Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 IpTek

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 13 ... 25  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 10:56 pm

KLINIK KESUBURAN BAYAR MAHAL UNTUK SEL TELUR UNGGULAN
Sabtu, 27 Maret 2010 | 11:32 WIB
KOMPAS.com — Klinik kesuburan bersedia membayar mahal untuk sel telur dari donor lulusan universitas terkenal, apalagi kalau berpenampilan menarik dan dari suku etnis tertentu. Penelitian menunjukkan bahwa harga yang dipatok sering kali jauh lebih tinggi dari batasan yang telah ditetapkan.
Dilansir bahwa pasutri yang memiliki kesulitan berketurunan ada yang bersedia membayar 50.000 dolar AS atau sekitar Rp 450 juta untuk sel telur yang diharapkan bisa memberikan keturunan yang pintar dan berpenampilan menarik.

Sejarahnya, bayi tabung pertama dilahirkan pada 1983. Metode ini dilakukan dengan memasukkan sel telur dari donor yang telah dibuahi ke dalam tubuh wanita yang ingin hamil. Praktik ini umumnya dilakukan oleh para wanita yang mengalami kegagalan ovarium, wanita di atas 40 tahun yang ingin punya anak, atau bahkan pasangan homoseksual yang ingin memiliki anak dengan bantuan seorang wanita sebagai ibu pengganti. Menurut peraturan ASRM (Perkumpulan Kesehatan Reproduksi AS), bayaran untuk donor sel telur yang direkomendasikan adalah sekitar 5.000 dollar AS, yaitu sekitar Rp 45 juta, dan bayaran ini boleh saja lebih kalau ada pertimbangan tertentu, tapi sebaiknya tidak lebih dari 10.000 dollar AS atau Rp 90 juta.

Akan tetapi, pengamatan pada 100 iklan yang mencari donor sel telur di AS, setengah dari jumlah tersebut menawarkan lebih dari 5.000 dollar AS dan sekitar seperempatnya menawarkan lebih dari batasan 10.000 dollar AS itu. Peraturan ASRM itu juga sebenarnya melarang adanya diskriminasi harga berdasarkan karakteristik pribadi atau etnisitas sang donor. Namun, penelitian itu menunjukkan bahwa nilai ujian SAT (ujian standar di AS untuk pendaftaran universitas) turut menentukan harga sel telur dan iklan-iklan. "Pengomoditasan menjadi masalah ketika nilai moneter diberikan pada sel telur manusia, terutama apabila harga yang lebih tinggi diberikan untuk sel telur dari donor dengan ciri pribadi tertentu," tulis Aaron D Levine, profesor kebijakan publik dari Institut Teknologi Georgia, dalam karya tulisnya yang berjudul The Hastings Center Report ("Laporan dari Pusat Hastings").

Penelitiannya menunjukkan bahwa kebanyakan iklan untuk donor jelas-jelas menyatakan syarat penampilan atau etnisitas bagi para donor. Ia menyatakan bahwa kesulitan mendisiplinkan hal ini adalah karena tak adanya ancaman pidana yang berarti bagi pihak yang mengabaikan peraturan ini.
Dikhawatirkan bahwa harga yang terlalu tinggi bisa membutakan para wanita pendonor terhadap risiko-risiko menyumbang sel telur, contohnya adalah eksploitasi wanita.

Polemik masih bergulir tentang isu pengomoditasan ini. John A Robinson, profesor ilmu hukum dari Universitas Texas, mengomentari penelitian Levine dan menyatakan, "ASRM tak pernah menyatakan apa salahnya apabila membayar lebih untuk para donor yang lebih sehat, lebih subur, IQ-nya lebih tinggi, atau memiliki ciri penampilan tertentu yang lebih menarik."

Jika tak dikompensasi dengan cukup, bisa jadi sulit sekali mencari wanita donor sel telur. Robinson juga berargumen bahwa umumnya kita pun dalam mencari pasangan hidup memiliki standar-standar tertentu untuk penampilan, maka apa salahnya apabila klinik kesuburan juga memasang standar.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:28 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:00 pm

DIET DENGAN TERAPI AROMA ANTI LAPAR
Kamis, 24 Desember 2009 | 06:05 WIB
KOMPAS.com - Aroma anti-lapar ternyata bisa membantu memerangi epidemi kegemukan yang melanda dunia, dengan cara membuat kita merasa sudah kenyang, demikian diungkapkan para ilmuwan baru-baru ini. Semua orang sadar bahwa ada aroma yang bisa membangkitkan selera, dan juga bau yang membuat kita mual dan hilang selera. Tapi tahukah Anda, ada pula molekul dalam aroma makanan yang bisa memicu bagian tertentu dari otak sehingga merasa kenyang. Aroma yang membantu meredakan rasa lapar itu adalah aroma yang yang naik dari mulut ke rongga di balik hidung ketika kita mengunyah, begitulah penemuan tim Rianne Ruijschop, pakar teknologi makanan dari Pusat Riset Makanan NIZO, di Ede, Belanda. "Hasil temuan ini tak disangka-sangka," kata Ruijschop. "Kita cukup terkejut dan antusias atas hasil temuan ini."

Variasi temuan
Aroma, rasa, dan tekstur tertentu bisa membuat kita merasa kenyang. Beberapa fakta yang ditemukan antara lain:

* Makanan padat yang harus dikunyah dan ditelan, dan dengan begitu menghasilkan aroma yang tertinggal lama, terbukti lebih mengenyangkan daripada makanan yang cair.

* Aroma yang berkaitan dengan lemak, karbohidrat, atau protein, bisa menambah rasa kenyang, mungkin karena aroma-aroma ini menandakan bahwa makanan yang dikonsumsi mengandung energi tinggi.

* Aroma yang lebih rumit, dengan banyak komponen, lebih mengenyangkan daripada yang monoton. Aroma yang rumit bisa membuat otak kita merasa bahwa kita telah mengkonsumsi banyak jenis makanan, dan menyimpulkan bahwa porsinya pastilah besar.

* Ukuran sampel makanan juga berpengaruh, karena sampel dalam potongan kecil memperlama timbulnya efek akibat aroma.

Dalam percobaan, para peneliti dapat mengubah-ubah tingkat kekenyangan yang ditimbulkan dari berbagai makanan. Contohnya, membuat suatu minuman yang beraroma kuat seperti makanan padat bisa meningkatkan rasa kenyang.

Rasa kenyang
Temuan-temuan ini bisa membantu para peneliti menciptakan generasi baru makanan dengan aroma yang mengenyangkan, sehingga bisa memerangi obesitas dan kecenderungan kelebihan makan. Para ilmuwan bisa menambahkan kapsul yang bisa meningkatkan atau memperlama rasa yang tertinggal di mulut atau menambahkan aroma tertentu. Di samping efek aroma, mereka juga mungkin bisa menciptakan bahan yang bisa dikunyah-kunyah, atau memperkecil potongan makanan sehingga orang lebih banyak mengunyah; karena makin banyak mengunyah membuat kita berpikir porsi makanan lebih banyak. Aroma-aroma yang rumit bisa ditambahkan, dan juga aroma yang membuat kita berpikir bahwa makanan yang dikonsumsi kaya akan energi.

Pada temuannya baru-baru ini, Ruijschop mengatakan bahwa dengan mengendalikan aroma mereka bisa mengurangi jumlah makanan yang dikonsumsi kira-kira 10 persen. Kini para ilmuwan tengah melakukan penelitian jangka panjang untuk melihat apa efek pada orang yang telah berbulan-bulan mengkonsumsi makanan yang aromanya telah diubah.

Walau aroma bisa membantu mengurangi obesitas tapi, "ini saja bukan merupakan solusi," kata Ruijschop. "Intinya adalah untuk mengubah pola hidup."
Ruijschop dan para mitranya telah menjabarkan temuan mereka pada edisi 11 November jurnal Agricultural and Food Chemistry. (C17-09)


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:30 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:04 pm

MERANCANG ULANG SEL PUNCA
Kamis, 11 Juni 2009 | 10:06 WIB Evy Rachmawati
KOMPAS.com - Penggunaan sel punca telah membuka jalan revolusi untuk mengatasi berbagai penyakit dan kerusakan jaringan tubuh. Namun, pengembangan sel punca embrionik yang mampu membentuk beragam tipe jaringan terbentur masalah etika. Karena itu, kini teknik pemrograman ulang sel manusia banyak dikembangkan. Pada dasarnya, setiap organ dan jaringan tubuh dibentuk oleh sel-sel tertentu yang berasal dari sel punca. Dalam kehidupan kita, sel punca berperan dalam regenerasi organ dan jaringan yang rusak atau hilang setiap hari.

Boleh dibilang, sel punca adalah sumber dari semua sel di dalam individu, tidak terdiferensiasi dan bisa memperbanyak diri. Salah satu tipe sel punca adalah sel punca embrionik yang diisolasi dari bagian inner cell mass blastosis, tahap paling awal perkembangan manusia yaitu lima hari setelah pembuahan. Sel punca yang digambarkan sebagai pluripotent, mampu jadi semua jenis sel.

Sementara itu, sel punca dewasa adalah sel tunas yang diisolasi dari jaringan dewasa seperti sumsum tulang atau darah dan bisa memperbanyak diri, tetapi kemampuan diferensiasinya terbatas untuk menjadi jenis sel tertentu. Karena bisa menjadi beragam sel tubuh, sel punca bisa menyediakan jaringan untuk mengganti sel-sel yang rusak dalam terapi diabetes, jantung, dan penyakit lain.

Namun, sel punca dewasa dianggap kurang optimal hasilnya daripada sel punca embrionik dalam hal tipe jaringan yang bisa dibentuk. ”Akan tetapi, riset sel punca embrionik dihadapkan pada masalah etika karena embrio harus dihancurkan bila hendak diambil sel puncanya. Ini berarti menghilangkan satu kehidupan yang dimulai sejak pembuahan,” kata Ketua Komisi Bioetika Nasional Prof Umar Anggara Jenie.

Debat etika ini memacu penelitian untuk mendapat teknik pemrograman ulang dari sel somatik dengan faktor penentu sel punca pluripotensi. Menurut Perhimpunan Penelitian Sel Punca Internasional, pembuatan induced pluripotent cells (iPS) adalah cara lain menciptakan sel punca pluripotent. Sel punca embrionik dan sel iPS punya banyak kesamaan karakteristik, termasuk kemampuan jadi sel semua organ dan jaringan, tetapi keduanya tidak identik.

Selama ini para peneliti sudah berhasil memprogram ulang berbagai jenis sel tikus, antara lain sel hati dan sel epitel lambung. Jadi, sel fibroblast tikus dewasa telah diprogram ulang ke keadaan tidak terdiferensiasi yang menyerupai sel punca embrio. Hasilnya, sel iPS buatan ini terlihat sama dengan sel punca yang berasal dari embrio.

Tim peneliti dipimpin James Thompson dari Universitas Wisconsin Madison dan Shinya Yamanaka dari Universitas Kyoto Jepang menggemparkan dunia ketika berhasil membuat metode untuk memprogram ulang sel punca dewasa jadi pluripotent pada November 2007. Sel-sel ini disebut iPS Cells yang secara genetik dimodifikasi dengan memasukkan empat faktor transkripsi DNA penting dalam sel embrionik ke genom sel punca dewasa dengan memakai virus.

Tak lama kemudian, pada Desember lalu, George Daley dari Harvard Medical School di Boston, Massachusetts, dan rekan juga menunjukkan sel iPS dapat dibuat dari beragam sel dewasa. ”Pada banyak pasien, kami dapat menggunakan biopsi kulit untuk menstabilkan sel pluripotent,” kata Daley dalam situs Nature.

Namun, menurut Yuda Heru Fibrianto, peneliti sel punca dari Bagian Parasitologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, efisiensi dari pembentukan sel iPS relatif rendah. Ada kemungkinan penggunaan asal sel itu yang menyebabkan sel punca tidak berdiferensiasi secara tetap, integrasi retrovirus dalam tempat khusus tidak disyaratkan untuk induksi sel iPS.

Kini tim ilmuwan yang dipimpin Juan Carlos Izpisua Belmonte di Salk Institute for Biological Studies di La Jolla, California, berhasil meningkatkan efisiensi pemrograman ulang lebih dari 100 kali dan mempersingkat waktu proses. Mereka membuat sel iPS dari keratinosit (materi pembentuk lapisan terluar kulit dan protein pembuat rambut, kulit, kuku) yang ditempelkan pada rambut manusia.

Metode ini sederhana dan praktis untuk menciptakan sel punca demi terapi penyakit tertentu yang semula sulit dilakukan karena rendahnya efisiensi proses pemrograman ulang. Metode ini sekaligus menghindari prosedur pembedahan untuk mengumpulkan sel organ tertentu demi memperoleh sel punca.

Sel iPS memberi bukti nyata untuk pengobatan anemia sel dengan memakai model tikus. ”Metode iPS memberi janji yang diberikan sebelumnya oleh terapi kloning, yaitu tidak butuh pemakaian obat penekan kekebalan untuk mencegah penolakan dari sel transplantasi yang tak cocok, memperbaiki kelainan genetik, dan secara berulang mendiferensiasi sel iPS ke dalam tipe sel yang diinginkan untuk melanjutkan pengobatan,” kata Yuda.

Di Indonesia
Riset sel punca di banyak negara berkembang pesat dengan metode makin canggih. Di Indonesia, aktivitas riset yang memakai sel punca dewasa mulai dilakukan sejumlah lembaga swasta dan perguruan tinggi, antara lain Universitas Indonesia dan Universitas Gadjah Mada.
Meski masih dalam tahap penelitian, pengobatan sel punca mulai dilakukan untuk mengatasi serangan jantung, osteoartritis, dan luka bakar.
Tim peneliti dari Unit Luka Bakar Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, misalnya, meneliti keamanan dan efikasi dari aplikasi sel punca pada luka bakar derajat 2 atau kerusakan kulit yang melibatkan sebagian besar dermis.

Dalam riset itu, sel punca diambil dari tali pusat yang diisolasi dan diproses oleh Stem Cell and Cancer Institute (SCI). Menurut dokter spesialis bedah plastik dari FKUI/RSCM, dr Yefta Moenadjat, dari Unit Luka Bakar FKUI/RSCM, dalam proses penyembuhan luka, aplikasi sel punca mempersingkat fase inflamasi, memperbaiki fase fibroplasia dan mempercepat proses epithelialisasi pada daerah yang umumnya sulit terjadi.

Kini sejumlah peneliti juga tengah mengembangkan sel iPS disertai aplikasi preklinik maupun klinis sebagaimana dilakukan di Pusat Penelitian Sel Punca UGM. ”Kami juga akan membuat iPS universal sehingga didapatkan pluripotent sel punca yang siap pakai bagi siapa saja yang membutuhkan,” kata Yuda Heru Fibrianto dalam seminar yang diprakarsai Asosiasi Sel Punca Indonesia (ASPI).

Selain bisa mengakhiri debat etika seputar sel punca embrionik dan potensi sebagai terapi masa depan, aplikasi sel iPS bukan berarti bebas masalah. Menurut Yuda, sejumlah rintangan yang dihadapi adalah, bagaimana menghindari gen berbahaya sebagai bagian faktor pemrograman ulang, mencegah penggunaan pengantar gen dari vektor retrovirus pembawa risiko masuknya mutagen. ”Yang juga penting adalah, bagaimana mengembangkan sel iPS manusia yang sehat dan kuat,” ujarnya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:32 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:11 pm

SUDAH DIUJUNG LIDAH TAPI LUPA!
Jumat, 26 Februari 2010 | 19:32 WIB
KOMPAS.com - Sebal rasanya kalau tiba-tiba anda lupa suatu istilah, padahal rasanya sudah di ujung lidah tapi mendadak lupa. Suatu penelitian mempelajari hubungan antara fenomena kelupaan ini dengan tingkat keseringan pemakaian kata-kata tertentu. Temuan riset ini bisa membantu ilmuwan memahami cara otak kita mengatur dan mengingat bahasa. Untuk mempelajari fenomena ini para peneliti mempelajari orang-orang yang fasih dalam dua bahasa dan juga orang-orang tuli yang berkomunikasi memakai bahasa isyarat sesuai standar Bahasa Isyarat America (ASL).

"Kami ingin melihat apakah orang-orang yang memakai bahasa isyarat bisa juga mengalami kelupaan mendadak itu," jelas Karen Emmorey, direktur dari Laboratorium Bahasa dan Ilmu Syaraf Kognitif di San Diego State University. Emmorey dan para rekannya menemukan bahwa ternyata para pemakai bahasa isyarat juga kadang mengalami fenomena kelupaan mendadak itu, dan frekuensinya juga hampir sama dengan pemakai bahasa verbal biasa, yaitu kira-kira seminggu sekali.

Terlebih lagi, mirip dengan para pemakai bahasa verbal yang kadang lupa suatu istilah tapi kira-kira tahu huruf awalnya, para pemakai bahasa isyarat juga bisa lupa tapi kira-kira tahu sebagian gerakan untuk suatu istilah. Dan bila lupa, para pengisyarat itu lebih bisa mengingat-ingat bentuk tangan ketika menggerakkan suatu istilah, atau bagian tubuh mana yang dipakai untuk istilah itu dan arahnya, daripada mengingat gerakannya sendiri.

Emmorey memandang hal ini sebagai suatu kesamaan dengan para pembicara verbal, karena kedua grup ini sama-sama bisa mengingat suatu kata melalui awalannya. "Dalam bahasa ada suatu keistimewaan dalam awalan," tutur Emmorey. Salah satu dugaan mengapa kita kadang lupa suatu istilah adalah karena mungkin di otak kita, pada saat bersamaan, muncul kata lain yang mirip bunyinya sehingga otak kita terhalang untuk mengingat kata yang dimaksud. Mekanisme ini disebut hambatan fonologis. Untuk menguji teori ini, tim Emmorey membandingkan orang-orang yang bilingual dengan orang-orang yang bisa ASL dan juga Bahasa Inggris.

Suatu penelitian lain sebelumnya telah menunjukkan bahwa orang-orang bilingual lebih sering mengalami fenomena lupa-di-ujung-lidah ini dibanding orang yang hanya fasih dalam satu bahasa. Para ahli menyimpulkan bahwa dengan penguasaan dua bahasa maka orang-orang bilingual juga dua kali lebih rentan untuk mengalami hambatan fonologis.

Kalau memang benar begitu, maka semustinya ini tak terjadi pada orang-orang yang bisa bahasa verbah (Inggris) dan juga bahasa isyarat ASL, karena semustinya kedua cara komunikasi itu tak saling 'bertabrakan', satunya mengandalkan bunyi sedangkan satu lagi gerakan. Tapi ternyata, dibandingkan orang-orang yang bilingual Inggris-Spanyol, orang-orang yang bisa Bahasa Inggris, dan ASL mengalami kelupaan di ujung lidah ini sama seringnya. Maka bisa dilihat bahwa dalam hal ini bukan hambatan fonologis biang masalahnya.

Jadi Emmorey kini mencurigai bahwa kelupaan ini adalah karena pemakaian yang kurang sering. Sederhananya, makin jarang suatu kata dipakai, maka makin sulit otak mengingatnya. Jadi misalnya orang tersebut bilingual Inggris-Indonesia maka kemungkinan separuh waktunya ia memakai Bahasa Inggris, dan separuh lagi memakai Bahasa Indonesia, jadi waktunya terbagi kalau dibanding dengan orang yang cuma berbahasa tunggal.

Tentunya ide ini harus diuji lebih lanjut dulu. Emmorey memaparkan hasil penelitiannya para pertemuan tahunan Asosiasi Pengembangan Ilmu Pengetahuan Amerika di San Diego, California, 19 Februari, 2010.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:39 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:31 pm

INILAH ALAT PEMBACA PIKIRAN
Sabtu, 12 Desember 2009 | 10:11 WIB
KOMPAS.com — Penelitian baru kini tengah dilakukan untuk peranti otak nirkabel yang kelak diharapkan bisa memindai pikiran dengan cepat untuk mengambil data percakapan demi menolong orang yang mengalami kerusakan otak agar bisa berkomunikasi. Baru-baru ini, para ilmuwan menciptakan peranti otak untuk membantu komunikasi bagi orang yang tak bisa lagi berbicara dengan cara membaca gelombang otak lewat elektroda yang ditempel ke kepala. Sayangnya, ini terbukti sangat lamban, kira-kira hasilnya satu kata per menit sehingga tak mungkin diterapkan pada pembicaraan normal dan interaksi sosial.

Kini, ahli saraf kognitif Frank Guenther dari Universitas Boston bersama para koleganya menunjukkan suatu peranti otak yang memakai elektroda yang ditanamkan langsung dalam otak demi meneliti cara bicara dalam waktu riil. "Tak lama lagi, individu yang telah lumpuh total sehingga tak bisa berbicara akan memiliki kemungkinan untuk bersuara lewat komputer laptop," kata Guenther.

Para ilmuwan bekerja bersama sukarelawan berumur 26 tahun yang hampir lumpuh total akibat stroke yang dialaminya di usia 16 tahun. Mereka menanamkan elektroda dengan dua kawat ke bagian otak yang tugasnya memikirkan dan menjalankan gerakan yang berhubungan dengan berbicara.
Elektroda itu mencatat sinyal dari otak ketika sang sukarelawan mencoba berbicara, lalu secara nirkabel data itu dikirim pada suatu alat synthesizer suara. Penundaan antara aktivitas otak dan hasil suara rata-rata hanyalah 50 milidetik. Ini cukup mendekati pembicaraan normal.

"Ia (sukarelawan) cukup bersemangat, terutama selama beberapa hari pertama ketika kami memakaikan alat itu dan seiring ia membiasakan diri," ucap Guenther, "Saya yakin dari sisi dia, kemajuan kami terlihat lelet. Kami pun kadang merasa begitu. Tapi biar bagaimanapun ia senang bisa mendapatkan hasil suara dengan waktu riil atas kehendaknya untuk bicara, dan ia bekerja keras dengan senang hati bersama kami selama percobaan."

Para peneliti berfokus pada huruf vokal karena komponen suaranya telah dipelajari selama puluhan tahun dan peranti lunaknya sudah tersedia untuk dengan cepat menghasilkan suara. Tingkat akurasi huruf-huruf vokal yang dihasilkan sang sukarelawan lewat synthesizer itu maju pesat dari 45 persen menjadi 89 persen akurat dalam 25 sesi selama lima bulan.

"Sukarelawan kami bisa menghasilkan urutan bunyi vokal seperti 'ah-ii'. Ini gerakan gerakan vokal yang cukup mudah."
Guenther menerangkan. "Tantangan berikutnya adalah menghasilkan suara konsonan. Ini akan memerlukan synthesizer yang berbeda, yaitu suatu synthesizer artikulasi di saat sang pemakai akan mengendalikan gerakan suatu lidah maya.

"Synthesizer macam ini memungkinkan terbentuknya suatu kata penuh, tapi sistemnya lebih rumit untuk dikendalikan sang pemakai," lanjutnya, "Ini, dan dipadukan dengan tambahan elektroda untuk memindai dan memancarkan data, nanti mustinya bisa membuka jalan atas terciptanya sistem untuk menghasilkan kata-kata dan kalimat penuh."

Sistem yang sekarang digunakan mengambil data hanya dari dua kawat. "Dalam setahun akan memungkinkan untuk menanam sistem dengan 32 kawat," kata Guenther, "Dengan ini kita bisa memindai lebih banyak neuron, yang akhirnya dapat mengendalikan synthesizer dan menghasilkan suara yang lebih baik. Para ilmuwan menjabarkan penemuan mereka di jurnal PLoS ONE edisi 9 Desember 2009.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 8:42 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:35 pm

GEMPA JAKARTA, SIAPKAH KITA?
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:11 WIB Elin Yunita Kristanti, Anda Nurlaila, Zaky Al-Yamani
VIVAnews –TIGA abad lalu ada kisah bumi Jakarta nyaris rata akibat gempa. Hari itu, 4-5 Januari 1699, guncangan di Jawa Barat merambat ke Batavia. Peradaban kota baru bentukan kolonial Belanda itu nyaris hancur. Saat itu, Gunung Salak meletus. Dari puncaknya setinggi dua ribu meter, gunung itu menyemburkan abu dan batu. Ribuan kubik lumpur muncrat. Puluhan ribu pohon tumbang, menyumbat aliran Sungai Ciliwung, membekap kali dan tanggul di Batavia, kota yang dibangun meniru Venesia.

Banjir lumpur tak terelakkan. Kota mendadak menjadi rawa.
Bencana itu dicatat Sir Thomas Stamford Raffles dalam bukunya History of Java. "Gempa 1699 memuntahkan lumpur dari perut bumi. Lumpur itu menutup aliran sungai, menyebabkan kondisi lingkungan tak sehat, kian parah.” Batavia didera bencana rangkap dua. Gubernur Jendral Hindia Belanda Willem van Outhoorn (1691 – 1704) yang berkuasa saat itu sangat nepotis. Para kerabatnya menduduki jabatan strategis di Hindia Belanda. Dia bahkan digantikan menantunya sendiri, Johan van Hoorn. Hampir seabad kemudian, gempa hebat kembali melanda Jakarta pada 1780. Lalu seabad kemudian, pada 27 Agustus 1883, Gunung Krakatau meletus, dan memicu tsunami 35 meter. Sekitar 36 ribu jiwa melayang, di Jawa bagian barat, dan sebelah selatan Sumatera.

Jumlah korban fantastis untuk ukuran masa itu.
Ombak tsunami Krakatau mampu mendorong karang seberat 600 ton ke pantai. Inilah salah satu bencana alam terdahsyat, selain letusan Gunung Tambora, yang membolongi atmosfer, mengubah iklim dunia, dan konon membuat Napoleon Bonaparte kalah perang.

Kisah Krakatau mengamuk itu pernah dicatat saksi mata Muhammad Saleh, yang menulis ‘Syair Lampung Karam’, dan terbit pada Agustus 1883. Ini barangkali dokumentasi tragedi Krakatau satu-satunya yang ditulis oleh seorang pribumi. Saleh menulis: “Serta pula dengan gelabnya, tidak berhenti goncang gempanya. Bukan Bumi yang menggoncangnya, gempa air laut nyata rupanya.” “Dengan takdir Tuhan yang Ghani, besar gelombang tidak terperi. Lalulah masuk ke dalam negeri, berlarian orang ke sana ke mari. “Ada yang memanjat kayu tinggi, masing-masing membawanya diri. Ada yang gaduh mencari bini, ada yang berkata ‘Allahurabi’”. Naskah itu ditemukan kembali oleh sejarawan Universitas Andalas, Suryadi, yang kini menimba ilmu di Universitas Leiden, Belanda. Dia lalu menyunting teks syair yang mirip laporan ‘jurnalistik’ itu, dan diterbitkan kembali dalam buku ‘Dahsyatnya Letusan Krakatau 1883’.

Periode yang mengulang
Empat gempa dahsyat itu bukan sekedar catatan sejarah. Bagi para pakar, dia menjadi petunjuk bencana yang sama bisa berulang di ibu kota. Pakar gempa dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Dr Danny Hilman Natawijaya, misalnya, mengatakan dari fakta sejarah gempa selalu berulang dalam periode waktu tertentu. “Ini adalah peringatan bagi Jakarta, kota besar dengan 9 juta penduduk. Jakarta harus selalu siap menghadapi skrenario terburuk bencana gempa.”

Peringatan dari Danny ada dasarnya. Dari data peta gempa 2010, Jakarta termasuk rawan. Tingkat kerentanan Jakarta terhadap gempa bumi naik probabilitasnya. Pada 2002, dia tercatat pada angka 0,15 g (gravitasi). Kini, pada 2010 naik menjadi menjadi 0,2 g. Encyclopedia of World Geography mencatat Jakarta, seperti halnya mayoritas kota besar di Indonesia, dibangun di atas tanah relatif tak stabil. Meski jauh dari pusat gempa, kota seperti itu rentan goncangan. Tanah yang tak stabil itu membuat rambatan gempa jadi lebih hebat. Seperti dikatakan Ketua Tim Revisi Peta Gempa Indonesia atau Tim 9, Profesor Masyhur Irsyam, kawasan Jakarta Utara memiliki kondisi batuan dasar yang memungkinkan terjadinya percepatan rambatan.

Ambil contoh kasus gempa 1699 itu. Pusat gempanya tidak di Batavia, nama lama Jakarta. “Tapi di wilayah lain. Karena kondisi batuan dasar memungkinkan percepatan rambatan, maka guncangannya lebih kuat daripada kekuatan gempa di sumbernya," kata Prof Masyhur. Intensitas gempa yang kian meningkat di zona patahan aktif sepanjang pantai barat Sumatera akhir-akhir ini membuat para pakar turut cemas. Soalnya potensi gempa bisa menuju ibu kota sewaktu-waktu. "Ini juga bisa jadi semacam emergency call. Bisa dilihat mana yang relatif aman dari goncangan, sehingga bisa jadi jalur evakuasi," ucap Masyhur, ahli gempa dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Suka tak suka, Jakarta memang di bawah bayang-bayang jalur gempa itu. Sebelumnya beredar kabar adanya sesar, atau patahan gempa di Jakarta. Melintang dari wilayah Ciputat sampai Kota, patahan itu disebut juga Sesar Ciputat. Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut, salah satu bukti adanya Sesar itu adalah sumber mata air panas di sekitar Gedung Arsip Nasional. Namun, Sesar itu adalah patahan tua. Pada 2006 lalu sesar itu masih berstatus tidak aktif. Tapi, dia bisa "terbangun" kembali. Misalnya, jika Sesar tua itu "digelitik" oleh gempa berkekuatan di atas 7 skala Richter. Untungnya, tak ada gempa sebesar itu di Jakarta, setidaknya dalam 200 tahun terakhir.

Negeri langganan gempa
Ini takdir: Indonesia berada di atas zona tektonik sangat aktif karena tiga lempeng besar dunia –Pasifik, Australia, dan Eurasia, dan sejumlah lempeng kecil lainnya bertemu di wilayah nusantara. Berada di lingkaran ‘cincin api’ atau ring of fire membuat negeri ini langganan bencana, seperti gempa dan letusan gunung berapi. “Indonesia adalah supermarket gempa”, ujar Staf Khusus Presiden Bidang Bencana, Andi Arief.

Berdasarkan data United States Geological Survey (USGS), dari 15 gempa paling dahsyat di dunia sejak tahun 1900, empat di antaranya berada di Indonesia.
Sebut saja gempa Aceh 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter. Menurut versi USGS, gempa Aceh menduduki nomor tiga setelah gempa Chile pada 22 Mei 1960 (9,5 SR) dan gempa di Alaska (9,2 SR), 28 Maret 1964. Tiga gempa lainnya adalah guncangan berkekuatan 8,6 SR di Sumatera Utara pada 28 Maret 2005, Gempa 8,5 SR di Sumatera Selatan 12 September 2005, dan gempa di Laut Banda 1 Februari 1938.

Tentu, kita masih terkenang gempa dan tsunami di Aceh pada Minggu 26 Desember 2004, yang menjadi salah satu bencana paling mematikan sepanjang sejarah. Sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Bencana ini bahkan menewaskan warga di Afrika Selatan, yang letaknya hampir 5.000 mil dari episentrum. Kekuatan gempa di Aceh dua kali lipat lebih dibandingkan gabungan seluruh bahan peledak yang digunakan dalam Perang Dunia II, termasuk bom atom yang meluluhlantakkan Hiroshima dan Nagasaki. Korban umumnya jatuh akibat tak adanya sistem peringatan tsunami di Samudra Hindia. Maka, tsunami Aceh harus menjadi pelajaran. Termasuk pentingnya memperhitungkan probabilitas gempa. Menurut Tim 9, identifikasi sumber gempa melalui data seismisitas baik historis maupun instrumental, pemetaan sesar aktif, dan pemantauan deformasi kerak adalah aspek penting untuk diperhitungkan.

Ancaman gempa naik dua kali
Dalam kerangka itulah, sejumlah ahli gempa mencoba melakukan revisi peta gempa Indonesia pada 2010. Peta bahaya gempa terakhir dibuat pada 2002. Laporan terbaru itulah itulah diberi tajuk Peta Bahaya Gempa Indonesia 2010 (Probabilitic Seismic Hazard Analysis Map). Danny Hilman menjelaskan, peta ini berisi potensi bahaya gempa yang tersimpan di tiap daerah. Peta 2010 diklaim lebih baik dari 2002. “Datanya lebih lengkap karena dari berbagai instansi. Sebelumnya data-data hanya berasal dari perorangan. Metode yang digunakan juga lebih bagus.”

Soal potensi gempa, menurut Danny, hampir semua kota di wilayah patahan aktif terancam. “Misalnya Padang, Banda Aceh, Surabaya, Malang, Semarang. Jumlahnya ratusan kota. Hanya pulau Kalimantan saja yang relatif aman dari gempa.” Peta gempa ini akan digunakan sebagai bahan pertimbangan ketahanan bangunan. Penerapannya dilakukan Departemen Pekerjaan Umum (DPU) dalam hal kualitas bangunan. “Kekuatan bangunan harus disesuaikan dengan besaran yang ada saat ini. Kalau dulunya ketahanan bangunan berdasarkan 0,15, sekarang kekuatannya harus 0,2. Semuanya sudah diperhitungkan, dan tiap individual bangunan sangat bervariasi.”

Bencana gempa dapat terjadi karena kegagalan menerapkan parameter bahaya (hazard) sesuai tingkat bahaya gempa bumi pada desain, konstruksi gedung, serta infrastruktur di wilayah tertentu. Yang membuat agak cemas adalah hasil penelitian tim itu. Dikatakan, potensi gempa pada peta 2010 makin besar. “Sekitar dua kali lipatnya dibandingkan peta tahun 2002," kata Ketua Tim, Masyhur Irsyam. Kenaikan 100 persen itu, kata Masyhur, terutama terjadi di dekat sumber gempa. "Di sekitar patahan, dan di sekitar sesar," ujarnya. Tim kemudian membandingkan tingkat guncangan di sejumlah kota pada peta 2002, dengan hasil riset 2010.

Di Aceh, tingkat guncangan meningkat dari 0,2 g (gravitasi) di 2002 menjadi 0,33 g pada 2010. Di Padang, dari 0,25 g menjadi 0,32 g. Di Pulau Jawa, tingkat goyangan meningkat dari 0,15 g menjadi 0,2 g. "Namun ada juga yang tingkat goyangan menurun. Misalnya di Lampung, dari 0,25 g pada 2002 menjadi 0,2 g pada 2010," lanjut ahli gempa asal Insitut Teknologi Bandung ini. Masyhur menjelaskan, pemantauan potensi gempa di Indonesia belum sepenuhnya tuntas. "Masih banyak sesar aktif atau pun patahan tua aktif yang belum dapat diidentifikasi di sekitar pulau Jawa dan Indonesia Timur.

Berhenti jadi ‘pemadam kebakaran’
Data terbaru itu layak membuat kita waspada. Tapi pakar manajemen krisis dari Sekolah Ilmu Pemerintahan John F Kennedy, Universitas Harvard, Arnold Howitt justru kaget saat melihat anggaran penanggulangan bencana yang dimiliki Indonesia. “66 persen anggaran hanya untuk rekonstruksi. Seharusnya dana itu juga dialokasikan sebelum bencana terjadi,” kata Howitt dalam diskusi bertajuk ‘Kepemimpinan dalam Pengelolaan Bencana. Mencari Formulasi untuk Indonesia’ di Kompleks Istana Negara, Jakarta, akhir Juni lalu.

Menurut Howitt, pola pikirnya harus berubah. Dari ‘pemadam kebakaran’, menjadi selalu siap siaga terhadap bencana. “Data ini menunjukkan, ada kesalahan dalam mengalokasikan belanja,” dia menambahkan. Dibandingkan Indonesia, Amerika Serikat lebih siap menghadapi bencana. Warga New Orleans, yang diterjang badai Katrina misalnya. Sebelum bencana terjadi mereka telah membangun dinding-dinding pelindung angin ribut. Atau belajarlah dari Chile. Negeri itu pernah hancur diterjang gempa 9,5 SR pada 1960. Tapi, kata Tim 9, negara ini cukup cerdas membuat peristiwa gempa itu sebagai pelajaran penting. Chile relatif siap.

Buktinya, saat gempa besar berkekuatan 8,8 SR kembali mengguncang Chile pada Februari 2010, dengan 512 kali getaran hebat, mereka bisa menekan jumlah korban. Hanya sedikit rumah yang hancur. Pemulihan jaringan komunikasi juga relatif cepat. Coba bandingkan dengan Haiti. Negeri itu dihajar gempa 7 SR pada Januari 2010. Ratusan ribu jiwa melayang. Ribuan gedung hancur, dan proses pemulihan jaringan komunikasi berlangsung lama. Rahasianya keselamatan itu sebetulnya sederhana: kebijakan soal standar bangunan. “Undang-undang di Chile mengharuskan setiap bangunan memiliki konstruksi tahan gempa,” begitu uraian dari Tim 9.

Siapkah kita?
Direktur Kawasan Khusus dan Derah Tertinggal di Bappenas Dr. Suprayoga Hadi mengatakan pemerintah pusat sudah menyusun Rencana Nasional Penanggulangan Bencana (RNPB) dan juga Rencana Aksi Penanggulangan Bencana (Renas PB). “Ini sudah terencana dalam jangka 2010-2014,” ujarnya kepada VIVAnews. Termasuk di dalamnya adalah kebijakan antisipasi 16 kategori bencana, baik bencana alam maupun buatan. Untuk gempa, Suprayoga menjelaskan, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melalui Pusat Vulkanologi sudah menyiapkan rencana antisipasi bagi daerah yang tingkat kerawanannya tinggi. Rencana itu akan dibantu tiap pemerintah daerah terkait.

Sesuai peta terbaru, gempa cenderung bergerak ke wilayah Barat Indonesia. Karenanya, diperlukan aturan ketat soal standar bangunan di wilayah itu. “Implikasi terbitnya peta rawan gempa baru harus ditindaklanjuti dalam aturan penerbitan IMB di perkotaan. Izin mendirikan bangunan harus lebih ketat. Misalnya harus diterapkan kontsruksi bangunan tahan gempa 5-6 SR,” ujar Suprayoga. Sumatera Barat dan Bengkulu mengambil langkah lebih maju. Untuk mengantisipasi gempa, daerah itu melakukan revisi rencana tata ruang wilayah (RTRW) Propinsi, dan juga peraturan daerah. “Gempa pada 2007 dijadikan pijakan mereka, sehingga kawasan beresiko sangat tinggi dicegah mendirikan pemukiman. Jadi sangat diperhatikan wilayah yang ada patahan, dan pergeseran dengan kerawanan tinggi,” Suprayoga menambahkan.

Lalu, bagaimana dengan Jakarta? Menurut dia, bangunan Jakarta lebih banyak yang vertikal alias gedung jangkung yang menjulang. Selain harus memenuhi persyaratan, bangunan di Jakarta harus punya sistem evakuasi yang bagus. “Harus ada rute yang jelas untuk evakuasi. Lalu sejauh mana fasilitas yang ada dapat berfungsi seperti tangga darurat, atau alarm lainnya. Agar tidak menimbulkan kepanikan saat terjadi bencana,” ujar Suprayoga. Dia menyarankan, di Jakarta harus ada renovasi bangunan mengikuti kaedah rawan gempa. Antara lain memperkuat struktur gedung dengan penambahan tulang penyangga. Sudah siapkah kita?


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:20 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Fri Jul 02, 2010 11:39 pm

SIAGA SKALA 9 RICHTER
Jum'at, 23 Juli 2010, 21:24 WIB Arfi Bambani Amri
VIVAnews – Sirene itu menghadap Samudera Hindia. Menjulang tinggi di Pasar Tiku. Berdiri tegak di antara kantor Pak Camat dan pasar rakyat. Dikurung pagar lebih dari dua meter. Harga sirene itu juga menjulang. Satu miliar rupiah. Mahal karena dia adalah dewa pengingat. Para ahli menyebutnya alat early warning system. Warga di Tanjung Mutiara, Agam, Sumatera Barat itu, menyebutnya dengan nama yang membuat bulu kuduk meriang, Sirene Tsunami.

Sirene itu menderu tiap tanggal 23. Bukan karena gempa. Tapi sekedar mencoba apakah si dewa pengingat ini masih bernafas. Jumat, 23 Juli ini sirene itu melengking. Warga sudah maklum. Ini sekedar uji coba. Selain tanggal “keramat” itu, sirene ini tak pernah dibunyikan. Bahkan ketika lindu menguncang pesisir barat Sumatera, 30 September 2009, sirene itu diam membisu. Tapi ribuan warga yang cemas tetap berlari mendaki bukit. Mereka ke sana, “ Karena takut ada tsunami,” kata Zulfaidar, seorang warga di sana kepada VIVAnews.

Sebagaimana wilayah lain di barat Sumatera, daerah Tiku itu memang terbilang rawan lindu. Para ahli gempa melansir bahwa daerah pesisir barat itu tersusun oleh batuan sedimen berumur tersier, batuan vulkanik, dan aluvium berumur kuarter. Semua jenis itu memiliki sifat gampang lepas. Itulah yang memperparah efek gempa bumi. Menetap di atas zona merah itu, warga dan pemerintah selalu bersiaga. Petinggi di Sumatera Barat memasang enam sirene di seluruh wilayah. Di sebar di Padang, Kota Pariaman, Cimpago di Padang Pariaman, Sasak di Pariaman Barat, dan di kota Tiku itu.

Alat sirene semahal itu cuma ada 12 di negeri ini. Kepala Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana Sumatera Barat, Ade Edwar, menyebutkan bahwa enam alat lain ada di Nanggroe Aceh Darussalam. Lantaran peralatan yang serba terbatas itu, sinyal bahaya di Kepulauan Mentawai cuma datang dari lonceng gereja. Setiap gempa yang lebih dari 5 skala Richter, lonceng gereja selalu berdentang-dentang. Warga pun berlari ke bukit.

Dentaman lonceng gereja itu cukup keras. Terdengar hingga radius satu kilometer. “Kami tinggal berlari menyelamatkan diri ke bukit,” kata Salaleubaja, seorang warga Mentawai. Menetap di atas tanah berbahaya, membuat pemerintah Mentawai juga sudah bersiaga. Sesudah gempa besar menguncang Aceh 2004 lalu, mereka membangun jalan beton menuju perbukitan. Jalan beton itu juga dibangun antar dusun. Ini adalah jalur evakuasi mendadak.

Siaga begitu rupa, tampaknya memang belum cukup. Sebab bentangan bahaya di barat Sumatera itu sungguh luas. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumbar berencana menerapkan teknologi gelombang radio. Gelombang radio itu terkoneksi ke sirene tsunami. Handy talky (HT), yang sudah dimodifikasi akan terkoneksi ke sejumlah masjid di pesisir pantai Sumatera Barat. Dengan cara itu diharapkan peringatan dini cepat sampai. Harga satu alat diperkirakan Rp 20 juta hingga Rp50 juta. Sistem komunikasi darurat seperti ini pertama di Indonesia. “Akan dibiayai APBN,” kata Ade Edwar. Pemerintah Provinsi Sumatera Barat juga akan memasang kamera CCTV di Tuapejat, Ibukota Mentawai.

Bahaya dari Mentawai
Bahaya itu dirilis pemerintah 16 Juli lalu. Kabupaten Mentawai, begitu bunyi rilis itu, menyimpan kekuatan gempa 9 skala Richter. Bahaya itu berdiam di Pulau Siberut dan Sipora, sebelah selatan Kepulauan Mentawai. Tingkat guncangan maksimal mencapai 0,5 kali gravitasi. ‘’Artinya, satu setengah kali lebih kuat dari gempa sebelumnya (7,9 SR),” ujar Ade Edwar. Bahaya itu diperkirakan menyebabkan gelombang tsunami. Sebab pusat gempa cukup dangkal. ”Menurut sejumlah ahli, jika gempa berkekuatan sembilan skala Richter terjadi, arah timur Mentawai (Padang) akan dihantam tsunami setinggi satu hingga dua meter, ” kata Ade. Dengan gelombang setinggi itu, dia akan menyasar 637 dusun.

Gelombang yang terbilang raksasa, justru bergerak ke arah barat Pulau Mentawai—Samudera Hindia. Tsunami diperkirakan beberapa kali lebih besar dari yang melanda Aceh enam tahun silam. Menggulung hingga radius 2 kilometer. Namun syukurlah, tsunami yang ini mengarah ke samudera lepas. Ahli paleotsunami Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Danny Hilman Natawidjaya, kepada VIVAnews, Oktober 2009, melansir keberadaan seismic gap di selatan Mentawai ini.

“Dari hasil kalkulasi kami, gempa 2007 hanya melepaskan tidak lebih dari sepertiga jumlah energi tekanan tektonik yang terakumulasi di Mentawai,” kata Danny.
Dengan kata lain, ujar Danny, masih ada sekitar dua pertiga lagi yang tersimpan. Apabila yang dua pertiga ini meluncur sekaligus maka bisa menghasilkan gempa dengan kekuatan sampai 8,8 skala Richter alias 30 kali lebih besar dari gempa 30 September 2009.

Jika semua ramalam itu benar, maka akan terjadi pula kenaikan dan penurunan tanah. Gempa tahun 2007 mengakibatkan tinggi permukaan Pulau Sikakap di Kepulauan Mentawai naik hingga 70 centimeter. Sedangkan gempa besar yang terjadi akhir Oktober 2009 lalu, tidak menyebabkan perubahan tanah di kawasan itu. Namun gempa besar terakhir itu membuat tanah di pesisir Pantai Barat Sumbar turun hingga 25 cm.

Prediksi gempa berkekuatan 9 skala Richter ini, menurut Ade yang juga Ketua Ikatan Ahli Geologi Sumbar itu, diperkirakan akan terjadi dalam rentang waktu 10 hingga 20 tahun ke depan. Celakanya, guncangan gempa di Sumatera Barat bukan cuma datang dari dasar laut. Tapi juga dari Patahan Sumatera, yang lebih sering disebut sebagai Patahan Semangka. Patahan itu menyimpan kekuatan gempa dengan daya rusak yang cukup besar.

Di barat Sumatera itu, kata Ade, ada dua segmen yang berada di patahan Sumatera yang masih menyimpan energi berkekuatan 7,5 skala Richter yakni Segmen Sumpu (Pasaman Timur) dan Segmen Suliti (Muara Labuh-Alahan Panjang).
Perkokoh Bangunan

Selain rupa-rupa siaga itu, pemerintah juga mempersiapkan bangunan tahan gempa. Pemerintah Sumatera Barat kini tengah mempersiapkan Peraturan Daerah (Perda) soal bangunan ini. Terutama bangunan publik. Hingga kini Perda itu masih didiskusikan.

Harmensyah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Sumatera Barat, menyatakan bahwa Perda itu masih dikoordinasikan dengan Dinas Prasarana Jalan dan Pemukiman Sumatera Barat.
“Mitigasi ini membutuhkan investasi. Setiap US$1 yang diinvestasikan akan menyelamatkan aset senilai US$4,” kata Harmensyah. Bencana besar tidak bisa dihadapi dengan sikap responsif semata, butuh investasi untuk mengurangi dampaknya.

Perda soal bangunan ini begitu penting, mengingat gempa September 2009 -- yang berkekuatan 7,9 skala Richter -- meruntuhkan sejumlah gedung yang awalnya disiapkan sebagai lokasi evakuasi bencana tsunami. Hotel Bumiminang dan Sentral Pasar Raya Padang justru tak sanggup menahan guncangan gempa. Padahal sudah disiapkan sebagai escape building.

Pascagempa 2009, Walikota Padang Fauzi Bahar, berencana membangun 100 sekolah dan pasar sekaligus sebagai shelter yang mudah diakses warga. Semua shelter tersebut berada radius 1 km dari bibir pantai yang tersebar di tujuh kecamatan di Padang. Tapi memang biayanya cukup mahal. Membangun 100 unit sekolah shelter memerlukan Rp 670 miliar. Tapi uang sebesar itu harus dicari, sebab taruhannya terlalu mahal, keselamatan warga. (Laporan Eri Naldi dari Sumatera Barat)


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:24 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 12:02 am

AWAS! GEMPA DI SEKITAR KITA
Suara Pembaruan 22 Januari 2010
Seorang anggota militer Prancis mencari korban yang tertimbun bangunan Montana Hotel dengan bantuan anjing pelacak di Port-au-Prince, Haiti, Jumat (15/1). Berbagai bantuan dari beberapa negara, termasuk Indonesia, terus berdatangan ke Haiti untuk mempercepat proses evakuasi dan pemulihan di kawasan bencana.
Selasa sore, 12 Januari 2010, dunia dikejutkan dengan gempa 7,0 skala richter di Haiti. Gempa jenis itu memang jamak terjadi namun yang mengejutkan adalah korban jiwa yang diperkirakan mencapai ratusan ribu orang.

Enam tahun lalu di Aceh dan Nias merasakan dampak dari kekuatan alam berupa gempa bumi. Gempa dahsyat 9.3 skala richter yang disusul tsunami menewaskan lebih dari 120.000 orang. Dua tahun kemudian, Yogyakarta dans sekitarnya dihentak gempa yang menewaskan 6.000 orang. Bumi Ranah Minang itu diguncang gempa 7,6 skala richter. Korban pun berjatuhan hingga mencapai lebih dari 1.100 orang.

"Indonesia tidak bisa mengelak dari ancaman bencana karena posisinya yang sangat unik dan kompleks," ujar Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Sri Woro Budiati Harijono. Posisi yang dimaksud adalah Indonesia berada pada posisi pertemuan tiga lempeng dunia yaitu Lempeng Asia - Australia, Lempeng Euresia, dan Lempeng Pasifik. Selain itu dari sisi geologis, Indonesia masuk dalam jalur cincin gunung berapi (ring of fire) dunia. Kedua posisi ini berpotensi besar menyebabkan gempa bumi.

Disamping itu, sebagai negara kepulauan, Indonesia diapit dengan dua samudera yakni Pasifik dan Hindia yang sangat mempengaruhi cuaca dan iklim di tanah air sehingga berpotensi mengakibatkan bencana seperti banjir, kekeringan, dan tanah longsor. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan, dari berbagai faktor antara lain geografis, geologis, hidrologis, meteorologi, klimatologi dan sosio-demografis, Indonesia memang wilayah yang sangat rawan bencana.

BNPB mencatat dari tahun 2000 hingga 2008, grafik jumlah kejadian bencana di tanah air menunjukkan kecenderungan meningkat. Tahun 2000 jumlah bencana alam antara lain banjir, longsor, gempa bumi/tsunami, angin topan yang terjadi sebanyak 82 kejadian. Delapan tahun kemudian bencana yang terjadi melonjak drastis menjadi 1.302 kejadian. Jika ditotal jumlah kejadian bencana selama 8 tahun itu sebanyak 5.519 dengan menelan korban jiwa sebanyak 145.480 orang.

Mengurangi Dampak
Bencana tak diketahui kapan bakal terjadi. Karena itu manusia perlu menyiapkan diri agar dampak dari risiko bencana itu bisa dikurangi. Pemanasan Global yang mengakibatkan perubahan iklim telah memicu semakin banyaknya bencana yang berhubungan dengan cuaca dan iklim baik itu bencana alam maupun bencana sosial seperti kelaparan.

Gempa bumi, hingga saat ini tak bisa diprediksi kapan terjadi. "Kalau tempat dan besaran gempa yang akan terjadi bisa kita perkirakan, tetapi kapan waktu terjadinya masih belum bisa diprediksi," ujar Deputi Ilmu Kebumian Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Hery Harjono. Jalan terbaik adalah bisa hidup dan bertahan dari gempa. "Mau tak mau kita harus terbiasa hidup berdampingan dengan gempa," kata Seismolog dari ITB, Sri Widiyantoro.

Salah satu upaya mewujudkan kehidupan bersama itu adalah dengan menyiapkan perangkat mitigasi berupa Peta Bahaya Nasional atau Peta Zonasi Seismik.
Di Indonesia, dengan peta yang akan disebarluaskan oleh Kementerian Pekerjaan Umum itu, para ahli bangunan bisa memperhitungkan kekuatan dari sebuah bangunan yang akan dibuat di suatu daerah. Secara terpisah, Ketua Tim Peta Bahaya Nasional, Masyhur Irsyam mengungkapkan, saat ini pihaknya sudah memasuki tahap akhir penyelesaian peta bahaya nasional. "Kita harap selesai bulan Februari," ujarnya.

Peta itu sudah ada sebelumnya dan harus selalu diperbaharui setiap tiga tahun sekali. Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakorsurtanal) tidak melakukan pemetaan bencana karena peta dasar rupa bumi yang diproduksi terbatas pada skala 1:25.000. Sedangkan untuk perencanaan antisipasi dan evakuasi bencana alam daerah diperlukan peta yang lebih detil yaitu skala 1:2.500.

Menurut Ketua Badan Penanggulangan Bencana Nasional (BNPB) Pusat Mayjen TNI Syamsul Maarif, kepala daerah khususnya gubernur telah memiliki peta rawan bencana di daerahnya masing-masing. "Peta rawan bencana ini memang tidak dipublikasikan secara terbuka ke publik namun diberikan kepada para pembuat kebijakan di daerah sehingga setiap kebijakan pembangunan yang diambil bisa disesuaikan kondisi alam setempat," katanya kepada SP, Jumat (22/1).

Dia menjelaskan, perlu ketegasan kepala daerah dalam menjalankan kebijakan pembangunan daerah. Wilayah yang sebenarnya diketahui sebagai daerah resapan air, daerah hijau, tempat saluran air dan bahkan daerah yang rawan bencana tidak boleh lagi dijadikan kawasan perumahan, bisnis dan industri. "Kebijakan Pemda harus tegas dan mengacu pada rencana tata ruang wilayah (RTRW)," ujarnya.

Syamsul melanjutkan, penanggulangan bencana mulai dari tahap pencegahan, antisipasi, sosialisasi, tanggap darurat sampai ke tahap rehabilitasi di banyak daerah saat ini sudah mengalami banyak kemajuan. [153/E-7/M-17]


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:26 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:27 am

UPAYA PREDIKSI GEMPA
Senin, 26 Oktober 2009 | 08:18 WIB Yuni Ikawati
KOMPAS.com — Fenomena kegempaan telah terjadi sejak permukaan Bumi ini terbentuk. Untuk memahaminya, dikembangkan seismologi, bagian dari ilmu kebumian. Namun, hingga kini gempa belum juga dapat diperkirakan sehingga selalu mengancam kehidupan di atasnya. Riset pun terus berjalan.
Awal pekan lalu muncul rumor akan terjadi gempa berkekuatan 8,5 skala Richter pada Sabtu, 24 Oktober 2009. Guncangannya disebutkan mengarah ke Jakarta. Berita yang disebutkan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) itu telah dibantah Kepala BMKG, 19 Oktober. Isu ini tidak mempunyai dasar ilmiah yang jelas karena gempa tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah.

Kenyataannya pada tanggal itu Jakarta ”aman-aman” saja. Meski terjadi gempa pada pagi hari (pukul 10.09 WIB), skalanya hanya 5,1 SR dan hanya sedikit menggoyang Sukabumi. Lalu ada gempa lagi pada malam harinya (21.40 WIB) di Laut Banda. Gempa tergolong kuat (7,3 SR) dengan pusat ada pada jarak 209 kilometer barat laut Saumlaki, Maluku. Karena pusat gempanya dalam, guncangannya terasa hingga ke Ambon dan Merauke. Sejauh ini, ilmu kebumian yang dikuasai manusia baru sebatas merekam gempa yang terjadi, baik waktu, lokasi, maupun intensitasnya. Belum ada teknik prediksi gempa yang tergolong maju dan teruji secara ilmiah.

Namun, upaya rintisan ke arah itu terus dilakukan. Salah satu teknik pemantauan menggunakan gelombang elektromagnet (EM) yang terpancar dari perut Bumi. Penelitian ini telah lama dirintis Varotsos, pakar geofisika dari Universitas Athena, Yunani, pada tahun 1884. Menurut dia, teknik ini memiliki prospek yang baik untuk memperkirakan gempa karena tingkat kesuksesannya dalam memprediksi gempa ketika itu sudah mencapai 63 persen. Melihat prospek itu, beberapa negara maju, di antaranya Jepang dan Taiwan—yang kerap diguncang gempa—seperti halnya Indonesia, belakangan ini gencar melakukan pengembangan teknik ini, tidak hanya untuk mengamati sebaran EM di lapisan litosfer Bumi, tetapi juga di atmosfer hingga ionosfer.

Gelombang EM digunakan untuk mengindikasikan terjadinya gempa karena percepatan gerakan lempeng dan magma akibat perubahan formasi bebatuan di perut Bumi menimbulkan lonjakan gelombang elektromagnet. Anomali ini terlihat sebelum gempa terjadi. Menggali ilmu pemantauan gempa dari dua negara itu, Djedi S Widarto, peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, beberapa waktu lalu mengungkapkan hasil risetnya di Liwa, daerah di pesisir barat perbatasan Lampung-Bengkulu yang diguncang gempa dahsyat beberapa tahun lalu.

Pertanda munculnya gempa tektonik dapat diketahui dua hingga lima hari sebelum kejadian, ditunjukkan adanya anomali gelombang elektromagnet di permukaan Bumi. ”Ada lonjakan elektromagnetik sekitar 5 milivolt sebelum terjadi gempa besar di daerah itu,” urainya. Penyimpangan ini bahkan terpantau di lapisan ionosfer yang berada 300 hingga 400 kilometer di atas permukaan Bumi. ”Dengan berkembangnya teknik sensor dan instrumentasi, pemantauan anomali elektromagnetik dalam 5-10 tahun mendatang dapat digunakan sebagai parameter untuk memprediksi gempa tektonik,” ujar Djedi, doktor geofisika dari Kyoto University.

Akibat pergerakan lempeng, terjadi rekahan yang memengaruhi gaya berat dan mineral magnetis di dalam Bumi sehingga mengganggu kestabilan gaya medan elektromagnetik. ”Gangguan ini bisa sampai radius 400 kilometer di atas permukaan Bumi, pada lapisan ionosfer,” ujar Djedi, yang menyelesaikan riset itu di Institute of Space Science National Central University, Taiwan.

Sementara itu, peneliti dari Lapan, Sarmoko Saroso, yang melakukan penelitian anomali elektromagnetik di institut yang sama, memperoleh data adanya anomali EM ketika terjadi gempa Aceh, 26 Desember 2004 lalu. Data tersebut terekam pada waktu yang bersamaan di empat stasiun global positioning system (GPS), yaitu di Medan, Singapura, Myanmar, dan India.

Pascagempa Aceh, para pakar dari kedua negara tersebut sepakat menjalin kerja sama riset lebih lanjut, melibatkan lembaga penelitian di Indonesia, yaitu LIPI dan Lembaga Antariksa dan Penerbangan Nasional. Pengukuran elektromagnetik dilakukan dengan menggunakan jaringan GPS, selain alat magnetometer, sensor elektroda geolistrik, dan teropong korona. Sistem ini dilengkapi dengan alat telemetri untuk data secara real time. Penelitian di Liwa tahun 2005 itu mendeteksi lonjakan gelombang elektromagnetik sebagai pertanda gempa tektonik berkekuatan 5,2 SR pada 12 hari sebelum kejadian.

Asperitas
Selain teknik pengukuran gelombang elektromagnet itu, Jepang mulai meneliti asperitas (asperity), yaitu tingkat kekasaran permukaan lempeng di zona subduksi dengan sistem seismograf. ”Dengan mengetahui kekasaran permukaan, dapat diketahui terjadinya perlambatan gerak penunjaman hingga akhirnya 'terkunci' dan kemudian lepas atau menggelosor,” tutur Eko Yulianto, yang meraih doktor geologinya dari Universitas Hokkaido, Jepang.

Yoshiko Yamanaka dan Masayuki Kikuchi dari Institut Riset Gempa Bumi Universitas Tokyo meneliti karakteristik kekasaran permukaan (asperity) lempeng, dengan mempelajari sumber kegempaan di daerah antarlempeng atau zona subduksi di lepas pantai Distrik Tohoku, timur laut Jepang.
Penelitian yang dipublikasikan tahun 2003 ini berdasarkan data seismik regional selama lebih dari 70 tahun lalu. Mereka menemukan tiga kategori pola distribusi asperitas lempeng di Tohoku, dibedakan pada tingkat kekasaran dan kegempaan yang ditimbulkannya.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:29 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: IpTek   Sat Jul 03, 2010 6:37 am

AYO BELAJAR GEOLOGI DAN JADI AHLI GEMPA
Rabu, 7 Oktober 2009 | 05:04 WIB Oleh: NINOK LEKSONO
KOMPAS.com — Gempa bumi, (letusan) gunung berapi, dan tsunami sejak lama menimbulkan ketakutan dan (sekaligus) kekaguman dalam pikiran manusia, melahirkan mitos, legenda, dan banyak film bencana Hollywood. Kini, teknologi maju memungkinkan kita berlatih, mengukur, memantau, mengambil sampel, dan mencitra Bumi dan gerakannya seperti belum pernah terjadi sebelumnya…. (Dr Ellen J Prager, ”Furious Earth”, 2000)

Gempa demi gempa terkesan semakin rajin menyambangi Tanah Air. Di tengah era informasi dan maraknya industri media, serba hal mengenai gempa pun hadir ke jantung rumah tangga. Orang tua, orang muda, dan anak-anak yang selama ini kurang (atau bahkan tidak) memerhatikan soal-soal gempa kini banyak yang terpaku lama menyaksikan reportase dari wilayah bencana melalui TV atau membacanya di media cetak dan online.

Mula-mula yang muncul adalah ketakutan, membayangkan bagaimana kalau gempa terjadi di kotanya sendiri. Tentu selain itu juga rasa prihatin dan peduli atas bencana yang terjadi. Berikutnya, dari rasa peduli dan takut tadi muncul pula rasa ingin tahu tentang berbagai segi, menyangkut penyebab-penyebab terjadinya gempa, mana saja daerah yang rawan gempa, apakah gempa dapat diramalkan, atau bagaimana cara mengurangi akibat mematikan gempa.

Barangkali itu awal yang menarik bagi tumbuhnya minat terhadap ilmu-ilmu yang terkait dengan kegempaan, yang sebagian ada di ilmu geologi, juga di cabang-cabangnya, seperti seismologi, dan juga di geofisika. Harus diakui, hingga belum lama ini, ilmu tersebut masih sering dilihat dengan sebelah mata, sebagai ilmu yang kering dan kurang banyak manfaatnya untuk dipelajari.

Kini, dengan sering terjadinya gempa dan semakin tumbuhnya kesadaran bahwa Tanah Air berada di jalur gempa dan gunung api yang dikenal sebagai Cincin Api, masyarakat semakin menyadari pentingnya ilmu-ilmu di atas.

Memang gempa tak akan memusnahkan bangsa Indonesia, kecuali mungkin yang disebabkan oleh gempa dan tsunami kosmik akibat wilayah Nusantara ditumbuk oleh asteroid atau komet besar. Namun, terus-menerus diguncang gempa—apalagi bila tanpa pembelajaran memadai untuk meminimalkan dampak—bisa menguras tenaga dan pikiran bangsa. Belum lagi harus diakui, ada kerugian materiil yang amat besar tiap kali terjadi gempa (atau letusan gunung berapi), plus biaya rehabilitasi dan rekonstruksi.

Melalui cinta ilmu geologi, pemahaman dan kearifan akan sifat dan perilaku Bumi meningkat. Berikutnya, risiko bencana dapat dikurangi, korban dapat diminimalkan, dan kerugian harta benda dapat ditekan.

Ilmu kebumian
Fokus bahasan kita kali ini pada ilmu geologi, yang mempelajari komposisi, struktur, proses, dan sejarah Bumi. Ilmuwan yang mendefinisikan geologi adalah Sir Charles Lyell pada tahun 1830. Semenjak saat itu, studi geologi diperluas sampai ke planet-planet lain dan satelitnya, yang lalu dikenal sebagai geologi keplanetan. Ada banyak cabang dalam geologi, antara lain geofisika, yang mempelajari fisika Bumi.

Melalui ilmu inilah orang mengenal lapisan-lapisan yang ada di Bumi, yakni kerak atau kulit, lalu mantel, dan inti. Kerak bumi yang berwujud lempeng-lempeng ini rupanya telah bergerak ke sana-sini di permukaan Bumi setidaknya sejak 600 juta tahun terakhir—dan bisa jadi sejak beberapa miliar tahun sebelumnya (New York Public Library Science Desk Ref, 1995). Sekarang ini, setiap lempeng bergerak dengan kecepatan berbeda-beda, di antaranya ada yang dengan kecepatan 2,5 sentimeter per tahun.

Para ilmuwan yakin, pada masa lalu, sekitar 250 juta tahun silam, ada benua besar atau superkontinen yang dinamai Pangaea (Nama Pangaea diusulkan oleh geolog besar Alfred Wegener tahun 1915). Sekitar 180 juta tahun lalu, superkontinen ini pecah, menjadi Gondwanaland, atau Gondwana, dan Laurasia. Gondwana adalah kontinen hipotetis yang dibentuk dari bersatunya Amerika Selatan, Afrika, Australia, India, dan Antartika. Sementara Laurasia tersusun dari Amerika Utara dan Eurasia. Sekitar 65 juta tahun silam—masa sekitar punahnya dinosaurus—kedua kontinen itu mulai berpisah, perlahan-lahan membentuk tatanan seperti yang kita lihat sekarang ini.

Ada prediksi menarik: dalam 50 juta tahun dari sekarang, pantai barat Amerika Utara akan robek dari daratan utama (mainland), dan—ini dia—Australia akan bergerak ke utara dan bertubrukan dengan Indonesia. Sementara Afrika dan Asia akan terpisah di Laut Merah.

Riwayat menarik
Kini, ketika kita semakin mengakui pentingnya ilmu-ilmu alam, kebumian, baik juga dipikirkan cara untuk mengembangkan minat. Jangan sampai ironi yang ada sekarang ini berkepanjangan, di mana negara di Cincin Api hanya memiliki sejumlah kecil ahli, seperti hari-hari ini kita baca profilnya di harian ini. Mereka bekerja di sejumlah lembaga pendidikan dan penelitian seperti ITB, UGM, LIPI, dan BPPT.

Dengan frekuensi berita gempa yang tinggi akhir-akhir ini, terungkap pula sejumlah istilah dan teori fundamental dalam geologi, seperti intensitas gempa dalam skala Richter dan tentang lempeng tektonik.

Demi masa depan
Sebagaimana studi tentang hutan, iklim, atau vulkanologi, ilmuwan ahli gempa Indonesia punya peluang besar untuk berkontribusi dalam sains yang hebat ini karena Indonesia sering disebut sebagai laboratorium alam yang unik. Sumbangan ilmiah ini maknanya tidak saja sebatas pemerkayaan ilmu pengetahuan, tetapi juga terkait dengan masa depan manusia.

Dalam jangka dekat, peminat dan ilmuwan ahli gempa mungkin masih merasa tertantang untuk menjawab pertanyaan fundamental seperti ”dapatkah kita meramal terjadinya gempa?”

Saat ini jawabannya adalah ”mustahil” bila yang dimaksud adalah meramal ”hari, tanggal, dan jam berapa gempa akan terjadi”. Karena yang bisa diketahui baru wilayah mana yang akan terancam gempa dalam kurun 20-30 tahun mendatang, sebenarnya pekerjaan sudah menanti untuk menyiapkan segala sesuatunya. Tujuannya tidak lain untuk meminimalkan potensi kerusakan akibat gempa.

Mari kita sambut tantangan ilmu geologi untuk semakin memahami Bumi dan segala aktivitasnya. Kita yakin, dengan semakin bertambahnya ahli gempa, akan semakin nyaring suara yang mengingatkan bangsa Indonesia untuk selalu siaga menghadapi pergerakan lempeng tektonik jauh di bawah sana.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 7:31 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
IpTek
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 25Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 13 ... 25  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: