Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Mengenal Narkoba

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 10, 2012 2:28 pm

JERAT HUKUM BAGI PENGGUNA NARKOBA
Rabu, 05 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional.
SERING kita mendengar pengedar dan pemakai narkoba tertangkap basah oleh pihak kepolisian. Namun apa dan bagaimana ketentuan hukum untuk pengguna dan pemakainya, tentu bagi masyarakat awam kurang begitu mengetahuinya. Berikut ini adalah beberapa peraturan yang dibuat pemerintah melalui Undang-undang yang berlaku:

Pasal 111, untuk penanam (ganja) dan pemproduksi Narkotika Golongan I:
1. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800.000.000, 00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 8.000.000.000,00 (delapan milyar rupiah).
2. Dalam hal perbuatan menanam, memelihara, memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan Narkotika Golongan I dalam bentuk tanaman sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 1 (satu) kilogram atau melebihi 5 (lima) batang pohon, pelaku dipidana dengan pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 114, untuk seseorang yang menawarkan Narkotika Golongan II:
1. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima, menyerahkan Narkotika Golognan II, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 4 (empat) tahun dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 800.000.000,00 (delapan ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 8.000.000.000,00 (delapan milyar rupiah).
2. Dalam hal perbuatan menawarkan untuk dijual, menjual, membeli, menerima , menjadi perantara dalam jual beli, menukar, atau menyerahkan Narkotika Golongan II sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram, pelaku dipidana dengan pidana mati,pidana penjara 5 (lima) tahun dan paling lama 20 (dua puluh) tahun dan (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 125 untuk kurir yang membawa Narkotika Golongan III:
1. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan III, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 2 (dua) tahun dan paling lama 7 (tujuh) tahun dan pidana paling sedikit Rp 400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 3.000.000.000,00 (tiga milyar rupiah).
2. Dalam hal perbuatan membawa, mengirim, mengangkut, atau mentransito Narkotika Golongan III sebagaimana dimaksud pada ayat (1) beratnya melebihi 5 (lima) gram maka pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 126 untuk seseorang yang mengonsumsi Narkotika Golongan III:
1. Setiap orang yang tanpa hak atau melawan hukum menggunakan Narkotika Golongan III terhadap orang lain atau memberikan Narkotika Golognan III untuk digunakan orang lain, dipidana, dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan pidana paling sedikit Rp 600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp 5.000.000.000,00 (lima milyar rupiah).
2. Dalam hal penggunaan Narkotika terhadap orang lain atau pemberian Narkotika Golongan III untuk digunakan orang lain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan orang lain mati atau cacat permanen, pelaku dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda maksimum sebagaimana dimaksud pada ayat (1) ditambah 1/3 (sepertiga).

Pasal 127 mengenai penyalahgunaan Narkotika:
1. Setiap penyalahguna:
a. Narkotika Golongan I bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 4 (empat) tahun.
b. Narkotika Golongan II bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua ) tahun.
c. Narkotika Golongan III bagi diri sendiri dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun.
2. Dalam memutus perkara sebagaimana dimaksud pada ayat (1), hakim wajib memperhatikan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 54, Pasal 55, dan

Pasal 103.
3. Dalam hal penyalahgunaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dibuktikan atau terbukti sebagai korban penyalahgunaan Narkotika, orang yang melakukannya wajib menjalani rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.

Selain hukuman untuk pembuat, pengedar dan pengguna Narkotika, Pemerintah juga membuat batasan tertentu untuk melakukan rehabilitasi bagi seseorang yang telah menajadi pecandu. Beberapa ketentuan tersebut terdapat dalam Peraturan pemerintah Republik Indonesia nomor 25 tahun 2011, tentang Pelaksanaan Wajib Lapor Pecandu Narkotika:

Pasal 1
Ayat 1. Wajib lapor adalah kegiatan melaporkan diri yang dilakukan oleh pecandu narkotika yang telah cukup umur atau keluarganya, dan / atau orang tua atau wali dari pecandu narkotika yang belum cukup umur kepada institusi penerima wajib lapor untuk mendapatkan pengobatan dan/atau perawatan melalui rehabilitasi medis dan rehabilitasi sosial.
Ayat 3. Pecandu Narkotika adalah orang yang menggunakan atau menyalahgunakan Narkotika dan dalam keadaan ketergantungan pada Narkotika, baik secara fisik maupun psikis.
Ayat 4. Korban penyalahgunaa Narkotika adalah seseorang yang tidak sengaja menggunakan Narkotika karena dibujuk, diperdaya, ditipu, dipaksa, dan/ atau diancam untuk menggunakan Narkotika.
Ayat 5. Ketergantungan Narkotika adalah kondisi yang ditandai oleh dorongan untuk menggunakan Narkotika secara terus menerus dengan takaran yang meningkat agar menghasilkan efek yang sama dan apabila penggunaannya dikurangi dan/ atau dihentikan secara tiba-tiba menimbulkan gejala fisik dan psikis yang khas.
Ayat 6. Rehabilitasi Medis adalah suatu proses kegiatan pengobatan secara terpadu untuk membebaskan pecandu dari ketergantungan Narkotika.
Ayat 7. Rehabilitasi Sosial adalah suatu proses kegiatan pemulihan secara terpadu, baik fisik, mental maupun sosial, agar mantan Pecandu Narkotika dapat kembali melaksanakan fungsi sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Ayat 8. Keluarga adalah orang yang mempunyai hubungan darah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah dan garis menyamping sampai derajat kesatu.
Ayat 9. Pecandu Narkotika belum cukup umur adalah seseorang yang dinyatakan sebagai Pecandu Narkotika dan belum mencapai umur 18 (delapan belas) tahun dan/ atau belum menikah.
Ayat 10. Menteri adalah menteri yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan.
Ayat 11. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua terhadap anak.

Pasal 13, mengenai Rehabilitasi bagi pecandu Narkotika:
1. Pecandu Narkotika yang telah melaksanakan Wajib Lapor sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Wajib menjalani rehabilitasi medis dan / atau rehabilitasi sosial sesuai dengan rencana rehabilitasi sebagaimana dimasud dalam Pasal 9 ayat (2) tentang hasil tes yang bersifat rahasia.
2. Kewajiban menjalani rehabilitasi medis dan/ atau rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berlaku juga bagi Pecandu Narkotika yang diperintahkan berdasarkan;
a. putusan pengadilan jiag Pecandu Narkotika terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika.
b. penetapan pengadilan jika Pecandu Narkotika tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana Narkotika.
3. Pecandu Narkotika yang sedang menjalani proses peradilan dapat ditempatkan dalam lembaga rehabilitasi medis dan / atau rehabilitasi sosial.
4. Penempatan dalam lembaga rehabilitasi medis dan/ atau rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) merupakan kewenangan penyidik, penuntut umum, atau hakim sesuai dengan tingkat pemeriksaan setelah mendapatkan rekomendasi dari Tim Dokter.
5. Ketentuan penempatan dalam lembaga rehabilitasi medis dan / atau rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga bagi Korban Penyalahgunaan Narkotika.
6. Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan penempatan dalam lembaga rehabilitasi sosial sebagaimana dimaksud pada ayat (3), ayat (4), dan ayat (5) diatur oleh Menteri setelah berkoordinasi dengan instansi terkait.

Penggolongan 3 tingkat narkotika:
A. Narkotika Golongan I
- Narkotika yang sangat berbahaya daya adiktifnya sangat tinggi dan hanya untuk pengembangan ilmu pengatahuan saja.
- Contoh: Ganja, Heroin, Kokain, dan Opium
B. Narkotika Golongan II
- Memiliki daya adiktif yang kuat, tetapi berguna dalam ilmu pengobatan dan terapi
- Contoh: Morfin, Benzetidin, Betametadol dan Petidin.
C. Narkotika Golongan III
- Memiliki daya adiktif yang kurang begitu kuat dan potensi ketergantungannya ringan sehingga banyak digunaka untuk terapi dalam ranah medis.
- Contoh: Codein, Metadon, dan Naltrexon.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Sep 11, 2012 11:13 am

MENGENAL KAMBUH ATAU RELAPSE BAGIAN 1
Media Indonesia - Selasa 11 September 2012 Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
KAMBUH atau biasa disebut dengan relapse merupakan kondisi dimana terjadi kembali pola mengkonsumsi narkoba (adiksi) dimana pemakainya melakukannya secara rutin. Relapse sendiri merupakan tantangan terberat bagi pengguna yang menjalani pemulihan jangka panjang. Walaupun si pengguna telah sembuh dari ketergantungan, namun sugesti atau dorongan untuk menggunakan narkoba kembali masih akan tetap terasa dan itu akan selalu terbayang didalam pikiran si pengguna. Hal semacam ini bisa timbul secara mendadak dan sulit dikendalikan, bisa dipicu juga bila kondisi pikiran dan mental si mantan pengguna sedang kacau. Kondisi ini tentu akan mengacaukan apa yang telah diperjuangkan selama ini, usaha untuk pulih yang telah lama dijalankan bisa hancur seketika saat gejala relapse ini kembali muncul dalam diri si pengguna. Banyak yang berpendapat kalau kambuh atau relapse ini merupakan bagian dari penyakit ketergantungan, dan benar saja kalau sugesti untuk kambuh ini adalah suatu penyakit yang tak bisa lepas dari penyakit ketergantungan. Kambuh atau relapse ini sendiri merupakan hal yang wajar terjadi didalam ketergantungan jenis narkoba apapun. Namun tanda-tanda seseorang mulai kambuh ini mudahlah dikenali, sehingga mantan penyalahguna dan keluarganya dapat mencermatinya secara bijaksana. Pada dasarnya penyebab utama mantan penyalahguna narkoba ini memenggunakan narkoba kembali adalah karena lemahnya pendirian dan keteguhan hati seseorang. Banyak mantan penyalahguna narkoba mengakui kalau mereka banyak mulai kembali mencoba narkoba adalah karena:

1. Rasa frustasi yang ada dalam diri sendiri. Ketidakmampuan diri untuk menerima keadaan pasca enjadi penyalahguna narkoba membuat orang yang bersangkutan menjadi sulit menerima dirinya sendiri dan pada akhirnya menjadi stress dan frustasi akan nasib dirinya kedepan.
2. Rasa depresi yang melanda setelah didera rasa frustasi yang datang secara terus menerus.
3. Rendah diri, menganggap diri sendiri sudah tidak ada gunanya lagi untuk melanjutkan hidupnya. Semua yang ada didalam hidupnya serasa telah hilang dan keberadaannya sendiri sudah tidak diakui lagi oleh sekitarnya.
4. Nostalgia akan masa dimana saat menggunakan narkoba. Disaat pikiran kacau atau emosi sedang labil si mantan penyalahguna akan teringkat kembali momen-monen menyenangkan saat dia masih mengkonsumsi narkoba. bagaimana narkoba dapat menghilangkan beban pikiran dan masalahnya dalam sekejap. Pemikiran yang rindu akan kesenenangan itu yang memicu diri untuk mencoba kembali apa yg disebut narkoba.
5. Tidak mengikuti program-program yang berkenaan dengan proses pemulihan narkoba. biar bagaimanapun proses pemulihan penyalahgunaan narkoba tidak bisa hanya dilakukan oleh diri sendiri dan keluarga, butuh saran dan bantuan dari pihak luar. Karena itulah dibentuk semacam program-program yang nantinya akan banyak membantu korban dan keluarganya dalam setiap proses pemulihan tersebut.
6. Ikut program pemulihan tersebut namun tidak rutin dalam menjalaninya. Untuk dapat pulih seperti sediakala tentunya semua hal yang telah disusun demi kelancaran proses pemulihan harus dilakukan seluruhnya, tidak boleh setengah-setengah apalagi sampai lalai melakukannya.
7. Merasa puas diri karena dia telah merasa bebas sehingga tak pelu lagi menjalani program yang dianggapnya merepotkan itu.

Mantan penyalahguna narkoba juga kerap mengabaikan orang-orang disekelilingnya yang setia mendampinginnya selama ia menjalani proses pemulihan. Ia akan mulai sombong karena merasa berkat dirinya sendirilah dia bisa bebas dari jerat dan pengaruh narkoba. Perlahan ia mulai melupakan orang-orang yang berjasa pada dirinya dan mulai tercipta sifat serakah dalam dirinya diakibatkan perasaan tinggi hati tersebut. Rasa serakah ini yang nantinya bisa membawanya kembali kedalam jurang penyalahgunaan narkoba.

Ada berbagai faktor yang memungkinkan terjadinya kambuh atau relapse ini:

1. Kurang bisa menerima kenyataan kalau ketergantungan narkoba ialah sebuah penyakit. Ini merupakan faktor yang paling mendasar karena fakta kalau ketergantungan narkoba merupakan penyakit berbahaya adalah hal yang tidak bisa disangkal lagi. Si penyalahguna harus siap mempersiapkan dirinya untuk bisa menerima segala resiko yang akan timbul akibat perilakunya mengkonsumsi narkoba.

2. Penyangkalan dalam dirinya bahwa dia sudah sepernuhnya bebas dari narkoba ini harus diwaspadai. Terkadang mantan penyalahguna ini tidak percaya kalau dia bisa bertingkah diluar kendalinya. Ia juga akan merasa yakin dan bisa berpikir jernih bila nanti mulai menggunakan narkoba lagi ia tidak akan membahayakan dirinya sepanjang pemakaiannya berhati-hati. Mungkin mereka mengacu dari pengalaman sebelumnya sehingga mereka bosa berpikir kalau mereka tidak akan terjatuh kedalam kesalahan yang sama walaupun nanti dia akan menggunakan narkoba kembali. Tentu pemikiran ini yang harus disingkirkan, karena biar bagaimanapun menyalahgunakan narkoba itu sangatlah berbahaya.

3. Adanya ketidakjujuran dalam diri. Si mantan penyalahguna akan sulit membedakan antara realita kehidupan yang dijalaninya dengan emosi yang terjadi dalam dirinya. Ia akan menyangkal apa saja yang saat ini sedang terjadi dalam dirinya, seperti pemahaman kalau menggunakan narkoba itu berbahaya atau kenyataan kalau ia ingin lari dari masalah dengan menggunakan narkoba.

4. Tidak berfungsinya kembali keluarga. Bila keluarga sudah tidak dapat lagi dijadikan tempat bagi si mantan penyalahguna untuk bisa menumpahkan segala permasalahan , persoalan atau keluh kesah maka ini perlu diwaspadai. Orang tua yang tidak lagi berperan sebagai panutan keluarga dan kurang meberikan kasih sayang tentu menjadi alasan yang sangat bagus bagi si mantan penyalahguna untuk mengalihkan perhatiannya ke narkoba lagi.

5. Kurangnya mendapat siraman rohani keagamaan. Nilai dan kenyakinan bahwa ada Sang Pencipta yang Maha Kuasa yang akan mengabulkan permohonan hamba-Nya untuk mengatasi permasalahan narkoba ini tentu akan menambah keyakinan dalam diri si mantan penyalahguna narkoba untuk bisa dapat pulih secepatnya. Keyakinan akan pertolongan dari Sang Pencipta inilah yang harus ditanamkan didalam kehidupan sehari terutama untuk mereka para mantan pneyalahguna, kalau Tuhan pasti akan membantu mereka untuk lepas dari jerat narkoba.

6. Stres yang terjadi didalam diri. Bila si mantan penyalahguna mengalami kelelahan baik itu kelelahan fisik ataupun kelelahan mental tentu akan membuatnya mudah mengalami perubahan emosi secara tiba-tiba yang akan mengakibatkan diirnya mudah marah yang pada akhirnya akan membuatnya tergoda kembali untuk menggunakan narkoba.

7. Mengasingkan diri sendiri. Tindakan mengisolasi diri dari pergaulan ini bisa dikenali dari bagaimana si mantan penyalahguna menarik dirinya dari pergaulan dengan sesama dan dunia luarnya. Dia mulai berpikir kalau hanya sendirian didunia ini dan mulai merasa kesepian. Merasa tidak mempunyai teman sama sekali yang dapat menolongnya keluar dari permasalahan yang sedang dihadapinya yang pada akhirnya akan membuatnya hilang harapan untuk kembali pulih dari ketergantungan narkoba ini.

8. Sindrom hari istimewa, maksudnya ialah mengenang kembali hari-hari yang berkesan dalam hidupnya seperti hari ulang tahun atau hari kelulusan dirinya yang merupakan hari istimewa dalam hidupnya. Putaran ingatan akan hari istimewa ini tentu juga akan membuatnya kembali mengingat masa-masa terdahulu dimana ia juga pernah mendapatkan kesenangan dari menggunakan narkoba, tentu ini bisa jadi semacam sugesti untuk kembali kepada penggunaan narkoba.

9. Terlalu percaya kepada diri sendiri. Menganggap kalau dapat mengendalikan dirinya saat timbul keinginan untuk mencoba kembali narkoba yang justru akan menjadi bumerang bagi dirinya sendiri dikarenakan efek sugesti yang ditimbulkan dalam pikiran bisa menutupi pikiran rasional di diri si mantan penyalahguna.

10. Faktor teman dan lingkungan komunitas. Kembali kepada teman-teman lama yang dulu sempat bersama-sama menggunakan narkoba tentu sangat mungkin terjadi. Kondisi sosail untuk melakukan interaksi dengan teman sebaya dan keinginan untuk bisa diterima kembali didalam suatu komunitas tentu bisa menjadi faktor dominan yang akan membawa si mantan penyalahguna untuk menggunakan kembali narkoba. Teman lama ini akan sangat besar pengaruhnya karena bisa membuat seseorang mengingat kembali apa yang sudah mereka lakukan bersama di masa lalu, termasuk saat dimana mereka menggunakan narkoba bersama. Karena itu berhati-hatilah memilih pergaulan, pilihlah teman yang hanya akan membawamu kepada kebaikan semata.

11. Sering menyalahkan masa lalu. Mengingat kembali apa yang sudah terjadi sebelumnya, kenapa ia bisa sampai terjerumus kedalam penyalahgunaan narkoba hingga akhirnya ia kaan merasa bersalah pada dirinya sendiri. Mantan penyalahguna narkoba ini harus disadarkan dan diyakinkan kalau ia tidak perlu meyalahkan masa lalu apalagi sampai menyalahkan dirinya sendiri.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Sep 12, 2012 11:12 am

MENGENAL KAMBUH ATAU RELAPS BAGIAN 2
Rabu, 12 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
ADA beberapa tanda yang memperlihatkan seorang mantan penyalahguna mengalami gejala kambuh ini. Untuk dapat mendeteksi secara dini tanda-tanda tersebut, diharapkan mantan penyalahguna melakukan pemeriksaan dan pengecekan secara rutin selama seminggu sekali agar dapat memastikan tanda-tanda berikut tidak muncul dalam diri si mantan penyalah guna tersebut. Tanda-tandanya adalah:

1. Adanya rasa enggan pada dirinya.
Mantan penyalahguna ini sering arah, kesal dan menolak segala sesuatu yang tidak sesuai dengan dirinya. Dia hanya mau menerima dan melakukan apa yang dapat menyenangkan dirinya. Bila tidak sesuai dengan kemauannya dia akan mempelihatkan emosi yang berlebihan bahkan cenderung akan mulai melakukan perbuatan yang akan menyakiti dirinya sendiri serta orang lain. Bila gejala seperti ini mulai terasa, mantan penyalahguna harus sudah mulai menghubungi orang yang dapat dipercaya untuk menangani hal tersebut, terutama orang yang dapat menenangkan hati sehingga bisa melepaskan diri dari perasaan yang tidak membuatnya nyaman tersebut.

2.Adanya rasa gerah akan kehidupan ini.
Mantan penyalahguna akan merasa kehilangan semangat dan gairah untuk melanjutkan hidup, ia akan merasa gerah dikarenakan rasa lelah dalam dirinya yang muncul akibat pikiran yang tidak menentu karena tidak tahu apa yang harus dia lakukan untuk masa depannya nanti. Ia akan berpikir bahwa kehidupannya malah semakin memburuk, tidak ada perbaikan yang berarti selama proses pemulihannya ini, akibatnya ia akan mulai berpikir kalau memakai narkoba lagi tentu tidak akan membawa pengaruh apa-apa lagi, tidak akan memperburuk keadaanya karena ia sendiri telah putus asa dengan kelanjutan hidupnya. Inilah yang akan menyebabkan dirinya mengalami relapse.

3. Tidak jujur dalam proses pemulihan ini.
Mantan penyalahguna kerap berbohong mengenai apa yang terjadi didalam dirinya selama menjalani kehidupannya pasca pemulihan ini. Dimulai dengan bohong kecil kepada orang tua atau teman-temannya hingga akhirnya ia akan mulai membohongi dirinya sendiri mengenai keadaan dirinya. Perbuatan yang dilakukannya ini kerap disebut dengan “rasionalisasi” yakni dalih untuk melakukan hal-hal yang tidak boleh dilakukan kembali, dalam hal ini mengkonsumsi narkoba kembali.

4. Tidak sabaran dan tak dapat menahan dirinya.
Segala sesuatu yang diinginkannya harus terjadi dengan cepat tanpa harus membuatnya menunggu. Dia tidak akan bisa menerima hal yang dikerjakan lama yang mengharuskan dirinya untuk menunggu begitu lama.

5. Suka mendebat apa yang disampaikan kepada dirinya.
Mantan penyalahguna kerap suka mengadu pikiran dan pendapat. Mereka sering mempertanyakan hal-hal yang mereka anggap penting padahal itu merupakan hal sepele dan biasa terjadi. Memperdebatkan tentang siapa yang benar dan salah hingga pada akhirnya dia akan menemukan suatu alasan yang tepat dan benar untuk dapat menggunakan narkoba kembali.

6. Adanya perasaan marah yang menggebu dan emosi untuk menantang.
Mantan penyalahguna suka berontak dan berang bila sedang ada permasalahan didalam dirinya. Ia akan mulai memarahi siapa saja terutama orang-orang yang tidak pernah terlibat dengan narkoba dan memiliki kehidupan yang begitu mudah. Ia marah karena merasa hidupnya seperti itu saja, tidak ada perkembangan berarti selama proses pemulihan ini. Ekspresi kemarahan ini bila dibiarkan tanpa ada pengendalian tentu akan sangat berbahaya, diperlukan pembicaraan dalam suatu pertemuan supaya terbuka dengan jelas apa saja permasalahan yang sedang dihadapi oleh mantan penyalahguna tersebut.

7. Rasa depresi yang menghinggapinya.
Mantan penyalahguna akan merasa begitu sedih, merasa tertekan batinnya dan menghadapi kesepian yang teramat sangat dalam hidupnya. Rasa putus asa seperti ini tentu membawa pemikiran kalau dia ingin kembali kepada kehidupan menyenangkan dahulu sewaktu dia masih mengkonsumsi narkoba.

8. Rasa frustasi kerap menghampiri mantan penyalahguna narkoba. Ia sering merasa kecewa dan gagal dalam menjalani kehidupannya ini.
Apa yang sudah dan akan dilakukannya seolah tidak berarti karena banyaknya rintangan yang menghalangi sewaktu ia melakukannya. Tentu ini akan menimbulkan rasa kekecewaan yang teramat besar dalam dirinya karena seberapa kerasnya dia berusaha untuk memperbaiki kehidupannya itu ternyata tidak ada hasilnya yang akan membuatnya merasa frustasi dan berpikir untuk kembali mencoba narkoba agar rasa frustasi dan kecewa dalam dirinnya menghilang.

9. Rasa penyesalan yang begitu dalam karena pernah menyalahgunakan narkoba tentu akan terus menghinggapi pikirannya.
Ia akan merasa kesal, marah dan sedih atas ketidakadilan yang menimpa dirinya sendiri. Selalu berpikir kenapa harus dia yang terjerumus dalam penyalahgunaan narkoba ini, Mengapa orang tidak menghargai usaha yang dilakukannya untuk melepaskan diri dari jerat narkoba ini hingga apa yang akan terjadi pada kelanjutan hidupnya nanti. Semua itu akan terus menghantui pikirannya yang pada akhirnya membuat dirinya untuk coba lari dari kenyataan hidup dengan kembali mengkonsumsi narkoba.

10. Bersikap sombong karena merasa dirinya telah mampu melewati ketergantungan narkoba ini seorang diri.
Membanggakan dirinya yang berhasil lepas dari jerat narkoba yang justru malah akan menjerumuskan dirinya sendiri. Ia akan merasa hebat dan yakin tidak akan terjerumus lagi ke dalam penyalahgunaan narkoba karena yakin pengalaman sebelumnya telah banyak membantu dirinya.

11. Merasa puas dan bebas dari segala hal setelah menjalani proses pemulihan ini.
Mantan penyalahguna narkoba ini akan merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dihiraukan sehingga melemahkan kewaspadaanya akan bahaya narkoba yang sewaktu-waktu bisa membuatnya kembali untuk mencobanya. Mengabaikan disiplin yang telah ditetapkan juga berbahaya, jangan karena semua berjalan lancar sesuai perkiraan, maka tingkat kewaspadaan dan disiplin si mantan penyalahguna menjadi sangat rendah.

12. Adanya harapan-harapan yang tidak realistis.
Mantan penyalahguna ini akan mulai menyamaratakan semua orang. Ia akan mulai menuntut hal yang bukan-bukan kepada orang lain seolah tidak puas atas apa yang telah diterimanya selama proses pemulihan ini. Ia juga beranggapan kalau dunia tidak wajib untuk menghormati orang yang bersih dari narkoba karena baginya semua orang itu sama.

13. Pola hidup yang tidak disiplin.
Mantan penyalahguna mulai hidup tanpa aturan dan kedisiplinan. Ia mulai bosan dengan segala perencanaan yang telah dibuat olehnya. Seharusnya mantan penyalahguna tak boleh bosan terhadap rencana tersebut karena rencana yang telah disusun itu merupakan program yang sesuai untuk dirinya dalam rangka melepaskan diri dari pengaruh narkoba dan antisipasi terhadap kemungkinan baginya untuk mencoba narkoba kembali.

14. Banyak akal dan suka mengada-ada.
Mantan penyalahguna ingin bebas dari segala macam tanggung jawab dan cara-cara yang wajar. Dalam pikiran mereka pula akan terlintas “selama dosis yang dia pakai kecil, tentu narkoba tidaklah berbahaya untuk saya” sehingga mereka akan mencari akal agar dapat menggunakan narkoba kembali.

15. Sifat yang ingin mendapatkan apa saja.
Mantan penyalahguna yang telah berhasil keluar dari jerat narkoba akan merasa ia berhak mendapatkan hadiah dari usahanya ini. Ia akan menuntut ini itu demi menuntaskan rasa penasarannya itu, tentu saja sifat yang berlebihan ini berbahaya karena bila kemauannya tak dituruti ia akan kembali kepada narkoba.

16. Tidak adanya rasa terima kasih karena telah dibantu, ia juga akan merasa tidak puas terhadap hal yang telah dilakukannya selama ini sehingga tidak mampu menerimanya secara ikhlas.

17. Mulai adanya pikiran-pikiran yang negatif dan keliru dalam dirinya.
Mantan penyalahguna tidak lagi melihat ada hal yang dapat mengancam dirinya. Ia akan mulai lepas kendali dan berbuat seenaknya yang berbuntut pada kelakuannya yang bisa membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.

18. Mantan penyalahguna merasa mereka dapat melakukan semua hal karena mereka telah berhasil melepaskan diri dari pengaruh narkoba.
Merasa diri paling mampu dan berkuasa sehingga ia akan mengabaikan saran dan pendapat dari orang lain, tentu ini akan membahayakan karena ia akan jadi merasa paling benar sendiri dan apa yang dilakukannya sudah tentu benar menurut versinya termasuk untuk kembali menggunakan narkoba.

19. Rasa bersalah dan malu karena telah menyalahgunakan narkoba.
Mantan penyalahguna memandang hal ini sebagai aib baik untuk diri mereka maupun untuk keluarga mereka. Pikiran negatif seperti ini bisa memicu dirinya untuk menggunakan narkoba kembali.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Sep 13, 2012 7:46 am

MENGENAL KAMBUH ATAU RELAPSE BAGIAN 3
Kamis, 13 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
UNTUK mengantisipasi bagaimana relapse terjadi, kita harus mengetahui terlebih dahulu tentang bagaimana proses timbulnya relapse. Proses ini merupakan rangkaian panjang yang saling berkaitan dan tidak terpisah antara yang satu dengan yang lainnya. Tahapaan atau proses terjadinya relapse dapat diidentifikasi, menurut Gorski and Miller (1986) ada sekitar 10 tahap yaitu:

1. Proses pertama yakni melakukan penolakan kembali. Pada tahap ini para mantan penyalahguna akan melakukan penolakan terhadap:
A. Perasaan dan keberadaan diri mereka sendiri
B. Penyalahguna akan mulai merasa kalau ia tidak membutuhkan yang namanya proses penyembuhan dan pemulihan lagi bagi kesembuhan dirinya.

2. Proses kedua yakni perilaku menghindar, dimana pada proses ini penyalahguna akan melakukan hal berikut:
A. Mulai tidak semangat untuk ikut hadir di dalam acara-acara yang bertujuan untuk kesembuhan dirinya. Akibatnya ia akan mangkir dan sering tidak datang ke acara tersebut.
B. Penyalahguna akan mulai berpikir kalau program penyembuhan seperti itu tidak ada guna bagi kesembuhan dirinya, ia juga akan berpikir kalau program semacam itu hanyalah buang-buang waktu saja tanpa ada hasil sama sekali.
C. Mulai kambuh kali kebiasan lama, kebiasaan buruk seperti yang ditunjukan sewaktu pertama kali menjalani proses penyembuhan dan pemulihan.

3. Proses ketiga yaitu membangun dan mengembangkan terjadinya krisis yang dapat dikenali dari gejala berikut:
A. Mantan penyalahguna ini mulai menutup diri dari pergaulannya. Ia akan mengisolasi dirinya dari lingkungan dan mulai merasa hidup seorang diri saja didunia ini tanpa ada yang memperdulikan keberadaanya.
B. Mulai melihat sesuatu hanya pada pandangan sempit, hanya berpikir yang buruk dan negatifnya saja. Ia tidak pernah berpikir kalau hal yang selama ini ditakutkannya itu masih memiliki sesuatu untuk diperjuangkan, tidak hanya disesali semata.
C. Mulai menganggap semua yang terjadi pada dirinya itu berjalan normal dan baik-baik saja. Ilusi yang ditimbulkan akibat rasa putus asa yang sudah terlanjur besar yang hinggap dalam dirinya sehingga menyebabkan ia merasa apa yg terjadi dalam dirinya hanyalah kejadian biasa padahal kenyataan yang sebenarnya berbeda.
D. Mulai berangan-angan, merencanakan hal-hal yang jauh dari kenyataan dan mempunyai keinginan yang jauh dari pemikiran sehat.

4. Proses keempat yaitu tidak ada perkembangan lebih lanjut dari kehidupannya sekarang (Immobilisasi) yang dapat dikenali dari gejala-gejala berikut ini:
A. Tingkat khayalan dan angan-angan yang semakin tinggi yang ada dalam pikiran si penyalahguna ini. mulai menggunakan kata-kata “seandainya saja” dalam setiap ucapannya.
B. Mulai berkhayal tentang kehidupan yang berbahagia, bagaimana mendapatkan kehidupan yang mudah dijalani bersama orang-orang yang disayanginya. Juga sudah mulai tidak mampu untuk mengidentifikasikan apa-apa saja yang mesti ia lakukan dalam mencapai kehidupan bahagia yang ia impikan itu, semua hanya sebatas khayalan saja.

5. Proses kelima yakni sering bingung dan adanya reaksi yang berlebihan dalam diri si penyalahguna, yang biasa ditandai dengan gejala:
A. Mudah tersinggung, perasaan akan menjadi sangat sensitif. Apa saja yang tidak berkenaan dengan dirinya akan membuat si penyalahguna merasa tidak nyaman dan mungkin saja membuat ia akan meluapkan emosinya dalam bentuk amarah.
B. Rasa sensitif itu akhirnya memberikan reaksi yang berlebihan terhadap hal-hal yang sebenarnya sepele. Bagi penyalahguna ia akan merasa puas apabila telah berhasil meluapkan emosi dan amarahnya tersebut.
C. Rasa marah ini terkadang akan menimbulkan rasa frustasi yang teramat dalam, yang bisa menyebabkan si penyalahguna berpikir untuk mendapatkan ketenangan kembali dengan cara memakai narkoba kembali.

6. Proses keenam yaitu proses depresi dimana si penyalahguna narkoba akan menunjukkan tanda-tanda sebagai berikut:
A. Rasa frustasi yang semakin besar akan memicu pikiran yang depresi sehingga timbul pikiran untuk segera menggunakan narkoba kembali atau bahkan ia akan berpikir untuk segera mengakhiri hidupnya saja.
B. Mulai tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa. Dengan pikiran yang kacau membuat keinginan untuk hidup juga semakin berkurang akibatnya ia akan jadi malas melakukan hal apapun dan lebih memilih untuk berdiam diri saja.
C. Terganggunya pola makan dan pola tidur. Mulai tidak teraturnya hal tersebut akan berdampak buruk pada kesehatan fisiknya yang bisa membuat tubuh si penyalahguna menjadi lemah akibat kekurangan gizi dan istirahat.

7. Proses ketujuh adalah perilaku yang lepas kendali dari si penyalahguna narkoba, biasanya akan terlihat gejala:
A. Mulai acuh tak acuh kepada lingkungan sekitar, bahkan pada dirinya sendiri. Ia sudah tidak peduli lagi akan hal yang akan menimpa dirinya atau orang lain, yang ada dalam pikirannya hanyalah ingin segera lepas dari penderitaannya ini.
B. Merasa tidak puas dengan segala hal. Apapun yang diberikan dan diterima oleh si penyalahguna tidak akan memuaskan dirinya. Baginya yang dapat memuaskan dirinya adalah dapat mengonsumsi narkoba kembali.

8. Proses ke delapan yaitu mengakui kalau perilakunya lepas kendali yang biasa ditunjukkan dengan gejala:
A. Mulai ada rasa penyesalan dalam dirinya dan meminta maaf kepada setiap orang yang telah dirugikan olehnya. Rasa penyesalan yang teramat dalam ini terkadang ditunjukan dengan cara yang negatif, bahkan cenderung melukai diri sendiri.
B. Sering menunjukkan perilaku yang seolah kalau dirinya itu patut untuk dikasihani, merasa dirinya sangat menderita sehingga dia mendapatkan banyak perhatian lebih dari anggota keluarga dan teman-temannya.
C. Merasa kalau si penyalahguna ini dapat menggunaan narkoba pada situasi yang dianggapnya spesial seperti hari ulang tahunnya sebagai wujud hadiah. Padahal ia menghadapi kenyataan kalau ia memiliki masalah yang banyak.

9. Proses kesembilan yakni pilihan yang dilakukan untuk mengurangi narkoba, si penyalahguna akan menunjukkan gejala seperti:
A. Makin sulit mengedalikan emosi, pikiran dan perasaanya. Saat ketiga hal tersebut sudah mulai kacau balau dalam diri si penyalahguna akan saat itulah pilihan terakhir yang akan membawanya lepas dari situasi menyedihkan ini adalah dengan mengkonsumsi narkoba.
B. Rasa kesepian dan kesendirian yang semakin menjadi juga mulai mendorong dia untuk kembali mencoba mendapatkan kehidupan yang pernah membawanya kepada kesenangan dunia yakni mengkonsumsi narkoba.
C. Merasa tidak ada lagi yang bisa membantunya untuk lepas dari jerat narkoba ini. rasa putus asa ini akan semakin besar yang akan berimbas kepada keputusannya untuk melanjutkan hidup dengan kembali mengkonsumsi narkoba.

10. Proses kesepuluh yaitu mengalami relapse atau kambuh yang akut dimana dalam proses ini si mantan penyalahguna akan:
A. Semakin merasa malu dan merasa bersalah. Perbuatannya yang telah menjadi aib bagi dirinya dan keluarganya itu semakin menambah beban berat ddi pundaknya sehingga membuatnya makin tenggelam dalam perasaan bersalah.
B. Mantan penyalahguna ini akan menyangkal kalau ia telah mengalami fase relapse ini. Dia akan membuat banyak alasan rasional untuk membuktikan kalau dirinya tidak sedang dalam kondisi relapse.
C. Dalam waktu yang singkat dia akan mulai memperlihatkan kembali bagaimana ia ketagihan akan narkoba seperti saat dulu ia pertama kali menyalahgunakan benda haram tersebut.

Bila sudah seperti itu relapse akan banyak menimbulkan dampak yang sangat besar bagi banyak pihak, dampak tersebut adalah:

1. Harapan yang telah dibangun sewaktu masa rehabilitasi akan hancur seketika. Usaha dan keinginan untuk sembuh yang telah dirajut bersama keluarga dan dijalani secara bersama menjadi sia-sia. Padahal telah banyak yang dikorbankan dalam proses rehabilitasi ini mulai dari bentuk materi yang jumlahnya tidak sedikit hingga perasaan anggota keluarga yang senantiasa menemani saat proses rehabilitasi ini. semua menjadi tak berguna akibat relapse ini.

2. Kejadian relapse ini bisa menyebabkan konflik didalam rumah. Masing-masing anggota keluarga akan saling menyalahkan satu sama lain karena telah membiarkan anggota keluarganya yang seharusnya sudah sembuh malah kembali memakai narkoba. peristiwa ini tentu saja akan membuat situasi dalam keluarga kembali tidak harmonis yang bisa berdampak kepada anggota keluarga lainnya, terutama untuk anak-anak.

3. Mantan penyalahguna yang relapse ini bisa dianggap tidak menghargai usaha dan jerih payah keluarga yang telah capek-capek membantu dia untuk sembuh kembali. Emosi yang meninggi yang saat itu sedang tidak terkontrol bisa menyebabkan keluarga gelap mata hingga akhirnya mengusir penyalahguna ini dari rumah.

4. Memakai kembali narkoba sebagai ajang untuk menuntaskan hasrat yang selama ini tertahan bisa membuat ia lupa diri hingga akhirnya memakai narkoba dalam jumlah yang berlebihan, akibatnya bisa fatal karena bisa menyebabkan ia mengalami Over Dosis (OD).

5. Kemungkinan untuk terjadi kerusakan pada sistem saraf pusat hingga terjadi perubahan emosi, perilaku, kesadaran atau depresi panca indra yang bisa berujung pada kematian.

Relapse ini sendiri sebenarnya dapat dicegah. Tahap yang harus dilakukan ntuk mencegah terjadinya relapse ini adalah:

1. Membantu mantan penyalahguna ini dengan cara memberikan informasi tentang relapse, tentang gejala-gejala awalnya hingga tentang bagaimana menanggulangi relapse ini.
2. Meningkatkan kegiatan yang bersifat positif dan produktif. Buatlah agar si mantan penyalahguna ini merasa dibutuhkan dalam kesibukkan barunya ini.
3. Aktif dalam kegiatan kemasyarakatan dan organisasi sosial. Dengan ikut dalam kegiatan seperti ini tentu akan menambah interaksi sosial si mantan penyalahguna dengan anggota masyarakat lainnya.
4. Bergaul dan mencari informasi seputar kehidupan pasca mengkonsumsi narkoba dari orang-orang yang telah sukses lepas dari jerat narkoba. bersama-sama aktif menggalakan tindakan untuk tidak menyalahgunakan narkoba.
5. Mengembangkan potensi yang ada didalam diri mantan penyalahguna. Membuatnya meiliki kemampuan baru akan meningkatkan rasa percaya dirinya dalam menghadapi kehidupan di masyarakat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Fri Sep 14, 2012 11:30 am

LANGKAH PERTAMA JIKA ADA KORBAN OVER DOSIS NARKOBA
JUM''AT, 14 SEPTEMBER 2012 | 06:01 WIB
TEMPO.CO , Surabaya: Jika Anda menemukan pengguna narkotika, alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (Napza) mengalami over dosis (OD), Ferri Zul dari tim advokasi Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) memberikan beberapa tips yang bisa Anda lakukan. "Prinsipnya jangan panik, harus tenang," ujar dia seusai memberikan pelatihan tata laksana penanganan over dosis di Hotel Fortuna Surabaya, Kamis petang, 13 September 2012. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah menghubungi ambulans pada 118 atau mencari kendaraan sendiri untuk membawa korban ke rumah sakit terdekat. Sambil menunggu ambulans, langkah yang harus dilakukan adalah dengan memastikan apakah korban masih sadar dengan cara melihat respons korban ketika dicubit. Juga harus dipastikan apakah korban masih bernapas dengan cara merasakan keluar masuknya udara dari hidung atau mulut. Yang penting juga dilakukan adalah membebaskan saluran pernapasan dari sumbatan misalnya buih yang keluar dari mulut korban atau bahkan lidah yang tertarik ke belakang kerongkongan. Jika kondisi korban mengeluarkan buih, maka harus dibaringkan dengan posisi tubuh miring. "Jangan telentang atau tengkurap karena buih akan menyumbat kerongkongan. Usahakan saluran pernapasan jangan sampai tersumbat buih, dengan memiringkan korban," ujarnya. Di kalangan pengguna Napza sendiri, ada mitos untuk menangani korban OD dengan meminumkan susu, serta menyuntikkan cairan garam untuk penetralisir racun. Selain itu juga ada mitos disiram dengan air untuk mempercepat siuman. "Semua mitos itu salah. Justru malah membahayakan korban. Minum susu malah dapat menyumbat saluran pernapasan," kata dia. Menurut Ferri, banyaknya kasus OD yang berujung pada kematian disebabkan karena pertolongan yang terlambat. Apalagi, asumsi negatif bagi pengguna napza menjadikan banyak masyarakat yang tanggung dalam memberikan pertolongan terhadap kasus OD. Padahal dalam Pasal 304 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana mengatakan barangsiapa yang menempatkan seseorang dalam kondisi sengsara padahal seseorang itu wajib mendapat perawatan medis, maka dapat diancam dengan hukuman penjara dua tahun. Selain itu pada Pasal 359 dijelaskan jika masyarakat membiarkan adanya korban OD yang berujung pada kematian, maka bisa dihukum dengan 5 lima tahun penjara.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Fri Sep 14, 2012 11:45 am

MENGENALKAN BAHAYA NARKOBA MELALUI GAME ONLINE
Jumat, 14 September 2012 07:00 WIB Media Idonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
MASALAH penyalahgunaan narkotika dan obat terlarang (Narkoba) kerap menghantui masyarakat Indonesia sejak beberapa dekade yang lalu. Banyaknya korban yang tewas akibat mengkonsumsi narkoba, dengan segala jenisnya termasuk ganja, shabu-shabu, heroin, pil inex dan yang lainnya. Menurut data yang dikeluarkan Badan Narkotika Nasional, atau biasa disebut BNN, sudah lebih dari ribuan orang tewas sia-sia akibat overdosis sejak tahun 1998. Belum lagi yang terhitung dirawat di panti rehabilitasi atau harus mendekam di penjara karena tertangkap tangan sedang menggunakan atau bertransaksi narkoba. Untuk itu, diperlukan peranan lebih lanjut yang intensif dari pihak keluarga, terutama Ayah dan Ibu, agar putra-putri mereka tidak tergoda dengan rayuan maut segala jenis narkoba. Sebab, dalam beberapa tahun terakhir, gencarnya penyalahgunaan narkoba justru banyak dikonsumsi oleh remaja dan abg yang masih berusia belasan tahun. Bermula dari menghisap ganja (mariyuana) agar lebih dikenal "pemberani" diantara teman-teman satu gengnya. Lalu beralih dengan mencoba yang namanya pil ectasy dan shabu-shabu biar terlihat keren, kemudian karena tidak ada uang lantas memakai putauw, sejenis heroin yang berharga murah namun berbahaya karena harus menyuntik di daerah urat pergelangan tangan. Hingga akhirnya, usai mencoba segala jenis narkoba tersebut, hanya ada tiga pilihan yang harus dilalui: Rumah sakit, Penjara dan Kematian! Berkembangnya teknologi internet dalam satu dekade terakhir, membuat anak-anak sekarang menjadi lebih paham dengan yang namanya dunia teknologi. Hingga sekarang, hampir setiap anak sudah mengenal dengan apa yang disebut sebagai game online dan juga beberapa situs jejaring sosial macam facebook dan twitter. Saat ini banyak anak berusia dibawah sepuluh tahun yang telah piawai (jago) bermain game online, terutama yang dibuat dari luar negeri seperti Point Blank, Poker, Angry Bird dan sebagainya. Hanya saja, beberapa game tersebut hanya sekadar untuk dimainkan sebagai sebuah hiburan belaka. Atau sedikit manfaat yang didapat dari sang anak dibanding kerugian waktu yang dihabiskan dengan duduk di depan layar komputer saat memainkannya. Sebenarnya, dari Indonesia sendiri tidak ketinggalan dalam memproduksi beberapa game yang bermanfaat untuk dimainkan, termasuk salah satunya yang dibuat oleh BNN. Lembaga Pemerintahan Non Kementerian ini, sejak dua tahun terakhir telah mengembangkan sebuah situs yang berisi beberapa permainan untuk anak-anak berusia lima tahun keatas hingga menjelang remaja. Drugs Education and Drugs Information atau disingkat DEDI, adalah situs resmi dari BNN yang dibuat dengan tujuan untuk melakukan pencegahan Narkotika dan obat terlarang, dengan cara edukasi dan informasi. Sebenarnya situs ini sama dengan beberapa situs dari BNN sendiri maupun pihak Kepolisian yang banyak memberikan informasi mengenai bahaya narkoba. Namun, di situs DEDI itu, terdapat beberapa informasi untuk keluarga dan anak yang tidak hanya dikemas melalui tulisan, melainkan juga dalam sebuah portal game online. Jika seseorang yang telah mempunyai anak dan mengajak serta buah hatinya untuk bermain di game online DEDI, maka orang tua atau keluarga tersebut sedikitnya telah mengenalkan bahaya dari penyalahgunaan narkoba. Untuk memainkannya sungguh mudah, sebab pengguna hanya perlu registrasi dengan mengisikan data diri dan email. Lalu mulai memilih satu diantara 20 permainan dengan tema yang berbeda dan juga cara memainkannya. Ke 20 game tersebut adalah:

1. Terbang tanpa Narkoba
2. Awas Narkoba
3. Balap Kerupuk
4. Balap Karung
5. Adu Wawasan
6. Susun Gambar
7. Susunan Peti
8. Hancurkan Narkoba
9. Lapor BNN
10. Pilih-pilih Makanan
11. Bantu Mas Dedi
12. Tarik Peti
13. Tangkap Si Peng
14. Ayo Pulang
15. Jaga Si Peng
16. Tarik Tambang
17. Terperangkap
18. Pengantar Tahanan
19. Siaga Satu
20. Panjat Cita-cita
Selamat Mencoba.

Memulainya dengan registrasi di http://dedihumas.bnn.go.id/
Daftar 10 dari 20 Game yang tersedia
Memberikan masukan secara tidak langsung kepada orang tua
Game 7, Hancurkan Narkoba: Beberapa jenis Narkoba yang harus diwaspadai
Game simulasi menangkap Pengedar
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 17, 2012 2:11 pm

PENGAWASAN NARKOBA DI DUNIA NYATA DAN DUNIA MAYA
Senin, 17 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
DEWASA ini, penggunaan Narkotika dan obat terlarang, atau yang disebut sebagai Narkoba, telah menjalar ke berbagai kalangan, mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak. Apalagi dengan perkembangan teknologi melalui internet yang meningkat pesat dibandingkan beberapa tahun lalu, membuat seorang remaja mudah terjerumus untuk mencoba barang terlarang tersebut. Sebenarnya dengan keberadaan internet sendiri, justru membuat seseorang untuk sadar akan bahayanya mengkonsumsi narkoba. Tetapi, tidak semuanya dapat dijadikan pedoman, khususnya kepada generasi muda, yaitu remaja dan anak-anak. Informasi yang tersebar luas di beberapa situs serta portal berita seperti Google, mengenai efek dari penggunaan narkoba tidak serta merta membuat generasi muda itu sadar akan bahayanya narkoba. Dalam lingkup kecil, penulis pernah melihat langsung sebuah kejadian nyata tentang emohnya remaja menanggapi akibat yang ditimbulkan dari barang sejenis Ganja, Heroin, Shabu-shabu, maupun pil semacam ekstasi. Saat itu di pertengahan tahun 2011 lalu, penulis pernah mengunjungi sebuah warung internet (warnet) yang letaknya tidak begitu jauh dengan tempat tinggal. Sebagaimana biasanya warnet yang selalu ramai didatangi orang-orang untuk keperluannya sendiri, ketika itu tanpa sengaja penulis mendengar sebuah percakapan yang timbul di depan salah satu meja komputer. Tampak dua orang pengunjung yang sedang menatap layar monitor komputer, sedang asyik memperbincangkan beberapa hal yang menyangkut narkoba. Di layar komputer kedua pengunjung itu, sedang terbuka sebuah situs berita populer yang memberitakan tentang tertangkapnya seorang penyelundup narkoba di bandara Soekarno Hatta. Dalam obrolannya, terdapat rasa ngeri yang terbayang dari kedua pengunjung itu yang usianya relatif muda. Berkisar sekitar dibawah dua puluh tahun, alias masih disebut sebagai remaja. Seorang pengunjung yang duduk di kursi mengatakan bahwa jadi seorang pengedar narkoba itu berisiko tinggi, jika tertangkap polisi. Sedangkan pengunjung lainnya yang berdiri disamping kursi juga mengiyakan ucapan kawannya itu, sembari berkata bahwa cara apapun sekarang sudah sulit, sebab pihak kepolisian sudah canggih dalam mencium keberadaan seorang pengedar dan juga pengguna. Sekilas obrolan kedua pengunjung itu biasa saja, alias tidak bermaksud lain, sebab mereka hanya mengutarakan pendapatnya saat melihat berita di media online itu. Hanya saja, ketika penulis mendengarkan lebih jauh, ternyata keduanya sedang menebak-nebak cara yang aman agar orang yang mengedarkan narkoba itu tidak tertangkap polisi!

Sekilas obrolan mereka berdua adalah:
A : Kok bisa ya, naroh di perut. Ntar kan kalo mengeluarkannya repot, harus ke wc dulu
B: Iya, apalagi ditelan itu risiko banget, takut-takut malah ga keluar dan nyumbat pencernaan dia sampe mati gara-gara bungkusan narkoba itu.
A : Iya, katanya sih yang aman ya, di sembunyiin dengan ditelan. Selain itu paling naroh lewat bungkus rokok, tapi kan ketahuan kalo diperiksa sinar x di bandara.
B : Pasti, tapi ya emang bodoh aja itu orang. Sudah tahu risiko tertangkap sama teke (Polisi), eh mau aja jadi pengedar. Mending dapat uangnya gede, lagian juga kalo udah ketangkep mana mau Bd (bandar) nebusnya?
A : Pastinya, zaman sekarang serba susah. Naroh di perut aja ga jaminan, apalagi yang di dompet, bungkus rokok, atau sendal, itu udah pasti ketahuan.
B : Bener juga, susah kalo begitu ya...

Apa yang diperbincangkan oleh kedua remaja tersebut tentang pemberitaan tertangkapnya kurir narkoba di bandara, setidaknya dapat diketahui bahwa peranan internet sebagai teknologi informasi, belum menyusup secara menyeluruh kepada penggunanya. Bagi sebagian besar remaja atau anak-anak, informasi yang berkembang luas di internet belum tentu mudah dicerna jika tidak ada dari pihak keluarga yang membimbingnya. Mengenai dampak ketidaktahuan kepada Narkoba, sekitar satu dekade lalu, penulis pernah merasakan dampak langsung akibat ketidaktahuan tentang suatu produk yang berkaitan dengan Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif tersebut. Saat itu, di awal dekade 2000an, sedang maraknya pemberitaan mengenai narkoba yang berdampak luas akibat kebebasan di era reformasi. Ketika itu banyak beredar permen wangi yang mengandung kadar narkoba sejenis Psikotropika. Ironisnya, karena saat itu informasi belum berkembang luas, terutama internet sendiri masih belum memadai, maka banyak yang terkena dampaknya secara langsung maupun tidak langsung. Penulis juga menyaksikan anak seusia remaja di dekat bantaran rel kereta, bawah kolong layang, dan juga pelosok kawasan padat penduduk Sedangkan bagi anak seusia remaja di dekat bantaran rel kereta di daerah Jakarta Utara, mengkonsumsi narkoba awalnya justru bukan berasal dari semacam ganja atau rokok, tetapi diawali saat menghirup lem. Aksi yang populer disebut “ngelem” itu, seolah membuat mereka merasakan fantasi terbang tinggi usai menghirupnya. Saat itu, penulis masih bersekolah di bangku SMP ketika era ngelem marak terjadi tidak hanya bagi remaja gelandangan saja, tetapi juga bagi yang telah sekolah dan menempuh pendidikan tinggi. Kemungkinan penyebabnya adalah harga yang murah, dan coba-coba karena sering melihat teman-temannya menggunakan seperti itu. Diawal dekade 2000an itu, biaya untuk “ngelem” cukup murah, yakni sekitar Rp 1.000 – 1.500 untuk membeli sebuah lem berukuran kecil. Dan lagi, jenis lemnya pun bukan sembarangan seperti lem kertas. Tetapi lem kayu dan lem perekat kain atau kaca yang baunya sangat menyengat penciuman dan dampaknya sangat memabukkan bagi orang yang telah lama mengirupnya. Dari beberapa kawan penulis yang pernah mencoba dan sempat ditanyai saat itu, mengatakan, bahwa aksi “ngelem” tersebut hanya dilakukan dengan iseng-iseng belaka. Sebab, selain mudah didapat, harganya pun relatif murah karena banyak dijual di beberapa toko. Namun, yang lebih membelalakan mata adalah sewaktu kawan tersebut mengucapkan bahwa dibanding merokok dan menghisap ganja yang berisiko tertangkap polisi, lebih baik ngelem. Sebab aksinya aman dan juga kalau ketahuan tidak akan dimasukkan dalam penjara. Untuk itu diharapkan kepada pihak keluarga, terutama Ayah dan Ibu, agar lebih memperhatikan kegiatan anaknya dengan lebih waspada lagi. Kasus ngelem menjadikan contoh bagaimana telah mewabahnya narkoba yang tidak hanya identik dengan Ganja, Shabu-shabu ataupun pil ekstasi saja. Ditambah dengan sosialisasi yang kurang berjalan di masyarakat luas tentang bahaya narkoba. Sebab, meski telah banyak pemakai dan pengedar yang tertangkap, namun tetap saja ada beberapa orang khususnya remaja yang hingga kini masih secara bersembunyi untk menggunakannya.
Sebagai contoh, di lokasi penulis di kawasan Jakarta Barat, terdapat tiga titik rawan pengedaran Narkoba, yaitu:

1. Kawasan Kampung Ambon, kecamatan Cengkareng
2. Kawasan padat penduduk di Kalianyar, kecamatan Tambora, yang berdampingan dengan daerah Setiakawan yang merupakan kantong gelap Narkoba
3. Kawasan Tangki, Kecamatan Taman Sari.

Dari tiga kawasan yang lokasinya tidak begitu berjauhan di kecamatan Jakarta Barat, oleh warga sendiri kerap dijuluki sebagai “The Bronx of Jakarta”. Kata Bronx sendiri menilik asal kawasan Bronx di kota New York, Amerika Serikat, yang terkenal dengan kepadatan penduduknya serta wilayah angker karena tingkat kriminalitas sangat tinggi termasuk peredaran narkoba. Tingginya peredaran narkoba di ketiga kawasan di wilayah Jakarta Barat tersebut, dijadikan basis produksi atau pengiriman dari para bos narkoba ke kawasan lainnya di Jakarta serta wilayah Nusantara. Padahal dari pihak aparat kepolisian telah beberapa kali melakukan penggerebekan di areal tersebut, terutama kampung Ambon yang merupakan sarang narkoba semenjak dekade 1990an lalu. Oleh karena itu, kepada pihak keluarga agar lebih mewaspadai pergaulan sang anak, terutama yang masih muda dan labil agar tidak terjerat dengan rayuan barang haram tersebut. Biasanya banyak remaja yang terbujuk karena berawal dari godaan beberapa teman di lingkungan sekitar. Kemudian setelah merasa enak, maka ia akan mencoba dengan membelinya secara sembunyi-sembunyi dari hasil menyisihkan uang jajan. Setelah itu, tanpa ampun lagi, maka si anak telah terjerumus hingga tinggal menyisakan tiga kemungkinan: Direhabilitasi, Penjara, atau Over dosis. Sejatinya, bukan salah orang tua atau keluarga juga bila ada anaknya yang terjerat narkoba. Sebab, di zaman sekarang, selain keluarga dan lingkungan sekitar, pergaulan di ranah dunia maya turut mempengaruhi kondisi psikis sang anak. Bisa saja di dalam rumah dan juga lingkungan sekitarnya tampak alim, namun ketika sudah asyik berselancar di dunia maya melalui sambungan internet komputernya, sang anak akan tergoda untuk mencoba-coba beberapa jenis barang yang menyesatkan itu. Semoga saja hal seperti itu tidak terulang kepada anak dan saudara-saudara kita di rumah. Karena beberapa tahun kedepan, justru merekalah yang berperan penting dalam memimpin negeri ini, jangan sampai sejak usia dini telah terjerumus narkoba dan berpengaruh besar saat dewasa nanti.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Sep 20, 2012 9:25 am

PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DALAM SUDUT PANDANG AGAMA ISLAM
Kamis, 20 September 2012 07:00 WIB Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
ISLAM merupakan agama Samawi yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW. Menurut bahasa Islam berarti patuh, taat, selamat sejahtera damai dan tentram. Sedangkan menurut istilah hukum islam adalah tunduk, patuh, taat dan berserah diri kepada Allah dengan mematuhi segala perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Bisa dibilang kalau islam merupakan pedoman bagi manusia dalam membedakan antara yang baik dan buruk, antara yang benar dan salah. Islam sendiri adalah agama yang dirahmati oleh Allah SWT, memberikan rahmat untuk semua makhluk yang ada di alam semesta ini sebagaimana fungsinya sebagai Rahmatan Lil ‘Alamin. Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya dengan dilengkapi oleh akal pikiran, yang membedakan manusia dengan makhluk ciptaan-Nya yang lain. Akal dan pikiran ini membuat kita dapat berpikir, membedakan mana yang baik dan buruk serta menyerap segala pengetahuan yang ada sehingga dapat membantu manusia untuk mensejahterakan kehidupannya. Selain akal dan pikiran, manusia juga dibekali oleh hawa nafsu. Hawa nafsu ini terkadang membawa dampak merugikan bagi manusia itu sendiri bila tidak mampu dikendalikan. Seks, perhatian, cinta, kemauan merupakan hal-hal yang lumrah terdapat dalam diri manusia, oleh karena itu manusia dilengkapi oleh akal mereka untuk mencerna apa-apa saja yang akan mereka lakukan nanti. Seperti menjaga kesehatan tubuh, manusia terkadang lupa kalau kesehatan itu merupakan hal terpenting bila dibandingkan dengan kebutuhan yang lain. Islam mengajarkan agar manusia senantiasa hidup sehat, dan islam melarang manusia mengkonsumsi segala macam makanan serta minuman yang akan mengganggu dan merusak kesehatan manusia, termasuk penyalahgunaan narkotika. Narkotika yang seharusnya digunakan untuk mengobati namun malah digunakan untuk kesenangan pribadi. Dalam islam sendiri tidak dijelaskan secara langsung, baik itu dalam Al-Quran maupun Hadist mengenai masalah Narkotika ini, namun bila melihat efek dan dampak yang ditimbulkan akibat penyalahgunaan narkotika ini, yang bahkan bisa melebihi dampak dari minuman keras maka ayat-ayat Al-Quran yang melarang dan mengharamkan minuman keras dapat dijadikan dasar terhadap dilarang dan diharamkannya penyalahgunaan narkotika. Seperti yang disebutkan dalam Al Quran: Mereka bertanya kepadamu tentang khamar (minuman keras) dan judi. Katakanlah: ‘pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya.’ Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘yang lebih dari keperluan’ demikianlah Allah menerangkan ayat-ayatnya kepadamu supaya kamu berfikir.” (QS. Al Baqarah: 219) Dalam Hadistnya Rasul juga berkata: Rasulullah SAW melarang dari setiap barang yang memabukakan dan yang melemahkan akal dan badan.” (HR. Ahmad dan Abu Dawud) Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: sesuatu yang banyaknya memabukkan maka walaupun sedikitpun adalah haram.” (HR. Ahmad dan Imam Empat) Berdasarkan ayat Al Quran dan hadist tersebut maka bisa disimpulkan kalau penyalahgunaan narkotika dikatakan haram karena membawa dampak yang jauh lebih buruk sama seperti minuman keras.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiripun telah mengeluarkan fatwa tentang penyalahgunaan narkotika tanggal 10 Shafar 1396 H / 10 Februari 1976 M yang isinya menyatakan kalau haram hukumnya menyalahgunakan Narkotika karena membawa kemudharatan yang mengakibatkan mental dan fisik seseorang serta terancamnya keselamatan masyarakat dan Ketahanan Nasional. Selain itu dalam sidangnya di Masjid Istiqlal pada Senin, 18 Robiul Tsani 1417 H / 2 September 1996 M, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan kalau menyalahgunakan narkotika adalah haram hukumnya. Selain melarang menyalahgunakan narkotika, peredaran dan penyebaran narkotika melalui jalur illegal juga dilarang dalam islam. Menyebarkan, mengedarkan dan menyelundupkan narkotika melalui jalur gelar saat ini merupakan bisnis yang sangat menggiurkan karena menjanjikan keuntungan yang banyak, terlebih lagi Indonesia yang memilki kepadatan penduduk yang luar biasa tentu saja menjadi sasaran empuk bagi bisnis peredaran bisnis narkotika ini. Disaat inilah peran akal dan pikiran kita dikedepankan, jangan sampai karena terbujuk keuntungan yang menggiurkan lantas melupakan hal yang nantinya akan membawa dampak buruk bagi masyarakat Indonesia. Nafsu untuk mendapatkan harta secara mudah seperti ini bisa menjerumuskan bangsa kita kedalam keterpurukan. Untuk itulah diperlukan adanya pendidikan agama sedari dini demi mencegah pola pikir sempit seperti itu. Diperlukan pendidikan agama sejak dini untuk anak-anak karena pada fase inilah anak dapat menyerap dan menerima apa yang mereka dapat dengan sangat baik. Islam sendiri mengajarkan agar orang tua senantiasa mengajarkan agama terhadap anaknya sedari anak mereka masih kecil. Keluarga merupakan tempat pertama bagi seorang anak untuk belajar, didalam lingkup keluargalah anak mendapatkan pelajaran dan pengalaman pertama mereka yang kelak akan menentukan bentuk dan rupa kepribadian mereka kedepannya nanti. Penting bagi orang tua untuk memberitahu anak mereka agar selalu memelihara kesehatan jasmani dan rohani, menjaga kebersihan, makan dan minum yang teratur, istirahat yang cukup dan yang paling penting adalah mengenai ibadah kepada Allah SWT. Orang tua juga harus menekankan kepada anak-anaknya mengenai pentingnya taat dan patuh terhadap segala perintah Allah SWT, hal ini akan menimbulkan pola pikir yang nantinya akan berguna bagi anak sebagai kekuatan mereka untuk mencapai kesuksesan dalam kehidupan mereka kedepannya nanti. Selain dalam keluarga, pendidikan agama juga bisa didapatkan dalam lingkungan sekolah. Sekolah merupakan tempat anak bermain, belajar dan berinteraksi dengan teman-teman sebayanya sehingga sekolah berperan penting dalam pembentukan karakter sosial anak. Dalam upaya mengawasi dan mencegah penyalahgunaan narkotika disekolah hendaknya diperhatikan hal berikut:

1. Harus ada hubungan komunikatif yang baik antara orang tua dan guru serta siswa siswi.
2. Suasana belajar mengajar yang ada dilingkungan sekolah dibuat senyaman dan semenyenangkan mungkin agar siswa tidak merasa bosan.
3. Kegiatan keagaman di lingkungan sekolah dilakukan secara intensif yang nantinya harus melibatkan seluruh siswa.
4. Perlunya sarana ibadah dan pusat kajian agama yang memadai didalam lingkungan sekolah.
5. Peran serta guru dalam memberi motivasi dan contoh yang baik terhadap siswa siswinya dalam kegiatan keagamaan yang dilakukan.
6. Mengadakan acara atau kegiatan yang materinya berisi mengenai penympaian masalah bahaya penyalahgunaan narkotika, namun tetap dikemas secara menarik.
7. Menanamkan sikap dan rasa tanggung jawab kepada siswa siswi terhadap lingkungan sekolahnya sehingga mereka dapat turut mengawasi dan mewaspadai aktivitas peredaran narkotika yang mengancam lingkungan sekolah mereka.

Satu lagi elemen penting yang berperan dalam pembentukan karakter dan kepribadian anak yakni lingkungan masyarakat. untuk mendapati kehidupan keluarga dan sekolah yang baik diperlukan lingkungan masyarakat yang kondusif, terutama dalam pembelajaran kehidupan beragama yang baik. Untuk menciptakan lingkungan masyarakat yang kondusif melalui jalur agama perlu dikembangkan secara intensif kegiatan agama seperti:

1. Menggalakan program memakmurkan masjid dan musholla dengan sholat berjamaah dan pengajian.
2. Perlu adanya majelis taklim yang aktif dilakukan baik oleh ibu-ibu, bapak-bapak maupun remaja dan anak-anak.
3. Dalam setiap pengajian selalu disampaikan pesan mengenai bahaya penyalahgunaan narkotika .
4. Peran penting organisasi keremajaan dalam lingkungan masyarakat seperti mengadakan kegiatan positif macam kegiatan olahraga mingguan, pengajian remaja ataupun diskusi mengenai masalah bahaya penyalahgunaan narkotika serta berperan aktif salam melakukan pencegahannya.
5. Aktif dalam melakukan peringatan hari-hari besar islam dengan mengadakan berbagai macam aktivitas.

Bila 3 hal tersebut , keluarga, sekolah dan masyarakat memenuhi syarat maka penerapan pendidikan agama islam semasa kecil bisa dilakukan. Bila hal itu terjadi maka generasi muda kita tersebut akan menjadi tonggak perjuangan dalam melawan penyalahgunaan narkotika dimasa yang akan datang sehingga kita tidak perlu khawatir lagi bila narkotika akan merusak negara ini.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Fri Sep 21, 2012 10:22 pm

PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA DALAM SUDUT PANDANG BERBAGAI AGAMA
Jumat, 21 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
PERAN Gereja terhadap penanggulangan penyalahgunaan narkotika sangatlah penting. Seperti pemerintah yang telah melaksanakan program tersebut, gereja juga harus turut mengambil bagian dalam rangka mencegah bahaya penyalahgunaan narkotika tersebut. Hal yang dapat dilakukan gereja misalnya dengan membentuk sebuah komisi pencegahan dan penanganan narkotika. Seperti kata pepatah “mencegah lebih baik daripada mengobati”, kegiatan mencegah ini sangat penting dalam memutus mata rantai penyalahgunaan narkotika karena disamping memakai biaya yang lebih murah, ini juga lebih mudah untuk dilaksanakan. Tugas dari komisi ini adalah membuat semacam konsep dan jaringan yang luas terhadap masalah narkotika dalam lingkup jamaat gereja. Sebenarnya tidak hanya jemaat saja namun juga harus mencakup semua umat manusia tanpa ada perbedaan.

Lembaga gereja sendiri memiliki visi.
“Aku Datang bukan untuk memanggil orang benar melainkan orang berdosa.” (bdk. Lukas, 5:32; Mat, 9:13; Mark, 2:17)
Jelas terlihat kalau Yesus datang bukan untuk orang-orang yang mempunyai kelakuan benar tapi Dia datang untuk orang-orang yang sering berbuat dosa dan tersesat. Penyalahgunaan narkotika sendiri sudah termasuk dalam penyimpangan dan menimbulkan banyak dosa baik untuk diri sendiri maupun untuk lingkungannya karena efek yang ditimbulkan sangatlah buruk.

Sementara itu misi gereja:
“Membawa yang berbeban berat kepada Yesus.” (bdk. Mat, 11:28)
Bila melihat penyalahgunaan narkotika, efek yang ditimbulkan berantai. Tidak hanya menjadi beban bagi penggunanya yang menjadi kecanduan namun juga akan menjadikan masalah baru untuk keluarga sang pecandu. Tidak hanya dari segi ekonomi, namun juga nama baik keluarga ikut tercemar akibat penyalahgunaan narkoba yang dilakukan salah satu anggota keluarganya. Akibatnya masyarakat melihat dengan pandangan rendah yang membuat keluarga pecandu tersebut secara tak langsung mendapatkan semacam sanksi sosial dari lingkungan masyarakat. Ini sesuai dengan misi gereja diatas karena dengan membawa yang berbeban berat kepada Yesus berarti ada rasa percaya bahwa hanya Yesus yang sanggup melepas beban berat tersebut. Selain itu juga setiap jemaat harus mempunyai motto “hidup untuk melayani” (bdk. Mat, 20:28; Mark, 10:45). Dengan motto ini kehidupan kita berarti sesuai dengan iman percaya kepada Yesus. Hidup ini harus melayani mereka yang sangat memerlukan bantuan khususnya terhadap penyalahgunaan narkotika, pun dengan keluarganya. Selain visi, misi dan motto tersebut juga harus dibuat sebaik mungkin langkah-langkah konkrit dalam pelaksanaannya. Adakan pertemuan rutin yang dilaksanakan seminggu sekali. Kegiatan yang dilakukan adalah peribadatan singkat juga pengenalan akan narkotika serta cara-cara pencegahannya. Kegiatan ini harus terbuka untuk umum, tak harus kalangan jemaat saja. Melalui pertemuan ini diharapkan dapat diadakan pertukaran pengalaman bagaimana mereka-mereka lepas dari ketergantungan narkotika tersebut. Komisi ini juga dapat bekerja sama dengan pemuda gereja dan masyarakat jemaat atau siapa saja yang berminat dengan pelayanan khusus ini. Semua permasalahan yang ada didiskusikan yang bersifat rahasia. Kerahasiaan ini sangat penting untuk menjaga tingkat kepercayaan mereka yang datang untuk konseling kepada komisi tersebut, kecuali bila memang mereka dengan senang hati membuka rahasianya.

Untuk lebih menjangkau jemaat tentang visi, misi dan motto ini perlu dilakukan semacam tulisan-tulisan yang berhubungan dengan pelayanan ini. Tulisan yang bernuansa kristiani namun juga mengena kepada informasi tentang narkotika sehingga jemaat dapat menyadari sedini mungkin apakah dilingkungan atau keluarganya memerlukan bantuan pencegahan tersebut. Tulisan-tulisan ini dapat disalurkan melalui media mingguan yang ada di gereja, dibuat secara berseri supaya jemaat tidak bosan membacanya. Selain itu saat ada pelayanan jemataan harus selalu diinformasikan mengenai kegiatan dan peran gereja dalam menanggulangi masalah narkotika yang sudah dimulai. Gereja juga harus bisa merangkul media, baik media cetak maupun media elektronik. Hal ini diperlukan karena peran media sangat berpengaruh terhadap penyebaran informasi mengenai program yang akan disampaikan oleh gereja kepada orang-orang diluar sana yang notabene bukan berasal dari kalangan jemaat gereja saja. Selain itu gereja juga bisa mendapatkan informasi terbaru dari luar gereja melalui media tersebut mengenai hal-hal yang berhubungan dengan permasalahan narkotika. Ini tentu sangat membantu program kegiatan gereja sehingga tidak gereja bisa tetap terus berjalan tanpa ketinggalan info terkini dari luar. Menjalin kerja sama dengan gereja lain juga harus dilakukan. Ini diperlukan karena pembangunan jaringan kemitraan dengan gereja lain akan membantu dalam saling tukar menukar informasi dan juga perlu dilakukan pertemuan-pertemuan untuk membahas masalah penanggulangan bersama. Juga dapat melakukan semacam survey bersama ke lembaga-lembaga rehabilitasi sehingga mendapatkan banyak informasi yang nantinya akan memperkuat gerak pelayanan komisi. Tak lupa adakan evaluasi dan pembanding untuk melihat indikator keberhasilannya. Karena itu komisi harus mengundang lembaga terkait yang menggerakan upaya pencegahan dan penanganan narkotika di tingkat wilayah, baik dengan instansi pemerintah maupun dengan lembaga pelayanan sejenis. Dengan adanya program ini, gereja bisa menjadi suatu tempat bagi pecandu narkoba untuk melepas beban mereka, tak hanya beban karena kecanduan narkotika namun juga beban perasaan bersalah akibat penyalahgunaan narkotika tersebut. Tentu dengan stigma bahwa gereja adalah “rumah umat” memudahkan mereka yang kecanduan bisa leluasa untuk berterus terang tentang apa yang sedang mereka alami.

Hindu
Dalam ajaran Hindu, manusia diciptakan ke dunia ini mempunyai tujuan utamanya yakni menghindari kesengsaraan dan mencari kehidupan yang damai sejahtera. Karena itu manusia diharuskan mengindari perbuatan dosa dan memutar kehidupan berdasarkan Sharma atau kewajiban-kewajiban suci. Untuk mencapai kehidupan yang damai dan sejahtera, manusia hendaknya mengikuti dan menghayati petunjuk Verda Sruti yang dituliskan dalam kitab Isa Upanisad mantra satu yang berbunyi:

Isavasyam idam sarwam
Yat kinci jagatyan jagat
Tena tyaktena bhunjitha
Magrdhah kasya svid dhanam

Artinya:
“Tuhan Yang Maha Esa memiliki dan mengendalikan sesuatu yang ada di alam semesta, baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak. Karena itu hendaknya seseorang hanya menerima benda-benda yang dibutuhkan untuk dirinya dan telah disediakan sebagai jatahnya dan sebaiknya jangan menerima benda-benda yang lainnya yang bukan jatahnya.” Bila dikaitkan dengan narkotika, jelas barang tersebut bukanlah benda-benda yang dibutuhkan oleh manusia untuk hidup sejahtera, malah sebaliknya akan membawakan kesulitan dan malapetaka karena dapat mengakibatkan manusia menjadi mabuk, bingung, hilang akal, menjadi liar dan pada akhirnya hanya akan merusak tubuhnya sendiri. Reg Veda VIII.2.12 menyebutkan:
Hrtsu pirasa yudhyante
Durmadoso na surayam

Artinya:
“Para pecandu yang sedang mabuk akan berkelahi diantara mereka, menciptakan keonaran.”

Narkotika dan minuman keras didalam kitab suci Veda disebut juga “SURAPANAM” yaitu konsumsi yang memabukkan. Juga disebut “MADYA” yaitu minuman yang berzat adiktif/beralkohol tinggi. Mereka yang mengkonsumsinya sebagai pemuas nafsu termasuk kedalam ‘dosa besar’ yang setara dengan mencuri emas, membunuh pendeta/guru dan memperkosa anak gadis dibawah umur (Kitab Slokantara, sloka 16). Bagi mereka yang mengkonsumsi benda tersebut tidak akan bisa lagi membedakan mana yang baik dan buruk, benar dan salah, bahkan mereka akan menjadi pembenci termasuk membenci dirinya sendiri sehingga akan selalu penuh dengan penderitaan.

Bhagavad Gita XVI. 16 dan II. 64 menyebutkan:
“dibingungkan oleh berbagai keinginan pikiran, terlibat dalam jaringan keonaran, terseret dalam kepuasan nafsu birahi, mereka jatuh kedalam neraka jahanam.”

Bila mengikuti ajaran hindu, sepantasnya seorang pemeluk hindu harus berupaya membangun dan mewariskan kualitas hidup yang lebih baik kepada generasi penerusnya. Menciptakan hari esok yang lebih baik daripada hari sebelumnya adalah ajaran agama yang mesti diamalkan. Langkah untuk mulai kearah tersebut harus dimulai sejak pembentukan keluarga sebagai sarana unit terkecil yang akan menentukan kuat rapuhnya kehidupan dalam masyarakat. dan untuk upaya pencegahan penyalahgunaan narkotika harus tetap dan terus dilaksanakan bersamaan dengan upaya dalam rangka meningkatkan kuaitas hidup umat.

Bhagavad Gita XVII. 21 menyebutkan:
“Sadarilah bahwa kehidupan yang singkat ini adalah mengemban misi meningkatkan kualitas kehidupan menuju yang lebih baik, dan memenuhi nafsu tanpa batas adalah neraka penderitaan.”
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 24, 2012 11:20 am

BEBERAPA UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Senin, 24 September 2012 07:00 WIB Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
PERKEMBANGAN peredaran narkoba di kalangan masyarakat yang dewasa ini semakin pesat membuat banyak pihak cemas, bagaimana tidak saat ini narkoba sangat mudah untuk didapati tidak hanya oleh orang dewasa saja namun anak-anak pun juga mulai ikut merambah bisnis haram ini. Tentu pihak pemerintah harus segera mengambil tindakan antisipasi agar kejadian ini tidak terus berlangsung, jika tidak akibat yang akan diterima oleh bangsa indonesia akan sangat fatal karena akan menyangkut masa depan bangsa Indonesia itu sendiri. Pemerintah perlu peran serta masyarakat dalam upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan narkoba ini. Berbagai macam metode pencegahan ini terus digalakkan agar nantinya masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program pemerintah ini. Metode pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba yang paling efektif dan mendasar adalah metode promotif dan preventif. Upaya yang paling praktis dan nyata adalah represif dan upaya yang manusiawi adalah kuratif serta rehabilitatif.

1. Promotif
Program promotif ini kerap disebut juga sebagai program preemtif atau program pembinaan. Pada program ini yang menjadi sasaran pembinaanya adalah para anggota masyarakat yang belum memakai atau bahkan belum mengenal narkoba sama sekali. Prinsip yang dijalani oleh program ini adalah dengan meningkatkan peranan dan kegitanan masyarakat agar kelompok ini menjadi lebih sejahtera secara nyata sehingga mereka sama sekali tidak akan pernah berpikir untuk memperoleh kebahagiaan dengan cara menggunakan narkoba. Bentuk program yang ditawrkan antara lain pelatihan, dialog interaktif dan lainnya pada kelompok belajar, kelompok olah raga, seni budaya, atau kelompok usaha. Pelaku program yang sebenarnya paling tepat adalah lembaga-lembaga masyarakat yang difasilitasi dan diawasi oleh pemerintah.

2. Preventif
Program promotif ini disebut juga sebagai program pencegahan dimana program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang sama sekali belum pernah mengenal narkoba agar mereka mengetahui tentang seluk beluk narkoba sehingga mereka menjadi tidak tertarik untuk menyalahgunakannya. Program ini selain dilakukan oleh pemerintah, juga sangat efektif apabila dibantu oleh sebuah instansi dan institusi lain termasuk lembaga-lembaga profesional terkait, lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, organisasi masyarakat dan lainnya. Bentuk dan agenda kegiatan dalam program preventif ini:

A. Kampanye anti penyalahgunaan narkoba
Program pemberian informasi satu arah dari pembicara kepada pendengar tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Kampanye ini hanya memberikan informasi saja kepada para pendengarnya, tanpa disertai sesi tanya jawab. Biasanya yang dipaparkan oleh pembicara hanyalah garis besarnya saja dan bersifat informasi umum. Informasi ini biasa disampaikan oleh para tokoh asyarakat. Kampanye ini juga dapat dilakukan melalui spanduk poster atau baliho. Pesan yang ingin disampaikan hanyalah sebatas arahan agar menjauhi penyalahgunan narkoba tanpa merinci lebih dala mengenai narkoba.

B. Penyuluhan seluk beluk narkoba
Berbeda dengan kampanye yang hanya bersifat memberikan informasi, pada penyuluhan ini lebih bersifat dialog yang disertai dengan sesi tanya jawab. Bentuknya bisa berupa seminar atau ceramah. Tujuan penyuluhan ini adalah untuk mendalami pelbagai masalah tentang narkoba sehingga masyarakat menjadi lebih tahu karenanya dan menjadi tidak tertarik enggunakannya selepas mengikuti program ini. Materi dalam program ini biasa disampaikan oleh tenaga profesional seperti dokter, psikolog, polisi, ahli hukum ataupun sosiolog sesuai dengan tema penyuluhannya.

C. Pendidikan dan pelatihan kelompok sebaya
Perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan didalam kelompok masyarakat agar upaya menanggulangi penyalahgunaan narkoba didalam masyarakat ini menjadi lebih efektif. Pada program ini pengenalan narkoba akan dibahas lebih mendalam yang nantinya akan disertai dengan simulasi penanggulangan, termasuk latihan pidato, latihan diskusi dan latihan menolong penderita. Program ini biasa dilakukan dilebaga pendidikan seperti sekolah atau kampus dan melibatkan narasumber dan pelatih yang bersifat tenaga profesional.

D. Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan upaya distribusi narkoba di masyarakat.
Pada program ini sudah menjadi tugas bagi para aparat terkait seperti polisi, Departemen Kesehatan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Imigrasi, Bea Cukai, Kejaksaan, Pengadilan dan sebagainya. Tujuannya adalah agar narkoba dan bahan pembuatnya tidak beredar sembarangan didalam masyarakat. namun melihat keterbatasan julah dan kemampuan petugas, program ini masih belum dapat berjalan optimal.

3. Kuratif
Program ini juga dikenal dengan program pengobatan dimana program ini ditujukan kepada para peakai narkoba. Tujuan dari program ini adalah mebantu mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit sebagai akibat dari pemakaian narkoba, sekaligus menghentikan peakaian narkoba. Tidak sembarang pihak dapat mengobati pemakai narkoba ini, hanya dokter yang telah mempelajari narkoba secara khususlah yang diperbolehkan mengobati dan menyembuhkan pemakai narkoba ini. Pngobatan ini sangat rumit dan dibutuhkan kesabaran dala menjalaninya. Kunci keberhasilan pengobatan ini adalah kerjasama yang baik antara dokter, pasien dan keluarganya. Bentuk kegiatan yang yang dilakukan dalam program pengobat ini adalah:

A. Penghentian secara langsung.
B. Pengobatan gangguan kesehatan akibat dari penghentian dan pemakaian narkoba (detoksifikasi).
C. Pengobatan terhadap kerusakan organ tubuh akibat pemakaian narkoba.
D. Pengobatan terhadap penyakit lain yang dapat masuk bersama narkoba seperti HIV/AIDS, Hepatitis B/C, sifilis dan lainnya.

Pengobatan ini sangat kompleks dan memerlukan biaya yang sangat mahal. Selain itu tingkat kesembuhan dari pengobatan ini tidaklah besar karena keberhasilan penghentian penyalahgunaan narkoba ini tergantung ada jenis narkoba yang dipakai, kurun waktu yang dipakai sewaktu menggunakan narkoba, dosis yang dipakai, kesadaran penderita, sikap keluarga penderita dan hubungan penderita dengan sindikat pengedar. Selain itu ancaman penyakit lainnya seperti HIV/AIDS juga ikut mempengaruhi, walaupun bisa sembuh dari ketergantungan narkoba tapi apabila terjangkit penyakit seperti AIDS tentu juga tidak dapat dikatakan berhasil.

4. Rehabilitatif
Program ini disebut juga sebagai upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada penderita narkoba yang telah lama menjalani program kuratif. Tujuannya agar ia tidak memakai dan bisa bebas dari penyakit yang ikut menggerogotinya karena bekas pemakaian narkoba. Kerusakan fisik, kerusakan mental dan penyakit bawaan macam HIV/AIDS biasanya ikut menghampiri para pemakai narkoba. Itulah sebabnya mengapa pengobatan narkoba tanpa program rehabilitasi tidaklah bermanfaat. Setelah sembuh masih banyak masalah yang harus dihadapi oleh bekas pemakai tersebut, yang terburuk adalah para penderita akan merasa putus asa setelah dirinya tahu telah terjangit penyakit macam HIV/AIDS dan lebih memilih untuk mengakhiri dirinya sendiri. Cara yang paling banyak dilakukan dalam upaya bunuh diri ini adalah dengan cara menyuntikkan dosis obat dalam jumlah berlebihan yang mengakibatkan pemakai mengalami Over Dosis (OD). Cara lain yang biasa digunakan untuk bunuh diri dalah dengan melompat dari ketinggian, membenturkan kepala ke tembok atau sengaja melempar dirinya untuk ditbrakkan pada kendaraaan yang sedang lewat. Banyak upaya pemulihan namun keberhasilannya sendiri sangat bergantung pada sikap profesionalisme lembaga yang menangani program rehabilitasi ini, kesadaran dan kesungguhan penderita untuk sembuh serta dukungan kerja sama antara penderita, keluarga dan lembaga. Masalah yang paling sering timbul dan sulit sekali untuk dihilangkan adalah mencegah datangnya kembali kambuh (relaps) setelah penderita menjalani pengobatan. Relaps ini disebabkan oleh keinginan kuat akibat salah satu sifat narkoba yang bernama habitual. Cara yang paling efektif untuk menangani hal ini adalah dengan melakukan rehabilitasi secara mental dan fisik. Untuk pemakaipsikotropika biaanya tingkat keberhasilan setlah pengobatan terbilang sering berhasil, bahkan ada yang bisa sembuh 100 persen.

5. Represif
Ini merupakan program yang ditujukan untuk menindak para produsen, bandar, pengedar dan pemakai narkoba secara hukum. Program ini merupakan instansi peerintah yang berkewajiban mengawasi dan mengendalikan produksi aupun distribusi narkoba. Selain itu juga berupa penindakan terhadap pemakai yang melanggar undang-undang tentang narkoba. Instansi yang terkait dengan program ini antara lain polisi, Departemen Kesehatan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Imigrasi, Bea Cukai, Kejaksaan, Pengadilan. Begitu luasnya jangkauan peredaran gelap narkoba ini tentu diharapkan peran serta masyarakat, termasuk LSM dan lembaga kemasyarakatan lain untuk berpartisipasi membantu para aparat terkait tersebut Masyarakat juga harus berpartisipasi, paling tidak melaporkan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan yang terkait dengan penyalahgunaan narkoba dilingkungannya. Untuk memudahkan partisipasi masyarakat tersebut, polisi harus ikut aktif menggalakkan pesan dan ajakan untuk melapor ke polisi bila melihat kegiatan penyalahgunaan narkoba. Cantumkan pula nomor dan alamat yang bisa dihubungi sehingga masyarakat tidak kebingungan bila hendak melapor nanti. Melaporkan kegiatan pelanggaran narkoba seperti ini tentu saja secara tidak langsung ikut mebahayakan keselamatan si pelapor, karena sindikat narkoba tentu tak ingin kegiatan mereka terlacak dan diketahui oleh aparat. Karena itu sedah jadi tugas polisi untuk melindungi keselamatan jiwa si pelapor dan merahasiakan identitasnya.
Back to top Go down
 
Mengenal Narkoba
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 10Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
 Similar topics
-
» mengenal imam tirmidzi
» mengenal rukun islam
» mengenal syiah ismailiyah
» mengenal Allah
» Ga Cuma Daging Babi, Narkoba Juga Halal

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: