Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Asal Tahu Saja

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 25 ... 47, 48, 49, 50, 51  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Tue Jan 01, 2013 2:35 pm

JANGAN TINGGALKAN MASYARAKAT DALAM PEMBANGUNAN KESEHATAN
Penulis : Dr. Ari F. Syam Sp.Pd | Senin, 31 Desember 2012 | 21:36 WIB
KOMPAS.com - Sebentar lagi kita akan meninggalkan tahun 2012. Berbagai permasalahan kesehatan muncul di tengah masyarakat. Permasalahan kesehatan Indonesia masih didominasi oleh masalah kesehatan akibat bencana alam atau kecelakaan transportasi. Angka terjadinya penyakit infeksi yang masih tinggi, kematian bayi dan ibu melahirkan yang masih tinggi dan penyakit non infeksi yang angka kejadiannya terus bergerak naik semisal obesitas, diabetes dan kanker. Di sisi lain, masyarakat juga masih terpapar dengan makanan yang tidak sehat karena diawetkan oleh bahan beracun seperti formalin. Indonesia merupakan negara dengan angka "tranmisi tinggi" mencapai 37 persen untuk infeksi malaria (data WHO 2010). Penyakit DHF (dengue haemorrhagic fever) masih endemis di Indonesia dan Indonesia masih dicap sebagai negara dengan risiko tinggi untuk penularan DHF. Sepanjang tahun 2012, terjadi berbagai bencana alam di bumi tercinta ini. Sebagian besar bencana yang terjadi karena bencana banjir, angin puting beliung dan tanah longsor. Sepanjang tahun ini, berdasarakan data dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Indonesia diguncang oleh 730 bencana alam dengan korban jiwa sebanyak 487 orang. Beruntung sepanjang tahun 2012 tidak ada bencana besar yang dikategorikan bencana nasional. Tetapi bencana yang ada terutama banjir telah menyebabkan pengungsian besar-besaran dan membuat banyak orang termasuk orang tua dan anak-anak terpapar dengan berbagai penyakit pasca bencana. Bencana alam yang terjadi telah membuat masyarakat menjadi terpuruk secara ekonomi. Karena dengan hilangnya atau rusaknya harta benda bahkan tempat usaha mereka membuat mereka bertambah miskin dan tentu pada akhirnya akan berdampak pada kesehatan keluarga mereka.

Di sisi lain, ketika mereka berada di pengungsian dengan lokasi ala kadarnya dan dengan konsumsi makan dan minum yang tidak teratur membuat mereka menjadi rentan dengan berbagai penyakit. Bencana banjir sebenarnya bisa kita antisipasi kejadiannya tidak seperti bencana alam gempa bumi dengan atau tsunami yang memang terjadi tiba-tiba. Berbagai terobosan harus dilakukan agar banjir bisa dikurangi dan kita bisa berkompromi dengan banjir. Beberapa minggu terakhir banjir di Jakarta telah merepotkan semua orang karena dimana ada banjir disitu akan terjadi kemacetan yang bertambah parah. Penyakit infeksi masih mendominasi sebagai penyakit yang menyebabkan masyarakat kita sakit. Di akhir tahun 2012 kita dikagetkan oleh terjadinya peningkatan kasus flu burung atau Avian Influenza (AI) pada unggas yang juga sempat menyebabkan penemuan kasus infeksi pada manusia yang diduga ditularkan oleh infeksi dari unggas tersebut. Telah terjadi kematian ratusan ribu unggas dan ternyata penyebab dari flu burung ini oleh virus flu burung baru yaitu dari virus flu burung baru yaitu virus AI sub-tipe H5N1 clade 2.3.2.1. Tentu kita berharap virus flu burung jenis baru ini tidak menginfeksi manusia walau tetap kita harus terus mewaspadai berkembangan virus ini. Penyakit infeksi tropis seperti malaria dan demakm berdarah juga masih mendominasi beberapa propinsi di Indonesia. Penyakit infeksi yang ditularkan oleh nyamuk ini bisa dicegah dan sebenarnya bisa dikendalikan. Tetapi pada kenyataannya kasus ini masih terus kita temukan di tengah masayarakat walau memang angka kematiannya bisa kita tekan karena sebagian besar masyarakat kita dan dokter-dokter kita sudah paham bagaimana menatalaksana penyakit ini. Penyakit infeksi HIV AIDS masih merisaukan buat kita yang berada di Indonesia. Mengingat penyakit HIV AIDS masih mengalami pertumbuhan yang pesat di bumi tercinta dimana di negara lain tetangga kita pertambahan kasus HIV AIDS tidak sepesat di negara kita.

Peran pemerintah
Melihat kondisi kesehatan masyarakat kita saat ini memang komitmen pemerintah harus tinggi. Kebetulan menteri kesehatan kita yang baru Dr. Nafsiah Mboi SpA, MPH adalah seorang dokter yang pernah menjadi salah satu Direktur di WHO dan merupakan salah satu Pimpinan Komisi Nasional penanggulangan HIV-AIDS. Pengalaman dan sepak terjak beliau dibidang pemberantasan penyakit HIV-AIDS bisa menjadi modal untuk menuruskan cita-citanya memberantas penyakit HIV AIDS karena saat ini tanggung jawab ini memang ada di tangan beliau sebagai orang nomor satu di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (RI). Di sisi lain, saat ini sebagian besar masyarakat dibuat mudah aksesnya untuk mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis melalui program Jamkesmas atau seperti program Kartu Jakarta Sehat yang digulirkan oleh Gubernur Jokowi-Ahok. Bahkan dengan ditetapkannya undang-undang tentang Sistim Jaminan Sosial Nasional (SJSN), pemerintah akan menanggung pembiayaan pelayanan kesehatan masyarakat secara bertahap sejak tahun 2014 sampai dengan tahun 2019. Tetapi walau seberapa besar jaminan pelayanan kesehatan yang diberikan, masyarakat harus juga diingatkan bahwa "mencegah lebih baik dari mengobati". Slogan "memasyarakatkan olah raga dan mengolahragakan masyarakat" harus dipopulerkan kembali. Makanan sehat harus juga dipopulerkan kepada masyarakat. Disisi lain masalah otonomi juga merupakan salah satu faktor yang menjadi alasan kenapa masalah penanganan kesehatan tidak optimal. Pembangunan kesehatan di daerah dengan Puskesmas sebagai ujung tombak tergantung kepeminatan atau kepedulian pemimpin daerah terhadap pembangunan kesehatan didaerahnya. Saat ini, sebagian besar Puskesmas terutama yang di kota-kota besar lebih berperan sebagai rumah sakit kecil ketimbang sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan. Pemerintah daerah termasuk jajaran kesehatan sepertinya lupa bahwa diadakannya Puskesmas baik ditingkat kelurahan maupun kecamatan bukan saja sebagai pusat pelayanan kesehatan pertama tetapi Puskesmas juga bisa berperan sebagai ujung tombak pembangunan kesehatan dan pusat pemberdayaan masyarakat untuk dapat hidup mandiri khususnya dibidang kesehatan.

Antisipasi berbagai bencana harus dilakukan mengingat tahun depanpun bangsa ini tidak bisa terhindar dari berbagai bencana alam. Masyarakat harus diberdayakan untuk siap menghadapi bencana. Tim bantuan untuk menanggulangi bencana baik dari unsur pemerintah dan masyarakat termasuk institusi pendidikan harus selalu siap dan tetap dalam koordinasi pemerintah jika sewaktu-waktu terjadi kembali bencana. Program pembangunan kesehatan seharusnya tidak saja indah diatas kertas tapi juga harus dilaksanakan. Puskesmas harus lebih diberdayakan untuk melaksanakan peran sebagai ujung tombak pembangunan dan pusat pemberdayaan masyarakat. Jika komitmen untuk memfungsikan Puskesmas sudah ada pasti akan terus diupayakan untuk selalu mencukupi tenaga-tenaga kesehatan bekerja di Puskesmas termasuk didaerah-daerah terpencil. Budaya gotong royong harus dihidupkan kembali. Kegiatan kerja bakti baik di tengah masyarakat dan di sekolah harus dihidupkan kembali. Masyarakat harus mampu bergerak sendiri. Masyarakat sebaiknya berkemampuan mengidentifikasi masalah kesehatan seputar mereka dan mampu mengkomunikasikannya dengan petugas kesehatan terutama yang berada di Puskesmas. Masyarakat harus dimotivasi untuk selalu hidup sehat. Buang sampah tidak boleh sembarangan, program hidup sehat dan bersih (PHBS) harus menjadi prioritas. Sebagaimana kita ketahui, bentuk PHBS di rumah tangga yaitu persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan, memberi ASI eksklusif, menimbang balita setiap bulan, menggunakan air bersih, mencuci tangan dengan air bersih dan sabun, menggunakan jamban sehat, memberantas jentik di rumah sekali seminggu, makan buah dan sayur setiap hari, melakukan aktivitas fisik setiap hari dan tidak merokok di dalam rumah. Aktivitas PHBS ini harus disosialisasikan dan dilaksanakan oleh masyarakat. Law enforcement juga harus ditegakkan semisal denda untuk orang yang buang sambah sembarangan, denda untuk merokok di tempat umum dan peraturan-peraturan lain yang ditetapkan harus ditegakkan. Ironis misalnya, kita bisa mematuhi berbagai peraturan saat kita berada di negeri orang tetapi lupa menerapkannya ketika kembali berada di negeri sendiri. Pada akhirnya komitmen kita semua harus tinggi untuk memperbaiki permasalahan kesehatan yang kadang kala tidak menjadi prioritas ini.

Salam sehat.
Ari Fahrial Syam
Dosen, Praktisi Kesehatan dan aktivist organisasi profesi
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Jan 10, 2013 5:24 pm

10 TINDAKAN MEDIS BERLEBIHAN DALAM DUNIA KESEHATAN
Kamis, 10 Januari 2013 | 11:23 WIB
KOMPAS.com - Penanganan gangguan kesehatan pada seseorang yang dilakukan seorang klinisi atau dokter tidak semudah yang dibayangkan. Untuk menentukan tindakan medis, baik pemberian obat atau tindakan operasi, harus membutuhkan kecermatan dalam menegakkan diagnosis dan memastikan dengan kesesuaian indikasi tindakan medis yang harus dilakukan. Fenomena ini tampaknya bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga terjadi di belahan dunia lainnya. Seringkali, terjadi intervensi berlebihan dan tidak sesuai indikasi tepat baik dalam pengobatan ataupun tindakan operasi pada pasien. Hal ini bukan hanya dilakukan dokter, tetapi sering pula terjadi karena desakan pasien. Tidak disadari bahwa tindakan atau intervensi medis yang berlebihan dan tidak sesuai indikasi itu dapat berdampak merugikan bagi penderita mulai dari yang ringan sampai risiko mengancam jiwa. Intervensi medis berlebihan dan tidak sesuai indikasiyang paling sering adalah pemberian antibiotika, operasi amandel, rawat inap rumah sakit, operasi usus buntu dan operasi sectio caesaria. Intervensi medis berlebihan lainnya adalah pemberian obat dan vitamin berlebihan, operasi tidak sesuai indikasi atau tindakan operasi dalam keadaan kondisi penderita prognosisnya sangat buruk dan memang sudah ada tidak ada harapan untuk sembuh. Berikut ini adalah 5 intervensi medis berlebihan dalam dunia kesehatan indonesia :

1. Pemberian antibiotika
Menurut penelitian US National Ambulatory Medical Care Survey pada tahun 1989, setiap tahun sekitar 84 persen setiap tahun setiap anak mendapatkan antibiotika. Hasil lainnya didapatkan 47,9 persen resep pada anak usia 0-4 tahun terdapat antibiotika. Angka tersebut menurut perhitungan banyak ahli sebenarnya sudah cukup mencemaskan. Dalam tahun yang sama, juga ditemukan resistensi kuman yang cukup tinggi karena pemakaian antibiotika berlebihan tersebut. Di Indonesia, belum ada data resmi tentang penggunaan antibiotika. Sehingga banyak pihak saat ini tidak khawatir dan sepertinya tidak bermasalah. Tetapi berdasarkan tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat serta fakta yang ditemui sehari-hari, tampaknya pemakaian antibiotika di Indonesia jauh banyak dan lebih mencemaskan. Indikasi yang tepat dan benar dalam pemberian antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah bila batuk dan pilek yang berkelanjutan selama lebih 10 - 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari). Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika. Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 derajat celcius dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah. Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15 persen yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Penyakit yang lain yang harus mendapatkan antibiotika adalah infeksi saluran kemih dan penyakit tifus. Sebagian besar kasus penyakit pada anak yang berobat jalan penyebabnya adalah virus. Dengan kata lain seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 - 15 persen penderita anak. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk "self limiting disease" atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 - 7 hari. Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus. Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari infeksi pernapasan atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupakan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri

2. Rawat inap rumah sakit
Seringkali seorang anak demam tinggi atau anak dengan kejang tetapi keadaan umumnya masih baik langsung diadviskan rawat inap di rumah sakit. Mungkin saja, indikasi rawat inap di rumah sakit kasus tersebut sudah tepat. Tetapi sebaliknya, banyak kasus yang seharus yang tidak memerlukan rawat inap dipaksakan masuk rumah sakit. Kadangkala tindakan berlebihan ini bukan hanya dilakukan dokter, tetapi juga dilakukan orangtua. Karena kecemasan yang berlebihan anak sakit demam tinggi sedikit atau muntah beberapa kali sudah memaksa dokter untuk dilakukan rawat inap. Beberapa institusi sudah mengeluarkan rekomendasi indikasi kapan harus melakukan rawat inap bagi berbagai kasus penyakit. Tetapi batasan dan kriteria tersebut pada umumnya masih sangat luas dan menimbulkan berbagai interpretasi dan perdebatan. Dampak rawat inap yang tidak sesuai indikasi selain menghamburkan biaya yang besar juga berisiko mendapatkan infeksi nosokomial atau infeksi baru yang tertular di rumah sakit. Pada umumnya justru infeksi nosokomial lebih ganas kumannya daripada infeksi di luar rumah sakit.

3. Operasi amandel tonsilektomi
Operasi amandel atau tonsilektomi adalah tindakan yang paling sering dilakukan sepanjang asejarah operasi. Kontroversi tonsilektomi paling banyak dilaporkan dibandingkan operasi manapun. Tonsilektomi bila sesuai indikasi sangat perlu dan harus dilakukan. Tetapi, ternyata banyak kasus operasi amandel tidak sesuai indikasi. Seringkali orangtua bingung dalam menghadapi anak yang diadviskan untuk operasi amandel atau tonsilektomi. Bingung karena seringkali terjadi perbedaan pendapat antara beberapa dokter. Pendapat dokter tertentu mengadviskan untuk menunda operasi karena berbagai alasan medis seperti masih belum ada indikasi mutlak. Tetapi sebaliknya, pendapat dokter tertentu untuk segera melakukan operasi amandel segera karena berbagai alasan medis yang lain. Sebenarnya indkasi harus operasi menurut American Academy of Otolaringology Headneck Surgery (AAO) hanya 3 yaitu

(1) Tonsil (amandel) yang besar hingga mengakibatkan gangguan pernafasan, nyeri telan yang berat, gangguan tidur atau sudah terjadi komplikasi penyakit-penyakit kardiopulmonal.
(2) Abses peritonsiler (Peritonsillar abscess) yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan. Dan pembesaran tonsil yang mengakibatkan gangguan pertumbuhan wajah atau mulut yang terdokumentasi oleh dokter gigi bedah mulut.
(3) Tonsillitis yang dan mengakibatkan kejang demam.
(4) Tonsil yang diperkirakan memerlukan biopsi jaringan untuk menentukan gambaran patologis jaringan.

Indikasi relatif artinya dioperasi lebih baik tidak dioperasi tidak masalah.
Indikasinya adalah
(1) Tonsilitis 3 kali atau lebih dalam satu tahun dan tidak menunjukkan respon sesuai harapan dengan pengobatan medikamentosa yang memadai.
(2) Bau mulut atau bau nafas tak sedap yang menetap pada Tonsilitis kronis yang tidak menunjukkan perbaikan dengan pengobatan.
(3) Tonsilitis kronis atau Tonsilitis berulang yang diduga sebagai carrier kuman Streptokokus yang tidak menunjukkan repon positif terhadap pengobatan dengan antibiotika.
(4) Pembesaran tonsil di salah satu sisi (unilateral) yang dicurigai berhubungan dengan keganasan (neoplastik).

Alasan yang tidak benar yang dijadikan indikasi operasi seperti
(1)Bila tidak operasi kecerdasan menurun.
(2) Bila tidak dioperasi mengakibatkan sakit jantung dan sakit paru-paru.
(3) Bila tidak di operasi maka oksigen ke otak berkurang anak jadi kurang konsentrasi dan kurang cerdas.
(4) Atau indikasi operasi tidak benar lainnya karena gangguan pertumbuhan berat badan, kesullitan makan, gangguan bicara, gangguan tidur, bau mulut, enuresis (mengompol).

4. Operasi usus buntu
Penelitian di University of Washington menunjukkan, 16 persen operasi pemotongan usus buntu dilakukan pada pasien yang sebetulnya tidak membutuhkan. Radang usus buntu atau apendisitis memang berbahaya sehingga pada umumnya dokter tidak mau ambil risiko dan memilih secepatnya memotong bagian tubuh yang memang tidak jelas fungsinya tersebut. Radang usus buntu bisa dikenali dengan pemeriksaan penunjang berupa USG, atau CT scan dan jumlah sel darah putih yang melampaui 10.000/mcL. Keluhan nyeri perut yang hebat sering didiagnosis usus buntu, padahal nyeri perut juga bisa terjadi pada berbagai kasus. Kadang overdiagnosis usus buntu sering terjadi karena gejala yang terjadi hampir sama kualitas nyeri dan lokasinya dengan gangguan lainnya. Kesalahan diagnosis usus buntu sering terjadi pada penderita alergi atau asma yang sebelumnya mempunyai riwayat kolik saat bayi, sering rewel saat usia di bawah usia 3 bulan atau nyeri perut berulang. Nyeri perut akan timbul pada pasien tersebut apabila terkena infeksi virus yang menyerang tubuh.

5. Operasi sectio
Operasi Sectio Caesaria tanpa indikasi termasuk intervensi medis yang paling sering. Berdasarkan survei global WHO yang dilakukan di 9 negara Asia pada tahun 2007 dan 2008, mencangkup Kamboja, China, Nepal, Filipina, Srilangka, Thailand, dan Vietnam. China menunjukan angka sectio caesarea tertinggi yaitu 46,2 persen dan mempunyai tindakan operasi tanpa indikasi terbesar yaitu 11,7 persen sedangkan Vietnam dengan angka 1 persen. Penelitian yang pernah dilakukan di Jakarta pada tahun 2009 menunjukkan bahwa tindakan operasi tanpa indikasi pernah dilaporkan sebesar 13,9 persen. Dibanding persalinan vaginal spontan, maka persalinan operatif secara bermakna menyebabkan kematian maternal lebih tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat mortalitas maupun morbiditas maternal pada perempuan yang menjalani sectio caesarea tanpa indikasi. Setiap tindakan operatif meningkatkan mortalitas maternal dan indeks morbiditas seperti transfusi darah, histerektomi (pengangkatan rahim), iligasi arteri iliaka interna, kematian, atau perawatan ICU jauh lebih besar dibanding persalinan spontan. Peningkatan ini terutama disebabkan tingginya perawatan ICU dan transfusi darah. Tidak ada kesalahan jika melakukan intervensi medik dengan adanya indikasi yang jelas, Tetapi jika masih menganggap bahwa operasi Caesar merupakan tindakan yang tidak berbahaya, maka masyarakat perlu disadarkan dengan bukti-bukti ini.

Dampak dan pencegahan
Kontroversi tentang intervensi berlebihan tindakan medis ini wajar terjadi dalam setiap keputusan dan tindakan dokter. Seringkali terjadi perbedaan pendapat karena setiap kasus berlatar belakang kondisi yang berbeda. Dalam melakukan tindakan medis, dokter harus selalu memakai indikasi medis dengan rujukan evidance base medicine (kejadian ilmiah berbasis bukti atau berdasar penelitian), kondisi pasien dan kepentingan pasien. Menjadi tidak wajar apabila dalam tindakan medis bukan demi kepentingan pasien tetapi demi kepentingan individu, kepentingan rumah sakit atau kepentingan tertentu lainnya. Selain itu, intervensi medis berlebihan ini juga dapat disebabkan permintaan pasien meski tanpa indikasi dokter tetap melakukannya. Seringkali kecemasan pasien yang berlebihan memaksa dokter untuk melakukan tindakan medis berlebihan bagi dirinya. Bila hal ini terjadi, sebaiknya dokter harus memberikan edukasi dampak buruk intervensi medis yang tidak sesuai indikasi. Bukannya malah meluluskan permintaan pasien padahal sudah mengetahui risiko dampakburuk yang bisa terjadi. Dampak buruk pada intervensi medis yang berlebihan dan tidak sesuai indikasi ini dapat mengakibatkan kerugian atau pemborosan biaya yang luar biasa banyak. Dampak buruk lainnya adalah mengakibatkan morbiditas atau gangguan kesehatan baru lainnya yang sangat mengangggu. Bahkan, dampak buruk lainnya dapat meningktkan risiko mortalitas atau ancaman jiwa. Pencegahan terbaik agar tak terjadi intervensi medis yang berlebihan dan tidak sesuai indikasi adalah melakukan indikasi yang tepat saat akan melakukan intervensi medis. Bila berisiko mengalami intervensi berlebihan dan tak sesuai indikasi, sebaiknya penderita melakukan second opinion atau pendapat kedua kepada dokter lainnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Thu Jan 10, 2013 8:26 pm

RUMAH SAKIT RAWAN INFEKSI
Penulis : Lusia Kus Anna | Kamis, 10 Januari 2013 | 17:42 WIB
KOMPAS.com - Sebagai tempat perawatan orang sakit, rumah sakit menjadi tempat berkembang biaknya kuman dan rawan terjadinya penularan infeksi. Dalam bahasa medis, infeksi itu disebut dengan infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial bisa terjadi dari penularan pasien ke pasien lain, dari pasien ke pengunjung atau keluarga, atau dari petugas ke pasien. Transfer mikroba bisa didapat petugas saat melaksanakan tindakan atau perawatan pasien. "Penularan juga bisa terjadi melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, berbicara. Kontak jarak dekat antara 60cm- 1m bisa mempermudah transmisi ini," kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia Costy Pandjaitan, dalam acara jumpa pers simposium pencegahan infeksi nokosimal yang diadakan Unilever dan Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI) di Jakarta, Kamis (10/1/13). Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), infeksi nosokomial merupakan penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Infeksi ini menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di dunia. Di Indonesia, dalam penelitian di 11 rumah sakit di Jakarta pada tahun 2004 menunjukkan 9,8 persen pasien rawat inap mendapat infeksi nosokomial. Saat ini, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia. Menurut Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas PERSI, izin rumah sakit dapat dicabut apabila angka kejadian infeksi tersebut tinggi. Infeksi nokosomial dapat dicegah dengan selalu menjaga kebersihan tangan melalui cuci tangan dengan sabun antikuman. Cuci tangan memakai sabun wajib dilakukan petugas medis sebelum dan setelah menangani pasien. "Larangan besuk bagi anak berusia di bawah 12 tahun sebenarnya juga untuk mencegah mereka terkena infeksi karena daya tahan tubuhnya masih rendah," kata Robert.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Fri Jan 11, 2013 7:34 pm

KALAU TAK BUGAR JANGAN JENGUK PASIEN DI RS
Penulis : Lusia Kus Anna | Jumat, 11 Januari 2013 | 10:31 WIB
Kompas.com - Tak banyak orang yang menyadari bahwa rumah sakit merupakan tempat paling potensial untuk terjangkitnya kuman. Penularan kuman bisa terjadi akibat interaksi yang berlangsung di rumah sakit. Karena itu mereka yang tubuhnya sedang tidak fit atau anak-anak tidak disarankan untuk membesuk pasien di rumah sakit. Meski rumah sakit merupakan sarang kuman, tetapi dalam survei yang dilakukan Unilever kepada para ibu yang memiliki anak usia di atas 4 tahun menunjukkan lebih banyak ibu yang merasa tidak takut membawa anak mereka berkunjung ke rumah sakit. Mereka lebih menganggap sekolah, rumah, dan tempat bermain sebagai tempat yang paling banyakt terdapat kumannya. "Rumah sakit sebenarnya adalah tempat berkumpulnya kuman. Jika tidak higienis, infeksi kuman bisa terjadi dari dokter ke pasien, pasien ke dokter, antar pasien, dari pasien ke pengunjung, atau dari pengunjung ke pasien," kata Dr.Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) di Jakarta, Kamis (10/1/13). Merujuk pola 10 penyakit terbanyak pada pasein rawat inap dan rawat jalan, maka kuman yang paling banyak ada di rumah sakit adalah yang berkaitan dengan penyakit infeksi menular seperti diare, ISPA, dan kulit. Diare menempati posisi teratas untuk pola 10 penyakit terbanyak pada pasien rawat inap, sedangkan untuk pasien rawat jalan, penyakit infeksi saluran nafas bagian atas, penyakit kulit, dan diare termasuk empat besar dalam pola 10 penyakit terbanyak. Karena itu jika kita sedang tidak merasa fit atau daya tahan tubuh sedang lemah misalnya karena menderita flu berat sebaiknya tidak usah melakukan kunjungan ke rumah sakit. "Kalau memang terpaksa harus menjenguk pasien, lakukan tindakan pencegahan infeksi dengan mencuci tangan pakai sabun saat sampai di rumah sakit dan setelah meninggalkan rumah sakit," kata Robert. Menjaga kebersihan tangan adalah pertahanan awal untuk mencegah penyebaran dan perkembangan kuman. Hasil penelitian yang dilakukan di RSCM tahun 2002 menunjukkan 85,7 persen angka infeksi yang terkait perawatan kesehatan (nosokomial) bisa dikendalikan jika petugas medis selalu mencuci tangan sebelum dan setelah melakukan tindakan medis.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sat Jan 12, 2013 6:15 am

JANGAN DUDUK DI RANJANG PASIEN SAAT MENJENGUK KE RUMAH SAKIT
Merry Wahyuningsih - detikHealth Kamis, 10/01/2013 18:20 WIB
Jakarta, Saat menjenguk keluarga atau teman di rumah sakit, tak jarang orang akan duduk di ranjang pasien. Meski pasien tak keberatan dan mengizinkannya, sebaiknya Anda tidak melakukan hal tersebut. Mengapa demikian? "Jangan sekali-kali kalau jenguk pasien di rumah sakit Anda duduk di ranjangnya," tegas Dr Robert Imam Sutedja, Ketua Kompartemen Umum dan Humas Persi (Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia) dalam acara konferensi pers 'Simposium Ilmiah Teknologi Mutakhir sebagai Perlindungan dari Kuman', di Hotel Kempinski Jakarta, Kamis (10/1/2013). Menurut Dr Robert, rumah sakit adalah sarangnya penyakit. Duduk di ranjang pasien di rumah sakit sama artinya membuka peluang untuk tertular atau menularkan kuman penyakit. Meski penyakit pasien yang dijenguk tidaklah menular, namun kontak fisik jarak dekat dan bersentuhan langsung dengan peralatan di rumah sakit akan mempermudah transmisi kuman yang menyebabkan infeksi nosokomial, yakni infeksi yang terjadi akibat interaksi yang berlangsung di rumah sakit. "Pertama nularin ke kita (pengunjung atau penjenguk) dan kedua membuat pasien tidak nyaman," tambah Dr Robert. Rumah sakit merupakan breeding ground atau tempat berkembang biaknya kuman. Penularan kuman terjadi melalui cara:

1. Interaksi langsung maupun tidak langsung yang terjadi di rumah sakit, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu kepada pasien lainnya, pasien kepada orang yang berkunjung.

2. Penularan melalui udara, misalnya saat bersin, batuk dan berbicara. Kontak jarak dekat antara kurang dari 60 cm-1 m dapat mempermudah transmisi ini.

3. Penularan melalui inhalasi, di mana bakteri ukuran kurang dari 5 mm dapat bertahan hidup di udara dalam jangka waktu panjang dan berpindah dengan jarak yang jauh.

Untuk mencegah infeksi nosokomial, pengunjung sebaiknya selalu memperhatikan kebersihan tangan. Cucilah tangan dengan sabun dan air mengalir atau cairan pencuci tangan berbasis alkohol sebelum masuk dan keluar rumah sakit. Selain itu, bila kondisi tubuh sedang tidak fit, misal sedang flu atau batuk, sebaiknya tidak mengunjungi rumah sakit untuk menjenguk keluarga atau teman. Tidak hanya akan menularkan penyakit ke orang lain, tapi daya tahan tubuh yang sedang tidak fit juga memungkinkan Anda tertular infeksi lain di rumah sakit.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 13, 2013 6:40 am

RUMAH SAKIT TAK LAGI STERIL
Mona Indriyani, Stella Maris Minggu, 13 Januari 2013, 06:27 WIB
VIVAlife - Selama ini, semua orang beranggapan area publik seperti mal, tempat fitnes dan sekolah adalah lokasi dengan penyebaran kuman tercepat. Namun, ternyata tempat yang dianggap bersih seperti rumah sakit juga berpotensi menyebarkan kuman penyakit. Infeksi nosokomial namanya. Penyakit ini merupakan infeksi yang berlangsung di rumah sakit dan menjadi penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Data WHO tahun 2002 menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. Penelitian yang dilakukan di 11 rumah sakit di Jakarta, sekitar 9,8 persen pasien rawat inap di rumah sakit mengalami infeksi nosokomial. "Rumah sakit menjadi tempat berkembang biak-nya kuman. Penularan kuman ini terjadi melalui beberapa cara seperti kontak baik secara langsung maupun tidak langsung, antara petugas medis kepada pasien, pasien satu ke pasien lainnya, serta pasien kepada orang yang berkunjung," kata Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia, Costy Pandjaitan. Proses transmisi kuman yang terjadi di rumah sakit ini dapat pula tersebar melalui udara, misalnya saat bersin, batuk, atau berbicara. Kontak jarak dekat kurang dari 60 cm sampai 1 meter dapat mempermudah transmisi ini. Tak hanya melalui udara, infeksi nosokomial juga dapat menular melalui media sederhana, yaitu tangan. Ini disebabkan tangan mengandung lebih dari 39 ribu bakteri, dan berpotensi tinggi menyebabkan infeksi menular. Kuman juga mampu bertahan di permukaan hingga dua jam dan akan bertambah dua kali lipat setiap 20 menit sekali. Oleh karena itu, cara mudah untuk menangkal infeksi nosokomial ini dengan mencuci tangan sebelum memasuki rumah sakit serta setelah mengunjungi rumah sakit. "Cucilah tangan dengan sabun antiseptik dan air yang langsung mengalir, serta keringkan dengan tisu sekali pakai. Ini untuk menjaga kebersihan tangan," kata Ketua Umum Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia, Dr.dr. Sutoto, M.Kes.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Fri Jan 18, 2013 7:19 pm

RAPOR MERAH KESEHATAN
Sabtu, 16 Februari 2013 | 07:11 WIB
Pekan Baru, Kompas - Bidang kesehatan mendapat rapor merah dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan. Pencapaian Tujuan Pembangunan Milenium masih jauh dari target. Gerakan kependudukan dan keluarga berencana belum diimplementasikan di daerah. Pencapaian yang belum mendekati target tahun 2015 di antaranya angka kematian ibu masih 228 per 100.000 kelahiran hidup dari target maksimal 102 per 100.000 kelahiran hidup dan kematian bayi 32 per 1.000 kelahiran hidup dari maksimal 22 per 1.000 kelahiran hidup. Selain itu, angka kelahiran total 2,6 tak menurun dalam 10 tahun terakhir untuk mencapai target 2,1 dan penurunan kasus malaria 1,69 dari target 1. ”Menindaklanjuti rapor merah dari Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4), masalah dan kendala harus dicari solusi,” kata Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi, saat memimpin Rapat Koordinasi Nasional Upaya Percepatan Pencapaian MDGs Bidang Keluarga Berencana dan Kesejahteraan Rakyat Menyikapi Hasil Sementara Survei Demografi Kependudukan Indonesia tahun 2012, Jumat (15/2), di Pekanbaru, Riau. Nafsiah mengatakan, pemantauan di lapangan menunjukkan, dinas kesehatan serta instansi kependudukan dan keluarga berencana tak kompak. Ini menyebabkan pekerjaan rumah terkait target Tujuan Pembangunan Milenium (MDGs) tak tercapai. Untuk itu, Menkes melanjutkan, 11 provinsi akan digarap intensif, yakni DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, serta ditambah Papua, Papua Barat, dan NTT. Ketiga provinsi terakhir dipilih karena kekhususan karakteristik wilayah. Sekretaris Jenderal Kemenkes Supriyantoro menuturkan, ke-11 provinsi dipilih bukan karena berkinerja buruk, melainkan sebagai daerah berpenduduk banyak sehingga keberhasilannya menjadi daya ungkit pencapaian MDGs. Ia mengatakan, rapor merah menunjukkan upaya keras pencapaian target sesuai tenggat sulit dicapai. Namun, peningkatan kualitas kesehatan masyarakat tetap harus dilakukan. ”Kita bekerja bukan demi mencapai MDGs, tetapi demi kesejahteraan masyarakat. Target MDGs hanya membantu mencapainya,” kata Nafsiah.

Kunci di daerah
Direktur Jenderal Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan Anak Slamet Riyadi Yuwono mengatakan, kunci pencapaian masalah kependudukan berada di pemerintah daerah. ”Sayangnya, komitmen tinggi sering tidak diiringi implementasi. Kepala dinas kurang berkualitas,” katanya. Menurut Slamet, 80 persen anggaran bidang kesehatan sebesar Rp 2,2 triliun langsung diserahkan ke daerah dalam bentuk dana alokasi umum (DAU). Meski demikian, pemda masih meminta dana dari Kemenkes. ”Padahal, uang sudah ada di daerah. (Pemerintah) Pusat hanya suplemen,” kata Slamet. Wakil Gubernur Riau Mambang Mit mengatakan, Riau menghadapi masalah kependudukan yang unik. Angka TFR atau jumlah anak yang dimiliki perempuan usia subur 2,9, meningkat dibandingkan dengan tahun 2007 sebesar 2,7. Laju pertumbuhan penduduk Riau 3,59 persen, jauh lebih tinggi daripada angka nasional, yaitu sebesar 2 persen. Pertambahan jumlah penduduk ini disumbang dari migrasi warga luar Riau. ”Ini jadi tantangan untuk menurunkan. Hal ini tidak bisa tercapai tanpa kerja sama bupati/wali kota,” katanya. (ICH)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 8:50 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 20, 2013 1:20 pm

HINDARI INFEKSI DI RUMAH SAKIT
Minggu, 20 Januari 2013 Seputar Indonesia
Pasien anak ditemani ibunya saat dirawat di rumah sakit. Keluarga pasien maupun tenaga medis harus selalu waspada terhadap infeksi kuman yang berpotensi terjadi di rumah sakit. Rumah sakit selain sebagai tempat merawat orang sakit, juga dapat menjadi sumber berkembang biak kuman penyebab infeksi. Infeksi yang disebut nosokomialtersebut rentan menimpa keluarga pasien, pengunjung, dan tenaga medis. Buang jauh-jauh pemikiran bahwa rumah sakit adalah tempat yang aman dari penularan penyakit.Faktanya, rumah sakit merupakan lokasi breeding groundatau tempat berkembang biak kuman yang dapat menginfeksi siapa pun yang berada di sana. Bahkan,infeksi yang disebut nosokomial tersebut termasuk salah satu penyebab utama tingginya angka kesakitan dan kematian di dunia. Penularan kuman terjadi di antaranya melalui interaksi langsung maupun tidak langsung antara petugas medis kepada pasien,pasien satu kepada pasien lain,dan dari pasien kepada orang yang berkunjung. Selain itu, kuman bisa menular melalui udara,misalnya saat bersin, batuk,atau berbicara,serta kontak jarak dekat antara kurang dari 60 sentimeter hingga satu meter dapat mempermudah transmisi ini. Data Badan Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, infeksi nosokomial menyebabkan 1,4 juta kematian setiap hari di seluruh dunia. “Itu sebabnya anak kecil dilarang mengunjungi rumah sakit karena rentan terkena infeksi ini karena daya tahan tubuh mereka masih kurang. Minimal anak sudah 12 tahun boleh datang ke rumah sakit,”sebut Dr Robert Imam Sutedja,Ketua Kompartemen Umum dan Humas Perhimpunan Rumah Sakit Seluruh Indonesia (PERSI). Menurut Robert,setiap saat kuman terus berkembang biak dan berevolusi sehingga membentuk koloni-koloni,termasuk di sejumlah area rumah sakit.

Karena itu,tidak heran petugas medis seperti dokter, perawat,petugas laboratorium dan administrasi,juga pasien serta pengunjung rumah sakit menjadi orangorang yang paling rentan terjangkit infeksi nosokomial.“ Karenanya,kalau sedang membesuk,jangan duduk di ranjang pasien karena banyak kuman. Jangan sampai kita ikutikutan sakit.Apalagi pasien juga menjadi tidak nyaman,”ujarnya dalam acara temu media Lifebuoy Clini-Shield 10: Teknologi Mutakhir sebagai Perlindungan dari Kuman dan Perannya dalam Mencegah Infeksi Nosokomial di Ballroom Hotel Kempinski, Jakarta,beberapa waktu lalu. Saat ini,Robert menyebutkan, angka kejadian infeksi nosokomial telah dijadikan salah satu tolak ukur mutu pelayanan rumah sakit di Indonesia.Berdasarkan Kepmenkes No129 Tahun 2008,standar kejadian infeksi nosokomial di rumah sakit sebesar kurang dari atau sama dengan 1,5%. Izin operasional sebuah rumah sakit bisa dicabut karena tingginya angka kejadian infeksi nosokomial. Sementara itu,Costy Pandjaitan CVRN SKM MARS,Ketua Himpunan Perawat Pengendalian Infeksi Indonesia,memaparkan,

infeksi nosokomial banyak terjadi pada bekas luka operasi,operasi saluran kemih,pneumonia yang tertular dari alat bantu pernapasan, dan infeksi aliran darah primer yang biasanya masuk ke tubuh melalui infus.Menjaga kebersihan tangan,lanjut Costy,adalah salah satu prosedur yang paling penting dan efektif mencegah infeksi di rumah sakit.Tangan merupakan media transmisi kuman tersering di rumah sakit dengan cara memindahkan mikroorganisme atau kuman dari satu pasien ke pasien lain,juga dari permukaan lingkungan ke pasien. Oleh karena itu,dia menyarankan untuk mencuci tangan dengan air dan sabun setelah tiba dan saat keluar dari rumah sakit,sebelum masuk dan meninggalkan kamar pasien,sesudah ke kamar kecil dan bila dirasa kotor.“Jangan lupa keringkan tangan dengan handuk kertas.Jika tidak ada handuk kertas,gunakan handuk tangan sekali pakai, bukan dengan handuk yang digantung,”sebut Costy. Berdasarkan penelitian, kebiasaan cuci tangan menggunakan air dan sabun bisa menurunkan angka kejadian diare hingga 50% dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) sampai 45%.Namun,mencuci tangan masih belum dirasa penting bagi sebagian masyarakat.Hasil survei PT Unilever menunjukkan, 84% ibu percaya bahwa mereka dapat melakukan suatu tindakan preventif untuk menjaga anakanaknya dari kuman penyebab penyakit.Namun, hanya sekitar 1% yang percaya bahwa cuci tangan dapat mencegah anak dari penyakit.rendra hanggara


Last edited by gitahafas on Sun Jan 20, 2013 1:26 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Sun Jan 20, 2013 1:21 pm

PENTING, CUCI TANGAN SEBELUM DAN SESUDAH KE RS
Mutia Nugraheni, Stella Maris Minggu, 20 Januari 2013, 09:31 WIB
VIVAlife - Banjir dan hujan yang terus terjadi membuat banyak orang jatuh sakit termasuk anak-anak. Kekurangan air bersih, sampah yang menumpuk, serta rumah dikotori lumpur jadi pemicunya. Ketika gejala datang, Anda pun mau tak mau harus segera mendatangi rumah sakit dan memeriksakan diri ke dokter. Banyak masyarakat tak menyadari bahwa rumah sakit menjadi tempat yang paling potensial dalam hal penyebaran kuman. Ini disebabkan banyaknya kontak berjalan secara langsung atau tidak langsung. Meskipun terlihat bersih, tapi jangan sampai di area publik Anda tertular virus. Hasil survei yang dilakukan salah satu produk dari PT Unilever Indonesia Tbk, mengatakan bahwa mayoritas ibu tak takut membawa anaknya ke rumah sakit. Para ibu juga kerap tak merasa perlu adanya tindakan preventif untuk mencegah terjadinya infeksi setelah membawa anak berkunjung ke rumah sakit. "Untuk anak bayi hingga berusia 12 tahun, ada baiknya jika menghindari area publik (rumah sakit), kecuali jika memang dalam keadaan sakit. Hal ini karena keadaan kekebalannya belum sempurna, sehingga rentan pada paparan kuman penyakit," kata dr. Robert Imam Sutedja, Humas Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (Persi). Cara pencegahan paling sederhana untuk mencegah penularan kuman berbahaya di rumah sakit adalah mencuci tangan sebelum dan sesudah ke rumah sakit. Sebenarnya, di dalam rumah sakit banyak tersedia juga botol-botol berisi cairan antiseptik yang bisa digunakan pengunjung. Jangan segan untuk menggunakannya. Terutama, jika Anda merasa tubuh sedang tidak fit dan harus mengantre lama di rumah sakit. "Untuk menghindari serta mencegah masuknya kuman ke dalam tubuh manusia adalah dengan mencuci tangan menggunakan sabun antiseptik, ketika akan memasuki kawasan rumah sakit, serta membersihkan tangan kembali usai mengunjungi rumah sakit," kata dr. Robert. (art)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Asal Tahu Saja   Wed Jan 23, 2013 1:27 pm

BAHAYA MENDIAGNOSA PENYAKIT LEWAT INTERNET
Penulis : Lusia Kus Anna | Rabu, 23 Januari 2013 | 13:14 WIB
Kompas.com - Apakah Anda mengunjungi "dokter Google" lebih sering dari dokter di klinik? Anda tidak sendiri. Dalam sebuah survei tahun lalu di Amerika diketahui 35 persen responden mencocokkan gejala penyakitnya di internet dan mendiagnosa dirinya sendiri. Masih menurut survei yang dilakukan The Pew Research Center's Internet & American Life Project itu, sekitar 41 responden mengatakan diagnosis sendiri itu ternyata dikonfirmasi kebenarannya oleh dokter. Tetapi sekitar satu dari tiga responden mengaku tidak pernah pergi ke dokter untuk mencari opini kedua. Malahan, 18 persen responden mengatakan upaya mendiagnosis sendiri itu ternyata salah ketika ditanyakan ke dokter. Meski survei yang melibatkan 3.000 responden itu sebenarnya dilakukan untuk mengetahui siapa yang mencari informasi kesehatan secara online, tetapi para profesional medis merasa khawatir dengan tren itu. "Rata-rata tiap orang mengunjungi empat situs lalu memutuskan ia menderita kanker dan akan segera meninggal. Padahal di internet banyak informasi yang keliru," kata Rahul K.Khare, dokter unit gawat darurat dari Nortwestern Memorial Hospital. Menurut Khare ia sering menemukan pasien yang hidupnya menjadi penuh kecemasan karena mereka merasa menderita penyakit berat setelah mencocokkan gejala yang dirasakannya dengan informasi di internet. Untuk mencegah hal tersebut ia memberikan tips supaya kita tidak salah mendiagnosa penyakit sendiri.

Pilih yang terpercaya
Saringlah setiap informasi yang Anda baca dan carilah informasi dari sumber terpercaya. Misalnya situs resmi kementrian kesehatan, rumah sakit, dan beberapa situs kesehatan yang sudah diakui seperti Mayo Clinic.

Tetap pada target
Memang beberapa informasi yang ditampilkan mengenai kesehatan menimbulkan rasa penasaran. Tetapi tahan perasaan itu dan tetaplah pada target Anda untuk mencari informasi tentang gejala yang dirasakan.

Cek dokter
Banyak orang yang khawatir tanpa alasan yang jelas. Jika informasi yang Anda baca membuat cemas, segera konsultasikan ke dokter. Ceritakan apa yang sudah Anda ketahui dari internet dan mintalah penjelasan detil dari dokter.
Back to top Go down
 
Asal Tahu Saja
View previous topic View next topic Back to top 
Page 48 of 51Go to page : Previous  1 ... 25 ... 47, 48, 49, 50, 51  Next
 Similar topics
-
» Asal Kata Allah,arti dan makna
» Kisah Dr OZ dan Asal Mula Yahudi
» cukupkah hanya dengan berbuat baik kepada sesama ciptaan Allah saja?
» Apakah TUHAN tahu hari kiamat?
» asal usul syiah

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: