Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Mengenal Narkoba

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 9:53 am

SIAPA YANG BIKIN ORANG INDONESIA KENAL MADAT?
Rabu, 06/06/2012 10:40 WIB Irna Gustia - detikHealth
Jakarta, Penyalahgunaan candu atau madat pada generasi masa kini sudah sangat memprihatinkan. Meski ribuan pelaku dan pemakai sudah banyak dipenjara, tapi pemakai baru terus bermunculan. Sejak kapan sebenarnya orang Indonesia kenal madat dan siapa yang mengenalkannya? Madat yang melemahkan orang ternyata sudah dipakai di masa kolonialisasi Belanda. Banyak yang tidak tahu bahwa candu telah lama dilegalisasi di Nusantara oleh pemerintah Hindia Belanda sejak 1745 dengan terbentuknya sebuah yayasan bernama Societeit van den Amphioen Handel. Amfiun dalam bahasa Belanda adalah candu. Yayasan ini khusus bergerak dalam perdagangan candu. Dalam buku 'Seks dan Kekerasan pada Zaman Kolonial' karangan Capt.RP.Suyono seperti dikutip detikHealth Rabu (6/6/2012), dijelaskan bahwa jauh sebelum yayasan candu itu dilegalkan, penduduk Nusantara sebenarnya telah diracuni dengan candu. Tujuannya untuk melemahkan rakyat agar tidak melawan dan melemahkan tentara-tentara kerajaan di Nusantara sehingga kerajaannya lebih mudah direbut. Sisa-sisa legalisasi Yayasan Candu Societeit van den Amphioen Handel ini adalah digunakannya nama ampiun untuk sebuah jalan. Di daerah Petojo Jakarta misalnya, pernah ada satu jalan bernama Gang Ampiun. Candu atau ampiun yang dijual Belanda secara bebas kala itu didatangkan dari Benggala India. Pembelian dan pengangkutan candu waktu itu menjadi tanggungjawab VOC.

Foto-foto di masa itu yang sempat terpotret menunjukkan bagaimana pembiaran penggunaan candu oleh pemerintah Hindia Belanda. Terlihat rakyat pribumi dari kalangan bawah hingga yang berwajah indo ketagihan candu. Dalam sebuah foto terdapat 2 pemuda, satu orang tua dan satu anak-anak sedang merubuti candu. 2 pemudanya menghisap candu dengan bong yang terbuat dari bambu. Semua orang di zaman itu bebas membeli candu. Bahkan saking tingginya permintaan akan candu dari masyarakat, pemerintah Hindia Belanda akhirnya membuat pabrik madat pertama yang didirikan tahun 1894 di daerah Struiswijk (Gang Tengah, Jakarta) dan di Meester Cornelis (Jatinegara Jakarta). Tapi dalam waktu singkat, kedua pabrik madat ini juga kewalahan memenuhi kebutuhan candu hisap di Nusantara. Maka itu dibuatlah pabrik candu moderen pada tahun 1901 di daerah Kramat Jakarta pada tahun 1901. Lengkap dengan jalur kereta apinya untuk membawa berton-ton candu mentah dari pelabuhan ke pabrik tersebut. Bekas pabrik candu moderen pertama di Jakarta itu sekarang digunakan menjadi kampus Universitas Indonesia yang teletak di Jalan Salemba.

Candu-candu itu telah membawa keuntungan bagi pemerintah Hindia Belanda meskipun tidak dimuat dalam neraca perdagangan ekspor yang resmi. Keuntungan di Neraca Perdagangan seolah-olah hanya didapat langsung dari penjualan produk-produk Nusantara seperti kopi, gula, timah dan lainnya. Hasil keuntungan dari penjualan candu itu digunakan pemerintah Hindia Belanda untuk pengeluaran-pengeluaran tidak resmi seperti menyogok para Raja dan penguasa pribumi dan juga untuk ongkos operasi peperangan yang tidak dimasukkan dalam neraca pendapatan dan pengeluaran pemerintah Hindia Belanda. Keuntungan yang diperoleh pemerintah Hindia Belanda dengan menjual candu itu tentunya dengan pengorbanan orang-orang di Nusantara terutama di Jawa yang terseret dalam kebiasaan mengisap candu yang melemahkan otak dan fisik. Bahkan candu adalah penyebab peperangan antara Kerajaan Lombok dengan Hindia Belanda, karena bersaing dalam penjualan candu.

Serdadu Candu
Saat diserang pasukan Hindia Belanda tahun 1905, para prajurit di Kerajaan Bone Sulawesi Selatan tidak melakukan balasan tembakan. Pasukan Hindia Belanda hanya butuh beberapa jam untuk merebut kerajaan karena tentara kerajaannya mundur. Daya perang tentara kerajaan merosot akibat kegemaran menghisap candu. Diceritakan ketika benteng diserang, para prajurit Bone hanya duduk termenung dan memandang ke depan tanpa ekspresi. Sementara berita di majalah Militaire Gids terbitan tahun 1913 menuliskan bahwa 60 persen dari para Bintara orang Jawa adalah penghisap candu. Candu dijual secara sembunyi-sembunyi di asrama yang membuat para serdadu muda itu itu berubah menjadi serdadu penghisap candu. Di asrama tentara juga biasanya disediakan bilik-bilik bagi istri prajurit untuk menghisap candu. Tapi para istri prajurit itu lebih suka menikmati candu di kamarnya masing-masing. Kini setelah terbebas dari penjajahan, ternyata generasi bangsa ini masih banyak yang terjajah candu. Mirisnya lagi, korbannya adalah selalu anak-anak muda yang harusnya menjadi penerus bangsa.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 9:56 am

GENERASI NGEK NGOK, BARU SAJA GEDE SUDAH LINGLUNG KENA MADAT
Rabu, 06/06/2012 07:49 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Masa remaja selalu dibumbui dengan aneka kejadian yang unik dan berkesan. Banyak orang berdalih bahwa masa remaja merupakan masa galau karena transisi dari anak-anak menuju dewasa. Yang paling khas dari periode ini adalah rasa penasaran terhadap berbagai hal dan ego yang besar. Akibatnya, banyak remaja melakukan tindakan menyimpang, salah satunya adalah mengonsumsi narkoba. Tuduhan ini bukan tanpa alasan. Penelitian yang pernah dilakukan Badan Narkotika Nasional (BNN) menemukan bahwa 50 - 60 persen pengguna narkoba di Indonesia adalah kalangan pelajar dan mahasiswa. Sedangkan total seluruh pengguna narkoba berdasarkan penelitian yang dilakukan BNN dan UI adalah sebanyak 3,8 sampai 4,2 juta. Di antara jumlah itu, 48% di antaranya adalah pecandu dan sisanya sekedar coba-coba dan pemakai. "Pada SMP jumlahnya masih sedikit karena baru coba-coba. Pada SMA jumlahnya makin meningkat dan makin meningkat lagi jumlahnya pada mahasiswa dan eksekutif muda yang kemudian berubah menjadi pecandu," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto seperti dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Sumirat menjelaskan bahwa pecandu adalah orang yang memakai narkoba setiap hari, sedangkan disebut pemakai jika memakai narkoba sekali setiap minggu dan dikatakan coba-coba jika menggunakan narkoba maksimal 5 kali dalam setahun.

Hal ini menunjukkan bahwa penggunaan narkoba sudah dimulai pada usia muda dan berkembang semakin parah seiring pertambahan usia. Kenyataan ini diperparah dengan kecenderungan penyalahgunaan narkoba berkaitan erat dengan perilaku berisiko lain. Maka tak jarang ditemui remaja yang mengonsumsi narkoba juga terlibat dalam kebiasaan lain yang merusak seperti kecanduan alkohol dan perilaku seks yang tak aman. "Data Riset Kesehatan Dasar 2011 menemukan bahwa pemahaman remaja mengenai HIV/AIDS dan narkotika di Jakarta hanya 20 persen. Angka ini diduga bisa lebih rendah lagi di daerah pedesaan dan pedalaman," kata Nafsiah Mboi, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nasional. Menurut Nafsiah, jenis narkoba yang paling banyak diminati remaja pengguna narkoba adalah ganja, menggeser kedudukan heroin dan narkoba suntik sebagai obat teler paling favorit. Alasannya adalah karena ganja lebih mudah diperoleh dibanding narkoba jenis lainnya. "Sayangnya, pemakaian ganja ini membuat gairah seks meningkat. Akibatnya, penularan HIV/AIDS lewat jarum suntik memang menurun, tetapi justru makin banyak lewat hubungan seks yang tak aman. Apalagi pada remaja masih rendah kesadarannya mengenai alat kontrasepsi," kata Nafsiah.

Menurut Nafsiah, faktor-faktor yang membuat remaja rentan menggunakan narkoba adalah :
- Kemudahan mendapat narkoba, bahkan beberapa jenis narkoba bahkan bisa dibikin di rumah
- Pengedar yang cenderung mengincar generasi muda
- Kurangnya perlindungan dari orangtua
- Peran masyarakat yang masih kurang
- Kurangnya pemberdayaan remaja

Pada banyak kasus, keluarga pecandu umumnya merasa malu apabila memiliki salah seorang anggota keluarga yang menjadi pecandu. Akibatnya, keluarga cenderung menyembunyikan masalahnya dan tidak merujuk ke pusat rehabilitasi. Hal ini membuat upaya pemberantasan narkoba menjadi semakin sulit. "Di antara sekian jumlah pecandu di Indonesia, hanya 0,04 persen atau sekitar 18.700 orang yang masuk ke pusat rehabilitasi. Artinya, jumlah pecandu narkoba ini bisa jadi relatif stabil atau justru bisa bertambah banyak," kata Sumirat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:04 am

ADA JUTAAN PEMADAT, INDONESIA SASARAN EMPUK BANDAR NARKOBA
Rabu, 06/06/2012 12:03 WIB Putro Agus Harnowo - detikHealth
Jakarta, Pangsa pasar penjualan narkoba di tanah air sangat besar. Dari 3,2 - 4,8 juta jumlah pecandu di Indonesia, hanya 0,04 persen yang masuk ke pusat rehabilitasi. Artinya, jumlah permintaaan akan narkoba ini relatif stabil atau mungkin justru bisa bertambah banyak. Sesuai hukum ekonomi, banyaknya permintaan akan diimbangi dengan naiknya penawaran. Pengedar narkoba selalu mengincar remaja yang lebih mudah dipengaruhi dan mau melakukan apapun untuk mendapat bahan haram tersebut. Tidak bisa dipungkiri, bisnis narkoba selalu menemukan pangsa pasarnya sendiri meskipun sanksi yang mengancam begitu berat, yaitu hukuman mati. Pada keluarga dengan ekonomi yang kurang mampu, kecanduan narkoba dapat lebih mudah menyebar dengan cara mengajak kerabat atau teman untuk mengkonsumsi narkoba. Karena tidak mampu membeli narkoba, pecandu kebanyakan berupaya mendapat uang dengan cara merangkap sebagai pengedar untuk dapat membeli narkoba. Dan orang yang ditawari tentu saja orang-orang di sekitarnya. Para pengedar mendapat pasokannya baik dari dalam maupun luar negeri. Ganja kebanyakan dipasok dari dalam negeri, bahkan beberapa daerah di Indonesia memiliki produk ganja sendiri seperti ganja Aceh dan Papua. Di seluruh dunia, ada 172 negara yang dapat memproduksi ganja.

Sabu-sabu dan ekstasi bisa dibuat dari dalam negeri dan juga dipasok dari luar negeri seperti Iran, Malaysia, Thailand dan Cina. Heroin diperoleh dari kawasan bulan sabit emas seperti Iran,Pakistan dan Afganistan. 95% produksi heroin dunia berasal dari Afganistan. Kokain banyak dipasok dari negara Amerika Latin seperti Iran, Bolivia dan Kolumbia. "Saat ini, kecenderungan mulai beralih dengan banyaknya pemakai narkoba yang lebih banyak memilih ganja. Alasannya karena mudah didapat dan dibudidayakan. Sedangkan tanaman untuk memproduksi kokain dan heroin membutuhkan tempat yang luas dan perawatan yang lebih intensif," kata Kepala Bagian Hubungan Masyarakat (Kabag Humas) BNN, Kombes Pol Sumirat Dwiyanto seperti dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Mengenai masuknya narkoba dari luar negeri, Sumirat menuturkan bahwa dulu memang banyak orang asal Afrika yang direkrut sebagai kurir narkoba. Namun kecenderungan ini berubah karena makin banyak kurir dari benua hitam tersebut yang tertangkap basah.

Metode penyelundupan kemudian berubah dengan cara menggunakan wanita berbaju muslim dan bercadar sebagai kurir dengan asumsi petugas tidak akan mencurigai wanita berpakaian muslim. Namun cara ini juga terbongkar. Maka pada tahun 2011 - 2012, kecenderungannya berubah dengan cara memakai jasa orang Malaysia sebagai kurir karena secara fisik lebih sulit dibedakan dengan orang Indonesia. Gigihnya upaya ini cukup beralasan jika melihat jumlah keuntungan yang diperoleh. Jumlah uang yang beredar dari penjualan narkoba di seluruh dunia sekitar US$ 300 miliar atau Rp 2.830 triliun. Di Indonesia saja, jumlahnya sekitar Rp 48 - 50 triliun. Produsen narkoba bisa mendapat keuntungan 10 kali lipat dari penjualan narkoba."Upaya penjual narkoba untuk memasarkan barang haramnya ini bermacam-macam. Jika pasarnya remaja, maka ditanamkan image jika tidak memakai narkoba artinya tidak gaul. Untuk kalangan yang sudah bekerja, ditawarkan bahwa narkoba bisa membuat tambah semangat bekerja atau sebagai penambah stamina. Bahkan sabu-sabu ditawarkan sebagai obat pelangsing badan," kata Sumirat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:09 am

PENGALAMAN ORANGTUA YANG 3 ANAKNYA MATI KARENA MADAT
Rabu, 06/06/2012 13:01 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Dampak penyalahgunaan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) bisa sangat fatal. Sebuah keluarga di Jakarta Pusat pernah kehilangan anak yang meninggal karenanya, bahkan tidak hanya satu melainkan 3 anak sekaligus. Yatimah, janda berusia 53 tahun benar-benar merasakan getirnya kehidupan ketika harus merelakan 3 anaknya meninggal karena Napza dalam 10 tahun terakhir. Yang lebih menyedihkan, 2 dari 3 anak tersebut meninggal di usia yang sangat belia yakni sekitar 20-an tahun. Perempuan yang tinggal di daerah Cikini tersebut mengisahkan, pengalaman pertamanya kehilangan anak karena Napza terjadi pada tahun 1998. Ketika itu, anak nomor 3, sebut saja Budi meninggal setelah terinfeksi HIV (Human Imunnodeficiency Virus) serta mengalami komplikasi diare dan gagal ginjal. Budi mulai mengenal Napza saat duduk di bangku SMP, bermula saat teman-temannya memaksanya minum pil koplo. Sejak itu ia berkenalan dengan jenis Napza yang lain, termasuk putaw saat pindah sekolah ke sebuah daerah padat penduduk yang memang dikenal sebagai sarangnya para bandar. Novi (39 tahun), kakak tertua Budi mengisahkan bahwa adik laki-lakinya itu mengalami perubahan perilaku sejak mengenal putaw. Budi yang semula baik, mulai suka mencuri uang kakaknya dan menjual barang-barang milik ibunya termasuk baju mengaji dan mesin jahit demi mendapatkan barang tersebut.

Di saat Budi mengalami masalah dengan ketergantungan Napza, anak Yatimah yang keempat, sebut saja Mawan malah ditangkap polisi dengan tuduhan menjadi kurir putaw lalu dihukum 2 tahun penjara. Padahal di mata keluarga, Mawan tidak pernah ketahuan sedang menggunakan Napza apalagi sampai kecanduan. Pada saat yang sama, Budi jatuh sakit dan hasil pemeriksaan darah menunjukkan anak tersebut positif terinfeksi HIV. Keterbatasan informasi pada saat itu membuat Budi dan keluarganya yang lain patah semangat dan menganggap diagnosis itu sebagai vonis mati. "Waktu itu, kami tahunya HIV nggak bisa diobati. Malah kata orang-orang, kalau dibawa ke Rumah Sakit (menyebut nama rumah sakit besar) paling-paling cuma disuntik mati. Dan yang paling menyakitkan, susternya bilang ke Budi agar sebaiknya pulang saja biar tidak menulari pasien lain," kata Novi saat ditemui detikHealth di rumahnya, Selasa malam (5/6/2012). Tak tahan dengan perilaku suster yang diskriminatif, akhirnya Budi ngotot ingin pulang dan dirawat di rumah. Dalam kondisi sakit parah dan badannya sudah kurus kering, Budi hanya bertahan 2 hari sebelum akhirnya meninggal di usia 21 tahun karena komplikasi di ginjal. Beberapa tahun kemudian, anak keenam Yatimah, sebut saja Juni kembali terjerumus dalam penyalahgunaan Napza dan akhirnya juga meninggal akibat infeksi HIV sekaligus TB (Tuberculosis). Juni meninggal karena penyakitnya tersebut pada sekitar tahun 2001 di usia 26 tahun.

Saat Juni jatuh sakit, sebuah LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dikelola Ibu Melani dan dr Aisyah Dahlan sudah mulai masuk ke Cikini yang saat itu dikenal sebagai salah satu pusat peredaran Napza. LSM itu telah berhasil mengubah pandangan Novi dan Yatimah tentang ketergantungan Napza. "Tadinya saya galak banget sama adik-adik, apalagi kalau ketahuan jadi pecandu. Tapi belakangan saya jadi tahu, bahwa orang kecanduan itu sebenarnya ingin berhenti tetapi rasanya sakit. Sejak itu saya ubah pendekatannya, jadi tidak terlalu galak," tutur Novi. Namun cobaan masih datang bertubi-tubi di keluarga ini. Mawan yang sudah bebas dari hukumannya sebagai kurir Napza, malah mengikuti jejak 2 adiknya yang lebih dulu pergi menghadap Yang Maha Kuasa. Saat dibui di Rutan Salemba, Mawan justru makin dekat dengan Napza dan akhirnya kecanduan juga. Mawan akhirnya dikirim ke panti rehabilitasi dengan dibantu oleh BNN (Badan Narkotika Nasional). Namun belum tuntas prosesnya, Mawan pilih kembali ke rumah dan seperti yang dikawatirkan sebelumnya, Mawan bergaul lagi dengan lingkungan lamanya dan akhirnya lagi-lagi tertangkap polisi. Nasib Mawan cukup mujur karena kali ini ia tidak harus dibui di Salemba seperti sebelumnya. Ia dikirim ke Ambarawa, yang dikatakan oleh Novi lebih bersih dari perdagangan Napza. Di tempat itulah, Mawan benar-benar punya waktu untuk membebaskan diri dari ketergantungannya. Selepas dari tahanan di Ambarawa, Mawan sempat menyatakan kebulatan tekad untuk benar-benar STOP mengonsumsi Napza. Niat tersebut sangat disyukuri oleh keluarga, sebab Mawan masih sempat sadar di saat-saat terakhirnya meski kemudian sama-sama didiagnosis HIV positif dan akhirnya meninggal di usia 31-an tahun. Novi sebagai anak tertua dari 10 bersaudara sangat terpukul atas kepergian ketiga adik tercintanya. Namun perempuan berjilbab ini berharap kenangan pahit tersebut bisa menjadi pelajaran berharga bagi kedua anak laki-lakinya yang kini berusia 15 tahun dan 10 tahun agar selalu menjauhi Napza.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:10 am

MUDAHNYA TERJERAT MADAT
Rabu, 06/06/2012 08:57 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Peredaran Napza (Narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) cukup marak khususnya di pemukiman-pemukiman padat penduduk di Jakarta. Tak heran jika di sini, anak kecil atau kakek-kakek sekalipun dengan mudah bisa mendapatkannya. Untuk membeli putaw atau jenis Napza yang lain, anak-anak biasanya memang belum memiliki cukup uang. Namun bukan berarti anak-anak tersebut tidak punya wawasan tentang barang terlarang itu, sebab transaksinya mudah ditemukan di lingkungan sehari-hari. "Dulu di sini sangat terbuka, anak 7 tahun saja bisa lihat orang dewasa jual beli putaw. Mereka jadi tahu putaw seperti apa," kata Novi, ibu dari 2 anak yang tinggal di kawasan rawan peredaran Napza, saat ditemui detikHealth di Cikini, Selasa malam (5/6/2012). Ada juga dugaan bahwa berbagai jenis Napza mulai dimasukkan dalam permen dan makanan anak lainnya untuk membuat anak-anak tersebut kecanduan. Belum banyak yang membuktikan benar atau tidaknya dugaan tersebut, namun isu seperti ini sudah sering muncul sejak beberapa tahun silam.

Selain dimasukkan dalam permen, rumor yang pernah beredar beberapa tahun yang lalu menyebut bahwa pulpen yang bisa mengeluarkan bau wangi sebenarnya juga diisi dengan Napza. Disebutkan bahwa tujuannya sama, yakni membuat anak-anak kecanduan lalu membeli Napza yang sebenarnya. "Sejauh ini, kalau anak SD paling-paling cuma ngelem (menghirup uap lem). Kalau putaw setahu saya anak-anak belum ya, karena mahal dan mereka kan juga harus beli aluminium foil, alat suntik dan sebagainya," kata Bambang Sutrisno alias Benk-benk, mantan pecandu Napza yang tinggal di Cikini. Sementara di kalangan lanjut usia, Benk-benk mengakui bahwa kecanduan, Napza juga masih sering dialami. Benk-benk menambahkan, sekali orang kecanduan putaw maka kemungkinan untuk relaps atau kambuh bisa terjadi sewaktu-waktu sampai seumur hidup karena kerusakan otaknya bisa bersifat permanen. Kalaupun jarang ada kakek-kakek yang mengonsumsi Napza, itu lebih disebabkan karena para pecandu umumnya tidak sempat menjadi kakek-kakek karena biasanya keburu meninggal baik karena overdosis atau tertular penyakit akibat pemakaian jarum suntik yang tidak steril.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:12 am

SEX AND DRUGS, PAKET MAUT YANG SULIT DIPISAHKAN
Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Narkoba dan seks bebas seakan seperti menjadi satu paket yang sulit dipisahkan satu sama lain. Orang yang kecanduan narkoba biasanya lebih mungkin melakukan seks bebas, begitu juga dengan perilaku seks bebas yang sangat dekat dengan obat-obatan. "Narkoba akan mempengaruhi pengambilan keputusan seseorang, jadi penilaian baik dan buruk menjadi saru," ujar Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, PhD, FACP saat dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Prof Samsuridjal menuturkan kondisi ini membuat seorang pengguna narkoba lupa kalau seks bebas atau seks sebelum nikah itu adalah hal yang tidak baik dan bisa menyebabkan kehamilan atau penyakit menular seksual. "Jadi biasanya mereka santai saja melakukannya (seks bebas) dan tidak berpikir itu adalah hal yang tidak baik," ujar Prof Samsuridjal yang merupakan anggota pendiri Yayasan Pelita Ilmu. Prof Samsuridjal menjelaskan remaja akan belajar mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan. Tapi jika ia sudah mengenal rokok dan narkoba maka ia tidak akan memperhatikan norma-norma yang ada sehingga lebih mudah masuk ke dalam dunia seks bebas.

Padahal kondisi ini bisa membuat seseorang berisiko melakukan seks di luar nikah dengan pasangan yang berbeda-beda sehingga meningkatkan kemungkinan terkena penyakit infeksi menular seksual seperti HIV, atau kehamilan tidak diinginkan yang rentan mengalami aborsi secara ilegal. Selain itu beberapa orang beranggapan dengan mengonsumsi narkoba seperti jenis ekstasi atau shabu bisa meningkatkan gairah seksualnya atau membuatnya memiliki pemikiran mampu memuaskan pasangan. Meski jenis narkoba tertentu memiliki dampak seks yang berbeda pula. Namun kondisi ini bukan semata akibat efek dari narkoba itu sendiri, karena pecandu kadang rela menjual dirinya sendiri untuk terjun ke dunia seks bebas demi bisa mendapatkan barang haram tersebut. Tidak ada yang dapat mengetahui dengan pasti kondisi mana yang lebih dulu terjadi antara seks bebas dan narkoba, karena keduanya sangat berkaitan satu sama lain seakan seperti satu paket. Kadang paket ini bisa menjadi paket maut dengan beberapa kasus pasangan yang mati bersama dalam kondisi tanpa baju lalu disekitarnya berhamburan obat-obat terlarang.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:13 am

ASAL MULA SI MUDA TERPERANGKAP MADAT
Rabu, 06/06/2012 10:10 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Kecanduan Napza (narkotika, psikotropika dan zat adiktif lainnya) paling sering dimulai di usia muda. Ada yang berawal karena dipaksa atau dijebak teman, ada juga yang diiming-imingi paket gratisan hingga lama-lama jadi kecanduan. "Ibaratnya orang promosi, banyak bandar di sini memulainya dengan menawarkan barang gratisan. Nanti kalau korbannya udah kecanduan, baru disuruh bayar," kata Bambang Sutrisno alias Benk-benk, mantan pecandu Napza saat ditemui detikHealth di Cikini, Selasa malam (6/6/2012). Benk-benk mengatakan, tawaran barang atau paket gratisan sering dilakukan para bandar untuk menjerat remaja yang penasaran. Remaja yang awalnya hanya ingin tahu seperti apa rasanya putaw atau shabu-shabu, lama-lama kecanduan dan tidak bisa lepas dari ketergantungan. Sekali dikonsumsi, putaw atau shabu-shabu akan segera merusak susunan saraf otak sehingga akan mengalami sakaw jika konsumsinya dihentikan. Pada tahap yang disebut kecanduan tersebut, para remaja tidak punya pilihan selain harus terus membelinya lagi. Selain karena penasaran dengan paket gratisan, ada juga remaja yang mulai berkenalan dengan Napza gara-gara dijebak dan dipaksa oleh teman. Pengalaman seperti ini pernah terjadi pada seorang siswa SMP, Budi yang akhirnya meninggal sekitar tahun 1990-an.

Dikisahkan oleh ibu kandungnya, Yatimah (53 tahun), Budi yang ketika itu baru kelas 1 SMP diajak piknik ke Ancol oleh teman-temannya. Yatimah yang juga tinggal di sekitar Cikini, Jakarta Pusat mengatakan bahwa anak ketiganya tersebut pulang sore harinya dalam kondisi mabuk. Oleh almarhum ayahnya, Budi lantas direndam di bak mandi dari sore hingga malam hari sebagai hukuman sekaligus agar segera sadar dari mabuknya. Begitu sadar, Budi menceritakan pengalamannya di Ancol. Ia mengaku ditawari pil koplo, lalu dipaksa meminumnya saat berusaha untuk menolaknya. "Awalnya ya itu, cuma obat (pil koplo) dan minum (alkohol). Lama-lama makai putaw juga," kata Yatimah mengisahkan almarhum anak laki-lakinya. Berawal dari pil koplo, Budi lalu berkenalan dengan berbagai jenis Napza termasuk putaw beserta peralatan suntiknya. Karena dipakai bersama-sama, jarum suntik yang tidak steril membuatnya tertular HIV (Human Imunnodeficiency Virus) hingga akhirnya meninggal karena komplikasi diare dan kerusakan ginjal sekitar tahun 1998.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:14 am

URUTAN ORANG KECANDUAN NARKOBA
Rabu, 06/06/2012 14:45 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Narkoba bisa mengintai siapa saja mulai dari anak-anak hingga orang yang sudah dewasa dan menyebabkan kecanduan. Lalu bagaimana urutan seseorang bisa menjadi kecanduan? "Semua jenis narkoba hanya memberikan kepuasan yang semu dan berakhir pada kecanduan. Untuk itu diharapkan remaja dan orang-orang tidak mulai coba-coba," ujar Prof Dr dr Samsuridjal Djauzi, PhD, FACP saat dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Prof Samsuridjal menuturkan seseorang yang sudah mulai mencoba-coba narkoba maka itu sama saja seperti memasukkan diri ke lumpur hisap yang akan membuatnya mudah masuk ke dalam dan sulit untuk keluar. Orang yang merokok memang umumnya lebih mudah untuk masuk dan terjerumus ke dalam lembah narkoba. Hal ini karena rokok mengandung tembakau yang merupakan zat yang bisa menimbulkan kecanduan. "Orang yang sudah mencoba rokok akan lebih sulit menolak narkoba, sehingga ia akan lebih mudah untuk mencoba dan terjerumus dengan narkoba," ujar Prof Samsuridjal yang juga pendiri Yayasan Pelita Ilmu. Prof Samsuridjal menjelaskan kalau seseorang tidak mencoba rokok maka ia tidak akan mudah mencoba narkoba karena memiliki pengendalian diri yang bagus, serta bisa memiliki keputusan sendiri sebagai pribadi mandiri.

Selain dari rokok, kecanduan narkoba ini juga dimulai dari coba-coba yang kebanyakan berasal dari bujukan teman-teman atau lingkungan di sekitarnya yang juga menggunakan narkoba. "Sebaiknya tidak merangsang orang atau remaja untuk ingin tahu, karena awalnya dari coba-coba yang didorong atau didesak oleh teman-teman sehingga memicu kecanduan," ujar Prof Samsuridjal. Biasanya saat mencoba-coba ini ia akan diberi secara gratis oleh si pengedar yang kadang adalah teman atau saudaranya sendiri. Namun lama kelamaan ketika ia sudah kecanduan dengan zat tersebut maka ia diharuskan membeli sendiri. Saat ia sudah harus membeli sendiri ini orang akan melakukan segala cara agar bisa mendapatkan barang tersebut, mulai dari menjual barang-barang pribadi, keluarga bahkan hingga dirinya sendiri demi bisa mendapatkan barang haram tersebut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:15 am

CIRI CIRI ORANG YANG SUKA PAKAI NARKOBA
Rabu, 06/06/2012 12:34 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta - Narkoba yang bikin orang ketagihan tidak hanya dapat merusak otak, tetapi juga dapat merusak tubuh, penampilan dan perilaku. Secara fisik dan perilaku, ada beberapa ciri yang menunjukkan seseorang adalah pecandu atau pengguna narkoba. "Ciri-ciri fisik memang ada yang kelihatan, terutama pengguna tahap lanjut jarum suntik," jelas dr Iskandar Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), saat dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Berikut beberapa ciri-ciri fisik dan perilaku yang biasanya terlihat pada pengguna narkoba:

1. Terdapat bekas suntikan atau luka infeksi di tubuh
"Kalau yang pengguna narkoba suntik banyak bekas suntikan, biasanya di tangan. Dan karena kebanyakan alat suntik yang digunakan tidak steril maka bisa terjadi infeksi lokal," ujar dr Iskandar. Selain luka bekas suntikan, biasanya di tubuh pecandu narkoba juga banyak luka sayatan. Bagian tubuh yang umum dilakukan penyuntikan adalah tangan, namun tidak sedikit yang menggunakannya di bagian tubuh yang tersembunyi sehingga tidak mudah terlihat.

2. Terlihat mengantuk dan gelisah
"Bagi pengguna shabu biasanya dia susah tidur, jadi selalu tampak mengantuk dan gelisah. Tapi bukan berarti semua orang yang gelisah adalah pengguna narkoba," lanjut dr Iskandar.

3. Mudah marah dan tersinggung
"Pengguna narkoba biasanya mood swing (perubahan suasana hati) tinggi sekali, jadi mudah tersinggung. Bisa tiba-tiba marah dan gampang berubah," tambah dr Iskandar.

4. Beberapa berbadan kurus
"Badan kurus iya, tapi tidak berarti semua pengguna narkoba kurus. Karena ada jenis-jenis tertentu yang justru meningkatkan nafsu makan, seperti pil penenang, marijuana atau alkohol. Itu nafsu makannya jadi tinggi," lanjut dr Iskandar.

5. Sering bengong dan linglung
Orang yang menggunakan narkoba tertentu juga sering terlihat bengong, linglung, bicara pelo, sulit berkonsentrasi dan jalan sempoyongan. Pengguna narkoba juga cenderung menghindari kontak mata langsung dengan orang lain.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Mengenal Narkoba   Thu Jun 07, 2012 10:15 am

PERUBAHAN PERUBAHAN DI DIRI REMAJA YANG KECANDUAN NARKOBA
Rabu, 06/06/2012 14:11 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Saat seorang remaja mencoba-coba menggunakan madat dan Napza (Narkotika, Psikotropika dan Zat Adiktif), ada beberapa perubahan yang terjadi pada perilakunya yang bisa menjadi petunjuk untuk orang-orang sekitar terutama orangtua. Orangtua bisa cukup curiga bisa sang anak mulai menunjukkan perubahan perilaku. Namun perubahan tersebut tidak selalu terjadi pada setiap pecandu. "Perubahan-perubahan perilaku biasanya ada, tapi bukan menjadi ukuran yang absolut. Artinya, tidak semua yang mengalami perubahan ini adalah pecandu," jelas dr Iskandar Hukom, Sekretaris Jenderal Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), saat dihubungi detikHealth, Rabu (6/6/2012). Berikut beberapa perubahan yang terjadi pada pecandu narkoba yang perlu diwaspadai:

1. Mulai merokok, gerbang pertama menuju narkoba
2. Mulai konsumsi alkohol, gerbang kedua menuju narkoba
3. Prestasi belajar mulai menurun
4. Sudah tidak lagi melakukan hobi yang bisa dilakukan
5. Bergaul dengan orang yang tidak jelas
6. Takut ketahuan memakai narkoba
7. Emosi yang tidak terkendali
8. Kecenderungan untuk selalu berbohong
9. Hubungan dengan keluarga, guru dan teman serta lingkungannya terganggu
10. Cenderung menghindari kontak komunikasi dengan orang lain
11. Merasa dikucilkan atau menarik diri dari lingkungan
12. Tidak peduli dengan nilai atau norma yang ada
13. Cenderung melakukan tidak pidana, kekerasan, pencurian dan mengganggu ketertiban umum.

"Artinya bila hal-hal ini terjadi, si anak harus diajak ngomong baik-baik oleh orangtua," lanjut dr Iskandar. Meski setiap orang dapat terpengaruh oleh madat dan Napza, tapi menurut riset sederhana yang dilakukan Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), anak kedua lebih rentan ketimbang kakak atau adiknya. "Menurut penelitian kami, banyak anak kedua yang jadi pecandu, tapi memang perlu penelitian lebih lanjut. Dugaannya, mungkin tekanan psikologis pada anak kedua lebih besar dan mengaku merasa tidak diperlakukan sama dengan kakaknya," tutup dr Iskandar.
Back to top Go down
 
Mengenal Narkoba
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 10Go to page : 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10  Next
 Similar topics
-
» mengenal imam tirmidzi
» mengenal rukun islam
» mengenal syiah ismailiyah
» mengenal Allah
» Ga Cuma Daging Babi, Narkoba Juga Halal

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: