Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 M e r o k o k

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 12 ... 20  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Tue Jul 10, 2012 4:11 pm

BAHAYA PEROKOK PASIF
Sabtu, 24 Maret 2012 /www.catatandokter.com
Perokok pasif adalah orang yang bukan perokok tetapi menghirup asap rokok dari orang lain. Jadi, perokok pasif merupakan korban, bukan pelaku. Berbeda halnya dengan perokok yang umumnya didominasi orang dewasa, yang menjadi perokok pasif bisa siapa saja, dari anak-anak, orang dewasa, sampai orang tua. Bahkan bayi-bayi kecil yang tak tahu apa-apa.

Bertahan lama
Asap rokok yang dihembuskan oleh perokok aktif mengandung berbagai macam zat berbahaya. Beberapa diantaranya adalah amonium, butan, karbon monoksida, sianida, formaldehid, timbal, dan polonium. Sianida misalnya, merupakan racun yang sangat kuat. Polonium merupakan bahan radioaktif berbahaya. Karbon monoksida dapat menyebabkan kurangnya oksigen dalam darah. Asap rokok yang mengandung zat-zat tersebut dapat bertahan lama di udara, apalagi jika dihembuskan dalam ruangan yang tertutup.

Kematian
Beberapa macam akibat yang dapat diderita oleh perokok pasif antara lain adalah :
- Penyakit paru-paru.
Asap rokok dapat memperparah asma dan memperparah penyakit penyumbatan paru menahun.

- Penyakit jantung.
Asap rokok yang masuk ke paru-paru akan terbawa oleh darah dan akan menimbulkan kerusakan pada pembuluh darah jantung. Akibatnya, perokok pasif rentan mengalami penyakit jantung dan kematian mendadak akibat penyakit jantung.

- Kanker.
Ada dua jenis kanker yang berisiko diderita oleh perokok pasif, pertama kanker paru-paru, dan yang kedua adalah leukemia.

Janin kecil
Bahaya pada anak-anak lebih berat lagi. Mereka dapat menderita sindrom kematian mendadak, atau mendapat asma. Selain itu, anak cenderung gampang mengalami infeksi, seperti bronkhitis, pneumonia, atau infeksi telinga tengah. Sedangkan ibu hamil yang menjadi perokok pasif, cenderung mengandung janin yang kecil, sehingga saat dilahirkan berat janin lebih rendah daripada berat janin normal.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 8:34 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Thu Jul 12, 2012 2:03 pm

NASIB PEROKOK PASIF
http://www.hdindonesia.com/info-medis/nasib-perokok-pasif
Sebuah penelitian di Amerika memperkuat fakta bahwa perokok pasif memiliki risiko terkena penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan perokoknya sendiri. Tidak hanya menghasilkan ’racun’ bagi penikmatnya tetapi juga meracuni orang di sekitarnya. Itulah sedikit gambaran tentang benda kecil bernama rokok. Rokok, disukai banyak orang namun dimusuhi lebih banyak orang, itulah benda kecil bernama rokok. Sekelompok orang yang menikmatinya, namun orang lain yang sama sekali tidak menikmatinya juga ikut terkena dampaknya. Kelompok yang hanya kebagian asap inilah dinamakan perokok pasif. Tidak tanggung-tanggung, asap rokok mengandung sekitar 4000 bahan kimia, dan 43 diantaranya bersifat karsinogen (menyebabkan kanker). Ironisnya, asap rokok yang dihirup oleh perokok pasif kandungan bahan kimianya lebih tinggi dibandingkan dengan yang dihirup oleh perokoknya. Merokok, menghasilkan pembakaran dan asap yang dihirup oleh si perokok, dan lalu dihembuskan ke udara. Asap yang dihembuskan dan asap hasil pembakaran ujung rokok kemudian menyebar ke udara dan dihirup oleh orang-orang yang tidak merokok.

Tidak banyak yang mau peduli dengan kenyataan bahwa 85% asap rokok dihirup oleh perokok pasif. Hanya 15% yang dihirup oleh perokoknya. Hitungan matematis yang cukup menyedihkan. Menjadi pengguna fasilitas umum, terutama angkutan umum semakin menyempurnakan penyebaran bahaya ini. Asap rokok menjadi sesuatu yang nyaris tak dapat dihindari. Orang yang tidak merokok pun tidak lagi punya hak atas udara bersih untuk mereka hirup. Pasalnya, ada salah kaprah yang sudah membudaya. Misalnya, bila seseorang yang tidak merokok mengeluh akan asap rokok dalam sebuah bis kota, orang tersebut akan dianggap aneh. Padahal, di fasilitas umum yang berlaku seharusnya adalah peraturan untuk kepentingan umum.

Sebuah penelitian di Amerika memperkuat fakta bahwa perokok pasif memiliki risiko terkena penyakit lebih tinggi dibandingkan dengan perokoknya sendiri. Penelitian tersebut menunjukkan hasil bahwa kematian akibat asap rokok pada orang yang tinggal dengan perokok lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Dengan menjadi seorang perokok pasif, beberapa bahaya mengintai kapan saja. Infeksi paru, gangguan pertumbuhan paru, bahkan kanker paru. Di negara maju, persentase jumlah perokok semakin hari semakin berkurang. Selain kepedulian terhadap lingkungan, kesadaran yang tinggi akan bahaya rokok menjadi alasan kuat mereka untuk berhenti merokok. Di Indonesia sendiri, para perokok masih memiliki kebebasan yang hampir tak terbatas. Memang, beberapa waktu yang lalu sudah ada Perda (untuk wilayah DKI) yang mengatur masalah merokok di area publik. Tetapi, tampaknya belum banyak memiliki kesadaran pada peraturan tersebut. Kawasan bebas rokok masih sangat minim, bahkan di area yang bebas asap rokok pun, masih ada saja yang tidak perduli aturan. Masih seputar konsekuensi yang tidak adil. Menurut WHO, badan kesehatan PBB, sekitar 700 juta anak, atau sekitar setengah dari seluruh anak di dunia terpaksa menghirup udara yang tercemari asap rokok. Asap rokok yang sangat berbahaya bagi pertumbuhan serta perkembangan mereka. Ayah yang merokok, anak yang menghirup asap racunya. Suami yang merokok, istri yang menghisap racunnya, demikian juga sebaliknya.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 8:28 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jul 14, 2012 8:55 am

PEROKOK PASIF LEBIH BERISIKO MATI
Sabtu, 16 Juni 2012 11:04:00 Merdeka.com - Reporter: Kun Sila Ananda
Sebuah penelitian jangka panjang di Cina menunjukkan bahwa orang yang secara teratur terkena paparan asap rokok memiliki risiko kematian yang lebih tinggi karena banyak hal. Ilmuwan menemukan bahwa dibandingkan dengan orang dewasa yang hidup dan bekerja pada wilayah bebas merokok, mereka yang terkena paparan rokok secara rutin atau perokok pasif lebih berisiko mati karena penyakit jantung atau kanker paru-paru setelah 17 tahun. Selain itu, mereka juga lebih rentan mati karena stroke atau penyakit paru-paru lainnya. Meskipun begitu, penelitian ini tidak bisa membuktikan dengan jelas bahwa kematian mereka semata-mata disebabkan oleh status sebagai perokok pasif. Hal ini juga dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pekerjaan, tekanan darah, dan tingkat kolesterol. Sementara menurut Joanna Cohen, direktur Institute for Global Tobacco Control di John Hopkins Bloomberg School of Public Health di Baltimore yang tidak ikut melakukan penelitian mengatakan bahwa penelitian berhasil menemukan bukti kaitan sebab akibat antara perokok pasif dengan tingkat kematian. Berdasarkan Reuters, beberapa penelitian telah menemukan bahwa orang yang tidak merokok namun secara rutin menghirup asap rokok orang lain memiliki risiko lebih tinggi untuk terkena penyakit jantung, kanker dan tumor paru-paru. Meskipun begitu, bukti yang telah ada dianggap Cohen tidak mencukupi. Menurutnya perlu dilakukan serangkaian penelitian lagi untuk membuktikannya. Baginya, ini juga merupakan penemuan yang besar karena penelitian tersebut dilakukan di Cina, negara yang sebagian besar masyarakatnya adalah perokok. Penelitian ini berdasarkan pada pengamatan terhadap 910 orang dewasa selama hampir dua puluh tahun. Pada mulanya 44% dari relawan mengaku tinggal bersama perokok, sementara 53% lainnya mengaku menghisap asap rokok saat mereka berada di tempat kerja. Setelah beberapa tahu, 249 relawan meninggal dikarenakan penyakit jantung, stroke, kanker paru-paru. Ini dua hingga tiga kali lebih tinggi dibandingkan dengan jumlah relawan yang hidup pada lingkungan yang bebas asap rokok.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 8:25 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jul 14, 2012 9:47 am

BAHAYA PEROKOK PASIF 3X PEROKOK AKTIF
Pipiet Tri Noorastuti Selasa, 23 Juni 2009, 13:18 WIB
VIVAnews - Menghirup asap rokok orang lain lebih berbahaya dibandingkan menghisap rokok sendiri. Bahkan bahaya yang harus ditanggung perokok pasif tiga kali lipat dari bahaya perokok aktif. Setyo Budiantoro dari Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) mengatakan, sebanyak 25 persen zat berbahaya yang terkandung dalam rokok masuk ke tubuh perokok, sedangkan 75 persennya beredar di udara bebas yang berisiko masuk ke tubuh orang di sekelilingnya. Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter. Sedangkan racun rokok dalam tubuh perokok aktif terfilter melalui ujung rokok yang dihisap. "Namun konsentrasi racun perokok aktif bisa meningkat jika perokok aktif kembali menghirup asap rokok yang ia hembuskan." Racun rokok terbesar dihasilkan oleh asap yang mengepul dari ujung rokok yang sedang tak dihisap. Sebab asap yang dihasilkan berasal dari pembakaran tembakau yang tidak sempurna. Berikut sejumlah zat berbahaya yang terkandung di sebuah batang rokok:

Tar
- Dalam tubuh manusia, tar memicu terjadinya iritasi paru-paru dan kanker.
- Dalam tubuh perokok pasif, tar akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

Nikotin
- Dalam tubuh manusia menimbulkan efek adiksi atau candu yang memicu peningkatan konsumsi.
- Dalam tubuh perokok pasif, nikotin akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

Karbon Monoksida
- Merupakan gas berbahaya yang dapat menurunkan kadar oksigen dalam tubuh. Pengikatan oksigen oleh karbon monoksida inilah yang kemudian memicu terjadinya penyakit jantung.
- Dalam tubuh perokok pasif, gas berbahaya ini akan terkonsentrasi tiga kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

Bahan kimia berbahaya
- Berupa gas dan zat berbahaya yang jumlahnya mencapai ribuan. Di tubuh manusia, bahan kimia berbahaya ini meningkatkan risiko penyakit kanker.
- Dalam tubuh perokok pasif, bahan kimia berbahaya ini akan terkonsentrasi 50 kali lipat dibandingkan dalam tubuh perokok aktif.

Mengutip hasil kajian WHO, Budi mengatakan, lingkungan bebas asap rokok merupakan satu-satunya strategi efektif untuk memberikan perlindungan bagi perokok pasif. Penyediaan smoking area juga tak sepenuhnya melindungi para perokok pasif dari bahaya rokok. "Penyediaan smoking area di dalam gedung sama halnya dengan kencing di sudut kolam renang, akan menyatu juga," ujarnya. "Asap tetap akan menembus ventilasi." Data Global Youth Survey tahun 1999-2006, sebanyak 81 persen anak usia 13-15 tahun di Indonesia terpapar asap rokok di tempat umum atau menjadi perokok pasif. "Padahal rata-rata persentase dunia hanya 56 persen," ujarnya. Survei tersebut juga menunjukkan, lebih dari 150 juta penduduk Indonesia menjadi perokok pasif di rumah, di perkantoran, di tempat umum, di kendaraan umum. Sedangkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional 2004 menunjukkan, lebih dari 87 persen perokok aktif merokok di dalam rumah ketika sedang bersama anggota keluarganya. Survei ini juga menemukan 71 persen rumah tangga memiliki pengeluaran untuk merokok.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 8:22 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Mon Jul 16, 2012 6:17 pm

10 KAMPANYE HITAM MEROKOK ITU AMAN DAN SEHAT
Penulis : Dr. Widodo Judarwanto Sp.A | Senin, 16 Juli 2012 | 17:13 WIB
KOMPAS.com - RUU Pengendalian Dampak Produk Tembakau Terhadap Kesehatan (RUU PDPTK) yang telah diajukan pemerintah untuk disetujui DPR periode 2004-2009 belum juga disahkan dan terus bergulir menjadi kontroversi. Hal ini karena mendapat intervensi dan tekanan dari berbagai pihak. Pihak pro rokok mengatakan bahwa pemerintah sangat menekan kepentingan petani rokok, sedangkan para penggiat antirokok mengatakan bahwa aturan tersebut sangat ringan dan tidak ada apa-apanya bila pemerintah berkeinginan menekan bahaya dampak buruk rokok bagi bangsa ini. Sebenarnya, substansi utama RUU ini sering disalahartikan secara paranoid bahwa akan membunuh kepentingan para petani tembakau. Misi utama RUU tersebut yang harus disosialisasikan adalah dampak buruk rokok bagi masyarakat yang sehat dan non perokok khususnya anak, remaja, ibu hamil dan orang sehat lainnya. Dua pihak pihak saling berkontroversi itu diikuti pro kontra masyarakat lainnya. Pro Rokok pasti diikuti oleh orang yang terancam kenikmatan dan kehidupan ekonominya. Sedangkan kelompok antirokok bukan demi kepentingan individu tetapi demi kepentingan dan kepedulian kesehatan orang lain khususnya orang bukan perokok yang terancam bahaya dampak rokok khsusnya anak, ibu hamil dan orang sehat lainnya.

Beda pendapat tersebut tidak akan pernah berujung. Masing-masing mengemukakan argumentasi yang berbeda dan berseberangan. Para perokok dan produsen rokok sebagai pihak yang pro rokok karena terdesak kenikmatan dan kehidupan ekonominya melakukan segala cara untuk mempertahankan diri. Karakteristik umum pihak ini selalu paranoid, melakukan analogi yang tidak rasional, tidak ilmiah dan cenderung menyalahkan fakta ilmiah yang telah dilakukan oleh para ahli kesehatan dunia di bidangnya. Sehingga demi kenikmatan pribadinya, mereka cenderung melakukan pembelaan diri dengan melakukan kampanye hitam "Merokok itu Aman dan Sehat" yang justru akan menjeremuskan masyarakat ke dalam bahaya yang lebih besar. Sedangkan pihak antirokok dengan kepedulian sosialnya juga melakukan kampanye kepada masyarakat. Meski kelompok terakhir ini kadang juga menggunakan rasionalistas yang tidak ilmiah, tetapi sebagian besar mereka merujuk kepada para ahli kesehatan. Setidaknya ada 10 kampanye hitam melawan kampanye bahaya rokok yang kerap dilancarkan para pendukung rokok :

1. Pemerintah dan Organisasi Anti Rokok hanya mengurusi rokok padahal banyak masalah kesehatan dan masalah bangsa lainya yang belum diurusi. Perokok selalu curiga dan paranoid setiap masalah merokok selalu diangkat sebagai hal yang menganggu kesehatan. Para merokok selalu berdalih bahwa mengapa kolesterol, alkohol, korupsi, kecelakaan lalu lintas atau berbagai hal yang mengancam jiwa lainnya tidak diurus. Tetapi hanya rokok yang selalu disorot dan dijadikan kambing hitam. Hal ini merupakan sifat mekanisme pembelaan diri yang paling sering dialami bila seseorang terdesak apabila kenikmatan kehidupan dan penghasilan hidupnya terancam. Karena mekanisme pembelaan diri inilah, seringkali para perokok atau produsen rokok sering paranoid dan memberikan argumen yang tidak rasional ketika kenikmatannya terancam. Mereka selalu menyalahkan fakta ilmiah yang ada bahwa memang rokok berbahaya mereka selalu mengatakan fakta atau opini dengan berdasarkan "katanya" atau "kata seseorang" atau mungkin menunjuk kasus per kasus bahwa seorang kasus tidak apa dan sehat selama puluhan tahun meski merokok. Kampanye anti rokok selama ini justru bergerak pada sasaran orang yang sehat yang belum terpapar rokok yang terancam terkena rokok. Karena untuk menyadarkan para perokok sangat sulit dan sudah tidak bisa lagi. Mungkin para perokok hanya bisa disadarkan bila musibah sudah mulai terjadi pada dirinya dan berdampak pada anggota keluarganya.

2. Rokok membantu petani tembakau dan kepentingan bisnis Amerika menghancurkan rokok Indonesia.
Sebagian pihak mencurigai sebagian dana asing membantu yayasan nirlaba untuk bergerak social dalam bidang anti rokok. Tetapi bila hal itu benar dan demi kesehatan bangsa ini, maka sebaiknya para perokok dan produsen rokok harus bisa menyadari. Kalaupun itu berdampak pada produksi rokok nasional adalah dampak akhir yang bisa terjadi.
Sebaliknya, para perokok tidak menyadari telah dimanfatkan produsen rokok yang selalu mengatakan demi membantu kehidupan petani tembakau. Saat regulasi merokok diatur demi kesehatan orang yang bukan perokok para produsen rokok belingsatan dan meradang. Para perokok selalu saja paranoid dengan mengatakan bahwa RUU pengendalian tembakau disponsori oleh kepentingan bisnis luar negeri. Bila hal ini benar demi kesehatan masyarakat Indonesia mengapa perokok masih resah. Tetapi sebaliknya para perokok tidak disadari telah dimanfaatkan para produsen rokok dan dengan dalih demi kepentingan petani tembakau. Indonesia adalah "surga bagi perokok dan produsen rokok, neraka bagi orang yang tidak merokok". Padahal, faktanya duapuluh tahun belakangan jumlah produksi rokok meningkat sangat pesat tetapi jumlah produksi tembakau nasional tetap. Hal ini terjadi karena import tembakau semakin besar. Impor tembakau oleh produsen rokok Indonesia telah dilakukan beberapa tahun terakhir sebesar 30% dari total kebutuhan. Produksi tembakau domestik hanya men-support suplai 70% terhadap kebutuhan tembakau sebagai bahan baku rokok. Para produsen rokok semakin kaya tetapi kehidupan petani rokok justru semakin merosot kualitas tembakaunya lebih mahal dan kualitasnya lebih buruk dibandingkan kualitas impor seperti dari Brazil dan Cina. Selain itu karyawan buruh rokok linting sudah banyak di PHK dengan diganti mesin canggih demi efisiensi biaya dan mengeruk keuntungan lebih besar lagi.

3. Perokok berat merasa sehat buktinya beberapa kali foto Rontgen normal.
Perokok menganggap dirinya sehat setelah beberapa kali mengalami foto rontgen. Inilah salah satu kesalahan terbesar para perokok. Rokok dapat menyebabkan gangguan pembuluh darah yang dapat berakibat stroke, jantung, impotensi, kanker paru atau gangguan kanker lainnya. Dalam tahap awal gangguan yang diakibatkan rokok mungkin hanya menganggu pembuluh darah atau permukaan saluran napas atas . Dalam keadaan seperti ini foto rontgen normal. Saat terjadi gangguan pembuluh darah mungkin para perokok tidak mengalami gangguan sedikitpun atau mungkin hanya gangguan ringan seperti nyeri dada, sakit kepala atau badan lemah dan hal ini dianggap hal lain seperti kecapekan atau masuk angin.. Itulah sebabnya mengapa banyak orang sakit jantung meninggal mendadak saat melakukan medical check up normal dan merasa tidak mengalami gangguan penyakit sebelumnya. Sedangkan untuk kanker paru awalnya juga tidak didapatkan gangguan sedikitpun pada foto rontgen dan paru. Banyak penderita kanker paru justru sudah ketahuan menjalar ke seluruh organ tubuh, hanya di awali dengan keluhan batuk-batuk ringan. Gangguan permukaan saluranaan nafas yang dialami para perokok hanya mengalami batuk ringan dan dalam keadaan ini foto paru bahkan CT Scan masihn sangat bagus dan normal. Disamping itu banyak perokok saat mengalami batuk lama, sesak, impotensi atau badan lemah mengingkari hal itu bukan karena rokok tetapi karena terlalu capai, stres atau mekanisme pembelaan diri lainnya.

4. Rokok Aman Bagi Kesehatan
Sebagian besar perokok selalu dengan bangganya masih menganggap bahwa merokok itu aman dan sehat. Dengan jumawanya perokok mengatakan, saya lebih sehat dibandingkan tetangga saya yang kemarin mati muda tetapi bukan perokok. Hal tidak rasional inilah yang sering diungkapkan para perokok. Perokok tidak menyadari mungkin saja dengan kondisi fisik yang sama dengan orang sehat lainnya perokok tersebut biasa akan mati 15 tahun lebih dulu. Atau bila dibandingkan orang sehat lainnya yang bukan perokok maka kecepatan lari dan kekuatan fisiknya akan kalah jauh. Banyak penelitian dan dokter memastikan bahwa rokok itu berbahaya. Ratusan penelitian yang telah diakui kevalidannya di dunia ilmiah elah banyak riset yang membuktikan bahwa rokok sangat menyebabkan ketergantungan, di samping menyebabkan banyak tipe dan jenis kanker, penyakit jantung, penyakit pernapasan, penyakit pencernaan, efek buruk bagi kelahiran, emfisema, dan memperberat penyakit lainnya. Penelitan banyak menunjukkan bahwa perokok pasif bisa terkena dampak kesehatan sama dengan perokok aktif. Uniknya dibalik pendapat "ngawur" yang keluar dari mulutnya bahwa rokok aman, tetapi sebagian para perokok takut merokok di dekat anaknya sendiri. Meski sebagian kecil orangtua masih ada yang tidak peduli tetap merokok terus di dekat anak dan cucunya. Tetapi sebgian para perokok yang egois atau memang benar-benar tidak tahu itu memang tidak peduli kesehatan orang lain di sekitarnya saat dia merokok dalam ruangan, dalam kendaraan umum, atau dalam rumah makan yang banyak terdapat anak, ibu hamil dan orang sehat bukan perokok lainnya.

5. Rokok belum terbukti sebagai penyebab kanker.
Banyak para perokok masih tidak yakin bahwa rokok dapat menyebabkan kanker. Bahkan sebagian kelompok kampanye hitam rokok mengatakan bahwa penelitian rokok penyebab kanker adalah bohong besar. Sebagian lainnya mengatakan sebaliknya bahwa rokok sebagai anti kanker karena terdapat zat antikarsinogenik. Memang mungkin saja ada kandungan baik hijaunya daun segar tembakau bila diteliti. Tetapi saat berupa asap rokok akan banyak didominasi ratusan bahan karsinogenik lainnya. Perokok sering menganalogikan bahwa menteri kesehatan atau si Ponari tetangga sebelah meninggal karena kanker paru juga bukan perokok. Tetapi dengan contoh kasus perkasus seperti itu, tidak bisa disimpulkan bahwa rokok bukan penyebab kanker. Analogi salah lainnya, sebagian besar orang meninggal sakit jantung dengan kolesterol yang normal. Tetapi mereka tidak tahu bahwa sebagian besar penderita kanker paru adalah perokok. Memang kanker paru dan penyakit jantung disebabkan berbagai faktor bukan hanya rokok. Faktor penyebab lainnya termasuk kolesterol, diabet, genetik atau faktor lainnya. Sudah puluhan atau mungkin ratusan penelitian yang dilakukan dengan benar secara ilmiah telah menunjukkan bahwa rokok penyebab kanker dan dampak kesehatan lainnya. Sebagian besar penelitian yang telah dipublikasikan di jurnal online pubmed tentunya sudah berdasarkan kaidah penelitian yang baik dan benar dengan memperhitungkan bukan hanya rokok sebagai penyebab tetapi berbagai faktor resiko atau penyebab lainnya dan juga dibandikan dengan kelompok orang sehat. Risiko kematian akibat kanker paru-paru pada laki-laki yang merokok lebih besar 23 kali sedangkan untuk wanita yang merokok sebesar 13 kali lipat dan sepertiga dari perokok tersebut meninggal dengan rata-rata waktu meninggal 15 tahun lebih cepat dibandingkan yang tidak merokok. Hal ini didukung oleh ratusan penelitian ilmiah lainnya

6. Perokok adalah bentuk kemerdekaan seseorang.
Perokok dengan bangganya bahwa merokok merupakan bentuk kemerdekaan seseorang dan tidak melanggar hak asasi. Para perokok dianggap sebagai orang yang merdeka karena mereka berani menempuh bahaya dibandingkan orang lain. Padahal bagi orang rasional mungkin secara ektrim perokok bukan orang yang merdeka tetapi orang nekat dan tidak waras karena berani bertarung nyawa. Perokok menganggap dirinya merdeka bisa menghisap asap rokok dengan menganggu kemerdekaan orang yang butuh udara sehat. Tidak disadari para perokok justru hanya mengagungkan hak asasi pribadi dengan mengorbankan hak asasi orang lain dengan merokok di sembarang tempat. Bahkan sebagian lain para perokok sudah keblabasan ketika ditegur merokok di sembarang tempat dan menganggu sekitarnya menjadi amrah. Inilah bentuk ketidakwarasan para perokok yang dilabelkan banyak orang ketika mereka terganggu ulah perokok. Beranikah para perokok menyuruh anak perempuannya untuk merokok sebagai bentuk kemerdekaan perempuan. Bahkan para perokok dengan egoisnya sering mengatakan mengapa anda tidak mengingatkan ketika saya makan makanan mengandung kolesterol. Substansi utamanya bila memang perokok tidak bisa disadarkan bahwa rokok berbahaya tidak usah menggunakan berbagai istilah yang tidak rasional. Tetapi bila itu tidak bisa disadarkan sebaiknya kampanye anti rokok ini hanya untuk menyelamatkan yang bukan perokok dengan jangan merokok di dekat orangn lain. Seharusnya mereka berterimakasih dengan orang lain yang mengingatkan dan peduli dengan kesehatannya. Tetapi hal itu dijawab dengan cemoohan dan ketidak pedulian terhadap orang di sekitarnya

7. Perokok dianggap melestarikan kebudayaan bangsa
Benarkah merokok adalah budaya Indonesia? Sesungguh budaya merokok justru datang dari Amerika. Budaya merokok sebenarnya berasal dari Amerika. Merokok untuk pertama kalinya adalah suku bangsa Indian di Amerika, untuk keperluan ritual seperti memuja dewa atau roh. Pada abad 16, ketika bangsa Eropa menemukan benua Amerika, sebagian dari para penjelajah Eropa itu ikut mencoba-coba menghisap rokok dan kemudian membawa tembakau ke Eropa. Kemudian kebiasaan merokok mulai muncul di kalangan bangsawan Eropa. Tapi berbeda dengan bangsa Indian yang merokok untuk keperluan ritual, di Eropa orang merokok hanya untuk kesenangan semata-mata. Abad 17 para pedagang Spanyol masuk ke Turki dan saat itu kebiasaan merokok mulai masuk negara-negara Islam. Rokok tanpa filter atau kretek bukan hanya milik bangsa ini.
Jaman dahulu para merokok menggunakannya tanpa filter atau cerutu. Tetapi dengan semakin majunya pengetahuan disadari berbahaya akhirnya rokok tanpa filter sudah mulai ditinggalkan. Sayangnya, bangsa ini masih terlena oleh budaya kuno Amerika yang sudah mulai ditinggalkan tetapi tetap terus dibudayakan di negeri ini dengan tetap meyakini bahwa kretek adalah budaya bangsa. Tetapi apabila para perokok tetap bersikeras menganggap sebagai budaya bangsa seharusnya bila budaya tersebut mengganggu kehidupan dan kualitas hidup bangsa apakah harus mati-matian dipertahankan demi harga diri bangsa. Sama juga dengan budaya negatif bangsa ini lainnya, seperti minum tuak, tari dangdut porno, budaya tidak disiplin atau budaya korupsi. Bangsa besar ini memang harus mati-matian mempertahankan budaya tinggi bangsa ini. Tetapi jangan terlalu bangga dengan budaya buruk bangsa ini. Para perokok selalu paranoid bahwa mereka dipengaruhi oleh tekanan asing untuk menghenntikan kebiasaan merokoknya. Tetapi tidak menyadari bahwa budaya buruk merokok itu justru datang dari Amerika dan saat ini kalau ada orang Amerika yang menghentikan budaya buruk mereka tersebut malah dicurigai membunuh budaya Indonesia.

8. Perokok sebagai penyumbang terbesar negara sebagai cukai rokok.
Pendapat klasik inilah yang selalu timbul ketika rokok diusik sebagai bahan berbahaya. Cukai rokok yang diterima oleh negara tidak sebanding dengan biaya kesehatan yang harus dibayar oleh negara dan masyarakat akibat rokok. Cukai produk tembakau seperti rokok sekitar Rp 40 triliun tahun 2006 dan Rp 77 triliun tahun 2011. Namun, pendapatan APBN tersebut sangatlah kecil bila dibandingkan dengan uang yang harus dikeluarkan untuk biaya pengobatan penyakit akibat rokok. Biaya kesehatan yang harus ditanggung oleh masyarakat akibat rokok diperkirakan sebesar Rp 120 - 180 triliun. Bila seluruh pengobatan nantinya akan dibiayai oleh Jaminan Kesehatan Masyarakat (Jamkesmas), maka Jamkesmas harus menanggung Rp 80 triliun sisa biaya pengobatannya.

9. Rokok dapat digunakan sebagai obat.
Para perokok bak "ahli kesehatan" mengatakan dengan seuara percaya diri bahwa secara tradisonal rokok kretek adalah baik untuk kesehatan. Bahkan perokok dengan bangganya mengatakan bahwa "katanya" banyak dokter yang mengatakan bahwa rokok bisa jadi obat. Dengan bangganya mperokok mengatakan, bahwa "katanya" dokter yang praktek di Salemba telah melakukan praktek dengan melakukan terapi rokok untuk menyembuhkan kesehatan. Tidak ada penelitian satupun yang menunjukkan bahwa merokok dapat terbukti sebagai obat. Isu bahwa rokok untuk baik kesehatan itu dicurigai dihembuskan oleh berbagai pihak khususnya produsen rokok yang justru menyesatkan para perokok. Jadi, kalau ada dokter yang berpraktek terapi rokok untuk menyembuhkan penyakit pasti akan ditindak oleh Komisi Etik Ikatan Dokter Indonesia karena menyalahi kaidah ilmu kedokteran karena menyesatkan dan membahayakan penderita. Kalaupun ada penelitian mungkin saja tembakau atau bahan narkoba yang digunakan sebagai obat tetapi bukan dalam bentuk rokok tetapi dalam bentuk tembakau segar dan dalam jumlah yang berlebihan. Justru tidak bisa dibantahkan osedikitpun bahwa hampir semua penelitian tentang rokok menunjukkan dampak buruk rokok bagi kesehatan.

10. Fidel Castro sudah tua perokok berat masih sehat-sehat saja.
Dokter dan orang kesehatan di dunia bohong besar dan tidak tahu apa tentang bahaya merokok. Buktinya Fidel Castro sudah tua perokok berat masih sehat-sehat saja. Beberapa orang perokok bahkan dengan kasar dan "sok pintar" sering menuduh bahwa dokter tidak tahu apa-apa tentang kesehatan. Buktinya Fidel Catro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto kakeknya telah berusia 60 tahun telah merokok tetapi sampai sekatrang masih hidup sehat. Dengan sombongnya para perokok mengatakan bahwa tetangga saya bukan perokok meninggal dalam usia muda sedangkan saya sehart-sehat saja. Memang banyak faktor mengapa seseorang mengalami usia panjang. Ternyata beberapa gen dalam setiap individu juga berperanan mengapa seseorang dapat tahan dengan berbagai penyakit dan paparan berbahaya di sekitarnya. Tetapi bila ini terjadi bisa saja kelompok ini mungkin Fidel Castro, Mao Ze Dong atau Mbah Parto meski perokok baru meninggal usia 90 tahun tetapi mereka tidak menyadari bahwa teman Fidel Castro yang bukan perokok baru meninggal usia 105 tahun atau 15 tahun lebih lama hidup di dunia. Penelitian telah membuktikan bahwa diantara ribuan orang yang diteliti usia perokok 15 tahun lebih muda dibandingkan bukan perokok. Sebaliknya dalam kelompok yang rentan bisa saja berumur tidak panjang bila terjadi paparan bahan berbahaya di lingkungannya. Bila pendapat ini terekam oleh otak kelompok individu yang rentan, maka hidupnya akan seumur jagung padahal ingin hidup seperti Fidel Castro. Tua, kaya raya, banyak isteri dan merokok banyak secara bebas.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Mon Jul 16, 2012 8:06 pm

FATWA MEROKOK
Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, Selasa kemarin mengeluarkan fatwa merokok hukumnya haram. Dengan fatwa ini, fatwa yang diterbitkan tahun 2005 dan 2007, yang menyatakan merokok itu hukumnya mubah, dinyatakan tidak berlaku. Dijelaskan, ada sejumlah alasan mengapa PP Muhammadiyah mengharamkan merokok:

1. Merokok termasuk kategori perbuatan melakukan khaba'is yang dilarang dalam Al Qur'an ( QS 7:157 ).

2. Perbuatan merokok mengandung unsur menjatuhkan diri dalam kebinasaan dan, bahkan merupakan perbuatan bunuh diri secara perlahan sehingga bertentangan dengan Al Qur'an ( QS 2:195 dan 4:29 ).

Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Syamsul Anwar menambahkan, perbuatan merokok membahayakan diri sendiri dan orang lain yang terkena paparan asap rokok, sebab rokok adalah zat adiktif dan berbahaya, sebagaimana telah disepakati oleh para ahli medis dan para akademisi. Karena itu merokok bertentangan dengan prinsip syariah dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menyatakan dilarang melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri dan orang lain. Pembelanjaan uang untuk rokok juga berarti melakukan perbuatan yang mubazir ( QS 17:26-27 ). Sementara itu, Wakil Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia ( MUI ), Asrorun Niam Sholeh menyatakan dapat memahami penetapan hukum haram tersebut.Hanya, ujarnya, Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia yang diselenggarakan di Padang Panjang tahun 2009 sudah menetapkan adanya perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai hukum merokok, yakni antara makruh dan haram. Saat itu para ulama perserta ijtima sepakat bahwa merokok tidak mubah, namun sepakat merokok memiliki unsur bahaya. Menurut Niam, kadar bahaya dan manfaat rokok harus ditimbang secara proporsional. Sebab, ada sebagian yang menyatakan bahwa bahaya merokok adalah pasti, dan karena itu wajib diharamkan. Namun, ada juga yang berpendapat bahwa bahayanya hanya bersifat spekulatif dan kondisional sehingga belum cukup dijadikan landasan pengharaman. Kelompok ini memilih hukum merokok adalah makruh.

Sumber: Seputar Indonesia Rabu 10 Maret 2010 dan Kompas 10 Maret 2010


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:47 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Thu Jul 19, 2012 8:13 pm

FATWA HARAM ROKOK TAK BIKIN ORANG TAKUT MEROKOK
Rabu, 25/07/2012 11:06 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada tahun 2009 telah memutuskan fatwa bahwa merokok haram hukumnya bagi wanita hamil, anak-anak, remaja dan jika dilakukan di tempat umum. Fatwa haram ini kemudian diikuti oleh Muhammadiyah yang mengeluarkan fatwa yang sama. Namun Nahdlatul Ulama (NU) mengeluarkan fatwa bahwa merokok hukumnya makruh. Tapi kenapa meski sudah ada fatwa haram rokok, masih banyak orang yang tak takut merokok? "Efektifitas dari fatwa haram tersebut bisa dilihat dari sejauh mana kesadaran masyarakat untuk berhenti merokok serta sejauh mana regulasi di tingkat struktur untuk memberlakukan pembatasan aktifitas merokok. Fungsi dari fatwa MUI adalah berupaya memberi perlindungan secara optimal kepada mayarakat," kata Dr H.M. Asrorun Ni'am Sholeh, Sekretaris Komisi Fatwa MUI ketika dihubungi detikHealth, Rabu (25/7/2012). Keputusan fatwa haram ini diperoleh dengan mempertimbangkan aspek kesehatan dan perlindungan terhadap orang lain yang tidak merokok. Meskipun masih banyak umat muslim yang merokok, fatwa MUI ini seolah memberi angin segar bagi gerakan anti rokok. Berbagai macam kebijakan pemerintah daerah yang membatasi promosi, penjualan dan penggunaan rokok mulai marak digalakkan di Indonesia. "Akibat fatwa MUI, banyak sekali pemerintah daerah yang kemudian memberlakukan larangan merokok di tempat umum, misalnya di Padang Panjang dan DKI Jakarta. Salah satu efektifitasnya juga bisa terlihat di Kementerian kesehatan berupa penyusunan Undang-undang Kesehatan dan RPP Pengendalian Tembakau," kata Ni'am.

Putusan fatwa haram yang dihasilkan dari Ijtima' Ulama Fatwa III MUI di Kabupaten Padang Panjang, Sumatera Barat itu sudah bersifat final, jadi sudah tidak dapat diotak-atik lagi. Dasar hukumnya mengacu pada ayat Alquran dan Hadis yang intinya menjelaskan bahwa segala sesuatu yang lebih banyak menimbulkan kemudharatan sebaiknya ditinggalkan. Ni'am menjelaskan, pendapat para ulama terhadap hukum rokok secara umum dibagi menjadi 2, yaitu antara makruh dan haram. Kedua hukum tersebut sebenarnya sama-sama menganggap rokok dilarang dan perlu ditinggalkan. Meskipun diwarnai pertentangan pendapat, para ulama akhirnya menemukan kesepahaman bahwa rokok memang perlu dibatasi penggunaannya, terutama pada kelompok-kelompok yang berisiko dirugikan kesehatannya. "Forum tersebut dihadiri oleh berbagai ulama dari organisasi kemasyarakatan, lembaga Islam dan universitas Islam di Indonesia. Jadi fatwa merokok haram bagi kalangan tertentu seperti yang disebutkan di atas merupakan hasil keputusan bersama, bukan hanya keputusan MUI saja," pungkas Ni'am. Dalam Islam terdapat 5 tingkatan hukum untuk mengatur perilaku umat, yaitu wajib, sunnah, makruh, haram dan mubah. Wajib artinya harus dilakukan. Sunnah artinya tidak wajib dilakukan, namun jika dilakukan mendapat pahala. Makruh artinya sebaiknya tidak dilakukan, namun jika dilakukan tidak apa-apa. Haram artinya tidak boleh dilakukan dan Mubah artinya boleh dilakukan. Dengan adanya fatwa haram ini, diharapkan akan mendorong sebagian besar penduduk di Indonesia yang mayoritas memeluk Islam untuk menghentikan atau setidaknya mengurangi kebiasaan merokoknya. Namun sayangnya, jumlah perokok di Indonesia masih tetap mengalami kenaikan, terutama di kalangan remaja akibat rendahnya regulasi pembatasan atusan rokok dari pemerintah.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:48 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Fri Jul 20, 2012 8:59 am

ROKOK ELEKTRIK LEBIH BERBAHAYA DARI ROKOK BIASA?
Jum'at, 13 Agustus 2010, 18:46 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Anggapan orang yang selama ini menyatakan rokok elektrik lebih sehat daripada rokok biasa ternyata salah. Kepala Badan Pengawasan Obat dan Makanan RI Kustantinah menjelaskan, rokok elektrik sama berbahayanya dengan rokok yang dibakar biasa. Kandungan propilen glikol, dieter glikol dan gliserin sebagai pelarut nikotin ternyata dapat menyebabkan penyakit kanker. "Mungkin orang beranggapan rokok elektrik hanya mengandung nikotin, dan kalau rokok biasa ada bahan-bahan lainnya," kata Kepala BPOM RI Kustantinah di Jakarta, Jumat, 13 Agustus 2010. Kustantinah menjelaskan dalam rokok elektrik terdapat nikotin cair dengan bahan pelarut propilen glikol, dieter glikol ataupun gliserin. Jika nikotin dan bahan pelarut ini dipanaskan maka akan menghasilkan nitrosamine. "Senyawa nitrosamine inilah yang menyebabkan penyakit kanker." Kustantinah menambahkan, semua rokok elektrik yang beredar di Indonesia adalah ilegal dan berbahaya bagi kesehatan. Di seluruh dunia, ia juga mengungkapkan, tidak ada negara satupun yang menyetujui rokok elektrik. Bahkan di beberapa negara seperti Australia, Brazil dan China rokok elektrik dilarang. "Padahal negara China yang menemukan rokok elektrik pada 2003. Namun, pemerintah China sudah melarang peredarannya," katanya menjelaskan. Untuk itulah BPOM bersama Kementrian Kesehatan, Kementrian Industri dan Kementrian Perdagangan akan mengkaji lebih dalam tentang rokok elektrik. "Rokok elektrik tidak akan pernah didaftarkan, disetujui dan akan dilarang di Indonesia," ujarnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Fri Jul 20, 2012 9:01 am

BAHAN DI ROKOK ELEKTRIK YANG BISA SEBABKAN KANKER
Jumat, 13/08/2010 16:30 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Rokok elektrik yang banyak beredar saat ini mengklaim produknya sehat dan telah bersertifikat internasional. Tapi ternyata ada bahan kimia yang terkandung di dalamnya juga bisa menyebabkan kanker. "Pada rokok elektrik ini niktoin dilarutkan dengan larutan seperti propilen glikol atau gliserin, jika bahan ini dipanaskan maka akan membentuk senyawa nitrosamine yang juga bisa menyebabkan kanker," ujar Kepala BPOM Dra Kustantinah, Apt, M.App.Sc dalam acara jumpa pers di gedung BPOM, Jl. Percetakan Negara, Jakarta, Jumat (13/8/2010). Jika pada rokok biasa atau rokok konvensional terkandung berbagai zat selain nikotin seperti tar. Pada rokok elektronik menurut Kustantinah ada kemungkinan kandungan nikotinnya lebih besar daripada rokok biasa karena tidak mengandung zat lainnya. Rokok elektronik ini pertama kali ditemukan oleh negara China pada tahun 2003, tapi sekarang rokok ini sudah dilarang di negara tersebut. Beberapa negara lain seperti Australia, Brazil, China, Singapura, Thaliand dan Uruguay juga telah mempunyai larangan terhadap penjualan dan pemasaran rokok elektrik ini. "Untuk di Indonesia sendiri pelarangan atas rokok ini harus berkoordinasi dengan kementerian lain yang terkait seperti kementerian perdagangan," ungkap Kustantinah. Beberapa penelitian mengenai produk ini menemukan adanya banyak racun yang terkandung dalam produk rokok elektronik. Salah satunya adalah penelitian Dr Andreas Flouris dari FAME Laboratory Institute of Human Performance and Rehabilitation Center for Research and Technology, Yunani, yang menemukan hasil sebagai berikut:

1. Propilen glikol, yang berpotensi menyebabkan keracunan.
2. N-nitrosamine khusus tembakau, yang merupakan karsinogen kuat (penyebab kanker).
3. Hidrokarbon polisiklik, racun yang bersifat non-karsinogen.
4. Dietilen glikol yang sangat beracun dengan kadar 1 persen.

Produk ini diklaim dapat menjadi alternatif bagi perokok yang ingin berhenti merokok. Namun, pada dasarnya produk ini sama berbahayanya dengan rokok konvensional, meski tak merugikan orang lain (tidak ada perokok pasif). Selain itu belum ada klasifikasi yang jelas tentang produk ini, apakah termasuk rokok, produk subsitusi, obat atau makanan. Sehingga sampai sekarang, baik BPOM maupun Kementerian Kesehatan belum bisa mengawasi peredaran produk ini.


Last edited by gitahafas on Tue Sep 11, 2012 7:36 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Fri Jul 20, 2012 9:01 am

ROKOK ELEKTRONIK JUGA MERUSAK PARU
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 4 September 2012 | 07:49 WIB
KOMPAS.com — Rokok elektronik kini banyak dipasarkan dan dianggap sebagai alternatif yang lebih aman bagi para perokok dibandingkan rokok konvensional. Namun, riset teranyar menunjukkan bahwa rokok tersebut juga berbahaya bagi paru. Rokok elektronik adalah alat berbahan baterai yang akan mengubah nikotin cair menjadi uap untuk dihirup. Banyak produk rokok elektronik yang dibuat semirip mungkin dengan rokok asli, bahkan beberapa memiliki cahaya yang berkilau saat dihirup. Bagi para perokok, rokok elektronik dianggap cukup memuaskan kecanduan mereka pada nikotin. Rokok tersebut bahkan bisa dihirup di area larangan merokok dan dianggap lebih aman bagi kesehatan. Di kalangan praktisi kesehatan sendiri masih ada perdebatan mengenai keamanan dan efisiensi produk tersebut. Dalam penelitian yang dilakukan tim dari Universitas Athena, Yunani, para peneliti menyelidiki efek jangka pendek penggunaan rokok elektronik pada berbagai orang, termasuk orang yang tidak mempunyai gangguan penyakit dan perokok yang tidak atau sudah punya gangguan paru. Para responden penelitian ini adalah 8 orang yang belum pernah merokok dan 24 perokok, 11 orang dengan fungsi paru normal, dan 13 orang yang menderita asma atau penyakit pernapasan obstruktif kronik (COPD). Setiap responden diminta mengisap rokok elektronik selama 10 menit. Kemudian peneliti mengukur hambatan saluran napas, termasuk menggunakan alat spirometri. Hasil penelitian menunjukkan, semua responden mengalami hambatan pernapasan sesaat setelah rokok elektronik diisap selama 10 menit. Pada subyek yang sehat atau tidak pernah merokok, ada peningkatan hambatan pernapasan secara signifikan dari rata-rata 182 persen menjadi 206 persen. Sementara pada perokok peningkatannya cukup beragam. "Saat ini kita belum mengetahui apakah produk pengantar nikotin seperti rokok elektronik lebih aman dibanding rokok normal, tetapi tim marketing sudah mengklaim produk tersebut aman," kata Profesor Christina Gratziou, salah satu anggota Tobaco Control Committee. Ia menambahkan, sebaiknya perokok yang ingin mengakhiri kebiasaannya kembali pada aturan yang sudah dibuktikan berdasarkan uji klinis.


Last edited by gitahafas on Tue Sep 11, 2012 7:36 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
M e r o k o k
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 20Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 12 ... 20  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: