Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Numpang Lewat

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 28 ... 51  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Thu May 27, 2010 1:52 pm

9 KEBIASAAN PALING MERUSAK
Senin, 2 Agustus 2010 | 10:42 WIB
Kompas.com - Dibandingkan dengan makhluk hidup lainnya, sebagai manusia kita memiliki banyak perilaku buruk yang bersifat merusak terhadap diri sendiri dan orang lain. Kita bersikap tidak jujur, curang dan mencuri, kita juga merajah tubuh sendiri, kita membiarkan stres menguasai dan menimbulkan penyakit secara perlahan. Dunia ilmiah mencoba membuktikan mengapa spesies yang begitu cerdas ini bisa memiliki sikap merusak diri sendiri.

1. Gosip
Mengapa kita begitu suka dengan gosip dan rumor? Karena kita berevolusi sedemikian rupa untuk menghakimi dan membicarakan orang lain, meskipun itu menyakiti mereka. Demikian menurut analisa para peneliti. Robin Dunbar, primitologi dari Oxford menjelaskan, "Babon laki-laki menjaga hubungan satu sama lain agar hubungan itu tetap terjaga. Tapi kita manusia lebih berkembang, sehingga kita menggunakan gosip sebagai perekat sosial. Keduanya merupakan perilaku yang dipelajari. Gosip menyebabkan adanya batas-batas kelompok dan meningkatkan harga diri. Dalam banyak contoh, tujuan dari gosip bukan kebenaran atau akurasi. Yang penting adalah ikatan yang bergosip tetap terbina, meskipun sering dengan mengorbankan pihak ketiga. "Ketika dua orang saling curhat ketidaksukaan mereka terhadap orang lain, gosip bisa membawa mereka menjadi lebih dekat," kata Jennifer Bosson, seorang profesor psikologi di Universitas South Florida.

2. Melakukan kebiasaan buruk
Manusia merupakan makhluk yang menyukai kebiasaan. Karena itu, sekali Anda melakukan kebiasaan buruk, bahkan yang paling beresiko sekalipun, sulit bagi Anda untuk menghentikannya. Tak heran jika para perokok atau orang yang gemar kebut-kebutan di jalan tak pernah jera. "Ini bukan karena mereka tidak mendapat informasi bahwa kebiasaan buruk adalah risiko besar. Tapi lebih karena kita cenderung berpikir pendek dari pada jangka panjang," kata Cindy Jardine dari Universitas Alberta. Selain itu, menurut Jardine manusia memang dari sananya sudah menyukai tantangan. Kebiasaan buruk juga kerap kali dijadikan alat untuk bergabung dengan kelompok sosial. Selain itu orang-orang cenderung untuk membenarkan kebiasaan buruk, tanpa melihat penelitian yang ada, seperti: "Nenek saya merokok sepanjang hidupnya dan hidup sampai 70". Padahal, kalau tidak merokok mungkin usia si nenek bisa lebih panjang lagi.

3. Kecanduan kekerasan
Kekerasan ternyata sudah ada sejak catatan sejarah mengenai manusia ada. Para ahli bahkan menyebutkan bahwa hasrat melakukan kekerasan sudah ada dalam gen dan mempengaruhi otak kita. Sebuah studi di tahun 2008 menyimpulkan bahwa manusia tampaknya kecanduan kekerasan, sama seperti mereka kecanduan seks, makanan, atau obat-obatan. Hasil penelitian dalam Jurnal Psychopharmacology, menunjukkan pada sel otak tikus, bagian otak yang mengatur ganjaran (reward) juga bertanggung jawab pada kesenangan melakukan kekerasan. Diduga, pada otak manusia tak jauh berbeda. Banyak peneliti percaya bahwa kekerasan pada manusia adalah kecenderungan berkembang yang membantu dengan kelangsungan hidup.

4. Mencuri
Pencurian biasanya dimotivasi oleh kebutuhan. Tapi untuk kleptomania sensasi tindakan mencuri dapat memotivasi mereka untuk melakukan nya lagi. Dalam sebuah penelitian terhadap 43.000 orang ditemukan 11 persen mengakui telah mengutil setidaknya sekali. Dalam sebuah penelitian pada tahun 2009, peserta diberikan placebo atau obat naltrexone - dikenal untuk mengekang kecenderungan kecanduan terhadap alkohol, narkoba dan perjudian. Naltrexone membatasi efek kebiasaan yang biasa disebut zat opiat endogen yang memicu rasa senang di otak ketika mencuri. "Obat ini mengurangi dorongan untuk mencuri dan kebiasaan mencuri," kata Jon E.Grant dari Sekolah Kedokteran Minnesota dalam jurnal Biological Psychiatry. Pencurian sendiri mungkin sudah ada dalam gen kita. Bahkan monyet melakukannya. Monyet Capuchin menggunakan alarm untuk memperingatkan sesama monyet untuk menghindari pemangsa. Tetapi beberapa mereka juga menggunakan alarm palsu untuk mencuri makanan yang ditinggalkan temannya yang melarikan diri.

5. Menipu
Walaupun kebanyakan orang akan mengatakan kejujuran adalah kebaikan, hampir satu dari lima orang di Amerika menganggap kecurangan pajak secara moral dapat diterima atau bukan masalah moral. Kecurangan menjadi perilaku etis dapat dibenarkan dalam situasi tertentu.

6. Berbohong
Tidak ada yang tahu pasti mengapa manusia suka berbohong, tetapi studi menemukan bahwa itu biasa, dan bahwa hal itu sering dikaitkan dengan faktor-faktor psikologis. "Ini terikat dengan harga diri," kata Robert Feldman, psikolog Universitas Massachusetts. "Kami menemukan ketika orang merasa bahwa dirinya terancam, mereka segera mulai berbohong pada tingkat yang lebih tinggi." Feldman sendiri telah melakukan penelitian di mana 60 persen peserta setidaknya sekali berbohong selama 10 menit percakapan. Namun ternyata berbohong itu tidak mudah. Sebuah studi menyimpulkan bahwa berbohong memerlukan waktu 30 persen lebih lama daripada mengatakan yang sebenarnya. Selain manusia, hewan juga dikenal mampu menipu, bahkan robot telah belajar untuk berbohong, dalam percobaan di mana mereka diberi penghargaan atau dihukum tergantung pada kinerja dalam kompetisi dengan robot lain.

7. Menggertak dan mengancam
Studi telah menemukan bahwa lebih dari setelah anak-anak SD pernah diancam dan diganggu (bully). Sebuah studi Eropa pada tahun 2009 menemukan bahwa anak-anak yang digertak di sekolah mungkin juga menggertak saudara mereka di rumah. "Menurut penelitian kami tidak mungkin perilaku menggertak itu datang begitu saja, biasanya perilaku anak-anak berasal dari rumah. Misalnya bila suka menggertak saudaranya di rumah, kemungkinan perilaku ini juga akan dibawa dan dilakukan di sekolah," kata Ersilia Menesini dari Universitas Di Firenze, Italia. Tapi menggertak tidak hanya berlaku di kalangan anak-anak. Sebuah studi menemukan hampir 30 persen pekerja kantor Amerika sering mengalami bully oleh atasan atau rekan kerja. Mulai dari pemotongan informasi penting untuk menyelesaikan pekerjaan atau penghinaan dengan tujuan lainnya. Dan sekali dimulai, akan cenderung menjadi lebih buruk. "Secara definisi sikap menggertak itu seperti hal kecil yang kemudian menjadi besar. Ini adalah salah satu alasan mengapa begitu sulit untuk mencegahnya, karena biasanya dimulai dengan cara yang sangat kecil," kata Sarah Tracy, Direktur Proyek untuk kesehatan dan kehidupan kerja di universitas Arizona State.

8. Stress
Stres dapat mematikan, meningkatkan risiko gangguan jantung dan bahkan kanker. Stres dapat menyebabkan depresi, yang dapat menyebabkan bunuh diri. Tapi mengapa kita bisa stres sangat sulit untuk dijabarkan. Berbagai penelitan menyebutkan, lingkungan kerja merupakan sumber stres utama bagi banyak orang, demikian untuk anak-anak. Data Organisasi Buruh Internasional (ILO) menyebutkan lebih dari 600 juta orang di seluruh dunia bekerja 48 jam setiap minggu, termasuk jam kerja di akhir pekan. Di tambah lagi, perkembangan teknologi dan internet yang semakin garis batas antara pekerjaan dan waktu luang. Bahkan menurut sebuah studi baru-baru ini sekitar setengah penduduk Amerika membawa pulang pekerjaan mereka. Selain pekerjaan, menjadi orangtua juga kerap menimbulkan stres tersendiri. "Di usia pertengahan, seseorang merasa terbebani oleh tanggung jawabnya pada pekerjaan, keluarga dan anak-anak," kata Gwenith Fisher, psikolog. Ahli kesehatan menyarankan olahraga dan tidur yang cukup adalah dua cara terbaik untuk mengurangi stress.

9. Berjudi
Judi juga, tampaknya ada pada gen kita dan terprogram ke dalam otak kita, sehingga menjelaskan mengapa perilaku itu menjadi umum dan bersifat menghancurkan. Bahkan, monyet pun suka berjudi. Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Neuron tahun lalu menemukan bahwa keinginan menang membangkitkan keinginan berjudi dalam otak. "Penjudi sering menafsirkan hampir menang sebagi tolak ukur yang mendorong mereka untuk terus berjudi," kata Luke Clark dari Universitas Cambridge. "Temuan kami menunjukkan bahwa otak merespon rasa hampir menang sebagai keinginan untuk menang meskipun kenyataannya mereka tidak pernah menang," katanya. Penelitian tahun lalu menemukan apabila penjudi kalah mereka tidak akan berpikir secara rasional. Mereka justru akan mengubah permainan dan bertaruh lebih tinggi.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 11:28 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Fri May 28, 2010 6:57 pm

KENAPA TANPA SADAR ORANG SERING BERSENANDUNG
Selasa, 03/08/2010 18:16 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Saat di jalan, dalam kendaraan atau sedang bekerja orang kadang tak sadar sedang menyanyikan sebuah lagu. Kenapa sebuah lagu bisa terekam di kepala dan dinyanyikan tanpa disadari? Para ahli menuturkan kondisi ini disebut dengan earworms (atau ohrwurms dalam bahasa Jerman). Kondisi ini bukan berarti ada parasit yang masuk ke dalam telinga. Tapi karena lagu tersebut telah terjebak di kepala seseorang sehingga menyebabkan 'cognitive itch' atau 'brain itch', yaitu suatu kebutuhan untuk mengisi celah di dalam otak oleh irama lagu.

Dikutip dari Howstuffworks, Selasa (3/8/2010) ketika seseorang mendengarkan lagu, maka akan memicu bagian dari otak yang disebut dengan auditory cortex (korteks pendengaran). Peneliti dari Dartmouth University menemukan bahwa ketika seseorang mendengarkan sebuah lagu, maka secara otomatis korteks pendengaran akan terisi dengan lagu tersebut. Dengan kata lain otak akan terus menyanyi hingga lagu tersebut berakhir. Semakin sering lagu tersebut di dengar, maka lagu ini akan berulang-ulang di putar di dalam pikiran seseorang. Nantinya lagu ini akan terjebak di dalam kepala seseorang, sehingga tanpa disadari seseorang akan menyanyikan lagu tersebut.

Semakin orang berusaha untuk tidak memikirkan lagu tersebut, maka akan semakin sulit lagu tersebut dikeluarkan dari kepala. Contohnya seseorang tiba-tiba sadar, 'Kok nyanyi lagu ini sih, nggak mau ah'. Tapi semakin tidak ingin menyanyikan lagu itu semakin sulit lagu itu keluar dari otak. Beberapa ahli lainnya menuturkan bahwa earworms adalah salah satu cara untuk menjaga agar otak tetap sibuk. Kondisi ini juga dikenal dengan nama 'repetunitis' hingga 'melodymania'. James Kellaris dari University of Cincinnati College yang pernah melakukan penelitian tentang earworms dan brain itch menuturkan bahwa kaum perempuan, musisi, orang yang memiliki gangguan saraf serta orang yang lelah dan stres adalah kelompok yang paling rentan terkena earworms.

Pada umumnya lagu dengan melodi yang sederhana, ceria, menarik atau berulang cenderung lebih mudah terjebak di dalam kepala seseorang. Sekitar 74 persen seseorang terjebak oleh sebuah lirik lagu, sekitar 15 persen terjebak oleh jingle iklan dan 11 persen terjebak oleh lagu-lagu instrumen. Sebagian besar earworms bisa hilang dengan sendirinya, tapi jika lagu tersebut sudah sangat mengganggu pikiran seseorang ada beberapa hal yang bisa dicoba untuk menghilangkannya dari dalam kepala, yaitu:

1. Cobalah untuk menyanyikan lagu atau memainkan melodi lain dengan menggunakan instrumen.
2. Beralihlah ke aktivitas lain yang bisa membuat seseorang menjadi sibuk, sehingga pikirannya tidak tertuju pada sebuah lagu.
3. Usahakan untuk mendengarkan beberapa jenis lagu.
4. Cobalah untuk menyalakan radio sehingga seseorang tidak hanya mendengarkan satu lagu yang sama secara terus menerus.


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 12:15 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Sun May 30, 2010 12:14 pm

MELAMUN BISA MENGHILANGKAN MEMORI
Jumat, 30/07/2010 08:08 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Setiap orang pasti pernah melamun dan berkhayal memikirkan masa depan atau sesuatu hal yang indah. Jangan kebanyakan melamun karena melamun dapat membuat orang kehilangan sebagian dari memorinya. Pernahkah Anda mengalami kesulitan untuk mengingat peristiwa sebelum Anda melamun? Jika iya, maka itu adalah normal. Penelitian terbaru menemukan bahwa melamun atau termenung sambil pikiran melayang ke mana-mana, dapat menyebabkan hilangnya sebagian memori, khususnya memori sebelum seseorang mulai melamun. Semakin jauh pikiran melayang saat melamun, maka hilangnya memori akan semakin parah.
Penelitian sebelumnya juga menemukan bahwa berpikir tentang sesuatu yang lain, baik melamun atau pikiran berkelana (mind-wandering), dapat memblokir akses ke kenangan atau memori masa lalu.

Dalam penelitian yang baru, ilmuwan menyelidiki beberapa partisipan. Partisipan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok pertama diminta untuk melihat daftar kata yang muncul di layar komputer, satu per satu. Kemudian partisipan diminta untuk melamun, memikirkan tentang kejadian yang menarik baginya. Selanjutnya, partisipan kelompok kedua hanya diminta untuk melihat daftar kata-kata, tanpa melamun. Pada akhir tes, kedua kelompok partisipan diminta mengingat kembali sebanyak mungkin kata-kata apa saja yang dilihatnya dari daftar tadi.

Hasilnya, kelompok yang diminta untuk melamun hanya mengikat sedikit kata dibandingkan dengan kelompok yang tidak melamun. Ini menunjukkan bahwa melamun dapat menghilangkan sebagian memori yang baru saja diperoleh. Studi ini telah diterbitkan dalam Psychological Science, sebuah jurnal dari Association for Psychological Science. "Melamun dapat membuat Anda merasa berada dalam situasi yang berbeda, karena Anda tidak dapat mengingat kejadian yang terjadi sebelum Anda melamun," ujar Peter F. Delaney dari Universitas of North Carolina di Greensboro, seperti dilansir dari Psychcentral, Jumat (30/7/2010).


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 12:16 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Sun May 30, 2010 12:18 pm

AGAR MATA TAK LELAH DIDEPAN KOMPUTER
Senin, 2 Agustus 2010, 16:21 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila
VIVAnews - Berapa lama Anda berhadapan dengan layar komputer setiap hari? Menatap layar komputer lebih dari dua jam sehari tanpa istirahat berpotensi memunculkan Computer Vision Syndrome (CVS). Pakar kesehatan mata Dr Jennifer Ashton menjelaskan, CVS juga bisa akibat penggunaan perangkat genggam seperti iPhone atau iPod secara berlebihan. "Gejala paling umum adalah mata terasa perih, kering atau iritasi mata, kelelahan, dan sakit kepala," katanya dikutip dari Times of India. Demi mengurangi dan mencegah kelelahan mata akibat alat-alat teknologi, Dr Ashton membagi beberapa tips.

1. Berkedip lebih sering
Ketika melihat layar komputer atau perangkat digital, mata seringkali berkedip dua-tiga kali lebih sedikit daripada biasanya. Hal ini dapat mengakibatkan 'mata kering'. Berkedip lebih sering membuat air mata membasahi seluruh indera penglihatan. Secara alami airmata merupakan obat mata.

2. Aturan 20/20/20
Apabila pekerjaan Anda menghabiskan waktu lama di depan sebuah perangkat digital gunakan teknik 20/20/20. Setiap 20 menit, luangkan waktu sekitar 20 detik untuk melihat sesuatu yang berjarak 20 meter dari tempat duduk. Aktivitas tersebut memungkinkan mata untuk beristirahat.

3. Pastikan cukup pencahayaan
Untuk membantu meringankan beban mata, jaga agar cahaya mengarah langsung ke benda atau sesuatu yang Anda baca, bukan mata. Atur posisi layar komputer dengan cara mengurangi pantulan dari silau cahaya dekat jendela atau lampu di atas kepala.

4. Lokasi layar komputer
Letakkan layar komputer 15-20 derajat di bawah pandangan mata (sekitar 4-5 inci) diukur dari pusat layar dan sekitar 20-28 inci dari mata. (pet)
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 12:17 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Sun May 30, 2010 12:22 pm

ALASAN TAK KUNJUNG MENDAPAT KERJA
Thursday, 29 July 2010 - Seputar Indonesia
ANDAselalu memperbaharui CV Anda.Hampir tiap hari surat lamaran dikirimkan.Anda pun sudah menggunakan networkuntuk mencari pekerjaan.Namun,Anda masih belum mendapat pekerjaan.Apa yang salah?

Bisa jadi, jawabnya tak jauh dari diri Anda sendiri. Maksudnya,Andalah pangkal mengapa Anda tak kunjung mendapat pekerjaan. Menurut survei yang diadakan CareerBuilder di tahun 2009,sebanyak 47% wakil perusahaan mengatakan bahwa mencari karyawan yang sesuai harapan benar-benar sangat sulit. Kriteria yang umumnya mereka harapkan dari seorang karyawan, di antaranya multitasking, berinisiatif, dan mampu memecahkan masalah dengan kreatif. Selain alasan tersebut, ada lagi beberapa hal yang umumnya membuat perusahaan menolak mempekerjakan seorang calon karyawan. Berikut di antaranya.

1. Berbohong
Berbohong atau melebih-lebihkan isi CV Anda tak akan ada gunanya. Cepat atau lambat perusahaan akan mengetahuinya. Dalam survei yang dilakukan pada 2008,sebanyak 49% manajer perusahaan mengetahui bahwa para pelamar berbohong di surat lamaran mereka. Daripada berbohong, lebih baik Anda fokus pada kekuatan yang dimiliki.

2. Berbicara buruk tentang masa lalu
Dalam survei tahun 2009,44% wakil perusahaan menegaskan bahwa pelamar yang mengatakan hal buruk tentang tempat kerja atau atasannya cenderung tidak disukai dan tidak akan direkrut di perusahaan yang dilamarnya. Jika Anda memang tak nyaman dengan lingkungan kerja yang lama misalnya, katakan saja bahwa lingkungan tersebut kurang membuat Anda nyaman dalam bekerja dan membuat Anda merasa tidak dalam satu tim.Jadi,Anda tak perlu menjelekjelekkan rekan kerja atau atasan Anda lebih lanjut.

3. Anda dianggap tidak potensial dalam jangka panjang
Perusahaan pasti menginginkan karyawan yang bisa mengikuti langkah mereka sekaligus bisa berkembang bersama perusahaan.Karena itulah,jika Anda ditanya akan di mana Anda dalam lima tahun mendatang, maka jawaban Anda harus bisa menunjukkan potensi besar Anda yang bisa digunakan untuk kemajuan perusahaan.

4. Reputasi buruk di dunia maya
Banyak perusahaan yang kini menggunakan social media dan dunia maya untuk mengecek reputasi calon karyawannya di dunia maya. Dalam survei tahun 2009, ditemukan bahwa 45% perusahaan mencari tahu calon pelamar mereka di internet. Sebanyak 35% di antara mereka menemukan cacat reputasi calon karyawannya di internet. Jadi, jika Anda memiliki tulisan, foto, atau link yang bisa merusak reputasi Anda, segera hilangkan hal tersebut dari jejak rekam Anda di internet.

5. Anda tidak tahu apa pun
Dalam survei terpisah pada tahun 2009,58% perusahaan menyatakan bahwa pelamar yang datang di sesi wawancara tapi tak mengetahui riwayat,jejak rekam,atau reputasi perusahaan yang didatanginya, sudah pasti tidak akan dilirik. Karena itulah, sangat penting untuk menguasai segala hal tentang perusahaan yang Anda incar.

6. Anda terlihat sombong atau tidak bersemangat
Antusiasme sangat diperlukan saat sesi wawancara.Sebab,tampil dengan penuh antusiasme diperlukan saat seseorang menghadapi klien atau konsumen.Dalam survei tahun 2009 tercatat bahwa kesalahan terbesar pelamar ialah terlihat tidak tertarik atau tidak bersemangat. Sedangkan 42% mengatakan bahwa pelamar yang terkesan sombong akan kehilangan prospek pekerjaannya.

7. Terlalu pribadi
Sebanyak 17% dari wakil perusahaan yang menjadi responden dengan tegas mengatakan bahwa pelamar yang terlalu banyak menceritakan kehidupan pribadinya tak akan mendapatkan pekerjaan yang diinginkan. Intinya, janganlah banyak bercerita,kecuali cerita tersebut memang berhubungan erat dengan pertanyaan yang diajukan atau posisi kerja yang ditawarkan.

8. Terburu-buru soal gaji
Jangan langsung membicarakan gaji sebelum pewawancara membahasnya. Jika Anda melakukannya, merekabisaberanggapanbahwa Andahanya tertarikdengangajinya,bukan dengan pekerjaan atau hal lain seperti membantu dan bekerja sama dengan rekan kerja yang lain. Jika mereka bertanya soal gaji,barulah Andabisamenceritakanriwayatgaji Anda dan meminta jumlah yang lebih tinggi dari sebelumnya.

9. Tidak bisa memberi contoh
Jika Anda hanya mampu mengatakan bahwa Anda akan berkontribusi penuh pada perusahaan tanpa menjelaskan caranya,maka kemampuan Anda akan diragukan. Dalam kenyataannya, 35% perusahaan menegaskan bahwa berbicara terus tanpa memberikan contoh tidak akan mampu menaikkan nilai si pelamar kerja.

10. Tidak cukup berpengalaman
Perusahaan akan lebih menyukai mereka yang berpengalaman daripada yang tidak. Dengan begitu, mereka tidak akan membuang waktu untuk melatih karyawan baru.Jadi,semakin berpengalaman Anda dan semakin Anda mampu menunjukkannya dengan berbagai contoh,maka Anda layak dipertimbangkan sebagai kandidat terbaik. Tentu saja alasan-alasan ini tidaklah baku. Bisa saja ada perusahaan yang lebih menginginkan pelamar yang belum berpengalaman agar bisa dibentuk menjadi karyawan yang sesuai keinginan mereka atau agar tidak mengeluarkan banyak dana untuk menggajinya.

Intinya, begitu banyak alasan mengapa seseorang belum mampu menarik perhatian sebuah perusahaan. Yang paling penting, tingkatkan kemampuan diri dan perilaku agar keinginan menduduki posisi tertentu di sebuah perusahaan bisa tercapai. (herita endriana/ careerbuilder)


Last edited by gitahafas on Wed Aug 11, 2010 1:07 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Mon May 31, 2010 7:54 am

60 TAHUN RI-WHO, SUDAHKAH INDONESIA SEHAT?
Vera Farah Bararah - detikHealth - Kamis, 27/05/2010 09:26 WIB
Jakarta, Selama 60 tahun Indonesia telah menjadi mitra Badan Kesahatan Dunia PBB alias WHO (World Health Organization) untuk meningkatan mutu kesehatan rakyat. Tapi dalam perjalanan sepanjang itu, sudahkah Indonesia sehat? Sudahkah terpenuhi standar kesehatan dasar rakyat? Penanganan masalah kesehatan di Indonesia memang 'bejibun' dan hampir tidak ada habisnya. Wabah penyakit selalu datang karena suhu tropis yang lembab membuat negara ini menjadi santapan empuk vektor nyamuk sebagai penular beberapa penyakit tertentu seperti demam berdarah, malaria, kaki gajah, chikungunya. Itu baru dari serangga, penyakit karena kebiasaan dasar hidup sehat juga masih terus bermunculan seperti diare karena penyediaan sanitasi yang buruk. Belum lagi masalah gizi buruk pada balita, angka kematian ibu dan bayi hingga penyakit moderen seperti HIV AIDS masih menjadi pekerjaan besar buat Indonesia.

Sepanjang usia 60 tahun kerjasama WHO dan Indonesia memang telah banyak hal yang dicapai oleh keduanya. WHO mendukung dengan memberikan bantuan teknis, training, pendidikan, kerangka acuan dan standar yang berlaku internasional. Sedangkan pemerintah berusaha untuk mencapai standar dan target internasional dalam menciptakan masyarakat hidup sehat. Tapi rupanya kerjasama itu belum cukup maksimal, terbukti Indonesia masih belum bisa mencapai target pembangunan millenium atau Millenium Development Goals (MDGs). Target mulia yang ingin dicapai banyak negara dunia. Maka itu Menteri kesehatan Dr Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR. PH berharap hubungan yang semakin erat antara kementerian kesehatan dan WHO, bisa mempercepat Indonesia bisa mencapai target MDGs di 2015.

Ada 8 pilar dalam MDGs yang harus dicapai Indonesia yakni:
1. Pengentasan kemiskinan dan kelaparan yang ekstrem
2. Pemerataan pendidikan dasar
3. Mendukung adanya persaman jender dan pemberdayaan perempuan
4. Mengurangi tingkat kematian anak
5. Meningkatkan kesehatan ibu
6. Perlawanan terhadap HIV/AIDS, malaria, dan penyakit lainnya
7. Menjamin daya dukung lingkungan hidup
8. Mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan

"WHO dapat memainkan peran penting dalam membantu negara anggota khususnya negara berkembang untuk mempercepat pencapaian MDGs," ujar Menkes dalam acara Perayaan peringatan 60 tahun bergabungnya Indonesia dengan WHO di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu malam (26/5/2010). Menurut Menkes, pemerintah Indonesia melalui kementerian kesehatan selama ini selalu melibatkan WHO dalam upaya meningkatkan mutu kesehatan rakyat Indonesia. Salah satu fokus untuk saat ini adalah percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi demi mencapai MDGs pada tahun 2015. Tuntutan perubahan di tingkat global juga dilakukan untuk memajukan pengelolaan yang baik di sektor kesehatan. Sebagai organisasi dunia yang melayani negara anggotanya, WHO dituntut untuk menerapkan mekanisme kerjasama yang mengedepankan transparansi, adil dan setara.

"Tiga prinsip ini hendaknya menjadi pegangan dalam menjalankan mandatnya untuk membantu negara anggota dalam memajukan kesehatan dunia," kata Menkes. Menkes mengungkapkan dalam kurun waktu 60 tahun ini, WHO telah banyak memberikan dukungan terhadap program kesehatan di Indonesia. Khususnya dalam meningkatkan kapasitas institusi maupun individu untuk mendukung kebijakan kesehatan tingkat nasional serta komitmen global. "Salah satu isu kesehatan dunia yang menjadi perhatian utama adalah pencapaian target MDGs serta memfokuskan peningkatan kesehatan pada daerah atau provinsi yang belum memiliki tingkat kesehatan yang baik, terutama di daerah timur Indonesia," ungkap Menkes.

Sementara Dr Khanchit Limpakarnjanarat, selaku Kepala perwakilan WHO untuk Indonesia mengatakan telah banyak hal yang didapatkan melalui kerja sama ini. Dia mencontohkan WHO membantu dalam hal pembuatan kurikulum pendidikan dokter, program imunisasi BCG, program keluarga berencana, FETP (Field Epidemiology Training Pragramme), kesehatan lingkungan, pemberantasan polio serta pandemik epicenter yang pernah dilakukan di Bali dan Makassar. "Selain itu juga mengadopsi pedoman kesehatan dari luar untuk diterapkan di Indonesia, berbagi pengalaman dengan negara lainnya sesama anggota WHO serta memperbaiki peningkatan akses untuk fasilitas kesehatan," ujar Dr Khanchit.

Baik Menkes maupun Dr Khanchit berharap hubungan selama 60 tahun ini bisa lebih memberikan hasil-hasil yang nyata untuk menunju masyarakat sehat. "Bagi manusia, umumnya kunci kelanggengan 60 tahun pernikahan adalah saling memahami dan mendukung. Hal yang sama juga saya lihat pada hubungan antara pemerintah Indonesia dan WHO," ujar Dr Khanchit. Indonesia resmi menjadi anggota WHO pada 23 Mei 1950. Hingga saat ini Indonesia sudah bergabung dengan 10 negara lain yang berada di wilayah Asia Tenggara. "Diharapkan kerjasama ini terus berlanjut dan terus berkontribusi khususnya untuk mencapai masyarakat Indonesia yang sehat, mandiri dan berkeadilan," pungkas Dr Endang.


Last edited by gitahafas on Thu Jun 28, 2012 8:33 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Wed Jun 02, 2010 10:25 am

IMPLEMENTASI PRIMARY HEALTH CARE DI INDONESIA
“Primary Health Care (PHC) diperkenalkan oleh World Health Organization (WHO) sekitar tahun 70-an, dengan tujuan untuk meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas. Di Indonesia, PHC memiliki 3 (tiga) strategi utama, yaitu kerjasama multisektoral, partisipasi masyarakat, dan penerapan teknologi yang sesuai dengan kebutuhan dengan pelaksanaan di masyarakat”, ujar Menkes saat membuka secara resmi the 14 Medical Association of South East Asian Nation (MASEAN) Mid-term Meeting di Savoy Homann, Bandung (17/06).

Menurut Deklarasi Alma Ata (1978) PHC adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan. Pengertian ini sesuai dengan definisi Sistem Kesehatan Nasional (SKN) tahun 2009, yang menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan. Menurut Menkes, dalam mendukung strategi PHC yang pertama, Kementerian Kesehatan RI mengadopsi nilai inklusif, yang merupakan salah satu dari 5 nilai yang harus diterapkan dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan, yaitu pro-rakyat, inklusif, responsif, efektif, dan bersih.

Strategi PHC yang kedua, sejalan dengan misi Kementerian Kesehatan, yaitu 1. Meningkatkan derajat kesehatan masyarakat, melalui pemberdayaan masyarakat, termasuk swasta dan masyarakat madani; 2. Melindungi kesehatan masyarakat dengan menjamin tersedianya upaya kesehatan yang paripurna, merata bermutu dan berkeadilan; 3. Menjamin ketersediaan dan pemerataan sumber daya kesehatan; dan 4. Menciptakan tata kelola kepemerintahan yang baik. Di Indonesia, penyelenggaraan PHC dilaksanakan di Puskesmas dan jaringan yang berbasis komunitas dan partisipasi masyarakat, yaitu Poskesdes dan Posyandu yang ada di setiap wilayah kecamatan dan kelurahan.

Untuk strategi ketiga, Kementerian Kesehatan saat ini memiliki salah satu program yaitu saintifikasi jamu yang dimulai sejak tahun 2010 dan bertujuan untuk meningkatkan akses dan keterjangkauan masyarakat terhadap obat-obatan. Program ini memungkinkan jamu yang merupakan obat-obat herbal tradisional yang sudah lazim digunakan oleh masyarakat Indonesia, dapat teregister dan memiliki izin edar sehingga dapat diintegrasikan di dalam pelayanan kesehatan formal. Menkes menambahkan, untuk mencapai keberhasilan penyelenggaraan PHC bagi masyarakat, diperlukan kerjasama baik lintas sektoral maupun regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara. “Karena itu, tema pertemuan “The Role of Primary Health Care Towards Population Health in ASEAN” sejalan dengan upaya yang dilakukan oleh Kementerian Kesehatan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat” ujar Menkes.

Hadir dalam acara tersebut, Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI), dr. Prijo Sidipratomo; Chairman of MASEAN, Prof. Kyaw Myint Naing; dan perwakilan sekretariat ASEAN divisi Non Communicable Disease, dr. Ferdinal Fernando; serta sejumlah delegasi asosiasi medis yang berasal dari 7 negara (Singapura, Thailand, Malaysia, Filipina, Vietnam, Myanmar dan Indonesia). MASEAN atau Medical Association of South East Asian Nation dibentuk pada tahun 1980 di Penang, Malaysia dan mendapat persetujuan dari ASEAN pada tanggal 30 Januari 1981 dengan status kerjasama non-pemerintah.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail kontak@depkes.go.id, info@depkes.go.id


Last edited by gitahafas on Mon Jul 02, 2012 10:24 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Sat Jun 05, 2010 9:05 pm

REFORMASI PRIMARY HEALTH CARE
Di masa depan Puskesmas sebaiknya tidak hanya dibina oleh Dinkes Kab/kota terkait kegiatan Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM), tapi juga perlu dibina oleh RS Kab/kota terkait Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). Hal tersebut disampaikan Menteri Kesehatan dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr.PH saat memberikan keynote speech yang bertema “Reforming Primary Health Care In Indonesia” pada Kongres Nasional Perhimpunan Dokter Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia (PDK3MI) di Batu, Malang 21 Januari 2011.

Menurut Menkes, Puskesmas sebagai focal point Primary Health Care (PHC) dibawahnya terdapat Puskesmas Pembantu (Pustu), Puskesmas Keliling (Pusling), Dokter Praktik dan Bidan Praktik. Di tingkat desa terdapat Polindes, Poskesdes, Posyandu, Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Bina Keluarga Balita (BKB). Di tingkat supra-sistemnya terdapat Dinkes Kab/kota dan RS Kab/kota. Berkaitan dengan hal itu Menkes mengharapkan kepada dokter yang tergabung dalam PDK3MI dapat memberikan masukan dalam merevitalisasi PHC.

Masalah yang dihadapi dalam proses terkait PHC, antara lain setelah otonomi daerah, Puskesmas dinilai masih berat ke kuratif. Perlu diidentifikasi lagi apakah front line atau ujung tombak pelaksana public health yang tepat adalah di tingkat Puskesmas atau tingkat Poskesdes/Polindes. Di Thailand dan Malaysia posisinya di Klinik Desa. Selanjutnya, perlu dikaji lagi bagaimana remunerasi yang tepat untuk tenaga kesehatan. Apakah dalam bentuk gaji atau dengan model kontrak kinerja. Juga perlu dipikirkan struktur organisasi Puskesmas yang tanggap terhadap upaya public health, misalnya memisahkan UKP dan UKM. Karena itu Menkes mengharapkan para dokter yang tergabung dalam PDK3MI memberikan masukan dalam melakukan reformasi PHC.

Reformasi PHC yang mengadopsi pendekatan WHO dalam the WHO Annual Report 2008 dengan judul: “Primary Health Care, Now More Than Ever”, terdiri empat pilar yaitu :
• Reformasi pembiayaan kesehatan, pembiayaan pemerintah lebih diarahkan pada upaya kesehatan masyarakat (public goods) dan pelayanan kesehatan bagi orang miskin.
• Reformasi kebijakan kesehatan, kebijakan kesehatan harus berbasis fakta (evidence based public health policy)
• Reformasi kepemimpinan kesehatan (kepemimpinan kesehatan harus bersifat inklusif, partisipatif, dan mampu menggerakkan lintas sektor melalui kompetensi advokasi)
• Reformasi pelayanan kesehatan (pelayanan kesehatan dasar harus mengembangkan sistem yang kokoh dalam konteks puskesmas dengan jejaringnya serta dengan suprasistemnya (Dinkes Kab/kota, dan RS Kab/Kota).

Di masa mendatang PHC yang diinginkan adalah : Puskesmas berfungsi sebagai pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan; pusat pemberdayaan masyarakat; pusat pelayanan kesehatan komprehensif di strata pertama dan (UKM dan UKP). Disamping itu Upaya Kesehatan Berbasis Masyarakat (UKBM) dapat berjalan secara lintas sektor, Puskesmas sebagai pembina teknis, terdapat alokasi anggaran yang cukup untuk upaya kesehatan masyarakat (public goods), serta terdapat sistem yang jelas mengenai peran Puskesmas dan jejaringnya termasuk dengan Dinkes Kab/Kota, RS Kab/Kota.

PHC (Deklarasi Alma Ata tahun 1978) adalah kontak pertama individu, keluarga, atau masyarakat dengan sistem pelayanan kesehatan. Pengertian ini sesuai dengan definisi SKN 2009, yang menyatakan bahwa Upaya Kesehatan Primer adalah upaya kesehatan dasar dimana terjadi kontak pertama perorangan atau masyarakat dengan pelayanan kesehatan sebagai proses awal pelayanan kesehatan langsung maupun pelayanan kesehatan penunjang, dengan mekanisme rujukan timbal-balik. Termasuk penanggulangan bencana dan pelayanan gawat darurat. Pelaku PHC adalah Pemerintah dan/atau Swasta. Di jajaran Pemerintah, PHC dilaksanakan oleh Puskesmas dan jejaringnya. Sedangkan di kalangan swasta, PHC dilaksanakan oleh dokter praktik, bidan praktik, dan bahkan oleh pengobat tradisional (Battra).

Menkes menegaskan, dalam mereformasi PHC hendaknya selalu memperhatikan peraturan perundangan yang berlaku, baik yang terkait dengan kesehatan, keuangan, otonomi daerah, maupun lainnya. Dewasa ini, Indonesia mempunyai UU No 36 tahun 2010 tentang Kesehatan, UU No. 32 tahun 2004 tentang Otonomi Daerah, dan UU No. 33 tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah. Dari ketiga UU tersebut, titik berat otonomi berada di pemerintah Kab/kota, dan alokasi keuangan dari pemerintah pusat sudah diserahkan dalam bentuk Dana Alokasi Umum (DAU). Dengan sistem DAU, maka alokasi besaran anggaran kesehatan di APBD Kabupaten/Kota sangat bergantung kepada interaksi politik antara pihak eksekutif, yaitu Dinkes Kab/Kota, Bupati/Walikota dan pihak legislatif, yaitu DPRD.

Di samping itu dalam konteks posisi PHC juga harus memperhatikan SKN tahun 2009. Selanjutnya, dalam mendisain kegiatan juga harus memperhatikan indikator-indikator dalam Standar Pelayanan Minimal Kesehatan.

Sejalan dengan berlakunya UU Otonomi Daerah, Puskesmas tidak lagi menjalankan program pokok yang seragam. Berdasarkan Kepmenkes No.128/2004 tentang Kebijakan Dasar Puskesmas, program Puskesmas terbagi dua, yakni program wajib dan program pengembangan. Program wajib terdiri dari enam program pokok (six basics), yakni promosi kesehatan, kesehatan lingkungan, perbaikan gizi, pemberantasan penyakit menular, KIA dan KB, serta pengobatan dasar. Bila diperlukan penambahan Program Puskesmas, maka program tersebut disebut program pengembangan sesuai kebutuhan lokal atau lokal spesifik.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon : 021-52907416-9, faks : 52921669, Call Center : 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id


Last edited by gitahafas on Mon Jul 02, 2012 10:13 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Mon Jun 07, 2010 12:23 pm

MENKES BEBERKAN PROGRAM PRIORITAS KEMENKES 2011
Dalam Rapat Kerja dengan Komisi IX DPR-RI tanggal 18 Januari 2010 di Jakarta, Menkes dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, Dr. PH, selain memaparkan evaluasi Kinerja Tahun 2010 juga membeberkan 5 prioritas program pembangunan kesehatan Tahun 2011. Dalam Raker yang juga dihadiri para pejabat Eselon I dan II tersebut, Imam Soeroso dari Fraksi PDIP menanyakan penyakit yang diderita dr. Endang Rahayu Sedyaningsih. Pertanyaan ini langsung memancing interupsi Dhiana Anwar dari Fraksi Partai Demokrat (FD) yang menyatakan anggota FD akan walkout bila dalam Raker membahas hal-hal pribadi. “ Interupsi Ketua, mohon maaf Ibu Endang ke sini mewakili pemerintah, jangan sangkut pautkan dengan masalah pribadi”, ucap Dhiana.

Menurut Menkes, sesuai Perpres No. 29 Tahun 2010 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2011, terdapat 5 kebijakan program prioritas. Pertama, pelaksanaan program kesehatan preventif terpadu yang meliputi pemberian imunisasi dasar, penyediaan akses sumber air bersih dan akses terhadap sanitasi dasar berkualitas, penurunan tingkat kematian ibu, serta tingkat kematian bayi. Kedua, Revitalisasi progam KB melalui peningkatan kualitas dan jangkauan layanan KB. Ketiga, peningkatan sarana kesehatan melalui penyediaan dan peningkatan kualitas layanan rumah sakit berakreditasi internasional.Keempat, peningkatan ketersediaan dan keterjangkauan obat terutama obat esensial generik. Kelima, Universal coverage (cakupan pembiayaan kesehatan untuk semua penduduk).

Ditambahkan, untuk mendukung program tersebut Kementerian Kesehatan memperoleh anggaran sebesar 27,6 Triliun yang diperuntukkan pada 8 program, yaitu : Dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya Kemenkes Rp. 2,81 Triliun; Pengawasan dan peningkatan akuntabilitas aparatur Kemenkes Rp. 88 Milyar; Bina Gizi dan KIA Rp. 1,87 Triliun; Pembinaan Upaya Kesehatan Rp. 16,47 Triliun; Pengendalian penyakit dan penyehatan lingkungan Rp. 1,62 Triliun; Kefarmasian dan alat kesehatan Rp. 1,45 Triliun; Penelitian dan pengembangan kesehatan Rp. 540 Milyar; Pengembangan dan pemberdayaan SDM Kesehatan Rp. 2,78 Triliun.

Sedangkan anggaran prioritas pada tahun 2011 meliputi : Jamkesmas sebesar Rp. 5,125 Triliun; Jampersal sebesar Rp. 1,223 Triliun; Bantuan Operasional sebesar Rp. 904 Miliar; Gaji, termasuk untuk PTT sebesar Rp. 3,929 Triliun; Dana Pendidikan sebesar 1,924 Triliun; Dana Dekonsentrasi sebesar Rp. 798 Miliar; Dana Tugas Pembantuan sebesar Rp.2,981 Triliun; Obat dab Vaksin sebesar Rp. 1,22 Triliun; Riset Fasilitas Kesehatan sebesar Rp.147 Miliar, ujar Menkes.
Selanjutnya Menkes menegaskan, dalam upaya mengantisipasi berbagai tantangan yang terjadi, maka pada tahun 2011 Kementerian Kesehatan telah menyusun 7 kegiatan unggulan.

1.Revitalisasi pelayanan kesehatan. Komponen penunjang kegiatan ini adalah Peningkatan sarana prasarana kesehatan rujukan: 450 RSUD Provinsi/Kab/Kota, Peningkatan sarana dan prasarana pelayanan kesehatan dasar di 397 kab/kota.

2.Ketersediaan, distribusi, retensi dan mutu SDM yang teriri dari Beasiswa/Tugas Belajar: pendidikan dokter spesialis sebanyak 1.040, Pendayagunaan dokter residen akhir sebanyak 1.550 orang, Pengangkatan tenaga PTT: dokter 4.543 (naik 59% dari 2010), drg 1.344 (naik 58% dari 2010), bidan 30.901 (naik 8% dari 2010).

3. Ketersediaan, distribusi, keamanan, mutu, efektivitas, keterjangkauan obat, vaksin, alkes. Kegiatan ini terdiri dari bantuan buffer stock obat/instalasi farmasi di 476 Kab/Kota, terlaksananya tahap pertama pengobatan dgn Jamu di 60 Puskesmas dan 12 RS, dan 115 kab/kota melakukan E-logistic obat.

4.Kegiatan unggulan selanjutnya adalah Jaminan Kesehatan Untuk 76,4 juta penduduk miskin disertai peningkatan/perluasan kelas III di 93 RS dan peningkatan 85 RS Fasilitas kesehatan yang menangani Jamkes sehingga total menjadi 1.100 RS.

5.Inovasi terbaru yang dilakukan pada tahun 2011 adalah Jaminan Persalinan berupa penyediaan alokasi anggaran untuk paket persalinan dgn sasaran 2,5 juta ibu hamil di seluruh Indonesia diharapkan mampu mempercepat pencapaian angka kematian Ibu dan bayi di Indonesia.

6. Keberpihakan pada Daerah Terpencil, Perbatasan, Kepulauan (DTPK) dan Daerah Bermasalah Kesehatan (DBK), kegiatan ini terdiri dari Flying health care di provinsi Maluku, Maluku Utara, Papua, Papua Barat; peningkatan sarana prasarana di 99 Puskesmas dan jaringannya di daerah perbatasan;dan penempatan tenaga kesehatan di DTPK sebanyak 2.445 orang. Peningkatan bantuan Operasional Kesehatan (BOK) Provinsi Maluku dan Malut, senilai Rp 200 juta/Puskesmas/tahun; Provinsi NTB, NTT, Papua, Papua Barat, senilai Rp 250 juta/Puskesmas/tahun.

7.World Class Health Care, telah ada 3 Rumah Sakit yang lulus akreditasi internasional dari Joint Commite International (JCI). Pada tahun 2011 disiapkan 3 RS Pemerintah untuk akreditasi JCI, yaitu RSCM, RS Sanglah dan RSPAD Gatot Subroto. Disamping itu akan dilakukan penyempurnaan sistem akreditasi dengan ISQUA (International Society for Quality in Health Care) serta Peningkatan bantuan akreditasi RS publik di wilayah Indonesia Timur sebanyak 66 RS.

Alokasi BOK
Menkes menambahkan, pada tahun 2011, telah dialokasikan dana BOK sebesar 904.250 Milyar, yang diperuntukkan pada2.271 Puskesmas di Pulau Sumatera dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 75 juta; 3.617 Puskesmas di Pulau Jawa-Bali dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 75 Juta; 836 Puskesmas di Pulau Kalimantan dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 100 Juta; 1.126 Puskesmas di Pulau Sulawesi dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 100 juta; 256 Puskesmas di Pulau Maluku dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 200 juta; 458 Puskesmas di NTT dan NTB dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 250 juta; 403 Puskesmas di Papua dengan besaran alokasi per puskesmas sebesar Rp. 250 juta. Selain itu, untuk beberapa kabupaten/kota yang alokasi anggaran manajemennya di bawah 50 juta, diberikan tambahan dengan total anggaran sebesar Rp. 305 juta.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik, Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi melalui nomor telepon: 021-52907416-9, faks: 52921669, Call Center: 021-500567, 30413700, atau alamat e-mail : puskom.publik@yahoo.co.id


Last edited by gitahafas on Mon Jul 02, 2012 1:04 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Numpang Lewat   Sat Jun 12, 2010 9:57 am

SELURUH PUSKESMAS DAPAT BANTUAN DANA OPERASIONAL Rp 75 - 250 JUTA
Jumat, 21/01/2011 16:33 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Seluruh Puskesmas akan mendapatkan dana bantuan operasional kesehatan (BOK) untuk menunjang akses pelayanan kesehatan. Tahun ini dana BOK yang diterima antara Rp 75-250 juta atau meningkat dibanding tahun lalu. Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) adalah bantuan dana dari pemerintah melalui Kementerian kesehatan dalam membantu pemerintahan kabupaten/kota untuk melaksanakan pelayanan kesehatan sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) kesehatan menuju MDGs. Dana ini nantinya digunakan untuk meningkatkan kinerja Puskesmas dan jaringannya dalam menyelenggarakan pelayanan kesehatan promotif dan preventif. Pada pertengahan tahun 2010 lalu telah diujicobakan dana BOK ini ke sejumlah Puskesmas yaitu 303 Puskesmas yang dijadikan ujicoba mendapat bantuan sebesar Rp 100 juta setahun. Sedangkan sisa puskesmas lainnya tetap mendapatkan bantuan juga sebesar Rp 22 juta untuk puskesmas wilayah timur dan Rp 18 juta untuk puskesmas wilayah barat. "Untuk dana BOK tahun 2011 ini tidak langsung diberikan ke Puskesmas tapi dikelola oleh Dinkes kabupaten Kota yang disesuaikan dengan kondisinya, karena dana BOK yang lalu 22 juta sudah habis dalam waktu sebulan," ujar Dr Wistianto Wisnu, MPH, Ses Ditjen Bina Gizi dan KIA (Kesehatan Ibu dan Anak) Kemenkes, dalam acara temu media di Gedung Kemenkes, Jakarta, Jumat (21/1/2011). Dr Wisnu menuturkan ada beberapa hal yang dipertimbangkan untuk menentukan jumlah dana BOK yang diberikan yaitu jumlah penduduk, indeks pembangunan manusia, tingkat kemahalan konsumsi dan tingkat kesulitan wilayah atau daerah geografisnya. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Litbang didapatkan alokasi dana BOK untuk tahun 2011 mengalami peningkatan yaitu:

1. Sumatera ada sekitar 2.271 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta
2. Jawa-Bali ada sekitar 3.617 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 75 juta
3. Kalimantan ada sekitar 836 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta
4. Sulawesi ada sekitar 1.126 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 100 juta
5. Maluku ada sekitar 256 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 200 juta
6. Nusa Tenggara ada sekitar 458 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta
7. Papua ada sekitar 403 Puskesmas rata-rata mendapatkan dana BOK sebesar Rp 250 juta

"Targetnya akhir Februari dana tersebut sudah ada di Kabupaten yang diberikan sekaligus dan mudah-mudahan bisa terealisasi dengan baik. Untuk sosialisasinya sudah dilakukan dengan menggunakan dana yang ada," ungkapnya. Pemanfaatan dana BOK ini sebesar 10 persen (maksimal) untuk manajemen kabupaten atau kota, sedangkan 90 persennya untuk dana BOK Puskesmas yang digunakan untuk operasional Puskesmas (85 persen) dan pemeliharaan ringan Puskesmas (5 persen). Fokus penggunaan dana BOK ini adalah untuk usaha preventif dan promotif, seperti meningkatkan akses pelayanan kesehatan, petugas mengunjungi rumah-rumah warga, melakukan pelatihan di Posyandu, melakukan penyuluhan-penyuluhan di sekolah, melakukan loka karya mini sekali sebulan di Puskesmas dan 3 bulan sekali di lintas sektor seperti dikecamatan serta pemantauan jentik nyamuk. "Nantinya tiap Puskesmas membuat laporan penggunaan uang atau pertanggung jawaban di tingkat kabupaten, serta melakukan evaluasi secara spesifik ditiap-tiap daerah dengan memilih beberapa Puskesmas yang dinilai bisa mewakili regional tertentu," ujar Dr Wisti. Dr Wisti menuturkan diharapkan para pihak yang menerima dana BOK ini bisa menggunakannya dengan baik, dan nantinya ada pengawasan-pengawasan secara lembaga dari Inspektorat Jenderal dan juga BPK.


Last edited by gitahafas on Mon Jul 02, 2012 10:25 am; edited 9 times in total
Back to top Go down
 
Numpang Lewat
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 51Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 28 ... 51  Next
 Similar topics
-
» Menjawab Fitnah:Apakah Nabi Muhammad bersenggama dengan sepupunya (Umi Hani)?
» Seorang Dosen Guru Besar Tafsir al-quran masuk Kristen
» numpang tanya

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: