Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Susu dan A S I

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 16 ... 29  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 9:42 am

CIRI CIRI SUSU RUSAK
Asep Candra | Selasa, 15 Maret 2011 | 10:55 WIB
KOMPAS.com — Susu yang sudah dibuka dan ditempatkan di sebuah wadah hanya akan awet paling lama dua jam. Susu segar, yakni yang hanya mengalami proses pasteurisasi (pemanasan) sampai suhu 85 derajat celsius selama 30 detik, sebaiknya segera dihabiskan setelah dibuka. Jika tidak, maka simpan susu dalam suhu dingin (4 derajat celsius).
Pendinginan ini bertujuan untuk menghambat tumbuhnya bakteri pembusuk. Dalam keadaan dingin, susu segar bisa bertahan selama dua hari. Susu segar kemasan yang belum dibuka atau tidak mengalami kebocoran wadah bisa disimpan dalam keadaan dingin paling lama enam bulan.

Beberapa ciri yang menandakan susu rusak dan tidak layak dikonsumsi :
* Terjadi perubahan rasa dan aroma, yaitu menjadi asam, busuk, dan tidak segar.
* Tampak menggumpal atau memisah. Khusus yoghurt, rasanya memang asam, tetapi bila masih bagus, maka aromanya segar dan penampakan produk tidak memisah.
* Susu kental manis secara alami akan mengalami perubahan warna dan kekentalan. Produk tersebut masih aman dikonsumsi meski warna berubah agak tua dan lebih kental, asalkan rasa dan aromanya masih normal.
* Untuk susu cair, perubahan warna biasanya menunjukkan indikasi awal kerusakan. Itu tanda adanya pertumbuhan bakteri dan peningkatan keasaman. Jadi, sebaiknya tidak dikonsumsi. @ Lalang Ken Handita


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:44 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 9:45 am

CARA TEPAT MENYIMPAN SUSU
Selasa, 6 Novmber 2012 Seputar Indonesia

- Simpan susu dalam tempat wadah yang steril Simpan susu kemasan yang masih tertutup di lemari es pada suhu 1-40 C

- Simpan susu bubuk dalam kontainer yang tertutup rapat, dan taruh di lemari es.

- Ada baiknya konsumsi susu cair dalam kemasan yang telah terbuka pada hari yang sama.

- Untuk susu kental manis yang sudah dibuka kemasannya, sebaiknya simpan dalam lemari es.

- Kemasan familiy pack yang sudah dibuka bisa bertahan sampai 3-4 hari di dalam kulkas.

- Segera habiskan produk susu UHT jika kemasannya sudah dibuka.

- Susu jenis pasteurisasi wajib disimpan di dalam kulkas, sebelum dan setelah dikonsumsi.

- Jangan lupa untuk selalu mengecek tanggal kedaluwarsa susu. Pilih kemasan susu yang masih baik, tidak basah, dan tidak berlubang.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:37 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:20 am

SIMAK CARA BIJAK MENYIMPAN SUSU
Minggu, 08 April 2012 10:00 WIB
SUSU dikenal sebagai minuman pelengkap yang berprotein dan juga kaya akan kalsium. Meski susu akan menyuplai nutrisi bagi kekuatan tulang, namun susu juga bisa menjadi tempat bagi bakteri untuk berkembang jika tidak disimpan dengan baik. Nah, berikut ini informasi penting mengenai tata cara penyimpanan susu, sehingga susu awet dan tetap aman bila dikonsumsi.

1. Untuk susu kemasan yang masih tertutup, Anda bisa menyimpannya di dalam lemari es. Pastikan susu tersimpan dengan benar pada suhu 1-4 derajat Celcius. Tempatkan susu pada bagian tengah kulkas, hal ini bukan tanpa alasan, menyimpan susu di bagian pintu lemari pendingin akan membuat susu berkurang kualitasnya karena suhu yang berubah-ubah.

2.Bagi Anda yang kerap menyimpan susu bubuk dalam jumlah yang cukup banyak, simpanlah susu bubuk tersebut di dalam kontainer yang tertutup rapat. Jika tidak ada, simpan dalam wadah kedap udara yang juga tertutup. Kemudian, letakkan dalam lemari es dengan suhu 10-15 derajat celcius.

3. Ada baiknya konsumsi susu cair dalam kemasan yang telah terbuka pada hari yang sama. Kebiasaan menuang susu kemudian memasukkan lagi dalam kulkas selama berhari-hari akan menyebabkan susu rusak karena kontaminasi bakteri.

4. Sedangkan untuk susu kental manis yang sudah di buka kemasannya, sebaiknya simpan dalam lemari es. Pastikan Anda tidak mengonsumsinya setelah 8 hingga 20 hari berikutnya.

5. Jangan lupa untuk selalu mengecek tanggal kadaluarsa susu saat Anda membelinya atau setelah beberapa hari penyimpanan. (*/OL-06)


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:45 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:22 am

SELEKTIF MEMILIH SUSU KEMASAN
Rabu, 30 Juni 2010, 07:24 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Lutfi Dwi Puji Astuti
VIVAnews - Kita mengenal istilah "empat sehat lima sempurna". Penyempurnanya adalah susu. Istilah ini tidak berlebihan karena susu memiliki kandungan nutrisi yang bermanfaat untuk pemenuhan gizi seimbang bagi tubuh. Meski istilah itu begitu populer, konsumsi susu masyarakat Indonesia masih sangat rendah. Masyarakat sepertinya juga tidak terlalu tergugah dengan hadirnya beragam produk susu kemasan di pasaran. Bagi mereka yang terbiasa mengonsumsi susu kemasan, disarankan memilih produk yang melalui sistem sterilisasi Ultra High Temperature (UHT). Sistem ini diyakini mampu meminimalisasi tingkat kerusakan mutu dan gizi susu segar, tanpa perlu bahan pengawet atau pendinginan. Tapi sebagai konsumen, kita harus cermat memilih susu segar dalam kemasan. "Jangan sampai kemasan itu rusak sehingga mempengaruhi kandungan dan manfaat gizi di dalamnya,” kata Direktur Southeast Asian Food, Agricultural Science & Technology (Seafast), Purwiyatno Hariyadi, Ph.D saat ditemui di acara bertajuk "Hanya Susu Segar Untukku", di Hotel Mulia Senayan, Jakarta, Selasa 29 Juni 2010. Ia pun membagi tips memilik produk susu kemasan yang baik.

Pertama, perhatikan cara penyimpanannya, karena hampir 70 persen susu segar dikemas dalam bungkus berbahan kardus. Kebanyakan pedagang asongan, selalu meletakkan atau merendamnya di dalam air es. "Ini bisa merusak kemasan. Jika sobek kemasannya lebih baik jangan dibeli,” katanya.

Kedua, lebih baik pilih susu segar yang tak disimpan di almari pendingin. Sebagian besar susu yang dikemas dalam kardus telah melalui sistem sterilisasi UHT. Proses pendinginan bisa mengurangi rasa dan manfaat gizinya.

Ketiga, perhatikan komposisi nutrisi fact-nya demi menjamin mutu dan kualitasnya. "Yang utama dalam mengonsumsi sesuatu adalah harus diperhatikan keamanannya baik dari segi kemasan maupun kandungan gizinya," ujarnya.

Berdasar data Tetra Pak Indonesia 2010, konsumsi susu di Indonesia hanya 11,9 liter per kapita per tahun. Sangat rendah dibandingkan negara-negara Asia lainnya seperti India yang mencapai 42, 8 liter per kapita per tahun, Malaysia dan Filipina 22, 1 liter per kapita per tahun, Thailand 31,7 liter per kapita per tahun, atau Vietnam 12,1 liter per kapita per tahun.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:46 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:22 am

MENJAGA KUALITAS SUSU TANPA BAHAN PENGAWET
Wuri Handayani, Tasya Paramitha Kamis, 25 Oktober 2012, 10:48 WIB
VIVAlife - Teknologi memiliki peranan penting di dunia pangan. Pada kemasan produk susu misalnya, teknologi berperan agar susu dapat disimpan dalam waktu yang lama. Salah satu cara yang umum dilakukan untuk memperpanjang masa kesegaran produk pangan adalah dengan melakukan pemanasan. "Teknologi proses pemanasan dapat digunakan untuk mempertahankan usia dan mutu produk pangan, tanpa diperlukan penambahan bahan pengawet lagi. Caranya dengan proses sterilisasi," ucap Prof. Purwiyatno Hariyadi, Ph.D - Direktur SEAFAST (Southeast Asian Food and Agricultural Science and Technology) Center. Kelebihan produk sterilisasi adalah dapat bertahan lebih lama, sayangnya nilai gizi yang terkandung banyak mengalami kerusakan. Untuk dapat memberikan manfaat lebih maksimal, kini telah dikembangkan proses sterilisasi suhu tinggi yang dkenal dengan Ultra High Temperature (UHT). "Proses pengolahan susu dengan sistem sterilisasi UHT adalah teknologi yang paling efektif dalam membunuh mikroba maupun bakteri berbahaya, tanpa merubah mutu dan kandungan zat gizi yang ada dalam susu," tambahnya. Produk susu yang telah disterilkan ini masih harus dikemas dalam kemasan antiseptik untuk memaksimalkan kualitasnya. Menurut Elvira Wongsosudiro, Communications Manager Tetra Pak Indonesia, penggunaan kemasan antiseptik ini dilakukan untuk menjaga mutu susu agar tidak terkontaminasi bakteri, dan rusak saat didistribusikan ke berbagai tempat.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 4:59 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:23 am

SARAN UNTUK YANG ALERGI SUSU
Penulis : Diyah Triarsari | Kamis, 27 November 2008 | 09:44 WIB
Kompas.com - Alergi susu dialami oleh orang yang perutnya tak bisa mencerna gula susu yang disebut laktosa. Jika mereka minum susu, bisa mengalami kram perut parah dan diare. Berikut ini saran untuk mereka yang alergi susu:

1. Pilih susu bebas laktosa. Jika tak ada, pilih susu kedelai.

2. Hindari makanan yang mengandung kadar laktosa tinggi.

3. Konsumsi buah, sayur, dan produk nonsusu yang kaya kalsium. Kandungan kalsium terkaya ada pada sayuran hijau.

4. Coba minum yoghurt. Meskipun ini juga produk susu, biasanya yoghurt lebih mudah dicerna

5. Ingin mencicipi keju? Pilih keju keras atau lama karena kandungan laktosanya lebih sedikit.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 5:08 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:25 am

KENALI GEJALA ALERGI SUSU SAPI
Rabu, 14 Januari 2009 | 19:22 WIB
JAKARTA, RABU - Kasus alergi dalam satu dekade terakhir ini diperkirakan para ahli telah mengalami peningkatan. Alergi susu sapi merupakan bentuk alergi makanan yang paling sering ditemukan pada anak berusia kurang dari dua tahun, dan diperkirakan 2-7,5 persen anak pada kelompok umur ini mengalami alergi protein susu sapi. Karena itu workshop bagi para dokter anak mengenai tata laksana alergi susu sapi akan diadakan di empat kota yaitu Medan, Jakarta, Semarang, dan Surabaya sepanjang bulan Januari 2009 dan akan diikuti oleh 325 dokter spesialis anak bekerja sama dengan IDAI di masing-masing daerah. "Kami menyadari, tenaga medis memegang peran sangat penting bagi kesehatan bayi dan anak, termasuk dokter anak. Oleh karena itu, kami selalu ikut berpartisipasi aktif dalam meningkatkan pengetahuan, wawasan serta kualitas para dokter anak dalam memberi pelayanan kesehatan prima bagi bayi dan anak," ujar Presiden Direktur Mead Johnson Indonesia Martin Ibarreche.

Dokter Spesialis Anak dari Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto A D Pasaribu menyatakan, kasus alergi terhadap anak perlu tata laksana yang standar. Melalui workshop itu, diharapkan para tenaga medis, terutama dokter anak, dapat memberi penanganan yang cepat, tepat dan komprehensif. Penatalaksanaan alergi pada anak, khususnya alergi susu sapi, perlu ada standarisasi, ujarnya. Menurut Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI dr Badriul Hegar alergi susu sapi sering ditemukan pada anak usia di bawah tiga tahun, terutama di bawah usia 12 bulan. Hal ini dihubungkan dengan pematangan sistem saluran cerna. Gejala klinis paling sering terlihat adalah gangguan saluran cerna (50-80 persen), mulai dari muntah , diare berlanjut yang kadang-kadang disertai darah, konstipasi atau sembelit, bahkan bisa mengganggu tumbuh kembang anak.

Karena gejalanya bisa beragam atau tidak terlalu spesifik, maka banyak orangtua maupun tenaga kesehatan sulit mendiagnosis terjadinya alergi susu sapi. Cara paling mudah adalah, dengan melakukan tes alergi dan memantau adanya penyimpangan dibanding anak normal. Sebagai contoh, bila seorang anak terus menderita diare meski telah diobati selama lebih dari seminggu, maka harus dicurigai apakah anak tersebut alergi, kata Badriul. Penanganan dasar dan efektif untuk alergi protein susu sapi adalah dengan menghindari protein susu sapi atau produk turunannya, ujarnya menambahkan. Selama penanganan alergi susu sapi, pemberian air susu ibu atau ASI kepada bayi yang menderita alergi tersebut tidak boleh dihentikan terutama selama masa pemberian ASI eksklusif pada saat bayi berusia 0-6 bulan.


Last edited by gitahafas on Fri Jun 15, 2012 10:28 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:25 am

TELAT KENAL SUSU SAPI BIKIN ALERGI?
Rabu, 9 Juli 2008 | 17:02 WIB
KEPUTUSAN menunda pengenalan susu sapi sebagai asupan tambahan pada bayi ternyata meningkatkan risiko mengidap alergi pada anak dalam masa dua tahun pertama kehidupannya, demikian klaim sebuah penelitian terbaru di Belanda. Dr. Bianca E. P. Snijders, peneliti dari Maastricht University, seperti dilansir Reuters, Rabu (9/7) menyatakan bahwa salah satu strategi yang sering direkomendasikan secara luas dalam mencegah alergi adalah menunda pengenalan susu sapi atau pun makanan cair pada bayi. Akan tetapi, faktanya saat ini belum banyak bukti ilmiah yang mendukung rekomendasi tersebut.

Beserta timnya, Dr. Snijders menyelidiki sejauh mana efek penundaan asupan susu sapi ini terhadap bayi. Mereka pun lalu menganalisa data penelitian dari 2.558 bayi. Para ibu dari bayi ini juga memberi informasi tentang kesehatan mereka pada akhir masa kehamilan dan pada usia 3, 7, 12, dan 24 bulan setelah melahirkan. Informasi itu diantaranya termasuk jenis makanan yang dikonsumsi serta gejala alergi yang mereka alami. Selain itu, para bayi juga menjalani tes dan pemeriksaan gejala alergi pada 2 tahun pertama. Hasil tes menunjukkan bahwa penundaan untuk memperkenalkan susu sapi di atas usia 9 bulan secara signifikan dapat meningkatkan risiko bayi mengidap eczema, kelainan kulit kronis yang ditandai adanya lapisan kering dan gatal pada permukaan kulit.

Penundaan masa pengenalan makanan lain pada bayi melebihi waktu 7 bulan juga ditandai dengan hadirnya peningkatan risiko eczema, atopic dermatitis serta bersin-bersin. "Setelah mencoret para bayi yang dari awalnya menunjukkan gejala awal eczema dan bersin-bersin pun tidak mengubah hasil penelitian,” ungkap Snijders dan timnya yang membuat tulisannya dalam jurnal Pediatrics. “Meski pemberian ASI tetap menjadi prioritas utama dan secara medis terbukti menguntungan bagi kesehatan bayi, pentingnya untuk perkenalan makanan lain pada bayi untuk mencegah alergi jelas sangat meragukan ” Walau begitu, Snijders menekan, bila didasarkan atas pengetahuan yang ada saat ini “Mungkin sangat terlalu dini untuk mengubah panduan tentang pengenalan susu sapi pada bayi,” ujarnya.


Last edited by gitahafas on Fri Jun 15, 2012 10:29 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:26 am

CARA MENGETAHUI TUBUH TIDAK TOLERAN DENGAN LAKTOSA SUSU
Rabu, 23/02/2011 11:48 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Intoleransi laktosa pada susu berbeda dengan alergi susu. Kebanyakan yang dialami orang adalah intoleransi laktosa karena tubuh tidak mampu mencerna laktosa. Ada caranya untuk tahu apakah seseorang intoleransi terhadap laktosa. Intoleransi laktosa adalah ketidakmampuan tubuh untuk mencerna gula laktosa yang terdapat dalam susu dan produk susu lainnya seperti keju, yoghurt, butter, susu kering dan bubuk, whey, dadih susu. Tubuh yang tidak mampu mencerna laktosa itu karena orang tersebut tidak memiliki atau menghasilkan enzim laktase yang cukup untuk memecah laktosa. Orang baru curiga dirinya mengalami intoleransi laktosa biasanya setelah mengalami mencret-mencret sehabis minum susu atau produk susu. Saat laktosa masuk ke dalam tubuh, maka usus kecil akan mengeluarkan enzim laktase untuk memecah laktosa menjadi bentuk gula sederhana (glukosa dan galaktosa) sehingga mudah diserap tubuh.

Tapi karena tidak ada enzim tersebut maka laktosa yang masuk akan dipecah oleh bakteri sehingga menyebabkan gas, kembung, kram atau diare. Meski begitu intoleransi laktosa berbeda dengan alergi susu sapi. Karena alergi susu sapi disebabkan oleh reaksi sistem kekebalan tubuh terhadap salah satu atau lebih protein yang terkandung di dalam susu dan bisa mengancam jiwa. Alergi susu paling sering muncul dalam tahun pertama kehidupan, sedangkan intoleransi laktosa paling sering terjadi saat dewasa atau remaja. Kekurangan enzim laktase biasanya berkembang dari tahun ke tahun dan dimulai setelah berusia sekitar 2 tahun, yaitu saat tubuh mulai berkurang memproduksi laktase. Sebagian besar anak yang kekurangan laktase tidak menunjukan gejala intoleransi laktosa, tapi gejala akan muncul saat remaja akhir atau dewasa. Intoleransi laktosa seperti dikutip dari Kidshealth, Rabu (23/2/2011) ditandai dengan:

1. Mengalami gejala mual
2. Kram perut
3. Rasa sakit diantara dada dan perut
4. Kembung
5. Perut penuh gas
6. Diare setelah 30 menit-2 jam mengonsumsi sesuatu yang mengandung laktosa.

Untuk mendiagnosis dengan pasti kondisi ini biasanya dokter akan menyarankan pasien untuk berhenti mengonsumsi segala macam produk susu selama 2 minggu dan melihat apakah ada perkembangan pada gejala yang dialaminya atau tidak. Jika masih meragukan maka dokter akan melakukan tes napas hidrogen. Umumnya gas hidrogen hanya sedikit terdeteksi dalam napas. Untuk itu seseorang diminta mengonsumsi minuman yang mengandung laktosa lalu beberapa menit kemudian napasnya diuji, karena jika seseorang tidak bisa mencerna laktosa maka akan menghasilkan banyak gas termasuk hidrogen. Selain itu ada juga tes lain yang bisa dilakukan yaitu melakukan endoskopi. Dokter akan melihat bagian dalam usus dan mengambil contoh jaringan, jumlah enzim laktase bisa diukur dari salah satu contoh jaringan. Untuk mencegah intoleransi laktosa ada beberapa cara yang bisa dilakukan:

1. Pilihlah susu yang sedikit atau bebas laktosa
2. Mengonsumsi suplemen enzim laktase sebelum mengonsumsi makanan atau minuman produk susu, suplemen ini bisa ditetes, dalam bentuk tablet atau dicampur langsung ke dalam susu.
3. Mengonsumsi makanan lain yang bebas susu tapi kaya akan kalsium, seperti brokoli, kacang-kacangan, tahu, susu kedelai atau ikan (terutama ikan yang bisa dimakan bersama tulangnya).
4. Teliti dalam membaca label makanan, kata-kata tertentu yang terdapat dalam makanan bisa berarti mengandung laktosa di dalamnya seperti butter, keju, susu kering dan bubuk, whey, dadih susu, berbagai produk olahan susu.
5. Mengonsumsi jus yang telah diperkaya dengan kalsium.
6. Ketika mengonsumsi makanan yang mengandung laktosa sebaiknya dibarengi dengan makanan non-laktosa untuk memperlambat pencernaan dan menghindari masalah.
7. Agar kalsium yang dikonsumsi bisa diserap tubuh maka dibutuhkan vitamin D, vitamin ini bisa didapatkan dengan cara berjemur di bawah sinar matahari pagi atau mengonsumsi makanan seperti telur, hati, ikan tuna dan salmon.


Last edited by gitahafas on Fri Jun 15, 2012 10:42 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Susu dan A S I   Fri Jun 15, 2012 10:26 am

LAMA TAK MINUM SUSU BISA BIKIN DIARE?
Penulis : Bramirus Mikail | Kamis, 21 April 2011 | 15:15 WIB
JAKARTA,KOMPAS.com - Susu merupakan bagian dari menu seimbang. Namun sayangnya, masih banyak orang dewasa yang kurang menyadari akan pentingnya minum susu. Kebanyakan masyarakat di Indonesia, hanya mengonsumsi susu sewaktu masih anak-anak. Alhasil, banyak kasus terjadi seseorang mengalami diare ketika mengonsumsi susu di saat beranjak dewasa. Menurut ahli gizi dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. Made Astawan, MS, kondisi tersebut disebabkan oleh intoleransi laktosa. Ini adalah suatu keadaan di mana seseorang tidak memiliki enzim laktase yang cukup untuk mencerna laktosa pada susu. Normalnya, kata Made, kalau seseorang minum susu, maka laktosanya akan masuk ke dalam tubuh. Laktosa itu adalah gula dalam susu yang diubah menjadi glukosa dan galaktosa. "Tetapi kalau tidak ada laktase, begitu dia tidak minum susu, maka laktosa tidak dapat diubah menjadi glukosa dan galaktosa. Sehingga menjadi diare," ungkapnya. Hal tersebut, lanjut Made, terjadi karena enzimnya terlalu lama tidak pernah diumpani, sehingga tidak bekerja laktasenya. Made menambahkan, diare akibat minum susu biasanya tidak akan berlangsung lama. Pasalnya, secara bertahap tubuh akan kembali mulai terbiasa. "Paling diarenya akan muncul beberapa hari, setelah itu biasa lagi. Kira-kira seminggu," imbuhnya. "Jadi biasakan minum susu tidak hanya pada saat masih anak-anak, tetapi juga sepanjang kehidupan kita," tutupnya.


Last edited by gitahafas on Tue Nov 06, 2012 5:08 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
 
Susu dan A S I
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 29Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 16 ... 29  Next
 Similar topics
-
» Susu Yang Cocok Untuk Pertumbuhan Umur 19 Tahun Ke Atas
» MENYUSUI LELAKI DEWASA MENURUT ISLAM
» kristen mempertanyakan silsilah lengkap jalur keturunan muhammad dari nabi ismail
» Siswa SMP di Aceh Harus Sebutkan Ukuran Kelamin
» .Geledah Rumah Ibrahim, Densus 88 Ngembat Susu Kambing

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: