Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Asal Tahu Saja

Go down 
Go to page : Previous  1 ... 25 ... 47, 48, 49, 50, 51  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Fri Jan 11, 2013 7:34 pm

KALAU TAK BUGAR JANGAN JENGUK PASIEN DI RS
Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 11 Januari 2013 | 10:31 WIB
Kompas.com - Tak banyak orang yang menyadari bahwa rumah sakit merupakan tempat paling potensial untuk terjangkitnya kuman. Penularan kuman bisa terjadi akibat interaksi yang berlangsung di rumah sakit. Karena itu mereka yang tubuhnya sedang tidak fit atau anak-anak tidak disarankan untuk membesuk pasien di rumah sakit. Meski rumah sakit merupakan sarang kuman, tetapi dalam survei yang dilakukan Unilever kepada para ibu yang memiliki anak usia di atas 4 tahun menunjukkan lebih banyak ibu yang merasa tidak takut membawa anak mereka berkunjung ke rumah sakit. Mereka lebih menganggap sekolah, rumah, dan tempat bermain sebagai tempat yang paling banyakt terdapat kumannya. "Rumah sakit sebenarnya adalah tempat berkumpulnya kuman. Jika tidak higienis, infeksi kuman bisa terjadi dari dokter ke pasien, pasien ke dokter, antar pasien, dari pasien ke pengunjung, atau dari pengunjung ke pasien," kata Dr.Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) di Jakarta, Kamis (10/1/13). Merujuk pola 10 penyakit terbanyak pada pasein rawat inap dan rawat jalan, maka kuman yang paling banyak ada di rumah sakit adalah yang berkaitan dengan penyakit infeksi menular seperti diare, ISPA, dan kulit. Diare menempati posisi teratas untuk pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap, sedangkan untuk pasien rawat jalan, penyakit infeksi saluran nafas bagian atas, penyakit kulit, dan diare termasuk empat besar dalam pola 10 penyakit terbanyak. Karena itu jika kita sedang tidak merasa fit atau daya tahan tubuh sedang lemah misalnya karena menderita flu berat sebaiknya tidak usah melakukan kunjungan ke rumah sakit. "Kalau memang terpaksa harus menjenguk pasien, lakukan tindakan pencegahan infeksi dengan mencuci tangan pakai sabun saat sampai di rumah sakit dan setelah meninggalkan rumah sakit," kata Robert. Menjaga kebersihan tangan adalah pertahanan awal untuk mencegah penyebaran dan perkembangan kuman. Hasil penelitian yang dilakukan di RSCM tahun 2002 menunjukkan 85,7 persen angka infeksi yang terkait perawatan kesehatan (nosokomial) bisa dikendalikan jika petugas medis selalu mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan medis.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sat Jan 12, 2013 6:15 am

JANGAN DUDUK DI RANJANG PASIEN SAAT MENJENGUK KE RUMAH SAKIT
Merry Wahyuningsih - detikHealth Kamis, 10/01/2013 18:20 WIB
Jakarta, Saat menjenguk keluarga atau teman di rumah sakit, tak jarang orang akan duduk di ranjang pasien. Meski pasien tak keberatan dan mengizinkannya, sebaiknya Anda tidak melakukan hal tersebut. Mengapa demikian? "Jangan sekali-kali kalau jenguk pasien di rumah sakit Anda duduk di ranjangnya," tegas Dr Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) dalam acara konferensi pers 'Simposium Ilmiah Teknologi Mutakhir sebagai Perlindungan dari Kuman', di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (10/1/2013). Menurut Dr Robert, rumah sakit adalah sarangnya penyakit. Duduk di ranjang pasien di rumah sakit sama artinya membuka peluang untuk tertular atau menularkan kuman penyakit. Meski penyakit pasien yang dijenguk tidaklah menular, namun kontak fisik jarak dekat dan bersentuhan langsung dengan peralatan di rumah sakit akan mempermudah transmisi kuman yang menyebabkan infeksi nosokomial, yakni infeksi yang terjadi akibat interaksi yang berlangsung di rumah sakit. "Pertama nularin ke kita (pengunjung atau penjenguk) dan kedua membuat pasien tidak nyaman," tambah Dr Robert. Rumah sakit merupakan breeding ground atau tempat berkembang biaknya kuman. Penularan kuman terjadi melalui cara:

1. Interaksi langsung maupun tidak langsung yang terjadi di rumah sakit, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu kepada pasien lainnya, pasien kepada orang yang berkunjung.

2. Penularan melalui udara, misalnya saat bersin, batuk dan berbicara. Kontak jarak dekat antara kurang dari 60 cm-1 m dapat mempermudah transmisi ini.

3. Penularan melalui inhalasi, di mana bakteri ukuran kurang dari 5 mm dapat bertahan hidup di udara dalam jangka waktu panjang dan berpindah dengan jarak yang jauh.

Untuk mencegah infeksi nosokomial, pengunjung sebaiknya selalu memperhatikan kebersihan tangan. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pencuci tangan berbasis alkohol sebelum masuk dan keluar rumah sakit. Selain itu, bila kondisi tubuh sedang tidak fit, misal sedang flu atau batuk, sebaiknya tidak mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk keluarga atau teman. Tidak hanya akan menularkan penyakit ke orang lain, tapi daya tahan tubuh yang sedang tidak fit juga memungkinkan Anda tertular infeksi lain di rumah sakit.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 13, 2013 6:40 am

RUMAH SAKIT TAK LAGI STERIL
Mona Indriyani, Stella Maris Minggu, 13 Januari 2013, 06:27 WIB
VIVAlife - Selama ini, semua orang beranggapan area publik seperti mal, tempat fitnes dan sekolah adalah lokasi dengan penyebaran kuman tercepat. Namun, ternyata tempat yang dianggap bersih seperti rumah sakit juga berpotensi menyebarkan kuman penyakit. Infeksi nosokomial namanya. Penyakit ini merupakan infeksi yang berlangsung di rumah sakit dan menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Data WHO tahun 2002 menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di Jakarta, sekitar 9,8 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi nosokomial. "Rumah sakit menjadi tempat berkembang biak-nya kuman. Penularan kuman ini terjadi melalui beberapa cara seperti kontak baik secara langsung maupun tidak langsung, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu ke pasien lainnya, serta pasien kepada orang yang berkunjung," kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia, Costy Pandjaitan. Proses transmisi kuman yang terjadi di rumah sakit ini dapat pula tersebar melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, atau berbicara. Kontak jarak dekat kurang dari 60 cm sampai 1 meter dapat mempermudah transmisi ini. Tak hanya melalui udara, infeksi nosokomial juga dapat menular melalui media sederhana, yaitu tangan. Ini disebabkan tangan mengandung lebih dari 39 ribu bakteri, dan berpotensi tinggi menyebabkan infeksi menular. Kuman juga mampu bertahan di permukaan hingga dua jam dan akan bertambah dua kali lipat setiap 20 menit sekali. Oleh karena itu, cara mudah untuk menangkal infeksi nosokomial ini dengan mencuci tangan sebelum memasuki rumah sakit serta setelah mengunjungi rumah sakit. "Cucilah tangan dengan sabun antiseptik dan air yang langsung mengalir, serta keringkan dengan tisu sekali pakai. Ini untuk menjaga kebersihan tangan," kata Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr.dr. Sutoto, M.Kes.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Fri Jan 18, 2013 7:19 pm

RAPOR MERAH KESEHATAN
Sabtu, 16 Februari 2013 | 07:11 WIB
Pekan Baru, Kompas - Bidang kesehatan mendapat rapor merah dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan. Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium masih jauh dari target. Gerakan kependudukan dan keluarga berencana belum diimplementasikan di daerah. Pencapaian yang belum mendekati target tahun 2015 di antaranya angka kematian ibu masih 228 per 100.000 kelahiran hidup dari target maksimal 102 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi 32 per 1.000 kelahiran hidup dari maksimal 22 per 1.000 kelahiran hidup. Selain itu, angka kelahiran total 2,6 tak menurun dalam 10 tahun terakhir untuk mencapai target 2,1 dan penurunan kasus malaria 1,69 dari target 1. ”Menindaklanjuti rapor merah dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), masalah dan kendala harus dicari solusi,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, saat memimpin Rapat Koordinasi Nasional Upaya Percepatan Pencapaian MDGs Bidang Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Rakyat Menyikapi Hasil Sementara Survei Demografi Kependudukan Indonesia tahun 2012, Jumat (15/2), di Pekanbaru, Riau. Nafsiah mengatakan, pemantauan di lapangan menunjukkan, dinas kesehatan serta instansi kependudukan dan keluarga berencana tak kompak. Ini menyebabkan pekerjaan rumah terkait target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) tak tercapai. Untuk itu, Menkes melanjutkan, 11 provinsi akan digarap intensif, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, serta ditambah Papua, Papua Barat, dan NTT. Ketiga provinsi terakhir dipilih karena kekhususan karakteristik wilayah. Sekretaris Jenderal Kemenkes Supriyantoro menuturkan, ke-11 provinsi dipilih bukan karena berkinerja buruk, melainkan sebagai daerah berpenduduk banyak sehingga keberhasilannya menjadi daya ungkit pencapaian MDGs. Ia mengatakan, rapor merah menunjukkan upaya keras pencapaian target sesuai tenggat sulit dicapai. Namun, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tetap harus dilakukan. ”Kita bekerja bukan demi mencapai MDGs, tetapi demi kesejahteraan masyarakat. Target MDGs hanya membantu mencapainya,” kata Nafsiah.

Kunci di daerah
Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Slamet Riyadi Yuwono mengatakan, kunci pencapaian masalah kependudukan berada di pemerintah daerah. ”Sayangnya, komitmen tinggi sering tidak diiringi implementasi. Kepala dinas kurang berkualitas,” katanya. Menurut Slamet, 80 persen anggaran bidang kesehatan sebesar Rp 2,2 triliun langsung diserahkan ke daerah dalam bentuk dana alokasi umum (DAU). Meski demikian, pemda masih meminta dana dari Kemenkes. ”Padahal, uang sudah ada di daerah. (Pemerintah) Pusat hanya suplemen,” kata Slamet. Wakil Gubernur Riau Mambang Mit mengatakan, Riau menghadapi masalah kependudukan yang unik. Angka TFR atau jumlah anak yang dimiliki perempuan usia subur 2,9, meningkat dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 2,7. Laju pertumbuhan penduduk Riau 3,59 persen, jauh lebih tinggi daripada angka nasional, yaitu sebesar 2 persen. Pertambahan jumlah penduduk ini disumbang dari migrasi warga luar Riau. ”Ini jadi tantangan untuk menurunkan. Hal ini tidak bisa tercapai tanpa kerja sama bupati/wali kota,” katanya. (ICH)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 8:50 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 20, 2013 1:20 pm

HINDARI INFEKSI DI RUMAH SAKIT
Minggu, 20 Januari 2013 Seputar Indonesia
Pasien anak ditemani ibunya saat dirawat di rumah sakit. Keluarga pasien maupun tenaga medis harus selalu waspada terhadap infeksi kuman yang berpotensi terjadi di rumah sakit. Rumah sakit selain sebagai tempat merawat orang sakit, juga dapat menjadi sumber berkembang biak kuman penyebab infeksi. Infeksi yang disebut nosokomialtersebut rentan menimpa keluarga pasien, pengunjung, dan tenaga medis. Buang jauh-jauh pemikiran bahwa rumah sakit adalah tempat yang aman dari penularan penyakit.Faktanya, rumah sakit merupakan lokasi breeding groundatau tempat berkembang biak kuman yang dapat menginfeksi siapa pun yang berada di sana. Bahkan,infeksi yang disebut nosokomial tersebut termasuk salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Penularan kuman terjadi di antaranya melalui interaksi langsung maupun tidak langsung antara petugas medis kepada pasien,pasien satu kepada pasien lain,dan dari pasien kepada orang yang berkunjung. Selain itu, kuman bisa menular melalui udara,misalnya saat bersin, batuk,atau berbicara,serta kontak jarak dekat antara kurang dari 60 sentimeter hingga satu meter dapat mempermudah transmisi ini. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. “Itu sebabnya anak kecil dilarang mengunjungi rumah sakit karena rentan terkena infeksi ini karena daya tahan tubuh mereka masih kurang. Minimal anak sudah 12 tahun boleh datang ke rumah sakit,”sebut Dr Robert Imam Sutedja,Ketua Kompartemen Umum dan Humas Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Menurut Robert,setiap saat kuman terus berkembang biak dan berevolusi sehingga membentuk koloni-koloni,termasuk di sejumlah area rumah sakit.

Karena itu,tidak heran petugas medis seperti dokter, perawat,petugas laboratorium dan administrasi,juga pasien serta pengunjung rumah sakit menjadi orangorang yang paling rentan terjangkit infeksi nosokomial.“ Karenanya,kalau sedang membesuk,jangan duduk di ranjang pasien karena banyak kuman. Jangan sampai kita ikutikutan sakit.Apalagi pasien juga menjadi tidak nyaman,”ujarnya dalam acara temu media Lifebuoy Clini-Shield 10: Teknologi Mutakhir sebagai Perlindungan dari Kuman dan Perannya dalam Mencegah Infeksi Nosokomial di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta,beberapa waktu lalu. Saat ini,Robert menyebutkan, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.Berdasarkan Kepmenkes No129 Tahun 2008,standar kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit sebesar kurang dari atau sama dengan 1,5%. Izin operasional sebuah rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. Sementara itu,Costy Pandjaitan CVRN SKM MARS,Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia,memaparkan,

infeksi nosokomial banyak terjadi pada bekas luka operasi,operasi saluran kemih,pneumonia yang tertular dari alat bantu pernapasan, dan infeksi aliran darah primer yang biasanya masuk ke tubuh melalui infus.Menjaga kebersihan tangan,lanjut Costy,adalah salah satu prosedur yang paling penting dan efektif mencegah infeksi di rumah sakit.Tangan merupakan media transmisi kuman tersering di rumah sakit dengan cara memindahkan mikroorganisme atau kuman dari satu pasien ke pasien lain,juga dari permukaan lingkungan ke pasien. Oleh karena itu,dia menyarankan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun setelah tiba dan saat keluar dari rumah sakit,sebelum masuk dan meninggalkan kamar pasien,sesudah ke kamar kecil dan bila dirasa kotor.“Jangan lupa keringkan tangan dengan handuk kertas.Jika tidak ada handuk kertas,gunakan handuk tangan sekali pakai, bukan dengan handuk yang digantung,”sebut Costy. Berdasarkan penelitian, kebiasaan cuci tangan menggunakan air dan sabun bisa menurunkan angka kejadian diare hingga 50% dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sampai 45%.Namun,mencuci tangan masih belum dirasa penting bagi sebagian masyarakat.Hasil survei PT Unilever menunjukkan, 84% ibu percaya bahwa mereka dapat melakukan suatu tindakan preventif untuk menjaga anakanaknya dari kuman penyebab penyakit.Namun, hanya sekitar 1% yang percaya bahwa cuci tangan dapat mencegah anak dari penyakit.rendra hanggara


Last edited by gitahafas on Sun Jan 20, 2013 1:26 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 20, 2013 1:21 pm

PENTING, CUCI TANGAN SEBELUM DAN SESUDAH KE RS
Mutia Nugraheni, Stella Maris Minggu, 20 Januari 2013, 09:31 WIB
VIVAlife - Banjir dan hujan yang terus terjadi membuat banyak orang jatuh sakit termasuk anak-anak. Kekurangan air bersih, sampah yang menumpuk, serta rumah dikotori lumpur jadi pemicunya. Ketika gejala datang, Anda pun mau tak mau harus segera mendatangi rumah sakit dan memeriksakan diri ke dokter. Banyak masyarakat tak menyadari bahwa rumah sakit menjadi tempat yang paling potensial dalam hal penyebaran kuman. Ini disebabkan banyaknya kontak berjalan secara langsung atau tidak langsung. Meskipun terlihat bersih, tapi jangan sampai di area publik Anda tertular virus. Hasil survei yang dilakukan salah satu produk dari PT Unilever Indonesia Tbk, mengatakan bahwa mayoritas ibu tak takut membawa anaknya ke rumah sakit. Para ibu juga kerap tak merasa perlu adanya tindakan preventif untuk mencegah terjadinya infeksi setelah membawa anak berkunjung ke rumah sakit. "Untuk anak bayi hingga berusia 12 tahun, ada baiknya jika menghindari area publik (rumah sakit), kecuali jika memang dalam keadaan sakit. Hal ini karena keadaan kekebalannya belum sempurna, sehingga rentan pada paparan kuman penyakit," kata dr. Robert Imam Sutedja, Humas Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi). Cara pencegahan paling sederhana untuk mencegah penularan kuman berbahaya di rumah sakit adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah ke rumah sakit. Sebenarnya, di dalam rumah sakit banyak tersedia juga botol-botol berisi cairan antiseptik yang bisa digunakan pengunjung. Jangan segan untuk menggunakannya. Terutama, jika Anda merasa tubuh sedang tidak fit dan harus mengantre lama di rumah sakit. "Untuk menghindari serta mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh manusia adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik, ketika akan memasuki kawasan rumah sakit, serta membersihkan tangan kembali usai mengunjungi rumah sakit," kata dr. Robert. (art)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jan 23, 2013 1:27 pm

BAHAYA MENDIAGNOSA PENYAKIT LEWAT INTERNET
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 23 Januari 2013 | 13:14 WIB
Kompas.com - Apakah Anda mengunjungi "dokter Google" lebih sering dari dokter di klinik? Anda tidak sendiri. Dalam sebuah survei tahun lalu di Amerika diketahui 35 persen responden mencocokkan gejala penyakitnya di internet dan mendiagnosa dirinya sendiri. Masih menurut survei yang dilakukan The Pew Research Center's Internet & American Life Project itu, sekitar 41 responden mengatakan diagnosis sendiri itu ternyata dikonfirmasi kebenarannya oleh dokter. Tetapi sekitar satu dari tiga responden mengaku tidak pernah pergi ke dokter untuk mencari opini kedua. Malahan, 18 persen responden mengatakan upaya mendiagnosis sendiri itu ternyata salah ketika ditanyakan ke dokter. Meski survei yang melibatkan 3.000 responden itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui siapa yang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi para profesional medis merasa khawatir dengan tren itu. "Rata-rata tiap orang mengunjungi empat situs lalu memutuskan ia menderita kanker dan akan segera meninggal. Padahal di internet banyak informasi yang keliru," kata Rahul K.Khare, dokter unit gawat darurat dari Nortwestern Memorial Hospital. Menurut Khare ia sering menemukan pasien yang hidupnya menjadi penuh kecemasan karena mereka merasa menderita penyakit berat setelah mencocokkan gejala yang dirasakannya dengan informasi di internet. Untuk mencegah hal tersebut ia memberikan tips supaya kita tidak salah mendiagnosa penyakit sendiri.

Pilih yang terpercaya
Saringlah setiap informasi yang Anda baca dan carilah informasi dari sumber terpercaya. Misalnya situs resmi kementrian kesehatan, rumah sakit, dan beberapa situs kesehatan yang sudah diakui seperti Mayo Clinic.

Tetap pada target
Memang beberapa informasi yang ditampilkan mengenai kesehatan menimbulkan rasa penasaran. Tetapi tahan perasaan itu dan tetaplah pada target Anda untuk mencari informasi tentang gejala yang dirasakan.

Cek dokter
Banyak orang yang khawatir tanpa alasan yang jelas. Jika informasi yang Anda baca membuat cemas, segera konsultasikan ke dokter. Ceritakan apa yang sudah Anda ketahui dari internet dan mintalah penjelasan detil dari dokter.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Mar 10, 2013 7:30 pm

BEROBAT KE LUAR NEGERI TETAP TREN
Kamis, 7 Maret 2013 | 08:57 WIB
Jakarta, Kompas - Jumlah warga Indonesia yang berobat ke luar negeri terus bertambah. Keunggulan teknologi, kemampuan medik, dan keramahan layanan masih menjadi alasan pendorong. Setiap tahun, triliunan rupiah devisa negara mengalir ke negara-negara tetangga. ”Pemerintah tak bisa menyalahkan rakyat yang ingin berobat ke luar negeri. Di Indonesia, pasien belum dianggap sebagai mitra pengobatan, melainkan masih sebatas obyek,” kata Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia Hasbullah Thabrany, Rabu (6/3), di Jakarta. Meski sejumlah rumah sakit pemerintah dan swasta gencar mengembangkan layanan kelas VIP (very important person) dan super-VIP, kata Hasbullah, persepsi pasien Indonesia atas buruknya layanan rumah sakit tidak berubah. Modernisasi hanya terjadi pada penyediaan ruang dan peralatan medik, tetapi profesionalitas dan kemampuan tenaga medik dan pendukungnya belum tertata baik. Sekretaris Direktorat Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Henky Hermantoro, dalam Medical Excellence Japan Seminar: Indonesia-Japan Medical Collaboration, Sabtu (23/2), menyebut, ada 600.000 warga Indonesia berobat ke luar negeri pada 2012. Biaya yang mereka keluarkan mencapai 1,4 miliar dollar Amerika Serikat atau setara Rp 13,5 triliun. Jumlah ini menunjukkan peningkatan berarti dibandingkan dengan tahun 2006. Saat itu, ada 315.000 orang berobat ke luar negeri dengan total pembelanjaan mencapai 500 juta dollar AS (setara Rp 4,8 triliun dengan nilai tukar saat ini).

Singapura dan Malaysia masih menjadi tujuan utama turis kesehatan Indonesia. Sejumlah negara lain kini mulai melirik calon pasien dari Indonesia, seperti Thailand, China, India, atau Jepang. Manajer Senior Pengembangan Perusahaan, Pusat Mata Nasional Singapura (Singapore National Eye Centre/SNEC) Tricia Tan dalam Media Visit to SNEC, Singapura, Selasa (26/2), mengatakan, tiap tahun ada 18.000 pasien mancanegara dan 275.000 pasien Singapura yang berobat ke SNEC. Pasien asing berasal dari sejumlah negara, termasuk Indonesia. Selain berobat atas inisiatif sendiri, sebagian pasien dirujuk dokter di Indonesia. Sementara itu, pasien Indonesia yang berobat di sejumlah rumah sakit anggota kelompok Parkway Health, Singapura, tahun 2010 mencapai 60 persen dari total pasien asing. Jumlah pasien asing di grup rumah sakit swasta ini 30 persen dari jumlah total pasien yang dilayani (Kompas, 15 November 2010). Menurut Henky, alasan penduduk Indonesia berobat ke luar negeri antara lain mencari teknologi pengobatan yang lebih canggih, mencari layanan kedokteran lebih unggul, serta mendapat layanan keperawatan lebih baik. Ada pula yang berobat ke luar negeri karena lebih murah. Pengobatan di beberapa rumah sakit Malaysia, khususnya untuk operasi-operasi besar, diakui banyak pihak lebih murah dibandingkan dengan Indonesia. Selain itu, sistem kerja penuh waktu dokter di rumah sakit Malaysia membuat pasien merasa aman saat berobat. Di Indonesia, untuk mendapat penghasilan cukup, banyak dokter berpraktik di banyak rumah sakit.

Mahal
Mahalnya pengobatan di Indonesia dinilai Hasbullah disebabkan oleh belum adanya sistem pengaturan tarif. Akibatnya, sejumlah rumah sakit menetapkan harga layanan berdasar harga layanan di rumah sakit lain. ”Pengenaan aneka pajak terhadap alat-alat kedokteran dan obat-obatan juga membuat layanan medik di Indonesia mahal,” katanya. Hasbullah menambahkan, pelayanan pasien kelas kaya di Indonesia akan baik jika pelayanan untuk pasien miskin juga baik. Biaya layanan pasien miskin harus ditanggung negara, bukan disubsidi pasien kaya. Sistem subsidi silang dari pasien kaya kepada pasien miskin yang diterapkan sejumlah rumah sakit akan mengurangi kualitas layanan yang diterima pasien. Sistem yang menjamin kualitas layanan seluruh rakyat termasuk gaji dokter Indonesia kini sedang ditata seiring rencana pelaksanaan sistem Jaminan Kesehatan Nasional mulai 2014. ”Tapi pemerintah harus konsisten untuk menanggung biaya pasien miskin secara memadai,” kata Hasbullah. (MZW)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Mar 13, 2013 8:36 am

SEHAT DAN BUGAR BERKAT TERAPI OKSIGEN HIPERBARIK
Penulis : R. Adhi Kusumaputra | Selasa, 12 Maret 2013 | 19:19 WIB
SERPONG, KOMPAS.com – Ody G (60) setahun terakhir mengalami stroke. Ketika kondisi kesehatannya drop, Ody dibawa ke salah satu rumah sakit di Tangerang. Namun oleh dokter di sana, Ody disarankan ke Rumah Sakit Bethsaida, Gading Serpong, Tangerang. Ody kemudian menjalani terapi oksigen hiperbalik (hyperbaric oxygen therapy/HBOT).Sampai hari Senin (11/3/2013), Ody sudah 19 kali menjalani terapi oksigen hiperbarik. Menurut Welly, perawat RS Bethsaida, kondisi Ody sudah jauh membaik dibandingkan saat ia datang pertama kali bulan Februari. “Pertama kali datang, Pak Ody harus berbaring. Setelah 9 kali menjalani terapi ini, Pak Ody sudah bisa duduk dan sudah mulai bisa berbicara meski belum lancar. Dari wajahnya yang kelihatan segar setelah ikut terapi ini, kondisi kesehatan Pak Ody makin membaik,” jelas Welly. Hal yang sama dialami Dolfi Supit (43). Mantan atlet polo air yang pernah membela nama Indonesia dalam SEA Games 1987 ini sudah tujuh kali menjalani terapi oksigen hiperbarik. “Setelah ikut terapi ketiga, saya merasa badan saya sangat bugar. Saya sampai bilang pada dokter, saya belum pernah merasakan kebugaran dan kebahagiaan seperti sekarang,” ungkap Dolfi, yang saat ini menjadi pengusaha. Elizabeth Sindoro, pemilik RS Bethsaida menuturkan, ia menyediakan peralatan HBOT ke rumah sakit yang baru diresmikan 12 Desember 2012 karena ia tahu persis manfaatnya bagi pasien. Sebelumnya Elizabeth rutin menjalani terapi oksigen ini di RSAL Mintohardjo Jakarta, namun setelah RS Bethsaida miliknya menyediakan peralatan lebih modern, ia selalu menjalani terapi ini. Hasilnya memang luar biasa. Wajah Elizabeth Sindoro masih kelihatan segar dan tubuhnya tetap bugar meski usianya sudah kepala 5. Rambutnya juga tetap hitam, tidak tampak uban satu pun. Perempuan pengusaha ini selalu menjaga kesehatan dan kebugaran tubuhnya, selain melalui terapi oksigen hiperbarik, juga melalui makanan sehat. "Saya sehat dan bugar tanpa harus makan obat berbahan kimia, berkat terapi ini," kata Liza. Di Tangerang, RS Bethsaida satu-satunya rumah sakit yang memiliki peralatan terapi oksigen hiperbarik. Setelah ikut terapi ketiga, saya merasa badan saya sangat bugar. Saya sampai bilang pada dokter, saya belum pernah merasakan kebugaran dan kebahagiaan seperti sekarang. Direktur RS Bethsaida dr Bina Ratna menjelaskan, terapi hiperbarik belum banyak dikenal orang Indonesia. Pemanfaatan HBOT di Indonesia pertama kali dilakukan oleh Lakesla, bekerja sama dengan RS Angkatan Laut Dr. Ramelan, Surabaya tahun 1960. Hingga saat ini fasilitas tersebut masih merupakan yang paling besar di Indonesia. Di Jakarta, ada dua rumah sakit yang menyediakan fasilitas terapi oksigen hiperbarik, namun sejauh ini baru RS Bethsaida Gading Serpong Tangerang yang memiliki peralatan yang lengkap dan modern.

Apakah terapi oksigen hiperbarik itu?
Dasar terapi hiperbarik sedikit banyak mengandung prinsip fisika. Teori Toricelli ini yang mendasari terapi HBOT,dimana digunakan untuk menentukan tekanan udara 1 atm adalah 760 mmHg. Kandungan komposisi unsur-unsur udara yang terkandung di alam ini mengandung Nitrogen (N2) 78 persen dan Oksigen (O2) 21 persen.

Terapi HBOT menggunakan unsur media nafas Oksigen (O2) murni atau 100 persen. Terapi HBOT ini juga berdasarkan teori fisika dasar dari hukum-hukum Dalton, Boyle, Charles dan Henry. Terapi oksigen hiperbarik adalah terapi medis di bidang kedokteran, yang memiliki dasar keilmuan kedokteran (Evident Base Medicine) dan telah terbukti secara klinis dengan cara menghirup oksigen murni didalam suatu ruangan bertekanan tinggi. Prinsip yang dianut secara fisiologis adalah bahwa tidak adanya O2 pada tingkat seluler akan menyebabkan gangguan kehidupan pada semua organisme. Oksigen yang berada di sekeliling tubuh manusia masuk ke dalam tubuh melalui cara pertukaran gas. Fase-fase respirasi dari pertukaran gas terdiri dari fase ventilasi, transportasi, utilisasi dan difusi. Dengan kondisi tekanan oksigen yang tinggi, diharapkan matriks seluler yang menopang kehidupan suatu organisme mendapatkan kondisi yang optimal. Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dimana pasien dalam suatu ruangan menghirup oksigen 100 persen pada tekanan tinggi (hyperbaric chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT bertekanan udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) baik yang dirancang baik untuk kasus penyelaman maupun pengobatan penyakit klinis.

Efek terapi
Efek yang didapatkan dari terapi HBOT ada dua yang pertama efek mekanik dan kedua efek fisiologis. Efek fisiologis dapat dijelaskan melalui mekanisme oksigen yang terlarut plasma. Pengangkutan oksigen ke jaringan meningkat seiring dengan peningkatan oksigen terlarut dalam plasma. Efek mekanik meningkatnya tekanan lingkungan atau ambient yang memberikan manfaat penurunan volume gelembung gas atau udara seperti pada terapi penderita dekompresi akibat kecelakaan kerja penyelaman dan gas emboli yang terjadi pada beberapa tindakan medis rumah sakit. Efek peningkatan tekanan parsial oksigen dalam darah dan jaringan yang memberikan manfaat terapeutik: bakteriostatik pada infeksi kuman anaerob, detoksikasi pada keracunan karbon monoksida, sianida dan hidrogensulfida, reoksigenasi pada kasus iskemia akut, crush injury, compartment syndrome maupun kasus iskemia kronis, luka yang tidak sembuh, nekrosis radiasi, skin graft preparation dan luka bakar.

Larangan dalam terapi oksigen hiperbarik
Dokter Bina Ratna menjelaskan, kelainan paru tertentu, infeksi saluran napas atas dan beberapa kondisi medis tertentu akan menyebabkan pasien kesulitan menyesuaikan diri di dalam ruangan hiperbarik. Sebelum melakukan terapi harus melakukan konsultasi dahulu dengan dokter ahli hiperbarik. Adakah efek samping terapi oksigen hiperbarik? Efek samping yang biasa terjadi adalah ketidakmampuan pasien menyesuaikan tekanan dalam ruangan hiperbarik dan intoksikasi oksigen. Untuk mengatasi masalah tersebut pasien akan selalu didampingi perawat khusus hiperbarik terlatih yang akan mengajarkan cara menyesuaikan diri terhadap tekanan dan cara bernafas yang benar.

Singkirkan benda logam
Dokter Bina Ratna menjelaskan, seluruh pasien diharuskan untuk menjalani penilaian pra-pengobatan sebelum HBOT. Sebuah formulir penilaian harus diisi dan ditandatangani oleh dokter dan diserahkan setelah pendaftaran. Singkirkan benda logam dan tidak membawa benda listrik atau barang terlarang lainnya.Pasien harus makan setidaknya 2 jam sebelum pengobatan.Setelah pasien memasuki ruangan silahkan mencoba untuk memposisikan diri dan merasa nyaman. Selama fase pengobatan HBOT, Anda akan mengalami perasaan "penuh" di telinga, mirip seperti saat akan naik pesawat yang diakibatkan karena perubahan ketinggian. Sensasi seperti ini akan terjadi lima sampai sepuluh menit atau saat tekanan baru mencapai 0-5 meter ini terjadi karena masa transisi saat terjadi perubahan tekanan atmosfer. Anda diminta untuk menyamakan tekanan pada telinga .Seorang perawat hiperbarik dan teknisi terlatih serta bersertifikat akan hadir bersama anda baik didalam ruangan hiperbarik dan diluar ruangan hiperbarik, anda akan diawasi terus menerus selama pengobatan HBOT berlangsung dibawah koordinasi dokter ahli hiperbarik yang siap untuk dimintakan bantuan, infomasi setiap saat untuk melatih dan membantu pasien. Setiap sesi terapi akan berlangsung dari 60-90 menit. Selama sesi terapi, pasien dapat menonton televisi, mendengarkan musik dari sistem hiburan in-house, membaca atau hanya tidur. Mohon diperhatikan bahwa perawat hiperbarik dan teknisi akan menyaring dan membatasi barang-barang yang akan dibawa dalam ruangan. Proses persiapan pasien dan pelaksanaan terapi hbot di RS Bethsaida dilaksanakan oleh tenaga tenaga medis profesional terlatih dan dibawah kontrol dan pengawasan dokter ahli hiperbarik berpngalaman, serta menggunakan peralatan yang memiliki standar keamanan tinggi bagi manusia dan memiliki sertifikasi internasional

Persiapan sebelum terapi oksigen hiperbarik
Merokok, alkohol dan konsumsi kafein kronis akan mengurangi jumlah oksigen yang dapat diangkut oleh sistem peredaran darah.
Sangat direkomendasikan bahwa seluruh pasien HBOT dapat menahan diri dari merokok selama perawatan. Jika penghentian merokok tidak mungkin, sekurang kurangnya jangka waktu dua jam sebelum dan dua jam setelah perawatan harus bebas tembakau. Pasien setidaknya makanan ringan dua jam sebelum perawatan. Dan silakan mendiskusikan obat obatan yang Anda konsumsi rutin dengan dokter ahli hiperbarik di rumah sakit. Nah, apakah Anda ingin mencoba terapi oksigen hiperbarik untuk kesehatan dan kebugaran?
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Fri Mar 15, 2013 9:50 pm

MANUSIA BISA HIDUP TANPA 6 ORGAN INI
Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 15 Maret 2013 | 10:38 WIB
Kompas.com - Meski agak jarang menemukan seseorang yang hidup dengan satu paru, namun Paus Fransiskus yang baru terpilih adalah sedikit dari orang yang langka tersebut. Paus berusia 76 tahun itu menjalani operasi pengangkatan paru karena parunya terinfeksi saat ia masih remaja. Pada masa itu, infeksi paru seperti radang paru atau tuberkulosis bisa berakhir dengan pengangkatan paru karena antibiotik belum seefektif saat ini. Menurut Dr.Len Horovitz, pakar paru dari Lenox Hill Hospital di New York, AS, pada masa sekarang pun jika terjadi komplikasi radang paru dan batuk rejan yang sulit ditangani dokter terpaksa harus membuang paru yang terinfeksi. Demikian juga halnya dengan kanker paru. Jika satu paru diangkat, paru yang masih tersisa akan mengambil alih tugas tersebut. Karena itu hidup dengan satu paru tidak terlalu berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari. Kendati kita harus berusaha untuk menjaga organ tubuh selengkap mungkin, namun ternyata kita tetap bisa hidup meski tanpa organ-organ berikut ini:

- Ginjal
Manusia memiliki dua ginjal meski sebenarnya kita tetap bisa bertahan hidup hanya dengan satu ginjal. Ada orang-orang yang terlahir hanya dengan satu ginjal, atau satu ginjal terpaksa diambil untuk didonorkan atau diangkat setelah terjadinya cedera. Secara umum, seseorang bisa hidup dengan normal hanya dengan satu ginjal. Bahkan secara teknis sebenarnya kita bisa hidup tanpa ginjal, tetapi harus melakukan cuci darah secara rutin.

- Limpa
Fungsi limpa adalah menyaring darah dan membantu tubuh melawan infeksi. Akan tetapi organ ini tidak esensial untuk bertahan hidup. Limpa bisa diangkat, misalnya jika terjadi kerusakan. Namun orang yang hidup tanpa limpa cenderung mudah tertular penyakit.

- Organ reproduksi
Ada beberapa penyebab mengapa wanita terpaksa menjalani histerektomi atau pengangkatan rahim, antara lain kanker, tumor dalam rahim, nyeri pelvis kronik, dan sebagainya. Sekitar 1 dari 3 wanita di AS menjalani prosedur histerektomi di usia 60 tahun. Sementara kaum pria juga bisa menjalani pengangkatan testis jika terkena kanker testis.

- Lambung
Lambung terkadang diangkat sebagian atau seluruhnya sebagai bagian dari terapi kanker lambung. Prosedur ini dikenal sebagai gastrektomi. Dalam prosedur ini, usus kecil disambungkan dengan esofagus. Seseorang yang menjalani gastrektomi total akan mendapatkan nutrisi lewat pembuluh darah selama beberapa minggu pasca operasi. Setelah itu mereka sudah bisa makan berbagai makanan meski dalam porsi kecil.

- Usus besar
Penyakit kanker usus atau penyakit Chrohns juga akan membuat penderitanya menjalani pengangkatan kolon atau usus besar. Kita bisa hidup tanpa kolon tetapi harus memakai kantong di bagian perut untuk menampung hasil buangan. Tetapi kini dokter juga bisa melakukan operasi untuk membuat semacam kantong di usus halus sebagai pengganti usus yang dibuang.

- Usus buntu
Panjang usus buntu, yang bentuknya mirip cacing dan menempel pada bagian awal usus besar ini adalah sekitar 8,5 cm. Tidak jelas apa fungsi usus buntu, kemungkinan besar usus ini berperan sebagai imunitas usus besar. Usus ini sering diangkat jika mengalami peradangan atau pembengkakan.
Back to top Go down
 
Asal Tahu Saja
Back to top 
Page 48 of 51Go to page : Previous  1 ... 25 ... 47, 48, 49, 50, 51  Next

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: