Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1 ... 36 ... 68, 69, 70, 71, 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:45 pm

KOMPLIKASI DIABETES
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 13/11/2013 11:04 WIB
Jakarta, Kadar gula darah yang terus-menerus tinggi akan meracuni tubuh dan bisa menimbulkan kerusakan atau komplikasi. Tak tanggung-tanggung, komplikasi mematikan bisa terjadi pada berbagai organ dari ujung kepala hingga ujung kaki. Jika komplikasi terjadi akan menimbulkan penebalan dinding pembuluh darah dan mengakibatkan penyempitan pembuluh darah. Jenis komplikasi yang terjadi tergantung dari pembuluh darah mana yang kena, yaitu:

1. Jika yang terkena adalah pembuluh darah besar (aterosklerosis) bisa menyebabkan penyakit kardiovaskuler pada organ jantung (serangan jantung), otak (stroke) dan tungkai bawah.

2. Jika yang terkena adalah pembuluh darah kecil (mikroangiopati) bisa menyerang organ mata atau retinopati (katarak, glaukoma atau kebutaan), ginjal atau nefropati (gagal ginjal).

3. Jika yang terkena adalah saraf atau neuropati, bisa menyerang tungkai dan kaki (kesemutan), menyerang saraf di saluran pencernaan (diare, konstipasi) atau disfungsi ereksi.

"Proses gula darah yang tinggi bisa menyebabkan glucose toxicity (keracunan gula) yang menimbulkan perubahan sistem dalam tubuh, sehingga terbentuk radikal bebas yang bisa merusak dinding endotel pada pembuluh darah," jelas dr Agastja Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM (RS Polri Kramat Jati dan RS Selapa Polri Lebak Bulus), saat berbincang dengan detikHealth, ditulis pada Rabu (13/11/2013). Diabetes memang tidak bisa menyebabkan kematian, tapi seseorang bisa meninggal akibat komplikasi yang dialaminya. Karena itu diabetes sering juga disebut dengan silent killer.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:35 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:45 pm

DIABETES BISA TIMBULKAN KOMPLIKASI BERBAHAYA
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 13/11/2013 11:31 WIB
Jakarta, Diabetes merupakan penyakit yang membutuhkan penanganan khusus dan tak bisa disepelekan. Meskipun diketahui tidak bisa sembuh, diabetes tetap harus dikontrol. Jika tidak, maka diabetes akan berpengaruh terhadap organ tubuh lain dan menimbulkan penyakit komplikasi lainnya. "Komplikasi bisa timbul ketika gula darahnya tidak terkontrol dengan baik. Maka dari itu, rutinlah kontrol ke dokter setiap sebulan atau tiga bulan sekali," ujar Prof Sidartawan Soegondo, MD, PhD, FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (13/11/2013). Selain itu, para diabetesi atau orang dengan diabetes juga harus selalu mengontrol HbA1c-nya. Namun ingat, Prof Sidartawan menegaskan bahwa patokan angka normal HbA1c dan gula darah untuk setiap orang berbeda-beda. Angka ini bergantung pada kondisi mereka, usia, memiliki komplikasi apa saja, dan sudah berapa lama hidup dengan diabetes. "Biasanya penyakit makrovaskuler itu lebih cepat terjadi, seperti serangan jantung dan stroke. Kondisi ini dipengaruhi oleh faktor lain seperti kolesterol dan hipertensi. Saat dia kena diabetes, maka dia akan semakin mudah kena stroke atau serangan jantung. Tapi kalau mikrovaskuler seperti gangguan ginjal atau gangguan di mata itu biasanya baru terjadi dalam waktu yang lama," terang Prof Sidartawan. Sependapat dengan Prof Sidartawan, dr Agastja Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam RS Polri Kramat Jati, juga menuturkan bahwa gula darah yang tidak terkontrol dengan baik akan meningkatkan risiko komplikasi pada diabetesi. "Kalau tidak ada penyakit lain, menurut literatur barat komplikasi biasanya timbul lima tahun kemudian, tapi itu bisa lebih cepat terjadi jika ada faktor lain seperti trigliserida tinggi, kolesterol, atau hipertensi," tutur dr Agastja, yang juga praktik di RS Selapa Polri Lebak Bulus. dr Agastja merasa pengontrolan gula darah tetap di angka normal merupakan kunci untuk mengurangi risiko komplikasi. Sebab jika gula darah bisa terkontrol dengan baik, komplikasi pada diabetesi bisa ditunda sampai 25 tahun.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:36 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:46 pm

KOMPLIKASI DIABETES
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 13/11/2013 12:01 WIB
Jakarta, Pernahkah Anda memiliki teman atau saudara yang sakit diabetes namun meninggal karena muncul komplikasi lain? Ya, diabetes memang merupakan penyakit yang bisa menimbulkan komplikasi lain, bahkan komplikasi mematikan. "Yang paling banyak menyebabkan kematian itu adalah penyakit jantung. Karena gula darahnya tidak terkontrol, makannya tidak dijaga, maka gula darahnya tinggi terus dan akhirnya merusak pembuluh darah. Setelah itu terganggu pulalah organ lainnya," ujar Prof Sidartawan Soegondo, MD, PhD, FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (13/11/2013). Sementara itu menurut dr Agastja Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam RS Polri Kramat Jati, komplikasi yang paling banyak membuat pasien diabetes meninggal yaitu penyakit jantung, gangguan ginjal, stroke, dan infeksi. Pada jantung, peningkatan kadar gula darah benar-benar dapat merusak pembuluh darah yang mengangkut darah ke dan dari jantung. Pasokan darah yang tidak memadai akan memaksa jantung bekerja terlalu keras, sehingga menyebabkan nyeri dada, sesak napas dan irama jantung yang tidak teratur. Dalam kasus ekstrem, ini dapat menyebabkan komplikasi kardiovaskular seperti stroke dan penyumbatan. Bagi ginjal, pembuluh darah yang rusak karena kadar gula darah tinggi akan menyulitkan ginjal untuk mengeluarkan produk sisa dari darah. Dalam kasus ekstrem, limbah ini menyebabkan ginjal gagal. Oleh karena itu, Anda mungkin harus melakukan transplantasi ginjal atau dialisis (cuci darah) untuk mempertahankan hidup. "Gula darah yang tinggi juga bisa membuat salah satu bagian tubuh kena infeksi. Misalnya luka di kaki ketusuk paku terus sampai bernanah, itu sulit disembuhkan," terang dr Agastja yang juga praktik di RS Selapa Polri Lebak Bulus. Kepada detikHealth dr Agastja melanjutkan, infeksi ini bisa terus menjalar sampai ke lutut dan pada akhirnya bisa juga menyebabkan kaki harus diamputasi. Tentu keputusan untuk amputasi tidaklah mudah, baik bagi pasien maupun bagi keluarga, oleh sebab itu kondisi ini sering dibiarkan. Padahal jika tidak diobati dengan baik, kondisinya bisa terus memburuk. "Orang kita jarang yang mau diamputasi, maka kondisi seperti itu bisa jadi bom waktu karena kerusakannya sudah menjalar kemana-mana," tutur dr Agastja.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:37 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:47 pm

KOMPLIKASI DIABETES YANG PALING MEMATIKAN
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 13/11/2013 13:01 WIB
Jakarta, Diabetes sering ditakuti karena terkait dengan kerusakan pada beberapa organ tubuh. Selain menaikkan kadar gula darah, yang menyebabkan kelelahan dan gejala kronis, diabetes juga dapat merusak organ-organ penting. Lantas menurut dokter apa komplikasi paling mematikan dari diabetes? "Stroke dan jantung. Pada jantung, kalau dia berhenti berfungsi maka fatal kan akibatnya, bisa sampai meninggal. Kalau stroke memang tidak meninggal, tapi kan dia bisa lumpuh dan tidak bisa ngapa-ngapain," ujar Prof Sidartawan Soegondo, MD, PhD, FACE, Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), saat dihubungi detikHealth dan ditulis pada Rabu (13/11/2013). Sependapat dengan Prof Sidartawan, dr Agastja Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM, dokter spesialis penyakit dalam RS Polri Kramat Jati, juga menuturkan bahwa penyakit jantung merupakan komplikasi paling mematikan dari diabetes. Adakah cara untuk mencegah timbulnya komplikasi tersebut? "Untuk mencegahnya ya harus mengelola gula darahnya dengan baik agar tidak terus-terusan tinggi, yaitu dengan menerapkan pola hidup sehat. Sebab diabetes itu tidak bisa disembuhkan, seperti flu atau batuk, tapi bisa dikendalikan dengan cara dikelola yang baik," terang Prof Sidartawan. Sementara menurut dr Agastja, cara terbaik untuk mencegah munculnya komplikasi pada diabetes adalah dengan menerapkan pola hidup sehat seperti menjaga pola makan, istirahat, olahraga, dan berkumpul dengan diabetesi. Mengapa? "Untuk bisa berbagi pengalaman dan informasi tentang diabetes. Selebihnya juga jangan lupa untuk rajin kontrol karena nanti akan dievaluasi oleh dokter," tegas dr Agastja, yang juga praktik di RS Selapa Polri Lebak Bulus, kepada detikHealth.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:39 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:47 pm

DIABETES BIKIN IMPOTEN
Radian Nyi Sukmasari - detikHealth Rabu, 13/11/2013 13:34 WIB
Jakarta, Dari sekian banyak komplikasi diabetes, salah satu yang paling ditakuti oleh kaum lelaki adalah risiko impotensi. Kadar gula yang tidak terkontrol, secara langsung maupun tidak langsung bisa menyebabkan Mr P tidak bisa berdiri. Impotensi terjadi karena pasien diabetes mengalami gangguan pada saraf. Gangguan ini menyebabkan sensitivitas Mr P berkurang, selain juga mengalami gangguan pembuluh darah yang membuat aliran darah ke organ ini terhambat. Untuk ereksi, tentunya dibutuhkan aliran darah yang cukup. Namun demikian, tidak semua pasien diabetes mengalami impotensi karena diabetesnya secara langsung. Sebagian lagi karena mengalami depresi akibat penyakit tersebut dan secara psikologis mempengaruhi gairah seksual maupun kepercayaan dirinya. "Kalau memang dia depresi, harus dibantu konsultasi ke psikiater supaya dia bisa menerima keadaan, percaya diri lagi, sehingga fungsi seksualnya bisa baik lagi," kata dr Agastja Wisjnu Wardhana, SpPD, FINASIM dari RS Polri Kramat Djati seperti ditulis Rabu (14/11/2013). Risiko impotensi pada pasien diabetes memang cukup mengkhawatirkan. Menurut dr Tri Juli Edi Tarigan, SpPD dari RS Cipto Mangunkusumo, 30-40 persen laki-laki yang mengidap diabetes lama kelamaan akan mengalami gangguan yang membuat Mr P tidak bisa berdiri ini. "Impoten yang terjadi tergantung dari lamanya diabetes, makin lama makin besar juga kemungkinannya," kata dr TJ, demikian ia biasa disapa. Sebaliknya, tidak semua kasus impotensi disebabkan oleh diabetes. Praktisi kesehatan dari RS Cipto Mangunkusumo, dr Ari Fahrial Syam, SpPD, FINASIM mengatakan harus ada pemeriksaan gula darah untuk memastikan penyebab impotensi. "Kalau dia impoten terus gula darahnya tinggi bisa karena faktor diabetes," ujarnya.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:45 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Nov 13, 2013 1:51 pm

MENGHINDARI AMPUTASI PADA KAKI DIABETIK
Rabu, 13 November 2013 | 07:31 WIB
Metrotvnews.com, Jakarta: Penderita diabetes yang mengalami gangguan infeksi pada kaki (kaki diabetik) tidak harus selalu diamputasi. Asal luka kaki ditangani sedari dini, risiko amputasi itu bisa ditekan. Hal itu dikatakan dokter spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, Em Yunir dalam seminar tentang kaki diabetik di Jakarta, beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan ada beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan untuk menekan kemungkinan amputasi kaki diabetik, termasuk tindakan endovaskuler dan by pass. “Pelaksanaannya sama seperti untuk operasi jantung,” katanya. Yunir menjelaskan, kaki diabetik disebabkan sumbatan pada pembuluh darah yang menyuplai darah ke kaki. Karenanya, penanganan kaki diabetik meliputi upaya membuka sumbatan itu. Hal itu bisa dilakukan dengan metode ballooning atau mengembangkan pembuluh yang tersumbat dengan balon khusus seperti layaknya pada operasi membuka sumbatan pembuluh darah jantung. Jika pembuluh tersebut dirasa tidak cukup kuat setelah ballooning, akan dilakukan pemasangan ring untuk memperlancar aliran darah. “Sirkulasi darah yang buruk jelas akan semakin memperparah luka yang ada,” katanya. Dia juga menyarankan penderita diabetes yang mengalami luka pada kaki untuk segera membersihkan luka menggunakan air steril, lalu membubuhkan obat luka sebagai tindakan pencegahan sebelum observasi lebih lanjut. “Kalau lukanya kering berarti ringan. Kalau tidak, ya, harus langsung ke dokter,” katanya. Ia mengatakan penanganan luka secara dini bisa mengurangi kemungkinan kaki harus diamputasi. “Kalau masih grade satu, bisa sembuh dan tanpa amputasi,” katanya. (Ant/Vera Erwaty Ismainy)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:47 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu Nov 14, 2013 10:06 pm

SUDAH MILIKI GEJALA DIABETES?
Qalbinur Nawawi - Okezone KAMIS, 14 NOVEMBER 2013 15:54 wib
SAAT memiliki gejala diabetes, seseorang tak boleh diam saja. Sebab saat diabaikan, kondisi itu memungkinkan dia benar-benar terkena penyakit diabetes. Hal itu seperti diungkap Dr. Roy Panusunan Sibarani, SpPD-KEMD FES, Head of Diabetes Education Clinic di RS. Pantai Indah Kapuk, Jakarta. Dia menjelaskan bahwa saat seseorang memiliki gejala diabetes, seperti mudah haus, memiliki berat badan berlebih, sering ke kamar mandi sampai mudah mengantuk, dia harus mencari langkah pencegahan diabetes agar upaya tersebut tidak terlambat. Langkah pertama yang dilakukan dengan mengetahui seluk-beluk penyakit diabetes, terutama pencegahan. Setelah itu, mengonfirmasi ke dokter untuk mendapat kepastian dan mendapat solusi tepat mencegah penyakit diabetes. "Penekanan seseorang yang sudah termasuk prediabetes ialah mencegah lebih baik daripada mengobati. Setelah hal itu tertanam, carilah pengetahuan mengenai pencegahan penyakit diabetes, kemudian mengonfirmasi kepada dokter. Pada tahap ini sangat penting karena seseorang memiliki gejala itu akan dipastikan apakah benar memiliki gejala prediabetes, dan bila iya, dia akan diberi cara untuk pencegahan," jelasnya dalam acara bertema “SOHO #BetterU: Diabetes, 'Negara' Ketiga Terbesar di Dunia” di Estubizi Business Centre Setiabudi Building, Jakarta, Kamis (14/11/2013). Tak berhenti sampai di situ saja, tambah dia, saat seseorang sudah mengetahui hasil pemeriksaan dan mengetahui cara pencegahannya, dia harus melanjutkan untuk menanggulangi dengan menjalani gaya hidup sehat. Sementara itu, Dr. Roy menjelaskan, untuk mencegah penyebaran penyakit diabetes, ada beberapa langkah bisa dilakukan, antara lain meningkatkan pemahaman mengenai diabetes dan penyebabnya, olahraga teratur, menurunkan berat badan, pemeriksaan rutin, mengonsumsi makanan dengan gizi seimbang dan istirahat cukup.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:48 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Nov 17, 2013 7:42 pm

ATURAN MAKAN BUAH BAGI DIABETISI
Penulis : Unoviana Kartika | Minggu, 17 November 2013 | 15:11 WIB
KOMPAS.com - Buah merupakan bahan pangan yang penting untuk menunjang fungsi tubuh. Pasalnya buah secara umum mengandung serat, vitamin, dan mineral yang sangat dibutuhkan tubuh. Hanya saja, buah juga mengandung fruktosa yang diketahui tidak baik bagi diabetesi. Jadi, bagaimana aturan makan buah yang benar khususnya untuk diabetesi? Pakar ilmu penyakit dalam Roy Panusunan Sibarani mengatakan, fruktosa dalam buah tidak akan memperparah diabates asalkan dimakan dalam jumlah yang tidak berlebihan. Khususnya untuk buah-buah dengan kadar fruktosa tinggi, diabetesi perlu membatasinya satu atau dua potong saja. "Misalnya untuk nanas, boleh saja dimakan, asal hanya satu atau dua potong. Begitu juga durian atau mangga," ujarnya saat ditemui dalam sebuah acara diskusi di Jakarta beberapa waktu lalu. Sayangnya, kata Roy, kalau menyukai satu jenis buah tertentu, kebanyakan orang tidak dapat mengontrol diri untuk tidak makan banyak. Hal itulah yang menurut dia memperparah diabetes. "Intinya semua yang belebihan itu tidak baik, jadi jangan makan buah berlebihan, sesuaikan saja dengan porsi yang disarankan," ujar pengurus Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) ini. Porsi sajian buah yang disarankan perhari adalah dua porsi. Diketahui, satu porsi buah yaitu satu buah ukuran sedang seperti apel atau pir, atau 10 buah ukuran kecil seperti anggur atau kelengkeng, atau satu potong buah ukuran besar seperti melon, semangka, dan lain-lain. Selain itu, disarankan juga bagi diabetesi untuk memilih buah yang belum terlalu matang. Ini untuk meminimalisasikan kandungan fruktosa yang ada di dalamnya. Menurut sebuah studi asal Harvard School of Public Health, konsumsi buah-buahan segar yang dimakan utuh, terutama buah blueberi, anggur, apel, dan pir, bahkan bisa menekan risiko diabetes. Asalkan, buah-buah tadi tidak dimakan dalam bentuk jus.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:43 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Nov 17, 2013 7:45 pm

KENALI FAKTOR RISIKO DIABETES
Penulis : Unoviana Kartika | Sabtu, 16 November 2013 | 09:03 WIB
KOMPAS.com — Diabetes, khususnya tipe 2, bukan lagi penyakit yang hanya dialami orangtua. Bahkan kini telah banyak ditemukan anak-anak yang sudah mengalami gejala pradiabetes atau ambang menuju diabetes tipe 2. Faktor keturunan dan gaya hidup merupakan dua faktor risiko utama penentu seseorang mengalami penyakit ini. Namun, sering kali orang menganggap remeh faktor risiko tersebut karena menganggap dirinya masih muda. "Usia hanya merupakan satu dari banyak faktor risiko yang ada, gaya hidup lebih memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami diabetes," ujar Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama dalam diskusi SOHO #BetterU bertajuk "Diabetes, 'Negara' Ketiga Terbesar di Dunia", di Jakarta, Kamis (14/11/2013). Dengan menganggap sepele faktor risiko, tak heran semakin banyak orang yang sudah terkena diabetes dalam usia yang relatif muda, yaitu antara usia 20-30 tahun. Maka, menurut Tjandra, setiap orang perlu mengenali risiko yang mereka miliki untuk mencegah mengalami penyakit tersebut. Spesialis penyakit dalam, Roy Panusunan Sibarani, mengatakan, jika ibu mengalami diabetes maka risiko seseorang mengalaminya juga adalah 1/7. Sementara itu, jika ayah yang mengalaminya, risikonya sedikit lebih kecil yaitu 1/13. "Faktor keturunan memang bisa meningkatkan risiko, namun jika seseorang menjalani gaya hidup sehat, dia bisa terbebas dari diabetes," ujar mantan presiden Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADIA) ini. Faktor gaya hidup terdiri dari pola makan tidak sehat, kebiasaan merokok, kebiasaan kurang olahraga dan bergerak, dan penggunaan obat-obatan terlarang. Seseorang dapat terbebas dari risiko diabetes jika mengubah kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi kebiasaan yang lebih sehat. Menurut Roy, hal yang penting juga untuk dilakukan adalah tes gula darah. Melalui indikator tersebut, dapat diketahui kondisi seseorang saat ini, sudah ada dalam kategori normal, pradiabetes, ataupun diabetes. "Saat sudah mengetahui faktor risiko yang dimiliki, maka itulah yang menentukan periode tes yang harus dilakukan. Untuk satu faktor risiko, seseorang perlu melakukan tes sekali setahun, dua faktor risiko tes dua kali setahun dan seterusnya," tutur Roy yang menjabat sebagai Kepala Klinik Edukasi Diabetes RS Pantai Indah Kapuk ini. Pemeriksaan kadar gula darah, kata Roy, dibagi menjadi dua yaitu kadar gula darah puasa dan tes toleransi glukosa. Jika pada tes kadar gula darah puasa angkanya kurang dari 100 mg/dl seseorang dinyatakan masih dalam kategori normal. Sementara jika angkanya di atas 100 dan di bawah 126 mg/dl, seseorang sudah masuk dalam kategori pradiabetes. Dan jika angkanya sudah lebih dari 126 mg/dl seseorang sudah mengalami diabetes. Sementara itu, untuk tes toleransi glukosa, jika angkanya kurang dari 140 mg/dl seseorang dinyatakan masih dalam kategori normal. Sementara jika angkanya di atas 140 dan di bawah 200 mg/dl, seseorang sudah masuk dalam kategori pradiabetes. Dan jika angkanya sudah lebih dari 200 mg/dl, seseorang sudah mengalami diabetes.


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:41 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Nov 29, 2013 6:55 am

HARUSKAH DIABETISI HINDARI MAKANAN TERTENTU?
Helmi Ade Saputra - Okezone KAMIS, 28 NOVEMBER 2013 17:11 wib
UNTUK mencegah penyakit diabetes salah satunya bisa dengan menjaga pola makan. Tetapi, haruskah seorang diabetesi melakukan diet atau membatasi makanan tertentu? Menurut Ketua Umum Persatuan Diabetes Indonesia (PERSADA) Prof. DR. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD - KEMD, FACE, sebenarnya diabetesi boleh makan apa saja. Tetapi, hanya jumlah makanan yang dikonsumsi harus diperhatikan dan dibatasi. Misalnya, ia menjelaskan bahwa saat ini sedang populer diet dengan mengonsumsi beras merah, tetapi semua macam beras sebenarnya boleh saja dikonsumsi. Tetapi, memang konsumsi nasi merah atau nasi biasa dapat berpengaruh terhadap naiknya kadar gula darah dalam darah. "Masalahnya adalah kalau makan nasi biasa itu bisa lebih banyak karena rasanya enak dibandingkan nasi merah,"ujar Prof. Sidartawan di Siloam Hospitals TB Simatupang, Cilandak, Jakarta Selatan, Kamis (28/11/2013). "Jadi, kalau jumlah kalori pada porsinya sama itu tidak masalah antara nasi merah atau nasi biasa, hanya bermasalah, karena cenderung kita makan lebih banyak nasi biasa,"tandas Prof. Sidartawan (ind)


Last edited by gitahafas on Sun Apr 06, 2014 11:40 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 69 of 72Go to page : Previous  1 ... 36 ... 68, 69, 70, 71, 72  Next
 Similar topics
-
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus
» Mint and diabetes
» Former 007 Roger Moore reveals suffering from diabetes has forced him to give up martinis
» Jason Fung:The Two Big Lies of Type 2 Diabetes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: