Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 37 ... 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Mar 21, 2010 6:36 pm

TERAPI PROFILAKSIS PADA DIABETES
GERAI - Edisi November 2006 (Vol.6 No.4) Farmacia
Kondisi pra diabetes memerlukan intervensi serius, sebelum berkembang menjadi diabetes. Salah satunya dengan profilaksis antidiabetes.
Diabetes mellitus (DM) tipe 2, dikenal sebagai penyakit yang terkait dengan perubahan gaya hidup yang tidak sehat. Penyakit ini diindikasikan dengan tingginya kadar gula darah (hiperglikemik) yang pencetusnya antara lain obesitas, konsumsi gula tinggi dan minimnya aktivitas fisik. Angka penderita diabetes di dunia, menurut data International Diabetes Federation saat ini sekitar 194 juta orang. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 500 juta orang pada tahun 2025. Data penderita diabetes di Indonesia mencapai angka 8,4 juta yang akan meningkat pada 2030 menjadi sebanyak 21,3 juta penderita. Di samping prevalensinya kian bertambah, persoalan DM akan semakin sulit bila telah terjadi komplikasi. Diketahui manisfestasi dari DM dapat berupa komplikasi makrovaskular dan mikrovaskular. Pada makrovaskular komplikasinya berkembang menjadi penyakit jantung, hipertensi, stroke, disfungsi ginjal. Sementara komplikasi mikrovaskular berupa retinopati, neuropati. Komplikasi pada jantung, hipertensi dan stroke kerap berakhir dengan kematian. kendati demikian, diabetes tidak datang seketika, sehingga fase pencegahannya dapat disiapkan.

Cegah Pradiabetes menjadi Diabetes
Pradiabetes adalah satu keadaan dimana mekanisme pengolahan gula darah berlangsung abnormal, namun belum divonis diabetes. Pradiabetes terindikasi dengan IFG (impairing fasting glucose) 110 hingga 125 mg/dL serta IGT (impairing glucose tolerance) yang diukur 2 jam setelah pemberian minuman berkadar gula tinggi, menunjukkan angka 140 hingga 199 mg/dL. Penelitian yang bertujuan menghambat laju pradiabetes menjadi diabetes telah banyak dilakukan . Di antaranya studi DREAM (The Diabetes Reduction Assesment with Ramipril & Rosiglitazone Medication) yang merupakan studi profilaksis pada pasien pradiabetes dengan menggunakan preparat farmasi rosiglitazone dan ramipril. “Pemberian sediaan farmasi ini dimaksudkan memperbaiki profil mekanisme pengelolaan glukosa pada pasien,” jelas Dr. Pradana Soewondo, SpPD, K-EMD, Ketua Perkeni (Perhimpunan Endokrinologi Indonesia). Studi tersebut melibatkan 5269 partisipan dengan IFG atau IGT dari 191 pusat kesehatan di 21 negara. Data awal studi menunjukan bahwa populasi yang mengalami IGT sebesar 58%, IFG ada 14% dan sebanyak 28% mengalami IFG dan IGT. Tidak satu pun partisipan memiliki riwayat penyakit kardiovaskular (cardiovascular disease) dengan rata-rata usia 54,7 tahun, BMI rata-rata 30.9 kg/m˛ serta tekanan darah rata-rata 136/83 mm/Hg.

Populasi studi ini kemudian diacak untuk mendapat pengobatan dengan rosiglitazone 8 mg per hari, plasebo, ramipril 15 mg per hari dan plasebo. Studi berlangsung dalam 3 tahun (variasi : 2,5 hingga 4,7 tahun). Endpoint primer yang diamati dalam studi ini meliputi terjadinya insiden diabetes, kematian oleh sebab apapun atau remisi glikemik normal. Peneliti utama studi DREAM, Dr. Hertzel Gerstein dan Dr. Salim Yusuf, keduanya berasal dari Universitas McMaster, Hamilton, Ontario, Kanada memaparkan hasil studi ini ke hadapan peserta 42nd Annual Meeting of the European Association for the Study of Diabetes. Studi ini juga dipublikasikan pada jurnal kesehatan, Lancet edisi September 2006. Tampak dalam studi ini kemampuan rosiglitazone menahan laju perkembangan diabetes hingga 60 % dibandingkan plasebo. Endpoint primer dalam studi berupa progresi diabetes, dan kematian oleh sebab apapun terjadi sebesar 11,6 % pada kelompok rosiglitazone, dan 26,6 % pada kelompok plasebo. Hasil berbeda pada endpoint primer didapati sebesar 18,1 % pada kelompok ramipril dan 19,5 % pada kelompok placebo pasangan ramipril. Probabilitas dalam hal kadar gula kembali menjadi normal tercapai sebesar 70 % pada kelompok rosiglitazone. Sementara pada participan yang menerima rosiglitazone, ditemukan gangguan yang berkaitan dengan kardiovaskular, seperti gagal jantung kongestif, sebanyak 14 (0.5%) vs 2 (0.1%) dibandingkan plasebo.

“Dengan menilik hasil ini, dapat diperkirakan akan terjadi penurunan angka penderita diabetes. Hal ini berdampak positif pada penghematan biaya perawatan kesehatan dan produktivitas manusia,” ujar Prof. Dr. dr. Sidartawan Soegondo, SpPD, K-EMD, Ketua Persadia (Persatuan Diabetes Indonesia). Terlebih bagi sebanyak 300 juta subjek pradiabetes di seluruh dunia, menurut data International Diabetes Federation (IDF). Masih menurut Institusi tersebut, sedikitnya terdapat 13 juta orang Indonesia yang juga mengalami kondisi pradiabetes. Hal senada juga disampaikan Dr. dr. Aris Wibudi, SpPD, Ketua Perhimpunan Edukator Diabetes Indonesia (PEDI). Menurut dr. Aris, ketersediaan glukosa dalam tubuh yang tidak dimanfaatkan optimal hanya menambah akumulasi glukosa dan memperberat kerja insulin. Diabetes positif dinyatakan dengan tingginya kadar gula dalam darah, terjadi resistensi insulin serta disfungsi sel beta pankreas yang merupakan penghasil insulin. “Kondisi Pradiabetes yang tidak ditindaklanjuti dengan tepat akan berkembang menjadi diabetes dalam 3 tahun. Penanganan yang tepat, misalnya dengan intervensi dini akan mencegah progesifitas diabetes,” tukas. dr. Aris. Selain faktor gaya hidup, genetika juga memiliki andil terhadap potensi tercetus diabetes. Kualitas hidup dan derajat kesehatan pasien diabetes bergantung dari kontrol glikemik. Kontrol glikemik diperoleh dengan kombinasi perubahan gaya hidup (diet dan olehraga) serta konsumsi preparat antidiabetes.

Diabetes tidak dapat dihentikan hanya dengan keberhasilan satu studi. Juga diperlukan , upaya mensosialisasikan bahaya terjadinya banyak komplikasi kesehatan terkait dengan penyakit diabetes. Disinilah pentingnya edukasi dan promosi status kesehatan yang tidak hanya berpijak pada konsumsi obat (agen farmasi) semata, tetapi perubahan gaya hidup. Dalam hal edukasi, perhimpunan medis yang fokus dengan diabates, antara lain Persadia, Perkeni dan PEDI juga giat menggagas kegiatan yang berupaya meningkatkan kesadaran pada masyarakat terhadap bahaya diabetes. Salah satunya kegiatan yang digagas oleh Persadia dan IDF dalam memperingati World Diabetes Day pada 14 November nanti. Serangkaian acara digelar untuk memperingati hari diabetes sedunia tersebut, antara lain: Pemilihan Pandu Diabetes Indonesia. Pemilihan ini dimaksudkan mencari patron yang akan mencontohkan perilaku tepat dan sehat bagi penyandang diabetes lainnya dalam hal menjaga kontrol glikemiknya. Serta kampanye Global Diabetes Walk, yakni anjuran kepada para pasien diabetes untuk beraktivitas olahraga, khususnya jalan. ”Berjalanlah selama 30 menit, di mana saja, kapan saja, sendiri atau berkelompok”, yang dilakukan bersamaan pada 14 November nanti. Kedisplinan, menjadi kunci keberhasilan manajemen diabetes, baik pada pola makan (diet), aktivitas fisik (olahraga) juga dalam hal konsumsi obat antidiabetes. Serta yang tak kalah pentingnya adalah dukungan teman, keluarga yang tak sekedar menjadi mesin pengingat (reminder) tapi juga mendukung aktif, misalnya dengan ikut serta berolahraga.


Last edited by gitahafas on Sat Feb 09, 2013 5:09 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat Apr 17, 2010 12:07 pm

FAKTOR RISIKO DM
Dr. Roy Panusunan Sibarani Sp PD - Pakar Penyakit DM
Resiko kematian penderita DM 4 - 5 kali lebih besar dibandingkan non DM, dengan kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30 % akibat gagal ginjal. DM juga mengakibatkan kecacatan, sebanyak 30 % penderita DM mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati ( kerusakan retina ) dan 10% harus menjalani amputasi tungkai kaki. DM tidak hanya berhubungan dengan gula darah, melainkan semua organ tubuh. Fakta yang ada menunjukkan DM memberi kontribusi 5% terhadap seluruh kematian global didunia setap tahun. Bahkan diperkirakan terjadi peningkatan kematian akibat DM lebih dari 50% pada kurun waktu 10 tahun mendatang, terutama apabila tidak dilakukan tindakan apapun untuk mengatasi hal itu.

Faktor risiko DM
1. Usia diatas 40 tahun
2. Berat badanberlebihan
3. Memiliki perut buncit
4. Memiliki keturunan gula darah tinggi
5. Bergaya hidup tidak sehat ( kurang gerak, makan berlebihan )
6. Hipertensi
7. Kadar cholesterol tinggi
8. Riwayat melahirkan bayi diatas 4 kg


Last edited by gitahafas on Sat Feb 09, 2013 5:09 pm; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 18, 2010 2:22 pm

PENCEGAHAN PADA DM
1. Pencegahan Primer
Ditujukan pada orang yang belum menderita DM, dengan berbagai macam upaya agar tidak timbul penyakit DM, antara lain dengan:
a. Mempertahankan pola makan sehari hari yang sehat dan seimbang ( cukup sayur dan buah, batasi lemak dan karbohidrat sederhana ).
b. Mempertahankan berat badan normal sesuai umur dan tinggi badan.
c. Melakukan kegiatan jasmani yang cukup, sesuai dengan umur dan kemampuan.
d. Menghindari obat yang dapat menyulut terjadinya DM.

2. Pencegahan Sekunder ( Pencegahan Komplikasi )
Ditujukan pada orang yang sudah menderita DM untuk mencegah agar tidak timbul komplikasi, yaitu dengan jalan menurunkan kadar gula darah, karena diyakini bahwa kadar gula darah yang tinggi dalam jangka waktu yang lama merupakan awal perjalanan terjadinya komplikasi, disamping menimbulkan keluhan keluhan yang sangat mengganggu seperti sering kencing, selalu haus dan lapar serta penurunan berat badan.
Disamping menurunkan kadar gula darah, juga harus diusahakan untuk menghilangkan atau setidaknya mengurangi faktor faktor resiko yang dapat menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya komplikasi, seperti hipertensi, kegemukan, kadar cholesterol yang tinggi, merokok.
Meskipun demikian ada faktor yang berpengaruh tapi tidak bisa dihilangkan yaitu, usia, jenis kelamin dan faktor genetik.

3. Pencegahan Tersier
Ditujukan pada orang yang sudah menderita DM dan sudah terjadi komplikasi, yaitu untuk mencegah terjadinya kecacatan lebih lanjut.
Kecacatan yang mungkin terjadi bila komplikasi berlanjut antara lain:
- stroke dengan segala akibatnya
- penyakit jantung koroner dengan segala akibatnya termasuk gagal jantung
- kebutaan
- penyakit ginjal kronik sehingga memerlukan cuci darah
- kaki busuk yang perlu di amputasi

Untuk itu diperlukan pemeriksaan secara berkala terhadap mata, jantung, paru paru, ginjal, gigi, tekanan darah, kadar cholesterol dan perawatan kaki yang baik.

Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 7:57 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Apr 18, 2010 2:42 pm

HIDUP NORMAL DENGAN DIABETES
RACIKAN UTAMA - Edisi November 2006 (Vol.6 No.4) Farmacia
Jika ada jadwal yang harus dimasukkan dalam agenda atau PDA pasien diabetes, maka itu adalah rutinitas memeriksakan kesehatan untuk mengecek kemungkinan terjadinya komplikasi pada organ-organ tubuh seperti mata, ginjal, atau jantung. Diabetes, tidak seperti nama lainnya, yaitu kencing manis, memang sama sekali tidak manis ditilik dari berbagai penyakit yang dapat ditimbulkannya. Tingginya kadar gula darah dalam diri penderita dapat membentuk zat komplek gula di dalam dinding pembuluh darah, hingga mengganggu aliran darah misalnya yang menuju ke kulit atau ke saraf. Aterosklerosis atau penimbunan plak dalam pembuluh darah, juga terjadi 2 hingga 6 kali lebih sering pada penderita diabetes. Jadi, penderita diabetes mungkin harus bersiap menghadapi berbagai serangan penyakit seperti serangan jantung, stroke, gangguan penglihatan, ginjal hingga menyebabkan cuci darah, dan lain sebagainya. Di dunia, setiap tahunnya lebih dari 3 juta orang meninggal karena penyakit akibat komplikasi diabetes atau satu kematian setiap detik.

Jika komplikasi berbagai penyakit akibat diabetes terasa sebagai kabar buruk bagi pasien diabetes, maka kabar baiknya adalah komplikasi dapat dicegah dengan mengontrol gula darah. Panduan terbaru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa kadar gula darah normal saat berpuasa adalah di bawah 6,1 mmol/l (110 mg/dl). Sedangkan Asosiasi Diabetes Amerika (ADA) mematok angka di bawah 100 mg/dl untuk kadar gula darah normal saat berpuasa dan di bawah 140 mg/dl dua jam setelah mengonsumsi minuman dengan kandungan gula tinggi. Angka-angka ini menjadi acuan yang diukur dengan melakukan tes gula darah puasa (GDP) dan tes toleransi gula oral (TTGO). Jika angka ini telewati, serangkaian upaya pun mesti dilakukan penderita agar penyakit ini tidak menimbulkan beban bagi penderitanya apalagi sampai timbul komplikasi.

“Banyak pasien diabetes melitus tipe-2 tidak terdiagnosa sampai mereka datang ke dokter dengan komplikasi penyakit diabetes yang lanjut atau parah,” kata DR. Dr. Aris Wibudi, SpPD dalam acara yang diselenggarakan awal Oktober lalu di Jakarta. Ketua Perhimpunan Edukator Diebetes Indonesia (PEDI) ini mengatakan, komplikasi diabetes melitus type-2 seringkali sudah terjadi beberapa tahun sebelum seseorang terkena diabetes. Penelitian pencegahan diabetes menunjukkan bahwa 29 hingga 55 persen seseorang pada tahap pre-diabetes akan berkembang menjadi diabetes melitus tipe-2 dalam periode 3 tahun.

Fakta pun mencatat adanya peningkatan jumlah penderita diabetes. International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan bahwa sampai tahun 2025, sebanyak 500 juta orang akan menderita penyakit ini. Data Diebetes Atlas 2000 dari lembaga ini mencantumkan perkiraan pasien diabetes melitus di Indonesia adalah 8,4 juta. Dari jumlah penderita 14 juta pada tahun 2006 hanya setengahnya yang sadar mengidap penyakit tersebut dan hanya 30 persen yang datang berobat. Tahun 2030 Indonesia akan mengalami pelonjakan pasien diabetes cukup fantastis yaitu menjadi 21,3 juta dan angka ini menjadikan Indonesia sebagai negara ke-4 jumlah penderita diabetes terbanyak!

Global Diabetes Walk
Untuk meningkatkan kualitas hidup penderita dan mengantisipasi semakin tingginya angka penderita perlu dilakukan serangkaian upaya untuk pencegahan dan terapi diabetes. Terlebih lagi, perawatan penyakit diabetes memerlukan biaya hingga menimbulkan beban ekonomi yang cukup tinggi. Bertepatan dengan Hari Diabetes Sedunia yang jatuh pada tanggal 14 November, IDF dan Persatuan Diabetes Indonesia (Persadia) akan mengadakan berbagai kegiatan yang salah satunya adalah Global Diabetes Walk, sebuah program yang berisi ajakan yang berbunyi, “Jalanlah selama 30 menit, di mana saja, kapan saja, sendiri atau berkelompok”. Dengan melakukannya setiap hari diharapkan dapat mencegah penyakit diabetes maupun progresifitasnya.

Selain itu, dalam rangkaian hari diabetes juga akan diadakan pemilihan Pandu Diabetes Indonesia untuk mencari champions dan leader di antara para penderita diabetes. Sang Pandu diharapkan akan menjadi model untuk mengontrol diabetes dan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap penyakit ini. Pandu Diabetes Indonesia yang telah terpilih tahun lalu, Felix, 19 tahun dalam acara Road Show PB Persadia di Gorontalo mengatakan, “Diabetes jangan dijadikan beban atau musuh, karena dengan diabetes kita bisa hidup layaknya orang normal,” katanya. (ika)


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 5:32 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Mon Apr 19, 2010 2:41 pm

LANSIA RAWAN DIABETES DAN STROKE
Selasa, 20 Juli 2010 | 14:19 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Bukan hal yang aneh, kalau orang berumur atau lanjut usia (lansia) biasanya menyimpan penyakit keras. Soalnya, seiring bertambahnya usia, daya tahan tubuh mereka semakin melemah. Menurut Djoko Maryono, Dokter Spesialis Internis dan Kardiologis Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, penyakit-penyakit yang biasanya menghinggapi lansia adalah diabetes, stroke, dan gangguan jantung koroner.

Penyakit diabetes melitus atau kencing manis menjadi salah satu penyakit yang sering merongrong. Ada empat tipe penyakit kencing manis ini. Diabetes tipe 1 yang terjadi karena masalah genetik. Tipe 2 karena pola hidup yang tidak sehat. Ketiga, tipe DM Gestasional yang terdapat pada ibu hamil. Terakhir, tipe diabetes yang tidak diketahui penyebabnya.

Jika dibiarkan, penyakit diabetes akan melebar ke penyakit lain. Contohnya, gangguan di daerah mata yang bisa mengakibatkan kebutaan atau gangguan di saraf yang bisa mengakibatkan stroke. Djoko menganjurkan penderita diabetes mengonsumsi vitamin C. "Konsumsi 500 miligram (mg) sampai 1.000 mg per hari," katanya. Vitamin C ini bisa mengikat vitamin dan mineral yang masuk ke dalam tubuh sehingga bisa diserap lebih baik oleh tubuh.

Jika seseorang menderita diabetes, banyak vitamin seperti B12, magnesium, dan zinc yang tidak diserap secara sempurna oleh tubuh. Padahal, vitamin ini mendukung daya tahan tubuh. "Itu sebabnya penderita diabetes mudah terkena infeksi," kata Djoko. Pakar Gizi dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Sri Murni menyarankan penderita diabetes mengonsumsi makanan dengan kadar gula rendah. Sebaiknya pula, para lansia makan besar tiga kali sehari, dan mengemil sehat di antara jam-jam makan.

Selain diabetes, gangguan pembuluh darah atau kardiovaskular juga menjadi langganan para lansia. Contoh penyakit kardiovaskular ini adalah stroke dan gangguan jantung koroner. Gangguan pada pembuluh darah ini tidak terjadi serta merta. Biasanya, si penderita memiliki pola hidup yang tidak sehat. Peminum alkohol, pemilik kadar kolesterol tinggi dan kelebihan berat badan atau obesitas rentan terhadap serangan ini. Stroke terjadi karena penyempitan pembuluh darah otak sehingga mengganggu syaraf penderitanya.

Djoko menyarankan para penderita stroke mengonsumsi vitamin B yang berfungsi untuk menjaga pembuluh darah agar tetap lentur dan tidak menyempit. Vitamin B yang banyak mengandung folat bisa didapatkan pada kacang hijau, nasi merah, dan ketan hitam.

Begitu pula dengan penderita jantung koroner. Penderita jantung koroner yang sudah dipasang ring untuk mempertahankan pembuluh darah tetap terbuka pun ada kemungkinan pembuluh darahnya bisa menyempit lagi. Dari hasil penelitian, jika lansia rutin mengonsumsi vitamin B, maka kemungkinan terjadi penyempitan pembuluh darah kembali lebih kecil jika dibandingkan dengan tidak mengonsumsi. "Kalau rutin mengonsumsi daya tahannya bisa lebih baik," kata Djoko. (Sanny Cicilia S


Last edited by gitahafas on Wed Jul 21, 2010 2:19 pm; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Apr 21, 2010 5:19 pm

PENYAKIT DM DI INDONESIA BAKAL MELEDAK DI TAHUN 2030
Bagus Kurniawan - detikHealth - Sabtu, 29/05/2010 12:45 WIB
Yogyakarta, Perubahan gaya hidup masyarakat mengakibatkan pola makan berubah tapi kurang olahraga. Jangan heran jika 20 tahun lagi atau 2030 Indonesia akan mengalami ledakan penderita Diabetes Miletus (DM). Saat ini Indonesia dengan jumlah penduduk terbesar itu masuk 5 besar negara dengan penderita DM yang terbanyak. Negera urutan pertama penderita DM adalah India, kedua China, ketiga Amerika Serikat (AS) dan keempat Indonesia. Oleh karena harus ada upaya mulai sekarang agar jumlah penderita semakin bertambah.

Hal itu diungkapkan dr Agus Widiyatmoko, SpPD, MSc, Bagian Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dalam seminar Diabetes dan Kebutaan yang diselenggarakan Asri Medical Center (AMC) di gedung AMC di Jalan HOS Cokroaminoto, Yogyakarta, Sabtu (29/5/2010). "Bila tidak dicegah jumlahnya akan meningkat 3 kali lipat dari sekarang. Sedang negara-negara lain jumlahnya hanya meningkat 2 kali lipat karena sudah mulai melakukan pencegahan," kata Agus. Peningkatan itu diprediksi akibat penduduk Indonesia yang semakin makmur dan perubahan gaya hidup. Perubahan itu mengakibatkan pula berubahnya pola makan penduduk. "Itu salah satu penyebabnya. Banyak mengonsumsi makan tapi kurang aktifitas olahraga," katanya.

Agus mengatakan penderita DM itu ibaratnya kontrak sakit seumur hidup. Dengan demikian upaya yang bisa dilakukan adalah mampu mengontrolnya dan hidup sehat dengan DM. Selain itu DM juga bisa menimbulkan komplikasi penyakit lainnya seperti saraf, ginjal hingga kebutaan. "Karena itu bila ada penderita DM harus dihentikan agar jangan sampai komplikasi misalnya terjadi kebutaan seperti kasus penyanyi keroncong Mus Mulyadi," katanya Cara yang dilakukan lanjut Agus, adalah melakukan edukasi kepada masyarakat agar jangan salah persepsi terhadap DM terutama berkaitan dengan obat untuk penderita.

Selanjutnya melakukan diet atau mengatur pola makan, baik jumlah makanan yang harus dimakan setiap hari, jenis makanan yang dimakan dan waktu makan.
"Makan 3 kali sehari itu perlu karena tubuh perlu kalori tapi harus diatur. Ini yang kadang-kadang susah dilakukan dengan tepat oleh semua penderita," katanya.
Dia mengatakan olahraga rutin dua atau tiga kali sehari juga mampu mencegah. Olahraga mampu menurunkan kadar gula darah sekitar 10-15 persen. Olahraga yang disarankan adalah bukan olahraga dengan intensitas tinggi untuk membakar kalori, tapi efek yang ditimbulkan setelah olahraga.
"Idealnya 30 menit hingga 45 menit pada pagi hari sudah cukup atau dengan senam DM yang khusus diadakan bagi penderita," pungkasnya. (bgs/ir)


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 8:58 am; edited 8 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Wed Apr 21, 2010 7:10 pm

1 DARI 10 PENDUDUK SAKIT DM DI TAHUN 2030
Lusia Kus Anna | Selasa, 15 November 2011 | 06:32 WIB
Kompas.com - Federasi Diabetes International memprediksi sedikitnya 1 dari 10 orang dewasa akan menderita diabetes di tahun 2030. Jumlah tersebut naik dari data tahun ini yang menyebutkan 1 dari 13 orang dewasa menderita diabetes. Menurut laporan terbaru yang dikeluarkan bertepatan dengan peringatan hari diabetes internasional (14/11) ini, disebutkan 552 juta orang akan menderita diabetes dalam dua dekade mendatang, baik yang terdiagnosa atau pun tidak. Kenaikan jumlah penderita ini terjadi secara global, bahkan di Afrika yang penyakit infeksi masih jadi persoalan utama diperkirakan terjadi peningkatan penderita diabetes sampai 90 persen.

Menurut WHO, saat ini di seluruh dunia terdapat 346 juta penderita diabetes, di mana 80 persennya terjadi di negara berkembang. WHO juga menyebutkan jumlah tersebut akan naik dua kali lipat di tahun 2030 sesuai perkiraaan federasi diabetes internasional. "Jumlah peningkatan ini adalah angka yang kredibel, tetapi terbukti atau tidak kami belum bisa mengatakannya," kata Gojka Roglic, ketua unit diabetes WHO seperti dikutip kantor berita Associated Press. Ia menjelaskan, kenaikan jumlah penderita lebih disebabkan karena faktor penuaan daripada epidemi obesitas. Kebanyakan kasus adalah diabetes tipe dua dan mayoritas diderita orang berusia pertengahan. Penyakit ini berkaitan erat dengan kegemukan dan gaya hidup sedentari. "Penyakit ini mengkhawatirkan karena diabetes adalah penyakit serius dan memperpendek usia. Tetapi itu tidak perlu terjadi jika kita mengambil langkah pencegahan," paparnya.

Usia produktif
Di Indonesia menurut data Riset Kesehatan Dasar 2007 terdapat 14 juta (5,4 persen) penduduk yang menderita diabetes. Sementara itu diketahui 10 persen penduduk mengalami pradiabetes yang akan berkembang menjadi diabetes dalam 5 tahun mendatang jika tidak diintervensi. "Dulu diabetes adalah penyakit orang lanjut usia, tapi kini banyak menyerang orang muda bahkan remaja. Jika gula darahnya tidak terkontrol di usia produktif mereka bisa kena serangan jantung atau harus cuci darah," kata dr.Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD, di Jakarta (14/11). Untuk meningkatkan tatalaksana diabetes, menurut dr.Budiman Darmo Widjojo, Sp.PD, dokter-dokter umum terus dilatih untuk menanangi diabetes melitus. "Yang diutamakan adalah dokter puskesmas atau dokter keluarga karena mereka adalah garda terdepan pelayanan kesehatan. Mereka dilatih untuk menatalaksana, termasuk dalam pemberian obat dan edukasi pasien," kata Ketua Jakarta Diabetes Meeting 2011. Ia menjelaskan, tujuan utama dari tatalaksana diabetes adalah mengendalikan kadar gula darah. "Kalau terkendali maka risiko komplikasi akan bisa dihindari," paparnya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 1:06 pm; edited 11 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri May 07, 2010 2:09 pm

TINGGI, BIAYA KESEHATAN AKIBAT DM
Selasa, 23 Februari 2010 | 10:38 WIB
KOMPAS.com — Diabetes, yang selama ini menjadi masalah kesehatan negara maju, kini juga menjadi persoalan kesehatan negara berkembang. Diabetes dan komplikasinya, seperti stroke dan penyakit jantung, akan menjadi beban ekonomi terbesar bagi negara-negara berkembang. "Diabetes telah bergeser dari persoalan kesehatan negara maju menjadi penyakit negara berkembang, seperti India dan China, dan ini akan menjadi beban pembiayaan kesehatan yang besar," kata Philip Clarke, peneliti dari University of Sydney School of Public Health.

Komplikasi diabetes antara lain penyakit jantung koroner, stroke, neuropati diabetik (gangguan pada pembuluh saraf), amputasi, gagal ginjal, dan kebutaan. Bila terjadi komplikasi, bisa terjadi kecacatan, menurunnya usia harapan hidup, dan tingginya pembiayaan kesehatan untuk semua golongan masyarakat.
Dalam penelitiannya, Clarke dan timnya menguji data 11.140 pasien diabetes di 20 negara, meliputi komplikasi yang diderita pasien, biaya perawatan, dan lamanya tinggal di rumah sakit. Hasilnya diketahui bahwa biaya kesehatan akibat penyakit diabetes meningkat tajam, terutama di negara-negara miskin.

Saat ini diperkirakan 250 juta orang di dunia menderita diabetes, angka ini akan terus bertambah dengan jumlah terbanyak, sekitar tiga perempatnya berada di negara berkembang. Indonesia saat ini menduduki urutan keempat setelah Amerika Serikat, China, dan India. "Pasien di Asia dan Eropa Timur memiliki angka insiden stroke paling tinggi dibanding pasien dari negara maju. Pasien di negara berkembang juga lebih sedikit yang mendapat layanan kesehatan untuk penyakitnya dan lebih lama tinggal di rumah sakit," menurut laporan penelitian Clarke.

Pengeluaran per kapita China untuk biaya kesehatan diabetes diperkirakan 216 dollar AS (sekitar Rp 205.000) per tahun. Angka tersebut akan meningkat 10 kali lipat bila pasien mengalami komplikasi, misalnya stroke. "Cara paling efisien untuk mengurangi tingginya biaya kesehatan adalah dengan mencegah terjadinya komplikasi. Bila pasien secara rutin mengontrol tekanan darahnya, biaya kesehatan bisa dipangkas," kata Clarke. Dalam risetnya, Clarke melakukan survei di China, India, Malaysia, Filipina, Republik Ceko, Estonia, Hongaria, Lituania, Polandia, Rusia, Slowakia, Australia, Kanada, Perancis, Jerman, Irlandia, Italia, Belanda, Selandia Baru, dan Inggris.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 24, 2010 9:00 am; edited 9 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu May 13, 2010 9:38 am

INDONESIA PERINGKAT 4 DUNIA PASIEN DM
Kamis, 16 Oktober 2008 | 19:26 WIB
MALANG, KAMIS - Indonesia saat ini menjadi negara peringkat empat dengan jumlah penderita diabetes mellitus atau kencing manis terbesar di dunia. Para penderita tersebar mulai dari wilayah perkotaan hingga ke pedesaan. Total penderita diabetes mellitus di Indonesia berdasar data WHO, saat ini sekitar 8 juta jiwa, dan diperkirakan jumlahnya melebihi 21 jiwa pada tahun 2025 mendatang. Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai negara peringkat keempat penderita diabetes terbesar setelah Shina, India, dan Amerika. Sementara jumlah penderita diabetes di dunia, mencapai 200 juta jiwa. Diprediksi angka tersebut terus bertambah menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2020. Demikian dituturkan ahli diabetes dari Rumah Sakit Umum Daerah dr Saiful Anwar (RSSA) Malang, Prof.dr.Djoko Wahono Soeatmadji, SpPD-KEMD, Kamis (16/10) dalam rangka menyambut Kongres Nasional Persatuan Diabetes Indonesia VII di Batu, Malang, Jawa Timur. Dahulu ada pandangan salah bahwa diabetes mengancam orang kota yang suka makan fast food. "Itu benar, namun tidak berarti orang yang makan singkong, nasi, atau makanan tradisional lain tidak berisiko terkena diabetes," tuturnya.

Yang perlu diperhatikan menurutnya agar terhindar dari diabetes mellitus, orang harus makan makanan dengan seimbang atau tidak kelebihan kalori. Orang yang banyak makan karbohidrat sehingga kelebihan kalori hingga kegemukan, inilah yang berisiko terkena diabetes. Bukan hanya makanan fast food , namun juga makanan tradisional seperti nasi, jagung, ketela, dan sebagainya yang dimakan dalam jumlah yang cukup banyak, tutur pakar diabetes dari Fakultas Kedokteran Universitas Malang itu. Karbohidrat adalah makanan yang boros insulin. Orang yang dalam tubuhnya kekurangan insulin, akan membuatnya terkena penyakit diabetes. Djoko menambahkan, diabetes merupakan penyebab utama kebutaan di negara-negara maju dan kelompok masyarakat menengah ke atas, penyebab utama gagal ginjal, penyebab utama amputasi tungkai kaki bagian bawah, penyebab risiko serangan jantung, mengakibatkan disfungsi ereksi, dan sebagainya. Untuk itulah pada 23-26 Oktober mendatang, kami menggelar kongres nasional Persatuan Diabetes Indonesia di Batu Malang. Tujuannya mencegah terus meningkatnya penderita diabetes di Indonesia, ujar ketua panitia kongres, dr Putu Moda Arsana SpPD-KEMD. Peserta konggres tercatat 600 dokter se-Indonesia, 300-an peserta non medis, dan 100-an perawat.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 2:30 pm; edited 9 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat May 15, 2010 12:38 pm

PENDERITA DM DI INDONESIA MENINGKAT
Kompas - Minggu, 30 Mei
YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia sejak 2000 meningkat dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang. "Pada 2000 jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia mencapai 8,4 juta orang. Jumlah itu terus meningkat, dan pada 2030 diperkirakan mencapai 21,3 juta orang," kata pakar ilmu kesehatan dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr Yunani Setyandrian, di Yogyakarta, Sabtu (29/5/2010). Menurut Yunani, hal itu menunjukkan peningkatan yang cukup signifikan jumlah penderita diabetes melitus di Indonesia yang kebanyakan disebabkan oleh gaya hidup yang tidak sehat. "Diabetes melitus atau kencing manis merupakan penyakit gula yang ditandai dengan kadar glukosa darah yang melebihi normal akibat tubuh kekurangan insulin," katanya. Ia mengatakan diabetes melitus menyebabkan penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing, infeksi paru, dan infeksi kaki. Selain menyebabkan infeksi, diabetes melitus juga bisa menyebabkan kelainan yang terjadi pada pembuluh darah retina, dan bisa berakhir dengan kebutaan bagi penderitanya. "Kebutaan akibat diabetes melitus disebut retinopati diabetik. Kebutaan terjadi pada sekitar 60 persen penderita diabetes atau diabetisi yang berumur di atas 15 tahun," katanya. Yunani melanjutkan, retinopati diabetik muncul karena adanya kebocoran atau sumbatan pembuluh darah halus di retina, dan dapat menyebabkan pembentukan pembuluh darah yang rapuh. "Namun, pembuluh darah rapuh itu sebenarnya bisa dicegah dengan suntikan anti-VEGF ke dalam bola mata," kata dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) ini. Ia mengatakan retinopati diabetik pada stadium awal biasanya tidak bergejala, sehingga sering penderita tidak menyadari. Akibatnya, sebagian penderita sering datang terlambat, hingga kebutaan kadang tidak bisa dihindarkan. "Sebenarnya kebutaan akibat retinopati diabetik bisa dicegah melalui fotokoagulasi laser yang tepat waktu. Untuk itu, para penderita diabetes melitus sebaiknya memeriksakan matanya lebih awal," katanya.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 1:07 pm; edited 6 times in total
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 72Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 37 ... 72  Next
 Similar topics
-
» Is borderline type 2 diabetes life-threatening illness/disease?
» type 1 diabetes and the sleeve....
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Post sleeve & gestational diabetes
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: