Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kesehatan Jiwa

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3 ... 22 ... 44  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:09 pm

HARI KESEHATAN JIWA
Minggu, 10/10/2010 10:25 WIB Irna Gustia - detikHealth
Jakarta, Jumlah penderita gangguan jiwa di Indonesia terus bertambah. Kondisi sosial, ekonomi dan politik menjadi salah satu penyebabnya. Rakyat juga makin gila karena sepak terjang pemerintah dan politisi yang makin bikin rakyat 'sakit'. "Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 10 Oktober ini mengingatkan kita semua bahwa jiwa dan fisik merupakan satu kesatuan. Jika fisik sakit, jiwa juga akan sakit. Sebaliknya jika jiwa kita sakit fisik kita juga sakit," kata Dr.H.Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, MMB, FINASIM dalam rilisnya, Minggu (10/10/2010). Dr Ari mengatakan kadangkala orang tidak menyadari bahwa keluhan fisik yang dialami pemicunya karena ada gangguan psikis. Apalagi saat ini kehidupan masyarakat dipenuhi oleh tingkat stres yang tinggi. Masalah-masalah yang memicu stres tingkat tinggi ini contohnya menurut Dr Ari sudah begitu kompleks yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari kebanyakan rakyat Indonesia. Kemacetan di jalan raya, banjir yang sekonyong-konyong terjadi hujan yang lebat, tranportasi publik yang buruk, kejahatan di jalan, penipuan di tengah masyarakat dengan berbagai bentuk, ketidakpedulian terhadap sesama yang rendah.

Belum lagi permasalahan ekonomi, keluarga, pendidikan, pekerjaan yang semuanya akan meningkatkan stres seseorang yang berada dalam kondisi tersebut. Stres inilah yang akan menyebabkan terganggunya psikis dan akhirnya juga menyebabkan terganggunya fisik. Pemerintah dan politisi yang seharusnya memecahkan masalah malah menambah runyam permasalahan. Padahal menurut Dr Ari, pemerintah seharusnya turut peduli untuk mengurangi berbagai kondisi yang dapat menimbulkan stres di tengah masyarakat. "Mencari solusi tepat untuk mengurangi kemacetan, memberikan pelayanan publik yang baik khususnya transportasi publik, memberikan keamanan dan kenyamanan di tengah masyarakat dengan menekan angka kejahatan di tengah masyarakat. Meredam berbagai isu yang meresahkan di tengah masyarakat harusnya menjadi tugas pemerintah," kata Dr Ari ketika dihubungi detikHealth melalui telepon. Dia juga menyoroti perilaku politikus yang juga ikut-ikutan menambah masalah. "Politisi harus sadar tingkah laku dan sepak terjang mereka seharusnya dalam rangka menyejukkan masyarakat bukan sebaliknya malah meresahkan masyarakat," ujar Dr Ari.

Dr Ari menerangkan penyakit-penyakit yang dialami masyarakat seperti sakit maag (dispepsia), susah BAB (konstipasi), Irritable Bowel Syndrome setelah ditelusuri penyebabnya lebih banyak karena gangguan psikis. Sekitar 60-70 persen pasien yang mengeluh nyeri di uluhati disebabkan karena gangguan fungsional. Hal ini terekam dalam survei di 5 wilayah kota Jakarta yang 40 persen penduduknya mengalami sakit maag akibat gangguan fungsional. Begitu pula sulitnya BAB (konstipasi) sebagian besar disebabkan oleh gangguan fungsional. Gejala-gejala gangguan fisik karena masalah kejiwaan (psikosomatik) antara lain:

1. Sakit kepala kronis
2. Nyeri otot (fibromialgia)
3. Jantung berdebar-debar tanpa sebab yang jelas
4. Ujung-ujung tangan dan kaki berkeringat
5. Gatal-gatal di kulit
6. Sesak napas
7. Gangguan pencernaan.

"Biasanya gejala-gejala yang dirasakan pasien dengan gangguan psikosomatik ini berpindah-pindah dan dokter biasanya tidak menemukan kelainan fisik yang signifikan dengan keluhan yang disampaikan. Pasien dengan gangguan psikosomatik ini juga mengeluh susah tidur dan kurang nafsu makan sehingga akan memperburuk gangguan fisik yang memang sudah terjadi," ungkap Dr Ari.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:10 pm

PENGIDAP KELAINAN JIWA MASIH TERABAIKAN
SELASA, 13 SEPTEMBER 2011 | 05:57 WIB
TEMPO Interaktif, Bukan perkara sulit untuk menemukan pengidap masalah kesehatan jiwa di sekitar kita. Dari yang cukup terawat oleh keluarganya hingga yang berkeliaran di jalan-jalan menjadi gelandangan. Kekerapan terjadinya kasus gangguan jiwa di Indonesia saat ini memang cukup tinggi. Yaitu sebesar 11,6 persen untuk gangguan mental emosional di atas usia 15 tahun dan 0,46 persen untuk gangguan jiwa berat. Data ini didapat berdasarkan riset kesehatan dasar pada 2007. Saat ini diperkirakan lebih dari 19 juta orang Indonesia yang berusia 15 tahun ke atas mengalami gangguan emosional, misalnya cemas dan depresi. Gangguan itu paling banyak dialami warga Jawa Barat. Jumlahnya mencapai 20 persen. Badan Kesehatan Dunia (WHO) mencatat sekitar 450 juta orang di seluruh dunia mengalami gangguan jiwa. Kasus terbanyak 150 juta orang karena depresi dan 90 juta orang dengan gangguan penggunaan alkohol, obat-obatan, serta Napza (narkotik, psikotropika, dan zat aditif). Albert Maramis, dokter spesialis kesehatan jiwa dari WHO, mengatakan pemerintah belum punya sarana pemulihan untuk menanggulangi pasien ketergantungan alkohol. "Anggaran kesehatan jiwa di kementerian cuma 1 persen," kata Albert.

Gangguan jiwa, menurut The World Health Report 2001, dialami kira-kira oleh 25 persen dari seluruh penduduk pada suatu masa dalam hidupnya. Sementara itu, lebih dari 40 persen didiagnosis secara kurang tepat, sehingga menghabiskan biaya untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan yang tidak tepat. Masalah kesehatan jiwa di masyarakat sedemikian luas dan kompleks, saling berhubungan dengan segala aspek kehidupan manusia. Menimbulkan tingkat stres yang tinggi, kecemasan konflik, ketergantungan terhadap Napza, serta perilaku seksual yang menyimpang. Sementara itu, ternyata jumlah psikiater di Indonesia masih sangat kurang. Saat ini jumlahnya baru 600 dokter. Kebutuhan idealnya mencapai 8.000 orang. Menurut Kepala Subdit Bina Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan Suyatmi, di Bandung, idealnya di antara 30 ribu orang dalam suatu populasi terdapat seorang psikiater. "Saat ini rata-rata satu psikiater menangani 240 ribu orang," ujarnya saat pertemuan dengan media massa tentang kesehatan jiwa beberapa waktu lalu. Untuk menambah kekurangan itu, Kementerian Kesehatan kini telah membuka delapan pusat pendidikan yang mencetak tenaga psikiater. Selain itu, dokter-dokter pusat kesehatan masyarakat dilatih psikiater rumah sakit pusat daerah untuk mendeteksi dini kesehatan jiwa masyarakat.

Depresi menjadi faktor penyebab terbanyak kasus bunuh diri. Khusus di kalangan anak-anak, angka kasus tersebut paling banyak terjadi di daerah Gunungkidul dan Bali. "Umumnya disebabkan oleh kemiskinan," kata Suyatmi. Adapun gangguan jiwa berat, berdasarkan riset kesehatan dasar 2007, sekurangnya mencapai satu juta warga. Menurut Albert, masyarakat masih kurang memahami gejala gangguan jiwa, misalnya depresi, cemas, hingga gangguan neurotik. Di sisi lain, upaya pemerintah juga belum banyak untuk menyehatkan jiwa warganya. "Kesenjangan pengobatan gangguan jiwa di Indonesia masih lebih dari 90 persen," ujarnya. Sekitar 30 persen dari seluruh penderita yang dilayani dokter di pelayanan kesehatan primer, misalnya puskesmas, adalah pengidap gangguan jiwa. Menjelang Lebaran yang lalu, tingkat hunian Rumah Sakit Khusus Jiwa dan Penyalahgunaan Narkoba Duren Sawit meningkat. Pasalnya, banyak keluarga pasien tidak mau terganggu aktivitasnya.

Direktur Utama RS Duren Sawit Joni H. Ismoyo, di kantornya, mengatakan pasien titipan biasanya dari keluarga terpandang. Usianya berkisar 40 tahun. Pasien ini, kata dia, dikhawatirkan kumat saat keluarga merayakan Lebaran. "Takut kumat dan mengamuk." Menurut Joni, setiap mendekati Lebaran, situasinya selalu seperti ini. "Banyak yang tidak nyaman dan malu jika keluarganya terganggu jiwanya," tuturnya. Sebagai antisipasi, pihaknya akan selektif menerima pasien gangguan jiwa. Kalau tidak layak menjalani rawat inap, rumah sakit akan menolak pasien itu. Ledakan jumlah pengidap masalah jiwa ini juga tak semata terjadi di Indonesia. Di Eropa tercatat tak kurang dari 165 juta atau 38 persen populasi di Eropa mengalami gangguan mental dan neurologis setiap tahun.

Berdasarkan sebuah penelitian besar yang baru, gangguan otak yang terjadi yaitu depresi, insomnia atau demensia, dan kecemasan. Hal ini menyebabkan beban ekonomi dan sosial dalam ukuran besar (hingga ratusan miliar euro). Pengidapnya pun menjadi sangat menderita untuk bekerja dan hubungan pribadinya rusak. Ironisnya, hanya sepertiga kasus yang menerima terapi atau pengobatan yang diperlukan. Hans-Ulrich Wittchen, Direktur Lembaga Psikologi Klinis dan Psikoterapi di Universitas Dresden, Jerman, serta peneliti utama di studi Eropa, memimpin penelitian selama tiga tahun di 30 negara Eropa dan Skandinavia dengan populasi sebanyak 514 juta orang. Dia dan timnya melihat 100 penyakit yang mencakup semua gangguan otak, dari kecemasan, depresi untuk skizofrenia, kecanduan, serta gangguan neurologis utama, seperti epilepsi, parkinson, dan multiple sclerosis. Hasil penelitian itu diterbitkan pada European College of Neuropsychopharmacology. Dia menambahkan, penyakit mental merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan serta menjadi beban ekonomi. WHO memperkirakan pada 2020 depresi akan menjadi penyumbang utama kedua beban penyakit global di semua usia.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:14 pm

GANGGUAN JIWA POSISI KEDUA SETELAH KARDIOVASKULAR
Senin, 4 April 2011 | 06:20 WIB
Bogor, Kompas - Gangguan jiwa mengakibatkan beban dana sosial untuk kesehatan masyarakat meningkat. Kini, posisinya di urutan kedua setelah penyakit kardiovaskular. Gangguan jiwa bisa berupa gangguan jiwa ringan seperti depresi sampai gangguan jiwa berat seperti skizofrenia. ”Pencapaian target Tujuan Pembangunan Milenium (MDG’s) kelima, yaitu meningkatkan kesehatan ibu, berperan penting untuk menekan dana sosial akibat gangguan jiwa,” kata Direktur Medik dan Keperawatan Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor, dokter spesialis kesehatan jiwa Eka Viora, Sabtu (2/4), kepada wartawan di Bogor, Jawa Barat. Eka merintis pembentukan komunitas bagi keluarga penderita gangguan kejiwaan yang selama ini dirawat di rumah sakit itu. Sekitar 200 keluarga penderita gangguan kejiwaan, Sabtu, bertemu di Istana Negara Bogor, dilanjutkan dengan pertemuan dinamika kelompok di Kebun Raya Bogor.

Peran keluarga
Sejumlah anggota kelompok pemeduli kesehatan jiwa, yaitu Perhimpunan Jiwa Sehat (PJS) dan Komunitas Peduli Skizofrenia Indonesia (KPSI), turut hadir dalam pertemuan. Menurut Eka, pertemuan itu menekankan pentingnya pengetahuan dan peranan keluarga terhadap penanganan gangguan kejiwaan. ”Gangguan jiwa ringan seperti depresi bisa menurunkan produktivitas sehingga beban dana sosial untuk kesehatan meningkat,” kata Eka. Saat ini sedikitnya 300 pasien (60 persen) yang ditangani rumah sakit itu dalam kategori membutuhkan jaminan kesehatan dari pemerintah, ujar Eka. Menurut dia, ibu berperan penting dalam pemeliharaan keluarga. Ibu yang sehat dan cukup berpengetahuan akan mampu memastikan kesehatan anak. Setidaknya, mendeteksi dini gangguan jiwa agar segera diobati. Data pada 2007 menunjukkan, angka kematian ibu masih 228 per 100.000 kelahiran hidup. Ini masih jauh dari target MDG’s pada tahun 2015, yakni angka kematian ibu 102 per 100.000 kelahiran hidup.

Perhatian pemerintah
Ketua Umum PJS Yeni Rosa Damayanti mengatakan, sekarang saatnya menuntut pemerintah memberikan perhatian lebih kuat terhadap lapisan masyarakat yang menangani persoalan kesehatan jiwa. Produk legislasi agar diwujudkan untuk berpihak pada setiap upaya penanganan gangguan kejiwaan. Bagus Utomo, Ketua Umum KPSI, menekankan pentingnya menghapus stigma negatif terhadap penderita gangguan jiwa. Stigma ”gila” terhadap penderita skizofrenia perlu dihapus karena penyakit itu dapat disembuhkan, setidaknya dapat dikendalikan, sehingga penderita dapat hidup sesuai dengan yang diharapkan masyarakat. Rumah Sakit Marzoeki Mahdi Bogor yang berdiri tahun 1882 merupakan rumah sakit jiwa pertama di Indonesia. Dalam perkembangannya, rumah sakit itu kini masih mengutamakan penanganan gangguan kejiwaan selain penanganan kedokteran umum. (NAW)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:17 pm

KECEMASAN DAN DEPRESI CAPAI 11,6%
Lusia Kus Anna | Kamis, 29 September 2011 | 07:02 WIB
Jakarta, Kompas - Federasi Dunia untuk Kesehatan Jiwa tahun 2011 mencanangkan seruan untuk mendorong investasi di bidang kesehatan jiwa. Di Indonesia, masalah gangguan kesehatan jiwa berupa gangguan kecemasan dan depresi pada orang dewasa secara nasional mencapai 11,6 persen. Investasi di bidang kesehatan jiwa diperlukan untuk menekan prevalensi. ”Populasi orang dewasa mencapai sekitar 150 juta. Dengan demikian ada 1.740.000 orang di Indonesia yang mengalami gangguan mental emosional,” kata Direktur Jenderal Bina Upaya Kesehatan Kementerian Kesehatan Supriyantoro, Rabu (28/9), pada seminar dalam rangka Hari Kesehatan Jiwa Sedunia di Jakarta.
Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) diperingati setiap 10 Oktober. Seminar dengan tema ”Keluarga dan Anak: Investasi Sumber Daya Manusia dengan Mental Berkualitas” itu, mengawali peringatan HKJS tahun ini.

Menurut Supriyantoro, berinvestasi sumber daya manusia di antaranya dimaknai dengan kegiatan prevensi dan promosi kesehatan jiwa bagi kelompok anak dan remaja untuk beradaptasi terhadap tekanan dan konflik yang berlangsung sehari-hari. Tantangan yang harus dihadapi, antara lain, faktor ekonomi dan disfungsi komunikasi di tengah keluarga yang makin meningkatkan masalah psikososial. ”Masyarakat membutuhkan pemahaman masalah psikososial yang dihadapi anak dan remaja, serta mengetahui berbagai kelainan atau gangguan mental yang bisa terjadi pada anak dan remaja,” kata Supriyantoro. Supriyantoro menyambut program pelayanan informasi yang saat ini diupayakan melalui hotline kesehatan jiwa yang akan dikembangkan oleh 26 rumah sakit jiwa di Indonesia. Direktur Bina Kesehatan Jiwa Kemenkes Irmansyah mengatakan, dalam rangka peringatan HKJS tahun 2011 diselenggarakan Konferensi Nasional Kebijakan Kesehatan Jiwa yang pertama, sekaligus sebagai Konferensi Nasional Psikiatri Komunitas II, 7-9 Oktober nanti. Pada waktu bersamaan, pada 8-9 Oktober diselenggarakan Jambore Kesehatan Jiwa di Rumah Sakit Jiwa Marzoeki Mahdi, Bogor.

”Tujuan khusus peringatan HKJS tahun ini antara lain meningkatkan penerimaan masyarakat terhadap orang dengan masalah kejiwaan sehingga dapat kembali hidup normal dan produktif di tengah masyarakat,” kata Irmansyah. Ratih Ibrahim, psikolog dan pengelola lembaga konsultasi kesehatan jiwa, dalam presentasinya, mengemukakan pentingnya menumbuhkan sikap dan sifat orangtua yang baik. Orangtua, disebutkan Ratih, merupakan model bagi anak, sebagai contoh yang hidup, contoh pertama, dan contoh utama bagi anak. ”Penting diterapkan konsep 5K, yaitu kasih, konsekuen, konsisten, kompak, dan kompromi,” kata dia. Pembicara lain, Esther Utomo, dari Pusat Laboratorium Terapi dan Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN), memaparkan persoalan narkotika dan obat-obat terlarang (narkoba). (NAW)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:18 pm

KERJA DAN KESEHATAN JIWA
Minggu, 3 Oktober 2010 | 04:08 WIB KRISTI POERWANDARI PSIKOLOG
Menjelang Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, 10 Oktober nanti, kita perlu berefleksi: sejauh mana semua pihak terutama pemimpin dan pemangku kebijakan telah memiliki kepedulian mengupayakan kesejahteraan rakyatnya? Apakah yang terjadi justru semakin buruknya kondisi kesehatan jiwa masyarakat?
WHO mengartikan kesehatan secara luas sebagai ”suatu kondisi sejahtera fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh, bukan sekadar kondisi ketiadaan penyakit”. Kesehatan jiwa dimaknai sebagai ”suatu kondisi sejahtera di mana individu menyadari dan dapat merealisasi kemampuan-kemampuannya, dapat mengatasi tekanan-tekanan hidup (yang normal), dapat bekerja produktif, dan mampu memberikan sumbangan kepada komunitasnya’.

Manusia adalah makhluk bekerja dan kemampuan atau ketidakmampuan bekerja menjelaskan kompleksitas saling pengaruh aspek biologis-psikologis-ekonomi-sosial-politik. Bapak NN melanjutkan diskusi yang kita bahas tiga minggu lalu, ”.... Saya sudah bekerja lebih dari 15 tahun di sebuah lembaga yang memiliki visi misi yang awalnya sesuai dengan panggilan hati saya. Namun, manajemen yang tidak bersih dan tidak obyektif membuat saya menjadi putus asa. Lembaga sering menggembar-gemborkan keberpihakan kepada masyarakat duafa, tetapi hati saya miris karena di depan mata saya melihat nasib staf yang taraf hidupnya pas-pasan, tetapi mendapat tekanan luar biasa. Saya tidak dapat menerima hal ini karena buat apa kita menyuarakan visi itu, tetapi di dalam lembaga sendiri masih banyak staf yang seharusnya dibantu, tetapi malah tidak dibantu.”

”Pendapatan yang saya peroleh sangat memadai untuk saya pribadi dan keluarga. Meski demikian, posisi saya yang strategis sekaligus menjadi beban berat. Saya menyadari betapa banyak harapan staf level bawah terhadap saya untuk dapat memperjuangkan kenaikan taraf kesejahteraan mereka. Sekuat dan semampu saya coba merealisasikan harapan tersebut. Suatu saat muncul ketidakadilan yang menimpa salah satu staf level bawah. Ternyata pembelaan saya terhadap staf tersebut tidak mendapat dukungan dari lingkaran dalam. Betapa kecewa saya, ternyata semua hanya sibuk memikirkan kesejahteraan diri dan kelompoknya saja. Bahkan, beberapa senior sempat menasihati saya untuk tidak lebay (berlebihan).”

”Apa yang kemudian saya rasakan adalah rasa hampa, lelah luar biasa, merasa dikhianati, tidak lagi berarti dengan posisi strategis yang saya miliki. Lebih buruknya, saya merasa kehilangan diri saya sendiri, bahkan saya tidak lagi mengenal siapa saya, untuk apa saya bekerja, apa sebenarnya arah tujuan hidup saya. Pada awalnya saya mencoba bertahan, tetapi kondisi lembaga tidak membaik, membuat saya semakin lelah, dan hal ini semakin menyiksa batin saya, hingga saya menderita sakit (psikosomatik). Ketika surat pengunduran diri saya layangkan, beberapa teman malah ”menuduh” saya ”melarikan diri”. Saya dianggap egois dan tidak bertanggung jawab untuk membantu menyelesaikan keburukan manajemen lembaga yang memang tengah terjadi dan pekerjaan yang menanti untuk diselesaikan.”

Kesehatan jiwa dan etika
Ilustrasi di atas memberikan banyak sekali pembelajaran: kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikologis dipengaruhi oleh berbagai aspek yang melingkupi kehidupan keseharian, mulai dari aspek biologis hingga sosial-ekonomi-politik. Bukankah kasus ini menjelaskan dinamika politik dalam lembaga, kepedulian/ketidakpedulian pemimpin, dampaknya pada kondisi ekonomi staf, hingga pada suasana psikologis di tempat kerja, bahkan situasi biologis NN yang jadi kelelahan dan sakit?

Contoh di atas juga menjelaskan betapa kondisi sejahtera masyarakat tidak dapat dilepaskan dari ”perilaku etis” semua pihak, khususnya yang berkuasa. Kasus ini merupakan miniatur dari yang sedang terjadi dalam masyarakat kita: hiruk-pikuknya wakil masyarakat atau pemimpin yang tidak amanah, bersibuk diri dengan kepentingan diri dan golongan sangat mengacaukan ketenangan hidup masyarakat, memunculkan kebingungan, ketidakjelasan arah, bahkan ketidakberdayaan. Sangat manusiawi untuk merasa marah menyaksikan ketidakadilan perbandingan biaya yang dikeluarkan untuk fasilitas wakil rakyat dan pejabat versus perjuangan rakyat di jalanan (sopir angkot, tukang jamu, pedagang kaki lima, dll) yang bekerja amat sangat keras untuk memperoleh Rp 20.000 sehari untuk menyambung hidup.

Menolong diri dan orang lain
Bapak NN bertanya: ”Apakah saya terlalu berlebihan memaknai arti ’pekerjaan’ dan ’tanggung jawab’? Apakah saya menjadi manusia yang kaku, naif, dan terlalu idealis? Apakah pada zaman sekarang ini situasi yang kondusif terasa sulit didapat untuk saya berkarya mewujudkan visi hidup saya?” Pertanyaan itu adalah pertanyaan kita semua yang sulit jawabannya karena hidup bukan sekadar teori, melainkan realitas nyata dan itu bukan hitam-putih. Justru diperlukan jauh lebih banyak lagi orang seperti NN, yang semakin tinggi kedudukannya, semakin tidak berpikir mengenai diri sendiri. Pemimpin yang amanah menjadi prasyarat kondisi kesehatan mental masyarakat yang baik. Akan tetapi, untuk menjadi demikian memang sangat tidak mudah dan kompromi terhadap realitas mau tidak mau selalu perlu dilakukan. Misalnya, bukan tindakan bijaksana untuk berhenti bekerja karena muak dengan tempat kerja yang lama, sementara kita belum memperoleh kejelasan tentang sumber nafkah baru untuk menghidupi keluarga anak. Bila demikian halnya, kita tidak menjalankan tanggung jawab kepada orang terdekat dan diri sendiri dan malah menciptakan masalah-masalah baru. Ketika kita sangat tertekan oleh pekerjaan, mungkin kita sedang diingatkan untuk juga memberikan perhatian pada kebermaknaan hubungan dengan orang lain, dan untuk memastikan adanya waktu bersantai. Demikianlah hidup perlu diseimbangkan melalui ”love, work, play” dalam arti seluas-luasnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:22 pm

SAKIT FISIK AKIBAT JIWA YANG SAKIT
Senin, 11 Oktober 2010 | 16:56 WIB
Kompas.com - Tekanan dalam hidup, senormal dan sekecil apa pun, bisa menyebabkan stres bagi individu. Apalagi bila tekanan itu berlangsung terus setiap hari. Karena itu, masyarakat yang hidup di kota-kota besar seperti Jakarta, yang setiap hari harus bergelut dengan kemacetan, banjir yang terjadi mendadak, serta kejahatan di jalan, lebih rentan mengalami stres. Stres yang berkelanjutan, akan menyebabkan terganggunya psikis dan akhirnya menyebabkan penyakit fisik. Organisasi kesehatan dunia (WHO) mengartikan kesehatan secara luas sebagai "suatu kondisi sejahtera fisik, mental, dan sosial secara menyeluruh, bukan sekadar kondisi ketiadaan penyakit". Pada peringatan Hari Kesehatan Jiwa Dunia tanggal 10 Oktober 2010 ini, kita diingatkan kembali bahwa jiwa dan fisik merupakan suatu kesatuan. Jika jiwa sakit, fisik kita juga ikut sakit. Hal diungkapkan oleh dr.Ari F.Syam, dokter spesialis penyakit dalam dari FKUI/RSCM. Menurutnya, beberapa penyebab gangguan pencernaan adalah karena gangguan psikis.

"Sekitar 60-70 % pasien yang mengeluh nyeri di ulu hati disebabkan karena gangguan fungsional. Demikian juga dengan sebagian besar penderita sakit maag," katanya. Gangguan fungsional maksudnya adalah tidak ada kelainan pada saluran cerna, namun disebabkan oleh stres, kurang tidur, serta pola makan tidak teratur. Selain itu sebagian besar penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung koroner, stroke, dan asma, juga bisa diperburuk dengan kondisi sakitnya akibat faktor stres atau psikis. Pada akhirnya dengan pengendalian diri yang baik serta didukung oleh kondisi keluarga yang harmonis kita dapat menekan faktor stress tersebut dan terhindar dari berbagai penyakit kronis tersebut yang dipengaruhi oleh faktor kejiwaan tersebut. "Pemerintah juga seharusnya turut peduli untuk mengurangi berbagai kondisi yang dapat menimbulkan stres ditengah masyarakat, seperti mencari solusi kemacetan, serta menjaga tingkah laku mereka dalam rangka menyejukkan masyarakat, bukan malah meresahkan," katanya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:22 pm

1 DARI 25 PEMIMPIN BISNIS BISA JADI PSIKOPAT
Kamis, 08/09/2011 19:03 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Satu dari 25 pemimpin perusahaan diyakini memiliki gangguan mental psikopat dalam sebuah penelitian terbaru. Gangguan psikopat ini tidak terlihat sebab pemimpin bisnis tersebut mampu melakukan penyamaran karena memiliki daya tarik tinggi, status tinggi dan melakukan manipulasi perilaku di tempat kerja. Dengan kondisi lingkungan yang mendukung seperti memiliki keluarga dan anak dan diperhitungkan di lingkungan sosial para pemimpin bisnis yang psikopat ini bisa hidup nyaman tanpa dicurigai. Survei tersebut dilakukan oleh psikolog asal New York Dr Paul Babiak yang membuat pertanyaan di 111 tempat untuk mengetahui berapa banyak bos di perusahaan yang mengalami psikopat. Survei ini dilakukan bersama dengan Prof Bob Hare dari University of British Columbia Kanada. Dr Babiak dan Prof Hare mengemukakan penemuannya ini dalam program BBC "Horizon: Are You Good Or Evil?" pada Rabu, 7 September 2011. Hasil survei menemukan hampir 4 persen pemimpin bisnis memiliki gejala-gejala psikopat dibanding dengan 1 persen dari populasi umum. Pemimpin bisnis ini adalah mereka yang mempunyai posisi di puncak perusahaan seperti presiden direktur, wakil presiden direktur dan level direktur. "Penemuan ini cukup mengejutkan karena mereka ini adalah orang yang berada di puncak organisasi," kata Dr Babiak seperti dilansir dari dailymail, Kamis (8/9/2011). Hasil penelitian menujukkan bahwa psikopat sebenarnya punya kinerja manajerial yang buruk tetapi mereka mampu menaikkan karirnya hingga di puncak pimpinan karena mampu menutupi kelemahannya dari atasan maupun bawahan secara baik dan menawan.

Kondisi ini kata Dr Babiak, membuat orang sulit membedakan mana pemimpin yang benar-benar berbakat dan mana yang psikopat. "Semakin tinggi jabatan seorang psikopat maka semakin tampak baik mereka terlihat dengan kharisma dan gaya bicaranya yang baik," timpal Prof Hare. Tapi jika melihat hasil kinerja mereka yang sesungguhnya dengan tingkat produktifitas yang dihasilkan menurut Prof Hare itu sangat menyedihkan. Psikopat ini terlihat berprestasi karena mampu menggunakan pesonanya, melakukan manipulasi, intimidasi atau apa pun yang diperlukannya. "Mereka terlihat seolah mampu menebak apa yang Anda pikirkan, dapat melihat bahasa tubuh Anda, dapat mendengarkan apa yang Anda katakan, tetapi sebenarnya mereka tidak benar-benar melakukan atau merasakan apa yang Anda rasakan," kata Prof Hare. Faktor penting yang bisa mendeteksi psikopat adalah kurangnya empati yang mendalam yang merupakan perasaan yang umum dirasakan banyak orang. Psikopat 'berkulit' intelektual bukan emosional. "Ini adalah orang-orang tanpa hati nurani. Mereka suka mencari sensasi, mudah bosan, dan selalu ingin suasana yang berubah karena itulah tempat yang sempurna buat seorang psikopat," kata Dr Babiak. Beberapa psikopat secara lahiriah bersifat agresif dan destruktif, namun faktor-faktor seperti pola asuh dan pendidikan dapat membantu mereka untuk meniru rekannya dan menyesuaikan diri di tempat kerja.

Kapasitas 'psikopat yang sukses' ditampilkan pada kualitas pemimpin perusahaan yang dikagumi dan membantu mereka menaiki tangga karir dengan cepat meskipun kemampuan manajerialnya kurang memadai. "Hal ini membuat kita hampir mustahil untuk membedakan mana seorang psikopat dan seorang bos yang benar-benar baik," kata Paul Babiak, psikolog terkemuka dari New York. "Psikopat benar-benar bukan jenis orang yang seperti Anda bayangkan. Anda bisa hidup atau menikah dengan salah satu di antara mereka selama 20 tahun atau lebih dan tidak tahu bahwa ternyata dia adalah seorang psikopat," ujarnya. "Masalahnya adalah, hal yang sangat kita cari dalam diri para pemimpin dimiliki oleh para psikopat, yaitu mereka dapat meniru dengan mudah. Kecenderungan alami mereka dapat menarik Anda dengan pesonanya dan menempatkannya dalam bahasa bisnis yang tepat. Terdengar seperti pemimpin yang karismatik," jelas Babiak.

Hasil scan otak terhadap psikopat seperti psikopat dalam kasus pembunuhan menunjukkan adanya ketidaknormalan di beberapa bagian otaknya seperti korteks orbital yang berada tepat di atas mata dan berada di depan lobus temporal,-- yang merupakan rumah dari amygdale yang bertanggung jawab terhadap aktifitas respons emosi seseorang. Pada psikopat, daerah otak ini rusak sehingga tidak mampu memberikan respons emosional. Sebuah gen yang dikenal dengan nama 'warrior gene' juga dikaitkan dengan tingkat kekerasan dan sifat agresif dalam merespons sebuah provokasi yang sangat umum terjadi pada seorang psikopat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:25 pm

GANGGUAN KESEHATAN JIWA PADA KONDISI MEDIS
Sunday, 10 October 2010 Seputar Indonesia
TAHUN ini hari Kesehatan Jiwa Internasional yang jatuh pada 10 Oktober 2010 mengambil tema “Mental Health and Chronic Physical Illness, The Need For Continued and Integrated Care”. Tema ini menekankan upaya untuk memperbaiki pelayanan kesehatan jiwa pada pasien dengan kondisi medis yang kronis yang sering kali terlupakan sisi kesehatan jiwanya. Kondisi penyakit yang kronis tidak hanya membuat beban pada kesehatan fisik penderitanya, juga pada kondisi mentalnya.Walaupun sepertinya tidak terlalu menjadi fokus selama ini, kondisi ini sebenarnya karena kurangnya kesadaran dari pasien,keluarganya, dan bahkan dokter yang merawat. Hal ini juga ditambah dengan stigma yang masih merundung bidang kesehatan jiwa yang selalu dikaitkan dengan kegilaan.

Gangguan jantung dan pembuluh darah, diabetes atau kencing manis,kanker dan gangguan pernapasan merupakan kondisi penyakit kronis yang sering berkaitan dengan kondisi gangguan kejiwaan seseorang.Kondisi medis kronis ini bisa meningkatkan angka kejadian gejala depresi dan kecemasan lebih daripada populasi normal. Permasalahan gangguan kesehatan jiwa pada kondisi medis umum kronis akan memengaruhi harapan dan kualitas hidup pasien, ongkos pengobatan dan keluaran dari penyakitnya tersebut. Kondisi gangguan kesehatan jiwa bisa menghambat perbaikan kondisi medis pasien sehingga membuat pasien mengalami kerugian dari berbagai segi.

Kondisi Medis Terkait
Gangguan jantung dan pembuluh darah, diabetes, kanker, gangguan pernapasan, dan kegemukan adalah hal-hal yang paling sering dikaitkan dengan kondisi kesehatan jiwa.Data terakhir mengatakan bahwa penyakit-penyakit di atas menyumbang 60% dari angka kematian global. Kondisi gangguan kesehatan jiwa pada kondisi medis kronis akan menambah angka kematian yang sudah tinggi tersebut.

Sebuah tinjauan pustaka ilmiah terbaru mengatakan bahwa 30% pasien yang mengalami diabetes melitus tipe 2 mengalami gejala depresi dan terjadi pula perubahan pada kadar HbA1c-nya. Kadar HbA1c di dalam darah menunjukkan profil kadar gula darah beberapa bulan terakhir dibandingkan dengan pemeriksaan gula darah sewaktu atau puasa yang hanya menunjukkan kadar gula darah kurang lebih 24 jam saja. Perbaikan pada gejala depresi pasien pada beberapa penelitian berhubungan dengan perbaikan kadar HbA1c di dalam darah. Lain lagi dengan kondisi yang berhubungan dengan gangguan jantung dan pembuluh darah. Penyakit jantung merupakan contoh yang paling baik dalam menerapkan suatu hubungan antara pikiran dan tubuh, suatu dasar konsep di bidang psikosomatik.

Dalam setiap aspek penyakit jantung dan pembuluh darah,kepustakaan mengatakan sangat jelas untuk menjelaskan adanya peran psikologis yang terjadi di antara semua komponen biopsikososial yang berhubungan dengan terjadinya penyakit. Lebih jauh lagi, gangguan panik malah sering kali salah diagnosis sebagai penyakit jantung yang membuat pasien mengeluarkan dana yang besar untuk pemeriksaan sampai dasar penyakitnya yaitu gangguan panik diketahui. Sebaliknya, gangguan panik sendiri sering timbul pada kondisi pasien dengan gangguan jantung.

Untuk ini, kemampuan dokter yang mengerti tentang konsep biopsikososial seharusnya dimiliki setiap dokter yang merawat pasien dengan gangguan jantung. Hal lain yang sering kita dengar adalah gangguan stroke. Stroke sebenarnya dapat terjadi pada siapa saja dan pada umur berapa pun, tetapi tiga perempat dari penderita stroke adalah ratarata berusia di atas 65 tahun atau lebih.Kenyataan di lapangan saat ini,terjadi suatu fenomena bahwa stroke terjadi pada rata-rata umur yang lebih muda yaitu sekitar umur empat puluhan dan lima puluhan.

Data di Amerika mengatakan bahwa sekitar 10%-27% dari 600.000 penderita stroke didiagnosis menderita depresi berat dalam waktu setahun sejak awal mengalami stroke. Sebagai tambahan 15% sampai 40% mengalami beberapa gejala depresi dalam dua bulan pertama setelah stroke.

Apa yang Bisa Dilakukan?
Banyak hal yang bisa dilakukan terkait dengan hal ini.Pengetahuan tentang kondisi medis kronis yang bisa mengalami gangguan kesehatan jiwa adalah yang utama. Tidak hanya pasien yang harus mengerti tentang hal ini, dokter yang menangani kasus-kasus medis kronis juga seharusnya memahami aspek kejiwaan pasien medis kronis yang dirawatnya. Hal ini akan mengurangi keengganan atau penolakan berkunjung ke ahli kedokteran jiwa untuk berkonsultasi tentang gangguan kesehatan jiwa.

Pengenalan dini tentang kondisi gangguan kesehatan jiwa ini sangat perlu karena berhubungan dengan outcome dari pengobatan yang akan dilakukan.Terkadang pasien tidak menyadari sehingga peran dokter yang mengerti dasardasar kesehatan jiwa dan biopsikososial sangat diharapkan pada kasus-kasus seperti ini. Hal lain yang bisa dilakukan adalah kerja sama di dalam tim rumah sakit yang melibatkan dokter-dokter yang berperan dalam penanganan pasien. Sebagai psikiater yang mendalami consultation- liaison psychiatry dan kedokteran psikosomatik, saya sering terlibat dalam beberapa kasus penanganan pasien medis kronis yang mengalami gangguan kesehatan jiwa.

Keterbukaan dan saling kerja sama demi kebaikan pasien adalah modal utama integrasi pelayanan kesehatan yang baik.Dan,hal ini bisa dilakukan di seluruh rumah sakit di Indonesia, bahkan sejak dari pelayanan primer jika kita mau meniru Australia. Upaya ini semata-mata adalah demi kebaikan dan kesehatan yang menyeluruh dari pasien yang mengalami kondisi medis kronis.

Pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan terintegrasi antara fisik dan mental akan menghasilkan harapan dan kualitas hidup yang lebih baik bagi pasien medis kronis. Selamat Hari Kesehatan Jiwa. Salam Sehat Jiwa.

OLEH: DR ANDRI SPKJ
Psikiater, anggota The Academy of Psychosomatic Medicinerg,m
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:25 pm

PASIEN RS JIWA JARANG DIJENGUK KELUARGANYA
Jumat, 09/09/2011 11:23 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Bandung, Meski sama-sama rumah sakit, pasien Rumah Sakit Jiwa (RSJ) jauh lebih jarang dijenguk oleh keluarga ketimbang RSUD atau rumah sakit biasa. Padahal, dukungan keluarga sangat penting untuk mempercepat penyembuhan pasien. Keluarga pasien dengan gangguan jiwa seringkali menjadikan Rumah Sakit Jiwa (RSJ) sebagai tempat 'pembuangan' bagi pasien. Setelah menyerahkan pasien ke RSJ, keluarga seakan-akan bebas dan tidak pernah menjenguk anggota keluarganya tersebut. "Celakanya, setelah keluarga menyerahkan pasien kesitu (RSJ) terus dia kipas-kipas seolah bilang 'Nah bebas nih gue'. Terus setelah 10 hari nggak datang lagi. Itu yang akhirnya membuat terjadinya penumpukan pasien. Akhirnya kita pulangkan, kita drop istilahnya. Jadi ada dropping pasien," jelas dr G Pandu Setiawan, SpKJ, Ketua Jejaring Komunikasi Kesehatan Jiwa Indonesia (Jejak Jiwa) disela-sela acara workshop 'Pertemuan Peningkatan Peran Media Massa tentang Kesehatan Jiwa' di Hotel Grand Seriti, Bandung, Jumat (9/9/2011).

Menurut dr Pandu, keluarga melakukan hal tersebut karena tidak memiliki cukup biaya. Letak RSJ yang rata-rata berada di ibukota provinsi membuat keluarga pasien tak bisa terus-terusan menjenguk atau memberikan perhatian. "Maka kita harus bisa mendekatkan, istilahnya jemput bola. Petugas harus kita latih untuk kita dekatkan (dengan masyarakat), obat yang baik juga kita dekatkan pada mereka," lanjut dr Pandu. Idealnya, keluarga pasien gangguan jiwa harus menjenguk pasien di RSJ seminggu sekali. Hal ini juga harus ditandatangani oleh keluarga. "Tapi yang terjadi adalah boro-boro seminggu sekali, sebulan sekali ya belum tentu," tutur dr Pandu. Dukungan keluarga sangatlah penting bagi pasien gangguan jiwa. dr Pandu menuturkan bila dokter dan obat yang diberikan benar disertai dengan dukungan keluarga yang menjenguk seminggu sekali, maka dalam seminggu awal seharusnya pasien gangguan jiwa sudah bisa mengalami perubahan kondisi menjadi lebih baik.

"Saya membangun dua rumah sakit jiwa baru, dari rawa jadi RSJ Banjarmasin, dari kuburan jadi RSJ. Saya bikin yang namanya ruang bersama. Itu adalah tempat pasien, keluarga, jam 10 besuk, sharing dengan keluarga lain. Disitu tuh luar biasa pengaruhnya sharing antar keluarga. Jadi perawat, keluarga, pasien jadi satu. Itu mempercepat pemulihan," jelas dr Pandu. dr Pandu menuturkan, jika gejala gangguan jiwa bisa sangat dini diketahui, mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik dengan dokter dan perawat yang tepat, diberi obat yang benar serta adanya dukungan keluarga yang baik, maka paling lama 3 minggu pasien gangguan jiwa sudah bisa pulih dan diijinkan pulang untuk berobat jalan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Jiwa   Wed Jun 20, 2012 1:26 pm

TIDAK BANYAK ORANG GILA KARENA DOKTER TAKUT MENGATAKANNYA
Jumat, 08/10/2010 17:37 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Jumlah penderita gangguan jiwa seringkali tak sebanyak angka sebenarnya, padahal gangguan tidur dan susah makan juga termasuk di dalamnya. Sebagian dokter memang tidak berani untuk mengatakan seseorang mengalami sakit jiwa. Meski dibekali ilmu psikiatri, tidak mudah bagi sebagian dokter umum untuk menegakkan diagnosis gangguan jiwa. Diagnosis yang 'menggantung' dinilai lebih aman, misalnya gangguan pola makan, gangguan tidur atau gangguan lain sesuai yang dirasakan pasien. "Padahal berbagai gangguan kesehatan banyak yang sebenarnya berakar pada gangguan jiwa, seperti sakit kepala, susah makan, takut naik pesawat dan sebagainya," ungkap Kasubdit Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa di Sarana Non-Kesehatan Kemenkes, Dr Laurentius P, Sp.KJ dalam jumpa pers di gedung Kemenkes, Jumat (8/10/10).

Menurutnya, kurangnya kepercayaan diri pada sebagian dokter bisa dipahami karena hal itu merupakan beban yang cukup berat. Menegakkan diagnosis gangguan jiwa sama saja dengan melabeli orang dengan stigma negatif, misalnya gila dan tidak waras. Hanya saja, efek yang muncul akibat keragu-raguan itu ternyata cukup panjang. Karena hanya sedikit pasien yang mendapatkan diagnosis sakit jiwa, maka pemesanan obat-obatan untuk keperluan tersebut juga tidak terlalu banyak."Akibatnya obat-obat psikotik tidak banyak tersedia di pasaran. Dampaknya bisa kembali lagi ke awal, dokter semakin malas mendiagnosis sakit jiwa karena toh obatnya juga susah didapat," ungkap Dr Laurentius. Terkait dengan obat-obatan, pasien sakit jiwa juga mengalami masalah dengan kepatuhan minum obat ketika harus mengonsumsinya dalam jangka panjang. Untungnya kini mulai banyak tersedia obat-obat depo (deposit) yang cukup diberikan sekali dalam sebulan.
Back to top Go down
 
Kesehatan Jiwa
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 44Go to page : 1, 2, 3 ... 22 ... 44  Next
 Similar topics
-
» Dupa Berbahaya Bagi Kesehatan
» Ke Arab, Siap-siap Diperkosa Jiwa dan Raga
» Membersihkan Jiwa
» Hikmah Diharamkannya Menikahi Saudara Sesusuan
» manfaat berwudhu bagi kesehatan

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: