Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Hygiene dan Sanitasi

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3 ... 11 ... 22  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:10 am

S A N I T A S I
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Sanitasi adalah perilaku disengaja dalam pembudayaan hidup bersih dengan maksud mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya dengan harapan usaha ini akan menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia. Bahaya ini mungkin bisa terjadi secara fisik, mikrobiologi dan agen-agen kimia atau biologis dari penyakit terkait. Bahan buangan yang dapat menyebabkan masalah kesehatan terdiri dari tinja manusia atau binatang, sisa bahan buangan padat, air bahan buangan domestik (cucian, air seni, bahan buangan mandi atau cucian), bahan buangan industri dan bahan buangan pertanian. Cara pencegahan bersih dapat dilakukan dengan menggunakan solusi teknis (contohnya perawatan cucian dan sisa cairan buangan), teknologi sederhana (contohnya kakus, tangki septik), atau praktik kebersihan pribadi (contohnya membasuh tangan dengan sabun). Definisi lain dari sanitasi adalah segala upaya yang dilakukan untuk menjamin terwujudnya kondisi yang memenuhi persyaratan kesehatan.[1] Sementara beberapa definisi lainnya menitik beratkan pada pemutusan mata rantai kuman dari sumber penularannya dan pengendalian lingkungan. [2] [3]

Sanitasi dan air
Terdapat hubungan yang erat antara masalah sanitasi dan penyediaan air, dimana sanitasi berhubungan langsung dengan [4]: Kesehatan. Semua penyakit yang berhubungan dengan air sebenarnya berkaitan dengan pengumpulan dan pembuangan limbah manusia yang tidak benar. Memperbaiki yang satu tanpa memperhatikan yang lainnya sangatlah tidak efektif.[4]
Penggunaan air. Toilet siram desain lama membutuhkan 19 liter air dan bisa memakan hingga 40% dari penggunaan air untuk kebutuhan rumah tangga. Dengan jumlah penggunaan 190 liter air per kepala per hari, mengganti toilet ini dengan unit baru yang menggunakan hanya 0,7 liter per siraman bisa menghemat 25% dari penggunaan air untuk rumah tangga tanpa mengorbankan kenyamanan dan kesehatan. Sebaliknya, memasang unit penyiraman yang memakai 19 liter air di sebuah rumah tanpa WC bisa meningkatkan pemakaian air hingga 70%. Jelas, hal ini tidak diharapkan di daerah yang penyediaan airnya tidak mencukupi, dan hal tersebut juga bisa menambah jumlah limbah yang akhirnya harus dibuang dengan benar.[4]

Biaya dan pemulihan biaya.[4]
a. Biaya pengumpulan, pengolahan dan pembuangan limbah meningkat dengan cepat begitu konsumsi meningkat. Merencanakan hanya satu sisi penyediaan air tanpa memperhitungkan biaya sanitasi akan menyebabkan kota berhadapan dengan masalah lingkungan dan biaya tinggi yang tak terantisipasi. Pada tahun 1980, Bank Dunia melaporkan bahwa dengan menggunakan praktik-praktik konvesional, untuk membuang air dibutuhkan biaya lima sampai enam kali sebanyak biaya penyediaan. Ini adalah untuk konsumsi sekitar 150 hingga 190 liter air per kepala per hari. Informasi lebih baru dari Indonesia, Jepang, Malaysia dan A. S. menunjukkan bahwa rasio meningkat tajam dengan meningkatnya konsumsi; dari 1,3 berbanding 1 untuk 19 liter per kepala per hari menjadi 7 berbanding 1 untuk konsumsi 190 liter dan 18 berbanding 1 untuk konsumsi 760 liter.[4]

b. Penggunaan ulang air.
Jika sumber daya air tidak mencukupi, air limbah merupakan sumber penyediaan yang menarik, dan akan dipakai baik resmi disetujui atau tidak. Karena itu peningkatan penyediaan air cenderung mengakibatkan peningkataan penggunaan air limbah, diolah atau tidak dengan memperhatikan sumber-sumber daya tersebut supaya penggunaan ulang ini tidak merusak kesehatan masyarakat.[4]

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat
Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) adalah satu Program Nasional di bidang sanitasi yang bersifat lintas sektoral. Program ini telah dicanangkan pada bulan Agustus 2008 oleh Menteri Kesehatan RI. STBM merupakan pendekatan untuk mengubah perilaku higiene dan sanitasi melalui pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku. Sedangkan indikator output-nya adalah sebagai berikut [5]:

- Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).
- Setiap rumahtangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di rumah tangga.
- Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah, kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun, sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.
- Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.
- Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.[5]

Sejarah
STBM mulai diuji coba tahun 2005 di 6 kabupaten (Sumbawa, Lumajang, Bogor, Muara Enim, Muaro Jambi, dan Sambas). Sejak tahun 2006 Program STBM sudah diadopsi dan diimplementasikan di 10.000 desa pada 228 kabupaten/ kota. Saat ini, sejumlah daerah telah menyusun rencana strategis pencapaian sanitasi total dalam pembangunan sanitasinya masing-masing. Dalam 5 tahun ke depan (2010 – 2014) STBM diharapkan telah diimplementasikan di 20.000 desa di seluruh kabupaten/ kota.[

Latar belakang
Tantangan yang dihadapi Indonesia terkait dengan masalah air minum, higiene dan sanitasi masih sangat besar. Hasil studi Indonesia Sanitation Sector Development Program (ISSDP) tahun 2006, menunjukkan 47% masyarakat masih berperilaku buang air besar ke sungai, sawah, kolam, kebun dan tempat terbuka.[5] Berdasarkan studi Basic Human Services (BHS) di Indonesia tahun 2006, perilaku masyarakat dalam mencuci tangan adalah (i) setelah buang air besar 12%, (ii) setelah membersihkan tinja bayi dan balita 9%, (iii) sebelum makan 14%, (iv) sebelum memberi makan bayi 7%, dan (v) sebelum menyiapkan makanan 6 %. Sementara studi BHS lainnya terhadap perilaku pengelolaan air minum rumah tangga menunjukan 99,20% merebus air untuk mendapatkan air minum, tetapi 47,50 % dari air tersebut masih mengandung Eschericia coli.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 07, 2012 9:05 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:11 am

SANITASI BURUK KERUGIAN TRILIUNAN
Kamis, 21 Oktober 2010 | 07:10 WIB
Jakarta, Kompas - Indonesia menempati peringkat ketiga dalam urutan negara dengan layanan sanitasi terburuk di Asia Tenggara. Buruknya layanan sanitasi di Indonesia menimbulkan kerugian Rp 58 triliun per tahun. Target Tujuan Pembangunan Milenium bahwa 62 persen keluarga Indonesia memiliki akses sanitasi hanya akan tercapai jika pertumbuhan layanan sanitasi dipercepat empat kali lipat. Hal itu disampaikan Kepala Sub-Direktorat Air Minum dan Air Limbah Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Nugroho Tri Utomo di Jakarta, Rabu (20/10). ”Karena tidak bisa mengakses fasilitas sanitasi yang memadai, 70 juta warga Indonesia masih membuang air sembarangan,” kata Nugroho. Layanan sanitasi Indonesia yang hanya lebih baik daripada Timor Leste dan Laos itu menimbulkan kerugian Rp 58 triliun per tahun. ”Salah satunya karena biaya memperoleh air bersih sangat mahal. Kami hitung kerugian mencapai Rp 1,2 juta per kapita per tahun. Sebenarnya kondisi sanitasi bisa diperbaiki selama lima tahun dengan dana Rp 56 triliun saja. Namun, dalam lima tahun mendatang pemerintah pusat hanya mampu menganggarkan Rp 14,7 triliun,” kata Nugroho.

Saat ini baru 51,02 persen keluarga Indonesia memiliki akses layanan sanitasi yang memadai. Target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) menetapkan, 62 persen keluarga Indonesia memiliki akses sanitasi pada 2015. ”Kita butuh kenaikan akses 11 persen dalam lima tahun. Karena pertumbuhan akses layanan sanitasi hanya 0,5 persen per tahun, harus dipacu lagi menjadi 2 persen per tahun,” ujar Nugroho. Direktur Utama Perusahaan Daerah Pengolahan Air Limbah (PAL) Jaya Liliansari Loedin menyatakan, 82 persen sungai di DKI Jakarta tercemar berat sepanjang tahun karena buruknya sanitasi di Jakarta. Dari 75 sumur yang dipantau di DKI Jakarta, kandungan bakteri ecoli 38 sumur melebihi baku mutu. ”Itu karena sumur tercemari septic tank warga,” kata Liliansari.

Hingga kini, layanan pengolahan air limbah Perusahaan Daerah PAL Jaya baru menjangkau 196.600 jiwa warga DKI Jakarta. ”Limbah yang lain dibuang langsung ke saluran drainase dan ke sungai,” kata Liliansari. Wali Kota Jambi Bambang Priyanto, selaku Ketua Asosiasi Kabupaten/Kota Peduli Sanitasi, menyatakan, pendekatan sektoral dalam penanganan sanitasi harus diubah. ”Sanitasi merupakan isu sejumlah instansi dan setiap instansi berpikir sektoral. Kami baru berhasil mempercepat peningkatan akses layanan sanitasi di Jambi setelah membentuk kelompok kerja sanitasi yang melibatkan semua pemangku kepentingan,” kata Bambang. (ROW)


Last edited by gitahafas on Tue Aug 07, 2012 9:06 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:12 am

NEGARA DENGAN SANITASI TERBURUK DI DUNIA
Kamis, 27/10/2011 13:03 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Menurut PBB, dari 7 miliar penduduk dunia masih ada sekitar 2,6 miliar orang yang tidak memiliki akses toilet dan fasilitas sanitasi limbah. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merangking negara-negara dengan sanitasi terburuk di dunia dan Indonesia menduduki peringkat ke-3. Dalam banyak kasus, orang di beberapa negara masih buang air besar (BAB) di tempat terbuka atau pergi ke semak-semak terdekat. Praktik ini dapat mematikan akibat banyaknya bakteri dari kotoran manusia yang dapat kembali ke lagi masyarakat, mencemari pasokan air dan menyebarkan penyakit. Di negara berkembang, 90 persen limbah manusia ini dibuang langsung ke danau, sungai dan lautan. Bahkan beberapa sistem pembuangan sudah terlihat tua sehingga bisa saja hancur jika dihantam hujan deras. Berikut negara-negara dengan masalah sanitasi terburuk di dunia dengan jumlah baku orang yang tidak mendapatkan akses sanitasi yang baik, seperti dilansir Livescience, Kamis (27/10/2011):

- India (818 juta)
- China (607 juta)
- Indonesia (109 juta)
- Nigeria (103 juta)
- Pakistan (98 juta)
- Bangladesh (75 juta)
- Ethiopia (71 juta)
- Kongo (50 juta)
- Brasil (39 juta)
- Tanzania (32 juta)
- Sudan (27 juta)
- Kenya (27 juta)
- Filipina (22 juta)
- Vietnam (22 juta)
- Ghana (20 juta)
- Nepal (20 juta)

Negara-negara ini mendapatkan monitoring dari WHO dan UNICEF. WHO menuturkan jika semua limbah ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menambah krisis kesehatan masyarakat yang diperkirakan dapat membunuh 1,4 juta anak setiap tahunnya, yaitu 1 anak setiap 20 detik. Jumlah ini lebih besar dibanding penggabungan kasus dari AIDS, TBC dan malaria. Saat ini sanitasi masih belum mendapatkan perhatian yang serius dibanding dengan masalah kesehatan lain. Karenanya PBB tengah menetapkan tujuan untuk mengurangi jumlah penduduk yang tidak mendapatkan sanitasi dasar.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 9:43 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:42 am

7 MILIAR PENDUDUK, DUNIA HADAPI MASALAH KOTORAN MANUSIA
Rabu, 26/10/2011 13:17 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, PBB memperkirakan penduduk dunia mencapai 7 miliar pada 31 Oktober nanti. Masih ada 2,6 miliar penduduk yang membuang air besar sembarangan sehingga terdapat lebih dari 200 juta ton limbah manusia tidak tertangani dengan baik yang akan berdampak pada kondisi kesehatan. Di negara berkembang, 90 persen limbah manusia ini dibuang langsung ke danau, sungai dan lautan. Bahkan beberapa sistem pembuangan sudah terlihat tua sehingga bisa saja hancur jika dihantam hujan deras. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menuturkan jika semua limbah ini tidak ditangani dengan baik, maka akan menambah krisis kesehatan masyarakat yang diperkirakan dapat membunuh 1,4 juta anak setiap tahunnya, yaitu 1 anak setiap 20 detik. Jumlah ini lebih besar dibanding penggabungan kasus dari AIDS, TBC dan malaria.

Saat ini sanitasi masih belum mendapatkan perhatian yang serius dibanding dengan masalah kesehatan lain. Karenanya PBB tengah menetapkan tujuan untuk mengurangi jumlah penduduk yang tidak mendapatkan sanitasi dasar. "Sanitasi bukanlah isu yang menarik atau seksi untuk dibahas, serta kadang terlihat tabu untuk dibicarakan dalam banyak konteks," ujar Dan Yeo, analis kebijakan senior di WaterAid, seperti dikutip dari LiveScience, Rabu (26/10/2011). Yeo menuturkan masalah tabu ini menjadi salah satu alasan yang membuat sanitasi sulit lepas dari isu utama dalam benak masyarakat. Umumnya jika dibangun sanitasi yang baik, maka masyarakat akan mau datang dan menggunakannya.

Selain itu buang air besar di semak-semak (BAB terbuka) masih menjadi masalah sanitasi utama masyarakat, padahal kuman patogen dari tinja bisa masuk ke desa dan seringkali mengkontaminasi pasokan air masyarakat yang dapat memicu penyakit dan juga infeksi saluran kemih. Meski begitu beberapa budaya dan cara berpikir masyarakat dalam menggunakan kamar mandi kadang menjadi hambatan dalam menyosialisasikan sanitasi yang baik, sehingga butuh pendekatan tersendiri. Untuk menciptakan sanitasi yang baik tak hanya dibutuhkan jamban saja, namun juga perlu adanya pipa saluran air yang memadai sehingga limbah manusia ini nantinya tidak mencemari air atau tanah tempat hunian masyarakat.

PBB mengungkapkan proporsi orang yang hidup di daerah kumuh perkotaan di seluruh dunia telah menurun dari 39 persen (tahun 2000) menjadi 33 persen (tahun 2010). Namun jika dilihat dari jumlahnya justru bertambah sekitar 828 juta permukiman kumuh di seluruh dunia pada tahun 2010. "Tata letak fisik dari daerah kumuh perkotaan menyulitkan pembuatan jamban, kepadatan manusia yang tinggi dan limbah yang juga tinggi sayangnya tidak diikuti dengan pembuatan jamban yang optimal," ujar Yeo. Untuk itu diperlukan penanganan yang serius dalam mengatasi masalah sanitasi di masyarakat seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk yang ada di dunia.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:44 am

4 KANDUNGAN BERBAHAYA DARI TINJA
Bramirus Mikail | Asep Candra | Kamis, 31 Mei 2012 | 11:25 WIB
MAKASSAR, KOMPAS.com - Penanganan buangan tinja tidak bisa dianggap sebagai masalah yang sepele. Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) menyebutkan, seseorang setiap tiap harinya membuang tinja seberat 125-250 gram. Jika saat ini seratus juta orang Indonesia tinggal di kawasan perkotaan, maka setiap harinya kawasan perkotaan tersebut bisa menghasilkan 25.000 ton tinja. Sekretaris Kelompok Kerja Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (Pokja AMPL) Nasional Maraita Listyasari mengatakan, sudah banyak kesadaran untuk buang air besar (BAB) di jamban, tetapi masih ada 70 juta masyarakat yang BAB di sembarang tempat. Walaupun sudah banyak jamban sehat dibangun tetapi masih banyak saja jamban yang tidak memenuhi syarat. "Padahal ketika tidak memenuhi syarat, sebenarnya kita hanya memindahkan polutan dari satu tempat ketempat yang lain," ujarnya, saat acara Workshop Media dan Kunjungan Media Mewujudkan STOP BABS 2015, di Sulawesi Selatan, Rabu, (30/5/2012). Selain jumlahnya yang begitu banyak, tinja juga memiliki potensi berbahaya dari ke-4 (empat) kandungan yang ada didalamnya. Berikut ini adalah permasalahan yang mungkin ditimbulkan akibat buruknya penanganan buangan tinja:

1. Mikroba
Tinja manusia mengandung puluhan miliar mikroba, termasuk bakteri koli-tinja. Sebagian diantaranya tergolong sebagai mikroba patogen, seperti bakteri Salmonela typhi penyebab demam tifus, bakteri Vibrio cholerae penyebab kolera, virus penyebab hepatitis A, dan virus penyebab polio. Tingkat penyakit akibat kondisi sanitasi yang buruk di Indonesia sangat tinggi. BAPENNAS menyebutkan, tifus mencapai 800 kasus per 100.000 penduduk. Sedangkan polio masih dijumpai, walaupun dinegara lain sudah sangat jarang.

2. Materi Organik
Kotoran manusia (tinja) merupakan sisi dan ampas makanan yang tidak tercerna. Ia dapat berbentuk karbohidrat, dapat pula protein, enzim, lemak, mikroba dan sel-sel mati. Satu liter tinja mengandung materi organik yang setara dengan 200-300 mg BODS (kandungan bahan organik). Sekitar 75 persen sungai di Jawa, Sumatra, Bali dan Sulawesi tercemar berat oleh materi organik dari buangan rumah penduduk. Air sungai ciliwung memiliki BODS hampir 40 mg/L (empat kali lipat dari batas maksimum 10 mg/L). Kandungan BOD yang tinggi itu mengakibatkan air mengeluarkan bau tak sedap dan berwarna kehitaman.

3. Telur Cacing
Seseorang yang cacingan akan mengeluarkan tinja yang mengandung telu-telur cacing. Beragam cacing dapat dijumpai di perut kita. Sebut saja, cacing cambuk, cacing gelang, cacing tambang, dan keremi. Satu gram tinja berisi ribuan telur cacing yang siap berkembang biak diperut orang lain. Anak cacingan adalah kejadian yang biasa di Indonesia. Penyakit ini kebanyakan diakibatkan cacing cambuk dan cacing gelang. Prevalensinya bisa mencapai 70 persen dari balita.

4. Nutrien
Umumnya merupakan senyawa nitrogen (N) dan senyawa fosfor (P) yang dibawa sisa-sisa protein dan sel-sel mati. Nitrogen keluar dalam bentuk senyawa amonium, sedangkan fosfor dalam bentuk fosfat. Satu liter tinja manusia mengandung amonium sekitar 25 gram dan fosfat seberat 30 mg. Senyawa nutrien memacu pertumbuhan ganggang (algae). Akibatnya, warna air menjadi hijau. Ganggang menghabiskan oksigen dalam air sehingga ikan dan hewan lainnya mati.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 10:03 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:45 am

10 NEGARA PALING TIDAK SEHAT UNTUK DI KUNJUNGI TURIS
Rabu, 15/12/2010 08:03 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
London, Salah satu tujuan wisata yang terkenal kumuh adalah India. Meski begitu, jumlah turis yang jatuh sakit saat mengunjungi negara ini masih kalah banyak dari Mesir yang baru-baru ini dinobatkan sebagai negara paling tidak sehat untuk dikunjungi. Statistik yang dirilis oleh Health Protection Agency (HPA) di Inggris menunjukkan 82 dari 100.000 wisatawan yang berkunjung ke Mesir mengalami gangguan pencernaan. Angka ini tercatat paling tinggi di antara negara-negara tujuan wisata terpopuler di seluruh dunia.

India yang selama ini dikenal sebagai salah satu negara paling kumuh di dunia dan banyak mengalami wabah penyakit, justru hanya menempati peringkat ke-2. Dari 100.000 kunjungan wisatawan ke negara tersebut, hanya 65 orang yang mengalami gangguan pencernaan terutama diare. Negara-negara tersebut menempati 2 posisi teratas dalam daftar 10 negara paling tidak sehat untuk dikunjungi yang dirilis oleh HPA. Peringkat itu disusun berdasarkan 24.322 laporan kasus infeksi saluran pencernaan yang dialami turis Inggris antara tahun 2004-2008.

Dalam rilis tersebut juga dikatakan, hampir 50 persen infeksi yang dialami para turis disebabkan oleh bakteri salmonella. Jenis bakteri ini paling sering ditularkan di restoran-restoran dan kolam renang yang tidak bersih atau kurang higienis. Dikutip dari HPA.org, Rabu (15/12/2010), berikut ini daftar lengkap 10 negara paling sering menyebabkan turis mengalami sakit perut.

Negara Rasio Infeksi per 100.000 Kunjungan Turis
Mesir 81,92
India 64,85
Thailand 64,50
Pakistan 60,16
Maroko 40,32
Kenya 40,10
Tunisia 34,39
Karibia 27,60
Meksiko 13,39
Republik Malta 8,59
Republik Siprus 6,50

Selain membuat daftar 10 negara paling tidak sehat, HPA juga menggolongkan daerah-daerah tujuan wisata ke dalam 3 kategori berdasarkan tingkat risiko penularan penyakit. Ketiga kategori yang dimaksud adalah sebagai berikut.

1. Risiko rendah: Eropa barat, Amerika Serikat, KAnada, Jepang, Australia dan New Zealand
2. Risiko sedang: Eropa selatan, Israel, Afrika Selatan, negara-negara di Laut Pasifik dan Kepulauan Karibia
3. Risiko tinggi: Afrika, Amerika Latin, Timur Tengah dan sebagian besar negara di benua Asia.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 9:51 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:48 am

URUSAN SANITASI SAJA, INDONESIA MASIH KETINGGALAN JAUH
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 21/05/2010 07:18 WIB
Bukittinggi, Sanitasi adalah kebutuhan dasar manusia dalam rangka kebersihan urusan buang hajat dan limbah serta penyediaan air bersihnya. Sayangnya untuk fasilitas kebutuhan dasar itu, Indonesia masih ketinggalan jauh dari tetangga-tetangganya. Sanitasi adalah urusan wajib pemerintah, sehingga diperlukan percepatan peningkatan akses maupun kualitas sanitasi di seluruh pelosok tanah air. Tiga unsur sanitasi adalah air limbah (waste water), persampahan (solid waste), dan drainase lingkungan (drainage system). Bila setiap orang tiap harinya membuang tinja 125-250 gram di perkotaan Indonesia, yang penduduknya diasumsikan 100 juta saja, maka akan dihasilkan 25.000 ton tinja per hari.

Jika tidak ditangani, bukan saja masalah volume, tapi juga soal mikroba, materi organik, nutrien, dan telur cacing (4 komponen dalam tinja) harus dihadapi. Untuk itu, pada tanggal 20-21 Mei 2010, tak kurang dari 63 kabupaten/kota penggiat pembangunan sanitasi berkumpul di City Sanitation Summit (CSS) untuk menguatkan kemitraan mendukung program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman (PPSP). "Ini merupakan salah satu even regular Aliansi Kota Peduli Sanitasi (AKOPSI) dalam mendukung pencapaian Indonesia yang Bebas Buang Air Besar Sembarangan pada tahun 2014," ujar Ketua AKOPSI, H. Bambang Priyanto yang juga menjabat sebagai Walikota Jambi, dalam acara City Sanitation Summit VII, di Auditorium Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Komplek Kantor Walikota Bukittinggi, Jumat (21/5/2010).

AKOPSI adalah wadah untuk peningkatan sinergi, pertukaran informasi, transfer pengetahuan, pertukaran pengalaman, pendampingan teknik dan manajemen, pemagangan serta pendanaan bersama dan berbagai kerjasama. Anggota AKOPSI sampai saat ini adalah Kota Jambi, Payakumbuh, Blitar, Surakarta, Denpasar, Banjarmasin, Kediri, Batu, Pekalongan, Tegal dan Padang. Bukittinggi sebagai tuan rumah pelaksana CSS yang ketujuh (CSS VII) bersama tim pengarah dari AKOPSI di dukung Tim Teknis Pembangunan Sanitasi (TTPS), sepakat untuk mengagendakan kemitraan sebagai topik pertemuan. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa pembangunan sanitasi tak akan terlepas dari pentingnya kemitraan dengan berbagai pihak untuk mampu memberikan layanan sanitasi kepada seluruh masyarakat.

"Saat ini Bukittinggi sedang membangun kemitraan sajajar dengan kota-kota tetangga. Misalnya untuk pembangunan Tempat Pembuangan Akhir sampah kota dengan kota Payakumbuh, kabupaten Agam dan lainnya," ujar H Ismet Amzis, SH, Walikota Bukittinggi. Ismet juga menuturkan bahwa sebagai anggota AKOPSI, dapat saling memetik pembelajaran dan pengalaman dari kabupaten/kota lainnya sebagai upaya menemukan inovasi yang dibutuhkan. Dalam acara yang juga dihadiri Gubernur Sumatera Barat, Prof. Dr. Ir. H. Marlis Rahman, M.Sc, turut hadir para Bupati/Walikota, anggota DPRD dan para pimpinan kedinasan/SKPD terkait dari 74 kabupaten/kota, serta utusan dari 15 provinsi dan pejabat berwenang dari delapan Kementerian terkait.

Akses sanitasi sangat menentukan keberhasilan dari paradigma pembangunan kesehatan lima tahun ke depan yang lebih menekankan pada aspek pencegahan daripada aspek pengobatan. Percepatan akan sulit terwujud bila tidak disertai dengan memperkokoh koordinasi dan kemitraan lintas sektoral dan setiap tingkat pemerintahan, maupun kemitraan antar daerah serta kerja sama sesama stakeholders.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 9:52 am

KOTA SEPTIC TANK TERPANJANG, WARGA DKI TINGGAL DIATAS TINJA
Kamis, 10/09/2009 15:37 WIB Nurul Ulfah - detikHealth
Jakarta, Jakarta masih menyandang gelar kota septic tank terpanjang. Masalah septic tank dan polusi air tanah belum juga terpecahkan. Septic tank kini menjadi salah satu pemicu polusi lingkungan di Jakarta. Pakar lingkungan Dr Ir Firdhaus Ali Msc mengatakan Jakarta adalah kota yang memiliki septic tank terpanjang di dunia. Jadi jangan heran kalau banyak penyakit yang muncul di Jakarta. "Kita tinggal di atas tinja," kata Firdhaus dalam acara diskusi 'Polusi Jakarta Ancaman Serius Terhadap Kesehatan' di Menara Cakrawala Lt.19 JAC Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2009). Lebih dari satu juta septic tank ada di kota Jakarta dan sekitar 60% rumah di Jakarta memiliki sumur yang jaraknya kurang dari 10 meter dari septic tank. Seharusnya kata Firdhaus pemerintah mencontoh negara lain seperti Singapura yang mengumpulkan tinja dalam satu waduk lalu limbah diolah lagi dan menjadi air bersih yang bisa dipakai lagi. Jadi jangan heran kalau 70 persen air tanah di Jakarta terkontaminasi tinja atau bakteri seperti E coli. Ancaman penyakit pun bakal terus ada.

Saat ini air yang digunakan di kota Jakarta berasal dari air tanah. Padahal seharusnya air tanah itu tidak boleh dieksploitasi, karena air tanah itu akan menentukan ketinggian permukaan daratan. Sumber persediaan air tanah di Jakarta adalah air yang berasal dari 25 juta tahun lalu yang seharusnya tidak boleh digunakan. Karena semakin banyak air tanah yang dieksploitasi permukaan tanah menurun, yang membuat permukaan air laut naik dan kota bisa tenggelam. Firdhaus mengatakan kota Jakarta sudah menjadi kota dengan tata ruang terhancur di banding beberapa kota lain di dunia. Dengan jumlah penduduk 12,5 juta, Jakarta adalah satu-satunya kota dengan tata ruang terburuk di dunia.

Yang menjadi masalah ekologi di Jakarta saat ini adalah masalah penyediaan air minum bersih, penanganan banjir, limbah cair dan padat, transportasi dan polusi air tanah. Sebesar 90% polusi di Jakarta disebabkan oleh kemacetan yang menyebabkan kerugian waktu, bahan bakar, kesehatan. Satu-satunya cara untuk membuat Jakarta lebih ramah lingkungan adalah membongkar kota Jakarta dan memindahkan jalanan highway ke bawah tanah. Tapi hal ini sering bertabrakan dengan tujuan pembangunan kota Jakarta yaitu mendapat pendapatan setinggi-tingginya. "Kota kita dikendalikan oleh market dan tunduk dengan proyek yang bisa meningkatkan income bukan dikendalikan oleh tujuan untuk kesejahteraan masyarakat," tutur Firdhaus prihatin.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 1:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 10:02 am

SEPTIC TANK HARUS DILAPISI SEMEN AGAR TAK CEMARI AIR TANAH
Kamis, 02/09/2010 15:17 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Agar tidak cepat penuh, septic tank sering dibuat tanpa dilapisi batu atau semen. Cara ini salah, sebab tidak hanya akan mencemari air tanah tetapi juga membuat proses penguraian tinja secara anaerob terhambat. Di permukiman padat, septic tank yang tidak dilapisi jelas berbahaya karena dapat mencemari air tanah. Dengan luas lahan yang terbatas, orang-orang cenderung membuat septic tank tidak jauh dari sumur yang menjadi sumber air minum. Padahal, berbagai jenis bakteri patogen (penyebab penyakit) mampu menembus tanah secara menyamping sejauh kurang lebih 7 meter. Jangkauan tersebut bisa bervariasi tergantung porositas atau kemampuan tanah menyerap cairan. Hal ini diungkap oleh Dr Budi Haryanto, MKM, MSc saat berbicara dalam diskusi media 'Waspadai Ancaman di Balik Air Minum Anda' yang digelar PT Unilever Indonesia di restoran The Apartement, Kuningan, Jakarta, Kamis (2/9/2010).

"Di desa-desa, jarak septic tank dianjurkan tidak kurang dari 10 meter. Dalam jarak tersebut, septic tank masih aman tanpa perlu dilapisi. Namun di perkotaan, jarang ada lahan seluas itu," ungkap Dr Budi. Selain dapat mencemari air tanah, Dr Budi mengatakan bahwa secara teori septic tank yang tidak dilapisi semen justru tidak dibenarkan. Penguraian tinja oleh bakteri anaerob (tanpa oksigen) membutuhkan lingkungan yang kedap, sehingga septic tank harus tertutup dan diberi lapisan semen di semua sisi. Namun bukan septic tank saja yang harus diberi lapisan semen. Sumber air, terutama sumur yang digali harus dilapisi hingga semen minimal hingga kedalaman 3 meter untuk mencegah kontaminasi bakteri. "Secara vertikal, jangkauan bakteri patogen juga punya keterbatasan. Rata-rata hingga kedalaman 2,75 meter. Jika dalam waktu 3 hari tidak menemukan sumber air, biasanya bakteri akan mati sebelum mencapai kedalaman 3 meter," tambah Dr Budi.

Bagaimana dengan sumur bor, apakah juga harus dilapisi?
Menurut Dr Budi, biasanya sumur bor sudah dilengkapi pipa hingga kedalaman 3 meter. Selebihnya tidak menjadi masalah, karena bakteri jarang bisa menjangkau kedalaman lebih dari itu.


Last edited by gitahafas on Sat Jun 30, 2012 2:02 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Hygiene dan Sanitasi   Sat Jun 30, 2012 1:14 pm

AIR, SANITASI DAN MASALAH KEBERSIHAN MASIH SUMBANG KEMATIAN
Minggu, 09 Oktober 2011 19:15 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Penyakit terkait air, sanitasi dan masalah kebersihan (hygiene) berdasarkan data World Health Organization (WHO) 2008 menyumbangkan 3,5 persen dari total kematian di Indonesia. Sedangkan salah satu penyakit akibat ketiga hal tersebut, yaitu diare, menyumbang kematian nomor satu pada balita di Indonesia—sebesar 25 persen sesuai data Riset Kesehatan Dasar 2007. Masalah utama yang memengaruhi adalah masalah sanitasi. Meliputi banyak faktor sanitasi seperti selokan tersumbat, mencuci dan mandi di sungai tercemar, buang air besar sembarangan, jamban yang asal-asalan, pembuangan limbah industri di kawasan pemukiman dan pembuangan liar lumpur tinja. Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Tjandra Yoga Aditama, mengatakan fasilitas seperti seperti mandi cuci kakus (MCK) masih menjadi kendala bagi sebagian masyarakat Indonesia. Begitu juga dengan jamban dengan pembuangan yang tidak benar. Selain penyakit terkait air, sanitasi dan kebersihan, angka kematian juga sangat dipengaruhi oleh perlilaku orang Indonesia. ''Penyakit-penyakit ini sebenarnya bisa dihindarkan melalui perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS),'' kata Tjandra. Penyakit seperti diare, cacingan dan typus bisa menular dari tangan yang tidak bersih. Sayangnya, perilaku cuci tangan masih jarang dilakukan orang. Secara umum perilaku cuci tangan pakai sabun orang Indonesia masih sangat rendah. Data perilaku cuci tangan Kementerian Kesehatan 2010 mencatat hanya 23 persen orang yang mencuci tangan dengan sabun. Meningkat dua kali lipat dibanding 2007 yang sebesar 11 persen. Meski begitu, kajian morbiditas diare tahun 2010 oleh Kementerian Kesehatan menunjukkan penurunan penderita diare dari 423 per seribu penduduk menjadi 411 per seribu penduduk. Menurut Tjandra, cuci tangan pakai sabun adalah cara sederhana menjaga kesehatan dan bisa menurunkan kasus diare hingga 47 persen, infeksi saluran pernafasan atas (ISPA) dan flu burung hingga 50 persen.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 9:39 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Hygiene dan Sanitasi
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 22Go to page : 1, 2, 3 ... 11 ... 22  Next
 Similar topics
-
» Ladybugs and oral hygiene
» Hygiene question for 'apron'
» Personal hygiene in the 18th century.

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: