Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Asal Tahu Saja

Go down 
Go to page : Previous  1 ... 26 ... 49, 50, 51  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu May 23, 2013 10:16 am

PENGEMBANGAN DAN PEMBERDAYAAN SDM DALAM PELAYANAN KESEHATAN
Jakarta, 26 April 2013
Pembangunan kesehatan adalah bagian integral dari pembangunan kesejahteraan bangsa yang berkesinambungan dan kesehatan adalah hak asasi setiap warga negara. Oleh karena itu, setiap individu, keluarga, dan masyarakat berhak memperoleh perlindungan kesehatan, termasuk masyarakat miskin dan tidak mampu. Pembangunan Nasional yang telah berjalan selama beberapa dasa-warsa, menghasilkan banyak kemajuan bagi masyarakat Indonesia, termasuk membaiknya tingkat sosial ekonomi penduduk. Perkembangan ini, diiringi derasnya arus globalisasi,mengakibatkan munculnya berbagai tantangan seperti: persaingan antar negara dan permintaan mutu pelayanan kesehatan yang meningkat oleh dokter dan dokter gigi yang berkualitas. Demikian disampaikan Menteri Kesehatan RI dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH pada acara Peresmian Gedung Kantor Konsil Kedokteran Indonesia (KKI) dan memperingati sewindu KKI yang dihadiri oleh para Mantan Menkes RI, para Ketua dan Wakil Organisasi Profesi, para pejabat eselon I, II Kemenkes, Pimpinan dan Anggota Majelis Kehormatan Disiplin, Kedokteran Indonesia, Pimpinan dan Anggota Konsil Kedokteran Indonesia (27/3) di Jakarta. Dalam Undang-Undang Nomor 29 tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, mengamanatkan bahwa Konsil Kedokteran Indonesia mempunyai fungsi pengaturan, pengesahan, penetapan standar pembinaan dokter dan dokter gigi. Oleh karena itu, peran KKI sangat penting dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan medis yang diberikan oleh dokter dan dokter gigi termasuk spesialis. Adapun tantangan-tantangan yang perlu disikapi dengan mewujudkan peningkatan mutu SDM Kesehatan dalam praktik kedokteran dan pengembangan kapasitas SDM Kesehatan melalui Standarisasi Profesi bidang kesehatan sebagai dukungan dan kerjasama para pemangku kepentingan. Dengan demikian, akan terwujud standar profesional yang tinggi dalam pelayanan kesehatan, jelas Menkes. Pada kesempatan yang istimewa ini, Menkes mengharapkan dukungan KKI yang telah disahkannya Standar Pendidikan Profesi Dokter dan Standar Kompetensi Dokter Indonesia pada tahun 2012, sebagai revisi dari standar yang disahkan tahun 2006. Diharapkan pendidikan dokter di seluruh Indonesia diakui secara Internasional, memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan dan bermutu, serta mampu melindungi masyarakat.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu May 23, 2013 10:17 am

BALITBANGKES PAPARKAN HASIL THE GLOBAL BURDEN OF DISEASE
Jakarta, 30 April 2013
Hari ini (30/4), peneliti Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) Kemenkes RI memaparkan hasil The Global Burden of Disease (GBD) Study 2010, dalam Seminar Hasil Studi Beban Penyakit, Trauma dan Faktor Risiko di Indonesia tahun 2010: Tingkat dan Kecenderungan, di Jakarta. Pendekatan GBD merupakan upaya sistimatik dan ilmiah untuk mengkuantifikasikan besarnya kehilangan usia produktif karena penyakit menular dan tidak menular (kronik-degeneratif), trauma (injury) dan faktor risiko menurut usia, jenis kelamin dan geografis pada suatu waktu tertentu. Pendekatan ini digunakan sebagai standar dalam penilaian keadaan kesehatan suatu negara atau wilayah tertentu; dasar menetapkan prioritas alokasi sumber daya; menentukan prioritas penelitian kesehatan; serta untuk membandingkan kemajuan suatu negara dengan negara lainnya yang setara (benchmarking). Pendekatan GBD memberi estimasi tingkat kematian prematur dan disabilitas yang disebabkan oleh 291 penyakit dan trauma, 1.160 sequelae (disabilitas) sebagai akibat langsung penyakit dan trauma, serta 67 faktor risiko menurut golongan umur dan jenis kelamin. Faktor risiko dimaksud adalah diet yang tidak sehat, tekanan darah tinggi, perilaku merokok, polusi udara di rumah, tingginya kadar glukosa darah puasa, kurang aktivitas fisik, obesitas, kurangnya zat besi (Fe), kadar kolesterol total tinggi, penggunaan alkohol dan narkoba, kurang gizi pada anak, pemberian ASI yang suboptimal, risiko karena pekerjaan, dan lain-lain. Estimasi beban penyakit dan faktor risiko ini perlu dimutahirkan dengan data dan informasi terbaru, agar dapat member bukti (evidence) pada saat diperlukan. Pendekatan GBD atau disebut juga Studi Beban Penyakit dimaksudkan untuk menciptakan “global public good” yang dapat memberi masukan yang tepat dalam penyusunan kebijakan kesehatan masyarakat pada tingkat nasional ataupun regional.

Di Indonesia dan negara berkembang lainnya, dalam dua dasawarsa terakhir, telah terjadi transisi kesehatan. Hal ini dikarenakan usia harapan hidup yang bertambah, meningkatnya jumlah penduduk usia lanjut dan meningkatnya insidens Penyakit Tidak Menular (PTM). Indonesia telah berhasil menurunkan angka kematian bayi dan anak, sehingga komponen disabilitas pada beban penyakit telah menggantikan komponen kematian prematur (kematian sebelum waktunya atau dibawah umur harapan hidup). Penyebab utama dari kematian prematur, berubah dari penyakit menular (khususnya pada bayi dan anak), menjadi penyakit tidak menular pada orang dewasa; seperti stroke, penyakit jantung koroner, diabetes mellitus dan trauma/kecelakaan. Kematian prematur juga disebabkan oleh penyakit menular seperti tuberkulosis, diare, pneumonia dan kecelakaan lalu-lintas jalan. Saat ini, “kelebihan berat” dan obesitas telah menggantikan “kurang gizi” sebagai faktor risiko penyakit. Sedangkan gangguan disabilitas didominasi oleh gangguan mental dan perilaku, trauma lalu-lintas, dan penyakit kronik saluran pernapasan. Studi ini juga menemukan penurunan tingkat kematian terbesar untuk semua faktor risiko, terjadi pada anak laki-laki berusia 1-4 tahun, yaitu mencapai 71%. Sementara pada tingkat kematian orang dewasa laki-laki usia 35-39 tahun terdapat peningkatan 5%.

Perbandingan beban penyakit pada 1990 dengan 2010, telah terjadi penurunan bermakna pada jenis penyakit Pneumonia, Diare, Gangguan Kehamilan, Sepsis neonatal, Anemia defisiensi besi dan tuberkulosis. Sementara pada tahun 2010, penyumbang tertinggi dari beban penyakit adalah stroke, tuberkulosis dan kecelakaan lalu-lintas. Berdasarkan hasil studi tersebut, Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk mengurangi faktor risiko utama penyakit khususnya penyakit tidak menular, yaitu diet sehat dengan mengurangi konsumsi garam untuk mengendalikan tekanan darah agar tetap normal, serta mengurangi asupan gula atau konsumsi makanan manis untuk mencegah penyakit Diabetes Millitus. Selain itu, penting juga dilakukan pengendalian perilaku merokok. Seminar Hasil Studi GBD bertujuan untuk menyebarluaskan informasi berbasis bukti mengenai Beban Penyakit, Trauma dan Faktor Risiko di Indonesia, sebagai masukan bagi Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) sektor kesehatan tahun 2015–2019. Selain itu, dapat menggambarkan besarnya masalah kesehatan utama, perubahan yang terjadi dibandingkan keadaan tahun 1990, faktor risiko utama yang dapat dicegah, kinerja sistem kesehatan yang berkaitan dan bench-marking dengan negara yang sebanding. Kegiatan seminar dihadiri oleh Staf Ahli Menteri Kesehatan RI Bidang Teknologi Kesehatan dan Globalisasi, Prof. Dr. dr. Agus Purwadianto, SH, MSi, Sp.F(K); Kepala Pusat Humaniora, Kebijakan Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat, Balitbangkes Kemenkes RI, drg. Agus Suprapto, M.Kes; Peneliti Utama Balitbangkes Kemenkes RI, dr. Soewarta Kosen, MPH, Dr.PH; perwakilan dari Institute of Health Metrics and Evaluation (IHME), University of Washington, Seattle USA, Christopher J.L. Murray, MD, Ph.D; dan perwakilan dari University of Melbourne, Prof. Alan Coper.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan e-mail kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Mon Jun 10, 2013 9:05 pm

BELAJAR DARI KELELAHAN TAUFIK KIEMAS
Dwi Indah Nurcahyani - Okezone SENIN, 10 JUNI 2013 18:30 wib
KEPERGIAN Taufik Kiemas di usia ke 70 tahun pada Sabtu, 8 Juni 2013 yang diawali karena kelelahan membuahkan hikmah tersendiri bagi kita semua. Bahwa sesungguhnya, faktor kelelahan tak bisa dianggap sepele, khususnya bagi mereka yang memiliki penyakit kronis. Seperti diketahui, sebelum meninggal, Taufik Kiemas sempat mendampingi Wapres Boediono ke Ende, NTT untuk merayakan hari lahir Pancasila. Usai menghadiri acara tersebut, Taufik dirawat di rumah sakit di Singapura karena kelelahan. Dalam riwayat kesehatannya, suami Megawati Sokarnoputri itu diketahui memiliki gangguan dengan jantung beberapa tahun terakhir. Bahkan, Taufik sempat menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung pada 2005. Menilik mengenai permasalahan kelelahan, kesibukan kerja dan berbagai rutinitas lain tak ditampik membuat waktu istirahat minim. Bahkan tak jarang, hari libur pun dikorbankan untuk menjalani rutinitas. Padahal seharusnya, waktu libur harus dimanfaatkan untuk beristirahat. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD, K-GEH, MMB dalam rilisnya memaparkan bahwa hari libur sesungguhnya dimanfaatkan sebaik mungkin untuk beristirahat. "Kita diberi hari libur untuk beristirahat, cuma masalahnya apakah kita benar-benar memanfaatkan hari libur untuk beristirahat. Jika tubuh tidak diberi kesempatan untuk beristirahat maka tubuh akan mengalami kelelahan. Kelelahan dapat menurunkan daya tahan tubuh turun dan mencetuskan kambuhnya berbagai penyakit kronis yang kita miliki. Kita sering mendengar bahwa seseorang mengalami infeksi karena dicetuskan oleh karena kelelahan atau pennyakit kronisnya kambuh karena kelelahan,"katanya. Selain pemanfaatan libur untuk istirahat, faktor usia juga seharusnya menjadi tolak ukur seseorang dalam melakukan aktivitas. Apalagi, banyak orang seringkali melupakan faktor ini. "Kadang kala kita lupa faktor umur merupakan salah satu faktor bagi seseorang untuk mulai mengalami keterbatasan dalam melakukan aktivitas. Pertanyaan klasik yang sering kali timbul dari pasien: Dok kok saya cepat lelah dan tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa padahal pada saat muda semua pekerjaan bisa saya kerjakan,"ujarnya memaparkan realita yang terjadi di masyarakat. Faktor usia memang tak ditampik menjadi poin penting untuk menakar sejauhmana kegiatan kita lakukan. Pasalnya, makin lanjut usia maka aktivitas pun tak akan segesit saat usia masih muda. "Rambut putih, kondisi fisik yang mulai melemah, aktivitas seksual yang menurun bisa menjadi patokan bahwa seseorang sudah semakin tua dan sudah mengalami hendaya untuk melakukan aktivitas,"tegasnya.

Usia di atas 60 rentan berbagai penyakit
Umur di atas 60 tahun berhubungan dengan berbagai risiko penyakit. Berbagai penyakit kanker menggunakan batasan umur 60 tahun untuk menentukan peningkatan risiko penyakit kanker. Gangguan pada lambung dan saluran pencernaan akan meningkat pada pasien yang berusia 60 tahun jika menggunakan obat rematik. Jadi, usia 60 tahun menjadi parameter berbagai risiko penyakit. Pasien di atas 60 tahun juga berisiko untuk terjadinya penyakit kencing manis dan hipertensi. Kelompok umur di atas 60 tahun juga berisiko untuk terjadinya gangguan ginjal. Bertambahnya umur terutama di atas 60 tahun menjadi patokan bahwa akan ada faktor risiko yang kita dapat saat umur sudah di atas 60 tahun. Apalagi bagi seseorang yang sudah kita sebut sebagai pasien geriatri yaitu pasien dengan umur sudah di atas 60 tahun disertai gangguan multi patologi yaitu sudah menderita beberapa penyakit kronis. Kadang kala kita yang berada di sekitar pasien geriatri harus selalu mengingatkan pasien geriatri tersebut karena berpotensi mengalami kekambuhan penyakitnya. Kita harus menyadari bahwa kehidupan manusia ada tahapan-tahapannya dan disaat kita uzur maka tugas kita lebih banyak jadi penasehat dari pada pelaksana langsung. "Kalaupun jadi pelaksana dengan beban yang sudah minimal. Karena walau bagaimana orang yang sudah geriatri tetap diminta untuk selalu berpikir agar tidak mudah pikun (Alzheimer),"tandasnya. Penyakit kronis terutama sakit jantung apalagi pada seseorang yang sudah mengalami gagal jantung berulang memang selalu diminta untuk mengurangi aktivitasnya baik fisik maupun psikis. Jantung bekerja untuk memompa darah ke seluruh tubuh dan menerima darah dari seluruh tubuh untuk dikirim ke paru-paru untuk dibersihkan.

Kerja pompa jantung ini jelas dipengaruhi aktivitas dan asupan minum kita. Apalagi jika kerja pompa jantung sudah menurun, aktivitas fisik yang berat pasti akan memperberat kerja jantung dan bagi orang yang memang sudah mengalami gangguan jantung kerja fisik dapat menyebabkan sakit jantungnya kambuh. Sekali lagi orang sekitar berperan penting untuk mengingatkan pentingnya istirahat dan mengurangi aktivitas fisik bagi orang yang sudah mempunyai penyakit kronis terutama orang dengan sakit jantung. dr Ari bercerita bahwa berdasarkan pengalamannya sebagai internist, banyak pasien-pasien yang dirawat di rumah sakit dicetuskan dikarenakan kelelahan atau salah makan. "Seseorang yang mengalami stroke atau serangan jantung pasti ada yang mencetuskan kenapa pasien-pasien tersebut mengalami serangan stroke atau serangan jantung. Pasien dengan penyakit kronis yang mengalami kekambuhan penyakit juga umumnya penyakitnya kambuh karena dicetuskan karena kelelahan. Pasien-pasien dengan DHF atau Demam Thypoid, kalau ditanya lebih lanjut pasti ujung-ujungnya juga karena kurang istirahat dan makan tidak teratur,"sambungnya. Dengan sederet potensi risiko tersebut, disiplin untuk menggunakan hari libur sebagai waktu istirahat menjadi hal krusial yang perlu diterapkan. "Akhirnya kita selalu ingat bahwa adanya hari libur seharusnya bisa digunakan untuk istirahat kalaupun kita berlibur saat hari libur tetap dalam rangka beristirahat, tidur harus tetap dipertahankan lebih dari 6 jam, dan tidak tidur larut malam dan tetap mengonsumsi makanan sehat rendah lemak dan tinggi serat terutama sayur dan buah-buahan. Kadang kala liburan diisi dengan makanan enak tinggi kalori dan tinggi lemak yang akhirnya timbul masalah kesehatan setelah liburan,"sarannya. (tty)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jul 10, 2013 5:20 pm

PRESIDEN APRESIASI PRESTASI RSCM SEBAGAI RS PEMERINTAH PERTAMA DENGAN AKREDITASI JCI
Jakarta, 4 Juli 2013
Kamis pagi (4/7), Presiden RI, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu Ani Yudhoyono menyaksikan penyerahan sertifikat akreditasi Joint Commision International (JCI) dari Direktur Utama RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM), Dr. dr. C. Heriawan Soejono, Sp.PD, KGer, M.Epid kepada Menteri Kesehatan RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH pada kegiatan Apresiasi Akreditasi JCI RSCM bertempat di auditorium RSCM Kirana, Jakarta. Kegiatan tersebut juga dihadiri pula oleh Menteri Sekretaris Negara, Letjen TNI (Purn.) Sudi Silalahi; Gubernur DKI Jakarta, Ir. H. Joko Widodo; dan Utusan Khusus Presiden RI untuk Millenium Development Goals (MDGs), Prof. Dr. dr. Nila F. Moeloek, Sp.M (K). Dalam sambutannya, Presiden menyampaikan apresiasi tinggi atas prestasi RSCM menjadi RS Pemerintah pertama yang memperoleh akreditasi JCI pada April 2013 lalu. Menurutnya, pelayanan berstandar internasional dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap pelayanan RS, terutama RS Pemerintah. “Dengan pelayanan tersebut, kita dapat menahan arus masyarakat yang berobat ke luar negeri”, ujar Presiden SBY. Presiden juga mengharapkan seluruh jajaran direksi, manajemen, serta tim medis RSCM, dapat memberikan pelayanan yang profesional, berkualitas, dan mengacu pada pendekatan ”Better, Cheaper, Easier and Faster”. ”Berikanlah pelayanan yang lebih baik (better); Layanan yang mudah, cepat, dan tidak berbelit-belit (easier); Layanan yang lebih murah (cheaper) agar dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat; serta layanan yang cepat (faster) terutama bagi pasien yang dalam kondisi kritis” tambahnya. Berkaitan dengan hal tersebut, Menkes RI, dr. Nafsiah Mboi, Sp.A, MPH, menerangkan bahwa saat ini terdapat 8 RS di Indonesia yang telah berstandar Internasional. Dari jumlah tersebut, dua diantaranya merupakan RS Pemerintah, yaitu RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta dan RSUP Sanglah di Denpasar. Menkes berharap, akreditasi internasional yang berhasil diperoleh RS Pemerintah dapat menjadi momentum bahwa pelayanan kesehatan yang berkualitas tinggi juga diperuntukkan bagi seluruh lapisan masyarakat, khususnya masyarakat yang kurang mampu. ”Semoga hal ini dapat menjadi contoh serta semangat bagi rumah sakit lainnya untuk dapat meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan, yaitu pelayanan bagi mereka yang sakit dengan sepenuh hati”, tandas Menkes. JCI adalah sebuah badan akreditasi pelayanan kesehatan terbesar di Amerika Serikat. Selama lebih dari 75 tahun, JCI telah melakukan survey kepada sekitar 16 ribu penyelenggara pelayanan kesehatan di berbagai negara melalui proses akreditasi. Misi JCI adalah meningkatkan mutu dan keselamatan pelayanan kesehatan di komunitas internasional.

Berita ini disiarkan oleh Pusat Komunikasi Publik Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI. Untuk informasi lebih lanjut dapat menghubungi Halo Kemkes melalui nomor hotline <kode lokal> 500-567; SMS 081281562620, faksimili: (021) 52921669, website www.depkes.go.id dan alamat email kontak@depkes.go.id
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Mon Jul 15, 2013 4:48 pm

5 RISET MEDIS KONTROVERSIAL TETAPI TEPAT
Penulis : Unoviana Kartika | Senin, 15 Juli 2013 | 05:44 WIB
KOMPAS.com - Penemuan baru tak jarang menimbulkan kontroversi di tengah-tengah masyarakat, termasuk penemuan di bidang kesehatan. Bahkan kontroversi sebuah penelitian dapat membuat penemunya dikucilkan oleh berbagai kalangan. Namun seiring berkembangnya zaman, seringkali penemuan yang dulu dianggap tidak masuk akal justru menjadi benar. Hal itu bisa karena munculnya penelitian-penelitian lain yang menunjang penemuan tersebut, atau bertambah canggihnya teknologi sehingga dapat membuktikan teori kontroversial. Berikut merupakan lima penelitian di bidang medis yang pernah menjadi hal kontroversial dan dianggap salah, namun ternyata benar.

1. Merokok menyebabkan kanker paru
Studi yang menemukan hubungan antara merokok dan kanker paru pertama kali dilakukan di awal tahun 1939. Sayangnya, banyak dokter tidak sepakat dan mengatakan kanker lebih banyak disebabkan oleh faktor lain, seperti polusi udara. Teori ini kemudian dibenarkan di awal tahun 60-an.

2. Bakteri menyebabkan ulkus
Dokter asal Australia Robin Warren dan Barry Marshall mengidentifikasi hubungan antara Helicobacter pylori dan ulkus di tahun 1982. Namun para dokter lain berpendapat ulkus disebabkan karena stres dan/atau diet yang salah. Hingga pertengahan tahun 90-an, mereka baru membenarkan teori tersebut. Ulkus dikenal juga dengan ulcer yang merupakan luka terbuka yang terjadi di dalam lapisan perut, bagian atas usus kecil atau esophagus. Gejala yang paling umum dari kondisi ini adalah sakit perut.

3. Aspirin mengurangi risiko serangan jantung
Seorang dokter asal California bernama Lawrence Craven mempublikaskan hasil penelitiannya yang menunjukkan aspirin dapat menurunkan efek penyumbatan darah di pembuluh di tahun 1950. Namun teorinya belum diakui saat itu. Barulah setelah 40 tahun kemudian, teorinya mulai digunakan secara luas.

4. Radiasi dapat membahayakan
Para peneliti menemukan hubungan antara penggunaan sinar x dengan leukemia dan kanker jenis lain di tahun 1911. Namun prakteknya sinar X secara luas masih digunakan baik medis maupun non medis. Hingga pada tahun 1956, National Academy of Science menyatakan bahayanya radiasi sinar X.

5. Virus sebabkan kanker serviks
Akhir tahun 70-an, ahli virus asal Jerman Harald zur Hausen mempublikasi hasil penelitiannya tentang human papillomavirus (HPV) yang dapat menyebabkan kanker leher rahim atau serviks. Namun banyak peneliti lain mencemooh teorinya.
Hingga pada tahun 2008, Hausen memenangkan penghargaan Nobel untuk hasil penelitiannya. Dan kini sudah banyak orang yang sadar untuk melakukan vaksinasi HPV demi mencegah kanker serviks.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Sep 17, 2013 8:43 am

KENAPA ORANG INDONESIA SUKA BEROBAT KE SINGAPURA
SELASA, 17 SEPTEMBER 2013 | 05:06 WIB
TEMPO.CO , Jakarta: Orang Indonesia cenderung berobat ke luar negeri sampai tahun 2013 ini. Singapura merupakan Negara yang paling banyak didatangi pasien asal Indonesia. Mereka biasanya menganggap pelayanan kesehatan di sana lebih baik. Padahal Bambang Nursasongko, Spesialist in Conservative Dentistry Universitas Indonesia mengatakan kualitas antara Rumah Sakit (RS) Singapura dan Indonesia sama. Namun menjadi berbeda karena kurangnya sosialisasi tentang dokter dan pelayanan kesehatan di Indonesia. “RS Singapura melakukan promosi secara gencar soal kelebihan RS tersebut,” kata Bambang pada Tempo, Ahad, 16 September 2013. Selama ini di Indonesia promosi rumah sakit tabu dan melanggar kode etik kedokteran. Padahal Bambang mengatakan promosi yang gencar oleh RS Singapura mampu menciptakan paradigma kalau kualitas dan pelayanan kesehatan di negeri singa lebih baik. Padahal jika ditelusuri, dokter asal Singapura dan Malaysia sekolahnya di Indonesia. Sehingga secara tidak langsung kualitas dan SDM mereka pun bisa diukur. "Sebagian orang memilih berobat ke luar negeri karena gengsi," Bambang menjelaskan. "Orang kebanyakan merasa rugi membayar mahal jika berobat di Indonesia, lain halnya jika di luar negeri meskipun mahal akan tetap dijabani." Data Departemen Kesehatan memperkirakan setiap tahunnya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri menghabiskan biaya Rp100 triliun. Jumlahnya akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Kecenderungan orang Indonesia berobat ke luar negeri sangatlah besar, terutama di kalangan para selebritas. Mereka tak segan mengeluarkan biaya yang cukup pantastis. Seperti halnya rencana musisi Ahmad Dhani yang akan membawa putra bungsunya AQJ untuk berobat lanjutan ke Singapura.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Oct 10, 2013 4:15 pm

SERANGGA, MAKANAN POKOK MASA DEPAN?
Penulis : Rosmha Widiyani | Kamis, 10 Oktober 2013 | 11:49 WIB
KOMPAS.com — Hewan serangga tampaknya tak boleh lagi diremehkan. Binatang yang kerap dianggap hama ini kemungkinan dapat menjadi bahan pangan utama di dunia dalam beberapa tahun mendatang. Di Afrika, Asia, dan sebagian Amerika, praktik konsumsi serangga atau entomophagy dinilai lebih menguntungkan. Hal ini dikarenakan jumlah serangga lebih banyak dibanding sayur, buah, atau daging yang diperoleh dari hewan buruan dan hasil jebakan di alam liar. Walaupun masih tampak menjijikkan, masyarakat di dunia tercatat telah mengonsumsi setidaknya seribu jenis serangga sebagai bahan pangan. Entomophagy, menurut para ilmuwan, ternyata tak sebatas serangga. Hewan artropoda seperti tarantula, dan andmyriapoda seperti kaki seribu, juga tercakup. Namun, entomophagy tidak termasuk mengonsumsi krustasea, yang dianggap mewah di Amerika dan sebagian negara berkembang. Di beberapa negara, ada masyarakatnya yang terbiasa mengonsumsi jangkrik, kumbang, semut, dan beberapa jenis kumbang seperti mealworm. Mealworm sendiri harus ada untuk mengimbangi spesies ulat bulu dan kalajengking. Diperkirakan sekitar 2,5 miliar orang rutin mengonsumsi serangga sebagai salah satu sumber pangan. Saat ini para ilmuwan percaya, serangga ada sebagai langkah besar untuk penyediaan pangan dunia. Serangga dinilai sebagai solusi pangan paling tepat dan sesuai untuk mengimbangi jumlah manusia yang terus meningkat. Beberapa jenis serangga dipertimbangkan sebagai sumber pangan yang sehat dan kaya protein. Serangga juga merupakan sumber pangan paling baik untuk mengatasi kelaparan yang terjadi pada miliaran orang di India, Afrika, dan beberapa negara berkembang. Hal ini diperkuat dengan dimenangkannya suatu proposal bisnis dari para ilmuwan di Montreal’s McGill University, yang mengambil tema produksi dan distribusi pangan berbahan serangga. Saat ini mereka tengah mencari para petani yang bersedia membudidayakannya. Tim beranggotakan Mohammed Ashour, Shobhita Soor, Jesse Pearlstein, Zev Thompson, dan Gabe Mott tersebut juga memenangkan Hult Prize dari Clinton Global Initiative’s. Mereka telah bepergian ke Kenya, Meksiko, dan Thailand untuk melihat kemungkinan mengembangkan sumber pangan dari serangga lokal. Hal ini sekaligus mempertajam kesempatan memasarkan produk di kawasan tersebut. Menurut mereka, serangga juga bisa dibuat tepung untuk roti yang kaya protein, meskipun tergantung pada jenis serangga yang dihasilkan. "Kami sangat senang dengan kesempatan yang diberikan. Kami harap langkah ini membawa dampak besar bagi dunia," kata Soor. Hal serupa juga tengah dilakukan badan PBB dalam menyelesaikan masalah pangan dunia. Serangga dinilai dapat meningkatkan ketahanan pangan tanpa menimbulkan masalah lingkungan ataupun ekonomi. Serangga memang telah lama diincar sebagai bahan pangan alternatif. Dalam situsnya, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) menulis, serangga memiliki kandungan protein, lemak, dan mineral yang tinggi. Keberadaan serangga dinilai bisa menggantikan fungsi kedelai, jagung, kacang-kacangan, dan ikan. Serangga juga cepat bereproduksi sehingga diperkirakan tidak merugikan lingkungan. Dalam situsnya, FAO juga menulis serangga bukanlah pangan yang hanya diperuntukkan bagi masyarakat miskin. Sebagian masyarakat mengonsumsi serangga karena rasanya, bukan disebabkan ketiadaan bahan pangan lain. Terkait kemungkinan alergi yang ditimbulkan, hal ini bergantung pada ketahanan tubuh dan jenis serangga yang dikonsumsi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Oct 10, 2013 4:22 pm

INILAH 3 BAHAN PANGAN MASA DEPAN
Jumat, 31 Mei 2013 | 11:36 WIB
Kompas.com - Permintaan pangan diperkirakan meningkat sekitar 70 persen pada 2050. Untuk memenuhi kebutuhan itu, revolusi hijau difokuskan untuk membantu petani kecil. Kiranya tanaman pangan yang diproduksi dan dikembangkan dalam skala kecil itu hasilnya bakal berdampak signifikan sebagai sumber pangan. Inilah tiga sumber pangan yang bakal jadi priomadona di masa depan sebagaimana dipaparkan National Geograpic.

Kacang arab
Kacang chickpea atau kacang arab yang kaya protein tumbuh di lebih dari 50 negara mulai dari Mediterania sampai Asia Selatan. Jenis kacang ini juga memperkaya tanah dengan nitrogen, sehingga para petani bisa mengurangi pemakaian pupuk. Varietas baru kacang arab, yang dikembangkan agar dapat tumbuh di kondisi yang lebih keras dan dapat memberantas busuk daun, memungkinkan para petani di Asia dan Afrika meningkatkan hasil panen mereka. Kacang arab juga kaya kandungan nutrisi. Kandungan proteinnya lebih dari dua kali protein jagung. Sementara kandungan seratnya lebih dari empat kali serta beras merah.

Serangga
Serangga merupakan penganan yang bergizi. Jumlahnya pun melimpah dan seringkali renyah. Belalang, kumbang badak, dan rayap hanya sebagian dari lebih dari seribu spesies serangga yang dimakan di seluruh dunia. Kebanyakan dicari di alam liar. Tetapi seiring peningkatan harga pangan, peternakan serangga mungkin akan menjadi industri yang berkembang pesat.

Kentang
Bentuknya memang sederhana. Tetapi kentang merupakan sumber karbohidrat sehingga bisa menjadi makanan pokok pengganti nasi, roti, atau sagu. Sebagai produsen kentang terbanyak di dunia, Cina sedang memgembangkan benih kentang bebas penyakit dan varietas-varietas baru yang disesuaikan untuk berbagai iklim saat populasinya bertambah.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Oct 10, 2013 4:23 pm

5 SERANGGA BERGIZI TINGGI
Penulis : Lusia Kus Anna | Selasa, 27 Agustus 2013 | 14:03 WIB
Kompas.com — Organisasi pangan dan pertanian dunia (FAO) beberapa waktu lalu menyebut potensi serangga sebagai sumber pangan bergizi tinggi yang murah meriah dan tersedia melimpah di sekitar kita. Kenali apa saja serangga bergizi tinggi yang layak dicoba!

1. Jangkrik
Jangkrik sebenarnya sudah lama dikonsumsi oleh masyarakat di beberapa negara di Asia. Kandungan kalsiumnya yang tinggi membuat serangga ini paling banyak dikonsumsi. "Protein adalah nutrisi terbesar dari serangga, tetapi ada juga kandungan kalori, vitamin, dan mineral," kata May Berenbaum, kepala departeman entomologi dari Universitas Illinois di Urbana-Champaign.

2. Belalang
Bentuknya mirip dengan jangkrik, tetapi belalang memiliki antena lebih pendek dan lebih aktif di siang hari. Kandungan gizinya yang tinggi membuat belalang bisa menjadi pilihan camilan sehat. Kandungan protein dalam belalang hampir setara dengan sepotong dada ayam berukuran 100 gram, tetapi dengan lemak lebih banyak. Serangga ini terasa lebih lezat jika dipanggang atau dibumbui bawang putih, bawang, cabai, serta kecap.

3. Kepik air raksasa
Kepik air raksasa (giant water beetles) sering ditangkap oleh penduduk di wilayah pedesaan Thailand. Selain karena mudah ditemukan, serangga ini juga mengeluarkan bau yang sedap ketika dimasak. Kandungan proteinnya jauh lebih tinggi dibanding dengan kacang merah.

4. Semut merah
Semut merah dan telurnya sudah lama dikenal dalam kuliner di negara Timur. Selain mengandung protein tinggi, semut memiliki lemak lebih sedikit seperti halnya ikan. Meski begitu, mengumpulkan semut merah bukan perkara mudah karena hewan kecil ini cukup sakit jika menggigit.

5. Ulat daun
Ulat juga bukan serangga baru yang menjadi bahan makanan. Kandungan proteinnya yang tinggi menjadi keunggulan utama ulat untuk dikonsumsi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Oct 10, 2013 4:25 pm

PBB: MULAILAH KONSUMSI BANYAK SERANGGA
Senin, 13 Mei 2013 | 23:06 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com — Mengonsumsi serangga bisa menjadi cara untuk memerangi kelaparan di dunia. Demikian menurut sebuah laporan PBB terbaru. Laporan yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) itu juga mengatakan bahwa mengonsumsi serangga meningkatkan nutrisi konsumennya dan mengurangi polusi. FAO mencatat setidaknya dua miliar orang di seluruh dunia sudah mengonsumsi serangga sebagai variasi makanan sehari-hari mereka. Lebah, kumbang, dan serangga-serangga lainnya saat ini sudah menjadi makanan bagi manusia dan hewan ternak. FAO mengatakan, peternakan serangga adalah salah satu jalan untuk meningkatkan ketahanan pangan dunia. "Serangga ada di mana-mana dan mereka bereproduksi sangat cepat. Serangga memiliki pertumbuhan tertinggi, tetapi meninggalkan jejak lingkungan yang sangat rendah," demikian laporan FAO. Laporan itu juga menyebut serangga juga memiliki rasa yang lezat, tinggi kadar protein, serta memiliki kadar lemak dan mineral yang memadai. Serangga, lanjut FAO, bisa menjadi makanan pengganti yang penting, khususnya bagi anak-anak yang kekurangan gizi. Serangga juga sangat efisien saat diolah menjadi makanan. Sebagai contoh, jangkrik. Serangga ini membutuhkan jumlah makanan 12 kali lebih sedikit ketimbang hewan ternak besar untuk memproduksi kandungan protein yang sama. Selain itu, sebagian besar serangga juga menghasilkan gas rumah kaca berbahaya lebih kecil dibanding ternak lainnya. Serangga di sejumlah kawasan sudah menjadi makanan reguler. Namun, sebagian besar warga negara Barat masih menganggap serangga sangat menjijikkan untuk dikonsumsi. Laporan FAO itu juga menyarankan agar industri makanan dunia ikut mempromosikan dan meningkatkan status serangga dengan memasukkan mereka ke dalam resep baru dan menambahkan serangga ke dalam menu-menu restoran. Di beberapa belahan dunia, serangga bahkan sudah dianggap menjadi makanan sehari-hari. Misalnya, di Afrika bagian selatan, warga di sana menganggap ulat sebagai makanan mewah dan dijual dengan harga tinggi.
Back to top Go down
 
Asal Tahu Saja
Back to top 
Page 50 of 51Go to page : Previous  1 ... 26 ... 49, 50, 51  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: