Image
 
HomeHome  PortalPortal  CalendarCalendar  FAQFAQ  SearchSearch  RegisterRegister  Log inLog in  
Share | 
 

 Informed Consent

View previous topic View next topic Go down 
Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
AuthorMessage
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Wed Apr 21, 2010 6:24 am

INFORMED CONSENT
Dr. Aswin W. Sastrowardoyo SpOG
Informed consent adalah lebih daripada hanya sekedar mendapatkan tanda tangan seorang pasien pada suatu formulir persetujuan. Informed consent adalah suatu proses komunikasi antara pasien dan dokter yang menghasilkan pemberian izin oleh pasien untuk menjalankan suatu intervensi medik tertentu1. Dalam proses komunikasi ini, dokter sebagai orang yang memberi terapi atau melakukan tindakan mediklah yang harus menjelaskan dan mendiskusikan bersama pasien hal-hal di bawah ini. Proses komunikasi ini tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal-hal yang harus dibicarakan1:

1. Diagnosis pada pasien, kalau sudah diketahui;
2. Sifat dan manfaat dari pengobatan atau tindakan yang direncanakan;
3. Risiko dan manfaat dari pengobatan atau tindakan yang direncanakan;
4. Pilihan pengobatan atau tindakan yang lain yang tersedia (tanpa melihat biayanya maupun apakah termasuk di dalam pembiayaan yang dicakup oleh asuransi);
5. Risiko dan manfaat dari pilihan pengobatan atau tindakan lain yang tersedia; dan
6. Risiko dan manfaat yang dihadapi apabila suatu pengobatan atau tindakan tidak dilakukan.

Sebaliknya, pasien atau klien harus mempunyai kesempatan untuk bertanya untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai suatu pengobatan atau tindakan. Dengan demikian dia akan dapat membuat keputusan yang berdasarkan pemahaman yang baik mengenai suatu intervensi medik. Keputusan yang dia ambil bisa berupa persetujuan maupun penolakan akan intervensi tersebut. Informed consent baru dianggap sah kalau diberikan oleh seorang pasien/klien yang kompeten dan diberikan secara sukarela2

INFORMED CONSENT, HUKUM, DAN ETIKA3
Dalam sejarahnya, informed consent berakar pada banyak disiplin ilmu pengetahuan, termasuk dalam ilmu kesehatan / kedokteran, ilmu hukum, ilmu perilaku sosial, dan ilmu filsafat moral/etika. Belakangan ini, bidang ilmu yang sangat berpengaruh dalam hal informed consent adalah ilmu hukum dan ilmu filsafat moral atau filsafat etika. Kedua disiplin ilmu ini, keduanya dengan metoda dan objektifnya tersendiri, mempunyai fungsi sosial dan intelektual yang berbeda. Walaupun pendekatan kedua bidang ilmu ini terhadap informed consent rumit dan kontroversial, intisari dari pendekatan secara hukum, dan pendekatan secara etika mudah dimengerti. Hukum memfokuskan diri terutama pada konteks klinis, tidak pada riset. Dalam kacamata hukum, dokter mempunyai kewajiban untuk pertama memberi informasi kepada pasiennya dan kedua untuk mendapatkan izinnya. Apabila seorang pasien cedera akibat dokter lalai dengan tidak memberikan informasi yang lengkap mengenai suatu pengobatan atau tindakan, maka pasien dapat menerima kompensasi finansial dari si dokter karena telah menyebabkan cedera tersebut. Visi legal ini lebih berfokus pada kompensasi finansial daripada pada pemberian informasi dan izin yang diberikan pasien secara umum. Dari segi filsafat etika, informed consent terutama menyangkut pilihan secara otonomi dari pasien dan subyek penelitian. Secara sederhana kita bisa menyingkat kedua pendekatan ini sebagai berikut: Pendekatan hukum datang dari teori pragmatis. Pasien mempunyai hak untuk memberi izin atau menolak, akan tetapi fokusnya adalah pada dokter, yang mempunyai kewajiban dan mempunyai risiko membayar ganti rugi apabila tidak melaksanakan kewajibannya. Pendekatan filsafat moral/etika datang dari prinsip menghargai otonomi, dan fokusnya adalah pada pasien atau subyek, yang mempunyai hak untuk membuat pilihan secara otonomi. Dengan demikian, kedua kerangka berfikir ini sangatlah sederhana, akan tetapi ternyata sulit untuk diinterpretasikan dan diperbandingkan. Terdapat banyak sekali beda pendapat mengenai hal ini. Selanjutnya dibahas mengenai dasar-dasar etika dalam informed consent.

INFORMED CONSENT DAN ETIKA3,4
Pemikiran etika mendasari diri pada prinsip, aturan, dan hak. Ada empat prinsip etika di dalam informed consent.:

1. Respek/menghargai terhadap otonomi (respect for autonomy)
2. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence)
3. Kemaslahatan (beneficence)
4. Keadilan (justice)

Keempat prinsip ini bersifat “prima facie”, suatu istilah yang diperkenalkan filosof Inggris, W.D. Ross, yang berarti: Suatu prinsip adalah memikat, kecuali apabila prinsip tersebut mempunyai konflik dengan prinsip lain. Apabila terdapat konflik, kita harus memilih di antara keduanya. Selain itu, selain 4 prinsip ini, sering juga ditambahkan5:

5. Harga diri (dignity)
6. Kebenaran dan kejujuran (truthfulness and honesty)

Penjelasan keenam hal di atas:
1. Menghargai Otonomi (Voluntas aegroti suprema lex). Dalam semua proses pengambilan keputusan, dianggap bahwa keputusan yang dibuat setelah mendapatkan penjelasan itu dibuat secara sukarela dan berdasarkan pemikiran rasional. Di dalam dunia kedokteran, dokter menghargai otonomi pasien berarti bahwa si pasien/klien mempunyai kemampuan untuk berlaku atau bertindak secara sadar dan intensional, dengan pengertian penuh, dan tanpa pengaruh-pengaruh yang bisa menghilangkan kebebasannya3,4.

2. Tidak menyebabkan yang buruk (non-maleficence / primum non nocere). Di dalam prinsip ini, doktertidak boleh secara sengaja menyebabkan perburukan atau cedera pada pasien, baik akibat tindakan (commission) atau tidak dilakukannya tindakan (omission). Dalam bahasa sehari-hari: Akan dianggap lalai apabila seseorang memaparkan risiko atau cedera yang tidak layak (unreasonable) kepada orang lain. Standar perawatan yang meminimalkan risiko cedera atau perburukan merupakan hal yang diinginkan masyarakat secara common sense3,4.

3. Kemaslahatan (Salus aegroti suprema lex). Adalah kewajiban petugas kesehatan untuk memberikan kemaslahatan, kebaikan, kegunaan, benefit bagi pasien, dan juga untuk mengambil langkah positip mencegah dan menghilangkan kecederaan dari pasien3,4. Dalam hal informed consent untuk ad. 2 dan ad. 3: adalah kewajiban dokter untuk memberi penjelasan mengenai pengobatan atau tindakan, baik manfaat maupun kekurangannya.

4. Keadilan. Keadilan di dalam pelayanan dan riset kesehatan digambarkan sebagai kesamaan hak bagi pasien-pasien dengan kondisi yang sama. Di dalam informed consent, penjelasan bagi pasien harus diberikan sampai dengan pengobatan yang mungkin saja tidak terjangkau atau tidak dilindungi pihak asuransinya3,4.

5. Harga Diri. Pasien, dan dokter mempunyai hak atas harga dirinya5.

6. Kebenaran dan Kejujuran. Kebenaran dan kejujuran adalah suatu keharusan di dalam hubungan dokter pasien / subyek. Informed consent diberikan oleh pasien / subyek berdasarkan informasi yang benar dan jujur5.

TOPIK INFORMED CONSENT DALAM PENGAJARAN6
James Sabin melakukan pengajaran topik Medical Ethics (Informed Consent) dalam bentuk seminar. Setelah peserta didik membaca buku pegangan “Principles of Biomedical Ethics” (Beauchamp and Childress) dan “The Learning Curve” (Atul Gawande) di majalah New Yorker, peserta didik diminta membuat tulisan mengenai topik ini. Selanjutnya dilakukan diskusi dengan topik kasus-kasus khusus. Salah satu kasus yang dibicarakan adalah kasus dengan mahasiswa kedokteran yang diminta oleh chief residence untuk mengambil darah arteri dari lengan seorang pasien. Tindakan ini akan menimbulkan rasa sakit. Si mahasiswa mempunya hubungan yang beik dengan pasien yang berusia 64 tahun ini. Pertanyaannya adalah – apa yang wajib disampaikan kepada pasien dalam hubungannya dengan informed consent tindakan ini? Informasi agar pasien mengerti tindakan yang akan diambil, dasar-dasar ilmiah di belakang tindakan itu, risiko dan manfaatnya dibicarakan. Apakah pasien harus tahu bahwa yang akan mengambil darah adalah seorang mahasiswa? Jawabannya: iya. Pertanyaan selanjutnya adalah: apakah pasien harus diberitahu bahwa “ini adalah kali pertama saya akan melakukan tindakan ini”? pengajaran dilakukan dengan role-playing, dengan si pengajar sebagai obyek pemeriksaan. Seminar dan role-playing adalah cara yang baik untuk memperkenalkan berbagai aspek dari bioetika, termasuk di dalamnya informed consent. Dalam hal masalah di atas, para peserta didik akhirnya mengemukakan beberapa ide yang baik. Rumah sakit tempat mereka bekerja harus mempunyai kebijakan yang jelas dalam melatih mahasiswa melakukan tindakan. Pada saat akan melakukan tindakan, si mahasiswa akan menyatakan:”Saya seorang mahasiswa, bekerja dengan dokter X. Saya belum pernah melakukan tindakan ini, tetapi saya sudah dilatih untuk melakukannya. Dokter X akan berada disini juga untuk meyakinkan bahwa segalanya berjalan sesuai rencana. Apakah Bapak setuju?" Menarik sekali cara interaksi dosen-mahasiswa ini dalam mengungkap berbagai segi informed consent.

1. 1. Patient Physician Relationship Topics: Informed Consent. AMA web-site: http://www.ama-assn.org/ama/pub/physician-resources/legal-topics/patient-physician-relationship-topics/informed-consent.shtm
2. 2. Cherry K. What is Informed Consent? http://psychology.about.com/od/iindex/g/def_informedcon.htm
3. 3. Faden, RR, Beauchamp, TL. Foundations in Moral Theory p.3-14. In: A History and Theory of Informed Consent. Oxford University Press. 1986.
4. 4. Principles of Bioethics. In the website: Ethics in Medicine. University of Washington School of Medicine. http://depts.washington.edu/bioethx/tools/princpl.html
5. 5. Walter, Klein eds. The Story of Bioethics: From seminal works to contemporary explorations. Cited by Medical Ethics http://en.wikipedia.org/wiki/Medical_ethics
6. 6. Sabin J. Teaching Medical Ethics (Informed Consent). Health Care Organizational Ethics. 2008 http://healthcareorganizationalethics.blogspot.com/2008/02/teaching-medical-ethics-informed.html

Aswin W. Sastrowardoyo


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 9:07 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Mon May 03, 2010 6:32 am

INFORMED CONSENT
25 January 2007 Hak-Hak Pasien dalam Menyatakan Persetujuan Rencana Tindakan Medis
dr. Rano Indradi S, M.Kes (Health Information Management Consultant)
Seorang pasien memiliki hak dan kewajiban yang layak untuk dipahaminya selama dalam proses pelayanan kesehatan. Ada 3 hal yang menjadi hak mendasar dalam hal ini yaitu hal untuk mendapatkan pelayanan kesehatan (the right to health care), hak untuk mendapatkan informasi (the right to information), dan hak untuk ikut menentukan (the right to determination). Dalam artikel ini akan dipaparkan pelaksanaan dari 3 hak mendasar tersebut berkaitan dengan proses pengisian formulir pernyataan menyetujui terhadap suatu rencana tindakan medis. Proses untuk menyatakan setuju ini disebut dengan Informed Consent. Hak dan kewajiban yang lain dari seorang pasien akan dipaparkan dalam artikel yang lain. Seorang pasien yang sedang dalam pengobatan atau perawatan disuatu sarana pelayanan kesehatan (saryankes) seringkali harus menjalani suatu tindakan medis baik untuk menyembuhan (terapeutik) maupun untuk menunjang proses pencarian penyebab penyakitnya (diagnostik). Pasien yang mengalami radang dan infeksi pada usus buntunya sehingga perlu dipotong melalui operasi, maka operasi ini termasuk tindakan medis terapeutik. Pada kasus penyakit lain, kadang-kadang dokter yang merawat perlu melakukan tindakan medis diagnostik, misalnya biopsi, pemeriksaan radiologi khusus, atau pengambilan cairan tubuh untuk pemeriksaan lebih lanjut guna memperjelas penyebab penyakit.

Hak atas informasi
Sebelum melakukan tindakan medis tersebut, dokter seharusnya akan meminta persetujuan dari pasien. Untuk jenis tindakan medis ringan, persetujuan dari pasien dapat diwujudkan secara lisan atau bahkan hanya dengan gerakan tubuh yang menunjukkan bahwa pasien setuju, misalnya mengangguk. Untuk tindakan medis yang lebih besar atau beresiko, persetujuan ini diwujudkan dengan menandatangani formulir persetujuan tindakan medis. Dalam proses ini, pasien sebenarnya memiliki beberapa hak sebelum menyatakan persetujuannya, yaitu :
Pasien berhak mendapat informasi yang cukup mengenai rencana tindakan medis yang akan dialaminya. Informasi ini akan diberikan oleh dokter yang akan melakukan tindakan atau petugas medis lain yang diberi wewenang. Informasi ini meliputi :

* Bentuk tindakan medis
* Prosedur pelaksanaannya
* Tujuan dan keuntungan dari pelaksanaannya
* Resiko dan efek samping dari pelaksanaannya
* Resiko / kerugian apabila rencana tindakan medis itu tidak dilakukan
* Alternatif lain sebagai pengganti rencana tindakan medis itu, termasuk keuntungan dan kerugian dari masing-masing alternatif tersebut

Pasien berhak bertanya tentang hal-hal seputar rencana tindakan medis yang akan diterimanya tersebut apabila informasi yang diberikan dirasakan masih belum jelas, Pasien berhak meminta pendapat atau penjelasan dari dokter lain untuk memperjelas atau membandingkan informasi tentang rencana tindakan medis yang akan dialaminya, Pasien berhak menolak rencana tindakan medis tersebut Semua informasi diatas sudah harus diterima pasien SEBELUM rencana tindakan medis dilaksanakan. Pemberian informasi ini selayaknya bersifat obyektif, tidak memihak, dan tanpa tekanan. Setelah menerima semua informasi tersebut, pasien seharusnya diberi waktu untuk berfikir dan mempertimbangkan keputusannya.

Kriteria pasien yang berhak
Tidak semua pasien boleh memberikan pernyataan, baik setuju maupun tidak setuju. Syarat seorang pasien yang boleh memberikan pernyatan, yaitu :

- Pasien tersebut sudah dewasa.
Masih terdapat perbedaan pendapat pakar tentang batas usia dewasa, namun secara umum bisa digunakan batas 21 tahun.

- Pasien yang masih dibawah batas umur ini tapi sudah menikah termasuk kriteria pasien sudah dewasa.
- Pasien dalam keadaan sadar.
Hal ini mengandung pengertian bahwa pasien tidak sedang pingsan, koma, atau terganggu kesadarannya karena pengaruh obat, tekanan kejiwaan, atau hal lain. Berarti, pasien harus bisa diajak berkomunikasi secara wajar dan lancar.

- Pasien dalam keadaan sehat akal.

Jadi yang paling berhak untuk menentukan dan memberikan pernyataan persetujuan terhadap rencana tindakan medis adalah pasien itu sendiri, apabila dia memenuhi 3 kriteria diatas, bukan orang tuanya, anaknya, suami/istrinya, atau orang lainnya.
Namun apabila pasien tersebut tidak memenuhi 3 kriteria tersebut diatas maka dia tidak berhak untuk menentukan dan menyatakan persetujuannya terhadap rencana tindakan medis yang akan dilakukan kepada dirinya. Dalam hal seperti ini, maka hak pasien akan diwakili oleh wali keluarga atau wali hukumnya. Misalnya pasien masih anak-anak, maka yang berhak memberikan persetujuan adalah orang tuanya, atau paman/bibinya, atau urutan wali lainnya yang sah. Bila pasien sudah menikah, tapi dalam keadaan tidak sadar atau kehilangan akal sehat, maka suami/istrinya merupakan yang paling berhak untuk menyatakan persetujuan bila memang dia setuju.

Hak suami/istri pasien
Untuk beberapa jenis tindakan medis yang berkaitan dengan kehidupan berpasangan sebagai suami-istri, maka pernyataan persetujuan terhadap rencana tindakan medisnya harus melibatkan persetujuan suami/istri pasien tersebut apabila suami/istrinya ada atau bisa dihubungi untuk keperluan ini. Dalam hal ini, tentu saja suami/istrinya tersebut harus juga memenuhi kriteria “dalam keadaan sadar dan sehat akal”. Beberapa jenis tindakan medis tersebut misalnya tindakan terhadap organ reproduksi, KB, dan tindakan medis yang bisa berpengaruh terhadap kemampuan seksual atau reproduksi dari pasien tersebut.

Dalam keadaan gawat darurat
Proses pemberian informasi dan permintaan persetujuan rencana tindakan medis ini bisa saja tidak dilaksanakan oleh dokter apabila situasi pasien tersebut dalam kondisi gawat darurat. Dalam kondisi ini, dokter akan mendahulukan tindakan untuk penyelamatan nyawa pasien. Prosedur penyelamatan nyawa ini tetap harus dilakukan sesuai dengan standar pelayanan / prosedur medis yang berlaku disertai profesionalisme yang dijunjung tinggi. Setelah masa kritis terlewati dan pasien sudah bisa berkomunikasi, maka pasien berhak untuk mendapat informasi lengkap tentang tindakan medis yang sudah dialaminya tersebut.

Tidak berarti kebal hukum
Pelaksanaan informed consent ini semata-mata menyatakan bahwa pasien (dan/atau walinya yang sah) telah menyetujui rencana tindakan medis yang akan dilakukan. Pelaksanaan tindakan medis itu sendiri tetap harus sesuai dengan standar proferi kedokteran. Setiap kelalaian, kecelakaan, atau bentuk kesalahan lain yang timbul dalam pelaksanaan tindakan medis itu tetap bisa menyebabkan pasien merasa tidak puas dan berpotensi untuk mengajukan tuntutan hukum. Informed consent memang menyatakan bahwa pasien sudah paham dan siap menerima resiko sesuai dengan yang telah diinformasikan sebelumnya. Namun tidak berarti bahwa pasien bersedia menerima APAPUN resiko dan kerugian yang akan timbul, apalagi menyatakan bahwa pasien TIDAK AKAN menuntut apapun kerugian yang timbul. Informed consent tidak menjadikan dokter kebal terhadap hukum atas kejadian yang disebabkan karena kelalaiannya dalam melaksanakan tindakan medis.

posted by RanoCenter | 12:30 PM


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 9:10 am; edited 2 times in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Mon May 03, 2010 6:47 am

CONTOH INFORMED CONSENT FOR LASER IN-SITU KERATOMILEUSIS (LASIK) Informed consent UNTUK LASER IN-SITU Keratomileusis (LASIK)
INTRODUCTION PENDAHULUAN
This information is being provided to you so that you can make an informed decision about the use of a device known as a microkeratome, combined with the use of a device known as an excimer laser, to perform LASIK. LASIK is one of a number of alternatives for correcting nearsightedness, farsightedness and astigmatism. In LASIK, the microkeratome is used to shave the cornea to create a flap. The flap then is opened like the page of a book to expose tissue just below the cornea's surface. Next, the excimer laser is used to remove ultra-thin layers from the cornea to reshape it to reduce nearsightedness. Finally, the flap is returned to its original position, without sutures. Informasi ini disediakan untuk Anda sehingga Anda dapat membuat keputusan informasi tentang penggunaan perangkat yang dikenal sebagai sebuah microkeratome, dikombinasikan dengan penggunaan perangkat yang dikenal sebagai laser excimer, untuk melakukan LASIK. LASIK merupakan salah satu dari sejumlah alternatif untuk mengoreksi rabun jauh, rabun dekat dan Silindris. Dalam LASIK, microkeratome digunakan untuk mencukur kornea untuk membuat penutup permukaan tersebut. flap kemudian dibuka seperti halaman buku untuk mengekspos jaringan hanya kornea yang di bawah ini,. Berikutnya laser excimer digunakan untuk menghapus-lapisan ultra tipis dari kornea untuk membentuk kembali itu untuk mengurangi rabun. Akhirnya, flap dikembalikan ke posisi semula, tanpa jahitan.

LASIK is an elective procedure: There is no emergency condition or other reason that requires or demands that you have it performed. You could continue wearing contact lenses or glasses and have adequate visual acuity. LASIK merupakan prosedur elektif: Tidak ada kondisi darurat atau alasan lain yang memerlukan atau tuntutan bahwa Anda telah itu dilakukan. Anda bisa melanjutkan memakai lensa kontak atau kacamata dan memiliki ketajaman visual yang memadai. This procedure, like all surgery, presents some risks, many of which are listed below. You should also understand that there may be other risks not known to your doctor, which may become known later. Despite the best of care, complications and side effects may occur; should this happen in your case, the result might be affected even to the extent of making your vision worse. Prosedur ini, seperti operasi semua, menyajikan beberapa risiko, banyak yang tercantum di bawah ini.. harus Anda juga memahami bahwa mungkin ada risiko lain yang tidak diketahui akan ke dokter, yang bisa menjadi dikenal kemudian Meskipun yang terbaik dari perawatan, komplikasi dan efek samping mungkin terjadi, harus ini terjadi dalam kasus Anda, hasilnya mungkin akan terpengaruh bahkan sampai membuat visi Anda lebih parah.

ALTERNATIVES TO LASIK ALTERNATIVES UNTUK LASIK
If you decide not to have LASIK, there are other methods of correcting your nearsightedness, farsightedness or astigmatism. These alternatives include, among others, eyeglasses, contact lenses and other refractive surgical procedures. Jika Anda memutuskan untuk tidak memiliki LASIK, ada metode lain untuk mengoreksi rabun jauh Anda, rabun dekat atau astigmatisme. Alternatif-alternatif ini, antara lain, kacamata lensa kontak, dan lain prosedur bedah refraksi.

PATIENT CONSENT PASIEN Consent
In giving my permission for LASIK, I understand the following: The long-term risks and effects of LASIK are unknown. I have received no guarantee as to the success of my particular case. Dalam memberikan izin saya untuk LASIK, saya mengerti hal berikut:-risiko jangka panjang dan dampak LASIK tidak diketahui. Saya telah menerima jaminan untuk keberhasilan kasus tertentu saya. I understand that the following risks are associated with the procedure: Saya memahami bahwa risiko berikut terkait dengan prosedur:

VISION THREATENING COMPLICATIONS VISI mengancam KOMPLIKASI
1. I understand that the microkeratome or the excimer laser could malfunction, requiring the procedure to be stopped before completion. Depending on the type of malfunction, this may or may not be accompanied by visual loss. Saya mengerti bahwa microkeratome atau laser excimer bisa kerusakan, membutuhkan prosedur harus dihentikan sebelum selesai. Tergantung pada jenis kerusakan, hal ini mungkin atau mungkin tidak disertai dengan kehilangan penglihatan.

2. I understand that, in using the microkeratome, instead of making a flap, an entire portion of the central cornea could be cut off, and very rarely could be lost. If preserved, I understand that my doctor would put this tissue back on the eye after the laser treatment, using sutures, according to the ALK procedure method. It is also possible that the flap incision could result in an incomplete flap, or a flap that is too thin. If this happens, it is likely that the laser part of the procedure will have to be postponed until the cornea has a chance to heal sufficiently to try to create the flap again. Saya mengerti bahwa, dalam menggunakan microkeratome itu, alih-alih membuat flap, sebuah bagian seluruh kornea pusat dapat dipotong, dan sangat jarang bisa hilang. Jika diawetkan, saya memahami bahwa dokter akan menempatkan jaringan ini kembali pada mata setelah perawatan laser, menggunakan jahitan, sesuai dengan metode prosedur Alk. Hal ini juga kemungkinan bahwa insisi flap bisa mengakibatkan flap tidak lengkap, atau flap yang terlalu tipis. Jika hal ini terjadi, kemungkinan bahwa bagian laser prosedur ini harus ditunda sampai kornea memiliki kesempatan untuk menyembuhkan cukup untuk mencoba membuat tutup lagi.

3. I understand that irregular healing of the flap could result in a distorted cornea. This would mean that glasses or contact lenses may not correct my vision to the level possible before undergoing LASIK. If this distortion in vision is severe, a partial or complete corneal transplant might be necessary to repair the cornea. Saya memahami bahwa penyembuhan tidak teratur flap bisa mengakibatkan kornea terdistorsi.. Ini berarti bahwa kacamata lensa kontak atau mungkin saya tidak benar visi ke tingkat mungkin sebelum menjalani LASIK Jika ini distorsi dalam visi parah, transplantasi kornea lengkap atau parsial mungkin diperlukan untuk memperbaiki kornea.

4. I understand that it is possible a perforation of the cornea could occur, causing devastating complications, including loss of some or all of my vision. This could also be caused by an internal or external eye infection that could not be controlled with antibiotics or other means. Saya memahami bahwa adalah mungkin suatu perforasi kornea yang dapat terjadi, menyebabkan komplikasi yang merusak, termasuk kehilangan sebagian atau semua visi saya. Ini bisa juga disebabkan oleh infeksi mata eksternal atau internal yang tidak dapat dikontrol dengan antibiotik atau sarana lainnya .

5. I understand that mild or severe infection is possible. Mild infection can usually be treated with antibiotics and usually does not lead to permanent visual loss. Severe infection, even if successfully treated with antibiotics, could lead to permanent scarring and loss of vision that may require corrective laser surgery or, if very severe, corneal transplantation or even loss of the eye. 5,. Saya mengerti ringan atau berat bahwa infeksi adalah ringan. Mungkin bisa infeksi biasanya diobati dengan antibiotik dan biasanya tidak mengarah ke parah visual permanen. Rugi infeksi, bahkan jika berhasil diobati dengan antibiotik bisa menimbulkan jaringan parut permanen dan kehilangan visi bahwa mungkin memerlukan pembedahan laser perbaikan atau, jika sangat parah, transplantasi kornea atau bahkan kehilangan mata.

6. I understand that I could develop keratoconus. Keratoconus is a degenerative corneal disease affecting vision that occurs in approximately 1/2000 in the general population. While there are several tests that suggest which patients might be at risk, this condition can develop in patients who have normal preoperative topography (a map of the cornea obtained before surgery) and pachymetry (corneal thickness measurement) . 6. Saya memahami bahwa saya bisa mengembangkan keratoconus. Keratoconus adalah penyakit degeneratif yang mempengaruhi kornea visi yang terjadi pada sekitar 1 / 2000 pada populasi umum. Meskipun ada beberapa tes yang menyarankan pasien yang mungkin berisiko, kondisi ini dapat berkembang pada pasien yang memiliki topografi pra operasi normal (peta kornea diperoleh sebelum operasi) dan pachymetry (pengukuran ketebalan kornea). Since keratoconus may occur on its own, there is no absolute test that will ensure a patient will not develop keratoconus following laser vision correction. Sejak keratoconus dapat terjadi dengan sendirinya, tidak ada tes mutlak yang akan memastikan pasien tidak akan mengembangkan visi keratoconus berikut koreksi laser. Severe keratoconus may need to be treated with a corneal transplant while mild keratoconus can be corrected by glasses or contact lenses. keratoconus berat mungkin perlu diobati dengan transplantasi kornea sementara keratoconus ringan dapat dikoreksi dengan kacamata atau lensa kontak.

7. I understand that other very rare complications threatening vision include, but are not limited to, corneal swelling, corneal thinning (ectasia), appearance of “floaters” and retinal detachment, hemorrhage, venous and arterial blockage, cataract formation, total blindness, and even loss of my eye. 7,. Aku mengerti sangat langka lainnya yang mengancam visi komplikasi termasuk tetapi tidak terbatas pada, kornea bengkak, penipisan kornea (ektasia), penampilan dari "floaters" dan ablasi retina, perdarahan, dan penyumbatan arteri vena, pembentukan katarak, kebutaan total, dan bahkan hilangnya mata saya.

NON-VISION THREATENING SIDE EFFECTS VISI NON-EFEK SAMPING mengancam
1. I understand that there may be increased sensitivity to light, glare, and fluctuations in the sharpness of vision. I understand these conditions usually occur during the normal stabilization period of from one to three months, but they may also be permanent. Saya mengerti bahwa ada peningkatan sensitivitas terhadap cahaya, cahaya silau, dan fluktuasi ketajaman penglihatan. Saya memahami kondisi ini biasanya terjadi selama periode stabilisasi normal dari satu sampai tiga bulan, tetapi mereka mungkin juga permanen.

2. I understand that there is an increased risk of eye irritation related to drying of the corneal surface following the LASIK procedure. These symptoms may be temporary or, on rare occasions, permanent, and may require frequent application of artificial tears and/or closure of the tear duct openings in the eyelid. Saya mengerti bahwa ada peningkatan risiko iritasi mata terkait dengan pengeringan permukaan kornea setelah prosedur LASIK. Gejala ini mungkin sementara atau, pada kesempatan langka, permanen, dan mungkin memerlukan aplikasi yang sering air mata buatan dan / atau penutupan bukaan saluran air mata di kelopak mata.

3. I understand that an overcorrection or undercorrection could occur, causing me to become farsighted or nearsighted or increase my astigmatism and that this could be either permanent or treatable. I understand an overcorrection or undercorrection is more likely in people over the age of 40 years and may require the use of glasses for reading or for distance vision some or all of the time. Saya memahami bahwa overcorrection atau undercorrection dapat terjadi, membuat saya menjadi rabun dekat atau rabun jauh atau meningkatkan Silindris saya dan bahwa ini bisa menjadi baik permanen atau bisa diobati. Saya memahami sebuah overcorrection atau undercorrection lebih mungkin pada orang berusia lebih dari 40 tahun dan dapat memerlukan penggunaan kacamata untuk membaca visi atau untuk jarak beberapa atau semua waktu.

4. After refractive surgery, a certain number of patients experience glare, a “starbursting” or halo effect around lights, or other low-light vision problems that may interfere with the ability to drive at night or see well in dim light. The exact cause of these visual problems is not currently known; some ophthalmologists theorize that the risk may be increased in patients with large pupils or high degrees of correction. For most patients, this is a temporary condition that diminishes with time or is correctable by wearing glasses at night or taking eye drops. For some patients, however, these visual problems are permanent. I understand that my vision may not seem as sharp at night as during the day and that I may need to wear glasses at night or take eye drops. I understand that it is not possible to predict whether I will experience these night vision or low light problems, and that I may permanently lose the ability to drive at night or function in dim light because of them. I understand that I should not drive unless my vision is adequate. Setelah operasi bias, sejumlah pasien mengalami silau, sebuah "starbursting" atau efek halo sekitar lampu, atau masalah visi-cahaya rendah lain yang dapat mengganggu kemampuan untuk mengemudi pada malam hari atau melihat dengan baik dalam cahaya redup. Penyebab tepat masalah-masalah visual saat ini tidak diketahui, beberapa dokter mata berteori bahwa risiko dapat ditingkatkan pada pasien dengan pupil besar atau derajat yang tinggi koreksi. Bagi sebagian besar pasien, ini adalah kondisi sementara yang berkurang dengan waktu atau diperbaiki dengan memakai kacamata pada malam hari atau mengambil tetes mata.. Untuk beberapa pasien, namun, visual masalah ini tetap saya memahami bahwa visi saya mungkin tidak setajam pada malam hari saat siang hari dan bahwa saya mungkin harus memakai kacamata pada malam hari atau mengambil tetes mata. Saya memahami bahwa tidak mungkin untuk memprediksi apakah saya akan mengalami visi ini malam atau masalah cahaya rendah, dan bahwa aku secara permanen mungkin kehilangan kemampuan mengemudi di malam hari atau fungsi di lampu redup karena mereka. Saya memahami bahwa saya tidak harus drive kecuali visi saya adalah memadai.

5. I understand that I may not get a full correction from my LASIK procedure and this may require future enhancement procedures, such as more laser treatment or the use of glasses or contact lenses. Saya mengerti bahwa saya tidak mungkin mendapatkan koreksi penuh dari prosedur LASIK saya dan ini mungkin memerlukan prosedur tambahan di masa depan, seperti laser lebih atau penggunaan kacamata atau lensa kontak.

6. I understand that there may be a “balance” problem between my two eyes after LASIK has been performed on one eye, but not the other. This phenomenon is called anisometropia. I understand this would cause eyestrain and make judging distance or depth perception more difficult. I understand that my first eye may take longer to heal than is usual, prolonging the time I could experience anisometropia. Saya memahami bahwa mungkin ada saldo "" masalah antara dua mata setelah LASIK telah dilakukan pada satu mata, tetapi tidak yang lain. Fenomena ini disebut anisometropia. Aku mengerti ini akan menyebabkan kelelahan mata dan membuat jarak atau kedalaman menilai persepsi lebih sulit . Saya memahami bahwa mata pertama saya mungkin membutuhkan waktu lebih lama untuk sembuh daripada biasanya, memperpanjang waktu saya dapat pengalaman anisometropia.

7. I understand that, after LASIK, the eye may be more fragile to trauma from impact. Evidence has shown that, as with any scar, the corneal incision will not be as strong as the cornea originally was at that site. I understand that the treated eye, therefore, is somewhat more vulnerable to all varieties of injuries, at least for the first year following LASIK. I understand it would be advisable for me to wear protective eyewear when engaging in sports or other activities in which the possibility of a ball, projectile, elbow, fist, or other traumatizing object contacting the eye may be high. Saya memahami bahwa, setelah LASIK, mata mungkin lebih rapuh terhadap trauma dari dampak. Bukti menunjukkan bahwa, seperti bekas luka, irisan kornea tidak akan sekuat kornea awalnya ada di situs tersebut. Saya memahami bahwa diperlakukan mata, karena itu, agak lebih rentan terhadap semua varietas dari cedera, setidaknya untuk tahun pertama setelah LASIK. Aku mengerti itu akan dianjurkan bagi saya untuk memakai pelindung mata ketika melakukan olahraga atau kegiatan lain yang kemungkinan bola, proyektil, siku, tangan, atau benda lainnya menghubungi trauma mata mungkin tinggi.

8. I understand that there is a natural tendency of the eyelids to droop with age and that eye surgery may hasten this process. Saya memahami bahwa ada kecenderungan alamiah dari kelopak mata untuk menunduk dengan usia dan bahwa operasi mata dapat segera proses ini.

9. I understand that there may be pain or a foreign body sensation, particularly during the first 48 hours after surgery. Saya mengerti bahwa mungkin ada rasa sakit atau sensasi benda asing, terutama selama 48 jam pertama setelah operasi.

10. I understand that temporary glasses either for distance or reading may be necessary while healing occurs and that more than one pair of glasses may be needed. Saya memahami bahwa gelas sementara baik untuk jarak jauh atau mungkin perlu membaca sementara penyembuhan terjadi dan lebih dari satu kacamata mungkin diperlukan.

11. I understand that the long-term effects of LASIK are unknown and that unforeseen complications or side effects could possibly occur. Saya mengerti bahwa efek jangka panjang LASIK tidak diketahui dan yang tak terduga komplikasi atau efek samping yang mungkin terjadi.

12. I understand that visual acuity I initially gain from LASIK could regress, and that my vision may go partially back to a level that may require glasses or contact lens use to see clearly. Saya memahami bahwa ketajaman visual pada awalnya saya peroleh dari LASIK bisa regresi, dan bahwa visi saya mungkin pergi sebagian kembali ke tingkat yang mungkin memerlukan kacamata atau lensa kontak digunakan untuk melihat dengan jelas.

13. I understand that the correction that I can expect to gain from LASIK may not be perfect. I understand that it is not realistic to expect that this procedure will result in perfect vision, at all times, under all circumstances, for the rest of my life. Saya mengerti bahwa koreksi yang dapat saya harapkan untuk memperoleh dari LASIK mungkin tidak sempurna. Aku mengerti bahwa tidak realistis untuk mengharapkan bahwa prosedur ini akan menghasilkan visi yang sempurna, setiap saat, dalam semua keadaan, selama sisa hidupku . I understand I may need glasses to refine my vision for some purposes requiring fine detailed vision after some point in my life, and that this might occur soon after surgery or years later. Saya mengerti saya mungkin perlu kacamata untuk memperbaiki visi saya untuk beberapa tujuan yang membutuhkan visi rinci baik-baik saja setelah beberapa titik dalam hidup saya, dan bahwa hal ini mungkin terjadi segera setelah operasi atau tahun kemudian.

14. I understand that I may be given medication in conjunction with the procedure and that my eye may be patched afterward. I therefore, understand that I must not drive the day of surgery and not until I am certain that my vision is adequate for driving. Saya memahami bahwa saya dapat diberikan obat-obatan dalam hubungannya dengan prosedur dan bahwa mata saya mungkin ditambal sesudahnya. Karena itu, mengerti bahwa saya tidak harus drive hari operasi dan tidak sampai saya yakin bahwa visi saya adalah cukup untuk berkendara.

15. I understand that if I currently need reading glasses, I will still likely need reading glasses after this treatment. It is possible that dependence on reading glasses may increase or that reading glasses may be required at an earlier age if I have this surgery. Saya memahami bahwa jika saya saat ini membutuhkan kacamata baca, saya masih akan mungkin perlu kacamata baca setelah perawatan ini. Hal ini dimungkinkan bahwa ketergantungan pada kacamata baca dapat meningkat atau kacamata baca yang mungkin diperlukan pada usia lebih dini jika saya menjalani operasi ini.

16. Even 90% clarity of vision is still slightly blurry. Enhancement surgeries can be performed when vision is stable UNLESS it is unwise or unsafe. Bahkan 90% kejelasan visi masih sedikit buram operasi. Peningkatan dapat dilakukan ketika visi KECUALI stabil itu tidak bijaksana atau tidak aman. If the enhancement is performed within the first six months following surgery, there generally is no need to make another cut with the microkeratome. The original flap can usually be lifted with specialized techniques. After 6 months of healing, a new LASIK incision may be required, incurring greater risk. In order to perform an enhancement surgery, there must be adequate tissue remaining. If there is inadequate tissue, it may not be possible to perform an enhancement. An assessment and consultation will be held with the surgeon at which time the benefits and risks of an enhancement surgery will be discussed. Jika perangkat tambahan tersebut dilakukan dalam enam bulan pertama setelah operasi, ada umumnya tidak perlu membuat lagi dipotong dengan microkeratome itu.. Asli dapat flap biasanya diangkat khusus dengan teknik Setelah 6 bulan penyembuhan, sayatan LASIK baru mungkin diperlukan yang lebih besar menimbulkan risiko. Dalam rangka untuk melakukan operasi tambahan, harus ada sisa jaringan yang cukup. Jika ada jaringan yang tidak memadai, tidak mungkin untuk melakukan perangkat tambahan. Sebuah penilaian dan konsultasi akan diadakan dengan dokter bedah di mana waktu manfaat dan risiko dari operasi perangkat tambahan akan dibahas.

17. I understand that, as with all types of surgery, there is a possibility of complications due to anesthesia, drug reactions, or other factors that may involve other parts of my body. I understand that, since it is impossible to state every complication that may occur as a result of any surgery, the list of complications in this form may not be complete. Saya memahami bahwa, seperti halnya dengan semua jenis operasi, ada kemungkinan komplikasi karena anestesi, obat reaksi, atau faktor lainnya yang mungkin melibatkan bagian lain dari tubuh saya. Saya memahami bahwa, karena tidak mungkin untuk menyatakan setiap komplikasi yang mungkin terjadi sebagai hasil dari operasi apapun, daftar komplikasi dalam bentuk ini tidak mungkin lengkap.

FOR PRESBYOPIC PATIENTS (those requiring a separate prescription for reading): The option of monovision has been discussed with my ophthalmologist. UNTUK PASIEN PRESBYOPIC (yang memerlukan resep terpisah untuk membaca): Opsi dari monovision telah didiskusikan dengan dokter mata saya.

PATIENT'S STATEMENT OF ACCEPTANCE AND UNDERSTANDING PASIEN'S LAPORAN PENERIMAAN DAN PENGERTIAN
The details of the procedure known as LASIK have been presented to me in detail in this document and explained to me by my ophthalmologist. My ophthalmologist has answered all my questions to my satisfaction. I therefore consent to LASIK surgery on: Rincian prosedur yang dikenal sebagai LASIK telah disajikan kepada saya secara rinci dalam dokumen ini dan menjelaskan kepada saya oleh dokter mata saya. Saya. Dokter mata telah menjawab semua pertanyaan saya saya untuk kepuasan Karena itu saya setuju untuk operasi LASIK pada:

_________ Right eye ___________ Left eye _________ Both eyes _________ ___________ Mata kanan mata Waktu _________ Kedua mata


I give permission for my ophthalmologist to record on video or photographic equipment my procedure, for purposes of education, research, or training of other health care professionals. I also give my permission for my ophthalmologist to use data about my procedure and subsequent treatment to further understand LASIK. I understand that my name will remain confidential, unless I give subsequent written permission for it to be disclosed outside my ophthalmologist's office or the center where my LASIK procedure will be performed. Saya memberi izin untuk dokter mata saya untuk merekam video atau peralatan fotografi prosedur saya, untuk tujuan pendidikan, penelitian, atau pelatihan dari para profesional perawatan kesehatan lainnya untuk. Saya juga memberikan saya izin untuk dokter mata untuk menggunakan data saya tentang prosedur selanjutnya dan perawatan lebih lanjut LASIK mengerti. Saya memahami bahwa nama saya akan tetap rahasia, kecuali aku memberi izin tertulis selanjutnya agar bisa diungkapkan di luar kantor saya yang dokter mata atau pusat di mana prosedur LASIK saya akan dilakukan.


gambargambar Patient Name Date Witness Name Date Nama Pasien Tanggal Tanggal Nama Saksi


I have been offered a copy of this consent form (please initial) _____ Saya telah menawarkan salinan formulir persetujuan (mohon awal) _____


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 9:14 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Mon May 03, 2010 6:51 am

CONTOH INFORMED CONSENT UNTUK OPERASI KATARAK

WHAT IS A CATARACT AND HOW IS IT TREATED? APA DAN BAGAIMANA katarak DIKERJAKAN IS IT?
The lens in the eye can become cloudy and hard, a condition known as a cataract. Cataracts can develop from normal aging, from an eye injury, or if you have taken medications known as steroids. Cataracts may cause blurred vision, dulled vision, sensitivity to light and glare, and/or ghost images. If the cataract changes vision so much that it interferes with your daily life, the cataract may need to be removed. Lensa mata dapat menjadi mendung dan keras, kondisi yang dikenal sebagai katarak.. Katarak dapat mengembangkan normal dari penuaan, dari mata luka, atau jika Anda telah mengambil obat yang dikenal sebagai steroid Katarak dapat menyebabkan penglihatan kabur, tumpul visi, sensitivitas terhadap cahaya dan silau, dan / atau gambar hantu untuk. Jika perubahan katarak visi begitu banyak sehingga mengganggu sehari-hari Anda dengan kehidupan, katarak mungkin perlu dihapus. Surgery is the only way to remove a cataract. Pembedahan merupakan satu-satunya cara untuk menghilangkan katarak. You can decide not to have the cataract removed. If you don't have the surgery, your vision loss from the cataract will continue to get worse. Anda dapat memutuskan untuk tidak memiliki katarak dihapus. Jika Anda tidak memiliki operasi, kerugian Anda visi dari katarak akan terus memburuk.

HOW WILL REMOVING THE CATARACT AFFECT MY VISION? CARA MENGHILANGKAN AKAN katarak mempengaruhi VISI SAYA?
The goal of cataract surgery is to correct the decreased vision that was caused by the cataract. During the surgery, the ophthalmologist (eye surgeon) removes the cataract and puts in a new artificial lens called an intraocular lens or IOL. Cataract surgery will not correct other causes of decreased vision, such as glaucoma, diabetes, or age-related macular degeneration. Most people still need to wear glasses or contact lens after cataract surgery for either near and/or distance vision and astigmatism. Tujuan dari operasi katarak adalah untuk memperbaiki visi mengalami penurunan yang disebabkan oleh katarak. Selama operasi, dokter mata (ahli bedah mata) menghilangkan katarak dan menempatkan di lensa buatan baru yang disebut lensa intraokuler atau IOL operasi. Katarak tidak akan benar penyebab lain dari visi menurun, seperti glaukoma, diabetes, atau degenerasi makula terkait usia. Kebanyakan orang masih harus memakai kacamata atau lensa kontak setelah operasi katarak baik untuk dekat dan / atau visi jarak dan Silindris.

WHAT TYPES OF IOLs ARE AVAILABLE? JENIS APA YANG TERSEDIA IOLs?
Your ophthalmologist will help you decide on the type of IOL that will replace your cloudy lens. There are IOLs available to treat nearsightedness (myopia), farsightedness (hyperopia), and astigmatism. IOLs usually provide either near or distance vision: these single focus lenses are called monofocal IOLs. Some newer IOLs can provide for near, intermediate, and distance vision: these multiple focus lenses are called multifocal IOLs. IOLs that treat astigmatism are called toric IOLs. You can also have one eye corrected for near vision, and the other for distance vision, a choice called monovision. dokter mata Anda akan membantu Anda memutuskan jenis IOL yang akan menggantikan lensa berawan Anda,. Ada IOLs tersedia untuk mengobati rabun jauh (miopia), rabun dekat (hyperopia) dan astigmatisme. IOLs biasanya memberikan jarak dekat atau visi baik: ini fokus lensa tunggal disebut IOLs monofocal,. baru Beberapa IOLs dapat menyediakan untuk dekat, menengah dan jarak visi: beberapa fokus lensa ini disebut IOLs multifocal. IOLs yang memperlakukan Silindris disebut IOLs toric,. dapat Anda juga memiliki satu mata dikoreksi dekat untuk visi dan lain untuk visi jarak, sebuah monovision disebut pilihan.

WHAT IS ASTIGMATISM? ARE THERE OTHER TREATMENTS FOR IT? APAKAH Silindris? ADA YANG LAIN UNTUK PENGOBATAN TI?
Patients with nearsightedness and farsightedness often also have astigmatism. An astigmatism is caused by an irregularly shaped cornea; instead of being round like a basketball, the cornea is shaped like a football. This can make your vision blurry. In addition to toric IOLs, astigmatism can be reduced by glasses, contact lenses, and refractive surgery (LASIK or PRK). There is also a procedure called a limbal relaxing incision (LRI), which can be done at the same time as the cataract operation, or as a separate procedure. A limbal relaxing incision (LRI) is a small cut or incision the ophthalmologist makes into your cornea to make its shape rounder. Any attempt at astigmatism reduction could result in over- or under-correction, in which case glasses, contact lenses, or another procedure may be needed. Pasien dengan rabun jauh dan rabun dekat sering juga memiliki Silindris; An. Silindris disebabkan oleh tidak teratur berbentuk sebuah kornea bukannya bulat seperti bola basket, kornea berbentuk seperti bola. Hal ini dapat membuat kabur visi Anda. Selain IOLs toric, Silindris dapat dikurangi dengan kacamata, lensa kontak, dan operasi refraksi (LASIK atau PRK). Ada juga sebuah prosedur yang disebut irisan santai limbal (LRI), yang dapat dilakukan pada waktu yang sama dengan operasi katarak, atau sebagai prosedur terpisah ). santai limbal Sebuah insisi (LRI adalah irisan dipotong kecil atau dokter mata ke kornea membuat Anda untuk membuat bentuknya bulat. Setiap upaya pengurangan Silindris bisa mengakibatkan over-atau-koreksi di bawah, dalam hal ini kacamata, lensa kontak, atau prosedur lain mungkin diperlukan.

WHAT ARE THE MAJOR RISKS OF CATARACT SURGERY? APA SAJA RISIKO MAYOR OF operasi katarak?
All operations and procedures are risky and can result in unsuccessful results, complications, injury, or even death, from both known and unknown causes. The major risks of cataract surgery include, but are not limited to bleeding; infection; injury to parts of the eye and nearby structures from the anesthesia, the operation itself, or pieces of the lens that cannot be removed; high eye pressure; a detached retina, and a droopy eyelid. The major risks of a limbal relaxing incision are similar to those for cataract surgery, but also include loss of vision, damage to the cornea, and scarring; under- or over-correction could occur. Semua operasi dan prosedur yang berisiko dan dapat menyebabkan hasil tidak berhasil, komplikasi, cedera, atau bahkan kematian, dari kedua dikenal dan tidak diketahui penyebab,. Utama Risiko operasi katarak termasuk tetapi tidak terbatas pada perdarahan, infeksi, cedera pada bagian mata dan struktur di dekatnya dari anestesi, operasi itu sendiri, atau potongan lensa yang tidak dapat dihapus; tekanan mata tinggi; sebuah retina terlepas, dan kelopak mata droopy. Risiko utama dari sayatan santai limbal adalah sama dengan yang untuk operasi katarak , tetapi juga termasuk kehilangan penglihatan, kerusakan kornea, dan jaringan parut; bawah atau over-koreksi dapat terjadi.

Depending upon your eye and the type of IOL, you may have increased night glare or halos, double vision, ghost images, impaired depth perception, blurry vision, and trouble driving at night. The ophthalmologist might not be able to put in the IOL you choose. In addition, the IOL may later need to be repositioned or replaced. Tergantung pada mata Anda dan jenis IOL, Anda mungkin telah meningkatkan silau malam atau halos, penglihatan ganda, gambar hantu, gangguan persepsi kedalaman, pandangan kabur, dan kesulitan mengemudi di malam hari. Dokter mata tidak mungkin bisa diletakkan di IOL Anda memilih. Di samping itu, IOL nanti mungkin perlu posisinya atau diganti. Depending upon the type of anesthesia, other risks are possible, including cardiac and respiratory problems, and, in rare cases, death. Tergantung pada jenis anestesi, risiko lainnya yang mungkin, termasuk masalah jantung dan pernafasan, dan, dalam kasus yang jarang terjadi, kematian.

There is no guarantee that cataract surgery or astigmatism reduction will improve your vision. As a result of the surgery and/or anesthesia, it is possible that your vision could be made worse. In some cases, complications may occur weeks, months or even years later. These and other complications may result in poor vision, total loss of vision, or even loss of the eye in rare situations. You may need additional treatment or surgery to treat these complications. This additional treatment is not included in the fee for this procedure. Tidak ada jaminan bahwa pengurangan atau operasi katarak astigmatisme akan meningkatkan visi Anda.. Sebagai hasil dari operasi dan / atau anestesi, mungkin Anda bahwa visi bisa dibuat lebih buruk Dalam beberapa kasus, komplikasi dapat terjadi minggu, bulan atau bahkan bertahun-tahun kemudian. ini dan komplikasi lain dapat menyebabkan visi miskin, kehilangan penglihatan total, atau bahkan hilangnya mata dalam situasi langka.. Anda mungkin perlu tambahan perawatan atau operasi untuk mengobati komplikasi pengobatan tambahan ini tidak termasuk dalam biaya untuk ini prosedur.

PATIENT'S ACCEPTANCE OF RISKS PASIEN'S PENERIMAAN RISIKO
I understand that it is impossible for the doctor to inform me of every possible complication that may occur. By signing below, I agree that my doctor has answered all of my questions, that I have been offered a copy of this consent form, and that I understand and accept the risks, benefits, and alternatives of cataract surgery. I have checked my choice for astigmatism correction and type of IOL. Saya memahami bahwa tidak mungkin bagi dokter untuk memberitahukan setiap komplikasi yang mungkin terjadi. Dengan menandatangani di bawah ini, saya setuju bahwa dokter telah menjawab semua pertanyaan saya, bahwa saya telah menawarkan salinan formulir persetujuan, dan bahwa Saya mengerti dan menerima risiko, manfaat, dan alternatif tindakan operasi katarak. Saya telah memeriksa pilihan saya untuk koreksi astigmatisme dan jenis IOL.

__________ Monofocal IOL/Glasses Option __________ IOL Monofocal / Glasses Opsi

I wish to have a cataract operation with a monofocal IOL on my _______________ (state "right" or "left" eye) and wear glasses for _____________________ (state "near" or "distance") vision. Saya ingin memiliki operasi katarak dengan IOL monofocal di _______________ saya (negara bagian "kanan" atau "kiri" mata) dan memakai kacamata untuk _____________________ (negara bagian "dekat" atau "jarak") visi.

__________ Monovision with 2 IOLs Option (may still need glasses) __________ Monovision dengan 2 Opsi IOLs (masih mungkin perlu kacamata)

I wish to have a cataract operation with two different-powered IOLs implanted to achieve monovision. I wish to have my ______________ (state "right" or "left") eye corrected for distance vision. I wish to have my ___________ (state "right" or "left") eye corrected for near vision. Saya ingin memiliki operasi katarak dengan dua-powered IOLs implan yang berbeda untuk mencapai monovision.. Saya ingin saya memiliki ______________ (negara bagian "kanan" atau "kiri") mata mengoreksi jarak untuk visi saya ingin memiliki ___________ saya (negara bagian "kanan "atau" kiri ") mata dikoreksi untuk visi dekat.

__________ Multifocal IOL Option (may still need glasses) __________ Multifocal IOL Opsi (masih mungkin perlu kacamata)

I wish to have a cataract operation with a _____________________ multifocal IOL implant (state name of implant) on my _______________ (state "right" or "left") eye. Saya ingin memiliki operasi katarak dengan implan IOL multifocal _____________________ (nama negara bagian implan) di _______________ saya (negara bagian "kanan" atau "kiri") mata.

__________ Toric monofocal IOL/Glasses Option for Astigmatism Reduction __________ Toric IOL monofocal / Glasses Opsi untuk Astigmatisma Pengurangan

I wish to have a cataract operation with a toric monofocal IOL on my _______________ (state "right" or "left" eye) and wear glasses for _____________________ (state "near" or "distance") vision. Saya ingin memiliki operasi katarak dengan IOL monofocal _______________ toric pada saya (negara bagian "kanan" atau "kiri" mata) dan memakai kacamata untuk _____________________ (negara bagian "dekat" atau "jarak") visi.

__________ Limbal Relaxing Incision for Astigmatism Reduction (may still need glasses) __________ Limbal Relaxing Insisi untuk Astigmatisma Pengurangan (masih mungkin perlu kacamata)

I wish to have a this procedure done in addition to the cataract operation. Saya ingin memiliki prosedur ini dilakukan selain operasi katarak.

Patient (or person authorized to sign for patient) Date Pasien (atau orang yang berwenang untuk menandatangani untuk pasien) Tanggal


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 9:16 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Mon May 03, 2010 8:05 am

INFORMED CONSENT
Kevin E MD Snyder, Rebecca W JD Barat, Wei-Shin Lai MD, Spencer B MD Gay.
University of Virginia Health Sciences Center, Department of Radiology Universitas Virginia Pusat Ilmu Kesehatan, Departemen Radiologi

This program is intended as a self tutorial for residents and medical students to learn the elements of medical informed consent. Program ini dimaksudkan sebagai tutorial diri bagi penduduk dan mahasiswa kedokteran untuk mempelajari unsur-unsur medis informed consent. Informed consent is a patient's right to be presented with sufficient information, by either the physician or their representative, to allow the patient to make an informed decision regarding whether or not to consent to a treatment or procedure. Patients generally are recognized as having the right to refuse medical care for any reason. Their reasons may include religious grounds as well as any other personal grounds they choose, even if you as physician consider their grounds to be frivolous or in poor judgment. Informed consent must be obtained by a health care provider who is reasonably involved with the patient's care. A medical student therefore may not obtain consent, as they are not allowed to be responsible for patient care. The legal requirement to obtain informed consent rests with the attending physician. The attending physician may delegate his or her responsibility to obtain informed consent to another health care provider; however, he or she remains responsible and liable if appropriate consent is not obtained.

If informed consent is not obtExpress consent is what is normally thought of by consent, or when the patient consents by direct words, written or oral. Virginia law requires written consent only in cases of breast biopsy, in vitro fertilization or HIV testing. Written consent is also required for cases to be performed in the operating room by hospital policy that is mandated for JCAHO accreditation. In other cases, the law simply requires consent, but written consent is suggested for the purpose of proof. Telephone consent is also acceptable, if necessary. In these cases, it is a good idea to have a second person on the telephone, again for the purpose of proof. Legally, informed consent is valid for a reasonable period of time. Per JCAHO, this reasonable period of time consists of 30 days. In cases where treatments are planned in advance, such as chemotherapy, consent may be obtained for the treatments to be provided up to 6 months in advance. ained, the patient has the right to sue for medical malpractice. Informed consent is necessary any time the physician is going to either touch the patient or perform an invasive procedure. Informed consent may further be divided into two parts. These parts include Express consent and Implied consent. In order for the patient to be presented with sufficient information to make an informed decision, several elements must be included. These include discussion of the following:

Implied consent is consent arising by inference from the patient's behavior. This would include the act of the patient standing in line to receive a vaccination.
© 2001 by the Rector & Visitors of the University of Virginia


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 9:17 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Mon May 03, 2010 8:12 am

CORRIDOR CONSULT / KONSULTASI KORIDOR
Informed Consent and Consent Forms | to pdf >> Informed Consent dan Formulir Izin | pdf>>
By Paul Deiter, MD, LLB Dengan Deiter Paul, MD, LLB

Informed consent is not often a significant part of a malpractice claim. Informasi persetujuan tidak sering merupakan bagian penting dari klaim malpraktek. To prevail on this issue, a jury or arbitrator must be convinced that the claimant would not have agreed to undergo the procedure if the possibility of occurrence of the complication that ultimately occurred, no matter how rare, had been disclosed. Untuk berlaku pada masalah ini, juri atau arbiter harus diyakinkan bahwa penuntut tidak akan setuju untuk menjalani prosedur jika kemungkinan terjadinya komplikasi yang akhirnya terjadi, tidak peduli seberapa langka, telah diungkapkan. However, failure to obtain informed consent can be the basis for a successful claim when the care was otherwise within the standard of care. Namun, kegagalan untuk memperoleh informed consent dapat menjadi dasar untuk klaim berhasil bila perawatan itu dinyatakan dalam standar perawatan.

A Finger Mass Sebuah Misa Finger
For example, a surgeon met with a patient with a painful mass on the dorsum of her left ring finger that the surgeon thought was most likely a fibroma. Misalnya, dokter bedah bertemu dengan pasien dengan menyakitkan massa pada dorsum jari manis kirinya bahwa pemikiran ahli bedah kemungkinan besar suatu fibroma. In the operating suite after the patient was sedated, prepped and draped, the surgeon again inspected the planned surgical site on the dorsum of the patient's left ring finger. Dalam suite beroperasi setelah pasien dibius, disiapkan dan dibungkus, dokter bedah lagi memeriksa situs bedah direncanakan pada dorsum kiri jari manis's pasien. He found a similar mass on the palmar aspect of the same digit. Dia menemukan massa serupa pada aspek palmaris dari angka yang sama. Both masses were similar in character, fibrous, firm, and round, although the palmar mass was not yet as large. Kedua massa yang sama dalam karakter, berserat, kuat dan bulat, meskipun massa palmaris belum sebagai besar. The doctor thought that the patient would be appreciative if the palmar mass was also removed at that time, avoiding a second operation, because palmar masses can be painful during activities involving gripping. Dokter berpikir bahwa pasien akan menghargai jika massa palmaris juga dipindahkan pada waktu itu, menghindari operasi kedua, karena massa palmaris bisa menyakitkan selama kegiatan yang melibatkan mencengkeram. The surgeon removed both masses without incident. Dokter bedah dihapus kedua massa tanpa insiden.

When the surgeon later discussed with the patient what had happened, she appeared grateful that the surgeon had noticed and removed the other mass. Ketika dokter bedah kemudian dibicarakan dengan pasien apa yang telah terjadi, ia muncul bersyukur bahwa ahli bedah telah melihat dan mengambil massa lainnya. However, she was not; later on, he was quite surprised to hear that the patient sought a second opinion. Namun, dia tidak; kemudian, dia cukup terkejut mendengar bahwa pasien mencari pendapat kedua. Shortly thereafter, the surgeon was notified of the patient's claim alleging absence of informed consent for removing the palmar mass. Tak lama kemudian, dokter bedah itu diberitahu klaim pasien menyatakan tidak adanya informed consent untuk menghapus palmaris massa.

Frequently, there is confusion about whether signed consent forms constitute informed consent. Sering, ada kebingungan tentang apakah ditandatangani merupakan bentuk persetujuan informed consent. This article explains the differences and the relationship between informed consent and consent forms. Artikel ini menjelaskan perbedaan dan hubungan antara informed consent dan bentuk persetujuan.

Informed Consent Informasi Persetujuan
Informed consent is a process of communication between patient and physician. Informed consent adalah suatu proses komunikasi antara pasien dan dokter. The physician gives the patient enough information so that the patient can make an informed decision on whether to go forward with the proposed procedure, test, or examination; the patient makes an informed decision about whether or not to proceed. Dokter memberikan cukup informasi pasien sehingga pasien dapat membuat suatu keputusan tentang apakah untuk maju dengan prosedur yang diusulkan, pengujian, atau pemeriksaan; pasien membuat suatu keputusan tentang apakah atau tidak untuk melanjutkan.

Cobbs v Grant1 8 Cal.3d 229 (1972) made obtaining informed consent a nondelegable duty of the surgeon or other health care professional performing a procedure. V Cobbs Grant1 8 Cal.3d 229 (1972) dibuat memperoleh informed consent tugas nondelegable ahli bedah atau layanan kesehatan lainnya melakukan prosedur profesional. Other people can give the patient some information, but the surgeon or the person performing the procedure must participate in the process of providing informed consent. Orang lain dapat memberikan informasi beberapa pasien, tetapi dokter bedah atau orang yang melakukan prosedur harus berpartisipasi dalam proses penyediaan informed consent.

Before Cobbs v Grant, a physician in California was required only to disclose risks according the custom of physicians practicing in the community.2-5 The court determined that this allowed the physician to arrogate the decision of what to disclose to the physician alone. Sebelum v Cobbs Grant, seorang dokter di California yang dibutuhkan hanya untuk mengungkapkan risiko menurut kebiasaan dokter praktek di community.2-5 Pengadilan menetapkan bahwa ini memungkinkan dokter untuk merebut keputusan apa yang harus mengungkapkan untuk dokter sendirian. The court found that “unlimited discretion in the physician is irreconcilable with the basic right of the patient to make the ultimate informed decision regarding the course of treatment to which he knowledgeably consents to be subjected.” Rather, the court said, “... the decision whether or not to undertake treatment is vested in the party most directly affected: the patient.” The physician has a duty to make certain that “the patient possesses adequate information to enable an intelligent choice.”1 Pengadilan menemukan bahwa "kebijaksanaan tak terbatas dalam dokter ini dapat didamaikan dengan hak dasar pasien untuk membuat keputusan akhir tentang informasi pengobatan yang ia sok tahu persetujuan akan dikenakan Sebaliknya.", pengadilan mengatakan, "... keputusan apakah atau tidak untuk melakukan perawatan diberikan pada pihak yang paling terkena dampak langsung: pasien. "memiliki dokter yang bertugas untuk memastikan bahwa" pasien memiliki informasi yang memadai untuk mengaktifkan pilihan cerdas 1. "

Consent Form Formulir Izin
A completed consent form is not the same as informed consent, and consent forms do not effectively obviate the need for a documented discussion in the medical record of the risks and benefits of the proposed treatment. Suatu bentuk persetujuan selesai bukan informed consent dan, sebagai bentuk persetujuan yang sama tidak efektif meniadakan kebutuhan untuk diskusi didokumentasikan dalam catatan medis dari risiko dan manfaat rencana perawatan. Consent forms are one type of evidence that informed consent has been obtained. Persetujuan adalah salah satu bentuk jenis bukti bahwa informed consent telah diperoleh. A better type of evidence that informed consent has been obtained is documentation in the patient's medical record of a discussion between the physician and patient. 1 Jenis bukti yang lebih baik informed consent telah diperoleh adalah dokumentasi yang rekam medis pasien diskusi antara dokter dan pasien. 1

Consent forms are required by regulators, are easy for staff members to find, and it is easy to confirm that they have been completed. bentuk Persetujuan diperlukan oleh regulator, mudah untuk anggota staf untuk menemukan, dan mudah untuk mengkonfirmasi bahwa mereka sudah selesai. A note written by the physician documenting that the informed-consent process has been completed and that the patient's informed consent has been obtained is more difficult for staff members to find and to verify before a medical procedure has been performed. Sebuah catatan yang ditulis oleh dokter yang mendokumentasikan bahwa persetujuan-proses informasi telah selesai dan itu pasien informed consent telah diperoleh lebih sulit bagi anggota staf untuk menemukan dan untuk memverifikasi sebelum prosedur medis telah dilakukan. However, such a note has at least equal and usually greater evidentiary effect than does a completed consent form. 1 Namun, seperti catatan setidaknya memiliki efek yang sama dan pembuktian biasanya lebih besar daripada bentuk persetujuan selesai. 1

Anytime a physician does anything to a patient, informed consent must be obtained. Kapan saja seorang dokter melakukan apa pun untuk pasien, informed consent harus diperoleh. The crucial issue is whether and how it is to be documented in the particular case. Masalah krusial adalah apakah dan bagaimana harus didokumentasikan dalam kasus tertentu. For example, every time a physician examines a patient, the patient must consent. Misalnya, setiap kali dokter memeriksa pasien, pasien harus persetujuan. For a physical examination, the patient's allowing the examination without objection is sufficient evidence of consent. 1 The same applies to injections, the drawing of blood, most imaging studies, electrocardiograms, and many other examinations. Untuk pemeriksaan fisik, pasien yang memungkinkan pemeriksaan tanpa keberatan adalah bukti persetujuan. 1 Hal yang sama berlaku untuk suntikan, gambar darah, pencitraan paling, electrocardiograms, dan pemeriksaan lainnya. When there is a major invasive procedure, however, the consent process is formally documented. 1 Ideally, documentation is provided by both a consent form and a note in the patient's medical record written or dictated by the physician, describing the manner in which informed consent was obtained. Ketika ada prosedur invasif besar, tetapi, proses persetujuan secara resmi didokumentasikan. 1 Idealnya, dokumentasi disediakan oleh suatu bentuk persetujuan dan catatan di's rekam medis pasien tertulis atau didikte oleh dokter, menggambarkan cara yang informed consent diperoleh.

A Continuum A Continuum
There is a continuum between these two poles. Ada sebuah kontinum antara kedua kutub. In the past, we have tried to define where on the continuum formality must begin. Di masa lalu, kami telah mencoba untuk mendefinisikan di mana pada formalitas kontinum harus dimulai. Not surprisingly, this beginning point is inconsistent and arbitrary between medical offices and medical centers and even between different departments in the same medical center and between the same department in different medical centers. Tidak mengherankan, titik awal ini tidak konsisten dan sewenang-wenang antara kantor medis dan pusat-pusat kesehatan dan bahkan antar departemen yang berbeda di pusat medis yang sama dan antara departemen yang sama di pusat-pusat kesehatan yang berbeda. For example, lumbar puncture may require consent forms in pediatrics but not in internal medicine in the same medical center, just as consent forms may be required in some medical and pediatric departments but not in others. Misalnya, tusuk lumbal mungkin membutuhkan persetujuan dalam bentuk pediatri tetapi tidak dalam kedokteran internal di pusat kesehatan yang sama, seperti bentuk persetujuan mungkin diperlukan dalam beberapa departemen dan pediatrik medis tetapi tidak di lain.

What we are left with regarding when more formal consent is required is judgment as to the risk of the particular procedure. Apa yang kita kiri dengan persetujuan mengenai kapan formal lebih dibutuhkan adalah penilaian mengenai risiko dari prosedur tertentu. The general interpretation of the law is that patients must be warned of insignificant risks, if frequent, and of significant risks, even if uncommon. Interpretasi umum hukum adalah bahwa pasien harus diperingatkan risiko signifikan, jika sering, dan risiko yang signifikan, meskipun jarang. However, very rare and unusual risks need not be mentioned.1 Namun, langka dan tidak biasa risiko yang sangat tidak perlu mentioned.1

Acknowledgment Pengakuan
Katharine O'Moore-Klopf of KOK Edit provided editorial assistance. Katharine O'Moore-Klopf dari Edit KOK memberikan bantuan editorial.

References Referensi

1. 1. Cobbs v Grant 8 Cal.3d 229. Cobbs Grant v 8 Cal.3d 229. 1972. 1972.

2. 2. Carmichael v Reitz 17 Cal.App.3d 958, 976. Carmichael v Reitz 17 Cal.App.3d 958, 976. 1971. 1971.

3. 3. Dunlap v Marine 242 Cal.App.2d 162. Dunlap v Cal.App.2d 162 242 Kelautan. 1966. 1966.

4. 4. Tangora v Matanky 231 Cal.App.2d 468. V Tangora Matanky Cal.App.2d 468 231. 1964. 1964.

5. 5. Berkey v Anderson 1 Cal.App.3d 790. V Berkey Anderson 1 Cal.App.3d 790. 1969. 1969.


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 8:27 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Tue May 04, 2010 7:43 pm

INFORMED CONSENT
Dahulu, seorang pasien jika berobat pasrah saja mengenai segala sesuatu mengenai pengobatannya dan penyembuhannya diserahkan kepada dokternya. Apa yang dikatakan atau dianjurkan dokternya diterima dan dituruti saja semuanya oleh pasien. Namun kini zaman telah berubah, demikian pula alam pikiran manusia. Nilai nilai dan norma norma yang dianut oleh masyarakat turut berubah pula. Dahulu seorang dokter bersifat paternalistik, seakan akan sikap seorang bapak kepada anaknya. Yang dipilihkan atau yang dilakukan sang bapak pasti dianggap yang terbaik untuk anaknya. Namun sekarang sang anak ingin tahu lebih dahulu, mengapa dipilih demikian dan mengapa justru itu yang dipilihnya. Apa tidak ada pilihan atau cara lainnya? Dan kepada anak harus diberikan penjelasan dan informasi. Kini adalah era globalisasi, dimana terdapat saling pengaruh mempengaruhi di segala bidang, ekonomi, kebudayaan, tehnik, medis, bahkan juga pandangan tentang hidup dan kehidupan. Di bidang medis, peralatan canggih medispun sudah dipergunakan di negara negara berkembang. Dengan demikian maka peralatan medis di negara berkembangpun dapat dikatakan sudah hampir sama dengan negara maju.

Hal ini memberikan dampaknya pula terhadap cara berpikir masyarakat, timbul anggapan dan harapan dari masyarakat bahwa dengan tehnologi canggih seolah olah semua penyakit dapat disembuhkan. Mereka menganggap bahwa peralatan canggih akan membawa suatu 'therapeutic miracle", padahal dalam setiap tindakan medis akan selalu melekat suatu "therapeutic risk" yang tidak dapat dihindarkan timbulnya. Cara berpikir masyarakatpun berubah, jika dulu pasien atau keluarganya pasrah saja terhadap tindakan dokter, kini mereka mulai kritis, pendapat dokter tidak dengan begitu saja diterima dengan baik, bahkan ada yang mencari "second opinion" pada dokter lain. Pada zaman sekarang ini pasien berhak mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh dokter terhadap dirinya, dokterpun harus memberi penjelasan yang lengkap kepada pasien tentang segala sesuatu yang menyangkut tindakannya itu, termasuk risiko yang kemungkinan timbul, akibatnya, dan sebagainya. Informasi yang diberikan dokter harus dengan itikad baik, secara jujur dan tidak bersifat menakut nakuti atau memberi tekanan atau pemaksaan.

Kalau kita berbicara tentang Informed Consent, biasanya yang dibayangkan dan sering kita kacaukan dengan formulir yang harus ditandatangani oleh pasien atau keluarganya. Seolah olah artinya sama, padahal artinya tidaklah demikian.
Pada hakekatnya Informed Consent itu adalah suatu "Communication Process". Bukan suatu formulir ( Rozovsky ). Formulir itu hanya merupakan perwujudan, pengukuhan atau pendokumentasian belaka atas apa yang sudah disepakati lebih dahulu bersama, sewaktu pasien diperiksa dan dimana terdapat dialog antara dokter dan pasien. Pasien pada waktu itu menceritakan tentang gejala gejala penyakit yang dideritanya, apa apa yang dirasakannya, dan lain lain. Sebaliknya, seorang dokter yang memeriksa pasiennya akan mengetahui kemungkinan penyakit yang diderita pasiennya. Ia kemudian akan melakukan beberapa pemeriksaan tambahan. Sesudahnya maka sang dokter akan mengetahui penyakit yang diderita pasiennya dan mengusulkan misalnya untuk dilakukan tindakan medik tertentu. Iapun harus memberikan informasi terlebih dahulu kepada pasien tersebut. Tegasnya sudah ada saling memberi informasi antara pasien dan dokter. Dengan demikian, maka proses sampai terjadinya penandatanganan formulir Informed Consent dapat dibagi dalam 3 fase, yaitu:

1. Fase pertama adalah saat dimana seorang pasien datang ketempat praktik dokter atau kerumah sakit untuk berobat.
Dengan datangnya pasien secara sukarela ketempat itu, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pasien itu sudah memberikan persetujuannya ( consent ) untuk dilakukan berbagai pemeriksaan yang biasa dan umum dilakukan.

2. Fase kedua adalah pada saat pasien duduk berhadapan dengan dokter.
Sang dokter sudah mulai mengajukan pertanyaan pertanyaan tentang riwayat penyakitnya ( anamnesa ) serta membuat catatan catatan pada Kartu Pasien ( Rekam Medis ). Pada tahap ini sang pasien mulai "mengungkapkan" rahasianya kepada dokter dan pada saat itu dapat dikatakan sudah mulai ada hubungan dokter-pasien.

3. Fase ketiga adalah saat dimana dokter sudah mulai melakukan pemeriksaan dan yang mungkin masih akan ditambah dengan pemeriksaan tambahan lainnya seperti pemeriksaan laboratorium untuk pemeriksaan konstelasi darah dan air seni, X-ray foto, MRI, EKG, CT-scan atau juga pemeriksaan lain yang diperlukan sebagai penunjang penegakkan diagnosis dan pemberian terapinya. Dokter akan menulis resep dan juga menjelaskan larangan larangannya. Atau mungkin juga berupa anjuran anjuran yang sebaiknya dilakukan pasien untuk membantu mempercepat penyembuhannya, misalnya untuk sedikit melakukan olahraga setiap pagi.

Kewajiban utama dari seorang dokter kepada pasiennya adalah berusaha keras untuk mempertahankan kesehatan pasien atau menyembuhkan penyakitnya. Di dalam menjalankan profesinya, seorang dokter bebas mandiri tanpa campur tangan orang lain termasuk pasienya, namun ia harus menggunakan ilmu pengetahuan mediknya serta mengikuti perkembangan ilmu kedokterannya. Sebagai seorang dokter yang wajar seharusnya tahu persoalan yang tergantung kepada tingkat kemajuan ilmu kedokteran. Dari seorang dokter dapat diharapkan bahwa ia mempunyai cukup pengetahuan yang sejajar dengan teman sejawatnya yang setaraf tingkatnya. Hal ini membawa akibat bahwa ia selalu secara terus menerus harus memelihara dan mengikuti perkembangan dan kemajuan ilmu kedokteran agar tidak sampai ketinggalan. Consent seringkali disalahartikan dan disamakan dengan tanda tangan pasien pada formulir tersebut. Suatu tanda tangan diatas formulir itu memang adalah merupakan suatu bukti ( proof ) bahwa pasien sudah memberikan konsennya, tetapi belum merupakan bukti dari suatu konsen yang sah ( valid consent ). Apabila seorang pasien disodorkan suatu formulir secara tergesa gesa - dengan informasi yang sedikit - Consent itu bisa menjadi tidak sah, walaupun sudah ada tandatangan pasiennya. Sebaliknya, jika apabila seorang pasien telah memberikan persetujuan secara lisan ( verbal consent ) - namun secara fisik ia tidak mampu untuk membubuhi tandatangannya - maka hal itu bukanlah suatu halangan untuk melakukan tindakan medik yang telah disetujui pasien. Namun pasien boleh - jika dikehendakinya - untuk menarik kembali persetujuannya, sesudah menandatangani formulir Informed Consent. Hal ini karena tandatangan itu merupakan bukti dalam proses pemberian izin, tetapi bukan merupakan sebuah kontrak yang mengikat terus. Informed Consent mengandung 4 buah komponen yaitu:

- Pasien harus mempunyai kemampuan ( capacity or ability ) untuk mengambil keputusan.
- Dokter harus memberi informasi mengenai tindakan yang hendak dilakukan, pengetesan, atau prosedur, termasuk juga manfaat dan risikonya dan kemungkinan adanya manfaat dan risiko yang mungkin terjadi.
- Pasien harus dapat memahami informasi yang diberikan.
- Pasien harus secara sukarela memberikan izinnya, tanpa adanya paksaan atau tekanan.

Kemampuan untuk mengambil keputusan dikaitkan dengan istilah hukum yang dinamakan kompetensi ( competency ). Ini merupakan salah satu komponen terpenting dalam Informed Consent. Unsur unsur pengambilan keputusan adalah:

- Kemampuan untuk mengerti pilihan pilihan tersebut.
- Kemampuan untuk mengerti segala akibat akibat dalam menjatuhkan pilihannya.
- Kemampuan untuk mengadakan evaluasi untung ruginya dari setiap akibat dan mengkaitkannya dengan nilai nilai dan prioritas yang dianutnya.

Secara umum yang berhak memberi izin atau persetujuan adalah pasien itu sendiri, jika ia sudah dewasa, berpikiran sehat dan tidak dibawah pengampuan ( onder curatele ). Namun didalam dunia medik Indonesia, pelaksanaanya ada sedikit berlainan, karena yang menandatangani formulir Informed Consent mungkin bukan pasien itu sendiri secara pribadi, walaupun ia sudah dewasa dan tidak dibawah pengampuan. Bahkan ada juga dokter ahli bedah yang masih tidak berani melakukan operasi, kalau tidak ditandatangani juga oleh anggota keluarganya. Maka tampaknya disini yang menandatangani adalah anggota keluarga terdekat ( next of kin ), hal ini mungkin ada kaitan dengan pengaruh dari sosial budaya Timur. Yang harus memberikan informasi adalah dokter bedah itu sendiri. Informasi harus diberikan dalam bahasa yang sederhana, yang dapat dimengerti oleh pasiennya, sehingga ia dapat mempunyai gambaran yang jelas untuk mengambil keputusannya. Pasien harus dilibatkan secara penuh dan memahami dalam mengambil keputusan. Tidak saja pada permulaan tindakan medik itu dilakukan, namun harus sebagai dialog yang berkelanjutan terhadap masalahnya. Dengan demikian ia bisa menghadapi ketidakpastian dan risiko. Dialog demikian akan memungkinkan bagi dokter untuk memonitor apakah pasiennya kompeten atau tidak untuk memberikan persetujuan, apakah pasien mengerti situasi klinik yang berubah, apakah pasien telah melakukan pemilihannya secara sukarela, memahami dan dengan apresiasi penuh dari manfaat dan risiko dari alternatif yang bersangkutan. Dokter ahli anestesi secara umum juga diwajibkan untuk memberi penjelasan dan juga untuk memeriksa pasiennya, karena pemberian anestesi itu sendiri juga sudah melekat suatu risiko yang bisa berakibat fatal ( anafilaktik syok ). Kewajiban untuk memberikan informasi ini tidak dapat didelegasikan, misalnya kepada perawat. Tugas perawat hanya untuk mengecek sebelum operasi dilakukan apakah Informed Consent sudah ada dan apakah sudah dibubuhi tandatangan pasien. Secara rutin para dokter memberikan informasi kepada pasien tentang risiko risiko dari tindakan medik yang diusulkan. Ini terutama merupakan bagian terpenting dari Informed Consent. Dokter harus mengungkapkan 4 aspek risiko, yaitu:

- Sifat dari risiko ( the nature of the risk )
- Kepentingan dari risiko ( the magnitude of the risk )
- Kemungkinan timbulnya risiko itu ( the probability that the risk might materialize )
- Segera tidaknya akan timbul risiko ( the imminence of risk materialization )

Hak Waiver mengandung arti bahwa seorang pasien melepaskan hak atas kerahasiaan pribadinya, namun hak waiver ini bisa juga diartikan dalam bentuk lain. Apabila misalnya seorang pasien yang sangat senewen dan ketakutan, serta tidak ingin mendengar atau mengetahui apa yang hendak dilakukan oleh dokternya. Singkatnya ia sudah pasrahkan dirinya sepenuhnya kepada dokternya. Atau bisa juga seorang pasien tidak mau diberitahukan tentang suatu hasil pemeriksaan laboratorium. Misalnya pemeriksaan tentang penyakit AIDS, karena ia sendiri juga menyadari bahwa kemungkinan besar ia sudah tertular, karena telah pernah berhubungan dengan seseorang yang sudah meninggal karena penyakit tersebut.

Sumber:
- Buku Rahasia Medis J.Guwandi SH
- Buku Informed Consent J.Guwandi SH


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 8:29 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Wed May 05, 2010 10:01 pm

INFORMED CONSENT
Zaman sekarang adalah era reformasi. Dengan bertambah cerdasnya masyarakat Indonesia, timbul pula kebutuhan dan keinginan untuk menambah pengetahuan, mengetahui tentang segala sesuatu yang baru. Informasi berartiketerangan, data, penjelasan tentang suatu hal. Tanpa informasi, manusia zaman sekarang akan menjadi ketinggalan. Tanpa disadari rasa ingin tahu lebih banyak, ingin lebih banyak informasi telah menyelusup di segala bidang, termasuk pula bidang medis dan perumahsakitan. Pasien sekarang ingin tahu lebih dahulu apa yang dideritanya, apa nama penyakitnya, apa obatnya, apa tidak ada alternatif atau cara lain, pasien merasa berhak untuk mengetahui apa yang hendak dilakukan dokter terhadap dirinya. Ia juga bisa menolak apa yang dianjurkan oleh dokternya. Dan jika tindakan dokter itu ternyata tidak berhasil, maka pihak dokter harus memberi penjelasan, ini sudah dianggap sebagai hak asasinya sebagai seorang pasien dan manusia.

Telah banyak pula dibicarakan oleh para sarjana lain tentang hubungan terapeutik antara pasien-dokter yang disinyalir makin kurang akrab, ada yang mengatakan penyebabnya adalah dampak teknologi serta kemajuan ilmu pengetahuan yang demikian pesatnya. Akibatnya, timbullah "depersonalisasi" dalam hubungan antara dokter dan pasien. Perubahan dalam sistim penatalaksanaan medis terhadap pasien pun turut memberikan dampaknya, sehingga hubungan dokter-pasien menjadi semakin "impersonal" sifatnya. Pasien hanya dianggap sebagai suatu nomor, suatu penyakit, suatu "kasus" yang "bagus" dan tidak dilihatnya sebagai seorang manusia seutuhnya ( holistic ). Ditambah pula oleh melandanya sifat konsumerisme, hedonisme, materialisme dan juga ada faktor faktor lain yang telah menggoyahkan sendi sendi dan dasar fondasi yang ada dalam hubungan tradisional yang akrab antara dokter dan pasien.

Timbullah doktrin tentang hak otonomi yang merupakan salah satu unsur HAM. Hak hak asasi manusia diwujudkan didalam United Nations Declarations of Human Rights yang pada intinya menyatakan bahwa:
"Setiap manusia berhak untuk dihargai, diakui, dihormati sebagai manusia dan diperlakukan secara manusiawi, sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai mahluk Tuhan"'
Keputusan hakim Benyamin Cardozo dalam suatu kasus Hukum Medis yang sangat terkenal yang sampai kini masih sering dikutip, yang berbunyi:
"Setiap manusia yang dewasa dan berpikiran sehat berhak untuk menentukan apa yang hendak dilakukan terhadap tubuhnya sendiri; dan seorang dokter bedah yang melakukan suatu operasi tanpa izin pasiennya dapat dianggap telah melakukan pelanggaran hukum, untuk mana ia harus bertanggung jawab atas kerugiannya."

Dari pernyataan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa yang memutuskan apa yang hendak dilakukan oleh dokter, haruslah memperoleh persetujuan pasiennya terlebih dahulu. Untuk pelaksanaanya, maka hal ini berarti bahwa dokternya harus menceritakan apa yang diderita pasien, tindakan apa yang hendak dilakukan dan risiko apa yang melekat atas tindakan tersebut. Dogma Informed Consent yang tadinya terletak dibidang Etik dan Filsafat, kini diambil alih oleh hukum. Khusus ilmu medis yang dahulu merupakan ilmu yang murni di bidang medis ( pengobatan ), kini berhadapan pula dengan problem problem yang terletak di bidang sosial dan hukum yang juga memberikan dampaknya terhadap pemberian pelayanan kesehatan. Dengan terbitnya Permenkes No 585/1989 tentang Persetujuan Tindakan Medis ( Informed Consent ), maka pelaksanaan suatu Informed Consent sudah merupakan kewajiban hukum. Yang melanggar bisa kena sanksi, baik sanksi administratif maupun sanksi hukum. Informed Consent adalah suatu konsep hukum ( legal concept ), sehingga penafsiran dari peraturan tersebut harus dilakukan sesuai dengan disiplin dan prinsip hukum. Hal ini mengandung arti bahwa sebelum dilakukan suatu tindakan medis seperti pembedahan, haruslah kepada pasien diberikan informasi terlebih dahulu dan dimintakan persetujuannya. Konsep Informed Consent mempunyai 2 unsur:

1. Informed atau informasi yang harus diberikan oleh dokter yang akan melakukan tindakan medis tersebut.
2.Consent atau persetujuan yang diberikan pasien, dalam arti pasien harus mengerti betul untuk apa persetujuan itu diberikan.

Dalam KUH Perdata dalam pasal 1320 sudah ditentukan syarat syarat yang harus dipenuhi suatu perjanjian, yaitu:
1. Kesepakatan dari pihak pihak yang bersangkutan.
2. Kemampuan untuk membuat perjanjian.
3. Suatu obyek tertentu.
4. Suatu sebab yang diperbolehkan.

Suatu penandatanganan pada formulir Informed Consent oleh pasien tanpa terlebih dahulu ia diberi informasi yang jelas oleh dokternya, maka belumlah dipenuhi seluruh syarat perjanjian KUH Perdata pasal 1320 ayat 1. Karena dianggap pasien belum 'informed', sehingga belum terdapat kesepakatan dalam arti yuridis sebenarnya. Berdasarkan KUH Perdata pasal 1321: Suatu persetujuan tidakk mempunyai nilai hukum jika diberikan karena kekhilafan, karena diancam dengan kekerasan atau diperolehnya dengan tipuan. Sejak berlakunya Permenkes tersebut, maka jika seorang dokter bedah misalnya hendak melakukan operasi, maka terlebih dahulu ia harus memberi penjelasan ( informasi ) mengenai tindakan apa yang hendak dilakukan, apa risikonya, apa manfaatnya, ada tidaknya alternatif lain, apa yang akan mungkin terjadi apabila pembedahan itu tidak dilakukan. Dokter dapat memakai alat bantu untuk menerangkan seperti penerangan tercetak, diagram, materi audivisual dan lain lain sehingga pasien menjadi lebih jelas dan dapat memberikan keputusannya, namun ini bukanlah sebagai pengganti pemberi informasi dalam dialog dokter-pasien. Jika pasien sudah mengerti sepenuhnya dan memberikan persetujuannya ( izinnya ), maka barulah dokter bedah itu boleh melakukan tindakannya. Pasien akan diminta menandatangani suatu formulir sebagai tanda persetujuannya. Banyak orang tidak membedakan antara:

1. Persetujuan atau izin yang diberikan secara lisan pada saat dokter dan pasien berdialog dan memperoleh kesepakatan, dan
2. Penandatanganan formulir oleh pasien ( Yang sebenarnya merupakan suatu kelanjutan dan pengukuhan dari kesepakatan yang telah diperoleh pada waktu dokter memberi penjelasan ).
Pernyataan tanda setuju secara tertulis ini hanya sebagai penegasan sudah adanya persetujuan dan untuk memudahkan pembuktiannya jika diperlukan kelak.

Dasar Informed Consent adalah:
1. Hubungan dokter-pasien yang berdasarkan atas kepercayaan
2. Hak otonomi atau menentukan sendiri atas dirinya sendiri
3. Adanya hubungan perjanjian antara dokter pasien.

Tujuan dari Informed Consent adalah:
1. Melindungi pasien terhadap segala tindakan medis yang dilakukan tanpa sepengetahuan pasien.
2. Memberikan perlindungan hukum kepada dokter terhadap akibat yang tidak terduga dan bersifat negatif, misalnya terhadap 'risk of treatment' yang tak mungkin dihindarkan walaupun sang dokter sudah berusaha semaksimal mungkin dan bertindak dengan sangat hati hati dan teliti.

Dibidang Hukum Pidana, suatu operasi yang dilakukan seorang dokter tanpa minta persetujuan pasien dapat dianggap melanggar KUH Pidana pasal 351 tentang Penganiayaan, walaupun tujuannya tidak demikian, karena untuk melakukan operasi harus menggunakan pisau dan membuka tubuh pasien. Seorang dokter ahli anestesi yang melakukan pembiusan tanpa izin pasienpun akan memenuhi perumusan pasal 351 tersebut. Selain itu pemberian obat anestesi juga memenuhi perumusan pasal 89 KUH Pidana yang mengatur tentang tindakan kekerasan. Menurut pasal tersebut juga dianggap sebagai tindakan kekerasan jika membuat seseorang dalam keadaan pingsan atau dalam keadaan tak berdaya, walaupun tujuan sebenarnya untuk pembedahan. Maka sebenarnya seorang dokter spesialis anestesi juga harus meminta persetujuan pasien untuk dapat melakukan tindakan pembiusannya. Namun sudah sejak dahulu kala merupakan kebiasaan bahwa tindakan pembiusan dianggap sudah melekat pada tindakan operasi, akibatnya didalam formulir izin pembedahan yang lama, persetujuan pemberian anestesi tidak disebut.

Jika seorang pasien dibawa ke RS bagian Gawat Darurat, dalam keadaan tidak sadar dan segera harus dilakukan operasi untuk menyelamatkan jiwanya atau anggota tubuhnya, maka dokter harus segera bertindak, karena kalau tidak dilakukan dan pasien sampai meninggal karenanya, maka bisa dianggap melanggar KUH Pidana Pasal 369 dan Pasal 361 yaitu karena tindakan Kelalaian menyebabkan luka badan atau kematian seseorang. Hal ini juga dipertegas dalam Permenkes tentang Informed Consent pasal 11 yang berbunyi: " Dalam keadaan pasien tidak sadar/pingsan serta tidak didampingi oleh keluarga terdekat dan secara medis berada dalam keadaan gawat dan atau darurat yang memerlukan tindakan medis segera untuk kepentingannya, tidak diperlukan persetujuan dari siapapun."

Sebagai suatu peraturan tingkat Menteri, maka Permenkes No. 585 tahun 1989 hanya dapat menentukan sanksi administratif berupa pencabutan izin seperti yang tercantum dalam Pasal 13: "Terhadap dokter yang melakukan tindakan medik tanpa adanya persetujuan dari pasien atau keluarganya dapat dikenakan sanksi administratif berupa pencabutan Surat Izin Prakteknya." Tidak dijelaskan berapa lama jangka waktu pencabutan izin praktek tersebut. Tentunya sanksi administratif tersebut tidak berlaku didalam tindakan medik yang dilakukan dalam rangka pemberian pertolongan gawat darurat seperti tercantum dalam Pasal 11 dan dalam hal tindakan medik yang harus dilaksanakan sesuai dengan Program Pemerintah ( Pasal 14 ). Untuk sanksi perdatanya sebagai dasar tuntutan dapat dipakai KUH Perdata pasal 1365 yang mengatur tentang tindakan yang melanggar hukum. Didalam tuntutan Hukum Perdata haruslah ada unsur kerugian yang dimintakan penggantian ( kerugian atascacat / luka yang ditimbulkan, biaya biaya pengobatan dan rumah sakit, honorarium dokter jika sampai harus dirujuk ke dokter lain dan kerugian yang diderita karena tidak bisa bekerja selama menderita kerugian tersebut ).

Sumber:
- Buku Rahasia Medis J.Guwandi, S.H
- Buku Informed Consent J.Guwandi, S.H


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 8:30 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Thu May 06, 2010 5:43 am

VOLENTI NON FIT INURA
Dalam konteks topik Informed Consent masih terdapat suatu doktrin yang juga perlu disinggung, yaitu apa yang disebut sebagai "Volenti Non Fit Inura" atau juga dikenal sebagai Asumption of risk. Doktrin ini memakai asumsi bahwa sudah diketahui terdapatnya suatu risiko berat bagi orang yang bersangkutan. Walaupun demikian, ia tetap bersedia menanggung segala risikonya. Ajaran ini berdasarkan suatu alam pemikiran bahwa barangsiapa yang sudah mengetahui adanya suatu risiko serius dan secara sukarela masih tetap bersedia untuk menanggung risiko tersebut, maka apabila kemudian risiko itu benar benar terjadi, maka ia tidak dapat kemudian menuntut lagi. ( He who willingly undertakes a risk cannot afterwards complain ). Doktrin ini mengambil contoh dari dunia olahraga yang ada mengandung risiko tinggi untuk bisa cedera, bahkan bisa juga sampai meninggal. Misalnya olahraga tinju, sepakbola, kriket dan lain lain. Ajaran Volenti Non Fit Inura ini juga dipakai dalam Hukum Kedokteran pada tindakan tindakan operasi yang kemungkinan besar bisa timbul akibat akibat yang dianggap serius. Maka dalam hal semacam ini segala risiko yang mungkin timbul haruslah secara lengkap dan terperinci dijelaskan kepada pasien dan juga kepada orang lainnya, apabila ada yang juga secara langsung tersangkut. Risiko risiko ini hendaknya juga ditulis didalam formulir Informed Consent yang akan ditandatangani. Sebagai contoh misalnya untuk transplantasi ginjal dari donor hidup. Karena mengandung risiko yang besar, maka tidak saja kepada pasien ( resipient ) namun juga kepada si pemberi ginjal ( living donor ) harus diberikan informasi lengkap. Demikian pula risiko risiko tidak saja yang mungkin terjadi pada saat operasi pengambilan organ tubuhnya, tetapi juga akibat akibat yang bisa timbul sesudahnya kemudian. Maka dalam hal semacam ini haruslah dibuat dua buah surat pernyataan tanda setuju, satu ditandatangani oleh pasien, satu lagi ditandatangani oleh donor hidup tersebut.

Pulang paksa
Ajaran ini juga dapat diterapkan untuk melindungi rumah sakit atau dokternya terhadap pasien yang apa yang dinamakan "Pulang Paksa", walaupun kepada pasien atau keluarganya sudah dijelaskan akan bahaya, risiko dan kemungkinan kemungkinan yang bisa timbul, pasien itu tetap hendak pulang paksa juga. Maka dalam kasus semacam ini doktrin Volenti Non Fit Inura dapat diterapkan dengan menandatangani suatu surat pernyataan oleh pasien atau keluarga dekatnya, bahwa ia akan menanggung segala risiko yang mungkin timbul. Pula bahwa ia sudah diberikan informasi dengan cukup dan jelas oleh dokternya dan sudah dimengertinya, sehingga rumah sakit atau dokternya tidak dapat dipersalahkan dikelak kemudian hari. Didalam prakteknya hal ini sering terjadi di masyarakat kita karena atas pertimbangan finansial. Namun kadang kadang juga atas permintaan pasien itu sendiri yang merasa ajalnya sudah hampir mendekati dan ingin mati dirumahnya sendiri, diantara keluarga, sehingga ia masih bisa menyampaikan pesan pesan terakhir.

Sumber:
- Buku Rahasia Medis J.Guwandi, S.H
- Buku Informed Consent J.Guwandi, S.H


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 8:31 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
gitahafas
Moderator
Moderator
avatar

Number of posts : 23047
Age : 59
Location : Jakarta
Registration date : 2008-09-30

PostSubject: Re: Informed Consent   Fri May 07, 2010 6:56 am

MANAJEMEN RISIKO DAN INFORMED CONSENT
Didalam hubungan profesional, maka terdapat suatu keadaan kedudukan yang tidak sama atau tidak seimbang, dokter sebagai pihak yang berprofesi menguasai suatu ilmu pengetahuan karena telah menjalankan suatu pendidikan, sedangkan pihak lain, dalam hal ini pasien, adalah awam di bidang tersebut atau hanya mengetahui sangat sedikit tentang penyakit. Maka didalam pelaksanaan profesinya, dokter harus berlaku jujur dan menjaga agar pasien tidak sampai dirugikan karenanya. Disinilah letak fungsi Etik Kedokteran dengan rambu rambunya. Pelaksanaannya Kode Etik Kedokteran pada hakekatnya memang sangat bergantung pada hati nurani si pelaku. Kepercayaan yang diberikan bisa digunakan dengan baik, namun juga bisa disalah gunakan, atau dipergunakan secara sembarangan sehingga bisa mengakibatkan cacat / kerugian pihak pasiennya. Kewajiban inilah yang membuat sang dokter bertanggung jawab dan wajib menjelaskan kepada pasiennya fakta fakta tentang risiko risko yang cukup, sehingga pasien itu bisa memperoleh suatu gambaran yang jelas untuk bisa mempertimbangkan dan memutuskan, menyetujui atau tidak usul tidakan medik itu. Apabila ada alternatif lain, maka dokter itu harus menjelaskan juga agar diketahui oleh pasiennya dan segaka risiko yang melekat pada tindakan medik tersebut. Bisa juga dokter tidak menganjurkan untuk memilih alternatif ini, tetapi hak untuk memutuskan adalah pada pasien itu sendiri, karena dialah yang harus menanggung risiko jika risiko itu sampai timbul. Untuk dapat memperoleh persetujuan dari pasien, dokter harus menjelaskan sebagai berikut:

a. Secara umum prosedur atau tindakan medik yang akan dilakukan.
b. Bahwa ada alternatif prosedur atau cara yang lain, jika ada.
c. Bahwa terdapat risiko risiko, jika ada, terhadap prosedur atau tindakan itu.

Sesudah memberi penjelasan tersebut diatas, maka dokter akan menanyakan kepada pasien itu, apakah masih menginginkan penjelasan yang lebih mendetil. Jika pasien menginginkan penjelasan lebih lanjut, maka dokter akan mengungkap secara mendetil prosedur tersebut, alternatif yang ada dan timbulnya risiko jika tidak dilakukan tindakan medik, yang bisa dihadapi pasien. Apabila jika dijelaskan dengan keterangan yang lebih rinci akan berakibat negatif, maka dokter akan mempertimbangkan untuk memakai ukuran standar praktek yang wajar yang dilakukan oleh dokter dokter di lokasi yang sama dan dalam keadaan yang sama atau hampir sama. Maka Informed Consent dianggap sudah benar apabila dokternya sudah memenuhi setiap pokok yang diutarakan didalam peraturan tersebut. Adalah tidak benar apabila seorang perawat atau asisten medik untuk menjawab pertanyaan pertanyan pasien. Menurut hukum, pemberian informasi tersebut adalah termasuk kewajiban tugas dokter. Memang dokter kini berhadapan dengan problema cara bagaimana ia harus membuktikan bahwa ia telah memberikan informasi yang cukup. Suatu penelitian ilmiah membuktikan bahwa pasien tidak mengingat banyak apa yang dibicarakan antara dokter dan pasien. Pada tahun 1980 The New England Journal of Medicine mempublikasikan suatu isian angket dari pasien sesudah meninggalkan kamar dokternya. Hasil angket itu memberi data bahwa ternyata pasien:

- 80% mengetahui diagnosisnya.
- 60% dapat menguraikan tindakan yang diusulkan
- 55% mengingat satu risiko yang jelas
- 27% dapat menyebut suatu tindakan alternatif.

Perlu dicamkan bahwa formulir Informed Consent tersebut hendaknya jangan sampai disalah gunakan dan disalah artikan sebagai suatu pengganti diskusi antara dokter dan pasien. Apabila formulir tersebut hanya dipergunakan untuk pembelaan legal, maka hubungan antara dokter dan pasien akan mengalami kemunduran. Dokter harus menyadari bahwa disamping bersifat legal, ada pula aspek psikologis dalam kaitan kewajiban untuk memberi informasi. Dokter harus menyisakan waktunya untuk memberikan informasi kepada pasien dengan tenang, yang dapat dimengerti oleh pasien dan dengan cara yang memberikan kepercayaan. Jika sudah diberikan informasi yang lengkap dan secara baik maka reaksi pasien terhadap kemungkinan apabila terjadi komplikasi, akan lebih tepat. Pemakaian formulir Informed Consent harus dilihat sebagai edukasi pasien secara global. Melalui edukasi pasien. maka diharapkan hubungan dokter-pasien akan berkembang menjadi lebih baik dan bisa mengurangi tuntutan tuntutan. Salah satu fungsi dari Informed Consent adalah mencegah timbulnya risiko. Pelaksanaan Informed Consent dengan baik akan merupakan suatu "tool" dalam menjalankan program Manajemen Risiko. Dua pokok keuntungan penting yang diberikan oleh Informed Consent adalah:

1. Proses Informed Consent memberikan suatu kesempatan untuk mengadakan komunikasi seorang dokter dengan pasiennya. Komunikasi demikian mempererat hubungan antara dokter dengan pasiennya. Apabila seorang dokter memberikan kesempatan berdialog kepada pasiennya, maka kesan yang timbul pada diri pasien adalah bahwa dokter tersebut penuh perhatian dan dapat diandalkan itikad baiknya. Kepercayaan dan penghargaan timbal balik akan terjadi. Harus diingat bahwa jika seorang pasien menyukai dokternya, maka ia tidak akan begitu mudah untuk mengajukan gugatan.

2. Sewaktu terjadi proses pengungkapan tentang materi Informed Consent, maka secara efektif dokter itu telah memindahkan risiko dan beban kemungkinan timbulnya komplikasi, kepada pasiennya. Jika pasien sendiri sudah menanggung risikonya, maka dokter itu akan terlindung daripada komplikasi tindakan yang dilakukan.

Konsep dari Informed Consent adalah berdasarkan konsep etik dari penentuan nasib sendiri atau otonomi. Inti dari Informed Consent adalah pengungkapannya atau pemberian informasi. Tolak ukur pengungkapan dapat dibedakan antara 2 standar;

1. Standar Profesional ( Reasonable Physician Standard )
Yang memakai ukuran profesi dokter yang wajar dalam memberikan informasi kepada pasiennya.

2. Standar Awam ( Reasonable Patient Standard )
Standar ini memakai ukuran seorang awam yang menganggap sampai dimana pemberian informasi itu diperlukan, sehingga ia dapat menentukan pilihannya.

Unsur unsur yang harus diungkapkan yang berlaku untuk kedua dua standar adalah:
- Sifat dan prosedur yang diusulkan
- Alasannya mengapa prosedur itu yang diusulkan
- Manfaat dari prosedur tersebut
- Risiko dan komplikasi dari prosedur, termasuk insidens dan keseriusannya
- Alternatif lain dari prosedur, termasuk juga yang dianggap lebih berbahaya dari apa yang diusulkan

Adalah kewajiban seorang dokter untuk memperoleh Informed Consent sebelum melakukan tindakannya. Dapat juga dipakai penerangan tercetak, diagram dan materi audiovisual lain sebagai tambahan keterangan, sehingga bagi pasien menjadi lebih jelas dan dapat memberikan keputusannya. Namun kesemua ini bukanlah sebagai pengganti pemberian informasi dalam dialog dokter-pasien. Adalah wajar jika dokternya memberi kesempatan kepada pasien, waktu yang cukup untuk dapat memutuskan secara bebas. Jika bagi pasien masih belum jelas keterangan yang diberikan, maka dokter harus menganjurkan pasien untuk bertanya lebih lanjut tentang hal hal yang dianggap belum jelas bagi pasiennya.

Sumber:
Buku Rahasia Medis J.Guwandi S.H
Buku Informed Consent J.Guwandi S.H


Last edited by gitahafas on Tue Jul 31, 2012 8:32 am; edited 1 time in total
Back to top Go down
 
Informed Consent
View previous topic View next topic Back to top 
Page 2 of 5Go to page : Previous  1, 2, 3, 4, 5  Next
 Similar topics
-
» Hashemi: I left for Qatar, with the consent of the government by the Civil Aviation Authority Wednesday, April 4 / April 2012 20:18
» Decision House confirms Iraq's consent to the introduction of the report of the Parliament bombing
» Shahristani: dispose of national wealth without the consent of the federal government Tjaozaaly sovereignty
» Unanimous Board Resolutions

Permissions in this forum:You cannot reply to topics in this forum
Iluni-FK'83 :: KESEHATAN dan ILMU KEDOKTERAN :: PERATURAN dan PERIJINAN-
Jump to: