Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Kisah Inspiratif

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next
AuthorMessage
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Siapa yang Tak Mati?   Sun Dec 27, 2009 6:26 pm

Suatu ketika ada seorang janda yang sangat berduka karena anak satu-satunya mati. Sembari membawa jenasah anaknya, wanita ini menghadap Sang Guru untuk meminta mantra atau ramuan sakti yang bisa menghidupkan kembali anaknya.

Sang Guru mengamati bahwa wanita di hadapannya ini tengah tenggelam dalam kesedihan yang sangat mendalam, bahkan sesekali ia meratap histeris. Alih-alih memberinya kata-kata penghiburan atau penjelasan yang dirasa masuk akal, Sang Guru berujar:

“Aku akan menghidupkan kembali anakmu, tapi aku membutuhkan sebutir biji lada.”

“Itu saja syaratnya?” tanya wanita itu dengan keheranan.

“Oh, ya, biji lada itu harus berasal dari rumah yang anggota penghuninya belum pernah ada yang mati.”

Dengan “semangat 45″, wanita itu langsung beranjak dari tempat itu, hatinya sangat entusias, “Guru ini memang sakti dan baik sekali, dia akan menghidupkan anakku!”

Dia mendatangi sebuah rumah, mengetuk pintunya, dan bertanya: “Tolonglah saya. Saya sangat membutuhkan satu butir biji lada. Maukah Anda memberikannya?” “Oh, boleh saja,” jawab tuan rumah. “Anda baik sekali Tuan, tapi maaf, apakah anggota rumah ini belum pernah ada yang mati?” “Oh, ada, paman kami meninggal tahun lalu.” Wanita itu segera berpamitan karena dia tahu bahwa ini bukan rumah yang tepat untuk meminta biji lada yang dibutuhkannya.

Ia mengetuk rumah-rumah berikutnya, semua penghuni rumah dengan senang hati bersedia memberikan biji lada untuknya, tetapi ternyata tak satu pun rumah yang terhindar dari peristiwa kematian sanak saudaranya. “Ayah kami barusan wafat…,” “Kakek kami sudah meninggal…,” “Ipar kami tewas dalam kecelakaan minggu lalu…,” dan sebagainya.

Ke mana pun dia pergi, dari gubuk sampai istana, tak satu tempat pun yang memenuhi syarat tidak pernah kehilangan anggotanya. Dia malah terlibat dalam mendengarkan cerita duka orang lain. Berangsur-angsur dia menyadari bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaan ini; tak seorang pun yang terlepas dari penderitaan.

Pada penghujung hari, wanita ini kembali menghadap Sang Guru dalam keadaan batin yang sangat berbeda dengan sebelumnya. Dia mengucap lirih, “Guru, saya akan menguburkan anak saya.” Sang Guru hanya mengangguk seraya tersenyum lembut.

Mungkin saja Sang Guru bisa mengerahkan kesaktian dan menghidupkan kembali anak yang telah mati itu, tetapi kalau pun bisa demikian, apa hikmahnya?

Bukankah anak tersebut suatu hari akan mati lagi juga? Alih-alih berbuat demikian Sang Guru membuat wanita yang tengah berduka itu mengalami pembelajaran langsung dan menyadari suatu kenyataan hidup yang tak terelakkan bagi siapa pun: siapa yang tak mati?

Penghiburan sementara belaka bukanlah solusi sejati terhadap peristiwa dukacita mendalam seperti dalam cerita di atas.

Penderitaan hanya benar-benar bisa diatasi dengan pengertian yang benar akan dua hal:
(1) kenyataan hidup sebagaimana adanya, bukan sebagaimana maunya kita, dan
(2) bahwasanya pada dasarnya penderitaan dan kebahagiaan adalah sesuatu yang
bersumber dari dalam diri kita sendiri.

Sumber: Unknown (Tidak Diketahui)
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Lima Menit Saja   Mon Jan 11, 2010 2:21 pm

Dari milis tetangga

Seorang ibu duduk di samping seorang pria di bangku dekat Taman-Main di West Coast Park pada suatu minggu pagi yang indah cerah.

"Tuh.., itu putraku yang di situ," katanya, sambil menunjuk ke arah seorang anak kecil dalam T-shirt merah yang sedang meluncur turun dipelorotan.

Mata ibu itu berbinar, bangga.

"Wah, bagus sekali bocah itu," kata bapak di sebelahnya. "Lihat anak yangsedang main ayunan di bandulan pakai T-shirt biru itu? Dia anakku," sambungnya, memperkenalkan.

Lalu, sambil melihat arloji, ia memanggil putranya.

"Ayo Jack, gimana kalau kita sekarang pulang?"

Jack, bocah kecil itu, setengah memelas, berkata,

"Kalau lima menit lagi,boleh ya, Yahhh? Sebentar lagi Ayah, boleh kan? Cuma tambah lima menit kok,yaaa...?"

Pria itu mengangguk dan Jack meneruskan main ayunan untuk memuaskan hatinya. Menit menit berlalu, sang ayah berdiri, memanggil anaknya lagi.

"Ayo, ayo, sudah waktunya berangkat?"

Lagi-lagi Jack memohon, "Ayah, lima menit lagilah. Cuma lima menit tok, ya? Boleh ya, Yah?" pintanya sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Pria itu bersenyum dan berkata,

"OK-lah, iyalah..."

"Wah, bapak pasti seorang ayah yang sabar," ibu yang di sampingnya, dan melihat adegan itu, tersenyum senang dengan sikap lelaki itu.

Pria itu membalas senyum, lalu berkata,

"Putraku yang lebih tua, John, tahun lalu terbunuh selagi bersepeda di dekat sini, oleh sopir yang mabuk. Tahu tidak, aku tak pernah memberikan cukup waktu untuk bersama John. Sekarang apa pun ingin kuberikan demi Jack, asal saja saya bisa bersamanya biar pun hanya untuk lima menit lagi. Saya bernazar tidak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi terhadap Jack. Ia pikir, ia dapat lima menit ekstra tambahan untuk berayun, untuk terus bermain. Padahal, sebenarnya, sayalah yang memperoleh tambahan lima menit memandangi dia bermain, menikmati kebersamaan bersama dia, menikmati tawa renyah-bahagianya...."

Hidup ini bukanlah suatu lomba. Hidup ialah masalah membuat prioritas.Prioritas apa yang Anda miliki saat ini? Berikanlah pada seseorang yang kaukasihi, lima menit saja dari waktumu, dan engkau pastilah tidak akan menyesal selamanya. Kalau orang yg kita sayang sudah tidak ada baru terasa betapa berharganya dia...
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Renungan   Sun Jan 31, 2010 9:00 am

Kisah Seorang Pemuda yang Kedua Ibu Bapaknya Sepasang Babi

Nabi Musa AS adalah satu-satunya nabi yang diizinkan berdialog langsung dengan Allah S.W.T Setiap kali hendak bermunajat dan berdialog dengan Allah, Nabi Musa naik ke Bukit Tursina. Di atas bukit itulah dia berdialog dengan Allah. Nabi Musa sering bertanya dan Allah menjawab saat itu juga. Inilah kelebihannya yang tidak ada pada nabi-nabi lain.

Suatu hari Nabi Musa bertanya kepada Allah. “Ya Allah, siapakah orang di surga kelak yang akan menjadi sahabatku?” Allah pun menjawab dengan memberitahu sebuah nama, nama kampungnya serta tempat tinggalnya. Setelah mendapat jawaban, Nabi Musa benar-benar penasaran dengan orang itu. Betapa istimewanya dia, tidak dikenal tetapi kelak setingkat dengan Nabi di surga. Siapakah dia dan apakah amal-amalnya? Musa turun dari Bukit Tursina dan berjalan berhari-hari mencari orang itu ke tempat yang diberitahu Allah. Setelah beberapa hari dalam perjalanan akhirnya sampai juga Nabi Musa ke tempat yang dituju.

Dengan pertolongan beberapa orang penduduk setempat, Musa berhasil bertemu dengan orang tersebut. Ia ternyata seorang pemuda. Setelah memberi salam, Nabi Musa dipersilakan masuk dan duduk di ruang tamu. Anehnya, pemuda itu tidak melayaninya. Dia malah masuk ke dalam bilik dan melakukan sesuatu di dalam. Sebentar kemudian dia keluar sambil membawa seekor babi betina yang besar. Babi itu dituntunnya dengan baik dan rasa hormat. Nabi Musa terkejut melihatnya. “Lho, apa-apaan pemuda itu? Ia memelihara babi di rumahnya?” Kata Nabi Musa tersentak kaget dalam hatinya penuh keheranan.

Babi itu dibersihkan dan dimandikan dengan baik. Setelah itu, babi itu dilap sampai kering serta dipeluk cium kemudian dihantarkan kembali ke dalam kamar. Tidak lama kemudian dia keluar lagi dengan membawa pula seekor babi jantan yang lebih besar. Babi itu juga dimandikan dan dibersihkan. Kemudian dilap hingga kering dan dipeluk serta cium dengan penuh kasih sayang. Babi itu kemudiannya dituntun diantar kembali lagi ke dalam ke kamar yang sama.

Setelah selesai barulah dia melayani Nabi Musa AS. Musa bertanya heran:
“Wahai anak muda! Apa agamamu sampai berbuat seperti itu kepada babi?”
“Agamaku agama Tauhid. Aku beriman kepada Allah.” Jawab pemuda itu.
“Tapi, mengapa kamu mengurus babi bahkan sampai seperti itu? Kita tidak boleh begitu terhadap babi.” Kata Nabi Musa.

“Wahai Tuan,” kata pemuda itu, “sebenarnya kedua babi itu adalah ibu bapakku. Karena mereka melakukan dosa besar, Allah telah mengazab mereka dengan mengganti wujudnya menjadi babi. Soal dosanya itu, biarlah itu urusannya dengan Allah. Sebagai anaknya, aku tetap melaksanakan kewajibanku mengurus mereka. Hari demi hari, aku berbakti kepada kedua ibu bapakku seperti yang tuan lihat tadi. Walaupun rupa mereka sudah menjadi babi, aku tetap melaksanakan tugasku sebagai anak. Sebagai anak, aku harus begitu kepada orang tuaku. Begitulah ceritanya!” kata pemuda itu.

“Setiap hari aku berdoa kepada Allah agar dosa mereka diampuni. Aku memohon supaya Allah menukarkan wajah mereka kembali menjadi manusia yang sebenarnya, tetapi Allah masih belum mengabulkan hajatku.” Tambah pemuda itu lirih, sedih dan pilu.

Setelah selesai pemuda itu bercerita, ketika itu juga Allah menurunkan wahyu kepada Nabi Musa AS. “Wahai Musa, inilah orang yang akan menjadi sahabatmu di surga nanti sebagai buah dari baktinya yang sangat tinggi kepada kedua orang tuanya. Ibu bapaknya yang sudah buruk rupa menjadi babi pun, dia tetap berbakti. Oleh karena itu, Kami naikkan maqamnya ke derajat yang tinggi di sisi Kami.” Kata Allah SWT.

Allah meneruskan lagi memberi kabar: “Karena dia telah berada di maqam yang tinggi sebagai anak yang shaleh disisi-Ku, kini Aku kabulkan do’nya. Tempat kedua ibu bapaknya yang tadinya Aku sediakan di dalam neraka, kini telah Kupindahkan ke dalam surga.”Allahu Akbar!!

Hikmah:
Subhanallah… hormat dan bakti anak yang shaleh serta do’anya dapat menebus dosa ibu bapaknya yang harusnya masuk ke dalam neraka dipindahkan oleh Allah ke dalam surga. Rasulullah SAW pun bersabda mengingatkan kepada kita: “Ketika meninggal dunia, semua pahala anak Adam terputus kecuali tiga hal: amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang mendo’akan orang tuanya.” Walaupun banyak sekali dosa yang mereka lakukan, kita tidak boleh memusuhi, menjauhi, melupakan dan menelantarkannya. Kewajiban kita sebagai anak adalah berbakti dengan tulus dan ikhlas serta mendo’akannya mudah-mudahan Allah SWT mengampuninya. Kisah di atas, semoga menjadi pelajaran dan teladan buat kita.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Bakti seorang anak   Sun Feb 07, 2010 7:16 pm

Kisah berikut ini sangat menyentuh perasaan, dikutip dari buku "Gifts From The Heart for Women" karangan Karen Kingsbury.



Di sebuah kota di California, tinggal seorang anak laki2 berusia tujuh tahun yang bernama Luke. Luke gemar bermain bisbol. Ia bermain pada sebuah tim bisbol di kotanya yang bernama Little League. Luke bukanlah seorang pemain yang hebat. Pada setiap pertandingan, ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kursi pemain cadangan. Akan tetapi, ibunya selalu hadir di setiap pertandingan untuk bersorak dan memberikan semangat saat Luke dapat memukul bola maupun tidak.

Kehidupan Sherri Collins, ibu Luke, sangat tidak mudah. Ia menikah dengan kekasih hatinya saat masih kuliah. Kehidupan mereka berdua setelah pernikahan berjalan seperti cerita dalam buku-buku roman. Namun, keadaan itu hanya berlangsung sampai pada musim dingin saat Luke berusia tiga tahun. Pada musim dingin, di jalan yang berlapis es, suami Sherri meninggal karena mobil yang ditumpanginya bertabrakan dengan mobil yang datang dari arah berlawanan. Saat itu, ia dalam perjalanan pulang dari pekerjaan paruh waktu yang biasa dilakukannya pada malam hari.

"Aku tidak akan menikah lagi," kata Sherri kepada ibunya. "Tidak ada yang dapat mencintaiku seperti dia". "Kau tidak perlu menyakinkanku," sahut ibunya sambil tersenyum. Ia adalah seorang janda dan selalu memberikan nasihat yang dapat membuat Sherri merasa nyaman. "Dalam hidup ini, ada seseorang yang hanya memiliki satu orang saja yang sangat istimewa bagi dirinya dan tidak ingin terpisahkan untuk selama-lamanya. Namun jika salah satu dari mereka pergi, akan lebih baik bagi yang ditinggalkan untuk tetap sendiri daripada ia memaksakan mencari penggantinya."

Sherri sangat bersyukur bahwa ia tidak sendirian. Ibunya pindah untuk tinggal bersamanya. Bersama-sama, mereka berdua merawat Luke. Apapun masalah yg dihadapi anaknya, Sherri selalu memberikan dukungan sehingga Luke akan selalu bersikap optimis. Setelah Luke kehilangan seorang ayah, ibunya juga selalu berusaha menjadi seorang ayah bagi Luke.

Pertandingan demi pertandingan, minggu demi minggu, Sherri selalu datang dan bersorak-sorai untuk memberikan dukungan kepada Luke, meskipun ia hanya bermain beberapa menit saja.

Suatu hari, Luke datang ke pertandingan seorang diri. "Pelatih", panggilnya. "Bisakah aku bermain dalam pertandingan ini sekarang? Ini sangat penting bagiku. Aku mohon ?" Pelatih mempertimbangkan keinginan Luke. Luke masih kurang dapat bekerja sama antar pemain. Namun dalam pertandingan sebelumnya, Luke berhasil memukul bola dan mengayunkan tongkatnya searah dengan arah datangnya bola. Pelatih kagum tentang kesabaran dan sportivitas Luke, dan Luke tampak berlatih ekstra keras dalam beberapa hari ini.

"Tentu," jawabnya sambil mengangkat bahu, kemudian ditariknya topi merah Luke. "Kamu dapat bermain hari ini. Sekarang, lakukan pemanasan dahulu." Hati Luke bergetar saat ia diperbolehkan untuk bermain. Sore itu, ia bermain dengan sepenuh hatinya. Ia berhasil melakukan home run dan mencetak dua single. Ia pun berhasil menangkap bola yang sedang melayang sehingga membuat timnya berhasil memenangkan pertandingan.

Tentu saja pelatih sangat kagum melihatnya. Ia belum pernah melihat Luke bermain sebaik itu. Setelah pertandingan, pelatih menarik Luke ke pinggir lapangan. "Pertandingan yang sangat mengagumkan," katanya kepada Luke. "Aku tidak pernah melihatmu bermain sebaik sekarang ini sebelumnya. Apa yang membuatmu jadi begini?" Luke tersenyum dan pelatih melihat kedua mata anak itu mulai penuh oleh air mata kebahagiaan. Luke menangis tersedu-sedu. Sambil sesunggukan, ia berkata "Pelatih, ayahku sudah lama sekali meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Ibuku sangat sedih. Ia buta dan tidak dapat berjalan dengan baik, akibat kecelakaan itu. Minggu lalu,......Ibuku meninggal." Luke kembali menangis.

Kemudian Luke menghapus air matanya, dan melanjutkan ceritanya dengan terbata-bata "Hari ini,.......hari ini adalah pertama kalinya kedua orangtuaku dari surga datang pada pertandingan ini untuk bersama-sama melihatku bermain. Dan aku tentu saja tidak akan mengecewakan mereka.......". Luke kembali menangis terisak-isak.

Sang pelatih sadar bahwa ia telah membuat keputusan yang tepat, dengan mengizinkan Luke bermain sebagai pemain utama hari ini. Sang pelatih yang berkepribadian sekuat baja, tertegun beberapa saat. Ia tidak mampu mengucapkan sepatah katapun untuk menenangkan Luke yang masih menangis. Tiba-tiba, baja itu meleleh. Sang pelatih tidak mampu menahan perasaannya sendiri, air mata mengalir dari kedua matanya, bukan sebagai seorang pelatih, tetapi sebagai seorang anak.....

Sang pelatih sangat tergugah dengan cerita Luke, ia sadar bahwa dalam hal ini, ia belajar banyak dari Luke. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk kebahagiaan orang tuanya, walaupun ayah dan ibunya sudah pergi selamanya............Luke baru saja kehilangan seorang Ibu yang begitu mencintainya........
Sang pelatih sadar, bahwa ia beruntung ayah dan ibunya masih ada. Mulai saat itu, ia berusaha melakukan yang terbaik untuk kedua orangtuanya, membahagiakan mereka, membagikan lebih banyak cinta dan kasih untuk mereka. Dia menyadari bahwa waktu sangat berharga, atau ia akan menyesal seumur hidupnya...............

Hikmah yang dapat kita renungkan dari kisah Luke yang HANYA berusia 7 TAHUN :

Mulai detik ini, lakukanlah yang terbaik untuk membahagiakan ayah & ibu kita. Banyak cara yg bisa kita lakukan utk ayah & ibu, dgn mengisi hari-hari mereka dgn kebahagiaan. Sisihkan lebih banyak waktu untuk mereka. Raihlah prestasi & hadapi tantangan seberat apapun, melalui cara-cara yang jujur utk membuat mereka bangga dgn kita. Bukannya melakukan perbuatan2 tak terpuji, yang membuat mereka malu. Kepedulian kita pada mereka adalah salah satu kebahagiaan mereka yang terbesar. Bahkan seorang anak berusia 7 tahun berusaha melakukan yang terbaik untuk membahagiakan ayah dan ibunya. Bagaimana dengan Anda ?
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Angin sepoi-sepoi   Mon Feb 15, 2010 1:04 am

Seperti dikisahkan oleh seorang sahabat.

Sahabat, ada cerita seekor monyet sedang nangkring di pucuk pohon kelapa. Dia nggak sadar lagi diintip sama tiga angin gede.

Angin Topan, Tornado sama Bahorok. Tiga angin itu rupanya pada ngomongin, siapa yang bisa paling cepet jatuhin si monyet dari pohon kelapa.


Angin Topan bilang, dia cuma perlu waktu 45 detik.

Angin Tornado nggak mau kalah, 30 detik.

Angin Bahorok senyum ngeledek, 15 detik juga jatuh tuh monyet.


Akhirnya satu persatu ketiga angin itu maju. Angin TOPAN duluan, dia tiup sekenceng-kencengnya, Wuuusss?

Merasa ada angin gede datang, si monyet langsung megang batang pohon kelapa. Dia pegang sekuat-kuatmya. Beberapa menit lewat, nggak jatuh-jatuh tuh monyet. Angin Topan pun nyerah.


Giliran Angin TORNADO. Wuuusss? Wuuusss? Dia tiup sekenceng-kencengny a. Ngga jatuh juga tuh monyet. Angin Tornado nyerah.

Terakhir, Angin BAHOROK. Lebih kenceng lagi dia tiup. Wuuuss? Wuuuss? Wuuuss? Si monyet malah makin kenceng pegangannya. Nggak jatuh-jatuh. Ketiga angin gede itu akhirnya ngakuin, si monyet memang jagoan. Tangguh. Daya tahannya luar biasa.


Ngga lama, datang angin Sepoi-Sepoi. Dia bilang mau ikutan jatuhin si monyet. Diketawain sama tiga angin itu. Yang gede aja nggak bisa, apalagi yang kecil.

Nggak banyak omong, Angin SEPOI-SEPOI langsung niup ubun-ubun si monyet. Psssss? Enak banget. Adem? Seger? Riyep-riyep matanya si monyet. Nggak lama ketiduran dia. Lepas pegangannya. Jatuh deh tuh si monyet.



Sahabat, dari Kisah diatas hikmah yang bisa kita ambil adalah:

1. Boleh jadi ketika kita Diuji dengan KESUSAHAN? Dicoba dengan Penderitaan?
Didera Malapetaka.. .
Kita kuat bahkan lebih kuat dari sebelumnya.. .Tapi jika kita diuji dengan
KENIKMATAN.. .
KESENANGAN.. .
KELIMPAHAN.. .
jangan sampai kita terlena... Kita mesti tetap hati-hati...

2. "Jangan Pernah meremehkan orang lain" Si angin sepoi-sepoi diketawain oleh yang lebih kuat, tapi malah dia yang berhasil menjatuhkan si monyet.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Kendalikan Emosimu   Sun Feb 21, 2010 8:48 pm

Suatu pagi Deddy terlambat bangun. Diapun bergegas mandi, memakai baju dan kemudian ke kamar makan. Karena terlambat, Deddy meminum kopinya sambil berdiri.
Tiba2 masuklah Putri, anak tertuanya, kedalam ruang makan sambil bermain BB. Tidak disengaja Putri menabrak ayahnya yang sedang minum kopi. Karena terdorong, kopipun tumpah mengenai baju Deddy. Deddy langsung marah2 :
“Kalau berjalan jangan sambil main BB. Lihat baju papah kotor terkena kopi”
Sang istri mencoba menenangkan : “ Sudahlah pah, kan bisa ganti baju”
Deddy :” Mamah ini. Anak salah kok dibela. Jelas dia salah harus dikasih tau”
Sang istripun diam dengan muka merengut. Deddy kembali ke kamarnya untuk berganti baju. Kemudian dia kembali ke kamar makan untuk menghabiskan kopi yang tersisa. Disana dia melihat anaknya menangis dan istrinya sedang berusaha membujuk.
Dengan rasa marah yang masih membara, Deddy masuk ke mobil dan mengendarai mobilnya dengan mengebut. Akibatnya dia melanggar lampu merah dan distop polisi. Keluarlah uangnya untuk membayar biaya tilang. Diapun sampai di kantor dengan terlambat.
Ketika sampai di kantor, Deddypun parkir di tempat dia biasa parkir. Ketika akan turun, dia mencari tas kantornya. Rupanya karena terburu-buru, dalam keadaan emosi, tasnya tertinggal di rumah.
Deddy masuk kantor dengan hati berdebar-debar. Benar saja. Bos meminta hasil pekerjaannya untuk dipresentasikan di depan rekanan yang akan datang. Bospun marah2 tidak mau mengerti alasanya dia ketinggalan tas kantornya.
Ketika sore itu dia pulang, dia menjumpai istrinya sedang duduk berbincang dengan Putri. Mereka kelihatan acuh dengan kedatangannya. Biasanya istrinya yang membukakan sepatu dan menyimpan tas kantornya di kamar kerjanya. Sekarang istrinya hanya duduk dan tetap berbincang dengan anaknya.
Sungguh hari yang menyebalkan. Siapakah yang salah?
Marilah kita tinjau situasinya. Seandainya dia minum kopi sambil duduk, maka Putri tidak akan menabraknya. Dan bajunya tidak akan ketumpahan kopi. Dia akan berpikir tenang, tasnya tidak akan tertinggal dan dia tidak perlu ngebut. Maka dia akan sampai di kantor dengan tepat waktu tanpa tertinggal pekerjaannya.
Atau ketika bajunya tertumpah kopi dia bisa berkata dengan tenang :”Sudah makan sana. Jangan main BB terus”. Kemudian dia mengganti baju, mengambil tas kantornya di kamar kerjanya dan berjalan ke kantor tanpa harus mengendarai mobil dengan mengebut. Dia akan sampai di kantor dengan tepat waktu. Tidak akan dimarah bos. Dan ketika pulang istrinya akan menyambut dengan mesra seperti biasanya.
Moral cerita:
1. Jangan cepat menyalahkan orang atas sesuatu yang mungkin sebetulnya menjadi salah kita.
2. Jangan cepat marah akan suatu hal. Akibat emosi maka kita tidak bisa ber[pikir tenang. Akibatnya pekerjaan menjadi salah.
3. Emosi hanya akan menimbulkan masalah. Akibatnya akan terjadi hal2 yang tidak menyenangkan.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Kisah Seorang Pendekar   Fri Feb 26, 2010 3:01 pm

Seorang pendekar sakti mandraguna akhirnya memutuskan untuk mengundurkan diri dari dunia persilatan. Dia sudah lelah berkeliling dunia memberantas kejahatan. Akhirnya dia membawa istri dan ke3 anaknya menuju lembah yang sunyi dan berdiam diri disana. Diapun menurunkan semua ilmunya kepada anak2nya tanpa pilih kasih sehingga mereka akhirnya menguasai semua ilmunya.
Suatu hari datang seeekor burung yang membawa pesan dari adiknya memohon bantuannya. Kampungnya diserbu oleh kawanan perampok. Mereka hanya bisa bertahan selama ini tanpa bisa mengusir perampok itu. Adiknya memohon untuk sang pendekar mau turun gunung memberantas kejahatan lagi.
Sang pendekar yang telah bersumpah tidak akan berkelahi lagi, memanggil ke3 anaknya. Dia berkata: “Anak2ku, paman kalian yang tinggal di desa entah berantah telah mengirim pesan memohon bantuan kita untuk menolongnya. Sekarang kalian telah menguasai seluruh ilmuku. Inilah saatnya untuk mempraktekkan ilmu kalian. Kamu Sulung, pergilah menolong pamanmu itu”.
Keesokan harinya berangkatlah Sulung membawa perlengkapan untuk pergi ke desa pamannya itu. Dengan langkah tegap diapun berjalan meninggalkan rumah. Tapi setiap dia melangkah dia selalu menengok ke belakang, melambaikan tangan kepada keluarganya yang juga melambaikan tangan kepadanya. Setelah jauh berjalan dia melihat rumahnya semakin kecil dan keluarganya tidak terlihat lagi. Pikirannya menjadi waswas. Akhirnya dia berlari pulang kembali.
Sang pendekar akhirnya menyuruh Tengah untuk berangkat. Dengan langkah pasti Tengahpun berangkat tanpa menoleh. Pandangannya lurus ke depan. Hatinya mantap untuk menolong pamannya. Tengahpun akhirnya menghilang dari pandangan keluarganya. Dia melangkah dengan pasti. Segala halangan ditebas dengan pedangnya. Akhirnya dia sampai ke hutan yang lebat. Dengan pedangnya dia membabat kekanan dan kekiri. Langkahnya menjadi terhambat.
3 hari kemudian datanglah burung ke2 dari sang adik. Isinya sama memohon bantuan sang pendekar. Maka sang pendekar memanggil anak bungsunya:”Berhati-hatilah kau berjalan. Tampaknya kakakmu tidak sampai ke tempat pamannya”.
Bungsupun pamit untuk berangkat. Diapun berjalan dengan hati yang mantap. Setelah jauh melangkah dia menengok ke belakang untuk melambaikan tangan kepada keluaganya. Diapun berjalan dengan hati2, meloncat ke kanan, meloncat ke kiri. Menerabas rumpun2 yang bisa disingkirkan dengan pedangnya. Terkadang dia mengambil jalan memutar jika hutan di depannya tidak bisa ditembus.
Ketika sampai di desa pamannya tengah terjadi pertempuran antara penduduk kampung dengan para perampok. Bungsupun langsung terjun membantu penduduk kampung. Akhirnya para perampok berhasil dikalahkan dan diusir jauh dari kampung tersebut.

Sugesti:
1. Janganlah ragu dalam melangkah. Jangan pernah menyimpan masa lalu dalam pikiran kita. Masa lalu hanyalah suatu pelajaran bagi kita dalam menempuh masa depan. Janganlah kegagalan di masa lalu menjadikan kita mundur. Justru kegagalan di masa lalu harus menjadi pengalaman yang berharga dalam kita meniti masa depan.
2. Jika ingin melakukan sesuatu, lakukanlah dengan tekad yang bulat, tanpa keraguan. Keraguan hanya akan membuat kita menjadi takut dan akhirnya kita tidak berani untuk maju.
3. Jangan main hantam kromo. Halangan2 kecil memang harus kita singkirkan, tetapi jika ada halangan yang besar, lebih baik kita mengambil cara lain untuk mengatasinya.
4. Ilmu yang tinggi belum tentu mencapai sukses. Harus diiringi dengan pengetahuan bagaimana mengatasi suatu masalah.
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: MUJIZAT ITU NYATA   Sun Mar 07, 2010 9:18 pm

Kisah nyata ini terjadi di sebuah
Rumah Sakit di Tennessee, USA. Seorang ibu muda, Karen namanya sedang
mengandung bayinya yang ke dua. Sebagaimana layaknya para ibu, Karen membantu
Michael anaknya pertama yang baru berusia 3 tahun bagi kehadiran adik bayinya.
Michael senang sekali akan punya adik. Kerap kali ia menempelkan telinganya
diperut ibunya. Dan karena Michael suka bernyanyi, ia pun sering menyanyi bagi
adiknya yang masih diperut ibunya itu. Nampaknya Michael amat saying sama
adiknya yang belum lahir itu

Tiba saatnya bagi Karen untuk melahirkan. Tapi sungguh diluar dugaan, terjadi
komplikasi serius. Baru setelah perjuangan berjam-jam adik Michael dilahirkan.
Seorang bayi putri yang cantik, sayang kondisinya begitu buruk sehingga dokter
yang merawat dengan sedih berterus terang kepada Karen; bersiaplah jika sesuatu
yang tidak kita inginkan terjadi. Karen dan suaminya berusaha menerima keadaan
dengan sabar dan hanya bisa pasrah kepada yang Kuasa. Mereka bahkan sudah
menyiapkan acara penguburan buat putrinya sewaktu-waktu dipanggil Tuhan. Lain
halnya dengan kakaknya Michael, sejak adiknya dirawat di ICU ia merengek terus

Mami, ... aku mau nyanyi buat adik kecil! Ibunya kurang tanggap
Mami, ... aku pengen nyanyi! Karen terlalu larut dalam kesedihan dan
kekuatirannya
Mami, ... aku kepengen nyanyi! Ini berulang kali diminta
Michael bahkan sambil meraung menangis. Karen tetap menganggap rengekan Michael
rengekan anak kecil. Lagi pula ICU adalah daerah terlarang bagi anak-anak
Baru ketika harapan menipis, sang ibu mau mendengarkan Michael. Baik,
setidaknya biar Michael melihat adiknya untuk yang terakhir kalinya. Mumpung
adiknya masih hidup! Ia dicegat oleh suster didepan pintu kamar ICU. Anak kecil
dilarang masuk!. Karen ragu-ragu. Tapi, suster.... suster tak mau tahu; ini
peraturan! Anak kecil dilarang dibawa masuk

Karen menatap tajam suster itu, lalu katanya: Suster, sebelum menyanyi buat
adiknya, Michael tidak akan kubawa pergi! Mungkin ini yang terakhir kalinya
bagi Michael melihat adiknya! Suster terdiam menatap Michael dan berkata, tapi
tidak boleh lebih dari lima menit

Demikianlah kemudian Michael dibungkus dengan pakaian khusus lalu dibawa masuk
ke ruang ICU. Ia didekatkan pada adiknya yang sedang tergolek dalam sakratul
maut. Michael menatap lekat adiknya ... lalu dari mulutnya yang kecil mungil
keluarlah suara nyanyian yang nyaring "... You are my sunshine, my
only sunshine, you make me happy when skies are grey ...
" Ajaib!
si Adik langsung memberi respon. Seolah ia sadar akan sapaan sayang dari
kakaknya ….You never know, dear, How much I love you. Please don't take
my sunshine away
. Denyut nadinya menjadi lebih teratur. Karen dengan
haru melihat dan menatapnya dengan tajam dan terus, ... terus Michael! teruskan
sayang! ... bisik ibunya ... The other night, dear, as I laid sleeping, I
dream, I held you in my hands ..
. dan sang adikpun meregang, seolah
menghela napas panjang. Pernapasannya lalu menjadi teratur ... I'll always love
you and make you happy, if you will only stay the same
... Sang adik kelihatan
begitu tenang ... sangat tenang

Lagi sayang! bujuk ibunya sambil mencucurkan air matanya. Michael terus
bernyanyi dan ... adiknya kelihatan semakin tenang, relax dan damai ... lalu
tertidur lelap.
Suster yang tadinya melarang untuk masuk, kini ikut terisak-isak menyaksikan
apa yang telah terjadi atas diri adik Michael dan kejadian yang baru saja ia
saksikan sendiri Hari berikutnya, satu hari kemudian si adik bayi sudah
diperbolehkan pulang. Para tenaga medis tak habis pikir atas kejadian yang
menimpa pasien yang satu ini. Mereka hanya bisa menyebutnya sebagai sebuah
therapy ajaib, dan Karen juga suaminya melihatnya sebagai Mujizat Kasih Ilahi
yang luar biasa, sungguh amat luar biasa! tak bisa mengungkapkan dengan
kata-kata Bagi sang adik, kehadiran Michael berarti soal hidup dan mati. Benar
bahwa memang Kasih Ilahi yang menolongnya. Dan ingat Kasih Ilahi pun
membutuhkan mulut kecil si Michael untuk mengatakan "How much I love
you"………
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Renungan   Tue Mar 16, 2010 11:56 am

Suatu waktu Burhan kedatangan seorang sahabatnya sewaktu muda dari desa, Paijo. Paijo orangnya sederhana dan lugu. Lihat saja bajunya dai bahan murahan. Walaupun demikian baju itu tampak serasi dg dirinya.
Pagi itu dengan santai Burhan mengajak temannya ke kantor. Hari sudah jam 10 pagi, Burhan membawa mobilnnya dengan santai. Ketika lampu merah Burhan memberhentikan mobilnya sambil berkata :”Jika lampu merah kita harus berhenti. Kalau tidak pak polisi itu akan menilang kita”, sambil menunjuk seorang bapak polisi yang sedang mengatur lalu lintas.
Sesampainya ke kantor, Burhan menyuruh Paijo masuk ke ruangannya dan duduk di kursi tamu yang ada di ruangannya. Kemudian Burhan memanggil sekretarisnya.
“Pagi ini saya sedang ada tamu. Jadi jangan diganggu”.
“Tapi pak, Bapak ada janji bertemu dengan client kita dari......”.
Burhan langsung memotong ucapan sekretarisnya :”Tidak ada tetapi. Jangan ganggu saya”.Sambil menyuruh sekretarisnya keluar dan kemudian menutup pintu ruang kerjanya. Mereka kemudian berbincang-bincang karena sudah lama tidak bertemu. Memang sudah lama Burhan tidak pulang kampung.
Ketika sudah jam 1, Burhan mengajak Paijo pulang untuk makan di rumah dan tidak kembali ke kantor. Burhan mengatakan pekerjaan kantor bisa dikerjakan besoknya.

Sekali waktu Paijo kembali ke rumah Burhan. Sekali itu Burhan berangkat jam 7 pagi. Dia membawa mobilnya dengan ngebut. Bahkan lampu merah ditembusnya.
“Mumpung tidak ada polisi”.
Paijo hanya terdiam tidak bisa bicara. Sampai di kantor Paijo disuruh duduk di ruang tamu kantor sambil membaca koran dan menonton tv.
“Maaf Jo. Kau tunggu disini. Bos dari kantor pusat datang meninjau. Aku harus bekerja dulu”.
Paijopun menunggu di ruang tersebut sampai lama. Bahkan ketika jam 2 siang Burhan belum terlihat juga, Paijo terpaksa pergi ke kantin kantor sendiri untuk makan siang. Ketika kembali dari kantin, Burhan juga belum kelihatan. Burhan baru tampak sekitar jam 5 sore.
“Maaf kawan, aku banyak pekerjaan, tidak bisa menemanimu”
Paijo kembali hanya terdiam tanpa bersuara apa2. Merekapun pulang ke rumah Burhan.

3 hari kemudian Burhan menerima surat dari Paijo.
“Maaf Bapak Burhan yang terhormat. Saya salut Bapak yang berasal dari desa kecil kita bisa menjabat menjadi direktur di sebuah cabang perusahaan yang besar seperti yang Bapak pimpin. Tetapi sayang Bapak telah melupakan sesuatu.
Ketika ada polisi bapak berhenti karena takut polisi. Tapi ketika polisi tidak ada Bapak berani menerobos lampu merah. Padahal ketika itu ALLAH menyaksikan perbuatan Bapak. Masya ALLAH Bapak tidak takut kepada ALLAH tetapi takut kepada polisi.
Demikian juga ketika di kantor datang bos Bapak sibuk bekerja. Tetapi ketika ALLAH menyaksikan, Bapak malah santai bekerja. Padahal ALLAH menitipkan pekerjaan itu kepada Bapak. Sadarlah Pak. Andai ALLAH mau DIA bisa saja membuat Bapak diberhentikan dengan alasan apapun.
Cobalah renungkan semua ini Pak.
Mungkin saya terlalu lancang kepada Bapak yth. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya hanya ingin Bapak kembali seperti dulu waktu kita sama2 sekolah disini.
Salam hormat saya


Paijo
Back to top Go down
ino

avatar

Number of posts : 140
Age : 61
Registration date : 2008-09-29

PostSubject: Mana Ciuman Untukku   Thu Apr 01, 2010 1:33 pm

Ciuman ternyata tidak hanya penting untuk mereka yang sedang pacaran. Bahkan anak kecilpun membutuhkan sebuah ciuman.

Dulu ada seorang gadis kecil bernama Cindy. Ayah Cindy bekerja enam hari dalam seminggu, dan sering kali sudah lelah saat pulang dari kantor. Ibu Cindy bekerja sama kerasnya mengurus keluarga mereka memasak, mencuci dan mengerjakan banyak tugas rumah tangga lainnya.

Mereka keluarga baik-baik dan hidup mereka nyaman. Hanya ada satu kekurangan, tapi Cindy tidak menyadarinya.

Suatu hari, ketika berusia sembilan tahun, ia menginap dirumah temannya, Debbie, untuk pertama kalinya. Ketika waktu tidur tiba, ibu Debbie mengantar dua anak itu ketempat tidur dam memberikan ciuman selamat malam pada mereka berdua.

"Ibu sayang padamu," kata ibu Debbie.

"Aku juga sayang Ibu," gumam Debbie.

Cindy sangat heran, hingga tak bisa tidur. Tak pernah ada yang memberikan ciuman apappun padanya..

Juga tak ada yang pernah mengatakan menyayanginya. Sepanjang malam ia berbaring sambil berpikir, Mestinya memang seperti itu ..

Ketika ia pulang, orangtuanya tampak senang melihatnya.

"Kau senang di rumah Debbie?" tanya ibunya.

"Rumah ini sepi sekali tanpa kau," kata ayahnya.

Cindy tidak menjawab. Ia lari ke kamarnya. Ia benci pada orangtunya.

Kenapa mereka tak pernah menciumnya?

Kenapa mereka tak pernah memeluknya atau mengatakan menyayanginya ?

Apa mereka tidak menyayanginya?.

Ingin rasanya ia lari dari rumah, dan tinggal bersama ibu Debbie.

Mungkin ada kekeliruan, dan orangtuanya ini bukanlah orang tua kandungnya.

Mungkin ibunya yang asli adalah ibu Debbie.

Malam itu, sebelum tidur, ia mendatangi orangtunya.

"Selamat malam,"katanya.

Ayahnya,yang sedang membaca koran, menoleh.

"Selamat malam," sahut ayahnya.

Ibu Cindy meletakkan jahitannya dan tersenyum.

"Selamat malam, Cindy."

Tak ada yang bergerak. Cindy tidak tahan lagi.

"Kenapa aku tidak pernah diberi ciuman?" tanyanya.

Ibunya tampak bingung.

"Yah," katanya terbata-bata, "sebab... Ibu rasanya karena tidak ada yang pernah mencium Ibu waktu waktu Ibu masih kecil. Itu saja."

Cindy menangis sampai tertidur. Selama berhari-hari ia merasa marah. Akhirnya ia memutuskan untuk kabur. ia akan pergi kerumah Debbie dan tinggal bersama mereka. Ia tidak akan pernah kembali kepada orangtuanya yang tidak pernah menyayanginya. Ia mengemasi ranselnya dan pergi diam-diam. Tapi begitu tiba di rumah Debbie, ia tidak berani masuk. Ia merasa takkan ada yang mempercayainya. Ia takkan diizinkan tinggal bersama orangtua Debbie.

Maka ia membatalkan rencananya dan pergi. Segalanya terasa kosong dan tidak menyenangkan.

Ia takkan pernah mempunyai keluarga seperti keluarga Debbie. Ia terjebak selamanya bersama orangtua yang paling buruk dan paling tak punya rasa sayang didunia ini. Cindy tidak langsung pulang, tapi pergi ke taman dan duduk di bangku.

Ia duduk lama, sambil berpikir,hingga hari gelap. Sekonyong-konyong ia mendapat gagasan. Rencananya pasti berhasil . Ia kan membuatnya berhasil. Ketika ia masuk kerumahnya, ayahnya sedang menelpon. Sang ayah langsung menutup telepon. ibunya sedang duduk dengan ekspresi cemas. Begitu Cindy masuk, ibunya berseru," Dari mana saja kau? Kami cemas sekali!".

Cindy tidak menjawab, melainkan menghampiri ibunya dan memberikan ciuman di pipi, sambil berkata,"Aku sayang padamu,Bu."

Ibunya sangat terperanjat, hingga tak bisa bicara.

Lalu Cindy menghampiri ayahnya dan memeluknya sambil berkata, "Selamat malam, Yah. Aku sayang padamu,"

Lalu ia pergi tidur, meninggalkan kedua orangtunya yang terperangah di dapur.

Keesokan paginya, ketika turun untuk sarapan, ia memberikan ciuman lagi pada ayah dan ibunya. Di halte bus, ia berjingkat dan mengecup ibunya.

"Hai, Bu,"katanya.

"Aku sayang padamu."

Itulah yang dilakukan Cindy setiap hari selama setiap minggu dan setiap bulan. Kadang-kadang orangtuanya menarik diri darinya dengan kaku dan canggung. Kadang-kadang mereka hanya tertawa. Tapi mereka tak pernah membalas ciumannya. Namun Cindy tidak putus asa.

Ia telah membuat rencana, dan ia menjalaninya dengan konsisten. Lalu suatu malam ia lupa mencium ibunya sebelum tidur. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka dan ibunya masuk.

"Mana ciuman untukku ?" tanya ibunya, pura-pura marah.

Cindy duduk tegak.

"Oh, aku lupa," sahutnya. Lalu ia mencium ibunya.

"Aku sayang padalmu, Bu." Kemudian ia berbaring lagi.

"Selamat malam,"katanya, lalu memejamkan mata.

Tapi ibunya tidak segera keluar.

Akhirnya ibunya berkata. "Aku juga sayang padamu."

Setelah itu ibunya membungkuk dan mengecup pipi Cindy.

"Dan jangan pernah lupa menciumku lagi," katanya dengan nada dibuat tegas. Cindy tertawa.

"Baiklah,"katanya.

Dan ia memang tak pernah lupa lagi. Bertahun-tahun kemudian, Cindy mempunyai anak sendiri, dan ia selalu memberikan ciuman pada bayi itu, sampai katanya pipi mungil bayinya menjadi merah.

Dan setiap kali ia pulang kerumah, yang pertama dikatakan ibunya adalah, "Mana ciuman untukku?"

Dan kalau sudah waktunya Cindy pulang, ibunya akan berkata, "Aku sayang padamu.

Kau tahu itu, bukan?"

"Ya,Bu," kata Cindy.

"Sejak dulu aku sudah tahu."

Sudahkah anda mencium anak anda hari ini?
Back to top Go down
 
Kisah Inspiratif
View previous topic View next topic Back to top 
Page 4 of 12Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5 ... 10, 11, 12  Next
 Similar topics
-
» Kisah mistis jenazah Uje sangat mirip kisah syahidnya jenasah Amrozi cs.
» Kisah Nabi Dalam Alkitab (Fitnah Atau Bukan??)
» Kisah Dr OZ dan Asal Mula Yahudi
» Kisah Loo Jo Yee Gadis Cina 17 Tahun Peluk Islam (bahasa Melayu)
» apakah kisah syeikh abdul qadir al jaelani benar-benar terjadi

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: OASE :: RENUNGAN-
Jump to: