Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Diabetes Melitus

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : 1, 2, 3 ... 36 ... 72  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Diabetes Melitus   Fri Dec 25, 2009 8:20 pm

DIABETES MELITUS ( DM )
Faktor utama timbulnya DM adalah karena gaya hidup yang tidak sehat, seperti makan makanan yang mengandung kalori tinggi dan kurang berolah raga. Meskipun faktor keturunan berkontribusi, tetapi DM tidak akan muncul bila tidak ada faktor pencetus, yakni gaya hidup yang tidak sehat. Atas dasar ini pasien DM perlu membuat perencanaan makanan, mencakup penentuan jenis makanan, jumlah makanan yang dimakan dan jadwal makan. Jumlah makanan yang dimakan berhubungan dengan jumlah kalori yang dibutuhkan, dan ini berbeda untuk setiap orang, tergantung pada berat dan tinggi badan, stress dan aktivitas sehari hari. Jika kadar gula bisa dikendalikan dengan diet, maka pasien DM tidak memerlukan obat. Karena DM bisa menimbulkan berbagai komplikasi, maka pengobatan DM harus dilakukan secara terpadu oleh beberapa spesialis yang terkait dengan komplikasi DM seperti jantung, ginjal, mata dan syaraf. Pemeriksaan fungsi ginjal, status metabolik dan lemak dalam darah harus dilakukan secara berkala. 70% orang yang mengalami cuci darah karena gagal ginjal adalah penderita DM. Jadi langkah langkah yang harus dilakukan penderita DM:

1. Diet
2. Olah Raga
3. Bila belum berhasil baru diberikan tambahan obat obatan.

Penyakit DM juga menyerang anak2, anak yang obesitas perlu diperiksa kadar gula darahnya. Seorang anak baru akan terdeteksi DM pada usia 7 tahun keatas. Gejala pada anak umumnya berupa gejala yang mirip gejala diare seperti muntah, sering buang air besar, kesadaran menurun ( koma ), dehidrasi berat, kejang2, napas anak berbau asam. Kondisi inilah yang sering membuat orang tua salah paham, disangka diare padahal sudah DM. Anak yang terindikasi DM, gejala awalnya biasanya sering lapar dan haus, banyak buang air kecil.

Sumber: Suara Pembaruan Minggu, 20 Desember 2009


Last edited by gitahafas on Thu Feb 07, 2013 4:47 pm; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Jan 03, 2010 10:53 am

DIABETES DAN PENURUNAN KUALITAS HIDUP
29-03-2006 | www.kompas.co.id
Penyakit diabetes mellitus (DM)-yang dikenal masyarakat sebagai penyakit gula atau kencing manis-terjadi pada seseorang yang mengalami peningkatan kadar gula (glukosa) dalam darah akibat kekurangan insulin atau reseptor insulin tidak berfungsi baik. Diabetes yang timbul akibat kekurangan insulin disebut DM tipe 1 atau Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM). Sedang diabetes karena insulin tidak berfungsi dengan baik disebut DM tipe 2 atau Non-Insulin Dependent Diabetes Mellitus (NIDDM). Insulin adalah hormon yang diproduksi sel beta di pankreas, sebuah kelenjar yang terletak di belakang lambung, yang berfungsi mengatur metabolisme glukosa menjadi energi serta mengubah kelebihan glukosa menjadi glikogen yang disimpan di dalam hati dan otot.

Menurut Prof Dr dr Askandar Tjokroprawiro SpPD KE dari Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga/RSUD dr Soetomo Surabaya, tidak keluarnya insulin dari kelenjar pankreas penderita DM tipe 1 bisa disebabkan oleh reaksi autoimun berupa serangan antibodi terhadap sel beta pankreas.
Pada penderita DM tipe 2, insulin yang ada tidak bekerja dengan baik karena reseptor insulin pada sel berkurang atau berubah struktur sehingga hanya sedikit glukosa yang berhasil masuk sel. Akibatnya, sel mengalami kekurangan glukosa, di sisi lain glukosa menumpuk dalam darah. Kondisi ini dalam jangka panjang akan merusak pembuluh darah dan menimbulkan pelbagai komplikasi. Askandar menyebutkan tiga gejala klasik yang dialami penderita diabetes. Yaitu, banyak minum, banyak kencing, dan berat badan turun. "Pada awalnya, kadang-kadang berat badan penderita diabetes naik. Penyebabnya, kadar gula tinggi dalam tubuh," jelasnya.

Gejala lain, sebagaimana ditulis dr Imam Subekti SpPD KE dari Subbagian Metabolik-Endokrin Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia/Rumah Sakit Cipto Mangukusumo (FKUI/RSCM) dalam buku Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu adalah gangguan saraf tepi berupa kesemutan terutama di malam hari, gangguan penglihatan, gatal di daerah kemaluan atau lipatan kulit, bisul atau luka yang lama sembuh, gangguan ereksi pada pria dan keputihan pada perempuan. Jika tidak tepat ditangani, dalam jangka panjang penyakit diabetes bisa menimbulkan berbagai komplikasi akibat gangguan pembuluh darah.

Menurut Askandar, gangguan bisa terjadi pada pembuluh darah otak (stroke), pembuluh darah mata (gangguan penglihatan), pembuluh darah jantung (penyakit jantung koroner), pembuluh darah ginjal (gagal ginjal), serta pembuluh darah kaki (luka yang sukar sembuh/gangren). Penderita juga rentan infeksi, mudah terkena infeksi paru, gigi, dan gusi serta saluran kemih.

1. Kardiopati diabetik
Kardiopati diabetik adalah gangguan jantung akibat diabetes. Glukosa darah yang tinggi dalam jangka waktu panjang akan menaikkan kadar kolesterol dan trigliserida darah. Lama-kelamaan akan terjadi aterosklerosis atau penyempitan pembuluh darah.
Askandar mengatakan, penyempitan pembuluh darah koroner menyebabkan infark jantung dengan gejala antara lain nyeri dada. Karena diabetes juga merusak sistem saraf, rasa nyeri kadang-kadang tidak terasa. Serangan yang tidak terasa ini disebut silent infraction atau silent heart attack.
Menurut Prof dr T Santoso PhD SpPD SpJP KKV dari Subbagian Kardiologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/ RSCM, kematian akibat kelainan jantung dan pembuluh darah pada penderita diabetes kira-kira dua hingga tiga kali lipat lebih besar dibanding bukan penderita diabetes.
Menurut Santoso, pengendalian kadar gula dalam darah belum cukup untuk mencegah gangguan jantung pada penderita diabetes.
Sebagaimana rekomendasi Asosiasi Diabetes Amerika (ADA) serta perkumpulan sejenis di Eropa atau Indonesia (Perkumpulan Endokrinologi Indonesia/Perkeni), penderita diabetes diharapkan mengendalikan semua faktor secara bersama-sama untuk mendapatkan hasil yang optimal.
"Tekanan darah harus diturunkan secara agresif di bawah 130/80 mmHg, trigliserida di bawah 150 mg/dl, LDL (kolesterol buruk) kurang dari 100 mg/dl, HDL (kolesterol baik) di atas 40 mg/dl. Hal ini memberi proteksi lebih baik pada jantung," kata Santoso.

2. Gangren dan impotensi
Penderita diabetes yang kadar glukosanya tidak terkontrol respons imunnya menurun. Akibatnya, penderita rentan terhadap infeksi, seperti infeksi saluran kencing, infeksi paru serta infeksi kaki. Banyak hal yang menyebabkan kaki penderita diabetes mudah kena infeksi. Askandar mencontohkan, terkena knalpot, lecet akibat sepatu sesak, luka kecil saat memotong kuku, kompres kaki yang terlalu panas. Infeksi kaki mudah timbul pada penderita diabetes kronis dan dikenal sebagai penyulit gangren atau ulkus. Jika dibiarkan, infeksi akan mengakibatkan pembusukan pada bagian luka karena tidak mendapat aliran darah. Pasalnya, pembuluh darah penderita diabetes banyak tersumbat atau menyempit. Jika luka membusuk, mau tidak mau bagian yang terinfeksi harus diamputasi.
Menurut Askandar, penderita diabetes yang terkena gangren perlu dikontrol ketat gula darahnya serta diberi antibiotika. Penanganan gangren perlu kerja sama dengan dokter bedah. Untuk mencegah gangren, penderita diabetes perlu mendapat informasi mengenai cara aman memotong kuku serta cara memilih sepatu.

Impotensi juga menjadi momok bagi penderita diabetes. Menurut Askandar, impotensi disebabkan pembuluh darah mengalami kebocoran sehingga penis tidak bisa ereksi. Impotensi pada penderita diabetes juga bisa disebabkan oleh faktor psikologis atau gabungan organis dan psikologis. Jika masih awal, kurang dari enam bulan, impotensi masih bisa disembuhkan.

3. Nefropati diabetik
Nefropati diabetik adalah gangguan fungsi ginjal akibat kebocoran selaput penyaring darah. Sebagaimana diketahui, ginjal terdiri dari jutaan unit penyaring (glomerulus). Setiap unit penyaring memiliki membran/selaput penyaring. Kadar gula darah tinggi secara perlahan akan merusak selaput penyaring ini.
Menurut Prof dr Wiguno Prodjosudjadi PhD dari Subbagian Nefrologi Bagian Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, gula yang tinggi dalam darah akan bereaksi dengan protein sehingga mengubah struktur dan fungsi sel, termasuk membran basal glomerulus. Akibatnya, penghalang protein rusak dan terjadi kebocoran protein ke urin (albuminuria). Hal ini berpengaruh buruk pada ginjal.
Menurut situs Nephrology Channel, tahap mikroalbuminuria ditandai dengan keluarnya 30 mg albumin dalam urin selama 24 jam. Jika diabaikan, kondisi ini akan berlanjut terus sampai tahap gagal ginjal terminal. Karena itu, penderita diabetes harus diperiksa kadar mikroalbuminurianya setiap tahun.
Penderita diabetes tipe 1 secara bertahap akan sampai pada kondisi nefropati diabetik atau gangguan ginjal akibat diabetes. Sekitar lima sampai 15 persen diabetes tipe 2 juga berisiko mengalami kondisi ini. Gangguan ginjal, lanjut Wiguno, menyebabkan fungsi ekskresi, filtrasi dan hormonal ginjal terganggu. Akibat terganggunya pengeluaran zat-zat racun lewat urin, zat racun tertimbun di tubuh. Tubuh membengkak dan timbul risiko kematian. Ginjal juga memproduksi hormon eritropoetin yang berfungsi mematangkan sel darah merah. Gangguan pada ginjal menyebabkan penderita mengalami anemia.

Pengobatan progresif sejak dini bisa menunda bahkan menghentikan progresivitas penyakit. Repotnya penderita umumnya baru berobat saat gangguan ginjal sudah lanjut atau terjadi makroalbuminuria (300 mg albumin dalam urin per 24 jam). Pengobatan meliputi kontrol tekanan darah. Tindakan ini dianggap paling penting untuk melindungi fungsi ginjal. Biasanya menggunakan penghambat enzim pengonversi angiotensin (ACE inhibitors) dan atau penghambat reseptor angiotensin (ARBs). Selain itu dilakukan pengendalian kadar gula darah dan pembatasan asupan protein (0,6-0,8 gram per kilogram berat badan per hari).
Penderita yang telah sampai tahap gagal ginjal memerlukan hemodialisis atau transplantasi ginjal. Gejala nefropati diabetes baru terasa saat kerusakan ginjal telah parah berupa bengkak pada kaki dan wajah, mual, muntah, lesu, sakit kepala, gatal, sering cegukan, mengalami penurunan berat badan.
Penderita nefropati harus menghindari zat yang bisa memperparah kerusakan ginjal, misalnya pewarna kontras yang digunakan untuk rontgen, obat anti-inflamasi nonsteroid serta obat-obatan yang belum diketahui efek sampingnya.

4. Retinopati diabetik
Diabetes juga dapat menimbulkan gangguan pada mata. Yang terutama adalah retinopati diabetik. Keadaan ini, menurut dr Istiantoro SpM dari Bagian Ilmu Penyakit Mata FKUI/RSCM, disebabkan rusaknya pembuluh darah yang memberi makan retina. Bentuk kerusakan bisa bocor dan keluar cairan atau darah yang membuat retina bengkak atau timbul endapan lemak yang disebut eksudat. Selain itu terjadi cabang-cabang abnormal pembuluh darah yang rapuh menerjang daerah yang sehat.
Retina adalah bagian mata tempat cahaya difokuskan setelah melewati lensa mata. Cahaya yang difokuskan akan membentuk bayangan yang akan dibawa ke otak oleh saraf optik. Bila pembuluh darah mata bocor atau terbentuk jaringan parut di retina, bayangan yang dikirim ke otak menjadi kabur. Gangguan penglihatan makin berat jika cairan yang bocor mengumpul di fovea, pusat retina yang menjalankan fungsi penglihatan sentral. Akibatnya, penglihatan kabur saat membaca, melihat obyek yang dekat serta obyek yang lurus di depan mata. Pembuluh darah yang rapuh bisa pecah, sehingga darah mengaburkan vitreus, materi jernih seperti agar-agar yang mengisi bagian tengah mata. Hal ini menyebabkan cahaya yang menembus lensa terhalang dan tidak sampai ke retina atau mengalami distorsi. Jaringan parut yang terbentuk dari pembuluh darah yang pecah di korpus vitreum dapat mengerut dan menarik retina, sehingga retina lepas dari bagian belakang mata. Pembuluh darah bisa muncul di iris (selaput pelangi mata) menyebabkan glaukoma. Risiko terjadinya retinopati diabetik cukup tinggi. Sekitar 60 persen orang yang menderita diabetes 15 tahun atau lebih mengalami kerusakan pembuluh darah pada mata. Pemeriksaan dilakukan dengan oftalmoskop serta angiografi fluoresen yaitu foto rontgen mata menggunakan zat fluoresen untuk mengetahui kebocoran pembuluh darah. Pengobatan dilakukan dengan bedah laser oftalmologi. Yaitu, penggunaan sinar laser untuk menutup pembuluh darah yang bocor, sehingga tidak terbentuk pembuluh darah abnormal yang rapuh. Selain itu bisa dilakukan vitrektomi yaitu tindakan mengeluarkan vitreus yang dipenuhi darah dan menggantinya dengan cairan jernih. Penderita retinopati hanya boleh berolahraga ringan dan harus menghindari gerakan membungkuk sampai kepala di bawah.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:02 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Mon Jan 11, 2010 12:50 pm

EXPERT REVIEW
Umumnya, penderita diabetes mengetahui dirinya mengidap diabetes setelah terjadi komplikasi. Hal ini diungkapkan oleh Prof.DR.Dr. Sidartawan Soegondo, SpPD,KEMD,FACE di kantornya di Bagian Metabolik dan Endokrin, FKUI/RSCM. Diabetes itu seperti rayap, bekerja diam-diam merusak organ di dalam tubuh. Diabetes sering disebut sebagai “The Silent Killer”. “Namun, sebenarnya komplikasinya yang mematikan, bukan diabetesnya,” jelas Prof. Sidartawan. Gejala diabetes pun tidak menakutkan, seperti banyak makan (polifagi), banyak minum (polidipsi), dan kencing lancar (poliuri). Menurut Prof. Sidartawan, dengan gejala seperti itu orang tidak pergi ke dokter. Sebaliknya jika tidak mau makan dan susah kencing, baru orang pergi ke dokter. Diabetes mellitus bukan satu penyakit tetapi beberapa penyakit yang memiliki gejala kadar gulanya naik. Bisa disebabkan karena pankreasnya rusak (tipe 1), sekresi insulin menjadi berkurang (tipe 2), obat-obatan yang mengakibatkan pankreasnya rusak dan diabetes yang terjadi pada wanita hamil (gestational).

Gaya hidup yang bersalah
Mereka yang memiliki risiko tinggi terkena diabetes adalah yang memiliki riwayat keluarga mengidap diabetes, memasuki usia di atas 40 tahun, kegemukan, tekanan darah tinggi, selain tentu saja pola makan yang salah. Jumlah penderita diabetes di daerah perkotaan di Indonesia pada tahun 2003 adalah 8,2 juta orang, sedangkan di daerah pedesaan 5,5 juta orang. Diperkirakan, 1 dari 8 orang di Jakarta mengidap diabetes. Tingginya jumlah penderita di daerah perkotaan, antara lain disebabkan karena perubahan gaya hidup masyarakatnya.

Diabetes tidak dapat disembuhkan
Karena diabetes tidak dapat disembuhkan sepenuhnya, sudah saatnya kita melakukan tindakan pencegahan, antara lain tidak makan berlebihan, menjaga berat badan, dan rutin melakukan aktivitas fisik. Olahraga juga dapat secara efektif mengontrol diabetes, antara lain dengan melakukan senam khusus diabetes, berjalan kaki, bersepeda, dan berenang. Diet dipadu dengan olahraga merupakan cara efektif mengurangi berat badan, menurunkan kadar gula darah, dan mengurangi stres. Latihan yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan tekanan darah, kolesterol, dan risiko terkena serangan jantung, serta memacu pengaktifan produksi insulin dan membuatnya bekerja lebih efisien.

Komplikasi diabetes justru mematikan
Ancaman diabetes melitus terus membayangi kehidupan masyarakat. Sekitar 12–20% penduduk dunia diperkirakan mengidap penyakit ini dan setiap 10 detik di dunia orang meninggal akibat komplikasi yang ditimbulkan. Komplikasi diabetes terjadi pada semua organ dalam tubuh yang dialiri pembuluh darah kecil dan besar dengan penyebab kematian 50% akibat penyakit jantung koroner dan 30% akibat gagal ginjal. Selain kematian, DM juga menyebabkan kecacatan. Sebanyak 30% penderita DM mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% harus menjalani amputasi tungkai kaki. Bahkan DM membunuh lebih banyak dibandingkan dengan HIV/AIDS. Untuk penderita diabetes, komplikasi bisa dicegah dengan mengendalikan gula darah. Dokter tidak langsung meresepkan obat melainkan meminta pasien agar merubah lifestylenya. “Ubah life style dengan lebih aktif melakukan kegiatan jasmani dan mengatur makanan,” kata Prof. Sidaratawan.

Terapi untuk diabetisi
Bila ternyata mengubah gaya hidup tidak berhasil baru kemudian diberikan obat. Pemberian obat ini tergantung tipe, komplikasinya (penyakit ginjal, jantung, dll) dan berapa lama mengidap diabetes. Obat untuk diabetes disebut obat hipoglikemik oral (OHO) terbagi menjadi 2 kelompok yaitu obat yang memperbaiki kerja insulin (seperti metformin, glitazone, dan akarbose) dan obat yang meningkatkan produksi insulin (seperti sulfonil, repaglinid dan natelinid dan insulin yang disuntikkan). Kelompok pertama bekerja pada temapat dimana terdapat insulin yang mengatur gula darah seperti di hati, usus, otot dan jaringan lemak. Kelompok kedua meningkatkan pelepasan insulin ke sirkulasi, sedangkan insulin yang disuntikkan menambah kadar insulin di sirkulasi darah. Ketidakpatuhan mengkonsumsi obat merupakan penyebab utama kegagalan terapi sehingga penderita diabetes perlu diedukasi. Sebaiknya penderita diabetes melakukan konsultasi secara berkala dengan dokter. Selain itu dituntut sikap disiplin dan kepatuhan dalam mengonsumsi obat maupun suntik insulin agar tidak terjadi komplikasi penyakit.

Cegah & Deteksi Diabetes
Di Indonesia, sekitar 95% kasus adalah diabetes tipe 2. Pada diabetes tipe 2 ini, penyebabnya tidak hanya faktor keturunan tapi juga gaya hidup misalnya kegemukan yang terjadi akibat gaya hidup makan kaya lemak dan tidak berolahraga. Faktor keturunan tidak bisa dicegah tapi gaya hidup bisa diubah. “Jangan sampai gemuk, jangan banyak makan makanan berlemak dan manis serta banyaklah bergerak,” saran Prof Sidartawan. Risiko diabetes setiap tahunnya meningkat 30 persen, sehingga Prof. Sidartawan menyarankan agar melakukan pemeriksaan gula darah setahun sekali jika kita termasuk dalam satu atau dua dari faktor risiko diabetes.


Last edited by gitahafas on Thu Feb 07, 2013 4:48 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Jan 12, 2010 6:40 am

PENDERITA DM TELEDOR, 5 ORGAN TARUHANNYA.
Jumat, 8 Januari 2010 | 10:14 WIB
KOMPAS.com — Sekitar tahun 2000, International Diabetes Federation (IDF) menyebutkan bahwa diabetes merupakan penyakit keempat penyebab utama kematian di banyak negara maju. Secara umum, sekitar 40 persen pasien diabetesi, entah tipe I (yang dialami sejak masa kanak-kanak atau yang tergantung insulin) dan atau tipe II (yang mulai dialami saat dewasa dan tidak tergantung insulin) akan mengalami komplikasi dalam perjalanan hidupnya. Bila gula darah tidak terkendali karena pola makan yang tidak tepat, kebiasaan hidup tidak sehat, seperti merokok dan kurang kegiatan fisik, tetap dipertahankan, komplikasi bakal menyerang ke mana dia suka.

Berikut ini adalah organ-organ yang menjadi sasaran komplikasi akibat keteledoran para diabetesi:
1. Jantung - penyakit jantung koroner (PJK)
Keadaan ini muncul akibat glukosa darah yang tinggi dan terus-menerus atau persisten. Akibatnya, terjadinya penebalan dan pengerasan pembuluh darah arteri atau sering disebut aterosklerosis. Diabetesi berisiko dua sampai empat kali lebih tinggi terkena penyakit kardiovaskular dibandingkan yang tidak mengalami DM.

2. Otak - stroke
Aterosklerosis dapat terjadi di pembuluh darah otak. Akibatnya bisa ditebak, terjadi stroke. Risiko terserang stroke pada diabetesi yang juga mengalami hipertensi adalah dua kali lebih tinggi dibanding orang yang hanya menderita hipertensi saja.

3. Kaki - luka
Ulser atau luka pada kaki merupakan penyebab paling umum yang mengantar diabetesi masuk rumah sakit. Komplikasi ini terjadi akibat kerusakan saraf (neuropati) dan kurangnya aliran darah ke kaki. Jika luka terinfeksi dan berkembang menjadi gangren, biasanya amputasi dilakukan. Diabetes merupakan penyebab amputasi yang paling sering di luar kecelakaan. Setidaknya 15-40 persen diabetesi lebih berisiko mengalami hal ini dibanding yang tidak.

4. Mata - retinopati
Retinopati diabetik merupakan komplikasi DM pada mata. Penglihatan mendadak akan buram atau berkabut. Ini terjadi akibat kadar gula darah yang tinggi sehingga terjadi sembab pada lensa mata. Bila pengobatan cukup dan kadar gula terkontrol, penglihatan pun akan normal lagi.

5. Ginjal - nefropati
Nefropati diabetes adalah komplikasi yang terjadi pada ginjal. Ini komplikasi yang menyebabkan terjadinya gagal ginjal dan kematian. Penyebabnya, kadar glukosa darah yang tinggi sehingga merusak pembuluh darah kapiler ginjal dan menyebabkan terjadinya tekanan darah tinggi.

Risiko terjadi serta berat atau ringannya komplikasi ginjal ini sejalan dengan lamanya DM diidap. Kebanyakan komplikasi muncul setelah 10-15 tahun penderita mengidap DM. @abd


Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:03 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Jan 15, 2010 12:14 pm

DIAGNOSIS DM
Diagnosis diabetes ditegakkan berdasarkan gejalanya yaitu 3P (polidipsi, polifagi, poliuri) dan hasil pemeriksaan darah yang menunjukkan kadar gula darah yang tinggi (tidak normal). Untuk mengukur kadar gula darah, contoh darah biasanya diambil setelah penderita berpuasa selama 8 jam atau bisa juga diambil setelah makan.
Perlu perhatian khusus bagi penderita yang berusia di atas 65 tahun. Sebaiknya pemeriksaan dilakukan setelah berpuasa dan jangan setelah makan karena usia lanjut memiliki peningkatan gula darah yang lebih tinggi.

Kriteria Diagnostik Gula darah (mg/dL)
----- Bukan Diabetes - Pra Diabetes ---- Diabetes
Puasa < 110 --------- 110-125 --------- > 126
Sewaktu < 110 -------- 110-199 --------- > 200

Pemeriksaan darah lainnya yang bisa dilakukan adalah tes toleransi glukosa. Tes ini dilakukan pada keadaan tertentu, misalnya pada wanita hamil. Hal ini untuk mendeteksi diabetes yang sering terjadi pada wanita hamil. Penderita berpuasa dan contoh darahnya diambil untuk mengukur kadar gula darah puasa. Lalu penderita diminta meminum larutan khusus yang mengandung sejumlah glukosa dan 2-3 jam kemudian contoh darah diambil lagi untuk diperiksa. Hasil glukosa contoh darah dibandingkan dengan kriteria diagnostik gula darah terbaru yang dikeluarkan oleh PERKENI tahun 2006. Sebelum berkembang menjadi diabetes tipe 2, biasanya selalu menderita pra-diabetes, yang memiliki gejala tingkat gula darah lebih tinggi dari normal tetapi tidak cukup tinggi untuk didiagnosa diabetes. Setidaknya 20% dari populasi usia 40 hingga 74 tahun menderita pra-diabetes.

Penelitian menunjukkan beberapa kerusakan dalam jangka panjang, terutama pada jantung dan sistem peredaran darah selama pra-diabetes ini. Dengan pre-diabetes, anda akan memiliki resiko satu setengah kali lebih besar terkena penyakit jantung. Saat Anda menderita diabetes, maka risiko naik menjadi 2 hingga 4 kali. Akan tetapi, pada beberapa orang yang memiliki pra-diabetes, kemungkinan untuk menjadi diabetes dapat ditunda atau dicegah dengan perubahan gaya hidup. Diabetes dan pra-diabetes dapat muncul pada orang-orang dengan umur dan ras yang beragam, tetapi ada kelompok tertentu yang memiliki resiko lebih tinggi.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:05 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sat Jan 23, 2010 5:52 am

TANDA TANDA / GEJALA GEJALA DM

1. Kerap membuang air kecil ( banyak kencing )
2. Terasa sering haus ( banyak minum )
3. Terasa sering lapar ( banyak makan )
4. Penglihatan kabur
5. Napas berbau manis
6. Penurunan berat badan
7. Cepat lelah
8. Bila ada luka, biasanya lambat sembuh
9. Kesemutan, baal dan impotensi serta rasa gatal pada kulit atau sekitar kemaluan
Sumber: Bunga Rampai Masalah Kesehatan Iluni FK 1983


Last edited by gitahafas on Tue Aug 24, 2010 5:35 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Thu Feb 18, 2010 5:48 am

KENALI 3P GEJALA DIABETES
Lusia Kus Anna | Sabtu, 11 Juni 2011 | 10:09 WIB
Kompas.com - Diabetes melitus telah menjadi pandemi yang tumbuh dengan cepat. Penyakit ini diperkirakan menyebabkan empat juta kematian per tahun, hampir sama dengan kematian akibat HIV/AIDS. Data tahun 2000 menyebutkan diabetes melitus diderita 8,4 juta orang dan akan meningkat menjadi 21,3 juta di tahun 2030. Sebagian besar penderita diabetes (diabetesi) terdiagnosis pada keadaan lanjut. Padahal, menurut dr.Budiman Darmowidjojo, Sp.PD, pada keadaan lanjut ini telah terjadi komplikasi pada ginjal, mata, pembuluh darah, atau saraf. "Yang berbahaya dari penyakit ini bukan hanya gula darah yang tinggi tapi komplikasinya," paparnya. Bila diabetes didiagnosa sejak dini maka kesempatan untuk mengendalikan gula darah secara baik sehingga komplikasinya dapat dihindari. Untuk mendeteksi diabetes, yang utama memang diketahui dari hasil pemeriksaan gula darah. Kadar gula darah puasa di atas 126 dan gula darah sewaktu di atas 200 disebut diabetes. Selain pemeriksaan laboratorium, menurut dr.Budiman ada tiga gejala klasik diabetes yang disebut juga dengan 3P, yakni:

1. Poliuri atau sering buang air kecil dengan volume yang banyak , apalagi malam hari.
Mengapa demikian? Jika kadar gula darah melebihi nilai ambang ginjal atau lebih dari 180 mg/dl, gula akan keluar bersama urin. Untuk menjaga agar urin yang keluar, yang mengandung gula itu tak terlalu pekat, tubuh akan menarik air sebanyak mungkin ke dalam urin sehingga volume urin yang keluar banyak dan kencing pun menjadi sering. Begitu seringnya sehingga pada malam hari bisa mengganggu tidur.

2. Polidipsi atau sering kali merasa haus dan ingin minum sebanyak-banyaknya.
Dengan begitu banyak urin yang keluar, badan akan kekurangan air atau dehidrasi. Untuk mengatasi hal tersebut timbullah rasa haus sehingga orang ingin selalu minum, maunya yang dingin, manis, segar dan banyak. Minuman manis akan sangat merugikan karena membuat kadar gula semakin tinggi.

3. Polifagi atau nafsu makan meningkat dan kurang tenaga.
Pada diabetes, karena insulin bermasalah, pemasukan gula ke dalam sel-sel tubuh kurang sehingga energi yang dibentuk pun kurang. Itu sebabnya orang menjadi lemas. Dengan demikian otak juga mengira bahwa kurang energi itu karena kurang makan, maka tubuh berusaha meningkatkan asupan makanan dengan menimbulkan rasa lapar, jadi timbulah perasaan selalu ingin makan.


Last edited by gitahafas on Sat Jul 14, 2012 5:27 pm; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Fri Feb 19, 2010 2:16 pm

PENYAKIT DM MAKIN MEMBLUDAK
Rabu, 15/07/2009 08:53 WIB Vera Farah Bararah - detikHealth
Jakarta, Penyakit gula darah atau yang lebih sering dikenal dengan diabetes telah menjadi momok bagi masyarakat di seluruh dunia. Jika pada tahun 2000 terdapat 150 juta penderita diabetes, diperkirakan pada tahun 2025 akan ada 333 juta penderita diabetes. "Berdasarkan data WHO Indonesia menempati urutan keempat sebagai negara dengan penderita diabetes terbanyak setelah India, Cina dan Amerika Serikat. Sementara di Indonesia sendiri penderita diabetes tertinggi terdapat di Kalimantan Barat dan Maluku Utara sebesar 11,1%," ujar Prof. Dr dr Sidartawan Soegondo SpPD-KEMD FACE, Rabu (15/7/2009). Dr Sidartawan menjelaskan, diabetes terbagi menjadi dua tipe yaitu:

Diabetes Tipe 1
Penderita diabetes ini disebabkan oleh adanya kelainan pada pankreas yang menyebabkan pankreas tidak bisa memproduksi insulin. Sehingga pasien dengan tipe ini hanya bisa diterapi dengan insulin. Pasien diabetes tipe 1 bisa diprediksi dari usia anak-anak.

Diabetes Tipe 2
Penderita diabetes ini disebabkan oleh hormon insulin yang tidak bekerja dengan baik atau tidak dihasilkan hormon insulin yang cukup. Sehingga kadar gula darahnya menjadi tinggi dan bisa menyebabkan gangguan metabolisme tubuh. Diabetes tipe 2 biasanya muncul setelah dewasa, namun ada juga yang sudah mengidap sejak usia 15 tahun. Biasanya disebabkan oleh pola hidup dan adanya faktor genetik. "Penyakit diabetes tipe 2 merupakan yang paling banyak dijumpai di Indonesia biasanya disebabkan oleh faktor turunan. Jika salah satu orang tua mengidap diabetes maka hampir 90% anaknya juga menderita diabetes tergantung dari gaya hidup anak itu sendiri," tambah Profesor yang menjadi anggota American Diabetes Association (ADA).

Diabetes bisa dikenali dengan gejala-gejala sering minum, sering buang air kecil, banyak makan, berat badan berkurang dan sering mengalami kelelahan.
"Saat ini tidak ada obat untuk menyembuhkan diabetes, yang ada hanya obat untuk menurunkan kadar gula darah agar tidak terjadi komplikasi pada pembuluh darah besar dan kecil," ujar dokter kelahiran Amsterdam 64 tahun silam ini. Dr. Sidartawan menjelaskan sebanyak 30% penderita diabetes melitus mengalami kebutaan akibat komplikasi retinopati dan 10% harus menjalani amputasi tungkai kaki. Bahkan diabetes melitus membunuh lebih banyak dibandingkan dengan HIV-AIDS. Biasanya pasien yang meninggal bukan karena diabetesnya melainkan akibat komplikasi dari diabetes tersebut.

Komplikasi pada penderita diabetes bisa menyerang pembuluh darah besar (makro) yang mengakibatkan penyakit jantung, stroke jika menyerang otak dan cacat atau amputasi kaki. Untuk pembuluh darah kecil bisa mengakibatkan kebutaan jika menyerang mata, dan gagal ginjal. Komplikasi yang lain bisa mengakibatkan impotensi pada pasien pria. "Untuk mencegah komplikasi tersebut perlu dilakukan kontrol terhadap gula darah, tekanan darah, dan kolesterol," tambahnya. Dr. Sidartawan menguraikan terdapat beberapa faktor yang turut berperan pada penyakit diabetes yaitu:

Gaya Hidup
Gaya hidup yang tidak sehat seperti tidak pernah olahraga, sering mengkonsumsi junk-food, tidak mengontrol pola makan, dan merokok akan menyebabkan seseorang terkena diabetes.

Stres
Jika seseorang mengalami stres, maka tekanan darah akan meningkat dan dapat meningkatkan kadar gula dalam darahnya.

Post-meal hyperglycemia
Gula darah sesudah makan merupakan kontributor utama bagi terbentuknya nilai hemoglobin glikat (HbA1C). HbA1C merupakan hasil nilai gabungan dari nilai gula darah puasa (sebelum makan) dan sesudah makan. Nilai dari HbA1C bagi pasien diabetes setelah makan tidak boleh melebihi 140mg/dL. Untuk mendeteksi penyakit diabetes perlu dilakukan pemeriksaan darah di laboratorium. Namun, untuk mengontrol gula darah bisa dilakukan dengan menggunakan alat monitor gula darah, tapi bukan untuk diagnosis.

Untuk menghindari atau mencegah diabetes bisa melakukan tips berikut:
- Konsumsi makanan dengan diet seimbang.
- Hiduplah secara aktif.
- Olahraga teratur selama 30 menit setiap hari.
- Kendalikan stres.
- Terapkan gaya hidup sehat.


Last edited by gitahafas on Thu Jan 27, 2011 10:10 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Tue Feb 23, 2010 8:01 pm

KADAR GULA DARAH TAK BERES, ATASI SEGERA
Sabtu, 17 April 2010 | 10:13 WIB
Kompas.com - Survei tahun 2006 menunujukkan, satu dari 8 orang di jakarta menderita diabetes mellitus (DM). DM belum dapat disembuhkan, namun kadar glukosa darah dapat dapat dikendalikan sehingga berbagai komplikasi dapat dicegah. Penyakit diabetes mellitus (DM) atau juga dikenal sebagai penyakit kencing manis adalah kumpulan gejala yang timbul pada seseorang akibat kadar gula darah yang tinggi.

“Kadar gula darah tinggi ini disebabkan oleh jumlah hormon insulin yang kurang atau jumlah insulin cukup tetapi tidak efektif (resistensi insulin),” jelas Dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD, Ph.D, konsultan endokrinologi metabolik dan diabetes dari RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta. Gula sebagai sumber kalori sel-sel tubuh masuk ke dalam tubuh melalui makanan, dan diedarkan ke seluruh tubuh. Kemudian gula akan masuk ke sel-sel tubuh, misalnya jantung, ginjal, otot, dan sebagainya. Oleh sel-sel tubuh, gula ini digunakan sebagai sumber energi.

Itu yang terjadi pada orang normal. Pada penderita diabetes, khususnya DM tipe 2, pintu tempat gula masuk ke dalam sel (glucose transporter) rusak, sehingga gula tidak bisa masuk secara optimal. Kalau gula tidak bisa masuk ke dalam sel, maka gula akan menumpuk di dalam peredaran darah. Ketika dicek, kadar gula darahnya pun tinggi.

Karena sel tubuh tidak mendapat makanan, lama-lama akan kelaparan. “Kalau kelaparan, lama-lama ia akan rusak. Karena itu, ada penderita diabetes yang terkena penyakit jantung, karena otot jantung tidak mendapat gula secara cukup. Ada juga yang harus cuci darah, karena sel-sel ginjal tidak mendapat gula yang cukup. Ada juga yang kakinya harus diamputasi, karena sel-sel ototnya tidak mendapat gula yang cukup pada saat infeksi. Ini yang disebut komplikasi,” jelas dokter yang juga aktif di Pusat Diabetes dan Lipid Jakarta, Divisi Metabolik Endokrin UI/RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo.

Jaga Gaya Hidup
Ada 4 tipe diabetes mellitus. Tipe 1 biasanya pada anak-anak (genetik). Tubuhnya memang tidak punya insulin. DM tipe 2 adalah DM seperti yang dijelaskan di atas. DM tipe 3 adalah diabetes gestational yang biasa terjadi pada ibu hamil, dan tipe 4 adalah diabetes karena penyebab lain, misalnya karena obat, karena penyakit, dan sebagainya.

Yang paling banyak diderita adalah DM tipe 2 dan kecenderungannya terus meningkat. Survei tahun 1982 menunjukkan, angka penderita diabetes di Jakarta sekitar 2,8 persen dari jumlah penduduk. Tahun 90-an naik menjadi 5,8 persen, dan tahun 2006 melonjak menjadi 12, 8 persen. “Artinya, 1 di antara 8 orang di Jakarta terkena diabetes. Yang pre diabetes (akan menjadi diabetes) pun banyak, sekitar 30 persen, dan suatu saat bisa "kecemplung" menjadi diabetes,” kata Dante.

Untuk mengetahui penyakit DM, perlu diperiksa kadar gula darahnya. Dikatakan menderita DM bila kadar gula darah puasanya > 126 mg/dL atau kadar gula darah setelah puasa > 200 mg/dL. Banyak hal yang menjadi penyebab. Yang utama adalah gaya hidup (lifestyle), obesitas yang semakin banyak, pola hidup instan yang dianggap modern, dan yang paling penting adalah kultur untuk melakukan pemeriksaan berkala yang jarang.

Diabetes berkaitan dengan faktor genetik dan faktor lingkungan. Faktor genetik dianggap tidak bisa dimodifikasi, sementara faktor lingkungan bisa. “Jadi, kalau orang sudah punya faktor genetik, yang harus dijaga adalah faktor lingkungannya. Misalnya, menjalani lifestyle yang baik, aktivitas fisik yang baik, istirahat cukup, makan yang tidak banyak mengandung lemak, dan sebagainya.”

Jika setelah menjaga faktor lingkungan, tetap menjadi diabetes juga karena faktor genetik, maka pencegahannya adalah dengan melakukan cek gula darah secara teratur, serta mengenali tanda-tanda diabetes. Tanda diabetes yang khusus ada 3 P, yaitu polydipsi (banyak minum), poliphagi (banyak makan), dan polyuri (banyak kencing pada malam hari), ditambah rasa lemas dan penurunan berat badan. Sementara tanda-tanda tidak khas antara lain kesemutan, pandangan kabur, gigi goyang, difungsi ereksi. Seringkali pasien datang bukan karena pemeriksaan gula darah, melainkan karena gejala yang tidak khas tadi.

Waspadai Komplikasi
Mengobati diabetes tidak cukup hanya dengan menurunkan gula yang ada di dalam darah, tetapi juga bagaimana caranya membuat gula bisa masuk kembali ke dalam sel-sel tubuh supaya sel-sel tubuh tadi tidak rusak.

Diabetes tidak bisa sembuh dan akan ada seumur hidup. “Tetapi yang lebih penting, misalnya, tetap diabetes tapi tidak terkena serangan jantung karena metabolisme di dalam sel otot jantung dikelola dengan baik. Tak perlu harus diamputasi, tak perlu harus cuci darah, dan sebagainya. Jadi, tidak cuma menurunkan angka gula darah, melainkan mengontrol komplikasi yang ada pada diabetes,” kata Dante.

Tidak ada pasien diabetes yang gula darahnya tidak bisa dikontrol. Kalau diketahui lebih dini dan diobati dengan baik, maka komplikasinya pun akan bisa diatasi. "Orang diabetes bisa tetap punya umur sama dengan orang sehat, asal komplikasinya dikontrol atau terkendali.”

Berisiko Terkena DM
Pahami dan simak siapa saja yang berisiko terkena DM, berdasarkan ciri-cirinya. Ingat, pencegahan lebih baik daripada mengobati.
- Berusia di atas 45 tahun
- Kegemukan (Indeks Massa Tubuh di atas 23 kg/m2)
- Darah tinggi/hipertensi
- Dislipidemia (Kolesterol HDL < 35 mg/ dL dan atau trigliserida > 250 mg/dL)
- Riwayat melahirkan bayi dengan berat > 4000 gr
- Riwayat DM pada keluarga (keturunan)
- Riwayat gangguan toleransi glukosa

(Nova/Hasto Prianggoro)



Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:12 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 58
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Diabetes Melitus   Sun Feb 28, 2010 10:05 pm

WASPADAI ANCAMAN PREDIABETES SEBELUM BERUBAH MENJADI DIABETES
Kamis, 08/07/2010 15:25 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Jakarta, Orang-orang yang terkena diabetes biasanya diawali dengan terkena prediabetes (pra-diabetes). Maka itu waspadai tanda-tanda prediabetes, karena prediabates masih bisa disembuhkan tapi kalau sudah terkena diabetes akan susah sembuh. Diabetes merupakan salah satu momok bagi kesehatan, karena penyakit ini tidak bisa disembuhkan dan dapat menimbulkan komplikasi penyakit degeneratif yang berbahaya. Waspada gula darah prediabetes sebelum terlambat menjadi diabetes.

"Kondisi prediabetes tidak boleh dianggap enteng, karena sebagian individu dengan prediabetes akan berkembang menjadi diabetes apabila tidak ditangani dengan baik," ujar Prof DR dr Sidartawan Soegondo, SpPD, KEMD, FACE, President Elect 2009-2011 Persadia (Persatuan Diabetes Indonesia), dalam acara Peluncuran Kampanye Siaga 140 di Harum Manis Resto, Jakarta, Kamis (8/7/2010). Prof Sidartawan menjelaskan bahwa seseorang dikatakan mengidap prediabetes atau Intermediate Hyperglycemia jika kadar gula darah telah melampaui batas normal, namun belum mencapai batas diagnosa diabetes.

Kadar gula batas normal 80-140 mg/dl (dalam kondisi tidak puasa, 2 jam sesudah makan). Nah, jika gula darah sudah mencapai 140 mg/dl-200 mg/dl sudah masuk kategori prediabetes. Sedangkan gula darah di atas 200 mg/dl masuk kategori diabetes. Individu dengan prediabetes yang tidak ditangani, dalam waktu sekitar 5-10 tahun akan meningkat menjadi diabetes. Dan jika sudah diabetes, tidak dapat disembuhkan dan lebih sulit penanganannya. Perjalanan penyakit diabetes tidak terjadi tiba-tiba, tetapi melalui beberapa tahapan. Dimulai dari faktor risiko gaya hidup, terutama obesitas (kegemukan) dan kurang gerak. Jika tidak dikendalikan akan masuk ke tahap prediabetes.

"Risiko munculnya komplikasi penyakit kardiovaskuler (jantung dan pembuluh darah) sudah dimulai sejak prediabetes. Oleh sebab itu, individu dengan prediabetes memerlukan penatalaksanaan yang memadai, meliputi perubahan gaya hidup yang lebih sehat guna memperbaiki profil glikemia (gula darah) dan menurunkan risiko kardiovaskular," jelas Prof Sidartawan.

Menurut Prof Sidartawan, ada beberapa langkah yang harus dilakukan pada individu dengan prediabetes, yaitu:
1. Bagi yang memiliki berat badan berlebih (obesitas) perlu menurunkan berat badan 5-10 persen dari berat badan awal dan dipertahankan dalam jangka panjang.
2. Lakukan aktifitas fisik sedang dan teratur, dianjurkan selama 30-60 menit per hari, paling sedikit 4 hari dalam seminggu atau minimal 150 menit/minggu.
3. Menghindari stres
4. Mengatur pola makan yang sehat
, kurangi konsumsi gula dan lemak, serta perbanyak konsumsi buah dan sayur.

Tak sama dengan diabetes, individu dengan prediabetes bisa kembali normal. Maka dari itu, dituntut kesadaran tinggi bagi individu tersebut untuk merubah gaya hidup menjadi lebih sehat.(mer/ir)


Last edited by gitahafas on Tue Jul 13, 2010 6:14 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
 
Diabetes Melitus
View previous topic View next topic Back to top 
Page 1 of 72Go to page : 1, 2, 3 ... 36 ... 72  Next
 Similar topics
-
» Is borderline type 2 diabetes life-threatening illness/disease?
» type 1 diabetes and the sleeve....
» My little boy going for diabetes tests tomorrow
» Post sleeve & gestational diabetes
» Hand Manifestations of Diabetes Mellitus

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: