Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24, 25, 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Aug 12, 2012 12:43 pm

INILAH TIPS MEMBELI EMAS
Penulis : Ester Meryana | Minggu, 11 September 2011 | 09:10 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Berinvestasi emas ternyata tidak bisa sembarang saja dilakukan dengan cara beli, beli, dan terus beli ketika harga sedang turun. Sebelum membeli, investor harus tahu kapan emas akan dijual. Kenapa begitu? Stock and Option Strategist Profit Guide Institute Doni Prabawa, di Jakarta, Sabtu (10/9/2011), memberikan beberapa tips penting dalam berinvestasi logam mulia.

Pertama, ia menyarankan, jangan membeli emas denga cara ”membabi buta” saat ada kesempatan.
”Perhatikan pola pergerakan (harga emas). Gunakan money management yang baik,” ujar Doni kepada Kompas.com. Apa maksudnya money management yang baik? Doni menuturkan, jika masyarakat mempunyai dana, misalnya Rp 100 juta, jangan semuanya dihabiskan untuk membeli emas. Sebaiknya dana dibagi untuk investasi yang lain. ”Ya diversifikasi (investasi),” tambah dia.

Kedua, masyarakat harus ingat atau selalu berasumsi bahwa emas tetap merupakan komoditas yang harganya bisa naik dan turun.
”Sebelum membeli emas, kita harus tahu kapan kita mau jual,” ujar Doni. Hal ini harus diketahui, baik dalam kondisi rugi maupun untung. Lalu, kapan waktu terbaik dalam membeli emas? Terhadap ini, Doni memiliki sejumlah tips tambahan. ”Perhatikan indikator-indikator teknikal. Maksudnya, kita perlu lihat grafiknya,” ujar penulis buku dengan judul Investasi Saham Aman dan Menyenangkan terbitan Elex Media Komputindo ini. Syarat tersebut merupakan syarat dasar di mana investor dapat melihat historis harga emas melalui, misalnya, analisis teknikal Elliott Wave. Kemudian, kombinasikan analisis teknikal dengan faktor fundamental. Maksudnya, investor harus awas dengan info-info pasar dan berita-berita yang ada. Maklum saja, harga emas yang kian tinggi sekarang ini, karena dipengaruhi oleh kondisi krisis yang dialami oleh Uni Eropa dan Amerika Serikat. Jadi, pelaku pasar harus tahu ini juga. Menurut Doni, kemungkinan harga emas naik cukup besar. Untuk tahun ini saja, ia memprediksi harga emas berpeluang menyentuh 2.000 dollar AS per troy ounce (setara dengan 31,1 gram). ”Past 10 years (selama satu dekade), awal November hingga akhir Februari, emas selalu positif (pergerakan harganya),” ungkap dia menunjukkan peluang harga emas untuk terus naik menjelang akhir tahun itu terbuka melihat sisi historisnya. Apalagi ditambah dengan kondisi krisis di AS dan Eropa. ”Sering faktor fundamental dengan teknikal (itu) klop,” tambahnya, ”dengan (tips) ini kita enggak beli (emas) anytime,” sebut Doni.


Last edited by gitahafas on Tue Mar 12, 2013 11:02 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Aug 16, 2012 1:07 pm

CERMAT MEMILIH INVESTASI EMAS
Senin, 27 Februari 2012 | 08:03 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Daya tarik emas sebagai instrumen investasi, sulit memudar. Meski sempat surut pamor akibat tren penurunan harga akhir tahun lalu, emas kini kembali menarik perhatian para investor. Sepekan terakhir, harga emas berjangka di Bursa Berjangka New York, naik 3,5 persen ke 1.786,3 dollar AS per troy ounce. Meski menutup pekan, harganya terkoreksi lagi ke posisi 1.776,4 dollar AS per troy ounce. Mayoritas analis memprediksi, prospek harga emas masih positif. "Dalam tiga hingga lima tahun ke depan, harga emas bisa Rp 2 juta per gram," ujar Nico Omer Jonckeere, Vice President Research Valbury Futures. Saat ini, harga emas per gram di Divisi Logam Mulia Aneka Tambang mencapai Rp 571.000 per gram, sudah naik 6 persen sejak awal tahun ini. Kilau harga emas itu memicu tawaran investasi berembel-embel emas. Mulai dari cara konvensional yakni membeli emas fisik dalam bentuk perhiasan, emas batangan maupun dinar, lalu trading di kontrak emas berjangka, hingga gadai emas dan kebun emas. Para pemilik dana harus jeli menimbang dan mencermati bentuk investasi emas yang prospektif dan aman. Prita H Ghozie, Perencana Keuangan ZAP Finance, menilai, membeli emas rutin secara berkala, masih menjadi pilihan investasi emas yang menarik. Di toko emas atau Antam, banyak pilihan ukuran emas batangan yang ditawarkan. Mulai ukuran satu gram hingga satu kilogram. "Biasakan membeli secara rutin, misalnya yang 10 gram," katanya. Investor harus memastikan emasnya bersertifikat Antam agar likuid dan harganya mengikuti pasar. Selain itu, yang perlu diingat, sesuaikan dengan tujuan investasi. Setelah memiliki emas fisik, investor baru bisa mempertimbangkan skema investasi lain, seperti kebun emas. Namun, adanya unsur spekulasi harga memberikan potensi untung besar dan risiko yang tak kalah besar. Tanpa pemahaman dan kelihaian memutar dana, investor bisa buntung. Sementara gadai emas, sejatinya kurang tepat menjadi pilihan investasi emas. "Perlu dipahami, gadai emas itu bukan investasi, melainkan meminjam uang," tandas Prita. Rakhmi Permatasari, Perencana Keuangan Safir Senduk dan Rekan, menambahkan, berinvestasi dalam bentuk dinar akan lebih menguntungkan jika tergabung dalam komunitasnya. "Ini agar transaksi lebih mudah dan harga terjaga," kata dia. Bagaimana dengan pembelian emas dengan kredit tanpa memegang fisiknya? Iwan Cahyo, analis Nine Star Futures, menilai, lebih baik pembelian emas dibarengi dengan fisik emasnya karena akan lebih aman. Terlebih, saat ini tarif jasa safe deposit di bank sudah murah. "Ada yang biayanya hanya Rp 150. 000 per tahun," imbuh Rakhmi. Kendati terbukti andal mengimbangi inflasi, investasi di emas bukan tanpa risiko. Anjloknya harga tahun lalu menjadi peringatan bagi investor agar tetap berhati-hati. "Emas hanya cocok untuk tujuan investasi satu hingga delapan tahun," ujar dia. (Harry Febrian, Ruisa Khoiriyah/Kontan)


Last edited by gitahafas on Tue Mar 12, 2013 11:07 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Aug 17, 2012 11:06 am

INVESTASI PROPERTI MASIH KALAH DARI EMAS
Penulis : M.Latief | Senin, 30 April 2012 | 12:35 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 71 % pelaku investasi di Indonesia memilih menginvestasikan emas dibanding investasi lainnya. Posisi kedua pilihan investasi terbanyak ditempati oleh jenis investasi properti, yang mencapai 58 % untuk menopang pertumbuhan kekayaan para affluent (kelas atas) Indonesia. Demikian siaran pers Standard Chartered Bank kepada Kompas.com di Jakarta, Senin (30/4/2012), terkait survei terhadap para pelaku affluent Indonesia. Berdasarkan survey tersebut rata-rata pelaku masih meminati emas sebagai investasi utamanya. General Manager Priority and International Banking Standard Chartered, Djumariah Tenteram, mengatakan hasil Survei FuturePriority di Jakarta itu secara keseluruhan memaparkan tiga besar investasi yang masih didominasi oleh emas. Ia mengatakan, masyarakat Indonesia masih sangat suka berinvestasi dalam bentuk emas. Di posisi ketiga, investor Indonesia memilih deposito atau simpanan dengan bunga tinggi sebagai penyokong penambahan kekayaannya dengan jumlah pemilih sebesar 42 persen. Menurut Djumariah, penyebabnya lantaran harga emas yang menarik para investor. "Menarik, karena kalau dilihat 2-3 tahun lalu harga emas masih Rp 200 - Rp 300 ribu per gram. Saat ini harganya sudah sekitar Rp 490 - Rp 500 ribu per gram, bahkan Rp 520 ribu," tutur Djumariah. Adapun survei FuturePriority yang dilaksanakan Standard Chartered Bank dengan Scorpio Partnership berlangsung antara Oktober dan Noveber 2011. Cakupan survey ini sekitar 2.768 segmen affluent di sembilan pasar Asia, seperti China, Hongkong, India, Indonesia, Malaysia, Singapura, Korea Selatan, Taiwan dan Thailand. Survei dilakukan kepada para pelaku affluent di sejumlah negara di Asia yang memiliki rata-rata aset bersih sebesar 1,4 juta Dolar AS.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:25 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Aug 17, 2012 11:08 am

LEBIH BAIK INVESTASI EMAS ATAU PROPERTI?
Oleh QM Financial | Yahoo! SHE – Kam, 19 Jul 2012 17:12 WIB
Tanya:
Tolong di-share dong, apa sih kelebihan dan kekurangan investasi di bidang properti dan investasi emas. Yang mana yang lebih baik?
Indra, Jakarta

Jawab:
Hai Indra,
Memang setiap jenis investasi memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dalam hal investasi properti dan emas LM, keduanya sama-sama merupakan investasi yang bisa kita lihat fisiknya sehingga banyak orang yang lebih menyukai investasi di properti dan emas LM dibandingkan investasi di reksadana atau saham misalnya. Ini adalah salah satu kelebihan utama kedua jenis investasi tadi. Dalam hal likuiditas, investasi emas cenderung lebih likuid karena bisa dijual dalam pecahan kecil sesuai dengan berat gramnya dan kebutuhan kita. Sedangkan jika seluruh aset yang kita miliki berada dalam bentuk properti dan uang yang kita butuhkan tidak terlalu besar, kita tetap harus menjual propertinya secara keseluruhan. Memilih properti yang sesuai membutuhkan keahlian khusus dan keberuntungan karena faktor utama dalam investasi properti adalah lokasi, lokasi, lokasi, lokasi dan lokasi dan tidak semua orang beruntung menemukan properti yang sesuai. Namun, jika dapat memilih properti yang pas, bukan tidak mungkin kita bisa punya penghasilan tambahan jika properti tersebut disewakan. Mengenai mana yang lebih baik, ini akan tergantung pada tujuan finansial yang ingin dicapai. Misalnya, investasi di emas LM dengan tujuan sebagai salah satu komponen dana darurat atau dana pendidikan anak sedangkan investasi di properti dengan tujuan untuk menghasilkan passive income. Setelah menentukan tujuan finansialnya, baru kemudian kita memutuskan produknya. Semoga membantu.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:12 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sun Sep 09, 2012 9:41 pm

PLUS MINUS MEMBELI PROPERTI SAAT LAUNCHING
Oleh Rumah.com | Rumah – Rab, 3 Okt 2012
RumahCom — Membeli properti ketika launching terbilang paling menguntungkan. Setidaknya harga properti lebih murah, karena pengembang ingin membagi risiko dengan pembeli. Panangian Simanungkalit menjelaskan, untuk rumah, biasanya dibangun dalam waktu enam hingga delapan bulan, mulai launching hingga rumah siap ditempati. Dalam kurun waktu tersebut, harga rumah bisa naik 10% - 15%. "Dengan kata lain, membeli saat baru diluncurkan, ibarat mendapat diskon 15%," katanya. "Sementara itu untuk kondominium, harganya bisa naik hingga 20% dengan masa penyelesaian 18 sampai 24 bulan. Jadi, inilah keuntungan nyata dari membeli properti pada saat launching." Keuntungan lain, imbuh pengamat properti nasional ini, konsumen bisa memilih lokasi sesuai keinginan. Ini penting, terutama bagi mereka yang percaya perhitungan fengsui. Keuntungan lain, pembelian atau investasi properti ini bisa diangsur, paling tidak down payment-nya bisa dicicil dengan soft cash dan bisa menggunakan KPR/KPA, atau cash bertahap.

Risiko yang Mesti Dihindari
Di sisi lain, membeli saat launching memiliki risiko, kata Panangian, terutama jika pengembangnya memiliki masalah keuangan atau proyek tersebut kurang laku. "Dalam kasus perumahan, penyelesaian pembangunannya biasanya menjadi lambat. Sedangkan untuk kondominium, terkadang progres pembangunannya terbengkalai," jelasnya. Risiko lain, terkadang apa yang tergambar di brosur ternyata tidak sesuai dengan kenyataan—bisa menyangkut letak unit, spesifikasi teknis, atau ukuran, yang bisa berpengaruh pada prospek properti tersebut. "Namun, sepanjang konsumen berhati-hati dalam membeli properti dan cermat melihat perencanaannya, membeli saat launching lebih bagus," tutur Panangian. Tak lupa, Panangian memberi beberapa tip yang perlu diperhatikan konsumen ketika ingin membeli properti saat launching agar terhindar dari wanprestasi.

Pertama, pastikan prospek lokasi properti itu dengan cara mengetahui seberapa banyak rencana pembangunan properti lain di kawasan itu.

Kedua, cari pengembang yang memiliki track record yang baik atau sudah terbukti mampu membangun sesuai janji (jadwal dan spesifikasi tepat). Hal itu bisa dilihat dari proyek-proyek sebelumnya.

Ketiga, teliti perjanjian akta jual belinya. Harus bisa diketahui dengan jelas kewajiban yang harus dipenuhi pengembang jika mereka terlambat melakukan serah terima kepada konsumen.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:13 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Oct 05, 2012 9:16 pm

4 HAL YANG ANDA PERLU KETAHUI SOAL UANG
Jumat, 27 Juli 2012 | 18:01 WIB
KOMPAS.com - Perempuan lebih sering terlibat secara langsung dengan yang namanya ekonomi keluarga, bahkan tak jarang berkuasa penuh atas pengaturannya. Hal ini mungkin terjadi karena didesak kebutuhan atau hanya karena preferensi. Apapun alasannya, jika Anda memegang kendali atas peredaran uang di rumah ada empat hal yang perlu Anda perhatikan. Hal yang sering terlewatkan, justru berdampak luar biasa besar pada kesehatan keuangan sekaligus rumah tangga Anda.

1. Pasangan wajib tahu
Uang adalah topik sensitif, terutama jika Anda dan pasangan memiliki nilai yang berbeda tentang uang. Selain nilai, topik ini bisa menjadi hal yang sensitif bila salah satu atau malah keduanya merupakan penanggung hidup orang tua dan keluarganya. Hal berikutnya yang juga membuat topik keuangan merupakan hal yang sangat sensitif adalah, saat awal pernikahan masing-masing sudah mempunyai utang yang signifikan. Terlepas dari situasi pribadi Anda, penting untuk secara terbuka mendiskusikan segalanya dengan pasangan Anda. Jika pasangan Anda menolak, teruslah bersikeras membicarakan segala hal tentang uang dengan cara yang sopan dan hormat. Setelah diskusi, akan memungkinkan Anda untuk menyusun rencana bersama. Misal, rencana untuk keluar dari utang, membantu atau menyenangkan orang tua dan paling penting menabung untuk masa depan. Dampak positif yang keluar dari diskusi ini, secara signifikan dapat mengurangi risiko perkelahian tentang uang. Lebih buruk, perpisahan atau perceraian akibat masalah keuangan.

2. Kartu kredit jahat bila disalahgunakan
Jika saat ini Anda memiliki hutang kartu kredit segera lakukan cara buat melunasinya. Mulailah menghentikan pemakaian kartu kredit sementara dan lakukan penghematan. Cara paling konkrit adalah dengan melakukan pengurangan semua biaya bulanan. Mulai dengan mengurangi makan di luar, penggunaan ponsel. Anda pun bisa memutuskan layanan TV berlangganan untuk sementara waktu atau beralih ke paket yang lebih murah. Termasuk tak ketinggalan budget pengurangan penggunaan internet. Ini adalah cara melakukan penghematan yang dananya bisa dialokasikan pada hutang Anda, pasangan atau kalian berdua.Tak akan terasa terlalu berat ketika Anda menyadari bahwa pengorbanan hanyalah bersifat sementara, hanya sampai hutang lunas. Lalu terapkan dalam otak Anda, kartu kredit bukan uang lebih. Kartu kredit hanyalah pengganti sistem pembayaran. Jadi kalau uang real-nya tak ada, jangan berani-berani "menggesek" buat membeli sesuatu. Nah, pada saat melakukan diet hutang, perhatikan nominal bunga kartu kredit yang Anda bayarkan tiap bulan dan pikirkan yang bisa Anda miliki atau lakukan dengan uang itu kalau Anda tak punya hutang. Cara ini bisa mencegah Anda terjerat hutang lagi nantinya.

3. Menabung untuk masa depan penting
Jangan hanya mengandalkan jaminan sosial apalagi dana pensiun kantor. Anda tetap wajib memiliki tabungan hari tua nanti. Bentuk dan jumlahnya bisa Anda sesuikan dengan kebutuhan. Ingin menabung emas, saham, reksadana atau tabungan. Ini penting sebab di masa depan biaya hidup pasti akan meningkat pada saat Anda pensiun. Bagaimana Anda akan membayar untuk kebutuhan dasar jika Anda tidak mulai menabung untuk pensiun sekarang?

4. Bedakan antara keinginan dan kebutuhan
Kebutuhan adalah sesuatu yang harus Anda miliki untuk bertahan hidup, ini termasuk biaya perumahan, transportasi, makanan, air. Hampir segala sesuatu yang lain adalah keinginan. Kategorikan pembelian sebagai "keinginan" atau "kebutuhan" sebelum Anda membeli akan membantu Anda menghindari pengeluaran yang tidak perlu.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:11 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Oct 05, 2012 9:18 pm

YUK, KOMITMEN KELOLA UANG LEBIH BAIK
Sabtu, 12 Februari 2011 - 17:23 wib Lastri Marselina - Okezone
SEBENARNYA, tidak pernah ada yang namanya problem keuangan. Yang ada hanyalah sebuah refleksi cara kita hidup yang kurang baik. Mengambil satu kasus, seorang teman selalu tampak keren dan stylish, bepergian ke manapun selalu menggunakan mobil dan di dompetnya tersedia dua hingga tiuga kartu kredit sekaligus. Perlukah Anda iri? Tentu tidak, karena nyatanya semua yang dia kenakan atau gunakan itu masih mencicil melalui kartu kredit yang sebenarnya gaji dia pun belum tentu sanggup membayar bunganya. Bayangkan betapa kasihannya dia, terutama jika dia tiba-tiba dipecat dari perusahaan bonafid tempat dia bekerja. Mengerikan bukan? Jangan biarkan kejadian ini menimpa Anda. Ketika kita berbicara tahun yang baru, saatnya menciptakan kebiasaan-kebiasaan baru untuk kondisi keuangan yang lebih baik. Selama ini, banyak orang yang menyatakan ketidaksanggupannya menabung akibat gaji yang tidak besar. Benarkah begitu? "Saya tanya balik, 'Gaji yang besar itu menurut kamu berapa? Padahal bagi beberapa orang gaji sebesar Rp1,5 juta sudah mampu mencukupi seluruh kebutuhan keluargannya'. Kebanyakan mereka yang bermasalah keuangan masih melihat nominal. Padahal yang kita perlu kelola adalah komposisinya. Ibaratnya begini, gaji kecil saja Anda tidak bisa atur, bagaimana nanti saat memiliki gaji yang besar?," papar Financial Planner Ligwina Hananto yang ditemui okezone, beberapa waktu lalu.

Lalu, bagaimana seharusnya kita mengatur komposisi gaji yang kita miliki?
"Setiap menerima gaji, sisihkan di awal berapa yang ingin kita tabung, atau yang akan kita gunakan untuk membayar tagihan kartu kredit, maksimal 30 persen dari total gaji. Kemudian lanjutkan dengan mengaturnya untuk pengeluaran rumah tangga, transportasi, keperluan anak, kesehatan dan biaya pekerja rumah tangga yang semuanya disisihkan sebesar 40 persen dari total gaji," saran Ligwina. Selama berkecimpung di dunia keuangan delapan tahun lamanya, Ligwina memperhatikan bahwa selalu ada pengeluaran pribadi bagi setiap orang, yaitu pengeluaran yang ketika hal ini tidak ada, maka kita tidak mati. "Sebesar 20 persen dari total gaji, misalnya 'paling tidak betah seminggu sekali tidak creambath'. Nah, kalau dia tidak creambath enggak akan mati kan? Tapi tidak cantik. Pengeluaran pribadi juga termasuk pendaftaran TV kabel atau gonta-ganti gadget," imbuhnya. Ligwina berpesan, selalu ingat untuk menghentikan kebiasaan buruk membayar apapun dengan kartu kredit. "Hey, gaji kamu itu tidak unlimited. Begitu kamu terus gesek, maka hutang kartu kredit kamu tidak akan lunas-lunas. Ketahuilah, sebenarnya tidak pernah ada yang namanya problem keuangan. Yang ada hanyalah sebuah refleksi cara kita hidup yang kurang baik, dan itu berawal dari kebiasaan kita sendiri yang tidak ingin perubahan keuangan," tandasnya.(ang)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:54 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Oct 05, 2012 9:35 pm

MENGELOLA DANA DARURAT UNTUK KELUARGA
Selasa, 28 Juni 2011 - 09:19 wib Okezone
BAGAI roda yang bergulir, dinamika hidup pun silih berganti. Acapkali ditemukan banyak musibah terjadi, seperti kecelakaan atau kejadian lainnya, menerjang kehidupan kita di saat kita tidak siap secara finansial. Akibatnya, kita kerap disergap perasaan panik, cemas, tertekan atau frustrasi. Tapi sebenarnya perasaan cemas dalam situasi seperti itu bisa dihindari. Yaitu dengan cara menyiapkan sebuah dana khusus untuk keperluan darurat.

Memiliki dan menjaga suatu dana darurat
Sejak saat Anda mulai bekerja dan memiliki penghasilan, biasanya Anda mulai mengumpulkan daftar pengeluaran seperti tagihan untuk keperluan rumah-tangga serta pembayaran cicilan dan tabungan bulanan. Namun, banyak orang tidak memperhatikan pentingnya untuk memiliki dan menjaga suatu dana untuk keadaan darurat, yang seharusnya memang digunakan saat harus dihadapkan pada situasi yang tidak diinginkan. Dana darurat pada dasarnya adalah dana yang tidak pernah boleh Anda sentuh, karena itu merupakan jaring penyelamat Anda saat mengalami kejadian yang tidak diinginkan. Amat disarankan untuk membuat rekening terpisah bagi dana darurat Anda.Rekening yang Anda peruntukkan bagi dana darurat tersebut haruslah mudah diakses saat diperlukan. Berdisiplinlah dalam menjaga rekening dana darurat Anda, dan pastikan jumlah dana yang Anda miliki sesuai dengan keperluan bulanan Anda yang bisa saja tetap ataupun meningkat setiap tahunnya. Hindari penggunaan dana ini untuk membeli barang mewah atau untuk berlibur,yang tentunya bukanlah masuk kategori darurat. Simpanan dana darurat Anda tentunya juga menghasilkan bunga bank, maka kelebihan dana tersebut dapat Anda pindahkan ke rekening tabungan biasa Anda.Jadi, dana darurat Anda dapat menjadi sumber pemasukan tambahan melalui bunga bank yang dihasilkannya itu.

Mengapa Anda memerlukan dana darurat?
Bila Anda tinggal di negara-negara yang keadaan ekonominya lebih tidak stabil dibandingkan lainnya, maka dana darurat Anda dapat membantu untuk menutupi pengeluaran bulanan jika Anda kehilangan mata pencaharian. Dana darurat Anda dapat membantu Anda selama empat sampai enam bulan masa menganggur, dan membantu Anda untuk tetap dapat membayar tagihan dan kebutuhan hidup utama. Suatu kecelakaan pastinya merupakan peristiwa yang memang tidak diduga. Biaya perbaikan mobil, misalnya, memang tidak murah, dan biasanya terjadi dengan tiba-tiba. Di banyak negara termasuk Indonesia, di mana perlu untuk memiliki kendaraan yang siap setiap saat, memperbaiki kendaraan dengan cepat tanpa harus cemas mencari sumber dananya adalah suatu hal yang penting. Insiden lain yang dapat terjadi tanpa diduga adalah bencana alam seperti banjir atau tanah longsor yang dapat merusak rumah atau kendaraan. Dana darurat mungkin tidak dapat memperbaiki semuanya, tapi dapat membantu Anda menangani beberapa hal penting yang harus segera dilakukan tanpa menambah beban pada arus keuangan Anda.

Seberapa besarkah dana darurat yang harus Anda miliki?
Untuk mengetahui jumlah dana darurat yang harus dimiliki, terlebih dahulu perlu daftar pengeluaran penting bulanan Anda. Ini termasuk seluruh tagihan telepon termasuk seluler, cicilan kendaraan, cicilan rumah, sewa-sewa, uang sekolah anak, premi asuransi, tagihan listrik dan air, pengeluaran bensin atau transport lainnya, belanja bulanan, dan sebagainya. Setelah semuanya Anda hitung, pilihlah mana yang dapat Anda coret dari daftar sebagai pengeluaran yang kurang penting. Contohnya, menghentikan layanan TV kabel atau internet untuk sementara waktu saat terkena situasi darurat, dan ini sudah akan membantu Anda berhemat sekian ratus ribu rupiah. Nah, dari daftar terakhir ini, jumlahkan seluruh pengeluaran, kemudian kalikan dengan enam bulan. Itulah jumlah total yang Anda perlukan sebagai dana darurat.

Bagaimana memulainya, jika saya belum pernah memiliki dana darurat ini?
Apapun tujuan perencanaan keuangan Anda, pada dasarnya adalah untuk memastikan stabilitas keuangan yang harus dan hanya disesuaikan dengan kepentingan Anda. Menabung dana darurat adalah tujuan jangka pendek. Tapi ingatlah, jangka pendek berarti paling tidak tiga sampai lima tahun. Itu waktu yang cukup bagi Anda untuk melakukannya. Jika Anda masih muda, hal ini akan terasa jauh lebih realistis lagi. Jika Anda menyisihkan satu juta rupiah per bulan selama lima tahun, Anda pun akan memiliki dana sebesar Rp60 juta yang kira-kira jumlah yang cukup sebagai dana darurat Anda. Jika Anda memperoleh bonus, jangan lupa untuk mengalokasikannya juga ke dana darurat Anda, sehingga dapat lebih cepat mencapai jumlah dana yang Anda inginkan. Jika Anda sudah memasuki usia yang lebih dewasa dengan anak-anak yang memerlukan dana pendidikan, sementara waktu pensiun Anda sendiri sudah dekat, maka Anda harus menelaah ulang prioritas keuangan Anda. Ini adalah hal yang sama sekali berbeda, karena Anda sudah harus berpikir tentang persiapan dana hari tua. Disiplin adalah kunci untuk mencapai target dan tujuan keuangan Anda. Sama halnya seperti diseluruh aspek kehidupan, apakah itu mencapai hasil yang baik di sekolah, menjaga kesehatan, atau membangun karir Anda, berdisiplin, fokus dan beberapa nasihat akan dapat membantu Anda memperoleh apa yang ingin Anda capai.

Terakhir, upayakan selalu dalam membuat perencanaan keuangan yang bijaksana, agar dana Anda dapat memberi manfaat maksimal bagi Anda dan keluarga.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:57 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Oct 26, 2012 6:36 pm

PUNYA RUMAH SETELAH KULIAH? KENAPA TIDAK
Senin, 03/05/2010 14:20 WIB Taufik Gumulya - detikFinance
Jakarta - Tahun ajaran baru akan datang dua bulan kedepan, calon mahasiswa dan orang tua tentu sudah mulai sibuk merencanakan universitas yang akan dipilihnya kelak, sebagian diantara mereka bahkan telah mendapatkannya. Hitung-hitungan biaya pun tentu sudah dilakukan, sumber dana terus dipersiapkan atau mungkin sebagian bahkan ada yang seluruh dana telah tersedia. Pada artikel kali ini kami ingin memberikan masukan kepada calon mahasiswa yang akan mulai melaksanakan perkuliahannya dalam waktu yang dekat, memang benar bahwa tujuan akhir perkuliahan adalah menyelesaikan strata pendidikan mulai dari D3 hingga S1 kemudian dapat dilanjutkan dengan strata berikut yakni S2 (program Master), S3 (program Doctor) dan seterusnya. Sejalan dengan program pendidikan, ada sesuatu yang mutlak yang juga harus direncanakan dan wajib dilaksanakan oleh mahasiswa yaitu sebuah program dasar untuk memulai membangun kekayaan melalui perencanaan pembelian rumah atau properti. Mengapa ini menjadi penting? Fakta yang ada banyak sekali mereka yang telah menjadi sarjana tidak mampu untuk membeli rumah, bertahun-tahun mereka menempati 'Taman Mertua Indah' bahkan ironisnya banyak diantara mereka yang jangankan untuk membeli rumah, bekerja-pun masih belum jelas, tidak tertutup mereka masuk kedalam katagori pengangguran terselubung. Bagaimana mengatasi kondisi ini? Perlu diketahui bahwa perjalanan perkuliahan yang menempuh waktu relatif singkat & sedang tidak terlalu panjang (3 s/d 4 tahun, untuk S1) jika disiasati akan menghasilkan pertumbuhan aset keuangan yang baik. Bagaimana caranya? Berikut adalah 5 langkah sederhana yang dapat dipertimbangkan oleh mereka calon mahasiswa, jika ini dilakukan maka dapat dipastikan bahwa potensi untuk membeli rumah dengan cara KPR (Kredit Pemilikan Rumah) dikemudian hari adalah cukup besar:

1. Mulai dari diri sendiri: layaknya belajar, tidak ada yang dapat mengatur hasil secara optimal selain diri kita sendiri, ilmu perencanaan keuangan juga demikian. Mulailah melakukan alokasi belanja dan pisahkan antara kebutuhan perkuliahan dan kebutuhan non perkuliahan. Untuk sementara waktu tempatkan pos belanja yang hanya mementingkan keinginan (bukan kebutuhan) dengan porsi yang kecil, prioritaskan pos belanja dengan porsi yang besar pada kebutuhan (perkuliahan & non perkuliahan, investasi untuk membeli properti termasuk di dalamnya).

2. Mulai mencari penghasilan tambahan: tugas utama mahasiswa adalah belajar, namun alangkah bijaknya jika mau untuk belajar menjadi pekerja paruh waktu dan atau berwirausaha. Porsi bekerja tidak boleh menyita waktu yang besar, kewajiban utama untuk belajar adalah tetap merupakan prioritas.

3. Mulai melakukan perhitungan nilai masa depan (future value): kondisi saat ini tentu berbeda dengan kondisi mendatang yang pasti biaya akan meningkat tidak pernah menurun, termasuk biaya untuk membeli sebuah rumah.

4. Mulai merencanaan pembelian: alangkah baiknya perencanaan pembelian rumah dilakukan sedini mungkin, diusahakan ketika anda sudah mulai bekerja dan mendapatkan penghasilan (income) atau selambatnya 5 tahun setelah bekerja atau setelah lulus S1 (mana yang lebih cepat).

5. Mulai melakukan investasi: agar pembelian rumah dapat terealisasi sesuai rencana maka diharuskan untuk melakukan investasi. Instrumen investasi yang dapat dipakai adalah reksa dana yaitu dengan target return berturut-turut selama 4, 5 dan 6 tahun adalah minimal sebesar 14%, 18% dan 20%.

Untuk mendapatkan target return seperti diatas maka disarankan agar menggunakan kombinasi Reksa Dana Campuran (RDC) dan Reksa Dana Saham (RDS) dengan rasio RDC:RDS adalah 60:40, 40:60 dan 20:80 berturut-turut untuk jangka waktu 4, 5, 6 dan diatasnya. Dalam melakukan investasi Reksa Dana ada hal yang terpenting namun sering dilupakan oleh investor yaitu melakukan pemantauan (monitoring) minimal selama 3 bulan sekali. Pertanyaan berikut adalah berapa jumlah investasi yang harus saya lakukan?, untuk menjawabnya silahkan lihat contoh tabel berikut:

Harga Rumah (kelak) Uang Mula Nilai Uang Muka (kelak) Waktu tersedia Investasi awal agar uang muka tercapai Target Return
Rp 350 Juta 20% Rp 70 Juta 4 Thn Rp 1.083.545 14%
Rp 400 Juta 20% Rp 80 Juta 5 Thn Rp 819.186 18%
Rp 450 Juta 20% Rp 90 Juta 6 Thn Rp 645.004 20%
Rp 500 Juta 20% Rp 100 Juta 7 Thn Rp 544.872 20%
Rp 600 Juta 20% Rp 120 Juta 9 Thn Rp 396.571 20%

Terlihat bahwa kisaran penghematan anggaran yang harus dilakukan per hari adalah antara Rp 13.500,- hingga Rp 36.500,-. Ini tentu memerlukan 'effort' yang besar agar tujuan memiliki rumah (meski dengan cara KPR) dapat tercapai. Pembaca yang bijak uang hasil 'penghematan' tadi dapat anda simpan dalam tabungan, selanjutnya anda investasikan di dalam reksa dana secara otomatis setiap bulannya. Mekanisme investasi ini tentu hanya dapat dilakukan dengan instruksi khusus dari anda sebagai pemegang rekening kepada Bank yang sudah menjadi anggota Agen Penjual Reksa Dana dan tentu harus sudah terdaftar di Bapepam. Mengapa demikian? Ini semata-mata untuk menghidari resiko atas investasi yang tidak bertanggung jawab yang pernah dilakukan oleh pihak perbankan, seperti pada kasus Bank Century dan beberapa kasus perbankan sebelumnya. Khusus bagi anda yang ingin melakukan simulasi investasi mengenai rencana pembelian rumah beserta perhitungan lain yang terkait dengan kredit perumahan, silahkan anda kirim email kepada kami di alamat artikel@efiplan.com maka dengan senang hati akan kami kirimkan simulasi gratis versi Microsoft excel 2007 kepada anda. Demikian pembaca yang bijak, bagi anda calon mahasiswa silahkan lakukan investasi dengan benar dan tekun maka niscaya pertumbuhan aset anda akan meningkat, selamat mencoba.

Taufik Gumulya, CFP® Perencana Keuangan dari TGRM Financial Planning Services


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:48 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri Nov 16, 2012 8:22 am

MENGHITUNG "BIAYA BAIK" DAN "BIAYA JAHAT"
Jumat, 11 Januari 2013 | 22:25 WIB
KOMPAS.com - Bagaimana perilaku Anda dalam mengelola keuangan? Bagaimana sikap Anda dalam hal pengeluaran alias biaya? Apakah selama ini Anda peduli bahwa biaya pun bisa dipilah menjadi biaya baik dan biaya jahat? Dalam realitasnya, tidak semua biaya bisa disebut jahat, dan juga tidak semua biaya adalah baik. Hakikatnya, biaya baik adalah ketika biaya tersebut dikeluarkan maka akan ada imbas produktivitas, baik secara finansial maupun non-finansial, namun ujung-ujungnya juga bisa memberikan hasil secara finansial. Bagaimana konkretnya? Yang pertama dan utama adalah memahami anggaran pribadi Anda. Nah, selama ini berapa persen dari pendapatan Anda yang dipakai untuk membiayai pengeluaran? 50 persen? 70 persen? Atau malah di atas 100 persen? Jangan heran, ada juga kalangan yang pengeluarannya melebihi pendapatan per bulannya. Dengan kata lain, kalangan ini hidup dalam dunia ”gali lubang tutup lubang”. Nah, yang dimaksud dengan memahami anggaran adalah, pastikan bahwa pendapatan Anda setiap bulan masih surplus. Terserah mau surplus berapa persen. Yang penting tetap surplus. Jika sudah demikian, maka langkah berikutnya adalah menelaah komponen pengeluaran. Di sinilah baru bisa diketahui mana pengeluaran alias biaya baik, dan mana pula biaya jahat. Seperti diutarakan di atas, biaya baik adalah ketika biaya tersebut bisa memberikan dampak produktivitas dan juga peningkatan aset Anda. Contoh yang paling sederhana adalah membayar angsuran rumah, di mana rumah tersebut untuk disewakan atau ditempati sendiri.

Biaya jahat
Bagaimana dengan biaya jahat? Masih dalam konteks rumah. Meskipun biaya yang Anda keluarkan adalah untuk membeli rumah, kalau rumah tersebut Anda diamkan saja, Anda malah mengeluarkan biaya dua kali. Yang pertama untuk mengangsur, yang kedua untuk merawat rumah. Seperti sebuah gelas berisi separuh air. Anda bisa mengatakan bahwa gelas tersebut ”setengah kosong” dan ”setengah penuh”. Jika falsafah yang Anda anut adalah harta seperti gelas ”setengah kosong”, setiap biaya yang Anda keluarkan bisa berdampak menguras air dalam gelas. Artinya, harta Anda akan berkurang karena biaya yang Anda keluarkan tidak memberi implikasi terhadap bertambahnya harta. Hal sebaliknya akan terjadi jika Anda menganggap harta yang Anda miliki saat ini berkategori gelas ”setengah penuh”. Maknanya, setiap biaya yang Anda keluarkan akan menjadi biaya baik karena bisa berpengaruh untuk menaikkan harta Anda. Contohnya adalah pembayaran angsuran rumah yang peruntukannya untuk disewa atau ditempati. Selanjutnya adalah bagaimana mengorganisasi pengeluaran sehingga biaya baik bisa lebih banyak ketimbang biaya jahat. Ini dilakukan dengan memahami bahwa pengeluaran itu bisa dibagi untuk beberapa peruntukan, yakni untuk memenuhi kebutuhan primer, kebutuhan sekunder, dan kebutuhan tersier. Kebutuhan primer dalam hal ini adalah pangan, sandang, dan papan. Sementara kebutuhan sekunder dan tersier adalah keinginan untuk hidup lebih nyaman dengan terpenuhinya berbagai keinginan, misalnya rekreasi, nonton film, dan hobi. Tidak ada yang keliru dengan semua itu. Dan semestinya, negara mampu membuat rakyatnya paling tidak memenuhi kebutuhan primernya. Jadi, yang kita telaah lebih lanjut adalah bagaimana mengatur biaya untuk memenuhi kebutuhan primer itu saja, yakni pangan, sandang, dan papan. Soal papan, sudah dibahas di atas. Bagaimana dengan pangan dan sandang? Di sinilah sering kali terjadi pergeseran makna antara kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder atau tersier. Ketika seseorang makan di restoran mahal, misalnya, itu sebenarnya bukanlah kebutuhan primer, dan bukan pula kebutuhan sekunder, melainkan kebutuhan tersier. Kebutuhan primernya adalah bisa makan dengan layak. Kebutuhan sekundernya adalah apa yang mau dimakan. Kebutuhan tersiernya adalah mau makan di mana Silakan cek perilaku Anda dalam pengeluaran biaya untuk pemenuhan kebutuhan ”pangan” tersebut. Berapa persen sebenarnya pengeluaran Anda yang terpakai untuk membiayai kebutuhan ”pangan” dalam makna kebutuhan primer, dan berapa persen untuk pemenuhan keinginan atas kebutuhan sekunder dan tersier.

Menghitung biaya
Bagaimana menghitungnya? Sederhana. Jika Anda makan nasi dan lauk dalam arti kebutuhan yang harus dipenuhi oleh semua orang adalah sekitar Rp 20.000 per porsi, sementara Anda mengeluarkan biaya sebesar Rp 100.000 per porsi karena makan di restoran, sesungguhnya yang Rp 20.000 merupakan biaya baik, sementara yang Rp 80.000 adalah biaya jahat. Anda menjadi konsumtif bukan untuk hal yang primer, melainkan untuk hal yang sekunder dan tersier. Lantas hitung juga, berapa jumlah pengeluaran yang seolah-olah primer padahal bukan primer selama sebulan. Dengan contoh di atas, yang mestinya pengeluaran per hari hanya sebesar Rp 60.000, naik menjadi Rp 300.000. Bayangkan jika Anda bisa menghemat 50 persen-nya saja, itu berarti ada Rp 150.000 per hari atau Rp 4,5 juta biaya jahat yang bisa Anda hilangkan dan kemudian Anda pergunakan untuk membiayai aktivitas lain yang ujung-ujungnya bisa meningkatkan harta Anda. Tentu masih banyak contoh lain dalam kehidupan sehari-hari, di mana banyak kalangan tidak menyadari bahwa sebagian biaya jahat sebenarnya bisa dihindari untuk kemudian dikonversi menjadi biaya baik, yang memberi dampak lebih produktif.

(Elvyn G. Masassya, praktisi keuangan)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 9:53 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 23 of 26Go to page : Previous  1 ... 13 ... 22, 23, 24, 25, 26  Next
 Similar topics
-
» Model Baju Batik Seragam Keluarga Besar
» Skandal Kebohongan 'Mukjizat' Para Pendeta
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: