Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kesehatan Jiwa

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 23 ... 44  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:33 pm

2 JUTA WARGA JAKARTA MENDERITA GANGGUAN JIWA
Jumat, 17 Oktober 2008 03:09 WIB
Republika.co.id - JAKARTA -- Fakta kesehatan jiwa di ibukota Jakarta semakin memprihatinkan, di mana dari delapan juta penduduknya, dua juta di antaranya atau satu banding empat, menderita gangguan neurotik atau gangguan kecemasan. "Gangguan ini tidak berbahaya, namun mengurangi produktivitas," kata Staf Ahli Menteri Kesehatan, Rahmi Kuntoro, saat memberi sambutan pada Seminar "Kesehatan Jiwa Menjadi Prioritas global", di Jakarta, Rabu. Sementara itu 8.000 dari dua juta penduduk Jakarta terdeteksi mengalami gangguan jiwa skizofrenia, yang pada level ini gangguan jiwa sudah dalam kategori berat. Data WHO menyebutkan, selama tiga tahun terakhir (2005-2007) sedikitnya 50 ribu orang Indonesia melakukan bunuh diri akibat kemiskinan dan himpitan ekonomi. Faktor ekonomi ini, ujarnya, memang membuat seseorang menjadi rentan terhadap stress, cemas, ketergantungan pada zat psikoaktif serta berperilaku menyimpang. (ant/ah)


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:44 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:33 pm

AWAS, MAKIN BANYAK ORANG SAKIT JIWA!
Penulis : Evy Rachmawati | Rabu, 9 Juli 2008 | 19:57 WIB
JUMLAH penderita gangguan jiwa di daerah perkotaan terus meningkat seiring dengan makin beratnya tekanan hidup, baik secara ekonomi maupun sosial seiring dengan menaiknya harga bahan bakar minyak (BBM). Mereka umumnya mengalami gangguan psikologis dan perilaku sehingga menurunkan produktivitas mereka dan menghambat interaksi sosial dengan lingkungan sekitar. "BBM itu faktor dominonya kemana-mana. Harga-harga makin naik, sehingga banyak orang depresi," kata Sekretaris Rumah Sakit Jiwa/RSJ Menur Provinsi Jawa Timur dr Hendro Riyanto yang sedang berada di Jakarta, Rabu (9/7). Di RSJ Menur menurut Kepala Sub Bidang Rekam Medik dan Informasi Bambang Nuji, jumlah pasien rawat inap di RSJ mengalami peningkatan terutama pada bulan Mei 2008 yakni mencapai 200 pasien. Ini adalah angka tertinggi selama satu semester 2008 untuk pasien rawat inap. Januari 2008 sebanyak 182 pasien, Februari 2008 158 pasien, Maret 2008 179 pasien, April 2008 188 pasien, Mei 2008 200 pasien dan Juni 2008 165 pasien. Sedangkan untuk pasien rawat jalan di bulan Januari 2008 sebanyak 2.151 kunjungan, Februari 2008 1.923 kunjungan, Maret 2008 1.958 kunjungan, April 2008 1.152 kunjungan, Mei 2008 2.121 kunjungan, Juni 2008 2.141 kunjungan. "Total pasien rawat inap Januari-Juni 2008 sebanyak 1.072, dan pasien rawat jalan Januari-Juni 2008 ada 12.445 kunjungan," kata Bambang Nuji. Hendro Riyanto mengatakan, menaiknya jumlah pasien di RSJ juga akibat penggunaan kartu Asuransi Kesehatan bagi Masyarakat Miskin/Askeskin, sehingga mereka bisa berobat gratis. "90 persen pasien yang menderita gangguan jiwa ini adalah orang miskin, dan 70 persen di antaranya disebabkan karena masalah ekonomi, seperti menganggur, korban Pemutusan Hubungan Kerja/PHK sehingga keluarganya terlantar dan dia terganggu jiwanya," kata Hendro Riyanto. Selain itu, persoalan yang kini terjadi di Surabaya adalah makin banyaknya gelandangan psikotik yang berkeliaran di kota Surabaya karena tidak diurus keluarga mereka. Mereka ini ditampung di Dinas Sosial. Jumlahnya ada 600 orang. Kalau kondisinya parah, baru mereka dibawa ke RSJ Menur untuk berobat, kata Hendro Riyanto. Untuk itu, dr Fidiansyah SpKJ, Wakil Direktur Medik Rumah Sakit Jiwa Soeharto Herdjan Jakarta, saat dihubungi di Jakarta, Rabu (9/7), menyatakan pemerintah seharusnya meningkatkan akses masyarakat terhadap fasilitas pelayanan kesehatan jiwa. Hal ini bisa ditempuh dengan menempatkan kesehatan jiwa sebagai salah satu kesehatan dasar yang harus diberikan di setiap pusat kesehatan masyarakat. Saat ini, jumlah penderita gangguan jiwa ringan dan sedang sangat banyak di kalangan masyarakat. Diperkirakan, 20-30 persen dari total populasi penduduk di perkotaan mengalami gangguan jiwa ringan dan berat. Selain itu, sekitar satu persen dari total jumlah penduduk mengalami gangguan jiwa berat sehingga harus mendapat pengobatan di rumah sakit atau penyedia layanan kesehatan jiwa lain. Sayangnya, sampai saat ini jumlah penderita gangguan jiwa yang telah mendapat pengobatan masih sangat terbatas. Untuk meningkatkan akses pelayanan kesehatan jiwa, kami mengadakan mobil keliling pelayanan kesehatan jiwa yang mengunjungi puskesmas-puskesmas di Jakarta. Selain mendeteksi warga yang mengalami gangguan jiwa, mobil keliling ini juga untuk mempermudah pasien yang sudah selesai dirawat di rumah sakit jiwa untuk kontrol secara teratur, ujarnya. Penderita gangguan jiwa harus kontrol secara teratur untuk mengatasi gangguan neurotransmiter di dalam tubuhnya. Jika tidak berobat secara teratur dengan dosis yang sangat kecil, maka penderita bisa mengalami kekambuhan. Penderita gangguan jiwa itu seperti penyakit lain yang membutuhkan pengobatan dalam jangka panjang. "Kondisi kesehatan jiwanya harus terus dikontrol agar bisa beraktivitas sehari-hari secara normal," kata Fidiansyah. Penyebab gangguan kejiwaan itu multifaktor, bukan hanya karena tekanan ekonomi, ujarnya menambahkan. Jika penderita gangguan jiwa ringan dan berat tidak segera ditangani, maka gejalanya akan bertambah berat dan bisa mengakibatkan munculnya perilaku anarkhis dalam menghadapi persoalan pribadi dan sosial. Hal ini bisa dilihat dalam sejumlah kerusuhan yang dilakukan sekelompok masyarakat.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 5:02 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:34 pm

GANGGUAN JIWA YANG BISA MEMBUAT ORANG DIKUCILKAN
Rabu, 07/09/2011 16:04 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Gangguan jiwa memiliki rentang yang sangat luas mulai dari yang ringan hingga berat. Tapi ada 5 gangguan jiwa yang bisa membuat seseorang menjadi malu atau merasa dikucilkan. Gangguan jiwa yang dialami seseorang bisa bermacam-macam seperti stres atau depresi, tapi umumnya tetap bisa beraktivitas. Berikut ini 5 gangguan jika yang cukup membuat seseorang menjadi malu atau bahkan merasa dikucilkan, seperti dikutip dari HuffingtonPost, Rabu (7/9/2011).

Foreign Accent Syndrome (sindrom bahasa asing)
Kondisi ini sangat jarang terjadi dan biasanya disebabkan oleh stroke atau trauma di kepala yang menimbulkan gangguan otak di bagian berbicara. Gangguan ini membuat seseorang berbicara dengan aksen yang sama sekali berbeda ketika ia sudah sadar seperti aksen Irlandia atau Perancis.

Alien Hand Syndrome (sindrom tangan alien)
Gangguan ini dikenal dengan nama Dr Strangelove Syndrome, yang mana satu tangan bertindak sendiri dan melakukan tindakan yang kompleks tapi bertentangan dengan maksud atau niat orang tersebut. Penyebabnya bisa akibat pengobatan tertentu dari epilepsi yang mana memisahkan dua belahan otak, dan hingga kini belum diketahui dengan pasti bagaimana cara penanganannya.Kondisi ini kadang disebut juga dengan 'tangan nakal' karena bisa membuat orang malu akibat melakukan hal-hal yang tidak senonoh, padahal orang tersebut tidak bermaksud demikian.

Stendhal's Syndrome
Sindrom ini adalah gangguan psikosomatik yang menyerang seseorang ketika terkena benda-benda indah atau kuat pada jarak dekat, misalnya melihat karya seni terkenal atau keindahan alam. Gejala yang muncul dari sindrom ini seperti pusing dan sesak napas psikosis. Contoh dari sindrom ini adalah Jerusalem Syndrome dan Paris Syndrome.

Walking Corpse Syndrome
Sindrom ini gangguan langka yang mana penderita merasa yakin bahwa dirinya telah meninggal. Kondisi ini pertama kali dijelaskan oleh seorang ahli saraf (neurolog) Jules Cotard pada tahun 1880. Seseorang merasa dirinya sudah meninggal, padahal badannya masih hangat dan bisa melakukan hal-hal lain. Kondisi ini juga memicu seseorang melakukan hubungan seks dengan mayat (nechrophilia). Sindrom ini biasanya muncul sebagai akibat dari beberapa penyakit mental lainnya seperti depresi kronis, tapi bisa juga disebabkan oleh cedera otak seperti orang yang baru mengalami kecelakaan sepeda motor.

Synethesia
Gangguan ini memembuat seseorang memiliki kemampuan untuk membentuk rasa, melihat musik dan variasi lainnya, misalnya seseorang bisa menganggap setiap huruf dari alfabet memiliki warna berbeda, mengartikan bau yang berbeda-beda untuk satu aroma yang sama. Synesthesia telah lama dikaitkan dengan tingkat kreativitas yang tinggi dan sebagian besar tidak berbahaya meski ada risiko sensory overload. Penyebabnya kemungkinan akibat penggunaan obat psychedelic yang berlebihan dan konsekuensi dari gangguan pendengaran atau stroke.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:34 pm

SEBUTAN 'ORANG GILA' TAK DIPAKAI LAGI UNTUK PASIEN GANGGUAN JIWA
Jumat, 09/09/2011 10:04 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bandung, Sebutan orang gila, sinting, sableng atau sarap seringkali digunakan sebagai guyonan di masyarakat. Agar tidak menyudutkan pasien-pasien gangguan jiwa, maka sebutan 'orang gila' tidak lagi digunakan untuk pasien gangguan jiwa. Istilah 'orang gila' sudah tidak boleh lagi digunakan untuk menyebut pasien gangguan jiwa. Istilah yang sudah diakui dan disepakati oleh kelompok profesi dan LSM adalah Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK), Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGM) dan Orang Dengan Skizofrenia (ODS). "Penggunaan kata gila, edan, miring, sableng merupakan kata-kata umpatan yang populer di masyarakat. Sebaiknya tidak diasosiakan dengan penderita skizofrenia," tutur drg Luki Hartanti, MPH, dari Direktorat Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes RI dalam acara workshop 'Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa tentang Kesehatan Jiwa' di Hotel Grand Seriti, Bandung, Jumat (9/9/2011). Menggunakan istilah 'gila' sebagai guyonan bisa memberi dampak menyudutkan bagi orang-orang yang mengalami gangguan jiwa. Untuk itulah istilah 'gila' sudah tidak boleh lagi digunakan untuk pasien gangguan jiwa. "Sekarang sebutan 'orang gila' tidak lagi digunakan, tapi diganti dengan Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK)," jelas dr G Pandu Setiawan, SpKJ, Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa (Jejak Jiwa). Menurut dr Pandu, ODMK juga memiliki hak yang sama dengan orang yang sakit lainnya. Selain sering mendapatkan stigma buruk, ODMK juga selalu disudutkan dengan menggunakan istilah 'orang gila' sebagai guyonan. Hal ini justru akan membuat pasien gangguan jiwa semakin sulit dipulihkan. "Mari kita sepakati untuk menggunakan istilah ODMK, bukan gila, sinting, sarap dan sebagainya," tutup dr Pandu.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:43 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:34 pm

WHO: 450 JUTA ORANG MENDERITA GANGGUAN JIWA
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 10 Oktober 2012 | 17:10 WIB
KOMPAS.com Hampir 450 juta orang di seluruh dunia menderita gangguan mental, dan sepertiganya tinggal di negara berkembang. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebanyak 8 dari 10 penderita gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan. Kebanyakan penderita gangguan mental itu adalah korban yang selamat dari penyakit menular, bencana alam, dan perang. Di Afganistan, mayoritas keluarga mengalami kehilangan setidaknya satu anggota keluarga selama 30 tahun periode konflik. Hampir separuh penduduk berusia di atas 15 tahun di negara tersebut menderita gangguan mental, seperti depresi, kecemasan, atau stres pasca-trauma. Afganistan tidak sendiri. Hampir separuh populasi dunia tinggal di negara, dengan satu psikiater melayani 200.000 orang. WHO mengungkapkan, negara miskin cuma memiliki kurang dari satu dokter spesialis jiwa per satu juta penduduk. Di negara-negara Afrika seperti Nigeria, seperempat pasien di pusat layanan kesehatan memiliki gejala depresi. Namun, hanya satu dari enam pasien yang mendapatkan perawatan. Di Ghana, pasien di klinik kesehatan mental dibiarkan kelaparan dan telanjang. Pada bulan Mei 2012, dalam pertemuan para menteri kesehatan sedunia telah disepakati pentingnya resolusi kesehatan mental dan membuat komitmen baru untuk meningkatkan pemahaman terhadap isu kesehatan mental dan meningkatkan standar pelayanan di seluruh dunia. Para pakar juga menyerukan perlunya gerakan global untuk menghadapi penyakit gangguan mental. Dalam Hari Kesehatan Jiwa Ke-20 Sedunia yang bertema "Depresi: Suatu Krisis Global", disadari bahwa penanganan depresi dan kesehatan jiwa pada umumnya belum menjadi sebuah gerakan. Penyakit yang ditimbulkan depresi beragam, antara lain gangguan kekebalan tubuh dan penggumpalan darah, sehingga penderita mudah sakit, mulai dari flu, kanker, hingga serangan jantung dan stroke.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:44 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:34 pm

DI DESA & DI KOTA SAMA SAJA, ORANG 'GILA' DIMANA MANA
Nurvita Indarini - detikHealth Rabu, 24/10/2012 08:32 WIB
Jakarta, Gangguan jiwa bisa dialami siapa saja tanpa memandang jenis kelamin, kelas sosial, ataupun tingkat pendidikan. Bahkan anak-anak dan kaum remaja juga bisa mengalami gangguan jiwa. Orang 'gila' ini bisa ditemui di manapun, di desa maupun di kota. Orang 'gila' yang dimaksud adalah mereka yang memiliki masalah kejiwaan alias ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) berat. Menurut Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan tahun 2007, ada 11,6 persen penduduk Indonesia yang berusia di atas 15 tahun mengalami masalah gangguan kesehatan jiwa. Suatu desa di Ponorogo, Jawa Timur, disebut sebagai 'kampung gila' lantaran banyak warganya yang mengalami gangguan jiwa. Konon, satu dari 100 penduduk di desa tersebut mengalami gangguan kejiwaan. Diduga masalah ekonomi menjadi pemicu munculnya ODMK. Seorang perempuan berusia sekitar 20 tahun di suatu desa Kabupaten Kediri, Jawa Timur, bahkan harus dirantai lantaran gangguan jiwanya dianggap sudah sangat mengganggu orang lain.

Haryoto adalah sosok lain contoh orang desa yang mengalami gangguan kejiwaan. Umurnya sekarang sudah puluhan tahun tapi masih setia mengenakan seragam SMA. Gangguan jiwa dialaminya sejak masih duduk di bangku SMA. Menurut sang ibu saat ditemui detikhealth, Haryoto 'berubah' karena keinginannya masuk SMA tidak terpenuhi. Alih-alih belajar di SMA yang diidamkan, Haryoto malah belajar di SMEA yang menjadi pilihan orang tuanya. Tak hanya di desa, masyarakat kota juga rentan mengalami gangguan kejiwaan. Direktur Medik dan Keperawatan RSJ Soeharto Heerdjan, Dr Reza, beberapa waktu lalu mengatakan saat ini Jakarta adalah kota dengan angka gangguan kesehatan jiwa tertinggi. Di mana gangguan jiwa berat pada usia di atas 15 tahun mencapai angka 2,03 persen. Kemacetan dan tekanan pekerjaan ditengarai menjadi salah satu penyebab meningkatnya jumlah orang yang mengalami gangguan jiwa. 1,9 Persen masyarakat di kota Banda Aceh juga mengalami gangguan kejiwaan. Hal ini disebabkan trauma akibat gempa dan tsunami yang menerjang pada 2004 lalu. Seseorang bisa mengalami gangguan jiwa karena berbagai macam sebab. Faktor somatogenik (fisik biologis), faktor psikogenik (psikologis), dan faktor sosiogenik (sosial-budaya) adalah tiga faktor yang menyebabkan gangguan kejiwaan.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:49 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:35 pm

BARU 10% PENDERITA SAKIT JIWA DILAYANI
Minggu, 02 September 2012 00:00 WIB Media Indonesia
JUMLAH penderita gangguan jiwa di Indonesia masih tinggi. Saat ini diperkirakan lebih dari 1,1 juta (0,46%) penduduk Indonesia mengalami gangguan kelainan jiwa berat (psikosis). Celakanya, dari jumlah itu hanya sekitar 10% yang mendapat pelayanan secara memadai. Sekitar 90% penderita yang tidak terlayani akhirnya terpaksa menggelandang atau disembunyikan oleh keluarga mereka dengan cara dipasung. "Keterbatasan membuat kita hanya mampu menangani sekitar 10% penderita psikosis," ujar Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Diah Setia Utami di ruang kerjanya di Jakarta, Jumat (31/Cool. Kurangnya sosialisasi di masyarakat bahwa sakit jiwa bisa disembuhkan, kurangnya dana, dan masih tingginya tingkat kekambuhan pasien yang telah sembuh (relapse), sambung Diah, juga menjadi faktor yang menyebabkan sebagian penderita psikosis belum tertangani. Saat ini Indonesia memiliki 33 rumah sakit jiwa (RSJ) yang tersebar di seluruh provinsi. Namun, masih ada delapan provinsi yang belum memiliki RSJ, yaitu Sulawesi Barat, Papua Barat, Maluku Utara, Banten, Kepulauan Riau, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, dan Gorontalo. Rata-rata RSJ di Indonesia memiliki 100-300 kapasitas tempat tidur. Berbeda dengan rumah sakit umum yang rata-rata pemanfaatan (utilisasi) tempat tidurnya 60% dari total kapasitas, pada RSJ utilisasi tempat tidur bisa mencapai 90%. Sekitar 20% pengguna tempat tidur RSJ adalah pasien relapse. Sejatinya pasien itu telah sembuh. Namun, karena lingkungan dan keluarga masih trauma dan enggan menerima kembali, akhirnya mantan pasien tersebut kembali ke RSJ. Peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa tecermin dari kondisi di daerah. Di Jawa Tengah, lebih dari 30 ribu orang menderita psikosis. Sebanyak 20 ribu di antaranya dirawat di beberapa RSJ, sedangkan 943 orang dipasung. Di Kalimantan Timur, peningkatan penderita psikosis terutama dipicu meningkatnya kebutuhan hidup, terjadinya pemutusan hubungan kerja, serta karena perceraian. Persoalan ekonomi juga menjadi pemicu meningkatnya penderita psikosis di Jakarta. m"Mereka rata-rata mengalami kesulitan tidak kunjung mendapat pekerjaan. Kondisi ini tidak bisa diatasi sehingga memicu psikotik," kata Kepala Seksi Pelayanan dan Rehabilitasi Sudin Sosial Jakarta Selatan, Miftahul Huda, kemarin. (Tlc/Nyt/AS/JH/SY/RF/PO/X-7)


Last edited by gitahafas on Sun Sep 02, 2012 11:16 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:35 pm

BENARKAH BICARA SENDIRI MERUPAKAN TANDA AWAL KEGILAAN?
Sabtu, 25 September 2010 20:42 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, LONDON--Sebagian dari anda mungkin pernah berbicara sendiri ketika sedang marah. Pertanyaan yang muncul, apakah saya gila?. Pertanyaan ini kemudian memunculkan silang pendapat antar peneliti. Banyak yang mengatakan berbicara sendiri merupakan tanda awal dari kegilaan. Tak sedikit pula yang mengatakan berbicara sendiri mungkin sangat baik bagi anda. Khusus pendapat yang terakhir, peneliti berasumsi berbicara sendiri dapat melatih suara hati anda, meningkatkan kontrol diri dan mengurangi prilaku impulsif. Peneliti juga berkeyakinan adanya manfaat lain yang diperoleh seperti memperkuat tekad untuk diet, membantu meredakan argumen dan meningkatkan kepercayaan diri untuk mengambil keputusan.

Guna membuktikan kebenaran pendapat itu, Psikolog University of Toronto, Kanada memberikan partisipan sejumlah tantangan kepada mereka tentang kemampuan mereka menahan diri. Sebagian dari partisipan oleh peneliti dilarang untuk berbicara sendiri dengan dipaksa membaca satu kata berulang kali. "Melalui rangkaian tes yang diberikan, kami menemukan bahwa seseorang bertindak lebih impulsif ketika mereka tidak menggunakan suara batin atau menggantinya dengan pekerjaan," tutur Michael Inzlicht seperti dikutip dailymail. Selanjutnya, pada sesi tantangan lain, partisipan diberikan kesempatan untuk mengujicobakan pengoperasian komputer. Oleh peneliti partisipan diperintahkan untuk menekan tombol ketika terdapat simbol pada layar. Jika mereka melihat simbol yang berbeda mereka diharuskan menekan tombol. Melalui tes ini, kontrol diri karyawan dapat diukur oleh seberapa baik mereka menolak untuk menekan tombol ketika sebuah simbol alternatif tidak muncul.

Pada sesi kedua, peneliti lebih memfokuskan diri pada usaha mencegah partisipan melatih suara hati mereka saat melakukan tes. Hal ini dilakukan guna melihat apakah akan berdampak pada kemampuan partisipan dalam menahan diri. "Tanpa kemampuan untuk menyampaikan pesan verbal kepada diri mereka sendiri, partisipan tidak mempunyai ketahanan yang cukup untuk mengkontrol diri mereka," jelasnya. Inzlicht mengakui diawal pihaknya penasaran dengan fungsi penting dari kebiasaan seseorang berbicara sendiri. Melalui penelitian ini, kata dia, berbicara sendiri nyatanya membantu seseorang untuk mengendalikan diri dan mencegah seseorang dari keputusan yang impulsif. Peneliti lainnya, Alexa Tullett menambahkan berbicara dengan diri sendiri mengarahkan seseorang untuk mengendalikan diri.


Last edited by gitahafas on Fri Jun 22, 2012 12:49 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:35 pm

PUSKESMAS HARUS BISA MENANGANI PASIEN SAKIT JIWA
Jumat, 09/09/2011 08:02 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bandung, Masih banyak pasien gangguan jiwa di daerah harus dipasung karena tidak adanya fasilitas kesehatan jiwa. Kini Puskesmas di seluruh Indonesia disiapkan untuk bisa menangani pasien gangguan jiwa. Banyaknya jumlah pasien gangguan jiwa yang dipasung salah satunya disebabkan karena tidak adanya layanan kesehatan masyarakat terdekat yang mampu menangani pasien tersebut. Selain itu, kurangnya informasi juga membuat masyarakat masih memiliki stigma buruk terhadap pasien gangguan jiwa, bahkan hingga memasungnya. "Program terobosan terbaru karena banyaknya pasien gangguan jiwa, yang pertama kita melatih dokter dan perawat yang ada di Puskesmas. Kemudian menyediakan obat-obatan yang diperlukan," tutur drg Suyatmi, MM, Kasubdit Bina Kesehatan Jiwa di Non Fasilitas Pelayanan kesehatan Kemenkes RI, dalam acara workshop 'Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa Tentang Kesehatan Jiwa' di Hotel Grand Seriti, Bandung, Jumat (9/9/2011).

Sesuai dengan rekomendasi Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2001, drg Suyatmi menyampaikan bahwa di tingkat Puskesmas harus sudah ada fasilitas untuk pelayanan kesehatan jiwa. "Sekarang ada sekitar 900 Puskesmas yang sudah bisa melayani (pasien gangguan jiwa). Target 2011, 45 persen dari seluruh Puskesmas," lanjut drg Suyatmi. Sementara dr Kuntjoro Adi Purjanto, Sesditjen Bina Upaya Kesehatan, menjelaskan bahwa hal yang terpenting saat ini adalah menggeser pola pengobatan, dari kuratif menjadi preventif dan promotif. "Sekarang kita melatih tenaga kesehatan, dari ujung-ujung (Indonesia) agar tidak ada lagi orang yang dipasung karena kurangnya tenaga kesehatan yang menangani," jelas dr Kuntjoro. Khusus untuk daerah Aceh, semua Puskesmas sudah ada pelayanan untuk kesehatan jiwa. Tahun 2011 bahkan Pemda Aceh sudah menyatakan Aceh bebas pasung. "Di Yogya peran psikologi klinik juga sudah berjalan," tutup dr Kuntjoro.


Last edited by gitahafas on Fri Jun 22, 2012 12:52 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Fri Jun 22, 2012 10:36 am

GALAU PICU PENYAKIT JIWA
Rabu, 25 April 2012, 22:54 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Galau. Kata ini amat populer di kalangan remaja saat ini. Tapi tahukah Anda, remaja yang terlalu sering galau dapat terkena gangguang bipolar atau gangguan jiwa yang terjadi secara berulang-ulang dalam rentan waktu lama dan berlangsung seumur hidup. Menurut Kepala Departemen Psikiatri Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Dr Ayu agung Kusumawardhani, gangguang bipolar ditandai dengan gejala-gejala perubahan alam perasaan. "Remaja yang dikenal sedang mengalami masa-masa galau, memang sangat mudah terserang depresi," kata Agung saat menjadi pembicara dalam seminar media yang bertema 'Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan', di Jakarta, Rabu (25/4). "Kita harus lihat apakah itu hanya berupa penyesuaian diri pada keadaan ataukah sudah merupakan episode depresi," kata Agung. Episode depresi terjadi pada orang yang mengidap masa depresi setiap hari dengan minimum waktu dua pekan. "Hal ini dapat terlihat dari perilakunya, yang tidak mau bertemu dengan orang-orang, pesimistik, memikirkan sesuatu yang nihilistik, maka kemungkinan untuk dapat terpicu bipolar 30 persen," kata Agung menerangkan. Di kesempatan yang sama, Ketua Seksi Bipolar Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), dr.Handoko Daeng menjelaskan, antara depresi reaktif dan depresi bipolar itu harus dibedakan dengan beberapa tes tertentu. "Jenis depresi yang berbeda, karena setiap orang pasti dapat merasakan sedih dan pesimis. Namun bila itu terjadi terus menerus atau disebut sebagai episode depresi , maka perlu dikhawatirkan," ujar Daeng. Gangguan Bipolar kerap kali menimbulkan ide untuk bunuh diri pada penderitanya, bahkan angka bunuh diri bekisar 0,4 persen per tahun pada laki-laki dan perempuan yang terdiagnosis bipolar. "Tindakan bunuh diri seringkali terjadi saat awal sakit dan berhubungan dengan episode depresi berat dan fase disforik agitatif khususnya setelah episode depresi berat berulang," jelas Agung menandaskan.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:53 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Kesehatan Jiwa
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 44Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 23 ... 44  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: