Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 IpTek

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 15 ... 25  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:25 pm

PENOLAKAN MASYARAKAT, KENDALA UTAMA PLTN
Senin, 7 Juni 2010 | 18:47 WIB
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Penolakan masyarakat masih menjadi kendala utama pembangunan PLTN di Indonesia. Berdasarkan survei, baru 47 persen masyarakat Indonesia dapat menerima keberadaan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN).
Untuk mengatasinya, sosialisasi tengah gencar dilaksanakan. Untuk tahun ini, dana sosialisasi PLTN mencapai sekitar Rp 2 miliar.

"Untuk mengatasinya, sosialisasi tengah gencar dilaksanakan. Untuk tahun ini, dana sosialisasi PLTN mencapai sekitar Rp 2 miliar. Sasarannya terutama sekolah dan kampus," kata Kepala Biro Kerjasama, Hukum, dan Hubungan Masyarakat Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) Jakarta, Ferhat Aziz usai diskusi publik Forum Dialektika bertema Politik Nuklir di Indonesia yang diselenggarakan Institute of International Studies Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Senin (7/6/2010). Ferhat mengatakan, pembangunan PLTN di Indonesia ditargetkan sudah selesai antara 2015-2019. Waktu semakin mendesak karena pembangunan PLTN membutuhkan waktu sekitar 10 tahun.

Saat ini, pembangunan nuklir Indonesia telah semakin tertinggal dari negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam yang telah mencanangkan pembangunan PLTN. Ketertinggalan ini bisa berakibat pada hilangnya pasar energi nuklir Indonesia serta meningkatnya ketergantungan energi pada asing.
Dari sisi infrastruktur, sumber daya manusia, maupun penguasaan teknologi, ujar Ferhat, Indonesia sebenarnya sudah siap membangun PLTN. Hal ini dikuatkan dengan evaluasi badan tenaga atom internasional IAEA pada November tahun lalu.

Terkait hal itu, Peneliti Politik Teknologi dari Universitas Teknologi Nanyang Singapura, Sulfikar Amir mengatakan, Pemerintah belum terbuka dalam menyosialisasikan pemanfaatan PLTN. Sejauh ini sosialisasi baru bersifat promosi dan terkesan menutupi risiko yang ada. "Pemerintah perlu lebih berimbang dalam menampilkan risiko ko maupun keuntungan pemanfaatan teknologi nuklir," ujarnya.

Sosialisasi dengan model promosi ini, ujar Sulfikar, justru akan berdampak buruk karena masyarakat tidak disiapkan mengenali dan mengantisipasi resiko pembangunan PLTN. Akibatnya, masyarakat mudah panik dan tidak mempunyai kesiapan terhadap teknologi nuklir. "Selain itu, sosialisasi model ini justru membuat sebagian masyarakat semakin antipati pada rencana pembangunan PLTN. Karena di sisi lain, komunitas-komunitas yang anti pada PLTN juga gencar menampilkan dampak buruk nuklir," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 06, 2010 12:32 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:28 pm

SELAMATKAN INDONESIA DARI BAHAYA PLTN
Kamis, 6 Mei 2010 | 15:47 WIB Oleh Habibullah
Kompas.com - Memang, sejarah kelam bukan untuk dikenang, tetapi untuk dijadikan pijakan dalam setiap pengambilan kebijakan. Apalagi, sejarah dalam konteks yang berhubungan dengan keselamatan hidup orang banyak dari dampak negatif bahaya penggunaan pembangkit listrik tenaga nuklir yang telah direncanakan oleh pemerintah.

Kekhawatiran masyarakat terhadap pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) yang direncanakan pemerintah di beberapa daerah di Indonesia, khususnya di Bangkalan (Madura), Jepara, Bangkabelitung, dan sebagainya bukanlah tanpa alasan. Ketakutan dan kekhawatiran masyarakat terhadap bahaya PLTN berangkat dari sejarah kelam yang telah terjadi di beberapa negara di dunia. Baik dari kecelakaan dalam sekala kecil maupun sekala besar, seperti pada 28 Maret 1979, terjadi kecelakaan yang relatif kecil di TMI (Three Miles Island), Amerika Serikat.

Kecelakaan yang terakhir dan terbesar terjadi 25-26 April 1986 di Chernobyl, Ukraina, 24 tahun silam. Kecelakaan yang sangat dahsyat ini melibatkan secara langsung 135.000 orang, 24.403 di antaranya dinyatakan terkena radiasi yang cukup berat, dan 29 orang menderita akibat yang fatal. Bencana Chernobyl yang memakan korban jiwa sangat banyak bermula dari rencana mengadakan percobaan untuk mengetahui kemampuan reaktor dalam keadaan darurat. Namun, kurangnya perencanaan yang matang mengakibatkan reaktor tidak dapat dikontrol dengan baik hingga berakibat fatal. Meskipun pada kecelakaan di atas mempunyai arti yang sangat penting bagi industri nuklir, bagi masyarakat kecelakaan ini menjadi catatan sejarah kelam yang meninggalkan trauma sangat dalam khususnya masyarakat Indonesia meskipun bukan bagian dari korban bencana tersebut.

Belajar pada sejarah Chernobyl
Dahsyatnya bencana Chernobyl telah membuka mata masyarakat luas dan para ahli nuklir di seluruh dunia, kemungkinan terjadi kecelakaan ternyata lebih besar daripada yang diperkirakan. Peristiwa ini membuktikan betapa teknologi yang dianggap sangat canggih ternyata tidak aman, berlawanan dengan janjinya di tahun 1950-an. Chernobyl, setelah sebelumnya terjadi kecelakaan Three Miles Island di AS, menjadi bukti bahwa kekhawatiran masyarakat yang menolak terhadap nuklir ternyata benar. Tiadanya kecelakaan yang setara dengan Chernobyl saat ini bukan berarti teknologi PLTN sudah aman dan nyaman. Berbagai laporan resmi justru menunjukkan puluhan ribu peristiwa (event), baik berupa insiden (incident) maupun kecelakaan (accident) terjadi di seluruh dunia. Oleh karena itu, jangan sampai bencana Chernobyl yang pernah mengguncang dunia kembali terjadi di Indonesia yang letak geografisnya menunjukkan akan tingginya risiko terjadinya kecelakaan nuklir.

Seharusnya pemerintah belajar dari sejarah bencana yang menimpa Chernobyl sebelum mengambil keputusan atas rencana pembangunan PLTN di Indonesia. Sejarah Chernobyl telah menjadi sejarah paling menakutkan bagi masayarakat di seluruh dunia, apalagi masyarakat Indonesia yang sedang menghadapi rencana pembangunan PLTN dari pemerintah. Meskipun kecelakaan di atas telah membawa pengaruh yang besar terutama dalam tiga kategori, yaitu perubahan dalam perusahaan (institusi), peralatan (equipment), dan cara kerja (operasional). Termasuk dalam kategori yang ketiga ini adalah faktor manusia, operator training, dan kesiap-siagaan dalam keadaan darurat (emergency preparedness). Ketakutan dan kekhawatiran masyarakat di dunia tetap ada. Di akui atau tidak, rencana pemerintah sama sekali tidak berpijak pada sejarah kelam dalam mengambil sikap dan keputusan yang mempertaruhkan keselamatan orang banyak atas rencana pembangunan PLTN tersebut.

Kebohongan pemerintah
Pemerintah seharusnya sadar bahwa Indonesia tidak pernah memiliki budaya nuklir dalam panjang sejarah peradaban manusia. Percaya atau tidak, pemerintah dalam hal ini seakan ingin membohongi masyarakat akan dampak dari bahaya PLTN dengan memelintir informasi pada publik. Seperti halnya di Chernobyl, operator PLTN beserta pemerintahnya berupaya menutup-nutupi terjadinya kecelakaan itu sehingga mengorbankan masyarakatnya yang tidak tahu bahaya yang mengintainya. Dalam rencana pembangunan PLTN ini, pemerintah Indonesia juga demikian, yaitu melakukan hal yang sama "menutup- nutupi" saat terjadi kecelakaan di fasilitas nuklir Serpong beberapa waktu lalu. Bahkan Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten) sama sekali tidak pernah sedikitpun memberi informasi kepada masyarakat tentang peristiwa yang seharusnya masyarakat tahu dan dilindungi dari dampak bahaya PLTN.

Rencana PLTN tersebut sangat terkesan ditutup-tutupi. Upaya pemerintah untuk merealisasikan rencana PLTN di Indonesia telah melakukan berbagai cara untuk membodohi publik agar menerima rencana itu dengan alasan bahwa energi nuklir adalah solusi yang paling tepat bagi perubahan iklim.

Padahal, sampai saat ini dampak dari energi nuklir di dunia belum mampu menyelesaikan berbagai masalah yang ditimbulkan dari energi nuklir itu sendiri, yakni radioaktif yang mencemari masyarakat dan lingkungan mulai dari penambangan uranium, pengoperasian normal PLTN, dan dalam bentuk limbah nuklir yang baru bisa habis setelah ratusan ribu tahun. Di sini kita di tuntut untuk sadar, khususnya pemerintah bahwa letak geografis keberadaan negara Indonesia yang terdiri dari kepulauan mencerminkan tingginya risiko atas penggunaan reaktor nuklir. Di sadari atau tidak, secara alamiah 84 persen wilayah kepulauan Indonesia merupakan kawasan yang rentan terhadap bencana. Jika ini terjadi, nelayan dan masyarakat pesisir akan mengalami kerugian yang teramat besar akibat dari pembangunan PLTN. Coba kita lihat pembangunan PLTU Tanjung Jati B di Desa Tubanan, Kecamatan Kembang, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang menimbulkan dampak luar biasa bagi nelayan dengan kurang lebih sekitar 160 hektar perairan tidak diperbolehkan untuk dijadikan daerah operasi penangkapan ikan.

Harus di akui, Indonesia tidak memiliki kapasitas yang cukup untuk menggunakan nuklir. Melihat dari semua hal yang nyaris harus diimpor dari luar negeri, mulai dari bahan bakar, reaktor, hingga suku cadang pabrik listrik itu sendiri. Oleh karena itu, sebaiknya pemerintah memanfaatkan energi arus laut, bukan nuklir yang berbahaya tinggi, seperti yang telah terjadi di Chernobyl jika memang untuk menyejahterakan rakyat. HABIBULLAH Direktur Eksekutif Renaisant Institute Yogyakarta


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 6:12 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:30 pm

PULAU JAWA TERBURUK KUALITAS LINGKUNGAN
Selasa, 8 Juni 2010 | 16:19 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Indeks kualitas lingkungan hidup Pulau Jawa merupakan yang terburuk di antara pulau-pulau besar lainnya. Sementara, indek kualitas lingkungan hidup terbaik diraih provinsi Sulawesi Utara. Demikian yang disampaikan Plh Deputi bidang Tata Ruang Kementerian Lingkungan Hidup (KLH), Hermin Rosita. "Penilaian ini didasarkan pada kualitas air, udara, dan tutupan lahan," ungkapnya, Selasa (9/6/2010), di Jakarta.

Penilaian yang dilangsungkan dari tahun 2006-2009 ini membagi penilaian ke dalam dua kategori daerah yakni tingkat kepulauan atau pulau besar dan tingkat provinsi. Untuk kualitas lingkungan hidup terbaik menurut kepulauan atau pulau-pulau besar berdasarkan indeks berturut-turut dari yang terbaik hingga terburuk adalah Maluku dan Papua, Sulawesi, Bali dan Nusa Tenggara, Sumatera, Kalimantan, dan Jawa.

Sementara itu, jika dilihat berdasarkan provinsi, Sulawesi Utara ada di peringkat pertama. Kemudian diikuti Sumatera Barat, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Bengkulu. Meski Jawa berada di posisi terbawah untuk indeks kualitas lingkungan hidupnya, tetapi pulau ini tetap di posisi teratas dalam jumlah kota metropolitan yang menerima anugerah Adipura.

Mengapa demikian? "Perlu dibedakan penilaian Adipura dengan Indeks Lingkungan Hidup karena Adipura lebih mengutamakan sistem pengelolaan sampah, sementara indeks lingkungan hidup dilihat dari tiga hal tadi," ujar Hermin.

Jawa berhasil delapan anugerah Adipura kategori kota metropolitan dari total sembilan kota yang mendapatkannya. Kota tersebut yakni Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Selatan, Jakarta Pusat, Bekasi, Tangerang, dan Surabaya. Sementara satu kota lainnya di luar pulau Jawa adalah Palembang, Sumatera Selatan.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 9:39 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:31 pm

LEBIH DARI 30 JUTA POHON DITANAM
Sabtu, 12 Juni 2010 | 18:57 WIB
BEKASI, KOMPAS.com - Program penanaman satu miliar pohon yang dicanangkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono hingga 2013, menurut Kementrian Kehutanan RI sudah terlaksana sebanyak 30 juta-an pohon. "Kita berkeyakinan target penanaman pohon tersebut bisa tercapai bila seluruh pemangku kebijakan, swasta, BUMN dan masyarakat sama-sama menanam pohon di lingkungan masing-masing," kata Dirjen Rehabilitasi Lahan dan Perhutanan Sosial, Kementrian Kehutanan RI Indri Astuti, Sabtu (12/6/2010) usai menyerahkan bantuan 100 ribu pohon pagar hidup untuk tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Bantar Gebang, Bekasi.

Beberapa waktu lalu, di Sulawesi Selatan saja dalam satu hari berhasil ditanam 2.070.000 pohon dalam satu hari dan atas prestasi tersebut masuk dalam museum rekor Indonesia. Untuk Kota Bekasi, penghargaan serupa bisa saja diperoleh atas prestasi penanaman pohon tanpa henti selama satu minggu serta pengelolaan sampah yang memberikan nilai tambah berupa kompos dan energi listrik. Ia mengatakan, menanam satu miliar pohon bukan hanya tugas kementerian tapi merupakan kewajiban bersama seluruh anak bangsa dalam membuat lingkungan di Indonesia jadi hijau.

"Kita tahu bencana alam berupa tanah longsor terjadi akibat ketidakpedulian pada lingkungan baik berupa membuang sampah sembarangan maupun ketidak-pedulian dengan lahan kotor yang seharusnya dihijaukan," tegasnya. Pohon-pohon yang ditanam dalam menunjang gerakan satu miliar pohon sebaiknya juga dipelihara dan bukan sekadar ditanam saja tapi diikuti pemeliharaan sampai pohon itu jadi dan bermanfaat bagi semua.

"Kalau pohonnya berbuah tentu masyarakat bisa ikut merasakan, begitu juga pohon besar yang memberikan kesejukan dan lebatnya daun-daun pada rantingnya," ujar Indri. Kegiatan penanaman satu miliar pohon, menurut dia akan membantu Indonesia dalam mengurangi emisi karbon hingga 26 persen pada 2020 dan bila program itu dibantu asing maka emisi karbon yang dikurangi bisa mencapai 41 persen.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 9:41 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:32 pm

PENCEMARAN LAUT INDONESIA MASIH TINGGI
Minggu, 16 Mei 2010 | 12:47 WIB
PADANG, KOMPAS.com - Tingkat pencemaran lingkungan laut Indonesia masih tinggi, ditandai antar lain dengan terjadinya eutrofikasi atau meningkatnya jumlah nutrisi disebabkan oleh polutan. "Nutrisi yang berlebihan tersebut, umumnya berasal dari limbah industri, limbah domestik seperti deterjen, maupun aktivitas budidaya pertanian di daerah aliran sungai yang masuk ke laut," kata Kepala Pusat Data dan Informasi Kementerian Kelautan dan Perikanan (Pusdatin KKP), Soen`an H. Poernomo, Minggu (16/5/2010). Pencemaran di laut bisa pula ditandai dengan meningkatnya pertumbuhan fitoplankton/algae yang berlebihan dan cenderung cepat membusuk. Kasus-kasus pencemaran di lingkungan laut, yang disebut red tide itu, antara lain terjadi di muara-muara sungai, seperti di Teluk Jakarta tahun 1992, 1994, 1997, 2004, 2005, 2006.

Di Ambon terjadi pada tahun 1994 dan 1997, di perairan Cirebon-Indramayu tahun 2006 dan 2007, Selat Bali dan muara sungai di perairan pantai Bali Timur tahun 1994, 1998, 2003, 2007, dan di Nusa Tenggara Timur tahun 1983, 1985, 1989. Meski kerap terjadi, inventarisasi terjadinya red tide di Indonesia sampai saat ini masih belum terdata dengan baik, termasuk kerugian yang dialami. "Mungkin kurangnya pendataan red tide ini disebabkan oleh kejadiannya yang hanya dalam waktu singkat," katanya.

Karena itu untuk menanggulangi red tide sebagai bencana, beberapa lembaga Pemerintah dan institusi pendidikan telah melakukan penelitian meskipun masih dilakukan secara sporadis. Secara umum, kerugian secara ekonomi akibat dari red tide ini, adalah tangkapan nelayan yang menurun drastis, gagal panen para petambak udang dan bandeng, serta berkurangnya wisatawan karena pantai menjadi kotor dan bau oleh bangkai ikan. Efek terjadinya red tide juga ditunjukkan penurunan kadar oksigen serta meningkatnya kadar toksin yang menyebabkan matinya biota laut, penurunan kualitas air, serta tentunya menganggu kestabilan populasi organisme laut.

"Akibat lautan tertutup dengan algae pada saat berlimpah, maka matahari sulit untuk menempuh ke dasar laut dan pada akhirnya menyebabkan berkurangnya kadar oksigen dalam laut," katanya. Selain itu, sebagian algae juga mengandung toksin atau racun yang dapat menyebabkan matinya ikan dan mengancam kesehatan manusia bahkan menyebabkan kematian apabila mengkonsumsi ikan yang mati tersebut. "Tanpa adanya limbah, sebagai fenomena alam sesungguhnya meningkatnya pertumbuhan algae ini sangat jarang terjadi," katanya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 9:42 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:34 pm

TANDA TANDA AIR TANAH YANG TERCEMAR
AN Uyung Pramudiarja - detikHeallth - Selasa, 25/05/2010 14:00 WIB
Jakarta, Ada banyak indikator yang menunjukkan tingkat pencemaran air tanah, yang harus dilakukan di laboratorium. Namun secara sederhana air tanah yang tercemar juga bisa dikenali lewat pengamatan fisik. Untuk mendapatkan air tanah dengan kualitas baik, sumur harus dibuat dengan kedalaman tertentu. Sumur yang terlalu dangkal akan terisi air permukaan, yang lebih mudah terkontaminasi oleh cemaran atau polutan.

Sumber pencemaran terdiri dari polutan alami (mineral dan mikroorganisme) serta polutan buatan. Polutan buatan manusia seperti residu (sisa) bahan kimia umumnya lebih berbahaya dibandingkan polutan alami. Polutan buatan bisa datang dari limbah rumah tangga, industri maupun pertanian. Dari rumah tangga antara lain berupa air sabun bekas cucian. Dari industri lebih beragam, sementara dari pertanian antara lain pupuk dan pestisida.

Air bersih yang layak untuk dikonsumsi seharusnya tidak berbau, tidak berasa dan tidak berwarna. Adanya pencemaran menyebabkan perubahan pada sifat tersebut. Tanda-tanda bahwa air tanah sudah tercemar dapat dikenali melalui pengamatan fisik. Beberapa di antaranya seprti dikutip dari Indiastudychannel, Selasa (25/5/2010) adalah:

1. Warna kekuningan akan muncul jika air tercemar chromium dan materi organik. Jika air berwarna merah kekuningan, itu menandakan adanya cemaran besi. Sementara pengotor berupa lumpur akan memberi warna merah kecoklatan.

2. Kekeruhan juga merupakan tanda bahwa air tanah telah tercemar oleh koloid (bio zat yang lekat seperti getah atau lem). Lumpur, tanah liat dan berbagai mikroorganisme seperti plankton maupun partikel lainnya bisa menyebabkan air berubah menjadi keruh.

3. Polutan berupa mineral akan membuat air tanah memiliki rasa tertentu. Jika terasa pahit, pemicunya bisa berupa besi, alumunium, mangaan, sulfat maupun kapur dalam jumlah besar.

4. Air tanah yang rasanya seperti air sabun menunjukkan adanya cemaran alkali. Sumbernya bisa berupa natrium bikarbonat, maupun bahan pencuci yang lain misalnya detergen.

5. Sedangkan rasa payau menunjukkan kandungan garam yang tinggi, sering terjadi di daerah sekitar muara sungai.

6. Bau yang tercium dalam air tanah juga menunjukkan adanya pencemaran. Apapun baunya, itu sudah menunjukkan bahwa air tanah tidak layak untuk dikonsumsi. (up/ir)


Last edited by gitahafas on Fri Jan 14, 2011 8:09 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:35 pm

CEGAH BANJIR DENGAN LUBANG BIOPORI
Sabtu, 24/07/2010 15:54 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Banyak cara yang bisa dilakukan masyarakat untuk mencegah datangnya banjir. Salah satunya melalui pembuatan lubang resapan biopori. Bagaimana cara membuatnya? Lubang resapan biopori adalah lubang silindris yang dibuat ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100 cm atau tidak melebihi kedalaman air tanah.

Nantinya lubang ini diisi oleh sampah organik untuk mendorong terbentuknya biopori, yaitu pori berbentuk terowongan kecil yang dibentuk oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. "Lubang resapan biopori ini adalah teknologi tepat guna untuk meningkatkan laju resapan air hujan dan memanfaatkan sampah organik yang dimasukkan ke dalam tanah," ujar Kamir R Brata, praktisi dari Konservasi Tanah dan Air IPB, dalam acara Family Environmental Edutainment di Bumi Perkemahan Cibubur, Sabtu (24/7/2010).

Kamir menuturkan ada berbagai manfaat dari lubang ini yaitu memelihara cadangan air tanah, mencegah keamblesan dan keretakan tanah, menghambat intrusi air laut, mengubah sampah organik jadi kompos, meningkatkan kesuburan tanah, mengatasi masalah akibat genangan air seperti demam berdarah dan kaki gajah, mengurangi pencemaran udara dan perairan, mengurangi emisi gas rumah kaca serta mengurangi banjir, longsor dan kekeringan.
"Lubang ini bisa dibuat di dasar saluran yang biasa dibuat untuk membuang air hujan, di dasar alur di sekeliling pohon atau pada batas taman," tutur Kamir.

Ada beberapa tahap yang dilakukan dalam membuat lubang resapan biopori ini yaitu:
1. Buat lubang silindris ke dalam tanah pada dasar alur dengan bor biopori berdiameter 10 cm dan kedalaman sekitar 100cm atau tidak melampaui kedalaman air tanah pada dasar saluran. Jarak antar lubang sekitar 50-100 cm.
2. Mulut lubang dapat diperkuat dengan adukan semen selebar 2-3 cm, setebal 2 cm di sekeliling mulut lubang.
3. Segera isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sisa tanaman yang dihasilkan oleh daun pohon, pangkasan rumput halaman atau sampah dapur.
4. Sampah organik perlu selalu ditambahkan ke dalam lubang yang isinya sudah berkurang atau menyusut karena proses pelapukan.
5. Kompos yang terbentuk dapat diambil pada setiap akhir musim kemarau bersamaan dengan pemeliharaan lubang.

"Hujan tidak hanya terjadi di hutan saja,tapi bisa terjadi dimana saja. Karenanya perlu membuat penyerapan air di lingkungan sekitar rumah," imbuhnya.
Dengan adanya lubang resapan ini maka bencana banjir bisa dicegah. Hal ini juga turut mengurangi risiko penyakit yang biasa datang saat banjir.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 2:23 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:41 pm

PEMECAH GELOMBANG TIPE BARU
Rabu, 7 Juli 2010 | 03:43 WIB
Kompas,com - Mayoritas pemecah gelombang dibuat dengan rumus ”coba-coba” sehingga pembangunan prototipe di lapangan sering kali tidak sesuai dengan uji coba laboratoriumnya. Mudah rusaknya beberapa pemecah gelombang di beberapa pantai seperti di Tegal, Jawa Tengah; Jember, Jawa Timur; dan DI Yogyakarta menunjukkan lemahnya teknologi lapis pelindung breakwater.

Untuk menjinakkan dahsyatnya gaya gelombang pecah lautan, peneliti dari Great Lakes Institute for Environmental Research (GLIER) University of Windsor, Kanada, Wasi Tri Pramono, membuat terobosan dengan penemuan alat ukur gaya gelombang dan desain breakwater. Wasi menjadi orang pertama yang mampu mengukur semua komponen gaya gelombang pecah, yaitu gaya cabut, gaya dorong, dan momen pusar secara simultan.

Dari hasil penelitian selama enam tahun, Wasi kini memegang hak paten internasional untuk konsep teknologi baru lapis pelindung breakwater yang dijuluki Integrated Armour System (IAS). ”Sistem ini sangat tangguh, tahan gempa, indah, dan cocok dengan kondisi pantai Indonesia,” ujar Wasi seusai Workshop Teknologi Pemecah Gelombang di Universitas Janabadra Yogyakarta, pertengahan bulan lalu.

Wasi memulai penelitiannya melalui studi gaya gelombang laut yang tergolong rumit. Sejak 1950-an, hanya lima peneliti yang pernah mencoba mengukur gaya gelombang pecah tersebut. Padahal, pengetahuan gaya gelombang pecah sangat penting untuk perencanaan breakwater, seperti halnya pentingnya pengetahuan gaya yang bekerja pada perencanaan suatu jembatan, gedung, dan jalan raya.

Untuk pengukuran besarnya pukulan gaya gelombang pecah, Wasi menciptakan alat ukur gaya dinamik (dynamometer). Alat ini juga telah digunakan peneliti dari Australia, yang menjulukinya sebagai Wasidevice. Wasidevice mampu mengukur secara simultan (bersamaan waktu) gaya dorong, gaya angkat, dan gaya putar yang dialami suatu unit pelindung akibat pukulan gelombang pecah. Pengetahuan gaya gelombang simultan pada pemecah gelombang ini adalah yang pertama kali ditemukan. Wasi membangun dua dynamometer untuk memetakan selimut gaya gelombang maksimum di sepanjang permukaan potongan melintang submerged breakwater sampai low-crested breakwater.

Alat dynamometer dibangun dengan menggunakan unit pemecah gelombang berbentuk kubus. Kubus dipilih untuk mempelajari kondisi terburuk sebuah unit pelindung breakwater. Di tengah kubus tersebut, Wasi meletakkan instrumen sebagai adaptor. Kubus digantung dengan menggunakan kawat piano 0,3 milimeter.
Ketika gelombang pecah datang, pengukuran gaya dorong, gaya angkat, dan gaya putar bisa dilakukan secara bersamaan dengan tingkat kesalahan 0,4 persen. ”Prinsipnya seperti memancing. Kawat ibarat senar yang bisa mentransfer gaya sehingga bisa dirasakan seperti ketika ada ikan memakan umpan,” kata Wasi.

Dengan pemasangan dua unit kubus secara tandem tanpa bersinggungan, gaya gelombang bisa diperbandingkan. Meskipun kondisi gelombang sama, gaya gelombang yang dirasakan setiap kubus berbeda. Hasil penelitian menunjukkan, gaya gelombang unit depan ternyata lebih tinggi dari unit belakang. Unit depan menjadi yang pertama kali merasakan pukulan sangat kuat gelombang pecah. Sesaat kemudian, unit belakang merasakan pukulan gelombang, tetapi lemah.

Penggunaan kedua dynamometer untuk meneliti secara simultan gaya gelombang yang disusun tandem (muka-belakang) itulah yang melahirkan lapis pelindung breakwater generasi III IAS. Wasi terus memperkenalkan IAS sebagai alternatif perencanaan unit pelindung breakwater ke jajaran pemerintah pusat, kalangan akademisi, hingga berbagai negara tropis lainnya.

Konsep IAS tersebut dipastikan mampu memperkecil gaya dorong gelombang dengan konsep pembagian gaya. Setiap unit pemecah gelombang saling terangkai dengan konektor sebelum dipasang. Kesatuan rangkaian IAS melindungi setiap unit pelindung terhadap getaran kuat dari gempa sampai batas kekuatan konektornya sehingga tidak bercerai-berai.

Ketika salah satu blok mengalami pukulan gelombang pecah, konektor kapsul penghubung antarblok akan seketika membagi gaya melalui desakan. Proses distribusi terus berjalan ke semua blok sehingga beban terbagi. Akibatnya, beban gaya yang dipikul setiap blok lebih kecil. Dengan konsep IAS, gaya ke atas juga bisa diperkecil dengan menciptakan lubang pelepas tekanan. IAS tergolong hemat karena hanya menggunakan satu lapis pelindung yang pejal dan berukuran kecil. Wasi optimistis desain IAS ini awet hingga 50 tahun.

Selama ini, kurangnya pengetahuan tentang gaya gelombang pecah telah memunculkan beragam bentuk unit pelindung untuk menghasilkan kestabilan. Pemecah gelombang lalu dibangun dengan menggunakan bermacam-macam lapis pelindung, seperti batu alam, tetrapod, dan plat beton. Cara coba-coba dengan menggunakan beragam bentuk unit pelindung ini terus berlangsung hingga sekarang. Cara coba-coba ini, menurut Wasi, harus segera dihentikan seiring dengan semakin tingginya abrasi di 81.000 kilometer panjang garis pantai Indonesia, yang diperparah oleh pemanasan global.

Selama ini, peneliti cenderung kesulitan mengetahui besar gaya gelombang laut yang akan dialami suatu jenis unit pelindung. Apalagi, gaya gelombang dipengaruhi beragam faktor mulai ukuran dan bentuk unit pelindung, karakteristik gelombang, cara pecahnya gelombang, karakteristik air laut, sampai konstruksi pemecah gelombang. Gaya gelombang sebuah unit pelindung di suatu titik tertentu pada permukaan pemecah gelombang juga berbeda dibandingkan dengan gaya gelombang di tempat lain. Dengan keberhasilan pengukuran gaya cabut, gaya dorong, dan momen pusar secara simultan, Wasi memberi titik terang untuk membangun prototipe yang sesuai dengan uji coba di laboratoriumnya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 2:26 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:44 pm

PARA 'PENJAJAH' TANPA SENJATA
Sabtu, 20 Juni 2009 | 08:22 WIB Oleh GESIT ARIYANTO
Kompas.com - Mulanya binatang itu didatangkan sebagai biota air tawar yang lucu dan menggemaskan. Itulah keong- keong emas dari genus Pomacea. Keong itu hadir di Indonesia pada tahun 1980-an. Keong-keong itu lalu banyak menghuni akuarium-akuarium di rumah- rumah atau kantor. Lucu dan menggemaskan.
Tak butuh waktu lebih dari lima tahun ketika akhirnya kegemparan datang dari para petani di Sukabumi dan Tangerang. Lahan sawah subur mereka diserang keong. Pada 1984 mulai ramai istilah keong emas.

Keong-keong itu tak lucu lagi tak pula menggemaskan. Sebaliknya, memunculkan horor dan teror karena merusak padi. Peneliti moluska air tawar pada Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Ristiyanti Marwoto, menyebut tak semua jenis keong dari genus Pomacea menjadi hama. Yang sudah diidentifikasi yaitu Pomacea canaliculata—dari Brasil, negara tropis yang banyak kemiripannya dengan Indonesia.

Tak hanya Indonesia, keong yang mulanya dipelihara sebagai binatang piaraan itu telah menjadi hama pertanian di Thailand, Vietnam, Laos, Kamboja, Filipina, hingga Korea Selatan. Seperti di Indonesia, upaya pemberantasan keong sebagai hama di negara-negara itu tak juga tuntas. Di sawah, keong-keong itu tak hanya berwarna keemasan, tetapi juga kecoklatan dan kehijauan. Cirinya adalah menempelkan ratusan telurnya di batang- batang padi, tanaman liar, atau tanaman lainnya. Kepala Puslit Biologi LIPI Siti Nuramaliati Prijono menyatakan, keong-keong emas impor itu adalah salah satu jenis tanaman asing invasif. ”Penjajah” dari negeri asing.

Jenis asing invasif
Jenis asing invasif adalah jenis flora dan fauna termasuk mikroorganisme yang berkembang pesat di luar habitat alaminya. Karena tak ada musuh alami, binatang itu jadi hama, gulma, serta menebarkan penyakit pada flora dan fauna asli. Di Indonesia, sebagai kompetitor, predator, patogen, dan parasit, jenis-jenis asing invasif itu dapat memunahkan jenis asli. ”Dalam skala besar akan merusak ekosistem asli,” kata Siti.

Ikan aligator
Ikan aligator (Lepisus peus) berasal dari perairan tawar Amerika Latin. Pemakan segala, tetapi cenderung karnivora dengan berat tubuh bisa lebih dari 70 kilogram. Tahun 2008, ikan aligator atau buaya itu ditemukan penambang pasir di Sungai Citarum. Beratnya mencapai 90 kg dengan panjang tubuh 1,70 meter dan diameter 80 cm.

Ikan sapu-sapu
Ikan sapu-sapu (Pterygoplichthys pardalis) banyak dijumpai di sungai-sungai air tawar. Ikan ini berasal dari kawasan Amerika bagian selatan dan tahan terhadap kondisi air berpolutan. Setidaknya ada empat jenis lagi ikan dari Amerika bagian selatan yang ada di Indonesia, seperti si ganas ikan piranha (Pygocentrus nattereri), si gigi runcing ikan bawal hitam (Colossoma macropomum), si petarung ikan oskar (Astronotus ocellatus), dan araipaima (Arapaima gigas).

Serangga penyerbuk ( Liriomyza sativae, Liriomyza huidebrensis, dan Liriomyza trofolii )
Serangga ini justru merusak antara lain tanaman tomat, kentang, bawang, merah, dan kacang panjang. Menurut peneliti serangga LIPI, Rosichon Ubaidillah, tanaman yang diserang serangga itu langsung mati dalam waktu kurang dari dua pekan.
Temuan terbaru, hama pepaya (mealy bug) atau Paracoccus marginatus, ditemukan tahun 2008. Hama ini menyerang buah pepaya dengan serbuk putih. Belakangan juga menyerang jenis buah lain dan bunga hias. Secara umum, efek domino serangan hama-hama itu berdampak pada ketahanan pangan dan ekonomi nasional.

Flora invasif
Di Indonesia, jenis flora asing mencapai sekitar 2.000. Salah satu jenis invasif yang legendaris adalah eceng gondok (Eichornnia crassipes) yang merebak sekitar tahun 1990 dengan daya tarik bentuk dan warna bunganya yang ungu cerah. Belakangan, tanaman air yang mudah berkembang pesat itu menjadi pengganggu. Sebarannya yang masif tak hanya mengganggu transportasi air, tetapi juga menyebabkan sedimentasi dan mematikan plankton.

Jenis akasia (Acacia nilotica)
Saat ditanam di Taman Nasional Baluran, Jatim, tanaman ini semula untuk melindungi padang savana, makanan utama banteng, dari bahaya kebakaran.
Perkembangannya masif, hingga 200 hektar per tahun, kini mempersempit padang rumput. Hingga tahun 2000, akasia menginvasi 50 persen, sekitar 5.000 ha, padang savana dan mengancam keberadaan banteng.

Jenis lamtoro (Leucaena leucocephala)
Ditanam massal pada masa Orde Baru dan kini memunculkan risiko. Pemerintah harus mendatangkan serangga dari Hawaii, musuh alami kutu loncat, yang merebak seiring dengan hadirnya lamtoro.

Aster
Aster (Eupatorium sordidum) dari Meksiko di kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Jawa Barat, kini menutupi lantai hutan tempat tumbuh tanaman obat dan satwa lain. ”Sekarang sangat mengganggu, tetapi sulit diatasi,” kata peneliti botani LIPI, Sunaryo, yang pada April 2009 meneliti di sana. Setidaknya ada delapan jenis flora asing invasif di tempat itu.

Flora dan fauna asing invasif di atas hanya contoh kecil dari ribuan jenis yang saat ini ada di Indonesia. Tak ada satu pun yang didatangkan dengan maksud merusak, tetapi kelemahan pengetahuan dan informasilah yang menyebabkan ancaman. Tak ada yang tahu, episode macam apa dari maraknya penjualan kura-kura brasil yang mungkin lucu nan menggemaskan. Akankah menambah deret getir akan kehadiran para ”penjajah” tak bersenjata?


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 9:26 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Mon Jul 05, 2010 9:45 pm

PERUBAHAN IKLIM TINGKATKAN PELUANG MANUSIA TERJANGKIT DBD
Antara - Selasa, 10 Agustus
[Perubahan Iklim Tingkatkan Peluang Manusia Terjangkit DBD] Perubahan Iklim Tingkatkan Peluang Manusia Terjangkit DBD Surabaya (ANTARA) - Perubahan iklim diyakini sejumlah pengamat kesehatan nasional bisa meningkatkan peluang manusia terjangkit demam berdarah dengue yang ditularkan dari bencana banjir. "Perubahan iklim yang terjadi di seluruh dunia berdampak buruk terhadap kesehatan," kata Guru Besar Universitas Indonesia, dr. Umar Fahmi Achmadi MPh, Ph. D, ditemui ANTARA, di Pusat Perdagangan Dunia Surabaya, Senin.

Umar yang hadir sebagai pembicara pada Seminar Aku Anak Sehat bertema "Perubahan Iklim Tingkatkan Risiko Penyakit" yang diadakan Tupperware, menyatakan sesuai data "Intergovernmental Panel on Climate Change/IPCC" pada 1996 telah memperkirakan perubahan iklim mengakibatkan peningkatan kasus penyakit tersebut. "Saat itu, mereka memprediksi peningkatannya hingga 70 kali lipat pada tahun 2070," ujarnya.

Selain itu, pria mantan Direktur Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan menjelaskan, perubahan iklim berkontribusi besar terhadap munculnya berbagai penyakit infeksi baru seperti Avian Influenza, SARS, Leptosirosis, maraknya kasus diare, dan penyakit infeksi perut.

"Bahkan, diare sudah tercatat menjadi pembunuh tertinggi kedua balita di Indonesia sebelum timbulnya kesadaran tentang dampak perubahan iklim kepada kesehatan," katanya. Untuk mengatasi permasalahan kesehatan yang terkait perubahan iklim, ia menyarankan, masyarakat meningkatkan pemahaman dan penerapan perilaku sehat untuk membantu mereka beradaptasi terhadap perubahan tersebut.

"Salah satunya dengan menanamkan banyak wawasan dan pengetahuan kepada anak sekolah dasar. Mereka dinilai sangat tepat menyerap pengetahuan tersebut mengingat usianya masih dini," katanya.Sementara itu, Direktur Pemasaran Tupperware, Yanty Melianty, menyatakan kebutuhan guru sangat berpengaruh untuk menyosialisasikan perilaku sehat kepada anak didiknya. Apalagi, sebagai pendidik guru memiliki pengaruh kuat menyebarkan pengetahuan tentang perilaku sehat kepada anak didiknya.

"Apabila mereka dibekali ilmu seperti cara berkomunikasi yang efektif dengan anak, standar kesehatan lingkungan, pengetahuan keamanan pangan, dan wadah bekal makanan anak yang aman," katanya. Ia berharap, dengan tambahan pengetahuan tersebut guru yang mengikuti seminar itu dapat meneruskannya kepada lingkungan sekitar. "Secara nasional, seminar itu melibatkan 900 guru. Apalagi, kami mengadakan kegiatan itu di sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya," katanya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 2:47 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
 
IpTek
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 25Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 15 ... 25  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: