Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 14 ... 24, 25, 26
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 13, 2013 10:25 am

Wah, Biaya Satu Anak Hingga 100 Juta?

Kamis, 13 Juni 2013, 10:12 WIB


weddingsevens.


Hitunglah kebutuhan untuk anak dengan cermat/ilustrasi
A+ | Reset | A-


REPUBLIKA.CO.ID, Menikah kemudian memiliki anak. Tahapan kehidupan ini menjadi dam baan setiap insan. Memiliki buah hati tidak bisa dilakukan dengan biaya nol. Sejak istri me ngandung hingga si buah hati duduk di bang ku sekolah, semua harus menjadi pikiran orang tua. Perencana keuangan independen dari ZAP Finance, Prita Hapsari Ghozie, mengata kan bahwa biaya kehidupan anak besarnya cu kup mencengangkan. “Perkiraan biaya memiliki anak cukup tinggi, sekitar Rp 100 juta,” katanya. Angka tersebut baru didapat dari kalkulasi kebutuhannya di tahun-tahun pertama saja. Biaya yang tinggi tersebut lantas jangan men jadi alasan bagi pasangan untuk tidak meng inginkan momongan. Mempersiapkan dana kehadiran buah hati bisa menjadi salah satu jalan keluar. Langkah ini merupakan upaya untuk menjaga kesehatan keuangan keluarga, sekaligus membuka jalan agar anak memperoleh yang terbaik dalam kehidupannya. Menyiapkan anggaran untuk kehidupan anak, sebaiknya dilakukan sedini mungkin. Persiapkanlah dana kelahiran buah hati sedi kitnya untuk tiga tahun pertama. Dana ini bisa mulai dianggarkan sejak sang ibu mengandung. Agar semua bisa terpenuhi sesuai kodratnya, Prita membagi sedikit tips yang dirangkum dari buku terbarunya Make It Happen. 


1. Sesuai Kemampuan Finansial 
Belilah barang-barang sesuai kemampuan. Jangan tergiur dengan perlengkapan bayi yang lucu dan menarik dari label ternama. Utamakan prioritas keperluan dasar, nomor duakan persoalan label. 
 
2. Mengerem Hasrat Belanja 
Barang-barang bayi memang menggemaskan. Ada yang lucu sedikit langsung terpikat membelinya. Kendalikan hasrat tersebut. Kurangi frekuensi ke mal dan pusat perbelanjaan. Mengajak suami bisa menjadi satu solusi sebab ada yang akan menasihati. 
 
3. Berdasarkan Kebutuhan 
Lebih perlu mana, dorongan atau seprai dan bedong bayi? Dorongan bekas si kakak yang masih bagus bisa digunakan kembali untuk adiknya. Ketika jasa penyewaan atau membeli barang bekas lebih efisien untuk kantong, mengapa tidak? Cek sejumlah situs, seperti ebay atau babyparcel.com, dan perhatikan banyaknya barang bayi bekas pakai berharga miring, namun berkualitas baik. 
 
4. Buat Daftar Kebutuhan 
Ada baiknya menulis apa saja yang harus dibeli. Tidak hanya harus menuliskan yang menjadi keperluan, tentukan juga prioritas. 
 
5. Jasa Perawatan Anak 
Menyewa jasa pengasuh bayi umumnya diperlukan perempuan pekerja. Biayanya biasanya cukup mahal. Secara umum, sewa jasa pengasuh bayi akan menurun biaya per tahunnya. Bila memungkinkan dan yakin, asisten rumah tangga di rumah bisa dilatih untuk merawat bayi. 
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 20, 2013 5:06 pm

Tips Menyiasati Belanja Bulanan Pasca Kenaikan BBM
Pengeluaran pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis. Apa saja?

Maya Sofia, Marlina Irdayanti
Rabu, 19 Juni 2013, 13:32 WIB




Pengeluaran pada dasarnya terdiri dari tiga jenis, yakni ingin, butuh, dan wajib.  


Pengeluaran pada dasarnya terdiri dari tiga jenis, yakni ingin, butuh, dan wajib.  







VIVAlife - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang beranggapan harga-harga kebutuhan pokok akan naik usai BBM naik. Alhasil, pengeluaran setiap bulan harus diperketat. 

Menanggapi hal ini, perencana keuangan Safir Senduk menuturkan, pada dasarnya harga barang-barang setiap tahun pasti naik. Terlepas dari pengaruh kenaikan harga BBM.

"Masalahnya adalah kenapa BBM dikaitkan karena BBM berkaitan dengan kerja pemerintah. Banyak orang nggak setuju karena masyarakat belum percaya sama kinerja pemerintah," ucap Safir saat dihubungi VIVAlife.

Lebih lanjut, Safir menjelaskan, pengeluaran sebenarnya terdiri dari tiga jenis, yakni wajib, butuh, dan ingin. Wajib, ujarnya, adalah pengeluaran yang jika tidak dibayarkan ada denda atau konsekuensinya.

"Misalnya membayar cicilan rumah dan sekolah anak," katanya.

Sementara itu, butuh adalah pengeluaran yang tidak ada denda. Sebagai contoh, pulsa untuk telepon genggam dan bensin untuk kendaraan.

"Kalau pengeluaran ingin, sebenarnya nggak beli juga nggak apa-apa. Misalnya baju bagus," ucap Safir. 

Menurut Safir, pengeluaran wajib dan butuh ada batasnya. Namun, pengeluaraan ingin tidak ada batasnya. Adapun, masalah BBM sebenarnya masuk ke pengeluaran butuh.

"Bisa diperkirakan. Kalau tidak punya kendaraan, mereka naik kendaraan umum yang ongkosnya perlahan naik," ujarnya. 

Nah, agar pengeluaran tetap terkontrol, berikut tips dari Safir Senduk mengani cara menyiasati belanja bulanan pasca kenaikan BBM nanti.

1. Tinjau keinginan setiap bulan. 

Anda sebenarnya bisa mengurangi sejumlah keinginan untuk membeli barang. Misalnya, mengurangi pembelian baju dari biasanya empat menjadi tiga. Kemudian, mengurangi makan di luar rumah.

"Biasa makan di luar seminggu tiga kali bisa dikurangi menjadi seminggu dua kali. Mulai biasakan bawa bekal dari rumah. Lebih murah dan sehat," kata Safir.

2. Pertimbangkan untuk menggunakan jasa tebeng. 

Menurut Safir, dengan menggunakan jasa tebengan maka pengeluaran akan lebih kecil. Alasannya, uang yang dikeluarkan untuk membeli bensin berasal dari patungan. 

3. Tekan pengeluaran.

Menekan pengeluaran bisa dilakukan dengan menekan pengeluaran untuk makan utama. Misalnya mengganti makanan hewani dengan nabati. Atau mengganti daging dengan ayam dan telur.

"Cari yang sama enaknya, tapi lebih murah," ucapnya. 

4. Pertimbangkan mencari penghasilan tambahan.


Ini bermanfaat untuk jangka panjang. Menurut Safir, penghasilan tambahan tak selalu harus dengan mengeluarkan uang untuk modal usaha. sebagai contoh, menulis artikel di media. 

"Itu bisa menghasilkan uang. Banyak kok pekerjaan yang tidak perlu mengeluarkan modal terlebih dahulu," kata Safir. (adi)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 20, 2013 5:07 pm

Tips Menyiasati Belanja Bulanan Pasca Kenaikan BBM
Pengeluaran pada dasarnya dibagi menjadi tiga jenis. Apa saja?

Maya Sofia, Marlina Irdayanti
Rabu, 19 Juni 2013, 13:32 WIB




Pengeluaran pada dasarnya terdiri dari tiga jenis, yakni ingin, butuh, dan wajib.  


Pengeluaran pada dasarnya terdiri dari tiga jenis, yakni ingin, butuh, dan wajib.  







VIVAlife - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) telah memunculkan kekhawatiran di kalangan masyarakat. Tak sedikit yang beranggapan harga-harga kebutuhan pokok akan naik usai BBM naik. Alhasil, pengeluaran setiap bulan harus diperketat. 

Menanggapi hal ini, perencana keuangan Safir Senduk menuturkan, pada dasarnya harga barang-barang setiap tahun pasti naik. Terlepas dari pengaruh kenaikan harga BBM.

"Masalahnya adalah kenapa BBM dikaitkan karena BBM berkaitan dengan kerja pemerintah. Banyak orang nggak setuju karena masyarakat belum percaya sama kinerja pemerintah," ucap Safir saat dihubungi VIVAlife.

Lebih lanjut, Safir menjelaskan, pengeluaran sebenarnya terdiri dari tiga jenis, yakni wajib, butuh, dan ingin. Wajib, ujarnya, adalah pengeluaran yang jika tidak dibayarkan ada denda atau konsekuensinya.

"Misalnya membayar cicilan rumah dan sekolah anak," katanya.

Sementara itu, butuh adalah pengeluaran yang tidak ada denda. Sebagai contoh, pulsa untuk telepon genggam dan bensin untuk kendaraan.

"Kalau pengeluaran ingin, sebenarnya nggak beli juga nggak apa-apa. Misalnya baju bagus," ucap Safir. 

Menurut Safir, pengeluaran wajib dan butuh ada batasnya. Namun, pengeluaraan ingin tidak ada batasnya. Adapun, masalah BBM sebenarnya masuk ke pengeluaran butuh.

"Bisa diperkirakan. Kalau tidak punya kendaraan, mereka naik kendaraan umum yang ongkosnya perlahan naik," ujarnya. 

Nah, agar pengeluaran tetap terkontrol, berikut tips dari Safir Senduk mengani cara menyiasati belanja bulanan pasca kenaikan BBM nanti.

1. Tinjau keinginan setiap bulan. 

Anda sebenarnya bisa mengurangi sejumlah keinginan untuk membeli barang. Misalnya, mengurangi pembelian baju dari biasanya empat menjadi tiga. Kemudian, mengurangi makan di luar rumah.

"Biasa makan di luar seminggu tiga kali bisa dikurangi menjadi seminggu dua kali. Mulai biasakan bawa bekal dari rumah. Lebih murah dan sehat," kata Safir.

2. Pertimbangkan untuk menggunakan jasa tebeng. 

Menurut Safir, dengan menggunakan jasa tebengan maka pengeluaran akan lebih kecil. Alasannya, uang yang dikeluarkan untuk membeli bensin berasal dari patungan. 

3. Tekan pengeluaran.

Menekan pengeluaran bisa dilakukan dengan menekan pengeluaran untuk makan utama. Misalnya mengganti makanan hewani dengan nabati. Atau mengganti daging dengan ayam dan telur.

"Cari yang sama enaknya, tapi lebih murah," ucapnya. 

4. Pertimbangkan mencari penghasilan tambahan.


Ini bermanfaat untuk jangka panjang. Menurut Safir, penghasilan tambahan tak selalu harus dengan mengeluarkan uang untuk modal usaha. sebagai contoh, menulis artikel di media. 

"Itu bisa menghasilkan uang. Banyak kok pekerjaan yang tidak perlu mengeluarkan modal terlebih dahulu," kata Safir. (adi)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jun 24, 2013 4:18 pm

10 Kebiasaan yang Merusak Keuangan Keluarga
Penulis : Wardah Fazriyati | Senin, 24 Juni 2013 | 12:01 WIB










Jangan sampai keuangan keluarga inti berantakan karena niatan mulia membantu anggota keluarga lain.


KOMPAS.com - Keinginan membahagiakan anggota keluarga terkadang mengalahkan kebutuhan. Meski tak mampu, keinginan ini tetap diwujudkan dengan alasan ingin memberikan yang terbaik untuk keluarga. Alhasil, keinginan untuk selalu membahagiakan orang lain, termasuk anak-anak, terpenuhi namun hidup berutang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kondisi ini kerap ditemui Prita Hapsari Ghozie, dalam perjalanannya beberapa tahun menjadi financial planner.Dalam buku keduanya berjudul Make It Happen!, Prita menyebutkan masih banyak orang yang luluh pada niatan mulia. Seringkali orang berkorban untuk hal yang salah demi kepentingan yang baik menurutnya. Banyak orang yang menempatkan keamanan finansial keluarga dalam risiko demi membuat anggota keluarga lainnya bahagia. 

"Kita menempatkan keinginan di atas kebutuhan karena kita berpikir itulah cara kita menunjukkan kasih sayang," jelasnya.

Banyak orang menempatkan keinginan di atas kebutuhan karena merasa itulah jalan terbaik untuk menunjukkan kasih sayang. Alhasil, selama beberapa dekade, terlalu banyak orang yang telah menghabiskan uang di atas hak dan kemampuannya dengan alasan memberi terbaik untuk keluarga.

Kebiasaan ini membuat seseorang kemudian kesulitan mewujudkan mimpi-mimpi pribadinya. Prita menyarankan, untuk mewujudkan mimpi mulailah jujur kepada diri sendiri. Prita punya cara untuk mengetes kejujuran Anda. 

Pastikan Anda memilih sesuai dengan kondisi dan kebiasaan, dengan menjawab jujur "Ya"atau "Tidak" pada 10 kebiasaan yang umum ditemui dalam kehidupan personal atau keluarga dan menentukan kondisi keuangan Anda.

1. Saya kerap kali membelikan baju anak-anak yang mahal, karena takut mereka minder dengan teman-temannya yang sudah memiliki terlebih dahulu.
2. Saya ikut membantu kehidupan kakak atau adik meski artinya keluarga saya sendiri hidup dari utang kartu kredit.
3. Saya meminjamkan uang kepada teman yang terkena penyakit kritis, sehingga keluarga saya tidak lagi punya dana darurat.
4. Tagihan kartu kredit saya dipenuhi oleh hasil belanja untuk anak-anak, meski gaji saya sebetulnya tidak sebesar limit kartu kredit.
5. Saya berbelanja untuk mencari kesenangan dan menunjukkan "status" di depan teman dan saudara.
6. Saya hanya melakukan pembayaran minimum setiap tagihan kartu kredit datang.
7. Beberapa kali saya meminjamkan uang kepada saudara saya, tanpa meminta persetujuan pasangan.
8. Saya selalu katakan kepada anak-anak untuk tidak perlu mengkhawatirkan sekolah mereka hingga lulus, karena saya pasti akan memberikan yang terbaik sesuai keinginan mereka.
9. Saya akan menandatangani akad kredit atas nama saya untuk rumah milik kakak atau adik.
10. Saya kerapkali menyisihkan uang untuk keperluan darurat, namun selalu menghabiskannya.

Menurut Prita, jika Anda menjawab "Ya" untuk enam atau lebih dari penyataan di atas, maka Anda sebenarnya belum jujur dan terbuka mengenai bagaimana kondisi keuangan Anda kepada pasangan, anak, bahkan saudara.

"Saya percaya, orang yang suka berderma jauh dari kemiskinan. Namun, saya juga percaya bahwa berderma tetap harus dalam batasan kemampuan, karena tugas dan tanggung jawab utama kita adalah pasangan dan anak-anak, sebagai keluarga inti," tandasnya.
 
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jul 04, 2013 2:54 pm

MENGAPA KITA PERLU INVESTASI?
Penulis : K. WAHYU UTAMI | Kamis, 4 Juli 2013 | 10:44 WIB
KOMPAS.com – Mengelola keuangan bulanan tentu bukanlah hal yang mudah. Jangankan berpikir mengenai investasi, merencanakannya saja Anda pasti sudah tak terbayangkan. Lantas, bagaimana cara mudah untuk merencanakan keuangan agar uang gaji tidak habis tanpa jejak, dan Anda bisa memiliki investasi? Menurut perencana keuangan Aidil Akbar Madjid, tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai menabung dan mengelola keuangan, sampai pada satu titik tertentu. “Biasanya berapa pun uang yang kita hasilkan, pasti selalu memiliki keinginan untuk menghabiskannya. Padahal easy planning dalam menyimpan uang itu mudah. Ada tahapannya,” paparnya saat peluncuran buku terbarunya, Easy Planning, di Kinokuniya Plaza Senayan, Jakarta, Rabu (3/7/2013) lalu. Dengan kata lain, memang tidak semua orang bisa mengatur keuangan mereka dengan baik. Padahal, jika direncanakan sejak sekarang, maka yang akan Anda rasakan adalah momen ketika Anda sudah tua atau pada kejadian-kejadian yang tidak diinginkan. Aidil menambahkan, dalam merencanakan keuangan, ada dua hal yang harus dibedakan, yaitu menabung atau menyimpan, dan investasi. “Menyimpan itu sama seperti tabungan. Berbeda dengan tabungan yang memiliki jaminan dari pemerintah untuk nominal tertentu, investasi tidak memiliki jaminan. Jumlahnya pun bisa naik atau turun, bahkan hilang, semua tergantung pada risiko investasi,” jelasnya. Investasi tidak harus dalam jumlah yang besar. Ia menyarankan, cobalah dimulai dengan menyisihkan sedikit uang, misalnya Rp 150.000 per bulan, maka itu dapat berfungsi sebagai investasi jangka panjang. “Dalam berinvestasi hal terpenting yang dibutuhkan yaitu (perhitungan) waktu,” imbuh peraih gelar Bachelor of Business Administration dari Loyola Marymount University, Los Angeles, ini. Perencanaan keuangan penting untuk masa pensiun Anda kelak, agar Anda tetap hidup layak tanpa menurunkan standar hidup. Jika Anda sekarang berusia 25 – 35 tahun, untuk bisa pensiun pada usia 55 tahun dan menikmati masa pensiun selama 15-20 tahun, Anda membutuhkan dana sekitar Rp 30 - 50 milyar. “Itu sebabnya, jika tidak dipersiapkan secara matang hal itu bisa berakibat fatal. Persiapan tersebut bisa dilakukan dengan cara berinvestasi, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui produk keuangan atau terjun ke dunia bisnis,” tandasnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jul 23, 2013 8:09 am

WAKTU TEPAT RENCANAKAN DANA PENSIUN
Penulis : Christina Andhika Setyanti | Jumat, 19 Juli 2013 | 18:47 WIB
KOMPAS.com - Ketika menerima gaji bulanan, apa yang Anda lakukan? Membagi-bagi keuangan ke pos-pos pengeluaran, menabung, atau justru langsung belanja dan menghabiskannya? Idealnya, selain menabung dan membagi pos pengeluaran, Anda juga harus mulai menyishkan pendapatan untuk dana pensiun. Mungkin banyak orang yang berpikir bahwa dirinya masih muda, lalu buat apa buru-buru memikirkan pensiun? Jika Anda punya pikiran semacam ini, maka ada baiknya Anda berpikir tentang cita-cita dan harapan Anda di masa tua nanti, dan coba kalkulasikan. Misalnya, kira-kira di usia berapa Anda ingin pensiun dan ingin melakukan apa? Setelah itu, hitung berapa banyak dana yang dibutuhkan untuk hidup dan mewujudkan impian. Kemudian hitung tingkat inflasi mata uang yang pastinya akan memengaruhi biaya hidup Anda. Baru setelahnya, pilih cara untuk mempersiapkan dana tersebut, misalnya investasi di bidang properti, emas, menabung, reksadana, atau asuransi. Kalau pertimbangannya sebanyak itu, apakah kita bisa hidup tenang tanpa persiapan dana pensiun yang memadai, dan secara mendadak? Pastinya tidak. Lalu kapan waktu yang tepat untuk mulai menyimpan dana pensiun?

1. Saat mendapat pekerjaan pertama
Di saat-saat ini, mungkin sebagian besar orang lebih memilih untuk menikmati hasil jerih payahnya yang pertama. Menikmati jerih payah sendiri sih boleh saja, tapi jangan sampai terlena. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk mulai mempersiapkan dana pensiun. Di beberapa kantor, tunjangan hari tua memang sudah dipersiapkan dengan memotong gaji bulanan. Tetapi coba Anda hitung kembali, apakah tunjangan dari kantor saja cukup untuk memenuhi kehidupan dan keinginan Anda di masa depan? Maka, ada baiknya untuk mulai menyisihkan 5-10 persen gaji Anda untuk dana pensiun. Walau nominalnya masih sedikit dan belum bisa digunakan untuk investasi, jangan jadikan hal tersebut halangan untuk menabung. Paling tidak Anda sudah membuat komitmen untuk menjalaninya secara rutin.

2. Menikah
Setelah menikah, otomatis tanggungan Anda akan bertambah (terutama untuk kaum laki-laki). Namun, ini tak berarti Anda bisa bersantai dan menghabiskan gaji untuk kebutuhan sekunder atau tersiernya. Ketika sudah menikah, gaji Anda bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, akan tetapi menyiapkan dana pensiun juga jadi bukti tanggung jawab Anda terhadap pasangan. Ajak pasangan Anda untuk merencanakan masa depan seperti apa yang Anda berdua inginkan kelak. Jika sudah sepakat, minta pasangan untuk membantu mewujudkannya. Lalu mulailah membicarakan berapa banyak yang akan Anda dan pasangan sisihkan setiap bulan. Misalnya, menyisihkan 20 persen dari hasil pendapatan berdua setiap bulan. Setiap rupiah yang dikeluarkan harus diketahui pasangan lainnya.

3. Punya anak
Setelah menikah dan punya anak, Anda tak cuma punya tanggungan untuk menyekolahkan dan mengurus anak. Ingat kalau masa depan anak masih panjang dan perlu diperhitungkan saat Anda sudah pensiun nanti. Apalagi jika anak Anda masih bersekolah ketika Anda pensiun.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Apr 21, 2015 8:04 pm

PILIH DEPOSITO ATAU REKSADANA SYARIAH?
Senin, 13 April 2015, 12:40 WIB
REPUBLIKA.CO.ID,
Assalamualaikum,
Mohon informasi dan penjelasannya tentang Deposito Syariah dan Reksadana Syariah. Apa keuntungan dan kerugiannya? Seandainya saya punya dana Rp 100 juta, sebaiknya saya investasikan ke deposito atau reksadana (syariah)? Mohon diberikan gambaran simulasi deposito atau reksadananya.
Mohon jawabannya. Terima kasih.

Haddad D

Jawaban WF 19

Waalaikumsalam Wr Wb
Semoga keberkahan hidup selalu menghampiri Mas Haddad.
Deposito adalah produk keuangan yang punya jangka waktu. Dibanding dengan tabungan, deposito memberikan tingkat bunga lebih tinggi. Jika Anda membeli Sertifikat Deposito dari sebuah bank, maka sebetulnya Anda menitipkan sejumlah uang untuk jangka waktu tetap, bisa 1 bulan, 3 bulan, 6 bulan, atau 1 tahun. Sebagai imbalan karena Anda mau menempatkan uang, maka bank akan memberikan bunga yang umumnya dibayarkan dalam interval sesuai periode penempatan. Berbeda dengan deposito umum atau yang sering disebut deposito konvensional, deposito syariah adalah deposito yang berdasarkan sistem bagi hasil/kerja sama (mudharabah) berdasarkan fatwa DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI (Majelis Ulama Indonesia) No: 03/DSN-MUI/IV/2000. Dengan demikian pendapatan dari deposito mudharabah tidak tetap sebagaimana pada bunga, melainkan berfluktuasi sesuai tingkat pendapatan bank syariah. Selain itu juga dalam deposito syariah, kehalalan investasi merupakan pilar pokok dalam memutar uang nasabah/deposan.

Keuntungan dari deposito syariah :
1. Nisbah bagi hasil lebih besar dari tabungan syariah
2. Tempat aman memarkir dana secara jangka pendek
3. Cocok untuk Anda yang berprofil konservatif alias tidak menyukai resiko tinggi
4. Dilindungi oleh LPS (Lembaga Penjamin Simpanan)
5. Sebagai dana darurat untuk jangka waktu 1 bulan

Kerugian dari deposito syariah :
1. Imbal hasil paling rendah dibanding instrumen investasi lainnya, misalnya reksadana syariah
2. Dana yang diparkir untuk jangka panjang, tidak bisa melewati inflasi rill 10-12 persen, kecuali kondisi Negara mengalami krisis moneter seperti tahun 1998
3. Bila bank mengalami kebangkrutan, walau sudah dijamin LPS, proses untuk menarik dana yang dijamin tersebut memerlukan usaha yang menguras kesabaran
4. Untuk pencairan dana, tidak bisa sewaktu-waktu layaknya kita memiliki tabungan

Bagaimana dengan reksadana?
Reksadana syariah adalah instrumen investasi yang mengumpulkan uang dari banyak investor, dijadikan satu, diinvestasikan kembali dalam bentuk kepemilikan saham syariah, obligasi syariah atau sukuk atau instrumen keuangan jangka pendek lainnya dengan konsep syariah, yang aturan dan pedomannya dikeluarkan berdasarkan fatwa dari DSN MUI.

Keuntungan reksadana syariah
1. Dana yang diinvestasikan kecil.
Artinya, reksadana syariah dapat dibeli dalam nominal yang kecil. Jika deposito ada batasan minimal, misalnya Rp 5 juta, dengan reksadana, Anda bisa mulai berinvestasi sebesar Rp 100 ribu.

2. Likuid atau likuiditas.
Kemampuan suatu aset untuk dicairkan sewaktu-waktu.

3. Praktis.
Untuk membelinya Anda cukup datang ke bank yang menjadi agen penjual atau langsung kepada perusahaan Manajer Investasi atau Aset Management.

4. Fleksibel.
Anda dapat menjual atau membelinya kapan saja.

5. Diversifikasi.
Tidak hanya Manajer Investasi atau pengelola reksadana saja yang bisa mendiversifkasi suatu portofolio, tetapi Anda sebagai nasabah juga bisa mendiversifikasi berbagai macam tipe reksadana seperti reksadana pasar uang, pendapatan tetap, campuran atau saham

6. Keterbukan informasi.
Anda dapat melihat daftar reksadana syariah pada media online ataupun koran setiap harinya, begitupun dengan kinerja hariannya.

Kerugian reksadana syariah :
1. Tidak dijamin LPS.
Berbeda dengan deposito yang ‘aman’ karena dijamin LPS, maka produk reksadana tidak ada jaminan dari pemerintah.

2. Adanya biaya-biaya selain pajak.
Karena bersifat dinamis, maka reksadana memiliki biaya-biaya antara lain biaya transaksi pembelian, penjualan, switching (mengganti jenis) reksadana

3. Tidak adanya dividen.
Jika Anda berinvestasi di reksadana saham, Anda tidak akan mendapatkan dividen layaknya Anda langsung berinvestasi di saham syariah murni. Karena hasil dividen tersebut, langsung diinvestasikan kembali oleh Manajer Investasi.

Jika Anda memiliki Rp 100 juta lalu Anda masukkan ke dalam deposito dengan asumsi imbal hasil 5 persen per tahun selama jangka waktu 1 tahun, maka perkiraan hasil Investasi Anda sebesar Rp 105 juta (belum termasuk pajak). Adapun jika Anda tanam dalam periode 10 tahun, perkiraan hasilnya adalah Rp 162,88 juta. Jika Anda melakukan Investasi pada reksadana dengan dana yang sama yakni Rp 100 juta, dengan asumsi imbalan hasil 20 persen per tahun selama jangka waktu 1 tahun sejak Anda investasikan uang Anda, maka perkiraan hasil Investasi anda sebesar Rp 120 jt (belum termasuk biaya-biaya reksadana dan pajak). Adapun jika Anda tanam dalam periode 10 tahun, perkiraan hasilnya adalah Rp 619,17 juta. Kenapa saya buat perkiraan, dikarenakan banyak faktor yang mempengaruhi imbal hasil sebuah produk keuangan. Untuk itu diperlukan cek profil dari investor, apakah tipe konservatif, moderat atau agresif di samping tujuan dari berinvestasi dan jangka waktu pencapainnya.

Lalu di mana Bank syariah yang terbaik untuk investasi deposito atau reksadana? Semua bank syariah adalah terbaik, karena diawasi oleh Dewan Pengawas Syariah. Sementara Manajemen bank syariah mengikuti pola umumnya bank dimanapun. Artinya SDM akan menentukan masa depan bank syariah tersebut. Pilihlah bank syariah berdasarkan reputasi, kinerja, dan keamanannya, karena produk bank seperti tabungan dan deposito dijamin oleh pemerintah, maka untuk batasan tertentu, uang Anda akan ‘aman.’ Untuk bank-bank plat merah, sisi positifnya ada ‘jaminan’ dari pemerintah atas keberlangsungan hidupnya. Tetapi juga rawan konflik dan intervensi dari alat pemeritahan lainya seperti DPR atau eksekutif.

Selamat memilih untuk menabung atau berinvestasi!
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri May 29, 2015 7:16 am

CARA BERTAHAN HIDUP SETELAH PENSIUN
Kamis, 28 Mei 2015, 17:37 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kita tak pernah tahu apa yang terjadi dimasa yang akan datang. Bisa saja perusahaan kita bangkrut, kita kena pemutusan hubungan kerja (phk) atau bisa jadi kita kena pensiun dini.
Lalu, bagaimana mengatasi kehidupan ekonomi keluarga. Dimana biasanya setiap bulan ada penghasilan, kini tak ada lagi. Hanya bertumpu pada pesangon saja. Financial Planner-One Shildt Financial Planning, Agustina Fitria Aryani, SSi CFP AEPP memberikan sejumlah tips jitu agar kita bisa bertahan hidup dengan uang pesangon. Simak yuk artikel yang diberikannya kepada Republika Online, belum lama ini.

Pelunasan Utang Konsumtif
Utang konsumtif dengan bunga tinggi akan menambah beban keuangan apalagi saat hilangnya sumber penghasilan. Sehingga, momen ini dapat dijadikan saat untuk melunasi semua utang konsumtif. Jika uang kompensasi tidak mencukupi untuk melunasi utang konsumtif seluruhnya, maka ajukan permohonan keringanan pembayaran atau restrukturisasi utang kepada bank atau lembaga keuangan selaku pemberi utang. Jangan menambah utang konsumtif lagi. "Untuk utang kartu kredit, segera hentikan pemakaian dan kurangi jumlah kartu terutama yang memiliki bunga dan biaya tinggi," ujarnya.

Jaminan atau Asuransi Kesehatan
Apabila selama ini perusahaan memberikan tunjangan atau fasilitas kesehatan bagi Anda dan keluarga, maka segeralah mencari pengganti fasilitas kesehatan tersebut, misalnya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dari BPJS Kesehatan atau asuransi kesehatan swasta. Sebab, datangnya sakit atau kecelakaan dapat terjadi sewaktu-waktu dan kita harus siap untuk menanggung biaya pemulihan kesehatan. Jika dana tersedia sangat terbatas, minimal milikilah JKN. Jika masih ada anggaran untuk membeli asuransi kesehatan swasta, minimal milikilah asuransi kesehatan murni dengan masa pertanggungan satu tahun.

Kebutuhan Dana Jangka Pendek
Buatlah daftar kebutuhan dana jangka pendek yaitu kebutuhan yang kurang dari dua tahun, yang sifatnya wajib, misalnya biaya masuk sekolah, premi asuransi murni, pengeluaran wajib hari raya. Cek apakah kebutuhan tersebut telah disiapkan dananya. Jika belum, maka dapat dialokasikan dari uang kompensasi tersebut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri May 29, 2015 7:18 am

BIJAK BERTAHAN HIDUP DENGAN ANDALKAN UANG PESANGON
Kamis, 28 Mei 2015, 20:20 WIB
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Selain untuk biaya hidup, penghematan, pelunasan hutang konsumtif, jaminan atau asuransi kesehatan dan kebutuhan dana jangka pendek, apa lagi yang bisa kita lakukan untuk bertahan hidup dengan uang pesangon? Simak pemaparan yang diberikan Financial Planner-One Shildt Financial Planning, Agustina Fitria Aryani, SSi CFP AEPP kepada Republika Online, belum lama ini.

Asuransi Jiwa
Apabila selama ini perusahaan memberikan asuransi jiwa bagi Anda dan Anda adalah juga seorang pencari nafkah utama, maka Anda perlu mempunyai asuransi jiwa untuk mengcover risiko hilang atau berkurangnya penghasilan karena meninggal dunia atau cacat tetap. Pastikan uang pertanggungan dalam asuransi jiwa cukup memadai. Ada beberapa metode untuk mengkalkulasi nilai uang pertanggungan yang dibutuhkan. Masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Teknik yang sederhana adalah nilai uang pertanggungan bisa dikalkulasikan sebagai pengganti pendapatan keluarga Anda untuk antara enam sampai sepuluh tahun pengeluaran rutin ditambah total utang yang dimiliki (terutama yang tidak dicover oleh asuransi) ditambah dana untuk investasi yang masih perlu dilanjutkan - benefit dari perusahaan dan BPJS ketenagakerjaan jika terjadi risiko kematian. Untuk teknik-teknik lain yang lebih detail Anda bisa menghubungi konsultan perencana keuangan independen untuk berkonsultasi. "Jika dana kompensasi sangat terbatas, minimal milikilah asuransi jiwa berjangka paling pendek (satu tahun atau lima tahun) untuk mengcover risiko sampai dengan Anda mendapat sumber penghasilan baru," ujarnya.

Peluang Bisnis
Pada saat menerima uang kompensasi dalam jumlah besar, biasanya kita akan melihat peluang menggunakannya sebagai modal bisnis atau usaha, agar kita mendapatkan sumber penghasilan baru. Bisnis pada umumnya tidak bisa langsung memberikan keuntungan yang dapat kita gunakan sebagai pengganti gaji. Rata-rata baru mencapai Break Even Point (BEP)/balik modal minimal enam bulan, dan masih ada risiko terjadi kerugian. Oleh karena itu, jika belum berpengalaman sama sekali dalam berbisnis, pilihnya jenis usaha dengan risiko paling minimal, misalnya sebagai agen atau reseller. Anda bisa juga memaksimalkan potensi pribadi antara lain menuangkan buah pikiran dalam bentuk buku, menjadi trainer atau instruktur sesuai bidang keahlian Anda. "Jangan mudah tergoda dengan tawaran berinvestasi pada bisnis yang menjanjikan hasil yang bombastis dalam waktu singkat, agar Anda tidak terjerat investasi bodong," ujarnya mengingatkan. Semoga dengan tips ini Anda menjadi lebih bijak dalam menggunakan uang kompensasi agar hidup Anda tetap terjamin.
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 26 of 26Go to page : Previous  1 ... 14 ... 24, 25, 26
 Similar topics
-
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak
» seminar keluarga muslim bahagia
» Endonesia: "Kristenisasi" dan Intoleransi

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: