Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kesehatan Jiwa

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 23 ... 44  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:26 pm

RI CUMA PUNYA 600 PSIKIATER DARI TOTAL KEBUTUHAN 8000 AHLI JIWA
Jumat, 09/09/2011 09:03 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bandung, Tekanan hidup yang semakin tinggi membuat jumlah pasien gangguan jiwa terus meningkat. Sayangnya, tidak banyak psikiater yang dapat menolong. Hanya ada sekitar 600 psikiater yang ada di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas 2007, ada 11,6 persen penduduk Indonesia yang berusia diatas 15 tahun yang mengalami gangguan mental emosional atau berkisar 19 juta penduduk. 0,46 persen diantaranya bahkan mengalami gangguan jiwa berat atau sekitar 1 juta penduduk. "Sayangnya, saat ini hanya ada sekitar 600 orang psikiater di Indonesia, 50 persennya ada di ibukota," tutur drg Suyatmi, MM, Kasubdit Bina Kesehatan Jiwa di Non Fasilitas Pelayanan kesehatan Kemenkes RI, dalam acara workshop 'Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa Tentang Kesehatan Jiwa' di Hotel Grand Seriti, Bandung, Kamis (8/9/2011).

Idealnya, menurut drg Suyatmi 1 psikiater menangani 30.000 pasien gangguan jiwa, sehingga dibutuhkan 8.000 psikiater (dengan asumsi jumlah penduduk Indonesia 240 juta). Sayangnya, hanya ada 600 psikiater yang ada di Indonesia saat ini. "Fenomena yang saya lihat adalah kita menjual kesehatan jiwa, kita menjual psikiatri itu kurang bagus," jelas dr G Pandu Setiawan, SpKJ, Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia. dr Pandu menuturkan dari 600 orang psikiater yang ada di Indonesia, separuhnya ada di Jakarta, seperlima di Surabaya, seperenam di Yogya. "Nah di pelosok itu nggak ada," jelas dr Pandu. Selain itu, kurangnya pusat pendidikan psikiatri juga menyebabkan jumlah lulusan psikiater tak kunjung bertambah. "Dengan jumlah moderat, bila selama 10 tahun ada 250 lulusan psikiater, maka 1 psikiater bisa menangani 100.000 pasien, dengan catatan ada tambahan psikiater dan tidak ada yang meninggal. Tapi itu kan tidak mungkin," tutup dr Pandu.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:27 pm

DPR SEBAIKNYA BUAT UU KESEHATAN JIWA
Sabtu, 16 Oktober 2010, 10:50 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA--Ketua Fraksi Partai Demokrat Jafar Hafsah menyarankan agar DPR RI segera membuat UU Kesehatan Jiwa. Saat ini, orang yang bermasalah dengan gangguan jiwa semakin sulit mendapatkan akses pelayanan kesehatan jiwa karena tidak tersedianya sarana pelayanan kesehatan jiwa di dekat mereka tinggal. "Masih banyak dijumpai adanya pelanggaran HAM terhadap orang yang mengalami gangguan jiwa seperti dikurung, dipasung, penganiayaan, ditelantarkan dan diskriminasi," kata Jafar di Jakarta, Sabtu. Dengan adanya UU Kesehatan Jiwa tersebut, akan ada pengaturan yang lebih baik terhadap masyarakat yang mengalami gangguan jiwa. "Oleh karena itu, penting adanya pengaturan sehingga tidak terjadi lagi pelanggaran HAM. UU Kesehatan Jiwa merupakan solusi yang tepat dan harus segera dibuat. Dalam UU itu nantinya juga akan diatur sanksi bagi yang melakukan pengurungan, pemasungan, penganiayaan, ditelantarkan dan diskriminasi," kata Jafar. Ia menambahkan, dari hasil penelitian yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan, ganguan mental secara nasional, yang meliputi gangguan depresi dan ansietes sebesar 11,6 persen atau sekitar 24,7 juta orang dan gangguan jiwa berat seperti psikosis, gangguan bipolar sebesar 0,5 persen atau sekitar 1,06 juta orang. "Gangguan jiwa berkontribusi sebesar 14 persen terhadap beban penyakit global yang diukur dengan disability-adjusted life years (DALYs)," kata dia. Ia menambahkan, gangguan depresi merupakan penyebab terbesarnya disabilitas yang pada tahun 2002 berada pada urutan ke empat dibawah infeksi saluran pernafasan bawah, kondisi perinatal dan HIV/AIDS. "Dari hasil penelitian, gangguan depresi akan menjadi urutan kedua setelah penyakit jantung koroner," kata Jafar. Sementara itu, untuk penduduk DKI Jakarta, paling banyak terkena gangguan mental dibanding provinsi lain yang ada di Indonesia. Ia menyebutkan, tingginya angka gangguan mental disebabkan kesibukan yang dilakukan setiap hari oleh penduduk Jakarta, kemacetan lalu lintas, tingkat pertumbuhan penduduk yang tinggi dan minimnya lapangan kerja. "Khusus untuk DKI Jakarta, angka ini diatas rata-rata nasional, dimana gangguan mental emosional penduduk DKI Jakarta sebesar 14,6 persen dan gangguan jiwa berat 2 persen," kata Jafar Hafsah.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:38 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:27 pm

INDONESIA MASUK 25% NEGARA TANPA UU KESWA
Rabu, 10 Oktober 2012 | 07:45 WIB
JAKARTA, KOMPAS - Indonesia masuk dalam 25 persen negara di dunia yang tidak memiliki Undang-Undang Kesehatan Jiwa. Kondisi negara dengan potensi bencana alam paling banyak, karut-marut dalam tatanan sosial dan politik, serta kesejahteraan sosial yang tidak merata seharusnya menjadi alasan cukup untuk memiliki Undang-Undang Kesehatan Jiwa. Demikian kata Wakil Ketua Komisi IX DPR Nova Riyanti Yusuf yang juga menjadi Ketua Panitia Kerja Rancangan Undang-Undang Kesehatan Jiwa (RUU Keswa) Komisi IX, Selasa (9/10), di Jakarta. Terkait dengan peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia Ke-20, 10 Oktober 2012, bertema ”Depresi: Suatu Krisis Global”, Pemerintah Indonesia mencanangkan tema nasional ”Depresi Terselubung dan Penyakit Penyertanya”. ”Masyarakat selama ini tidak pernah mendapat terapi atau konseling sederhana untuk mengupayakan kesehatan jiwa. Sekarang terkonsentrasi pada kegiatan kuratif bagi penderita yang didiagnosis terkena gangguan kesehatan jiwa,” kata Nova. Manfaat UU Keswa, menurut Nova, antara lain akan memayungi secara hukum kewajiban negara untuk tidak sekadar melaksanakan kegiatan kuratif (pengobatan). Namun, kegiatan juga mencakup upaya promotif (edukasi), preventif (pencegahan), dan rehabilitatif (pemulihan) bagi penyandang gangguan kesehatan jiwa dan masyarakat. ”Sri Lanka mengesahkan UU Keswa dengan alasan banyaknya gangguan kesehatan jiwa pada masyarakat setelah tsunami tahun 2005. Kita pernah mengalami tsunami lebih besar, tetapi belum peduli,” kata Nova. Akhir tahun 2004, tsunami terbesar menghantam Aceh. Akan tetapi, untuk masalah kesehatan jiwa pascabencana belum ada perhatian memadai. Mengacu tema nasional peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2012, Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia Pandu Setiawan menyatakan, depresi terselubung banyak wujudnya, mulai dari tawuran antar-pelajar hingga menewaskan korban. ”Saat ini masih disusun laporan komprehensif untuk kejadian tawuran antar-pelajar oleh Dewan Pertimbangan Presiden. Saya termasuk yang dimintai pandangan dari sisi kesehatan jiwa,” ungkap Pandu. Pandu mengatakan, legislasi RUU Keswa sudah mendesak. Selanjutnya, diharapkan disusun turunan kebijakan pemerintah yang memuat aturan secara konkret. Menurut Nova, ada beberapa masalah yang bisa dijadikan tekanan untuk pengesahan RUU Keswa segera. Pertama, adanya pelanggaran hak asasi manusia bagi penyandang gangguan jiwa, misalnya mereka yang dipasung. Kedua, hasil riset yang menyebutkan, membiarkan penyandang gangguan jiwa justru meningkatkan kerugian ekonomi dan sosial. Ketiga, dibutuhkan advokasi atau pembelaan terhadap kelompok-kelompok masyarakat yang rentan terhadap gangguan kesehatan jiwa. ”Seperti di Belgia, muncul advokasi terhadap gangguan kesehatan jiwa bagi remaja. Akhirnya, dimunculkan pakta kesehatan jiwa bagi remaja. Kemudian, pakta kesehatan jiwa bagi orang tua,” ujar Nova. Minimnya saluran layanan cepat tanggap (hotline) untuk masalah gangguan kesehatan jiwa saat ini sangat memprihatinkan. Salah satu upaya mengatasi, Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia yang diketuai Bagus Utomo mentransformasikan hotline ke jejaring sosial Facebook bagi penderita dan keluarga serta pemeduli skizofrenia atau gangguan jiwa lain. Orang yang mengalami depresi bisa curhat di Facebook untuk mendapat tanggapan, saran, atau penguatan batin dari mereka yang bergabung dalam akun Facebook terkait. (NAW)


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:41 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:27 pm

RUU KESEHATAN JIWA
08 Oktober 2012
Jakarta, Kompas - Sejak 13 Juli 2012, sidang paripurna DPR menetapkan Rancangan Undang-Undang Kesehatan Jiwa sebagai prioritas program legislasi, tetapi hingga kini belum jelas kapan hendak dibahas. Dikhawatirkan prioritas pembahasan di DPR akan berubah seiring dengan pergantian tahun. ”Perlu kita kawal bersama agar RUU Kesehatan Jiwa bisa gol,” kata Nova Riyanti Yusuf, Wakil Ketua Komisi IX DPR yang membidangi kesehatan, Sabtu (6/10), di Jakarta, dalam Workshop Peran Media dalam Meningkatkan Derajat Kesehatan Jiwa di Indonesia yang digelar Kementerian Kesehatan dalam rangkaian Hari Kesehatan Jiwa tanggal 10 Oktober. Kegiatan ini menghadirkan pembicara lain, Yeni Rosa Damayanti (Ketua Umum Perhimpunan Jiwa Sehat), Diah Setia Utami (Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan), dan Agus Sudibyo (Dewan Pers). Nova mengatakan, desakan pembahasan RUU Kesehatan Jiwa bisa dilakukan dengan memanfaatkan peraturan DPR yang harus memprioritaskan pembahasan RUU melewati dua masa sidang. Menurut Nova, penyusunan draf RUU Kesehatan Jiwa hingga disepakati menjadi prioritas dalam program legislasi nasional perlu waktu tiga tahun. ”Empat kali kami fotokopi naskah akademis RUU ini dan menyerahkan ke badan legislasi, empat kali pula draf itu hilang,” katanya. Wakil Menteri Kesehatan Ali Ghufron Mukti memaparkan, baru ada 31 rumah sakit jiwa di 25 provinsi. Banten, Gorontalo, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Tengah, Papua Barat, Sulawesi Barat, dan Kepulauan Riau belum memiliki. Diah menyatakan, ada 600 psikiater untuk melayani 230 juta penduduk Indonesia. Kecukupan infrastruktur dan sarana kesehatan jiwa jadi salah satu kunci meningkatkan kesehatan jiwa. ”Apalagi Indonesia merupakan daerah rawan bencana, yang bisa menjadi penyebab masalah kesehatan jiwa bagi korban,” ujarnya. (ICH)


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:37 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:31 pm

RUU KESEHATAN JIWA SULIT DI-GOL-KAN DI DPR
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 23 Oktober 2012 | 18:15 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Setelah menunggu tiga tahun, Rancangan Undang-undang (RUU) Kesehatan Jiwa akhirnya masuk dalam prioritas prolegnas tambahan tahun 2012 dan akan segera dibahas. Ketua panitia kerja RUU kesehatan jiwa, Nova Riyanti Yusuf, mengakui bahwa RUU tersebut termasuk yang sulit digolkan di DPR. Sulitnya meloloskan RUU tersebut, menurut anggota komisi IX DPR RI itu, antara lain disebabkan karena kuatnya stigma di masyarakat akan penyakit gangguan jiwa. "Jadi bukan hanya pasien dan keluarganya saja yang mendapat stigma, bahkan RUU juga," kata politisi yang juga menggagas RUU tersebut. Nova menjelaskan bahwa RUU Kesehatan Jiwa berisi tentang hak dan kewajiban orang dengan gangguan jiwa. Dalam RUU tersebut juga diatur mengenai sumber daya kesehatan jiwa, termasuk dokter dan perawatnya. "Harus ada keberpihakan pada layanan kesehatan jiwa. Bila disahkan undang-undang tersebut bisa menjadi payung hukum untuk melindungi orang dengan gangguan jiwa, keluarganya dan juga masyarakat," paparnya di sela acara temu media berkaitan dengan pemberian penghargaan Dr.Guislain Breaking the Chains of Stigma kepada Bagus Utomo di Jakarta, Selasa (23/10/2012). RUU Kesehatan Jiwa akan mencakup aspek preventif, promotif, kuratif, dan rehabilitatif terhadap siapapun yang mengalami gangguan jiwa. Politisi dari Partai Demokrat tersebut juga mengatakan jika dibandingkan dengan Srilanka yang sudah punya UU Kesehatan Jiwa sejak tahun 2005, Indonesia termasuk ketinggalan. "Srilanka langsung membuat UU tersebut setahun setelah terjadinya tsunami di negaranya. Padahal tsunami di negara kita jauh lebih dahsyat, belum lagi potensi bencana alam lain," paparnya. Ia menjelaskan bahwa di daerah yang rawan bencana seharusnya dipersiapkan bantuan pertama pada psikologi untuk pendampingan penyintas bencana alam. Selama ini menurut Nova, pasal tentang kesehatan jiwa tercecer di banyak undang-undang seperti di UU KDRT atau bencana alam. "Karena tidak ada payung hukum yang jelas, lembaga yang berwenang bisa saling melempar tanggung jawab," katanya.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:42 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:31 pm

PERUBAHAN MOOD EKSTREM, WASPADAI GANGGUAN JIWA
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 31 Juli 2012 | 12:47 WIB
Kompas.com - Masalah sehari-hari memang bisa membuat mood swing datang menghampiri. Jika cepat diatasi, hal itu adalah sesuatu yang normal. Tetapi waspadai jika perasaan atau mood sering berubah secara ekstrem pada waktu tertentu. Pada satu masa depresi, murung, hingga ingin bunuh diri, dan di waktu lain merasa gembira berlebihan dan bersemangat. Perubahaan mood yang ekstrem tersebut merupakan salah satu ciri gangguan jiwa yang disebut dengan gangguan bipolar. Gangguan ini termasuk penyakit kronis, sering kambuh, dan bersifat episodik atau ada periode kambuh dan ada periode normal. Menurut dr.Margarita Maria Maramis, Sp.KJ gangguan bipolar disebabkan karena gangguan pada neurotransmiter otak sehingga memengaruhi emosi pasien. "Secara normal kita juga mengalami perubahan mood, tetapi hal itu tidak sampai merusak kehidupan atau relasi dengan orang lain. Pada pasien gangguan bipolar perubahan mood ini memengaruhi pikiran, energi dan perilaku," kata Maria yang juga staf pengajar di departemen psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.

Selain perasaan depresi, pasien juga mengalami gejala mania atau kumpulan gejala yang ditandai rasa senang yang tidak normal sehingga pasien mengalami semangat menggebu, aktivitas meningkat dan juga nafsu seksual meningkat. Seperti yang dialami oleh Ibu Nita (48) yang menderita gangguan bipolar sejak usia 25 tahun. Ketika sedang dalam periode mania ia tidak ragu menunjukkan rasa sukanya pada lawan jenis. "Psikiater saja saya tawari kencan. Tapi saya hanya suka melihat-lihat cowok ganteng saja, kalau untuk berhubungan seksual tetap hanya dengan suami," katanya. Sementara itu salah seorang pasien dr.Nurmiati Amir, Sp.KJ, seorang wanita dari desa di Jawa Barat yang setiap kali mengalami periode manik selalu datang ke kota Bandung dan bisa melakukan hubungan seks dengan pria yang baru dijumpainya. "Tetapi setelah ia kembali normal muncul perasaan bersalah yang besar kepada keluarganya. Penyakit gangguan bipolar memang bisa mengubah kepribadian seseorang," kata Nurmiati.

Gangguan bipolar bukan hanya mengganggu fungsi kehidupan pasien dan keluarga, tapi juga berdampak buruk pada performa pekerjaan, aktivitas interpersonal, dan kualitas hidup keseluruhan. Menurut penelitian angka perceraian pada kelompok gangguan bipolar tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok normal. Sayangnya mendiagnosis gangguan bipolar tidak mudah, apalagi gejalanya hampir mirip dengan skizofrenia. Padahal, diagnosis yang tidak akurat dapat meningkatkan angka bunuh diri dan juga mengakibatkan penyalahgunaan zat adiktif dan terjadinya seks bebas. Sebenarnya gangguan bipolar bisa diobati, baik secara farmakologi atau pun intervensi psikososial. "Kedua terapi yang berkesinambungan tersebut bermanfaat sampai 90 persen memberikan perbaikan gejala," kata Maria. Maria menambahkan, sasaran utama dari terapi gangguan bipolar adalah menstabilkan mood pasien dan mencapai remisi atau tidak kambuh lagi. Obat-obatan yang diberikan bertujuan untuk merangsang perbaikan sel-sel saraf otak. "Obat-obatan yang ada sekarang ini bersifat jangka panjang. Karenanya pasien tidak boleh malas minum obat meski sudah merasa sembuh," kata Maria. Selain pasien, dokter juga akan melibatkan anggota keluarga dalam terapi psikoedukasi. "Psikoterapi untuk pasien ditujukan supaya mereka mengenali penyakitnya, sedangkan pada keluarga diharapkan lebih paham dan bisa membantu pasien," katanya.


Last edited by gitahafas on Sat Sep 01, 2012 5:56 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:32 pm

INDONESIA MENUJU BEBAS PASUNG
Bramirus Mikail | Lusia Kus Anna | Jumat, 9 September 2011 | 11:30 WIB
Bandung, Kompas.com - Orang dengan masalah kejiwaan kerap terlantar dan mendapatkan tindakan penyiksaan, misalnya dengan pemasungan. Padahal gangguan kejiwaan merupakan penyakit yang bisa ditangani secara medis. Karena itu tahun 2011 ini pemerintah akan mencangkan Indonesia bebas dari pasung. Hal tersebut disampaikan oleh drg. Suyatmi, Kepala Sub Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, Non Fasilitas Pelayanan Kesehatan. "Pada tahun 2011 ini akan dicanangkan Indonesia bebas pasung oleh Wakil Presiden Boediono pada bulan Oktober," paparnya disela-sela acara Pertemuan Peningkatan Peran Media Masaa Tentang Kesehatan Jiwa, Kamis, (8/92011), Bandung. Pencanangan tersebut menurut Suyatmi akan dilakukan bertepatan dengan puncak Hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Seperti diketahui, layanan mengenai kesehatan jiwa sudah diatur dalam Undang-undang kesehatan No. 36 Tahun 2009 Bab IX. Salah satu isinya dalam pasal 144 mengatakan, masyarakat berhak mendapatkan pemberian informasi dan edukasi pada masyarakat tentang kesehatan jiwa. Suyatmi mengatakan, program terobosan yang saat ini tengah dilakukan Kementerian Kesehatan lebih menitik beratkan pada upaya preventif dan promotif. "Sekarang intinya hentikan orang-orang yang dipasung dengan melatih dokter, perawat di puskesmas. Disamping juga penyediaan obat-obatan di Puskesmas dan itu sudah kami mulai," tegasnya. Hal tersebut menurut Suyatmi sejalan dengan rekomendasi WHO, terutama dalam mengoptimalkan fungsi Puskesmas sebagai penyedia layanan untuk orang dengan masalah kejiwaan. Ia menambahkan, pada tahun 2011 ini sudah ada 900 Puskesmas yang sudah melayani terapi dan pengobatan kasus untuk gangguan jiwa. "Tahun 2014 nanti diharapkan akan meliputi 40 persen dari seluruh Puskesmas di Indonesia," katanya. Lebih lanjut ia mengatakan, khusus untuk daerah Aceh, tahun 2011 ini pemerintah daerah (Pemda) Aceh telah menyatakan bebas pasung. "Tapi artinya kita menekankan bukan hanya terlepas dari pasung saja, tetapi bagaimana supaya tidak dipasung lagi," tandasnya. Selain pemaksimalan fungsi Puskesmas, upaya-upaya lain juga terus digalakkan seperti misalnya pembentukan kader kesehatan jiwa dan meningkatkan peran psikolog klinik dalam usaha preventif, dan promotif.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:39 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:32 pm

20.000 ORANG HIDUP DIPASUNG
Sabtu, 8 Oktober 2011 | 07:45 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Sekitar 20.000 penderita gangguan jiwa berat (skizofrenia) di Indonesia hidup di pasungan. Ketidaktahuan tentang penyakit jiwa, kendala ekonomi, serta mahal dan jauhnya akses kesehatan menyebabkan hanya sedikit penderita gangguan jiwa berat yang mendapat perawatan. ”Sikap agresif, emosional, paranoid, dan memusuhi orang lain yang ditunjukkan penderita gangguan jiwa berat membuat sebagian masyarakat memasung keluarga mereka yang menderita gangguan jiwa. Padahal, itu adalah gejala penyakit,” ujar Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Irmansyah, di Jakarta, Jumat (7/10). Masyarakat masih menganggap gangguan jiwa berat bukanlah persoalan medik, tetapi sebagai ”penyakit” akibat kemasukan setan atau kutukan. Kondisi ini membuat upaya medik yang dilakukan justru mendapat penolakan dari keluarga. Riset Kesehatan Dasar 2007 Kemkes menunjukkan, penderita gangguan jiwa berat di Indonesia mencapai 0,46 persen atau sekitar 1 juta orang. Prevalensi tertinggi di DKI Jakarta (2,03 persen), Aceh (1,9 persen), dan Sumatera Barat (1,6 persen).
Selain pemasungan, gangguan kesehatan jiwa menimbulkan berbagai persoalan sosial, mulai dari perceraian, bunuh diri, tawuran, kekerasan dalam rumah tangga, penggunaan narkotika dan zat adiktif, hingga pengangguran dan kemiskinan. Fasilitas kesehatan jiwa yang ada sangat terbatas. Menurut Sekretaris Ditjen Bina Upaya Kesehatan, Kementerian Kesehatan, Kuntjoro Adi Purjanto, saat ini ada 48 rumah sakit jiwa dengan 7.716 tempat tidur. Peran swasta masih kecil. Namun, banyak rumah sakit jiwa mengajukan perubahan status menjadi rumah sakit umum. Adapun rumah sakit umum kurang memperhatikan layanan kesehatan jiwanya. Tenaga kesehatan jiwa pun sangat terbatas. Standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, rasio ideal dokter spesialis kesehatan jiwa (psikiater) dengan penduduk adalah 1 : 30.000. Namun, di Indonesia, rasio psikiater dan penduduk baru mencapai 0,22 : 100.000. ”Saat ini baru ada sekitar 600 psikiater,” tutur Irmansyah. Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih mengingatkan, para ahli kesehatan jiwa untuk menyiapkan rencana pengelolaan kesehatan jiwa dengan matang. Ke depan, potensi gangguan jiwa akan meningkat seiring pertumbuhan ekonomi. ”Jika terlambat mengantisipasi, butuh biaya besar untuk merawat dan mengobatinya,” ujarnya. (MZW)


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:53 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:32 pm

JANGAN PASUNG PASIEN SAKIT JIWA!
Penulis : Sabrina Asril | Kamis, 7 Oktober 2010 | 11:37 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1966 tentang Kesehatan Jiwa menyatakan, pasien dengan gangguan jiwa yang telantar harus mendapatkan perawatan dan pengobatan pada suatu tempat perawatan. Semua instansi pemerintahan dan masyarakat diminta untuk tidak melakukan pemasungan secara fisik terhadap penderita gangguan jiwa dan menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menyerahkan perawatan penderita di rumah sakit jiwa. Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Kesehatan, dr Ratna Rosita, saat membuka Seminar Kesehatan Jiwa "Menuju Indonesia Bebas Pasung" di Kementerian Kesehatan, Kamis (7/10/2010). Pemasungan yang dimaksud di sini adalah pemasungan secara fisik, seperti merantai, mengikat anggota tubuh, dan menyekap pasien anggota kejiwaan. "Untuk memenuhi kebutuhan orang dengan masalah kejiwaan yang dipasung dan telantar, diperlukan upaya yang komprehensif dari segala aspek; kesehatan, ekonomi, sosial, dan mencakup peran pemerintah, pemerintah daerah, dan masyarakat," ujarnya. Ia mengungkapkan, pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab atas pemerataan penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan jiwa yang melibatkan peran serta aktif masyarakat, termasuk pembiayaan pengobatan dan perawatan gangguan jiwa untuk masyarakat miskin. "Puskesmas juga berperan penting sehingga mampu menjadi ujung tombak pelayanan kesehatan jiwa serta harus menyediakan tempat tidur sehingga bisa merawat ODMK (orang dengan masalah kejiwaan) yang memerlukan perawatan," ungkap Ratna. Menurut Ratna, ODMK terutama yang berat dan kronis seperti skizofrenia dan gangguan bipolar adalah termasuk kelompok yang rentan pengabaian hak-haknya. Pemasungan sering terjadi dengan pengikatan diri atau penyekapan penderita gangguan kejiwaan. Ratna mengungkapkan, gangguan jiwa memengaruhi cara berpikir dan berperilaku, kemampuan untuk melindungi kepentingan dirinya, dan kemampuan mengambil keputusan. Seseorang dengan gangguan jiwa berhadapan dengan stigma, diskriminasi, dan marginalisasi. "Stigma menyebabkan mereka tidak mencari pengobatan yang sangat mereka butuhkan, atau mereka akan mendapat pelayanan bermutu rendah. Marginalisasi dan diskriminasi juga meningkatkan risiko kekerasan pada hak-hak individu," ungkap Ratna. Lebih lanjut, Ratna memaparkan bahwa hingga kini ODMK di Indonesia yang dipasung oleh keluarganya yakni sebanyak 13.000-24.000 orang.


Last edited by gitahafas on Fri Oct 26, 2012 3:55 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:33 pm

GANGGUAN JIWA MASIH DIABAIKAN
Lusia Kus Anna | Sabtu, 11 Februari 2012 | 07:36 WIB
Jakarta, Kompas - Tekanan pembangunan dan kurangnya kemampuan beradaptasi membuat jumlah penderita gangguan mental emosional terus membesar. Namun, perhatian pemerintah dan kepedulian masyarakat masih rendah. Padahal, kerugian akibat gangguan mental sangat besar. Riset Kesehatan Dasar 2007 menyebutkan, prevalensi gangguan mental emosional berupa depresi dan cemas pada masyarakat berumur di atas 15 tahun mencapai 11,6 persen. Jika jumlah penduduk pada kelompok umur tersebut tahun 2010 ada 169 juta jiwa, jumlah penderita gangguan jiwa 19,6 juta orang. ”Ini menunjukkan masyarakat hidup dalam emosi dan kondisi kejiwaan bermasalah. Jumlah ini cukup moderat. Jika diperluas gangguan kejiwaan pada anak dan remaja, jumlahnya bisa lebih besar lagi,” kata Direktur Bina Kesehatan Jiwa, Kementerian Kesehatan, Irmansyah, di Jakarta, Jumat (10/2). Prevalensi gangguan jiwa tertinggi ada di Jawa Barat sebesar 20 persen. Semakin bertambah umur, jumlah penderita gangguan mental makin besar. Gangguan jiwa lebih banyak dialami mereka yang berpendidikan rendah, yaitu yang tidak tamat sekolah dasar.

Hal senada dikemukakan Kepala Pusat Kesehatan Mental Masyarakat Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada Rahmat Hidayat. Prevalensi gangguan jiwa di Indonesia sama dengan prevalensi penderita gangguan jiwa di negara lain. Penyebab depresi dan cemas yang dialami masyarakat sangat kompleks, mulai dari persoalan sosial ekonomi hingga kebijakan pemerintah yang menekan rakyat. Tekanan itu di antaranya berupa sulitnya mencari penghasilan memadai, kehidupan kota yang kian sumpek akibat terbatasnya ruang publik, perubahan drastis nilai-nilai kehidupan di pedesaan, atau masuknya nilai- nilai baru yang memengaruhi keluarga. Selain itu, kebijakan perburuhan pemerintah yang menggaji rendah buruh serta kebijakan pendidikan yang menekan siswa dan orangtua turut menekan warga. Irmansyah menambahkan, kerugian ekonomi akibat gangguan jiwa mencapai Rp 20 triliun. Kerugian berupa hilangnya produktivitas seseorang serta beban ekonomi dan biaya kesehatan yang harus ditanggung keluarga dan negara. Apalagi, proses pengobatan penderita gangguan jiwa bisa berlangsung seumur hidup.

Fasilitas terbatas
Meski penderita dan nilai kerugiannya besar, fasilitas dan tenaga kesehatan jiwa di Indonesia masih sangat terbatas. Saat ini hanya ada 32 rumah sakit jiwa milik pemerintah dan 16 rumah sakit jiwa swasta. Belum semua provinsi memiliki rumah sakit jiwa. Dari 1.678 rumah sakit umum yang terdata, hanya sekitar 2 persen yang memiliki layanan kesehatan jiwa. Hanya 15 rumah sakit dari 441 rumah sakit umum daerah milik pemerintah kabupaten/kota yang memiliki layanan psikiatri. Kondisi sama terjadi pada puskesmas, hanya 1.235 puskesmas yang memberikan layanan kesehatan jiwa dari sekitar 9.000 puskesmas.

Jumlah tenaga kesehatan jiwa sangat terbatas. Jumlah psikiater atau dokter spesialis kesehatan jiwa hanya ada 616 orang. Sekitar 200 psikiater berada di Jakarta dan sekitarnya. Jumlah psikolog klinis di Indonesia sangat rendah, sekitar 400 orang. Ketua Umum Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia Tun Kurniasih Bastaman mengatakan, gangguan kejiwaan terkait erat dengan kehidupan sehari-hari. Persoalan ini dapat muncul dari gangguan kepribadian, mulai dari selalu curiga dengan sekitarnya, selalu ingin menarik perhatian orang lain, narsistik, hingga kecenderungan untuk melanggar norma- norma yang ada (antisosial). Hubungan suami-istri, orangtua-anak, atasan-bawahan, dan antarteman juga bisa menjadi pemicu gangguan kepribadian. ”Kepribadian yang sehat adalah yang mampu mengenal diri, mampu menerima orang lain apa adanya, mampu berempati, bisa menyayangi orang lain, mampu mengendalikan diri, produktif, dan luwes,” katanya.

Dampak dari sebuah tekanan yang memicu gangguan mental bisa berbeda pada setiap orang. Ini sangat bergantung kepada ketahanan masing-masing individu menghadapi guncangan jiwa. Beberapa gejala gangguan jiwa antara lain gangguan tidur, mudah terkejut, cemas berlebihan, sulit berkonsentrasi, sering berdebar-debar, serta gangguan fisik, seperti diare dan sakit perut. Tidak semua orang yang memiliki gejala-gejala tersebut bisa langsung dikatakan memiliki gangguan jiwa. ”Jika gejala yang muncul terjadi terus-menerus dan menimbulkan gangguan pada penderita dan orang di sekitarnya, itu baru bisa disebut gangguan jiwa,” kata Tun. Untuk pemulihan, sebenarnya manusia memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Jika tidak berhasil, masyarakat tidak perlu ragu berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater karena mereka dapat membantu mengatasi gangguan jiwa ringan hingga berat. (MZW)
Back to top Go down
 
Kesehatan Jiwa
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 44Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 23 ... 44  Next
 Similar topics
-
» Manfaat Shalat Bagi Kesehatan

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: