Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Mengenal Narkoba

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Wed Aug 22, 2012 5:39 pm

PEREDARAN GELAP NARKOBA DAN UPAYA PENANGGULANGAN
Rabu, 22 Agustus 2012 07:00 WIB Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
MASALAH penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba saat ini sudah menjadi persoalan global yang melanda semua wilayah maupun negara di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri penyalahgunaan narkoba ini telah mencapai tahapan yang sangat mengkhawatirkan. Narkoba tak lagi memandang usia, mulai dari anak-anak, remaja, orang dewasa hingga orang tua sekalipun tak luput dari jeratan penyalahgunaan narkoba ini. diperkirakan sekitar 1,5 persen dari total penduduk Indonesia adalah korban dari penyalahgunaan narkoba tersebut. Masalah peredaran narkoba ini juga tak kalah mengkhawatirkan, tidak hanya di kota-kota besar saja namun sampai merambah ke pelosok indonesia. Dengan jumlah populasi penduduk yang sangat besar, melebihi angka 200 juta penduduk ini tentu membuat Indonesia menjadi sasaran peredaran gelap narkoba. padahal pada awalnya Indonesia hanya sebagai tempat persinggahan lalu lintas perdagangan narkoba, dikarenakan lokasinya yang strategis. Namun lambat laun para pengedar gelap narkoba ini mulai menjadikan Indonesia sebagai incaran empuk mereka untuk mengedarkan dagangan narkoba mereka. Seiring berjalanannya waktu Indonesia mulai bertransformasi, tidak hanya sebagai tempat peredaran narkoba namun juga sudah menjadi tempat menghasilkan narkoba, terbukti dengan ditemukannya beberapa laboratorium narkoba di wilayah Indonesia. Persoalan ini tentu menjadi masalah yang sangat serius , yang pada akhirnya dapat menimbulkan gangguan keamanan dan ketertiban Nasional. Sebelumnya mari kita sedikit mengenal apa itu narkoba. Narkoba ini sendiri merupakan singkatan dari Narkotika, Psikotropika dan Bahan Berbahaya lainnya. Istilah narkoba yang banyak dikenal di Indonesia ini berasal dari bahasa Inggris yakni Narcotics yang berarti obat bius. Menurut pasal 1 Undang-undang No. 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, pengertian narkotika adalah zat atau obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semisintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi sampai menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimblkan ketergantungan , yang dibedakan ke dalam golongan-golongan sebagamana terlampir didalam undang-undang tersebut.

Penyalahgunaan narkoba ini dapat menyebabkan ketergantungan, mengganggu sistem syaraf pusat dan dapat menyebabkan gangguan fisik, jiwa, sosial dan keamanan. Kerugian yang ditimbulkan juga sangatlah besar. Kerugian terhadap pribadi sendiri dapat terlihat dari perubahan perilakunya, yang awalnya normal menjadi lebih pemuruh, pemarah, tidak peduli dengan sekitar hingga akhirnya akan menyakiti diri sendiri akibat gejala ketergantungan. Selain itu juga kecenderungan akan mengidap penyakit menular berbahaya akibat mengkonsumsi narkoba ini juga menjadi semakin besar. Bagi keluarga selain berdampak pada kerugian ekonomi, korban penyalahgunana narkoba ini secara tidak langsung telah mencoreng nama baik keluarga di mata masyarakat. Kehidupan sosialnyapun akan ikut terganggu, korban penyalahgunana narkoba ini akan cenderung untuk melanggar nora yang berlaku di masyarakat sehingga memungkinkan dirinya untuk melakukan tindakan melawan hukum hanya untuk memenuhi hasratnya untuk kembali mengkonsumsi narkoba seperti mencuri, merampok bahkan hingga membunuh sekalipun. Kerugian yang akan diterima dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah semakin rusaknya genersi muda penerus bangsa yang akan mebuat bangsa ini mengalami kemunduran yang bisa mengancam kestabilan nasional.

Sekarang mari kita lihat bagaimana narkoba dapat beredar luas dikalangan masyarakat Indonesia. Telah disebutkan diatas kalau Indonesia saat ini tidak hanya sebagai tepat transit atau tepat mengedarkan narkoba namun juga telah berkembang menjadi tempat penghasil narkoba. kondisi ini mungkin tercipta sebagai dampak dari era globalisasi yang ditandai dengan kemajuaan teknologi informasi, liberalisasi perdagangan dan kemajuaan industri pariwisata yang mendorong Indonesia dapat tumbuh kembang menjadi negara penghasil narkoba. peredaran gelap narkoba ini tidak hanya berasal dari dalam negeri saja, namun juga datang dari luar negeri baik itu melalui jalur darat, jalur laut ataupun jalur udara. Peredaran gelap narkoba melalui jalur darat umumnya terjadi di sekitar wilayah perbatasan Indoensia dengan negara sekitar. Hal ini dapat terjadi karena lemahnya sistem pengawasan dan keamanan di wilayah perbatasan. Sarana dan prasarana yang tidak memadai serta kurangnya perhatian dari pihak pusat terhadap kebijakan disekitar wilayah perbatasan menjadi pemicu kesenjangan anatara masyarak wilayah sekita perbatasan dengan masyarakat Indoensia di kota. Hal inilah yang mendorong masyarakat sekitar perbatasan mencari jalan lain untuk dapat menyambung hidup mereka, meskipun itu harus melakukan hal yang melanggar hukum. Maka terjadilah kegiatan-kegiatan penyelundupan narkoba dari negara tetangga yang dibawa masuk secara ilegal ke dala negeri ini melalu masyarakat sekitar perbatasan tersebut. Imbalan besar yang dijanjikan bila dapat membawa narkoba masuk melewati perbatasan tentu tak ingin mereka lewatkan begitu saja.

Peredaran gelap narkoba melalui laut juga kerap dilakukan. Indonesia yang merupakan kepulauan ini tentu banyak memiliki lautan yang dapat berfungsi sebagai pintu masuk kedalam negeri ini. masalahnya tidak semua wilayah laut yang ada di Indonesia ini mendapatkan perhatian dan pengawalan yang optimal dari pemerintah. Luasnya lautan yang dimiliki Indoensia tidak diimbangi dengan jumlah personel yang mencukupi akibatnya beberapa wilayah perbatasan laut indonesia menjadi tidak terjaga. Celah inilah yang banyak diincar oleh pengedar narkoba luar untuk dapat membawa masuk barang dagangan mereka ke Indonesia melalui jalur laut. Tak hanya itu jumlah personil yang sedikit dan gaji yang dirasa tidak sebanding sering membuat para pernjaga perbatasan tersebut tergoda untuk meloloskan para pengedar gelap narkoba tersebut dengan imbalan alias menerima suap.

Peredaran gelap narkoba melalui jalur udara juga mengkhawatirkan. Berkali-kali dinas bea dan cukai bandara menggagalkan penyleundupan narkoba membuktikan kalau penyelundupan narkoba melalui jalur bandara sangatlah sering dilakukan. Ketersediaan alat pendeteksi yang canggih mutlak diperlukan agar penyelundupan narkoba melalui bandara tersebut tidak dapat lolos dari pemeriksaan, karena cara dan modus yang dilakukan untuk menyelundupkan narkoba melalu jalur udara ini semakin hari semakin beragam saja dan perlu pengamatan yang jeli dari petugas agar mereka dapat menghentikannya. Untuk mencegah peredaran gelap narkoba tersebut perlu dilakukan beberapa upaya agar dapat menekan laju peredaran gelap narkoba, kalau perlu sampai menghapus jejak peredaran gelap narkoba tersebut. Peran pemerintah dalam hal ini sangatlah krusial, namun tetap upaya pemerintah ini juga harus mendapatkan dukungan dan kerja sama dari pihak masyarakat karena tanpa dukungan masyarakat apa yang dilakukan pemerintah tidak akan berguna sama sekali.

Dimulai dengan membina hubungan yang baik dengan masyrakat. Pembinaan dan pengembangan pola hidup masyarakat. menciptakan hubungan yang harmonis antar sesama warga masyarakat sehingga timbul kesadaran dalam diri masyarakat untuk dapat menjaga keamaan didalam lingkungan mereka sendiri. Pemerintah memberikan informasi mengenai bahaya penyalahgunaan dan peredran gelap narkoba kepada masyarakat melalui tokoh masyarakat setempat yang nantinya informasi tersebut akan diterukan kepada anggota masyarakat lainnya. Memberikan bimbingan kepada masyarakat hingga memperkenalkan kepada masyarakat apa-apa saja yang termasuk kedalam kategori narkoba, termasuk tanaman yang dikategorikan narkoba seperti ganja; agar mereka paham kalau menanam dan memelihara tanaman ganja termasuk kedalam penyalahgunaan narkoba. sarana sosialisasi ini sendiri juga harus menggunakan pendekatan yang sesuai dengan jenjang usia yang ada, idealnya untuk remaja dan anak-anak media internet dan televisi sangatlah ampuh dalam program ini. Bila dalam diri masyarakat telah tertanam pengetahuan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba tentu peredaran gelap narkoba dapat ditekan seminimal mungkin.

Selain itu juga dapat dilakukan semcam razia-razia ditempat konsumsi publik yang rawan terjadinya peredaran gelap narkoba ini seperti diskotik, tempat karaoke, pub atau warung remang-remang. Tempat-tempat tersebut selama ini dikenal sebagai tempat perputaran narkoba yang cukup berpengaruh, baik itu yang asalnya dari dalam ataupun dari luar negeri. Razia terhadap kendaran berodapun juga harus dilakukan, karena sering kedapatan pengendara yang memacu kendaraannya sedang dalam pengaruh obat-obatan. Yang terpenting informasi mengenai razia ini tidak boleh sampai bocor sebelum dilaksanakan, karena bisa saja ada oknum-oknum yaang tak bertanggung jawab yang mencari keuntungan dengan menjual informasi mengenai razia narkoba ini kepada para pengedar narkoba tersebut. Selain itu juga harus diadakan pencarian ke tempat sumber yang dijadikan sebagai bahan utama pembuatan narkoba juga harus dilakukan, jangan hanya menindak tempat pembuatan narkobanya saja.

Dalam melaksanakan program penanggulangan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini, Polri dapat bekerja sama dengan lembaga pemerintah kementrian dan non kementrian seperti Dirjen Bea dan Cukai, Dirjen Imigrasi, departemen Agama, Departemen Pariwisata Seni dan Budaya, BPOM, Kejaksaan, kehakiman dan Badan Narkotika Nasional (BNN). Undang-Undang No. 35 juga menjelaskan kalau pihak penyidik Polri dan penyidik BNN berwenang untuk melakukan penyelidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaan gelap narkotika, dan dalam prakteknya mereka dapat melakukan kerja sama dan koordinasi dalam melakukan penyelidikan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Untuk kedepannya nanti, pemerintah Indonesia dapat melihat dan mencontoh negara-negara yang telah sukses menekan laju peredaran gelap narkoba di negara mereka. Pelaji langkah-langkah apa saja yang bangsa lain tempuh dalam upayanya memberantas peredaran gelap narkoba ini. kerja sama internasional dalam bidang penanggulangan penyalahgunaan narkoba ini diharpkan dapat terwujud supaya bisa mempersempit ruang gerak para pengedar gelap narkoba tersebut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Aug 23, 2012 4:48 pm

PERAN MASYARAKAT DALAM UPAYA PENCEGAHAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Kamis, 23 Agustus 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
MASYARAKAT merupakan elemen terpenting didalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Didalam masyarakatlah terbentuk suatu rasa kebersamaan dan sosial yang tinggi antar sesama. Saling mengenal satu sama lain akan memperkuat kesatuan didalam kehidupan berbangsa dan negara. Didalam masyarakat pula segala aktivitas yang berhubungan dengan negara ini berjalan mulai dari yang bermanfaat hingga hal-hal yang dapat mengganggu keamanan dan kestabilan negara. Penyalahgunaan narkoba didalam lingkungan masyarakat merupakan salah satu hal yang amat mencemaskan dan sangat menggangu bagi kelangsungan hidup orang banyak, khususnya untuk para generasi muda bangsa ini. Potensi masyarakat ini sebenarnya memiliki peran dan posisi yang strategis dalam upaya pencegahan penyalahugunaan narkoba dan peredagan gelap narkoba. Mengapa demikian? Karena pencegahan penyalahgunaan narkoba dikalangan masyarakat merupakan upaya untuk memberikan kekuatan masyarakat melalui peningkatan pengetahuan dan ketrampilan mereka dalam mengidentifikasi dan memprioritaskan kebutuhan masyarakat dan melakukan upaya untuk mencapai kebutuhan tersebut. Pendekatan ini dianggap sesuai dan relevan dalam mengatasi masalah narkoba dikalangan masyarakat karena:

1. Permasalahan narkoba ini sendiri merupakan masalah masyarakat yang membutuhkan perhatian dan tanggung jawab penuh dari masyarakat itu sendiri.

2. Masyarakat lebih mengenal lingkungan tempat tinggal mereka sendiri yang akan memudahkan mereka dalam mencegah penyalahgunaan narkoba dengan cara mereka sendiri yang sesuai dengan apa yang berada di lingkungan mereka sendiri.

3. Masyarakat setempat harus ikut terlibat dalam program-program yang telah mereka buat dan harus mereka kembangkan sendiri.

Dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba dan peredaran gelap narkoba ini, diharapkan peran serta masyarakat, terutama para tokoh masyarakat yang harus tampil sebagai aktor utama dalam menggerakan masyarakat . Para tokoh masyarakat ini diharapkan dapat memberikan pengaruh positif terhadap kelangsungan program pencegahan penyalahgunaan narkoba ini, mereka juga harus merangkul semua elemen masyarakat mulai dari orang tua, anak-anak, remaja, sekolah hingga organisasi sosial masyarakat supaya program tersebut dalam dilaksanakan sepenuhnya oleh semua anggota masyarakat. Agar para tokoh masyarakat ini tampil sebagai aktor utama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba ini, diharapkan mereka dapat melakukan hal berikut ini:

1. Memahami masalah penyalahgunaan narkoba, upaya pencegahan dan penanggulangannya di masyarakat.
2. Mengamati bagaimana kondisi dan situasi lingkungan masayarakat sekitar.
3. Menggalang potensi masyarakat yang nantinya dapat ikut membantu pelaksanaan pencegahan, pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, terutama orang tua, para remaja sekolah, organisasi sosial dan kelompok kegiatan masyarakat dalam lingkungan sekitar.
4. Memberikan arahan yang benar, menyemangati tanpa lelah dan mengendalikan gerakan masyarakat tersebut agar tidak keluar dari batas yang sudah ditetapkan bersama.

Dalam menggalang dan menggerakan masyarakat, dapat melakukan hal-hal berikut ini:

1. Bertatap muka langsung dan berbicara secara terbuka. Ini merupakan cara yang paling sederhana namun juga cara yang paling ampuh dalam upaya menggerakan masyarakat dalam program ini. Dengan bertemu langsung, masyarakat akan jauh lebih mengerti tentang apa yang ingin disampaikan oleh para tokoh masyarakat tersebut; mengenai program atau solusi-solusi apa saja yang bisa dilakukan. Ini lebih efektif ketimbang hanya melalui selebaran-selebaran atau spanduk yang terpampang disekitar wilayah masyarakat.

2. Mengadakan rapat untuk menyusun program kerja. Hal ini harus dilakukan karena tanpa adanya program kerja yang mumpuni maka semua ide dan solusi yang telah disampaikan tidak akan bisa berjalan dan hasilnya tidak akan tampak sama sekali. Pembuatan program kerja ini harus sesuai dengan anggaran yang tersedia, jangan sampai anggaran yang telah disepakati membengkak karena hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan program yang ada. Karena itu perlu adanya pengawasan yang intensif agar tidak terjadi penyimpangan dan penyalahgunaan didalam penyusunan program kerja ini.

3. Para tokoh masyarakat ini juga harus dilibatkan, baik tokoh agama, tokoh sosial maupun tokoh pemuda yang ada didalam masyarakat. ini penting karena keberadaan tokoh masyarakat ini sendiri telah mempunyai pengaruh yang besar terhadap kehidupan masyarakat. Bila para tokoh ini yang berbicara, maka masyarakat akan lebih mudah mempercayai dan menjalankannya dikarenakan faktor kedekatan antar tokoh dan masyarakatnya ini sendiri.

4. Harus ada pemberitahuan mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba dan peringatan mengenai hal tersebut karena masalah ini tidak hanya menjadi masalah pemerintah semata tapi juga masyarakat.

Keterlibatan tokoh agama dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini juga merupakakan salah satu kunci terpenting bagi suksesnya program ini. Hal ini dikarenakan para tokoh agama merupakan pembimbing serta penuntun masyarakat dalam menjalankan nilai-nilai agama yang mereka yakini. Pemberian nilai moral agama yang intensif juga akan menimbulkan kekebalan masyarakat terhadap hal-hal negatif yg dilarang oleh ajaran agama yang mereka yakini. Bila sudah seperti itu, otomatis masyarakat akan jadi lebih tahu dan paham kalau menggunakan narkoba dan mengedarkannya secara gelap merupakan perbuatan yang dilarang oleh agama. Peran tokoh agama ini diharapkan tidak hanya sebagai pembimbing dan penuntun masyarakat saja namun juga harus mempunyai otoritas di lingkungannya dalam memberikan bantuan untuk pembinaan dan membina umatnya masing-masing. Tokoh agama diharapkan melakukan hal berikut ini dalam perannya sebagai salah satu tokoh masyarakat yang ikut aktif dalam upaya pencegahan penyalahagunaan narkoba:

1. Pembinaan umat
Tokoh agama dapat membantu keluarga yang sedang menderita karena masalah penyalahgunaan narkoba ini dengan cara melakukan bimbingan konseling. Pengadaan konseling oleh tokoh agama ini merupakan kegiatan yang sangat membantu keluarga dalam memecahkan masalah, setidaknya meringankan beban yang ada dalam diri keluarga yang nantinya mungkin saja dapat membuka jalan bagi keluarga untuk mengambil tindakan dan keputusan yang tepat. Tokoh agama juga dapat membantu umat untuk menerima para korban penyalahgunaan narkoba tersebut. Tokoh agama harus dapat menyakinkan umat dan masyarakat kalau pecandu narkoba ini bukanlah seorang tertuduh kriminal, mereka hanyalah korban dan tidak sepantasnya para korban dikucilkan. Doa dan dukungan untuk korban beserta keluarga sangat membantu menguatkan keluarga dalam menghadapi kondisi keputusasaan hingga nanti mereka akan menemukan harapan kembali.

2. Program pendidikan untuk pencegahan
Tokoh agama dan umatnya memiliki potensi besar untuk bersama-sama mengadakan program pencegahan masalah penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini dengan cara:

A. Program pendidikan yang terfokus pada pengadaan bimbingan, pelatihan dan penyuluhan untuk membangun prinsip hidup sehat dalam diri masyarakat sehingga dapat dicapai suatu tahapan ketahanan dibidang fisik yang merupakan pertahanan kuat dari bahaya pengaruh penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

B. Program pendidikan bagi orang tua mengenai mengasuh dan mendidik anak yang baik sebagai strategi pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Membangun komunikasi yang baik antara orang tua dan anak agar anak dapat menceritakan segala hal kepada orang tuanya tanpa menutup-nutupi bila anak sedang memiliki masalah. Menciptakan disiplin bagi anak dan memperlakukan anak sebagaimana mestinya tanpa harus ada paksaan.

C. Program pendidikan bagi generasi muda mengenai peningkatan dan pengamalan kehidupan keagamaan sehingga nantinya dapat mewujudkan generasi muda yang sehat jasmani dan rohani, berbudi luhur dan mempunyai ketakwaan kepada Tuhan YME.

3. Program sosial
Tokoh agama, organisasi dan umatnya dapat menjadi aktor utama dan berperan serta dalam upaya pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba ini dengan cara mengadakan program sosial yang meliputi:

A. Mendirikan pusat atau tempat pelayanan untuk konseling dan konsultasi. Tidak hanya untuk para korban dan keluarganya saja namun juga masyarakat umum juga dapat menggunakan fasilitas ini. Tujuannya agar masyarakat mendapatkan informasi terkini mengenai narkoba dan bagaimana cara mereka untuk menghindarinya.

B. Pendirian pusat pengobatan, penampungan dan bimbingan pada anak-anak korban penyalahgunaan narkoba. Fasilitas ini diperlukan karena anak merupakan elemen yang sangat rentan terhadap dampak penyalahgunaan narkoba ini. Mereka akan mendapatkan trauma yang sangat mendalam bila mengetahui kalau salah satu anggota keluarganya merupakan korban penyalahgunaan narkoba. Dibutuhkan waktu dan keahlian khusus agar anak bisa kembali seperti sediakala lagi.

C. Mengadakan kegiatan positif untuk menghindarkan diri dari penyalahguna narkoba. Ini diperlukan agar lingkungan masyarakat senantiasa hidup dan aktif dalam menjalin kekerabatan dan kebersamaan antar penghuninya sehingga akan tercipta kerukunan dan kesatuan dalam diri masyarakat yang berguna dalam menangkal masuknya bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba.

D. Penempatan pekerjaan dan program latihan. Membuka lahan usaha baru agar dapat menampung warga sekitar yang tidak memiliki pekerjaan, tujuannya agar mereka yang tadinya mengganggur tidak terjerumus dalam usaha praktek jual beli narkoba yang banyak mengincar orang-orang yang tidak punya pekerjaan seperti mereka. Iming-iming bayaran yang tinggi dapat dengan mudah mengajak mereka yang menganggur untuk melakukan bisnis haram tersebut. Program latihan ketrampilan juga diperlukan agar warga mempunyai kemampuan untuk berkreatifitas yang bila nantinya dikembangankan akan mampu membuka lapangan kerja baru untuk diri mereka sendiri.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Aug 28, 2012 1:22 pm

GANJA LEBIH MERUSAK BAGI PEMAKAI DIBAWAH 18 TAHUN
SELASA, 28 AGUSTUS 2012 | 11:23 WIB
TEMPO.CO, Wellington - Remaja pecandu ganja berisiko mengalami kerusakan kecerdasan permanen, atensi berkurang, dan memori terbatas. Kesimpulan ini didapat berdasarkan penelitian empat dekade yang diikuti lebih dari 1.000 orang. Menurut ilmuwan, penelitian menghasilkan bukti meyakinkan pertama bahwa ganja yang memiliki efek yang berbeda dan lebih merusak pada otak anak muda ketimbang pada orang dewasa. Sekitar 5 persen dari kelompok yang menggunakan ganja setidaknya sekali seminggu ketika muda, tingkat kecerdasan (IQ) mereka turun rata-rata delapan poin. Mereka yang mulai menjadi pecandu ganja setelah usia 18 tidak memiliki penurunan IQ yang sama. "Ini upaya ilmiah yang menakjubkan," kata Profesor Terrie Moffitt dari Institut Psikiatri King''s College London, salah satu peneliti. "Kami mengikuti hampir 1.000 peserta. Kami menguji kemampuan mental mereka saat anak-anak sebelum mereka mencoba ganja dan kami menguji mereka lagi 25 tahun kemudian setelah beberapa peserta menjadi pecandu." Peserta diikuti perkembangannya dari 1972 sampai hari ini. "Ini seperti sebuah studi khusus yang saya cukup yakin bahwa ganja aman bagi otak jika dikonsumsi mereka yang berusia di atas 18 tahun, tetapi berisiko untuk otak mereka di bawah usia 18 tahun," katanya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Aug 30, 2012 11:16 am

KEBURUKAN GANJA BAGI ANAK SAAT DEWASA
Kamis, 30 Agustus 2012 09:30 WIB
SEBUAH hasil temuan King College di London dan Duke University, Durham, Amerika, menyebutkan bahwa anak-anak usia sekolah yang mengisap ganja memiliki risiko yang lebih besar memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang rendah saat usia dewasa. Meskipun turun skor tidak terlalu banyak, namun hal ini harus menjadi perhatian. Para peneliti menyebutkan selain IQ, anak-anak yang kerap menghisap ganja nyatanya secara signifikan mempunyai masalah perhatian dan ingatan. Kesimpulan tersebut bermula dari riset para peneliti dari data sekitar seribu orang di Dunedin, Selandia Baru, sejak tahun 1972 dan 1973, hingga bulan Juni tahun 2012. Diketahui, satu dari 20 orang mengatakan mereka mulai menghisap ganja pada usia 18. Kemudian satu dari 10 orang mengatakan kebiasaan buruk itu dimulai pada usia pertengahan 20-an. Menurut Profesor Terrie Moffitt dari KCL Institute of Psychiatry, pengguna yang mulai menghisap ganja saat usia remaja, diketahui skor IQ-nya turun delapan poin dari usia 38 tahun, dibanding saat yang bersangkutan berusia 13 tahun. "Hasil penelitian juga menunjukkan skor IQ berkaitan dengan kemampuan seseorang mendapat akses pendidikan, pendapatan, pekerjaan yang baik, kesehatan hati, Alzheimer, bahkan kematian dini,” ujar Moffitt seperti dipublikasikan dalam Calm Journal Proceedings of the National Academy of Science, Juni 2012. "Individu yang kehilangan delapan poin skor IQ pada usia remaja, barangkali tidak terlalu beda dengan mereka yang seusia pada saat umur 20-an. Namun pengaruhnya akan terasa pada saat dewasa. Terlebih dalam kemampuan memori, dan hal tersebut tidak lebih baik dari rokok,” pungkasnya dalam penelitian yang dipublikasikan oleh Telegraph Rabu (29/Cool. (*/OL-06)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Tue Sep 04, 2012 2:54 pm

EFEK NEGATIF PEMAKAIAN NARKOBA
Selasa, 04 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
NARKOTIKA dan obat terlarang, atau disebut sebagai Narkoba, merupakan suatu obat atau zat berbahaya yang mengacu pada tingkah laku yang disebabkan oleh pemakainya lebih banyak mendapatkan mudarat dibanding manfaat. Menurut Undang-undang Republik Indonesia nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, dapat disebutkan bahwa narkoba disatu sisi merupakan obat atau bahan yang bermanfaat di bidang pengobatan atau layanan kesehatan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Sedangkan di sisi lain dapat pula menimbulkan ketergantungan yang sangat merugikan apabila disalahgunakan tanpa pengawasan yang ketat dari orang atau pihak yang bersangkutan. Sebagai contoh, untuk masyarakat di pedalaman Sumatera, mengkonsumsi daun ganja (Cannabis atau Marijuana) sebagai bumbu masakan adalah hal yang wajar. Sebab, sebagai pohon yang tumbuh liar di hutan-hutan pelosok Sumatera, seperti Aceh, tentunya dapat dimanfaatkan oleh penduduk setempat untuk bahan masakan keluarganya yang berfungsi sebagai penyedap. Atau bila kita pergi ke rumah sakit, maka narkoba jenis Morfin sering dipakai pihak kedokteran untuk obat kebal. Jika ada sebuah operasi untuk seorang pasien, mau tidak mau pihak rumah sakit atau tim medis akan memberikan suntik baal (kebal) agar tidak merasa sakit saat dilakukan operasi. Sebenarnya menurut definisi narkoba itu sendiri merupakan obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman, baik sintetis maupun semi sintetis, sehingga dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, serta mengurangi rasa nyeri bagi pengguna. Untuk itu seyogyanya hanya dipakai oleh pihak kedokteran atau tim medis serta para peneliti di laboratorium tertentu yang berguna untuk melaporkan hasil penelitiannya pada masyarakat luas. Tetapi sayangnya, terkadang penggunaan narkoba malah disalahgunakan oleh orang atau pihak tertentu yang bukan kepentingannya. Seperti contoh, ganja yang semestinya untuk hal positif, karena disalahgunakan malah menjadi negatif dan sama sekali tidak bermanfaat. Sebab, ganja tersebut dipakai untuk bersenang-senang atau euforia sesaat dengan menghisapnya yang dibuat seperti lintingan rokok. Akibat semakin luasnya penyimpangan yang dilakukan, terutama kalangan remaja, membuat ganja dimasukkan sebagai zat terlarang yang berada dalam golongan satu dengan heroin. Hampir serupa dengan ganja, pemakaian narkoba jenis serbuk putih seperti Heroin, Kokain atau Morfin digunakan untuk bersenang-senang sesaat. Melalui efek sampingnya yang menimbulkan euforia dan halusinasi, narkoba seperti itu malah membuat penggunanya seperti orang yang tidak sadar. Atau dengan kata lain, mengkonsumsi narkoba seperti itu sama saja dengan menjerumuskan pemakainya dalam ketidakjelasan masa depan. Karena hanya senang sesaat yang didapat, namun efek ketagihan dengan bahaya latin kerusakan mental jika dikonsumsi terus menerus akan merenggut sang pemakainya. Berikut ini adalah beberapa jenis narkotika, psikotropika dan zat adiktif atau narkoba yang banyak beredar di masyarakat luas, yaitu:

1. Ganja, marijuana, Cannabis Sativa, gele, cimeng
Tumbuhan seperti ini yang bagiannya banyak dipakai seperti daun, bunga, biji dan batang, awalnya berfungsi untuk mengatasi keracunan dan penyedap bumbu masakan. Hanya saja, setelah banyak disalahgunakan, cimeng atau gele yang di masyarakat dikenal dengan bahasa slang dari arti ganja itu, dijadikan bahan campuran untuk lintingan rokok.

Ciri-ciri bagi orang yang baru memakai ganja untuk pertama kali adalah:
1. Mata terlihat merah
2. Tubuh terasa lemas dan tampak kelelahan
3. Bola mata menjadi besar
4. Pikiran seperti berkunang-kunang
5. Ada perasaan gelisah namun dari luar terlihat senang

Sementara itu, efek buruk dari mengkonsumsi ganja adalah:
1. Daya tangkap syaraf otak berkurang
2. Penglihatan mata terasa kabur dan samar
3. Kurangnya konsentrasi
4. Pasokan sirkulasi darah ke jantung berkurang
5. Sering terlihat salah tingkah dalam aktivitas yang dilakukan

Sedangkan bagi pecandu yang merasa enak dalam mengkonsumsi ganja, terlihat seperti:
1. Rasa gembira yang berlebihan (Euforia)
2. Percaya diri yang meningkat pesat
3. Indera pendengaran lebih aktif dan peka

2. Morfin
Morfin adalah semacam zat senyawa yang merupakan perpaduan hasil ekstraksi dari opium dengan zat kimia tertentu untuk menghilangkan rasa sakit bagi pasien yang menderita penyakit tertentu. Sejatinya, morfin dapat meminimalisir rasa sakit, mengurangi rasa lapar, dan merangsang batuk. Hanya saja efek samping yang disebabkan juga tidak kalah buruknya yang menurut hasil penelitian adalah menderita susah tidur (insomnia) dan mimpi buruk. Dewasa ini, penggunaan morfin di kalangan medis telah banyak diganti dengan obat-obatan lain yang memiliki kegunaan sama namun ramah bagi pemakainya.

3. Heroin
Dapat disebut sebagai keturunan morfin atau opioda semisintatik dengan proses kimiawi yang dapat menimbulkan ketergantungan dan kecanduan yang berlipat ganda dibandingkan morfin. Heroin banyak dipakai para pecandunya dengan cara menyuntik heroin ke otot atau urat/ pembuluh vena di kulit, karena ketidaktahuan atau memang sengaja berbuat seperti itu untuk menimbulkan efek euforia dan histeris.

4. Kokain
Bubuk kristal berwarna putih yang didapat dari hasil ekstraksi dengan daun coca (erythoroxylon coca) dapat membuat rangsangan pada sambungan syaraf dengan cara diminum atau mencampurnya dengan minuman yang digunakan tim medis di dunia kedokteran. Hanya saja, setelah sampai di masyarakat luas, kokain ini disalah gunakan menjadi sejenis zat atau obat perangsang dengan cara disuntik ke pembuluh darah atau dihirup dari hidung dengan sebuah pipa kecil. Sama halnya dengan yang dilakukan oleh suku Indian di benua Amerika, oleh penduduk setempat kokain digunakan untuk mendapat efek stimulan dalam bertempur kepada musuh-musuhnya. Akibat penggunaan dari kokain menurut penelitian hanya dirasakan sebentar saja, yaitu tidak sampai lima belas menit yang meliputi rasa senang, pede, terangsang, dan menambah tenaga serta stamina. Hanya saja setelah seperempat jam itu, maka perasaan enak akan hilang seketika dan berubah menjadi rasa lelah yang berkepanjangan. Selain itu pengguna juga dapat mengalami depresi mental dan ketagihan untuk menggunakannya lagi, lagi, dan lagi sampai mati.

Efek psikologis atau mental yang didapat dari pemakaian kokain adalah:
1. Darah tinggi
2. Sulit tidur
3. Bola mata menjadi kecil
4. Nafsu makan menjadi hilang yang menyebabkan kurus
5. Jantung berdetak lebih cepat
6. Perasaan tidak menentu dan sebagainya.

5. Shabu-shabu
Sejenis nama yang identik dengan masakan Jepang, namun shabu-shabu ini yang bernama Metamfetamina, adalah sebuah serbuk berwarna putih kristal. Awalnya dibuat pada akhir abad 20 untuk mengobati gangguan bagi penderita hiperaktifitas, yaitu seseorang yang tidak bisa diam. Tetapi seiring berjalannya waktu, shabu-shabu malah disalahgunakan dengan pemakaian yang menyimpang. Di Indonesia sendiri banyak selebritis, olahragawan dan musisi yang karirnya hancur akibat mengkonsumsi narkoba jenis ini. Shabu-shabu sendiri sejatinya adalah berbentuk pil, namun karena banyak disalahgunakan menjadi serbuk yang pemakaiannya menggunakan kertas alumunium yang dibakar dan asapnya dihisap melalui hidung dengan memakai botol kaca yang dibuat khusus bernama bong. Beberapa akibat yang dihasilkan dari Shabu-shabu adalah:

1. Jantung terasa berdebar-debar
2. Suhu badan naik
3. Tidak bisa tidur hingga wajah terlihat pucat
4. Timbul euforia yang tinggi hingga halusinasi
5. Nafsu makan menghilang
6. Gigi menjadi rapuh karena kekurangan kalsium
7. Dan, depresi berkepanjangan

Dari beberapa uraian kelima contoh jenis Narkoba tersebut, seyogyanya untuk dihindari penggunaannya. Agar, jangan sampai generasi masa depan nanti terjerumus kedalam kegelapan karena sudah menjadi pecandu yang dapat merusak mental dan akhlaknya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Sep 06, 2012 11:09 am

LAPORKAN MASALAH NARKOBA KE 021 - 80880011
Kamis, 06 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
PENCEGAHAN Pemberantasan Penyalahgunaan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN) merupakan Program Badan Narkotika Nasional (BNN). Teori ekonomi supply dan demand ternyata berlaku juga di dunia narkoba, mungkin karena ada komoditas, atau ada barang dagangan. Sebenarnya biaya bahan baku dan biaya produksi obat obatan terlarang itu tidaklah terlalu tinggi, namun karena narkotika adalah barang haram maka jualannya umpet umpetan, sehingga harga barang itu mahal. Cara berdagang ilegal ini dilakukan bandar memalui seribu satu macam metode. BNN sesuai dengan Undang Undang Narkotika Nomor 35 Tahun 2009 merupakan satu satunya Badan resmi Pemerintah yang menangani narkoba di negeri ini. P4GN adalah program simultan yang dilaksanakan mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari pencegahan, pemberantasan sampai ke dan rehabilitasi. Faktor supply adalah tanggung jawab Deputi Pemberantasan BNN untuk menghilangkan barang terlarang itu dari peredaran. Deputi Pencegahan BNN melakukan intervensi pada sektor demand dengan melakukan penyuluhan kepada masyarakat agar menjauhi narkoba. Sasaran BNN dalam melaksanakan tugasnya berbeda segmen pada masing masing Deputi dengan rincian sebagai berikut :

1. Bidang Pencegahan sasarannya masyarakat umum khususnya pelajar/mahasiswa dan pekerja agar masyarakat imun terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba melalui penyebarluasan informasi baik melalui media cetak maupun elektronik serta dengan memperkuat komitmen antara pemerintah dengan masyarakat.

2. Bidang Pemberantasan sasarannya pengedar, bandar dan pabrik /produsen narkoba dengan pola operasi kepolisian secara terus menerus.

3. Bidang Rehabilitasi sasarannya adalah para pengguna narkoba dengan tujuan mereka di beri pengobatan medis dan diharapkan tidak kambuh kembali

Di samping itu upaya Pemberdayaan Masyarakat merupakan salah satu bagian kerja keras dari BNN untuk menghancurkan atau memutus jaringan peredaran gelap narkoba, karena dari laporan masyarakatlah kasus kasus narkoba banyak terungkap. Oleh karena itu apabila anda menemukan hal hal yang mencurigakan terkait dengan narkoba, segera lapor ke BNN melalui telepon atau SMS yang operasional 24 jam seperti tertera dibawah ini. Mari kita selamatkan anak bangsa sebagai generasi penerus dari dampak buruk penyalahgunaan narkoba. Peran anda sekecil apapun pasti memberikan kontribusi besar dalam mengungkap jaringan narkoba sampai ke akar-akarnya. Dengan demikian angka kematian anak anak muda akibat narkoba akan bisa diturunkan apabila peran masyarakat ditingkatkan, mulai dari keluarga, tetangga sampai ke lingkungan terdekat. Kepedulian masyarakat mempunyai peran yang sangat penting, dan diharapkan slogan anti narkoba membudaya di masyarakat sebagaimana dulu Program Keluarga Berencana berhasil menurunkan angka kelahiran.
Untuk bantuan atau laporan masalah narkoba hubungi :

BNN atau Telp: 02180880011 atau SMS: 081221675675
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Fri Sep 07, 2012 9:49 pm

MENGENAL APA ITU KETERGANTUNGAN (1)
Jumat, 07 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
SERINGKALI setiap pengguna narkoba kerap terjangkit suatu ketergantungan terhadap narkoba itu sendiri, sehingga dia tidak dapat melepaskan diri dari narkoba. Adiksi ini merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Dalam adiksi, ada dorongan dan tuntutan bagi si pengguna narkoba untuk terus menerus mengkonsumsi narkoba, disertai dengan peningkatan dosis setiap kali pemakaiannya. Ini terjadi terutama setelah terjadinya ketergantungan secara fisik dan psikis serta terdapat juga ketidakmampuan untuk mengurangi atau menghentikan diri untuk menggunakan narkoba walaupun sudah berusaha demikian keras. Seseorang yang mengalami adiksi akan menujukan tanda-tanda berikut ini:

1. Adanya proses toleransi
Pengguna membutuhkan zat tertentu dalam jumlah yang semakin meningkat, untuk dapat mencapai keadaan fisik dan psikologis seperti pada waktu mereka mulai merasakannya.

2. Adanya gejala putus zat (withrawl syndrome)
Pengguna akan merasakan gejala fisik dan psikologi yang tidak nyaman apabila penggunaanya dihentikan. Akan muncul perasaan tidak nyaman, resah, gelisah dan fisik akan menjadi tidak sehat seperti sakit, mata berair, lemas, diare muntah-muntah dan lain-lain.

Setelah gejala-gejala tersebut, pada akhirnya akan membuat tubuh mengalami penurunan berat secara drastis dan akan menimbulkan ketergantungan pada narkoba serta terjadinya gejala komplikasi medik. Secara psikologis, gejala ini ditandai dengan munculnya perasaan malu, rasa bersalah, curiga, tidak aman, marah, tidak percaya diri, cemas, emosi tidak terkontrol, gangguan kpribadian, tidak toleran, mengalami penolakan dan halunisasi. Selain berdampak pada kondisi fisik dan psikologisnya, adiksi ini juga akan membuat penggunanya mengalami perubahan pada perilakunya. Dalam kehidupan sosial, orang yang menggunakan narkoba akan cenderung menutup diri dari pergaulan, suka lari dari kenyataan hidup, sengat hidup yang rendah, berperilaku anti sosial, egois dan mulai berhalusinasi mengenai realita yang terjadi di dunia nyata. Adiksi ini mempunyai karaktakteristik yang harus kita kenali. Menurut Roger & Mc.Millins (1991) mengatakan kalau adiksi dapat digolongkan sebagai suatu penyakit yang memiliki kriteria sebagai berikut:

1. Adiksi merupakan penyakit primer dimana tidak diperlukan suatu kondisi awal untuk membuat seseorang menjadi pecandu narkoba.

2. Kronis
Penyakit adiksi ini merupakan kondisi yang berulang kali kambuh dan akan terus menghinggapi pengguna narkoba untuk seumur hidupnya. Yang dapat mendorong dirinya untuk tidak mengkonsumsi narkoba adalah dukungan dari lingkungannya sendiri, adaptasi sikap sesuai dalam menghadapi masalah ini dan komitmen pribadi yang harus muncul dari diri si penggunanya itu sendiri.

3. Progresif
Penderita akan mengalami kondisi dimana kondisi fisik dan psikologisnya akan menjadi semakin memburuk seiring dengan berjalannya waktu .

4. Potential Fatal
Kondisi yang mengharuskan si penderita mendapatakan pertolongan secara medis karena kalau tidak akan dapat menimbulkan akibat yang serius mulai dari komplikasi medis yang serius, gangguan jiwa hingga yang terburuk yakni kematian.

Selain karateristik, kita juga harus mengenal mengenai model ketergantungan yang dialami si pengguna. Ada beberapa model ketergantungan yang dapat menjelaskan ketergantungan narkoba dalam program rehabilitasi., antara lain:

1. Model Belajar Berperilaku
Pada model ini kita akan beranggapan kalau seseorang yang menyalahgunakan narkoba dikarenakan pengalaman pertamanya dalam mengkonsumsi narkoba mereka mendapatkan semacam “hadiah” atau semacam kesenangan dan bagi mereka itu berdampak positif. Hal-hal bersifat positif yang mereka rasakan itulah yang menyebabkan seseorang mengulang kembali perbuatannya untuk kembali mengkonsumsi narkoba.

2. Model Kognitif (Cognitive Model)
Model kognitif ini beranggapan kalau pikiran dan keyakinan kita adalah faktor penyebab utama dalam penyalahgunaan narkoba. Perilaku sosial kita, yang telah terpasang dalam alam bawah sadar kita ikut berpengaruh terhadap keinginan seseorang untuk mulai mengkonsumsi narkoba. Sifat dasar inilah yang akan membawa seseorang untuk mulai mengkonsumsi narkoba yang nantinya akan memberikan dorongan untuk menghasilkan perilaku ketergantungan. Contohnya Himpitan ekonomi dan masalah sosial bisa disebut sebagai pemicu pikiran kita untuk mulai menggunakan narkoba, sebagai jalan keluar atau melarikan diri dari masalah hidup.

3. Model Penyakit (Disease Model)
Pada model ini penyalahgunaan narkoba akan dianggap sebagai kebiasaan menyimpang yang akan menyebabkan kondisi menyakitkan pada fisik si pengguna dan akan menyebabkan ketergantungan. Dengan penggunaan yang terus menerus akan membuat si pengguna kehilangan kendali atas perilakunya.

4. Model Gaya Hidup (Life Style Model)
Dalam sudut pandang model ini imbalan kehidupan yang menyenangkan akan mengubah kesadaran seseorang akan hal-hal yang destruktif, seperti mulai menggunakan narkoba. Bila sudah mulai mengkonsumsi narkoba dan mengalami ketergantungan maka akan sulit bagi mereka untuk mengulanginya karena kebiasaan ini dapat dianggap menghilangkan eksistensi dirinya.

5. Model Pengaruh Orang Tua (Parental Influence Model)
Orang tua yang menggunakan narkoba akan menjadi contoh buruk bagi anak-anak. Bila ini terjadi maka akan muncul dala benak anak- anak “bila orang tua saya boleh melakukannya, mengapa saya tidak boleh?”.

6. Model Kelompok Sebaya (Peer Cluster Model)
Ini merupakan model yang menganggap penyalahgunaan narkoba dimulai dari kelompok sebaya dimana kekompakan dan jalinan pertemanan di lingkup yang sebaya dijadikan alasan bagi mereka yang mulai menyalahgunakan narkoba pada model ini. Bagi mereka hal-hal yang ada dan dilakukan dalam kelompok sebaya ini merupakan suatu simbol perlawanan atu hanya sebagai pembenaran akan nilai dan perilaku yang mereka lakukan.

7. Model Pintu Gerbang (Gateway Model)
Pada model ini bisa dibilang praktek penyalahgunaan narkoba dimulai dari sekedar iseng dan coba-coba saja. Mulai dari yang ringan seperti merokok, disusul kemudian mencoba minuman keras hingga akhirnya mulai tertarik untuk menggunakan narkoba. Bisa dibilang merokok merupakan pintu gerbang bagi seseorang yang ingin menyalahgunakan narkoba.

8. Model Sosial Budaya (Socio Cultural Model)
Faktor lingkungan, baik yang berasal dari ekternal lingkungan maupun internal lingkungan menjadi penentu seseorang untuk mulai menyalahgunakan narkoba.

Ada beberapa kepribadian remaja yang sangat rentan terhadap penyalahgunaan narkoba, yakni:

1. Kurang Percaya Diri.
Kurang mengenal diri sendiri mengakibatkan remaja tidak mengenal potensi dirinya yang sebetulnya bisa dia kembangkan untuk masa depannya. Lalu sering menganggap dirinya banyak kekurangan bila dibandingkan dnegan teman-temannya, akibatnya dia akan mengambil jalan pintas supaya dirinya menjadi setara dengan teman-temannya, jalan pintas ini yang terkadang menjadi pilihan yang buruk karena mereka akan jadi lebih mudah terbujuk termasuk untuk mulai mengkonsumsi narkoba.

2. Harga diri yang rendah
Maksudnya adalah remaja seolah merasa kalau dirinya itu tidak berharga dan tidak memiliki sesuatu dalam dirinya yang patut dibanggakan kepada orang lain. Akibatnya ia akan selalu merasa diremehkan dan disepelekan, tentu ini akan menjadi beban psikologis dalam diri remaja tersebut. Bila ini sudah terjadi ia akan mencoba lari dari kenyataan dan mulai melakukan hal-hal yang akan menenangkan dirinya termasuk mulai mencoba narkoba.

3. Kurang terampil dalam mengambil keputusan
Adanya kebiasaan kalau keputusan dalam hidup kita bisa ditentukan oleh orang lain membuat individu yang bersangkutan tidak terbiasa untuk membuat keputusan untuk dirinya sendiri. Bila ini terjadi maka individu tersebut akan kesulitan untuk membedakan antara keinginan dan kebutuhan, membuat urutan prioritas dalam hidupnya dan mengantisipasi dampak dari tindakannya terhadap diri sendiri maupun orang lain.

4. Kurang terampil memecahkan masalah
Bagi seseorang yang biasa dibantu oleh orang lain dalam memecahkan masalahnya bisa mengakibatkan orang tersebut menjadi tidak terampil dalam menghadapi problematika hidupnya sendiri. Biasanya ia akan jadi meremehkan setiap masalah yang menimpanya dan bila ingin menyelesaikannya sendiri tentu dengan cara yang kurang meyakinkan.

5. Sulit mengendalikan keinginan
Kecenderungan untuk memenuhi semua hasrat dan keinginan dalam diri membuat seseorang akan melakukan suatu perbuatan tanpa pikir panjang tanpa pertimbangan yang rasional.

6. Sulit menerima kekecewaaan
Orang yang terbiasa menerima sesuatu, mendapatkan segala keinginannya akan merasa sangat kecewa bila keinginannya itu tidak tercapai. Ia akan marah dan akan bersikap untuk melakukan perbuatan yang merusak diri dan orang lain.

7. Kurang terbuka
Untuk orang yang sulit mengekspresikan emosi dan perasaannya tentu menjadi sangat rentan terhadap serangan penyalahgunaan narkoba. sifat tertutup ini tentu menjadi pemicu seseorang untuk melakukan segala hal sendirian tanpa masukan dan saran dari orang lain, apakah perbuatan itu baik atau tidak termasuk keinginan untuk mulai mengkonsumsi narkoba.

8. Kondisi emosi yang labil
Perubahan emosi yang sering kali mendadak tanpa ada faktor penyebab yang jelas tentu akan menciptakan kondisi tidak nyaman dalam dirinya sendiri. Mengkonsumsi narkoba dipilih sebagai jalan untuk memberikan ketenangan pada dirinya sendiri.
Melihat kondisi diatas, anak-anak muda sangat rentan menjadi pecandu narkoba, dan bila sudah terkena jerat narkoba maka akan sulit melepas mereka dari ketergantungan narkoba yang mereka derita. (bersambung)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 10, 2012 1:41 pm

MENGENAL APA ITU KETERGANTUNGAN BAGIAN (2)
Senin, 10 September 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
SERINGKALI setiap pengguna narkoba kerap terjangkit suatu ketergantungan terhadap narkoba itu sendiri, sehingga dia tidak dapat melepaskan diri dari narkoba. Adiksi ini merupakan suatu kondisi ketergantungan fisik dan mental terhadap hal-hal tertentu yang menimbulkan perubahan perilaku bagi orang yang mengalaminya. Dalam adiksi, ada dorongan dan tuntutan bagi si pengguna narkoba untuk terus menerus mengkonsumsi narkoba, disertai dengan peningkatan dosis setiap kali pemakaiannya. Ini terjadi terutama setelah terjadinya ketergantungan secara fisik dan psikis serta terdapat juga ketidakmampuan untuk mengurangi atau menghentikan diri untuk menggunakan narkoba walaupun sudah berusaha demikian keras. Seseorang yang mengalami adiksi akan menujukan tanda-tanda berikut ini (tulisan lanjutan):

5. Proses ketergantungan
Untuk sampai pada pada kondisi dimana seseorang mengalami ketergantungan akan narkoba, dia akan akan terlebih dahulu mengalami beberapa tahap :

A. Abstinence (Abstinensia)
Merupakan periode dimana seseorang akan lama sekali untuk tidak menggunakan narkoba untuk tujuan rekreasional.

B. Sosial Use
Periode dimana individu mulai mencoba-coba menggunakan narkoba untuk tujuan rekreasional namun sama sekali tidak mengalami peroble yang terkait dengan aspek sosial, finansial, medis dan sebagainya. Kondisi si pengguna sendiri dia masih mampu mengontrol jumlah dosis penggunaannya.

C. Early Problem Use
Ini merupakan periode dimana individu sudah mulai menyalahgunakan narkoba dan perilaku individu tersebut sudah mulai mempengaruhi kehidupan sosialnya. Seperti mulai timbul rasa malas untuk belajar, malas untuk ke sekolah dan tidak mau bersosialiasi dengan lingkungan sekitar, bergaulnya hanya dengan orang-orang tertentu saja.

D. Severe Addiction
Periode saat individu mempunyai keinginan hidup demi mempertahankan ketergantungannya akan narkoba saja dan tidak peduli dengan hal lainnya. Pada kondisi ini individu sudah benar-benar hilang akal, dia rela melakukan apa saja untuk bisa memenuhi hasratnya akan ketergantungan narkoba. Tindakan kriminalpun akan dilakukannya demi bisa memperoleh narkoba yang diinginkannya.
Kapan waktunya seseorang sampai pada fase akhir ketergantungan sangat tergantung pada faktor biologis, psikologi dan sosial individu tersebut. Selain itu juga jenis narkoba yang dikonsumsi ikut menentukan.

6. Dampak Penyakit Adiksi
Penyakit adiksi ini banyak menimbulkan dampak yang sangat merugikan, baik untuk pengguna maupun bagi keluarga.

A. Dampak bagi penyalahguna
Dalam keadaan kecanduan, seseorang akan memiliki perasaan ketidaknyamanan dimana dia akan menggunakan narkoba sebagai sarana untuk mengembalikan kondisi tubuhnya seperti semula yang justru pada akhirnya selepas menggunakan narkoba tersebut malah akan mendorong si pengguna tersebut untuk kembali mengalai rasa tidak nyaman tersebut. Jadi si pengguna menggunakan narkoba dengan tujuan ingin menjadi lebih tenang, namun itu justru malah membuat ia semakin tidak nyaman karena efek yang diberikan oleh narkoba hanya sementara. Keadaan fisik dan psikis yang muncul ketika di pengguna narkoba mulai mengalami ketergantungan narkoba menyebabkan ketidaknyamanan yang ditandai dengan perubahan perilaku dan ekpresi yang dikeluarkan baik yang verbal maupun yang non verbal. Pola perilaku negatif ini malah menambah parah keadaan psikis yang justru memperburuk keadaan perilaku si pengguna narkoba tersebut. Keinginan untuk terus mengkonsumsi narkoba, dorongan yang kuat dari dalam diri untuk terus melanjukan menggunakan narkoba merupakan pemicu dari alam bawah sadar yang akan semakin memperburuk kondisi fisik dan psikisnya yang justru malah akan m embuat perilakunya semakin negatif. Adiksi yang semakin parah tidak akan bisa dihentikan bila tidak ada keinginan keras dari si penderita untuk sembuh dan dukungan moril dari keluarga serta lingkungannya.

B. Dampak bagi Keluarga
Adiksi bagi keluarga merupakan suatu cap mimpi buruk yang akan terus melekat dala diri mereka. Pandangan yang menyatakan kalau Adiksi adalah suatu penyakit keluarga selalu menyertai keluarga. Bila ada satu anggota keluarga yang menjadi pecandu (addict) narkoba, seolah-olah anggota keluarga yang lain ikut menjadi ketergantungannya juga (co addict). Ini bisa dimaklumi karena dampak yang diterima oleh keluarga tidak hanya dari dalam saja namun juga cibiran dan tekanan dari masyarakat luar terhadap nama baik keluarga mereka juga semakin menambah berat beban persoalan yang ada. Keluarga sendiri menganggap yang namanya adiksi ini sama sekali tidak ada jalan keluarnya, mereka akan selalu menyalahkan diri mereka sendiri, marah , frustasi dan ketakutan yang mencekam dikarenakan pemikiran mereka yang bilang kalau adiksi telah merenggut semuanya dari kehidupan keluarga mereka. Ini bisa dilihat dari peran yang dijalankan didalam keluarga. Sang ayah yang sudah mulai terlihat marah-marah dan menjauh, tidak mau lagi berurusan dengan dengan penyalahguna dan juga mengabaikan masalah-masalah yang berhubungan dengan keluarga. Sang ibu menjadi sosok yang paling merasa bersalah dan terpukul atas adiksi ini karena dia tidak mampu menjaga buah hatinya dari incaran penyalahgunaan narkoba. seringkali ia berpikir “mengapa keluarga mereka yang harus mengalami? Apa yang kurang dari kasih sayang yang telah kami berikan pada putra putri kami? Sehingga harus kami yang menanggung cobaan berat ini”. Untuk anak-anak tidak ada lagi perhatian yang mencukupi karena semua perhatian dan kasih sayang lebih banyak ditujukan kepada penderita adiksi ini, anak seolah kehilangan peran orang tua dalam hal ini. Saran yang mereka berikan kepada orang tuapun seolah tidak digubris karena orang tua terlalu sibuk untuk mengurusi si penderita penyalahguna tersebut. Ini yang membuat sebuah “jarak” diantara sesama penghuni keluarga. Masing-masing anggota keluarga akan merasa kehilangan arah, terutama anak yang menjadi kurang pengawasan serta merasa jadi terabaikan dalam perannya dikeluarga. Akibatnya antara penghuni keluarga menjadi kurang saling mengenal satu sama lain. Ibu dan ayah yang biasa menjadi sosok “teman terbaik” bagi anak saat didalam rumah seolah hanya ilusi semata, anak juga mulai tidak fokus menghadapi kehidupan sosialnya baik disekolah maupun dengan teman sebayanya. Si pengguna sendiri seringkali berjanji kepada keluarga kalau ini adalah yang terakhir, ia coba meyakinkan keluarga kalau setelah ini semua keadaan akan baik-baik saja dan kembali seperti kehidupan semula. Keluarga yang coba mempercayai dan sudah menaruh harapan tinggi akan niat dan kesungguhan si pengguna untuk sembuh harus bersiap untuk kecewa kembali karena janji-janji ingin sembuh yang dilontarkan di penyalahguna narkoba ini hanyalah janji palsu yang sebatas ingin menenangkan keluarga saja. Setelah berjanji, diam-diam ia memakai narkoba lagi, setelah ketahuan keluarga ia berjanji kembali bahwa itu untuk terakhir kali dan ia ingin sembuh, dan akan terus seperti itu keadaannya. Yang ada hanya semakin banyaknya janji yang diucapkan dan diingkari.

7. Tahap-Tahap Perubahan
Perlu diingat, sebagai penyakit kronis adiksi ini tidak dapat disembuhkan, yang ada hanyalah pulih kembali. Pulih ke keadaan seperti sediakala saat masih belum terjangkit narkoba, namun tidak sembuh sepenuhnya karena ancaman adiksi yang kerap mengintai. Proses pemulihan pengguna penyalahgunaan narkoba ini sendiri berlangsung seumur hidupnya dimana dia dan lingkungannya harus berjalan selaras dalam mempertahankan pemulihan mereka.
Pemulihan ini sendiri bisa ditandai dengan kembalinya kondisi dan stabilitas fisik penyalahguna seperti semula, yang selanjutnya penyalahguna akan diarahkan kepada masyarakat dan lingkungannya melalui pandangan yang positif yang disertai dengan penerimaan dirinya kembali dalam lingkungan masyarakat sehingga penyalahguna dapat mendapati kembali dirinya mempunyai peran, hak serta kewajiban didalam masyarakat. Tentu proses pemulihan ini bisa berjalan dengan lancar apabila si penyalahguna mendapat dukungan dan respon positif dari semua elemen masyarakat.

Ada tahap-tahap perubahan yang dialami seorang penyalahguna yang akan mempengaruhi proses pemulihannya:

A. Precontemplation
Tahap dimana si penyalahguna umumnya masih belum mampu mengakui kalau perilakunya menyalahgunakan narkoba itu telah merugikan dirinya, keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dia akan sering menyangkal atas tuduhan negatif yang ditujukan kepada dirinya, dan mencari pembelaan rasional atas apa yang telah dilakukannya.

B. Contemplation
Ini merupakan tahap dimana penyalahguna sudah mulai menyadari bahwa perilakunya selama ini telah merugikan banyak pihak, baik untuk dirinya, keluarga maupun untuk lingkungan tepat tinggalnya. Walaupun masih sering merasa ragu untuk menjalani proses pemulihannya ini, ia masih mau melakukannya. Berbicara langsung secara motivasi akan membantu penyalahguna apakah ia akan kembali pada tahap precontemplation atau malah akan termotivasi untuk sembuh.

C. Preparation
Tahap dimana penyalahguna sudah mulai mempersiapkan diri untuk berhenti secara total dari penggunaan narkobanya. umumnya si pengguna akan mulai mengubah pola pikirnya yang dianggap akan membantu dirinya untuk dapat melepaskan diri dari jerat narkoba.

D. Action
Ini merupakan tahap dimana di penyalahguna sudah mulai punya kesadaran diri untuk mencari pertolongan untuk membantu pemulihan dirinya.

E. Maintenance
Merupakan tahap dimana si penyalahguna mempertahankan kondisi kesadaran dirinya akan bebas narkoba.

F. Relapse
Tahap dimana si penyalahguna narkoba kembali ke kehidupan aslinya saat dia masih belum mengenal narkoba sama sekali, dalam keadaan bebas narkoba.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 10, 2012 2:02 pm

BEBERAPA UPAYA PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYALAHGUNAAN NARKOBA
Jumat, 31 Agustus 2012 07:00 WIB Media Indonesia - Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
PERKEMBANGAN peredaran narkoba di kalangan masyarakat yang dewasa ini semakin pesat membuat banyak pihak cemas, bagaimana tidak saat ini narkoba sangat mudah untuk didapati tidak hanya oleh orang dewasa saja namun anak-anak pun juga mulai ikut merambah bisnis haram ini. Tentu pihak pemerintah harus segera mengambil tindakan antisipasi agar kejadian ini tidak terus berlangsung, jika tidak akibat yang akan diterima oleh bangsa indonesia akan sangat fatal karena akan menyangkut masa depan bangsa Indonesia itu sendiri. Pemerintah perlu peran serta masyarakat dalam upaya mencegah dan memberantas penyalahgunaan narkoba ini. Berbagai macam metode pencegahan ini terus digalakkan agar nantinya masyarakat dapat ikut berpartisipasi dalam program pemerintah ini. Metode pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkoba yang paling efektif dan mendasar adalah metode promotif dan preventif. Upaya yang paling praktis dan nyata adalah represif dan upaya yang manusiawi adalah kuratif serta rehabilitatif.

1. Promotif
Program promotif ini kerap disebut juga sebagai program preemtif atau program pembinaan. Pada program ini yang menjadi sasaran pembinaanya adalah para anggota masyarakat yang belum memakai atau bahkan belum mengenal narkoba sama sekali. Prinsip yang dijalani oleh program ini adalah dengan meningkatkan peranan dan kegitanan masyarakat agar kelompok ini menjadi lebih sejahtera secara nyata sehingga mereka sama sekali tidak akan pernah berpikir untuk memperoleh kebahagiaan dengan cara menggunakan narkoba. Bentuk program yang ditawrkan antara lain pelatihan, dialog interaktif dan lainnya pada kelompok belajar, kelompok olah raga, seni budaya, atau kelompok usaha. Pelaku program yang sebenarnya paling tepat adalah lembaga-lembaga masyarakat yang difasilitasi dan diawasi oleh pemerintah.

2. Preventif
Program promotif ini disebut juga sebagai program pencegahan dimana program ini ditujukan kepada masyarakat sehat yang sama sekali belum pernah mengenal narkoba agar mereka mengetahui tentang seluk beluk narkoba sehingga mereka menjadi tidak tertarik untuk menyalahgunakannya. Program ini selain dilakukan oleh pemerintah, juga sangat efektif apabila dibantu oleh sebuah instansi dan institusi lain termasuk lembaga-lembaga profesional terkait, lembaga swadaya masyarakat, perkumpulan, organisasi masyarakat dan lainnya. Bentuk dan agenda kegiatan dalam program preventif ini:

A. Kampanye anti penyalahgunaan narkoba
Program pemberian informasi satu arah dari pembicara kepada pendengar tentang bahaya penyalahgunaan narkoba. Kampanye ini hanya memberikan informasi saja kepada para pendengarnya, tanpa disertai sesi tanya jawab. Biasanya yang dipaparkan oleh pembicara hanyalah garis besarnya saja dan bersifat informasi umum. Informasi ini biasa disampaikan oleh para tokoh asyarakat. Kampanye ini juga dapat dilakukan melalui spanduk poster atau baliho. Pesan yang ingin disampaikan hanyalah sebatas arahan agar menjauhi penyalahgunan narkoba tanpa merinci lebih dala mengenai narkoba.

B. Penyuluhan seluk beluk narkoba
Berbeda dengan kampanye yang hanya bersifat memberikan informasi, pada penyuluhan ini lebih bersifat dialog yang disertai dengan sesi tanya jawab. Bentuknya bisa berupa seminar atau ceramah. Tujuan penyuluhan ini adalah untuk mendalami pelbagai masalah tentang narkoba sehingga masyarakat menjadi lebih tahu karenanya dan menjadi tidak tertarik enggunakannya selepas mengikuti program ini. Materi dalam program ini biasa disampaikan oleh tenaga profesional seperti dokter, psikolog, polisi, ahli hukum ataupun sosiolog sesuai dengan tema penyuluhannya.

C. Pendidikan dan pelatihan kelompok sebaya
Perlu dilakukan pendidikan dan pelatihan didalam kelompok masyarakat agar upaya menanggulangi penyalahgunaan narkoba didalam masyarakat ini menjadi lebih efektif. Pada program ini pengenalan narkoba akan dibahas lebih mendalam yang nantinya akan disertai dengan simulasi penanggulangan, termasuk latihan pidato, latihan diskusi dan latihan menolong penderita. Program ini biasa dilakukan dilebaga pendidikan seperti sekolah atau kampus dan melibatkan narasumber dan pelatih yang bersifat tenaga profesional.

D. Upaya mengawasi dan mengendalikan produksi dan upaya distribusi narkoba di masyarakat.
Pada program ini sudah menjadi tugas bagi para aparat terkait seperti polisi, Departemen Kesehatan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Imigrasi, Bea Cukai, Kejaksaan, Pengadilan dan sebagainya. Tujuannya adalah agar narkoba dan bahan pembuatnya tidak beredar sembarangan didalam masyarakat. namun melihat keterbatasan julah dan kemampuan petugas, program ini masih belum dapat berjalan optimal.

3. Kuratif
Program ini juga dikenal dengan program pengobatan dimana program ini ditujukan kepada para peakai narkoba. Tujuan dari program ini adalah mebantu mengobati ketergantungan dan menyembuhkan penyakit sebagai akibat dari pemakaian narkoba, sekaligus menghentikan peakaian narkoba. Tidak sembarang pihak dapat mengobati pemakai narkoba ini, hanya dokter yang telah mempelajari narkoba secara khususlah yang diperbolehkan mengobati dan menyembuhkan pemakai narkoba ini. Pngobatan ini sangat rumit dan dibutuhkan kesabaran dala menjalaninya. Kunci keberhasilan pengobatan ini adalah kerjasama yang baik antara dokter, pasien dan keluarganya. Bentuk kegiatan yang yang dilakukan dalam program pengobat ini adalah:

A. Penghentian secara langsung.
B. Pengobatan gangguan kesehatan akibat dari penghentian dan pemakaian narkoba (detoksifikasi).
C. Pengobatan terhadap kerusakan organ tubuh akibat pemakaian narkoba.
D. Pengobatan terhadap penyakit lain yang dapat masuk bersama narkoba seperti HIV/AIDS, Hepatitis B/C, sifilis dan lainnya.

Pengobatan ini sangat kompleks dan memerlukan biaya yang sangat mahal. Selain itu tingkat kesembuhan dari pengobatan ini tidaklah besar karena keberhasilan penghentian penyalahgunaan narkoba ini tergantung ada jenis narkoba yang dipakai, kurun waktu yang dipakai sewaktu menggunakan narkoba, dosis yang dipakai, kesadaran penderita, sikap keluarga penderita dan hubungan penderita dengan sindikat pengedar. Selain itu ancaman penyakit lainnya seperti HIV/AIDS juga ikut mempengaruhi, walaupun bisa sembuh dari ketergantungan narkoba tapi apabila terjangkit penyakit seperti AIDS tentu juga tidak dapat dikatakan berhasil.

4.Rehabilitatif
Program ini disebut juga sebagai upaya pemulihan kesehatan jiwa dan raga yang ditujukan kepada penderita narkoba yang telah lama menjalani program kuratif. Tujuannya agar ia tidak memakai dan bisa bebas dari penyakit yang ikut menggerogotinya karena bekas pemakaian narkoba. Kerusakan fisik, kerusakan mental dan penyakit bawaan macam HIV/AIDS biasanya ikut menghampiri para pemakai narkoba. Itulah sebabnya mengapa pengobatan narkoba tanpa program rehabilitasi tidaklah bermanfaat. Setelah sembuh masih banyak masalah yang harus dihadapi oleh bekas pemakai tersebut, yang terburuk adalah para penderita akan merasa putus asa setelah dirinya tahu telah terjangit penyakit macam HIV/AIDS dan lebih memilih untuk mengakhiri dirinya sendiri. Cara yang paling banyak dilakukan dalam upaya bunuh diri ini adalah dengan cara menyuntikkan dosis obat dalam jumlah berlebihan yang mengakibatkan pemakai mengalami Over Dosis (OD). Cara lain yang biasa digunakan untuk bunuh diri dalah dengan melompat dari ketinggian, membenturkan kepala ke tembok atau sengaja melempar dirinya untuk ditbrakkan pada kendaraaan yang sedang lewat. Banyak upaya pemulihan namun keberhasilannya sendiri sangat bergantung pada sikap profesionalisme lembaga yang menangani program rehabilitasi ini, kesadaran dan kesungguhan penderita untuk sembuh serta dukungan kerja sama antara penderita, keluarga dan lembaga. Masalah yang paling sering timbul dan sulit sekali untuk dihilangkan adalah mencegah datangnya kembali kambuh (relaps) setelah penderita menjalani pengobatan. Relaps ini disebabkan oleh keinginan kuat akibat salah satu sifat narkoba yang bernama habitual. Cara yang paling efektif untuk menangani hal ini adalah dengan melakukan rehabilitasi secara mental dan fisik. Untuk pemakaipsikotropika biaanya tingkat keberhasilan setlah pengobatan terbilang sering berhasil, bahkan ada yang bisa sembuh 100 persen.

5. Represif
Ini merupakan program yang ditujukan untuk menindak para produsen, bandar, pengedar dan pemakai narkoba secara hukum. Program ini merupakan instansi peerintah yang berkewajiban mengawasi dan mengendalikan produksi aupun distribusi narkoba. Selain itu juga berupa penindakan terhadap pemakai yang melanggar undang-undang tentang narkoba. Instansi yang terkain dengan program ini antara lain polisi, Departemen Kesehatan, Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), Imigrasi, Bea Cukai, Kejaksaan, Pengadilan. Begitu luasnya jangkauan peredaran gelap narkoba ini tentu diharapkan peran serta masyarakat, termasuk LSM dan lembaga kemasyarakatan lain untuk berpartisipasi membantu para aparat terkait tersebut. Masyarakat juga harus berpartisipasi, paling tidak melaporkan segala hal yang berhubungan dengan kegiatan yang terkait dengan penyalahgunaan narkoba dilingkungannya. Untuk memudahkan partisipasi masyarakat tersebut, polisi harus ikut aktif menggalakkan pesan dan ajakan untuk melapor ke polisi bila melihat kegiatan penyalahgunaan narkoba. Cantumkan pula nomor dan alamat yang bisa dihubungi sehingga masyarakat tidak kebingungan bila hendak melapor nanti. Melaporkan kegiatan pelanggaran narkoba seperti ini tentu saja secara tidak langsung ikut mebahayakan keselamatan si pelapor, karena sindikat narkoba tentu tak ingin kegiatan mereka terlacak dan diketahui oleh aparat. Karena itu sedah jadi tugas polisi untuk melindungi keselamatan jiwa si pelapor dan merahasiakan identitasnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Mon Sep 10, 2012 2:26 pm

BERAWAL DARI COBA COBA HINGGA MAUT MENJEMPUT!
Senin, 03 September 2012 07:00 WIB Penulis : Deputi Bidang Pencegahan Badan Narkotika Nasional
PENGALAMAN buruk terhadap narkoba bisa dialami oleh siapa saja dan dimana pun orangnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, termasuk saya sendiri. Kenangan tentang narkoba yang merupakan salah satu peristiwa paling tragis dalam hidup saya, berdasarkan pengalaman nyata saat menyaksikan seorang sepupu bertaruh melawan maut yang menjemputnya. Dan, semoga itu adalah sebuah pengalaman yang akan menjadi pelajaran untuk kita semua, khususnya saya pribadi. Senin, 14 Juni 2004 adalah salah satu hari yang tak terlupakan seumur hidup saya. Sebab siang itu, sekitar pukul 13.00 WIB usai pulang sekolah, saya menyaksikan peristiwa yang mendebarkan. yaitu ketika melihat saudara sepupu sedang meregang nyawa akibat over dosis akibat mengkonsumsi salah satu jenis narkoba yaitu Heroin atau biasanya disebut Putaw atau etep bahasa sehari-harinya. Serbuk putih yang biasanya di pakai dalam kedokteran untuk memberikan efek baal (kebal) saat disuntik atau menjelang operasi, karena disalahgunakan menjadi kendaraan menuju maut. Sedih, pilu, kecewa, dan hampir tak percaya ketika dengan mata kepala sendiri menyaksikan Saudara sepupu saya meninggal dengan keadaan yang sangat tragis (maaf) yakni tengkuk di sekitar leher berwarna kebiruan, juga mulutnya terus mengeluarkan busa akibat over dosis. Saat pandangan ini kosong karena benar-benar sungguh tak percaya, padahal beberapa hari yang lalu beliau masih menemani keberangkatan sekolah saya di kawasan Harmoni. Dan yang lebih mengagetkan lagi adalah malam harinya, saat pertandingan Inggris melawan Prancis di Piala Eropa 2004, kami masih sempat berkomentar mengenai gagalnya David Beckham saat mengeksekusi penalti. Namun, takdir berkata lain pada siang harinya, sebab jodoh, rezeki dan maut ada ditanganNya. Sebagai manusia biasa, meski tidak rela kehilangan salah satu keluarga, tetap harus ikhlas melihatnya terbujur dengan kaku.

Rupa-rupa barang haram
Yang sangat disayangkan adalah cara kepergiannya yang menyimpang disaat usia masih sangat muda. Dengan usia 20 tahun, saat itu beliau adalah tumpuan dari keluarganya karena anak pertama dari empat bersaudara. Entah karena kurangnya benteng agama atau terlalu kuat lingkungan sekitar yang menjerumuskan beliau pada kenikmatan sesaat itu. Berawal dari iseng-iseng menghisap cimeng (ganja/ cannabis) lalu berlanjut dengan mencoba Shabu-shabu, dan karena mahalnya harga barang haram itu, malah berbalik arah dengan mengkonsumsi Putaw yang biasa disebut di daerah kami adalah Taiknya Heroin. Sebab, meski satu golongan dengan sejenis alkoloid Heroin, namun untuk masyarakat kelas bawah Putaw adalah pelampiasan berharga murah menuju kenikmatan yang menyerupai Heroin. Dan, barang haram itulah yang merenggut nyawa beliau di hadapan kami sekeluarga. Saat itu dengan selembar uang berwarna biru, sudah dapat menikmati barang haram tersebut bersama kawan-kawannya di sebuah rumah kosong di daerah Cengkareng tempat kediamannya. Salah kami juga ketika itu tidak terlalu tanggap dengan omongan tetangga yang mengatakan bahwa beliau suka mengumpet-umpet bersama beberapa kawannya di sebuah rumah kosong. Kami hanya menganggap aksi mereka sekadar kongkow bareng ataupun bermain gitar biasa layaknya seorang remaja. Dan tidak menyadari bahwa hal seperti itu sudah sangat sering dilakukan. Hingga kejadian Senin siang itu membukakan mata hati dan telinga kami, bahwa seorang anak (remaja) yang di dalam rumah sangat kalem namun ketika di luaran bisa lepas kontrol juga. Nasi telah menjadi bubur, usai kejadian itu, sulit untuk mencari kambing hitam yang bisa disalahkan. Menyalahkan beberapa kawannya, tidaklah mungkin karena mereka memakai atas dasar patungan. Menyalahkan keluarganya sendiri, juga tidak mungkin sebab setahu saya, Ayah (alm) dan Ibunya sangat perhatian padanya. Dan begitu tegas saat mengawasi perkembangan baik di sekolah maupun di rumah. Andai saja saat itu waktu bisa diputar kembali, tentu kami akan memutarnya pada waktu sebelum beliau mengenal narkoba untuk pertama kalinya yaitu Ganja. Sebab disanalah cikal-bakal terjadinya bom waktu berupa maut yang merenggut beliau. Tapi itu tidaklah mungkin, sebab apa yang tidak kami inginkan akhirnya terjadi juga. Walaupun menyesali kepergiannya yang mendadak dan juga sangat mengenaskan, tetapi ada hikmah dibalik sebuah musibah yang terjadi. Yaitu berangsur-angsurnya sadar beberapa remaja yang dahulunya suka memakai narkoba di kawasan kami berada. Sebab banyak yang ngeri ketika menyaksikan langsung meninggalnya saudara sepupu saya tersebut. Hingga efeknya, mereka mulai meninggalkan untuk mengkonsumsi barang haram itu karena takut akan apa yang dilihat terjadi pada dirinya sendiri. Ah, biarlah saudara sepupu saya itu menjadi tumbal sekaligus contoh di kawasan tempat tinggal kami, untuk generasi selanjutnya tidak lagi memakai narkoba, minimal ngeri membayangkan apabila sang Malaikat Maut menjemput. Dan ini menjadi pelajaran bagi kita semua, untuk tidak mencoba dengan yang namanya Narkoba. Sebab berawal dari coba-coba, lalu ketagihan saking enak, hingga akhirnya malah saking keenakan tak sadar akan datangnya kematian.

Pergaulan
Selain faktor lingkungan yang kurang baik, banyak hal yang membuat remaja tergiur untuk mencoba-coba narkoba, salah satunya dari pergaulan tidak beres, entah itu di rumah, sekolah atau tempat bermain lainnya. Dalam berbagai bidang, baik itu musik maupun olahraga, terkadang banyak sosok yang difavoritkan oleh remaja justru merupakan pecandu narkoba. Tokoh-tokoh di dunia musik seperti Kurt Cobain, Bob Marley, Sid Vicious – Sex Pistol, Rolling Stones, dan lainnya yang tersandung narkoba, sedikit banyaknya terbukti mampu menghipnotis remaja untuk mengikuti jejak langkah mereka. Bahkan ada ujar-ujar diantara para remaja, bahwa tidak disebut anak gaul jika mereka sama sekali mengikuti gaya hidup atau para selebritis anutannya itu, termasuk dalam mengkonsumsi narkoba! Bob Marley yang berasal dari Jamaika, sebuah negara di kawasan benua Amerika tengah, sejak dekade 1970an hingga kini tetap banyak yang mengidolai musik reggae yang dimainkannya serta gaya hidup yang slengean. Hanya saja, bagi remaja yang awam tentu banyak yang “mengkultuskan” sosok berambut gimbal tersebut dengan mengikuti gaya hidupnya yang urakan. Termasuk dalam menghisap ganja, yang di barat sana adalah sesuatu yang lumrah, namun tidak untuk di Indonesia yang menjunjung tinggi adat ketimuran, dimana menghisap hal seperti ganja adalah tabu. Begitu juga dengan Kurt Cobain, vokalis Nirvana ini, sebuah band rock yang tenar di dekade 1990an hingga kini masih banyak digemari kalangan anak muda. Sosok Kurt Cobain yang tampan dan berperawakan bule, seolah diaanggap keren bagi anak remaja. Ironisnya lagi, Kurt Cobain sendiri tewas akibat bunuh diri karena tidak kuat menanggung hidupnya sebagai seorang artis terkenal, karena telah terpengaruh dengan narkoba, terutama Heroin! Sama halnya dengan Rolling Stones dan Sex Pistols yang kelakuan mereka di luar musik tidak patut untuk ditiru. Bersama Kurt Cobain dan Bob Marley, keempat musisi itu menjadi contoh yang tidak baik untuk dijadikan oleh panutan generasi muda, terutama anak remaja yang masih labil. Apalagi di Indonesia sendiri banyak musisi dan atlet yang tersandung kasus narkoba, sebagai contoh adalah adanya musisi rock yang tewas di akhir tahun 1990an serta pemain sepak bola yang karirnya langsung meredup ketika ketahuan. Untuk itu, seyogyanya kita, sebagai bagian dari keluarga, agar memberi petunjuk kepada anak remaja dirumah dan sekitarnya, supaya berhati-hati dalam memilih sosok panutan dalam dunia musik dan olahraga.
Back to top Go down
 
Mengenal Narkoba
View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 10Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
 Similar topics
-
» mengenal imam tirmidzi
» mengenal rukun islam
» mengenal syiah ismailiyah
» mengenal Allah
» Ga Cuma Daging Babi, Narkoba Juga Halal

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: