Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Susu dan A S I

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 16 ... 29  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:26 am

KAPAN ORANG BUTUH SUSU BERKALSIUM TINGGI?
Rabu, 20/04/2011 08:48 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Saat ini marak dijual susu dengan kadar kalsium tinggi (high calcium) yang bisa membantu seseorang terhindar dari masalah tulang. Tapi sebenarnya kapan seseorang butuh susu berkalsium tinggi? "Kapan seseorang butuh susu berkalsium tinggi itu tergantung dari asupan makannya," ujar Dr Fiastuti Witjaksono, MS, SpGK disela-sela acara konferensi pers Launching of HiLo School 'Ready to Drink VegiBery' di Y&Y Cafe, Pacific Place, Selasa (19/4/2011). Dr Fiastuti menuturkan jika seseorang mau makan ikan, tahu dan tempe maka yang dibutuhkai mungkin hanya susu biasa saja dan bukan susu berkalsium tinggi. Untuk itu seseorang harus tahu bagaimana asupan makannya dan kebutuhan kalsium tiap orang berbeda-beda. "Karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik, jika kadar kalsium dalam tubuh berlebih maka ia bisa mengganggu metabolisme dan pada orang tua bisa mengganggu peredaran darah," ujar dokter yang berpraktek di RSCM ini.

Beberapa makanan diketahui mengandung kadar kalsium yang tinggi dan baik untuk tubuh seperti halnya ikan teri dan juga ceker ayam. Hal ini karena kalsium banyak terdapat di dalam tulang, jadi ikan yang dimakan bersama dengan tulang-tulangnya mengandung kadar kalsium tinggi. Namun bukan berarti orang tidak membutuhkan susu, karena pada intinya setiap orang dari golongan usia berapa pun membutuhkan susu mulai dari anak usia 2 tahun ke atas hingga orang lanjut usia. "Susu mengandung protein yang baik, dan protein yang terkandung di dalam susu merupakan protein terbaik kedua setelah telur," ungkap dokter yang juga tergabung dalam Pengurus PDGKI (Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia). Untuk itu ketahui terlebih dahulu bagaimana pola makan yang dimiliki dan berapa asupan kalsium yang sudah didapatkan sebelum memutuskan apakah perlu konsumsi susu berkalsium tinggi atau tidak, karenanya tidak semua orang butuh susu berkalsium tinggi.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 24, 2012 1:14 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:27 am

SUSU KALSIUM PICU BATU GINJAL
Asep Candra | Jumat, 20 Agustus 2010 | 08:49 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Mengonsumsi susu kalsium tinggi secara rutin setiap memang dapat membantu pencegahan penyakit keropos tulang atau osteoporosis. Namun begitu, konsumsi susu kalsium tinggi ini sebaiknya tidak perlu setiap hari, terutama bagi mereka yang telah berusia dewasa karena dapat mempermudah terbentuknya batu ginjal. Seperti diungkapkan dokter spesialis bedah saluran kemih dari RS Premier Bintaro, dr Gideon Tampubolon SpBU, asupan kalsium adalah salah satu faktor yang dapat memicu terbentuknya batu ginjal. Selain kalsium, zat lain yang dapat memicu timbulnya batu ginjal adalah oksalat. Tak heran bila makanan atau minuman berkadar kalsium atau oksalat tinggi seperti susu, keju coklat teh, kacang dan bayam adalah jenis menu yang harus dihindari untuk mereka yang pernah mengidap penyakit ini. Gideon mengingatkan, mereka yang memiliki kebiasaan meminum susu kalsium tinggi setiap hari sebaiknya waspada. Sarannya, susu kalsium tinggi sebaiknya tidak dikonsumsi setiap hari terutama bagi mereka yang sudah menginjak dewasa dan lansia. "Sampai sekarang belum ada patokan berapa gram kalsium per hari yang dapat memicu timbulnya batu ginjal. Tetapi saya sarankan tidak perlu mengonsumsi susu tinggi kalsium setiap hari. Apalagi bagi yang pernah mengidap penyakit batu ginjal sebaiknya makin dikurangi ," ungkap Gideon di sela-sela temu media Kamis (19/8/2010) kemarin. Ia menjelaskan, konsumsi susu tinggi kalsium memang bermanfaat bagi pencegahan osteoporosis, terutama saat usia anak dan remaja. Namun bagi dewasa usia 30 ke atas, konsumsi susu tinggi kalsium setiap hari menjadi tidak terlalu bermakna bagi pencegahan. "Mungkin hanya akan memperlambat saja," timpalnya.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 24, 2012 1:16 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:30 am

KURANG KALSIUM BISA PICU SERANGAN JANTUNG MENDADAK
Vera Farah Bararah - detikHealth Kamis, 27/09/2012 08:28 WIB
Jakarta, Salah satu kandungan yang ada di dalam susu adalah kalsium. Ternyata kalsium ini juga baik untuk otot jantung, karena kurang kalsium bisa memicu serangan jantung mendadak. "Kalsium dalam susu ini fungsi utamanya selain untuk tulang juga untuk kontraksi otot jantung, karena itu serangan jantung mendadak juga bisa karena kurang kalsium," ujar ahli nutrisi Emilia E Achmadi, MS, RD dalam acara Rayakan World School Milk Day untuk Perbaikan Gizi Anak di SDN01 Menteng, Jakarta, yang ditulis Kamis (27/9/2012). Emilia menuturkan kegagalan kontraksi otot jantung ini sama seperti halnya kram yang umum dijumpai. Namun jika misalnya kaki yang kram, maka bisa diatasi dengan melakukan pemijatan, tapi jika otot jantung yang kram maka tidak bisa dipijat seperti biasa. "Dalam kontraksi otot dibutuhkan kalsium dalam darah, dan itu fakta sudah ada penelitian mengenai hal itu. Kalau bisa dari susu karena itu sumber terbaik," ujar Emilia yang merupakan lulusan Oklahoma State University, AS. Hal ini karena di dalam susu selain kalsium juga terdapat nutrisi lain yang memiliki manfaat bagi tubuh, seperti vitamin A yang bisa melindungi kulit, serta vitamin B kompleks yang baik untuk pola pikir dan mengoptimumkan fungsi saraf. Meski begitu asupan kalsium ini tidak disarankan didapat melalui suplemen, karena asupan yang didapat secara alami tetap lebih baik. Selain susu ada pula makanan lain yang mengandung kalsium seperti keju, almond, yogurt atau brokoli. Kalsium memiliki fungsi yang penting bagi organ jantung yaitu membantu mengatur kecepatan kontraksi sel alat pacu jantung, memberi sinyal bagi otot untuk berkontraksi serta memberitahu jantung seberapa kuat harus kontraksi. Selain akibat kurang kalsium, serangan jantung juga bisa dipicu oleh pola makan serta pola hidup yang tidak sehat seperti sering mengonsumsi makanan berlemak, jarang berolahraga, konsumsi alkohol dan juga merokok.


Last edited by gitahafas on Mon Nov 05, 2012 9:23 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:33 am

SUSU TAK LAGI DIANGGAP BERMANFAAT UNTUK KESEHATAN TULANG?
Putro Agus Harnowo - detikHealth Minggu, 22/07/2012 14:15 WIB
Jakarta, Para dokter dan pakar nutrisi di Amerika Serikat tengah memperdebatkan anggapan bahwa susu bukanlah minuman yang cukup bernutrisi bagi tubuh. Bahkan ada sekelompok dokter yang mengatakan bahwa sebaiknya susu dikeluarkan dari daftar menu makan siang di sekolah. Perang terhadap susu nampaknya makin gencar selama beberapa tahun terakhir. Awalnya, susu coklat dianggap sarat gula sehingga kemudian dihapuskan dari menu makan siang di sekolah. Namun saat ini, beberapa pihak menganggap susu apapun tak terlalu bermanfaat bagi kesehatan. Sekelompok dokter mengajukan petisi kepada pemerintah AS pada hari Kamis (19/7/2012) lalu. Tuntutannya adalah untuk menghapus susu dari kelompok makanan yang dimasukan Program Nasional Makan Siang Sekolah, program federal yang memberikan makan siang kepada jutaan anak sekolah sejak tahun 1946. Alasannya karena susu tidak membantu melindungi tulang anak-anak. Menurut para dokter yang tergabung dalam Physicians Committee for Responsible Medicine (PCRM), promosi susu untuk membantu perkembangan tulang kuat pada anak-anak pada dasarnya adalah promosi dan efek yang ditimbulkan hanyalah efek plasebo. Susu banyak mengandung gula, protein dan lemak yang tidak begitu bermanfaat untuk kesehatan tulang. PCRM mencatat bahwa produk susu merupakan sumber lemak jenuh dalam makanan khas orang Amerika. Minum susu untuk memperoleh kalsium tidak dapat dibenarkan karena kalsium harian bisa diperoleh dari sumber makanan lain yang lebih bergizi. Dan bagi jutaan orang Amerika yang alergi terhadap susu atau memiliki intoleransi laktosa, minum susu justru berisiko bagi kesehatan. "Salah satu alasan mengapa banyak orang membicarakan atau mempromosikan susu adalah karena manfaatnya dalam membantu pembentukan tulang yang kuat. Penelitian saat ini telah menemukan dengan jelas bahwa susu tidak membantu memperkuat tulang. Baik pada anak-anak maupun orang tua, susu tidak memiliki manfaat bagi tulang," kata Dr Neal Barnard, Presiden PCRM seperti dilansir Time Healthland, Minggu (22/7/2012).

Pada bulan Maret 2012, sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Archives of Pediatrics & Adolescent Medicine memantau 6712 orang anak selama lebih dari 7 tahun. Pola makan dan kemungkinan patah tulang pada anak-anak diamati secara detil. Para peneliti menemukan bahwa baik kalsium maupun asupan susu tidak menurunkan risiko patah tulang. Demikian pula penelitian berjudul Nurses’ Health Study pada tahun 2003 yang memantau lebih dari 72.000 orang wanita menopause selama 18 tahun. Hasilnya menemukan bahwa peminum susu tidak berkurang risikonya mengalami patah tulang pinggul daripada yang tidak minum susu. Namun hal ini bukan berarti kalsium tidak penting untuk kesehatan tulang. Mineral ini sangat penting untuk membangun kesehatan tulang dan gigi, terutama pada remaja ketika tulang tumbuh paling cepat dan menjaga fungsi otot jantung dan saraf. Yang dipermasalahkan, minum susu rendah lemak 3 gelas per hari seperti yang direkomendasikan pemerintah AS tidak menjamin memenuhi asupan kalsium yang dibutuhkan. Jumlah kalsium yang diserap tubuh tergantung dari makanan dan berbagai faktor lain, misalnya gen, asupan vitamin D , kebiasaan berolahraga dan pengaruh makanan lainnya. Protein hewani, sodium dan kafein diketahui dapat mencegah penyerapan kalsium.

PCRM dengan tegas menyatakan, susu bukanlah minuman sempurna untuk mendapat asupan kalsium. Kalsium dapat diperoleh dari sumber lain yang lebih sehat seperti kacang, tahu, brokoli, sereal dan minuman yang diperkaya kalsium seperti jus jeruk dan susu kedelai. Namun banyak ahli gizi yang masih berpendapat bahwa susu merupakan sumber utama kalsium dan cara termudah untuk memenuhi kebutuhan mineral harian. "Saya pikir tidak bertanggung jawab jika menghapus minuman yang disukai anak-anak dari daftar makan siang, terutama bagi yang tidak mampu memenuhi kebutuhan gizi hariannya," kata Keri Gans, ahli diet terdaftar dan penulis buku 'The Small Change Diet'. Dr Gans berpendapat, jika manfaatnya bagi kesehatan tulang dianggap berlebihan, susu masih banyak mengandung nutrisi penting lainnya seperti vitamin A, protein, kalium, riboflavin, niasin, vitamin B12 dan fosfor. Penelitian di tahun 2008 terhadap lebih dari 7.550 orang anak menemukan bahwa minum susu meningkatkan asupan gizi secara keseluruhan dan tidak menyebabkan pertambahan berat badan. Jadi, apakah susu akan dihapus dari daftar makan siang di sekolah? Hingga saat ini, perdebatan ini masih belum menemukan ujung pangkalnya.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:51 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:35 am

SUSU HANYA EFEKTIF CEGAH OSTEOPOROSIS SEBELUM USIA 30 TAHUN
Putro Agus Harnowo - detikHealth Sabtu, 02/06/2012 09:20 WIB
Bandung, Kondisi kesehatan saat tua sangat ditentukan dengan kebiasaan sehat yang dilakukan ketika masih muda. Banyak orang yang lanjut usia mengalami berbagai penyakit karena tidak menerapkan pola hidup sehat sejak dini. Salah satu penyakit yang erat dengan orang lanjut usia adalah pengeroposan tulang. Penyakit ini disebabkan karena tubuh kurang mendapat asupan kalsium yang diperlukan untuk pembentukan tulang. Saat muda, pembentukan sel tulang baru lebih cepat daripada penghancuran tulang tua sehingga kepadatan tulang masih terjaga. Setelah usia 30 tahun, proses penghancuran sel tulang tua lebih cepat daripada pembentukan sel tulang baru dan akan mengurangi kepadatan tulang dengan cepat. Semakin kecil kepadatan tulang, semakin besar pula kemungkinan mengalami osteoporosis atau pengeroposan tulang. "Sebelum mencapai usia 30 tahun, tubuh menabung kalsium untuk memperkuat tulang. Jika setelah berusia 30 tahun jumlah kalsium yang ditabung tidak cukup, maka tulang akan rapuh setelah usia 30 tahun ke atas," kata Dr Fiastuti Witjaksono, Sp.GK (K), Dokter Spesialis Gizi Klinik dalam acara Media Outing Be Smart & Healthy – the Natural Way Ultra Milk Low Fat High Calcium di Djadoel Village, Bandung, Sabtu, (2/6/2012). Menurut dr Fiastuti, kebutuhan kalsium tertinggi ada pada usia remaja, yaitu sebanyak sekitar 1300 mg perhari. Asupan kalsium dapat diperoleh dari makanan sehari-hari. Bahan makanan yang banyak mengandung kalsium adalah susu. Sebanyak 600 mg kebutuhan kalsium diperolah dengan meminum 2 gelas susu setiap hari. Yang mengkhawatirkan, osteoporosis atau pengeroposan tulang ini tidak bisa diprediksi dan baru diketahui setelah kerusakan yang terjadi sudah parah. Oleh karena itu, penyakit ini disebut silent disease. Penyakit ini menyerang 20-25% wanita Indonesia di usia lanjut. Agar terhindar dari penyakit ini, pencegahan harus dilakukan sejak dini. Meskipun demikian, bukan berarti bahwa orang yang sudah terkena osteoporosis lantas tidak akan mendapat manfaat dari asupan kalsium. Orang yang sudah terkena osteoporosis bisa memperlambat pengeroposan tulangnya dengan memperbanyak asupan kalsiumnya. "Dengan memperbanyak asupan kalsium, tubuh masih dapat memperoleh bahan untuk pembentukan tulang meskipun tubuh masih banyak melakukan proses penghancuran tulang," kata dr Fiastuti.


Last edited by gitahafas on Mon Nov 05, 2012 9:27 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:35 am

SUSU UNTUK SARAPAN, SEBERAPA PENTING?
Wuri Handayani Selasa, 10 Juli 2012, 08:09 WIB
VIVAlife - Kampanye empat sehat lima sempurna yang selalu menyertakan susu dalam setiap menu sarapan, cukup berhasil. Susu sudah menjadi bagian yang harus selalu ada setiap pagi. Bahkan beralih fungsi menjadi sarapan. Penelitian menunjukkan jika susu sangat dibutuhkan tubuh sebagai pembentuk energi melalui protein dan kalsiumnya. Dalam satu cangkir susu mengandung 150 kalori untuk tubuh. Ini sudah menjadi sugesti banyak orang, rasanya tubuh tidak berenergi tanpa segelas susu. Mungkin juga Anda. Namun, penelitian lain juga menunjukkan bahwa susu justru memicu pengeroposan tulang dan hanya menambah lemak. Jadi, apakah

Anda masih membutuhkan susu untuk sarapan pagi?
Susu sapi cukup menjadi sorotan. Isu tentang bovine somatotropin atau hormon penghasil susu yang diberikan pada sapi membuat pamor susu sapi turun dan masyarakat beralih pada susu kedelai. Untuk urusan kesehatan, susu sapi adalah sumber protein yang lengkap. Delapan gram protein, dua belas gram karbohidrat, dan B12 dalam setiap cangkirnya. Susu juga diperkaya dengan vitamin D yang akan membantu penyerapan kalsium dalam tubuh, demikian dikatakan Dr Amanda Powell, Medicine Endocrinology, Diabetes and Nutrition Department di Boston Medical Center seperti dikutip dari Health News Daily. Namun, lemak pada susu ini termasuk lemak jenuh. Jadi, ada baiknya Anda memilih jenis susu rendah lemak atau susu skim yang hanya memiliki satu hingga dua persen lemak. Pada pagi hari, sebenarnya susu sangat sensitif, terutama bagi mereka yang memiliki masalah dengan enzim lactase yang rendah. Laktosa pada susu justru akan menyebabkan gangguan pencernaan. Protein yang terdapat pada susu sapi, dua kali lebih besar dari susu kedelai. Jadi, jika dalam menu sarapan Anda sudah menyediakan protein yang tinggi, susu kedelai lebih direkomendasikan. Tapi, protein yang berasal dari sumber hewani memang lebih mudah untuk diserap oleh tubuh. Pilihan kedua, jika Anda menambahkan susu untuk sarapan, berarti sumber protein pada lauk harus dikurangi. Megan Mohammdione, ahli diet klinis di Emory Bariatric Center Emory, Atlanta menyarankan bagi Anda yang sedang menjalankan program diet untuk memilih susu kedelai. Atau pilihan susu lain yang juga bersahabat untuk diet Anda, seperti susu almond, susu beras, atau susu dari flax. Jenis susu ini memiliki protein yang rendah, namun tetap mengandung kalium, fosfor, dan vitamin D. (art)


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 5:17 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:36 am

BENARKAH MINUM SUSU ITU BIKIN GEMUK?
TRIBUNnews.com – Min, 10 Jun 2012 07:42 WIB
TRIBUNNEWS.COM - Banyak yang beranggapan kalau mengonsumsi susu bisa membuat badan gemuk. Benarkah pendapat ini? Yuk simak ulasannya. Rosihan Anwar SGz menuliskan di grup facebook Gerakan Sadar Gizi menjelaskan kalau mitos ini sungguh keliru. Kandungan kalori dalam susu hanya sekitar 60 kalori dalam 100 gram. Bahkan kandungan ini dapat lebih rendah lagi pada produk susu yang rendah lemak. "Sebagai perbandingan, rata-rata orang memakan sekitar 1500-2000 kalori per hari. Maka asupan kalori yang diperoleh dari susu tak akan bisa membikin gemuk," kata ahli gizi dari Banjarmasin ini. Kebanyakan orang yang takut gemuk setelah meminum susu karena suka mengonsumi susu full cream. Susu full cream kandungan lemaknya lebih tinggi dibanding susu cair karena belum dipisahkan lemaknya. Sayangnya, proses pemisahan lemak inilah yang kemudian membuat harga susu cair lebih mahal. Sedangkan untuk rasa mual yang dialami setelah minum susu, hal itu disebabkan adanya individu yang mengalami intoleransi laktosa, yaitu kondisi di mana tubuh tidak dapat mencerna laktosa dengan baik. Penyebabnya adalah karena sejak kecil kurang terbiasa meminum susu sehingga enzim pencernaan yang berfungsi mengolah susu kurang berkembang dengan baik.

Untuk mengatasinya, awali dengan minum susu yang tidak mengandung laktosa, kemudian meningkat menjadi yang rendah laktosa. Jika pencernaan sudah bisa mentolerir, maka baru bisa benar-benar mencerna susu biasa dengan kandungan laktosa yang tinggi. Bagi orang yang memiliki intoleransi laktosa agar tetap mendapat asupan kalsium dari susu lewat yoghurt. Karena telah difermentasi, laktosa dalam yoghurt sudah diubah menjadi laktase yang mudah dicerna perut. Pendapat Rosihan ini ditambahkan dokter Rini Sjoekri. Menurut Rini, minum susu itu bisa jadi gemuk karena proses inflamasinya, selain betacasein, lemak susu yangg jenuh jg pro-inflamasi. Anda bisa menyiasatinya dengan susu rendah lemak. Namun, susu jenis ini membuat rasa susu menjadi tidak gurih. Karena tak ada rasa ini, tidak jarang ada yang menambah gula yang merupakan sumber karbohidrat. "Jadi gula ini yang bikin gemuk lagi, karena adanya karbo sederhana. Jadi makanan proses yg dikatakan rendah lemak, malah kaya karbo hidrat sebagai penguat rasa. Sedangkan yang katanya zero kalori memakai gula buatan yang punya efek lain terhadap otak," papar Rini.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 5:17 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:37 am

AGAR SUSU TAK BIKIN ANAK KEGEMUKAN
Penulis : Wardah Fazriyati | Rabu, 24 Agustus 2011 | 15:45 WIB
KOMPAS.com - Susu dibutuhkan untuk semua tingkatan usia. Mulai anak-anak hingga manula. Perempuan hamil hingga ibu menyusui. Susu menjadi sumber protein dan kalsium, yang bisa melengkapi kebutuhan asupan nutrisi setiap harinya. Sayangnya, tak semua orang teredukasi dengan baik untuk memilih dan memilah susu dengan tepat. Terutama susu dengan gula tambahan berkadar tinggi, yang menyebabkan kegemukan.

Kontrol porsi
Anak-anak menjadi penderita utama dari ketidakpedulian orangtua dalam menyeleksi susu. Pasalnya, anak-anak paling banyak mengasup susu. Porsinya bisa mencapai 8-10 gelas per hari. Alasan kebutuhan gizi dan melengkapi kebutuhan asupan anak yang cenderung sulit makan, mendasari orangtua yang memberikan susu berlebihan kepada anak. "Idealnya, anak mengonsumsi susu 2-3 porsi gelas per hari atau sekitar 200-300 cc per gelas. Makanan harian memang belum mencukupi kebutuhan pola gizi seimbang. Susu melengkapi kebutuhan gizi anak. Namun asupan susu juga perlu dikontrol, baik dari porsi mau pun pemilihan susu yang tepat sesuai usia, dan kandungan gula di dalam susu. Karenanya, penting untuk membaca label dalam susu secara mendetil," tutur Dr dr Saptawati Bardosono MSc, ahli gizi dari Departemen Nutrisi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia saat talkshow dan media gathering diadakan Fonterra Brands Indonesia di Hotel Four Seasons, Jakarta, Selasa (23/8/2011) lalu.

Teliti baca label
Susu mengandung kebaikan yang dibutuhkan tubuh. Namun, pilihan susu turut menentukan manfaat yang didapatkan. Susu juga bisa menyebabkan kegemukan jika salah mengonsumsi, keliru dalam menyajikan, dan tak teliti membaca label yang berisi informasi jumlah asupan kalori dan kandungan gula tambahan. "Gula tambahan dalam susu harus terinformasikan dengan jelas di label. Karenanya orangtua perlu peduli dan jeli membaca label pada susu untuk memastikan asupan gula dan kalori," ujar dr Tati.

Waspadai gula tambahan
Menurut National Academy of Sciences, Food & Nutrition Board, Amerika Serikat yang termasuk gula tambahan di antaranya gula putih, gula merah, sirup jagung, sirup maple, sirup pancake, madu. Segala jenis gula di luar laktosa dan gula dari buah termasuk gula tambahan. Sementara laktosa dan gula dari buah termasuk gula alami yang aman dikonsumsi. Anda bisa menghitung kadar gula dalam susu dari label, dengan jeli memerhatikan jenis gula tambahan yang terkandung dalam susu. "WHO menganjurkan asupan gula dari susu tidak boleh lebih dari 10 persen. Sedangkan saat ini, menurut Riset Asupan Gula 2011 dari FKUI, asupan gula pada anak dari susu mencapai 28 persen, melebihi dari anjuran WHO," jelas dr Tati, menambahkan asupan kalori yang berlebihan dari gula tambahan inilah yang menyebabkan kegemukan pada anak. Kegemukan pada anak memicu berbagai penyakit kronis. Selain obesitas, anak juga bisa berisiko terkena penyakit degeneratif. "Penderita penyakit jantung kini usianya semakin muda, 29 tahun meninggal karena jantung," lanjutnya. Riset Asupan Gula 2011 FKUI juga menyebutkan kegemukan pada anak Indonesia akibat berlebihan mengonsumsi susu dengan gula tambahan meningkat hingga 19 persen dari 12 persen. Angka ini melebihi tingkat kegemukan pada anak di Amerika Serikat yang mencapai 14 persen.

Perhatikan cara minum susu
Cara minum susu juga penting diperhatikan, agar anak terhindar dari masalah kegemukan akibat asupan gula tambahan pada susu yang berlebihan. Dr Tati menegaskan, utamanya perhatikan porsi minum susu setiap harinya. Selepas ASI, lanjutnya, anak di atas 1 tahun mulai diperkenalkan susu sapi yang diencerkan sedikit demi sedikit. "Namun perlu juga waspada akan adanya diare atau alergi susu sapi. Karenanya berikan susu sesuai usia, kebutuhan anak, dan ikuti dosis yang dianjurkan," jelas dr Tati. Untuk anak usia 1-3 tahun, berikan asupan susu total 500-750 ml perhari. Kebutuhan nutrisi lainnya harus dicukupi dari beraneka ragam makanan dan air putih. Selain itu, yang juga penting diperhatikan saat minum susu adalah memilih produk susu sesuai usia anak. Perhatikan juga kebersihan saat menyimpan, menyajikan, dan mengonsumsi susu untuk anak.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 5:20 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:37 am

SELEPAS ASI, MASIH PERLUKAH ANAK MINUM SUSU?
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 24 Oktober 2012 | 14:52 WIB
KOMPAS.com - Setelah tidak lagi mendapatkan ASI di usia dua tahun kebutuhan nutrisi balita memang bisa terpenuhi dari makanannya sehari-hari. Kendati begitu susu bisa menjadi pelengkap gizinya, terutama karena kandungan kalsiumnya yang tinggi. Sejak lahir sampai usia 6 bulan bayi harus mendapatkan ASI saja, kemudian dilanjutkan dengan makanan pendamping ASI. Di atas usia setahun, kandungan nutrisi dalam ASI hanya mampu memenuhi sepertiga dari kebutuhan nutrisi hariannya. "Setelah usia setahun kandungan kalsium dalam ASI menurun, karena itu harus didapatkan dari sumber lain, misalnya saja susu, ikan kecil yang dimakan dengan tulang, atau sayuran berdaun hijau," kata dr. Yoga Devaera, Sp.A, dalam acara media edukasi mengenai teknologi pengemasan susu cair yang diadakan oleh Tetra Pak di Jakarta (24/10/2012). Untuk itulah orangtua perlu mencermati pilihan susu yang tepat dan disesuikan dengan kondisi anak. Bila anak dalam kondisi sehat atau tidak memiliki indikasi medis tertentu, susu whole milk atau tanpa modifikasi bisa menjadi sumber kalsium dan protein anak. Meski begitu Yoga mengingatkan bahwa susu tidak dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan seluruh nutrisi. "Kalau makanan cair yang mirip susu memang didesain untuk itu, tetapi anak perlu makanan untuk melatih perkembangan keterampilan makannya," kata dokter dari divisi nutrisi dan metabolik Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI ini.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:56 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:38 am

SUSU TAK HANYA PENTING UNTUK ANAK, USIA PRODUKTIF JUGA PERLU!
Oleh Eko Sutriyanto | TRIBUNnews.com – 19 jam yang lalu
TRIBUNNEWS.COM - Susu tidak hanya penting bagi bayi dan balita, susu juga bermanfaat di semua tahapan usia. Susu juga harus dikonsumsi oleh mereka di usia produktif, karena bermanfaat untuk pencegahan penyakit seperti osteoporosis di kemudian hari, perlindungan terhadap kanker usus besar, menurunkan risiko PMS dan migren, kekokohan tulang, mencegah kegemukan (peningkatan oksidasi lemak tubuh). "Susu juga membantu terapi kanker payudara, membantu kontraksi otot, pembekuan darah, kontrol tekanan darah, menjaga fungsi dinding sel tubuh (kandungan kalsium), mempertahankan kesehatan dan status gizi (kandungan protein, vitamin dan mineral)," ungkap ahli gizi, Dr.dr. Saptawati Bardosono Msc di Jakarta belum lama ini. Pada anak, susu berfungsi untuk menguatkan otot, tulang dan gigi (kandungan kalsium) juga untuk pertumbuhan dan pemeliharaan (kandungan protein), membantu fungsi normal otak dan sistem saraf serta pembentukan sel darah merah (kandungan vitamin B12). "Bagi usia remaja, kandungan protein, lemak, karbohidrat, kalsium, fosfor, vitamin B, A dan D yang terkandung pada susu bermanfaat untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan yang cepat selama masa pubertas, juga membantu mengokohkan tulang dan gigi," papar Saptawati. Sedangkan untuk usia lanjut, dengan kecukupan asupan kalsium dan vitamin D dapat menurunkan risiko jatuh dan patah tulang, dan kecukupan asupan protein dapat mencegah kehilangan massa otot, serta pencegahan terhadap penyakit osteoporosis.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 24, 2012 1:23 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Susu dan A S I
View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 29Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 16 ... 29  Next
 Similar topics
-
» Susu Yang Cocok Untuk Pertumbuhan Umur 19 Tahun Ke Atas
» MENYUSUI LELAKI DEWASA MENURUT ISLAM
» kristen mempertanyakan silsilah lengkap jalur keturunan muhammad dari nabi ismail
» Siswa SMP di Aceh Harus Sebutkan Ukuran Kelamin
» .Geledah Rumah Ibrahim, Densus 88 Ngembat Susu Kambing

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: