Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 13 ... 23, 24, 25, 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Nov 23, 2012 8:50 pm

CARA KELUAR DARI DAFTAR HITAM BANK INDONESIA
Republika – Kam, 29 Des 2011 10:38 WIB
Pertanyaan :
Assalamu'alaikum wr.wb
Saya mau menanyakan bagaimana caranya agar kita bisa keluar dari daftar hitam Bank Indonesia (DHBI), jika kita pernah mengalami blacklist. Terus jika kita sudah diputihkan berapa lama kita dapat mengajukan kembali kredit ke Bank. Wassalam Muslim

Jawaban :
Wa'alaikumussalam wr wb
Bapak Muslim yang dirahmati Allah, ada dua jenis blacklist atau daftar hitam dalam perbankan bagi nasabah: blacklist dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK) akibat dari penerbitan cek/bilyet kosong dan blacklist dari sisi kredit akibat dari penunggakan pelunasan. Jika mengacu pada pertanyaan terakhir, blacklist yang dimaksud Bapak mungkin adalah dari sisi kreditnya. Seseorang yang pernah mengajukan kredit termasuk kartu kredit (cc) akan secara otomatis masuk ke dalam sebuah daftar kolektibilitas. Pada daftar tersebut akan terlihat record pembayaran pelunasan transaksi kredit. Rentang rankingnya dari satu sampai lima. Ranking pertama bagi yang selalu tepat waktu atau lancar pembayarannya dan ranking kelima untuk kredit macet yang belum melunasi utangnya lebih dari 270 hari. Jika seseorang telah mencapai ranking ketiga maka sudah menjadi warning baginya untuk segera melunasi. Tentu saja, yang harus dilakukan adalah melunasi utangnya, kemudian mengajukan negosiasi kalkulasi dan jangka waktu pembayaran dengan pihak bank pemberi kredit. Jika seseorang telah mencapai ranking kelima kemudian secara lancar membayar pelunasan utangnya maka dalam tiga bulan sudah bisa mencapai ranking ketiga. Jika terus lancar, maka tiga bulan kemudian bisa pulih ke ranking satu. Apalagi jika langsung dilunasi, maka rankingnya langsung pulih ke rangking pertama. Jadi, yang bersangkutan diberi waktu enam bulan untuk pemulihan ranking kreditnya. Setelah itu, barulah yang bersangkutan bisa kembali mengajukan kredit. Meskipun belum lunas, jika rankingnya telah pulih ke rangking pertama, maka ia sudah bisa mengajukan kredit lagi. Pemulihan ranking ini bisa update langsung di semua bank peserta karena menggunakan sistem online, yang terhubung langsung dengan pusat data Bank Indonesia (BI). Selanjutnya bagi pemohon kredit bersangkutan harus aktif mencari informasi mengenai status kreditnya, yang bisa diminta langsung ke Bank Indonesia.

Wassalaamualaikum wr wb
Laily Dwi Arsyianti

Diasuh oleh Program Studi Ekonomi Syariah Departemen Ilmu Ekonomi FEM IPB, Fakultas Ekonomi Manajemen IPB Kirimkan pertanyaan Anda ke syariah@rol.republika.co.id
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Dec 30, 2012 5:20 pm

MERENCANAKAN WARISAN
( Adler Haymans Manurung, Praktisi Keuangan )
Perencanaan warisan merupakan aktivitas yang direncanakan keluarga bila ayah meninggal sehingga harta yang ada jelas pembagiannya, ibu yang ditinggal tidak terkatung katung dan dapat hidup layak. Inti persoalan perencanaan warisan adalah perencanaan yang dilakukan saat ini sampai salah satu dari ayah atau ibu meninggal, agar suami/istri tidak terlantar dan ketika kedua duanya meninggal anak anak tidak menghadapi persoalan. Orang tua harus membuat daftar benda yang akan diwariskan secara rinci, supaya jelas perhitungannya. Bila rumah yang akan diwariskan, harus jelas alamat, luas, dan perkiraan harganya. Bila saham dan obligasi, maka jumlah saham, nilai saham dan disimpan dimana, kapan transaksinya dilakukan, supaya jelas dan dapat dihitung. Kalau ada hutang, kepada siapa berhutang, kapan mulai berhutang, besarnya hutang, tingkat bunga yang dijanjikan.

Bila keluarga belum mempunyai bangunan yang cukup untuk diwariskan, maka perlu direncanakan baik baik. Ayah/ibu dapat membeli rumah secara kredit kepada bank. Bila melalui KPR, biasanya diminta membuat asuransi jiwa atas nama pembeli KPR, Sebenarnya ini merupakan investasi masa depan yang menyelamatkan keluarga. Bila orang tua meninggal, maka KPR tidak perlu dibayar dan rumah menjadi milik karena sisa KPR akan ditanggung oleh asuransi secara otomatis. Artinya tidak ada salahnya membeli rumah sebanyak anak yang kita miliki, secara cicilan, agar warisan rumah ada untuk anak anak. Bila pemberi warisan mempunyai dana pensiun, maka lembaga yang menerima iuran pensiun harus didatangi dan ditanyakan nilai yang akan diterima bila terjadi kematian pemberi warisan. Deposito dan tabungan juga harus dibuat lebih jelas, bahwa pengambilannya dapat dilakukan satu atau dua orang yang sudah didiskusikan dengan pihak bank bila pewaris meninggal dunia. Membuat surat pembagian warisan bisa dalam bentuk surat notaris, agar anak anak tidak ribut mengenai benda benda yang diwariskan karena sudah tercantum dalam bentuk tertulis yang disahkan oleh notaris dan disertai saksi saksi.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 10:13 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Jan 06, 2013 8:31 pm

LEBIH AMAN DENGAN KOTAK DEPOSIT
Senin, 02 Mei 2011 16:00 WIB Media Indonesia - Penulis : yulia permatasari
JIKA Anda merasa khawatir tentang keamanan barang-barang berharga yang dimiliki, barangkali sudah waktunya untuk memiliki kotak deposit. Ada dua opsi yang bisa dijadikan pilihan, yakni brankas di rumah atau kotak deposit di bank. Menyewa kotak deposit di bank sebetulnya jauh lebih aman, karena lebih kecil risiko mengalami pencurian, kebakaran, atau kebanjiran. Tetapi, kurang mudah untuk mengaksesnya. Beberapa perusahaan asuransi akan menurunkan premi mereka untuk barang-barang yang disimpan di bank.

Barang-barang-barang yang sebaiknya disimpan di dalam kotak deposit antara lain dokumen-dokumen asli termasuk:
1. polis asuransi
2. akta kelahiran, pernikahan, perceraian, dan kematian
3. akta, sertifikat, hipotek, sewa guna usaha
4. kontrak
5. saham
6. obligasi
7. sertifikat deposito
8. benda-benda berharga dan tahan lama seperti perhiasan, medali, perangko langka, koin, dan koleksi lainnya
9. foto rumah dan isinya untuk tujuan asuransi, dan hal-hal lain yang tidak tergantikan bagi Anda.

Sementara itu, barang-barang yang sebaiknya tidak disimpan di dalam kotak deposit yaitu dokumen-dokumen asli yang mungkin Anda perlukan secara mendadak seperti:
1. surat kuasa
2. surat wasiat hidup (living will)
3. petunjuk medis
4. paspor
5. keinginan pemakaman dan penguburan
6. surat wasiat

Anda dapat menyimpan salinannya di dalam kotak deposit. Tapi, simpan dokumen aslinya di tempat lain, seperti di rumah atau dengan pengacara Anda. (Yul/OL-06)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:42 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Jan 09, 2013 10:21 am

SIAPA SURUH SALAH PERSEPSI
Sunday, 05 August 2012 Seputar Idonesia
Dalam banyak kesempatan saya sering mengatakan kecerdasan finansial akan membuat seseorang pintar sebagai pengutang (kas defisit) dan lihai sebagai investor (kas surplus). Selain itu, mereka yang cerdas finansial tidak mudah tergoda atau salah persepsi terhadap kartu kredit dan produk-produk kreatif bank seperti angsuran dengan bunga flat dan tawaran bunga 0%. Berikut beberapa tips dari saya.

Bunga Flat
Hampir semua barang kini dapat dibeli secara kredit. Penjual akan memberitahukan tingkat bunga yang dikenakan. Namun, Anda jangan langsung tergoda jika disebutkan bunganya relatif rendah, katakan hanya 6% p.a. Ingat, bunga yang disampaikan itu seringkali bukan bunga sebenarnya tetapi bunga flat. Bunga sebenarnya (efektif) sekitar dua kali lipatnya (12%). Jika ada provisi, biaya administrasi, dan angsuran per tama dimulai saat transaksi, bunga efektif dapat menjadi sekitar 15%. Bunga 15% inilah yang mestinya menjadi dasar per - tim bangan sebelum memutuskan pem - be lian kredit, dan bukan 6%. Jika Anda memang membutuhkan barang itu dan memandang bunga 15% p.a. masih wa - jar, silakan membelinya. Masih soal kredit, hampir setiap bulan saya ditawari pinjaman dari dua bank penerbit kartu kredit yang saya mi - liki. Bank yang satu menawarkan bunga 1% setiap bulan selama 12 bulan dengan biaya administrasi 1% dibayar di muka. Ji ka berutang Rp12 juta, kita akan menerima kas Rp11,88 juta (99%) dan mencicil Rp1,12 juta setiap bulannya. Bank lainnya menawarkan bunga hanya 5% selama 6 bulan tetapi bunganya harus dibayarkan pada angsuran per tama. Dengan mengambil kredit Rp30 juta, bank akan menagih Rp6,5 juta (Rp5 juta + 5%*Rp30 juta) di bulan pertama dan Rp5 juta pada lima bulan berikutnya. Menurut Anda, apakah ini menarik? Jika Anda salah persepsi tentang bunga flat, Anda pasti tertarik. Padahal sesungguhnya kedua nya tidak menarik karena bunga efektif masing-masing adalah 21,46% p.a. dan 17,52% p.a.

Bunga 0%
Bagi mereka yang cerdas finansial juga tidak akan percaya begitu saja jika ada apartemen, ruko, atau kendaraan ditawarkan dengan bunga 0%. Logika keuangan mengajarkan kita bahwa tidak ada makan siang yang gratis. Buktinya, pinjaman antar bank (call money) yang umumnya hanya beberapa hari saja selalu memperhitungkan bunga. Karenanya, jika produk yang di tawarkan itu memang dibutuhkan, mereka akan langsung mencari tahu harga tunainya. Mereka akan menanyakan apakah ada diskon tunai atau diskon khusus untuk pembelian tunai. Sangat mungkin harga produk yang ditawarkan dengan bunga 0% itu sudah mengandung bunga. Dalam pasar properti, kita begitu terbiasa dengan istilah soft cash dan hard cash. Intinya, harga rumah yang ditawarkan seringnya bukan harga tunai tetapi harga untuk pelunasan dalam 12 bulan. Contohnya, sebuah apartemen berharga Rp600 juta dapat dibayar dengan 12 angsuran bulanan Rp50 juta mulai hari transaksi. Pengembang apartemen sesumbar akan mengatakan kalau pembelian kredit bunganya 0%. Tetapi, jika kita tanyakan harga untuk pembelian tunai, dia akan menawarkan diskon 8% untuk yang membayar secara cepat dalam 1 minggu dan diskon 5% untuk yang melunasi dalam 6 minggu, misalnya. Karenanya, jangan gembira dulu mendengar atau membaca tawaran beli properti dengan bunga 0%.

Kartu Kredit
Persepsi salah juga terjadi terhadap kartu kredit. Dalam penilaian saya, ada empat pandangan berbeda terhadap kartu kredit. Kelompok pertama
Adalah mereka yang menghindari kartu kredit karena tidak melihat manfaat kartu kredit atau memandangnya sebagai racun dan berbahaya. Yang masuk dalam kelompok ini adalah mereka yang biasa hidup prihatin dan mereka yang pernah terjerat utang kartu kredit akibat tidak dapat mengendalikan dirinya saat memiliki kartu kredit. Bank tidak me nyukai kelompok ini karena tidak mendapatkan fee apa pun dari mereka.

Kelompok kedua
Adalah mereka yang memanfaatkan kartu kredit secara optimal untuk membeli barang yang dibu tuhkan dan membayar semua utang itu ketika tagihannya jatuh tempo se kitar 2–6 minggu kemudian. Kelompok ini menghindari bunga bank akibat tunggak an tagihan. Dari kelompok ini bank ha nya memperoleh annual fee yang be - sar nya tidak seberapa setiap tahunnya, selain merchant fee dari penjual tentunya. Inilah persepsi yang benar tentang kartu kredit. Kelompok ini adalah yang paling cerdas, namun bukan yang paling disukai bank karena tidak banyak me - nguntungkan bank. Untuk setiap ke inginan belanja dengan kartu kredit, kelompok itu mengajukan empat per ta nyaan. ”Apakah saya membutuhkan barang itu, apakah pembeliannya harus se ka rang, apakah harganya mesti sebesar itu, dan apakah saya akan mampu melunasinya saat tagihan kartu kredit datang beberapa minggu kemudian?” Hanya jika jawabannya ya untuk semua pertanyaan di atas, dia akan menggesek kartu nya untuk belanja.

Kelompok ketiga
Melihat kartu kredit sebagai fasilitas untuk belanja barang dengan berutang. Akibat persepsi yang salah, kelompok ini sering mengguna kan kartunya untuk membeli barang-barang yang tidak selalu dibutuhkan. Saat tagihan datang, walaupun mungkin mampu, mereka tidak bersedia melunasinya dan hanya membayar tagihan minimumnya yaitu 10%. Inilah kelompok pengguna kartu kredit yang paling di sukai bank karena memberikan keuntungan paling besar yaitu bunga kredit, annual fee, dan merchant fee.

Kelompok terakhir
Mempunyai persepsi yang paling salah. Kelompok ini melihat kartu kredit sebagai tambahan uang kas di dompetnya. Bukan saja untuk belanja barang, persepsi salah membuat kelompok ini tidak segan untuk menarik uang kas dari ATM yang bunganya sangat tinggi. Saat tagihan datang, ke lom pok ini tidak sanggup membayarnya bahkan untuk angsuran minimum. Yang masuk kelompok ini hidupnya tidak tenang karena diuber-uber debt collector dan sering harus berpindah tempat tinggal. Berhubungan dengan kelompok ini, bukannya dapat ke untungan, bank akan mengalami kerugian. Inilah kelompok yang paling tidak disukai bank penerbit kartu kredit. ●

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:40 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Mar 03, 2013 10:18 am

6 PILIHAN MENGATUR GAJI PASANGAN
Penulis : Felicitas Harmandini | Jumat, 22 Februari 2013 | 10:59 WIB
KOMPAS.com - Tantangan ketika menikah adalah bagaimana mengelola keuangan bersama. Maklum saja, selama ini hidup sendiri-sendiri, bebas menggunakan gaji untuk kesenangan masing-masing, mendadak harus saling berbagi dan menabung untuk tujuan bersama. Haruskah setiap pasangan menyatukan penghasilan dalam satu rekening, atau bisakah tetap hidup dengan rekening masing-masing? Tidak ada satu cara pasti untuk mengelola keuangan atau mengatur penghasilan pasangan, karena semuanya tergantung dari situasi yang dialami masing-masing pasangan. Untuk Anda, perencana keuangan Sophia Bera dari Cahill Financial Advisors, Inc. memberi pilihan enam cara pengelolaan uang yang mungkin akan cocok untuk cara hidup Anda dan pasangan.

1. Membuka satu rekening bersama
Selain memiliki tabungan untuk menampung penghasilan masing-masing, Anda juga bisa membuka satu rekening bersama. Jumlah yang disetor masing-masing bisa sama atau berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang memiliki penghasilan yang kurang lebih sama, untuk membayar sewa rumah, tagihan-tagihan, belanja kebutuhan sehari-hari, dan pengeluaran bersama lainnya. "Memiliki rekening bersama memberikan masing-masing pasangan akses pada dana tersebut," ungkap perencana keuangan Sophia Bera. "Masing-masing harus percaya bahwa yang lain akan menggunakan uang dengan cara yang telah disepakati."

2. Menyisihkan persentase tertentu dari gaji
Caranya sama, membuka rekening bersama, namun jumlah setorannya ditentukan berdasarkan persentase penghasilan. Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang berbeda, baik dari jumlah maupun sumbernya. Jadi, meskipun Anda dan suami memiliki penghasilan yang jauh berbeda, masing-masing menyisihkan persentase yang sama dari gaji. Idealnya, jumlah yang disetorkan di bawah 50 persen dari take-home pay masing-masing pasangan. Sebutlah misalnya 30 persen. Jadi jika gaji Anda Rp 5 juta, jatah setoran Anda Rp 1,5 juta. Sedangkan jika gaji suami Rp 10 juta, maka jatahnya Rp 3 juta. Tabungan semacam ini baik dilakukan untuk kebutuhan jangka panjang, misalnya biaya pendidikan anak di perguruan tinggi, naik haji, atau liburan. Di luar itu, Anda masih bisa membuka rekening pribadi dan menggunakannya untuk biaya hidup sehari-hari.

3. Salah satu membayar semua pengeluaran
Meskipun Anda dan suami sama-sama bekerja, hanya satu orang yang diputuskan untuk membayar semua pengeluaran. Cocok untuk: Pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan jauh lebih besar, atau salah satu memutuskan untuk berhenti bekerja karena ingin mengasuh anak atau melanjutkan sekolah. Cara ini dapat menguji apakah penghasilan salah seorang bisa mencukupi kebutuhan seluruh keluarga. Bila gaji suami lah yang bisa diandalkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bisa bertanggung jawab sepenuhnya terhadap pengeluaran rumah tangga. Sebelum memutuskannya, Anda bisa berdiskusi lebih dulu. Jika suatu saat Anda kembali bekerja, apakah Anda harus ikut andil dalam membayar pengeluaran, atau menabung saja penghasilan Anda? Jenis pengeluaran seperti apa yang menjadi tanggung jawab Anda?

4. Masing-masing memilih jatah tagihan yang mampu dibayar
Cocok untuk: Pasangan dengan penghasilan yang sedang, sehingga masing-masing dituntut bertanggung jawab untuk membayar pengeluaran rumah tangga. Setiap rumah tangga pasti memiliki pengeluaran dan tagihan yang harus dibayar, dari PAM, PLN, komunikasi (telepon dan internet), kartu kredit (yang digunakan untuk membeli peralatan rumah tangga), hingga cicilan mobil dan kontrakan rumah. Anda bisa memilih sendiri mana tagihan yang mampu Anda bayar, sesuai dengan penghasilan Anda. Misalnya, karena Anda punya penghasilan tetap dan lebih besar, Anda yang membayar kontrakan rumah, dan cicilan mobil. Sedangkan suami yang membayar kartu kredit, asuransi, PAM, PLN, dan komunikasi, karena ia bekerja di rumah dan selalu terhubung dengan internet. “Yang paling penting, bicarakan hal ini lebih dulu, dan buat perencanaan yang efektif untuk Anda berdua," ujar Bera.

5. Menyatukan seluruh penghasilan dalam satu rekening
Cocok untuk: Anda yang ingin menyatukan milik berdua seutuhnya, atau untuk menghindari salah satu melakukan pemborosan terhadap rekening pribadi. Ada dua cara yang bisa Anda pilih. Rekening ini digunakan untuk seluruh keperluan, dari membayar pengeluaran rumah tangga sampai tabungan bersama. Tantangannya: Anda harus disiplin menyisihkan uang di dalam rekening ini untuk ditinggalkan sebagai tabungan. Cara lain adalah membuat rekening bersama ini untuk pengeluaran tetap (seperti cicilan rumah dan kendaraan) dan tabungan, dan satu rekening lagi untuk biaya operasional sehari-hari termasuk untuk bersenang-senang atau liburan. Dengan pengelolaan seperti ini, Anda harus rajin membuat pembukuan bulanan untuk menghitung pengeluaran dan kemajuan nilai tabungan Anda.

6. Mengandalkan satu gaji saja
Cara ini mirip dengan cara nomor tiga di atas, namun dengan tujuan berbeda. Cocok untuk: Pasangan yang sama-sama bekerja, namun memutuskan untuk berhemat dan menabung lebih banyak. Misalnya, gaji suami digunakan untuk membiayai hidup sehari-hari, sementara gaji Anda ditabung untuk dana pensiun atau dana cadangan. Pengaturan ini bisa dilakukan untuk pasangan yang salah satunya memiliki penghasilan tidak tetap, belum mempunyai anak, dan jika sudah ada anak berencana menjadi ibu rumah tangga. Gunakan gaji suami (atau gaji Anda, terserah gaji siapa yang akan digunakan) untuk membiayai seluruh pengeluaran, dari kebutuhan hidup sehari-hari, membayar tagihan-tagihan, gaya hidup, dan bila mungkin tabungan dan investasi. "Ini salah satu cara terbaik yang bisa dilakukan pasangan untuk keuangan mereka, karena memaksa mereka untuk menjaga pengeluaran tetap rendah dan berhemat, serta menabung untuk kondisi darurat dan saat pensiun nanti," ujar Bera. Pada awalnya, cara ini mungkin akan sulit dilakukan. Tetapi jika Anda disiplin, Anda akan sukses menjalankannya. Bahkan, rumah, liburan, atau pendidikan anak di luar negeri yang Anda impikan bisa tercapai lebih cepat.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 12, 2013 10:56 am

JANGAN SERAKAH JIKA BERNIAT INVESTASI
Senin, 11 Maret 2013 | 19:40 WIB
KOMPAS.com - Peristiwa investasi tipu-tipu kembali menyeruak. Kali ini modusnya melalui pembelian emas. Pemilik uang ditawari untuk membeli emas dengan harga sedikit lebih mahal ketimbang harga pasar. Namun, investor akan diberi imbalan bunga 5-10 persen per bulan, tergantung besarnya investasi. Imbalan akan semakin tinggi jika emas yang dibeli dititipkan kepada pengelola investasi. Menggiurkan bukan? Namun belakangan, pembayaran mulai tidak lancar, dan tiba-tiba pengelola investasi sudah raib bersama sisa dana investor yang masih dipegangnya. Investasi tersebut kemudian menjadi bermasalah alias bodong. Selanjutnya baru mengemuka ke publik setelah investor merasa marah sebab investasinya tidak kembali lagi. Bagaimana menghindari investasi-investasi bodong seperti itu?

Kunci pertama, jangan mudah tergiur dengan iming-iming besar dalam berinvestasi.
Bukan saja tingkat return itu mesti dibandingkan dengan imbal hasil risiko yang tinggi tetapi sudah populer seperti saham, misalnya. Tetapi juga mesti dipahami bahwa dalam investasi, harapan untuk mendapatkan hasil tinggi berarti juga siap menerima risiko tinggi. Tidak pernah ada sejarahnya return tinggi dengan risiko rendah.Selanjutnya, tingkat kemampuan menerima risiko tersebut juga mesti disesuaikan dengan karakter investor. Kalau investor adalah penghindar risiko, maka ketika memilih menempatkan uang dalam satu investasi yang berisiko tinggi, ia bisa disebut sebagai melawan ”khitah” dan sudah keliru sejak awal. Yang jauh lebih penting, berinvestasi sangat terlarang jika dilakukan dengan niat serakah, dalam arti ingin untung besar dalam waktu singkat. Jika investasi sudah dimulai dengan perilaku serakah, disadari atau tidak, besar kemungkinan investasi akan gagal.

Kedua, investasi merupakan kegiatan di sektor keuangan yang mesti taat kaidah.
Yang paling dasar bahwa penyelenggara investasi tersebut mengantongi izin melaksanakan kegiatan investasi sesuai aturan. Jika investasi dilakukan di pasar modal atau terkait dengan kegiatan pasar modal, penyelenggaranya mesti memiliki izin yang dikeluarkan oleh otoritas pasar modal. Demikian juga jika kegiatan berbau ”komoditas”, kegiatan investasi harus ada izin dari otoritas bursa berjangka. Selain hal di atas, tentu masih banyak faktor lain. Namun, yang terpenting adalah hilangkan unsur serakah dan kemudian berinvestasi di perusahaan yang memiliki izin sebagai pengelola investasi alias legal. Jika kedua hal tersebut tidak bisa dipenuhi, ujung-ujungnya pasti adalah kegagalan.

(Elvyn G. Masassya, praktisi keuangan)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 12, 2013 10:59 am

MENGENAL RISIKO BERBAGAI JENIS INVESTASI
Oleh QM Financial | Yahoo! SHE – Jum, 18 Jan 2013 10:29 WIB
Tanya:
Dulu saya pernah investasikan sebagian uang saya di futures. Memang pada awalnya mendapatkan untung yang cukup, tetapi kemudian saya mengalami kerugian yang tak terduga sehingga saya menarik semua dana tersebut. Nah, kebetulan tadi saya cek ternyata saya masih punya tabungan USD sekitar USD 5000 yang belum saya cairkan ke rupiah. Saya berniat untuk menginvestasikan uang ini antara deposito atau logam mulia. Yang ingin saya tanyakan, apa kelebihan dan kekurangan investasi di deposito bank, dan investasi logam mulia berupa emas? Saya trauma sekali dengan yang namanya investasi karena dulu saya harus memangkas pengeluaran saya akibat kerugian di atas. Lagipula saya masih punya cicilan rumah sampai 3 tahun mendatang. Saya minta solusi yang tepat supaya keuangan saya yang sudah pulih tidak kacau lagi. Sandy, Jakarta

Jawab:
Dear Sandy, Produk investasi, apapun itu, selayaknya menjadi kendaraan kita untuk mencapai tujuan finansial. Apa jenis investasinya? Pilihlah setelah kita menentukan tujuan finansial: berapa jumlah yang dibutuhkan, kapan dana tersebut harus tersedia, dan berapa besarnya investasi rutin untuk mencapainya. Kebanyakan orang melakukan kekeliruan dengan cara memilih produk investasi sebelum menentukan tujuan finansialnya secara detail. Dengan menentukan tujuan finansial, kita memberi label pada uang yang kita miliki, sehingga nilainya menjadi lebih bermuatan. Ketika uang memiliki makna bagi masa depan kita, maka langkah kita akan lebih terarah dan memperkecil potensi menyabotase uang sendiri. Penting untuk diperhatikan, sebaiknya kita mengetahui profil risiko investor. Dengan mengetahui ini, kita hanya akan membeli produk yang sesuai dengan kemampuan kita terpapar risiko. Selain itu, pemilihan produk yang tepat juga akan dapat membuat kita tetap nyaman berinvestasi dan menghindari trauma investasi. Berikut ini panduan pemilihan produk investasi untuk mereka yang berprofil risiko sedang:

Periode pencapaian Produk
< 1 tahun Tabungan
1-3 tahun RDPU
3-5 tahun RDPT, ORI/sukuk
5-10 tahun RDCM, emas
> 10 tahun RDSH, saham

Keterangan:
RDPU: reksadana pasar uang
RDPT: reksadana pendapatan tetap
RDCM: reksadana campuran
RDSH: reksadana saham

Instrumen tabungan dan deposito cocok untuk tujuan finansial jangka pendek karena memberikan likuiditas yang tinggi. Kelemahannya, mereka adalah produk yang terpapar risiko inflasi. Return tabungan dan deposito belum dapat mengalahkan tingkat inflasi. Instrumen logam mulia atau emas direkomendasikan untuk tujuan finansial jangka menengah. Emas adalah instrumen yang kenaikan harganya selalu di atas inflasi, oleh karenanya emas umumnya digunakan sebagai instrumen lindung nilai (hedging). Investor emas sebaiknya memiliki SDB (safe deposit box) sebagai penyimpanan yang aman. Mengenai kesulitan menabung, Surya bisa mencoba pengelolaan cashflow bulanan. Cobalah menabung dilakukan di awal bulan setelah menerima gaji. Misal, jika kita berkomitmen minimal 10% dari gaji akan diinvestasikan, maka potonglah senilai ini dari gaji secara rutin dan segera pindahkan ke rekening investasi. Kita tinggal mengelola sisanya agar cukup untuk biaya hidup hingga gajian bulan berikutnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 12, 2013 11:04 am

MATEMATIKA KEUANGAN = MATEMATIKA TINGKAT BUNGA
Sunday, 12 August 2012 Seputar Indonesia
Ada tiga pasar dalam ilmu ekonomi, yaitu pasar barang & jasa, pasar finansial, dan pasar tenaga kerja. Selain berbeda dalam produk investasinya,ketiga pasar diatas juga berbeda dalam variabel utamanya. Variabel paling menentukan dalam pasar barang & jasa adalah harga, sementara dalam pasar tenaga kerja adalah gaji dan upah. Untuk pasar keuangan,variabel paling penting itu tingkat bunga.

Tingkat Diskonto, Yield, dan Return
Pada pasar finansial, kita mempunyai banyak istilah yang berarti sama dengan tingkat bunga, yaitutingkatdiskonto,yield, dan return. Diperinci lagi untuk yield, ada current yield, yield to call, yield to maturity, dividend yield,holding period yield,money market yield,bank discount yield, effective annual yield, bond equivalent yield, realized yield, dan total yield. Untuk return kita mengenal return berdasarkan uang (secara kasar dan akurat), return berdasarkan waktu, return aritmetik, return geometrik, internal rate of return(IRR), expected return, required return, return on equity, return on asset, return on investment,dan beberapa return disesuaikan risiko. Demikian juga dengan bunga. Dalam kehidupan seharihari kita sering membaca atau mendengar bunga sederhana, bunga majemuk, bunga nominal, bunga efektif, bunga flat, bunga biasa, bunga tepat, bunga mengambang, bunga tetap, counter rate, prime rate, bunga diskrit, dan bunga kontinu. Inilah perbedaan istilah bungabunga di atas.

Bunga Sederhana vs Bunga Majemuk
Bunga sederhana adalah metode perhitungan bunga yang biasanya digunakan untuk jangka pendek misalkan 6 bulan atau 1 tahun dengan bunga dihitung sekali saja, yaitu di akhir periode tabungan atau pinjaman. Dalam bunga majemuk atau bunga berbunga, bunga dihitung setiap periode tertentusebelumakhirperiode, misalnya bulanan. Bunga setiap periode itu akan ditambahkan ke pokok tabungan/pinjaman untuk mendapatkan saldo baru sebagai dasar perhitungan bunga periode berikutnya. Inilah konsep bunga yang digunakan untuk jangka panjang. Sebagai ilustrasi, jika Anda mendepositokan Rp100 juta dengan bunga sederhana 6% p.a.bersih,Anda akan memperoleh Rp106 juta setahun kemudian. Dengan bunga majemuk yang dihitung sebulan sekali, deposito Anda akan menjadi Rp106,168 juta dalam setahun.

Bunga Nominal vs Bunga Efektif
Pada contoh di atas, bunga tahunan 6% akan membuat deposito Rp100 juta menjadi Rp106,168 juta dalam setahun jika menggunakan bunga majemuk. Dengan kata lain, bunga yang benar-benar diperoleh ternyata 6,18% meskipun disebutkan bunga adalah 6%. Angka 6% sebagai bunga nominal dan 6,18% sebagai bunga efektif. Contoh lain,jika Anda mengambil KPR dengan bunga nominal 9% p.a., bunga efektif KPR itu sejatinya 9,38% karena bunga dan angsuran dihitung bulanan.

Bunga Flat vs Bunga Efektif
Konsep bunga flat muncul untuk utang yang dilunasi dengan cicilan. Sama seperti bunga nominal,bunga flat adalah bukan bunga yang sebenarnya. Namun, tidak seperti perbedaan bunga nominal dan bunga efektif, perbedaan bunga flat dan bunga efektif sangat besar. Bunga efektif sekitar 1,5 hingga 2 kali bunga flat. Misalkan Anda berutang Rp60 juta dan mengangsur Rp5,6 juta setiap bulannya selama 12 bulan mulai bulan depan. Angsuran Rp5,6 juta itu adalah untuk pelunasan pokok sebesar Rp5 juta dan Rp600.000 untuk bunga (1% x Rp60 juta). Berapakah tingkat bunga yang dikenakan? Bank seringnya akan mengatakan bahwa bunganya adalah 1% per bulan atau 12% p.a.Anda percaya? Bunga efektif pinjaman diatas adalah 21,46% p.a., sementara 12% adalah bunga flat. Mengapa bisa hampir dua kalinya? Ini dikarenakan bunga 1% per bulan (Rp600.000) dihitung dari saldo awal pinjaman (Rp60 juta) padahal saldo utang berkurang sebesar Rp5 juta per bulannya sehingga saldo rata-rata utang selama setahun sebenarnya adalah Rp32,5 juta yaitu saldo awal (Rp60 juta) ditambah saldo utang akhir (Rp5 juta) dibagi dua. Dengan demikian, hitungan kasar untuk bunga per bulan adalah Rp600.000/ Rp32,5 juta atau 1,85%.

Bunga Biasa vs Bunga Tepat
Perbedaan metode bunga biasa dan bunga tepat dalam menghitung bunga adalah bunga biasa mengasumsikan setahun terdiri atas 360 hari, sedangkan bunga tepat menggunakan asumsi 365 hari. Karena wewenang menentukan metode bunga ada di bank, maka bank akan memilih metode bunga yang paling menguntungkan untuknya,yaitu bunga biasa untuk menghitung bunga pinjaman dan metode bunga tepat untuk bunga tabungan dan deposito. Perbedaan keduanya sepertinya tak berati untuk nasabah, tetapi sebuah bank besar dapat meraup puluhan miliar rupiah setahun dari kekuasaannya menerapkan metode perhitungan bunga yang berbeda untuk tabungan dan pinjaman.

Bunga Mengambang vs Bunga Tetap
Dua konsep bunga ini berhubungan dengan kredit pemilikan rumah (KPR). Bunga mengambang akan dikenakan untuk debitor bank konvensional, sementara bunga (imbal hasil) tetap digunakan dalam KPR bank syariah. Jika Anda cerdas dan tidak mau dirugikan bank, pilihlah KPR berbunga tetap jika bunganya berbeda sedikit, katakan 0,5% p.a.Jika terpaksa harus mengambil KPR yang berbunga mengambang,ambillah periode sesingkat mungkin, misalkan 5 tahun atau kredit dengan periode bunga tetap selama mungkin,katakan sampai 55 bulan pertama. Untuk Anda ketahui,bunga mengambang KPR adalah trik dan jebakan bank karena hanya mengenal penyesuaian ke atas alias dinaikkan, tetapi hampir tidak pernah bank menurunkan suku bunga KPR. Terakhir,bagi yang cerdas finansial juga mesti memahami perbedaan tingkat bunga vs tingkat diskonto,counter rate vs prime rate,serta bunga diskrit vs bunga kontinu. Untuk tidak dibohongi dan dirugikan bank, Anda harus memahami semua konsep bunga di atas.Saya akan menuliskannya pada kesempatan lain.

BUDI FRENSIDY
Penasihat Investasi dan Penulis Buku Matematika Keuangan
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 12, 2013 11:08 am

3 LANGKAH MEMBUAT RENCANA INVESTASI
Senin, 4 Februari 2013 | 10:51 WIB
KOMPAS.com - Tahun 2013 sudah memasuki bulan kedua. Apakah Anda sudah mengimplementasikan rencana yang dirancang sejak tahun silam? Apakah pada bulan Januari kemarin sudah ada hal-hal baru dalam investasi yang Anda lakukan? Atau portofolio investasi Anda masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya Jawabannya bisa ”ya” bisa ”tidak”. Namun, kebanyakan investor individu sering kali tidak terlalu bernyali untuk mengubah pola investasinya kendati berdasarkan evaluasi, disadari bahwa investasi yang dilakukan mesti mengalami revisi. Kenapa demikian? Karena antara logika dan perasaan sering berpadu. Tatkala evaluasi dilakukan, maka segala logika dikedepankan. Perasaan pasti kalah. Namun, ketika evaluasi sudah selesai dan rencana telah disusun, maka saat akan dilaksanakan, perasaan mulai bermain lagi. Sering muncul pertanyaan, bagaimana jika asumsi yang telah disusun berbeda dengan fakta, dan lain sebagainya. Itu sebabnya, banyak investor individu belum melakukan perubahan apa-apa meski satu bulan pada tahun berjalan telah terlewati. Ironisnya, ketika waktu telah berjalan, portofolio investasi yang tidak berubah tetap berjalan seperti biasa, maka penyesalan akan muncul. Kenapa? Portofolio saham misalnya. Lazim pada bulan Januari terjadi efek yang membuat sebagian harga saham meningkat. Namun, wind fall tidak dinikmati oleh semua investor karena memang tidak semua saham mengalami peningkatan harga. Dengan kata lain, jika portofolio saham Anda tidak termasuk saham yang mengalami peningkatan harga, Anda hanya menjadi penonton. Bahkan, saham di portofolio Anda mengalami penurunan harga. Oleh karena itu, rencana investasi yang sudah disusun tidak bisa dibiarkan hanya sebagai rencana. Lantas bagaimana baiknya?

Cek rencana
Cek kembali rencana yang telah disusun. Paling tidak di sana mestinya ada beberapa hal penting.

Pertama, alokasi dana ke beberapa instrumen investasi.
Misalnya, sekian persen di deposito berjangka, sekian persen di saham, sekian persen di reksa dana, dan lain sebagainya. Tentu dari alokasi itu ada yang berupa tambahan investasi baru dan ada pula yang sekadar pergeseran dari alokasi. Nah, berdasarkan alokasi investasi tersebut, Anda bisa memulai implementasi dari yang paling sederhana dan minim risiko. Apa itu? Deposito berjangka. Jika Anda merencanakan untuk mengurangi alokasi investasi di deposito berjangka, maka ketika jatuh tempo jangan diperpanjang lagi. Dengan kata lain, Anda mesti segera menyiapkan relokasi dana deposito berjangka tersebut ke instrumen lain sesuai dengan rencana aksi yang telah dibuat.

Kedua, timing dalam implementasi.
Apa maksudnya? Sederhana saja. Anda telah memiliki cash atau dana yang siap diinvestasikan yang berasal dari pencairan deposito berjangka. Lalu ke mana dana tersebut diprioritaskan? Pertanyaan ini penting mengingat Anda akan melakukan penambahan investasi di reksa dana dan atau saham dan atau investasi lainnya. Mana yang akan didahulukan? Jawabannya adalah bergantung timing. Seorang investor yang berorientasi jangka panjang, atau minimal setahun, tentu telah mengevaluasi instrumen yang akan dibeli, termasuk dalam hal ini instrumen volatile seperti saham. Nah, timing dalam menentukan kapan membeli saham-saham yang telah diincar akan sangat memberi pengaruh terhadap keberhasilan ataupun kegagalan dalam investasi saham tersebut. Artinya, jangan memaksakan membeli ketika harga saham masih tinggi. Namun akan lebih tepat jika membeli saham-saham itu saat mengalami koreksi harga.

”Monitoring” dan evaluasi
Ketiga, monitoring dan evaluasi. Tatkala rencana aksi sudah diimplementasikan secara total, maka realitas dari investasi tersebut tentu mesti di-monitoring. Paling tidak dilakukan monitoring secara bulanan, bagaimana perkembangan investasi yang telah dilakukan. Monitoring bulanan bukan berarti harus dilakukan penyesuaian setiap bulan. Apalagi jika investasi tersebut dalam bentuk saham. Up down dari harga saham adalah biasa karena ada berbagai trigger dalam pembentukan harga saham. Bisa karena faktor psikologis pasar, bisa pula memang karena fundamental dari emiten bersangkutan. Jika perubahan harga, menjadi turun misalnya, lebih didorong oleh psikologis pasar, tidak mesti Anda ikut-ikutan menjual saham tersebut. Bahkan ketika harga mengalami pelemahan, sementara Anda yakin betul bahwa fundamental saham tersebut cukup baik, maka Anda malah bisa masuk lagi ke saham tersebut. Toh horizon investasi Anda bukan bulanan, melainkan minimal untuk jangka waktu setahun.

Lantas apa pula yang dimaksud dengan evaluasi?
Evaluasi adalah untuk membandingkan antara realitas yang terjadi dengan rencana dan juga dengan asumsi yang telah dibuat. Apakah ada perbedaan atau tidak. Jika penyimpangan dalam fakta terlalu jauh dibandingkan dengan asumsi, maka suka tidak suka, portofolio harus disesuaikan juga. Kelazimannya, penyimpangan yang bisa ditoleransi adalah sampai dengan 5 persen. Atau paling banyak 10 persen. Jika melebihi patokan tersebut, berarti memang ada yang keliru dengan asumsi yang dibuat sebelumnya.

Lantas kapan evaluasi tersebut dilakukan?
Evaluasi yang menyeluruh bisa dilakukan per semester alias enam bulanan. Namun, evaluasi juga bisa dilakukan per tiga bulanan. Kalau dilakukan penyesuaian setelah tiga bulanan, sebaiknya hanya bersifat minor. Karena dalam tiga bulan, hakikatnya tidak terlalu banyak hal yang bisa dijadikan kesimpulan.

Kesimpulannya, rencana aksi adalah panduan dalam melakukan investasi. Tidak mungkin investasi bisa berjalan dengan baik jika tidak berdasarkan parameter atau tujuan-tujuan yang telah dirancang. Tidak perlu ada keraguan untuk mengimplementasikannya. Sebab, rencana aksi mestinya telah melalui analisis dan penggunaan logika. Jika terlambat mengimplementasikan rencana aksi tersebut, hasilnya bisa sangat berbeda. Selamat mencoba.

(Elvyn G. Masassya, praktisi keuangan)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Mar 19, 2013 9:39 am

ASURANSI, PERLU ATAU TIDAK?
Selasa, 19 Maret 2013 | 09:13 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Meski sudah masuk ke Indonesia sejak zaman kolonial Belanda, produk asuransi di negeri ini masih belum populer di mayoritas masyarakat. Memiliki atau membeli asuransi bagi kebanyakan masyarakat Indonesia kadang dinilai sebagai hal tabu dan dianggap sebagai pemborosan. “Belum pasti kapan sakit dan mati, untuk apa keluar uang sejak sekarang?” begitu celetukan yang kerap kita dengar. Di mata para pelaku industri asuransi, sedikitnya masyarakat yang telah “melek” asuransi kerap dituding sebagai biang penyebab belum ngetopnya produk asuransi di sini. Jangankan asuransi, produk perbankan saja belum semua masyarakat mengaksesnya. Aset industri asuransi hingga September 2012 lalu baru Rp 322,2 triliun. Masih jauh ketimbang aset perbankan nasional yang telah mencapai Rp 4.262,59 triliun. Kurang tertariknya sebagian golongan masyarakat melindungi diri dengan asuransi, tidaklah bijak jika dinilai sebagai tanda bahwa masyarakat masih kuno. Toh, tak ada seorang pun memiliki hak mutlak menyeragamkan dan menstandarkan tentang “apa yang baik” untuk kita, bukan? Namun, di negeri yang tidak menyediakan perlindungan kesehatan bagi warga negara secara maksimal, kehadiran sistem jaminan sosial kesehatan adalah wajib. Apalagi program ini sudah menjadi amanat konstitusi. Hal itu, semoga saja bisa terealisasi sesuai harapan dengan pemberlakuan BPJS tahun depan. Tapi, tentu saja, keputusan akhir mengenai perlu tidaknya asuransi berada sepenuhnya pada Anda. Yang jelas, meski dalam perencanaan keuangan, proteksi disarankan demi meminimalkan risiko pencapaian tujuan keuangan, pembelian polis harus dihitung cermat. “Kalau tidak butuh, ya, tidak perlu beli,” kata Pandji Harsanto, perencana keuangan Fin-Ally Planning & Consulting. Anda punya hak utama untuk memutuskan. Jadi, jangan cuma karena takut disebut kuno, lantas sembarangan beli asuransi, ya! (Ruisa Khoiriyah/Kontan)
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 24 of 26Go to page : Previous  1 ... 13 ... 23, 24, 25, 26  Next
 Similar topics
-
» Model Baju Batik Seragam Keluarga Besar
» Skandal Kebohongan 'Mukjizat' Para Pendeta
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: