Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 36 ... 69, 70, 71, 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Nov 29, 2013 6:56 am

JANGAN OLAHRAGA SAAT GULA DARAH DIATAS 250 mg/dL
Helmi Ade Saputra - Okezone KAMIS, 28 NOVEMBER 2013 17:40 wib
BANYAK orang berpikir ketika kadar gula darah tinggi, melakukan olahraga dapat menurunkan kadar gula darah mereka. Tetapi, apakah cara tersebut benar? Ketua Umum Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADA) Prof. DR. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD - KEMD, FACE mengatakan bahwa berolahraga untuk menurunkan kadar gula darah yang sedang tinggi itu kurang tepat. Apa alasannya? "Gula darah di atas 250mg/dL tidak boleh berolahraga seperti fitnes atau olahraga lain, karena energi bukan diambil dari gula,"ujar Prof. Sidartawan di Siloam Hospitals TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). Lebih lanjut, Prof. Sidartawan menjelaskan bahwa berolahraga akan menggunakan otot, kemudian kalau pakai otot tidak ada tenaga yang masuk, dan akan mengambil energi dari tempat lain. Ia mengatakan bahwa ketika tidak ada tenaga yang masuk, maka akan mengambil dari lemak. "Lemak simpanan akan dipakai, hasil dari pembakaran lemak akan membuat darah menjadi asam, kemudian darah yang asam tersebut bisa menyebabkan gangguan napas dan ujung-ujungnya akan membuat seseorang koma,"jelas Prof. Sidartawan Oleh karena itu, Prof. Sidartawan menghimbau untuk memeerhatikan kadar gula darah sebelum berolahraga. Ia menyarankan untuk menunggu kadar gula darah di bawah 200 mg/dL baru berolahraga. (ind)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:49 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Nov 29, 2013 6:56 am

DIABETISI SEBAIKNYA JANGAN MINUM JUS BUAH
Helmi Ade Saputra - Okezone KAMIS, 28 NOVEMBER 2013 18:22 wib
BILA mempunyai penyakit diabetes penting untuk mengatur dan menjaga asupan makanan. Hal ini karena asupan makanan dapat memengaruhi kadar gula darah di dalam tubuh diabetesi. Beberapa makanan dapat membuat kadar gula darah menjadi meningkat, sehingga diabetesi benar-benar harus memperhatikan asupan makanan mereka. Untuk itu, Ketua Umum Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADA) Prof. DR. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD - KEMD, FACE mengatakan bahwa diabetesi dilarang minum jus buah. "Jangan minum jus buah seperti misalnya jus apel atau jeruk, karena itu bisa menaikkan kadar gula di dalam darah,"ujar Prof. Sidartawan di Siloam Hospitals TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). Untuk itu, Prof. Sidartawan mengatakan bahwa lebih baik minum jus sayuran, dibandingkan mengonsumsi jus buah. Lantas, mengapa demikian? "Karena untuk membuat satu gelas jus buah jeruk misalnya, itu biasanya membutuhkan 3-4 buah jeruk. Padahal, jatah Anda mengonsumsi buah itu hanya satu buah,"jelas Prof. Sidartawan Tentunya dengan jumlah buah yang lebih banyak pada satu gelas jus, maka dapat menaikan kadar gula darah Anda. Oleh karena itu, Prof. Sidartawan menganjurkan lebih baik buah dikonsumsi langsung hanya 1 buah. (ind)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:50 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Nov 29, 2013 6:57 am

ORANG JARANG MENINGGAL KARENA PENYAKIT GULA, TETAPI KARENA KOMPLIKASINYA
Helmi Ade Saputra - Okezone KAMIS, 28 NOVEMBER 2013 12:04 wib
PENYAKIT diabetes selalu berhubungan dengan kadar gula darah yang meningkat. Oleh karena itu, kita harus memerhatikan gula darah secara rutin. Apa pasal? Menurut Prof. DR. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD - KEMD, FACE, kita harus memeerhatikan kadar gula di dalam darah.  Ia mengatakan bahwa orang jarang meninggal karena gula, tetapi meninggal lebih banyak karena komplikasinya. "Diabetes harus dikendalikan, karena untuk mencegah dari komplikasinya diabetes,"ujar Prof. Sidartawan di Siloam Hospitals TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). Lebih lanjut, Prof. Sidartawan mengungkapkan bahwa ada beberapa komplikasi dari diabetes, seperti penyakit jantung, ginjal, stroke, gangguan penglihatan atau kebutaan, dan amputasi kaki. "Jadi, kalau bisa mengendalikan diabetes, kita dapat hidup seperti orang biasa tetapi pemgendaliannya harus seumur hidup. Jika, gula darah diturunkan, komplikasi dapat dicegah,"jelas Prof. Sidartawan. (ind)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:52 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Nov 29, 2013 6:57 am

KURANG AKTIVITAS FISIK TINGKATKAN RISIKO DIABETES
Helmi Ade Saputra - Okezone KAMIS, 28 NOVEMBER 2013 16:01 wib
MENCEGAH diabetes tidak hanya dilakukan dengan menjaga dan mengatur pola makan, tetapi juga mengurangi salah satu faktor risikonya. Menurut Ketua Umum Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADA) Prof. DR. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD - KEMD, FACE, salah satu faktor risiko dari diabetes tipe-2 adalah kegemukan atau obesitas. Tentu, salah cara untuk mengatasi permasalahan berat badan tersebut adalah mengurangi lemak di tubuh. Lebih lanjut, Prof. Sidartawan mengatakan untuk mengatasi permasalahan obesitas adalah salah satunya dengan melakukan aktivitas fisik. Menurutnya, saat ini banyak orang yang kurang melakukan aktifitas fisik, sehingga cenderung memiliki risiko diabetes. "Saat ini banyak orang yang kurang melakukan aktivitas fisik, itulah yang membuat orang menjadi gemuk, artinya lifestyle kita sudah berubah,"ujar Prof. Sidartawan di Siloam Hospitals TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). Namun, kebanyakan orang memang sering menganggap aktivitas fisik adalah jogging, sehingga timbul anggapan bahwa hal itu harus dilakukan pada pagi hari. Padahal, menurut Prof. Sidartawan aktivitas fisik seperti lari atau jogging tidak harus dilakukan pada pagi hari. "Aktivitas fisik seperti jalan kaki bisa dilakukan 5 hari selama 30 menit, dan tidak harus pada pagi hari, tetapi bisa juga di malam hari,"jelas Prof. Sidartawan. (ind)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:53 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Dec 04, 2013 7:01 pm

PRINSIP POLA MAKAN RENDAH GLIKEMIK
Penulis : Wardah Fajri | Selasa, 3 Desember 2013 | 14:35 WIB
KOMPAS.com - Memilih makanan dengan indeks glikemik rendah wajib dipraktikkan pengidap diabetes. Meski begitu, pola makan rendah glikemik bisa diterapkan oleh siapa pun dengan cara sederhana. Indeks glikemik (IG) merupakan indikator cepat atau lambatnya unsur karbohidrat dalam bahan pangan dalam meningkatkan kadar gula darah dalam tubuh. Makanan yang cepat menaikkan kadar gula itu akan membuat pankreas bekerja keras menghasilkan insulin setelah makan, setiap hari. Dalam konsultasi gizi Kompas.com, dokter gizi Ida Gunawan mengatakan perencanaan makan bagi seorang diabetesi (penyandang kencing manis) merupakan hal yang mutlak dilakukan. Salah satunya memilih makanan dengan indeks glikemik rendah. Disebut rendah jika indeks glikemik kurang dari 55. Jika kesulitan mempraktikkan pola makan dengan IG rendah, Joyce Hendley, dalam bukunya The EatingWell Diabetes Cookbook menyebutkan ada empat prinsip yang perlu dipahami untuk menyederhanakan pola makan rendah glikemik.

1. Makan potongan besar.
Makanan dengan potongan besar membutuhkan waktu lebih lama untuk hancur dan diserap tubuh. Makanan ini bergerak perlahan menuju pencernaan. Jadi, semakin utuh makanan dan sedikitnya makanan diolah, semakin rendah indeks glikemiknya. Pada praktiknya, pilih makanan yang utuh ketimbang makanan yang sudah dihaluskan. Sebagai contoh, alih-alih minum jus buah, lebih baik makan buah utuh.

2. Makanan kaya serat.
Makanan kaya serat seperti kacang-kacangan, buah kering, sereal kaya serat, pasta, dan roti memiliki indeks glikemik rendah. Jadi, tambahkan porsi dari jenis makanan ini dalam pola makan harian.

3. Seimbangkan dengan protein.
Jika makanan banyak mengandung protein, perut akan kosong secara perlahan. Jadi, pastikan selalu ada tambahkan protein pada makanan utama juga makanan selingan. Cara paling sederhana, oleskan selai kacang pada roti. Cara ini bisa menurunkan kadar indeks glikemik.

4. Pilih lemak sehat.
Seperti protein, lemak sehat juga memperlambat proses pencernaan. Dengan begitu, kandungan lemak sehat bisa menurunkan kadar glikemik pada makanan, selain bisa membuat cepat kenyang. Pilih lemak sehat seperti yang terdapat dalam minyak sayur atau kacang-kacangan.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:54 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 06, 2014 11:31 am

PENTINGNYA OLAHRAGA BAGI PENYANDANG DIABETES
Penulis : Dr. Irsyal Rusad. Sp.PD | Senin, 24 Februari 2014 | 14:07 WIB
“Saya sudah mulai olahraga sekarang dokter”, ujar seorang pasien suatu sore di ruang praktik. “Ya, baguslah, sudah berapa lama? ” jawab saya sambil bertanya “Kira-kira 3 bulan ini dokter” “Hebat, olahraganya apa, berapa kali seminggu Anda lakukan?” “Hampir tiap hari dokter, paling tidak 30-40 menit, saya jalan, jogging, dan sesekali lari” Lantas, “apa yang Anda rasakan dengan olahraga itu?” “Banyak sekali dokter, badan saya terasa lebih enak, berat badan mulai turun. Rasa haus, lapar dan buang air kecil malam hari berkurang. Tidur juga lebih mudah dan enak, dan yang penting lagi saya mulai bergairah lagi”, ceritanya sambil melirik ke arah istrinya yang ada di sebelahnya. “Sayangnya, tidak dari dulu saya olahraga dokter”, sambung pasien seperti agak menyesal. “Tidak ada istilah terlambat untuk memulai olahraga. Umur 25 atau 85, yang penting Anda melakukannya, tetapi anda tidak harus menunggu sampai usia 85 tahun baru memulainya. Semakin dini anda mulai, semakin baik manfaat yang Anda dapatkan” “Ya, dokter, kalau tahu begini manfaatnya, saya sejak dulu sudah menjalaninya”. Nah, pasien di atas adalah seorang lelaki, usia 45 tahun, penyandang diabetes mellitus tipe 2, terdiagnosis sejak 3 tahun lalu. Selama 3 tahun berobat gula darahnya boleh dikatakan tidak terkontrol dengan baik. Salah satu penyebabnya kemungkinan waktu itu adalah aktivitas fisiknya yang masih kurang, di samping diet yang juga tidak dijalaninya dengan baik. Seperti diketahui, olahraga adalah salah satu cara pendekatan penanganan diabetes mellitus yang sangat penting. Olahraga tidak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga berat badan, tekanan darah, kolesterol jahat (LDL), menaikkan kolesterol baik (HDL), memperbaiki kualitas tidur, mencegah serangan jantung-stroke, mereduksi stres dan sebagainya. Lalu, seperti diketahui bahwa faktor usia, genetik, etnis, tingkat aktivitas fisik, berat badan, dan komposisi tubuh, semuanya berpengaruh terhadap resistensi insulin. Kita tidak dapat memodifikasi usia, genetik, etnis, tetapi dengan olahraga tiga faktor lain, berat badan, tingkat aktivitas fisik dan komposisi tubuh, dengan olahraga dapat mempengaruhinya. Dalam buku Eat What You Love yang ditulis oleh Michelle May MD, dikemukan 2 alasan utama bagaimana olahraga penting sekali dalam membantu menurunkan gula darah penyandang diabetes. Dua alasan itu adalah:

1. Aktivitas fisik menurunkan gula darah.
Karena olahraga membutuhkan kalori lebih banyak secara alami, gula darah juga akan menurun. Menurut penelitian, setiap menit Anda melakukan aktivitas olahraga sedang sampai moderat menurunkan gula darah Anda satu poin. Jadi, bila gula darah Anda misalnya 200 mg/dl, kemudian Anda olahraga 45 menit, maka gula darah anda akan turun jadi 155 mg/dl. Dengan kata lain, 30-45 menit olahraga yang anda lakoni setiap hari seperti jalan, jogging, bersepeda, akan menurunkan kadar gula darah rata-rata 30-45 poin. Dan, jika Anda mengalami prediabetes, biasanya ini adalah stadium menunggu waktu menjelang diabetes, Anda jogging saja 30-45 menit, risiko Anda untuk menderita diabetes akan jauh berkurang. Bahkan dibandingkan dengan obat-obatan, olahraga dan makanan yang sehat mempunyai pengaruh lebih baik mencegah diabetes.

2. Olahraga memperbaiki komposisi tubuh.
Tubuh kita terdiri dari air, jaringan adiposa (lemak), dan jaringan lain seperti otot, tulang dan sebagainya. Olahraga dapat mengurangi jaringan lemak tubuh, dan sebaliknya meningkatkan massa otot. Ini berakibat berkurangnya resistensi insulin, yang karenanya akan memperbaiki regulasi gula darah. Otot dikenal juga sebagai jaringan dengan metabolisme yang aktif. Sel otot memerlukan kalori lebih banyak dibandingkan sel lain. Satu pon otot misalnya, membakar kalori lebih besar dibandingkan dengan jumlah lemak yang sama. Dalam hal ini, ada penulis yang menggambarkan bahwa tubuh itu seperti mesin. Rangka mesin itu adalah otot, sedangkan bahan bakarnya adalah gula darah. Semakin besar suatu mesin, maka semakin besar pula bahan bakar yang diperlukannya. Mesin yang aktif, yang sering digunakan akan membutuhkan bahan bakar lebih banyak, begitu juga tubuh manusia. Karena itu, disamping olahraga aerobik, sebaiknya anda juga melakukan olahraga peregangan dan olahraga dengan beban. Olahraga-olahraga ini disamping akan membakar lemak tubuh, juga akan meningkatkan massa otot anda. Jadi, para penyandang prediabetes atau diabetes mellitus khususnya, tingkatkanlah aktifitas fisik anda, olahragalah secara teratur. Olahraga akan membantu menurunkan gula darah anda. Gula darah yang terkontrol dengan baik, Insya Allah akan mengurangi risiko komplikasi diabetes yang mengancam Anda.

Indragiri hilir, 23-02-14
@irsyal_dokter
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 06, 2014 4:09 pm

BUKAN GULA, TAPI KALORI YANG JADI PENYEBAB UTAMA DIABETES
Zanel Farha Wilda - detikHealth Minggu, 06/04/2014 14:57 WIB
Jakarta, Selama ini, banyak orang yang menganggap pasien diabetes sebagai orang yang 'haram' mengonsumsi gula. Akhirnya, tidak sedikit pasien diabetes yang benar-benar meninggalkan gula demi mencegah terjadinya hal yang tidak diinginkan. Namun Prof. Dr. dr. Pradana Soewondo, Sp.PD-KEMD, spesialis penyakit dalam dan konsultan endokrin & metabolik diabetes RS Premier Jatinegara, mengungkapkan bahwa terdapat salah artian dalam 'image' gula bagi pasien diabetes. "Gula itu sebenarnya bukan masalah utamanya, melainkan kalori. Kalori lah yang merupakan masalah utama diabetes ini," tutur Prof. Pradana pada acara talkshow 'Jangan Sepelekan Diabetes' yang diselenggarakan di Auditorium RS Premier Jatinegara, dan ditulis pada Minggu (6/4/2014). Menurut Prof. Pradana, kalori yang dikonsumsi setiap orang itu dapat menimbulkan lemak. Apabila kalori tersebut dikonsumsi terlalu banyak, maka hal tersebut dapat membuat lemak menumpuk. "Ketika lemak menumpuk, maka hal tersebut dapat membuat insulin dalam tubuh manusia itu bekerja dengan lebih banyak. Jika terus dipaksakan bekerja lebih banyak, maka lama-lama insulinnya itu akan rusak," terangnya. Seperti yang telah banyak dijelaskan bahwa akibat insulin rusak itulah akhirnya menyebabkan insulin tidak berfungsi lagi, sehingga mengakibatkan diabetes. Lantas, apakah itu tandanya bahwa boleh-boleh saja orang diabet mengonsumsi gula? "Ya boleh-boleh saja. Asal jangan terlalu banyak," ujar Prof. Pradana. Kendati demikian, dr. Lanny Lestiani, MSc, SpGK(K), dokter spesialis gizi klinik RS Premier Jatinegara mengungkapkan bahwa memang jauh lebih disarankan orang diabet untuk mengganti gula dengan pemanis saja.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 06, 2014 4:11 pm

PERKEMBANGAN ZAMAN BIKIN ANGKA DIABETES DI INDONESIA MENINGKAT
Adisti Lenggogeni - detikHealth Minggu, 06/04/2014 11:41 WIB
Jakarta, Diabetes merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan membutuhkan perawatan seumur hidup dengan biaya yang tidak sedikit. Salah satu faktor risiko terbesar diabetes adalah obesitas. Pola makan yang tidak tepat sangat berpengaruh terhadap terjadinya obesitas yang bisa berujung pada ancaman diabetes. Menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), diabetes sudah menjadi ancaman global. Negara berkembang seperti Indonesia juga terancam oleh penyakit ini beserta berbagai macam komplikasi yang mengikutinya. Berdasarkan data dari International Diabetes Federation tahun 2012, Indonesia masuk peringkat ke 7 sebagai penyandang diabetes terbanyak di dunia dengan rata-rata usia 20-79 tahun. "Menurut riset kesehatan dasar terjadi peningkatan yang sangat tinggi dari penyakit tidak menular seperti stroke, jantung, hipertensi, dan kencing manis. Kecing manis sendiri dari 1,2 persen menjadi 2 persen." Prof. Dr. dr Abdul Razak Thaha, MSc, SpGK, saat hadir dalam acara konferensi pers Soyjoy Balance Nutrition and Diet for Diabetes Management, di Hotel Mandarin Oriental, Jl. MH Thamrin No.1, Jakarta, dan ditulis pada Minggu (6/4/2014). Saat ini, seiring dengan semakin berkembangnya kemajuan suatu negara, telah terjadi pergeseran pola hidup dan juga pola makan. Indonesia sendiri yang telah mengalami peningkatan pendapatan per kapita membuat meningkatnya konsumsi makanan tinggi gula dan juga karbohidrat, yang tidak dibarengi asupan serat yang berasal dari buah dan sayuran. Menjaga pola makan yang seimbang dan juga memilih makanan yang dikonsumsi merupakan hal yang penting jika Anda ingin menjalankan pola hidup sehat. Terlebih lagi jika ingin mengontrol gula darah untuk mencegah diabetes, maka frekuensi makan haruslah diperhatikan. "Bagaimana kita mengatur pola makan, dalam konteks frekuensi makan dan pengaruhnya terhadap kontrol gula darah," kata dr Widjaja Lukito, SpGK, PhD saat hadir pada acara yang sama. Apa yang kita makan sangatlah berpengaruh terhadap tubuh kita. Maka dari itu sangat penting sekali untuk meningkatkan pola makan dan juga pola hidup menjadi lebih baik lagi.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 06, 2014 4:13 pm

SUSU KACANG KEDELAI BISA MENURUNKAN GULA DARAH?
Zanel Farha Wilda - detikHealth Minggu, 06/04/2014 08:44 WIB
Jakarta, Orang yang terkena diabetes akan selalu berusaha menjaga pola makannya demi mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, seperti komplikasi. Berbagai jenis makanan serta penyertanya pun diperhatikan sesuai dengan apa 'aturannya'. Keharusan dalam mengurangi gula atau apapun yang terlalu manis, membuat orang yang terkena diabetes yang gemar mengonsumsi susu, akhirnya harus berhati-hati dalam memilih susu. Susu dari kacang kedelai pun dijadikan alternatif yang dianggap mampu menurunkan gula darah dan tepat untuk pasien diabetes. Anggapan tersebut membuat rasa khawatir tersendiri bagi penderita diabetes yang juga mengalami masalah asam urat tinggi. Di sisi lain, penderita diabetes ini menurunkan gula darah mereka dengan mengonsumsi susu kacang kedelai. Namun di sisi lain, mereka juga khawatir dengan masalah asam urat tinggi karena kacang kedelai adalah salah satu makanan yang harus dijauhi oleh orang yang mempunyai asam urat tinggi. Lantas, bagaimana yang harus dilakukan? Apakah benar susu dari kacang kedelai mampu mengurangi gula darah penderita diabetes? dr Lanny Lestiani, MSc, SpGK(K), spesialis gizi klinik di RS Premier Jatinegara, mengungkapkan bahwa hal ini tidak benar. "Tidak benar. Susu apapun itu malah dapat menambah gula darah," tutur dr Lanny pada saat acara talkshow 'Jangan Sepelekan Diabetes' yang diselenggarakan di Auditorium RS Premier Jatinegara, dan ditulis pada Minggu (6/4/2014). dr Lanny menambahkan bahwa memang seharusnya orang yang mengalami masalah asam urat tinggi jangan mengonsumsi susu kacang kedelai. Bahkan tidak hanya susu kacang kedelai, melainkan juga susu namun yang memiliki kandungan protein lebih tinggi dibanding susu biasanya. "Penurunan gula darah itu hanya bisa didapatkan melalui obat, bukan susu, meskipun susu tersebut memiliki lebih banyak protein. Tapi walaupun susu malah menambah gula darah, bukan berarti orang dengan diabetes tidak boleh minum susu," tandasnya.
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 06, 2014 4:16 pm

DIABETES BUKAN TAK BOLEH MAKAN ENAK, CUKUP ATUR POLA MAKAN
Zanel Farha Wilda - detikHealth Selasa, 11/03/2014 10:15 WIB
Jakarta, Jika seseorang telah didiagnosis mengidap diabetes, maka kebanyakan orang akan membatasi jenis makanan yang dimakan. Bahkan banyak yang menyebut pentingnya melakukan diet diabet bagi para penderita diabetes. Kendati demikian, Ketua Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PERKENI) Prof Dr dr Achmad Rudijanto, SpPD-KEMD, FINASIM tidak setuju dengan hal tersebut. Menurutnya, diet diabet itu sebenarnya tidak ada. "Banyak yang menyebutkan tentang diet diabet, padahal sebenarnya tidak ada. Kalau diet sehat, baru benar," ujar Prof. Achmad, ditemui pada acara Workshop for Journalist and Writing Competition di Oakwood Premier Cozmo, Jl. Lingkar Mega Kuningan, Jakarta Selatan, seperti ditulis Selasa (11/3/2014). Prof. Achmad mengungkapkan, selama ini banyak orang yang salah kaprah mengenai jenis makanan yang bisa dikonsumsi oleh pengidap diabetes. Pembatasan jenis makanan yang dikonsumsi adalah salah satunya. Prof. Achmad mengakui bahwa penting bagi penderita diabetes untuk menjaga pola makannya, namun bukan berarti hal ini malah 'menyiksanya' dengan dilarang makan makanan yang enak. Menurut Prof. Achmad, keluarga merupakan alasan yang menyebabkan adanya pembatasan berlebihan mengenai makanan yang dapat dikonsumsi pengidap diabetes. Prof. Achmad menuturkan, "Misalnya pada saat suaminya didiagnosis diabetes, istrinya pasti akan melarang suaminya memakan nasi, atau apalah yang enak-enak, yang dianggap berbahaya bagi penderita diabetes. Padahal kan tidak perlu seperti itu." "Mereka yang terkena diabetes, masih bisa kok makan yang enak-enak. Asal harus tahu aturannya," tambahnya. Aturan yang dimaksud Prof. Achmad adalah batasan sejauh mana mereka (pengidap diabetes) dapat mengonsumsinya yang disertai dengan pengaturan obat yang diminum. Jika pengidap diabetes ingin memakan makanan yang manis-manis, hal tersebut boleh-boleh saja asal jangan terlalu sering dan tahu porsinya. Selain itu, konsumsi obat yang diatur cara minumnya juga penting jika pengidap diabetes masih ingin mengonsumsi makanan yang 'dilarang'. "Kalau mereka makan banyak, berarti perlu ada dosis tambahan dari obat mereka. Jadi jika biasanya cuma dosis harian, maka ditambah dengan dosis setelah mereka mengonsumsi sejumlah makanan. Jika itu dilakukan, ya boleh-boleh saja orang diabetes makan yang enak-enak. Jadi tidak akan 'menyiksa' mereka," tutur Prof. Achmad. "Orang yang diabet itu kan bukan berarti dia harus tidak boleh makan atau dilarang makan karena diet diabetnya itu. Melainkan diet sehat dengan melihat kondisinya," tambahnya.
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 70 of 72Go to page : Previous  1 ... 36 ... 69, 70, 71, 72  Next
 Similar topics
-
» Is borderline type 2 diabetes life-threatening illness/disease?
» type 1 diabetes and the sleeve....
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Post sleeve & gestational diabetes
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: