Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 15 ... 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Jun 20, 2010 10:07 am

DENGAN BAWANG GORENG RAUP RATUSAN JUTA
Selasa, 8 Juni 2010 | 06:55 WIB - Kompas,com Oleh RENY SRI AYU
Kalau saja Winiar Ratana Kamdanu (35) tak mendengar petuah teman-teman dan kerabatnya waktu itu, tentu saat ini dia bukanlah pengusaha bawang goreng yang cukup sukses. Hidup dalam lingkungan dan keluarga besar yang umumnya birokrat sempat membuat ibu tiga anak ini berminat juga menjadi pegawai negeri sipil.
Namun, keinginan memiliki usaha sendiri membuatnya urung meneruskan minatnya itu. Terlebih keluarga dan kerabat juga mendukung agar dia tidak jadi PNS seperti profesi yang dipilih sebagian besar keluarganya.

"Akhirnya saya diskusi dengan suami untuk mencari tahu usaha apa yang bisa dilakukan, yang modalnya tidak besar dan bisa melibatkan orang lain sebagai pekerja. Pilihan akhirnya jatuh pada usaha bawang goreng. Pilihan ini diambil karena di samping Palu memang sudah terkenal dengan oleh-oleh khas bawang goreng, juga modalnya tidak terlalu besar dan lebih mudah kerjanya," kata Winiar.

Sadar tidak punya pengalaman menekuni usaha sendiri, Winiar mendaftar ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi (Perindagkop) Kota Palu untuk diikutkan dalam program binaan bersama orang-orang lain yang juga berminat membuka usaha. Dari beberapa kelompok dan orang yang menjadi binaan Dinas Perindagkop Kota Palu, usaha Winiar tetap eksis. Bahkan, melihat kesuksesan usahanya, dia diminta membina kelompok usaha lain dan berhimpun dalam sebuah koperasi yang didirikan bersama. Koperasi yang beranggotakan ibu-ibu rumah tangga ini memiliki berbagai usaha, di antaranya makanan dan camilan kemasan khas Palu.

Berbekal pendidikan dan latihan dari Dinas Perindagkop, Winiar memberanikan diri menjalankan usahanya. Awalnya, dia mencoba-coba dengan membeli 100 kg bawang mentah yang saat itu harganya Rp 7.000- Rp 9.000 per kg. Dibantu lima kerabat dan tetangga, Winiar mengolah bawang ini menjadi bawang goreng renyah dalam kemasan dan siap jual.

"Saat mau dipasarkan, saya bingung mencari nama. Pikiran saya saat itu bagaimana menggunakan nama yang mudah diingat, masih berbahasa Kaili (bahasa daerah etnis Kaili di Sulteng), sekaligus punya nilai jual. Akhirnya saya memilih madika. Enak didengar, mudah diingat, dan ini bahasa Kaili. Maka, saya cetak di kertas sederhana dan ditempelkan dalam kemasan bawang," katanya sembari menjelaskan Madika berarti ningrat, bangsawan, atau sebutan untuk raja dan bangsawan.

Tidak berkecil hati
Bersaing dengan usaha sejenis yang sudah lebih dulu ada tak membuat Winiar kecil hati. Berbekal relasi, dia melakukan promosi dari mulut ke mulut. Tidak sedikit pameran yang dia ikuti ke sejumlah kota hanya untuk mempromosikan bawang gorengnya dan memperluas jaringan serta pembeli. Usahanya tak sia-sia. Sejak memulai tahun 2004, hingga kini usahanya tetap jalan. Kalau pada awalnya dia hanya mempekerjakan lima orang, saat ini sudah ada 20 orang yang bekerja secara tetap, tidak termasuk puluhan pekerja lain yang dipanggil bila pesanan banyak.

Pekerja ini, baik yang tetap maupun yang tidak tetap, umumnya adalah ibu rumah tangga yang awalnya tidak punya penghasilan. Kalau awalnya bawang goreng hanya diolah di sebuah dapur kecil di belakang rumah, saat ini Winiar sudah punya dapur besar. Sebuah ruko dua lantai juga dibeli untuk jadi ruang pajang dan tempat menjual produknya. Bawang goreng yang diolah juga besar jumlahnya. Kalau awalnya hanya 100 kg per bulan, saat ini sudah 2 ton per bulan. Omzetnya saat ini berkisar Rp 100 juta per bulan. Ini dengan hitung-hitungan 1 ton bawang mentah menghasilkan 350 kg bawang goreng. Dengan harga bawang goreng Rp 150.000 per kg, berarti dari 2 ton hasilnya Rp 105 juta.

Adapun pembelinya yang sebelumnya hanya orang dekat, keluarga, atau yang kebetulan berkunjung ke Palu saat ini sudah banyak pelanggan tetap yang bermukim di kota lain. Tidak sedikit pelanggan lamanya yang ikut menjual produk Winiar. Bahkan, pelanggannya yang bermukim di luar negeri pun tetap memesan dalam jumlah banyak setiap kali pulang ke Tanah Air. "Setiap kali pulang ke Indonesia, mereka menelepon minta dikirimkan dalam jumlah banyak. Yang saya tahu ada yang dibawa ke Kanada, Korea, dan beberapa negara lain," katanya.

Menjalani usaha bawang goreng bukan berarti Winiar tak mengalami jatuh bangun. Serangan hama bawang yang parah tahun 2007, yang membuat panen bawang gagal dan menyebabkan banyak pengusaha bawang beralih ke usaha lain atau gulung tikar, tak membuat Winiar kehilangan semangat. Bahkan, Winiar juga tak patah arang dengan pengalaman beberapa kali mengalami kerugian karena ditipu. "Beberapa kali saya dibawakan bawang yang bercampur. Kami sudah kerjakan sehari semalam, kupas, goreng, pas pagi hari mau dikemas bawangnya sudah lembek dan berminyak. Terpaksa tak jadi dijual dan rugi," ujar Winiar. Tak jarang pemasok bawang membawa bawang yang jumlahnya tidak sesuai dengan yang dibayar. Pengalaman lain adalah tatkala permintaan besar dan bahan baku kurang yang akhirnya membuat harga jual bawang tinggi. Namun, pengalaman demi pengalaman ini tidak membuatnya patah semangat. Hal itu justru membuat Winiar kian ingin mengetahui lebih jauh seluk-beluk bawang. Dia pun terjun langsung ke petani bawang yang tersebar di beberapa desa di Kabupaten Sigi.

Menghidupkan koperasi
Bertemu langsung petani dan mengetahui sedikit demi sedikit soal bawang membuat Winiar melakukan pendekatan dan pembinaan pada kelompok-kelompok tani. Dia juga melakukan pendekatan dan membangun hubungan dengan petugas penyuluh lapangan. Dalam hal pembelian, terutama pada masa-masa permintaan kurang, Winiar juga mengatur jadwal bergilir di setiap kelompok tani agar ada pemerataan. Panen bawang setiap dua bulan memungkinkan Winiar melakukan ini dan tidak membuat petani menunggu lama.

Saat ini, dengan apa yang sudah diraihnya, Winiar tidak lagi terlalu berkeinginan muluk untuk lebih memperbesar usahanya. Sebaliknya, bersama ibu- ibu lainnya, Winiar membantu menghidupkan koperasi Beringin Jaya yang dibentuk atas saran Dinas Perindagkop Kota Palu. Produksi ibu-ibu rumah tangga, seperti abon ikan, daging, berbagai camilan, dan oleh-oleh khas Palu lainnya, ikut dipasarkan bersama bawang goreng Madika di ruko milik Winiar. "Tidak ada masalah dengan itu. Toh, pada awalnya membangun usaha, salah satu tujuannya juga memberdayakan orang lain. Kalau di usaha bawang sudah cukup menampung pekerja, apa salahnya ikut membantu mengembangkan usaha ibu-ibu lain. Kan, ini juga bagian dari pemberdayaan,” katanya.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 8:59 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Jun 23, 2010 8:57 pm

PILIH BEKERJA ATAU USAHA YA?
Rabu, 23/6/2010 | 20:41 WIB
KOMPAS.com - Saat ini aku bekerja mengurus HR dan stok gudang. Pekerjaan ini sebenarnya sangat tidak sesuai latar pendidikan dan minat. Aku menerima untuk menambah pengalaman kerja. Namun, banyak sekali PR yang harus diselesaikan karena pekerjaan ini ditinggalkan dalam keadaan kacau oleh pendahuluku.
Saat ini aku sudah di titik jenuh karena kelelahan. Di tengah perasaan ini, aku beranikan diri untuk membangun toko online. Sudah berjalan 6 bulan dan penghasilan yang diterima belum banyak. Namun, dengan keberanian lagi, aku membuka toko, belum satu minggu, tabunganku habis. Sekarang, aku seperti kehilangan identitas. Mau kerja, tetapi sudah di titik klimaks. Ingin berhenti, tapi tabungan habis. Apa yang harus kulakukan? Rasanya buntu. Aku sudah memperkerjakan seorang karyawan, dan akhir bulan ini harus membayar gaji dan sewa toko. Jika resign, bagaimana melanjutkan usaha ini? Jika mencari kerja terlebih dulu, baru resign, rasanya sudah malas. Mohon saran. - Arsy, Semarang.

Arsy, pertama, tetapkan tujuan hidup Anda. Visualisasikan 5-10 tahun ke depan, Anda ingin menjadi apa. Mana yang lebih kuat, ingin menjadi karyawan berprestasi atau menjadi wirausahawan yang berhasil? Tetapkan tujuan hidup Anda dengan menggunakan prinsip SMART (Specific-Measurable-Attainable-Realistic-Timebound). Specific berarti prestasi di bidang apa yang ingin Anda capai, sebagai apa, di bisnis apa, Measurable untuk memastikan ada tolak ukur yang pasti sebagai barometer keberhasilan, Attainable adalah sedikit di atas kemampuan Anda sehingga akan memancing adrenalin untuk mencapai tujuan, Realistic diperlukan untuk memastikan tujuannya cukup realistis, Time-bound adalah kejelasan kapan Anda bisa mewujudkannya.

Kedua, cobalah fokus pada tujuan tersebut. Fokus pada potensi positif yang Anda miliki, untuk meraih tujuan, yakni apa saja pengetahuan, skills penunjang, sikap positif, modal pendukung yang dimiliki. Cobalah untuk tidak memperbesar kelemahan yang ada, agar Anda tetap terdorong mewujudkan tujuan Anda, tidak mudah menyerah atas kendala yang Anda hadapi.

Sebagai contoh, bila saat ini Anda memutuskan berwirausaha, maka fokus pada apa saja keterampilan yang sudah dimiliki, pengetahuan yang sudah dipunyai, pelajaran berharga dari pengalaman yang diperoleh , network yang sudah terbina, staf yang sudah ada, serta pikirkan bagaimana mengoptimalkan sumber-sumber daya ini.

Untuk solusi permodalan saat ini, dapat dipertimbangkan apakah akan Anda cover dengan menambah masa kerja di perusahaan sehingga bisa menabung untuk investasi usaha, melalui peminjaman modal (bila dimungkinkan), mengajak pemodal lain untuk bergabung, atau solusi kreatif lain.

Bergabung Dengan Komunitas
Carilah mentor di bidang wirausaha yang akan membimbing Anda me-review kembali langkah selama 6 bulan terakhir. Lalu telusuri faktor-faktor apa yang menyebabkan Anda belum berhasil mencapai target dan profit, sehingga permodalan semakin menyusut. Bergabunglah dalam komunitas wirausaha sejenis maupun dari bisnis berbeda, untuk memperluas wawasan mengenai bidang yang ditekuni, sekaligus meniru dan memodifikasi gagasan cemerlang dalam memasarkan dan menjual produk/jasa. Mungkin Anda perlu lebih agresif mendekati pangsa pasar untuk lebih mengenal profil mereka. Dengan begitu, Anda makin tahu apa saja kebutuhan customer atas produk/jasa yang Anda tawarkan. Perbanyak riset informal di bisnis Anda.

Cari Tantangan Kerja
Bila dalam upaya menabung, Anda merasa jenuh dengan pekerjaan saat ini, cobalah temukan keasikan baru. Konsultasikan pada atasan di tempat kerja, mungkinkah Anda diberikan tantangan dengan pekerjaan/proyek baru yang lebih kompeks, apakah Anda dapat mengikuti seminar/training yang dibiayai perusahaan berkaitan dengan pekerjaan, sehingga dapat bekerja lebih optimal dan makin efektif. Pertimbangkan kemungkinan mutasi ke bagian lain yang lebih cocok dengan minat dan latar belakang pendidikan, sekiranya dimungkinkan dan tersedia lowongan.

Bila memang sudah sedemikian antiklimaks, cobalah bekerja di perusahaan lain pada bidang pekerjaan yang lebih sesuai dengan minat dan latar belakang akademis, dengan tetap fokus pada tujuan utama berwirausaha, sehingga di kesempatan yang tepat, begitu modal terkumpul, Anda siap mengundurkan diri.

Pada intinya, rasa jenuh, malas, biasanya timbul karena seseorang merasa kurang tertantang, akibat menjalankan hal yang rutin. Energi seolah terkuras habis. Temukan tantangan baru yang membuat motivasi kerja Anda kembali meningkat. Apa pun tantangannya, bila Anda memutuskan bekerja atau berwirausaha, sikapi dengan tangguh, taktis dan perluas wawasan dan pergaulan bisnis, sehingga alternatif solusi semakin terbuka luas. Selamat menelusuri potensi diri menemukan solus atas isu Anda ini.

(Donna Turner, Praktisi SDM Experd/Majalah Chic)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Jun 27, 2010 9:43 am

MEMBUAT KEPUTUSAN FINANSIAL
Minggu, 27 Juni 2010 | 04:13 WIB
Elvyn G Masassya praktisi keuangan

Ketika Anda hendak membuat suatu keputusan finansial, misalnya membeli rumah, mobil, atau berinvestasi dalam saham, lazimnya ada pertimbangan yang mendasari. Berapa persen keputusan itu didasari pertimbangan rasional ketimbang pertimbangan emosional? Tatkala Anda hendak membeli rumah, ada pertimbangan lokasi yang dekat dengan kantor atau berdekatan dengan keluarga. Pendeknya, ada berbagai latar dari keputusan tersebut. Tentu saja ada pertimbangan mengenai harga rumah. Pertanyaannya, berapa persen pertimbangan harga dibandingkan dengan pertimbangan lain, yang mendorong Anda untuk membeli rumah?

Namun, coba jujur, pernahkah Anda membeli suatu barang sebenarnya lebih didominasi oleh pertimbangan emosional. Artinya, tidak peduli berapa pun harga rumah tersebut, tetap Anda beli karena Anda menyukainya. Dan boleh jadi, Anda membayar terlalu mahal untuk membeli fungsi dari sebuah barang. Itulah yang disebut dengan keputusan finansial, yang tidak berbasis argumentasi finansial. Nah, agar tidak terjebak dalam pengambilan keputusan seperti itu, ada baiknya direnungkan kembali, bagaimana baiknya pembuatan keputusan finansial itu dilakukan.

Tujuan dan budget
Pertama, pastikan dulu tujuan dari keputusan finansial Anda. Membeli rumah misalnya, apa tujuannya? Untuk tempat tinggal yang baru atau sebagai alat investasi. Apa pun alasannya terserah Anda. Yang mesti dipahami adalah, perbedaan tujuan keuangan tersebut mestinya akan melahirkan keputusan keuangan yang berbeda. Dengan kata lain, keputusan keuangan untuk membeli suatu barang yang bersifat konsumtif akan sangat berbeda dengan keputusan keuangan yang tujuannya produktif. Dan Anda mesti memahami benar konsekuensi dari keputusan tersebut.

Kedua, menentukan berapa budget yang disediakan untuk suatu keputusan keuangan. Ini menjadi faktor penting sebab banyak kalangan membeli barang tanpa perencanaan jelas tentang biaya yang dialokasikan. Membeli barang konsumtif menggunakan kartu kredit, misalnya, maka setiap bulan, tagihan Anda akan membengkak. Atau kalau membeli rumah, penyesalan akan datang belakangan karena realitas yang diperoleh berbeda dengan harapan. Atau ketika Anda membeli barang branded, demi ingin menaikkan status sosial. Anda sebenarnya merasa ”tidak kuat” mengeluarkan dana untuk membeli barang dimaksud, tetapi memaksakan diri agar kelihatan ”hebat” . Yang terjadi kemudian adalah penyesalan karena teman-teman Anda juga mampu membeli barang yang sama, atau malah lebih mahal ketimbang barang yang sudah Anda beli. Membeli suatu barang branded dengan maksud meningkatkan gengsi bukanlah keputusan finansial. Itu lebih merupakan keputusan emosional yang hanya menimbulkan masalah di kemudian hari.

Purnajual dan dampak
Ketiga, aspek purnajual dari barang yang dibeli. Keputusan finansial yang tidak mempertimbangkan aspek purnajual dari suatu barang akan menimbulkan penyesalan. Perilaku finansial yang benar adalah ketika aset yang dimiliki lebih bersifat produktif ketimbang konsumtif. Demikian juga halnya dengan pembelian barang. Jika barang tersebut sudah tidak memiliki nilai produktif, termasuk ketika dijual kembali, barang tersebut tergolong biaya semata. Dengan kata lain, barang apa pun yang dibeli sebaiknya masih memiliki nilai kalau hendak dijual kembali. Hal seperti ini berlaku buat seluruh barang yang Anda beli dan miliki. Jika membeli suatu barang, pertimbangkan barang tersebut bisa dijual kembali pada suatu ketika dengan harga yang memadai.

Keempat, dampak keputusan terhadap kondisi keuangan secara menyeluruh. Setiap keputusan finansial pada dasarnya berdampak positif ataupun negatif. Kerap kali kita lupa bahwa suatu keputusan tidak berdiri sendiri. Ketika Anda membeli rumah secara kredit, misalnya, akan berpengaruh terhadap perilaku keuangan Anda dalam mengelola pengeluaran pada masa berikutnya, karena sebagian penghasilan akan dipakai untuk mencicil angsuran kredit. Pernahkah Anda bayangkan pengaruhnya terhadap rencana pengeluaran Anda yang lain? Artinya, bisa saja Anda mesti menghentikan salah satu pengeluaran Anda agar cash flow tidak defisit. Nah, setiap keputusan keuangan sebaiknya dianalisa pengaruhnya terhadap pengeluaran secara menyeluruh.

Argumentasi rasional
Kelima, argumentasi rasional harus lebih tinggi dibandingkan dengan alasan emosional. Dalam istilah yang lebih lazim, bisa membedakan antara keinginan dan kebutuhan. Semua pembelian yang hanya berdasarkan keinginan umumnya adalah berdasarkan emosional. Sementara pembelian yang berbasis kebutuhan juga tidak selalu rasional. Termasuk dalam hal ini adalah pertimbangan harga, aspek purnajual, dan sebagainya. Kendati keputusan finansial Anda sudah diyakini semata-mata untuk memenuhi kebutuhan, belum tentu memenuhi kriteria logis rasional. Oleh karena itu, cek sekali lagi, berapa persen aspek emosional terkandung di dalamnya.

Masih banyak faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum membuat keputusan finansial. Untuk memudahkan Anda dalam membuat keputusan, tidak ada salahnya semua alasan dicatat dan dimasukkan dalam daftar pertimbangan. Dengan daftar tersebut, Anda bisa menimbang-nimbang apakah keputusan Anda dapat dipertanggungjawabkan secara logika atau sekadar emosional belaka. Yang jelas, keputusan berdasarkan emosional biasanya akan lebih makan biaya ketimbang keputusan berdasarkan rasional. Pilihan ada di tangan Anda.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jun 28, 2010 7:45 am

KELUARGA MODERN INDONESIA
Sunday, 27 June 2010 - Seputar Tndonesia
”Pilih mana, keluarga atau karier?” Serasa ditodong pistol kalau mendengar pertanyaan bernada ancaman seperti itu.Tidak melulu datang pada pria, juga bisa pada wanita yang bekerja. Karena di zaman modern ini, seolah batasan siapa pencari nafkah utama menjadi semu. Sebagian keluarga masih mengandalkan ayah sebagai pencari nafkah utama, sebagian lain justru ibu yang mampu jadi ”pemasok” dana terbesar di keluarga, atau bahkan anak-anak yang diperalat jadi sumber dana andalan keluarga. Waduh, malah jadi semrawut pikiran kita kalau disuguhi realitas demikian. Memang itulah beberapa kenyataan di zaman modern yang menimbulkan timpangnya kerekatan.Penggalan pertanyaan di atas hanya pengantar contoh renggangnya keterlibatan dalam keluarga. Lantas ada apa dengan keluarga Indonesia? Keluarga selama ini diterjemahkan dalam arti yang sangat baku.

Ada yang mendefinisikan dengan batasan ikatan perkawinan, ada juga yang mendefinisikannya sebagai unit terkecil masyarakat dan bila secara administrasi adalah semua yang tergabung dalam kartu keluarga.Pandangan tersebut sudah tepat. Namun jika mengaitkan peran keluarga terhadap dampak sosial di zaman modern ini, akan lebih mengena bila mendudukkan keluarga itu sebagai ”organisasi terkecil” bukan lagi sekedar unit terkecil yang statis dalam masyarakat. Kita tahu bahwa organisasi itu idealnya memiliki sifat interaktif, saling ketergantungan,pekat dalam komunikasi, dan memiliki tujuan-tujuan dalam arah yang sama.

Di zaman modern ini, keberadaan setiap anggota keluarga berdasar ikatan perkawinan di dalam satu tempat, satu rumah cenderung tidak lagi populer. Kondisi perekonomian yang berkembang, geografis yang berubah, banyak menjadikan mereka hidup berpencar untuk mencari nafkah, belajar,berkarya dengan mobilitas antar wilayah dan lain.Anak rantau makin banyak, bisnis rumah kos, kontrakan dan juga asrama sudah menjamur. Budaya asal mulai memudar karena bercampur dengan aneka budaya di tempat kerja,dan sosialitanya. Dengan kondisi demikian, apakah fokus kita untuk membangun, membina mental masih tetap dipadatkan hanya pada keluarga secara definitif?

*** S u d a h saatnya melihat keluarga dengan lebih luas, tanpa terbatas pada ikatan perkawinan saja.Jangan terlupakan bahwa keluarga di zaman modern ini menjadi sebuah institusi yang bisa dalam bentuk sekelompok pekerja, sekelompok permainan, sekelompok tim dengan hobi yang sama,sekelompok persaudaraan dan kelompok- kelompok lain.Dalam bentuk- bentuk seperti itulah pengaruh yang menjalar ke sesamanya lebih efektif.Baik itu pengaruh budaya, pembinaan mental, lingkungan, saling melindungi, ekonomi, dan yang utama juga adalah pengaruh informasi. Kita seakan terlena bahwa kehidupan keluarga seperti ini kadang bisa mengalahkan interaksi dalam keluarga inti.

Coba renungkan, berapa jam, berapa hari kita bisa secara aktif dan berkualitas berinteraksi dengan keluarga inti? Bisa jadi, anak balita yang kita tinggalkan di rumah lebih banyak interaksinya dengan para baby sitter karena lebih dari 9 jam di dekatnya. Tak sedikit para orang tua lebih dari separuh hari melakukan interaksi berkualitas dengan tim kerjanya, dengan teman sosial lainnya, karena sesampainya di rumah sudah letih dan waktunya banyak untuk beristirahat. Nyaris lenyap interaksi berkualitas untuk saling menularkan nilainilai luhur, cara pandang ”versi keluarga”. Atau bisa sebaliknya, pembantu rumah tangga yang fresh dari desa ke kota bisa mendadak berkembang mental dan kepribadiannya, karena intensif berinteraksi dengan ibu majikan di rumah yang senantiasa mengatur ini dan itu dengan tata nilainya.

Tak terasa, hampir kedelapan fungsi keluarga menurut Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 1994 (yakni: fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi,pembinaan lingkungan) bisa seolah tergantikan oleh institusi keluarga dalam bentuk lain yang di luar ikatan perkawinan. Tentu saja, Anda sudah pasti menjawab yang tak tergantikan adalah fungsi reproduksi.Tapi untuk urusan membangun mental bangsa,sosialisasi program-program keluarga atau sebaliknya untuk meredam gosip nasional, klarifikasi gunjingan (rumours) menjadi perlu untuk mem-pertimbangkan fungsi keluarga yang realistis seperti keberadaan institusi keluarga di atas. Keluarga adalah media, bahkan setiap individu adalah media.

Siapa yang didengar dan dipercaya akan menjadi media pengaruh yang ampuh dan meluas.Sehingga apa pun pengaruh yang diharapkan bisa menjadi efektif hanya karena ”media hidup” (bukan terbatas pada media secara harfiah). Perluasan pengaruh yang terjadi di luar keluarga tak ayal karena adanya interaksi keterlibatan, komunikasi yang relatif lebih banyak di luar ”rumah”ketimbang di dalam. Dampaknya,jelas nyata.Di mana individu lebih sering berinteraksi, di sanalah akan lebih banyak memberi kesempatan pikirannya untuk berkembang, Kemudian hal itu bisa masuk menjadi memori dalam pikiran,berkembang menjadi nilai hidup hingga tercermin dalam sikap dan perilaku.

Karena sudah lama tidak ada keterlibatan keluarga, maka paham lain yang bisa menyesatkan berpeluang merasuki. Mari kita ingat latar belakang tumbuhnya paham terorisme, memudarnya moral karena perilaku asusila, menguatnya naluri kriminal dan lainnya yang menyimpang norma umum, biasanya diklarifikasi sebagai bentuk-bentuk yang jauh dari nilai-nilai keluarga yang ditanamkan atau diharapkan keluarganya akan tertanam. Nah, lagi-lagi bukti bahwa institusi keluarga di luar keluarga secara definitif menjadi lebih berperan lewat interaksi keterlibatan dan komunikasi.

Menyadari pergeseran pola kehidupan sosial di zaman modern ini, tentu setiap keluarga yang sesungguhnya, juga tak ingin kehilangan peran.Untuk itu mari kita rekatkan lagi interaksi keterlibatan dan komunikasi di antara kita sesama anggota keluarga. Dengan keterlibatan yang baik,akan menghasilkan komitmen yang lebih erat. Tanpa adanya keterlibatan (emosi dan interaksi) maka komitmen tak bisa diharapkan. Perlahan dan pasti, mari bergeraklah semua untuk keterlibatan masing-masing diri kita dalam keluarga. Merekatkan lagi yang renggang, memperjelas lagi nilainilai luhur, budi pekerti,moral dan saling mengingatkan lagi untuk jalin komunikasi sesama dan vertikal pada Sang Pencipta.

Karena bagaimanapun yang melekat secara formasi adalah keluarga yang berdasar ikatan perkawinan, sedangkan lainnya akan senantiasa berubah (pindah kerja,pindah tempat tinggal,berganti komunitas). Dalam keluargalah, awal pembentukan nilai-nilai luhur kehidupan, bilamana tertanam dengan kuat maka akan menjadi prinsip hidup yang dipertahankan walaupun berada dalam lingkungan atau institusi keluarga baru. Lingkungan jangan menyetir diri menjadi sesat, melainkan kita cipta bersama agar menjadikan individu berkembang dewasa.

Kehidupan jangan tersia-siakan, jadilah individu dan orang tua yang didengar. Jadikan pengalaman kehidupan sebagai ”sekolah”, untuk belajar lebih baik,sebagai bekal membentuk keluarga Indonesia modern yang sesuai di masanya.(*)

Rizka Moeslichan
Motivator, Penulis Buku Single, Sex and Survival
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jun 29, 2010 5:05 am

MEMBANGUN FONDASI KEUANGAN YANG KUAT DALAM KELUARGA
Tuesday, 29 June 2010 - Seputar Indonesia
Dalam pekerjaan saya sehari- hari sebagai perencana keuangan, saya menemukan banyak hal menarik tentang bagaimana sebuah keluarga yang tadinya rukun bisa berantakan dan cerai berai karena uang.

Sebut saja seorang pria dengan usia sekitar 35 tahun, berpendidikan cukup baik, punya jabatan cukup baik di keluarga, dengan penghasilan yang lumayan. Istrinya juga bekerja, dengan usia 32 tahun, memiliki penghasilan yang cukup baik. Mereka punya dua orang anak kecil lucu-lucu.Yang menarik adalah bahwa saya pernah bertemu dengan salah satu dari mereka tanpa sengaja (si wanita) sekitar beberapa bulan lalu dan dia mengatakan bahwa dirinya dan suami ternyata sudah bercerai.Tanpa saya tanya kenapa, si wanita ini bilang pangkalnya adalah masalah uang. Saya heran, apa masalahnya? Penghasilan keduanya bagus.

Rumah dan kendaraan ada, fasilitas juga ada. Terus masalahnya di mana? Menurut si wanita, sumbernya adalah gaya hidup suaminya yang gila-gilaan ketika mendapatkan penghasilan. Suaminya boros luar biasa, entah boros di pengeluaran maupun boros di barang elektronik. Yang lebih parah, si suami katanya tidak pernah mau menceritakan seberapa besar penghasilan dan seperti apa kondisi keuangannya sebelum akhirnya si wanita tahu bahwa si suami punya utang di mana-mana. “Apa punya utang itu salah?” tanya saya.“Gak sih, gak salah...,” kata si istri.

Masalahnya adalah bahwa utang-utang itu dilakukan untuk membiayai gaya hidup si suami yang tak pernah diketahui istrinya.“Terus, sudah duduk bareng?” saya tanya. “Sudah sering. Tapi ya selalu mental sebelum akhirnya kita bertengkar terusmenerus dan merembet ke hal-hal lain sebelum akhirnya meledak dan kita cerai.” Saya cumadiam.Tidakmenyangka bahwa penyebab pasangan yang dulusaya kenalsangatcocokdan serasi bisa bertengkar berulang kali dan akhirnya bercerai cuma garagara soal uang.

Jangan Sampai Uang Jadi Masalah
Begini lho. Kalau kita mau renungi, kita akan sadar bahwa uang itu adalah alat tukar yang sebetulnya hanya benda mati. Memang, uang memang ada ukurannya,dari mulai seribu, sepuluh ribu,sampai seratus ribu rupiah.Namun,berapa pun nilai uang, buat saya pengendalinya tetap manusia,kita sendiri, benda hidup, punya jiwa.Artinya, kalau ada yang sampai harus berpisah karena uang, saya pikir, kenapa kita mau dikendalikan oleh benda mati? Oke, saya mengerti. Mungkin memang tak sesimpel itu.Namun, prinsipnya, menurut saya, tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan.

Dalam kasus di atas tadi misalnya, masalah bisa beres kalau saja si suami mau mengoreksi gaya hidupnya dan lebih transparan soal keuangan. Nah, apa inti dari cerita saya tadi? Bahwa sebuah keluarga harus punya fondasi yang kuat dalam soal keuangan.Tanpa fondasi yang kuat dalam hal keuangan,apa pun hal jelek bisa terjadi. Ada tiga hal yang perlu diperhatikan supaya fondasi keuangan agar keluarga bisa jadi kuat, yaitu penghasilan, pengeluaran, menabung & berinvestasi. Mari kita bahas satu per satu.

Penghasilan
Pertama-tama, sebuah keluarga harus punya penghasilan. Saya tak akan bicara tentang pekerjaan apa yang sebaiknya dilakukan seseorang supaya keuangan dalam keluarga jadi bagus.Tapi yang saya maksud di sini adalah, pekerjaan dengan karakter penghasilan seperti apa yang perlu dimiliki oleh setiap keluarga. Profesi yang memberikan gaji tetap misalnya, tentu kita bisa liat sendiri, seperti apa karakter penghasilannya. Anda akan mendapatkan penghasilan itu tiap bulan, dengan kenaikan sekitar 10% per tahun sesuai inflasi, sekali-sekali mungkin dapat bonus, dan yaah… begitu terus.

Seorang freelancer misalnya (penerjemah, EO Perorangan, penyanyi yang manggung, artis, apapun itu), penghasilannya naik turun.Tidak ada bonus, tapi kalau klien banyak,penghasilannya bisa banyak. Bagaimana dengan karakter penghasilan seorang pengusaha? Di awal,mungkin dia harus rela tidak dapat penghasilan.Tapi dalam jangka sangat panjang, penghasilan yang didapat bisa sangat-sangat besar. Nah, dengan mengenali macam- macam sumber penghasilan dan karakternya, di sini si kepala keluarga bisa memutuskan sumber penghasilan mana yang paling pas buat dia,dan melakoninya.

Pengeluaran
Fondasi keuangan kedua yang harus dipelajari adalah pengeluaran. Sebuah keluarga dan semua anggota keluarga di dalamnya sebaiknya tahu tentang bagaimana mengatur uangnya supaya cukup untuk membayar semua pengeluarannya. Ada tiga macam pengeluaran: wajib, butuh, dan ingin. Memprioritaskan untuk membayar hal-hal yang memang wajib dan butuh serta mengebelakangkan yang ingin adalah keharusan kalau sebuah keluarga ingin bisa mengatur pengeluarannya dengan baik. Tidak,tidak,saya tidak sedang mengajak Anda untuk jadi orang kikir.Saya malah percaya kalau kikir cuma membuat kehidupan kita jadi serba nggak enak, rezekinya tak berkah.

Maksud saya adalah, mengatur pengeluaran lebih kepada bagaimana kita bisa mengeluarkan uang yang tidak lebih banyak daripada yang seharusnya.Itu saja kok. Yang penting juga adalah, perhatikan bahwa banyak sekali iming-iming penjualan di sekitar kita yang memanggil-manggil kita seolah minta didatangi.Apa yang bisa dilakukan adalah dengan kembali ke pemikiran awal,bahwa jangan sampai kita terjerat dalam sifat konsumtif.Apalagi kalau konsumtifnya itu pakai utang.

Menabung dan Berinvestasi
Apa beda menabung dan berinvestasi? Buat saya, prinsipnya sebetulnya sama, bahwa kita menyisihkan penghasilan untuk diputar dan bisa memberikan hasil untuk masa depan. Hanya saja bahwa kata menabung lebih sering digunakan untuk menyimpan dana untuk kita pakai di waktuwaktu mendatang untuk bisa mencapai tujuan-tujuan tertentu, seperti beli rumah, beli mobil, sekolah anak, dan sebagainya. Sementara “investasi” adalah menyisihkan dana untuk bisa diputar dan memberikan hasil di masa mendatang. Kuncinya di sini sederhana, bahwa penghasilan yang kita dapatkan, harus bisa digunakan untuk membayar pengeluaran kita saat ini, dan masa depan.

Nah, untuk membayar pengeluaran kita di masa depan itulah perlunya kita menabung dan berinvestasi. Tentunya,penting buat kita untuk tahu apa saja alternatif-alternatif menabung dan berinvestasi yang ada di luar sana. Ibaratnya, kalau kita naik mobil dari Jakarta menuju Surabaya, kita bisa lewat jalur Pantai Utara.Tapi kalau jalur Pantai Utara macet, kita bisa memotong ke bawah lewat Pantai Selatan. Nah, tentunya akan lebih enak kalau kita tahu seluk beluk jalur Pantai Selatan itu seperti apa, bukan begitu?

Oke, sekarang, dengan memperhatikan ketiga hal tersebut,mengenali sumber penghasilan dan karakternya, belajar mengatur pengeluaran, dan tahu alternatifalternatif produk tabungan dan investasi, mudah-mudahan kita bisa memiliki fondasi keuangan yang kuat dalam kehidupan keluarga kita.Selamat Hari Keluarga Nasional.(*)

Safir Senduk
Perencana Keuangan
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:38 am

USAHA PRAKTEK DOKTER DAN APOTEK
Selasa, 03/06/2008 09:01 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saya ingin mulai usaha praktek dokter dengan apoteknya untuk istri saya yang sebentar lagi akan lulus sebagai dokter spesialis penyakit dalam. Pada saat ini saya mempersiapkan dana sekitar Rp 800 juta. Pertanyaan saya:

* Bagaimana prospeknya bisnis ini?
* Apa saja yang harus dipersiapkan, izin dsb?
* Apa kiat-kiat untuk bisa sukses dibisnis ini?

Jawaban :
Pak Ngurah Bagus yang terhormat, terima kasih atas pertanyaan yang diberikan. Untuk memulai bisnis yang akan diterjuni kita harus memahami secara detil tentang bisnis tersebut. Jika memang bapak ingin punya usaha di bidang tempat praktek dokter dan apotek, maka pemahaman tentang siapa pasar yang akan dituju adalah sangat penting.

Dilihat secara umum, praktek dokter maupun apotek memiliki prospek yang cerah, karena anggota masyarakat sekali waktu akan sakit dan memerlukan dokter beserta obatnya. Namun demikian kondisi masyarakat kita saat ini adalah loyal kepada dokter yang pernah menyembuhkannya. Kadangkala dokter tersebut berpraktek di tempat yang cukup jauh dari lokasi rumah pasien tersebut, para pasiennya akan dengan sukarela datang ke tempat tersebut untuk berobat.

Jadi tempat praktek dokter yang direncanakan haruslah memiliki 'nilai lebih', misalnya memiliki dokter yang cukup baik dan disiplin, merupakan rujukan dari pihak-pihak tertentu, apakah itu asuransi, klinik atau rumah sakit yang berdekatan. Demikian pula apotek haruslah memiliki stok obat yang cukup lengkap dan harga yang kompetitif misalnya.

Untuk memiliki tempat usaha praktek dokter, jika hanya berpraktek sendiri & tempat praktek di rumah, maka cukup dengan surat izin praktek. Sedangkan jika ada tempat khusus yang dinamakan praktek bersama misalnya, maka diperlukan surat izin praktek dan izin mendirikan bangunan, serta perlu ditunjuk dokter penanggung jawab dan dokter pelaksana harian. Untuk perizinan apotek berdasarkan informasi yang ada lebih mudah. Silakan menghubungi dinas kesehatan setempat untuk lebih detilnya.

Dari sisi pendanaan, modal yang dibutuhkan untuk usaha apotek lebih besar karena diperlukan stok obat yang diperlukan.
Karena tempat usaha praktek dokter dan apotek akan didatangi oleh 'pelanggan', maka lokasi kedua jenis usaha tersebut adalah sangat penting.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:25 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:38 am

MEMBUKA USAHA FOTOKOPI TERPADU
Jumat, 15/06/2007 09:10 WIB Nurul Qomariyah - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
"Saya telah membuka usaha kecil-kecilan sejak 4 tahun yang lalu di bidang rental fotokopi dan alat tulis kantor yang berdomisili di Banda Aceh. Alhamdulillah sekarang berjalan lancar. Saya ingin mengembangkan bisnis saya. Yang menjadi pertanyaan:

1. Bagaimana agar usaha rental itu tetap berkembang luas?
2. Bisnis apakah yang cocok tapi masih dapat berhubungan dengan usaha saya sekarang?
3. Berapa gaji karyawan yang pantas jika sudah memberikan fasilitas tempat tinggal, listrik dll gratis?

Jawaban:
Selamat atas bisnis Ibu yang sudah berjalan sesuai harapan.

A. Jika ingin meningkatkan usaha maka tentunya Ibu harus memperluas Jaringan sehingga bisa memperoleh lebih banyak lagi Nasabah yang menggunakan Jasa dan Produk Ibu. Namun Ibu jangan lupa untuk selalu mejaga Pelayanan yang diberikan; misalnya Kualitas dari Produk dari bisnis ini sendiri. Jangan sampai Mesin Fotocopi nya sering rusak atau hasil fotocopi yang diperoleh tidak jelas atau kurang bagus. Juga Perawatan yang dilakukan secara berkala maupun Perbaikan jika terjadi kerusakan sehingga membutuhkan bantuan untuk memanggil pihak Teknis untuk memperbaiki di setiap saat terjadi. Kepuasan para Pelanggan bisa menjadi suatu upaya Promosi yang paling efektif.

Perlu juga untuk mencari kiat-kiat Marketing yang efektif dan efisien serta sesuai dengan jenis usaha ini. Selain itu semua Ibu jga harus menjaga Efisiensi Biaya baik untuk Karyawan, Pembelian Mesin, Tempat Usaha, Operasional, Investasi sehingga tidak menjadi beban pengeluaran bagi usaha Ibu tersebut. Hal lainnya adalah untuk selalu waspada dan mendapatkan informasi mengenai perkembangan teknologi yang berkaitan dengan usaha Ibu misalnya kecanggihan mesin fotocopi maupun fasilitas-fasilitas yang terbaru yang tersedia pada jenis mesin-mesin terbaru sehingga jangan sampai Nasabah merasa mendapat mesin yang sudah ketinggalan jaman. Tentunya Ibu bisa membuat segmentasi pasar sehingga investasi atas mesin-mesin dapat disesuaikan berdasarkan kemampuan keuangan nasabah.

B. Banyak sekali bisnis yang dapat Ibu kembangkan tetapi masih berkaitan dengan jenis bisnis saat ini. Bahkan bisa dikatakan bahwa jenis bisnis baru tersebut mendukung dan memanfaatkan bisnis yang ada saat ini. Misalnya Ibu bisa mempertimbangkan untuk membuka bisnis fotocopi 24 jam, bisnis fotocopi murah di dekat kampus, bisnis percetakan, jual beli mesin fotocopi, rental komputer, wartel, warnet, buka toko buku dan peralatan kantor dan lain sebagainya.

C. Manfaat Kesejahteraan karyawan bukan hanya gaji yang diberikan tetapi juga fasilitas kesejahteraan karyawan lainnya, seperti Uang Makan, Uang Transportasi, Uang Tempat Tinggal dan Keperluan Rumah Tangga lainnya. Kita bisa memperkirakan Nilai Kesejahteraan Karyawan tersebut berdasarkan pada apa yang dimiliki karyawan tersebut contohnya kemampuan kerja, kompetensi, keahlian, pengetahuan teknis dan manajemen yang dimiliki, kejujuran, inisiatif kerja dan lain-lain. Atau berdasarkan dari kebutuhan yang kita inginkan, contohnya staf marketing, staf akuntansi, manajer dan sebagainya, atau juga berdasarkan perhitungan bisnis misalnya kemampuan bisnis karyawan sehingga bisa mendatangkan keuntungan yang optimum, nilai rata-rata karyawan dengan jenis pekerjaan yang sama di jenis bisnis yang sama dan lain-lain. Tentunya nilai Gaji tersebut sangat relatif tergantung kepada perhitungan bisnis Ibu sendiri.

Saya yakin Ibu sudah punya Anggaran Biaya Operasional yang tentunya termasuk kepada Gaji Karyawan dan atau Manfaat Kesejahteraan Lainnya. Cara yang paling efisien adalah dengan mencari tahu berapa gaji karyawan dengan jenis pekerjaan yang sama di tempat pesaing, dalam hal ini Ibu sebaiknya membuat rata-rata atas informasi dari beberapa pesaing. Kemudian Ibu lakukan penyesuaian dengan kondisi bisnis yang Ibu miliki sehingga akan didapat suatu nilai yang bisa dijustifikasi atau ada alasan kuat bagaimana memperoleh nilai tersebut.

Salam Risza Bambang-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:22 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jul 05, 2010 8:39 am

MEMBUKA USAHA PERALATAN PESTA
Jumat, 06/07/2007 10:01 WIB Irna Gustia - detikFinance
Jakarta - Usaha jasa pernikahan yang kami buka sudah berjalan. Saya ingin mengembangkan di peralatan pestanya. Kira-kira seberapa besar modal yang harus dikeluarkan dan bagaimana mengembangkannya? Mengingat bisnis ini cukup banyak pemainnya, apakah yang harus kami lakukan agar kami tetap eksis? Bagaimana prospek bisnis ini di masa mendatang? Dan karena perkawinan tidak setiap hari ada, bagaimana tips mengelola dananya agar tidak tekor jika tidak ada order? Terimakasih - budi_prayogi@yahoo.com

Jawaban:
Bapak Budi yang terhormat, selamat bahwa Bapak sudah menjalankan wirausaha khusus di bidang jasa pernikahan. Saat ini Bapak ingin mengembangkan ke jasa penyewaan peralatan pestanya. Apakah peralatan pesta tersebut dikhususkan untuk pesta pernikahan saja? Jika tidak, tentunya bisa dipakai untuk pesta-pesta lainnya. Apakah itu pesta ulangtahun, khitanan, dan lain sebagainya. Ini berarti pasar untuk alat-alat tidak hanya untuk pernikahan, tetapi lebih luas dari itu. Jangan takut untuk memperlebar pasar yang ada. Ada beberapa tips dalam menghadapi persaingan di bawah ini. Mudah-mudahan menginspirasi Bapak untuk menerapkannya.

Yang pertama, bisnis yang kita jalankan haruslah memiliki keunikan yang tidak dimiliki oleh kompetitor. Misalnya Anda memiliki paket khusus dengan harga miring. Jika pemakai jasa memilih paket tersebut, maka mereka akan mendapatkan fasilitas berupa jasa pernikahan ditambah dengan peralatan pestanya. Atau ditambah fasilitas lainnya yang memungkinkan bisnis Bapak memiliki ciri khas perbedaan yang menguntungkan bagi pemakai jasa Bapak.

Yang kedua, bisnis yang Bapak jalankan haruslah memiliki brand yang kuat. Brand yang kuat akan mempermudah orang untuk mengingatnya. Brand yang kuat tentunya harus diikuti dengan service yang baik. Bapak Budi, pengelolaan dana untuk bisnis yang Bapak jalankan haruslah terpisah dengan keuangan keluarga. Artinya tidak bercampur dengan pengeluaran keluarga sehari-harinya. Ada baiknya Bapak memiliki pembukuan khusus untuk bisnis yang dijalankan tersebut. Bisnis yang Bapak terjuni saat ini, memiliki prospek yang cukup cerah. Karena setiap waktu pasti ada pernikahan yang dilakukan, ada pesta ulangtahun yang diadakan, ada kelahiran anak yang dirayakan. Selamat mengembangkan usaha.

Joannes Widjajanto - Shildt Financial Planning (ir/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:10 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Jul 07, 2010 4:09 pm

INCOME BESAR, PENGELUARAN BESAR?
Senin, 06/08/2007 08:35 WIB Risza Bambang - detikFinance
Jakarta - Pertanyaan:
"Umur saya 37th, berkeluarga dengan 2 orang putri, 9th dan 4th. Kalau dua tahunan yang lalu saya kesusahan bagaimana cara mengumpulkan dana untuk biaya pendidikan anak dan rencana pensiun kelak, tapi saat ini saya bingung bagaimana saya mengatur penempatan dana yang sudah terkumpul. Rencana kedepan saya ingin pensiun muda setelah umur 40-max 45th. Rata-rata penghasilan saya bersih sebulan Rp 90 juta. Saat ini sudah terkumpul dana pendidikan untuk kedua anak saya kelak sebesar Rp 500 juta, 80%nya dalam bentuk dolar AS.

Pertanyaanya :
a. Strategi seperti apa dan dimana saya bisa menempatkan dana pendidikan yang sudah terkumpul agar aman, terproteksi dan tidak dirongrong inflasi. Juga untuk dana pensiun yang sebagian sudah terkumpul?
b. Untuk jangka 3-8 tanhun kedepan, kira-kira lebih baik mana menyimpan dana dalam USD atau Rupiah?
c. Bagaimana cara melawan rumus/kebiasaan bahwa "Lebih besar penghasilan akan diikuti pengeluaran yang besar juga"?

Jawaban:
Salut pak! atas pencapaian usaha bapak untuk bisa memperoleh Kondisi Keuangan yang sangat baik dalam jangka waktu yang cepat dan pada saat masih berusia sangat muda. Yang lebih hebat lagi adalah keinginan bapak untuk pensiun di usia muda, dan kemudian menikmati hidup bersama keluarga. Banyak orang yang memiliki kondisi keuangan seperti bapak, tapi hanya sedikit dari antara mereka yang punya Tujuan Hidup untuk menikmati Balanced Life atau Hidup yang Seimbang. Dalam kondisi ini maka kita bisa menyeimbangkan kehidupan kita dengan tidak hanya mencari uang tetapi uang yang bekerja untuk kita. Selain itu, tentunya kehidupan kita diseimbangkan dengan tersedianya Waktu yang luang untuk Menemani dan Membimbing Anak dan Keluarga, serta juga bisa mempunyai alokasi waktu yang lebih banyak untuk Kepentingan Agama, Lingkungan dan Komunitas.

Jika diasumsikan bahwa bapak ingin berhenti bekerja pada usia 45 tahun maka sisa waktu yang tersedia dari saat ini adalah +/- 8 tahun. Pada saat pensiun tersebut maka harus tersedia sejumlah Dana yang bisa menghasilkan Bunga, atau Aset yang bisa menghasilkan Uang sebagai Pendapatan Pasif (tanpa perlu bekerja atau upaya dari kita) senilai Total Pengeluaran Keluarga yang sesuai dengan Gaya Hidup kita. Janganlah lupa bahwa nilai Total Pengeluaran tersebut harus diproyeksikan berdasarkan nilai 8 tahun yang akan datang, dengan memasukkan unsur kenaikan Tingkat Inflasi selama 8 tahun.

Faktor utama untuk menentukan nilai Total Pengeluaran adalah Gaya Hidup yang kita jalani selama ini. Tentunya ini harus dipersiapkan dan ditentukan sejak sekarang.

1. Semakin tinggi Standar Gaya Hidup yang kita impikan maka akan semakin tinggi nilai Proyeksi Total Pengeluaran Keluarga di saat pensiun tiba. Faktor lain yang patut dipertimbangkan dalam menghitung nilai Proyeksi tersebut adalah Rencana Keluarga atas beberapa hal misalnya Penambahan Anggota Keluarga, Pembelian Rumah, Kendaraan, Pembelian Barang-barang kebutuhan pokok Keluarga yang nilainya besar, dan lain-lain. Jadi menghitung nilai Proyeksi tersebut harus cermat dan merujuk pada Rencana Kehidupan Keluarga dan Impian Kehidupan di masa depan. Semakin efisien Nilai Pengeluaran Keluarga kita saat ini maka akan semakin cepat bapak dapat mengakumulasikan kekayaan atau aset bapak sehingga bisa pensiun semakin dini.

a. Dana Pendidikan membutuhkan suatu kepastian atau jaminan tersedianya dana pada saat dibutuhkan. Untuk itu bapak harus menetapkan rencana kelanjutan pendidikan anak sehingga dapat menghitung berapa nilai yang akan dibutuhkan. Bapak juga harus melihat sisa waktu yang tersedia antara rencana jenjang pendidikan anak dengan usia anak saat ini. Jika rencana pendidikan adalah menyediakan pendidikan terbaik untuk jenjang kuliah maka waktu yang tersisa +/- 10 tahun.

Sekali lagi, proyeksi Dana Pendidikan yang dibutuhkan 10 tahun yang akan datang harus disesuaikan dengan tingkat inflasi yang terjadi. Oleh karena itu semakin besar dana yang disisihkan untuk keperluan ini maka semakin cepat pula dana masa depan bisa direalisasikan. Bapak bisa memilih produk dana pendidikan yang tersedia yaitu Asuransi Dana Pendidikan Anak, Tabungan Pendidikan Anak atau Reksa Dana Pasar Uang. Jenis produk-produk ini mempunyai karakteristik Jaminan Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga untuk Peningkatan Nilai Dana dan mempunyai Tenor atau Jangka Waktu yang sesuai kebutuhan kita.

Sebaiknya bapak menghindari jenis produk yang tidak mempunyai Jaminan Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga walaupun Penjual Produk menawarkan Tingkat Pengembalian Investasi atau Tingkat Bunga yang tinggi. Penawaran yang diberikan tersebut hanya berdasarkan pengalaman yang pernah terjadi tetapi bukan merupakan Jaminan Komitmen untuk produk yang dibeli saat ini. Sedangkan untuk Pensiun maka bapak bisa memilih produk yang mempunyai risiko lebih tinggi tetapi menjanjikan pengembalian Investasi atau tingkat bunga yang lebih besar. Sesuai dengan pengalaman penulis maka bapak harus siap secara mental dan moral dalam berinvestasi. Pahamilah pengetahuan mengenai produk investasi tersebut secara komprehensif dan kenali secara baik risiko-risikonya.

Jika punya waktu yang luang, pengetahuan atas produk, keahlian akan jenis produk investasinya dan mungkin pengalaman maka lakukan pengelolaan investasi tersebut sendiri. Kekuatan dari pengelolaan sendiri adalah kita bisa memonitornya untuk membuat keputusan yang terbaik bagi keamanan nilai investasi kita. Tetapi jika kita tidak mempunyai faktor-faktor tersebut maka sebaiknya kita memilih Penyedia Produk yang Terpercaya, Keahlian mengelola Investasi, Aman, mempunyai Track Reccord yang bagus dan Pelayanan Nasabah yang terlengkap dll. Jangan membeli produk hanya karena ikut-ikutan teman tanpa terlebih dahulu menyelidiki dan meneliti semua aspek dari perusahaan penyedia produk tersebut.

b. Denominasi mata uang tergantung kepada Rencana Kehidupan/Kebutuhan Keluarga yang terkait. Misalnya Rencana Pendidikan Anak adalah mengirim Anak Ke Eropa setelah lulus SMA maka tentunya lebih cocok dan menguntungkan jika kita menyimpan dana dalam bentuk Euro. Sebenarnya masing-masing Mata Uang mempunyai Kelebihan dan Kekurangan sendiri-sendiri. Jika kita menyimpannya dalam bentuk Rupiah, maka kita bisa memperoleh Tingkat Suku Bunga yang lebih menarik tetapi lebih rentan terhadap Tingkat Inflasi dan Nilai Tukarnya sangat sensitif dengan kondisi ekonomi dunia. Sedangkan mata uang asing lebih kuat menghadapi tekanan Inflasi tetapi Suku Bunganya lebih kecil. Yang harus diperhatikan adalah Perbedaan Suku Bunga Deposito antara Rp dan USD/Euro, jika sudah < 3% maka menyimpan Dana dalam bentuk Mata Uang Asing akan lebih menguntungkan.

c. Teori bahwa Semakin Besar Pendapatan maka Semakin Besar Pengeluaran sebenarnya sesuai dengan Teorema Maslow. Hal ini terjadi akibat dari Peningkatan Pendapatan menyebabkan Perbaikan Status Sosial yang membutuhkan Penyesuaian atau Perbaikan Gaya Hidup. Oleh karena itu seperti dijelaskan di depan maka Kita lah pemegang keputusan yang bisa menetapkan Gaya Hidup yang diinginkan. Kunci terpenting adalah menahan Nafsu Belanja dan menjaga Lapar Mata untuk membeli barang-barang yang sebenarnya sudah kita miliki. Buatlah Perencanaan Keuangan Keluarga yang paling dasar yaitu membuat Anggaran Pengeluaran Jangka Pendek, Menengah dan Panjang, serta menjalankannya dengan Komitmen yang Tinggi sehingga bisa menjaganya dari Pelanggaran-pelanggaran.

Risza Bambang-Shildt Financial Planner (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 2:02 pm; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Jul 09, 2010 5:49 pm

MEMBUKA USAHA MINIMARKET
Selasa, 28/08/2007 09:52 WIB Joannes Widjajanto - detikFinance
Jakarta - Saat ini saya bekerja pada sebuah perusahaan asing di Balikpapan. Saya sangat ingin memiliki sebuah usaha di samping pekerjaan tetap saya. Dan usaha yang saya ingin coba adalah usaha sebuah minimarket.

Pertanyaan saya:
1. Mengingat keterbatasan modal yang saya miliki saya berencana meminjam dana melalui bank, namun saya tidak mempunyai cukup harta untuk digunakan sebagai agunan, apakah saya bisa mendapatkan pinjaman lunak sebagai modal awal tanpa agunan?
2. Bagaimana cara mengisi barang dagangan di dalam minimarket dalam tahap awal pembukaan seperti saya?
3. Kiat-kiat apa saja untuk menjalani persaingan bisnis khususnya minimarket? Terima kasih atas masukannya.

Jawaban :
Sdr. Rudi, banyak orang memang kebingungan saat dihadapkan pada modal yang dibutuhkan. Ada yang mengurungkan niatnya untuk berbisnis, ada pula yang nekat untuk melangkah tetapi tanpa perhitungan yang matang. Pastinya anda sudah memiliki perhitungan yang matang, sebelum menentukan jenis bisnis yang ingin diterjuni. Bisnis yang berhasil adalah bisnis yang sudah berhasil dalam perencanaannya. Ada beberapa alternatif untuk mendapatkan modal.

Yang pertama tentunya dari aset kita. Jika memang tidak mencukupi, kita dapat mengajak teman yang satu visi untuk berbisnis bersama. Atau kita menjalankan bisnis lain yang tidak memerlukan modal besar, untuk menghasilkan modal bisnis minimarket tersebut. Kita dituntut untuk kreatif dalam mendapatkan modal yang dibutuhkan ini. Demikian pula saat dihadapkan masalah bagaimana cara mengisi dagangan dalam mini market ini. Kadangkala kreatifitas akan membantu memecahkan masalah yang mungkin akan timbul saat bisnis ini sudah berjalan.

Sdr. Rudi, ada seorang pengusaha yang mengatakan bahwa untuk berbisnis pada bidang dimana orang mendatangi tempat kita berbisnis, haruslah memenuhi 3 syarat. Yang pertama : LOKASI Yang kedua : LOKASI Dan yang ketiga : LOKASI Selamat berbisnis. Joannes Widjajanto-Shildt Financial Planning (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 1:13 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 26Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 15 ... 26  Next
 Similar topics
-
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak
» seminar keluarga muslim bahagia
» Endonesia: "Kristenisasi" dan Intoleransi

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: