggunakan fasilitas sanitasi yang tidak layak. Demikian disampaikan Dirjen Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, Wilfried H.Purba di Jakarta, Jumat (7/9/2012). "Lebih dari 100 juta orang masih buang air besar (BAB) yang berisiko terhadap kesehatan. Serta, 450 juta kasus diare masih terjadi setiap tahun. Angka kematian yang disebabkan penyakit air dan sanitasi meningkat hampir 150.000 per tahun," ujarnya. Wilfried menilai, peningkatan sanitasi di tiap negara Asia Timur berbeda-beda. Ada yang kurang dari 30 persen bahkan ada yang lebih dari 95 persen. Catatan sanitasi Indonesia masih lebih baik dibanding beberapa negara seperti Myanmar, Laos, Kamboja dan Vietnam. Namun, masih tertinggal jauh dari Malaysia, Thailand, dan Singapura. Buruknya sanitasi di negara-negara Asia Timur karena sumbangan rumah tangga di perkotaan. Tak hanya itu, sebagian besar sekolah kekurangan fasilitas sanitasi yang layak bagi siswanya dan sebagian fasilitas pelayanan kesehatan mengalami kekurangan fasilitas layak bagi pasien, pengunjung, dan petugas. "Di Indonesia, kondisi sanitasi buruk salah satunya karena kesadaran masyarakat masih rendah. Misalnya saja, ada orang rumahnya mewah tapi untuk BAB masih di sungai.Artinya ada prilaku-prilaku yang sulit diubah. Secara umum potretnya seperti itu," ujarnya. Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan berusaha menekankan kepada stakeholder terkait dan swasta untuk bersama-sama memikirkan masalah sanitasi buruk. Menurut Wilfried, selain kesadaran masyarakat, peningkatan sanitasi erat kaitannya dengan pembiayaan. "Kemenkes tidak cukup anggarannya untuk membenahi semua. Kadang, kami ingin mengajak dari swasta tapi kendalanya pada apa keuntungan yang mereka dapat," katanya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 10:03 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:17 pm

PERUBAHAN IKLIM PICU PENYEBARAN PENYAKIT
Kamis, 20 Januari 2011 | 17:46 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com Kanker kulit dan penyakit pernapasan diduga sebagai dua penyakit pertama yang disebabkan perubahan iklim bumi, yang antara lain diakibatkan oleh pemanasan global. "Penipisan lapisan ozon di stratosfer telah meningkatkan risiko serangan kanker kulit dan peningkatan temperatur akibat perubahan iklim dapat meningkatkan konsentrasi ozon permukaan, yang merupakan salah satu pencemar udara utama dan dapat menyebabkan penyakit pernapasan," ungkap Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Kamis (20/1/2011). Ia menjelaskan, perubahan iklim juga akan memicu semakin berkurangnya keanekaragaman hayati sehingga dapat menyebabkan langkanya bahan baku obat dari tumbuhan. Selain itu, degradasi lahan dan perubahan fungsi ekosistem dapat menyebabkan perubahan penyebaran vektor penyakit dan penurunan sumber daya air. Hal itu bisa berujung pada keterbatasan akses air bersih dan sanitasi yang sehat. Saat ini di Indonesia, seperti juga di banyak negara di dunia, mulai terlihat tanda-tanda seperti peningkatan curah hujan yang cukup signifikan pada musim basah dan penurunan curah hujan pada bulan-bulan kering. Tjandra memaparkan, perubahan iklim memengaruhi kesehatan melalui jalur kontaminasi mikroba dan transmisi dinamis. Dampak kesehatan dari proses tersebut, di antaranya, efek peningkatan temperatur terhadap kesakitan dan kematian, bencana akibat cuaca ekstrem, peningkatan pencemaran udara, penyakit bawaan air dan makanan, serta penyakit bawaan vektor dan hewan pengerat. "Peningkatan penyebaran agen penyakit bawaan air akan meningkatkan wabah penyakit menular, seperti leptospirosis, diare, dan kolera. Penyakit diare memiliki risiko tinggi di sebagian wilayah Indonesia," kata Tjandra. Peningkatan temperatur udara sebesar 2-3 derajat celsius akan meningkatkan jumlah penderita penyakit tular vektor sebesar 3-5 persen. Sebab, peningkatan temperatur akan memperluas distribusi vektor serta meningkatkan perkembangan dan pertumbuhan parasit menjadi infektif. Kementerian Kesehatan disebut Tjandra akan melakukan kajian dampak perubahan iklim terhadap kesehatan dalam program 2010-2014, terutama untuk perkembangan penyakit bawaan air, penyakit bawaan vektor, penyakit bawaan udara, bencana dan kecelakaan, serta penyakit tidak menular skala nasional. Untuk kebijakan, direncanakan pembuatan perundang-undangan yang mendukung terciptanya lingkungan yang preventif terhadap penyakit. Selain itu, akan disusun peraturan perundangan yang mendukung usaha adaptasi perubahan iklim sektor kesehatan. "Kami juga akan melakukan penguatan kebijakan pembangunan berwawasan kesehatan masyarakat dengan tujuan aksi adaptasi dan pencegahan penyakit. Selain itu, kami melakukan sosialisasi strategi adaptasi perubahan iklim bagi legislatif dan jajaran pemerintah pusat agar terbentuk komitmen serta rencana aksi implementasi kegiatan," katanya.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:25 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:33 pm

PERUBAHAN IKLIM MEMUNCULKAN BANYAK WABAH PENYAKIT
Senin, 13/12/2010 15:01 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Sanitasi dan kebersihan hampir selalu dijadikan kambing hitam ketika terjadi wabah penyakit menular. Meski tidak sepenuhnya salah, ada faktor lain yang turut berperan dan sebenarnya lebih sulit dikendalikan yaitu perubahan iklim. Demam berdarah dengue (DBD) merupakan salah satu contoh penyakit yang bisa muncul sekalipun di tempat-tempat yang terbilang bersih. Penyakit ini ditularkan oleh nyamuk aedes aegipty yang lebih suka berkembang biak di genangan air bersih. "Oleh sebab itu dengue muncul juga di wilayah-wilayah elit seperti Pondok Indah," ungkap direktur Eijkman Institute, Prof Sangkot Marzuki saat ditemui di sela-sela pembukaan simposium "Human Genetics and Infection: Towards Better Management of Disease" di Hotel Borobudur, Jakarta, Senin (13/12/2010). Prof Marzuki menduga salah satu faktor yang memicu makin meluasnya penyebaran dengue adalah perubahan iklim sebagai dampak dari pemanasan global. Faktor tersebut menyebabkan penyebaran nyamuk meluas ke daerah-daerah yang sebelumnya tidak ada nyamuk aedes aegipty. "Penyebaran dengue sekarang sudah mencapai wilayah utara Australia, misalnya Queensland. Sebelumnya di wilayah itu tidak pernah ada dengue," tambah Prof Sangkot. Fakta lain yang membuktikan bahwa kemunculan penyakit turut dipengaruhi oleh perubahan iklim adalah wabah kolera di Haiti akhir-akhir ini. Wabah itu terjadi ketika suhu permukaan air laut mengalami peningkatan dalam beberapa tahun belakangan. Prof Jan Verhoef dari Eijkman Winkler Centre for Mycrobiology di Belanda mengatakan naiknya suhu permukaan air laut memicu pertumbuhan plankton di laut. Plankton ini merupakan tempat bakteri penyebab kolera, vibrio cholerae menempel untuk bisa bertahan hidup. Pola yang sama juga terjadi di wilayah-wilayah lain yang mengalami wabah kolera termasuk Bangladesh dan beberapa negara di Afrika. Jumlah penderita kolera di wilayah-wilayah tersebut cenderung bertambah ketika suhu permukaan air laut di sekitarnya meningkat.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:24 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:36 pm

2,6 MILIAR PENDUDUK DUNIA TIDAK MEMPUNYAI TOILET YANG BERSIH
Selasa, 16/11/2010 09:43 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
London, Sekitar 2,6 miliar orang di seluruh dunia tidak memiliki akses kesehatan yang baik seperti toilet bersih. Akibatnya, penyakit-penyakit akibat sanitasi yang buruk seperti kolera terus bermunculan. Dalam studi yang dipublikasikan Public Library of Science (PLoS) Medicine journal, peneliti mengungkapkan dari 2,6 miliar orang yang tidak memiliki akses sanitasi baik sekitar dua per tiganya tinggal di Asia dan sub-Sahara Afrika. Ditemukan pula kesenjangan cakupan sanitasi, di negara maju sekitar 99 persen memiliki akses sanitasi yang baik sementara negara berkembang hanya memiliki 53 persen akses sanitasi baik. Karena tidak punya toilet yang memadai sekitar 20 persen penduduk dunia masih buang air besar di tempat terbuka yang memicu sanitasi buruk. Padahal dengan meningkatkan taraf kebersihan, sanitasi dan penyediaan air bersih bisa mencegah kematian 2 juta anak dalam setahun.

Sanitasi dan air minum yang tidak bersih menyumbang minimal 7 persen penyakit di seluruh dunia serta hampir 20 persen menjadi penyebab kematian anak di dunia. Sistem pembuangan dan sanitasi yang buruk dapat menyebarkan infeksi berbahaya seperti virus hepatitis dan kolera, penyakit akut menular serta diare dan dehidrasi parah akibat air yang terkontaminasi. Jika kondisinya sangat parah dan tidak ditangani dengan baik, maka bisa menyebabkan kematian dalam hitungan jam. Kemajuan dalam meningkatkan pasokan air bersih dan sanitasi berjalan sangat lambat di sebagian besar negara berkembang. Karenanya para peneliti tengah mendesak badan PBB, donor internasional serta pemerintah dan petugas kesehatan di negara berkembang untuk meningkatkan sanitasi agar dapat mengurangi beban penyakit yang merusak. "Secara global sekitar 2,4 juta kematian setiap tahunnya bisa dicegah jika semua orang mempraktekkan kebersihan yang tepat, memiliki sanitasi yang handal serta akses air minum yang baik," ujar Sandy Cairncross selaku ketua studi dari London School of Hygiene & Tropical Medicine, seperti dikutip dari Reuters, Selasa (16/11/2010).


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:24 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:36 pm

PERINGKAT KOTA SEHAT DI INDONESIA
Jumat, 26/11/2010 16:52 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Kementerian Kesehatan kini memiliki data tentang kota dengan peringkat kesehatan tertinggi dan terburuk di Indonesia. Apa saja kota-kota yang paling sehat dan paling buruk? Untuk memeringkat kota tersehat dan terburuk ini, Kementerian Kesehatan membuat 24 indikator kesehatan yang digunakan untuk menilai Indeks Pembangunan Kesehatan Masyarakat (IPKM) di tiap kota dan kabupaten. Dengan menggunakan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2007-2008, penilaian kota sehat kali ini menggunakan rumusan IPKM yang baru ada tahun 2010. Sebelumnya data kesehatan masih bersifat menyeluruh dan belum ada data rinci tiap kota dan kabupaten. Dengan adanya IPKM ini memudahkan pemerintah pusat untuk mengalokasikan dana kesehatan tiap kota atau kabupaten berdasarkan peringkat kesehatannya.

"Semakin jelek peringkat kesehatan kotanya, maka dana yang diberikan akan semakin besar," kata Dr dr Trihono, M,Sc., Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, Kemkes RI, dalam acara temu media di Gedung Kemkes, Jakarta, Jumat (26/11/2010). Menurut Dr Trihono, penetapan peringkat kota dan kabupaten sehat ini akan dijadikan bahan untuk advokasi ke pemerintah daerah agar terpicu untuk menaikkan peringkatnya, sehingga sumber daya dan program kesehatan diprioritaskan. Penetapan peringkat ini didasarkan pada 24 indikator kesehatan, yaitu balita gizi buruk dan kurang, balita sangat pendek dan pendek, balita sangat kurus dan kurus, balita gemuk, diare, pnemonia, hipertensi, gangguan mental, asma, penyakut gigi dan mulut, disabilitas, cedera, penyakit sendi, ISPA, perilaku cuci tangan, merokok tiap hari, air bersih, sanitasi, persalinan oleh tenaga kesehatan, pemeriksaan neonatal 1, imunisasi lengkap, penimbangan balita, ratio dokter per Puskesmas dan ratio bidan per desa.

"Meski kesehatan berhubungan erat dengan kemiskinan, tetapi belum tentu kota yang miskin tingkat kesehatannya buruk dan sebaliknya belum tentu kota kaya kesehatannya selalu baik," jelas Prof Purnawan Junadi, Guru Besar FKM UI. Beberapa contoh kota kabupaten yang miskin tapi dengan peringkat kesehatan baik misalnya adalah Bitung dan Sorong, sedangkan kota non-miskin namun bermasalah dalam kesehatan contohnya adalah Jakarta Pusat dan Jakarta Utara. "Hal ini biasanya terjadi karena kebanyakan kota kabupaten dengan tingkat perekonomian yang baik terlalu mengejar sektor kuratif (pengobatan). Mereka lebih memikirkan membangun rumah sakit dan dokter spesialis, tetapi tidak memikirkan hal-hal sederhana seperti usaha pencegahan dan bidan-bidan yang lebih akrab dengan masyarakat," jelas Prof Pur lebih lanjut. Dari 440 kabupaten dan kota berdasarkan Riskesdas 2007, diperoleh peringkat masing-masing kota dan kabupaten dengan tingkat kesehatan terbaik hingga terburuk. Kota Magelang merupakan kota dengan peringkat paling tinggi atau kota paling sehat, sedangkan Pengunungan Bintang merupakan kabupaten dengan indikator kesehatan paling buruk di seluruh Indonesia.

Peringkat 10 teratas kota dan kabupaten dengan nilai indikator kesehatan paling tinggi atau kota paling sehat:
1. Kota Magelang (Jateng)
2. Gianyar (Bali)
3. Kota Salatiga (Jateng)
4. Kota Yogyakarta
5. Bantul (Yogyakarta)
6. Sukoharjo (Jateng)
7. Sleman (Yogyakarta)
8. Balikpapan (Kaltim)
9. Kota Denpasar (Bali)
10. Kota Madiun (Jatim)

Peringkat 10 terbawah kota dan kabupaten dengan nilai indikator kesehatan paling buruk adalah:
1. Mappi (Papua)
2. Asmat (Papua)
3. Seram Bagian Timur (Maluku)
4. Yahukimo (Papua)
5. Nias Selatan (Sumut)
6. Paniai (Papua)
7. Manggarai (NTT)
8. Puncak Jaya (Papua)
9. Gayo Iues (Aceh)
10. Pegunungan Bintang (Papua)


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 2:16 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:36 pm

HARI INI 14 NEGARA BAHAS ISU SANITASI DI BALI
Penulis : Natalia Ririh | Senin, 10 September 2012 | 07:32 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com Untuk mengingkatkan komitmen dalam upaya mencapai target Tujuan Pembangunan Millenium (Millennium Development Goals/MDGs) di bidang sanitasi, delegasi 14 negara di Asia Timur akan bertemu dalam Konferensi The East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III. Pertemuan dua tahunan tingkat menteri di bidang sanitasi dan higienitas negara-negara Asia Timur ini akan mulai berlangsung mulai Senin (10/9/2012) ini hingga Rabu (12/9/2012) di Denpasar, Bali. Para peserta pertemuan ini adalah Indonesia selaku tuan rumah, Kamboja, Laos, Mongolia, Myanmar, Malaysia, Singapura, Thailand, Timor Leste, Korea Selatan, China, Filipina, dan Vietnam. Sedangkan Papua Niugini hanya menjadi observer. Pada EASAN II yang berlangsung di Manila, Filipina, sebanyak 13 negara telah berkomitmen untuk meningkatkan kerja sama lintas pemerintah untuk meningkatkan penyediaan sanitasi yang baik, guna memenuhi sasaran MDGs. EASAN III di Indonesia diharapkan bisa menerjemahkan komitmen tersebut ke dalam tindakan layanan sanitasi yang berkelanjutan di tiap negara. Isu sanitasi masih menjadi persoalan besar di negara-negara Asia Timur, di mana sekitar 671 juta orang dilaporkan menggunakan fasilitas sanitasi yang tidak layak. Di wilayah ini, capaian peningkatan sanitasi berbeda. Ada yang kurang dari 30 persen, bahkan ada yang lebih dari 95 persen. Di Indonesia, berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2010, tercatat 55,5 persen rumah tangga sudah memiliki akses pembuangan tinja yang layak. Namun, sebanyak 17,2 rumah tangga masih membuang air besar sembarangan seperti di kali atau sungai. Dari penyediaan air bersih, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 11,8 persen sumur rakyat tidak layak. Baru 45,1 persen rumah tangga yang memiliki akses terhadap sumber air minum terlindungi. Dengan data ini, Indonesia masih tertinggal jauh dari target MDGs. Dirjen Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Wilfried H Purba di Jakarta, Jumat (7/9/2012) lalu, mengatakan, sanitasi Indonesia masih lebih baik dibanding beberapa negara, seperti Myanmar, Laos, Kamboja, dan Vietnam. Namun, masih tertinggal jauh dari Malaysia, Thailand, dan Singapura. Menurutnya, hal ini terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya sanitasi.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:17 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:37 pm

BUTUH Rp 56 T UNTUK BANGUN INFRASTRUKTUR SANITASI
Penulis : Natalia Ririh | Selasa, 11 September 2012 | 11:26 WIB
BALI, KOMPAS.com - Pemerintah menyadari Indonesia sangat tertinggal dalam memenuhi target MDGs tujuan ke 7 yaitu setiap negara memastikan keberlanjutan lingkungan hidup. Untuk itu, pemerintah tengah berupaya melakukan Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). Deputi Bidang Sarana dan Prasarana Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional, Dedi S Priatna mengakui anggaran untuk PPSP sampai tahun 2020 tidak sedikit. Pemerintah membutuhkan dana sampai Rp 56 Trilyun. "Kami mengusahakan anggaran 50-60 persen dari APBN. Sisanya bisa dari investasi murni atau kegiatan CSR swasta," ujarnya saat mendampingi Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi seusai acara pembukaan East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Senin (10/9/2012). Dedi mengungkapkan, anggaran Rp 56 triliun tersebut dialokasikan untuk pembangunan infrastruktur sanitasi dan penyediaan air bersih. Anggaran ini akan digunakan secara berkala Rp 4-5 miliar selama 8 tahun hingga 2020. Ia mengakui, sokongan kekurangan dana kerjasama lewat public private partnership masih sulit karena terkendala prosedur. Menkes Nafsiah Mboi mengatakan, kesadaran sanitasi layak dan higenitas ini tak sebatas bantuan dari pemerintah. "Justru kalau berasal dari masyarakat, maka akan terasa untuk mereka. Kalau masyarakat tidak mengambil alih untuk hidup mereka, maka tidak akan berhasil," ujarnya. Langkah Indonesia untuk mencapai target MDGs di bidang sanitasi masih cukup berat. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, sekitar 109 juta penduduk Indonesia belum mendapatkan air bersih serta sanitasi yang layak. Untuk mencapai target MDGs masalah sanitasi, Indonesia kini berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari target MDGs 68,8 persen.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:18 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:38 pm

TAHUN 2014, INDONESIA BEBAS BAB SEMBARANGAN
Penulis : Natalia Ririh | Senin, 10 September 2012 | 16:26 WIB
BALI, KOMPAS.com - Mengacu pada target MDGs tujuan ke 7 di mana setiap negara memastikan keberlanjutan lingkungan hidup, maka semua negara harus dapat mengurangi separuh proporsi penduduk tanpa akses berkelanjutan pada air minum yang aman dan sanitasi dasar di tahun 2015. Begitu pula halnya dengan Indonesia yang harus mencapai target MDGs pada tahun 2015 nanti. Langkah Indonesia akan terasa lebih berat karena berdasarkan data, posisi Indonesia dari target MDGs masih jauh. Data Kementerian Kesehatan menyebutkan, untuk target MDGs masalah sanitasi, Indonesia berada pada posisi pencapaian 55,6 persen dari target 62,41 persen. Sedangkan untuk target MDGs masalah air minum, Indonesia baru mencapai 42,76 persen dari trget MDGs 68,8 persen. Deputi Sarana dan Prasarana Kementerian PPN/Bappenas Dedy S.Priatna mengatakan, pihaknya bersama Kementerian Kesehatan dan kementerian lainnya saat ini tengah berupaya melakukan percepatan pembangunan sanitasi permukiman (PPSP). Salah satu usahanya, pemerintah pun mencanangkan tahun 2014 nanti Indonesia bebas buang air besar (BAB) sembarangan. "Tahun 2009 kita baru bebas BAB sembarangan 70 persen. Pemerintah menargetkan 30 persen sisanya tuntas di tahun 2014," ujarnya saat mendampingi Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Nafsiah Mboi seusai acara pembukaan East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Senin (10/9/2012) sampai Rabu (12/9/2012). Menkes Nafsiah menggaris bawahi pentingnya ketersediaan jamban di pemukiman penduduk. Kesadaran masyarakat untuk membuang air besar di jamban bisa dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya, sejumlah besar keluarga tidak memiliki akses fasilitas sanitasi seperti jamban, rendahnya tingkat pengetahuan masyarakat tentang pengaruh sanitasi dan air minum pada kesehatan, perilaku yang tidak mendukung hidup bersih dan sehat, serta tingkat perekonomian masyarakat yang tidak mampu membangun fasilitas sanitasi memadai. Menurut Nafsiah, peranan jamban memiliki kaitan yang sangat luas. Kalau semua orang BAB pada tempatnya maka bisa mengurangi penyakit diare. Sehingga menurunkan risiko penyakit ini sampai 90 persen. "Tak kalah pentingnya adalah perubahan perilaku masyarakat. Saya pernah mendapati, ada masyarakat yang tidak mau menggunakan jamban padahal sudah dibuatkan pemerintah. Alasannya, mereka menyayangkan jika jamban tersebut berubah menjadi kotor karena dipakai," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:19 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 2:05 pm

BERPERILAKU SEHAT, MULAILAH DENGAN CTPS!
Penulis : Natalia Ririh | Selasa, 11 September 2012 | 16:21 WIB
BALI, KOMPAS.com - Mengubah perilaku yang selama ini telah menjadi kebiasaan memang sulit. Apalagi, jika kebiasaan tersebut sudah ditanamkan sejak kecil dan terjadi secara turun temurun. Meskipun demikian, untuk berperilaku hidup bersih dan sehat bisa dimulai dari tindakan sederhana. Salah satu contoh perilaku hidup besih dan sehat (PHBS) yang perlu ditanamkan sejak kecil adalah mencuci tangan dengan memakai sabun antikuman. Perilaku mencuci tangan pakai sabun (CTPS) ini memang sangat sederhana, akan tetap dampaknya sangat luar biasa bagi kesehatan masyarakat. "Cara untuk menekan penyakit diare ialah dengan BAB pada tempatnya. Selain itu, sejak dini mengajarkan anak dan diri sendiri mencuci tangan pakai sabun. Cuci tangan pakai sabun bisa membantu menurunkan penyakit diare sampai 39 persen," kata Perwakilan UNICEF untuk Indonesia, Angela Kearney saat ditemui dalam acara East Asia Ministerial Conference on Sanitation and Hygiene (EASAN) III yang berlangsung di Nusa Dua, Bali, Selasa (11/9/2012). Angela mengatakan, cuci tangan sebagai salah satu PHBS harus menggunakan sabun. Berdasarkan penelitian, cuci tangan tanpa sabun masih tetap meninggalkan kuman pada tangan. Terkait kesadaran cuci tangan pakai sabun, UNICEF berkonsentrasi pada anak-anak sebagai generasi perubahan menuju hidup bersih dan sehat. "Pendekatan kami berkonsentrasi pada ibu dan anak-anak. Ibu bisa mengajarkan kebiasaan baik kepada anak, sementara anak adalah agen perubahan," ujarnya. Menkes Nafsiah Mboi saat acara pembukaan EASAN III, Senin (10/11/2012) mengatakan, PHBS akan mengurangi resiko penularan penyakit lewat air. Peningkatan perilaku seperti BAB tidak di sembarangan dan mencuci tangan pakai sabun secara signifikan membawa manfaat sosial, lingkungan dan ekonomi. "Penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan mencuci tangan dengan sabun adalah kebiasaan yang sederhana. Namun, efeknya dapat mencegah penularan penyakit menular seperti diare, pneumonia, penyakit kulit tipes, bahkan flu burung," ujarnya. Jika kebiasaan mencuci tangan pakai sabun dikombinasikan dengan kegiatan lain seperti meninggalkan praktek BAB di tempat terbuka, membuang sampah pada tempatnya serta mengelola air minum dengan benar, maka bisa menekan penyebab penyakit diare sampai dengan 80 -90 persen.


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:22 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 2:06 pm

GERAKAN 21H DORONG PENINGKATAN AKTIVITAS CTPS
Rabu, 19 September 2012 14:25 WIB Media Indonesia - Penulis : Dini Mutiah
AKTIVITAS cuci tangan pakai sabun (CTPS) belum secara otomatis dilakukan oleh seluruh masyarakat. Lifebuoy memprakarsai melalui gerakan 21 hari dengan tujuan agar ada perubahan perilaku secara signifikan. Gerakan 21 hari tersebut adalah program yang mewajibkan aktivitas CTPS di lima saat penting selama 21 hari tanpa putus. Penelitian tersebut dilaksanakan oleh lembaga survei independen Taylor Nelson Sofres (TNS) kepada 200 pasangan ibu dan anak yang berada di Jakarta. Riset tersebut meneliti perilaku CTPS pada empat waktu penting, yakni sebelum makan pagi, sebelum makan siang, sebelum makan malam dan sesudah buang air besar. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan September 2011, Desember 2011 dan Mei 2012. Hasilnya menunjukkan perubahan signifikan terjadi pada perilaku pasangan ibu dan anak tersebut dalam kebiasaan CTPS. Misalnya, jika kebiasaan CTPS yang dilakukan responden sebelum makan pagi pada bulan September 2011 tercatat hanya 58% dari total responden yang melakukan, terjadi peningkatan hingga 72% pada bulan Mei 2012. Peningkatan juga terjadi pada aktivitas CTPS sebelum makan siang yang meningkat dari 53% responden pada bulan September 2012 menjadi 78 persen pada Mei 2012. Peningkatan aktivitas CTPS setelah buang air besar juga terjadi, dimana pada bulan September 2011 hanya sebesar 88 persen responden meningkat jadi 96 persen responden di bulan Mei 2012. "Intervensi yang dilakukan menunjukkan perubahan signifikan dalam meningkatkan kebiasaan mencuci tangan mengunakan sabun. Penelitian yang kami lakukan setelah enam bulan program berjalan menunjukkan bahwa aktivitas mencuci tangan itu telah menjadi kebiasaan," ujar Presiden Direktur TNS Indonesia Raghavan Srinivasan kepada wartawan dalam jumpa pers di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Masuki sekolah
Intervensi yang dilakukan tidak hanya ditujukan pada 200 pasang anak-ibu. Gerakan 21H tersebut juga dilaksanakan di 745 sekolah dari sepuluh provinsi di Indonesia. Masing-masing anak diberikan penjelasan terlebih dulu sebelum mewajibkan mereka membuat sumpah. Setelah itu, mereka diberikan kertas berisi daftar checklist yang harus diisi secara penuh selama 21 hari berturut-turut. Setelah itu, mereka diberi penghargaan atas capaian yang didapat. "Cara tersebut ternyata menjadi contoh bagi negara-negara lain untuk mempromosikan kebiasaan mencuci tangan pada anak-anak. Anak-anak ini bisa menjadi katalis bagi perubahan perilaku keluarganya di rumah," jelas Senior Brand Manager Lifebuoy Amalia Sarah Santi. Selain intervensi, pendekatan emosional yang didasari sifat dasar manusia bisa membantu perubahan perilaku. Peneliti perubahan perilaku dari London School of Hygiene and Tropical Medicine (LSTHM) Robert Aunger menyatakan ada tiga motif yang bisa menjadi pintu untuk mengubah kebiasaan cuci tangan. Motif ketiga adalah perasaan jijik. Setiap manusia memiliki respon yang sama jika dihadapkan dalam situasi tersebut. Saat perasaan jijik ini dibangkitkan, mereka akan cenderung secara otomatis mencari cara untuk membersihkan diri. Motif kedua adalah sifat kasih sayang. Pendekatan ini bisa dilakukan utamanya terhadap ibu yang cenderung bersikap protektif pada anak-anaknya. Si ibu biasanya tidak akan rela jika anak mereka berada dalam bahaya, termasuk bahaya yang mengintai dari perilaku yang tidak sehat. Motif terakhir adalah sifat dasar manusia yang suka terafiliasi pada kelompok tertentu. Jika aktivitas CTPS ini dijadikan sebagai norma sosial, orang-orang yang belum terbiasa mencuci tangan akan dipaksa untuk melakukan hal ini agar bisa diterima oleh kelompoknya. "Bila semua yang berada dalam grup tersebut adalah orang yang rajin mencuci tangan, orang lain yang hendak masuk dalam grup akan ikut dalam kebiasaan ini. Akhirnya, anda akan menjadikan aktivitas ini sebagai kebiasaan," tukasnya. (Din/*/OL-06)


Last edited by gitahafas on Thu Sep 27, 2012 6:21 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 22Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 12 ... 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: