Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 38 ... 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jun 29, 2010 7:36 pm

SEBERAPA BESAR RISIKO ANDA TERSERANG DM?
Kamis, 5 Agustus 2010, 09:03 WIB Petti Lubis
VIVAnews - Selama ini, banyak orang beranggapan, diabetes adalah sepenuhnya penyakit keturunan, yang umumnya dialami oleh orang-orang berusia lanjut. Padahal, selain karena faktor keturunan, penyakit yang juga biasa disebut 'kencing manis' atau 'penyakit gula' ini, dapat pula menyerang orang yang sama sekali tak punya silsilah diabetes dalam keluarganya. Menurut Frank Hu, profesor dari Harvard School of Public Health diabetes melitus adalah suatu penyakit yang timbul ketika tubuh tidak bisa lagi secara otomatis mengendalikan tingkat gula dalam darah (glukosa).

Penyakit ini merupakan gangguan metabolisme, akibat pankreas tidak bisa memproduksi insulin dalam jumlah cukup, atau tubuh tak mampu menggunakan insulin secara efektif, sehingga terjadilah kelebihan gula di dalam darah. Kelebihan gula yang kronis di dalam darah (hiperglikemia) ini akan menjadi racun bagi tubuh.

“Selain faktor genetik serta pertambahan usia, obesitas akibat gaya hidup tak sehat adalah salah satu pemicu utama timbulnya diabetes,” ujar Prof Hu.
Yang menakutkan, penelitian yang dilakukan PERKENI (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia) menunjukkan, dengan tinggi dan berat badan sama, wanita Asia lebih berisiko mengidap diabetes dibandingkan wanita yang tinggal benua lainnya.

Menurut dugaan, penyebabnya karena mereka telah meninggalkan pola makan dan gaya hidup tradisional, dan menggantinya dengan gaya hidup yang tidak sehat. Misalnya, pola makan yang serampangan dan porsi olahraga yang semakin minim. Perubahan gaya hidup seperti ini bisa memicu semacam dampak biologis yang dapat mengganggu proses pengolahan gula darah, yang pada akhirnya berakibat diabetes. Jika satu atau lebih dari empat kasus di bawah ini adalah kebiasaan Anda, tampaknya Anda perlu mengubah gaya hidup sehari-hari. Kenali tingkat risiko Anda terserang penyakit ini.

1. Pola makan salah
Tingkat risiko: Tinggi
Untuk mencegah diabetes, pencegahan terbaik adalah dengan cara memperbaiki atau mengatur kembali pola makan. Kurangi asupan karbohidrat (berbagai jenis gula, tepung, nasi, kentang, ubi, singkong, dan lain sebagainya) dan makanan berlemak (daging berlemak, kuning telur, keju, gorengan, susu tinggi lemak). Perbanyak konsumsi sayur dan buah sebagai sumber serat, vitamin, dan mineral. Sebagai sumber protein, Anda dapat memanfaatkan ikan, ayam (terutama bagian dada), tahu, dan tempe dalam menu sehari-hari. Selain itu, batasi konsumsi minuman ringan (soft drink) dan hindari minuman alkohol, karena mengandung kadar gula tinggi. Tapi hati-hati, selain obesitas, ternyata kekurangan asupan gizi pada tubuh pun bisa meningkatkan risiko diabetes. Kurang gizi (malnutrisi) dapat merusak pankreas. Akibatnya, akan timbul gangguan terhadap produksi insulin maupun gangguan terhadap sensor insulin pada tubuh.

2. Stres
Tingkat risiko: Tinggi
Bila Anda kerap diliputi stres, tingkat gula darah Anda bisa naik secara drastis. Tingkat gula darah tergantung pada kegiatan hormon yang dikeluarkan kelenjar adrenal, yaitu adrenalin dan kortikosteroid. Kedua hormon ini mengatur kebutuhan energi tubuh dalam menghadapi keadaan stres. Adrenalin yang dipacu terus-menerus akan mengakibatkan insulin kewalahan mengatur kadar gula darah yang ideal. Akibatnya, kadar gula darah akan naik secara drastis.

3. Malas berolahraga
Tingkat risiko: Medium
Jika tak ingin diabetes mengancam Anda, sebaiknya mulailah berolahraga dengan teratur dan porsi yang cukup. Pasalnya, olahraga teratur berfungsi memacu aktivitas produksi insulin, serta membuat kerja insulin lebih efisien, sehingga memperlancar pengangkutan glukosa. Jadi, selain membakar lemak dan karbohidrat, olahraga dapat meningkatkan aktivitas reseptor insulin dalam tubuh, sehingga kadar gula dalam darah terkontrol dengan baik.
Olahraga yang ideal adalah yang bersifat aerobik, seperti jalan atau lari pagi, bersepeda, berenang, dan lain sebagainya. Lakukan olahraga aerobik ini paling tidak selama 30-40 menit.

4. Merokok
Tingkat Risiko: Medium
Secara tidak langsung, kandungan racun yang terdapat dalam rokok, lama kelamaan bisa merusak sel-sel pada pankreas. Jika tubuh terus menerus mengisap asap rokok dan racun nikotin, pankreas akan rusak, sehingga kerja insulin terganggu, dan akhirnya bisa memicu timbulnya diabetes.
• VIVAnews


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 5:33 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jun 29, 2010 7:41 pm

MITOS SEPUTAR DIABETES
Terkadang, mitos yang beredar tentang penyakit diabetes membuat orang melakukan cara yang kurang tepat untuk mencegah penyakit ini. Berikut beberapa mitos salah yang dilansir oleh Organisasi Diabertes Amerika.

1. Konsumsi gula terlalu banyak menyebabkan diabetes. Diabetes disebabkan oleh kombinasi genetic dan factor gaya hidup. Bagaimanapun, kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko terjadinya diabetes type-2. Jika ada riwayat diabetesdalam keluarga, hal yang direkomendasikan adalah makan makanan sehat dan olahraga teratur untuk menjaga berat badan.

2. Penderita diabetes tidak bisa memakan permen atau coklat. Jika makanan yang dimakan adalah bagian dari program makan sehat atau digabungkan dengan olahraga, maka permen, coklat, atau kudapan yang manis dapat dikonsumsi oleh penderita. Pada orang dengan diabetes cenderung tidak ada ‘off limit’ atau larangan dibanding mereka yang tidak memiliki diabetes.

3. Seseorang dapat tertular diabetes dari orang lain. Ini sepenuhnya salah. Meski hingga saat ini belum diketahui mengapa seseorang menderita diabetes, namun diabetes tidak menular seperti halnya batuk atau flu. Gen ditengarai lebih berperan, terutama diabetes type-2. Faktor lain adalah gaya hidup.

4. Penderita diabetes harus memakan makanan khusus penderita diabetes. Makanan yang sehat untuk penderita diabetes sama dengan makanan sehat untuk orang lain – rendah lemak (terutama lemak jenuh dan trans), moderat untuk garam dan gula, dan makanan berbasis bahan biji-bijian, sayuran, dan buah-buahan. Versi makanan diabetis tidak membuktikan adanya keuntungan khusus. Kadar gula darah tetap meningkat, biasanya lebih mahal, dan memiliki efek laksatif jika mengandung alcohol gula.

5. Penderita diabetes, hanya boleh sedikit mengonsumsi makanan bertepung, seperti roti atau kentang. Makanan bertepung adalah bagian dari makanan sehat. Yang terpenting adalah porsi yang dikonsumdi. Roti gandum, sereal, nasi, dan sayuran bertepung seperti kentang, ubi, dan jagung dapat dimasukkan dalam daftar makanan atau kudapan. Kuncinya adalah ukuran porsi. Untuk kebanyakan penderita diabetes, tidak masalah mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat. Makanan bertepung dari biji-bijian juga merupakan sumber serat yang baik untuk pencernaan.

6. Penderita diabetes lebih rentan untuk terkena flu atau penyakit lain. Seseorang dengan diabetes tidak menjadi lebih mudah menderita flu atau penyakit lain. Namun, penderita diabetes disarankan untuk vaksinasi flu. Ini karena infeksi dapat mempengaruhi control gula darah, hingga berisiko untuk meningkatkan kadar gula darah, dan untuk penderita diabetes type-1, meningkatkan risiko ketoacidosis.

7. Insulin menyebabkan atherosclerosis dan tekanan darah tinggi. Insulin tidak menyebabkan atherosclerosis. Di laboratorium, memang ada bukti bahwa insulin dapat memulai proses awal terkait atherosclerosis yang membuat dokter kerap khawatir insulin mungkin dapat memperburuk tekanan darah tinggi dan penyempitan arteri. Tapi sekali lagi, itu tidak terjadi.

8. Insulin menyebabkan pertambahan berat badan, dan karena obesitas tidak menguntungkan, maka insulin seharusnya tidak digunakan. Baik UKPDS (United Kingdom Prospective Diabetes Study) dan DCCT (Diabetes Control & Complications Trial) menunjukkan bahwa benefit manajemen glukosa dengan insulin jauh dari risiko menambah berat badan.

9. Buah-buahan adalah makanan yang sehat. Oleh karena itu, tidak masalah untuk mengonsumsi sebanyak yang diinginkan. Buah memang makanan sehat karena mengandung serat, vitamin, dan mineral. Karena buah mengandung karbohidrat, maka perlu dimasukkan dalam daftar makanan. Jumlah, frekuensi, dan type buah perlu dikonsultasikan pada ahli gizi.

10. Tidak perlu mengubah regimen diabetes kecuali kadar A1C lebih besar dari 8 persen. Makin baik control glukosa, makin sedikit kemungkinan komplikasi diabetes. A1C dalam kisaran 7, tidak menggambarkan control yang baik. Makin dekat ke kisaran normal, yaitu di bawah 6 persen, makin kecil kemungkinan komplikasi.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 5:32 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jun 29, 2010 7:45 pm

TIPS MENYUSUI BAGI PENDERITA DIABETES
Selasa, 22 Maret 2011 | 9:21
Menyusui adalah pekerjaan dengan tantangan tersendiri tetapi pekerjaan tersebut ternyata membutuhkan keberanian, apalagi anda adalah penderita penyakit diabetes. Asosiasi Diabetes di Amerika Serikat memberikan tips atau cara membantu untuk menghindari kadar gula rendah pada ibu yang menyusui. Berikut adalah tipsnya:

1. Selalu sediakan makanan kecil sebelum anda mengasuh anak atau selama anda mengasuh anak.
2. Meminum segelas air putih atau sarapan yang mengandung kafein selama anda mengasuh anak.
3. Sebelum anda mengasuh anak, sebaiknya dipastikan bahwa di sekitar anda ada makanan kecil atau obat. Sebagai pencegahan ketika kadar gula darah anda turun.
4. Berkonsultasi dengan ahli gizi dan dokter untuk memastikan bahwa makanan anda mengandung kalori yang cukup untuk menyusui.


Last edited by gitahafas on Sun Feb 10, 2013 2:30 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jun 29, 2010 7:53 pm

DIABETES BUKAN KARENA KEBANYAKAN GULA
Lusia Kus Anna | Senin, 27 Juni 2011 | 15:50 WIB
Kompas.com - Dunia sedang menghadapi ledakan penderita diabetes. Data paling baru menyebutkan angkanya mencapai 350 juta orang di seluruh dunia, jauh melebihi prediksi Federasi Diabetes International (IDF) yang memproyeksikan tahun 2010 ada 285 juta penduduk dunia yang akan menjadi korban penyakit yang bisa merenggut penglihatan, bahkan kematian ini. Walaupun para ahli sepakat diabetes merupakan masalah kesehatan terbesar di abad 21, nyatanya masih banyak orang yang angkat bahu ketika ditanya tentang kemungkinan menderita penyakit ini. Selain karena gejalanya memang tidak terlihat, tak sedikit yang masih mengira penyakit ini disebabkan karena mengasup makanan manis terlalu banyak. Padahal, menurut dr.Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, diabetes melitus tidak berhubungan dengan kebanyakan makan gula. Seseorang didiagnosis diabetes ketika tubuhnya tidak cukup menghasilkan insulin atau tidak menggunakan insulin yang ada dengan benar. "Tidak benar jika penyakit ini timbul karena kebanyakan makan makanan manis," katanya. Faktor yang menyebabkan tingginya jumlah penderita adalah karena perubahan pola makan menjadi tinggi lemak dan kurangnya aktivitas fisik. Keterkaitan penyakit ini dengan gula mungkin berpangkal dari kenyataan penderita diabetes harus membatasi asupan gula mereka. "Yang harus dibatasi sebenarnya bukan hanya gula, tetapi total kalori karena sebagian besar yang kita makan untuk dijadikan energi akan diubah menjadi glukosa. Pada penderita diabetes, pola makan yang tidak terkontrol akan meningkatkan kadar glukosa," papar dokter dari Divisi Endokrinologi dan Metabolisme Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta. Pada orang sehat, glukosa secara otomatis diserap oleh sel-sel. Tubuh menggunakan insulin yang dihasilkan oleh sel B pankreas untuk membuka reseptor sel sehingga glukosa bisa masuk. Akan tetapi pada orang yang menderita diabetes, terjadi resistensi insulin sehingga gula darah tidak dapat masuk. Gula yang berlebih ini terkumpul dalam aliran darah dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan komplikasi. "Sebenarnya yang berbahaya bukan gula darah yang tinggi, tetapi komplikasi yang ditimbulkannya," imbuhnya.

Komplikasi
Diabetes merupakan penyakit yang menyerang diam-diam namun pada akhirnya akan menjadi bencana. Penyakit yang makin umum ditemui ini setiap tahunnya membunuh tiga juta orang di seluruh dunia. Menurut dr.Budiman, penyebab kematian pasien diabetes sebenarnya bukan karena penyakit itu sendiri tetapi komplikasinya. "Hampir 40 persen meninggal karena penyakit jantung, sisanya karena gagal ginjal, stroke, atau kanker," papar ketua Jakarta Diabetes Meeting yang akan diadakan November 2011 mendatang ini. Komplikasi yang mungkin ditimbulkan oleh diabetes ada yang akut, seperti hipoglikemi (gula darah terlalu rendah) atau hiperglikemia (gula darah terlalu tinggi), atau komplikasi kronik. "Komplikasi kronik sendiri ada yang memengaruhi pembuluh darah besar seperti penyakit jantung koroner atau stroke, atau yang memengaruhi pembuluh darah kecil sehingga pasien menderita gangguan saraf, ginjal, impotensi, atau kebutaan," paparnya. Kadar gula darah yang tinggi, terang Budiman, juga akan mengganggu sistem hormonal sehingga kadar hormon tertentu meningkat yang berujung pada naiknya tekanan darah. "Sekitar 60-80 persen pasien diabetes menderita hipertensi," katanya. Karena itulah sangat penting untuk memeriksakan gula darah guna mawaspadai naiknya kadar gula darah, terutama jika dalam riwayat keluarga ada yang menderita penyakit ini, usia Anda melebihi 40 tahun, menderita kegemukan atau menunjukkan gejala-gejala penyakit ini.

Perbaiki pola makan
Salah satu cara untuk menghindari diabetes adalah dengan menjaga berat badan tetap normal, melakukan olahraga secara teratur, dan memperbaiki pola makan. Ini berarti makan dengan pola makan sehat yang terfokus pada buah-buahan dan sayuran. Penelitian menunjukkan untuk setiap kelebihan 40 gram lemak yang Anda makan dalam sehari, risiko untuk menderita diabetes meningkat tiga kali lipat. Dan bila Anda sudah menderita diabetes, Anda berpeluang besar mengalami komplikasi. "Hal ini terjadi karena lemak tubuh membuat sel-sel menolak insulin," kata Frank Q.Nittal, M.D, dalam laporan yang dimuat dalam American Journal of Epidemiology. Sementara itu penderita diabetes disarankan untuk makan setiap empat atau lima jam dalam porsi kecil. "Yang penting adalah mengatur kalori total," kata Budiman. Kendati demikian penderita diabetes tetap disarankan untuk berhati-hati dalam mengonsumsi gula. Kebutuhan akan makanan yang manis ini bisa dipuaskan dengan pemanis buatan rendah kalori. Saat ini belum ada obat untuk mengobati diabetes. Itu sebabnya sayangi diri Anda dengan menjaga gaya hidup yang sehat, yang meliputi pola makan, olahraga, istirahat, serta menghindari stres. Pada penderita diabetes pun gaya hidup yang sehat dapat menjaga gula darah tetap stabil sehingga penyakit ini bisa dikendalikan.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 5:40 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jun 29, 2010 7:58 pm

DM TERDETEKSI LEBIH DINI JIKA RAJIN KE DOKTER GIGI
Jumat, 29/07/2011 07:04 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Komplikasi diabetes sering terjadi karena gejala awal penyakit ini terlambat dideteksi. Rajin memeriksakan gigi bisa mengurangi risiko ini, karena berbagai gangguan mulut dan gusi sering berkaitan dengan diabetes yang tak terdiagnosis. Meski tidak disadari oleh pengidapnya, diabetes atau bahkan pra-diabetes bisa dideteksi oleh dokter gigi berdasarkan kondisi kesehatan rongga mulut. Karena itu, peneliti dari Columbia University menekankan pentingnya rajin memeriksakan gigi dan mulut. "Penyakit periodontal (gigi dan mulut) merupakan komplikasi awal diabetes dan 70 persen orang dewasa di Amerika Serikat cukup rajin periksa ke dokter gigi setidaknya setahun sekali," ungkap salah seorang peneliti, Dr Ira Lamster seperti dikutip dari Healthday, Jumat (29/5/2011). Dalam penelitian yang dimuat di Journal of Dental Research, Dr Lamster mengamati 600 pasien yang memeriksakan diri di sejumlah klinik dokter gigi. Seluruh responden tidak mengetahui atau belum pernah didiagnosis mengidap diabetes maupun pra-diabetes. Dari jumlah tersebut, 350 pasien di antaranya memiliki paling sedikit satu faktor risiko diabetes khususnya tipe 2 yang dipicu oleh gaya hidup tidak sehat. Faktor risiko yang dimaksud antara lain meliputi tekanan darah tinggi serta obesitas. Para pasien yang memiliki faktor risiko tersebut kemudian diperiksa giginya, lalu hasinya dianalisis. Hasilnya menunjukkan, pasien yang memiliki faktor risiko diabetes cenderung memiliki masalah periodontal seperti gigi tanggal dan pembentukan kantong gigi (deep periodontal pocket). Temuan ini menyiratkan bahwa dengan rajin memeriksakan kesehatan gigi dan mulut, yang terdeteksi bukan hanya kerusakan gigi. Jika gejala diabetes juga terdeteksi sejak awal, maka risiko yang lebih buruk bisa dihindari misalnya penyakit jantung dan stroke.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 2:38 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Jun 30, 2010 12:31 pm

AWAS, DIABETES SERANG ANAK MUDA!
Jumat, 14 November 2008 | 03:16 WIB
Kompas.com - JAKARTA, KAMIS - Diabetes melitus atau DM menjadi ancaman serius bagi masyarakat. Menurut Badan Kesehatan Dunia atau WHO, angka kejadian diabetes di Indonesia menempati urutan keempat tertinggi di dunia, yaitu 8,4 juta jiwa, pada tahun 2000. Penyakit ini banyak menyerang pada usia muda atau masa produktif. ”Untuk mencegah komplikasi, faktor risiko diabetes melitus harus dikendalikan,” kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan Yusharmen, dalam acara peringatan Hari Diabetes Sedunia, Kamis (13/11), di Jakarta. Menurut Federasi Diabetes Internasional, diabetes merupakan penyebab kematian urutan ketujuh di dunia. Tiap tahun ada 3,2 juta kematian terkait diabetes. Pada tahun 2003, WHO menyebutkan jumlah penderita DM 194 juta jiwa dan diperkirakan meningkat jadi 333 juta pada 2025. Survei Kesehatan Rumah Tangga memperlihatkan, prevalensi atau angka kejadian DM meningkat dari tahun 2001 sebesar 7,5 persen menjadi 10,4 persen pada tahun 2004. Adapun hasil survei Badan Pusat Statistik tahun 2003 menunjukkan, prevalensi DM 14,7 persen di perkotaan dan 7,2 persen di pedesaan. ”Peningkatan prevalensi diabetes seiring peningkatan faktor risiko, yaitu obesitas atau kegemukan, kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat, tinggi lemak, merokok, hiperkolesterol, dan kadar gula darah tinggi,” kata Yusharmen. Seiring pergeseran gaya hidup, kini kian banyak anak-anak terserang DM.

Komplikasi
”Di negara berkembang, diabetes banyak terjadi pada masa produktif,” kata Ketua Persatuan Diabetes Indonesia dr Achmad Rudijanto. DM adalah kelainan metabolisme karbohidrat akibat kekurangan insulin relatif atau absolut. Hal ini ditandai peningkatan kadar gula dalam darah, sering diikuti kelainan metabolisme lemak dan protein. Normalnya, kadar glukosa puasa kurang dari 100 mg/dl atau kadar glukosa 2 jam setelah makan kurang dari 140 mg/dl. Pada penderita DM, kadar glukosa puasa lebih dari 126 mg/dl atau kadar gula darah 2 jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl, disertai gejala diabetes, seperti mudah haus, banyak kencing pada malam hari, mudah lapar, lelah, dan berat badan turun drastis. ”Jika tidak diatasi, gejala diabetes akan jadi diabetes tipe dua. Beberapa penyakit terkait diabetes di antaranya, neuropathy, stroke, kelainan jantung, kelainan pembuluh darah dan syaraf kaki, komplikasi pada ginjal dan saluran kemih,” kata Rudi. Untuk itu, DM perlu dikendalikan dengan kontrol gula darah, mengonsumsi makanan bergizi seimbang dan kaya serat secara terencana, tidak merokok, olahraga teratur, mengendalikan berat badan. Sebagian pasien perlu mengonsumsi obat atau disuntik insulin.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 6:02 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Jun 30, 2010 12:33 pm

DIABETES MELITUS INCAR USIA PRODUKTIF
Sabtu, 30 Agustus 2008 | 21:22 WIB
Kompas.com - SOLO, SABTU - Meski penyakit diabetes mellitus tidak asing lagi di tengah masyarakat, namun pasien penyakit ini dari tahun terus bertambah. Tidak hanya usia di atas 50 tahun yang rentan terserang, kelompok usia produktif sekitar 20-30 tahun pun kini rentan terkena penyakit diabetes mellitus. Hal ini disebabkan pola hidup yang berubah, di mana orang dengan mengkonsumsi berbagai jenis makanan.

Hal ini disampaikan dr Roy Panusunan SpPD-KEMD, Wakil Ketua Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia), di sela-sela Talkshow Kendali Diabetes, Cegah Komplikasi-Tetap Sehat Dengan Diabetes Mellitus yang digelar Laboratorium Klinik Prodia, Sabtu (30/Cool di Hotel The Sunan Solo. "Perubahan gaya hidup membuat pasien diabetes berkembang. Kalau dulu pasien yang terkena penyakit diabetes di atas usia 50-an, tetapi sekarang banyak usia muda sudah kena diabetes," ujarnya. Mengapa demikian, Roy menegaskan karena saat ini orang bisa dengan mudah mendapat makanan dan langsung mengkonsumsinya, tanpa mempedulikan akibat dari konsumsi makanan tersebut.

Bagaimana mengendalikan dan mencegahnya, semua itu tergantung pada pasien. Oleh karena itu sebaiknya sejak awal berkonsultasi dengan dokter dan menerapkan gaya hidup sehat. Selain Roy, talkshow ini juga menghadirkan pembicara Dr dr Djoko Hardiman SpPD. Dalam talkshow ini peserta diberikan penjelasan bagaimana mengenali diabetes mellitus dan mencegah komplikasinya, gaya hidup sehat diabetisi, serta demo senam diabetesi.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 7:30 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Jun 30, 2010 12:35 pm

DM PADA ANAK KEMUNGKINAN AKIBAT VIRUS
Jumat, 6 Maret 2009 | 19:34 WIB
Kompas.com - DUA hasil penelitian dari Inggris menunjukkan bahwa penyakit diabetes pada anak-anak kemungkinan disebabkan oleh virus. Penemuan itu, seperti dikutip Reuters, akan membantu upaya pencarian vaksin untuk melawan penyakit yang diderita seumur hidup tersebut. Satu tim menunjukkan bahwa enterovirus - yang biasanya menyebabkan demam, muntah dan diare - ditemukan di dalam sebagian besar pankreas anak muda yang baru-baru ini meninggal dunia akibat diabetes tipe 1, sering disebut diabetes anak-anak. Namun enterovirus tersebut tidak ditemukan pada pankreas orang yang sehat.

Penemuan itu menunjukkan bahwa sebuah virus dapat memicu penyakit diabetes pada anak-anak yang secara genetik memiliki kecenderungan untuk menderita penyakit tersebut, yang dialami sekitar 440.000 orang di seluruh dunia, kata Alan Foulis dari Royal Infirmary di Glasgow, yang bekerja pada salah satu penelitian itu.

"Cerita yang muncul adalah ada sebuah virus infeksi yang mendahului serangan terhadap autoimunitas," katanya. Diabetes tipe 1 disebabkan kerusakan sel beta pankreas yang menghasilkan insulin yang diperlukan untuk mengatur kadar gula darah. Penyakit autoimun itu berbeda dengan diabetes tipe 2, yang sangat berkaitan dengan kegemukan. Genetika memainkan peran dalam diabetes tetapi para peneliti mengetahui ada faktor lain seperti diet yang juga penting, serta virus yang telah lama diduga sebagai pemicu yang memungkinkan, kata para peneliti.

Foulis dan koleganya menguji 73 contoh pankreas dari anak muda yang meninggal dunia akibat diabetes dan menemukan bahwa 60 persen organ itu mengandung sel beta yang terinfeksi enterovirus. Sebaliknya, menurut laporan para peneliti dalam jurnal Diabetologia, mereka tidak pernah menemukan sel beta yang terinfeksi dalam contoh jaringan yang diambil dari 50 anak yang tidak menderita diabetes.

Mereka juga menemukan banyak sel yang terinfeksi itu pada orang dewasa yang menderita diabetes tipe 2, yang menunjukkan bahwa virus mungkin juga memicu penyakit itu pada sejumlah orang. Penelitian kedua dari para peneliti di Universitas Cambridge menemukan bahwa mutasi genetik yang jarang terjadi di dalam sebuah gen yang terkait dengan respons tubuh terhadap virus, mengurangi risiko terserang diabetes anak-anak.

Mereka mengamati 480 anak muda yang menderita diabetes tipe 1 dan 480 orang sehat untuk menentukan gen tersebut dan varian yang terkait. "Kami menemukan sebuah gen khusus, yang bertindak sebagai peringatan terhadap infeksi virus," kata John Todd, peneliti dari Universitas Cambridge, yang bekerja pada penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Science.
"
Kami tidak hanya menemukan sebuah gen khusus tetapi juga menemukan bahwa gen ini memiliki fungsi membangkitkan semangat dalam menangani infeksi virus." Meskipun Todd mengingatkan bahwa banyak faktor lingkungan selain virus dapat menjadi penyebab diabetes tipe 1, tetapi Foulis dan timya mengatakan mereka ingin mengurangi sebanyak 100 enterovirus untuk menemukan virus mana yang memainkan peran utama.

Melakukan hal itu, dan memahami secara lebih baik tentang bagaimana sel merespons infeksi virus, merupakan langkah menuju penemuan sebuah vaksin yang suatu hari dapat melindungi anak-anak dari penyakit diabetes, kata Foulis. "Tujuannya adalah mendapatkan vaksin yang dapat mencegah banyak kasus diabetes tipe 1," katanya.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 10:15 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Jul 02, 2010 1:25 pm

DM PADA ANAK TAK GANGGU PERTUMBUHAN
Selasa, 22 Juli 2008 | 23:23 WIB
Kompas.com - ANAK-ANAK yang sudah divonis menderita diabetes tidak akan mengalami gangguan pertumbuhan, asalkan mematuhi seluruh aturan bagi penderita diabetes. "Pertumbuhan mereka tidak akan terganggu, asalkan mereka patuh pada aturan yang ditetapkan dokter dengan memakai insulin dari luar," kata konsultan Persatuan Diabetisi Indonesia (Persadia) unit Jogja International Hospital (JIH) Prabata, di Yogyakarta, Minggu.

Diabetisi (penderita diabetes) anak lebih disebabkan karena faktor genetik, sehingga selama hidupnya akan sangat bergantung pada insulin. "Diabetes itu termasuk tipe satu, dan timbul karena sel beta pankreas sudah tidak mampu memproduksi insulin secara alami karena ada faktor keturunan," katanya.

Menurut Prabata, diabetisi tipe satu tidak tergantung pada ’sex linkage’, misalnya bapak yang menderita diabetes maka keturunannya yang perempuan juga akan menderita diabetes. "Pemikiran itu salah, tidak ada hubungannya dengan ’sex linkage’, keturunan laki-laki atau perempuan sama-sama memiliki peluang yang sama untuk menderita diabetes," katanya.

Kata dia, orang yang memiliki faktor bisa saja menderita penyakit itu sebelum berusia 40 tahun, jika mereka tidak menjaga pola hidupnya. Namun demikian, ia menyangkal bahwa penderita diabetes sama sekali tidak boleh mengkonsumsi gula dalam bentuk apapun.

"Mereka masih bisa memakan gula, tetapi dengan takaran yang disesuaikan dengan insulin yang dimasukkan. Karena bagaimanapun juga, tubuh juga membutuhkan gula," katanya. Selain diabetisi tipe satu, ada pula diabetisi tipe dua yang muncul karena seseorang menjalani gaya hidup yang tidak sehat. Menurut Prabata, anak-anak yang memiliki bakat menjadi gemuk atau sudah gemuk dari kecil juga harus diwaspadai, karena kemungkinan menderita gula ketika sudah berusia 40 tahun.

Begitu pula dengan perempuan yang melahirkan bayi dengan berat lebih dari empat kilogram, memiliki kerentanan mengalami diabetes pada usia sekitar 40 tahun. Untuk penanganan diabetisi tipe dua, dapat dilakukan dengan insulinisasi dini, dengan harapan memberi kesempatan istirahat kepada pankreas guna memulihkan sel-sel yang telah rusak, sehingga nantinya kembali dapat memproduksi insulin secara alami.

Selain menjaga asupan makanan dan menjalani pola hidup sehat, kaum diabetisi menurut dia tidak boleh stress dan harus menerima kondisi yang dihadapi. "Faktor dukungan dari keluarga serta lingkungan juga sangat penting bagi penderita diabetisi untuk bisa menjalani kehidupannya," katanya.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 9:53 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Jul 14, 2010 4:44 pm

ANJING BISA JADI SAHABAT PENDERITA DIABETES
Senin, 4 Februari 2008 | 18:16 WIB Kompas.com
SEJAK berabad-abad lalu anjing dikenal sebagai binatang paling setia pada majikannya. Insting dan kemampuannya pun kerap dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan manusia mulai dari tugas ringan seperti menuntun orang buta hingga mengendus zat tertentu seperti narkoba atau bahan peledak.
Kemampuan anjing pun kini mulai dikembangkan untuk kebutuhan yang berkaitan dengan kesehatan. Di Amerika Serikat misalnya, binatang setia ini sekarang banyak dilatih indra penciumannya untuk mengawasi kadar gula darah para penderita diabetes.

Berdasarkan data Asosiasi Diabetes Amerika, lebih dari 20 juta anak dan orang dewasa di AS mengidap diabetes. Akibat penyakit ini, tubuh mereka tidak cukup memproduksi insulin, hormon yang dibutuhkan untuk mengubah gula, tepung dan makanan lain menjadi energi. Penderita diabetes harus memeriksakan kadar gula darah mereka secara teratur setiap hari. Bahkan pemeriksaan terkadang harus dilakukan tengah malam guna mencegah terjadinya peningkatan atau penurunan ekstrim yang berujung pada kegagalan organ.

Peran anjing dalam membantu serta memberi peringatan dini sebenarnya telah terlihat. Setidaknya dua organisasi di AS telah sukses melatih anjing dalam mendeteksi rendahnya kadar glukosa. Tetapi yang menjadi persoalan kini adalah para ahli belum dapat mengungkap bukti ilmiah bahwa anjing benar-benar dapat dijadikan acuan bagi penderita diabetes dalam mendeteksi penurunan kadar gula darah yang membahayakan .

Para peneliti dari Queen's University di Belfast, Irlandia Utara, misalnya, kini tengah berupaya keras mengungkap bukti-bukti ilmiah tersebut. Yang menjadi perhatian mereka adalah sinyal atau isyarat apa yang diterima anjing sehingga isyarat ini dapat dilatih dan dikenalkan sebagai sistem baku bagi peringatan dini bagi penderita diabetes.

"Laporan bersifat anekdot memang menunjukkan bahwa beberapa ekor anjing dapat memberi peringatan dini akan terjadinya hipoglikemia dengan menggunakan indra penciuman mereka untuk mengetahui bahwa kadar gula darah majikannya sedang menurun," ungkap pimpinan peneliti dan profesor psikologi, Deborah Wells.

Soal sinyal atau isyarat ini juga menjadi perhatian Mark Ruefenacht, pendiri Dogs for Diabetics, di Concord, California. Menurutnya, isyarat apa persisnya yang ditangkap anjing ketika seseorang mengalami kadar rendah gula darah masih menjadi sebuah misteri.

"Kami hanya belum dapat menemukan jawaban yang tepat . Setiap kali kami pikir sudah mempunyai jawabannya namun sebenarnya belum," ujar Ruefenacht. Ruefenacht, yang juga penderita diabetes, merintis organisasi Dogs for Diabetics tiga tahun lalu. Organisasi ini sekarang tengah berupaya mengidentifikasi aroma atau abu yang memungkinkan anjing bisa memberikan peringatan dini dengan dukung laboratorium forensik

Ruefenacht mendirikan organisasi tersebut setelah terinspirasi oleh salah satu anak anjing miliknya. Anjing tersebut membangunkan ia di suatu malam di mana Ruefenacht rupanya lupa mengecek kadar gula darahnya sebelum tidur. Ruefenacht berpikir bahwa dirinya telah mengalami semacam seizure atau kejang yang mengingatkan anak anjing tersebut.

Sejak itu, seluruh relawan dalam organisasi tersebut menempatkan 30 pelatih anjing di rumah-rumah pengidap diabetes tipe 1 di kawasan California Utara. Permintaan akan anjing terlatih ini ternyata tinggi, lebih dari 100 orang kini tercatat dalam antrian.

Dogs Oganisation for Diabetics menggunakan anjing-anjing Labrador Retriever yang tidak lulus sekolah pemandu. Anjing-anjing ini biasanya gagal karena berbagai alasan seperti menolak berjalan di saat hujan atau enggan naik ke eskalator. Kemampuan dasar tersebut memang penting untuk menjadi anjing pekerja, tetapi tidak bagi anjing pembantu.

Ruefenacht mengatakan, anjingnya harus menjalani pelatihan tiga hingga empat bulan sama dengan yang apa dipersiakan untuk mendeteksi narkotika atau bahan peledak. Seekor anjing berusia 2 tahun biasanya pertama kali diajari untuk mendeteksi contoh bau atau aroma kadar rendah gula darah. Lalu mereka diajarkan untuk menemukan bau tersebut pada manusia, dan memberi peringatan kepada orang lain dengan cara mengggit sebuah pipa kecil yang menggantung di lehernya. Anjing-anjing yang sukses menyelesaikan pelatihan tersebut dinilai 90 persen akurat, kata Ruefenacht.

Maski cukup akurat, tidak semua orang bisa langsung percaya dengan kemampuan anjing. Larry Myers, dokter hewan dan profesor di Auburn University di Alabama, misalnya telah mencoba melatih anjingnya untuk mendeteksi segala macam obat hingga pestisida pertanian selama 25 tahun. Menurutnya, pengadilan belum mengambil keputusan apakah anjing benar-benar dapat mendeteksi rendahnya kadar gula darah.

Walaupun anjing telah memiliki kemampuan penciuman yang luar biasa, menurut Myers, mereka tidak sensitif secara universal terhadap seluruh jenis zat kimia. "Apakah individu pengidap hipoglikemik, pada faktanya, mengeluarkan bau yang khusus? Saya tidak tahu, dan saya kira tidak ada satu orang pun mengetahuinya saat ini," ujarnya..

Kemungkinan lain selain bau atau aroma adalah anjing menangkap isyarat atau sinyal visual, sehingga dalam kasus ini anjing berfungsi sebagai pendeteksi gejala seizure. Anjing-anjing seperti ini diduga dapat menangkap perubahan psikologis yang sangat tak kentara pada majikannya yang mungkin bisa terlihat 45 menit sebelum seizure sebenarnya. Anjing ini kemudian memberi peringatan kepada manusia sehingga dapat menemukan lingkungan yang aman atau mengambil tindakan pencegahan.

"Ini dapat mengungkap apakah anjing benar-benar sensitif terhadap perubahan yang tak terlihat pada individua sesaat menjelang terjadinya serangan. Ini akan menjadi sebuah fakta bahwa seekor anjing sangat memperhatikan perilaku manusia," ungkap Myers.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 11:05 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 5 of 72Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5, 6 ... 38 ... 72  Next
 Similar topics
-
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus
» Mint and diabetes
» Former 007 Roger Moore reveals suffering from diabetes has forced him to give up martinis
» Jason Fung:The Two Big Lies of Type 2 Diabetes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: