Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 14 ... 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jun 15, 2010 11:32 am

UTANG BAIK VS UTANG BURUK
Selasa, 15/6/2010 | 11:21 WIB
KOMPAS.com - Rasanya sulit dipercaya jika ada manusia di dunia ini yang terbebas dari ikatan utang. Contohnya saja, membeli rumah yang membutuhkan dana besar sehingga memaksa kita untuk berutang. Belum lagi biaya anak sekolah hingga kuliah. Seringnya, kondisi semacam ini membuat utang sulit lepas dari tangan. Bagaimana mengatasinya?

Si Utang Baik
Bicara tentang utang, idealnya ia tak mencapai 36 persen dari penghasilan kotor Anda. Dan, patokan inilah yang biasanya dilihat oleh bank ketika akan meminjamkan dana besar, taruhlah untuk rumah. Akan tetapi, tak bijak juga jika Anda menghindari utang, karena berarti seluruh penghasilan akan tersedot untuk memenuhi kebutuhan berdana besar, sehingga tak ada dana cadangan untuk keperluan darurat.

Jika begitu, apa yang harus dilakukan oleh pasangan ketika dihadapkan dengan utang?
Pertama, ketahui apa yang dimaksud dengan utang baik dan utang buruk. Definisi utang baik adalah segala sesuatu yang Anda butuhkan akan tetapi belum bisa didapatkan, kecuali dengan menjual semua aset. Contoh utang baik adalah membeli rumah. Alasannya, kecil kemungkinannya bisa melunasi pembelian rumah sekaligus. Namun jangan terlalu ambisius dalam membeli rumah idaman, pastikan Anda telah menghitung secara finansial selama masa cicilan berlangsung. Yang jelas, semakin rendah pinjaman Anda, semakin singkat pula waktu mencicil.

Yang lainnya adalah membayar pendidikan tinggi untuk anak.
Daripada mengorbankan dana pensiun atau asuransi kesehatan, lebih baik Anda berutang (jika tak memiliki asuransi pendidikan). Karena, pendidikan adalah investasi abadi dan suatu hari nanti akan menghasilkan lebih banyak lagi keuntungan material untuk sang buah hati. Jenis utang baik lainnya yang bisa Anda ambil adalah invstasi kendaraan bermotor, seperti mobil. Pertanyaannya adalah, jika Anda sudah mempunyai mobil, perlukah membeli mobil lain? Jawabannya ditentukan dari kondisi mobil yang dipakai. Jika memang sudah tua dan sering rusak, lebih baik jual dan investasikan dalam bentuk mobil yang lebih layak plus tidak rewel. Karena biaya perbaikan mobil memakan biaya besar, lho! Padahal dananya bisa dialokasikan untuk kebutuhan lain.

Awas Utang Buruk
Lantas, apa yang disebut dengan utang buruk? Ia adalah barang atau jasa yang sebenarnya tak diperlukan, tapi Anda menginginkannya, padahal penghasilan sama sekali tak mencukupi. Karakteristiknya adalah biasanya murni untuk konsumsi sesaat, membuat penghasilan bersih Anda menyusut, menghapus kemungkinan untuk investasi atau penghasilan yang lebih besar. Kasus terparah dari kasus ini adalah mismanajemen penggunaan kartu kredit yang biasanya berbunga tinggi.

Jika tak ingin terlilit utang buruk, yang harus dilakukan sebenarnya sederhana. Yaitu mengetahui pola pengeluaran dan analisa mana yang tak penting atau tak diperlukan. Misalnya, ketika pergi berbelanja bulanan, Anda sering tergoda untuk membeli piranti elektronik atau aksesori, yang sebenarnya tak perlu dibeli. Hindarilah kebiasaan ini dengan meneguhkan niat atau buatlah daftar belanjaan yang mendetail sejak di rumah. Alihkan juga pola pikir ketika berbelanja. Jangan berpikir, "Saya sudah bekerja keras, saya layak membeli baju seharga sekian juta atau berlibur ke Pantai X yang menghabiskan biaya berpuluh juta". Padahal nyatanya, utang kartu kredit Anda sudah membumbung tinggi hingga jutaan rupiah. Bukankah lebih baik dana dialihkan untuk membayar cicilannya?

Bukan tidak boleh, lho, menggunakan kartu kredit. Tapi, lebih baik gunakan untuk kebutuhan besar atau mendadak. Seperti ketika anggota keluarga sakit, kartu kredit bisa saja dipakai untuk membayar uang muka perawatan di rumah sakit sembari menunggu cairnya klaim asuransi kesehatan.
Jangan lupa juga untuk selalu membayar tagihan kartu kredit. Cobalah membayar lebih tinggi dari cicilan minimum, ya. Akan tetapi lebih baik jika memprioritaskan membayar tagihan kartu kredit dengan bunga tertinggi dan tentukan batas maksimal pembayaran per bulan tanpa mengganggu kebutuhan primer lainnya.
Lalu, tagihan yang lainnya dibayar dengan cicilan minumum. Begitu tagihan dengan bunga tertinggi selesai, lanjutkan ke tagihan lain yang bunganya lebih tinggi lainnya setelah bunga yang pertama dan seterusnya.

Masih Ada Pilihan
Lantas bagaimana jika utang sudah merambat, apakah sudah terlambat? Yang terpenting adalah jangan panik karena tidak akan menyelesaikan masalah, malah memperumit. Tetaplah fokus pada tujuan utama, yaitu melunasinya. Meski membutuhkan waktu lama dan harus mengorbankan beberapa kebutuhan sekunder, pada akhirnya semua untuk kebaikan Anda, kan? Jangan juga melanjutkan kebiasaan berutang, tidak perlu panik jika melihat sesuatu yang ingin Anda beli. Selalu pikirkan baik-baik, apakah Anda benar-benar memerlukannya? Jika iya, Anda bisa menabung atau jika Anda kurang andal menabung, ikuti saja program tabungan berencana di bank.

Terakhir, pada dasarnya yang harus dicamkan adalah bukan berapa banyak dana segar yang dimiliki, melainkan apakah ada cara untuk membuat uang Anda "bekerja keras" sehingga bisa menghasilkan lebih banyak uang lagi seperti melakukan investasi.

(Astrid Isnawati/Tabloid Nova)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Tue Jun 15, 2010 11:34 am

ORANGTUA PENGANGGURAN BIKIN ANAK STRES
Merry Wahyuningsih - detikHealth - Jumat, 26/03/2010 16:00 WIB
Jakarta, Tak hanya orang dewasa yang terkena dampak emosional bila tak memiliki pekerjaan alias pengangguran. Sebuah penelitian di Amerika menunjukkan anak-anak dengan orangtua yang menganggur akan mengalami dampak psikologis yang sama beratnya dengan orangtua.

Anak-anak yang tinggal dengan salah satu orangtuanya yang tidak bekerja akan berpotensi menghadapi berbagai masalah emosional, mulai dari stres, depresi, menurunnya prestasi di sekolah hingga masalah perilaku yang buruk. Para ahli mengatakan, hal tersebut diperburuk dengan standar hidup yang lebih rendah serta kehilangan asuransi kesehatan. "Setiap kali ada permasalahan yang dapat menurunkan kualitas hidup, maka anak-anak yang akan mengalami efek paling signifikan," kata Dr Christopher Bellonci, seorang asisten profesor psikiatri di Tufts University School of Medicine di Boston, seperti dilansir dari Health, Jumat (26/3/2010).

Dr Bellonci menambahkan ketika sebuah keluarga dalam kondisi baik-baik saja, maka mereka memiliki penyangga untuk terhindar dari stres ini. Tetapi bila orangtuanya mengganggur, maka dampak stres akan terlihat pada anak-anaknya. Dalam sebuah jajak pendapat yang dilakukan New York Times terhadap lebih dari 700 orang dewasa yang menganggur, didapatkan sekitar setengahnya telah menganggur selama enam bulan atau lebih. Hampir 40 persen dari mereka melihat adanya perubahan perilaku pada anak-anak mereka.

Menurut Ariel Kalil, seorang profesor dan psikolog perkembangan di University of Chicago's Harris School of Public Policy Studies, pengangguran yang jangka panjang akan semakin memperburuk kondisi yang ada, seperti makanan, pakaian dan perlengkapan sekolah yang mulai berkurang sehingga memicu anak semakin stres.
"Kemarahan yang tak dapat dijelaskan serta perasaan gelisah, takut atau khawatir adalah tanda-tanda umum tekanan emosional pada anak-anak," kata Marta Flaum, seorang psikolog anak dari Chappaqua, New York.

Tanda-tanda anak stres lainnya adalah perubahan yang cepat dalam perilaku sosial termasuk tindakan-tindakan agresif serta menurunnya prestasi anak di sekolah. Kelompok yang paling berpengaruh adalah anak-anak dan remaja, karena mereka lebih sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya dan merasakan konsekuensi sosial akibat pengangguran yang lebih akut.

Untuk membantu anak-anak secara emosional dalam menahan kemerosotan keuangan, Walker dan ahli lainnya menawarkan beberapa tips untuk orangtua:
1. Berbicara dengan anak-anak mengenai kondisi keluarga dengan tenang dan tidak panik. Cobalah untuk bicara dengan nada penuh harapan dan keyakinan bahwa semua akan baik-baik saja.
2. Dengarkan pendapat anak-anak.
3. Perhatikan tanda-tanda adanya kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan pada anak, karena beberapa anak mungkin memiliki perasaan yang halus atau sensitif.
4. Jika anak bermasalah, cobalah untuk berbicara dengan gurunya terlebih dahulu. Jika masalahnya serius, bicarakan secara baik-baik dengan anak.
5. Jika pernikahan Anda sedang bermasalah, cobalah untuk membuatnya menjadi lebih baik. Perselisihan rumah tangga akan membuat anak bertambah stres.
6. Jika orangtua mengalami kecemasan atau depresi berlebihan, cobalah mencari bantuan untuk meredam dan tidak menunjukkannya di depan anak-anak.
7. Usahakan untuk tetap memberikan pengertian dan perhatian pada anak.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 27, 2010 8:58 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 5:51 am

SIAPA BILANG UANG TAK BISA MEMBERI KEBAHAGIAAN?
Rabu, 16/6/2010 | 15:04 WIB
KOMPAS.com - Lama tak terdengar kabarnya, Keanu Reeves muncul di publik dalam kondisi yang tak begitu menggembirakan. Awal Juni lalu, foto-foto jepretan paparazzi memperlihatkan bintang trilogi The Matrix ini duduk sendirian di bangku taman sambil makan sandwich. Wajahnya terlihat kosong dan sedih. Penggemar yang tak tahan melihat kondisinya dalam foto tersebut lalu membuat pesan "Cheer Up Keanu Day". Apa yang membuat Keanu begitu sedih? Bukankah ia tampan, kaya, dan populer? Apakah karena pamornya sudah mulai turun? Apakah karena ia tak punya pasangan tetap (meskipun bulan lalu paparazzi berhasil merekam gambarnya tengah berciuman dengan Charlize Theron)? Ataukah karena ia ingin settle down (ada yang mengatakan pria 45 ini kepingin sekali punya anak)? Ternyata, uang tak bisa memberinya kebahagiaan.

Tetapi, benarkah uang tak bisa memberi kebahagiaan pada kita? Jika Anda termasuk beruntung memiliki cukup uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, seperti makanan dan tempat tinggal, tidakkah itu berarti uang bisa membuat Anda bahagia? Jika Anda bisa memenuhi kebutuhan lain yang lebih luas, yang artinya membutuhkan uang, bukankah itu berarti uang menentukan kebahagiaan Anda? Rahasia menggunakan uang untuk membeli kebahagiaan adalah dengan menggunakan uang dengan cara yang bisa mendukung tujuan kebahagiaan Anda. Ingin tahu contohnya?

1. Menguatkan ikatan hubungan keluarga dan pertemanan. Penelitian menunjukkan bahwa memiliki kedekatan hubungan dengan keluarga dan teman-teman adalah salah satu elemen terpenting dalam kehidupan manusia. Coba bayangkan bila Anda bisa membeli tiket pesawat untuk mengunjungi adik Anda yang baru melahirkan di negara lain, pulang ke kampung halaman Anda hanya untuk menghadiri reuni SMA, atau menonton konser band favorit Anda di negara tetangga bersama sahabat.

2. Mengakhiri konflik perkawinan. Anda mungkin mempunyai masalah besar dengan suami karena Anda tinggal berjauhan darinya. Konflik mungkin akan berkurang jika Anda atau dia secara rutin saling mengunjungi seminggu sekali. Hal yang sama juga terjadi untuk masalah yang lebih sederhana. Misalnya, berhubung Anda tak memiliki pembantu rumah tangga, dan suami enggan menghabiskan sisa harinya dengan mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, Anda kirim saja pakaian kotor ke laundry.

3. Meningkatkan mood. Salah satu cara paling cepat dan paling pasti untuk mendongkrak mood Anda adalah dengan berolahraga. Jika Anda bisa membeli iPad untuk memuaskan keinginan Anda browsing internet, mengikuti kelas yoga, atau menyewa pelatih pribadi untuk menurunkan berat badan Anda, bukankah itu juga merupakan investasi kebahagiaan?

4. Menyalurkan hobi. Menjalani aktivitas yang sama sekali berbeda dari pekerjaan Anda sehari-hari juga memberikan pengalaman refreshing yang luar biasa. Tak perlu dipungkiri pula bahwa banyak hobi kita yang butuh banyak uang untuk menjalaninya. Sebut saja traveling, kursus quilting, mountain biking, memancing, otomotif, dan berbagai hobi pria lain yang tergolong mahal. Pastikan bahwa uang yang Anda gunakan betul-betul memberikan pengalaman yang hebat, bukan sekadar memiliki sesuatu yang bersifat kebendaan.

5. Mendapatkan ketenangan dan keamanan. Kedamaian pikiran merupakan salah satu unsur kebahagiaan yang paling penting. Jadi, bila saldo rekening Anda di bank selalu sanggup mencukupi pembayaran tagihan kartu kredit, atau bahkan bisa diinvestasikan dalam bentuk lain, tak ada yang mengganggu pikiran Anda bukan?

6. Mendapatkan makanan yang sehat. Sudah bukan rahasia lagi bila makanan sehat kadang-kadang harus ditebus dengan biaya yang lebih mahal. Katering khusus diet, atau yang menggunakan bahan-bahan organik biasanya lebih mahal daripada yang biasa. Namun bila Anda mampu mendapatkannya, Anda bisa mendapatkan tubuh yang sehat. Dengan tubuh yang sehat, Anda bisa melakukan apa pun yang Anda inginkan, dan ini membuat Anda bahagia.

7. Memberikan sesuatu untuk orang lain. Mengapa Oprah Winfrey senang sekali memberikan kejutan hadiah-hadiah untuk penonton maupun tamu yang mengisi acaranya? Konon, karena ia senang sekali melihat ekspresi terkejut dan senang yang ditampilkan penontonnya. Dan, melihat orang bahagia saat menerima pemberian kita juga membuat kita bahagia. Apalagi bila pemberian kita itu bisa mengubah hidup orang yang menerimanya. Contohnya, menyumbangkan buku-buku untuk perpustakaan sekolah, atau memberikan modal usaha untuk tetangga yang sangat membutuhkan.

8. Menghadirkan sesuatu yang menjadi impian kita. Bentuknya bisa macam-macam, tergantung apa yang menjadi prioritas Anda. Sesuatu yang mungkin tidak layak diperjuangkan oleh orang lain, tetapi amat penting untuk kita. Bisa berupa apartemen yang berada di tengah kota (supaya Anda tak lagi dihadang kemacetan) saat hendak ke kantor, mobil mewah, home theater, ponsel canggih, bahkan mungkin kasur (yang harganya puluhan juta). Bagaimanapun, kebahagiaan bisa berbeda untuk setiap orang. Kuncinya adalah mengetahui apa yang Anda inginkan, dan apakah Anda mampu mendapatkannya.

O ya, tentang foto Keanu Reeves yang diceritakan di atas, banyak yang menganggap berita foto tersebut mengada-ada. Memangnya kenapa kalau Keanu makan sandwich sendirian? Maklum, aktor satu ini memang dikenal misterius, cuek, dan apa adanya.

DIN
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 7:51 am

9 TIPS FINANSIAL UNTUK ISTRI CERDAS
Selasa, 21/07/2009 10:10 WIB Budi Cahyadi - detikFinance
Jakarta - Sering kita dengar seorang suami memberikan alasan, "Saya tanya 'direktur keuangan' dulu ya". Dan kita mahfum bahwa yang dimaksud adalah isterinya. Sudah menjadi tradisi masyarakat kita bahwa seorang isteri adalah pengelola rumah tangga, terutama dalam hal pengelolaan keuangan rumah tangga. Tantangan finansial seorang isteri pun cukup beragam, mulai dari naik turunnya pendapatan keluarga, menjaga anggaran rumah tangga jangan sampai defisit, sampai kepada ancaman kekurangan dana untuk kebutuhan hari tua. Bahkan, dalam situasi finansial yang kurang menguntungkan, sang isteri terancam untuk 'terpaksa' ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kami berharap beberapa tips di bawah ini akan banyak membantu para isteri untuk lebih cerdas dan terampil dalam mengelola keuangan rumah tangga.

1. Membangun kepercayaan finansial dengan pasangan (suami)
Rencanakanlah keuangan rumah tangga anda bersama dengan pasangan. Ciptakanlah komunikasi yang jujur dan terbuka. Hal ini akan merubah sikap saling menyalahkan satu sama lain (Ingat : Ini merupakan salah satu penyebab utama keretakan rumah tangga) menjadi saling mengingatkan apa bila terjadi pengeluaran yang berlebihan. Hal ini juga dapat membuat anda saling memberikan pujian atas tercapainya sasaran-sasaran finansial yang sudah anda rencanakan bersama. Alhasil, mendorong anda untuk lebih disiplin dan belajar hidup lebih hemat.

2. Belanja, utang/kewajiban, tabungan dan Anggaran Rumah Tangga.
Apa yang pertama kali muncul di pikiran anda pada saat menerima pendapatan setiap bulannya? Belanja? Bayar utang/kewajiban? Atau menabung? Jika belanja yang duluan muncul, hampir pasti anggaran rumah tangga anda akan menderita defisit. Anda perlu mengubah kebiasaan itu. Biasakanlah untuk memangkas pendapatan untuk menabung dulu. Hal ini memastikan arus kas bersih (net cashflow) anggaran rumah tangga anda akan surplus/positif. Setelah itu, bayarlah dulu utang/kewajiban. Pastikan utang/kewajiban berkurang terus sesuai jadwal yang sudah direncanakan. Waspadai bunga yang diberlakukan. Baru kemudian dari sisa anggaran yang tersedia dimanfaatkan untuk belanja kebutuhan rumah tangga. Dengan melakukan kebiasaan seperti diatas, anda akan lebih mudah mencapai sasaran-sasaran finansial yang diinginkan.

Banyak diantara para ibu rumah tangga yang sudah terbiasa melakukan penyusunan anggaran. Penyusunan anggaran rumah tangga sebetulnya sangat sederhana, yaitu menuliskan rencana pengeluaran rutin bulanan (membantu untuk tidak keluar dari rel) dan menabung untuk keperluan masa depan yang anda inginkan, seperti mobil, rumah, dana hari tua dan lain-lain. Jangan lupa memasukkan rencana pengurangan hutang dan atau jadwal pembayaran kewajiban kedalam anggaran anda. Bila anda belum melakukannya, manfaatkan software excel spreadsheet atau anda dapat mempelajarinya melalui simulasi perencanaan keuangan di situs kami; www.tgrmfinance.com.

3. Kesepakatan batas pengeluaran.
Buatlah kesepakatan bersama pasangan anda sebuah plafon pembelian, misalnya Rp. 500.000. Bila ada pembelian diatas plafon, anda berdua sepakat untuk membahasnya lebih dulu (tidak berlaku untuk pembelian rutin seperti belanja bulanan, pembayaran listrik dan lain-lain). Diawal, aturan ini memang terasa terlalu membatasi, namun kami telah membuktikan bahwa hal ini berdampak besar pada penghematan anggaran.

4. Menata dokumen finansial Anda
Sediakan tempat khusus untuk menyimpan dokumen finansial dan dokumen penting anda dan tatalah dengan rapih, sehingga anda akan mudah untuk mendapatkannya jika dibutuhkan. Hal ini akan mendorong anda untuk terus melakukan review terhadap anggaran yang sudah anda buat.

5. Mengerti kebutuhan asuransi jiwa dan kesehatan
Polis asuransi dibeli untuk melindungi anda. Sampai sejauh mana polis asuransi yang anda miliki melindungi anda. Untuk Polis Asuransi jiwa, berfungsi sebagai pengganti penghasilan bila pemberi nafkah sudah tidak dapat melakukan tugasnya (karena meninggal atau cacat). Pahami berapa besar nilai perlindungan (Uang Pertanggungan) yang anda butuhkan. Meningkatnya biaya pengobatan yang mencapai 3-5 kali inflasi merupakan alasan kuat untuk kita memiliki asuransi kesehatan. Sebagian besar dari pembaca tentu sudah memiliki perlindungan kesehatan ini, baik yang di sediakan oleh perusahaan, maupun membeli sendiri. Pahami fasilitas penjaminan (coverage) asuransi kesehatan anda, sesuai dengan yang anda butuhkan. Diskusikanlah uang pertanggungan asuransi jiwa dan coverage asuransi kesehatan dengan perencana keuangan atau agen asuransi anda.

6. Memenuhi kebutuhan dana hari tua
Kapan sebaiknya kita mulai merencanakan dan melaksanakan dana pensiun? Mulailah lebih awal. Semakin cepat mulai menyisihkan dana, akan semakin baik dan semakin murah dana yang diperlukan. Sebagai gambaran, untuk target pencapaian dana 1 milyar 20 tahun yang akan datang, dengan tingkat pertumbuhan (return) 14 % per tahun, dana yang harus anda invetasikan per bulan adalah Rp.760.000,-/bulan. Sedangkan bila anda menunda 10 tahun dengan target dan tingkat pertumbuhan yang sama, anda harus menyisihkan dana Rp. 3.800.000/bulan.

7. Menentukan sasaran-sasaran finansial bersama pasangan
Membahas sasaran finansial jangka pendek dan panjang bersama pasangan adalah saat-saat yang menyenangkan karena dengan menyatunya ide anda berdua akan menciptakan motivasi bahtera rumah tangga tang sekaligus memperkuat fondasinya. Mulailah dengan hal yang umum, seperti rencana pembelian mobil, cicilan rumah dan lain-lain. Kemukakan ide-ide anda secara kreatif. Misalnya rencanakan cicilan rumah sudah selesai sebelum anak tercinta mulai kuliah, hal ini akan mengurangi tekanan finansial anda dimasa mendatang. Atau jangan membeli mobil mungil kalau anda sudah mengharapkan kedatangan si kecil sebelum 2 tahun ke depan. Jangan lupa buat rencana anda secara tertulis agar bisa selalu di tinjau kembali dari waktu kewaktu dan yang terpenting, konsolidasikan sasaran-sasaran anda ke dalam rencana anggaran bulanan.

8. Menghemat = menciptakan pendapatan
Saat anda melakukan belanja bulanan untuk rumah tangga, biasakanlah untuk menghemat anggaran. Dan dedikasikan penghematan tersebut untuk sesuatu yang nyata. Waktu kami baru menikah, nenek saya pernah menasehati, “Simpan penghematan belanjamu untuk hadiah ulang tahun anak-anakmu kelak”. Dan diluar dugaan, kami mendapatkan lebih dari cukup untuk itu.

9. Membeli untuk manfaat jangka panjang
Hampir semua orang tua menyambut kelahiran anggota keluarga baru dengan menyiapkan tempat tidur bayi. Berapa lama sang bayi tidur ditempat itu? Bukankah lebih hemat dan efisien kalau kita menyambutnya dengan membeli tempat tidur ukuran dewasa, yang akan terus bermanfaat sampai dia dewasa.
Semoga bermanfaat!

Budi Cahyadi, CFP®, Perencana Keuangan pada TGRM Financial Planning Services (qom/qom)


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 10:13 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 7:53 am

BILA PENGHASILAN SUAMI TIDAK MEMADAI
Dimata Konsultan Perencanaan Keuangan, Safir Senduk, tidak ada masalah jika penghasilan suami lebih rendah dari istri.
Justru mereka bisa saling membantu meringankan biaya rumah tangga. Para suami jangan minder, sebaliknya para istripun jangan mentang mentang. Semuanya low profile saja, karena kalau istri mulai semena mena, sikap itu salah dan bisa menjadi masalah. "Ingat status kaya atau tidaknya seseorang tidak ditentukan oleh penghasilan, gaji atau kekayaan, tapi bagaimana mereka bisa menyimpan ( menabung ) dari penghasilannya," katanya. Dia mencontohkan untuk apa gaji besar, misalnya Rp 10 juta/bulan tapi tidak bisa menabung, dibanding dengan yang penghasilannya Rp 2 juta/bulan tapi bisa menabung walau hanya sedikit. Menurut Safir, kalau ditinjau dari perencanaan keluarga secara umum, tidak ada aturan ideal pembagian penghasilan suami istri. Karakter setiap orang itu berbeda beda, makanya pembagian penghasilan suami istri harus berdasarkan kesepakatan mereka sendiri. Misalkan kebutuhan rumah tangga sehari hari diambil dari kocek suami, bayaran sekolah anak dari kocek istri, tetapi suami tetap mem back up. Silahkan saja membuat kesepakatan, karena dengan adanya kesepakatan, pembagian itu menjadi lebih aman bagi si istri maupun suami.

Bagi yang baru akan memasuki jenjang pernikahan, Safir mengingatkan, alangkah baiknya kalau kesepakatan itu di komunikasikan sebelum pernikahan. Rinci saja apa tanggung jawab suami dan mana jatah yang harus dibayar oleh istri. Ketika menjalani rumah tangga, mereka sudah tinggal menjalani kesepakatan tersebut. Jangan sampai ketika menjalani rumah tangga ternyata si istri tidak mau share. Sebagai konsultan Safir mengaku kerap bertemu dengan keluarga dimana penghasilan si istri lebih dominan. Ternyata mereka oke oke saja, tidak ada masalah dan tidak menjadikan perbedaan penghasilan sebagai sumber konflik. Biasanya mereka ini adalah orang orang strata A yang memiliki pola pikir yang lebih matang. Merekapun biasanya berasal dari profesi yang berbeda. Bagaimana jika berasal dari profesi yang sama? Memang cenderung muncul konflik. Tetapi sebenarnya, tegas Safir, konflik itu lebih karena faktor psikologis. Karena itu ia kembali mengingatkan agar istri tidak semena mena kepada suami. Masalah ini bisa meruncing jika istri menceritakan kepada orang lain ( pihak ketiga ). Maklum, masalah penghasilan termasuk masalah sensitif dan tidak etis diceritakan kepada pihak luar. Bagi mereka yang menemui masalah akibat perbedaan penghasilan, Safir menawarkan solusi, yakni suami mencari penghasilan tambahan. Kalau kondisinya memungkinkan, tidak ada salahnya suami mencari tambahan diluar.

Sumber: koran


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 10:05 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 7:55 am

MENGGUNAKAN JASA SEORANG FINANCIAL PLANNER PERLUKAH?
Rabu, 12/5/2010 | 13:33 WIB
KOMPAS.com - Apakah Anda mampu memegang kendali atas uang Anda? Apakah Anda dapat mengatur keuangan sehingga gaji atau pendapatan yang dimiliki bisa mencukupi segala kebutuhan dan keperluan? Mampukah Anda memahami segala instrumen investasi yang perlu dimasuki? Apakah Anda bisa memahami polis asuransi yang dibutuhi? Apakah Anda dapat mengerjakan dan mengatur kewajiban pajak Anda dengan lebih efektif? Apakah Anda dapat mempersiapkan masa pensiun dengan cermat dan seksama? Apakah Andamengetahui apa saja yang perlu dilakukan dalam mempersiapkan warisan bagi ahli waris dengan adil dan suka cita, serta menghindarkan pertikaian di masa depan?

Bila ada jawaban "Tidak" dari pertanyaan-pertanyaan di atas, maka artinya Anda butuh seorang Financial Planner (FP). Seorang FP profesional akan mampu membantu dan melayani Anda dalam melakukan pekerjaan dan perencanaan keuangan And, sehingga berbagai tujuan keuangan Anda lebih mudah tercapai.

Seorang FP akan membantu Anda dalam hal-hal berikut:
1. Menata dan mengatur serta mengelola arus kas (Cash Flow Management).
2. Membangun dan memiliki kekayaan bersih yang lebih produktif (Net Worth Management).
3. Memilih dan membeli produk asuransi yang efektif dan efisien, sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan terkini.
4. Berinvestasi pada beberapa instrumen investasi, yang relatif aman dan optimal, sesuai dengan karakter risiko dan tujuan keuangan Anda.
5. Merancang dan menikmati masa pensiun yang Anda impikan, mandiri, dan sejahtera.
6. Menyusun dan merancang warisan dengan lebih bijak dan adil, sesuai dengan keinginan diri Anda.

Ibarat dokter, seorang FP akan membantu agar Anda sembuh dan sehat dari berbagai ancaman penyakit keuangan (konsumerisme dan konsumtifisme), dan menjadikan Anda sebagai orang yang bebas dan mandiri dalam keuangan. Namun perlu diingat, prosesnya tidak instan. Tercapainya tujuan keuangan memerlukan proses dan waktu.

Siapa saja yang perlu FP?
Semua orang yang membutuhkan bantuan dan layanan dalam mengatur dan merencanakan keuangan mereka, agar berbagai tujuan masa depan dapat tercapai.

Berapa fee-nya?
Berkisar antara Rp 250 ribu sampai Rp 2,5 juta per jam untuk konsultasi keuangan; Rp 1,5 juta - Rp 3 juta untuk paket-paket satuan Rencana Keuangan, dan dari Rp 5 juta - Rp 50 juta untuk Rencana Keuangan Komprehensif.

Bagaimana memilih seorang FP?
FP dibagi dalam 2 kelompok besar, yaitu independen (hanya melakukan pelayanan kepada klien dan tidak melekat di sebuah perusahaan keuangan) dan dependen (melekat di sebuah institusi jasa keuangan, seperti bank atau asuransi). Saat ini sudah terbentuk IFPC (Independent Financial Planner Club) untuk membantu Anda membedakan FP.

Jadi, jika Anda merasa gaji sebulan tak pernah cukup, itulah saatnya Anda mendatangi seorang FP.
(Freddy Pieloor, CFP/Majalah Chic)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 7:57 am

DI PHK, KEHILANGAN IDENTITAS ATAU HARAPAN?
Rabu, 12/5/2010 | 08:53 WIB
KOMPAS.com — Ketika kondisi ekonomi meluluhlantakkan berbagai bisnis, pemutusan hubungan kerja atau PHK menjadi solusi paling aman bagi perusahaan. Lantas, apakah kehilangan pekerjaan membuat Anda kehilangan identitas atau bahkan harapan? Maklum, tak sedikit karyawan yang membanggakan pekerjaan sebagai identitas diri. Bahkan saat mengenalkan diri, perusahaan tempat bekerja sering kali disebut lebih awal daripada nama sendiri.

Career Coach Rene Suhardono mengungkapkan, dalam karier dikenal siklus yang harus dilalui saat seseorang diberhentikan, apa pun alasannya.
"Siklus ini meliputi perasaan denial karena tidak percaya hal ini bisa terjadi. Marah karena ditinggalkan perusahaan atau loyalitas tidak dipandang. Syok karena tidak siap. Mati rasa karena tidak punya pilihan lain. Dan putus asa karena takut konsekuensi hidup selanjutnya," kata Rene dalam bukunya, Career Snippet (rangkaian buku Your Job is Not Your Career), yang diterbitkan oleh Literati.

Bagaimana merespons siklus ini atau menghadapi situasi sulit saat di-PHK adalah lebih penting. Rene menyebutkan caranya.
1. Menciptakan kesadaran
Sadari letupan emosi dalam pikiran dan jangan dilawan. Sadari saat sedang marah, kecewa, malas, atau emosi lainnya. Peningkatan kesadaran ini memberi peluang terjadinya rekonsiliasi emosi dalam pikiran.

2. Penerimaan
Memang tidak mudah menerima dengan besar hati. Tak perlu lagi mengatakan, "Kalau saja dulu..." atau kalimat lain yang bernada penyesalan. Proses penyembuhan diri dimulai sejak kenyataan diterima, dengan kebesaran hati.

3. Berpikir positif
Jalani dan nikmati prosesnya. Mencoba membangkitkan semangat dalam diri dengan selalu berpikir dan bertindak positif. Toh selalu ada pilihan, bukan?

4. Jangan bersedih
Yakini bahwa Anda spesial dan memiliki peran tertentu yang ditujukan secara khusus pada diri Anda. Pikiran seperti ini bisa membantu mengubah kesedihan menjadi rasa gembira dari sikap bersyukur.

5. Mengatur strategi
Evaluasi kembali jaringan pertemanan yang Anda miliki. Kenali lagi passion, pahami kekuatan diri, dan kemampuan serta keterampilan Anda. Fokus pekerjaan bukan sekadar mengisi posisi kosong, melainkan pada manfaat keberadaan Anda. Hidup Anda kini bukan sekadar mencari uang, jabatan, atau fasilitas.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 7:59 am

UANG "LAKI LAKI" PERLUKAH ISTRI TAHU?
Selasa, 4/5/2010 | 10:14 WIB
KOMPAS.com — Sebenarnya istilah "uang laki-laki" untuk menggambarkan jatah suami untuk keperluan pribadinya. Jatah ini bisa dipotong langsung dari gajinya sebelum disetorkan ke istri atau penghasilan lain di luar gaji bila gaji ini seluruhnya ke istri. Bisa bonus perusahaan, kerja part time, mengajar, dan usaha-usaha lain yang mendatangkan uang.

Boleh-boleh saja bila suami mempunyai jatahnya sendiri. Bukankah mereka berhak menggunakan sebagian hasil kerja keras mereka untuk keperluan pribadi? Misalnya untuk melakukan hobinya, sesekali hang out bersama kolega, mengambil kursus tambahan, dan lain sebagainya. Ada juga suami yang menggunakan uang laki-lakinya untuk tabungan pribadi, investasi saham, cadangan untuk kebutuhan di luar yang sudah direncanakan, dan sebagainya.

Loyalitas dan "kekitaan"
Meskipun wajar, keberadaan uang ini tetaplah harus memerhatikan kepentingan rumah tangga tanpa mengorbankan kebutuhan istri dan anak-anak. Dalam pelaksanaannya, sering kali ditemui adanya rasa ego pada diri suami karena menganggap dirinya memiliki power atas pengaturan uang. Lantas "menjatah" uang tersebut pada pasangannya untuk kebutuhan-kebutuhan rumah tangganya. Sementara untuk dirinya sendiri, suami menjatah dirinya sendiri kelewat besar sehingga kebutuhan rumah tangga lainnya pas-pasan bahkan kurang. Atau, uang selalu habis tanpa memiliki tabungan.

Pandangan bahwa jatah "uang lelaki" harus lebih besar karena suamilah yang menghasilkan uang jelas tidak benar. Dalam hal ini suami tidak melihat bahwa istri, meski tidak bekerja sekalipun atau menghasilkan uang, mempunyai kontribusi untuk rumah tangga tersebut. Tentunya effort pasangan sulit diukur nilainya dengan uang. Jadi, pelibatan istri untuk menentukan berapa besaran pembagian yang tepat tentunya amat dihargai.

Konflik bisa dihindari bila suami menyadari adanya loyalitas dan "kekitaan" dalam rumah tangga. Loyal di sini artinya adalah ada tanggung jawab suami untuk mengedepankan kebutuhan keluarga. "Kekitaan" dimaksudkan agar penjatahan ini sepengetahuan, lebih baik lagi melibatkan pasangan.

Misalnya, istri mengetahui bahwa suami memegang uangnya sendiri dengan besaran 10-20 persen dari penghasilannya Atau adanya kesepakatan, semua gaji ditransfer ke istri, tetapi suami berhak atas jerih payah di luar gaji. Apakah jumlah jerih payah ini harus diketahui istri, lagi-lagi bergantung pada kesepakatan. Ada istri yang menganggap tidak perlu karena toh semua gaji sudah menjadi haknya, tetapi ada juga yang menuntut ingin tahu jumlahnya meskipun tetap menganggap itu hak suami.

Tentunya timbul pertanyaan, apakah jumlah dan keberadaan "uang lelaki" harus diketahui istri? Bila mengetahui prinsip loyalitas dan "kekitaan" yang disebutkan di atas, tentunya istri perlu tahu. Hal ini juga akan meminimalisasi konflik. Dikhawatirkan, bila istri suatu hari mengetahuinya, dirinya bisa merasa sakit hati. Mengapa? Istri merasa suaminya tidak mempunyai kepercayaan pada dirinya karena berahasia dalam soal uang. Ini akan menyakitkan istri yang pada akhirnya akan merembet ke hal-hal lain, termasuk kepuasan hubungan suami-istri.

Narasumber: Roslina Verauli, MPsi, dari Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta
(Dedeh Kurniasih/Tabloid Nakita)
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 8:01 am

MAU PINDAH KERJA? YAKIN?
Jumat, 30/4/2010 | 12:54 WIB
KOMPAS.com - Tak ada suatu hal pun di dunia ini yang sempurna. Kita semua tahu itu. Setiap hal pasti ada positif dan negatifnya. Begitu pun tentang pekerjaan. Ketika seseorang mendiskusikan tentang kantor atau perusahaan tempatnya bekerja, kata "benci", "kecewa", dan setipenya seringkali terlontar. Padahal, asal diketahui, label semacam itu adalah label yang sangat kuat. Seseorang bisa membenci pekerjaannya karena banyak alasan. Jika Anda mendapati diri Anda mengeluhkan tentang pekerjaan, cobalah berhenti sejenak dan tanyakan lagi kepada diri Anda, apakah Anda benar-benar membenci pekerjaannya atau ada yang bisa Anda lakukan untuk memperbaikinya tapi belum terlaksana?

Berikut adalah 6 alasan umum yang membuat seseorang bisa melontarkan kata "benci" kepada pekerjaannya dan tawaran solusi yang bisa membantu meredakannya.

"Saya terlalu (brilian, berpengalaman, inovatif) untuk bekerja di sini"
Anda merasa diri Anda memiliki kualitas bagus, namun tempat kerja Anda ini kurang bisa jadi saluran yang tepat untuk kemampuan Anda. Jika Anda memang bisa melakukan pekerjaan yang lebih menantang atau memiliki tanggung jawab lebih, jangan berhenti mencarinya. Di lain pihak, jangan sampai hal itu menyurutkan upaya terbaik Anda untuk melakukan hal yang terbaik, karena Anda masih butuh rekomendasi dan jangan sampai mendapatkan surat pemecatan. Cobalah untuk menawarkan diri untuk melakukan tugas di luar tanggung jawab Anda yang sekarang agar bisa sekaligus menambah resume pada surat lamaran kerja Anda. Plus, waktu Anda di perusahaan akan lebih cepat berlalu jika Anda mulai mencoba melakukan hal di luar rutinitas.

"Tak ada yang menganggap saya penting"
Jika bakat, upaya, dan waktu Anda tersia-sia, Anda berhak untuk sebuah perubahan. Jika Anda memiliki kesempatan untuk bicara empat mata dengan bos Anda, entah itu untuk evaluasi hasil kerja atau sebuah diskusi yang terencana, cobalah jelaskan bahwa Anda khawatir Anda tak bisa menjalankan pekerjaan lebih baik di perusahaan di samping prestasi yang bisa Anda lakukan, lalu berikan contoh hasil kontribusi Anda. Ketika Anda membingkai isu sebagai masalah profesional, ilustrasikan pula bagaimana perusahaan bisa melihat bahwa apa yang Anda kerjakan itu cukup penting, asal tetap buat pembicaraan berkisar pada topik untuk pengembangan perusahaan, ketimbang keluhan Anda. Tak ada perusahaan yang mengeluarkan promosi atau kenaikan gaji hanya karena mereka pikir sudah waktunya. Perusahaan merespon pada hasil, bukan berdasarkan kalender.

"Untuk titel ini, gajinya di bawah standar"
Hal ini bisa berarti Anda tak sabar untuk mendapatkan kenaikan gaji. Pertama-tama, adalah hal yang lumrah untuk seseorang berpikir bahwa ia tidak memiliki gaji yang cukup. Untuk bisa mengetahui apakah hasil kerja Anda selama ini sudah diganjar dengan pendapatan yang pas dengan hasil yang didapat orang di luar perusahaan ini yang memiliki titel dan jabatan yang sama? Cari tahu, jika memang benar gaji Anda di bawah standar, cobalah untuk mendiskusikan kembali hal ini kepada atasan Anda. Tapi ingat, tak semua perusahaan memiliki dana cukup untuk membayar tenaga-tenaga kerjanya sesuai standar. Andalah yang bisa mengukur antara kesetiaan, kebutuhan, dan kepuasan kerja.

"Saya sudah tak peduli"
Apakah Anda benar-benar menyukai pekerjaan yang Anda lakukan ini? Jika Anda melakoni profesi yang sekarang hanya karena bisa membayar tagihan bulanan, bisa jadi Anda tak benar-benar menyukainya. Namun, jika Anda mengambil pekerjaan ini karena nilai lain yang terkandung, misal, kemungkinan untuk mengasah bakat, belajar hal baru, berinteraksi dengan banyak orang, maka kemungkinan Anda perlu mengingatkan diri Anda akan hal-hal tersebut. Apakah posisi lain di perusahaan yangs ama atau di tempat lain bisa memenuhi kebutuhan Anda dalam cara yang berbeda dari perusahaan ini? Jika Anda tahu bahwa ada kesempatan lain yang lebih cocok untuk Anda, carilah kesempatan itu. Jika Anda sudah tiba di titik comfort zone, pekerjaan Anda akan cenderung menurun, atasan Anda tidak senang, dan Anda hanya menghabiskan waktu diri sendiri, juga perusahaan.

"Saya benci si bos"
Anda dan si bos mesti bertemu di tengah. Berhadapan dengan bos adalah untuk mengetahui apa yang bisa Anda ubah dan mengetahui apa yang adalah hal permanen. Misal, seorang mikromanager bisa jadi lebih reseptif kepada kebutuhan Anda untuk sebuah kebebasan jika Anda duduk bersamanya dan membicarakan hal tersebut. Namun Anda tak bisa berekspektasi seseorang akan berubah 180 derajat hanya untuk memuaskan kemauan Anda. Sadarilah bahwa beberapa tipe manager akan mau mendengarkan Anda dan mengubah suasana kantor untuk menciptakan suasana yang lebih baik. Sebagian lainnya tak bisa mengubah gaya mereka seperti Anda sulit mengubah kebiasaan Anda. Karenanya, Anda harus menghitung dan memperkirakan kompromi semacam apa yang bisa Anda lakukan. Jika si bos tak pernah bisa menemukan titik tengah dengan Anda, maka sudah saatnya Anda mencari pekerjaan lain.

"Saya benci rekan kerja yang ada"
Kultur perusahaan membuat Anda gerah? Ketidakakraban dengan rekan kerja adalah masalah yang serupa masalah dengan bos. Untuk hal ini, Anda harus mau mencoba mengalah sedikit. Kadang, obrolan ringan sekilas saja bisa meredakan ketegangan, namun, ada waktu-waktu tertentu perbedaan tidak bisa ditengahi. Jika Anda mencintai pekerjaan Anda, Anda bisa mencoba melepaskan diri dari situasi rekan kerja yang menyebabkan Anda stres. Mungkin masalahnya bukan karena mereka yang berubah, tapi karena Anda yang sudah bertumbuh, dan hal-hal yang biasa Anda lakukan bersama teman-teman


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 10:04 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 17, 2010 11:44 am

AGAR TAK MENYESAL PINDAH KERJA
RABU, 9 FEBRUARI 2011, 16:32 WIB Siswanto, Febry Abbdinnah
VIVAnews - Mencari pekerjaan sering diibaratkan membeli kucing dalam karung. Anda tidak tahu apa yang akan Anda hadapi saat menjalani pekerjaan nanti. Oleh karena itu, Sebelum menyetujui sebuah kontrak kerja, pastikan terlebih dulu apakah Anda benar-benar menginginkan pekerjaan tersebut atau tidak. Caranya, lakukan analisis kecil-kecilan terhadap jenis pekerjaan Anda. Apa saja yang harus Anda analisis?

1. Keuntungan
Perhatikan keuntungan apa saja yang akan didapat jika bekerja di tempat kerja baru. Mulailah dengan menganalisis seberapa besar yang Anda dapatkan untuk tunjangan kesehatan, dana pensiun, dan apakah kompensasi tersebut cocok dengan kontribusi yang akan Anda berikan. Selain itu, Anda juga harus mempertimbangkan sistem reimburse, bonus, jam kerja, dan alat-alat yang Anda dapatkan untuk menunjang pekerjaan.

2. Lokasi dan transportasi
Perhatikan lokasi tempat kerja baru. Jika lokasinya berada jauh dari rumah Anda, bandingkanlah biaya transportasi pulang pergi dengan kemungkinan Anda dapat mencari tempat tinggal yang lebih dekat dengan harga murah. Jika tidak ada kemungkinan Anda untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih dekat, hitunglah biaya yang Anda keluarkan untuk transportasi. Pastikan biaya tersebut masih dapat ditutupi dengan gaji. Dan, perhitungkan juga apakah Anda masih dapat menabung atau tidak. Pastikan juga Anda termasuk orang yang tidak mudah mengeluh akibat kondisi jalan yang macet karena stres di pagi hari akibat kemacetan jalan dapat mempengaruhi mood bekerja. Selain itu, hitunglah berapa lama waktu yang Anda butuhkan untuk pergi dan pulang dari kantor.

3. Kesempatan berkembang
Tidak ada seorang pun yang mau hanya berujung pada satu posisi dan tidak memiliki kesempatan untuk mengembangkan kualitas hidupnya. Jadi, jangan sungkan untuk menanyakan pada interviewer Anda, apakah pekerjaan yang ditawarkan memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan potensi diri dan kesempatan untuk naik jabatan.

4. Lingkungan kerja
Anda akan bekerja selama 9 jam selama 5 hari setiap minggu, berarti Anda menghabiskan hampir seluruh waktu Anda di kantor. Karena itulah, ada baiknya pastikan apakah lingkungan kerja di kantor baru cocok dengan Anda. Lihatlah lingkungan kerja dari dress code, budaya kerja (menuntut kerja cepat atau dapat dilakukan dengan santai, hirarki atau lebih demokratis), apakah visi dan misi perusahaan cocok dengan Anda, kekeluargaan, kerja tim atau individu. Pasti akan sulit mengetahui lingkungan kerja dari interview yang sifatnya sangat formal. Namun, Anda dapat menanyakan pengalaman kerja pada pekerja yang sudah terlebih dahulu bergabung sebelum menerima tawaran kerja tersebut.

5. Keamanan kerja
Sebagai pekerja sangatlah penting untuk mengetahui sistem keamanan pekerja. Asuransi, apakah perusahaan tersebut mapan dan tidak memiliki tanda-tanda akan bangkrut adalah hal-hal yang harus Anda perhatikan. Tentu Anda tidak menginginkan mata pencaharian Anda hilang begitu saja akibat perusahaan yang pailit.

6. Di mana Anda akan berada sepuluh tahun mendatang?
Jika semua telah Anda analisa, waktunya bertanya pada diri Anda sendiri. Apa yang Anda ingin capai sepuluh tahun mendatang? Memang terdengar klise, namun ini penting untuk mengetahui apakah pekerjaan yang ditawarkan dapat membawa Anda pada tujuan hidup Anda.

Jika semua sudah cocok, maka Anda akan mencintai pekerjaan baru ini dan akan lebih mudah mencapai apa yang diinginkan. (pet) menjadi kegiatan yang menjemukan. Terimalah fakta bahwa bisa jadi Anda yang berubah dan menjauh dari teman-teman kerja, lalu putuskan apa yang bisa Anda lakukan untuk menghadapinya.


Last edited by gitahafas on Sun Mar 03, 2013 10:05 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 26Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 14 ... 26  Next
 Similar topics
-
» Model Baju Batik Seragam Keluarga Besar
» Skandal Kebohongan 'Mukjizat' Para Pendeta
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: