Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Penyakit Kanker

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 17 ... 32  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Wed Mar 28, 2012 4:15 pm

KASUS KANKER NAIK 75% 2030
Asep Candra | Jumat, 1 Juni 2012 | 14:52 WIB
KOMPAS.com - Ini adalah kabar yang mesti diwaspadai dan diantisipasi. Kajian para ahli menunjukkan, kasus kanker di dunia diperkirakan bakal melonjak hingga 75 persen pada 2030 mendatang. Peningkatan kasus kanker paling tinggi diramalkan terjadi di negara-negara termiskin dengan proyeksi kenaikan bisa mencapai 90 persen. Seperti yang dilaporkan dalam jurnal The Lancet Oncology edisi online pada Kamis (31/52012), para ilmuwan menyatakan bahwa rata-rata jenis kanker tertentu seperti kanker serviks dan kanker perut diramalkan menurun di negara-negara berkembang. Tetapi, penurunan ini kemungkinan akan diimbangi oleh melonjaknya berbagai jenis kanker yang berkaitan dengan gaya hidup "barat", seperti kanker payudara, prostat dan kolorektal. Dalam risetnya, para ahli menganalisa data kanker International Agency for Research on Cancer (IARC) dari 184 negara pada 2008 lalu. Analisa ini dimaksudkan untuk menguji bagaimana tren kanker saat ini yang bervariasi di berbagai negara berdasarkan tingkat pembangunan, yang diukur berdasarkan indeks pembangunan manusia (Human Development Index/HDI). Saat ini, negara-negara dengan tingkat HDI rendah (seperti di negara sub-Sahara Afrika) memiliki kasus kanker yang tinggi untuk jenis yang berkaitan dengan infeksi seperti kanker serviks, kanker hati, kanker perut dan tumor Kaposi Sarkoma. Negara-negara dengan tingkat HDI lebih tinggi (seperti Australia, Brazil, Rusia dan Inggris ) memiliki rata-rata kanker yang tinggi untuk jenis yang berkaitan dengan merokok (kanker paru), faktor-faktor reproduktif, obesitas dan diet (payudara, prostat dan kolorektal).

Membaiknya standar kesejahteraan pada negara-negara yang HDI-nya rendah dapat menurunkan kasus kanker yang berkaitan dengan infeksi. Tetapi negara-negara ini juga bisa mengalami peningkatan yang drastis pada jenis-jensi kanker yang kini berkembang di negara dengan rata-rata HDI lebih tinggi, kata peneliti dalam laporannya. Rata-rata kasus kanker bisa meningkat hingga 93 persen di negara dengan HDI rendah pada 2030 nanti, dan pada periode yang sama peningkatan sebesar 78 persen bakal terjadi di negara-negara dengan HDI menengah (seperti Afsel, China dan India), menurut pimpinan riset Dr. Freddie Bray dari IARC. Peneliti juga menemukan, rata-rata kanker prostat dan kanker payudara akan meningkat di negara-negara dengan HDI menengah, tinggi, atau sangat tinggi. Selain itu, rata-rata kasus kanker perut dan kanker serviks secara umum akan mengalami penurunan di negara-negara dengan HDI menengah , tinggi atau sangat tinggi. Kanker paru saat ini bukan merupakan jenis kanker yang banyak ditemukan di negara dengan HDI rendah, tetapi akan berubah jika kebiasaan merokok tidak diatur secara efektif di negara-negara ini. Para peneliti juga menemukan bahwa 40 persen kasus kanker di seluruh dunia pada 2008 terjadi di negara-negara dengan tingkat HDI sangat tingi, meskipun mereka hanya berpenduduk 15 persen dari populasi dunia. Sebelumnya, IARC pernah membuat prediksi, bahwa pada tahun 2030, akan ada 26 juta kasus baru kanker dan 17 juta orang di antaranya akan meninggal akibat kanker.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 8:25 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Mon Apr 02, 2012 5:10 pm

TAHUN 2030, KANKER JADI BEBAN DUNIA
Bramirus Mikail | Asep Candra | Minggu, 1 April 2012 | 17:01 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Pada tahun 2030, kanker diperkirakan menjadi epidemi di seluruh dunia dan keberadaannya akan melebihi jumlah kasus penyakit infeksi. Oleh karena itu, masyarakat harus mewaspadai gejala-gejalanya dan melakukan pemeriksaan sejak dini. Demikian disampaikan Dr. Noorwati Sutandyo, SpPD-KHOM, ahli hematologi dan onkologi dari Rumah Sakit Kanker Dharmais, dalam Seminar Awam Tentang Kanker yang diselenggarakan di Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana Jakarta, Sabtu, (31/3/2012). Noorwati menjelaskan, kanker akan menjadi beban ekonomi seluruh negara di dunia. International Agency for Research on Cancer memprediksi, pada tahun 2030, akan ada 26 juta kasus baru kanker dan 17 juta orang diantaranya akan meninggal akibat kanker. "Apabila diagnosis ditemukan dalam stadium lanjut, angka harapan hidup pasien tidak akan panjang," katanya. Data di Jakarta menunjukkan, kanker payudara masih menjadi penyakit yang paling banyak diderita oleh kaum wanita. Sedangkan pada laki-laki adalah kanker paru-paru. "Data di RS. Kanker Dharmais juga menunjukkan hasil yang sama," cetusnya.

Tak semua benjolan itu kanker
Noorwati memaparkan, masyarakat patut curiga bila pada tubuh ditemukan benjolan yang tidak wajar. Namun begitu, tidak semua benjolan tersebut dapat dikatakan sebagai kanker. "Kita harus melihat dulu apa isi benjolan itu. Kalau berisi air, maka itu bukan kanker melainkan kista. Sementara bila benjolan tersebut berisi daging, maka disebut sebagai tumor. Tumor bisa jinak dan ganas. Yang ganas inilah yang kita sebut sebagai kanker," katanya. Penting pula untuk diingat, tumor harus selalu dianggap ganas sampai hasil pemeriksaan benar-benar membuktikan tumor tersebut ganas atau tidak ganas. Prinsip ini, menurut Noorwati, harus diterapkan untuk mencegah terjadinya kecolongan dan kepastian dalam pengobatan. Ia menambahkan, untuk menegakkan diagnosa pasien yang dicurigai menderita kanker, tidak cukup hanya dengan melihat keluhan pasien. Tetapi perlu pula pemeriksaan penunjang seperti lewat laboratorium, radiologi dan histopatologi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Fri Apr 06, 2012 2:52 pm

KEBIJAKAN PEMERINTAH PICU LONJAKAN KANKER
Lusia Kus Anna | Sabtu, 10 September 2011 | 14:29 WIB
Jakarta, Kompas - Peringatan ancaman lonjakan jumlah penderita kanker global seharusnya dijadikan alarm bagi pemerintah untuk memperbaiki kebijakan kesehatan secara menyeluruh. Jika tidak, negara akan menanggung beban ganda untuk mengobati kanker sekaligus mengatasi kemiskinan masyarakat dan pembangunan yang membutuhkan modal besar. Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany di Jakarta, Jumat (9/9), mengatakan, kebijakan pencegahan kanker baru terasa dampaknya 10- 20 tahun lagi. Ini tidak sesuai dengan sistem politik yang hanya lima tahunan. Akibatnya, para pemimpin hanya sibuk memikirkan kepentingan mereka dan lupa atas nasib bangsa ke depan. Dana Riset Kanker Dunia (WCRF) yang berpusat di Inggris, Rabu (7/9), mengingatkan terjadinya lonjakan jumlah penderita kanker global hingga 20 persen dalam 10 tahun terakhir. Setiap tahun, jumlah penderita kanker baru mencapai 12 juta orang. Sebanyak 2,8 juta kasus terkait dengan pola makan, kurang olahraga, dan kegemukan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga mengingatkan, kanker merupakan penyebab kematian utama dunia. Kematian akibat kanker mencapai 7,6 juta orang (13 persen) dari seluruh penyebab kematian tahun 2008. Kematian akibat kanker pada tahun 2030 diperkirakan 11 juta jiwa. Sebanyak 70 persen kematian akibat kanker terjadi di negara dengan pendapatan rendah hingga menengah, seperti Indonesia.

Menurut Hasbullah, kebijakan pemerintah yang justru memicu lonjakan kanker antara lain subsidi besar-besaran terhadap bahan bakar minyak dan keengganan untuk mempercepat pembangunan transportasi publik yang aman dan nyaman. Kedua kebijakan ini akan mendorong orang untuk memiliki kendaraan pribadi yang akan meningkatkan polusi dan membuat masyarakat kurang beraktivitas fisik. Faktor risiko kanker lain adalah rokok. Ketidaktegasan pemerintah mengatur membuat masyarakat terpapar asap rokok. Pendidikan publik yang mendorong masyarakat mengonsumsi makan makanan sehat dan berserat kurang. Iklan layanan publik ini kalah gencar dengan iklan makanan siap saji yang meningkatkan risiko kanker. Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Nila Djuwita Moeloek, mengatakan, Indonesia belum memiliki data pasti tentang penderita kanker. Selain pembangunan yang lebih berwawasan lingkungan, Nila mengingatkan, perlu segera diwujudkan sistem pembiayaan kesehatan yang melindungi seluruh masyarakat. Kendala biaya yang membuat penderita kanker dari kelompok ekonomi menengah bawah lebih banyak pasrah. ”Sistem jaminan sosial nasional yang bisa melindungi seluruh warga dan dikelola secara amanah perlu segera diwujudkan,” kata Hasbullah. (MZW)


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 7:25 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Tue Apr 10, 2012 6:52 am

KANKER SEMAKIN MENGANCAM
Selasa, 31 Agustus 2010 | 08:17 WIB Oleh Ester Lince Napitupulu Kompas.com
Kanker telah menjadi penyebab kematian utama di seluruh dunia. Tingkat kejadian dan beban kanker semakin besar. Secara global, kematian akibat kanker melebihi jumlah penderita AIDS, malaria, dan tuberkulosis. Namun, tanpa adanya tindakan yang berarti untuk mencegah kematian dini dari kanker, penyakit tersebut akan terus membunuh berjuta-juta manusia di seluruh muka bumi. Untuk menghentikan peningkatan kematian akibat kanker, perlu aksi mendesak dari pemerintah, individu, dan komunitas kesehatan. Dalam Kongres Kanker Sedunia ke-21 di Shenzen, China, 18-21 Agustus lalu, yang diselenggarakan International Union Against Cancer (UICC), Presiden UICC David Hill mengatakan, pengurangan epidemi kanker secara global telah menjadi salah satu dari prioritas kesehatan dunia yang mendesak. Karena itu, komunitas kanker sedunia mesti terus berdiskusi dan bekerja sama untuk mendorong pentingnya pencegahan, screening, pendeteksian, serta pengobatan dan manajemen yang efektif. Kongres kali ini mengambil tema pencegahan penyakit yang dapat dicegah, mengobati pasien yang bisa diobati, melalui sistem harapan menjadi kenyataan. Konferensi ini membahas pencegahan kanker, screening atau penyaringan, deteksi dini, pengobatan dini, dan dukungan pengobatan khusus, perawatan rumah sakit, dan masalah lain.

Berdasarkan data yang dirilis International Agency for Research on Cancer, salah satu lembaga di bawah Badan Kesehatan Dunia PBB, penderita kanker dunia mencapai 12,7 juta orang pada tahun 2008 dan mengakibatkan kematian 7,6 juta penderita. Pada tahun 2030 diramalkan akan ada 21,4 juta kasus kanker baru dengan 13,2 juta kematian. Kanker bisa terus menjadi penyakit yang mematikan, kata Otis W Brawley, karena derasnya industrialisasi dan adopsi gaya hidup Barat. Selain itu, pertumbuhan populasi dan penuaan juga akan menambah kasus kanker. Penderita kanker terbanyak di dunia adalah kanker paru-paru (12,7 persen), kanker payudara (10,9 persen), dan kanker usus besar (9,7 persen). Sebanyak 58 persen kasus kanker terjadi di negara miskin dan berkembang serta kematian mencapai 63 persen. Sementara kanker yang menyebabkan kematian paling tinggi secara global adalah kanker paru-paru (18,2 persen), disusul kanker perut, dan kanker hati. Jika dilihat lokasinya, di negara berkembang lebih banyak kasus kanker rahim dan kanker hati. Di negara maju yang paling dominan adalah kanker prostat dan kanker usus besar. Jika dilihat berdasarkan jenis kelamin, berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), di antara kaum pria, kematian tertinggi terjadi pada penderita kanker paru-paru, perut, hati, dan usus besar. Adapun di kalangan perempuan yakni kanker payudara, paru -paru, perut, usus besar, dan rahim.

Dapat dicegah
Hill mengatakan, sebenarnya sepertiga dari semua kasus kanker dapat dicegah. Hampir sebagian besar atau sekitar 40 persen timbulnya kanker disebabkan faktor gaya hidup, penyakit infeksi, dan lingkungan atau pekerjaan yang berhubungan dengan zat-zat berbahaya. ”Berarti penyakit kanker potensial untuk dicegah. Perlu adaptasi global, nasional, dan perseorangan untuk membuktikan jika faktor-faktor itu diatasi, kasus dan kematian kanker bisa dikurangi,” ujar Hill. Di negara berkembang, pemicu tingginya kejadian kanker adalah penggunaan tembakau, alkohol, sedikit mengonsumsi sayur dan buah, serta infeksi kronis dari hepatitis B (HBV), virus hepatitis C (HCV), dan beberapa tipe Human Papilloma Virus (HPV). Strategi pencegahan dengan meningkatkan penghindaran pada faktor-faktor di atas, vaksinasi melawan HPV dan virus hepatitis B, mengontrol asupan zat-zat bahaya, dan mengurangi terpaan sinar matahari. Dalam pengontrolan peningkatan kanker di dunia, menurut Otis W Bradley dari American Cancer Society, kata pesan yang sekarang ini semestinya gencar digemakan adalah deteksi dini menyelamatkan hidup. Deteksi dini dapat menurunkan sepertiga dari beban kanker jika kasus dideteksi dan diobati secara dini. Deteksi dini kanker didasarkan pada observasi bahwa pengobatan lebih efektif ketika kanker dideteksi lebih awal. Tujuannya untuk mendeteksi kanker ketika masih lokal (belum menyebar).

Produk tembakau
Dari sejumlah faktor gaya hidup yang memicu munculnya kanker, penggunaan tembakau bisa jadi salah satu faktor utama pencegahan kanker yang paling luas di dunia saat ini. Tembakau menyebabkan 80-90 persen kematian dari kanker paru-paru dan sekitar 30 persen kematian karena kanker di negara-negara berkembang. Pengontrolan produk-produk tembakau yang merugikan kesehatan menjadi isu tersendiri yang serius dibahas dalam kongres kanker sedunia kali ini. Ala Alwan, Asisten Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia, mengatakan, rokok yang paling banyak risikonya untuk penyakit non-comunnicable, seperti sakit jantung, stroke, kanker, diabetes, dan sakit paru-paru kronis. Oleh karena itu, perlu dilakukan strategi komprehensif, termasuk pelarangan iklan-iklan dan sponsor produk tembakau, peningkatan pajak produk tembakau, dan menggencarkan program-program yang dapat mengurangi konsumsi tembakau. Inisiatif ini telah menunjukkan hasil efektif menurunkan jumlah kematian kanker. Sayangnya, tidak semua negara mengimplementasikan intervensi yang penting itu. Hanya sekitar 9 persen negara yang memandatkan bar dan restoran bebas rokok serta 65 negara melaporkan mengimplementasikan kebijakan bebas rokok di tingkat nasional. Penyakit infeksi menyebabkan hampir 22 persen kematian di negara berkembang dan 6 persen di negara industri. Dunia perlu bergandengan tangan untuk membuat kanker tidak lagi menjadi pembunuh utama. Tantangannya yakni mengontrol meningkatnya kasus kanker secara global, menemukan pengobatan yang tidak menyiksa penderita, serta meningkatkan harapan hidup penderita.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 7:15 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Mon May 21, 2012 1:32 pm

JUMLAH PENDERITA KANKER DIDUNIA NAIK 300% PADA TAHUN 2030
Merry Wahyuningsih - detikHealth Kamis, 30/08/2012 16:50 WIB
Jakarta, Semakin tahun penderita kanker di dunia terus bertambah. Jumlah kasus baru dan kematian akibat kanker pun semakin meningkat. Bahkan diperkirakan jumlah penderita kanker di dunia naik hingga 300 kali lipat pada tahun 2030 dibandingkan dengan tahun 2005. Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2010, pada tahun 2005 kematian akibat kanker di seluruh dunia mencapai 7 juta orang, 11 juta kasus baru kanker dan 25 juta orang hidup dengan kanker. Diperkirakan pada tahun 2030, kematian akibat kanker meningkat menjadi 17 juta, 27 juta kasus baru dan 75 juta orang hidup dengan kanker. Dari 75 juta jiwa tersebut, 70 persennya hidup di negara berkembang termasuk Indonesia. "Diperkirakan pada tahun 2030 akan naik 200 hingga 300 persen dan 70 persennya hidup di negara berkembang termasuk Indonesia," ujar Dr Dradjat Ryanto Suardi, SpB(K)Onk, Ketua Umum PP Perhimpunan Onkologi Indonesia, dalam acara Diskusi Media tentang Terobosan Pengobatan Kanker Payudara dengan Peningkatan Harapan Hidup Signifikan, di Resto Tesate, Plaza Senayan, Jakarta, Kamis (30/8/2012). Diantara seluruh kanker yang ada, kanker payudara adalah salah satu kanker yang paling sering ditemukan. Menurut Dr Dradjat, di Indonesia sendiri kasus kanker payudara terus meningkat. Pada tahun 2004, tercatat ada 15,1 persen kasus kanker payudara dari semua kasus kanker yang ada. Di tahun 2008, jumlahnya meningkat menjadi 18,5 persen.

Menurut WHO, 8-9 persen perempuan akan mengalami kanker payudara dalam hidupnya. Ini menjadikan kanker payudara sebagai jenis kanker yang paling banyak ditemui pada perempuan dan kanker tersering nomor dua di dunia. Masih menurut WHO, diperkirakan lebih dari 1 juta perempuan terdiagnosis kanker payudara di seluruh dunia tahun ini. Setelah menjalani perawatan, sekitar 50 persen pasien mengalami kanker payudara metastatik dan hanya bertahan hidup 18-30 tahun. "Proses sel berubah menjadi kanker bukan proses yang pendek, butuh belasan tahun untuk menjadi kanker. Tapi kalau kanker bisa terdeteksi secara dini pada fase insitu, maka bisa 100 persen sembuh," tegas Dr Dradjat. Salah satu cara untuk mendeteksi awal kanker payudara adalah dengan melakukan SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) yang dilakukan seminggu setelah menstruasi. Waktu seminggu setelah menstruasi sangat tepat karena pada saat itu hormon estrogen dan progesteron berada pada kadar yang rendah. Hormon estrogen dan progesteron mengontrol dan mempengaruhi besar atau kecilnya payudara. Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) adalah melakukan beberapa hal berikut:

1. Perhatikan payudara dengan posisi kedua tangan di atas kepala kemudian kedua tangan di pinggang.

2. Angkat tangan kiri ke atas kepala.

3. Gunakan permukaan jari yang rata untuk meraba atau menekan payudara serta pastikan untuk menyentuh seluruh bagian payudara. Pola yang digunakan bisa dengan gerakan arah memutar, gerakan arah naik dan turun atau arah keluar dan masuk area putting. Usahakan menggunakan gerakan yang sama setiap bulannya.

4. Menekan setiap putting dengan lembut dan memperhatikan apakah ada cairan yang keluar.

5. Memeriksa daerah antara payudara dan ketiak serta payudara dan tulang dada sambil berbaring.

6. Mengulangi semua langkah tersebut untuk payudara yang sebelah kanan.


Last edited by gitahafas on Wed Sep 12, 2012 1:49 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Fri May 25, 2012 5:21 pm

FAKTOR FAKTOR PEMICU KANKER
Sampai sekarang masih menjadi teka-teki, mengapa seseorang mengidap kanker, sedang orang lainnya tidak. Yang sudah diketahui, kanker bisa disebabkan oleh banyak faktor, dan berkembang dalam waktu bertahun-tahun. Riset membuktikan bahwa bahwa beberapa faktor dapat meningkatkan resiko seseorang terkena kanker. Untungnya sebagian besar faktor resiko itu dapat dihindari, dikontrol, dan dikendalikan, dengan memilih gaya hidup yang tepat. Berikut adalah faktor-faktor yang paling banyak menyebabkan timbulnya kanker. Faktor-faktor lainnya masih banyak, sayangnya belum memungkinkan untuk dibeberkan semuanya di sini.

Umur
Kebanyakan kanker menyerang orang yang berumur di atas 60 tahun. Tetapi tidak sedikit orang yang jauh lebih muda, bahkan anak-anak di bawah umur lima tahun, yang juga terkena kanker.


Rokok menyebabkan kanker!
Tembakau/Asap rokok/tembakau yang dihirup baik perokok aktif maupun perokok pasif dapat menyebabkan kanker paru-paru, kanker pita suara, kanker mulut, tenggorokan, ginjal, kandung kencing, kerongkongan, perut, pankreas, leukemia, dan leher rahim. Bukan hanya asapnya, bahkan sering menghirup aroma tembakau pun dapat menyebabkan kanker, dan mengunyah/menghisapnya (misal dalam bentuk susur –Jw) dapat menyebabkan kanker mulut.

Sinar Matahari
Sinar matahari pagi baik untuk kesehatan. Tetapi sinar matahari siang, yang banyak mengandung ultraviolet, dapat menyebabkan kanker kulit. Gunakan payung, topi lebar, dan pakaian yang sebanyak mungkin menutup tubuh untuk melindungi diri dari sinar ultraviolet. Kulit yang tidak terlindungi, sebaiknya diolesi dengan sunscreen yang mengandung sun protection factor (SPF) paling sedikit 15. Sinar ultraviolet dapat menembus kaca, pakaian yang tipis, juga dapat dipantulkan oleh pasir, air, salju, dan es. Perlu diingat, bahwa lampu-lampu ultraviolet yang banyak dijual di toko juga dapat menyebabkan kanker, lho.

Zat-zat Kimia
Banyak zat kimia yang ditambahkan dalam makanan/minuman modern yang dapat menjadi pemicu kanker, misalnya zat pengawet, pewarna buatan, pemanis buatan, perasa buatan. Padahal, hampir semua makanan/minuman produksi pabrik atau yang dijual di warung/restoran mengandung zat-zat tambahan tersebut. Tetapi makanan yang disiapkan di rumah pun belum tentu bebas resiko kanker. Karena kebanyakan sayur-sayuran dan buah-buahan ditanam dengan mengandalkan pupuk buatan dan pestisida. Makanan yang dipanggang, dibakar, atau digoreng dengan minyak jelantah juga berpotensi menyebabkan kanker. Begitu juga air yang terpolusi deterjen maupun limbah-limbah kimiawi lainnya (walaupun telah dijernihkan). Zat-zat kimia lain penyebab kanker dapat masuk ke tubuh manusia melalui udara, misal bensin, asbes, kadmium, nikel, vinil klorida, dan sebagainya.

Infeksi Virus dan Bakteri
Beberapa jenis virus dan kuman dapat meningkatkan resiko kanker, antara lain:
Virus human papilloma (HPV), merupakan penyebab utama kanker leher rahim dan dapat meningkatkan resiko timbulnya kanker jenis lain. Virus hepatitis B dan hepatitis C dapat memicu timbulnya kanker hati. Virus human T-cell leukemia/lymphoma (HTLV-1) meningkatkan resiko limfoma dan leukemia. Virus human immunodeficiency (HIV) yang dikenal sebagai penyebab AIDS ini meningkatkan resiko limfoma dan Kaposi’s sarcoma. Virus Epstein-Barr meningkatkan resiko terjangkitnya limfoma. Virus human herpes 8 (HHV8) dapat menyebabkan Kaposi’s sarcoma. Helicobacter pylori penyebab luka lambung dan usus juga dapat menimbulkan kanker di sepanjang saluran pencernaan. Untuk mengurangi kemungkinan tertular virus/bakteri tersebut, hindari berganti-ganti pasangan seksual, juga jangan saling bertukar sikat gigi, jarum, sisir, peralatan makan, dsb.

Diet, Kegemukan, dan Kurang Gerak
Terlalu banyak mengkonsumsi daging merah dan garam diduga dapat meningkatkan resiko kanker usus, rektum, dan kanker lain di daerah perut. Sebaliknya banyak mengkonsumsi sayur dan buah dapat mengurangi resiko kanker di sepanjang saluran pencernaan. Kegemukan dan kurang gerak dapat memicu timbulnya kanker payudara, endometrium, ginjal, usus besar, dan kerongkongan. Untuk mencegahnya, setiap hari berolahragalah setidaknya selama 30 menit.

Alkohol
Konsumsi alkohol dapat memicu kanker mulut, tenggorokan, kerongkongan, pita suara, liver, dan payudara. Tetapi sekali-sekali makan tape, tidak apa-apa kok.

Hormon
Hormon estrogen yang berlebihan dalam tubuh dapat meningkatkan kemungkinan terjangkitnya kanker kandungan dan kanker payudara. Sedang hormon progesteron dapat mencegah timbulnya kanker endometrium, tetapi meningkatkan resiko kanker payudara. Kedua jenis hormon tersebut banyak digunakan sebagai bahan pil KB maupun terapi sulih hormon pada wanita menopause. Penggunaan jangka panjang dapat mengurangi resiko kanker kandungan dan endometrium, tetapi meningkatkan resiko kanker payudara dan kanker liver.

Riwayat Keluarga
Faktor-faktor pemicu di atas baru akan menimbulkan kanker kalau berhasil membuat sebuah gen dalam inti sel berubah (bermutasi). Jika sistem kekebalan tubuh tidak mampu memperbaiki atau menghancurkan gen yang mengalami mutasi ini, gen tersebut membuat sel normal berubah menjadi sel ganas, yang seterusnya berkembang menjadi kanker. Adakalanya gen pembawa sifat ini kemudian diturunkan kepada anak, yang membuat anak tersebut memiliki gen yang tidak normal. Sekalipun demikian gen tidak normal ini belum tentu berkembang menjadi kanker, karena masih tergantung pada ada-tidaknya pemicu-pemicu lain dan kuat-tidaknya daya tahan tubuhnya. Lagipula tidak semua jenis kanker diturunkan. Hanya kanker jenis tertentu yang memiliki kecenderungan diturunkan, yakni melanoma (kanker kulit), payudara, kandungan, prostat, dan usus besar.

Jangan Takut
Walaupun dalam kehidupan kita sekarang ini tampaknya segala sesuatu dapat menyebabkan kanker, kita tidak perlu terlalu takut. Kanker tidaklah semudah itu menyerang kita. Tidak semua hal menyebabkan kanker. Juga, kanker tidak menular. Jika kita memiliki satu atau beberapa faktor resiko kanker, bukan berarti kita pasti menderita kanker. Memang beberapa orang lebih sensitif terkena kanker dibanding yang lain. Tetapi itu pun belum tentu! Jadi tidak usah takutlah, apalagi sampai stres. Kalau kita stres, justru stres itulah yang membuat kondisi kita buruk, dan memudahkan datangnya penyakit.

(Titah Rahayu/rumahkanker.com)


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 7:49 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Wed May 30, 2012 8:57 pm

POLA HIDUP SALAH SATU PEMICU KANKER
www.erabaru.net
Hampir separuh dari kanker yang terdiagnosis setiap tahunnya di Inggris dipicu oleh gaya hidup tidak sehat, seperti merokok dan meminum alkohol. Rokok menjadi penyebab terbesar, sekitar 23%, untuk kanker di kalangan pria, sementara untuk wanita angkanya mencapai 15,6% menurut laporan yang disusun lembaga Penelitian Kanker Inggris. Pola makan yang tidak sehat, seperti jarang mengkonsumsi sayuran segar atau buah, menjadi penyebab terbesar kedua penyakit kanker di kalangan pria. Untuk wanita penyebab terbesar kedua adalah kelebihan berat badan. "Banyak yang beranggapan kanker disebabkan oleh faktor nasib atau keturunan," kata Profesor Max Parkin, ketua tim penulis laporan yang diterbitkan Jurnal Kanker Inggris . "Melihat bukti-bukti yang ada, jelas bahwa 40% kanker disebabkan oleh faktor-faktor yang sebenarnya bisa kita cegah," ujar Parkin. Untuk pria, nasehat terbaik sepertinya adalah berhenti merokok, perbanyak sayur dan buah, dan mengurangi alkohol. Untuk wanita, kata para ahli, berhenti merokok dan jaga berat badan.

Secara keseluruhan diketahui terdapat 14 faktor gaya hidup dan lingkungan -seperti tempat tinggal dan lingkungan kerja- yang menjadi penyebab kanker di Inggris, yang mencapai 134.000 kasus per tahun. Sekitar 100.000 kasus (34%) kanker terkait dengan merokok, pola makan, alkohol, dan kelebihan berat badan. Satu dari 25 kasus kanker terkait dengan pekerjaan, misalnya karena sering terpapar bahan kimia atau asbestos.

Kaitan sejumlah faktor dengan kanker bisa dipastikan dengan jelas, misalnya antara merokok dan kanker paru-paru namun tidak demikian halnya dengan beberapa faktor lain. Misalnya untuk kanker payudara, karena kelebihan berat badan lebih mungkin menyebabkan kanker payudara dibandingkan faktor menyusui atau mengkonsumsi alkohol. Untuk kanker perut, seperlimanya disebabkan oleh makanan yang terlalu banyak mengandung garam. Beberapa kanker lain, seperti mulut dan tenggorokan, hampir semuanya disebabkan oleh gaya hidup. Tapi gaya hidup juga diketahui tidak menjadi penyebab sama sekali, misalnya untuk kanker kandung kemih. Bagaimanapun Dr Rachel Thompson dari Dana Penelitian Kanker Dunia mengatakan bahwa laporan memperkuat bukti kaitan antara kanker dan gaya hidup. Direktur Penelitian Kanker Inggris, Dr Harpal Kumar, mengatakan gaya hidup yang sehat tidak bisa menjadi jaminan penuh bahwa seseorang tidak akan terkena kanker. "Namun penelitian ini menggarisbawahi bahwa dengan menjalani gaya hidup yang lebih sehat, risiko terkena kanker bisa diminimalkan," kata Dr Kumar. (Erabaru/BBC.Co.Uk/sua)


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 7:54 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Thu May 31, 2012 1:17 pm

JANGAN SEPELEKAN, TIDUR MENDENGKUR PICU KANKER
Kamis, 31 Mei 2012 | 11:30 Suara Pembaruan
[JAKARTA] Sebagian orang menganggap mendengkur saat tidur adalah hal umum yang terjadi sebagai tanda tidur lelap. Namun sebuah fakta baru menyebutkan jangan pernah menyepelekan mendengkur karena ternyata bisa memicu sel kanker. Spesialis Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) Rumah Sakit Premier Bintaro dr Ari Cahyono, mengatakan, sebuah penelitian yang dilakukan Sleep Center di Wisconsin Amerika Serikat selama 22 tahun terhadap 1500 subjek, menyebutkan penderita yang mengalami gangguan tidur obstructive sleep apnea (OSA) ternyata lima kali berisiko lebih tinggi terkena kanker. Bahkan seseorang yang sudah menderita kanker, pertumbuhan sel kankernya lebih cepat jika penderitanya sedang mengalami OSA berat. Belum ada penelitian lanjutan tentang korelasinya, namun diduga pada pasien OSA ketika berhenti bernafas terjadi kekurangan oksigen yang menahun sehingga memicu pertumbuhan dan perubahan sel kanker tersebut. “Sel kanker sebetulnya juga membutuhkan oksigen, maka ketika kekurangan oksigen dalam waktu lama dia akan membentuk pembuluh darah sendiri, kemudian selnya menjalar ke mana-mana,” kata Ari dalam acara media gathering tentangan mendengkur saat tidur dan pengenalan Sleep Clinic RS Premier Bintaro, Jakarta, Rabu (30/5). Ari menjelaskan, gangguan tidur sering luput dari perhatian orang, salah satunya yang paling banyak dialami adalah mendengkur. Mendengkur atau mengorok terjadi akibat penyempitan di saluran nafas, dan bisa menyebabkan gejala penyakit yang disebut OSA yakni sumbatan nafas pada saat tidur. Penderita OSA akan mengalami periode berhenti bernafas, dan di saat itulah ia kekurangan oksigen yang terjadi berulang-ulang. Masalahnya, tidak semua orang menyadari jika dirinya mengalami OSA karena tidurnya lelap sepanjang malam.

Dikatakan seseorang mengalami OSA ringan ketika ia berhenti bernapas sebanyak 5-30 kali dalam sejam, sedangkan jika lebih dari 30 kali sudah tergolong OSA berat. Selain kanker, penderita OSA juga bisa terkena penyakit kronis seperti jantung, stroke, hipertensi dan diabetes. Karena kekurangan oksigen yang menahun menyebab stress pada jantung dan mempercepat kerjanya, juga terhadap otak dan organ lain. “Diabetes juga akan sulit dikontrol karena kekurangan oksigen kronis, sehingga pada penderita diabetes tidak sensitif terhadap pengobatannya,” kata Ari menambahkan. Lebih lanjut ia menjelaskan, orang-orang yang berisiko menderita OSA adalah penderita diabetes, laki-laki dan anak yang sedang menderita amandel. Orang obesitas mengalami penumpukan lemak di tenggorokan sehingga saluran nafasnya lebih sempit. Sedangkan laki-laki umumnya memiliki saluran nafas lebih kecil dari perempuan, sehingga kemungkinan mendengkur lebih besar. Demikian pula pada anak-anak yang sedang menderita amandel, saluran pernafasannya menjadi sempit. Adapun tips sederhana untuk mengurangi dengkuran, antara lain jangan terlalu memaksakan diri untuk bekerja terlalu keras. Bersihkan slauran nafas terutama rongga hidung sebelum pergi tidur. Tidur dengan posisi miring dan letakan kepala lebih tinggi, ganjal dengan bantal atau tangan untuk memperlancar jalannya nafas. Hentikan kebiasaan merokok, alkohol, kurangi kelebihan berat badan dan hindari makanan berlemak sebelum tidur.

Spesialis THT dr Lanny Tanudjaya juga menjelaskan, sleep clinic merupakan fasilitas khusus untuk mempelajari gangguan saat tidur. Di sleep clinic ini akan dilakukan pemantauan tidur di malam hari, dengan memasang alat pendeteksi gangguan tidur, seperti detector untuk merekam aktivitas listrik otak, mata, otot dagu, jantung. Ada juga pengukur saturasi oksigen, aliran udara, perekam dengkuran dan usaha bernapas dari dada serta perut. Untuk memperoleh data rekaman yang lengkap alat-alat ini dipasang selama 6 jam. Setelah itu, dokter akan menganalisa seluruh hasil pemeriksaan untuk menentukan kualitas tidur pasien maupun jenis gangguan tidur yang dialaminya. Hal ini menjadi dasar penentuan terapi berikutnya, misalnya apakah perlu operasi bedah mulut, pemakaian alat bantu tertentu, atau sekedar modifikasi gaya hidup. “Pemeriksaan kualitas tidur sangat dianjurkan untuk orang-orang yang dicurigai mengalami gangguan tidur, antara lain yang punya kebiasaan mendengkur dan juga orang yang ketika bangun tidur tidak merasa segar dan mengantuk di siang hari,” katanya. [D-13]


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 7:22 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Thu May 31, 2012 1:19 pm

WHO: ASAP KNALPOT DIESEL PICU KANKER
Bramirus Mikail | Asep Candra | Rabu, 13 Juni 2012 | 09:22 WIB
KOMPAS.com - Hasil panel para ahli yang bekerja untuk Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sepakat menyimpulkan bahwa asap knalpot dari mesin diesel dapat memicu kanker. Peneliti menyimpulkan, asap knalpot secara pasti dapat menjadi penyebab kanker paru-paru dan juga dapat menyebabkan tumor di kandung kemih. Temuan ini didasarkan dari hasil penelitian yang meliputi para pekerja yang berisiko tinggi seperti pekerja penambang, pekerja kereta api dan supir truk. Para ahli menyarankan semua orang harus mencoba mengurangi paparan asap knalpot diesel. Divisi riset kanker WHO atau The International Agency for Research on Cancer (IARC) sebelumnya telah memberikan peringatan akan ancaman yang ditimbulkan knalpot diesel karena mungkin dapat bersifat karsinogenik bagi manusia. Namun berdasarkan hasil panel, IARC kini sudah dapat 'mengklaim' knalpot diesel sebagai penyebab pasti dari kanker, meskipun tidak membandingkan bagaimana risiko perbedaan tingkat karsinogennya. Diperkirakan, mereka yang bekerja di industri memiliki risiko peningkatan kanker paru-paru sebesar 40 persen. "Bukti ilmiah memaksakan dan kelompok kerja sepakat menyimpulkan bahwa knalpot mesin diesel menyebabkan kanker paru-paru pada manusia. Mengingat adanya risiko kesehatan dari partikulat diesel, paparan campuran bahan kimia ini harus dikurangi di seluruh dunia," jelas Dr Christopher Portier, yang memimpin penelitian. Dampak pada populasi yang lebih luas, mereka yang terkena asap diesel dengan tingkat yang jauh lebih rendah dan untuk waktu yang lebih singkat, belum diketahui. "Untuk sebagian besar zat yang bersifat karsinogen, ketika ada paparan tinggi maka risikonya lebih tinggi, ketika ada paparan lebih rendah maka risikonya lebih rendah," ungkap Dr Kurt Straif dari IARC .Lembaga riset kanker Inggris, Cancer Research UK, menyarankan para pengusaha dan pekerja untuk mengambil tindakan yang tepat dalam meminimalkan paparan terhadap asap diesel di tempat kerja. Direktur informasi Cancer Research UK, Dr Lesley Walker, mengatakan, jumlah kasus kanker paru-paru yang disebabkan oleh asap diesel sejauh ini masih jauh lebih kecil ketimbang yang disebabkan oleh kebiasaan merokok.


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 1:20 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Penyakit Kanker   Sat Jun 02, 2012 6:18 am

RAMBUT BERUBAN KARENA EFEK OBAT KANKER
Rabu, 08/09/2010 14:00 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Chicago, Rambut putih alias uban biasanya identik dengan rambut kakek dan nenek. Tapi uban tak selalu berkaitan dengan usia, karena obat anti kanker juga dapat memutihkan rambut. Sebuah penelitian menemukan bahwa rambut putih bisa diakibatkan sebagai efek samping berbahaya dari pengobatan melanoma (sejenis kanker kulit). Melanoma adalah tumor ganas dari melanosit yang paling sering mempengaruhi kulit. Kondisi ini dikenal sebagai jenis yang paling umum dari kanker kulit, ditemukan menyebabkan 75 persen kasus kanker kulit yang fatal. Sebuah penelitian yang dipresentasikan pada pertemuan tahunan American Society of Clinical Oncology di Chicago, menyelidiki pengaruh dua obat eksperimental, yaitu ipilimumab dan tremelimumab. Kedua obat jenis ini diharapkan dapat secara efektif memblok CTLA-4 (Cytotoxic T-Lymphocyte Antigen 4), yaitu protein yang memainkan peranan penting dalam regulasi sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat memperkuat sistem kekebalan dan membantu tubuh melawan kanker. Obat baru ini terbuat dari antibodi manusia dan menunjukkan efek samping tak terduga, yaitu membuat rambut menjadi memutih. Selain itu, ditemukan bahwa pasien yang rambutnya telah merespon terhadap obat tersebut menanggapi dalam cara yang terbaik. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan warna rambut dapat dilihat sebagai tanda awal obat telah bereaksi. "Depigmentasi ditentukan dalam enam bulan sampai satu tahun setelah mulai terapi, pada awalnya alis akan menunjukkan perubahan warna, kemudian disusul dengan mahkota rambut Anda," ujar Anna Pavlick, peneliti utama, seperti dilansir dari Geniusbeauty, Rabu (8/9/2010).


Last edited by gitahafas on Sun Aug 26, 2012 2:18 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
 
Penyakit Kanker
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 32Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 17 ... 32  Next
 Similar topics
-
» Cara Mengobati Penyakit Liver
» Dampak Meditasi dan Bahayanya
» Penipuan Pendeta Gyntara Yongky Wenas alias Oen Tay Joeng
» Jus Lalat sebagai obat untuk penyakit
» Pantangan Makanan Penderita Sakit Ginjal

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: