Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Perencanaan Keuangan Keluarga

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 14 ... 26  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Fri May 21, 2010 5:46 am

6 TRIK AGAR GAJI TAHAN LEBIH LAMA
Senin, 22 Februari 2010 | 16:30 WIB
KOMPAS.com - Anda pernah dengar istilah gaji tujuh koma? Maksudnya bukan gaji sebesar Rp 7 juta, tetapi, tanggal 7 sudah "koma". Tentu, hal ini bukan karena gaji orang tersebut di bawah upah minimum, tetapi karena gaya hidup besar pasak daripada tiang. Dasar dari koma yang Anda alami ini sebenarnya adalah pengelolaan keuangan yang salah. Robert Pagliarini, MSFS, CFP, penulis The Six-Day Financial Makeover dan presiden Pacifica Wealth Advisors, Inc., menawarkan sebuah sistem untuk mengontrol keuangan Anda:

Buat laporan pengeluaran
“Satu-satunya cara untuk mengawasi keuangan adalah dengan memeriksa, kemana perginya uang Anda," ujar Pagliarini. Catat apa saja pengeluaran Anda selama seminggu. Kebanyakan orang, menurutnya, tidak akan kaget melihat pengeluaran yang besar seperti sewa rumah, bensin, atau asuransi. Justru orang lebih syok ketika melihat banyaknya pengeluaran kecil-kecilan seperti nonton film, ngopi bareng teman, atau memborong DVD. Setelah diakumulasi, jumlahnya jadi banyak juga!

Terapkan manajemen amplop
Sebagian orang menjalani metode yang kerap dianggap kuno ini. Tiap minggu, ambil sejumlah uang dari ATM atau bank (sesuai dana Anda, atau kurang dari itu), lalu bagi-bagi sesuai kebutuhan. Belanjakan uang hanya dari dana tersebut selama seminggu. Anda pasti tak menyangka berapa banyak yang bisa Anda hemat dengan cara ini.

Tunda pengeluaran
Ada beberapa jenis pengeluaran yang dapat ditunda sementara. Misalnya, menunda liburan atau tukar tambah mobil baru. Dengan menunda pengeluaran seperti ini, Anda akan mendapat tambahan uang untuk keperluan yang lebih mendesak.

Batalkan
Batalkan pengeluaran yang tidak Anda manfaatkan. Misalnya, Anda mendaftar jadi anggota pusat kebugaran, tetapi tak pernah menggunakan keanggotaan Anda. Sudahlah, bersikap realistis saja. Jika olahraga memang belum jadi prioritas Anda, lebih baik memanfaatkan uang membership untuk keperluan lain. Hal yang sama bisa Anda terapkan untuk biaya ekstra saluran tambahan dari TV berbayar yang tak pernah Anda tonton.

Kurangi
“Setiap pengeluaran yang Anda batalkan adalah tabungan ekstra dalam dompet Anda," ujar Pagliarini. Misalnya Anda punya kebiasaan makan bersama keluarga besar pada Minggu siang. Anda bisa mengurangi tradisi ini dengan makan bersama hanya dua minggu sekali. Cara lain tetap makan bersama tiap minggu, namun dengan memilih restoran yang tidak begitu mahal.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:11 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon May 24, 2010 7:01 pm

BILA KESULITAN KEUANGAN
Senin, 24 Mei 2010 | 08:56 WIB
KOMPAS.com — Kita dapat mengalami kesulitan keuangan bila kehilangan pekerjaan, sakit, bercerai, terjerat utang, gagal berbisnis, dan lainnya. Kesulitan keuangan dapat memunculkan rasa cemas, marah, panik, bahkan menyebabkan kita terpuruk karena pengelolaan uang yang buruk.
Hal pertama yang harus diupayakan adalah tetap tenang. Hanya dengan tetap tenang kita dapat mengambil keputusan secara baik dan membantu anggota keluarga lain untuk dapat mengatasi situasi dengan baik. Kehilangan penghasilan memengaruhi semua. Orang dewasa mungkin sangat tertekan dan sibuk dengan kekacauan perasaannya sendiri, lupa bahwa yang terjadi juga memengaruhi anak-anak.

Apa pun yang terjadi, anak memerlukan keamanan emosional dari orang dewasa di sekitarnya. Orang dewasa mungkin berusaha menyembunyikan keadaan sebenarnya dengan maksud untuk melindungi anak-anak. Namun, anak-anak adalah pengamat yang baik. Mereka akan menangkap adanya sesuatu yang tidak beres, apalagi bila orang dewasa di sekitarnya terlihat tegang, murung, atau cepat marah. Bisa jadi mereka akan mengambil kesimpulan-kesimpulan yang salah mengenai apa yang sesungguhnya terjadi dan menyalahkan diri.

Karena itu, lebih baik menjelaskan keadaan secara terbuka kepada semua anggota keluarga. Anak memperoleh penjelasan sesuai dengan tahapan perkembangannya, dengan tujuan untuk membuatnya mengerti tanpa harus terbebani oleh kekhawatiran dan rasa salah berlebihan. Orangtua juga perlu mendengarkan suara anak: kekecewaan, kekhawatiran, dan rasa malu karena kondisi yang berubah.
Mungkin kita tidak ingin membahas hal buruk yang terjadi, tetapi kadang kala itu diperlukan untuk meringankan beban semua: meringankan beban orangtua, membantu anak mengerti apa yang sebenarnya terjadi, sekaligus dapat digunakan untuk menguatkan kerja sama dalam keluarga.

Menetapkan prioritas
Hal penting kedua adalah menetapkan prioritas. Orangtua perlu bekerja sama meninggalkan egoisme untuk menetapkan prioritas bagi keluarga, misalnya pendidikan anak dan makanan bergizi yang lebih ekonomis. Hal-hal lain tidak lagi menjadi prioritas, bahkan bila perlu dihilangkan dari daftar, misalnya anggaran untuk rokok, baju baru, atau koleksi barang sebagai hobi.

Diperlukan pengetatan pengeluaran dari anggota keluarga: ayah, ibu, hingga anak. Misalnya, mulanya naik taksi sekarang naik angkot atau membeli produk-produk rumah tangga yang lebih murah. Ini merupakan saat untuk mendidik anak bersedia berkorban dan hidup sederhana, yang tentu harus kita contohkan sendiri melalui perilaku kita. Anak yang sudah cukup besar dapat membantu orangtua untuk mengawasi pengeluaran rumah tangga, mencari diskon-diskon khusus, atau memikirkan ide-ide kreatif pengelolaan uang.

Hubungan dengan keluarga
Saat terpuruk, kita mungkin jadi enggan bergaul, lalu menjauh dari yang lain karena malu. Kita justru tetap perlu menjalin hubungan baik dengan keluarga dan teman dekat karena mereka dapat memberikan dukungan sosial saat kita mengalami kesulitan. Kita dapat menceritakan kesulitan yang sedang dihadapi dan meminta mereka memberikan dukungan emosional. Bila situasi sedemikian buruknya, mungkin kita harus meminta bantuan dari mereka, misalnya meminjam rumah sementara waktu ketika kita tidak mampu membayar kontrak rumah atau menitipkan anak untuk berangkat sekolah bersama-sama guna menghemat uang transpor.

Mempertahankan perilaku positif
Saat tertekan, sangat mungkin kita terjebak dalam perilaku yang malah merugikan diri sendiri, seperti merokok, makan, mengonsumsi obat berlebihan, membeli barang yang tidak perlu, dan berutang. Sangat penting untuk berhenti berutang, termasuk melalui kartu kredit, dan fokus hanya pada pengeluaran yang paling prioritas.

Bila perlu, kita meminta teman yang kita percaya untuk membantu mengawasi perilaku kita. Berutang dan tidak mampu membayar akan menurunkan penghargaan kita kepada diri sendiri. Rasa malu dapat dihindari bila kita bertindak positif dan bertanggung jawab. Bila kita tidak menunjukkan perilaku positif, bagaimana teman-teman dekat kita akan percaya dan bersedia memberikan dukungan? Situasi sulit kadang membuat kita jadi lebih kreatif. Kita dapat membersihkan rumah, mengecek barang yang dapat dijual. Ada pula yang mungkin dapat dibersihkan, diperbarui, dan digunakan lagi. Bila memungkinkan, daripada naik mobil, anak yang lebih dewasa dapat diajak naik sepeda, menjadi trendsetter "bersepeda ke sekolah". Semua anggota keluarga juga dapat membawa bekal makan siangnya dari rumah.

Contoh bagi anak
Penting untuk terus kita ingat bahwa kita menjadi contoh bagi anak-anak mengenai bagaimana mereka dapat menghadapi dan mengatasi kesulitan hidup. Bila kita tetap tenang dan mampu berpikir positif, anak akan belajar itu pula dari kita. Perlu ditekankan bahwa situasi sulit hanya sementara saja dialami dan orangtua sedang melakukan langkah-langkah terbaik untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga.

Anak-anak perlu dibantu melihat sisi-sisi positif dari pengalaman hidup, dengan fokus pada kekuatan diri dan keluarga, serta kasih sayang dan kerja sama yang kuat dari anggota masing-masing. Pengalaman ini juga dapat membantu anak untuk mengembangkan nilai-nilai hidup yang lebih mendasar daripada sekadar mengutamakan penampilan dan materi. Pada akhirnya, kesulitan hidup membantu kita mengerti dan lebih menghormati apa yang terjadi kepada orang lain, yang mungkin berada dalam situasi lebih terpuruk daripada kita.

KRISTI POERWANDARI, PSIKOLOG
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon May 31, 2010 4:26 pm

MEMBANDINGKAN GAJI CUMA BIKIN "Bete"
Senin, 31 Mei 2010 | 13:42 WIB
KOMPAS.com — Tak bisa dimungkiri, terkadang timbul penasaran ingin mengetahui berapa gaji yang diterima teman atau kolega di kantor. Sayangnya, sering kali ketika rasa penasaran terjawab, yang timbul adalah panas hati, apalagi kalau ternyata gaji si A yang performanya di bawah kita ternyata bergaji lebih besar.
Dalam sebuah analisa terhadap survei yang dilakukan terhadap 19.000 orang di 24 negara Eropa diketahui, tiga perempat responden mengatakan bahwa membandingkan gaji dengan orang lain adalah yang penting. Namun, mereka juga mengakui bahwa hal itu sering mendatangkan kekecewaan.

Para peneliti dari Paris School of Economic yang melakukan analisa tersebut menyebutkan, ketika seseorang mendapati bahwa dirinya berada di level gaji lebih rendah, pada umumnya akan merasa depresi dan rendah diri. Respons tersebut muncul baik pada responden pria maupun wanita. Yang menarik, rasa iri yang timbul ternyata lebih besar jika membandingkan dengan teman daripada ketika dengan teman sekerja. Hal ini barangkali terjadi karena ketika mengetahui gaji kolega kita lebih tinggi, muncul harapan cepat atau lambat gaji kita juga akan merangkak naik.

Kebiasaan membandingkan gaji ini rupanya lebih sering dilakukan para pekerja di negara miskin dibandingkan dengan pekerja dari negara maju. Mereka yang pendapatannya rendah juga suka membandingkan gajinya dengan orang yang lebih makmur. "Tadinya kami mengira orang kaya akan lebih sering membandingkan gaji, tetapi ternyata justru mereka yang pendapatannya lebih rendah," kata Profesor Andrew Clark, ketua peneliti. "Terlalu sering membandingkan gaji sebenarnya merugikan diri sendiri karena kita akan merasa bahwa dunia ini tidak adil," katanya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon May 31, 2010 4:27 pm

RENCANAKAN KONDISI KEUANGAN MASA DEPAN
Kamis, 29 April 2010 | 18:34 WIB oleh Harris Turino
Sudah menjadi satu fenomena yang umum bahwa banyak di antara rekan-rekan kita, ataupun orang-orang di sekitar kita yang sering mengeluh bahwa kondisi keuangannya morat-marit. Jumlah utangnya menggunung dan melebihi pendapatannya, bahkan melebihi jumlah asset yang dimilikinya. Dalam kondisi seperti ini yang biasanya menjadi kambing hitam adalah kecilnya jumlah pendapatan yang dimilikinya.

Padahal akar permasalahan yang sebenarnya bukan berada pada sisi pendapatan saja, tetapi kegagalan mengelola keuangan. Banyak di antara kita yang tidak memiliki perencanaan keuangan, bahkan tidak pernah berpikir untuk merencanakan kondisi keuangan, apalagi di masa mendatang. Perencanaan keuangan sebenarnya merupakan aktivitas mutlak yang harus dilakukan oleh setiap orang dan inilah yang akan membedakan antara kelompok orang-orang yang selalu terjebak oleh kesulitan likuiditas dan kelompok orang-orang yang bisa menikmati hidupnya. Tulisan ini akan mencoba untuk membahas secara sederhana, bagaimana seseorang harus mulai merencanakan keuangannya.

Mendiagnosa kondisi keuangan
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam penyusunan rencana keuangan adalah mendiagnosa kondisi keuangan pribadi kita saat ini. Yang perlu diperhatikan dalam mendiagnosa kondisi keuangan adalah besarnya total pendapatan, total pengeluaran, besarnya aset dan kewajiban hutang yang kita miliki.

Secara umum jelas bahwa jumlah total pendapatan tidak boleh melebihi total pengeluaran. Bagi orang yang memiliki pendapatan tetap tiap bulan maka dengan mudah bisa diperkirakan besarnya total pendapatan dalam satu tahun, termasuk pendapatan non rutin seperti tunjangan hari raya dan bonus. Maka pengeluarannya harus diatur tidak melebihi total pendapatan rutin yang dimilikinya.

Pendapatan non rutin tidak boleh dialokasikan untuk menanggung total pengeluaran, tetapi harus dialokasikan untuk tujuan investasi atau memperkuat dana darurat. Sedangkan bagi orang yang memiliki jenis pendapatan variabel (tidak tetap) maka total pengeluarannya tidak boleh melebihi 80% rata-rata pendapatannya.
Pos berikutnya yang perlu dicermati adalah asset. Kita sering sekali keliru mendefinisikan tentang aset dalam kaitannya dengan perencanaan keuangan.

Aset sebenarnya adalah segala sesuatu yang memberikan hasil atau mendukung aktivitas produktif kita. Contoh yang sederhana adalah rumah yang kita tinggali dan kendaraan yang kita pakai bisa digolongkan ke dalam aset karena mendukung aktivitas produktif kita, sedangkan villa, stereo set, gitar akustik, tongkat golf dan kendaraan kedua yang jarang kita pakai, jelas bukan merupakan kategori aset. Tabungan dan investasi adalah salah satu ujud nyata aset yang memberikan imbal hasil.

Utang adalah hal yang jamak dilakukan dan sebenarnya bukan hal yang perlu ditakuti. Utang pada hakikatnya adalah menambah daya beli kita dengan menarik pendapatan kita di masa mendatang ke masa kini. Yang perlu dicermati dalam hal utang adalah jenis utang dan besarnya kewajiban cicilan yang harus kita tanggung. Kredit rumah dan kendaraan produktif jelas merupakan jenis utang yang wajar dan bisa ditoleransi, tetapi utang kartu kredit adalah jenis hutang yang mutlak harus dihindari. Tingkat bunga utang kartu kredit rata-rata mencapai 35 – 48 persen per tahun dan ini jelas membebani likuditas keuangan kita.

Mengingat besarnya tingkat bunga kartu kredit, maka penggunaan kartu kredit harus diwaspadai sebatas demi kepraktisan dan kenyamanan saja dan bukan untuk meningkatkan daya beli kita dengan cara berutang. Dalam hal mengelola utang, besarnya total kewajiban pembayaran cicilan utang kita tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Bila kita sudah terjebak pada kondisi kewajiban membayar hutang yang melebihi ambang batas tersebut, maka retrukturisasi utang mutlak harus dilakukan dengan memprioritaskan pada utang-utang yang memiliki bunga tinggi, seperti utang kartu kredit, kredit tanpa agunan dan sejenisnya.

Memiliki Dana Darurat
Langkah kedua dalam penyusunan rencana keuangan adalah memeriksa ketersediaan dana darurat yang kita miliki. Dana darurat adalah dana yang sewaktu-waktu harus tersedia bila muncul pengeluaran yang tidak terduga. Banyak orang tidak memikirkan ketersediaan dana darurat dalam perencanaan keuangan mereka, sehingga ketika muncul pengeluaran tidak terduga maka yang sering dilakukan adalah menambah kemampuan daya beli dengan menciptakan hutang, dan biasanya jenis utangnya adalah utang dengan tingkat bunga tinggi seperti hutang kartu kredit dan kredit/pinjaman tanpa agunan.

Padahal jelas bahwa utang sebenarnya sama sekali tidak boleh dijadikan andalan untuk menutup pengeluaran tidak terduga ini. Di sinilah pentingnya ketersediaan dana darurat, sehingga kita tidak terjebak lilitan utang berbunga tinggi. Besarnya dana darurat yang harus dimiliki dalam perencanaan keuangan bervariasi, mulai dari 5 sampai 20 kali total pengeluaran bulanan kita, tergantung dari beban yang kita tanggung. Bila kita masih single maka cukup memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran, sedangkan semakin banyak anggota keluarga kita, maka semakin besar dana darurat yang harus kita siapkan.

Patokan yang sederhana adalah tiap anggota keluarga yang menjadi tanggunan kita harus memiliki dana darurat 5 bulan total pengeluaran. Sehingga bila kita sudah menikah dan memiliki 2 anak, maka total besarnya dana darurat yang kita miliki adalah 20 kali total pengeluaran bulanan kita. Dana darurat ini bukan termasuk kategori investasi, tetapi tetap dana darurat ini harus diinvestasikan agar berkembang.

Pilihan jenis investasi untuk dana darurat adalah investasi yang sifatnya likuid dan memiliki tingkat risiko investasi yang relatif kecil. Investasi pada dana darurat bukan untuk tujuan pertumbuhan tetapi lebih pada ketersediaan sewaktu-waktu dan tidak lekang oleh inflasi. Harus disadari bahwa besarnya dana darurat ini harus meningkat sejalan dengan meningkatnya taraf hidup kita.

Membuat Daftar Pengeluaran
Langkah ketiga dalam penyusunan rencana keuangan adalah membuat daftar pengeluaran. Pada tahap ini yang mutlak dilakukan adalah memeriksa jenis pengeluaran yang selama ini kita jalani. Secara garis besar jenis pengeluaran itu bisa dibagi menjadi empat bagian, yaitu membayar kewajiban hutang, pengeluaran rutin seperti biaya rumah tangga, listrik, telepon, dan lain-lain, investasi dan pengeluaran pribadi.

Seperti sudah dijelaskan pada langkah pertama di atas, besarnya kewajiban membayar utang (cicilan) tidak boleh melebihi 30 persen dari total pendapatan kita. Dan ini harus ditempatkan pada prioritas pertama dari sisi pengeluaran. Menunda kewajiban pembayaran utang hanya akan menimbulkan peluang terciptanya utang baru di masa depan yang memiliki tingkat bunga lebih tinggi. Prioritas kedua dalam pengeluaran adalah mengelola pengeluaran rutin.

Harus dibedakan secara jelas antara pengeluaran rutin dan pengeluaran pribadi. Pengeluaran rutin adalah jenis pengeluaran yang mutlak harus dilakukan untuk mendukung aktivitas produktif kita, tidak bisa dihemat tanpa menurunkan kualitas hidup dan tidak bisa dihindari, sedangkan pengeluaran pribadi adalah jenis pengeluaran yang harus dikorbankan bila terjadi penurunan pendapatan. Besarnya pengeluaran rutin harus dijaga pada kisaran 50 persen dari total pendapatan kita. Bila pengeluaran rutin sudah melebihi ambang batas 60 persen dari total pendapatan kita, maka kita tidak memiliki kesempatan untuk berinvestasi.

Akibatnya kita akan kehilangan kesempatan untuk memperbaiki kualitas hidup di masa yang akan datang. Jadi bila pengeluaran rutin sudah mendekati ambang batas, kita harus bekerja lebih giat lagi agar total pendapatan kita meningkat. Investasi juga harus menjadi prioritas dalam alokasi “pengeluaran” kita. Investasi ini berguna untuk meningkatkan kualitas hidup kita di masa yang akan datang. Investasi akan menambah aset yang kita miliki dan menjadi sumber pendapatan pasif.

Budaya investasi harus mulai dilakukan sejak dini, seberapa kecilpun pendapatan kita. Besarnya alokasi “pengeluaran” untuk investasi minimal adalah 10 persen dari total pendapatan kita. Agar kondisi ini tercapai, maka alokasi investasi bukan dari sisa pendapatan kita setelah dikurangi dengan pengeluaran, tetapi memang sudah dialokasikan begitu kita menerima pendapatan.

Perlu dipahami bahwa investasi tidak sama dengan menabung, karena menabung hanya memberikan tingkat pertumbuhan asset yang relatif sangat kecil. Semakin muda usia kita semakin besar bobot (persentasi) investasi kita di instrumen-instrumen investasi yang mampu memberikan tingkat pengembalian yang tinggi untuk mendukung masa depan keuangan kita.

Harus disadari bahwa investasi yang memberikan tingkat imbal hasil tinggi selalu memiliki tingkat risiko yang tinggi dan tingkat resiko tersebut harus tetap sesuai dengan karakteristik toleransi risiko yang kita miliki. Semakin mapan kondisi ekonomi kita, maka alokasi aset dalam bentuk investasi harus semakin besar, sampai pada gilirannya kita bisa mencapai kebebasan finansial bila hasil yang kita terima dari kerja asset investasi kita sudah melebihi atau paling tidak mendekati hasil kerja produktif kita.

Pengeluaran pribadi adalah satu-satunya jenis pengeluaran yang boleh dan harus dikorbankan ketika terjadi kenaikan persentasi pengeluaran di ketiga pos pengeluaran yang lainnya. Penundaan dan pengurangan pada pos pengeluaran pribadi tidak akan mengurangi kualitas hidup kita dan tidak membahayakan kondisi keuangan kita di masa yang akan datang.

Hal ini jelas berbeda apabila kita mengurangi alokasi pengeluaran kita pada ketiga pos prioritas pengeluaran yang pertama. Salah satu cara untuk mengendalikan pengeluaran pribadi adalah dengan membuka akun khusus di bank yang digunakan untuk mendukung pengeluaran pribadi ini dan akun ini hanya berisi sisa dari pendapatan kita bulan sebelumnya setelah dikurangi dengan total pengeluaran kita di ketiga pos pengeluaran prioritas yang tidak boleh diganggu gugat. Akun khusus inilah yang digunakan mendanai pengeluaran pribadi agar tidak menggerogoti ketiga pos pengeluaran prioritas. Dengan adanya akun khusus ini maka kita juga tidak perlu repot-repot untuk menghitung besarnya alokasi pengeluaran pribadi yang boleh dilakukan.

Setelah kita membenahi kondisi keuangan kita maka kita harus memasuki langkah keempat, yaitu merencanakan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang kita. Dalam menentukan tujuan keuangan jangka pendek dan jangka panjang harus jelas tergambar tujuan keuangan yang ingin dicapai dan kurun waktu untuk mencapainya. Target tujuan tentu saja harus realistis dan disesuaikan dengan kondisi kita. Target jangka panjang kemudian dipecah-pecah menjadi target-target jangka pendek dan strategi mencapai tujuan tersebut.

Salah satu faktor yang paling menentukan keberhasilan pencapaian tujuan keuangan adalah komitmen dan ketertiban kita mematuhi strategi yang sudah ditentukan. Perencana keuangan profesional dari dunia perbankan bisa dilibatkan untuk menata tujuan keuangan kita. Semoga tulisan ini memberikan inspirasi bagi kita untuk menata ulang dan memperbaiki kondisi keuangan pribadi kita. Selamat berinvestasi.

Harris Turino
Faculty Member Prasetiya Mulya Business School, Pelaku Bisnis dan Pengamat Pasar Modal serta Kandidat Doktor Manajemen Strategik Universitas Indonesia


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:11 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 03, 2010 10:10 am

5 ALASAN MENGAPA ORANG BISA HEMAT
Felicitas Harmandini | Dini | Kamis, 7 Juli 2011 | 11:43 WIB
KOMPAS.com - Hidup hemat akan tampak mengerikan, terutama bagi mereka yang terbiasa hidup untuk hari saja. Ketika seorang teman bertanya mengapa Anda pulang-pergi ke kantor setiap hari dengan menumpang taksi, Anda menjawab, "Setelah kesibukan yang benar-benar membuat stres, tak ada salahnya kan saya memanjakan diri?" Hal itu memang tidak salah. Tetapi perlukah dilakukan setiap hari? Memilih sarana transportasi hanya menjadi salah satu contoh dari keputusan seseorang saat mengelola keuangannya. Bagaimana Anda menggunakan uang untuk makan, bersenang-senang, atau mengisi waktu, akan mempengaruhi kondisi keuangan Anda secara total. Jangan terkejut bila di akhir bulan Anda merasa selalu kehabisan uang. Untuk itu, cobalah berkaca dari orang yang selalu hemat. Apa sih yang mereka pikirkan dengan memilih gaya hidup seperti ini? Selain karena bisa menabung lebih banyak, inilah yang mereka rasakan.

1. Kalau tidak hemat justru cemas
Orang yang hemat bukan berarti tidak mampu membeli sepatu yang mahal, atau makan di restoran fine dining. Tetapi mereka selalu berpikir, buat apa makan di restoran mahal kalau bisa makan di restoran kecil yang tak kalah enak? Kalau bisa naik kendaraan umum, mengapa harus naik taksi? Kalau mereka bisa berolahraga sendiri, untuk apa menyewa personal trainer? Orang lain mungkin tak mau repot hidup seperti ini, tetapi bagi orang yang hemat, sangat mengganggu bila harus mengikuti gaya hidup orang lain.

2. Sudah biasa hemat
Ada orang yang sudah dibiasakan hidup hemat. Tetapi bila Anda baru mau berusaha hidup hemat, itu juga baik. Orang yang hemat cenderung akan memilih sesuatu yang lebih murah. Kalaupun ia membeli sebuah barang mahal, benda tersebut benar-benar menjadi investasi baginya. Misalnya, membeli tas yang berkualitas dan akan memakai tas itu saja 10 tahun ke depan. Kalau Anda terbiasa ngopi di gerai kopi premium, mereka akan berpikir, "Segelas kopi dengan harga Rp 40.000 itu tidak masuk akal!"

3. Punya cara sendiri untuk bersenang-senang
Mereka tidak menghindari mal atau tempat-tempat hiburan, hanya tidak mengunjungi setiap akhir pekan. Mereka juga senang dengan kegiatan tawar-menawar harga di toko atau pasar tradisional. Di akhir pekan, mereka cukup bahagia dengan bermain dengan anak-anak di tempat tidur. Ingin nonton, mereka pilih nongkrong di depan TV saja sambil ngemil. Mal tidak selalu menarik bagi mereka. Berenang, bersepeda di taman kota di kompleks, melihat-lihat pameran flora dan fauna, atau berwisata kuliner di warung-warung yang bertanda "sudah dikunjungi Bondan Winarno" juga asyik buat mereka.

4. Tak suka repot
Bagi mereka, semakin sering membeli pernak-pernak -termasuk majalah, CD, DVD- sebenarnya hanya membuat rumah makin berantakan. Banyak pengeluaran enggak penting bukan saja menghambur-hamburkan uang, tapi juga merepotkan karena harus selalu membersihkan dan membereskan rumah dari pernak-pernik tersebut. Membeli sesuatu tentunya bukan sesuatu yang haram dilakukan, tetapi mereka cukup puas dengan apa yang mereka miliki.

5. Senang aja kalau bisa hemat
Dengan berhemat, mereka tetap bisa menikmati hidup sekaligus melihat saldo rekening tabungan semakin bertambah. Dan, itu menyenangkan. Mereka bangga dengan diri mereka karena tidak membuang-buang uang dan barang yang sudah dibeli tetapi tidak berguna. Jika orang lain gemar shopping, mereka juga puas karena barang-barang di rumah masih awet sehingga tidak perlu membeli yang baru.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 10:59 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Wed Jun 09, 2010 12:19 pm

CERMAT MENGELOLA KEUANGAN SAAT LIBURAN
Rabu, 9 Mei 2010
KOMPAS.com - Anda berencana bepergian bersama keluarga atau teman-teman di musim liburan ini? Yang perlu Anda persiapkan menjelang liburan nanti tentunya bukan hanya akomodasi dan lokasi wisata, tetapi juga keuangan. Enggak asyik kan, kalau Anda kehabisan uang saat liburan masih berjalan?
Anda bisa mengikuti tips mengatur anggaran liburan dan pengeluaran dari Visa, berdasarkan riset terhadap 7.500 pelancong di seluruh Asia Pasifik berikut ini:

1. Susun rencana dan anggaran liburan jauh sebelum keberangkatan. Untuk menghindari pengeluaran tak terduga ketika dalam perjalanan, rencanakan anggaran liburan dan lakukan identifikasi kegiatan dan pembelian yang menimbulkan alokasi dana yang besar, sehingga harga yang muncul tidak mengagetkan.
Di samping itu, pemegang kartu harus memberitahukan bank penerbit kartu masing-masing sebelum berangkat, untuk menghindari gangguan terhadap kartu Anda. Selalu ingat nomor PIN Anda, namun jangan menyimpannya di ponsel atau dompet. Untuk berjaga-jaga, buat pembayaran otomatik untuk kartu kredit, dan pastikan Anda memiliki dana cukup dalam rekening debit Anda. Menurut hasil riset Visa travel, para pelancong memerlukan waktu rata-rata 14 minggu untuk merencanakan liburan mereka. Tiga perempat dari responden juga mengatakan bahwa mereka lebih memilih untuk merencanakan dan memesan liburan secara online. Internet merupakan sumber yang sangat bermanfaat untuk mendapatkan informasi perjalanan dan mengecek cara-cara pembayaran yang tersedia di tempat tujuan liburan.

2. Cek penawaran untuk tujuan liburan Anda. Untuk merencanakan anggaran perjalanan dengan lebih lebih rinci, para pelancong perlu mengecek promo-promo lokal di (negara) tempat tujuan mereka, mulai dari tinggal di hotel gratis sampai dengan diskon di restoran-restoran. Dengan demikian, Anda dapat menikmati akses terhadap promo tersebut namun dengan biaya yang hemat. Untuk Anda pemegang kartu Visa, dapatkan informasi mengenai biaya-biaya liburan dengan mengunjungi www.visagoexplore.com.

3. Hindari membawa uang tunai dalam jumlah banyak. Semakin sedikit uang tunai yang dibawa semakin sedikit risikonya. Keamanan pribadi semakin meningkat dengan menggunakan metode-metode pembayaran elektronik Visa seperti kartu debit, kartu kredit, atau kartu pra-bayar (prepaid card).
Hampir satu dari dua orang responden (45 persen) mengatakan bahwa alasan utama memilih menggunakan kartu pembayaran elektronik daripada uang tunai atau cek perjalanan untuk transaksi di luar negeri adalah untuk memperkecil risiko. Hanya 4 persen dari para pelancong berpendapat bahwa membawa uang tunai itu aman. Jika uang tunai hilang atau dicuri, uang tersebut akan hilang untuk selamanya sedangkan kartu Visa dapat diganti dengan menelepon bank penerbit.
Pelancong yang mencari cara cermat untuk membayar akan merasa lebih nyaman mengetahui bahwa Visa diterima di jutaan lokasi merchant di dunia.

4. Gunakan ATM untuk cara aman, nyaman, dan mudah ke anggaran. Untuk menghindari membawa uang tunai dalam jumlah besar, dua per tiga (64 persen) dari responden memilih untuk mengambil uang tunai dari ATM di daerah tujuan mereka. Terdapat lebih dari 1,6 juta ATM berlogo Visa di dunia, termasuk bandara-bandara utama, menjadikan lebih mudah dan nyaman untuk mengakses anggaran. Pemegang kartu dapat mencari ATM berlogo Visa atau PLUS untuk memastikan bahwa kartu pembayaran internasional diterima.

Ellyana Fuad, Country Manager Indonesia Visa, mengatakan, “Kartu menyediakan mata uang tunggal yang diterima secara global, dan pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah ketika bepergian, dan tidak perlu menarik uang tunai dalam jumlah besar sebelum melakukan perjalanan. Dalam waktu 24-jam ATM tersedia di bandara-bandara dan tujuan wisata utama. Pelancong dapat mengakses uang mereka dengan mudah dan memperoleh mata uang lokal dengan nyaman.”

5. Simpan rincian kartu yang penting dan nomor telepon darurat di tempat yang aman dan mudah dibawa. Apabila terjadi hal yang tidak diharapkan, para pelancong bisa menelepon Visa Global Customer Assistance Service (GCAS) untuk membatalkan kartu-kartu dan mengurus pergantiannya dengan cepat. Sebuah kartu pembayaran Visa juga memberikan proteksi bebas tanggung jawab (zero liability) terhadap pembelian-pembelian yang tidak sah (unauthorized). Hal ini lebih menguntungkan jika dibanding menggunakan cek perjalanan atau uang tunai.

Ketika kembali dari liburan, periksa laporan pembayaran kartu dan segera menghubungi bank penerbit jika ada biaya-biaya yang tidak benar atau mencurigakan.

Sumber: Visa
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Thu Jun 10, 2010 10:38 am

DANA LIBURAN
Minggu, 20 Juni 2010 | 03:52 WIB - Kompas cetak - Adler Haymans Manurung praktisi keuangan
Liburan pasti membutuhkan biaya. Besar kecil biaya tergantung liburan yang ingin dilakukan. Sering kali orangtua membuat liburan tanpa direncanakan sehingga tidak disangka dananya kurang. Oleh karena itu, perlu dibuat perencanaan liburan sehingga diketahui dana yang dibutuhkan. Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah menentukan tujuan liburan dan target yang ingin diperoleh dari liburan. Biasanya keluarga menginginkan liburan sambil melakukan aktivitas lain. Misal, keluarga yang berasal dari Tapanuli, Sumatera Utara, berlibur ke Danau Toba dan beberapa hari sebelumnya melakukan aktivitas adat di tanah leluhurnya.

Tempat liburan dan aktivitas liburan perlu direncanakan secara rinci supaya liburan bermanfaat. Sebaiknya dipilih tempat liburan yang berbeda setiap tahun agar ada variasi dan anak-anak mendapat beragam pengalaman. Liburan bisa juga menghilangkan rasa bosan di rumah atau mencari suasana baru. Artinya, berlibur tidak harus ke daerah yang jauh dari rumah. Perlu juga dirancang aktivitas liburan yang memberikan arti kepada keluarga sehingga bisa merasakan suasana yang berbeda. Liburan juga tidak harus memakan waktu panjang, misalkan dua minggu. Masa tiga hari juga dapat dikatakan liburan apabila memberikan manfaat kepada keluarga. Jika perlu, liburan dapat dilakukan bersama keluarga besar supaya ada bahan cerita anak-anak kalau sudah besar nantinya. Semua aktivitas liburan sebaiknya didiskusikan dengan anggota keluarga agar tercapai kesepakatan dan tidak ada yang merasa idenya tidak dipakai.

Biaya liburan
Tahap kedua, menentukan besarnya biaya liburan. Biaya pertama yang harus dihitung yaitu biaya transportasi dan penginapan. Biaya transportasi dengan pesawat terbang lebih besar dari biaya menggunakan transportasi yang lain. Jika ingin memberikan pengalaman yang menarik, keluarga dapat berlibur dengan menggunakan transportasi mobil sendiri. Siangnya mereka berjalan melihat pemandangan dan malamnya menginap di hotel. Jangan memaksakan pada tempat yang wah jika belum pada waktunya.

Biaya yang mungkin dikeluarkan yaitu biaya makan dan jajan harian selama berlibur. Sebaiknya keluarga sudah membuat patokan apa yang akan dikonsumsi selama liburan dan rata-rata pengeluaran per orang selama liburan. Biaya liburan sebaiknya tidak memasukkan biaya pembelian peralatan. Informasi tentang besarnya biaya liburan dapat diperoleh dari perusahaan travel dan lembaga yang mempersiapkan liburan. Apabila keluarga bisa mendapatkan besar biaya tahun lalu, besarnya biaya untuk tahun berikutnya ditambahkan sekitar 30 persen sehingga keluarga dapat merencanakan biaya liburan tahun berikutnya.

Tahap ketiga, mendapatkan dana liburan. Tahapan ini dapat dilakukan apabila sudah jelas besar biaya liburan yang akan dikeluarkan. Biaya liburan sebaiknya menggunakan dana yang diperoleh keluarga juga dari dana kaget. Artinya, urutan pertama untuk dana liburan diperoleh dari pendapatan yang tidak biasanya diperoleh keluarga. Misalkan keluarga mendapatkan dana atas komisi aktivitas yang tidak direncanakan. Adanya liburan tidak mengganggu perencanaan keuangan keluarga.

Apabila tidak ada dana yang diperoleh dari pendapatan yang tidak biasanya didapat, keluarga perlu melakukan persiapan. Oleh karena itu, persiapan liburan tahun ini selayaknya merupakan rencana liburan tahun lalu setelah pulang liburan. Artinya, biaya liburan tahun ini sudah dipersiapkan setiap bulannya selama satu tahun terakhir. Apabila dana liburan sebesar Rp 15 juta dalam liburan ini, keluarga harus sudah menabung sekitar Rp 1.250.000 setiap bulan. Jika keluarga sudah mempersiapkan dana tersebut, keluarga tidak perlu mengganti daerah liburan terkecuali biayanya sama atau lebih kecil. Apabila biaya yang lebih besar, keluarga bisa merencanakan pada liburan tahun berikutnya.

Keluarga juga bisa mempersiapkan dana liburan dari hasil investasi yang dimiliki. Dana yang diinvestasikan tersebut dirancang agar bisa memberikan tingkat pengembalian sebesar biaya liburan tahun ini. Keluarga perlu membuat perencanaan yang matang agar liburan terlaksana dan biaya yang dibutuhkan tersedia. Lebih penting liburan harus bermanfaat dan membahagiakan keluarga. Sesuaikan biaya liburan dengan isi kantong. Jangan lebih besar pasak daripada tiang. Kita harus bersyukur karena masih bisa menikmati liburan.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 9:29 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Sat Jun 12, 2010 10:48 am

MEMBUAT UANG "BEKERJA" UNTUK ANDA
Senin, 14/6/2010 | 09:02 WIB
KOMPAS.com - Bukan hal yang keliru kalau ada yang beranggapan bahwa besarnya penghasilan tidak selalu berbanding lurus dengan besarnya kekayaan. Seseorang yang penghasilannya di atas Rp 10 juta sebulan, misalnya, bisa saja kehidupan keuangannya lebih ”susah” ketimbang karyawan yang penghasilannya sebesar Rp 5 juta per bulan. Kok bisa begitu? Bisa saja. Sebab, berapa pun kecilnya penghasilan, sepanjang pengeluaran lebih rendah ketimbang pemasukan, berarti memiliki cash flow positif yang bisa dipergunakan untuk meningkatkan kekayaan.

Di sisi lain, berapa pun besarnya penghasilan, jika pengeluaran lebih besar dibandingkan pemasukan, posisi keuangan akan defisit. Itu berarti sebagian kebutuhan akan dibiayai oleh utang. Dus, tidak ada sumber dana yang dapat dipergunakan untuk meningkatkan aset. Yang ada adalah penurunan kekayaan secara bertahap karena aset akan dipergunakan untuk pembayaran utang.

Oleh karena itu, tingkat kekayaan seseorang sebenarnya tidak diukur dari besarnya penghasilan, melainkan lebih bergantung pada karakter pengelolaan penghasilan. Singkatnya, berapa pun kecilnya penghasilan, tetap dimungkinkan menjadi kaya jika mau dan mampu melakukan inovasi dalam pengelolaan keuangan.

Apa itu inovasi keuangan? Sederhananya adalah melakukan hal yang berbeda dalam pengelolaan keuangan. Misal, jika orang kebanyakan menggunakan kartu kredit untuk berutang, dalam koridor inovasi keuangan, penggunaan kartu kredit adalah untuk memanfaatkan tenggang pembayaran sehingga Anda bisa menggunakan dana pihak lain, dalam kurun waktu tertentu tanpa biaya apa pun.

Jadi, jika Anda berbelanja pada hari ini dan kemudian melunasinya sebelum jatuh tempo, berarti Anda bisa mendapatkan tambahan cash flow dalam kurun waktu tersebut, yang bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal. Bayangkan, jika Anda bisa membeli barang dengan harga ”X”, misalnya, lalu menjualnya kembali dengan harga ”X” plus keuntungan, Anda telah berbisnis tanpa modal dan bahkan memperoleh untung. Dengan kata lain, utang yang digunakan untuk kegiatan produktif merupakan salah satu inovasi keuangan. Apalagi jika utang itu sendiri diperoleh tanpa biaya apa pun, seperti penggunaan kartu kredit di atas.

Bagaimana jika utang itu menimbulkan biaya bunga? Tidak masalah. Sepanjang biaya bunga masih lebih rendah dibandingkan keuntungan yang diperoleh, tetap saja Anda tergolong kalangan yang inovatif. Jadi, ringkasnya, menumbuhkembangkan aset bisa dilakukan tanpa modal. Modal itu diperoleh dari utang. Lalu dipergunakan untuk berbisnis. Dan hasil bisnis tersebut mampu memberikan keuntungan yang lebih tinggi dibandingkan biaya utang itu sendiri.

Aset produktif
Contoh inovasi keuangan lainnya adalah memiliki sebanyak mungkin aset produktif dibandingkan aset konsumtif. Pernahkah Anda melihat pedagang yang tinggal di sebuah ruko, di mana lantai paling bawah digunakan untuk berdagang, sementara lantai di atasnya digunakan sebagai tempat tinggal?

Artinya, tempat usaha dan rumah tinggal menjadi satu. Dengan kata lain, rumah tinggal si pedagang tersebut bukan sekadar rumah tinggal, tetapi telah menjadi aset produktif yang bisa menghasilkan uang, alias tempat berbisnis. Bagaimana dengan Anda? Boleh jadi Anda memilki rumah lebih dari satu. Dan rumah yang tidak Anda tinggali setiap bulan malah menguras kantong Anda karena mesti membayar biaya listrik dan biaya pemeliharaan lainnya. Malah kondisi rumah terus merosot karena faktor usia dan lain sebagainya. Konkretnya, beberapa rumah yang Anda miliki bukan saja tidak produktif, tetapi malah menjadi beban. Oleh karena itu, rumah tersebut mesti diproduktifkan, dalam arti memberikan penghasilan, misalnya disewakan kepada pihak lain.

Selain rumah, coba lihat lagi berbagai kekayaan yang Anda miliki. Cermati apakah aset tersebut sekadar sebagai aset konsumtif, atau alat menjaga gengsi belaka, atau memang tergolong produktif. Jika Anda memiliki perhiasan emas yang nilainya meningkat, perhiasan itu tergolong aset produktif yang bisa menambah kekayaan Anda. Begitu juga dengan lukisan yang nilainya bisa saja mengalami peningkatan. Ringkasnya, aset produktif adalah aset yang memiliki nilai investasi.

Inovasi keuangan juga bisa dilakukan dengan cara pemilihan investasi yang tepat. Pengertian investasi yang tepat di sini adalah bagaimana menyuruh uang Anda ”bekerja” untuk Anda. Jadi, uang menghasilkan uang. Bagaimana caranya? Lakukan investasi aktif.

Investasi aktif adalah secara reguler memilih dan mengevaluasi investasi yang telah dilakukan. Di pasar modal, misalnya, sebagian kalangan membeli saham, lalu terus memegangnya dalam kurun waktu yang lama, dengan harapan memperoleh dividen dan capital gain. Ini memang tidak salah. Tetapi, dalam kurun waktu tersebut, bisa saja harga saham yang dipegang mengalami kemerosotan harga. Kalangan yang memegang saham tersebut boleh jadi tidak peduli atau malah menjualnya karena khawatir harga saham akan semakin merosot.

Nah, seorang investor aktif tidak akan bersikap seperti itu. Ia malah akan membeli lagi saham dimaksud pada harga yang lebih rendah. Kenapa? Karena tujuan memegang saham dimaksud adalah untuk jangka panjang. Dan ketika harga saham merosot, dilakukan pembelian agar secara rata-rata biaya pembelian saham menjadi lebih murah. Contoh-contoh lain tentang investasi aktif telah banyak diulas dalam tulisan-tulisan terdahulu di kolom ini.

Yang terakhir adalah inovasi keuangan dalam pengelolaan biaya. Pernahkah Anda mendengar istilah ”must have” vs ”nice to have”? Coba terapkan itu dalam perilaku pengeluaran biaya Anda. Berapa banyak Anda menghabiskan uang untuk membeli barang-barang yang sekadar ”nice to have”? Boleh jadi, kalau ditotal seluruh pembelian Anda, terutama pengeluaran yang bersifat harian, akan lebih banyak yang tergolong ”nice to have”.

Jika Anda bisa memotong biaya ”nice to have” 50 persen saja, akan sangat banyak tabungan yang Anda peroleh dan bisa dimanfaatkan untuk kegiatan keuangan lain yang lebih produktif. Selamat mencoba.

(Elvyn G Masassya, Praktisi Keuangan)


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:20 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jun 14, 2010 9:49 am

AGAR THR TAK CEPAT LUDES
Senin, 23 Agustus 2010, 10:48 WIB Pipiet Tri Noorastuti, Anda Nurlaila
VIVAnews - Menjelang hari raya, ada yang paling ditunggu-tunggu tiap karyawan. Bisa ditebak, Tunjangan Hari Raya (THR) memang membuat karyawan makin girang menyambut lebaran. Saat menanti THR masuk ke rekening, banyak orang sudah bersemangat membuat daftar belanja. Tanpa sadar, mereka meningkatkan konsumsi selama puasa, khususnya untuk keperluan hari raya seperti makanan, pakaian, mudik, open house, 'angpau' dan sebagainya. Namun, uang bonus tahunan masih bisa Anda 'selamatkan', tanpa ludes. Bagaimana caranya? Organisasi.org memberi beberapa tips dan trik sebagai berikut.

1. Beli Baju Baru
Anda bisa menghemat THR bila menggunakan baju yang masih bisa dipakai. Jika anak-anak sulit menerima dan tetap merengek membeli baju baru, usahakan membeli baju yang bisa dipadupadankan dengan baju-baju lama mereka. Jangan membeli terlalu banyak baju untuk satu orang.

2. Mudik
Usahakan tidak mudik setiap tahun. Jika keluarga suami-istri berbeda kampung halaman, usahakan bergantian mengunjungi. Atau, agendakan mudik beberapa tahun sekali. Ada baiknya menggunakan teknologi seperti video call atau telepon dan SMS bila memutuskan untuk tidak berkunjung ke kampung halaman. Jika memang ingin mudik, tak ada salahnya memilih hari-hari di luar hari besar, yang penting Anda bisa berkumpul bersama keluarga, meski bukan di hari raya. Dengan begitu, Anda dan keluarga akan mampu mengirit pengeluaran.

3. Makanan Hari Raya
Anda bisa menyajikan makanan hari raya yang lezat tanpa perlu merogoh kocek terlalu dalam. Cari resep-resep makanan yang harga bahannya terjangkau. Agar tak terlalu menguras dana, hidupkan kembali tradisi saling mengantar makanan. Selain mempererat silaturahim, beban Anda akan semakin ringan. Atau bisa juga ajak beberapa teman atau tetangga untuk membeli bahan baku dalam jumlah besar sebelum diolah agar tidak terlalu membebani.

4. Tradisi 'Angpau'
Hari raya tak lepas dari tradisi angpau atau memberikan sejumlah uang kepada sanak saudara. karena sifatnya tahunan, sebaiknya Anda telah menganggarkan pengeluaran ini sebagai pengeluaran tahunan. Tetapi ingat, dahulukan kewajiban untuk membayar zakat dan infak yang memang diwajibkan agama. Jangan memaksakan diri untuk memberi 'angpau' jika Anda tak memiliki cukup dana.

5. Open House
Bila tiap tahun ada open house di rumah, anggarkan sebagai pengeluaran tahunan. Seberapa besar open house mempengaruhi jumlah dana yang harus Anda siapkan. Bila memang tidak memungkinkan untuk mengadakan open house, jangan memaksakan diri yang membuat pengeluaran lebih besar atau bahkan menimbulkan hutang.

Merayakan lebaran tidak lantas Anda harus boros dan menghambur-hamburkan uang. Sebab, Ramadan mengajarkan untuk mengendalikan nafsu dan keinginan. Menghidupkan tradisi memang sah-sah saja. Namun, usahakan tradisi buruk tak menjadi gaya hidup.


Last edited by gitahafas on Sun Dec 12, 2010 10:14 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Perencanaan Keuangan Keluarga   Mon Jun 14, 2010 10:46 am

APA ARTI 'KAYA'
Kamis, 30/9/2010 | 12:40 WIB
KOMPAS.com — Arti "kaya" bagi banyak orang bisa saja berbeda-beda. Sama dengan cara orang memandang "sukses". Apa kata seorang financial planner mengenai arti kaya? Freddy Pieloor, CFP dari www.moneynlove.com, berbagi pandangan Saya percaya sangat sedikit, bahkan hampir tidak ada, manusia yang ingin hidup miskin dan sengsara. Semua menginginkan hidup kaya, bahagia, dan sejahtera. Namun kenyataannya, jumlah orang miskin jauh lebih banyak daripada orang kaya. Apakah sulit menjadi orang kaya? Apakah perlu pendidikan yang tinggi hingga meraih gelar profesor? Atau mesti berkunjung ke dukun sakti meminta ajian atau resep kaya? Apakah kita tidak bisa menjadi kaya dengan cara halal dan harus melakukan korupsi serta tindak kejahatan seperti yang ditayangkan televisi? Saya akan mencoba memberi tips cara menjadi kaya yang sederhana dan mudah dipahami. Tetapi, jangan pernah bermimpi menjadi kaya secara cepat atau instan, ya. Menjadi kaya memerlukan waktu dan proses, yang dikerjakan secara penuh disiplin dan komitmen tinggi. Menjadi kaya pun bukanlah akhir dari sebuah pencapaian, melainkan sebuah titik yang akan terus bergerak. Misalnya, sekarang ukuran kaya bagi Anda adalah memiliki uang sebesar Rp 1 miliar. Begitu Anda sudah memiliki uang Rp 1 milyar tersebut, ukuran Anda akan meningkat lagi menjadi Rp 5 miliar atau bahkan lebih. Jadi, ukuran kekayaan Anda akan terus berubah seiring dengan pencapaian tersebut.

Kali ini saya akan membahas tema "Define your definition about rich". Apa definisi Anda tentang kekayaan? Apakah memiliki rumah mewah ukuran 1.000 meter di Pondok Indah dan mobil Audi A8 keluaran terbaru sudah kaya? Atau harus memiliki uang tunai sebesar Rp 25 miliar? Atau Anda rasa memiliki rumah sederhana ukuran 200 meter di kota Ambarawa yang sejuk dan kebun yang tidak terlalu luas serta sedikit tabungan sebesar Rp 500 juta sudah Anda anggap kaya? Saya yakin definisi Anda tidak akan sama dengan sahabat atau saudara Anda. Kaya sangat relatif dan rentang kekayaan seseorang sangat panjang, mungkin dimulai dengan Rp 100 juta hingga Rp 25 triliun. Mungkin biaya hidup Anda cukup dengan Rp 10 juta per bulan, tetapi bagi orang lain bisa jadi membutuhkan Rp 250 juta per bulan. Semua berpulang kembali kepada cara dan gaya hidup masing-masing. Menurut Webster dan Oxford Dictionary, arti kaya adalah memiliki banyak harta atau properti, tetapi menurut Robert T Kiyosaki, kaya adalah memiliki passive income (pendapatan tanpa bekerja karena uang mereka yang bekerja) yang nilainya lebih besar daripada biaya hidup sehingga tanpa bekerja pun, seseorang atau sebuah keluarga dapat tetap menjalani kehidupan dengan standar yang sama (layak). Jadi, sebelum Anda melangkah dan mencapai kekayaan, silakan mencari makna dan definisi kaya bagi diri Anda sendiri. Apa arti kaya bagi Anda? Apakah Anda sudah merasa kaya? Apa ukuran (dasar) kaya bagi Anda? Ingat, ukuran orang lain jangan Anda pakaikan pada diri Anda!


Last edited by gitahafas on Sun Jul 29, 2012 11:04 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
 
Perencanaan Keuangan Keluarga
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 26Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 14 ... 26  Next
 Similar topics
-
» Model Baju Batik Seragam Keluarga Besar
» ADAM diturunkan di SUNDALAND (Benua Sunda) ...!!
» Anak Lidya Kandou masuk islam
» Misteri Eksekusi Mati Imam Kartosoewiryo Terkuak
» seminar keluarga muslim bahagia

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: SERBA-SERBI-
Jump to: