Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 14 ... 24, 25, 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 19, 2013 5:45 pm

4 ALASAN PEREMPUAN HARUS MENABUNG LEBIH BANYAK
Penulis : Felicitas Harmandini | Selasa, 19 Maret 2013 | 15:37 WIB
KOMPAS.com - Biaya hidup yang semakin meningkat, dan gaya hidup yang ikut naik, membuat perempuan sulit menabung. Setiap akhir bulan, rekening tabungan hanya menyisakan saldo sekian ribu rupiah saja. Seringkali tak bersisanya rekening tabungan bukan disebabkan oleh kurangnya penghasilan, melainkan kesalahan dalam mengelola keuangan. Akhirnya, mereka mengabaikan pentingnya menabung, apalagi masih ada suami yang menjadi pencari nafkah utama dalam keluarga. Padahal, kaum perempuan seharusnya menabung lebih banyak daripada pria! Bukan sekadar menabung untuk membiayai hidup, pendidikan, atau liburan keluarga, tetapi juga menabung untuk masa pensiun. Ingin tahu apa sebabnya kita harus punya tabungan lebih banyak?

Hidup lebih lama
Rata-rata perempuan hidup lebih lama daripada pria. Jadi kelak ketika pasangan hidup kita telah tiada, kita harus menjalani masa pensiun lebih lama. Artinya, kita harus membiayai hidup kita sendiri (dan anak-anak) lebih lama. Karena itu, meskipun suami Anda saat ini masih aktif bekerja dan sanggup menafkahi Anda sekeluarga, Anda pun sebaiknya memiliki tabungan sendiri. Sisihkan setidaknya 15 persen dari gaji Anda untuk dana pensiun.

Biaya hidup lebih besar
Pernah membandingkan biaya hidup Anda dan suami, atau rekan pria Anda? Siapa yang lebih boros, atau punya pengeluaran lebih besar? Biasanya perempuan lah yang gajinya lebih cepat habis, karena dibelanjakan untuk segala printilan yang kurang penting. Saat berbelanja di pasar, perempuan paling nafsu melakukan tawar-menawar. Di supermarket pun, perempuan rela membeli barang yang lebih murah beberapa ribu rupiah saja. Namun, kita rela membayar mahal untuk membiayai gaya hidup kita. Tak percaya? Coba, seberapa sering Anda memborong pakaian saat ada program sale, ngopi-ngopi, membeli tas atau sepatu bermerek yang sudah lama kita incar?

Gaji perempuan lebih rendah daripada laki-laki
Ini kenyataan yang masih kita alami di beberapa perusahaan. Lalu, bagaimana bisa menabung lebih banyak jika gaji kita secara rata-rata lebih rendah daripada pria? Jawabannya sederhana: buat penghasilan tambahan. Anda bisa mencapainya dengan mencari side job, atau membangun bisnis kecil-kecilan. Jika Anda merasa tak cukup punya waktu untuk pekerjaan tambahan, mau tak mau Anda memang harus bekerja lebih keras dan meminta kenaikan gaji yang setara dengan pria.

Berorientasi pada keluarga
Ketika sudah berkeluarga, perhatian perempuan juga terpecah pada anak-anak. Kita mungkin tidak lagi berbelanja untuk diri sendiri, tetapi juga untuk suami dan terutama anak-anak. Perempuan lah yang peduli untuk membeli pakaian, memasak makanan yang sehat, membelikan paket buku-buku atau video pelajaran membaca (yang harganya tidak murah), atau mainan "pintar" untuk anak-anak. Dengan demikian, pengeluaran perempuan akan semakin besar. Dengan sendirinya, mereka pun perlu menabung lebih banyak agar dapat selalu memenuhi berbagai kebutuhan tersebut.

Sebagai role model bagi anak-anak
Dalam banyak penelitian, sering dikemukakan bahwa ibu adalah sosok yang menjadi panutan, karena anak-anak akan lebih sering menghabiskan waktunya dengan ibu ketimbang ayah. Ibu menjadi sosok yang berperan dalam pengelolaan keuangan dalam keluarga. Dari ibu pula, anak-anak belajar bagaimana mengatur keuangannya. Menurut Creditcards.com, sekitar satu dari empat dewasa muda mengatakan bahwa ibu mereka memberikan pengaruh finansial terbesar dalam hidup mereka ketika beranjak besar. Karena itu, berikan contoh yang baik pada anak-anak mengenai keuangan. Selalu berhemat, dan menabung adalah beberapa contoh paling sederhana.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 26, 2013 8:27 pm

PERHIASAN EMAS BUKAN UNTUK INVESTASI
Selasa, 26 Maret 2013 | 16:55 WIB
KOMPAS.com - Pada dasarnya semua orang perlu berinvestasi, termasuk perempuan bekerja dan ibu rumah tangga. Meskipun ibu rumah tangga bukan penghasil utama keuangan, namun bukan berarti Anda tidak bisa memiliki investasi. Dengan melakukan investasi, perempuan akan memiliki kesiapan yang lebih baik daripada yang tidak berinvestasi sama sekali. Endy Junaedy Kurniawan, penulis dan pakar investasi emas menjelaskan, kebanyakan ibu rumah tangga memiliki minat yang tinggi dalam membeli perhiasan emas sebagai cara mereka untuk berinvestasi. Pertimbangannya, kalau misalnya punya tabungan Rp 500.000 dan didiamkan beberapa tahun, niscaya uang tersebut akan habis karena dipotong dari biaya administrasi. Beda halnya jika uang tersebut Anda belikan emas. Beberapa tahun kemudian ketika emas tersebut dijual, mereka akan mendapatkan uang tunai seharga lebih dari Rp 500.000. Sebab, harga emas saat dibeli jauh lebih murah daripada saat dijual. Namun Endy menilai, bahwa emas berbentuk perhiasan tidak dapat dikatakan investasi, karena emas yang dibuat sebagai perhiasan tersebut membutuhkan jasa pembuatan yang biayanya dibebankan kepada si pembeli perhiasan tersebut. Ketika perhiasan emas tersebut dijual kembali oleh pemiliknya, harga emas akan kembali terpotong, karena pemilik emas juga dikenakan biaya melebur emas oleh pemilik toko emas yang bersangkutan. Lagipula, model perhiasan bisa saja sudah tidak lagi menjadi tren saat Anda menjual perhiasan tersebut. Hal ini dapat dijadikan alasan bagi pemilik toko emas untuk menurunkan nilai jual perhiasan emas. Oleh karena itu Endy menyarankan, jika memang berniat investasi, sebaiknya belilah perhiasan emas secukupnya, hanya untuk dipakai. Sebaliknya, emas yang tepat untuk diinvestasikan adalah emas jenis logam mulia (LM) dengan bentuk batangan dan lempeng. Sementara, emas berbentuk koin atau yang dikenal dengan nama dinar juga menjadi pilihan yang tepat untuk diinvestasikan. Semakin kecil bentuk LM maka nilainya semakin mahal. Contohnya, jika nilai 1 gram LM adalah Rp 550.000, dan Anda membeli LM dengan lempengan 10 gram, bisa saja nilainya menjadi Rp 540.000. Endy menyarankan, sebaiknya jika ingin berinvestasi dengan LM, belilah yang berukuran 5, 10, atau 25 gram, karena harganya cukup ekonomis dan mudah dijual kembali. Sedangkan dinar memiliki bentuk berupa koin dengan berat 1 koin 4,25 gram. Baik LM maupun koin dinar yang beredar di Indonesia memiliki cap dan stempel PT Antam, Tbk, sebagai produsen kedua jenis emas tersebut.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Apr 30, 2013 2:36 pm

SISA GAJI TAK CUKUP UNTUK PUNYA ANAK
Selasa, 30 April 2013 | 13:52 WIB Kompas.com
T:
Saya dan suami bekerja, namun pendapatan kami sangat minim, sementara pengeluaran yang harus kami keluarkan hampir sejumlah gaji kami berdua. Bagaimana cara mengatasi hal ini, sementara kami masih menginginkan punya anak? Kami sering menabung, tapi di akhir bulan akhirnya diambil lagi untuk menutupi kebutuhan sehari-hari kami. Penghasilan tambahan apa yang cocok untuk kami yang sudah lumayan full dengan pekerjaan kami? (Nanik, 22)

J:
Setiap persoalan mengenai pengaturan keuangan harus dimulai dengan menyusun anggaran rumah tangga. Saya minta Anda untuk membuat catatan pengeluaran selama tiga bulan ke belakang. Buatlah dengan pembagian seperti berikut ini;

1. Zakat dan sumbangan
2. Tabungan dan investasi
3. Rumah tangga
4. Utilitas (Listrik, telp)
5. Rutin bulanan (Belanja bulanan atau dapur)
6. Transportasi
7. Kesehatan
8. Belanja pribadi (Anda dan pasangan)
9. Pembayaran Cicilan utang
10. Hiburan, senang-senang

Pos manakah yang membutuhkan penghasilan terbesar? Masih dapatkah Anda melakukan penghematan? Saya punya beberapa ide yang mungkin dapat Anda lakukan, dan terbukti dapat mengurangi biaya hidup banyak keluarga. Misalnya: buatlah menu makanan bulanan, agar tidak banyak bahan makanan yang terbuang. Gantilah perangkat listrik dengan yang lebih hemat energi agar biaya listrik dapat berkurang. Usahakan untuk membeli peralatan rumah tangga dari merek lokal tempat Anda berbelanja. Belilah buah-buahan lokal yang lebih murah dan lebih terjaga kualitasnya. Langkah berikutnya adalah menambah penghasilan. Biasanya untuk para karyawan, cara menambah penghasilan yang paling mudah adalah berjualan barang-barang dengan konsep Multi-Level Marketing. Anda dapat melakukannya sambil bekerja, dan tambahan penghasilan pun cukup lumayan. Silakan dicoba, ya? Semoga bermanfaat.

Live a Beautiful Life,
Prita Ghozie
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Apr 30, 2013 2:40 pm

GAJI BESAR, TAPI KEUANGAN SELALU MINUS
Kamis, 13 Desember 2012 | 09:37 WIB Kompas.com
T:
Penghasilan rata-rata keluarga kami tiap bulan berkisar 30 juta. Namun ada pengeluaran berupa beban pendidikan anak (1 kuliah, 1 di SMP, dan 1 di SD), setoran 13 juta, dan biaya operasional 5 juta. Akibatnya, tiap bulan keuangan kami minus. Bagaimana cara mengatur pemakaian uang keluarga kami? Terima kasih. (Aris SM, 51)

J:
Hai Pak, apa kabar? Mengelola keuangan harus diawali dengan membuat catatan atas pengeluaran yang dilakukan selama ini. Jika setiap bulan arus kas minus, maka kemungkinan besar keluarga Bapak menutupnya dengan bantuan utang kartu kredit. Nah, ini harus mulai dihentikan ya…. Berdasarkan informasi yang diberikan, setoran utang bulanan sebesar 13 juta, ternyata mencapai 43 persen dari gaji bulanan. Rasio ini sangat tidak sehat, karena harusnya tidak lebih dari 30 persen. Hal ini menjadi salah satu penyebab mengapa arus kas bulanan minus. Berikut adalah langkah-langkah yang harus dilakukan:

1. Prinsip jangan besar pasak daripada tiang, memang ternyata bukan kata mutiara belaka. Inilah panduan kita dalam membuat Spending Plan atas gaji yang kita terima setiap bulan.

2. Saat terima gaji, kita bedakan pengeluaran bulanan dengan pengeluaran yang sifatnya tahunan seperti bayar STNK, PBB, dan lainnya.

3. Untuk pengeluaran bulanan, saya sarankan untuk langsung membagi pos pengeluaran menjadi:
* Pengeluaran komitmen tetap: setoran utang, biaya pendidikan, gaji ART.
* Pengeluaran variable tetap: listrik, telepon, air, belanja bulanan, transportasi, dan kesehatan.
* Pengeluaran insidentil: pengeluaran pribadi, anak, dan gaya hidup. Nah, pengeluaran ini tidak harus dilakukan lho setiap bulannya!

4. Cicilan utang Anda terlampau besar. Sebaiknya, negosiasikan penurunan bunga dengan pihak bank.

5. Biaya pendidikan anak, idealnya hanya mencapai 10 persen dari gaji bulanan. Sehingga, untuk tiga anak nilai nominalnya menjadi Rp 3 juta setiap bulan.

6. Untuk sementara (kira-kira 6 bulan ke depan), hentikan dulu penggunaan kartu kredit untuk mencegah arus kas yang minus.

7. Coba ikuti panduan arus kas bulanan yang saya buatkan untuk keluarga Bapak berdasarkan alokasi yang lebih ideal.

PENDAPATAN SEBULAN Penghasilan 30,000,000

PENGELUARAN SEBULAN Persentase

Zakat & Sumbangan 500,000 2%

Tabungan & Investasi 1,000,000 3%

Premi Asuransi 1,000,000 3%

Rutin Rumah Tangga 5,000,000 17%

Belanja Bulanan/dapur/makanan 2,000,000 7%

Transportasi 1,000,000 3%

Kesehatan 1,000,000 3%

Pendidikan 3,000,000 10%

Cicilan Utang 13,000,000 43%

Pengeluaran Pribadi 1,000,000 3%

Pengeluaran Anak 1,000,000 3%

Pengeluaran Hiburan/Lifestyle 500,000 2%


TOTAL PENGELUARAN 30,000,000 100%

Live a Beautiful Life,
Prita Ghozie (Twitter @PritaGhozie)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Apr 30, 2013 2:42 pm

INGIN BERHENTI BEKERJA, BAGAIMANA KEUANGANNYA?
Jumat, 9 November 2012 | 13:47 WIB
T:
Saya wanita 30 tahun dan ibu dari dua anak, yang paling kecil baru berusia 4 bulan. Saya bekerja sudah hampir 10 tahun. Ada keinginan untuk menjadi ibu rumah tangga saja sehingga saya bisa maksimal mengasuh buah hati, namun keuangan keluarga pasti banyak berkurang. Di satu sisi, perusahaan yang sekarang pun saya rasakan sudah tidak nyaman. Saya masih bingung antara melanjutkan karier di tempat yang baru, menjadi ibu rumah tangga saja, atau tetap bertahan bekerja di perusahaan yang lama. Mohon sarannya. Terima kasih. (Alika, 30)

J:
Hai Mbak Alika, membaca ceritanya jadi teringat dengan diri saya sendiri kira-kira empat tahun yang lalu. Saat itu saya bimbang karena akan melahirkan anak kedua. Pengalaman melahirkan anak pertama yang harus kembali kerja saat anak masih berusia 1,5 bulan tentu tidak terlalu menyenangkan. Ditambah lagi, saya bertekad anak kedua harus berhasil ASI tanpa bantuan susu formula selama dua tahun. Sehingga, keputusan tercepat tentu saja saya berhenti bekerja. Meski demikian, kita harus sadar betul, mampukah kita secara finansial untuk berhenti bekerja secara tetap? Ada beberapa langkah yang sebaiknya Anda lakukan sebelum memutuskan untuk berhenti bekerja sekarang juga.

1. Jangan langsung berhenti dari pekerjaan lama.
Sekuat apa pun dorongan Anda untuk mencari pekerjaan baru, saya ingin Anda tetap realistis dan tidak berubah menjadi nafsu. Pertimbangkan siapa yang akan menanggung biaya kesehatan jika Anda berhenti bekerja, siapa yang akan membuat kontribusi ke DPLK (Dana Pensiun Lembaga Keuangan) Anda, dan juga harus meningkatkan dana darurat.

2. Hitung ulang kebutuhan biaya hidup rutin dan komitmen pembayarannya.
Bagi arus kas Anda dengan pos: komitmen pembayaran (cicilan), hidup rutin tetap (bayar listrik, uang sekolah anak, gaji ART, dll), hidup rutin variable (uang makan, belanja bulanan, dll). Silahkan gunakan kalkulator ZAPfin Check Up di situs www.zapfinance.co.id untuk ini.

3. Hidup dengan penghasilan 50 persen.
Saat masih berpenghasilan, jangan gunakan gaji Anda untuk membiayai hidup keluarga. Coba kelola uang gaji suami saja untuk membiayai seluruh kebutuhan, termasuk pos investasi.

4. Lunasi atau kurangi utang.
Tidak ada yang lebih menakutkan dibandingkan kehilangan sumber penghasilan untuk membayar cicilan utang. Oleh sebab itu, usahakan untuk mengumpulkan uang untuk mengurangi sisa saldo kredit agar cicilan bulanan berkurang. Kemudian, usahakan untuk tidak melakukan pembelian barang baru dengan sistem kredit.

Cerita saya sendiri, setelah membulatkan tekad bahwa saya harus punya usaha sendiri, selama enam bulan terakhir sebelum berhenti bekerja, saya pun mulai mengatur keuangan seakan-akan sudah tidak menerima penghasilan sama sekali. Gaji bulanan yang saya terima, langsung saya masukkan ke deposito untuk dana darurat. Latihan ini membuat kami benar-benar tahu, berapa sebetulnya minimal penghasilan yang sanggup kami terima untuk menjalani standar hidup yang masih nyaman. Semakin lama kami bisa mentolerir “pengurangan” penghasilan, menandakan saya semakin siap beralih dari karyawan menjadi pengusaha.

Live a Beautiful Life,
Prita Ghozie (Twitter @PritaGhozie)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Apr 30, 2013 2:44 pm


KIAT MENYUSUN PEMBUKUAN RUMAH TANGGA
Jumat, 3 Agustus 2012 | 09:40 WIB Kompas.com
T:
Dear Mbak Prita, apakah saya bisa minta template untuk pembukuan sederhana rumah tangga? Terima kasih. (Ninik, 40)

J:
Hai Ibu Ninik, rencana keuangan rumah tangga selalu berawal dari analisis laporan kekayaan bersih dan arus kas, baik itu bulanan maupun tahunan. Dari sini, kita bisa mengetahui bagaimana kondisi kesehatan keuangan kita saat ini sehingga tindakan finansial yang nantinya dilakukan bisa tepat. Lalu, seperti apa bentuk laporan kekayaan bersih dan arus kas? Laporan kekayaan bersih terdiri dari jenis aset dan kewajiban yang dimiliki oleh seorang individu. Untuk sisi aset, Anda bisa memisahkan mana aset yang masuk kategori aset lancar, aset tidak lancar, dan aset investasi. Sementara untuk sisi kewajiban, Anda bisa mengelompokkannya menjadi kewajiban lancar dan kewajiban tidak lancar. Anda harus mengisi nilai di Tabel Kekayaan Bersih dengan nilai wajar jika dijual saat ini. Sebagai contoh, Anda memiliki sebuah mobil yang dibeli di tahun 2010 dengan harga 200 juta. Dalam laporan kekayaan bersih tahun 2012, tentu nilai mobil Anda bukan lagi 200 juta, tapi kurang dari nilai tersebut, misal 160 juta. Mengapa? Hal ini bisa disebabkan oleh adanya penurunan fungsi mobil akibat penggunaan atau keluarnya mobil dengan model yang lebih baru. Setelah Anda mendata keseluruhan aset dan kewajiban yang dimiliki, kurangkan jumlah aset terhadap jumlah kewajiban. Selisih keduanya merupakan nilai kekayaan bersih Anda. Ayo, coba periksa hasilnya positif atau negatif? Sementara, laporan arus kas terdiri dari jenis pemasukan dan pengeluaran beserta nilainya.

1. Arus kas bulanan, jenis pemasukan dan pengeluaran yang dihitung bersifat tetap atau hampir selalu terjadi setiap bulannya. Contoh jenis pemasukan yang bersifat tetap adalah gaji bulanan. Untuk jenis pengeluaran rutin, tentu Anda sudah sangat memahaminya. Tagihan telepon dan listrik, belanja bulanan, uang SPP bulanan anak, dan tagihan rutin bulanan lainnya, merupakan contoh jenis pengeluaran rutin.

2. Arus kas tahunan, jenis pemasukan dan pengeluaran yang dihitung bersifat tidak rutin. Bonus atau THR merupakan contoh jenis pemasukan tidak rutin diberikan setiap bulan. Contoh jenis pengeluaran tidak rutin adalah dana liburan yang hanya terjadi satu tahun sekali.

Idealnya, pendapatan rutin digunakan untuk membiayai pengeluaran rutin dan pendapatan tidak rutin digunakan untuk membiayai pengeluaran tidak rutin, sehingga tidak terjadi mismatch. Apabila jumlah pengeluaran tidak melebihi jumlah pendapatan, maka Anda memiliki sisa arus kas positif yang bisa digunakan untuk berbagai keperluan, seperti melunasi utang, menambah dana darurat yang belum mencapai jumlah yang ideal, meningkatkan porsi tabungan dan investasi, dan lain-lain, tergantung dari kondisi finansial Anda. Namun, jika ternyata jumlah pengeluaran lebih besar daripada jumlah pendapatan, Anda harus hati-hati dan segera mengevaluasi pos-pos anggaran mana yang bocor. Laporan ini menjadi fondasi penting dalam proses perencanaan keuangan Anda. Itulah sebabnya keduanya wajib dibuat dan diperbarui, minimal sekali dalam satu tahun. Untuk lebih detailnya, Anda juga bisa mencoba membuat pembukuan rumah tangga dengan menggunakan Tabel Arus Kas di kalkulator finansial ZAPFIN dengan mengunjungi www.zapfin.com.

Live a Beautiful Life,
Prita Ghozie
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu May 23, 2013 9:35 am

AGAR GAJI TAK "KANDAS" DI TENGAH BULAN
Penulis : Christina Andhika Setyanti | Rabu, 22 Mei 2013 | 14:37 WIB
KOMPAS.com — Mendekati tengah bulan, biasanya orang mulai mengeluh gajinya sudah habis. Kalau sudah demikian, keluhan lain yang datang adalah gaji yang diterima terlalu kecil jadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan Anda sebulan. Lalu, apakah jika punya gaji yang besar Anda lantas bisa menabung dan mencukupi kebutuhan? Perlu diketahui bahwa ketika pendapatan bulanan Anda bertambah, pengeluaran pun akan ikut bertambah. Alih-alih menyalahkan gaji kecil, ada baiknya untuk menengok cara Anda mengelola keuangan bulanan.

1. Membuat anggaran realistis
Dalam prinsip pengelolaan keuangan, membuat rencana keuangan adalah hal yang wajib dilakukan. Sebaiknya, Anda buat rencana pengeluaran sebelum menerima gaji sehingga saat gaji sudah di tangan Anda bisa langsung menjalankan rencana yang sudah disusun. Cobalah memulainya dengan mencatat kembali pengeluaraan Anda selama tiga bulan ke belakang. Dengan begitu, Anda bisa tahu mana saja pos-pos yang harus dihemat atau dihilangkan sama sekali. Misalnya, setelah review tiga bulan ke belakang, ternyata Anda lebih banyak mengeluarkan uang untuk menghibur diri, seperti nonton film, karaoke, dan mencicipi makanan di restoran mahal. Pos hiburan ini sebenarnya tak penting-penting amat, jadi tak harus dilakukan seminggu sekali. Meski begitu, Anda juga tak harus menghilangkannya sama sekali. Anda hanya perlu mengontrol dan mengurangi frekuensinya, misalnya jadi sebulan sekali. Intinya, Anda harus bersikap realistis saat ingin belanja agar tak mengurangi pos yang tidak seharusnya. Selain membuat perencanaan, sebaiknya Anda juga memiliki sebuah jurnal untuk mencatat pengeluaran Anda dalam satu bulan. Catat semua barang dan jasa yang dibeli secara detail, sertakan nominal pembelian, waktu pembelian, dan tempat Anda membelinya. Bandingkan rencana keuangan Anda dengan pengeluaran nyata. Apakah sudah sama nominalnya atau malah berlebih?

2. Prioritas kebutuhan
Apa prioritas keuangan Anda setiap bulan? Tentu saja membayar semua tagihan yang dibutuhkan, bukan? Misalnya, biaya transportasi, belanja bulanan, listrik, air, atau membayar cicilan rumah. Pengeluaran rutin yang masuk dalam prioritas utama bisa disebut sebagai kebutuhan jangka pendek atau kebutuhan primer, sedangkan pengeluaran yang sifatnya sekunder dan tersier misalnya berlibur setiap akhir pekan, membeli barang bermerek, atau gadget. Pengeluaran sekunder dan tersier inilah yang harus dihemat. Bahkan, jika sudah mengganggu kebutuhan primer, Anda bisa menghilangkannya dalam daftar perencanaan keuangan bulanan. Agar tidak jalan di tempat dan pengelolaan keuangan Anda mengalami pergerakan yang positif, jangan selalu berpikir tentang kebutuhan jangka pendek. Tetapkan target untuk mencapai tujuan jangka panjang. Misalnya, menambah tabungan sebesar Rp 50 juta dalam satu tahun.

3. Siapkan biaya tak terduga
Dalam merencanakan keuangan, Anda juga harus mempersiapkan biaya yang terduga atau dana cadangan yang dalam keadaan darurat bisa Anda ambil. Pisahkan dana cadangan ini dari tabungan Anda sehari-hari atau tabungan yang bisa Anda ambil sewaktu-waktu. Seperti halnya menabung, dana cadangan juga harus disiapkan dengan penuh komitmen. Misalnya, Anda telah menggunakan 50 persen dana cadangan untuk membayar biaya rawat inap anggota keluarga yang sakit, maka Anda harus mengembalikan saldo dana cadangan seperti semula. Cara lain yang bisa Anda lakukan untuk menyiapkan biaya tak terduga ini adalah dengan memiliki asuransi. Asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, hingga asuransi jiwa berjangka adalah produk-produk keuangan yang bisa Anda pilih untuk dana cadangan Anda. Dengan memiliki asuransi, berarti Anda sudah menyadari betapa pentingnya mengantisipasi setiap kejadian yang tak terduga di masa depan.

Sumber: Sun Life Financial
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu May 23, 2013 9:10 pm

DAPAT TAWARAN PINJAMAN, AMBIL ATAU TOLAK?
Rabu, 15 Mei 2013 | 14:15 WIBTERKAIT
Metrotvnews.com: Anda sebenarnya belum butuh berutang untuk alasan apapun. Namun, banyak tawaran pinjaman dengan berbagai kemudahan yang menggoda Anda. Lalu, bagaimana sikap Anda? Menurut perencana keuangan, Aidil Akbar, berutang merupakan pilihan terakhir. Bila tak membutuhkannya sama sekali, Aidil menyarankan untuk tak berutang. Bilapun hendak berutang, di segmen Your Money di 811 Show Metro TV, Jakarta, Rabu (15/5), Aidil menyarankan Anda untuk mengetahui kemampuan diri sendiri. Berapa yang Anda butuhkan? Bagaimana kemampuan Anda mencicilnya? Jika sudah memiliki utang lain, Anda harus berhati-hati. Sebab, bisa saja Anda tak mampu membayar utang baru. Jadi, jangan ambil tawaran berutang yang datang kepada Anda. "Biarkanlah sms yang masuk 10 sampai 20 kali sehari menawarkan utang. Jangan tergiur, karena platform cicilan anda sudah penuh, sudah mencapai 30 persen dari penghasilan kita," kata Aidil. Menurut Aidil, batas rencana atau platform utang tak boleh lebih 30 persen dari penghasilan. Terlebih lagi, utang untuk berinvestasi. Sebab, bila suatu hal mengakibatkan nilai investasi turun, anjlok, atau habis, Anda tetap harus membayar cicilan tersebut. "Jadi tetap rumusannya di 30 persen tadi," tambahnya. Aidil juga menekankan jangan terlena dengan institusi keuangan yang berlomba-lomba menawarkan pinjaman atau utang. Banyak institusi keuangan yang menawarkan pinjaman uang dengan lama cicilan sekitar 10 hingga 15 tahun terakhir. Mereka menyadari potensi kredit macet individu yang berutang lebih kecil dibanding korporasi. Lantaran itu, mereka berlomba-lomba memberikan pinjaman pada orang yang memiliki rekaman kredit atau catatan pembayaran utang yang bagus. "Secara pribadi saya tidak akan mengambil utang kalau tidak butuh. Kemudian kalau saya ambil utang biasanya memang untuk sifatnya yang produktif, seperti untuk tambahan bisnis," tutur Aidil. Aidil memberikan sejumlah tips agar berutang menjadi keputusan cerdas, sebagai berikut:

1. Pastikan utang tersebut masuk ke dalam utang produktif. Jangan menjadi utang konsumtif. Produktif itu seperti untuk membeli aset yang nilainya menjadi naik, atau mungkin tidak naik tapi bisa menghasilkan dan menambah pendapatan.

2. Tanyakan diri sendiri, apakah Anda membutuhkan pinjaman tersebut. Bila tidak, jangan memaksa. Apalagi banyak tawaran utang untuk berlibur.
."Sebenarnya liburan itu untuk mengurangi stres, tapi pulang liburan malah nyicil utang dan malah tambah makin stres. Itu harus dihindari," ujarnya.

3. Bijaklah saat memilih pinjaman. Tentunya itu bermula dari kesadaran akan kebutuhan utang.(Lesi Setiawati)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue May 28, 2013 9:23 am

SULIT MENABUNG? MUNGKIN INI SEBABNYA
Jumat, 3 Mei 2013 | 16:06 WIB
KOMPAS.com - Menabung pangkal kaya, ungkapan ini mungkin sudah sering kali kita dengar. Tapi mengapa kita kerap kesulitan untuk melakukannya? Sebelum penyesalan datang, ada baiknya segera diperbaiki.

1. “Gimana mau nabung, gajinya saja pas-pasan”
Uang enggak pernah cukup menjadi alasan klasik yang dipakai banyak orang untuk tidak menabung. Benar enggak sih tiap bulan kita selalu kehabisan uang? Apa iya gaji kita kekecilan? Menurut pakar keuangan, seberapa banyak pun uang yang kita miliki tetap saja kita akan lebih senang untuk menghabiskannya daripada ditabung.
Do: Berkomitmenlah untuk menghilangkan sebanyak mungkin kebocoran-kebocoran yang Anda bisa. Anda akan terkejut melihat betapa banyaknya uang tambahan yang Anda miliki dalam anggaran.

2. “Uangnya sudah habis buat bayar tagihan”
Aturan pertama dalam menyelamatkan uang Anda adalah "membayar" diri Anda terlebih dulu sebelum melakukan hal-hal lain. Sayangnya, aturan ini seringkali dilanggar. Begitu menerima gaji, kita akan sibuk di depan ATM untuk membayar ini-itu, sehingga gaji pun lenyap tanpa bekas. Ketika mau menabung, kita baru sadar bahwa tidak ada yang tersisa.
Do: Cara terbaik adalah membuat proses penyisihan uang secara otomatis. Pergilah ke bank dan buat instruksi debit otomatis dari rekening penerima gaji ke rekening tabungan atau investasi yang dimaksud. Untuk pemula, jumlahnya cukup 5 persen dari penghasilan rutin, kemudian setiap 6 bulan lakukan peningkatan presentase hingga mencapai target 30 persen. Bila ada penghasilan tambahan, gunakan uang tersebut untuk melunasi seluruh utang yang dimiliki.

3. “Ke bank? Mana sempat?”
Baru membayangkan mesti antre di bank untuk menabung yang hanya beberapa ratus ribu saja sudah bikin malas, apalagi kalau beneran itu yang terjadi. Anda merasa usaha yang dikeluarkan lebih besar daripada jumlah uang yang akan ditabung. Daripada waktu habis untuk antre di bank, Anda lebih suka memanfaatkannya untuk hal lain.
Do: Anda tidak harus pergi ke bank setiap akan menabung. Cukup manfaatkan fasilitas yang disediakan bank, misalnya auto debet, setoran tunai yang ada di mal-mal, internet banking, dan sebagainya.

4. “Enggak ada uang nganggur”
Niat menabung sih ada, tapi apa daya, gaji tiap bulan selalu untuk membayar kebutuhan hidup sehari-hari. Mulai dari transportasi, makan, telepon, listrik, belum lagi belanja bulanan. Yang menjengkelkan, setiap tahun harga barang-barang selalu naik, sehingga semakin kecil lah kemungkinan ada uang sisa.
Do: Kita memang tidak bisa mengendalikan harga barang. Namun, kita bisa mengendalikan pengeluaran dan pemakaian. Mulailah dengan mengganti produk elektronik dengan yang hemat energi. Lalu, bijaklah dalam berbelanja. Manfaatkan juga potongan-potongan harga yang biasa ditawarkan oleh supermarket dan pusat perbelanjaan lainnya. Selain itu, jangan malu untuk mengambil penawaran-penawaran menarik yang bisa menghemat kantong, seperti dari provider telepon, tv kabel, dan sebagainya.

5. "Menyia-nyiakan waktu senggang"
Setiap orang tentu butuh waktu untuk rileks dan me-recharge energi di rumah, tapi apakah kita memang perlu menghabiskan waktu 5 jam di depan televisi atau menonton video berjam-jam setiap hari? Padahal Anda bisa memanfaatkan waktu luang dengan kegiatan yang bisa menghasilkan uang.
Do: Cobalah mengubah mindset Anda dari konsumen menjadi kreator atau produsen. Ya, Anda bisa memanfaatkan waktu senggang dengan melakukan kegiatan yang Anda senangi dan menghasilkan uang. Misalnya saja, bila senang fashion dan tidak bisa lepas dari internet, Anda bisa membuat butik online, blog, dan sebagainya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jun 04, 2013 9:55 pm

JANGAN SALAH TEMPAT MENGALOKASIKAN UANG
Penulis : Wardah Fazriyati | Jumat, 31 Mei 2013 | 17:29 WIB
KOMPAS.com - Perencana keuangan Prita Hapsari Ghozie mengatakan orang Indonesia pandai menyisihkan uang tapi kebanyakan salah tempat. Kesalahan mengalokasikan dana umumnya terdapat pada tabungan. Kebanyakan orang mengandalkan tabungan untuk simpanan hari tua juga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Kesalahan umum lainnya adalah membayar polis asuransi namun tak memahami tujuannya. Alhasil uang yang semestinya bisa dimaksimalkan untuk investasi yang lebih menguntungkan, mengalir ke dana asuransi yang tak jelas tujuan finansialnya. Saat bincang-bincang peluncuran buku keduanya berjudul Make It Happen!, Prita mengatakan menabung tak cukup untuk memenuhi kebutuhan di hari tua. Perempuan yang tak hentinya mengedukasi pentingnya investasi ini juga mengungkapkan 50 persen orang tidak bisa membedakan antara simpanan, tabungan, dan investasi. Masalah keuangan kemudian muncul bukan hanya karena minimnya tabungan, tapi juga disebabkan oleh gaya hidup tinggi dan kebiasaan berutang. Sekitar 30 persen orang memiliki gaya hidup tinggi dan 18 persen hobi berutang. Dengan berbagai masalah keuangan dan salah tempat alokasi dana inilah, banyak orang tak mampu mewujudkan sejumlah impiannya. Seperti memiliki rumah, dana pendidikan anak, dana pensiun, juga kesempatan berlibur, Mengenai asuransi, kesalahan yang paling umum dilakukan adalah membeli asuransi dengan premi yang tidak sesuai kemampuan finansial.Rata-rata orang Indonesia menghabiskan 20 persen dari gaji bulanannya untuk premi asuransi. Padahal, semestinya alokasi dana untuk premi asuransi hanya lima persen dari gaji. "Yang paling penting dari asuransi adalah nasabah tahu mau apa dengan asuransi tersebut. Tidak mungkin semua asuransi dimiliki, jadi memang harus memilih," sarannya. Prita melanjutkan banyaknya polis asuransi yang dimiliki karena mudah tergoda tawaran lantaran minimnya pengetahuan. Termasuk asuransi yang masuk dalam tagihan kartu kredit. "Boleh saja membeli asuransi yang ditawarkan asal jelas tujuannya sesuai kebutuhan dan kemampuan. Termasuk asuransi yang masuk tagihan kartu kredit karena bagi sebagian orang ini membantu membayar bulanan. Namun pastikan Anda membayar lunas tagihan kartu kredit bukan membayar minimum payment karena itu sama saja berasuransi dengan berutang," sarannya.
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 25 of 26Go to page : Previous  1 ... 14 ... 24, 25, 26  Next
 Similar topics
-
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak
» seminar keluarga muslim bahagia
» Endonesia: "Kristenisasi" dan Intoleransi

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: