Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kisah Inspiratif

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 8, 9, 10, 11, 12  Next
AuthorMessage
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Renungan di hari nyepi   Sat Mar 05, 2011 9:57 am

Cuplikan dari group tetangga.

APEL UNTUK SANG RAJA dongeng Rakyat Ethiopia
2008 Universal Press Syndicate

Pada suatu waktu, ketika seorang petani bernama Yonas sedang memetik buah dari pohon buahnya, ia menemukan sebuah apel istimewa yang belum pernah dilihatnya. Apel ini bulat sempurna, merah menyala dan aromanya sangat harum. Pastilah dikirim dari surga dan patut dikagumi serta dicintai. Tidak lama kemudian ia berkesimpulan ia harus membawa apel ini kepada raja. Ini adalah apel yang paling istimewa yang pernah dilihatnya. Jadi ia berangkat ke istana.

Ketika Yonas tiba membawa apel, penjaga menghentikannya. "Apa yang kamu inginkan dengan raja?" tanya mereka. "Aku membawa hadiah untuknya dari pohon buahku," jawab Yonas, sambil mengeluarkan buah dari kantung. Ia membuka bungkusan kain yang telah ia siapkan dengan cermat agar apel itu tetap aman. "Ini dia." Apel itu sangat besar, sangat merah dan mengkilap, dan berkilauan seperti permata. "Mengapa raja harus mndapatkan apelmu?" tanya mereka.

"Ini adalah hadiah dari alam," kata Yonas, "dan aku pikir ini adalah hadiah yang dimaksudkan untuk seorang raja." Para penjaga menertawakannya. Sungguh pria muda yang bodoh, pikir mereka, tetapi mereka membimbingnya keruangan raja. Yonas membungkuk memberi hormat dan berkata, "Aku membawakan hadiah untuk tuan." Raja mempelajari apel itu. Memang benar, ia belum pernah melihat buah seindah itu, tetapi ia menggelengkan kepalanya. "Apa yang kamu inginkan dariku sebagai balasannya?" tanyanya. "Tidak ada yang mulia," jawab Yonas. "Itu hadiah."

Para penjaga dan pelayan mulai tertawa diam diam, tetapi raja meminta mereka diam. "pasti ada sesuatu yang kamu inginkan sebagai pertukaran," katanya bingung. Yonas menggelengkan kepalanya dan berkata, "Hanya ingin membagi kenikmatan dari adanya buah yang sebaik itu." Raja mengamati Yonas. Apakah ia gila atau bodoh? Ia mengambil apel itu dari tangan Yonas, mengangkatnya ketempat terang dan bertanya, "Sekarang apa yang harus kuberikan kepadamu?"

"Tolonglah, satu satunya hal yang kuinginkan dari tuan hanyalah merasakan kenikmatan ketika tuan memandangi benda yang indah ini," kata Yonas. Dan bersamaan dengan kata kata itu ia membungkuk dan berkata, "Sekarang aku harus pulang." "Silahkan," kata raja. Yonas membalikkan badan dan mulai berjalan pulang. "Berapa jauh rumahmu?" tanya raja mengejarnya. "Hanya satu hari berjalan kaki," kata Yonas. Ia ingin tiba dirumah sebelum gelap.

Raja duduk merenungkan apel yang indah itu, dan ia menarik nafas. Memang benda yang indah, dan sekarang ia mengerti bahwa pemuda itu hanya ingin menawarkan kemurahan hati. Apel ini sungguh sungguh hadiah dan simbol penghormatan. Setelah ia berpikir beberapa lama lagi, ia memutuskan bahwa ia harus membalas kebaikan seperti itu. Ia memanggil penasehatnya yang paling dipercaya. "Aku ingin memberi salah satu dari kuda terbaik kita kepada petani itu," kata raja. "Seekor kuda yang indah dan kuat."

Penasehat setuju bahwa ini adalah gagasan yang agung, jadi ia memanggil pelayan dan memerintahkan mereka untuk memilih salah satu kuda terbaik dikandang kuda dan menungganginya kerumah Yonas. Ketika mereka sampai, ia turun dan berkata, "Hadiah dari rajamu." Ia menyerahkan kuda itu kepada Yonas. Lalu pelayan kembali ke istana. Ketika Yonas menunggangi kuda, kebetulan ia melewati salah satu tetangganya yang berdiri memperhatikan dengan takjub ketika tetangga miskinnya itu lewat. "Apa ini?" tanya Demissie. "Dimana kau menemukan kuda indah ini Yonas?"

"Ini hadiah dari raja," kata Yonas. "Aku telah memberinya apel indah kami dan sebagai balasannya ia memberikanku kuda ini." Demissie memerah karena iri. Ia menginginkan seekor kuda yang indah, dan jika raja memberi kuda yang indah untuk mengganti sebutir apel, ia hanya bisa membayangkan apa yang akan raja berikan jika ia memberinya seekor kuda. Ia bergegas ke kandang kuda dan menunggangi kudanya ke istana. Ketika ia tiba, penjaga menanyakan apa yang ia inginkan. "Aku mempunyai hadiah untuk raja." "Apa?" kata para penjaga tertawa. "Sebutir apel?" "Bukan, aku membawa seekor kuda untuknya." "Ah," kata kepala penjaga, dan ia membimbingnya ke raja.

Demissie membungkuk hormat dan berkata, "Raja yang mulia yang berbelas kasih padaku, aku membawakan hadiah untuk tuan, seekor kuda dari kandang kudaku." Raja tersenyum. "Terima kasih," katanya. "Aku baru saja kekurangan satu kuda." "Beruntunglah aku," kata Demissie. "Kalau begitu ini hadiah yang sempurna bukan?" "Memang," kata raja. "Aku hanya senang bisa menyenangkan yang mulia," kata Demissie. Tetapi ia tidak beranjak, dan raja langsung tahu bahwa Demissie sedang mengharapkan suatu pertukaran. Raja berkata, "Aku ingin memberimu sesuatu untuk mengungkapkan terima kasihku." Mata Demissie berbinar, dan wajahnya memerah, semerah apel Yonas.

"Terima kasih, terima kasih," katanya gugup, keringat mengalir dari alisnya ketika ia mengantisipasi permata atau emas, atau bergulung gulung sutera dan satin. Raja berbisik kepada penasehatnya, yang segera bergegas keluar. Ketika ia kembali beberapa saat kemudian, ia membawa apel Yonas dan menyerahkannya kepada raja. Raja berdiri dan berkata kepada Demissie. "Inilah dia! Apel yang paling indah didunia, dan aku ingin menghadiahkannya untukmu." Demissie membungkuk kembali, tetapi ia menekuk kepalanya dalam dalam agar raja tidak melihat airmata kemarahannya. "Yang Mulia," katanya tergagap, tetapi tidak ada lagi yang bisa dikatakan, dan penjaga membimbingnya keluar. Raja berjalan ke kandang kuda dan mengamati kuda Demissie. "Kuda yang bagus," katanya, "dan meskipun tidak diberikan dari hati, aku akan menyimpannya, karena ia akan menjadi kuda tunggangan yang bagus."

Catatan Kaki.
- Berikanlah yg terbaik utk orang yg sangat anda cintai, maka akan ada rezeki yg menyertai anda.
- Jangan pernah cemburu dengan rezeki orang lain. Setiap orang mempunyai rezekinya masing2.


Last edited by ino on Sun Apr 17, 2011 9:30 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: RENCANA TUHAN INDAH PADA WAKTUNYA   Sun Mar 06, 2011 11:46 am

Diambil dari blog tetangga. Kisah yg indah untuk kita renubgkan.


Ada seorang anak laki laki yang berambisi bahwa suatu hari nanti ia akan menjadi jenderal Angkatan Darat. Anak itu pandai dan memiliki ciri ciri yang lebih daripada cukup untuk dapat membawanya kemanapun ia mau. Untuk itu ia bersyukur kepada Tuhan, oleh karena ia adalah seorang anak yang takut akan Tuhan dan ia selalu berdoa agar supaya suatu hari nanti impiannya itu akan menjadi kenyataan.

Sayang sekali, ketika saatnya tiba baginya untuk bergabung dengan Angkatan Darat, ia ditolak oleh karena memiliki telapak kaki rata. Setelah berulang kali berusaha, ia kemudian melepaskan hasratnya untuk menjadi jenderal dan untuk hal itu ia mempersalahkan Tuhan yang tidak menjawab doanya. Ia merasa seperti berada seorang diri, dengan perasaan yang kalah, dan diatas segalanya, rasa amarah yang belum pernah dialaminya sebelumnya.

Amarah yang mulai ditujukannya terhadap Tuhan. Ia tahu bahwa Tuhan ada, namun tidak mempercayai-Nya lagi sebagai seorang sahabat, tetapi sebagai seorang tiran ( penguasa yang lalim ). Ia tidak pernah lagi berdoa atau melangkahkan kakinya kedalam gereja. Ketika orang orang seperti biasanya berbicara tentang Tuhan Yang Maha Pengasih, maka ia akan mengejek dan menanyakan pertanyaan pertanyaan rumit yang akan membuat orang orang yang percaya itu kebingungan.

Ia kemudian memutuskan untuk masuk perguruan tinggi dan menjadi dokter. Dan begitulah, ia menjadi dokter dan beberapa tahun kemudian menjadi seorang ahli bedah yang handal. Ia menjadi pelopor didalam pembedahan yang berisiko tinggi dimana pasien tidak memiliki kemungkinan hidup lagi apabila tidak ditangani oleh ahli bedah muda ini.

Sekarang, semua pasiennya memiliki kesempatan, suatu hidup yang baru. Selama bertahun tahun, ia telah menyelamatkan beribu ribu jiwa, baik anak anak maupun orang dewasa. Para orangtua sekarang dapat tinggal dengan berbahagia bersama dengan putra atau putri mereka yang seperti dilahirkan kembali, dan para ibu yang sakit parah sekarang masih dapat mengasihi keluarganya. Para ayah yang hancur hatinya oleh karena tak seorangpun yang dapat memelihara keluarganya setelah kematiannya, telah diberikan kesempatan baru.

Setelah ia menjadi lebih tua, maka ia melatih para ahli bedah lain yang bercita cita tinggi dengan tehnik bedah barunya, dan lebih banyak lagi jiwa yang diselamatkan.

Pada suatu hari ia menutup matanya dan pergi menjumpai Tuhan. Disitu, masih penuh dengan kebencian, pria itu bertanya kepada Tuhan mengapa doa doanya tidak pernah dijawab, dan Tuhan berkata: "Pandanglah kelangit, anakku, dan lihatlah impianmu menjadi kenyataan."

Disana, ia dapat melihat dirinya sendiri sebagai seorang anak laki laki yang berdoa untuk bisa menjadi seorang prajurit. Ia melihat dirinya masuk Angkatan Darat dan menjadi prajurit. Disana ia sombong dan ambisius, dengan pandangan mata yang seakan akan berkata bahwa suatu hari nanti ia akan memimpin sebuah resimen. Ia kemudian dipanggil untuk mengikuti peperangannya yang pertama, akan tetapi ketika ia berada dikamp di garis depan, sebuah bom jatuh dan membunuhnya. Ia dimasukkan kedalam peti kayu untuk dikirimkan kembali kepada keluarganya. Semua ambisinya kini hancur berkeping keping saat orangtuanya menangis dan terus menangis.

Lalu Tuhan berkata: "Sekarang lihatlah bagaimana rencana-Ku telah terpenuhi sekalipun engkau tidak setuju." Sekali lagi ia memandang kelangit. Disana ia memperhatikan kehidupannya, hari demi hari dan berapa banyak jiwa yang telah diselamatkannya. Ia melihat senyum diwajah pasiennya dan diwajah anggota keluarganya dan kehidupan baru yang telah diberikannya kepada mereka dengan menjadi seorang ahli bedah.

Kemudian diantara para pasiennya, ia melihat seorang anak laki laki yang juga memiliki impian untuk menjadi seorang prajurit kelak, namun sayangnya dia terbaring sakit. Ia melihat bagaimana ia telah menyelamatkan nyawa anak laki laki itu melalui pembedahan yang dilakukannya. Hari ini anak laki laki itu telah dewasa dan menjadi seorang jenderal. Ia hanya dapat menjadi jenderal setelah ahli bedah itu menyelamatkan nyawanya.

Sampai disitu, ia tahu Tuhan ternyata selalu berada bersama dengannya. Ia mengerti bagaimana Tuhan telah memakainya sebagai alat-Nya untuk menyelamatkan beribu ribu jiwa, dan memberikan masa depan kepada anak laki laki yang ingin menjadi prajurit itu.


Catatan Kaki.
Terkadang kita menyesali bahwa apa yg kita minta tidak diberikan oleh Tuhan. Tapi yakinlah bahwa Tuhan akan memberikan yg terbaik untuk kita.
Baik menurut kita belum tentu baik menurut Tuhan, tetapi baik menurut Tuhan pasti baik untuk kita.
Selamat menikmati hari libur anda.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Jangan Benci Aku, Mama......    Sun Mar 20, 2011 11:59 am

Diambil dari blog sebelah. Kisah yg sangat menyentuh hati.

Dua puluh tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Hasan, suamiku, memberinya nama Erik. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Aku berniat memberikannya kepada orang lain saja atau dititipkan di panti asuhan agar tidak membuat malu keluarga kelak.

Namun suamiku mencegah niat buruk itu. Akhirnya dengan terpaksa kubesarkan juga. Di tahun kedua setelah Erik dilahirkan, akupun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Kuberi nama Angel. Aku sangat menyayangi Angel, demikian juga suamiku. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan & membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah.

Namun tidak demikian halnya dengan Erik. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Suamiku sebenarnya sudah berkali-kali berniat membelikannya, namun aku selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Suamiku selalu menuruti perkataanku.

Saat usia Angel 2 tahun, Suamiku meninggal dunia. Erik sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya aku mengambil sebuah tindakan yang akan membuatku menyesal seumur hidup. Aku pergi meninggalkan kampung kelahiranku bersama Angel. Erik yang sedang tertidur lelap kutinggalkan begitu saja.

Kemudian aku memilih tinggal di sebuah rumah kecil setelah tanah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.......... telah berlalu sejak kejadian itu.

Kini Aku telah menikah kembali dengan Beni, seorang pria dewasa yang mapan. Usia pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Beni, sifat-sifat burukku yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angel kini telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkannya di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Erik dan tidak ada lagi yang mengingatnya. Sampai suatu malam. Malam di mana aku bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arahku. Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama caya? caya lindu cekali cama Mama!"

Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun aku menahannya,

"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu. Siapa namamu anak manis?"

"Nama caya Elik, Tante."

"Erik? Erik... Ya Tuhan! Kau benar-benar Erik?"

Aku langsung tersentak bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpaku saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu, seperti sebuah film yang sedang diputar di kepala. Baru sekarang aku menyadari betapa jahatnya perbuatanku dulu. Rasanya seperti mau mati saja saat itu.

Ya, sepertinya saya memang harus mati..., mati..., mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Erik melintas kembali di pikiranku. Ya Erik, Mama akan menjemputmu Erik...sabar ya nak...."

Sore itu aku memarkir mobil biruku di samping sebuah gubuk, dan Beni suamiku dengan pandangan heran menatapku dari samping. "Maryam, apa yang sebenarnya terjadi?"

"Oh, suamiku, kau pasti akan membenciku setelah kuceritakan hal yang telah kulakukan dulu." tetapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak.

Ternyata Tuhan sungguh baik kepadaku. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangisku reda, aku pun keluar dari mobil diikuti oleh suami dari belakang. Mataku menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter didepan. Aku mulai teringat betapa gubuk itu pernah kutempati beberapa tahun lamanya dan Erik..... Erik......

Aku meninggalkan Erik di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih aku pun berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mataku mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu.

Namun aku tidak menemukan siapa pun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Aku mengambil seraya mengamatinya dengan seksama... Mataku mulai berkaca-kaca, aku mengenali betul potongan kain tersebut, itu bekas baju butut yang dulu dikenakan Erik sehari-hari, baju butut yang kadang aku sendiri jijik mencucinya......

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, aku pun keluar dari ruangan itu... Air mataku mengalir dengan deras. Saat itu aku hanya diam saja. Sesaat kemudian aku dan suami mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, tiba - tiba aku melihat seseorang di belakang mobil kami. Aku sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor.

Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali aku tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.

"Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau ke sini?!"

Dengan memberanikan diri, aku pun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Erik yang dulu tinggal di sini?"

Tiba - tiba Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Erik terus menunggu ibunya seraya memanggil, 'Mamaaa..., Mamaaa!'

Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan & mengajaknya tinggal bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Erik meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu....."

Saya pun membaca tulisan di kertas itu...

"Mama, mengapa Mama tidak pernah kembali lagi...? Mama benci ya sama Erik? Ma...., biarlah Erik yang pergi saja, tapi Mama harus berjanji ya, kalau Mama tidak akan benci lagi sama Eric. Udah dulu ya Ma, Erik sayaaaang sama Mama, ......"

Aku menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... katakan di mana ia sekarang? Aku berjanji akan meyayanginya sekarang! Aku tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!" Suamiku memeluk tubuhku yang bergetar sangat keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Erik telah meninggalkan dunia. Ia meninggal persis di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mama-nya datang, Mama-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana ...

Ia hanya berharap dapat melihat Mamanya dari belakang gubuk ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya disana. Nyonya, dosa Anda sungguh tidak terampuni!"

Aku kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

Catatan Kaki
Kasihilah keluargamu selagi mereka ada disampingmu. Kita baru merasakan kehilangan setelah dia pergi jauh dari kita.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Renungan secangkir kopi   Sun Apr 17, 2011 9:13 am

Disalin dari milis iluni FKUI 83.

Dalam sebuah acara reuni, beberapa alumni menjumpai guru sekolah mereka dulu.
Melihat para alumni tersebut ramai-ramai membicarakan kesuksesan mereka, guru tersebut segera ke dapur dan mengambil seteko kopi panas dan beberapa cangkir kopi yang berbeda-beda.
Mulai dari cangkir yang terbuat dari kristal, kaca, melamin dan plastik.
Guru tersebut menyuruh para alumni untuk mengambil cangkir & mengisinya dengan kopi.
Setelah masing-masing alumni sudah mengisi cangkirnya dengan kopi, guru berkata, "Perhatikanlah bahwa kalian semua memilih cangkir yang bagus dan kini yang tersisa hanyalah cangkir yang murah dan tidak menarik.
Memilih hal yang terbaik adalah wajar & manusiawi. Namun persoalannya, ketika kalian tidak mendapatkan cangkir yang bagus perasaan kalian mulai terganggu. Kalian secara otomatis melihat cangkir yang dipegang orang lain & mulai membandingkannya. Pikiran kalian terfokus pada cangkir, padahal yang kalian nikmati bukanlah cangkirnya melainkan kopinya.
"Hidup kita seperti kopi dalam analogi tsb di atas, sedangkan cangkirnya adalah pekerjaan, jabatan, dan harta benda yang kita miliki.

Pesan moralnya, jangan pernah membiarkan cangkir mempengaruhi kopi yang kita nikmati.
Cangkir bukanlah yang utama, kualitas kopi itulah yang terpenting.
Jangan berpikir bahwa kekayaan yang melimpah, karier yang bagus & pekerjaan yang mapan merupakan jaminan kebahagian. Itu konsep yang sangat keliru.
Kualitas hidup kita ditentukan oleh "Apa yang ada di dalam" bukan "Apa yang kelihatan dari luar".
Apa gunanya kita memiliki segalanya, namun kita tidak pernah merasakan damai, sukacita, dan kebahagian di dalam kehidupan kita?
Itu sangat menyedihkan, karena itu sama seperti kita menikmati kopi basi yang disajikan di sebuah cangkir kristal yang mewah dan mahal.
"Kunci menikmati kopi bukanlah seberapa bagus cangkirnya, tetapi seberapa bagus kualitas kopinya."
"Selamat menikmati secangkir kopi...kehidupan"

Catatan Kaki
Kebahagiaan terletak di dalam hati kita masing2.
Karir yang mapan, kekayaan yang melimpah dan jabatan yang tinggi hanyalah amanah yang harus kita pertanggung jawabkan kepada YANG MEMILIKI, ALLAH SWT.
Nikmatilah hidup yang anda miliki maka anda akan bahagia.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Two Horses   Sun Apr 17, 2011 9:49 am

Disalinkan dari blog tetangga.

Two Horses
*Author Unknown
Just up the road from my home is a field, with two horses in it.From a distance, each horse looks like any other horse.But if you stop your car, or are walking by, you will notice something quite amazing....Looking into the eyes of one horse will disclose that he is blind.His owner has chosen not to have him put down,but has made a good home for him.This alone is amazing. If you stand nearby and listen,you will hear the sound of a bell. Looking around for the source of the sound, you will see that it comes from the smaller horse in the field.It lets the blind friend know where the other horse is, so he can follow.As you stand and watch these two friends, you'll see that the horse with the bell is always checking on the blind horse, and that the blind horse will listen for the bell and then slowly walk to where the other horse is, trusting that he will not be led astray.When the horse with the bell returns to the shelter of the barn each evening, it stops occasionally and looks back,Making sure that the blind friend isn't too far behind to hear the bell.Like the owners of these two horses, God does not throw us away just because we are not perfect or because we have problems or challenges.He watches over us and even brings others into our livesTo help us when we are in need..Sometimes we are the blind horse being guided by the little ringing bell of those who God places in our lives.Other times we are the guide horse, helping others to find their way....Good friends are like that...You may not always see them,but you know they are always there..Please listen for my bell and I'll listen for yours, and remember...Be kinder than necessary-
Everyone you meet is fighting. Some kind of battle.
Live simply,Love generously,Care deeply,Speak kindly.......And leave the rest to God!
FOR WE WALK BY FAITH AND NOT BY SIGHT
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Keheningan   Thu Apr 21, 2011 9:43 am

(Sebuah Renungan di malam hari)

Ada seorang tukang kayu. Suatu saat ketika sedang bekerja, secara tak disengaja arlojinya terjatuh dan terbenam di antara tingginya tumpukan serbuk kayu. Arloji itu adalah sebuah hadiah dan telah dipakainya cukup lama. Ia amat mencintai arloji tersebut. Karenanya ia berusaha sedapat mungkin untuk menemukan kembali arlojinya. Sambil mengeluh mempersalahkan keteledoran diri sendiri si tukang kayu itu membongkar tumpukan serbuk yang tinggi itu.

Teman-teman pekerja yang lain juga turut membantu mencarinya. Namun sia-sia saja. Arloji kesayangan itu tetap tak ditemukan. Tibalah saat makan siang. Para pekerja serta pemilik arloji tersebut dengan semangat yang lesu meninggalkan bengkel kayu tersebut.

Saat itu seorang anak yang sejak tadi memperhatikan mereka mencari arloji itu, datang mendekati tumpukan serbuk kayu tersebut. Ia menjongkok dan mencari. Tak berapa lama berselang ia telah menemukan kembali arloji kesayangan si tukang kayu tersebut. Tentu si tukang kayu itu amat gembira. Namun ia juga heran, karena sebelumnya banyak orang telah membongkar tumpukan serbuk namun sia-sia. Tapi anak ini cuma seorang diri saja, & berhasil menemukan arloji itu.

"Bagaimana caranya engkau mencari arloji ini ?", tanya si tukang kayu.

"Saya hanya duduk secara tenang di lantai. Dalam keheningan itu saya bisa mendengar bunyi tik-tak, tik-tak. Dengan itu saya tahu di mana arloji itu berada", jawab anak itu.

Keheningan adalah pekerjaan rumah yang paling sulit diselesaikan selama hidup. Sering secara tidak sadar kita terjerumus dalam seribu satu macam 'kesibukan dan kegaduhan'. Ada baiknya kita menenangkan diri kita terlebih dahulu sebelum mulai melangkah menghadapi setiap permasalahan.

Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Baik dan buruk   Fri Apr 22, 2011 8:27 am

Ada seorang raja yg setiap pergi berburu selalu ditemani oleh seorang sahabatnya yg terkenal dgn ketakwaannya. Tiap kali raja menemui sesuatu yang tidak mengenakkan, sahabatnya selalu berkata, “Semoga itu baik,insya Allah.” Kata2 ini selalu diulang-ulanginya pada setiap kejadian yang secara lahir adalah kejadian buruk.

Pada suatu hari saat sang raja berburu bersama sahabatnya ditemani oleh pengawalnya, jari raja terkena tombak dan terpotong. Darah pun mengucur. Si sahabat berkata, “Semoga itu baik, insya Allah.” Raja marah dan memerintahkan pengawalnya untuk memenjarakannya. Saat pengawal ditanya, “Apa yang dikatakannya saat kalian menutup pintu penjara?” Pengawal menjawab, “Ia hanya mengatakan, Semoga ini baik, insya Allah”

Suatu ketika saat raja pergi berburu tanpa ditemani oleh sahabatnya, ia tersesat di hutan. Sedangkan di hutan tersebut terdapat suku yang menyembah berhala dan tiap tahun mengorbankan orang kpd berhalanya tersebut. Raja pun ditangkap oleh suku tersebut. Namun, saat diperiksa didapati bahwa jari raja tidak lengkap. Mereka pun menolak mengorbankannya, krn korban harus dalam kondisi yg sempurna. Raja lalu dilepas dan ia kembali ke istananya.

Akhirnya ia menyadari kebenaran ucapan sahabatnya.Sahabatnya pun dikeluarkan dari penjara. Raja bertanya, “Ketika engkau mengatakan,‘Semoga itu baik, insya Allah.’ Saat jariku terpotong, aku menyadari bahwa kebaikan itu adalah aku tidak jadi disembelih untuk berhala karena fisikku tidak sempurna. Sekarang saat engkau dipenjara, apakah kebaikan itu?” Ia menjawab, “Andaikata saat itu saya bersamamu, maka mereka akan menyembelih saya sebagai penggantimu”

Jika anda mndapat kejadian buruk ucapkan : "Semoga ini baik, insya Allah.”
Semoga ALLAH SWT memberi kebaikan pada kehidupan Anda. Amiin Smile

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah Maha Mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”. (QS Al-Baqarah : 216)
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Air Mendidih    Sun Apr 24, 2011 8:20 am

Copas dari blog tetangga

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya dan menanyakan mengapa hidup ini terasa begitu berat baginya. Ia tidak tahu bagaimana menghadapinya dan hampir menyerah. Ia sudah lelah untuk berjuang. Sepertinya setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya, seorang koki, membawanya ……ke dapur. Ia mengisi 3 panci dengan air dan menaruhnya di atas api. Setelah air di panci-panci tersebut mendidih. Ia menaruh wortel di dalam panci pertama, telur di panci kedua dan ia menaruh kopi bubuk di panci terakhir. Ia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak membungkam dan menunggu dengan tidak sabar, memikirkan apa yang sedang dikerjakan sang ayah. Setelah 20 menit, sang ayah mematikan api. Ia menyisihkan wortel dan menaruhnya di mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya di mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lainnya.

Lalu ia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, nak?"
"Wortel, telur, dan kopi" jawab si anak. Ayahnya mengajaknya mendekat dan memintanya merasakan wortel itu. Ia melakukannya dan merasakan bahwa wortel itu terasa lunak. Ayahnya lalu memintanya mengambil telur dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, ia mendapati sebuah telur rebus yang mengeras.
Terakhir, ayahnya memintanya untuk mencicipi kopi. Ia tersenyum ketika mencicipi kopi dengan aromanya yang khas.

Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, Ayah?" Ayahnya menerangkan bahwa ketiganya telah menghadapi kesulitan yang sama, perebusan, tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda.

Wortel sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, wortel menjadi lembut dan lunak.

Telur sebelumnya mudah pecah. Cangkang tipisnya melindungi isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus menjadi keras.

Bubuk kopi mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, bubuk kopi merubah air tersebut.
"Kamu termasuk yang mana?," tanya ayahnya.
"Ketika kesulitan mendatangimu, bagaimana kau menghadapinya?
Apakah kamu wortel, telur atau kopi?"

Bagaimana dengan kamu?
Apakah kamu adalah wortel yang kelihatannya keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kamu menyerah, menjadi lunak dan kehilangan kekuatanmu.

Apakah kamu adalah telur, yang awalnya memiliki hati lembut? Dengan jiwa yang dinamis, namun setelah adanya kematian, patah hati, perceraian atau pemecatan menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kamu menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Ataukah kamu adalah bubuk kopi? Bubuk kopi merubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, untuk mencapai rasanya yang maksimal pada suhu 100 derajat celcius. Ketika air mencapai suhu terpanas, kopi terasa semakin nikmat.
Jika kamu seperti bubuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk, kamu akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan disekitarmu juga membaik.

Bersikaplah bijak dalam menghadapi masalah, sebab masalah akan selalu ada, tinggal bagaimana kita menghadapinya.

Catatan Kaki
Dalam menghadapi kerasnya kehidupan, kita bisa menjadi :
1. Seperti wortel yang menjadi lemah dan terhanyut oleh kerasnya kehidupan.
2. Seperti telur yang menjadi keras tanpa perduli dengan sekitarnya.
3. Seperti kopi yang terlarut dalam kekerasan hidup tapi memberikan efek yang baik terhadap sekitarnya.
Yang manakah diri anda?
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Keluarga   Tue May 31, 2011 11:48 am

Theodore Roosevelt, mantan Presiden AS berkata,
"Aku lebih suka melewatkan waktu bersama dgn keluargaku daripada dgn petinggi2 dunia manapun".

Bill Havens, seorang pendayung hebat berkaliber Internasional dalam masa karantinanya menjelang piala dunia mendayung, menerima berita bahwa istrinya akan segera melahirkan.
Setelah mendengar kabar tersebut ia memilih untuk pulang & tidak mengikuti kejuaraan dunia & memutuskan untuk menunggui istrinya yg akan melahirkan.

Belasan tahun kemudian th 1952, Bill menerima telegram dari putranya, Frank yang pada saat itu baru saja memenangkan medali emas cano 10.000 meter pada Olimpiade di Finlandia.
Telegram itu isinya: "Ayah, terimakasih karena telah menunggu kelahiran saya. Saya akan pulang membawa medali emas yg seharusnya ayah menangkan beberapa tahun yg lalu. Anakmu tersayang, Frank..."

Dari kisah diatas kita bisa belajar bagaimana kehadiran keluarga berdampak sangat besar bagi anggota keluarga tersebut.

Sahabat...
Pada akhirnya kita akan sampai pada suatu titik dimana pada dasarnya semua yg kita lakukan, semua jerih lelah kita dalam pekerjaan, semua untuk mereka, keluarga yang kita cintai.
Disalin dari blog teman.

Pada akhirnya kita akan menemukan bahwa jabatan, prestasi, & promosi tidaklah seberarti kebersamaan diantara keluarga.

Jadi relakah saudara menukar kehangatan dalam keluarga anda dgn kesibukan dalam pekerjaan anda yg mungkin sudah sangat berlebihan?
Selalu ada hasil yg terbaik dari kerja keras yg terbaik pula

Jika anda Marketer : Keluarga adalah nasabah utama anda .

Jika anda karyawan : Keluarga adalah boss anda sesungguhnya

Jika anda investor : investasi yg paling berharga adalah nilai2 yg anda tanam dlm Keluarga anda .

Pastikan ketika anda diposisi puncak gunung kesuksesan , anda mengibarkan bendera kemenangan dgn pelukan keluarga disekitar anda, dan bukan dlm keadaan mrk tertinggal dibawah berada dibawah sambil mereka menangis krn kehilangan anda
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Sudah siapkah kita?   Wed Jun 29, 2011 1:57 pm

Disalin dari milis tetangga.

Konon suatu hari, Malaikat Maut datang mengunjungi Nabi Yakub. Melihat kedatangan malaikat itu, Nabi Yakub b'tanya, “Wahai Malaikat Maut, engkau dtg utk m'cabut nyawaku atau hanya sekedar berkunjung?”
“Aku datang hy untuk berkunjung saja,” jawab Malaikat Maut.
“Baiklah kalau begitu,” kata Nabi Yakub.

Dalam percakapan selanjutnya, Nabi Yakub b'tanya pada Malaikat Maut,
“Bolehkah aku mohon satu p'mintaan kepadamu?"
“Apa p'mintaanmu, wahai Nabi Allah?”
“Jika sudah tiba waktunya nanti, ketika engkau telah diutus untuk mencabut nyawaku, tolong berilah tanda kpdku sebelumnya.”
“Baiklah,” jawab Malaikat Maut menyanggupi permintaan Nabi Yakub.

Hari berganti hari, bulan berganti bulan, dan tahun pun berganti tahun. Malaikat Maut datang kembali dan bertemu Nabi Yakub. Spt biasa, Nabi Yakub bertanya, “Apakah kedatanganmu untuk mencabut nyawaku atau sekedar berkunjung?”
“Kali ini aku diutus untuk mencabut nyawamu.”
“Bukankah engkau telah berjanji untuk m'beri tanda sebelum saat ini terjadi?” kata Nabi Yakub.
“Benar, & aku telah melakukan itu. Hy saja kamu tak menyadarinya. Bukankah kemarin aku datang m'jemput temanmu, sementara engkau berada di sana?”
Ia kemudian melanjutkan, “Aku pun tlah mengirim utusan kpdmu. Rambutmu yg dulu hitam kini telah memutih.
Tubuhmu yg dulu kekar dan kuat kini melemah. Dulu kamu b'jalan dgn tubuh tegak skrg menjadi bungkuk.
Tidakkah kau sadar, semua itu adalah utusanku pada anak Adam sebelum ajal m'jemputnya?”

Sekedar catatan kaki
Sudahkah kita siap dengan kedatangan Malaikatul Maut?
Tidakkah rambut kita terpaksa disemir karena sudah mulai putih?
Tidakkah kita harus meminum obat2an dan herbal supaya jalan kita terlihat tegap?
Jika sudah datang tanda2 itu, bersiaplah untuk menghadapinya. Jangan sampai kita menghadap ke hadirat Ilahi tanpa persiapan.
Back to top Go down
 
Kisah Inspiratif
View previous topic View next topic Back to top 
Page 9 of 12Go to page : Previous  1, 2, 3 ... 8, 9, 10, 11, 12  Next
 Similar topics
-
» [film] kisah nabi musa
» Kisah Kang_Asepr myQuran menolak Buddha
» SEGOROWEDI:Kisah Adam-Isa di Quran NYONTEK Alkitab
» Hadist Ibnu Abbas...nyambung KEMANA...??
» Kisah Nyata Polwan Inggris Jatuh Cinta Pada Islam dan Berjilbab

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: