Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 37 ... 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:42 pm

DIABETES MOTHER OF DISEASE
Selasa, 6 Oktober 2009 | 15:34 WIB
KOMPAS.com - Para penderita diabetes alias kencing manis ini janganlah terlalu menganggap sepele penyakit yang satu ini, karena ternyata tanpa Anda sangka penyakit ini menyimpan sejuta kejutan! Tahukah Anda bahwa si "manis" ini merupakan "mother of disease"- ibu dari segala penyakit? "Dengan adanya diabetes, Anda bisa menderita kelainan berbagai macam organ tubuh, dari mata, jantung, lambung, hati, ginjal, kulit sampai kaki," kata dr.Candra Wibowo, Sp.PD dari Mitra International Hospital Jatinegara, Jakarta. Dokter Candra menuturkan, diabetes bisa menyebabkan aliran pembuluh darah menjadi kurang baik yang berakibat pada kerusakan organ dalam mata dari retina yang disebut retinopati diabetik dan menyebabkan kebutaan perlahan - lahan, hingga kerusakan pada lensa seperti katarak. Perubahan metabolisme sel lapisan dalam pembuluh darah juga bisa menyebabkan aliran darah kurang baik dan menjadi kaku (tidak elastis). Akibatnya organ-organ yang harus dialiri darah menjadi kekurangan nutrisi dan oksigen. Hal ini bisa menyebabkan timbulnya serangan jantung koroner, stroke dan luka yang susah sembuh.

Masalah kesehatan lain yang kerap dialami pasien diabetes (diabetesi) adalah gastropati diabetik dengan gejala perasaan kembung, begah, dan cepat kenyang. Para diabetesi juga seringkali terlihat semakin kurus. Hal ini terjadi karena tubuh butuh lebih banyak insulin karena insulin yang ada dalam tubuh hanya digunakan separuh akibat ketidakefesieanan reseptor atau biasa disebut resitensi insulin. Diabetes juga menyebabkan kebocoran protein di ginjal, yang berakibat gagal ginjal di mana seseorang memerlukan terapi pengganti ginjal, seperti cuci darah, cuci rongga perut, atau cangkok ginjal. Komplikasi lain yang mungkin dihadapi diabetesi adalahkaki diabetik. Komplikasi ini terjadi karena terjadinya kerusakan saraf, pasien tidak dapat membedakan suhu panas dan dingin, rasa sakit pun berkurang.

"Saat diabetes sudah lama dan tidak terkontrol, aliran pembuluh darah kita jarang sampai ke ujung - ujung tubuh, termasuk jari kaki, tangan, ujung rambut hingga penis. Dari situ jika mengalami luka di kaki atau tangan akan sulit sembuh karena aliran darah yang memberi makanan tidak sampai ke ujung jari kaki atau tangan tersebut. Untuk rambut bahkan bisa menyebabkan alopesia atau kebotakan dan bagi laki – laki, bisa terjadi disfungsi ereksi ", papar dokter Candra. Oleh karena itu kontrol secara teratur gula darah Anda dengan cara rutin berolahraga dan melakukan diet. Selain itu hindari semua kelainan yang mungkin mengancam anda di masa depan sehingga kualitas hidup Anda akan lebih baik meskipun Anda penderita diabetes.

dr. Intan Airlina Febiliawanti


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 2:35 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:46 pm

KURUS BUKAN JAMINAN BEBAS DM
Selasa, 11/05/2010 15:06 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Salah satu faktor risiko diabetes melitus (DM) adalah kegemukan. Namun tidak berarti bahwa tubuh kurus benar-benar bebas risiko, sebab yang terpenting adalah komposisi lemak tubuh. Ketua Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia, Dr. dr. Aris Wibudi, Sp.PD., KEMD membenarkan hal itu di acara bincang media dengan tema 'Nutrisi Seimbang untuk Cegah dan Atasi Diabetes', Selasa (11/5/2010) di Jakarta. Menurutnya, tubuh yang sehat adalah tubuh yang berotot.

"Makin banyak otot semakin baik, karena otot memberi pertahanan pada tubuh terhadap gangguan-gangguan metabolisme," ungkap Dr. Aris yang juga berdinas di RSPAD Gatot Subroto Jakarta. Ia mencontohkan, salah seorang temannya memiliki badan kurus, sangat takut makan dan menjalankan diet dengan sangat ketat. Meski demikian kadar gula darahnya tetap tinggi, karena dia jarang berolah raga. Orang itu kurus, tetapi tidak ada ototnya.

Karena yang dilihat adalah komposisi lemak, maka berat badan kadang tidak bisa menjadi patokan. Berat badan tinggi tidak masalah asal tidak berlebihan, dan memiliki lebih banyak otot daripada lemak. "Sebagai contoh, berat badan Ade Rai tentu lebih tinggi dibanding saya. Tetapi saya punya ransel seperti ini, dia tidak punya," tambah Dr. Aris, sambil memegangi lemak di pinggang yang disebutnya 'ransel'. Lingkar pinggang memang menunjukkan faktor risiko DM. Jika seorang pria memiliki lingkar pinggang di atas 90 cm, atau wanita memiliki lingkar pinggang di atas 85 cm, maka risikonya lebih tinggi untuk terkena DM.

Sedangkan untuk menghilangkan lemak, caranya cukup sederhana dan bisa dilakukan kapan saja. Berjalan kaki sebanyak 1.000 langkah setiap hari menurutnya sudah cukup untuk mengurangi risiko DM. Memang tidak semua langkah bisa dihitung sebagai olahraga. Head of Division Nutrifood Research Center, Susana, STP, M.Sc., PDEng menilai, jalan-jalan di mall tidak termasuk olah raga karena terlalu santai. "Jalan-jalan di mall itu terlalu santai. Sebentar-sebentar berhenti, toleh sana toleh sini. Yang seperti itu tidak efektif untuk menghilangkan lemak," kata Susana.

Sementara jika menggunakan treadmill, target denyut nadi permenit bisa dihitung dengan rumus: (220-umur)X 65%. Misalnya jika umurnya 55 tahun, maka perhitungannya adalah: (220-55) X 65% = 107,25/menit. Bisa juga dipermudah menjadi 107 hingga 108 per menit. Untuk mencapai target tersebut, tidak boleh lebih dari 45 menit dalam satu hari. Patokannya jika saat treadmill sampai tidak bisa diajak ngobrol karena napasnya tersengal, maka itu berarti berlebihan. Demikian juga bila masih bisa bernyanyi dengan merdu, itu artinya masih kurang.
(up/ir)


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:04 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:49 pm

DM YANG TAK MANIS DIONGKOS
Sabtu, 20/11/2010 10:14 WIB AN Uyung Pramudiarja - detikHealth
Jakarta, Diabetes melitus sering disebut penyakit gula, meski tidak pernah semanis namanya jika sudah bicara soal ongkos perawatan. Mahalnya biaya perawatan semakin menjadi beban seiring dengan terus meningkatnya jumlah pengidap di seluruh dunia. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan 30 juta penduduk dunia mengidap diabetes pada 1985 dan melonjak menjadi 150 juta dalam 10 tahun berikutnya. Kini jumlahnya mencapai 285 juta dan diperkirakan terus meningkat hingga 438 juta pada 2030, lebih besar dari populasi penduduk di seluruh Eropa saat ini.

Celakanya, peningkatan terbesar justru dialami oleh negara berkembang seperti Indonesia yang secara ekonomi relatif kurang kuat dibandingkan negara maju. Padahal pengobatan jangka panjang dan perawatan diabetes membutuhkan fasilitas dan sarana yang tidak murah. "Kesadaran akan pola hidup sehat di negara maju lebih tinggi sehingga diabetes hanya dialami usia 65 tahun ke atas. Di negara berkembang, umur 45-64 tahun sudah kena," ungkap Dr Pradana Soewondo, SpPD-KEMD dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia, dalam jumpa pers Hari Diabetes Dunia di Hotel Le Meridien, Jakarta, Jumat (19/11/2010).

Padahal keterbatasan sarana, fasilitas dan dana untuk perawatan sangat menentukan kualitas hidup pengidap diabetes. Apalagi pengobatan dan perawatan penyakit ini biasanya dilakukan dalam jangka panjang, bahkan bisa dibilang seumur hidup. Sebagai contoh, tingkat kematian akibat diabetes di negara-negara Afrika sub-Sahara yang tergolong miskin 4 kali lebih tinggi dibandingkan rata-rata di seluruh dunia. Salah satu pemicunya adalah ketidakmampuan pemerintah setempat untuk menyediakan obat murah dan insulin generik.

Harapan hidup pengidap diabetes di wilayah tersebut umumnya rendah, namun tetap bervariasi sesuai dengan kemampuan ekonomi dan tingkat kepedulian pemerintahnya. Misalnya di Zamibia yang memiliki program pengelolaan insulin yang lebih baik, harapan hidup pengidap diabetes bisa mencapai 11 tahun.
Sementara di Mali, harapan hidup hanya 30 bulan karena tidak adanya program yang menjamin ketersediaan dan keterjangkauan harga insulin. Harapan hidup pengidap diabetes di Mozambik lebih pendek lagi, karena tidak banyak yang bertahan hidup lebih dari 1 tahun.

Mahalnya ongkos pengobatan dan perawatan
Makin banyaknya jumlah pengidap diabetes membuat biaya yang dibutuhkan untuk pengobatan dan perawatan ikut membengkak. Pembengkakan biayanya bahkan ditaksir jauh lebih pesat dibandingkan laju pertumbuhan jumlah penduduk di seluruh dunia. Sepanjang tahun 2007 saja, perawatan diabetes di seluruh dunia tercatat menghabiskan biaya sekitar US$ 232 miliar. Dikutip dari worlddiabetesday, Jumat (19/11/2010), pada tahun 2025 biaya itu diperkirakan akan terus membengkak hingga mencapai US$ 302,5 miliar.

Di negara industri, 25 persen ongkos perawatan diabetes digunakan untuk mengendalikan kadar gula darah. Pengobatan komplikasi jangka panjang seperti penyakit jantung menghabiskan 25 persen dari total biaya, sementara sisanya sebesar 50 persen digunakan untuk perawatan lain yang berhubungan dengan diabetes. Sementara di negara-negara miskin seperti India, pengidap diabetes rata-rata menghabiskan 25 persen dari total pendapatannya hanya untuk berobat. Itupun biasanya hanya cukup untuk mengatasi peningkatan kadar gula yang benar-benar tinggi dan mengancam jiwanya, bukan untuk pengobatan rutin.

Kesulitan yang sama juga dialami oleh negara-negara di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia, yang rata-rata penghasilannya lebih tinggi. Kurangnya jaminan kesehatan dari pemerintah membuat pengidap diabetes di wilayah itu masih harus menanggung 40-60 persen ongkos pengobatan dari kantong pribadinya.
Sebagian besar atau hampir 50 persennya juga habis untuk membeli obat-obat pengendali kadar gula darah. Hanya tersisa sedikit atau bahkan tidak ada sisa sama sekali untuk mengobati komplikasi, seperti darah tinggi (hipertensi), kolesterol (hiperlipidemia), dan sakit jantung.

Biaya untuk mencegah jauh lebih murah
Meski laju pengingkatan jumlah pengidap diabetes di negara berkembang rata-rata lebih tinggi dibanding negara maju, beberapa negara di Asia berhasil mengeremnya antara lain Singapura dan Thailand. Dr Pradana mengatakan, gaya hidup sehat merupakan kunci sukses bagi kedua negara itu. "Di Thailand, kantin sekolah tidak menjual kembang gula, soft drink dan fast food. Di Singapura, siswa yang gemuk tidak bisa pulang cepat, ada kegiatan khusus yaitu olahraga seusai jam pelajaran. Wajib militer juga dibedakan, jika umumnya hanya 6 bulan maka untuk pemuda yang gemuk waktunya lebih panjang," katanya.

Sebagai upaya pencegahan, langkah-langkah tersebut sudah cukup efektif mengingat salah satu faktor risiko diabetes adalah kegemukan. Namun bagi yang sudah mengidap diabetes, organisasi kesehatan dunia WHO memberikan 4 langkah untuk mencegah pembengkakan biaya perawatan. Keempat langkah itu dinilai tidak hanya mudah untuk dilakukan, tetapi juga murah bila dibandingkan dengan biaya yang dibutuhkan jika terjadi komplikasi antara lain impotensi, serangan jantung dan amputasi. Dikutip dari worlddiabetesday, berikut ini adalah 4 langkah yang dimaksud:

1. Kontrol gula darah secara minimal tetapi rutin
2. Kontrol dan kendalikan tekanan darah secara teratur
3. Kaki bagi pengidap diabetes yang berisiko tinggi mengalami luka
4. Perawatan sebelum hamil (preconception) bagi perempuan diabetes untuk mencegah diabetes gestational

Sementara itu untuk memperingati Hari Diabetes Dunia yang jatuh pada tanggal 14 November, perusahaan farmasi Sanovi-Aventis Group menggelar kampanye bertema "Doing More Together". Kampanye tersebut dilakukan melalui peluncuran e-baloon, balon elektronik yang melambangkan kepedulian terhadap diabetes.
Sanovi-Aventis yang merupakan partner resmi World Diabetes Day 2010 mengajak siapapun yang peduli terhadap diabetes untuk bersama-sama melepaskan balon elektronik. Caranya dengan mengunjungi www.kendalidiabetes.com dan mengklik balon yang muncul di situs tersebut.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 5:14 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:53 pm

TANDA TANDA TERKENA DIABETES
Kamis, 24/12/2009 10:53 WIB Irna Gustia, Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Banyak pengalaman beberapa orang ketika buang air kecil lalu air seninya dikerubuti semut. Itu adalah salah satu tanda-tanda diabetes yang gampang diketahui. Tapi ada banyak lagi tanda-tanda diabetes yang perlu diwaspadai. "Kalau seseorang pipisnya dikerubuti semut, itu bisa jadi tanda awal dari penyakit diabetes," ujar dr Dante Saksono H, SpPD, PhD, saat dihubungi detikHealth, Kamis (24/12/2009).

Kenapa bisa seperti itu?
Menurutnya, seseorang yang memiliki penyakit diabetes maka air seni yang dibuang masih mengandung gula. Ini terjadi karena ketika gula darah yang masuk ke dalam tubuh di proses oleh organ ginjal tidak terserap sempurna oleh tubuh. Kemudian akan dikeluarkan oleh tubuh melalui air seni atau pipis.

"Kalau kadar gulanya dalam darah tinggi, maka hasil saringannya sudah pasti masih mengandung gula atau bersifat manis," ujar dokter berusia 36 tahun ini. dr Dante mengatakan sebenarnya diabetes melitus artinya adalah air mancur yang manis, dan air mancur disini dapat diartikan sebagai pipis atau air seni. Penyakit diabetes adalah gangguan penggunaan glukosa yang terjadi di dalam tubuh. Diabetes tidak terjadi secara begitu saja. Sebelum seseorang didiagnosis menderita diabetes, mereka mengalami fase normal, lalu meningkat menjadi prediabetes dan akhirnya menderita diabetes.

Penyakit ini sering disebut dengan silent killer. Penyakit ini tidak langsung menyebabkan kematian tapi komplikasi yang dihasilkan dari diabetes ini bisa menurunkan kualitas hidup seseorang hingga berakhir dengan kematian.Jika penderita diabetes bisa mengontrol kadar gula darahnya dengan baik, maka komplikasi yang diakibatkan oleh penyakit ini bisa dicegah. Komplikasi dari diabetes ini bisa menyerang hampir seluruh organ tubuh manusia. Tanda-tanda seseorang terkena diabetes seperti dilansir dari diabeteslibrary adalah:

1. Sering buang air kecil
Buang air kecil akan menjadi sering jika terlalu banyak glukosa dalam darah. Jika insulin (yakni hormon yang mengendalikan gula darah) tidak ada atau sedikit maka ginjal tidak dapat menyaring glukosa untuk kembali ke dalam darah. Kemudian ginjal akan menarik tambahan air dari darah untuk menghancurkan glukosa. Hal ini membuat kandung kemih penuh dan membuat seseorang sering pipis.

2. Sering merasa haus
Karena sering buang air kecil, Anda akan menjadi lebih sering haus, karena proses penghancuran glukosa yang sulit maka air di dalam darah tersedot untuk menghancurkannya. Sehingga seseorang perlu minum lebih banyak untuk menggantikan air yang hilang.

3. Berat badan turun cepat
Terutama terjadi pada penderita diabetes tipe 1 (faktor genetik). Pankreas pada penderita diabates berhenti membuat insulin akibat serangan virus pada sel-sel pankreas atau respons autoimun yang membuat tubuh menyerang sel-sel yang memproduksi insulin. Akibatnya tubuh akan kesulitan mencari sumber energi karena sel-sel tidak memperoleh glukosa. Kemudian tubuh mulai memecah jaringan otot dan lemak untuk energi sehingga berat badan terus menyusut.

Pada penderita diabetes tipe 2 (faktor perubahan gaya hidup), penurunan berat badan terjadi secara bertahap dengan peningkatan resistensi insulin sehingga penurunan berat badan tidak begitu terlihat.

4. Merasa lemah dan gampang kelelahan
Karena produksi glukosa terhambat sehingga sel-sel makanan dari glukosa yang harusnya didistribusikan ke semua sel tubuh untuk membuat energi jadi tidak berjalan. Karena sel energi tidak mendapat asupan sehingga orang akan merasa cepat lelah.

5. Sering kesemutan di kaki dan tangan
Gejala ini disebut neuropati. Terjadi secara bertahap dari waktu ke waktu karena glukosa dalam darah tinggi akan merusak sistem saraf. Pada penderita diabetes tipe 2 kejadiannya secara bertahap, dan orang-orang sering tidak menyadari bahwa itu salah satu pertanda. Kondisi gula darah tinggi kemungkinan telah terjadi beberapa tahun sebelum diagnosa. Kerusakan saraf dapat menyebar tanpa pengetahuan kita.

6. Penglihatan kabur, kulit kering atau gatal, sering infeksi atau luka dan memar, yang membutuhkan penyembuhan dalam waktu lama merupakan tanda-tanda lain dari diabetes.

Jika melihat ada tanda-tanda itu maka Anda punya alasan untuk khawatir soal diabetes.


Last edited by gitahafas on Sun Jul 25, 2010 3:36 pm; edited 8 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun May 16, 2010 6:08 pm

WASPADAI ANCAMAN DIABETES MELITUS
Kamis, 13 November 2008 | 16:09 WIB
Kompas.com - JAKARTA, KAMIS - Diabetes mellitus atau DM kini menjadi ancaman serius bagi umat manusia di dunia. Pada tahun 2003, Badan Kesehatan Dunia atau WHO memperkirakan, 194 juta jiwa atau 5,1 persen dari 3,8 miliar penduduk dunia usia 20-79 tahun menderita DM dan pada tahun 2025 diperkirakan meningkat menjadi 333 juta jiwa. Sebagian penderita diabetes mengalami komplikasi yang membahayakan keselamatan jiwa.

Di Indonesia, penderita diabetes juga mengalami kenaikan dari 8,4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi sekitar 21,3 juta jiwa pada tahun 2020. Tingginya angka kesakitan itu menjadikan Indonesia menempati urutan keempat dunia setelah Amerika Serikat, India dan China sebagaimana dicantumkan dalam Diabetes Care tahun 2004. Survei Kesehatan Rumah Tangga atau SKRT memberi gambaran terjadinya peningkatan prevalensi DM dari tahun 2001 sebesar 7,5 persen menjadi 10,4 persen pada tahun 2004.

"Peningkatan angka kejadian diabetes itu seiring de ngan meningkatnya faktor risiko di antaranya obesitas atau kegemukan, kurang aktivitas fisik, kurang mengonsumsi makanan berserat tinggi, tinggi lemak, merokok, dan kelebihan kolesterol," kata Direktur Pengendalian Penyakit Tidak Menular Departemen Kesehatan, Yusharmen, dalam seminar sehari bertema Pengendalian Faktor Risiko dan Penatalaksanaan Diabetes Mellitus, Kamis (13/11), di Kantor Depkes, Jakarta.

"Diabetes atau kencing manis adalah penyakit metabolisme yang ditandai tingginya kadar gula dalam darah. Penyakit ini juga sering disebut dengan the great imitator karena dapat menyerang semua organ tubuh dan menimbulkan keluhan," kata Yusharmen. Penyakit ini timbul perlahan-lahan, sehingga seseorang tidak menyadari berbagai perubahan dalam dirinya.

Penyakit itu ditandai dengan gejala antara lain banyak minum atau mudah haus, banyak kencing dengan frekuensi 3-4 kali terutama pada malam hari, banyak makan atau mudah lapar, mudah lelah serta kadang berat badan menurun drastis. "Diagnosis diabetes ditegakkan bila seseorang memiliki gejala-gejala itu dan pada pemeriksaan darah sewaktu hasilnya lebih besar dari 200 atau pada pemeriksaan gula darah puasa minimal 8 jam hasilnya lebih dari 126," ujarnya.

Penyebab diabetes cenderung diturunkan, bukan ditularkan. Anggota keluarga diabetes memiliki kemungkinan besar terserang penyakit ini dibanding dengan anggota keluarga yang tidak menderita diabetes. Selain itu, diabetes dapat disebabkan virus seperti rubela dan human coxsackievirus B4. "Sebenarnya diabetes dapat dikendalikan dengan antara lain kontrol gula darah secara teratur, makan dengan gizi seimbang dan terencana, tidak merokok, dan berolah raga secara teratur," kata dia.


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 9:43 am; edited 12 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 11:55 am

PENYEBAB DM
Mungkin kita tidak sadari bahwa dalam kehidupan sehari-hari, kita telah melakukan beberapa hal yang justru menjadi pemicu penyakit kencing manis. Sekalipun mungkin hal-hal yang sepele, namun dalam hidup ini berlaku hukum “tabungan”, yaitu apa yang kita lakukan menjadi tabungan di masa mendatang. Apa yang kita tabung sedikit demi sedikit akan terasa hasilnya bertahun-tahun kemudian. Begitu pun dengan penyakit. Mulai dari segelas minuman favorit hingga suka menonton TV hingga larut. Siapa nyana kalau itu bisa meningkatkan risiko kencing manis atau diabetes?

1. Teh manis
Penjelasannya sederhana. Tingginya asupan gula menyebabkan kadar gula darah melonjak tinggi. Belum risiko kelebihan kalori. Segelas teh manis kira-kira mengandung 250-300 kalori (tergantung kepekatan). Kebutuhan kalori wanita dewasa rata-rata adalah 1.900 kalori per hari (tergantung aktivitas). Dari teh manis saja kita sudah dapat 1.000-1.200 kalori. Belum ditambah tiga kali makan nasi beserta lauk pauk. Patut diduga kalau setiap hari kita kelebihan kalori. Ujungnya: obesitas dan diabetes. Pengganti: Air putih, teh tanpa gula, atau batasi konsumsi gula tidak lebih dari dua sendok teh sehari.

2. Gorengan
Karena bentuknya kecil, satu gorengan tidak cukup buat kita. Padahal gorengan adalah salah satu faktor risiko tinggi pemicu penyakit degeneratif, seperti kardiovaskular, diabetes melitus, dan stroke. Penyebab utama penyakit kardiovaskular (PKV) adalah adanya penyumbatan pembuluh darah koroner, dengan salah satu faktor risiko utamanya adalah dislipidemia. Dislipidemia adalah kelainan metabolisme lipid yang ditandai dengan peningkatan kadar kolesterol total, LDL (kolesterol jahat) dan trigliserida, serta penurunan kadar HDL (kolesterol baik) dalam darah. Meningkatnya proporsi dislipidemia di masyarakat disebabkan kebiasaan mengonsumsi berbagai makanan rendah serat dan tinggi lemak, termasuk gorengan. Pengganti: Kacang Jepang, atau pie buah.

3. Suka ngemil
Kita mengira dengan membatasi makan siang atau malam bisa menghindarkan diri dari obesitas dan diabetes. Karena belum kenyang, perut diisi dengan sepotong atau dua potong camilan seperti biskuit dan keripik kentang. Padahal, biskuit, keripik kentang, dan kue-kue manis lainnya mengandung hidrat arang tinggi tanpa kandungan serta pangan yang memadai. Semua makanan itu digolongkan dalam makanan dengan glikemik indeks tinggi. Sementara itu, gula dan tepung yang terkandung di dalamnya mempunyai peranan dalam menaikkan kadar gula dalam darah. Pengganti: Buah potong segar.

4. Kurang tidur.
Jika kualitas tidur tidak didapat, metabolisme jadi terganggu. Hasil riset para ahli dari University of Chicago mengungkapkan, kurang tidur selama 3 hari mengakibatkan kemampuan tubuh memproses glukosa menurun drastis. Artinya, risiko diabetes meningkat. Kurang tidur juga dapat merangsang sejenis hormon dalam darah yang memicu nafsu makan. Didorong rasa lapar, penderita gangguan tidur terpicu menyantap makanan berkalori tinggi yang membuat kadar gula darah naik. Solusi: Tidur tidak kurang dari 6 jam sehari, atau sebaiknya 8 jam sehari.

5. Malas beraktivitas fisik
Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, kasus diabetes di negara-negara Asia akan naik hingga 90 persen dalam 20 tahun ke depan. “Dalam 10 tahun belakangan, jumlah penderita diabetes di Hanoi, Vietnam, berlipat ganda. Sebabnya? Di kota ini, masyarakatnya lebih memilih naik motor dibanding bersepeda,” kata Dr Gauden Galea, Penasihat WHO untuk Penyakit Tidak Menular di Kawasan Pasifik Barat.
Kesimpulannya, mereka yang sedikit aktivitas fisik memiliki risiko obesitas lebih tinggi dibanding mereka yang rajin bersepeda, jalan kaki, atau aktivitas lainnya. Solusi: Bersepeda ke kantor.

6. Sering stres
Stres sama seperti banjir, harus dialirkan agar tidak terjadi banjir besar. Saat stres datang, tubuh akan meningkatkan produksi hormon epinephrine dan kortisol supaya gula darah naik dan ada cadangan energi untuk beraktivitas. Tubuh kita memang dirancang sedemikian rupa untuk maksud yang baik. Namun, kalau gula darah terus dipicu tinggi karena stres berkepanjangan tanpa jalan keluar, sama saja dengan bunuh diri pelan-pelan.
Solusi: Bicaralah pada orang yang dianggap bermasalah, atau ceritakan pada sahabat terdekat.

7. Kecanduan rokok
Sebuah penelitian di Amerika yang melibatkan 4.572 relawan pria dan wanita menemukan bahwa risiko perokok aktif terhadap diabetes naik sebesar 22 persen. Disebutkan pula bahwa naiknya risiko tidak cuma disebabkan oleh rokok, tetapi kombinasi berbagai gaya hidup atau lifestyle tidak sehat, seperti pola makan dan olahraga. Pengganti: Permen bebas gula. Cara yang lebih progresif adalah mengikuti hipnoterapi. Pilihlah ahli hipnoterapi yang sudah berpengalaman dan bersertifikat resmi.

8. Menggunakan pil kontrasepsi
Kebanyakan pil kontrasepsi terbuat dari kombinasi hormon estrogen dan progestin, atau progestin saja. Pil kombinasi sering menyebabkan perubahan kadar gula darah. Menurut dr Dyah Purnamasari S, Sp PD, dari Divisi Metabolik Endokrinologi RSCM, kerja hormon pil kontrasepsi berlawanan dengan kerja insulin. Karena kerja insulin dilawan, pankreas dipaksa bekerja lebih keras untuk memproduksi insulin. Jika terlalu lama dibiarkan, pankreas menjadi letih dan tidak berfungsi dengan baik. Solusi: Batasi waktu penggunaan pil-pil hormonal, jangan lebih dari 5 tahun.

9. Takut kulit jadi hitam
Menurut jurnal Diabetes Care, wanita dengan asupan tinggi vitamin D dan kalsium berisiko paling rendah terkena diabetes tipe 2. Selain dari makanan, sumber vitamin D terbaik ada di sinar matahari. Dua puluh menit paparan sinar matahari pagi sudah mencukupi kebutuhan vitamin D selama tiga hari. Beberapa penelitian terbaru, di antaranya yang diterbitkan oleh American Journal of Epidemiology, menyebutkan bahwa vitamin D juga membantu keteraturan metabolisme tubuh, termasuk gula darah. Solusi: Gunakan krim tabir surya sebelum “berjemur” di bawah sinar matahari pagi selama 10-15 menit.

10. Keranjingan soda
Dari penelitian yang dilakukan oleh The Nurses’ Health Study II terhadap 51.603 wanita usia 22-44 tahun, ditemukan bahwa peningkatan konsumsi minuman bersoda membuat berat badan dan risiko diabetes melambung tinggi. Para peneliti mengatakan, kenaikan risiko itu terjadi karena kandungan pemanis yang ada dalam minuman bersoda. Selain itu, asupan kalori cair tidak membuat kita kenyang sehingga terdorong untuk minum lebih banyak.
Related Posts with Thumbnails Read more: http://indodiabetes.com/10-kebiasaan-pemicu-diabetes-atau-kencing-manis.html#ixzz0upeO4tKf


Last edited by gitahafas on Wed Aug 18, 2010 7:05 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 11:57 am

PENGIDAP DM MENINGKAT PESAT
Senin, 15 November 2010 | 04:36 WIB
JAKARTA, KOMPAS — Prevalensi diabetes pada penduduk Asia telah meningkat dua hingga lima kali lipat dalam dua dekade terakhir dibandingkan dengan penduduk negara-negara Eropa. Kondisi itu juga menyumbangkan tingkat kematian akibat diabetes lebih tinggi di wilayah Asia. Hal itu mengemuka dalam temu media terkait penyelenggaraan Jakarta Diabetes Meeting (JDM) ke-19 di Jakarta, Sabtu (13/11/2010). Setiap tanggal 14 November diperingati sebagai Hari Diabetes Sedunia. Diabetes melitus merupakan sekumpulan gangguan metabolik berupa ketidakmampuan tubuh memproduksi hormon insulin atau penggunaan yang tidak efektif dari produksi insulin. Diabetes ditandai metabolisme glukosa abnormal sehingga gula darah tinggi dan profil lemak darah berubah.

Lebih dari 110 juta orang di Asia menderita diabetes dengan proporsi yang tak berimbang antara usia tua dan muda. Tidak seperti di negara Barat yang umumnya dialami oleh kaum yang lebih tua. Dante Saksono Harbuwono, selaku Ketua Panitia JDM, mengatakan, Asia dan warga negara Barat, seperti Eropa, memiliki perbedaan genetika untuk diabetes karena setiap daerah memiliki pola genetik masing-masing. Secara genetik, bangsa Asia lebih cenderung mengalami resistensi insulin dibandingkan dengan kulit putih. Selain itu, tingginya penderita diabetes di Asia dipengaruhi perubahan pola konsumsi ke arah makanan kurang serat dan tinggi lemak. Di samping itu, aktivitas fisik berkurang.

Terkait keturunan
Diabetes melitus (DM) tipe dua umumnya terkait genetis atau keturunan yang juga dipengaruhi dan dipicu faktor risiko, seperti pola makan kurang sehat, kurang beraktivitas fisik, merokok, minum minuman beralkohol, obesitas, hipertensi hiperglikemia, dan hiperkolesterol. Di Indonesia, gambaran kasus diabetes tak terlalu menggembirakan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksikan kenaikan pengidap diabetes melitus tipe 2 sebanyak 8,4 juta orang pada tahun 2000, meningkat pesat menjadi 21,3 juta pada tahun 2010. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (2007), diabetes melitus menduduki peringkat kedua sebagai penyebab kematian pada kelompok usia 45-54 tahun di perkotaan. Adapun di pedesaan, diabetes melitus menduduki peringkat keenam dengan jumlah proporsi kematian sebesar 5,8 persen.

Pembicara lain, Ketua Panitia Global Diabetes Walk and Fun Day, Em Yunir, mengungkapkan, diabetes harus dikendalikan. Penyakit itu progresif dan serius lantaran dapat menyebabkan berbagai komplikasi dan kematian. Komplikasi kronis ditandai dengan kerusakan dan akhirnya kegagalan berbagai organ, seperti mata, ginjal, saraf, jantung, dan otak. Penanganan diabetes tidak hanya melalui obat, tetapi juga lewat penyuluhan agar masyarakat mempertahankan aktivitas fisik dan menjaga pola makan serta menghindari faktor risiko lainnya, seperti merokok. Dia menambahkan, di kalangan penderita diabetes, organisasi diabetes mempunyai peran signifikan dalam manajemen diabetes. Organisasi diabetes di Indonesia terdiri dari Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (Perkeni), Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI), dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia). (INE)


Last edited by gitahafas on Thu Jan 27, 2011 10:19 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:01 pm

DIABETES, TENANG TAPI MENGHANYUTKAN
Asep Candra | Selasa, 26 April 2011 | 10:00 WIB
Kompas.com - Seiring bertambahnya kemakmuran rakyat Indonesia, ledakan jumlah pasien diabetes mellitus (DM) takkan terelakan lagi di bumi Nusantara. Dalam waktu dekat ini, diperkirakan jumlah pengidap diabetes akan mencapai 5 juta jiwa. Masalah akan menjadi lebih pelik lagi bila sejak saat ini tidak direncanakan penanganannya secara seksama. DM yang kita kenal sebagai penyakit kencing manis, merupakan penyakit keturunan (genetik, kelainan bibit) yang menyebabkan gangguan produksi hormon insulin (resistensi insulin pada diabetes tipe 2 dan tidak adanya produksi insulin pada diabetes tipe 1). Hormon insulin inilah yang mengatur gula di dalam darah sehingga kembali normal. Sebelum hormon insulin ditemukan pada tahun 1921, biasanya pasien akan berumur pendek, masalah pengobatan dan komplikasi menjadi rumit. Setelah ditemukan hormon insulin, terjadi peningkatan usia harapan hidup.

Sebenarnya, diabetes melitus tidaklah menakutkan bila diketahui lebih awal. Tetapi kesulitan diagnostik timbul karena DM datang dengan tenang, dan bila dibiarkan akan menghanyutkan pasien ke dalam komplikasi fatal. Sayangnya, menurut para ahli di dunia, secara epidemiologis diabetes seringkali tidak terdeteksi. Dikatakan bahwa onset atau mulai terjadinya diabetes adalah 7 tahun sebelum diagnosis ditegakkan, sehingga morbiditas dan mortalitas dini terjadi pada kasus yang tidak terdeteksi ini.

Penelitian lain menyatakan, adanya urbanisasi membuat populasi diabetes tipe 2 akan meningkat 5-10 kali lipat karena terjadi perubahan perilaku rural-tradisional menjadi urban. Faktor risiko yang berubah secara epidemiologis diperkirakan adalah bertambahnya usia, lebih banyak dan lebih lamanya obesitas, distribusi lemak tubuh, kurangnya aktivitas jasmani dan adanya hiperinsulinemia. Semua faktor ini berinteraksi dengan beberapa faktor genetik yang berhubungan dengan terjadinya DM tipe 2.

Betapa kejamnya diabetes mellitus menghantam pasien, seperti pembunuh berdarah dingin. Diam-diam daging penderita DM menjadi busuk, perlahan namun pasti. Inilah beberapa dampak lain DM :
1. Jantung diabetes, seperempat jumlah tempat tidur di Intensif Coronary Care Unit (ICCU) harus diserahkan kepada pasien diabetes mellitus, 50% mengalami kematian:
2. Kaki diabetes, mencapai 14,8% dengan segala penanganan sederhana sampai amputasi.
3. Mata diabetes, menduduki porsi yang besar mencapai 22,8% dengan kebutaan 1-2%
4. Ginjal diabetes, mencapai 20%, dengan keharusan cuci darah dan kematian sebagai titik akhir
5. Saraf diabetes, berupa gangguan saraf tepi, kelumpuhan dan impoten satu komplikasi yang paling menyiksa perasaan laki-laki.

Lebih rumit lagi, DM tidak menyerang satu alat tubuh saja, tetapi berbagai komplikasi dapat diidap bersamaan dalam satu tubuh ! Masalah penanganan dan pengobatan semakin rumit jua, apalagi bila diikuti ledakan jumlah pasien.
Kembali pada penyebab, diabetes adalah masalah kelainan bibit. Banyak sekali pasien bertanya, apakah saya bisa sembuh dari DM, dok ! Saya selalu mencoba menerangkan bahwa sampai saat ini, kita belum dapat pengobatan kelainan bibit yang diturunkan.

Kelainan bibit ini telah dicetak di dalam sel pembawa sifat yang di kenal sebagai DNA. Kelainan DNA ini terbentuk sejak terjadinya konsepsi. Tentu, anda dapat membayangkan bagaimana sulitnya memperbaiki kelainan bibit ini. Semua para ahli mengakui betapa peliknya masalah kelainan bibit ini. Oleh sebab itu, DM tidak akan pernah bisa sembuh total, namun kita hanya bisa mengendalikan agar kadar gula dalam darah (GDS) serta gula dalam sel darah (HbA1C, hemoglobin glikat) menjadi normal. Untuk itu, dianjurkan kepada pasien agar setiap hari diperiksa kadar gula dalam darahnya (Normal 80-120) dan kadar gula dalam sel darah setiap 3 bulan (HbA1C < 6%).

Untuk mengatakan bahwa kadar gula darah terkendali, tentunya tak dapat bergantung pada hilangnya gejala diabetes melitus saja, tetapi harus dengan pemeriksaan kadar gula darah (GDS) dan kadar hemoglobin glikat (HbA1C). Kita punya bukti bahwa pengendalian glikemik yang baik berhubungan dengan menurunnya komplikasi diabetes. Hasil Diabetes Control and Complication Trial (DCCT) menunjukkan, pengendalian DM tipe 1 yang baik dapat mengurangi komplikasi kronik DM antara 20-30%. Bahkan hasil dari The United Kingdom Prospective Diabetes Study (UKPDS) menunjukan, setiap penurunan 1% dari HbA1C (misal dari 9 ke 8%) akan menurunkan resiko komplikasi sebesar 3%. Berbagai studi yang telah ada menyatakan bahwa penyandang diabetes tipe 1 dan 2 yang menjaga kadar HbA1C nya normal, menunjukan insiden komplikasi mikrovaskuler seperti retinopati diabetes (mata diabetes), nefropati diabetes (ginjal diabetes), neuropati diabetes (saraf diabetes) dan impoten (disfungsi seksual) yang lebih rendah.

Oleh karena itu, bagi penyandang diabetes, segera diperiksakan semua fungsi tubuhnya. Apakah sudah ada tanda-tanda komplikasi menahun yang perkembangannya slow but sure itu dapat dicegah. Penyandang diabetes yang kadar GDS dan HbA1C nya terkontrol dan terkendali dalam batas normal, sebaiknya diperiksa lagi kondisi mata, syaraf, jantung, pembuluh darah dan ginjalnya, apakah sudah terkena atau belum. Paling tidak mengetahui ada atau tidaknya kemajuan pengurangan penyakit akibat terkendalinya status glikemik penyandang diabetes.

Sebagai ringkasan, pasien DM tidak bisa disembuhkan, namun hanya bisa dikendalikan status metaboliknya seperti kadar GDS dan HbA1C. Upaya mencegah komplikasi menahun dari diabetes sangat tergantung pada tipe, usia penyandang diabetes, fasilitas yang tersedia dan tentunya motivasi berobat. Jangan lupa untuk selalu memeriksakan diri, mengetahui perkembangan status kesehatan sebagai monitor ada tidaknya komplikasi diabetes mellitus.

* Penulis adalah Sekretaris Divisi Penyakit Tropik dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RS Dr. Moh. Hoesin Palembang


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 5:21 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:03 pm

DM PENYEBAB KEMATIAN UTAMA NOMOR 2 DI INDONESIA
Kamis, 5 November 2009 | 13:30 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com — Penyakit diabetes melitus (DM) atau yang biasa disebut kencing manis telah menjadi penyebab kematian utama kedua pada penduduk usia 45-54 tahun di wilayah perkotaan. Menurut Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Departemen Kesehatan Tjandra Yoga Aditama di Jakarta, Kamis (5/11), diabetes mengakibatkan 4,7 persen kematian penduduk perkotaan pada kelompok usia tersebut. Sementara prevalensi nasional diabetes berdasarkan hasil pemeriksaan gula darah pada penduduk umur di atas 15 tahun di perkotaan, kata Tjandra, mengutip Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Tahun 2007, sebanyak 15,7 persen. "Dan hampir 80 persen kasus adalah diabetes tipe dua. Artinya, gaya hidup yang tidak sehat menjadi pemicu utama peningkatan kasus diabetes di Indonesia," kata Tjandra.

Hal itu didukung oleh hasil Riskesdas Tahun 2007 yang menunjukkan tingginya jumlah penduduk yang mengalami obesitas (kegemukan), kurang banyak mengonsumsi buah dan sayur, kurang melakukan kegiatan fisik dan merokok. Prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk usia di atas 15 tahun mencapai 10,3 persen, prevalensi kurang makan buah dan sayur sebanyak 93,6 persen, prevalensi kurang kegiatan fisik 48,2 persen, dan prevalensi merokok 23,7 persen. Menurut Tjandra, pemerintah berusaha mengendalikan faktor risiko untuk menurunkan kesakitan, kecacatan, dan kematian akibat diabetes. Faktor risiko yang dimaksud, yakni konsumsi sayur dan buah rendah, kurang berolahraga, obesitas, hipertensi, kebiasaan merokok, hiperglikemia, hiperkolesterol, dan konsumsi alkohol. "Fokusnya pada pencegahan dini dengan upaya promotif dan preventif, tapi tentu tanpa mengabaikan upaya kuratif dan rehabilitatif," kata Tjandra. Hal itu, kata dia, antara lain dilakukan dengan mengampanyekan penerapan perilaku hidup sehat kepada seluruh kelompok masyarakat melalui para pendidik dan kader kesehatan.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 2:36 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 27, 2010 12:04 pm

RISIKO KEMATIAN AKIBAT DIABETES MENINGKAT
Jum'at, 11 Maret 2011 - 09:23 wib
PENYAKIT diabetes atau biasa dikenal dengan kencing manis ternyata lebih berbahaya dibanding penyakit lainnya. Sebuah penelitian terbaru menunjukkan, seseorang berusia 50 tahun ke atas yang menderita diabetes meninggal enam tahun lebih cepat dibanding mereka yang tidak terkena diabetes. Kesimpulan ini membuktikan bahwa kematian dini bukan hanya karena serangan jantung atau stroke. Apalagi, risiko kematian prematur meningkat sampai tiga kali lipat pada mereka yang menderita diabetes di pertengahan usia. Sementara kebanyakan orang masih berpikir kalau serangan jantung adalah penyebab utama kematian pada mereka yang berusia di atas 50 tahun. Diabetes terbukti telah dikaitkan dengan yang jauh lebih luas implikasi kesehatannya daripada dugaan semula. “Ini cukup menyapu perhatian publik secara luas,” kata Dr John Danesh dari Cambridge University di Inggris yang memimpin penelitian.Analisa soal ini menggunakan informasi medis dari 820.900 orang dari hampir 100 studi yang sebagian besar dilakukan di Eropa dan Amerika Utara.

Kesimpulan studi ini dipublikasikan pada Kamis (3/3) di jurnal New England Journal of Medicine. Diabetes yang merupakan penyebab utama kematian di Amerika Serikat, menyerang sekitar 26 juta warga Amerika atau 8 persen, di antaranya termasuk tujuh juta yang belum didiagnosis. Gula darah tinggi dapat merusak saraf dan pembuluh darah dan merupakan penyebab utama penyakit jantung. Penelitian terbaru ini tidak mencakup partisipan yang sudah menderita penyakit jantung ketika dia terdaftar. Peserta dipantau selama 13,5 tahun dan selama itu terdapat lebih dari 123.000 kematian. Secara keseluruhan, angka kematian tertinggi dari segala penyebab itu adalah akibat diabetes. Para peneliti juga tidak lupa memperhitungkan faktor risiko lain yang dapat memengaruhi hasil seperti umur, jenis kelamin, merokok, dan berat badan. Peneliti mengungkapkan bahwa orang-orang dengan diabetes memiliki dua kali lipat risiko kematian akibat serangan jantung atau stroke, dibandingkan dengan yang tanpa gangguan. Namun, mereka juga menemukan fakta bahwa penderita diabetes memiliki risiko 25 persen lebih tinggi meninggal akibat kanker dan lebih mungkin meninggal karena berbagai penyakit termasuk infeksi, paru-paru, dan gagal ginjal. Sebenarnya, belum diketahui secara pasti bagaimana diabetes meningkatkan risiko tersebut.

Namun, kata para peneliti, dalam kasus penyakit infeksi, bisa jadi diabetes yang melemahkan sistem kekebalan tubuh. Diabetes dapat menyebabkan masalah penglihatan dan hilangnya rasa pada kaki. Danesh menuturkan, satu temuan menarik adalah risiko lebih tinggi bunuh diri pada mereka dengan diabetes. Dia menyatakan,penelitian lain telah mengaitkan diabetes dengan depresi. “Pencegahan dini diabetes bisa dimulai dengan mencoba menormalkan kadar glukosa darah pada orang yang menderita diabetes, melalui diet, olahraga, dan obat,” ujar Dr Alvin Powers, spesialis diabetes di Vanderbilt University.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 2:28 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 3 of 72Go to page : Previous  1, 2, 3, 4 ... 37 ... 72  Next
 Similar topics
-
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus
» Mint and diabetes
» Former 007 Roger Moore reveals suffering from diabetes has forced him to give up martinis
» Jason Fung:The Two Big Lies of Type 2 Diabetes

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: