Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 M e r o k o k

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3 ... 10 ... 20  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 4:50 pm

ANTI ROKOK BERARTI TIDAK NASIONALIS?
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Minggu, 12/08/2012 09:06 WIB
Jakarta, Gerakan pengendalian tembakau dituding tidak nasionalis karena banyak menerima dana asing. Namun anggapan ini dibantah dengan fakta tentang banyaknya korban rokok, yang menunjukkan bahwa Indonesia kini masih dijajah industri rokok. Tidak bisa dipungkiri, beberapa Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia yang menyerukan anti rokok mendapat dukungan dana asing terutama dari Bloomberg Initiative. Bantuan tersebut ditujukan untuk meningkatkan kesadaran akan bahaya rokok bagi kesehatan. Namun di kalangan pro-rokok, kucuran dana asing ini dianggap memiliki misi terselubung untuk menggembosi ekonomi bangsa Indonesia. Kalangan anti rokok dituduh tidak nasionalis karena mengancam salah satu sumber pendapatan negara yakni cukai rokok. Anggapan ini dengan tegas dibantah oleh para aktivis pegiat anti rokok. Tanpa mengingkari adanya dukungan dana dari pihak asing, para aktivis menganggap bantuan semacam itu sah-sah saja karena memiliki tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan. "Ada banyak kegiatan untuk meningkatkan kesejahteraan yang menggunakan dana asing, dan itu bukan berarti tidak nasionalis," tegas Kartono Mohamad, mantan ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dalam talk show Nasionalisme Pengendalian Tembakau di Gedung Joang 45, seperti ditulis Minggu (12/8/2012). Kartono mencontohkan ada banyak program-program pemerintah termasuk di antaranya program Keluarga Berencana (KB) yang juga mendapat bantuan asing, juga program-program pendidikan dan pelatihan. Namun selama ini, tidak ada yang mengaitkannya dengan nasionalisme. Justru sebaliknya, gerakan pengendalian tembakau dianggap bisa menyelamatkan bangsa Indonesia dari dampak negatif asap rokok yang makin banyak memakan korban. Jumlah kematian akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok bahkan sudah lebih banyak dari korban perang dan serangan teroris. Mengenai cukai rokok, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) tidak menganggapnya sebagai sumber pendapatan negara melainkan sebagai pajak dosa (sin tax). Cukai dikenakan pada barang-barang yang memang harus dibatasi termasuk alkohol, dengan tujuan supaya harganya semakin tidak terjangkau. "Keberhasilan cukai adalah ketika barang-barang tersebut makin jarang dikonsumsi, bukan ketika pendapatan negara meningkat karenanya," kata Tulus Abadi dari YLKI beberapa waktu lalu.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 9:40 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:39 pm

HARI TANPA TEMBAKAU
Senin, 31 Mei 2010 | 06:31 WIB
Kompas.com - Setelah mencatat kematian akibat tembakau mencapai 6 juta orang per tahun, terutama di negara-negara berkembang, pada 1999 beberapa anggota WHO mendesak Organisasi Kesehatan Dunia itu agar mengambil kesepakatan untuk mengendalikan dampak tembakau. Pemerintah Indonesia ikut aktif dalam rapat-rapat Intergovernmental Body selama tahun 2000-2003, diwakili oleh Departemen Kesehatan, Departemen Perdagangan, dan Departemen Luar Negeri. Akhirnya, lahirlah kesepakatan yang disebut Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), yang tujuannya adalah mengendalikan perdagangan rokok agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat. Landasan penyusunan kesepakatan itu adalah pasal 19 anggaran dasar WHO tentang wewenang untuk mengeluarkan kesepakatan yang mengikat (binding treaty) di antara para anggota yang ditujukan untuk melindungi dan meningkatkan kesehatan rakyat. Kecanduan tembakau dan penyakit yang ditimbulkannya sudah dianggap sebagai epidemi yang menimbulkan banyak korban jiwa. Industri rokok sudah pasti menentang FCTC ini meskipun secara diplomatis mereka menyatakan mendukung upaya pengendalian dampak tembakau terhadap kesehatan. Di Indonesia, penentangan itu dilakukan secara terbuka, antara lain dengan mendesak Pemerintah RI agar tidak menandatangani FCTC. Demikian kuatnya lobi mereka sehingga Menteri Kesehatan RI yang sudah hendak berangkat ke Geneva untuk menandatangani, dibatalkan oleh Presiden pada detik-detik terakhir. Saat ini, di dunia, tinggal Indonesia dan Zimbabwe yang tidak menanda- tangani FCTC, sementara negara-negara beradab di sekitar kita (termasuk Timor Leste) sudah menandatangani. Upaya menolak FCTC dan pengaturan pengendalian dampak rokok terhadap kesehatan itu di Indonesia masih berlangsung sampai sekarang, antara lain dengan pemelintiran persepsi. Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP)—yang merupakan pelaksanaan UU Kesehatan Tahun 2009—yang hendak mengatur dampak buruk rokok pun tak jelas nasibnya. Bahkan, ayat tembakau yang dinyatakan zat adiktif di UU Kesehatan sempat dihilangkan, diduga karena ada kerja sama oknum di DPR, Depkes, dan industri rokok. Mana wibawa pemerintah jika terus tunduk pada agitasi dan lobi industri rokok?

Mitos mematikan petani
Pemelintiran pertama melalui mitos bahwa pengendalian perdagangan rokok akan mematikan petani tembakau dalam negeri. Mitos ini disebarkan untuk membelokkan pengertian tentang FCTC dari perlindungan kesehatan ke mematikan nafkah petani tembakau. Tidak diungkapkan bahwa kebutuhan tembakau untuk rokok saat ini pun lebih banyak dipenuhi dengan impor. Data BPS menunjukkan bahwa tahun 2007 kita mengimpor tembakau senilai 133,5 juta dollar AS, sebagian besar dari China. Bahkan, mengimpor dari Singapura senilai 4,4 juta dollar AS meskipun negeri ini tak memiliki lahan tembakau. Para petani tembakau kemungkinan besar tak diberi tahu mengenai hal ini. Seandainya pun FCTC mengurangi kebutuhan tembakau, yang pertama harus dilakukan pemerintah adalah mengurangi impor. Pada saat ini posisi tawar petani tembakau terhadap industri rokok sangat rendah karena mereka tidak dapat menjual produknya kecuali ke pabrik rokok sehingga pabrik rokok dapat mendikte harga beli. Maka, yang jadi pertanyaan, benarkah keengganan pemerintah meratifikasi FCTC demi melindungi petani tembakau?

Mengancam tenaga kerja?
Pemelintiran kedua adalah bahwa FCTC akan mengancam tenaga kerja di pabrik rokok. Selama ini sudah banyak pabrik rokok kecil yang tutup meskipun FCTC belum ditandatangani. Mereka runtuh akibat kalah bersaing dengan pabrik yang besar. Data BPS tahun 2005 mengungkapkan jumlah pekerja industri rokok adalah 259.000, tidak jutaan seperti yang dipelintirkan penentang FCTC. Upah mereka pun hanya 62 persen upah pekerja di sektor industri yang lain. Alasan lain menolak FCTC adalah karena pemerintah sudah menyusun road- map produksi rokok bersama dengan pemilik pabrik rokok. Akan tetapi, pemerintah lupa bahwa dalam menyusun roadmap ini hanya pihak produsen yang dilibatkan, sementara konsumen tidak terwakili. Roadmap ini menargetkan untuk memperbesar produksi rokok menjadi 265 miliar batang pada tahun 2015. Baru nanti sesudah tahun 2015, aspek kesehatan rakyat akibat rokok akan diperhatikan. Peningkatan jumlah produksi berarti harus diiringi dengan peningkatan jumlah konsumsi. Dengan kata lain, pemerintah menghendaki agar lebih banyak lagi jumlah perokok di Indonesia, dan targetnya adalah anak-anak dan remaja. Baru kali ini ada pemerintah yang memilih mengorbankan kesehatan rakyatnya sendiri demi kepentingan kapitalis, pemilik modal pabrik rokok. Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang diperingati hari ini lagi-lagi tanpa komitmen nyata Pemerintah RI.

Kartono Mohamad, Mantan Ketua Umum PB IDI; Wakil Ketua Panitia Pengarah Pengendalian Tembakau (TCSC) Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:43 pm

MENKES IMBAU PEROKOK 'PUASA' PADA 31 MEI 2010
Thursday, 27 May 2010
JAKARTA(SI) – Menteri Kesehatan (Menkes) Endang Rahayu Sedyaningsih mengimbau para perokok untuk “puasa”merokok pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS),31 Mei mendatang. “Saya mengajak masyarakat untuk menghindari kebiasaan merokok dan sekaligus saya imbau pada 31 Mei nanti untuk tidak merokok terutama di tempat-tempat umum seperti sarana kesehatan, tempat pendidikan, tempat kerja, rumah ibadah, di rumah dan di dalam angkutan umum,” tegas Menkes di Jakarta,kemarin. Menkes mengungkapkan, HTTS yang digelar kali ini bertema “Gender On Tobbacco With Emphasis On Marketing to Women”, dengan slogan nasional “Saatnya Melindungi Anak dan Perempuan dari Bahaya Rokok”. Menurut Menkes,tema tersebut diambil terkait upaya global menekan angka perokok dan melindungi kesehatan masyarakat. Terutama anakanak dan perempuan yang tergolong kelompok berisiko. ”Saat ini lebih dari 43 juta anak Indonesia hidup di dalam satu rumah dengan perokok.Otomatis,mereka ini terpapar asap rokok yang dapat memicu beragam penyakit seperti bronkitis, infeksi saluran pernapasan,dan asma,”katanya. Untuk menekan angka konsumsi rokok, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah mewajibkan pemerintah daerah (pemda) untuk menetapkan kawasan tanpa rokok (KTR) yang dikukuhkan melalui peraturan daerah (perda). Wali Kota Padang Panjang Suir Syam mengungkapkan, program meminimalisasi rokok yang dilakukan pemerintahannya diawali pada 2005. ”Kami tidak lagi mengizinkan pemasangan iklan atau sponsorship rokok. Sehingga, 2009,kota kami bersih iklan rokok,”ungkapnya. (inda susanti)

Sumber: Seputar Indonesia Jum'at 28 Mei 2010


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:27 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:47 pm

PEROKOK ITU 'AWET MUDA'
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Rabu, 26/05/2010 16:33 WIB
Jakarta, Setiap orang pasti ingin selalu awet muda dan menerapkan pola hidup sehat. Tetapi dalam artian lain, para perokok pun ternyata bisa 'awet muda'. Tak seperti awet muda dengan pola hidup sehat yang dapat terhindar dari berbagai macam pernyakit, 'awet muda' yang dialami oleh para perokok diartikan sebagai orang yang mati muda dan tidak akan pernah menikmati hari tuanya. Hal ini disampaikan oleh Dr. H. Aulia Sani, SpJP(K) FJCC FIHA, pengajar Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskuler FKUI, dalam acara konferensi pers menyambut Hari Tanpa Tembakau Sedunia, Jakarta, Rabu (26/5/2010). "Rokok itu bikin 'awet muda', maksudnya perokok itu mati di usia muda, jadi mereka nggak bakal bisa tua," ujar dokter yang pernah menjadi Direktur Utama Rumah Sakit Jantung Harapan Kita, Jakarta.

Tidak mengherankan, karena rokok banyak membawa dampak negatif pada tubuh dan kesehatan, baik dampak jangka pendek maupun dampak jangka panjang. Dalam jangka pendek saja, rokok bisa menyebabkan iritasi mata, denyut jantung dan tekanan darah meningkat, peristaltik usus meningkat, nafsu makan menurun, sirkulasi darah kurang baik, suhu ujung-ujung jari menurun, berkurangnya rasa mengecap dan membau, serta gigi dan kuku berwarna kuning sampai hitam. Sedangkan efek jangka panjang lebih banyak lagi, mulai dari penyakit-penyakit di saluran pernapasan, paru, ginjal, pankreas, alat reproduksi, kanker dan kardivaskuler. Dan rokok merupakan faktor risiko utama penyakit jantung koroner, di samping kolesterol dan hipertensi.

Rokok juga menjadi faktor risiko acute myocardial infarction (serangan jantung), stroke, kematian mendadak, dan meningkatkan percepatan aterosklerosis. Inilah yang membuat perokok menjadi 'awet muda' alias tipis harapan untuk dapat hidup hingga usia tua. Untuk dapat terlepas dari jeratan rokok memang susah. Adiksi nikotin di dalam rokoklah yang membuat orang sangat susah untuk berhenti. Perokok butuh motivasi diri dan lingkungan untuk berani berhenti merokok. Ketergantungan terhadap rokok dipengaruhi oleh multi dimensi. Faktor yang paling besar adalah faktor biologis, yaitu adiksi nikotin yang membuat orang kecanduan juga withdrawal (kondisi putus zat). Selain itu, ada juga faktor sosial berupa kebiasaan dan lingkungan, serta faktor perilaku dan psikologis.

Di Jakarta sendiri, jumlah total perokok aktif tercatat meningkat satu persen per tahun. Berdasarkan data itu, di Indonesia ada 1.172 orang meninggal dunia per hari karena penyakit yang diakibatkan rokok. Tidak hanya bagi perokok aktif, efek dari para perokok ini terhadap orang-orang di sekitarnya turut mencengangkan. Diperkirakan jumlah perokok pasif di Indonesia, menurut data BPS tahun 2004, yang berusia 0-14 tahun sejumlah 43 juta anak. Sedangkan perokok pasif diatas 15 tahun diperkirakan sejumlah 45,6 juta. Asap yang ditimbulkan dari rokok perokok aktif, bahkan sampai 70 persen dihisap oleh perokok pasif. "Perokok selalu memiliki banyak alasan untuk mempertahankan kebiasaan merokoknya, sekalipun ingin berhenti," ujar Dr Tribowo T Ginting, SpKJ, dokter spesialis Kedokteran Jiwa dari RSUP Persahabatan.

Dr Tribowo menuturkan bahwa diperlukan motivasi yang kuat bersumber dari diri sendiri maupun lingkungan orang terdekat. ketika para perokok merasa motivasinya menipis, lingkungan dapat segera mendukung dan menguatkannya kembali. Untuk memotivasi para perokok yang ingin menghentikan kebiasaan merokoknya, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan PT Pfizer Indonesia akan mengadakan acara kampanye bertajuk 'BREAK FREE Semangat Bebaskan Diri dari Jeratan Adiksi Nikotin' dalam rangka peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia yang jatuh tanggal 31 Mei 2010.

Melalui kampanye terpadu ini, diharapkan lebih banyak perokok di Indonesia yang ingin berhenti merokok akan berhasil membebaskan diri dari jeratan adiksi nikotin. Kampanye BREAK FREE bertujuan membantu para perokok yang berkeinginan berhenti merokok dengan memotivasinya, mengajak orang terdekatnya untuk memberikan dukungan dan menyediakan terapi farmakologi bagi yang membutuhkan. Sebagai langkah awal, kampanye BREAK FREE menargetkan peningkatan keberhasilan berhenti merokok pada kelompok usia dewasa. Tidak hanya itu saja, kampanye ini juga menargetkan orang-orang terdekat dari si perokok yaitu para perokok pasif, misalnya keluarga atau sahabat-sahabatnya, sebagai faktor terkuat untuk mendorong perokok dalam membebaskan diri dari adiksi nikotin.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:47 pm

UPS.... 50 JUTA ORANG INDONESIA HISAP 20 BATANG ROKOK PER HARI
Republika - Senin, 28 Februari 2011
REPUBLIKA.CO.ID,DENPASAR - Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr Azimal, mengatakan konsumsi rokok kini telah menjadi masalah global dan nasional. Sebanyak 80 persen terjadi di negara berkembang. Sementara Indonesia sendiri menduduki peringkat ketiga setelah China dan India. "Kami perkirakan 50 juta penduduk Indonesia merokok dengan rata-rata rokok yang dihisap per hari sebanyak 20 batang per orang," kata Azimal di Denpasar, Senin (28/2), saat sosialisasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Kawasan Tidak Merokok (KTM). Azimal mengatakan kondisi tersebut membuat banyak penduduk Indonesia berpotensi terserang berbagai penyakit tidak menular akibat rokok seperti jantung, tumor, kanker dan sebagainya. Bahkan, rokok telah membunuh 13.500 orang per hari di seluruh dunia atau satu orang setiap detik. Selain itu, kata dia, lebih dari 200 ribu orang meninggal setiap tahun akibat penyakit yang berhubungan dengan rokok. "Bahkan yang paling parah lagi, sebanyak 43 juta anak-anak terpapar asap rokok (secondhand smoke)," katanya.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:35 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:48 pm

INDONESIA JADI REBUTAN INDUSTRI ROKOK DAN OBAT
Rabu, 9 Juni 2010 | 08:40 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Indonesia menjadi ajang "peperangan" antara industri rokok dan obat. Terjadi perebutan pasar dan sumber daya. Hal itu terungkap dalam peluncuran buku sekaligus diskusi bertajuk "Nicotine War: Perang Nikotin dan Para Pedagang Obat" di Universitas Indonesia, Jakarta, Selasa (8/6/2010). Buku itu merupakan terjemahan dari hasil riset dan kajian Wanda Hamilton, aktivis Fight Ordinances and Restrictions to Control and Eliminate Smoking (FORCES) International. Forces merupakan organisasi yang aktif mengampanyekan kemerdekaan merokok sebagai hak. Buku itu mengungkapkan dengan gamblang motif-motif yang mendasari larangan dan pembatasan produk tembakau secara global. Ada kepentingan besar bisnis perdagangan obat-obat yang dikenal dengan nicotine replacement therapy di balik agenda pengontrolan atas tembakau. Berbagai anggapan pakar medis mengenai dampak merokok bagi kesehatan juga dipertanyakan kebenarannya.

Salah satu pembicara, yaitu pengamat ekonomi Revrison Baswir, membedah buku itu dari sisi ekonomi politik, yakni bagaimana industri mengeruk keuntungan dari sebuah aktivitas, yakni merokok. Jaringan perusahaan farmasi berkepentingan terhadap kampanye antirokok. "Buku ini bukan pro dan kontra rokok dari sisi kesehatan," ujarnya. Pembicara lainnya, peneliti dari Institute for Global Justice, Salamuddin Daeng, beranggapan senada. Perang dagang bukan merupakan fenomena baru. Pertarungan memperebutkan pasar sering terjadi. Dia melihat industri rokok termasuk yang mampu mengembangkan industri dengan baik, yakni menguasai dari hulu hingga hilir. Petani tembakau, misalnya, telah terintegrasi dan ketergantungan terhadap industri rokok amat tinggi.

Budayawan Mohamad Sobari mengatakan, kekuatan kapitalis dan kolonialis selalu mencengkeram negara yang pemerintahan dan parlemennya lemah serta medianya kurang peduli. "Seharusnya, kehidupan kita tidak boleh diintervensi oleh kekuatan luar," ujarnya. Sobari juga menyatakan keprihatinannya akan nasib petani tembakau yang akan terpengaruh. Menurut dia, petani tembakau merupakan konteks nyata dan riil yang tidak bisa dipinggirkan. Para pembicara tersebut sempat mendapatkan beberapa tanggapan dari mahasiswa peserta diskusi yang khawatir buku itu dijadikan alat pembenaran untuk terus merokok. Sebagian mahasiswa ada yang berpendapat, industri rokok sendiri sebetulnya selama ini mengakui bahwa produknya berbahaya. Hal itu terbukti dengan pencantuman dampak kesehatan pada kemasan rokok. (INE)


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 9:43 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:52 pm

PENDUDUK INDONESIA MENGHISAP 225 MILIAR BATANG ROKOK SETAHUN
Senin, 31/05/2010 17:46 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Pasar rokok di Indonesia memang sangat menggiurkan. Setidaknya 225 miliar batang rokok habis dihisap 65 juta penduduk Indonesia tiap tahunnya. Data WHO tahun 2008 menunjukkan, Indonesia dinobatkan sebagai negara dengan konsumsi rokok terbesar nomor 3 setelah China dan India. Diperkirakan saat ini sekitar 65 juta penduduk Indonesia atau sekitar 28 persen orang Indonesia menjadi perokok. "Rokok ibarat bom waktu yang dapat meledakkan siapa saja yang menghisapnya," ujar Dr Agus Dwi Susanto, Sp.P, dokter spesialis paru RSUP Persahabatan, dalam acara konferensi pers memperingati Hari Tanpa Tembakau Sedunia 2010 di RSUP Persahabatan, Jakarta, Senin (31/5/2010). Dr Agus juga menuturkan bahwa rokok mengandung 4000 zat kimia berbahaya yang 69 diantaranya bersifat karsinogen, yaitu zat penyebab kanker. 'Tidak ada orang yang mati ketika sedang merokok', itu mungkin alasan yang selalu dilontarkan oleh perokok yang bandel. Memang, dampak konsumsi rokok terhadap kesehatan tidak langsung teramati, tapi membutuhkan waktu yang lama. Merokok terbukti menimbulkan berbagai efek kesehatan, diperkirakan sekitar 50 masalah kesehatan dapat timbul dan sekitar 20 masalah kesehatan berakibat fatal. Munculnya berbagai gejala penyakit akibat rokok baru akan terlihat sekurang-kurangnya setelah 20 hingga 25 tahun, seperti jantung, kanker paru, mulut, tenggorokan, kandung kemih, bibir, pankreas, serta kanker leher rahim, kencing manis dan lainnya. Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan merokok sebagai penyebab 3 kematian utama yaitu kanker paru, jantung koroner dan penyakit paru obstruktif kronik (PPOK). Dan WHO memperkirakan sekitar 5,4 juta orang meninggal setiap tahun atau 1 kematian setiap 6,5 detik akibat penyakit yang disebabkan rokok. Sekitar 70 persen perokok sebenarnya ingin berhenti merokok, sepertiga diantaranya mencoba berhenti merokok dan hanya 20 persen yang berhasil. Berbagai faktor menjadi kendala seseorang untuk berhenti merokok, antara lain:

1. Tidak ada motivasi
2. Faktor adiksi nikotin
3. Karena efek withdrawal (putus nikotin)
4. Faktor perilaku atau kebiasaan
5. Tidak tahu cara berhenti merokok
6. Pengaruh lingkungan

"Berhenti merokok setidaknya dapat memperpanjang kemungkinan hidup selama 10 tahun, dan semakin cepat berhenti merokok akan lebih menguntungkan," ujar dokter yang juga Wakil Ketua Tim Berhenti Merokok RSUP Persahabatan. Dr Agus juga menegaskan, merokok dapat membunuh jutaan orang pada abad ini bila tidak dikurangi dari sekarang. Penekanan akan pentingnya penurunan konsumsi rokok dikalangan perempuan dan anak-anak remaja khususnya, akan menyelamatkan banyak nyawa di masa yang akan datang. WHO memperkirakan sekitar 5,4 juta orang di dunia meninggal setiap tahunnya, yang artinya ada 1 kematian setiap 6,5 detik akibat penyakit yang disebabkan rokok sebagai faktor risiko. Di Indonesia sendiri, menurut data penelitian tahun 2004, menunjukkan terdapat 427.948 kematian per tahun atau 1.172 jiwa per hari berhubungan dengan merokok.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 9:44 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:53 pm

ROKOK DALAM KEHIDUPAN REMAJA
Selasa, 21 Agustus 2012 07:00 WIB Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
SEKUMPULAN anak muda berkumpul, bernaung dalam suatu komunitas merupakan hal lumrah yang terjadi dewasa ini. Tindakan sosialisasi yang timbul akibat perkembangan hormon remaja yang semakin menggebu-gebu dalam diri mereka memaksa mereka harus berbaur dan berkumpul bersama teman sebayanya. Memang masa remaja adalah masa transisi, masa peralihan dimana anak-anak akan tumbuh kembang menjadi dewasa. Namun justru masa remaja inilah yang paling harus diwaspadai karena pada fase inilah emosi dan pemikiran mereka masih cenderung labil dan mudah terpengaruh hal-hal yang mereka anggap menarik ataupun keren. Masa coba-coba, mereka akan mencoba hal baru yang sebelumnya tidak pernah mereka lakukan sewaktu masih dalam masa anak-anak. Namun justru hal coba-coba inilah yang banyak mendatangkan masalah terhadap perkembangan psikis maupun pemikiran remaja tersebut. Ambil contoh pada masa remaja ini mereka sudah mulai mengenal apa itu rokok. Bagi orang tua merokok merupakan hal yang biasa, namun bila dilakukan oleh anak-anak muda akan terkesan keren. Itulah yang ada didalam pikiran para remaja, sesuatu yang dianggap tidak boleh dilakukan akan menjadi terlihat keren bila mereka melakukannya. Terjadilah apa yang namanya remaja merokok, dari yang awalnya hanya sekedar untuk gaya hingga pada akhirnya ada yang sampai ketagihan dan sulit untuk berhenti merokok.

Merokok ini sebenarnya bisa dikatakan sebagai “lambang kedewasaan”, merujuk kalau pangsa pasar rokok itu adalah para orang dewasa. Hal inilah yang menimbulkan dorongan dalam diri remaja untuk mencobanya. Remaja ingin membuktikan kalau mereka bukanlah anak-anak lagi, mereka merasa sekarang adalah orang dewasa makanya mereka meniru apa yang banyak dilakukan orang dewasa, contoh mudahnya dan paling umum ya merokok. Selain mudah didapat, harga rokok yang masih dalam jangkauan kantong pelajarpun menjadi pendongkrak maraknya para remaja merokok. Walaupun sudah ada himbauan kalau rokok tidak untuk anak dibawah 17 tahun namun itu saja belum cukup menekan peredaran pasar rokok dikalangan remaja. Para penjual rokok ini seolah tidak memperdulikan larangan ini, padahal jelas sekali kalau tindakan mereka ini sama saja ikut merusak generasi penerus bangsa. Peredaran rokok ini memang mencemaskan banyak pihak, terutama untuk kalangan ibu-ibu yang takut anaknya akan mudah mendapatkan rokok. Kontribusi rokok pada pola hidup sehat dikalangan usia anak cukup memprihatinkan. Indonesia sebagai sebuah negara dengan penduduk lebih dari 300 juta orang, menjadi salah satu pangsa pasar potensial dari bisnis rokok. Data riset kesehatan tahun 2007 , usia perokok pada usia 15-19 tahun mencapai 4,2 juta. Dari angka tersebut 7 % usia perokok adalah sekolah dasar (SD), 16 % usia sekolah menegah pertama (SMP), sedangkan usia sekolah menegah atas sebanyak 24%. Tingginya jumlah perokok usia anak-anak tidak lepas dari pengaruh iklan rokok, perilaku orang dewasa dan kemudahan untuk memperoleh rokok.

Tanpa disadari Media memegang peran penting terhadap perkembangan para remaja untuk mengkonsumsi rokok. Entah media elektronik atau media cetak, rokok selalu menjadi penyokong dana segar bagi kelangsungan program dan acara mereka. Kita lihat saja di setiap acara yang ada di televisi terutama acara-acara olahraga pasti terselip iklan rokok disaat jeda tayangnya, walaupun sekarang sudah ada regulasi yang mewajibkan kalau iklan rokok tidak boleh tayang dalam media televisi bila belum diatas jam 10 malam. Tapi tetap saja itu tidak bisa mencegah para remaja, yang kebanyakan memang penggemar acara olahraga ini mendapatkan informasi mengenai rokok tersebut. Selain program olahraga, masih ada juga konser musik yang mendatangkan artis dan penyanyi dari luar negeri yang sponsornya justru berasal dari produsen rokok. Para promotor ini seharusnya tahu kalau sasaran mereka menggelar acara konser musik ini adalah para remaja, namun mereka tetap menggandeng para produsen rokok sebagai partner sponsornya. Tentu saja ini menjadi pemasaran yang amat efektif buat para produsen rokok tersebut karena semua produk mereka akan senantiasa ada selama acara konser tersebut, dan otomatis para remaja yang menonton konser tersebut mau tidak mau akan melihat produk-produk rokok tersebut. Pertumbuhan mini market yang pesat, khususnya dikalangan kota besar seperti Jakarta juga ikut mendongkrak penyebaran rokok di kalangan pelajar. Warung-warung kecilpun juga tak ketinggalan, mereka seolah menutup mata bila ada dari kalangan pelajar yang membeli rokok di warung mereka. Ini terjadi karena bagi warung kecil seperti itu, rokok justru jadi ujung tombak jualan mereka yang laris manis di lingkungan sekitar entah pembelinya orang dewasa atau pelajar. Itu karena rokok sendiri merupakan barang yang sangat ekonomis, barang dengan perputaran modal yang paling cepat kembalinya.

Pemerintah sendiri sebenarnya sudah coba menekan laju pertumbuhan pangsa rokok di Indonesia ini, namun apa lacur itu tidak berhasil. Perlu diketahui kalau industri rokok di Indoensia banyak menyumbang pendapatan negara dan jumlahnya itu sangatlah besar. Pada tahun 2004 rokok mampu menyumbang devisa Negara sebesar Rp.16,5 Triliun sedangkan pada tahun 2011 sumbangan dari cukai rokok mencapai Rp. 62,759 Triliun. Dari data tersebut terlihat ada trend kecenderungan meningkatnya pendapatan yang diperoleh dari industri rokok. Industri rokok di Indonesia memang menjanjikan, namun efek samping yang ditimbulkan dari semakin merajalelanya peredaran rokok di kalangan pelajar membuat tingkat hidup sehat di kalangan remaja menjadi sangat rendah. Tingginya angka perokok pada usia muda ini tidak saja berdampak pada buruknya kualitas kesehatan, namun juga akan berdampak apda masalah sosial dan ekonomi. Mahalnya harga rokok, seiring mengikuti perkembangan zaman akan membawa remaja untuk melakukan hal yang seharusnya tidak perlu mereka lakukan sebagai seorang pelajar, seperti mencari pekerjaan sambilan atau malah mengamen dipinggir jalan. Atau bahkan mereka akan melakukan pekerjaan yang bisa saja menyimpang secara sosial dan yang terburuk mereka akan melakukan tindakan yang melawan hukum hanya untuk mendapatkan uang membeli sebungkus rokok.

Perlu diadakan semacam sosialisasi di masyarakat tentang bahayanya rokok, terutama bila dikonsumsi oleh anak dibawah umur. Tingginya jumlah jumlah perokok dikalangan anak dan remaja terjadi karena belum adanya kedewasaan dalam pola pikir secara sosial walaupun secara fisik telah menunjukkan kematangan. Kondisi ini menjadikan para remaja harus mempelajari lebih dalam mengenai norma dan nilai yang ada didalam masyarakat. Karena tidak seimbangnya pertumbuhan biologis dengan pertumbuhan mental dari setiap individu sehingga peran keluarga dan teman dalam membimbing mereka menuju proses pendewasaan pada fase remaja ini sangat penting untuk menghindarkan mereka dari kebiasaan merokok. Sekolah harus berperan penuh terhadap pencegahan kebiasaan merokok dikalangan siswanya. Harus diadakan semacam kegiatan penyuluhan yang melibatkan siswa dengan institusi-institusi terkait agar siswa mendapatkan informasi yang benar dan bermanfaat tentang bagaimana menghindari rokok. Dan jangan lupa untuk ditekankan kepada para siswa kalau rokok itu adalah pintu masuk bagi narkotika, jadi biar siswa tahu sekali mencoba rokok maka akan berlanjut mencoba narkotika atau obat-obatan terlarang lainnya. Beberapa cara yang mungkin bisa dilakukan untuk mencegah para remaja merokok:

1. Memahami apa yang menyebabkan remaja merokok.
Harus dipahami betul mengapa anak mulai merokok, jangan langsung menghakimi. Bisa saja ada suatu permasalahan dalam diri mereka sehingga mereka memilih rokok sebagai pelarian. Pahami dahulu alasan mereka merokok lalu mulailah pendekatan agar bisa dicarikan cara pencegahannya.

2. Selalu ingatkan untuk tidak merokok.
Jangan pernah bosan mengingatkan anak untuk jangan merokok, jauhi rokok karena rokok hanya membawa keburukan.

3. Berikan contoh yang baik.
Kondusifkan suasana didalam rumah, tak perlu ada contoh buruk yang berasal dari orang tua. Bila anak merasa nyaman dengan kehidupan di rumah maka akan semakin menjauhkan mereka dari pengaruh rokok.

4. Tekankan kalau rokok bisa mengakibatkan kecanduan.
Anak harus tahu apa buruknya bila mereka telah terjangkit rokok. Resiko kecanduan dan penyakit dalam lainnya senantiasa mengintai bagi siapa saja yang merokok, karena itu perlu diingatkan tentang bahayanya rokok.

Bila remaja sudah mulai merokok maka hindari yang namanya ancaman pada anak, percayalah kalau ancaman atau kemarahan terhadap anak justru akan membuat anak semakin tertekan dan malah mungkin anak akan mulai melangkah lebih jauh dari hanya mencoba rokok menjadi coba-coba soal narkotika. Bicarakan dengan baik dan tanpa perlu ada emosi.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:11 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:53 pm

ROKOK SEBAGAI PINTU MASUK NARKOBA!
Senin, 20 Agustus 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
MENGHISAP rokok untuk orang tua atau kalangan yang telah dewasa, tentu hanya sebagai pelepas penat atau sekadar menikmati hembusan asapnya. Kendati merokok itu lebih banyak mudarat dibanding manfaatnya, tetapi tanpa sadar banyak juga orang yang melakukannya dengan berbagai alasan tertentu. Namun, tidak untuk anak-anak yang berusia dibawah sepuluh tahun atau masih berusia belasan. Sebab, dengan menghisap rokok, bisa saja sang anak akan mencoba hal lainnya yang menjurus pada narkoba. Seperti beberapa kasus yang terjadi dan telah diberitakan banyak media di surat kabar dan televisi, sebagian besar dari mereka yang pecandu narkoba, pertamanya berasal dari mengenal rokok dengan menghisapnya di usia muda. Lalu, setelah merasa enak dengan asap rokok tersebut, dan terlihat lebih gaul. Akhirnya mereka pun, tergiur untuk mencoba hal-hal lainnya seperti yang menjurus ke narkoba, yaitu ganja, shabu-shabu dan bila sudah mampu, alias mempunyai uang lebih, akan mengkonsumsi heroin yang sangat mematikan! Untuk itu mari kita mencegahnya, mulai dari lingkungan terdekat, seperti dalam keluarga yaitu anak sendiri, cucu, keponakan, sepupu, serta kerabat lainnya, agar tidak mencoba yang namanya rokok. Sebagaimana yang saya alami ketika melihat langsung anak-anak dan remaja di dekat tempat tinggal, sedang asyik menghisap rokok.

Seminggu yang lalu, tepatnya hari Senin malam sekitar pukul 23.00 WIB, saya membeli sebungkus mie rebus untuk makan malam di sebuah warung 24 jam dekat daerah tempat saya tinggal. Sebenarnya tidak ada yang aneh saat itu, karena selain warung itu buka nonstop juga didalamnya terdapat rental Playstation (PS). Yang menjadi aneh adalah saat saya melongok ke dalamnya, dari sekitar 5 buah TV dan mesin PS yang disewakan, semuanya dimainkan oleh anak ABG usia belasan tahun, dengan asap rokok memenuhi ruangan. Belum lagi asbak ambalayah, abu rokok tetap bertebaran di ruangan persegi itu yang penuh sesak. Dan tepat disamping gang warung tersebut, ada beberapa anak ABG yang asyik merokok dengan santainya. Iseng-iseng dalam sebuah kesempatan, saya mencuri momen tersebut dengan mengambil gambar mereka melalui kamera yang saya sembunyikan dibalik plastik hitam. Meski agak samar dan juga tidak terlalu nampak, namun setidaknya dapat terlihat beberapa anak ABG yang saya taksir umurnya masih dibawah 17 tahunan, mungkin sekitar 14-17 tahun. Ada yang asyik memainkan rokoknya disela-sela jari tangan sembari mengobrol, lalu ada juga yang sedang menyulut sebatang rokok sambil ber-smsan. Duh!

Ingin menegur dan menasehati mereka, rasanya tidak mungkin juga. Karena saya sendiri tidak mengenal mereka dan mereka pun tidak mengenal saya. Jadi, kalau saya berusaha untuk menasehati, kesannya akan di cap sebagai orang yang sok-sokan, bahkan bisa menimbulkan keributan. Saya hanya dapat berpikir dalam hati, di usia yang masih muda, sekitar belasan tahun sudah mencoba untuk merokok. Kerja saja belum, bahkan uang sekolah pun masih meminta pada orang tua. Tapi kelakuan mereka dalam bersenda gurau sambil menghisap rokok membuat miris orang yang melihatnya. Memang sih, bukan berarti saya menyalahkan mereka yang sedang merokok. Sebab saya juga seorang perokok, meski dalam beberapa waktu sudah dikurang, sedikit demi sedikit (bertahap). Saya yang tadinya dalam sehari kuat menghisap satu hingga dua bungkus rokok, kini mencoba untuk menguranginya menjadi beberapa. Sulit, tapi mencoba untuk diusahakan, sebab untuk berhenti merokok secara total, saya belum sanggup. Jadinya diupayakan, secara bertahap dan semoga bisa tercapai. Meski saya sendiri sadar akan bahaya dari rokok tersebut, baik itu aktif maupun yang pasif (orang yang tidak merokok namun ikut menghirup asap rokok orang lain). Tapi memang rokok sudah menjadi candu tersendiri, bahkan menjadi tren di kalangan anak muda dan ABG sekarang.

Padahal bahayanya, itu kalau ditelaah lebih lanjut membikin bergidik siapa saja yang mengetahuinya. Seperti yang tertera dalam kemasan bungkusnya, MEROKOK DAPAT MENYEBABKAN KANKER, SERANGAN JANTUNG, IMPOTENSI DAN GANGGUAN KEHAMILAN DAN JANIN. Namun tetap saja banyak yang merokok tanpa mengindahkan tulisan peringatan yang tertera dalam bungkus rokok. Parahnya lagi, untuk kalangan ABG, yang belum bisa mencari nafkah sendiri, uang hasil jerih payah orang tuanya hanya untuk dibelikan rokok. Berbeda lagi bila uang itu hasil keringatnya sendiri, saya pribadi baru merokok setelah usia 18 tahun saat sudah bekerja. Itupun karena tergiur di lingkungan tempat kerja, karena waktu itu hampir seluruh karyawan pria pada merokok. Dan efeknya sekarang, menjadi ketagihan walau tetap berusaha untuk menguranginya. Untuk itu, saya pun dirumah selalu mewanti-wanti kepada sepupu yang masih berusia 15 tahun dan sedang duduk di bangku STM. Ayahnya yang berwatak keras selalu memantaunya dengan melihat warna bibir disaat pulang dari sekolah dan sekitar rumah. Apabila berwarna kebiruan, berarti ia telah merokok, tetapi kalau berwarna merah segar berarti pula ia di sekolah atau pergaulannnya dirumah tidak merokok. Ayahnya, yang juga adalah Paman saya selalu berkata, untuk mencegah perbuatan merokok dari anak ABG seusia sepupu saya itu, sebenarnya gampang-gampang susah. Yang terpenting ada usaha keras dari pihak Orang tua, sebagai pihak pertama yang mengenal kelakuan si anak, lalu peran guru di sekolah dan juga tidak lupa peran serta tokoh masyarakat untuk berupaya mencegah aksi merokok yang sudah menjadi tren di kalangan ABG. Beberapa hal yang saya ambil dari perbincangan dengan Paman saya tersebut adalah:

1. Usahakan agar Orang Tua sendiri tidak merokok.
Sebab katanya, percuma kalau melarang anaknya merokok, tetapi dia sendiri sebagai orang tua malah merokok bahkan perokok berat.

2. Kalau Orang tuanya pun seorang perokok, diusahakan agar tidak menyuruh anaknya untuk membeli rokok.
Karena, dengan menyuruh si anak, sama dengan memberi contoh yang tidak baik. Bisa-bisa anak itu akan berbalik dengan mengatakan, “Ayah saja sering merokok, kenapa saya tidak boleh?” Seperti yang banyak terjadi di kalangan masyarakat.

3. Galakkan, kampanye anti rokok.
Di rumah Paman saya, selalu terpampang poster Bahaya Merokok, dengan gambar seorang pria yang paru-parunya telah bolong. Itu menjadi efek jera, kepada anak-anak ABG, khususnya sepupu saya sendiri.

4. Selalu memberikan bimbingan edukasi kepada anak tersebut, kalau merokok adalah perbuatan yang sia-sia.
Masak, uang hasil jerih payah orang tua, dibakar begitu saja?

5. Membicarakan kepada guru di sekolah yang bersangkutan.
Paman saya selalu berbincang-bincang dengan beberapa guru di STM tempat sepupu saya sekolah. Alhamdullilah, pihak sekolah pun selalu merazia dan memberi sanksi apabila ketahuan ada siswanya merokok di kantin serta membawa sebungkus rokok dalam tasnya.

6. Memberikan contoh yang nyata, akibat dari rokok tersebut.
Dalam poster yang terpajang di rumah Paman saya, ada seorang pria yang paru-parunya bolong, siapapun yang melihatnya tentu akan ngeri ketika mengetahui bahaya dari rokok tersebut.

7. Berbicara dari hati ke hati, antara Orang Tua dan anak.
Ini langkah terakhir yang dilakukan oleh Paman saya, ketika akhirnya tahu anaknya telah merokok secara sembunyi-sembunyi diluaran. Paman saya selalu berkata, bahwa Merokok membuat rakyat miskin dan sakit. Sebab, yang kaya hanyalah produsen pembuat rokok, sedangkan orang yang merokok hanya menghambur-hamburkan uang hasil jerih payahnya sendiri. Beliau mencontohkan dari kecil hingga saat ini berusia lebih dari dari setengah abad, paman saya sangat sehat bugar, berbanding terbalik dengan kawan-kawannya yang perokok, sebagian besar pada terlihat tua sebelum waktunya.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 10:12 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: M e r o k o k   Sat Jun 16, 2012 5:54 pm

BERAPA BIAYA KESEHATAN 1 BUNGKUS ROKOK?
Jumat, 29/10/2010 13:36 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Sudah banyak orang yang tahu bahaya yang ditimbulkan dari rokok. Tapi hanya sedikit yang mau tahu berapa biaya kesehatan yang harus dikeluarkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata dari 1 bungkus rokok saja biaya kesehatan rata-rata dunia mencapai Rp 1-2 juta. Itu baru satu bungkus lho. Harga rokok rata-rata di banyak negara yang sudah melakukan ratifikasi tembakau adalah sekitar US$ 4-7 atau (sekitar Rp 38.000-66.000). Tapi jangan memasukkan harga rokok di Indonesia yang memang masih sangat murah yakni kurang dari US$ 1 dan Indonesia juga belum masuk dalam negara yang melakukan ratifikasi tembakau atau Framework Convention of Tobacco Control (FCTC).

Dari harga rata-rata rokok di negara-negara maju, peneliti berhasil menghitung berapa biaya kesehatan yang ditimbulkan dari 1 bungkus rokok. Ternyata mencapai 36 kali lipat. Itu baru dari 1 bungkus rokok saja. Sedangkan perokok biasanya merokok lebih dari 1 bungkus selama dia suka. Peneliti mengambil sampel di Spanyol yang harga satu bungkus rokok antara US$ 4,20- US$ 5,60 (Rp 39.000-Rp 52.000). Setelah dihitung biaya kematian prematur akibat rokok maka yang harus ditanggung oleh perokok dari satu bungkus rokok adalah US$ 150 (Rp 1,4 juta) per bungkus untuk laki-laki dan US$ 105 (Rp 987.000) per bungkus untuk perempuan.

Peneliti menyebutnya sebagai harga sebenarnya atau 'true cost' dari sebungkus rokok ternyata melebihi harga yang tercantum di bungkusnya. Sementara di Amerika, 'true cost' dari satu bungkus rokok dalam beberapa tahun terakhir seperti yang diterbitkan dalam Journal of Health Economics tahun 2006 mencapai US$ 222 (Rp 2,086 juta) per bungkus untuk laki-laki. Tinggal kalikan saja berapa bungkus rokok yang dikonsumsi maka perokok harus menanggun biaya sebesar itu jika mengalami sakit akibat rokok. Perhitungan ini diharapkan bisa membantu perokok memahami berapa sebenarnya biaya yang harus ia keluarkan untuk satu bungkus rokok. Cara ini dianggap mampu mencegah seseorang untuk merokok.

Meski Diharapkan hasil penelitian di Spanyol ini bisa diberitakan ke seluruh dunia sehingga perokok tahu berapa biaya yang harus ditanggungnya yang rata-rata 36 kali dari satu bungkus rokok saja. "Ini kembali mengingatkan bahwa konsumsi tembakau dapat meningkatkan risiko kematian dini dibanding dengan non-perokok, sehingga seseorang dapat menetapkan berapa biaya kematian dini bagi orang yang merokok," ujar peneliti Angel Lopez Nicolas dari Polytechnic University of Cartagena di Spanyol, seperti dikutip dari Foxnews, Jumat (29/10/2010).

Nicolas juga menuturkan bahwa merokok bisa memotong rata-rata usia harapan hidup seorang laki-laki sebesar 7,13 tahun dan perempuan sebesar 4,5 tahun. Dalam penelitian ini Nicolas dan rekannya menggabungkan Value of a Statistical Life (VSL) dengan data epidemiologi terhadap harapan hidup bagi perokok dan bukan perokok, serta data mengenai konsumsi tembakau. Meskipun jumlah biayanya bervariasi, peneliti mengungkapkan bahwa pemahaman yang lebih baik mengenai 'true cost' dari satu bungkus rokok dapat membantu mengurangi perilaku tidak sehat ini.


Last edited by gitahafas on Fri Aug 24, 2012 11:00 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
M e r o k o k
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 20Go to page : 1, 2, 3 ... 10 ... 20  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: