Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 37 ... 70, 71, 72
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri May 08, 2015 6:51 am

CARA MUDAH MELAWAN DIABETES
Kamis, 07 Mei 2015 | 17:46 WIB
BISNIS.COM, Jakarta -Diabetes menjadi penyakit tak menular yang begitu populer dengan pengidap 9,1 juta orang. Kendati demikian, sulitnya memahami istilah penyakit ini saat membaca buku panduan kesehatan. Inilah cara praktis mengenal penyakit yang disebut sebagai The Silent Killer ini. Lewat buku dengan jumlah 102 halaman ini, soal diabetesi bisa diketahui. Bagaimana gejala dan hal apa yang harus dilakukan terkait penyakit yang mengundang komplikasi dengan penyakit lain seperti jantung dan stroke ini. Tak perlu mencari kontak atau datang ke klinik setiap hari, informasi tentang diabetes sudah didapat dalam genggaman. Diuraikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tidak rumit dan tidak sampai menghabiskan waktu lama. Memahami buku ini tidak lama.Disampaikan dengan gaya bercerita, buku ini tak tampil seperti buku kesehatan. Melainkan, seperti majalah bergambar dengan bahasa ringan namun tetap informatif. Gambar dan infografis di dalamnya, menuntun pembaca untuk memahami lebih jauh bagaimana diabetes terdeteksi hingga penyakit lain yang menyertainya. Sekitar 12 resep sehat praktis dan panduan sikap para keluarga yang hidup bersama penyandang diabetes pun diceritakan agar diabetesi bisa mengontrol kadar gula darahnya lebih baik. Penulis Anang Y.B. dibantu Dokter Spesialis Internis dan Endokrin Johanes Purwanto dan Yulia, salah seorang dosen dan perawat edukator diabetes dari Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia sebagai editor. Ada keluarga dan penederita diajak untuk lebih terbuka dengan menyingkirkan mitos-mitos soal diabetes dari kunci menurunkan kadar gula darah serta menurunkan faktor risiko diabetes. Keluarga dan diabetesi mendapat banyak pilihan solusi memiliki kadar gula darah normal. Bila masih kurang percaya dengan cerita di buku ini, diabetesi maupun pemilik faktor risiko diabetes bisa bergabung dengan komunitas diabetesi yang disebut pula dalam buku. Intinya, langkah mengenali gejala, menjalani hari saat positif mengidap diabetes dan memberikan semangat bahwa mengidap diabetes bukan akhir dari segalanya. Banyak gejala menakutkan dalam diabetes. Tapi, menurunnya kemampuan organ tubuh dan tingginya kadar gula darah bisa disiasati dengan jalan menggali informasi dari sumber yang tepat. Salam kenal, diabetes!
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri May 08, 2015 6:56 am

8 GEJALA DIABETES YANG HARUS ANDA WASPADAI
Diana Rafikasari Kamis, 7 Mei 2015 − 14:24 WIB Sindonews
Diabetes merupakan penyakit yang datang secara diam-diam. Bahkan penyakit ini kerap disebut sebagai the silent killer. Inilah yang membuat diabetes menjadi sulit teridentifikasi. Sampai saat ini diabetes belum dapat disembuhkan. Namun penyakit ini dapat dikontrol apabila sudah dikenali gejalanya. Berikut beberapa gejala yang bisa dikenali yang dikutip dari buku Diabetes and Me yang ditulis oleh Sidartawan Soegondo. Inilah 8 Gejala Diabetes Yang Anda Waspadai

1. Diabetesi atau penderita diabetes kerap merasakan lelah, haus, lapar dan tubuh lemas.
Keadaan ini disebabkan oleh hormon insulin yang tidak lagi aktif, sehingga gula darah sulit melewati membran sel dan terjadi penumpukan gula darah.

2. Diabetesi kerap buang air kecil.
Bagi Anda yang tidak minum air banyak sebelum tidur, namun kerap buang air kecil, maka ini merupakan gejala diabetes. Hal ini biasanya terjadi di malam hari dengan frekuensi lebih dari tiga kali.

3. Pada diabetesi, gula yang dibawa dalam darah sulit diserap oleh tubuh.
Tidak terserapnya gula tersebut banyak terbuang melalui urine. Hal ini membuat energi yang dibutuhkan tubuh pun tak terpenuhi. Dengan demikian diabetesi kerap merasa kantuk.

4. Kekurangan energi akibat gagalnya insulin mengubah gula menjadi energi, membuat tubuh tak berenergi.
Tubuh selanjutnya akan memanfaatkan simpanan lemak dalam tubuh sebagai energi. Ini akan terus berlangsung hingga lemak tak bersisa dan menyebabkan berat badan berkurang.

5. Kulit diabetesi terlihat pucat dan kering akibat adanya kerusakan saraf tepi atau neuropati perifer.
Hal ini memengaruhi sirkulasi dan fungsi kelenjar keringat. Kulit diabetesi pun akan gatal, kering dan mudah terinfeksi.

6. Dengan gagalnya insulin beroperasi, sistem kekebalan tubuh pun turut terkena dampaknya.
Sehingga penyakit dari luar mudah menyerang, terutama luka di bagian kaki dan tangan.

7. Diabetesi akan mengalami penglihatan yang kabur. Hal ini disebabkan oleh berlebihnya kadar gula yang merusak pembuluh darah dan saraf mata.
Tidak hanya itu, kadar gula yang tinggi juga memicu penarikan air di dalam sel melalui proses osmosis.

8. Saraf-saraf yang berada di tangan dan kaki juga terkena dampak dari berlebihnya kadar gula dalam darah.
Efeknya adalah saraf tersebut berkurang kemampuannya untuk merasa. Diabetesi pun kerap merasakan kesemutan.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue May 12, 2015 12:42 pm

JADWAL MAKAN PENDERITA DIABETES
Diana Rafikasari Senin, 11 Mei 2015 − 14:20 WIB
JAKARTA - Jadwal makan kerap dianggap sepele. Sebab, jadwal makan merupakan hal yang penting untuk diperhatikan, terutama bagi diabetesi atau penderita diabetes. Bagi diabetesi, melewati waktu makan berakibat makan menjadi tidak terkontrol. Berdasarkan buku Diabetes and Me, pedoman yang disarankan untuk diabetesi adalah makan 5-6 kali sehari. Diabetesi memiliki rincian tiga kali makan besar yang dapat dilakukan pukul 07.00, makan siang pukul 12.00 dan makan malam pada pukul 19.00. Diabetesi dianjurkan mengkonsumsi makanan selingan yang dapat di santap di antara jam yang sudah ditentukan. Dengan membagi kebutuhan kalori menjadi 5-6 kali makan, gula darah dan nafsu makan dapat lebih terjaga. Berdasarkan pedoman ini, diabetesi akan terhindar dari hiperglikemik maupun hipoglikemik. Tak hanya itu, diabetesi juga akan memiliki berat badan yang ideal. Sedangkan, untuk makanan ringan yang dikonsumsi oleh diabetesi adalah buah pukul 09.00, makanan ringan Low GI pukul 15.00. Diabetesi juga dapat menikmati makanan ringan lainnya pada pukul 21.00. Makan sesuai jadwal baik untuk pankreas. Sebab, perut yang kosong bukanlah kondisi yang ideal untuk insulin pada tubuh bekerja.

source: http://lifestyle.sindonews.com/read/999797/155/ini-jadwal-makan-untuk-penderita-diabetes-1431318244
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 23, 2015 8:15 pm

APA ITU PRE DIABETES?
Diana Rafikasari Sabtu, 23 Mei 2015 − 06:05 WIB
JAKARTA - Pre Diabetes merupakan kondisi awal yang akan menentukan apakah seseorang akan menyandang diabetes atau 'lolos' dari penyakit ini. Diabetes tidak memberikan gejala yang mencolok pada awal kedatangannya. Dikutip dari buku Diabetes and Me, keadaan ini membuat pre diabetes menjadi sulit untuk dideteksi. Namun pre diabetes dapat ditandai dengan naiknya kadar gula darah yang tidak tinggi. Pre diabetes kerap ditemukan secara tidak sengaja. Bahkan, orang-orang dengan pre diabetes berada pada peningkatan risiko untuk terjadinya diabates tipe dua dan penyakit jantung serta stroke. Namun kabar baiknya, bagi Anda yang berada dalam kondisi pre diabetes, dapat mengurangi risiko terkena diabetes tipe dua. Pre diabetes juga dapat dideteksi lebih dini, ketika seseorang di usia 35 tahun ke atas secara rutin memeriksakan kondisi darahnya. Pengaturan pola makan dan olahraga dapat menyelamatkan Anda sebelum positif menyandang penyakit diabetes.

source: http://lifestyle.sindonews.com/read/1004115/155/apa-itu-pre-diabetes-1432271278
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Jun 12, 2015 10:00 am

WASPADAI RISIKO BESAR DIABETISI SAAT PUASA RAMADHAN
Senin, 8 Juni 2015 | 11:00 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Hipoglikemi dan hiperglikemi adalah dua dari empat risiko besar yang dapat terjadi pada penyandang diabetes yang menjalankan ibadah puasa Ramadhan. Risiko lainnya adalah ketoasidosis diabetes dan dehidrasi serta trombosis. Pemeriksaan medis serta edukasi kepada diabetes sebelum puasa Ramadhan diperlukan guna menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Dalam 'Panduan Penatalaksanaan DM Tipe 2 Pada Individu Dewasa di Bulan Ramadhan' yang dikeluarkan oleh Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), 2013 disebutkan bahwa kegiatan berpuasa dalam jangka waktu yang cukup lama akan meningkatkan risiko dehidrasi, hipoglikemi, maupun hiperglikemi.

Menurut Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, menurunnya asupan makan merupakan faktor risiko untuk hipoglikemi pada diabetesi.
Sebagai gambaran saja, lanjut Guru Besar Fakultas Kedokteran UI ini, risiko hipoglikemi berat meningkat 4,7 kali lipat pada diabetes melitus (DM) tipe 1 dan 7,5 kali lipat pada DM tipe 2 selama puasa Ramadhan. Peningkatan risiko lain yang juga bisa terjadi pada penyandang diabetes adalah hiperglikemi. "Berpuasa selama Ramadhan meningkatkan risiko hiperglikemi berat 3 kali lipat pada DM tipe 1, dengan atau tanpa ketoasidosis, dan 5 kali lipat pada DM tipe 2," lanjut konsultan endokrin metabolik dan diabetes ini. Meningkatnya asupan makanan dan atau gula dihubungkan dengan tingkat lebih tinggi dari hiperglikemi berat. "Menyantap makanan manis, es buah, ini yang menaikkan kadar gula," terang Prof. Pradana dalam temu media di Jakarta beberapa waktu lalu. Hiperglikemi dapat pula timbul karena obatnya dikurangi.

Risiko berikutnya adalah ketoasidosis diabetik.
Dikatakan Prof. Pradana, Ketoasidosis diabetik menjadi kegawatdaruratan diabetes melitus, terutama untuk DM tipe 1. Ketoasidosis, terutama terjadi bila diabetes tidak terkontrol dengan baik sebelum Ramadhan tiba. Penurunan dosis insulin, guna mengompensasi berkurangnya asupan makan, memberikan faktor risiko tambahan. Ketoasidosis diabetik, seperti disebutkan dalam WebMD, terjadi manakala sel-sel dalam tubuh tidak mampu memperoleh glukosa yang dibutuhkan untuk energi karena tidak cukupnya insulin. Karena sel-sel tidak mendapat glukosa, tubuh mulai memecah lemak dan otot untuk energi. Ketika ini terjadi, keton atau asam lemak dihasilkan dan mask ke aliran darah, menyeabkan ketidakseimbangan kimia yang disebut sebagai ketoasidosis diabetik.

Selain itu, dehidrasi dan trombosis juga menjadi risiko diabetesi yang menjalani puasa.
Dehidrasi terjadi akibat kurangnya cairan saat berpuasa, kepanasan, humiditas yang tinggi, serta melakukan kerja berat. Dehidrasi membuat darah menjadi kental. Meningkatnya kekentalan darah akan menambah risiko untuk trombosis dan stroke. Dengan sejumlah risiko yang dapat muncul pada diabetesi yang menjalani puasa Ramadhan, sangat direkomendasikan untuk melakukan pemeriksaan medis dengan dokter yang merawatnya sebelum puasa. Pemahaman yang benar tentang perilaku diabetesi yang akan berdampak pada terjadinya perubahan profil glukosa darah juga perlu dikuasai. Pemahaman yang baik, akan sangat berarti dalam penyusunan program tata laksana diabetes selama menjalankan ibadah puasa.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Jun 12, 2015 10:02 am

REKOMENDASI NUTRISI DAN OLAHRAGA SAAT DIABETISI BERPUASA
Senin, 8 Juni 2015 | 08:05 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Sebelum berpuasa, penyandang diabetes direkomendasikan untuk berkonsultasi dengan dokter yang menanganinya. Selain untuk mengetahui kondisi kesehatannya (terkait kadar glukosa darahnya terkontrol atau tidak) dan memberikan penyesuaian yang diperlukan, dokter akan memberikan saran atas asupan nutrisi serta olah raga selama menjalani ibadah puasa Ramadan. Di seluruh dunia, lebih dari 50 juta orang dengan diabetes berpuasa selama bulan Ramadan. Dengan sekitar 43 persen muslim diabetesi tipe 1 dan 79 persen muslim penyandang diabetes tipe 2 berpuasa. Adrifaza Baraka (24), termasuk di antara muslim diabetesi tipe 1 yang turut berpuasa. Diakui, ia tidak berpuasa penuh selama puasa Ramadan itu. "Ada 3-4 hari saya tidak bisa berpuasa penuh," terang penyandang diabetes tipe 1 ini. Puasa dibatalkan karena mengalami tanda hipoglikemi atau hasil cek glukosa darahnya menunjukkan hipoglikemi. Tetapi, bila setelah dicek glukosa darah tidak hipoglikemi, Adri akan melanjutkan puasanya hingga Magrib tiba. Saat berbuka, Adri yang didiagnosis DM tipe 1 saat kelas 2 SMA ini, akan minum teh manis dengan gula pemanis buatan. Setelah itu, menyantap makanan terdiri dari nasi, sayur, dan lauk. "Setelah solat tarawih, kalau masih ingin mengemil, secukupnya saja. Ya, 2-3 potong siomay, cukup," lanjut Adri. Di waktu sahur, ia akan memperbanyak konsumsi buah dan menyantap nasi, sayur, dan lauk. "Secukupnya saja. Yang penting itu disiplin dan menjaga makanan," saran Adri yang sebelum berpuasa, berkonsultasi terlebih dulu dengan dokternya ini. Untuk asupan makanan pada diabetesi yang berpuasa, Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, menganjurkan diet yang sehat dan seimbang. "Hindari mengonsumsi banyak karbohidrat sederhana dan gula saat berbuka puasa. Kalau ingin makan kurma, cukup 2-3 buah saja," terang Guru Besar Fakultas Kedokteran UI ini. Saat sahur, dianjurkan mengonsumsi karbohidrat komplek supaya tidak terlalu lapar di siang hari. Karbohidrat komplek ini akan dilepaskan perlahan di usus sehingga Anda lebih tahan kenyang dalam waktu cukup lama. Sebelum dan setelah puasa, sertakan makanan tinggi serat seperti buah, sayur, salad, dan biji-bijian utuh. Tambahkan asupan cairan dari waktu berbuka hingga sahur dan hindari makanan tinggi lemak maupun bersantan. Terkait dengan buah, Prof. Pradana lebih menyarankan untuk dikonsumsi utuh. Tidak diblender maupun dijus. Katakanlah, kalau dijus, diperlukan tiga buah jeruk yang kalorinya akan bertambah. Dibandingkan hanya mengonsumsi satu buah jeruk saat disantap langsung. Hal senada juga diutarakan dr. Herry Nursetiyanto, Sp.PD-KEMD. Menurut konsultan endokrin metabolik diabetes di RS Puri Cinere ini, buah potong menjadi pilihan karena mengenyangkan dan ukurannya bisa dihitung. Sementara itu, olah raga bagi diabetesi yang berpuasa sebaiknya dilakukan menjelang berbuka. Olah raga yang dilakukan, sebut dr. Herry adalah bukan aerobik. "Cukup olah raga di tempat saja. Sekitar 20-30 menit sebelum berbuka," ujar dr. Herry. Ketika berpuasa, Prof. Pradana menganjurkan diabetesi untuk melakukan tes glukosa darah mandiri. "Cek menjelang berbuka, malam hari setelah solat tarawih, dan menjelang sahur sehingga tahu pola kadar glukosa darahnya," imbuh Prof. Pradana.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Jun 12, 2015 10:05 am

DIABETISI, KONSULTASI DULU SEBELUM PUASA
Minggu, 7 Juni 2015 | 12:25 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Puasa sudah di depan mata. Segenap kaum muslimin bersiap menyambut bulan Ramadan ini. Tak terkecuali penyandang diabetes. Hanya saja, untuk para diabetesi, sangat dianjurkan berkonsultasi terlebih dulu dengan dokter terkait niatnya untuk berpuasa. Konsultasi dengan dokter diperlukan oleh diabetesi sebelum menjalankan ibadah puasa Ramadan, karena adanya peningkatan risiko atas dehidrasi, hipoglikemi, maupun hiperglikemi yang bisa terjadi. Mereka yang sakit, sebenarnya diperkenankan untuk tidak berpuasa, namun banyak diabetesi yang nyatanya tetap memilih berpuasa. Sebaiknya, sebelum dan selama puasa, diabetesi perlu mendapatkan pengawasan dari dokter. Sayang, faktanya tidak demikian. Survei yang dilakukan oleh Novo Nordisk terhadap 407 diabetesi dari 4 negara, yaitu Malaysia, Uni Emirat Arab, Afrika Selatan, dan Algeria, Oktober 2014, menunjukkan 43 persen diabetesi berpuasa tanpa pengawasan dokter. Baru 57 persennya saja yang berpuasa dengan pengawasan dokter. Dari diabetesi yang berpuasa tanpa pengawasan, sebut dr. Luki Mulia, Sr. Medical Manager Novo Nordisk Indonesia saat temu media di Jakarta beberapa waktu lalu, sebanyak 36 persen melakukan perubahan sendiri terhadap regimen pengobatan mereka. Dokter biasanya tidak mengubah regimen pengobatan diabetes, ketika pasien mereka sedang berpuasa. Namun dokter dapat mengubah frekuensi, dosis, atau waktu pengobatan yang ada ketika seorang pasien sedang berpuasa. Diabetesi yang berpuasa, di sisi lain, juga tetap mengkhawatirkan risiko hipoglikemi yang mungkin terjadi. Sebanyak 52 persen diabetesi, dari survei tersebut, mengatakan membatalkan puasa terkait hipoglikemi, 36 persen karena hiperglikemi, dan 72 persen karena kelelahan, pusing, maupun dehidrasi. Hipoglikemi, dikatakan Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, Guru Besar Fakultas Kedokteran UI, adalah ketika glukosa darah kurang dari 60 mg/dL. Saat terjadi hipoglikemi, diabetes harus mengakhiri puasanya. Hipoglikemi ini, biasanya ditunjukkan dengan sejumlah tanda. Adrifaza Baraka, penyandang diabetes tipe 1 yang menjalani ibadah puasa, mengatakan, ketika keringat dingin muncul atau mulai kliyengan, ia akan langsung berbuka puasa. Selain merasakan tanda hipoglikemi, kadar glukosa darah yang rendah dapat diketahui dari cek glukosa darah dengan glukometer. "Saat berpuasa, lanjut Adri yang berkonsultasi terlebih dulu dengan dokternya sebelum berpuasa, saya biasanya mengecek kadar glukosa darah pukul 14 atau 15. Kalau hasilnya hipoglikemi, saya akan buka. Tetapi kalau tidak, puasanya saya lanjutkan hingga Magrib." Risiko yang terjadi tidak hanya hipoglikemi. Risiko lain yang dihadapi diabetesi saat berpuasa adalah hiperglikemi. Ini terjadi ketika kadar glukosa darah lebih dari 300 mg/dL. Ketika terjadi hiperglikemi, penyandang diabetes perlu membatalkan puasa. Mengingat risiko yang mungkin terjadi pada diabetesi saat berpuasa, Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) merekomendasikan mereka mempersiapkan diri untuk pemeriksaan medis. Pemeriksaan ditujukan untuk kenyamanan pasien secara umum, mempertahankan kendali glikemi, tekanan darah, serta lemak darah. Penilaian medis memang sebaiknya dilakukan 1-2 bulan sebelum puasa, agar dapat dilakukan penyesuaian diet, aktivitas jasmani, dan atau terapi obat yang digunakan.
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 72 of 72Go to page : Previous  1 ... 37 ... 70, 71, 72
 Similar topics
-
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus
» Mint and diabetes
» Former 007 Roger Moore reveals suffering from diabetes has forced him to give up martinis
» Jason Fung:The Two Big Lies of Type 2 Diabetes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: