Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kesehatan Mata

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 26 ... 51  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Thu Dec 17, 2009 6:47 am

KEBUTAAN
Cedera dan penyakit pada mata bisa mempengaruhi penglihatan. Kejernihan penglihatan disebut ketajaman visuil, yang berkisar dari penglihatan penuh sampai ke tanpa penglihatan. Jika ketajaman menurun, maka penglihatan menjadi kabur. Ketajaman penglihatan biasanya diukur dengan skala yang membandingkan penglihatan seseorang pada jarak 20 kaki dengan seseorang yang memiliki ketajaman penuh. Visuil 20/20 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki dengan ketajaman penuh; sedangkan visuil 20/200 artinya seseorang melihat benda pada jarak 20 kaki, yang oleh orang dengan ketajaman penuh benda tersebut terlihat pada jarak 200 kaki. Secara teoritis, kebutaan terjadi jika ketajaman penglihatan lebih buruk dari 20/200 meskipun telah dibantu dengan kaca mata maupun lensa kontak.

Penyebab kebutaan
Kebutaan bisa terjadi karena berbagai alasan:
- cahaya tidak dapat mencapai retina
- cahaya tidak terfokus sebagaimana mestinya pada retina
- retina tidak dapat merasakan cahaya secara normal
- kelainan penghantaran gelombang saraf dari retina ke otak
- otak tidak dapat menterjemahkan informasi yang dikirim oleh mata.

Beberapa penyakit yang bisa menyebabkan kebutaan:
# Katarak
# Kelainan refraksi
# Ablasio retina
# Retinitis pigmentosa
# Diabetes
# Degenerasi makuler
# Sklerosis multipel
# Tumor kelenjar hipofisa
# Glaukoma
# Kelainan pada daerah otak yang mengolah gelombang visuil akibat stroke, tumor atau penyakit lainnya.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 1:16 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Fri Jan 01, 2010 8:22 pm

BAD MOOD BISA GANGGU PENGLIHATAN
Rabu, 16/06/2010 17:30 WIB Merry Wahyuningsih - detikHealth
Kanada, Mata merupakan jendela hati yang dapat menggambarkan suasana hati seseorang. Sebaliknya, perasaan terutama bad mood juga bisa mempengaruhi kesehatan mata seperti yang terungkap dalam sebuah penelitian. Mood atau suasana hati merupakan gambaran dari kondisi emosional. Good mood dan bad mood yang bisa berlangsung selama berjam-jam atau lebih, juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan seseorang, salah satunya kesehatan mata. Seperti dilansir dari GeniusBeauty, Rabu (16/6/2010), hal ini disampaikan oleh ilmuwan Kanada yang menemukan bahwa kualitas penglihatan dapat dipengaruhi oleh perasaan atau suasana hati. Temuan yang telah diterbitkan dalam Psychological Science ini menemukan bahwa orang dengan perasaan positif (good mood) dapat melihat detail gambar dengan lebih baik, dengan kata lain bad mood atau suasana hati negatif dapat mengganggu penglihatan. Penelitian ini awalnya dirintis oleh ilmuwan Amerika Serikat. Ilmuwan menguji penglihatan partisipan yang bermata normal dengan menggunakan diagram uji penglihatan tradisional, kemudian menggunakan grafik terbalik yang mana huruf abjad diatur mundur, dari kecil ke besar. Sebelumnya, partisipan juga diminta menjawab beberapa pertanyaan yang dapat menggambarkan kondisi emosionalnya. Partisipan dengan penglihatan tajam dapat melihat grafik secara terbalik. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipan dengan kondisi emosional paling baiklah yang dapat melihat objek paling detail. Penulis penelitian menyimpulkan bahwa persepsi informasi visual secara langsung bergantung pada bagaimana lingkungan yang tidak biasa mempengaruhi suasana hati. Ketika seseorang menemukan dirinya dalam situasi yang sedang baik dan suasana hati positif alias good mood, maka otak menginstruksikan mata untuk melihat dengan lebih baik.


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 1:19 pm; edited 4 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Sun Jan 03, 2010 4:40 pm

DAKRIOSTENOSIS
Dakriostenosis adalah penyumbatan duktus nasolakrimalis (saluran yang mengalirkan air mata ke hidung).

PENYEBAB
Dalam keadaan normal, air mata dari permukaan mata dialirkan ke dalam hidung melalui duktus nasolakrimalis.
Jika saluran ini tersumbat, air mata akan menumpuk dan mengalir secara berlebihan ke pipi.

# Penyumbatan duktus nasolakrimalis (dakriostenosis) bisa terjadi akibat: Gangguan perkembangan sistem nasolakrimalis pada saat lahir
# Infeksi hidung menahun
# Infeksi mata yang berat atau berulang
# Patah tulang (fraktur) hidung atau wajah
# Tumor.
Penyumbatan bisa bersifat parsial (sebagian) atau total.

GEJALA
Penyumbatan karena tidak sempurnanya sistem nasolakrimalis biasanya menyebabkan pengaliran air mata yang berlebihan ke pipi (epifora) dari salah satu ataupun kedua mata (lebih jarang) pada bayi berumur 3-12 minggu.
Penyumbatan ini biasanya akan menghilang dengan sendirinya pada usia 6 bulan, sejalan dengan perkembangan sistem nasolakrimalis.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan fisik.
# Pemeriksaan penunjang lainnya adalah: Pemeriksaan hidung bagian dalam
# Pewarnaan mata dengan zat fluoresensi untuk menilai pengaliran air mata
# Sinar X khusus untuk menilai duktus nasolakrimalis.

PENGOBATAN
Jika penyumbatannya parsial, bisa dilakukan pemijatan pada daerah kantong air mata sebanyak beberapa kali/hari.
Jika terjadi peradangan pada konjungtiva (konjungtivitis) diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik.
Jika penyumbatan tetap terjadi biasanya saluran harus dibuka dengan bantuan jarum kecil yang dimasukkan melalui lubang saluran di sudut kelopak mata.
Pada penderita dewasa dilakukan pembedahan untuk membuka kembali saluran air mata (dakriosistorinostomi).

PENCEGAHAN
Pengobatan yang adekuat terhadap infeksi hidung dan mata bisa mengurangi resiko terjadinya dakriostenosis.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 1:14 pm; edited 12 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Fri Jan 22, 2010 11:05 am

AMAUROSIS FUGAX
Kamis, 20/05/2010 14:52 WIB
Amaurosis fugax diduga akibat terjadi gumpalan plak di arteri karotis ke arteri retina mata. Gumpalan tersebut menyebabkan pasokan darah ke retina terputus untuk beberapa saat. Terputusnya pasokan darah menyebabkan penderita kehilangan penglihatan.�

Gejala:
Gejala termasuk tiba-tiba kehilangan penglihatan pada satu mata. Kejadian ini biasanya hanya berlangsung beberapa detik namun dapat berlangsung beberapa menit.�

Pengobatan:
Penderita disarankan untuk segera mendapat pemeriksaan dokter mata. Hasil pemeriksaan dokter mata menentukan pengobatan yang dilakukan. Jika hasil pemeriksaan menunjukkan terjadi penyumbatan lebih dari 70% dari arteri karotis, penderita dapat disarankan untuk operasi untuk menghilangkan sumbatan.

Keputusan untuk melakukan operasi juga akan didasarkan pada tingkat keparahan dan kesehatan umum pasien. Jika pasien tidak memerlukan pembedahan, biasanya dokter memberikan aspirin atau pengencer darah. Beberapa pencegahan yang dapat dilakukan antara lain menurunkan kolesterol, menurunkan tekanan darah tinggi dan berhenti merokok dapat membantu mengurangi resiko penyakit ini.�
Sumber: Detik Health


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 9:51 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Fri Jan 22, 2010 9:02 pm

ULKUS KORNEA
Ulkus Kornea adalah luka terbuka pada lapisan kornea yang paling luar

PENYEBAB
# Ulkus biasanya terbentuk akibat: Infeksi oleh bakteri (misalnya stafilokokus, pseudomonas atau pneumokokus), jamur, virus (misalnya herpes) atau protozoa akantamuba
# Kekurangan vitamin A atau protein
# Mata kering (karena kelopak mata tidak menutup secara sempurna dan melembabkan kornea).

Faktor resiko terbentuknya ulkus:
- Cedera mata
- Ada benda asing di mata
- Iritasi akibat lensa kontak.

GEJALA
Ulkus kornea menyebabkan nyeri, peka terhadap cahaya (fotofobia) dan peningkatan pembentukan air mata, yang kesemuanya bisa bersifat ringan.
Pada kornea akan tampak bintik nanah yang berwarna kuning keputihan.

Kadang ulkus terbentuk di seluruh permukaan kornea dan menembus ke dalam.
Pus juga bisa terbentuk di belakang kornea.
Semakin dalam ulkus yang terbentuk, maka gejala dan komplikasinya semakin berat.

Gejala lainnya adalah:
- gangguan penglihatan
- mata merah
- mata terasa gatal
- kotoran mata.

Dengan pengobatan, ulkus kornea dapat sembuh tetapi mungkin akan meninggalkan serat-serat keruh yang menyebabkan pembentukan jaringan parut dan menganggu fungsi penglihatan.
Komplikasi lainnya adalah infeksi di bagian kornea yang lebih dalam, perforasi kornea (pembentukan lubang), kelainan letak iris dan kerusakan mata.

DIAGNOSA
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan mata.

Pemeriksaan diagnostik yang biasa dilakukan adalah:
- Ketajaman penglihatan
- Tes refraksi
- Tes air mata
- Pemeriksaan slit-lamp
- Keratometri (pengukuran kornea)
- Respon refleks pupil
- Goresan ulkus untuk analisa atau kultur
- Pewarnaan kornea dengan zat fluoresensi.

PENGOBATAN
Ulkus kornea adalah keadaan darurat yang harus segera ditangani oleh spesialis mata agar tidak terjadi cedera yang lebih parah pada kornea.
Tergantung kepada penyebabnya, diberikan obat tetes mata yang mengandung antibiotik, anti-virus atau anti-jamur.
Untuk mengurangi peradangan bisa diberikan tetes mata corticosteroid.
Ulkus yang berat mungkin perlu diatasi dengan pembedahan (pencangkokan kornea).

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 9:50 am; edited 7 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Fri Jan 22, 2010 9:15 pm

KELAINAN MATA RENTAN DIDERITA BAYI PREMATUR
Bramirus Mikail | Asep Candra | Selasa, 22 Mei 2012 | 08:04 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com - Setiap bayi yang lahir secara prematur sebaiknya melakukan pemeriksaan kondisi kesehatan mata. Mengapa? Karena bayi prematur sangat rentan menderita kelainan mata yang disebut Retinopathy of Prematurity (ROP). Spesialis mata dari Jakarta Eye Center (JEC) dr. Florence M. Manurung menjelaskan, Retinopathy of Prematurity (ROP) adalah kondisi yang biasanya ditemukan pada bayi lahir prematur di mana retina belum terbentuk sempurna sehingga mudah rusak dan dapat menyebabkan kebutaan. "Yang saya temukan di JEC, sebesar 27 persen bayi prematur yang kita skrining itu mengalami kelainan mata akibat Retinopathy of Prematurity (ROP)," ujarnya saat acara peresmian Children Eye Care, unit khusus yang menangani gangguan mata pada anak, di Jakarta Eye Center (JEC), Sabtu, (19/5/2012). Menurut Florence, bayi yang menderita ROP harus segera mendapatkan penanganan sesegera mungkin untuk mencegah kebutaan. Banyak kasus ROP tidak terdeteksi dan baru ketahuan jika mata anak sudah terlihat berwarna putih. Umumnya ROP menyerang bayi prematur yang lahir dari usia kehamilan ibu kurang dari 32 minggu, berat badan lahir rendah (kurang dari 1500 gram) dan lahir dengan faktor risiko seperti terapi oksigen, hiposekmia, serta penyakit penyerta lainnya.

Deteksi Dini
Untuk mencegah kebutaan akibat ROP, perlu koordinasi antara dokter spesialis anak dan dokter mata. Selain melakukan pemeriksaan konvensional dengan oftalmoskopi, pemeriksaan retina pada bayi prematur dapat dilakukan dengan RetCam (Retinal Camera). RetCam adalah alat non invasif berupa kamera digital yang dapat melihat dan merekam langsung retina bayi. Pemeriksaan retina pada bayi prematur, lanjut Florence dapat dilakukan mulai dari usia 2-4 minggu setelah kelahiran. Apabila bayi masih berada dalam inkubator, pemeriksaan dengan RetCam dapat dilakukan di dalam inkubator. Pemeriksaan denggan alat ini sangat aman untuk bayi. "Kalau pun terjadi ROP dan skriningnya cepat, hal ini bisa kita cegah agar tidak terjadi kebutaan," ungkapnya.

Penanganan
Penanganan ROP tergantung pada derajat penyakit. Pada ROP derajat ringan, seringkali tidak perlu dilakukan terapi, namun observasi ketat tetap perlu dilakukan. Pada kondisi ROP lebih berat, dapat dilakukan tindakan fotokoagulasi laser atau krioterapi pada daerah retina yang mengalami kerusakan sehingga sebagian besar retina yang masih sehat masih bisa diselamatkan. Tindakan bedah retina dapat dilakukan pada ROP yang sangat berat, namun tingkat keberhasilannya sangat relatif. Bayi prematur dengan ROP berpeluang mengalami kelainan mata seperti minus tinggi, juling, mata malas, katarak dan glaukoma. Karena itu diperlukan screening berkala setiap 6 bulan sampai bayi berumur 3 tahun. "Setiap bayi prematur harus dimonitor sampai ROP dinyatakan regresi," tuntasnya. Retina adalah organ yang sangat vital dari seluruh jaringan di dalam rongga mata, yang berfungsi untuk menangkap rangsangan cagaya dan mengirimkan rangsangan tersebut ke otak, sehingga kita dapat melihat suatu objek. Retina memerlukan suplai darah. Normalnya suplai darah retina dimulai pada usia 16 minggu kehamilan dan terbentuk secara sempurna pada umur kehamilan 41-42 minggu.


Last edited by gitahafas on Sat Oct 20, 2012 9:55 am; edited 4 times in total
Back to top Go down
Ali Alkatiri
Administrator
Administrator
avatar

Number of posts : 1088
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-08-27

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Fri Jan 29, 2010 10:26 am

Lazy Eye

Lazy eye (amblyopia) causes more visual loss in the under 40 group than all the injuries and diseases combined in this age group.

SUMMARY:


  • If not detected and treated early in life, amblyopia can cause loss of vision and depth perception.
  • Improvements are possible at any age with proper treatment, but early detection and treatment offer the best outcome.
  • Comprehensive vision screenings are needed for infants and pre-school children. An eye exam by a pediatrician or the 20/20 eye chart screening is not adequate for the detection of amblyopia (and other visual conditions).

What is Amblyopia (Lazy Eye)?

Amblyopia, commonly known as lazy eye, is the eye condition noted by reduced vision not correctable by glasses or contact lenses and is not due to any eye disease. The brain, for some reason, does not fully acknowledge the images seen by the amblyopic eye. This almost always affects only one eye but may manifest with reduction of vision in both eyes. It is estimated that three percent of children under six have some form of amblyopia.

Causes of Lazy Eye.

Anything that interferes with clear vision in either eye during the critical period (birth to 6 years of age) can cause amblyopia. The most common causes of amblyopia are constant strabismus (constant turn of one eye), anisometropia (different vision/prescriptions in each eye), and/or blockage of an eye due to cataract, trauma, lid droop, etc.

Amblyopia is a neurologically active process. In other words, the loss of vision takes place in the brain. If one eye sees clearly and the other sees a blur, the brain can inhibit (block, ignore, suppress) the eye with the blur. The brain can also suppress one eye to avoid double vision. The inhibition process (suppression) can result in a permanent decrease in the vision in the blurry eye that can not be corrected with glasses, lenses, or lasik surgery.

Detection and Diagnosis of Lazy Eye

An eye exam by a pediatrician or the 20/20 eye chart screening is not adequate for the detection of amblyopia (and other visual conditions). The most important diagnostic tools are the special visual acuity tests other than the 20/20 letter charts currently used by schools, pediatricians and eye doctors.

Examination with cycloplegic drops can be necessary to detect this condition in the young. Since amblyopia usually occurs in one eye only, many parents and children are unaware of the condition. Many children go undiagnosed until they have their eyes examined at the eye doctor's office at a later age. Comprehensive vision evaluations are highly recommended for infants and pre-school children.

Treatment of Amblyopia (Lazy Eye)

Treatment involves glasses, drops, vision therapy and/or patching. Recent medical research has proven that amblyopia is successfully treated up to the age of 17. See National Institutes of Health -- National Eye Institute; Older Children Can Benefit From Treatment; Lazy Eye.

Treatment of amblyopia after the age of 17 is not dependent upon age but requires more effort including vision therapy. Although improvements are possible at any age with proper treatment, early detection and treatment still offer the best outcome.

To quote Dr. Leonard J. Press, FAAO, FCOVD: "It's been proven that a motivated adult with strabismus and/or amblyopia who works diligently at vision therapy can obtain meaningful improvement in visual function. As my patients are fond of saying: "I'm not looking for perfection; I'm looking for you to help me make it better". It's important that eye doctors don't make sweeping value judgments for patients. Rather than saying "nothing can be done", the proper advice would be: "You won't have as much improvement as you would have had at a younger age; but I'll refer you to a vision specialist who can help you if you're motivated." Every amblyopic patient deserves an attempt at treatment.

Lazy Eye (Amblyopia) and Crossed Eyes (Strabismus) are not the same condition.

Many people make the mistake of saying that a person who has a crossed or turned eye has a "lazy eye," but amblyopia and strabismus are not the same condition. Some of the confusion may be due to the fact that an eye turn can cause lazy eye. In other words, amblyopia can result from a constant unilateral strabismus (i.e., an eye that turns or deviates all of the time). Alternating or intermittent strabismus (an eye turn which occurs only some of the time) rarely causes amblyopia.

While a deviating eye (strabismus) can be easily spotted by the layman, amblyopia without strabismus or associated with a small deviation usually can be not noticed by either you or your pediatrician. Only an eye doctor comfortable in examining young children and infants can detect this type of amblyopia. This is why early infant and pre-school eye examinations are so necessary.

Disadur dan diringkas dari: OPTOMETRIST NETWORK
Back to top Go down
http://www.ilunifk83.com
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Sun Feb 28, 2010 9:18 pm

R O P ( RETINOPATHY OF PREMATURITY )
R O P adalah gangguan perkembangan pembuluh darah retina pada bayi yang lahir prematur, dan saat ini ROP merupakan penyebab kebutaan tertinggi pada anak anak di USA dan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak anak di seluruh dunia, akibat kelahiran prematur.

Normalnya retina atau bagian mata yang memiliki fungsi sebagai penerima bayangan objek sebelum diolah di otak, mulai terbentuk pada usia kehamilan 16 minggu.
Retina ini akan mendapat suplai makanan melalui pembuluh darah yang tumbuh dari saraf optik menuju bagian tepi retina. Pembuluh darah retina sendiri terbentuk sempurna sekitar 2 minggu setelah bayi dilahirkan pada usia kehamilan normal yaitu sekitar kehamilan 40 minggu.

Pada bayi prematur, dimana bayi lahir sebelum pembuluh darah retina terbentuk secara sempurna, dapat terjadi berupa terbentuknya garis demarkasi antara daerah yang sudah tumbuh pembuluh darah dengan yang belum, sehingga timbul stimulus pembentukan pembuluh darah baru yang abnormal. Proses ini dapat sembuh secara spontan ( regresi ) atau sebaliknya, berkembang menjadi keadaan yang lebih buruk yang disebut Retinal Detachment atau Ablatio Retina ( lepasnya retina ), yang dapat mengakibatkan kebutaan pada satu atau bahkan kedua belah mata.

Penelitian multisenter di USA melaporkan adanya peningkatan risiko ROP pada bayi prematur dengan berat lahir yang lebih ringan dan usia kehamilan yang lebih muda. Meskipun demikian, di negara negara berkembang, termasuk di Indonesia, bayi bayi yang mengalami ROP cenderung memiliki usia gestasi yang lebih tua dan berat lahir yang lebih besar dibandingkan dengan laporan yang terdapat pada negara negara maju.

Selain prematuritas dan berat lahir yang rendah, beberapa peneliti menduga bahwa pemberian oksigen dapat merangsang terbentuknya ROP, namun ternyata terbukti bahwa tidak semua bayi prematur yang diberi oksigen akan menderita ROP, dan sebaliknya, terdapat laporan ditemukannya ROP pada bayi prematur yang tidak diberikan oksigen. Oleh sebab itu, predictor utama untuk terjadinya ROP adalah usia gestasi dan berat badan pada saat lahir.

Faktor risiko lain dari ROP adalah biasanya disebabkan oleh gangguan pernafasan dan gangguan jantung. Gangguan yang kerap ditemukan pada bayi baru lahir seperti sepsis, anemia atau kuning juga meningkatkan risiko terjadinya ROP. Perlu diketahui bahwa proses ROP tidak dapat dihentikan sekalipun dengan penanganan maksimal. Komplikasi lain seperti Retinal Detachment, Amblyopia ( Mata Malas ), juling, bola mata mengecil, katarak dan glaukoma juga dapat terjadi pada bayi dengan ROP.

Saat ini ROP adalah tantangan terbesar bagi semua dokter yang menangani bayi prematur. Hal yang paling penting dalam pencegahan ROP adalah mencegah agar bayi tidak lahir prematur, oleh karenanya pemeriksaan antenatal yang baik selama kehamilan sangatlah penting. Kelahiran dini sebenarnya dapat dicegah. Hal ini dapat terjadi kalau penyebabnya sudah diketahui, sehingga penanganan bisa segera dilakukan.
Ibu yang sedang hamil dianjurkan istirahat dan lebih berhati hati, demikian juga pada ibu yang mengalami stress, disarankan untuk istirahat total, baik fisik maupun psikis. Pada keadaan ini penanganan sering tanpa pemberian obat obatan. Jika termasuk golongan berrisiko tinggi melahirkan prematur, cara yang bisa dilakukan adalah selalu rutin memeriksakan diri ke dokter dan jika selama ini ibu seorang pekerja, sebaiknya aktivitasnya selama hamil dibatasi untuk menghindari kelelahan. Hentikan kebiasaan buruk seperti merokok, minum alkohol dan minum obat obatan tanpa konsultasi dengan dokter.

Sumber: Mediakawasan May 2010


Last edited by gitahafas on Mon Jul 26, 2010 10:51 am; edited 5 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Mon Mar 08, 2010 4:29 am

BAYI PREMATUR RENTAN ALAMI ROP
Tuesday, 08 June 2010
TEKNOLOGI di bidang neonatology memungkinkan bayi prematur bertahan hidup.Namun,teknologi tersebut belum mampu menekan angka kejadian gangguan retina yang biasa disebut Retinopathy of Prematurity (ROP).

Normalnya,retina atau bagian mata yang memiliki fungsi sebagai penerima bayangan objek sebelum diolah di otak,mulai terbentuk pada usia kehamilan 16 minggu.Retina ini akan mendapat suplai makanan melalui pembuluh darah yang tumbuh dari saraf optik menuju bagian tepi retina.Pembuluh darah retina sendiri terbentuk sempurna sekitar dua minggu setelah bayi dilahirkan pada usia kehamilan normal,yaitu sekitar 40 minggu.

Pada bayi prematur yang lahir sebelum pembuluh darah retina terbentuk secara sempurna, akan timbul garis demarkasi antara daerah yang sudah tumbuh pembuluh darah dengan yang belum. Inilah yang membuat stimulus pembentukan pembuluh darah baru yang abnormal. ”Proses ini dapat sembuh secara spontan atau sebaliknya, berkembang menjadi keadaan yang lebih buruk, yang disebut retinal detachmentatau ablosiaretina (lepasnya retina).

Kondisi ini dapat menyebabkan kebutaan pada satu atau bahkan kedua belah mata,”tutur dokter spesialis anak dari Rumah Sakit Internasional Omni Alam Sutera Tangerang, dr Ferdy Limawal SpA. Ferdy menjelaskan bahwa ROP merupakan penyakit atau gangguan perkembangan pembuluh darah retina pada bayi yang lahir prematur. ”Saat ini ROP merupakan penyebab kebutaan tertinggi pada anak-anak di Amerika Serikat dan salah satu penyebab utama kebutaan pada anak di seluruh dunia,” ujarnya.

Pada 1980,sebanyak 7.000 anak di Amerika Serikat dinyatakan buta akibat ROP dan setiap tahunnya terdapat 500 anak buta karena menderita ROP akibat kelahiran prematur. Selain itu, para peneliti di Jakarta juga mendapati kasus ROP pada sekitar 70% bayi prematur. Penelitian multisenter di Amerika Serikat melaporkan adanya peningkatan risiko ROP pada bayi prematur dengan berat lahir yang lebih ringan dan usia kehamilan yang lebih muda.

Meskipun demikian, di negara-negara berkembang termasuk Indonesia. Bayi-bayi yang mengalami ROP cenderung memiliki usia gestasi yang lebih tua dan berat lahir yang lebih besar dibandingkan dengan laporan yang terdapat pada negaranegara maju. Selain prematuritas dan timbangan berat lahir yang rendah,beberapa peneliti menduga bahwa pemberian oksigen dapat merangsang terbentuknya ROP.

Namun, ternyata terbukti bahwa tidak semua bayi prematur yang diberi oksigen akan menderita ROP. Malah sebaliknya, terdapat laporan ditemukannya ROP pada bayi prematur yang tidak diberikan suplemen oksigen. ”Untuk itu, prediktor utama terjadinya ROP adalah usia gestasi dan berat bayi pada saat lahir,” jelasnya. Faktor risiko ROP lainnya biasanya disebabkan oleh gangguan pernafasan dan gangguan jantung.

Gangguan yang kerap ditemukan pada bayi yang baru lahir seperti sepsis, anemia, atau kuning, juga meningkatkan risiko terjadinya ROP. ”Bayi prematur yang di rawat di inkubator dan diberi oksigen memiliki risiko ROP.Tapi tidak semua bayi prematur yang diberi oksigen rentan ROP begitu pun dengan bayi prematur tidak semuanya ROP, hanya 20–30% untuk keseluruhan berat badan,” ungkap dokter spesialis mata RSCM/FKUI, Julie Dewi Barliana SpM.

Julie menuturkan, sekitar 20% bayi prematur akan mengalami strasbismus atau kelainan refraksi ketika usia mereka mencapai tiga tahun.Dari banyaknya kasus tersebut, Julie menyarankan penanganan dini terhadap bayi prematur harus dilakukan agar dapat memperkecil atau menghilangkan kemungkinan kebutaan pada anak. Perlu diketahui bahwa proses ROP tidak dapat dihentikan sekalipun dengan penanganan maksimal.

Komplikasi lain seperti retinal detachment, ambliopia (mata malas),juling,bola mata mengecil, katarak,dan glaukoma,juga dapat terjadi pada bayi dengan ROP. Saat ini ROP adalah tantangan terbesar bagi semua dokter yang menangani bayi prematur.

Hal yang paling penting dalam pencegahan ROP adalah mencegah agar bayi tidak lahir prematur,oleh karenanya pemeriksaan antenatal yang baik selama kehamilan sangatlah penting. Kelahiran dini sebenarnya dapat dicegah. ”Hal ini dapat terjadi kalau penyebabnya sudah diketahui sehingga penanganan bisa segera dilakukan,” ujar Ferdy. (inggrid namiraswara)

Sumber: Seputar Indonesia Selasa 8 Mei 2010


Last edited by gitahafas on Mon Jul 26, 2010 10:51 am; edited 3 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Kesehatan Mata   Mon Mar 08, 2010 5:45 am

STRABISMUS
Strabismus (Mata juling) adalah suatu keadaan yang ditandai dengan penyimpangan abnormal dari letak satu mata terhadap mata yang lainnya, sehingga garis penglihatan tidak paralel dan pada waktu yang sama, kedua mata tidak tertuju pada benda yang sama.

Terdapat beberapa jenis strabismus:
1. Esotropia : mata melenceng ke arah dalam
2. Eksotropia : mata melenceng ke arah luar
3. Hipertropia : mata melenceng ke arah atas
4. Hipotropia : mata melenceng ke arah bawah.

PENYEBAB
# Strabismus biasanya disebabkan oleh: Tarikan yang tidak sama pada 1 atau beberapa otot yang menggerakan mata (strabismus non-paralitik). Strabismus non-paralitik biasanya disebabkan oleh suatu kelainan di otak.
# Kelumpuhan pada 1 atau beberapa otot penggerak mata (strabismus paralitik). Kelumpuhan pada otot mata bisa disebabkan oleh kerusakan saraf.

Jenis strabismus yang lain ditemukan pada anak yang menderita rabun dekat.
Beberapa keadaan yang bisa ditemukan bersamaan dengan strabismus:
# Ambliopia
# Retinopati pada prematuritas
# Retinoblastoma
# Cedera otak traumatik
# Hemangioma di sekitar mata (pada masa bayi)
# Sindroma Apert
# Sindroma Noonan
# Sindroma Prader-Willi
# Trisomy 18
# Rubella kongenitalis
# Sindroma inkontinensia pigmen
# Cerebral palsy.

GEJALA
Gejalanya berupa:
- mata juling (bersilangan)
- mata tidak mengarah ke arah yang sama
- gerakan mata yang tidak terkoordinasi
- penglihatan ganda.

DIAGNOSA
# Pemeriksaan yang biasa dilakukan: Pemeriksaan mata standar
# Ketajaman penglihatan
# Pemeriksaan retina
# Pemeriksaan neurologis (saraf).

PENGOBATAN
Jika sampai anak berumur 9 tahun strabismus tidak diobati, maka bisa terjadi gangguan penglihatan yang permanen pada mata yang terkena (ambliopia).
Pada anak-anak yang lebih kecil, ambliopia lebih cepat terjadi; sedangkan pada anak-anak yang lebih besar, penyembuhannya memerlukan waktu lebih lama. Karena itu semakin dini pengobatan dilakukan, maka gangguan penglihatan yang terjadi tidak terlalu berat dan respon yang diberikan akan lebih baik.

Menutup mata yang normal dengan sebuah penutup bisa memperbaiki penglihatan pada mata yang melenceng dengan cara memaksa otak untuk menerima suatu gambaran dari mata tanpa menghasilkan penglihatan ganda.
Memperbaiki fungsi penglihatan akan memberikan peluang yang lebih baik terhadap perkembangan penglihatan 3 dimensi yang normal.
Setelah penglihatan pada kedua mata sama, bisa dilakukan pembedahan untuk menyesuaikan kekuatan otot mata sehingga mereka menarik mata dengan kekuatan yang sama.

Esotropia akomodatif pada anak rabun dekat bisa diatasi dengan kaca mata sehingga pada saat melihat benda pada jarak jauh, mata tidak perlu berakomodasi.
Pengobatan lainnya adalah obat tetes mata ekotiofat, yang membantu mata memfokuskan pada benda-benda jarak dekat.
Strabismus paralitik bisa diatasi dengan kaca mata yang terdiri dari lensa prisma (yang membiaskan cahaya sehingga kedua mata menerima gambaran yang hampir sama) atau bisa diatasi dengan pembedahan.
Sampai umur 10 tahun, anak sebaiknya menjalani pemeriksaan mata secara teratur.

Sumber: Medicastore


Last edited by gitahafas on Thu Aug 26, 2010 5:10 am; edited 6 times in total
Back to top Go down
 
Kesehatan Mata
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 51Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 26 ... 51  Next
 Similar topics
-
» Ilusi Mata - Melatih konsentrasi
» skenario bom bali di mata eggy sujana
» Dupa Berbahaya Bagi Kesehatan
» Di Mata Indonesia, Palestina Lebih Penting daripada Papua
» Snouck Hurgronje, Mata-Mata Belanda di Masa Perang Aceh

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN-
Jump to: