Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Mengenal Narkoba

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 1:18 pm

SETIAP HARI 50 PENGGUNA NARKOBA MENINGGAL DI 2012
Selasa, 29 Januari 2013 | 12:23 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Narkotika Nasional (BNN) mendata kasus penyalahgunaan narkotika di Indonesia naik tajam. Korbannya mencapai lebih 5 juta jiwa. Di kalangan pelajar, jumlah penggunanya mencapai sekitar 921.695 orang. Pengguna yang akhirnya meninggal di 2012 mencapai rata-rata 50 orang per hari. Di sisi lain, petugas gencar menghentikan laju perdagangan dan peredaran narkoba dengan melakukan razia. Hukuman berat pun dijatuhkan kepada pelakunya. Namun, tindakan itu seolah sulit memberi efek jera pada masyarakat. Satu lokasi yang kerap menjadi target razia polisi yaitu Kampung Ambon di Cengkareng, Jakarta Barat. Sejak 1990, wilayah itu diduga sebagai pusat peredaran narkoba di Jakarta. Bahkan, penikmat narkoba menganggap wilayah itu sebagai surga mereka. Beragam jenis narkoba tersedia di Kampung Ambon selama 24 jam, mulai dari sabu-sabu, ekstasi, hingga putau. Perdagangannya pun ibaratnya warung makan atau kafe yang menjajakan dagangan dengan terbuka. Beberapa kali digerebek, narkoba masih menjamur di Kampung Ambon. Narkoba menjerat siapapun, termasuk artis yang memiliki banyak penggemar. Beberapa artis menjadi pemakai dan pengedar. Beberapa di antara mereka bahkan berkali-kali dibekuk meski telah menjalani proses sidang dan masa tahanan. Celakanya, narkoba pun menjadi momok di dalam penjara. Bisnis narkoba tetap berjalan di bui. Narapidana bebas bertransaksi bahkan melibatkan petugas. Namun itu memberikan efek jera. Ditambah lagi, tak jarang penjahat narkoba divonis bebas di tingkat kasasi. Bahkan, gembong narkoba mendapat grasi.(RRN
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 1:30 pm

MENGULAS JENIS NARKOBA DALAM KASUS RAFFI AHMAD
Mona Indriyani Selasa, 29 Januari 2013, 12:11 WIB
VIVAlife - Hingga saat ini, kasus Raffi Ahmad masih hangat dibicarakan publik. Mulai dari waktu penggerebekan, penyidikan, hingga jenis narkoba yang dikonsumsinya. Menurut pihak BNN yang menggeledah rumah presenter Dashyat itu, mereka menemukan dua linting ganja dan MDMA sejenis ekstasi di kediaman Raffi. Nama ganja di dunia narkotika mungkin sudah tidak asing lagi. Bagaimana dengan MDMA? MDMA (3,4-methylenedioxy-shabu) juga dikenal sebagai salah satu jenis ekstasi. Obat sintetik psikoaktif ini memiliki kesamaan dengan amfetamin baik stimulan dan halusinogen mescaline. Umumnya, MDMA dikemas dalam bentuk kapsul atau tablet. Zat adiktif ini akan bekerja dalam waktu 3 hingga 6 jam. Bagi orang yang mengkonsumsinya, ia akan merasakan peningkatan energi, euforia, kehangatan emosional, serta empati pada orang lain, seperti yang dijelaskan National Institute on Drug Abuse.

Dampak negatif MDMA
MDMA memiliki efek fisik yang sama dengan obat stimulan lainnya, seperti kokain dan amfetamin. Artinya, di saat orang mulai kecanduan, ia akan mengalami peningkatan denyut jantung dan aliran darah. Pengguna MDMA juga akan mengalami gejala lainnya, seperti ketegangan otot, mual, penglihatan kabur, pingsan, dan berkeringat. Dalam kadar yang tinggi, MDMA dapat mengganggu kemampuan tubuh untuk mengatur suhu. Dalam hal ini, orang yang mengkonsumsinya akan mengalami hipetemia, yang dapat memicu rusaknya liver, ginjal, dan gagal jantung. Yang paling parah adalah kematian. Sebenarnya, kombinasi MDMA dengan satu atau lebih obat-obatan justru akan lebih berbahaya. Pengguna yang sengaja mencampurnya dengan ganja dan alkohol akan menempatkan pada risiko masalah kesehatan yang serius.

Zat baru dalam kasus Raffi
Nama cathinone disebut-sebut sebagai zat baru narkotika yang belum dicatat dalam hukum di Indonesia. Menurut Kepala Humas BNN, Sumirat Dwiyanto, zat baru tersebut turunan dari cathinone yang tidak terdaftar dalam UU Narkotika Nomor 35 tahun 2009. Jika ditelusuri, cathione sebenarnya banyak digunakan sebagai bahan psikoaktif dalam 'garam mandi'. Bahan ini juga banyak dijual sebagai salah satu jenis ekstasi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 2:08 pm

CHATINONE ADA DI UU NARKOTIKA, PENGEDAR BISA DIANCAM HUKUMAN MATI
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Selasa, 29/01/2013 11:02 WIB
Jakarta, Beberapa pihak mengatakan zat baru yang mencuat dalam kasus Raffi cs, chatinone belum diatur di Indonesia. Namun UU No 35/2009 menyebutnya sebagai narkotika golongan I, pengedarnya bisa diancam hukuman mati. Chatinone, atau dalam Bahasa Indonesia disebut Katinona digolongkan sebagai narkotika golongan I yang hanya boleh dipakai untuk keperluan riset. Untuk keperluan medis sekalipun, narkotika golongan ini tidak diizinkan, apalagi untuk keperluan rekreasional. Ancaman hukuman atas kepemilikan narkotika golongan I dalam bentuk tanaman berkisar antara 4 tahun hingga 12 (dua belas) tahun serta denda antara Rp 800 juta hingga Rp 8 miliar. Sanksi serupa juga berlaku bagi yang menyimpan tidak dalam bentuk tanaman. Dalam bentuk tanaman, kepemilikan lebih dari 1 kg atau lebih dari 5 batang pohon bahkan bisa diancam dengan hukuman seumur hidup. Sedangkan dalam bentuk bukan tanaman, sanksi hukuman mati juga bisa dikenakan pada kepemilikan sebanyak lebih dari 5 gram. Sanksi yang lebih berat adalah hukuman mati bagi yang memproduksi atau menyalurkan narkotika golongan I lebih dari 1 kg atau lebih dari 5 batang pohon, atau 5 gram dalam bentuk bukan tanaman. Sanksinya paling berat untuk pelanggaran ini adalah hukuman mati. Meski demikian, penjatuhan sanksi hukum bagi pengguna narkoba jenis apapun selalu menjadi kontroversi. Beberapa kalangan lebih memilih untuk memposisikan pengguna sebagai korban, sementara yang seharusnya dikriminalkan adalah bandar serta pengedarnya. "Seharusnya sasaran target operasi BNN (Badan Narkotika Nasional) lebih ke jaringannya, mengurangi siklus demand-supply," Edo Agustian, Koordinator Sekretariat Nasional PKNI (Persaudaran Korban Napza Indonesia) saat dihubungi detikHealth, Selasa (29/1/2013). Menangkap para pengguna apalagi dari kalangan selebritas dinilai Edo bagus untuk pencitraan, tetapi mencederai semangat dekriminalisasi pengguna narkoba. Padahal menurut Edo, Indonesia turut menyepakati konvensi Wina tahun 2009 untuk menggunakan pendekatan kesehatan dalam membina korban narkoba.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 2:10 pm

MENGENAL CHATINONE, NARKOBA JENIS BARU
AN Uyung Pramudiarja - detikHealth Selasa, 29/01/2013 10:21 WIB
Jakarta, Dalam kasus penggerebekan Raffi cs, Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan indikasi adanya narkoba jenis baru yakni chatinone. Narkoba jenis ini dikatakan masih baru dan belum diatur dalam undang-undang. Apa sebenarnya chatinone? Edo Agustian, Koordinator Sekretariat Nasional PKNI (Persaudaran Korban Napza Indonesia) mengakui bahwa chatinone termasuk 'barang baru' di Indonesia. Di kalangan para pecandu, ia belum pernah menemukan kasus penyalahgunaan narkoba jenis ini sebelumnya. "Mungkin faktor jarak ya, karena tumbuhan yang menjadi bahan baku chatinone berasal dari Afrika. Sementara sabu-sabu, lebih mudah masuk Indonesia karena lebih dekat. Bahan bakunya tumbuh di China," kata Edo saat dihubungi detikHealth, Selasa (29/1/2013). "Kalau dulu, mungkin sama seperti cocain. Masuknya ke Indonesia juga lebih susah dibanding sabu-sabu karena bahan baku cocain juga didatangkan dari jauh, dari Amerika Selatan," lanjut Edo. Berdasarkan penelusuran, chatinone berasal dari tanaman Catha edulis atau Khat. Tanaman ini tumbuh di Afrika dan sebagian wilayah Arab. Di daerah asalnya, tanaman ini dikonsumsi langsung dengan cara dikunyah dan bukan diekstrak kandungan aktifnya yakni chatinone. Dilihat dari strukturnya, chatinone tidak jauh berbeda dibanding narkoba yang lebih populer di Indonesia yakni amphetamine. Meski tidak termasuk golongan amphetamine, chatinone memiliki efek yang kurang lebih sama yakni mampu membangkitkan stamina. Edo mengaku tidak tahu persis perbandingan efek antara chatinone dengan ekstasi atau jenis ATS (Amphetamine Type Stimulant) lainnya karena belum pernah menjumpai sebelumnya. Ia baru mengenal narkoba baru ini dari literatur, bahkan beberapa ahli yang ditemuinya, termasuk dari Kementerian Kesehatan juga belum banyak tahu. Meski mengakui bahwa chatinone masih baru di Indonesia, Edo tidak sependapat jika dikatakan bahwa narkoba jenis ini belum ada aturannya. Menurutnya, Undang-undang No 35/2009 tentang Narkotika sudah mengatur chatinone atau dalam Bahasa Indonesia disebut Katinona sebagai narkotika golongan I. "Chatinone ada di UU No 35/2009 tentang Narkotika, bisa dilihat di lampiran nomor 35 daftar narkotika golongan I. Jadi kalau mau mengacu pada UU Narkotika, zat ini sudah ada aturannya," kata Edo.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 2:19 pm

CHATINONE BIKIN EFEK NARKOBA BERLIPAT GANDA
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 29 Januari 2013 | 11:55 WIB
Kompas.com - Zat Chatinone menjadi pembicaraan setelah Badan Narkotika Nasional menemukan zat ini dikonsumsi oleh beberapa orang yang ditangkap di rumah salah satu pesohor, Minggu (27/1/13). Sebenarnya, apakah chatinone itu? Menurut Dr.Iskandar Irwan Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa, chatinone sebenarnya masuk ke dalam jenis prekursor. "Zat kimia ini tidak adiktif tetapi ditambahkan untuk meningkatkan potensi adiksinya," kata dokter yang mendalami tentang konseling dan terapi keluarga ini ketika dihubungi Kompas.com. Ia menyebutkan prekursor memang bukan zat adiktif karenanya secara hukum penggunanya bisa lolos. "Kecuali kalau setelah dites ketemu amfetamin atau zat turunannya," paparnya. Prekursor seperti chatinone sendiri, menurut Iskandar bukan barang baru. Oleh badan PBB zat ini sudah dimasukkan ke dalam daftar zat-zat adiktif sejak tahun 1970-an. "Prekursor bermacam-macam, salah satunya obat yang sebenarnya obat medis sehingga bisa dibeli di apotek atau toko obat. Fungsi prekursor jika ditambahkan narkotika lain membuat efeknya berlipat ganda," katanya. Informasi yang dihimpun Kompas.com, zat chatonine berasal dari tanaman Catha edulis yang tumbuh subur di Azerbaijan. Jika diolah, zat itu dapat digunakan untuk campuran ekstasi dengan efek samping menimbulkan rasa senang dan kehilangan nafsu makan bagi penggunanya. Tanaman jenis ini sempat dilegalkan di beberapa negara antara lain Senegal hingga tahun 2002 dan Selandia Baru hingga 2007. Sejak tahun 1980, WHO mengklasifikasikan chatonine sebagai obat terlarang karena bisa menyebabkan kecanduan ringan, lebih ringan dari kecanduan alkohol atau rokok.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Jan 29, 2013 2:23 pm

TES RAMBUT MENYINGKAP RACUN KIMIA DALAM TUBUH
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 29 Januari 2013 | 12:32 WIB
Kompas.com - Badan Narkotika Nasional memutuskan melakukan tes rambut untuk mendalami penggunaan narkotika kepada beberapa orang yang ditangkap di rumah presenter berinisial R beberapa hari lalu. Analisis rambut dinilai memiliki kelebihan untuk mendeteksi endapan racun kimia dalam tubuh. Dr.Iskandar Irwan Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), menjelaskan analisa rambut memberikan informasi pola permanen dari kantong rambut. "Tes rambut paling peka terhadap semua zat-zat kimia yang masuk dalam tubuh. Ini karena akar rambut menyimpan sisa metabolisme dalam 3-6 bulan terakhir," katanya ketika dihubungi Kompas.com. Berbeda dengan tes rambut, tes urin hanya mencerminkan ada tidaknya zat kimia dalam darah untuk jangka waktu pendek, yakni beberapa jam saja. Untuk melakukan tes rambut, menurut Iskandar, baru bisa dilakukan tiga hari pasca penangkapan. "Kalau baru ketangkap zat-zatnya belum mengendap sehingga tidak akan terlihat hasil yang bermakna,' katanya. Menurut Iskandar, psikotropika yang mengendap paling lama di tubuh adalah kokain dan ganja. Dalam rambut, kuku, dan gigilah, mineral-mineral dalam bentuk kecil disimpan. Rambut manusia merupakan rekaman sejarah yang bisa merefleksikan perubahan metabolisme. Selama struktur rambut tidak berubah, mineral tertanam dalam rambut dan kadarnya tidak berubah walaupun rambut memanjang. Pemakaian analisis rambut sebetulnya telah dikenal sejak tahun 1800-an, terutama untuk melihat keberadaan racun arsenikum. Dalam perkembangannya, analisis rambut lebih banyak dikenal oleh dunia forensik, riset ilmiah, dan pengetesan obat. Di banyak negara tes rambut juga dipakai untuk mendapatkan bukti kuat dari penggunaan obat-obatan terlarang.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Jan 30, 2013 8:33 am

APA SIH CATHINONE?
Selasa, 29 Januari 2013 | 17:20 WIBMI/ATET DWI PRAMADIATERKAIT
Metrotvnews.com, Jakarta: Belakangan kata cathinone ramai diperbincangkan masyarakat pascapenangkapan artis Raffi Ahmad Cs. Presenter acara musik di salah satu stasiun televisi swasta itu terbukti mengonsumsi zat narkotika jenis baru. Zat tersebut belum diatur dalam perundang-undangan di Indonesia. Menurut Deputi Bidang Pengawasan Produk Terapeutik dan Napza BPOM Antonia Retno Tyas Utami, cathinone tidak termasuk golongan obat-obatan dan narkotika dengan efek terapi. Cathinone sama sekali belum pernah diuji klinis sebagai obat di seluruh dunia. "Jadi BPOM tidak punya wewenang untuk mengawasi," katanya saat dihubungi Selasa (29/1). Bahwa cathinone tidak memiliki efek terapi juga diamini Kepala BPOM Lucky S Slamet. Menurut Kepala BPOM, cathinone merupakan zat baru psikotropika yang diekstrak dari tumbuhan catha edulis yang banyak ditemukan di negara pecahan Uni Soviet, Azerbaizan. "Zat ini memberikan efek samping seperti perasaan senang luar biasa (euforia), hilang nafsu makan dan halusinasi," jelas Lucky. Retno menambahkan, tanpa melihat secara langsung BPOM sulit untuk menentukan bahwa zat yang dimaksud oleh BNN adalah benar-benar cathinone. Menurut dia, di dalam dunia narkotika ada molekul sejenis cathinone yang bernama katinona. Zat katinona satu keluarga dengan ekstasi dan memberikan efek halusinasi senang dan tubuh tidak mudah lelah. "Kalau zat katinona, sudah termasuk sebagai jenis narkotika dalam UU Psikotropika," ujarnya. Retno menyatakan BPOM memang diberi kewenangan untuk melakukan pengawasan pada zat narkotika. Tapi dia menggarisbawahi bahwa narkotika yang diawasi dan diberi izin edar harus yang memiliki efek terapi pengobatan. Contoh narkotika yang memiliki efek terapi adalah morphin. Untuk peredaran, BPOM memberi nomor registrasi edar, aturan dosis dan siapa yang bisa memberikan. Cathinone sendiri hingga saat ini diketahui tidak memiliki efek terapi. Karena itu, BPOM bersedia diajak bekerja sama dengan BNN untuk melakukan uji laboratorium terhadap narkotika yang diduga jenis baru tersebut. Pada kesempatan berbeda, psikiater Dadang Hawari menegaskan bahwa petugas BNN tidak perlu ragu memproses secara hukum Raffi Ahmad dan kawan-kawan kalau terbukti mengonsumsi zat adiktif walau katagori zat belum masuk dalam UU Psikotropika. "Yang terpenting zat itu memiliki sifat yang sama dengan narkotika, yaitu bersifat adiktif dan merusak tubuh," tandasnya. (Cornelius Eko Susanto/OL-9)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Jan 30, 2013 8:40 am

INI RISIKONYA KALAU COBA COBA PAKAI CATHINONE
Putro Agus Harnowo - detikHealth Selasa, 29/01/2013 14:58 WIB
Jakarta, Nama Chatinone menjadi populer setelah kasus penggerebekan Raffi cs. Stimulan jenis baru tersebut ternyata tidak benar-benar baru, hanya saja namanya kalah populer dibanding amfetamin dan kokain. Walau demikian, risikonya tak kalah gawat dengan narkoba jenis lainnya. Chatinone berasal dari tanaman Catha edulis atau Khat. Tanaman tersebut dikenal juga dengan sebutan qat, quat, atau gat dan stelah lama digunakan di timur tengah dan Afrika. Daunnya dikonsumsi dengan cara dikunyah dan terkadang dicampur dalam seduhan teh. Tanaman ini sempat digemari seperti halnya kopi. Mengkonsumsi daun khat dapat membuat penggunanya jadi bertambah energinya, banyak bicara dan jadi agresif karena memang memiliki efek stimulan. Sayangnya, tanaman ini dapat membuat ketergantungan dan memicu masalah ekonomi. Chatinone disebut juga sebagai 'amfetamin alami'. Zat ini menstimulasi sistem saraf pusat menyerupai amfetamin, hanya saja efeknya lebih ringan. Jika sintesis amfetamin yang disebut metamfetamin efeknya lebih kuat daripada amfetamin, begitu pula dengan methchatinone yang efeknya lebih kuat dibanding Chatinone. Ada juga turunan Chatinone yang sering ditemukan di AS dan tenar dengan sebutan 'bath salt'. Bath Salt dijual dalam bentuk bubuk yang dikemas dalam plastik atau aluminium foil berukuran 200 mg dan 500 mg. Penyalahgunaannya dilakukan dengan cara dihirup, dirokok, ditelan, atau dimasukkan dalam larutan lalu disuntikkan ke pembuluh darah. Orang-orang yang menyalahgunakan zat ini mengalami agitasi, insomnia, lekas marah, pusing, depresi, paranoia, delusi, muncul keinginan bunuh diri, kejang dan panik. Penggunanya juga mengaku mengalami gangguan persepsi, berkurang kontrol motoriknya dan sulit berpikir jernih. Turunan Chatinone bertindak sebagai stimulan sistem saraf pusat yang menyebabkan percepatam denyut jantung yang cepat dan dapat menyebabkan serangan jantung maupun stroke. Terkadang juga disertai, sakit dada, mimisan, berkeringat, mual dan muntah. Seperti dikutip dari laman getsmartaboutdrugs.com, Selasa (29/1/2013), senyawa turunan Chatinone memiliki efek yang sama dengan amfetamin, kokain dan LSD. Sayangnya, dampak overdosis dari obat ini masih belum diketahui. Zat ini pernah dipasarkan di AS dengan label peringatan 'tidak dimaksudkan untuk konsumsi manusia'. Sejak tahun 2011, AS mengeluarkan peraturan untuk mengontrol zat yang digunakan untuk meracik bath salt, hampir kesemuanya adalah turunan Chatinone. Membuat, memiliki dan menjual bahan turunan Chatinone adalah ilegal, kecuali jika diizinkan oleh hukum. Tindakan ini dilakukan untuk mencegah ancaman terhadap keselamatan publik. Zat ini dimasukkan dalam kategori Schedule 1, yaitu zat yang berpotensi tinggi disalahgunakan, tidak bermanfaat untuk pengobatan dan kurang aman digunakan tanpa pengawasan medis. Bahan kimia turunan Chatinone sampai kini diyakini masih diproduksi di Cina dan India dan banyak dijual ke Eropa Timur. Banyak negara telah melarang produk ini.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Jan 30, 2013 9:11 am

BNN: CATHINONE LEBIH BERBAHAYA DARI SABU SABU
Antara – Kam, 31 Jan 2013 TRIBUNnews.com
Jakarta (ANTARA) - Staf Ahli Kimia Farmasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Mufti Djusnir mengatakan, efek samping menggunakan cathinone lebih berbahaya dari sabu-sabu maupun ekstasi sehingga perlu diwaspadai peredarannya. "Efek samping menggunakan cathinone lebih dahsyat dari sabu-sabu maupun ekstasi yang struktur dasarnya adalah MDMA yakni 3,4 methylene dioxy methacathinone," kata Mufti di Jakarta, Kamis. Cathinone sebenarnya bukan barang baru dan jauh lebih awal diketemukan oleh ahli di Eropa. Namun karena bahaya daripada golongan cathinone lebih besar, sehingga orang beralih dan keluar zat baru amphetamin derivat, katanya. "Jadi kalau cathinone dari alam kemudian diisolasi, misalnya kita lihat kalau disubstitusi senyawa dasar cathinone itu gugusnya dengan gugus methil maka cathinone berubah menjadi metcathinone," kata Mufti. Bahaya dari zat tersebut mengalami psikoaktif, siapapun yang menggunakan tanpa takaran jelas menyebabkan overdosis menyebabkan kejang, keram dam berakhir dengan kematian, katanya. Hal ini, terkait dengan pengerebekan BNN yang dilakukan di rumah artis Raffi Ahmad di kawasan Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Minggu (27/1). Pada pengerebekan itu, BNN mengamankan 17 orang termasuk artis Raffi, Zaskia Sungkar, Irwansyah dan Wanda Hamidah. Saat ini, BNN telah memulangkan sembilan orang karena hasilnya negatif, sementara delapan orang masih diperpanjang waktu penyidikannya 3x24 jam termasuk Raffi. Lima orang yang menggunakan campuran ganja, ekstasi dan cathinone yakni K, N, MF, W, J dan yang murni gunakan zat turunan cathinone adalah Raffi dan RJ. Sedangkan yang negatif tapi masih ditahan adalah UW. (ar)


Last edited by gitahafas on Sun Feb 03, 2013 7:24 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Jan 30, 2013 9:51 am

"CATHINONE", STIMULAN YANG MIRIP EKSTASI
Penulis : Dr. Andri, Sp.KJ | Selasa, 29 Januari 2013 | 14:41 WIB
KOMPAS.com — Kasus penyalahgunaan narkotika yang melibatkan artis memang bukan hal yang baru di Indonesia. Baik artis senior maupun yang baru merintis karier mempunyai masalah dengan barang yang bekerja pada sistem saraf otak ini. Kejadian ini berulang kembali setelah artis papan atas Raffi Ahmad dan beberapa rekannya digerebek di rumahnya. Narkotika yang awalnya dikatakan sejenis ekstasi (MDMA) itu ditemukan bersama lintingan ganja di sana. Belakangan ternyata diketahui bahwa jenis narkotika yang ditemukan ini bukan ekstasi biasa, melainkan merupakan senyawa turunan cathinone. Saya akan mencoba membahas apa itu cathinone dengan rujukan dari National Institute of Drug Abuse dan European Monitoring Center for Drugs and Drugs Addiction.

"Cathinone" dalam garam mandi
Istilah bath salt atau garam mandi mengacu pada sebuah keluarga dari obat yang mengandung satu atau lebih bahan kimia sintetis yang berhubungan dengan cathinone, stimulan seperti amphetamine yang ditemukan secara alami di tanaman Khat (sejenis tanaman narkotika). Laporan yang berhubungan dengan intoksikasi berat dan efek kesehatan yang berbahaya akibat penggunaan cathinone telah membuat zat ini menjadi masalah kesehatan yang serius. Cathinone sintetis dapat menimbulkan euforia dan "keramahan" yang meningkat serta dorongan seksual. Tetapi berdasarkan pengalaman pengguna, zat ini juga menimbulkan paranoia, agitasi, delirium, dan halusinasi sampai gejala psikotik, bahkan perilaku kekerasan. Kematian akibat obat ini telah dilaporkan dalam beberapa kasus.

Dipasarkan dengan nama lain
Produk cathinone sintetis dipasarkan sebagai bath salt atau garam mandi untuk menghindari deteksi oleh pihak berwenang. Pembeli garam mandi tidak harus bingung dengan produk-produk seperti garam Epsom yang dijual untuk meningkatkan pengalaman mandi. Garam mandi biasanya berbentuk bubuk kristal putih atau coklat dan dijual dalam paket plastik atau foil kecil yang berlabel "bukan untuk konsumsi manusia". Kadang-kadang juga dipasarkan sebagai "makanan tanaman"—atau, baru-baru ini, sebagai "pembersih perhiasan" atau "pembersih layar ponsel". Zat ini dijual secara online dan di toko-toko obat perlengkapan di bawah berbagai nama merek, seperti Ivory Wave, Bloom, Cloud Nine, Lunar Wave, Vanilla Sky, White Lightning, dan Scarface.

Bagaimana "cathinone" disalahgunakan?
Cathinone yang terkandung dalam garam mandi biasanya digunakan secara oral, dihirup, atau disuntikkan. Efeknya tentu sebagai stimulan yang diharapkan meningkatkan rasa gembira, percaya diri, dan keinginan seksual yang tinggi. Cathinone sintetis yang umum ditemukan pada garam mandi termasuk methylenedioxypyrovalerone (MDPV), mephedrone, dan methylone. Banyak yang masih belum diketahui tentang bagaimana zat ini memengaruhi otak manusia dan masing-masing mungkin memiliki sifat yang agak berbeda. Secara kimiawi, zat ini mirip dengan amphetamine (seperti methamphetamine) serta MDMA (ekstasi). Efek peningkatan energi dan sering gelisah dilaporkan pada mereka yang menggunakan cathinone secara konsisten dengan obat lain seperti amphetamine dan kokain yang meningkatkan kandungan zat kimia otak dopamin dalam sirkuit otak yang mengatur reward dan gerakan. Lonjakan dopamin di sirkuit ini menyebabkan perasaan euforia dan peningkatan aktivitas. Gelombang serupa zat kimiawi otak norepinefrin dapat meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Sebuah penelitian baru menemukan bahwa MDPV, cathinone sintetis yang paling umum ditemukan dalam darah dan urine pasien unit gawat darurat setelah konsumsi garam mandi, meningkatkan dopamin di otak dengan cara yang sama seperti kokain, tetapi setidaknya 10 kali lebih kuat. Efek halusinasi sering dilaporkan pada pengguna garam mandi konsisten dengan obat lain seperti MDMA atau LSD yang meningkatkan kadar neurotransmitter lain, yaitu serotonin. Pada sebuah analisis baru-baru ini tentang efek obat ini terhadap tikus, mephedrone dan methylone menunjukkan bahwa obat ini meningkatkan kadar serotonin dalam cara yang mirip dengan MDMA.

Ancaman yang berkembang
Ketika garam mandi muncul pada akhir dekade terakhir, zat ini dengan cepat mendapatkan popularitas di AS dan Eropa. Pada bulan Oktober 2011, US Drug Enforcement Administration menempatkan tiga cathinone sintetis umum di bawah larangan darurat sambil menunggu penyelidikan lebih lanjut. Cathinone telah dihubungkan dengan lonjakan drastis ke unit gawat darurat dan pusat kendali racun di Amerika. Reaksi yang dilaporkan oleh mereka yang membutuhkan perhatian medis setelah menggunakan garam mandi, di antaranya adalah gejala jantung (seperti jantung berdegup kencang, tekanan darah tinggi, dan nyeri dada) serta gejala kejiwaan, termasuk paranoia, halusinasi, dan serangan panik. Pasien dengan sindrom yang dikenal sebagai "delirium tipe agitatif" karena penggunaan garam mandi juga mungkin mengalami dehidrasi, hancurnya jaringan otot rangka, dan gagal ginjal. Keracunan cathinone sintetis, antara lain MDPV, mephedrone, methedrone, dan butylone, telah terbukti fatal pada beberapa kasus. Indikasi awal adalah cathinone sintetis memiliki efek yang keras dan potensi menyebabkan kecanduan. Pengguna cathinone telah melaporkan bahwa obat ini memicu hasrat yang intens (atau dorongan kompulsif untuk menggunakan obat lagi) dan bahwa zat ini sangat adiktif. Konsumsi yang sering menyebabkan toleransi, ketergantungan, dan gejala penarikan yang kuat ketika tidak lagi mengonsumsinya. Bahaya garam mandi yang mengandung cathinone diperparah oleh kenyataan bahwa produk ini dapat mengandung zat lainnya, bahan-bahan yang tak diketahui yang mungkin memiliki efek merugikan. Semoga apa yang dituliskan ini bisa membantu kita untuk memahami bahwa obat ini memiliki potensi merusak yang luar biasa jika tidak segera ditangani. Semoga bermanfaat.

Salam sehat jiwa.
Dr Andri, SpKJ
Psikiater
Back to top Go down
 
Mengenal Narkoba
View previous topic View next topic Back to top 
Page 7 of 10Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
 Similar topics
-
» mengenal imam tirmidzi
» mengenal rukun islam
» mengenal syiah ismailiyah
» mengenal Allah
» Ga Cuma Daging Babi, Narkoba Juga Halal

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: